PENERAPAN METODE EKSPERIMEN POKOK BAHASAN BENDA PADAT, CAIR, DAN GAS UNTUK MELATIH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

SISWA KELAS IV SD NEGERI SAMBIROTO KUNDURAN BLORA TAHUN 2008/2009

SKRIPSI
disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Prodi Pendidikan Fisika

oleh Lutfia Adiningtyas 4201404025

JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2009

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi. Hari Tanggal : Jum at : 13 Februari 2009

Mengetahui,

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Dra. Dwi Yulianti, M.Si. N I P. 131404299

Drs. Mosik, M.S. N I P. 131281226

Mengesahkan, Ketua Jurusan Fisika

Dr. Putut Marwoto, M.S. N I P. 131764029

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Jum at : 20 Februari 2009

Panitia: Ketua Sekretaris

Drs. Kasmadi Imam S., M.S. N I P. 130781011

Dr. Putut Marwoto, M.S. N I P. 131764029

Penguji I

Drs. Hadi Susanto, M.Si NIP. 130819142

Penguji II/Pembimbing I

Penguji III/Pembimbing II

Dra. Dwi Yulianti, M.Si. N I P. 131404299

Drs. Mosik, M.S. N I P. 131281226

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian maupun seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Penulis,

Februari 2009

Lutfia Adiningtyas NIM. 4201404025

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto: Orang harus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi  tidak ditemukan perjuangan tanpa ada kesalahan (Johann Wolfgang).  Meski  setiap  hari  diwarnai  cobaan,  aku  telah  buktikan,  bahwa  kesabaran  membawa  kita  pada  akhir  yang  menyenangkan  (Dr.’Aidh  al‐Qarni).  Kemarin adalah masa lalu yang sudah menjadi sejarah, dan esok hari  adalah masa depan yang masih tanda tanya, sementara hari ini adalah  hadiah (Bill Keane). 

Persembahan: Kupersembahkan karya sederhana ini untuk:  Bapak, Ibu, mas Ardi, bulek, om dan ade  sepupuku yang selalu memberi do’a,  motivasi, cinta & kasih sayang.  Hendro Utomo yang selalu memberi &  menjadi semangat dan motivasi. Thanks  for all.  Teman‐teman Pendidikan Fisika ’04,  jangan lupakan perjuangan dan  kebersamaan kita selama ini. 

v

Saudara‐saudaraku di kost Asri, Tety,  Pindho, Dita, Indri, Evi, Palupi, Ayux,  Moli, Dila yang selalu menemani dalam  suka dan duka.  Almamaterku 

vi

KATA PENGANTAR 

Penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penerapan Metode Eksperimen Pokok Bahasan Benda Padat, Cair, dan Gas untuk Melatih Kemampuan Berpikir Siswa Kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora Tahun 2008/2009”. Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga

terselesaikannya skripsi ini. Penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan berkat kerjasama, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dra. Dwi Yulianti, M.Si selaku Dosen Pembimbing I yang telah dengan sabar dan penuh tanggung jawab memberikan bimbingan, ide dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini. Terimakasih atas ilmu dan pengalaman yang telah diberikan. 2. Drs. Mosik, M.S selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu dan penuh tanggung jawab memberikan bimbingan, saran, dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini. 3. Drs. Sujarwata, M.T. selaku Dosen Wali yang telah membimbing selama penulis belajar di Jurusan Fisika. 4. Dr. Putut Marwoto, M.S selaku ketua Jurusan Fisika FMIPA UNNES 5. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang 6. Masmulyono selaku Kepala SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora, yang

vii

telah memberikan ijin penelitian dan kemudahan saat penelitian. 7. Sri Lastuti selaku guru kelas, yang telah memberikan bantuan, dukungan, dan kerjasamanya dalam penelitian 8. Seluruh siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora Tahun Pelajaran 2008/2009 yang telah menjadi subyek penelitian dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu terselesaikannya penulisan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca. Amin.

Semarang, Februari 2009

Penulis

viii

ABSTRAK Adiningtyas, Lutfia. 2009. Penerapan Metode Eksperimen Pokok Bahasan Benda Padat, Cair, dan Gas untuk Melatih Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Dra. Dwi Yulianti, M.Si. Pembimbing II: Drs. Mosik, M.S. Kata kunci : metode eksperimen, kemampuan berpikir Pembelajaran sains pada umumnya masih didominansi guru dengan metode ceramah dan kurang melibatkan aktivitas siswa melakukan kerja ilmiah, akibatnya hasil belajar siswa masih rendah dan kegiatan belajar siswa pun belum menyentuh aspek psikomotorik dan aspek lain yang berkenaan dengan proses pengembangan kemampuan dalam berpikir. Guru perlu mengubah strategi mengajar yang lama dengan strategi mengajar baru yang memungkinkan siswa untuk aktif dalam pembelajaran, mencapai hasil belajar yang baik, dan dapat mengembangkan kemampuan berpikir salah satunya berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora tahun 2008/2009 pokok bahasan benda padat, cair, dan gas melalui penerapan metode eksperimen. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam empat siklus yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Data hasil kemampuan berpikir kritis diperoleh dari tes kemampuan berpikir kritis yang terdapat dalam Lembar Kerja Siswa (LKS), data hasil belajar kognitif diperoleh dari post test, sedangkan data hasil belajar afektif dan psikomotorik diperoleh dari hasil pengamatan berupa lembar observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan meningkatnya hasil kemampuan berpikir kritis, hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora tahun 2008/2009 secara signifikan setelah dilakukan penerapan metode eksperimen pokok bahasan benda padat, cair, dan gas. Ketuntasan klasikal hasil kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I mencapai 43.48%, siklus II 80.44%, siklus III 82.61% dan siklus IV 93.48%. Ketuntasan klasikal hasil belajar kognitif siswa siklus I mencapai 34.78%, siklus II 58.70%, siklus III 86.96%, dan siklus IV 100%. Ketuntasan klasikal hasil belajar afektif siswa siklus I mencapai 89.13%, siklus II 93.48%, siklus III 95.65%, dan siklus IV 97.83%. Ketuntasan klasikal hasil belajar psikomotorik siswa siklus I mencapai 32.61%, siklus II 41.30%, siklus III 86.96%, dan siklus IV 91.30%. Dapat disimpulkan bahwa penerapan metode eksperimen pokok bahasan benda padat, cair dan gas dapat melatih kemapuan berpikir kritis dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora tahun 2008/2009. Untuk lebih meningkatkan efektifitas penerapan metode eksperimen diperlukan penelitian lebih lanjut dengan pokok bahasan atau materi yang berbeda.

ix

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL................................................................................... PERSETUJUAN PEMBIMBING............................................................... HALAMAN PENGESAHAN..................................................................... PERNYATAAN.......................................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN .............................................................. KATA PENGANTAR ................................................................................ ABSTRAK .................................................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................... DAFTAR TABEL....................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN............................................................................... BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1.2 Permasalahan ....................................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................... 1.5 Penegasan Istilah.................................................................................. 1.6 Sistematika Penulisan Skripsi.............................................................. 1 3 3 4 4 5 i ii iii iv v vi viii ix xi xii xiii

x

BAB 2. LANDASAN TEORI 2.1 Pembelajaran Sains .............................................................................. 2.2 Metode Eksperimen ............................................................................. 2.3 Kemampuan Berpikir Kritis................................................................. 2.4 Kerangka Berpikir................................................................................ 2.5 Materi Benda Padat, Cair, dan Gas ...................................................... BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Subjek Penelitian.............................................................. 3.2 Faktor yang diteliti ............................................................................... 3.3 Desain Penelitian.................................................................................. 3.4 Tehnik Pengambilan Data .................................................................... 3.5 Uji Coba Instrumen Penelitian ............................................................. 3.6 Metode Analisis Data........................................................................... 3.7 Indikator Keberhasilan ......................................................................... BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian .................................................................................... 4.2 Pembahasan.......................................................................................... BAB 5. PENUTUP 5.1 Simpulan .............................................................................................. 5.2 Saran.....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................

7 9 12 14 15

18 18 18 28 29 33 34

35 39

49 49 50 53

LAMPIRAN................................................................................................

xi

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 4.1 Hasil Belajar Kognitif Siswa ........................................................... Tabel 4.2 Hasil Belajar Afektif Siswa ............................................................. Tabel 4.3 Hasil Belajar Psikomotorik Siswa .................................................. Tabel 4.4 Nilai Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Tiap Aspek.................. Tabel 4.5 Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Siswa ..................................... 35 36 37 38 38

xii

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Gambar Partikel Zat Padat .......................................................... ..... 15 Gambar 2.2 Gambar Partikel Zat Cair ............................................................. ..... 16 Gambar 2.3 Gambar Partikel Zat Gas ............................................................. ..... 16 Gambar 3.1 Skema Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).. 19 Gambar 4.1 Grafik Hasil Belajar Kognitif Siswa .......................................... .... 35 Gambar 4.2 Grafik Hasil Belajar Afektif Siswa ............................................ .... 36 Gambar 4.3 Grafik Hasil Belajar Psikomotorik Siswa ................................. .... 37 Gambar 4.4 Grafik Nilai Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Tiap Aspek ..... 38 Gambar 4.5 Grafik Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Siswa ...................... .... 39

xiii

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.............................................. 53 Lampiran 2 LKS Panduan Guru........................................................................ 65 Lampiran 3 LKS Siswa ..................................................................................... 83 Lampiran 4 Kisi-kisi Penilaian Tes Kemampuan Berpikir Kritis..................... 96 Lampiran 5 Analisis Hasil Kemampuan Berpikir Kritis................................... 103 Lampiran 6 Perhitungan Uji-t Kemampuan Berpikir Kritis ............................. 107 Lampiran 7 Soal Uji Coba Kognitif .................................................................. 113 Lampiran 8 Hasil Analisis Uji Coba Kognitif................................................... 122 Lampiran 9 Kisi-kisi Soal Kognitif .................................................................. 127 Lampiran 10 Soal Kognitif.................................................................................. 125 Lampiran 11 Analisis Hasil Belajar Konitif........................................................ 130 Lampiran 12 Perhitungan Uji-t Hasil Belajar Konitif......................................... 139 Lampiran 13 Kisi-kisi Penilaian Hasil Belajar Psikomotorik ............................. 146 Lampiran 14 Analisis Hasil Belajar Psikomotorik.............................................. 154 Lampiran 15 Perhitungan Uji-t Hasil Belajar Psikomotorik............................... 158 Lampiran 16 Kisi-kisi Penilaian Hasil Belajar Afektif ....................................... 164 Lampiran 17 Analisis Hasil Belajar Afektif........................................................ 172 Lampiran 18 Perhitungan Uji-t Hasil Belajar Afektif......................................... 176 Lampiran 19 Surat Usulan Pembimbing ............................................................. 182 Lampiran 20 Surat Ijin Penelitian ....................................................................... 183

xiv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Untuk dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi dunia, termasuk teknologi informasi pada masa sekarang ini, diperlukan adanya peningkatan kemampuan dalam berbagai bidang, salah satunya pada bidang sains. Pendidikan sains menekankan pada pemberian pengalaman belajar langsung pada siswa dengan tujuan agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah, oleh karena itu pendidikan sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat (Depdiknas 2003:3). Pelaksanaan pembelajaran sains, hendaknya menempatkan aktivitas nyata bagi anak, memberi kesempatan anak untuk bersentuhan langsung dengan obyek yang akan atau sedang dipelajarinya (Rohandi dalam Sumaji 2003:112). Berdasarkan hasil komunikasi personal dengan guru kelas IV SD Negeri Sambiroto ditemukan beberapa permasalahan di antaranya pelaksanaan pembelajaran sains yang masih didominansi guru dengan metode ceramah yang cenderung terbatas pada aspek hafalan sehingga kurang melibatkan aktivitas siswa melakukan kerja ilmiah, akibatnya hasil belajar siswa masih rendah dan kegiatan belajar siswa pun belum menyentuh aspek psikomotorik dan aspek lain yang berkenaan dengan proses pengembangan kemampuan dalam berpikir. Tidak terkecuali hasil pengamatan pakar pada beberapa sekolah di Indonesia, masih banyak

