You are on page 1of 4

SEJARAH KOTA MEKAH (1

)
Berbicara tentang siroh nabawiyah, kita tak akan terlepas dari
Kota Mekah. Karena dari kota inilah cahaya dakwah mulai
terpancar.
Sejarah Kota Mekah berawal dari kisah hijrah Nabi Ibrahim
bersama Hajar dan anaknya Ismail.
Melihat Hajar melahirkan dan memberikan putra pertama pada
Nabi Ibrahim, rasa cemburu pun membakar hati Sarah, istri
pertama Nabi Ibrahim. Karena itu, Sarah meminta Nabi Ibrahim
untuk membawa pergi Hajar beserta sang bayi Ismail yang pada
saat itu masih menyusui dari rumah.
Ketika mereka tiba di sebuah lembah gersang tak berpenghuni,
tiba-tiba Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua di bawah
sebuah pohon besar dengan hanya berbekal sekantong kurma
dan air minum, kemudian ia berlalu tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
Segera Hajar menyusul Nabi Ibrahim dan berkata : “wahai
Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, apakah engkau akan
meninggalkan kami di tempat gersang tak berpenghuni seperti
ini?”, Nabi Ibrahim hanya diam dan terus berlalu. Berulang kali
Hajar mengulangi pertanyaannya, namun Nabi Ibrahim tak
pernah menghiraukan pertanyaannya itu, tanpa menoleh
sedikitpun ia terus berjalan. Fahamlah Hajar bahwa ini adalah
wahyu dari Allah, lalu ia berkata : “Apakah Allah yang
memerintahkanmu wahai Ibrahim?” ia menjawab : “ya”,
kemudian dengan penuh keyakinan Hajar berkata : “jika
demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”.
Ketika persediaan air habis, sang ibu merasa kehausan dan air
susupun mulai mengering. Sang bayi yang kehausan mulai
merengek dan meronta-ronta di tanah. Karena iba melihat
anaknya yang kehausan, Hajar segera mendaki bukit Shafa,

sesungguhnya di sini ada Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. apakah engkau bisa membantuku?”. ia berada di tempat sumur zam-zam dan menggalinya dengan tumit atau sayapnya. hingga tujuh kali. Malaikat itu lalu berkata : “jangan takut binasa. hingga terpancarlah air dari tempat itu. tahulah mereka bahwa di situ ada mata air. Kemudian ia minum dan kembali menyusui bayinya. tibatiba ia mendengar suara dan berseru : “aku telah mendengarmu. ternyata di tempat itu mereka menemukan Hajar dan anaknya.dengan harapan ia akan menemukan seseorang yang akan membantunya. dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang taat padanya”. namun orang yang dinanti-nanti tak kunjung muncul. Sesekali ia menengok anaknya yang masih merengek dan meronta-ronta. namun tak seorangpun nampak di penglihatannya. kasih sayang seorang ibu kembali membuatnya melakukan hal yang sama mendaki bukit Shafa dan Marwah. Hajar bergegas ke sumber air. Hingga akhirnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “seandainya Ibu Ismail tidak melakukan hal itu niscaya zam-zam akan nampak dan memancar di permukaan tanah”. . Hajar pun menyetujui permintaan mereka dengan syarat mereka tidak boleh menguasai air tersebut. Pada putaran ke tujuh. dan menghimpun tanah yang ada di sekitar air tersebut agar ia tidak meluap dari tempatnya. Ternyata itu adalah malaikat Jibril. sekelompok orang dari Kabilah Jurhum melintasi kawasan tersebut dan melihat sekawanan burung mengitarinya. Semenjak saat itulah Hajar dan anaknya Ismail menetap di tempat itu. Bergegas mereka menuju mata air tersebut. Kemudian ia turun dan mendaki bukit Marwah. saat ia berada di atas bukit Marwah. Lalu mereka meminta izin untuk menetap di tempat itu.

sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Ismail bertugas memberikan batu-batu pada Nabi Ibrahim. sang anakpun segera bangkit merangkul ayahnya dan keduanya melepas kerinduan yang telah lama terpendam. Pada suatu hari Nabi Ibrahim datang ke Mekah untuk menjenguk anaknya Ismail.Ismail tumbuh di tengah-tengah kabilah Jurhum. terimalah daripada kami (amalan kami). rasa rindu untuk menemui anaknya memenuhi hati Nabi Ibrahim. Al Baqarah : 127) Ketika tembok-tembok Kakbah mulai meninggi. Akhirnya beliau berpijak di atas sebuah batu untuk mempermudah mengangkat batu-batu tersebut ke bagian tembok yang lebih tinggi. Ketika menginjak dewasa Ismail menikahi salah seorang wanita dari kabilah Jurhum dan dikaruniai keturunan yang banyak. namun kerap kali Ismail tidak di rumah karena keluar untuk berburu dan tak sempat bertemu dengan ayahnya tercinta. dan ia menjumpainya di bawah pohon besar di dekat sumur zam-zam tengah membuat anak panah. dari merekalah ia belajar bahasa arab. Keduanya mulai membangun Baitullah. apakah engkau bersedia membantuku?” Ismail menjawab : “tentu saja wahai ayahku”. Melihat ayahnya tercinta datang. Keduanya bekerja dengan semangat seraya berdoa “Ya Tuhan kami. Nabi Ibrahim yang pada saat itu telah lanjut usia tidak mampu lagi mengangkat batu-batu yang diberikan Ismail. Sebagai seorang ayah. Telah sekian lama Ismail tinggal di Mekah dan berpisah dengan ayahnya Nabi Ibrahim. hingga telapak kaki . sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membangun Baitullah di tempat ini (sambil menunjuk ke arah tanah yang sedikit lebih tinggi). Terkadang Nabi Ibrahim datang menjenguk Ismail. sementara Nabi Ibrahim meletakkan batu-batu tersebut pada tempatnya. Kemudian Nabi Ibrahim berkata : “wahai Ismail.

Fathul Bari.Shahih Bukhari (Hadits No : 3364 dan 3365) 2. DR. Sumber : 1.As Siroh An Nabawiyyah. Bekas telapak kaki Nabi Ibrahim masih tampak jelas hingga masa permulaan Islam. Batu tempat Nabi Ibrahim berpijak itu kemudian dikenal dengan nama “Maqom Ibrahim” yang berarti “tempat berdirinya Nabi Ibrahim”. Hafizh Ibnu Katsir (1/172-183) 3. lalu bekas tersebut akhirnya pudar karena sering disentuh.54) .Al Bidayah wan Nihayah. Hafizh Ibnu Hajar (6/478-492) 4. Mahdi Rizqullah (1/43.beliau meninggalkan bekas di permukaan batu tersebut.