1

2

kegiatan belajar mengajar yang lebih menekankan aspek kognitif. Di antaranya pembelajaran sains yang lebih menekankan dengan hafalan (Sulaeman 2007). Berdasarkan pernyataan yang dilansir oleh Pusat Perbukuan Depdiknas (2003) kecenderungan menggunakan hafalan sebagai wahana untuk menguasai ilmu pengetahuan, membawa siswa hanya terbiasa menggunakan sebagian kecil dari potensi atau kemampuan berpikirnya dan dikhawatirkan mereka menjadi malas untuk berpikir mandiri. Melihat kenyataan ini sangatlah bertolak belakang dengan Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains dan Kompetensi Lulusan Sekolah yang menuntut siswa memiliki beberapa kemampuan berpikir salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis (Depdiknas 2003:10). Untuk dapat mengatasi permasalahan pembelajaran pada siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto dan untuk memenuhi Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains dan Kompetensi Lulusan Sekolah, hendaknya guru dapat mengubah strategi mengajar yang lama dengan strategi mengajar baru yang memungkinkan siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran, mencapai hasil belajar yang baik, dan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. Metode eksperimen dapat dikatakan sebagai metode yang sesuai untuk mengatasi permasalahan di atas, sebab metode eksperimen memberi pengalaman belajar langsung dan dapat melibatkan aktivitas pada siswa (Farida 2008). Di dalam kegiatan eksperimen juga terdapat kegiatan inkuiri, dimana kegitan inkuiri menuntut siswa untuk menggunakan kemampuan berpikir kritis sehingga otomatis kemampuan berpikir kritis pada siswa dapat terlatih (Schmidt dalam Ibrahim 2007). Selain itu metode eksperimen juga memiliki kelebihan di antaranya, siswa lebih percaya dengan kebenaran teori yang

3

sedang atau telah dipelajari berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukannya sendiri, dan siswa juga terbina untuk membuat terobosan-terobosan baru yang dapat bermanfaat untuk kehidupan (Djamarah dkk. 2006:84). Berkaitan dengan latar belakang di atas, maka PENERAPAN METODE EKSPERIMEN POKOK BAHASAN BENDA PADAT, CAIR, DAN GAS UNTUK MELATIH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS IV SD NEGERI SAMBIROTO KUNDURAN BLORA TAHUN 2008/2009 perlu dilakukan.

1.2 Permasalahan
Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1) Apakah kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora tahun 2008/2009 dapat dilatih melalui penerapan metode eksperimen pokok bahasan benda padat, cair, dan gas? 2) Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora tahun 2008/2009 setelah dilakukan penerapan metode eksperimen pokok bahasan benda padat, cair, dan gas?

1.3 Tujuan Penelitian
1) Melatih kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora tahun 2008/2009 melalui penerapan metode eksperimen pokok bahasan benda padat, cair, dan gas 2) Meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran

4

Blora tahun 2008/2009 melalui penerapan metode eksperimen pokok bahasan benda padat, cair, dan gas.

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah : 1) Dapat melatih kemampuan berpikir kritis siswa 2) Sebagai variasi metode pembelajaran bagi guru dalam upaya untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa.

1.5 Penegasan Istilah
1. Metode Eksperimen Metode eksperimen adalah metode mengajar yang mengajak siswa melakukan kegiatan percobaan untuk membuktikan atau menguji teori yang telah dipelajari, memang memiliki kebenaran (Suparno 2007:77). Metode eksprimen mampu menciptakan kondisi belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas siswa secara optimal (Palendeng dalam Martiningsih 2007). 2. Berpikir Kritis Berpikir kritis adalah berpikir untuk sampai pada pengetahuan yang tepat, sesuai dan dapat dipercaya mengenai segala sesuatu yang ada di sekitar kita (Vitri 2004). Menurut Swartz dan Perkins yang dikutip oleh Hassoubah (2002:86) berpikir kritis dapat diartikan sebagai cara berpikir manusia yang bertujuan untuk mencapai penilaian tentang sesuatu yang akan atau sedang dihadapi secara kritis.

5

3. Benda Padat, Cair, dan Gas Benda padat, cair dan gas merupakan salah satu pokok bahasan sains pada Sekolah Dasar kelas IV semester 1 atau sederajat yang mempelajari sifat dan perubahan wujud dari benda padat, cair, dan gas.

1.6 Sistematika Penulisan Skripsi
Sistematika skripsi ini terdiri dari 3 bagian yaitu : (1) Bagian Awal Bagian ini terdiri dari halaman judul, halaman pengesahan, motto, persembahan, abstrak, kata pengantar dan daftar isi. (2) Bagian Isi Bagian isi terdiri dari 5 bab, yaitu: a. Bab I Pendahuluan, mencakup uraian semua hal yang berhubungan dengan penelitian, meliputi latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian penegasan istilah dan sistematika skripsi. b. Bab II Landasan Teori, mencakup teori-teori yang mendukung penelitian. c. Bab III Metode Penelitian, mencakup hal-hal yang berkaitan dengan penelitian, meliputi : lokasi penelitian, faktor yang diteliti, desain penelitian, tehnik pengambilan data, uji coba instrumen penelitian dan metode analisis data. d. Bab IV Hasil Penelitian, yaitu hasil penelitian yang berupa uraian hasilhasil penelitian serta pembahasannya.

6

e.

Bab V Kesimpulan dan Saran, mencakup simpulan dari hasil penelitian dan saran yang diambil sehubungan dengan penelitian tersebut.

(3) Bagian Akhir Bagian ini berisi daftar pustaka dan lampiran.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pembelajaran Sains
Pembelajaran merupakan istilah lain untuk proses belajar mengajar. Para tokoh aliran kognitif mendefinisikan pembelajaran sebagai jalan atau cara guru memberikan kesempatan siswa untuk mengunakan seluruh kemampuan berpikirnya dalam memahami sesuatu yang dipelajari (Sugandi 2004:9). Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungannya, dan melalui proses tersebut dapat mengakibatkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Suatu proses pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuannya, dikatakan efektif apabila seluruh komponen yang berpengaruh terhadap pembelajaran tersebut dapat saling mendukung dan melengkapi (Slameto 2003:1-2). Guru dan siswa merupakan komponen terpenting dari proses pembelajaran setelah materi pembelajaran. Siswa merupakan pelaku utama dalam pembelajaran dan guru bertugas yang membelajarkan, dan keduanya harus terjalin interaksi yang saling menunjang agar hasil belajar dapat tercapai secara optimal. Pembelajaran sains adalah pembelajaran yang erat kaitannya dengan kehidupan nyata dan pemberian pengalaman pada siswa dalam belajar (Amin 2008). Pendidikan sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat, dengan tujuan agar siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Depdiknas 2003:3). Oleh karena itu pembelajaran sains yang diajarkan di sekolah

7

8

harus membekali siswa tentang berbagai cara untuk mengetahui dan mengerjakan sesuatu dengan tujuan membantu siswa memahami alam secara mendalam. Pembelajaran sains pada intinya melibatkan siswa untuk aktif dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan obyek nyata (Koes 2003:3). Pembelajaran sains juga sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah dengan tujuan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah pada siswa (Admin 2008). Menurut Rohandi dalam Sumaji (2003: 122) untuk menumbuhkan keaktifan siswa, guru dapat mengajak siswa melakukan berbagai kegiatan nyata dengan alam, di antaranya mengamati fenomena alam yang terjadi di sekeliling kita, contohnya tentang berbagai wujud, sifat dan perubahan benda. Berbagai kegiatan ini dapat dilakukan melalui percobaan di laboratorium, di kelas dengan berbagai alat bantu, bahkan dapat dilakukan di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Kegiatan seperti ini juga dapat menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah pada siswa, karena melalui kegiatan eksperimen atau percobaan menuntut siswa untuk menggunakan kemampuan berpikir, bekerja dan sikap ilmiahnya (Schmidt dalam Ibrahim 2007) Hal-hal yang dapat dipelajari dalam pembelajaran sains salah satunya adalah siswa dapat belajar tentang bagaimana membiasakan diri untuk berpikir, karena adanya dorongan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan berbuat. Pembiasan diri untuk berpikir tersebut dapat membantu siswa mengetahui berbagai pendekatan yang dapat digunakan untuk menghadapi dan memecahkan suatu masalah (Koes 2003:26). Pembelajaran sains juga memiliki fungsi dan tujuan yang tercantum dalam kurikulum. Tujuan dari pembelajaran sains di antaranya, menum-

9

buhkan rasa ingin tahu, mengembangkan keterampilan proses dalam rangka menyelidiki alam, memecahkan masalah dan membuat keputusan. Pembelajaran sains berfungsi untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri dengan perubahan dalam memasuki dunia teknologi, termasuk teknologi informasi yang berkembang di masa sekarang (Depdiknas 2003:3-4). Untuk dapat mencapai fungsi dan tujuan serta pembelajaran sains yang bermakna, maka dibutuhkan suatu metode pembelajaran yang sesuai. Metode pembelajaran yang sesuai yakni metode pembelajaran yang dapat melibatkan aktivitas siswa, menumbuhkan rasa ingin tahu, memberikan pengalaman langsung, dan berorientasi pada kegiatan penemuan. Schoenherr dalam Martiningsih (2007) berpendapat, bahwa metode pembelajaran yang sesuai adalah metode eksperimen.

2.2 Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah metode mengajar yang mengajak siswa melakukan kegiatan percobaan untuk membuktikan atau menguji teori yang telah dipelajari memang memiliki kebenaran (Suparno 2007:77). Metode eksperimen merupakan salah satu metode pembelajaran yang memberi pengalaman belajar langsung dan melibatkan aktivitas pada siswa (Farida 2008). Kegiatan pembelajaran dengan metode eksperimen dapat dirancang sebagai kegiatan penemuan. Kegiatan penemuan ini dilakukan sebelum siswa mengetahui atau mempelajari suatu konsep atau teori, dengan tujuan siswa yang dituntut untuk menemukan konsep atau teori tersebut (Poedjiadi 2005:90). Pembelajaran melalui kegiatan eksperimen berupa penemuan, menuntut siswa bersentuhan langsung dengan

10

obyek yang akan dipelajari. Kegiatan ini juga mampu memberikan kondisi belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas siswa secara optimal. Hal inilah yang membuat metode eksperimen sesuai dengan pembelajaran sains (Schoenherr dalam Martiningsih 2007). Kegiatan eksperimen menurut Suparno (2007:78-81) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu eksperimen terbimbing atau terencana dan eksperimen bebas. Kegiatan siswa dalam eksperimen terbimbing hanyalah melakukan percobaan dan menemukan hasilnya saja, seluruh jalannya percobaan sudah dirancang oleh guru. Langkah-langkah percobaan, peralatan yang harus digunakan, serta obyek yang harus diamati atau diteliti sudah ditentukan sejak awal oleh guru. Kegiatan siswa dalam eksperimen bebas lebih banyak dituntut untuk berpikir mandiri, bagaimana merangkai alat percobaan, melakukan percobaan dan memecahkan masalah, guru hanya memberikan permasalahan dan obyek yang harus diamati atau diteliti. Keuntungan percobaan dengan eksperimen bebas seperti ini akan tampak kreativitas, kepandaian, dan kemampuan berpikir yang dimiliki siswa. Hal yang perlu diperhatikan guru dalam pelaksanaan metode eksperimen menurut Sudjana (2008:84) adalah sebagai berikut: (1) persiapan atau perencanaan, pada tahap ini guru harus menetapkan terlebih dahulu tujuan percobaan, menetapkan langkah-langkah dari percobaan, dan menetapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk percobaan, (2) pelaksanaan, pada tahap pelaksanaan yang harus dilakukan adalah mengusahakan masing-masing siswa memiliki kesempatan untuk melakukan percobaan, mengadakan diskusi dan tanya jawab setelah percobaan selesai dengan tujuan

11

menumbuhkan sikap kritis pada siswa dan membuat peniliaan terhadap kegiatan percobaan yang telah dilakukan siswa, (3) tindak lanjut, pada tahap ini yang harus dilakukan guru adalah memberikan tugas pada siswa baik secara tertulis maupun lisan setelah percobaan selesai, dengan tujuan agar dapat menilai sejauh mana tingkat pemahaman siswa. Untuk menunjang agar pelaksanaan metode eksperimen menjadi lebih efisien dan efektif, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah tercukupinya alat dan bahan percobaan, penggunaan alat dan bahan yang memiliki kondisi dan kualitas yang baik agar tidak mengakibatkan kegagalan percobaan, pemberian waktu untuk melakukan percobaan yang cukup lama dengan tujuan agar siswa dapat berkonsentrasi mengamati seluruh proses percobaan, petunjuk percobaan yang jelas agar siswa lebih mudah melakukan percobaan, dan hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah tidak semua permasalahan dapat diselesaikan dengan eksperimen, oleh sebab itu pemilihan masalah dalam percobaan sangat perlu diperhitungkan (Roestiyah 2008:81). Metode eksperimen menurut Djamarah (2006:84) memiliki kelebihan antara lain, membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan teori berdasarkan hasil percobaannya sendiri, membina siswa untuk membuat terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya, dan hasil dari percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia. Metode eksperimen juga memiliki kekurangan di antaranya, metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh, setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena dimungkinkan terdapat faktor-

12

faktor tertentu di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian, metode ini juga menuntut ketelitian, keuletan, dan kesabaran. Jadi metode eksperimen dapat digunakan untuk pembelajaran sains, sebab metode eksperimen mampu memberikan kondisi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran sains.

2.3 Kemampuan Berpikir Kritis
Salah satu kecakapan hidup yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan adalah keterampilan berpikir (Depdiknas 2003). Keterampilan berpikir sangat menentukan kemampuan seseorang untuk dapat mencapai keberhasilan dalam kehidupannya. Hal ini mengandung pengertian, jika keterampilan berpikir yang dimiliki seseorang sangat rendah maka keberhasilan akan sulit dicapai, dan jika keterampilan berpikir yang dimiliki cukup tinggi maka keberhasilan akan mudah dicapai dalam hidupannya. Keterampilan berpikir juga dapat menentukan kemampuan seseorang dalam mengatasi permasalahan yang ada dalam kehidupannya (Ibrahim 2007). Keterampilan berpikir yang perlu dikembangkan dalam meningkatkan mutu pendidikan salah satunya adalah keterampilan berpikir kritis (Depdiknas 2003). Berpikir kritis adalah berpikir untuk sampai pada pengetahuan yang tepat, sesuai dan dapat dipercaya mengenai segala sesuatu yang ada di sekitar kita (Vitri 2004). Menurut Swartz dan Perkins yang dikutip oleh Hassoubah (2002:86) berpikir kritis dapat diartikan sebagai cara berpikir manusia yang bertujuan untuk mencapai penilaian tentang sesuatu yang akan atau sedang dihadapi secara kritis.

13

Kemampuan berpikir kritis dapat diperoleh seseorang bukan dari bawaan lahir, akan tetapi diperoleh melalui suatu proses (Vitri 2004). Proses ini dapat berupa pelatihan dan pengembangan di dalam lingkungan pendidikan. Suprapto (2007) berpendapat berpikir kritis dapat diajarkan kepada anak sejak usia dini, dengan tujuan agar kelak setelah dewasa kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghadapi segala aspek dalam kehidupan. Ennis dalam Hassoubah (2002: 87) mengungkapkan, bahwa berpikir kritis dapat dicapai dengan mudah apabila seseorang itu mempunyai ukuran dan kemampuan berupa sifat dan karakteristik sebagai pemikir yang kritis. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan di antaranya kegiatan meningkatkan daya analisis, mengembangkan kemampuan mengamati, meningkatkan rasa ingin tahu, dan berdiskusi (Hassoubah 2002:95). Kemampuan berpikir kritis selain dapat dikembangkan, menurut Browne dan Stuart dalam Filsaime (2008:95) juga dapat hilang dalam diri seseorang, jika seseorang tersebut tidak menjaga sikap rasa ingin tahu, berpikir secara terbuka, menggunakan penalaran secara kritis dan rasa yang kuat untuk bertanya. Guru perlu membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui strategi, dan metode pembelajaran yang mendukung siswa untuk belajar secara aktif. Metode pembelajaran yang dapat dipakai salah satunya adalah metode eksperimen. Kegiatan dalam metode eksperimen mampu menciptakan keaktifan siswa untuk merumuskan masalah, melakukan penyelidikan, menganalisis, menginterpretasikan data, dan menarik kesimpulan. Kegiatan dalam metode eksperimen juga mengandung unsur inkuiri yang dapat menuntut siswa menggunakan

14

kemampuan berpikir kritis, sehingga secara otomatis kemampuan berpikir kritisnya dapat terlatih (Ibrahim 2007). Keterampilan berpikir kritis memberikan banyak keuntungan bagi anak, di antaranya menjadikan anak berpikir mandiri dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya (Vitri 2004), anak juga mampu memilah-milah informasi dan mengambil keputusan mengenai segala hal dengan cermat, teliti, sistimatis, dan logis (Suprapto 2007). Proses berpikir kritis dapat dibagi menjadi beberapa kategori, di antaranya: mengamati, mengklasifikasi atau mengelompokkan, mengasumsi dan menarik kesimpulan. Kategori berpikir di atas dapat digunakan sebagai sarana melatih kemampuan berpikir kritis siswa, salah satunya melalui kegiatan percobaan atau eksperimen (Carin & Sund 1989:160).

2.4 Kerangka Berpikir
Pembelajaran sains masih didominansi metode ceramah yang cenderung terbatas pada aspek hafalan sehingga kurang melibatkan aktifitas siswa melakukan kerja ilmiah, akibatnya hasil belajar siswa masih rendah dan kegiatan belajar siswa pun belum menyentuh aspek psikomotorik dan aspek lain yang berkenaan dengan proses pengembangan kemampuan dalam berpikir. Hal ini mengakibatkan tidak tercapainya Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains dan Kompetensi Lulusan Sekolah dalam kurikulum pendidikan yang menekankan pada pemberian pengalaman belajar langsung pada siswa dan menuntut siswa memiliki kemampuan berpikir salah satunya berpikir kritis. Untuk dapat mencapai Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains serta Kom-

15

petensi Lulusan Sekolah, guru perlu mengubah strategi mengajar yang lama dengan strategi mengajar baru yang memungkinkan siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran, mencapai hasil belajar yang baik, dan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. Metode eksperimen diharapkan dapat menggantikan metode mengajar lama, karena metode eksperimen mampu melibatkan aktivitas dan memberi pengalaman belajar langsung pada siswa, membantu siswa mencapai hasil belajar yang baik serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. Oleh sebab itu penerapan metode eksperimen diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan melatih kemampuan berpikir kritis siswa.

2.5 Materi Benda Padat, Cair, dan Gas
2.5.1 Tingkat Wujud Zat Zat mempunyai beberapa tingkat wujud yakni padat, cair dan gas. (1) Zat Padat Partikel dalam zat padat sangat teratur dan tertib. Sekitar titik keseimbangan masing-masing partikel itu bergetar, tetapi tidak ada yang berpindah-pindah. Jika dilukiskan (dalam ruang berdimensi dua) dapat diperkirakan zat padat sederhana akan nampak seperti gambar berikut ini:

Gambar 2.1 Partikel Zat Padat

16

(2) Zat Cair Partikel di dalam zat cair akan selalu mudah untuk berpindah-pindah. Tempat partikelnya tidak teratur tetapi rata-rata jarak antar partikel dalam zat cair diperkirakan sama dengan jarak antar partikel dalam zat padat, karena partikelnya mudah untuk berpindah. Zat cair secara keseluruhan tidak mempertahankan bentuknya, artinya bentuk luar zat cair secara keseluruhan tidak tetap, mudah menyesuaikan diri dengan bentuk wadah yang diisinya. Hal ini sangat berbeda dari zat padat yang mempunyai bentuk tetap.

Gambar 2.2 Partikel Zat Cair

(3) Gas Partikel dalam gas senantiasa bergerak ke semua arah. Jarak antar partikel sangat besar jika dibandingkan dengan ukuran partikel. Gaya antar partikelnya sangat lemah, kecuali jika partikel itu saling bertumbukan. Dalam gas ideal gaya itu bahkan diabaikan. Karena itu gas mudah mengisi seluruh ruang yang tersedia baginya. Contohnya setetes minyak wangi dalam kamar, akan menguap mengharumkan seluruh kamar itu. Sebelum menguap, volumenya kecil, yaitu volume setetes itu saja, sesudah menguap seluruh ruang kamar itulah volumenya (Sutrisno dkk. 1993:176).

Gambar 2.3 Partikel Gas

17

2.5.2 Perubahan Wujud Zat Wujud zat sifatnya tidak tetap, dapat berubah-ubah tergantung suhu zat tersebut. Semakin tinggi suhu zat, semakin cepat gerakan partikelnya. Pada suatu saat, ketika suhunya mencapai tertentu, partikel-partikel zat mulai mampu mengatasi gaya tarik menarik antar partikelnya, dan zat pun mulai berubah wujud, sehingga dikatakan bahwa wujud zat berubah ketika zat itu dipanaskan atau didinginkan (Foster 2004:37). • Perubahan wujud padat menjadi cair disebut melebur atau mencair Contohnya : lilin yang dipanaskan, es batu terkena panas. • Perubahan wujud cair menjadi padat disebut membeku Contohnya : cairan agar-agar yang baru direbus kemudian didiamkan di udara terbuka • Perubahan wujud cair menjadi gas disebut menguap Contohnya : air yang direbus terus-menerus, lama-lama habis karena air berubah menjadi uap air. • Perubahan wujud gas menjadi cair disebut mengembun Contohnya : uap air di udara menjadi titik-titik air atau embun di pagi hari. • Perubahan wujud padat menjadi gas disebut menyublim Contohnya : kapur barus berubah menjadi gas • Perubahan wujud gas menjadi padat disebut menyublim Contohnya : proses terjadinya hujan es

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Subyek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto tahun ajaran 2008/2009 semester 1 yang berjumlah 46 siswa, terdiri dari 22 putra dan 24 putri.

3.2 Faktor yang diteliti
Faktor yang diteliti dalam penelitian adalah: (1) Hasil belajar siswa yang mencakup hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Hasil belajar kognitif diukur dengan post test yang diadakan pada akhir siklus, sedangkan hasil belajar afektif dan psikomotorik diukur dengan lembar observasi selama proses pembelajaran berlangsung. (2) Kemampuan berpikir kritis siswa, data yang diperoleh, dari tes kemampuan berpikir kritis yang terdapat dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) pada tiap siklusnya.

3.3 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis dan Mc Taggart. Tindakan yang diterapkan dalam PTK ini adalah penerapan model pembelajaran eksperimen sebagai upaya untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa dan peningkatan hasil belajar siswa pada materi benda padat, cair dan

18

19

gas. Penelitian ini dirancang untuk 4 siklus. Siklus I dengan materi sifat-sifat benda padat, siklus II dengan materi sifat-sifat benda cair, siklus III dengan materi sifat-sifat benda gas, dan siklus IV dengan materi perubahan wujud benda. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan, antara lain perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi (Aqib 2007:22). Skema prosedur penelitian tindakan kelas disajikan Gambar 3.1, sebagai berikut: Siklus I Siklus II Siklus III

Perencanaan Pelaksanaan Observasi Refleksi

belum terselesaikan

Perencanaan Pelaksanaan Observasi Refleksi

belum terselesaikan

Perencanaan Pelaksanaan Observasi Refleksi

Perencanaan Pelaksanaan Observasi Refleksi Gambar 3.1. Skema prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK)

Siklus IV

belum terselesaikan

Terselesaikan

Tahap-tahap yang dilakukan pada setiap siklus adalah sebagai berikut: 3.3.1 Siklus I a) Perencanaan Kegiatan yang dilaksanakan dalam perencanaan adalah:

20

(1) Observasi awal untuk mengidentifikasi masalah yang berasal dari siswa dan guru. Identifikasi masalah berasal dari guru dengan melakukan wawancara tentang metode pembelajaran yang biasa digunakan pada mata pelajaran sains, (2) Merumuskan desain metode eksperimen untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa sekaligus meningkatkan hasil belajar yang meliputi hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik, (3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi sifat-sifat benda padat sesuai dengan silabus SD, (4) Menyusun soal post tes dan Lembar Kerja Siswa (LKS) materi sifat-sifat benda padat yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar kognitif dan kemampuan berpikir kritis siswa, (5) Menyusun lembar observasi berupa lembar afektif dan psikomotorik yang akan digunakan untuk menilai kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. b) Pelaksanaan Tindakan yang dilakukan pada tahap ini adalah guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai skenario yang telah direncanakan. Pada siklus ini berjalan selama 2 jam pelajaran dengan kegiatan sebagai berikut : a. Guru membuka pelajaran dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi sifat-sifat benda padat, b. Guru memberikan respon atas jawaban siswa dan memotivasi siswa melakukan percobaan untuk mengetahui lebih jelas tentang sifat-sifat benda padat, c. Guru menjelaskan secara singkat bagaimana proses pembelajaran yang akan

21

dilaksanakan, d. Siswa dibagi dalam 8 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa, e. Siswa mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk percobaan, f. Guru membagikan LKS yang berisi petunjuk pelaksanaan percobaan dan pertanyaan-pertanyaan pada masing-masing siswa, g. Guru membimbing dan mengarahkan siswa melakukan percobaan sifat-sifat benda padat, h. Siswa melakukan percobaan sesuai petunjuk dalam LKS, i. Guru dan siswa melakukan tanya jawab untuk menyimpulkan hasil percobaan, guru memberikan penegasan tentang kesimpulan percobaan dan memberikan uraian lebih lanjut tentang sifat-sifat benda padat, j. Guru memberikan post tes pada siswa, c) Observasi Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan pengamatan kemampuan afektif dan psikomotorik siswa melalui lembar observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Kemampuan afektif siswa yang diamati terdiri dari keaktifan mengikuti pelajaran, kerjasama, kejujuran, menghargai orang lain, dan tanggung jawab. Kemampuan psikomotorik siswa yang diamati terdiri dari menyiapkan alat, melakukan percobaan, mencatat data, menyampaikan hasil dan membereskan alat percobaan. d) Refleksi Semua data yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan dan proses observasi dikumpulkan, dianalisis dan dievaluasi untuk mengetahui berhasil atau tidaknya

22

tindakan yang dilakukan. Hasil refleksi ini dijadikan acuan untuk memperbaiki kinerja dan melakukan revisi terhadap perencanaan yang akan dilaksanakan pada siklus dua. 3.3.2 Siklus II a) Perencanaan Kegiatan yang dilaksanakan dalam perencanaan adalah: (1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi sifat-sifat benda cair sesuai dengan silabus SD, (2) Menyusun soal post tes dan Lembar Kerja Siswa (LKS) materi sifat-sifat benda cair yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar kognitif dan kemampuan berpikir kritis siswa, (3) Menyusun lembar observasi berupa lembar afektif dan psikomotorik yang akan digunakan untuk menilai kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. b) Pelaksanaan Tindakan yang dilakukan pada tahap ini adalah guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai skenario yang telah direncanakan. Pada siklus ini berjalan selama 2 jam pelajaran dengan kegiatan sebagai berikut : a. Guru membuka pelajaran dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi sifat-sifat benda cair, b. Guru memberikan respon atas jawaban siswa dan memotivasi siswa melakukan percobaan untuk mengetahui lebih jelas tentang sifat-sifat benda cair, c. Guru menjelaskan secara singkat bagaimana proses pembelajaran yang akan dilaksanakan,

23

d. Siswa dibagi dalam 8 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa, e. Siswa mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk percobaan, f. Guru membagikan LKS yang berisi petunjuk pelaksanaan percobaan dan pertanyaan-pertanyaan pada masing-masing siswa, g. Guru membimbing dan mengarahkan siswa melakukan percobaan sifat-sifat benda cair, h. Siswa melakukan percobaan sesuai petunjuk dalam LKS, i. Guru dan siswa melakukan tanya jawab untuk menyimpulkan hasil percobaan, guru memberikan penegasan tentang kesimpulan percobaan dan memberikan uraian lebih lanjut tentang sifat-sifat benda cair, j. Guru memberikan post tes pada siswa, c) Observasi Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan pengamatan kemampuan afektif dan psikomotorik siswa melalui lembar observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Kemampuan afektif siswa yang diamati terdiri dari keaktifan mengikuti pelajaran, kerjasama, kejujuran, menghargai orang lain, dan tanggung jawab. Kemampuan psikomotorik siswa yang diamati terdiri dari menyiapkan alat, melakukan percobaan, mencatat data, menyampaikan hasil dan membereskan alat percobaan. d) Refleksi Semua data yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan dan proses observasi dikumpulkan, dianalisis dan dievaluasi untuk mengetahui berhasil atau tidaknya tindakan yang dilakukan. Hasil refleksi ini dijadikan acuan untuk memperbaiki ki-

24

nerja dan melakukan revisi terhadap perencanaan yang akan dilaksanakan pada siklus tiga. 3.3.2 Siklus III a) Perencanaan Kegiatan yang dilaksanakan dalam perencanaan adalah: (4) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi sifat-sifat benda gas sesuai dengan silabus SD, (5) Menyusun soal post tes dan Lembar Kerja Siswa (LKS) materi sifat-sifat benda gas yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar kognitif dan kemampuan berpikir kritis siswa, (6) Menyusun lembar observasi berupa lembar afektif dan psikomotorik yang akan digunakan untuk menilai kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. b) Pelaksanaan Tindakan yang dilakukan pada tahap ini adalah guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai skenario yang telah direncanakan. Pada siklus ini berjalan selama 2 jam pelajaran dengan kegiatan sebagai berikut : a. Guru membuka pelajaran dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi sifat-sifat benda gas, b. Guru memberikan respon atas jawaban siswa dan memotivasi siswa melakukan percobaan untuk mengetahui lebih jelas tentang sifat-sifat benda gas, c. Guru menjelaskan secara singkat bagaimana proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, d. Siswa dibagi dalam 8 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa,

25

e. Siswa mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk percobaan, f. Guru membagikan LKS yang berisi petunjuk pelaksanaan percobaan dan pertanyaan-pertanyaan pada masing-masing siswa, g. Guru membimbing dan mengarahkan siswa melakukan percobaan sifat-sifat benda gas, h. Siswa melakukan percobaan sesuai petunjuk dalam LKS, i. Guru dan siswa melakukan tanya jawab untuk menyimpulkan hasil percobaan, guru memberikan penegasan tentang kesimpulan percobaan dan memberikan uraian lebih lanjut tentang sifat-sifat benda gas, j. Guru memberikan post tes pada siswa, c) Observasi Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan pengamatan kemampuan afektif dan psikomotorik siswa melalui lembar observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Kemampuan afektif siswa yang diamati terdiri dari keaktifan mengikuti pelajaran, kerjasama, kejujuran, menghargai orang lain, dan tanggung jawab. Kemampuan psikomotorik siswa yang diamati terdiri dari menyiapkan alat, melakukan percobaan, mencatat data, menyampaikan hasil dan membereskan alat percobaan. d) Refleksi Semua data perolehan dari pelaksanaan tindakan dan proses observasi dikumpulkan, dianalisis dan dievaluasi untuk mengetahui berhasil tidaknya tindakan yang dilakukan. Hasil refleksi ini dijadikan acuan untuk memperbaiki kinerja dan melakukan revisi perencanaan yang akan dilaksanakan pada siklus empat.

26

3.3.2 Siklus IV a) Perencanaan Kegiatan yang dilaksanakan dalam perencanaan adalah: (7) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi perubahan wujud benda sesuai dengan silabus SD (8) Menyusun soal post tes dan Lembar Kerja Siswa (LKS) materi perubahan wujud benda yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar kognitif dan kemampuan berpikir kritis siswa, (9) Menyusun lembar observasi berupa lembar afektif dan psikomotorik yang akan digunakan untuk menilai kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. b) Pelaksanaan Tindakan yang dilakukan pada tahap ini adalah guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai skenario yang telah direncanakan. Pada siklus ini berjalan selama 2 jam pelajaran dengan kegiatan sebagai berikut : a. Guru membuka pelajaran dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi perubahan wujud benda, b. Guru memberikan respon atas jawaban siswa dan memotivasi siswa melakukan percobaan untuk mengetahui lebih jelas tentang perubahan wujud benda, c. Guru menjelaskan secara singkat bagaimana proses pembelajaran akan dilaksanakan, d. Siswa dibagi dalam 8 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa, e. Siswa mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk percobaan,

27

f. Guru membagikan LKS yang berisi petunjuk pelaksanaan percobaan dan pertanyaan-pertanyaan pada masing-masing siswa, g. Guru membimbing dan mengarahkan siswa melakukan percobaan perubahan wujud benda, h. Siswa melakukan percobaan sesuai petunjuk dalam LKS, i. Guru dan siswa melakukan tanya jawab untuk menyimpulkan hasil percobaan, guru memberikan penegasan tentang kesimpulan percobaan dan memberikan uraian lebih lanjut tentang perubahan wujud benda, j. Guru memberikan post tes pada siswa, c) Observasi Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan pengamatan kemampuan afektif dan psikomotorik siswa melalui lembar observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Kemampuan afektif siswa yang diamati terdiri dari keaktifan mengikuti pelajaran, kerjasama, kejujuran, menghargai orang lain, dan tanggung jawab. Kemampuan psikomotorik siswa yang diamati terdiri dari menyiapkan alat, melakukan percobaan, mencatat data, menyampaikan hasil dan membereskan alat percobaan. d) Refleksi Semua data yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan dan proses observasi dikumpulkan, dianalisis dan dievaluasi untuk mengetahui berhasil atau tidaknya tindakan yang dilakukan. Tahap refleksi pada siklus empat digunakan sebagai acuan apakah diperlukan tindakan untuk siklus selanjutnya. Hal ini dapat dilihat dari keberhasilan pada siklus ini, jika pada siklus ini belum mencapai keberhasilan

28

indikator, maka perlu dilakukan tindakan pada siklus selanjutnya.

3.4 Tehnik Pengambilan Data
3.4.1 Sumber Data Sumber data penelitian ini adalah semua siswa kelas IV dan SD Negeri Sambiroto. 3.4.2 Jenis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang terdiri dari: • Data tentang hasil belajar kognitif siswa, • Data tentang hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa. • Data tentang kemampuan berpikir kritis siswa, 3.4.3 Cara pengambilan data Cara pengambilan data disesuaikan dengan jenis data yang diperoleh dalam penelitian, yakni: (1) Data hasil belajar kognitif siswa diambil dari nilai post test yang diberikan pada setiap akhir siklus. (2) Data hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa diambil dari penilaian lembar observasi. (3) Data tentang kemampuan berpikir kritis siswa diambil dari penilaian tes kemampuan berpikir kritis dalam LKS.

29

3.5 Uji Coba Instrumen Penelitian
Uji validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran soal dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora tahun ajaran 2008/2009 yang bukan merupakan obyek penelitian. 3.5.1 Validitas Soal Rumus yang digunakan untuk mengetahui validitas suatu soal yaitu rumus korelasi product moment dengan angka kasar:
rXY = N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )

{N ∑ X 2 −

(∑ X )}{N ∑ Y
2

2

− (∑ Y ) 2 }

(Arikunto 2002: 78)

Keterangan:
rxy

: koefisien korelasi variabel X dan Y = skor tiap butir soal = skor total yang benar dari tiap subjek = jumlah subjek

X Y N

Harga rxy atau rhitung yang diperoleh dikonsultasikan dengan rtabel product momen. Soal dikatakan valid jika harga rhitung > r tabel dengan taraf signifikan 5%. Hasil analisis uji coba soal pada siklus I, didapatkan soal yang valid adalah soal nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10 dan soal yang tidak valid adalah nomor 5, 11, dan 12. Hasil analisis uji coba soal pada siklus II, didapatkan soal yang valid adalah soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 9, 11,12 dan soal yang tidak valid adalah nomor 7, 8, dan 10. Hasil analisis uji coba soal pada siklus III, didapatkan soal yang valid adalah soal nomor 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11 dan soal yang tidak valid adalah nomor 3 dan 12. Hasil analisis uji coba soal pada siklus IV, didapatkan soal yang valid

30

adalah soal nomor 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 19, 23, 24 dan soal yang tidak valid adalah nomor 3, 13, 17, 18, 20, 21, dan 22. Sebagai contoh perhitungan dapat dilihat pada lampiran 8 3.5.2 Reliabitilas Untuk menguji reliabilitas instrumen digunakan rumus K-R 20 :
2 ⎛ k ⎞⎛ S − ∑ pq ⎞ ⎜ ⎟ r11 = ⎜ ⎟ ⎟ S2 ⎝ k − 1 ⎠⎜ ⎝ ⎠

(Arikunto 2002 : 100)

Keterangan:

r11 = reliabilitas.
k = banyaknya butir soal. p = proporsi siswa yang menjawab benar. q = proporsi siswa yang menjawab salah. S = standar deviasi dari tes Harga r11 yang diperoleh dikonsultasikan dengan rtabel product moment dengan taraf signifikan 5%. Jika harga r11 > rtabel product moment maka instumen yang diuji bersifat reliabel. Dari hasil analisis data hasil uji coba soal pilihan ganda didapatkan harga reliabilitas (r11) sebesar 0,909 dan jika diambil tingkat kesalahan ( α ) = 5%, dengan banyak peserta uji coba ( N ) = 20 siswa, maka diperoleh rtabel = 0,444. Karena r11 > rtabel , maka dapat disimpulkan bahwa soal yang diujicoba adalah reliabel. 3.5.3 Tingkat kesukaran Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

31

P=

B JS

(Arikunto 2002 : 208)

Keterangan: P = Indeks kesukaran soal B = banyaknya siswa yang menjawab benar JS = jumlah seluruh siswa peserta tes Klasifikasi indeks kesulitan soal: Soal dengan 0,00 < P ≤ 0,3 adalah soal sukar Soal dengan 0,3 < P ≤ 0,7 adalah soal sedang Soal dengan 0,7 < P ≤ 1,00 adalah soal mudah Dari hasil uji coba soal pada siklus I, soal nomor 3, 4, 11 dan 12 dikategorikan mudah, soal nomor 1, 2, 6, 7, 8, 9, dan 10 dikategorikan sedang dan soal nomor 5 dikategorikan sukar. Hasil uji coba soal pada siklus II, soal nomor 3, 4, 7, 8, 9, 11, dan 12 dikategorikan mudah, soal nomor 1, 2, 5, dan 6 dikategorikan sedang dan soal nomor 10 dikategorikan sukar. Hasil uji coba soal pada siklus III, soal nomor 1, 4, 5, 10, dan 11 dikategorikan soal mudah, soal nomor 1, 2, 6, 7, 8, 9, dan 12 dikategorikan sedang dan soal nomor 3 dikategorikan sukar. Hasil uji coba soal pada siklus IV, soal nomor 1, 2, 3, 4, 8, 9, 10, 12, 15, 18, dan 20 dikategorikan soal mudah, soal nomor 5, 6, 7, 11, 13, 14, 17, 19, 21, dan 24 dikategorikan sedang dan soal nomor 16, 22, dan 23 dikategorikan sukar. Sebagai contoh perhitungan dapat dilihat pada lampiran 8 3.5.4 Daya pembeda soal Daya pembeda atau indeks diskriminasi digunakan untuk membedakan an-

32

tara siswa pandai (berkemampuan tinggi) dan siswa tidak pandai (berkemampuan rendah). Rumus yang digunakan untuk menentukan daya pembeda soal adalah:
D= BA − BB JA − JB

(Arikunto 2002: 213)

Keterangan: BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar
B

BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar
B

JA = banyaknya peserta kelompok atas JB = banyaknya peserta kelompok bawah Daya pembeda dapat diklasifikasikan sebagai berikut: D = 0,00 – < 0,20 = Jelek D = 0,20 – < 0,40 = cukup D = 0,40 – < 0,70 = Baik D = 0,70 – 1,00 = baik sekali D = negatif = semua soal tidak baik = soal perlu dibuang Hasil uji coba soal pada siklus I, dari soal nomor 8 dan 9 memiliki daya beda baik, soal nomor memiliki daya beda 1, 2, 3, 6, 7, dan 10 cukup dan soal nomor 4, 5, 11, dan 12 memiliki daya beda jelek. Hasil uji coba soal pada siklus II, dari soal nomor 2 dan 12 memiliki daya beda baik, soal nomor 1, 3, 4, 5, 6, 9, dan 11 memiliki daya beda cukup dan soal nomor 7, 8, dan 10 memiliki daya beda jelek. Hasil uji coba soal pada siklus III, dari soal nomor 2 memiliki daya beda baik sekali, soal nomor 6 memiliki daya beda baik, soal nomor 1, 4, 5, 7, 8, 9, 10, dan 11 memiliki daya beda cukup dan soal nomor 3 dan 12 memiliki daya beda jelek. Hasil uji coba soal pada siklus IV, dari soal nomor 5, 6, 11, 14, 16, dan 19 me-

33

miliki daya beda baik, soal nomor 1, 2, 4, 7, 8, 9, 10, 12, 13, 15, 20, 23, dan 24 memiliki daya beda cukup dan soal nomor 3, 17, 18, 21, dan 22 memiliki daya beda jelek. Sebagai contoh perhitungan dapat dilihat pada lampiran 8

3.6 Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dari penelitian ini terdiri dari data kuantitatif dan data kualitatif. Oleh karena itu, analisis data yang dilakukan berupa analisis deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh dari tes, dan data kualitatif diperoleh dari lembar observasi. Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut : (1) Data dari hasil tes kognitif berupa post tes, hasil tes kemampuan berpikir kritis, hasil observasi afektif dan psikomotorik dihitung dengan menggunakan rumus: Nilai =
∑ skor perolehan × 100 (Depdiknas 2003:15) ∑ skor maksimal

(2) Persentase ketuntasan belajar klasikal siswa dihitung dengan menggunakan rumus deskriptif presentase sebagai berikut :
%=

n × 100% N

(Sudjana 1999:184)

Keterangan : % = persentase n = jumlah siswa yang tuntas secara klasikal N = jumlah seluruh siswa (3) Uji-t Uji-t digunakan untuk mengetahui taraf signifikansi peningkatan hasil belajar

34

kognitif, afektif, psikomotorik, kemampuan berpikir kritis siswa dari satu siklus ke siklus berikutnya.
t= Md N ( N − 1)

∑ x 2d

(Arikunto 2002 : 276)

dengan:

Md xd
2

= mean dari perbedaan siklus satu dan siklus berikutnya. = deviasi masing-masing subyek ( d − Md )

∑ x d = jumlah kuadrat deviasi.
N d .b.
= subjek pada sampel = ditentukan dengan N − 1

3.7 Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam pembelajaran ini tercermin dengan adanya peningkatan hasil kemampuan berpikir kritis siswa, hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik. Keberhasilan pembelajaran untuk aspek kemampuan kognitif dan kemampuan berpikir kritis siswa dapat di ketahui dari hasil tes, jika hasil tes belajar siswa mencapai 65% secara individual dan 85% secara klasikal. Untuk aspek afektif dan aspek psikomotorik, dikatakan tuntas belajar jika hasil belajar siswa mencapai 75% secara individual dan ketuntasan klasikal 75% (Mulyasa 2003:99-102).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Hasil Belajar Kognitif Hasil belajar kognitif siswa disajikan pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1.
Tabel 4.1. Hasil belajar kognitif siswa tiap siklus

No 1. 2. 3. 4

Keterangan Nilai Terendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-rata Ketuntasan Klasikal (%)

Siklus I 25 100 63.04 34.78

Siklus II 12.5 100 74.46 58.70

Siklus III 50 100 81.25 86.96

Siklus IV 68.75 100 85.19 100

Siklus I
120 100 80 60 40 20 0 Nilai Terendah

Siklus II

Siklus III

Siklus IV

Nilai Tertinggi

Nilai Rata-rata

Ketuntasan Klasikal (%) 4

1.

2.

3.

Gambar 4.1. Grafik peningkatan hasil belajar kognitif siswa

Berdasarkan hasil analisis uji-t pada siklus I ke siklus II diperoleh thitung sebesar 5,47 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil analisis uji-t pada siklus II ke siklus III diperoleh thitung sebesar 3,00 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil analisis uji-t pada siklus III ke siklus IV diperoleh thitung sebesar 2,47 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil tersebut menunjukkan hasil belajar kognitif siswa dari siklus I ke siklus II, siklus II ke si-

35

36

klus III dan siklus III ke siklus IV meningkat secara signifikan, sebab thitung>ttabel.. 4.1.2 Hasil Belajar Afektif Penilaian hasil belajar afektif meliputi: keaktifan mengikuti pelajaran, kerjasama, kejujuran, menghargai orang lain, dan tanggung jawab. Data hasil belajar afektif disajikan pada Tabel 4.2 dan Gambar 4.2.
Tabel 4.2. Hasil belajar afektif siswa tiap siklus

No 1. 2. 3. 4

Keterangan Nilai Terendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-rata Ketuntasan Klasikal (%)
Siklus I
120 100 80 60 40 20 0 Nilai Terendah

Siklus I 30 80 76.09 89.13
Siklus II

Siklus II 50 85 81.52 93.48
Siklus III

Siklus III 55 95 91.74 95.65
Siklus IV

Siklus IV 70 100 96.20 97.83

Nilai Tertinggi

Nilai Rata-rata

Ketuntasan Klasikal (%) 4

1.

2.

3.

Gambar 4.2. Grafik peningkatan hasil belajar afektif siswa

Berdasarkan hasil analisis uji-t pada siklus I ke siklus II diperoleh thitung sebesar 3,71 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil analisis uji-t pada siklus II ke siklus III diperoleh thitung sebesar 6,93 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil analisis uji-t pada siklus III ke siklus IV diperoleh thitung sebesar 3,50 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil tersebut menunjukkan hasil belajar kognitif siswa dari siklus I ke siklus II, siklus II ke siklus III dan siklus III ke siklus IV meningkat secara signifikan, sebab thitung>ttabel.

37

4.1.3 Hasil Belajar Psikomotorik Penilaian hasil belajar psikomotorik meliputi: penilaian dalam menyiapkan alat percobaan, melakukan percobaan, mencatat data hasil percobaan, menyampaikan hasil percobaan di depan kelas, dan merapikan kembali alat setelah percobaan. Data hasil belajar psikomotorik disajikan pada Tabel 4.3 dan Gambar 4.3.
Tabel 4.3. Hasil belajar psikomotorik siswa tiap siklus

No 1. 2. 3. 4

Keterangan Nilai Terendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-rata Ketuntasan Klasikal (%)
Siklus I
120 100 80 60 40 20 0 Nilai Terendah

Siklus I 25 80 63.15 32.61
Siklus II

Siklus II 30 85 70.33 41.30
Siklus III

Siklus III 50 95 77.72 86.96
Siklus IV

Siklus IV 65 100 80.98 91.30

Nilai Tertinggi

Nilai Rata-rata

Ketuntasan Klasikal (%) 4

1.

2.

3.

Gambar 4.3. Grafik peningkatan hasil belajar psikomotorik

Berdasarkan hasil analisis uji-t pada siklus I ke siklus II diperoleh thitung sebesar 4,29 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil analisis uji-t pada siklus II ke siklus III diperoleh thitung sebesar 4,71 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil analisis uji-t pada siklus III ke siklus IV diperoleh thitung sebesar 2,68 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar kognitif siswa dari siklus I ke siklus II, siklus II ke siklus III dan siklus III ke siklus IV meningkat secara signifikan, sebab thitung> ttabel.

38

4.1.4 Kemampuan Berpikir Kritis Hasil aspek kemampuan berpikir kritis yang diungkap meliputi: kemampuan mengamati, mengklasifikasi, mengasumsi, dan menarik kesimpulan disajikan pada Tabel 4.4 dan Gambar 4.4.
Tabel 4.4. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis tiap aspek

No 1. 2. 3. 4

Aspek Mengamati Mengklasifikasi Mengasumsi Menarik kesimpulan Siklus I 75 62 66 50

Nilai rata-rata Siklus II Siklus III 87 87 70 85 66 70 64 70

Siklus IV 96 85 79 89

120 100 Nilai rata-rata Klasikal 80 60 40 20 0 75 62 66 50 96 87 70 66 64 87 85 70 70 85 89 79

Siklus I

Siklus II

Siklus III Siklus IV

Gambar 4.4. Grafik rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis tiap aspek

Pencapaian hasil kemampuan berpikir kritis siswa disajikan pada Tabel 4.5 dan Gambar 4.5
Tabel 4.5. Hasil kemampuan berpikir kritis siswa tiap siklus

No 1. 2. 3. 4

Keterangan Nilai Terendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-rata Ketuntasan Klasikal (%)

Siklus I 37.5 81.25 63.18 43.48

Siklus II 50 87.5 71.47 80.44

Siklus III 50 93.75 77.58 82.61

Siklus IV 43.75 100 87.09 93.48

39

Siklus I
120 100 80 60 40 20 0 Nilai Terendah

Siklus II

Siklus III

Siklus IV

Nilai Tertinggi

Nilai Rata-rata

Ketuntasan Klasikal (%) 4

1.

2.

3.

Gambar 4.5. Grafik Hasil kemampuan berpikir kritis siswa tiap siklus

Berdasarkan hasil analisis uji-t pada siklus I ke siklus II diperoleh thitung sebesar 4,75 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil analisis uji-t pada siklus II ke siklus III diperoleh thitung sebesar 3,42 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil analisis uji-t pada siklus III ke siklus IV diperoleh thitung sebesar 3,92 dan ttabel sebesar 2,01. Hasil tersebut menunjukkan hasil belajar kognitif siswa dari siklus I ke siklus II, siklus II ke siklus III dan siklus III ke siklus IV meningkat secara signifikan, sebab thitung> ttabel.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Hasil Belajar Kognitif Penerapan metode eksperimen pada penelitian ini menyebabkan meningkatnya hasil belajar kognitif siswa yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai ratarata dari tiap siklus secara signifikan. Pembelajaran melalui penerapan metode eksperimen dimaksudkan untuk membimbing siswa menemukan konsep secara mandiri melalui kegiatan percobaan. Penemuan konsep tersebut diawali dengan fakta-fakta kongkrit yang dijumpai siswa secara langsung saat melakukan kegiatan percobaan, seperti pada percobaan benda padat, siswa dapat menjumpai

40

sendiri bagaimana sifat-sifat dari benda padat. Fakta-fakta kongkrit yang dijumpai siswa diolah lagi sehingga membentuk gagasan, dan dari gagasan tersebut siswa akan menemukan suatu konsep. Pendapat ini diutarakan Aswasulasikin (2008), bahwa fakta-fakta merupakan dasar dari suatu konsep, fakta-fakta hanyalah merupakan bahan kasar dan harus diolah lagi sehingga membentuk gagasan yang berarti, dan dari gagasan-gagasan itu membentuk suatu pertalian yang disebut dengan konsep. Kegiatan percobaan seperti ini membuat siswa lebih mudah memahami suatu materi pelajaran dalam proses pembelajaran, karena siswa mampu menemukan konsep secara mandiri berdasarkan fakta-fakta kongkrit yang dijumpai saat melakukan percobaan. Hal ini didukung hasil penelitian Dhiasuprianti (2008) pada siswa SDN Tekung 2 Lumajang bahwa fakta-fakta yang kongkrit dapat dijumpai secara langsung oleh siswa dalam kegiatan bereksperimen dan dijumpainya faktafakta tersebut membuat siswa lebih mudah dalam membangun pemahaman suatu materi pelajaran. Kegiatan seperti ini juga akan membawa kemampuan kognitif siswa menjadi lebih baik dan berarti, karena siswa menjadi lebih aktif dalam memperoleh pengetahuan melalui pengalaman langsung, dan bukan hanya sekedar mendengar dan menerima pengetahuan atau informasi dari apa yang dikatakan oleh guru saja (Suherman, dkk 2008). Peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada tiap siklusnya, tidak diiringi dengan terpenuhinya ketuntasan belajar klasikal pada siklus I dan II. Ketidaktuntasan tersebut dikarenakan masih ada beberapa siswa yang belum mencapai pemahaman materi, akibatnya nilai yang diperoleh masih di bawah batas indikator

41

keberhasilan yang sudah ditentukan. Pada siklus III dan IV nilai maupun ketuntasan belajar klasikal siswa sudah dapat memenuhi indikator keberhasilan, oleh karena itu pembelajaran sudah dapat dikatakan tuntas. Ketuntasan hasil belajar siswa pada penelitian ini membuktikan bahwa pembelajaran melalui penerapan metode eksperimen dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Metode eksperimen dapat dirancang sebagai kegiatan penemuan yang dapat membantu siswa untuk menemukan konsep atau teori secara mandiri melalui kegiatan percobaan (Poedjiadi 2005:90). Senada dengan hasil penelitian Sasmita (2006) pada siswa SDN Cimurid, yang menunjukkan bahwa metode eksperimen telah membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran. 4.2.2 Hasil Belajar Afektif Hasil belajar afektif siswa mengalami peningkatan secara signifikan pada setiap siklusnya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata dari tiap siklus. Peningkatan hasil belajar afektif pada tiap siklusnya dikarenakan terciptanya lingkungan dan suasana baru dalam pembelajaran (Sudjana 2008:39). Penilaian hasil belajar afektif pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap atau perilaku siswa selama proses pembelajaran sedang berlangsung. Sikap yang dinilai dalam penelitian ini meliputi: kedisiplinan, kerjasama, kejujuran, menghargai orang lain dan tanggungjawab. Selama proses pembelajaran berlangsung, kedisiplinan siswa sudah terlihat pada awal kegiatan pembelajaran, siswa selalu masuk kelas sebelum guru hadir. Kedisiplinan ini sudah menjadi kebiasaan siswa sejak diterapkan peraturan seko-

42

lah yang menuntut siswa disiplin masuk kelas sebelum jam pelajaran dimulai. Siswa melakukan percobaan terbagi dalam beberapa kelompok di setiap siklusnya. Guru mengelompokkan siswa dengan tujuan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial pada siswa yakni sikap saling menghargai dan mau bekerjasama pada siswa. Setiap anggota kelompok memiliki kekurangan dan kelebihan, dan dari kekurangan serta kelebihan tersebut diharapkan menjadikan rasa saling menghargai dan membutuhkan sehingga mau bekerjasama antar siswa (Djamarah 2006:55-56). Saat melakukan percobaan, guru menyarankan agar ada pembagian tugas untuk masing-masing anggota kelompok, dengan tujuan agar kegiatan percobaan terasa lebih ringan dan cepat terselesaikan. Adanya tugas pada masingmasing siswa dalam satu kelompok dapat melatih rasa tanggungjawab, karena siswa terdorong untuk bertanggungjawab bukan hanya terhadap dirinya melainkan juga terhadap kelompoknya (Ibrahim 2000:47). Menurut Wiyanto, dkk (2005) melalui kegiatan percobaan siswa juga dapat dibiasakan untuk bersikap jujur. Sikap jujur tersebut dapat tercermin pada siswa dalam memperoleh data hasil percobaan, apakah data yang diperoleh berdasarkan hasil kerja kelompok sendiri ataukah diperoleh dari hasil kecurangan. Peningkatan aspek penilaian hasil belajar afektif pada tiap siklus merupakan hasil dari pembiasaan sikap disiplin, jujur, mau bekerjasama, menghargai orang lain dan bertanggungjawab yang dilakukan secara bertahap yang pada akhirnya membawa perubahan sikap siswa tersebut menjadi lebih baik. Pendapat ini didukung pernyataan Suprapto (2007), bahwa pembiasaan pada suatu sikap yang dilakukan secara bertahap pada dasarnya dapat kita rasakan pada perubahan sikap

43

siswa tersebut selama proses pembelajaran. Penerapan metode eksperimen membawa siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran yakni dengan melakukan kegiatan percobaan. Siswa juga memperoleh sesuatu yang baru dalam belajar hingga pada akhirnya mereka menjadi terbiasa bersikap baik dalam pembelajaran. Pengalaman secara langsung dan pembiasaan sikap disiplin, jujur, mau bekerjasama, sopan dan bertanggungjawab pada pembelajaran inilah yang membawa perubahan sikap siswa tersebut kearah yang lebih baik yang pada akhirnya dapat mencapai ketuntasan hasil belajar siswa (Djamarah 2006 :11). Senada dengan hasil penelitian Hastuti dalam Wiyanto (2005) bahwa sikap siswa dalam menerima pelajaran dapat mempengaruhi ketuntasan hasil belajar. 4.2.3 Hasil Belajar Psikomotorik Hasil belajar psikomotorik siswa mengalami peningkatan secara signifikan pada tiap siklusnya, peningkatan ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai ratarata dari tiap siklus. Hasil belajar psikomotorik siswa meningkat pada tiap siklusnya, dikarenakan pertumbuhan aspek psikomotorik yang dapat berkembang secara optimal melalui penerpan metode eksperimen yang menekankan aktivitas siswa pada pembelajaran (Dahniar 2007). Aspek psikomotorik yang dinilai dalam penelitian ini meliputi keterampilan siswa dalam menyiapkan alat percobaan, melakukan percobaan, mencatat data hasil percobaan, menyampaikan hasil percobaan di depan kelas, dan membereskan alat percobaan. Kemampuan psikomotorik atau keterampilan gerak pada siswa dapat dilatih dengan memberi kesempatan siswa untuk melakukan percobaan (Stainu 2009).

44

Pada pembelajaran dengan penerapan metode eksperimen siswa diarahkan melakukan percobaan berdasarkan panduan LKS. LKS berisi panduan kegiatan yang harus dilakukan siswa pada saat melakukan percobaan. Kegiatan percobaan yang dilakukan siswa meliputi menyiapkan alat percobaan, melakukan percobaan, mencatat data hasil percobaan, menyampaikan hasil percobaan di depan kelas, dan membereskan alat setelah percobaan selesai. Kegiatan tersebut dilakukan siswa secara berulang pada setiap siklusnya. Leighbody dan Goetz dalam Stainu (2009) menjelaskan, bahwa kegiatan atau latihan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadikan kebiasaan untuk melakukan kegiatan tersebut, selain itu juga memberikan pengaruh yang sangat besar pada pemahiran keterampilan. Hal ini berarti kegiatan percobaan yang dilakukan secara berulang akan membuat siswa terbiasa melakukan kegiatan percobaan dan menjadikan siswa lebih terampil melakukan percobaan. Pada siklus I dan II nilai rata-rata hasil belajar psikomotorik siswa masih berada dibawah batas indikator keberhasilan, akibatnya ketuntasan hasil belajarnya pun belum tercapai. Pada siklus III dan IV nilai rata-rata dan ketuntasan hasil belajar psikomotorik siswa meningkat dan sudah mencapai indikator keberhasilan, maka pembelajaran sudah dapat dikatakan tuntas. Ketuntasan hasil belajar yang dapat dicapai siswa dipengaruhi oleh meningkatnya kebiasaan dan keterampilan siswa melakukan percobaan (Sudjana 2008:39). Ketuntasan hasil belajar psikomotorik yang dicapai siswa menunjukkan bahwa pembelajaran melalui metode eksperimen dapat melatih dan meningkatkan keterampilan siswa melakukan kegiatan percobaan diantaranya dalam menyiapkan

45

alat percobaan, melakukan percobaan, mencatat data hasil percobaan, menyampaikan hasil percobaan di depan kelas, dan membereskan alat percobaan. Pendapat ini didukung hasil penelitian Dahniar (2007) pada siswa SMP Nasional KPS Balikpapan, bahwa pembelajaran yang melibatkan kegiatan percobaan dapat membawa perkembangan yang baik pada hasil belajar psikomotorik siswa. 4.2.4 Kemampuan Berpikir Kritis Kemampuan berpikir kritis siswa pada tiap siklus mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata pada tiap siklus. Peningkatan tersebut disebabkan adanya perubahan metode pembelajaran yang melibatkan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran melalui penerapan metode eksperimen. Sesuai dengan pendapat Ibrahim (2007), bahwa keterampilan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan melalui strategi dan metode pembelajaran yang mendukung siswa untuk belajar secara aktif. Kemampuan berpikir kritis yang dinilai pada penelitian ini meliputi kemampuan mengamati, mengklasifikasi, mengasumsi dan menarik kesimpulan. Kemampuan tersebut dinilai melalui LKS yang harus dikerjakan siswa secara individu. LKS menurut Darmojo dalam Rahmawati (2005) dapat mendorong siswa untuk aktif mengembangkan dan menerapkan kemampuannya dalam melakukan percobaan. LKS juga dapat membantu siswa menemukan konsep-konsep secara mandiri melalui aktifitas individu atau dalam kerja kelompok. Pada pembelajaran melalui penerapan metode eksperimen, siswa diajak secara langsung mengamati objek yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari, misalkan pada materi benda padat, siswa diajak untuk mengamati alat-alat tu-

46

lis. Melalui mengamati siswa juga dilatih untuk mengklasifikasi atau mengelompokkan suatu obyek atau benda berdasarkan sifatnya. Mengklasifikasi suatu benda dilakukan dengan cara mengamati kesamaan, perbedaan, dan hubungan saling keterkaitan antar benda tersebut (Mundilarto 2002:15). Kegiatan mengamati seperti ini dapat melatih kemampuan berpikir kritis pada siswa (Hassoubah 2002:101). Selain mengamati, kegiatan lain yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis pada siswa adalah kegiatan mengasumsi dan menarik kesimpulan (Filsaime 2008: 86). Pada proses pembelajaran, siswa dilatih untuk mengasumsi dengan mengemukakan pendapat secara logis tentang suatu hal yang diajukan dalam bentuk pernyataan-pernyataan, contohnya pada materi benda cair, siswa diminta mengasumsi apa yang terjadi saat air diteteskan pada sehelai kapas. Setelah mengamati, mengklasifikasi dan mengasumsi tentang suatu benda, siswa kemudian dilatih untuk menarik kesimpulan tentang sifat dan contoh dari benda tersebut. Berdasarkan hasil penelitian aspek mengamati siswa pada siklus I, II, III dan IV sudah dapat dikatakan memenuhi indikator penilaian, akan tetapi dalam mengklasifikasi pada siklus I dan II belum dapat memenuhi indikator penilaian, kemampuan siswa dalam mengklasifikasi meningkat dan memenuhi indikator penilaian pada siklus III dan IV. Kemampuan siswa dalam mengasumsi dan menarik kesimpulan masih lemah pada siklus I sampai III, hal ini mengakibatkan tidak terpenuhinya indikator penilaian. Akan tetapi pada siklus IV kemampuan mengasumsi dan menarik kesimpulan siswa sudah dapat memenuhi indikator penilaian. Belum terpenuhinya indikator penilaian siswa pada beberapa aspek kemampuan berpikir kritis, disebabkan penilaian ini merupakan hal baru bagi siswa.

47

Secara keseluruhan, kemampuan berpikir kritis siswa meningkat secara signifikan pada tiap siklusnya. Siswa belum dapat mencapai ketuntasan belajar pada siklus I, hal ini disebabkan nilai rata-rata maupun ketuntasan klasikalnya masih berada di bawah batas ketuntasan belajar yang ditentukan. Pada siklus II dan III nilai rata-rata dan ketuntasan klasikalnya mulai meningkat, akan tetapi nilai ketuntasan klasikalnya masih belum dapat mencapai ketuntasan belajar. Penelitian dilanjutkan pada siklus IV, pada siklus ini nilai rata-rata dan ketuntasan klasikalnya sudah dapat mencapai indikator keberhasilan, sehingga pembelajaran sudah dapat dikatakan tuntas. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa merupakan akibat dari penerapan metode eksperimen, karena metode eksperimen memberikan kesempatan siswa aktif dalam pembelajaran dan melatih kemampuan berpikir kritis siswa melalui kegiatan percobaan yang melibatkan kemampuan siswa dalam mengamati, mengklasifikasi, mengasumsi dan menarik kesimpulan. Hal ini didukung pendapat Palendang dalam Martiningsih (2007), kegiatan percobaan atau eksperimen mampu memberikan kondisi belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen juga memberi kesempatan siswa belajar melakukan penyelidikkan, menginterpretasikan data, dan menarik kesimpulan yang didalamnya terdapat unsur inkuiri yang mampu menuntut siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, sehingga secara otomatis kemampuan berpikir kritisnya dapat terlatih (Ibrahim 2007). Kemampuan berpikir kritis siswa yang meningkat pada tiap siklusnya, membuktikan bahwa pembelajaran dengan kegiatan percobaan melalui penerapan me-

48

tode eksperimen telah berhasil melatih kemampuan berpikir kritis pada siswa. Pernyataan ini didukung hasil penelitian Kaswan (2005) pada siswa di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Aceh Utara yang menunjukkan bahwa pembelajaran melalui kegiatan percobaan dapat melatih kemampuan berpikir kritis siswa.

BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
Simpulan dari hasil penelitian ini adalah penerapan metode eksperimen pokok bahasan benda padat, cair, dan gas dapat melatih kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora tahun 2008/2009. Hal ini dapat ditunjukkan dengan ketuntasan klasikal hasil kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I 43.48%, siklus II 80.44%, siklus III 82.61% dan siklus IV 93.48% yang meningkat secara signifikan. Hasil belajar belajar kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa kelas IV SD Negeri Sambiroto Kunduran Blora tahun 2008/2009 dapat meningkat pada setiap siklus setelah dilakukan penerapan metode eksperimen pokok bahasan benda padat, cair, dan gas. Hal ini dapat dilihat dari ketuntasan klasikal hasil belajar kognitif siswa siklus I 34.78%, siklus II 58.70%, siklus III 86.96%, siklus IV 100%, ketuntasan klasikal hasil belajar afektif siswa siklus I 89.13%, siklus II 93.48%, siklus III 95.65%, siklus IV 97.83%, ketuntasan klasikal hasil belajar psikomotorik siswa siklus I 32.61%, siklus II 41.30%, siklus III 86.96%, siklus IV 91.30% yang meningkat secara signifikan.

5.2. Saran
Untuk lebih meningkatkan efektifitas penerapan metode eksperimen, diperlukan penelitian lebih lanjut dengan pokok bahasan atau materi yang berbeda.

49

DAFTAR PUSTAKA Admin, W.I. 2008. Filosofi Sains. Online. http://lpmpjogja.diknas.go.id/index2. php?option=com_content&do_pdf=1&id=234. [diakses 11/12/2008]. Amin, M. 2008. Pembelajaran Kontekstual dalam Sains. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Online. http://waraskamdi.com/ index.php?option=comcontent&task=view&id. [diakses 11/12/2008]. Aqib, Z. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya. Arikunto, S. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pengajaran. Jakarta: Bina Aksara. Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Aswasulasikin. 2008. Hakekat Sains. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Online. http://www.elearningjogja.org/file.php/145/ Hakekat_IPA. rtf.[diakses 19/9/2008]. Carin & Sund. 1989. Teaching Science Trough Discovery. Toronto: Merril Publishing Company. Dahniar, N. 2006. Pertumbuhan Aspek Psikomotorik dalam Pembelajaran Fisika Berbasis Observasi Gelaja Fisis Pada Siswa SMP. Online. http://www.jurnaljpi.files.wordpress.com/2007/09/02-nani-dahniar.pdf. [diakses 29/12/2008]. Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains. Jakarta: Depdiknas. Dhiasuprianti. 2008. Metode Eksperimen di SDN Tekung 02 Lumajang. Online. http://lumajang.org/index.php/arsip/2008/10/11/metode-eksperimendi-sdn-tekung-02-lumajang. [diakses 29/12/2008]. Djamarah, S.B. dan Zain, A. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Farida, N. 2008. Pengaruh Pembelajaran Biologi Melalui Metode Eksperimen Terhadap Hasil Belajar Siswa. Online. http://gdlhub-gdl-grey-2008nurfarida-1726.[diakses 29/12/2008]. Filsaime, D.K. 2008. Menguak Rahasia Berpikir Kritis dan Kreatif. Jakarta: Prestasi Pustakaraya. Foster, B. 2004. Eksplorasi Sains Fisika SMP Jilid 1. Jakarta: Erlangga Harmi, S. 2007. Jendela IPA 4A. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri 50

51

Haryanto. 2002. SAINS Jilid 4 untuk Kelas IV. Jakarta : Erlangga Hassoubah, Z. I. 2007. Mengasah Pikiran Kreatif dan Kritis. Bandung: Nuansa. Ibrahim, M. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Ibrahim, M. 2007. Keterampilan Berpikir Kritis. Online. http://kpicenter.web.id/ neo /content/view/19/1/.[diakses 3/12/2008]. Kaswan. 2005. Peningkatan Pemahaman Konsep dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Melalui Kegiatan Laboratorium Berbasis Inkuiri Pada Pokok Bahasan Rangkaian Listrik Arus Searah. Online. http://.sps.upi.edu/ v3/? page= abstrak&option=tesis&action=view&id=039333.[diakses 29/12/2008]. Koes, S. 2003. Strategi Pembelajaran Fisika. Malang: Universitas Negeri Malang. Martiningsih. 2007. Macam-Macam Metode Pembelajaran. Online. http://martiningsih. blogspot.com/2007/12/macam-macam-metodepembelajaran.html. [diakses 28/2/2008]. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mundilarto. 2002. Kapita Selekta Pendidikan Fisika. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Poedjiadi, A. 2005. Sains Teknologi Masyarakat. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pusat Perbukuan Depdiknas. 2003. Standar Penilaian Buku Pelajaran Sains. Online. http://dikdasdki.go.id/download/standarbuku/sains. [diakses 28/12/2008]. Rahmawati, E. dkk. 2005. Pengajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction) dengan LKS pada Pokok Bahasan Kinematika Gerak Lurus Pada Siswa SMA Kelas X Semester 1. Jurnal Pend. Fisika Indonesia Vol.3, No.3, November2005: Universitas Negeri Semarang. Roestiyah, N.K. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Sasmita. 2006. Penggunaan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajarn Sains di Kelas V SDN Cimurid Cianjur. Universitas Pendidikan Indonesia Online. http://digilib.upi. edu /pasca/available/etd/ [diakses 29/12/2008]. Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

52

Stainu. 2009. Penilaian Ranah Psikomotorik Siswa. Online. http://stainukebumen wordpress.com/2009/01/06/penilaian-ranah-psikomotorik-siswa/. [diakses 8/1/2009]. Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito Sudjana, N. 2008. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Aglensindo. Sugandi, A. dkk. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK Universitas Negeri Semarang. Suherman, E. 2008. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Siswa. Online. http://pkab.wordpress.com/2008/04/29/model-belajar dan-pembelajaran-berorientasi-kompetensi-siswa.[diakses28/12/2008]. Sulaeman, A. 2007. Melatih Siswa Sekolah Dasar Menjadi Ilmuwan. Pusat Pengembangan Penataran Guru IPA. Online. http://www.p4tkipa.org /lihat.php?id=ARTIKEL&hari=KEPENDIDIKAN&20tanggal=14&20 bulan=Pebruari20&20oleh=Agus%20Sulaeman. [diakses 20/2/2008]. Sumaji. dkk. 2003. Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta: Kanisius. Suparno, P. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Suprapto, T. 2007. Mengajar Anak Berpikir Kritis. Online. http://www.madiunkab. go.id/warta/detail.php?id=100. [diakses 10/3/2008]. Sutrisno & Ik Gie, T. 1993. FISIKA DASAR Listrik, Magnet, dan Termofisika. Bandung: ITB. Wiyanto. 2005. Pengembangan Kompetensi Dasar ”Bersikap Ilmiah” Melalui Kegiatan Laboratorium Berbasis Inkuiri Bagi Siswa SMA. Jurnal Pend. Fisika Indonesia Vol.3, No.3, November2005: Universitas Negeri Semarang. Vitri. 2004. Mengajak Anak Berpikir Kritis. Online. http://anakdankeluarga. blog.com /63692/. [diakses 12/10/2008]. . Air Terjun. Online. http://tbn3.google.com. [diakses 20/5/2008]. . Balon Udara. Online. http://www.thechampa.com. [diakses 2/6/ 2008].

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful