You are on page 1of 32

LAPORAN KASUS

TBC PADA KEHAMILAN

Disusun Oleh :
Ayu Kusuma Ningrum
030.08.048
Pembimbing :
dr. Ronald Latuasan Sp.OG
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
PERIODE 13 JANUARI – 22 MARET 2014
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia demikian juga tuberkulosis
pada kehamilan. Insidens tuberkulosis pada kehamilan makin meningkat. Di Indonesia, kasus
baru tuberkulosis hampir separuhnya adalah wanita, dan menyerang sebagian wanita usia
produktif. Kira-kira 1-3% dari semua wanita hamil menderita tuberkulosis. Tuberkulosis pada
kehamilan mempunyai gejala klinis yang serupa dengan tuberkulosis pada wanita tidak
hamil.1,2
Diagnosis mungkin ditegakkan terlambat karena gejala awal yang tidak khas. Pada
kehamilan terdapat perubahan-perubahan pada sistem humoral, imunologis, peredaran darah,
sistem pernapasan, seperti terdesaknya diafragma ke atas sehingga paru-paru terdorong ke
atas oleh uterus yang gravid menyebabkan volume residu nafas berkurang. Saat hamil
pemakaian oksigen akan bertambah kira-kira 25% dibandingkan di luar kehamilan, apabia
penyakitnya berat atau prosesnya luas dapat menyebabkan hipoksia sehingga hasil konsepsi
juga ikut menderita, dapat terjadi partus prematurus atau kematian janin.1,2,3,4
Proses kehamilan, persalinan, masa nifas, dan laktasi mempunyai pengaruh kurang
menguntungkan terhadap jalannya penyakit. Hal ini disebabkan oleh karena perubahanperubahan dalam kehamilan yang kurang menguntungkan bagi proses penyakit dan daya
tahan tubuh yang turun akibat kehamilan.4
Tuberkulosis tidak mempengaruhi kehamilan dan kehamilan tidak mempengaruhi
manifestasi klinis dan progesivitas penyakit bila diterapi dengan regimen yang tepat dan
adekuat. Pemberian regimen yang tepat dan adekuat ini akan memperbaiki kualitas hidup ibu,
mengurangi efek samping obat-obat tuberkulosis terhadap janin dan mencegah infeksi yang
terjadi pada bayi yang baru lahir. Sebaiknya bayi baru lahir dilakukan pemeriksaan foto

thorax dan tes tuberkulin. Apabila hasil negatif, pada usia 6 minggu dilakukan vaksinasi
Bacil Calmatte Geurine (BCG).
Obat anti tuberkulosis yang diberikan dibagi dalam 2 golongan yaitu obat lini pertama
dan lini kedua. Obat lini pertama, kecuali Streptomisin dapat digunakan pada tuberkulosis
pada kehamilan. Penggunaan streptomisin dan obat lini kedua (kanamisin, etionamid,
kapreomisin) sebaiknya dihindari pada wanita hamil karena efek samping yang akan terjadi
pada janin, kecuali dalam keadaan resistensi beberapa obat. 1,2

BAB II
LAPORAN KASUS
I.

II.

Identitas
Nama pasien
Usia
Jenis Kelamin
Alamat
Pekerjaan
Agama
Status
Tanggal Masuk

: Ny. Nur Ayani
: 38 tahun
: Perempuan
: Jl. Cakung No. 81, Pulo gebang
: Ibu rumah tangga
: Islam
: Menikah
: Februari 2014

Nama suami
Usia
Jenis kelamin
Alamat
Pekerjaan
Agama
Status

: Tn. Rahmat
: 41 tahun
: Laki laki
: Jl. Cakung No. 81, Pulo gebang
: Wiraswasta
: Islam
: Menikah

Anamnesis

Pada tanggal 19 Februari 2014 dilakukan autoanamnesis pada pasien di ruangan rawat
inap (bangsal lantai 8 barat)
Keluhan Utama :
Mules sejak malam hari (pukul 01.00)
Keluhan tambahan :
Keluar darah dan lendir sejak 2 hari, batuk berdahak dahak kental berwarna putih sejak 7
hari sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit sekarang :
Os datang ke UGD dengan keluhan mulas mulas yang semakin lama semakin hebat sejak
malam hari (pukul 01.00), os juga mengeluhkan terdapat keluarnya lendir yang
bercampur darah sejak 2hari sebelum masuk rumah sakit. Keluarnya rembesan air
disangkal. Os juga alami batuk batuk berdahak, dahaknya berwarna putih kental sudah
sejak 7 hari masuk rumah sakit, belum berobat kemanapun, hanya didiamkan saja.

Os merupakan rujukan dari puskesmas, dengan G2P1A0 hamil 39 minggu dengan PEB
dan riwayat TBC (pada tahun 2011)
Riwayat Pernikahan :
Ini merupakan pernikahan pertama OS, dan sudah berlangsung selama 4 tahun
Riwayat Obstetrik dan Ginekologi :
OS pertama kali menstruasi pada saat usia 13 tahun, durasi menstruasi kurang
lebih selama 4 hari, banyaknya perdarahan 2 sampai 3 pembalut sedang per hari,
siklusnya teratur, ±28 hari, HPHT pasien: 20-05-2013 dan tafsiran partus pasien 27-022014.
Ini merupakan kehamilan ke 2, pada kehamilan pertama (tahun 2000) os
melahirkan di rumah sakit, persalinan spontan, dibantu oleh dokter, jenis kelamin laki
laki, Berat badan lahir 2900 gr, keadaan saat ini baik.
Antenatal care selama kehamilan sampai kehamilan ke tiga OS memeriksakan diri di
puskesmas.
Riwayat Kontrasepsi : Os pernah menggunakan KB suntik 3 bulan selama 1 tahun
Riwayat penyakit dahulu :
Os pernah menderita TBC tahun 2011, os jalani pengobatan selama 6 bulan, os jarang
kontrol ke spesialis penyakit dalam
Os tidak pernah menderita penyakit hipertensi ataupun hipertensi dalam kehamilan
sebelumnya. Riwayat asma, ataupun diabetes juga disangkal.

Riwayat penyakit keluarga :
Di dalam keluarga Os ada yang pernah menderita TBC paru, yaitu kakek os, namun saat
ini sudah meninggal dunia.
Suami Os merupakan perokok berat, namun tidak pernah menderita penyakit TBC
Di dalam keluarga juga tidak ada yang menderita penyakit hipertensi, asma, dan diabetes.

Riwayat kebiasaan :
Os tidak memiliki kebiasaan merokok, mengkonsumsi minuman keras.
III.

Pemeriksaan Fisik

A. Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda Vital
- TD 160/100
- Nadi 88x/menit
- Suhu 36,5 c
- RR 18x/menit

: Baik
: Compos mentis
:

Kepala

: Mata CA -/- SI -/-

THT

: mukosa tidak hiperemis, sekret (-)

Leher

: KGB dan tiroid tidak teraba membesar

Thoraks

:

-

Paru : Suara nafas vesikuler, Rhonki +/+, Wheezing -/Jantung : BJ I-II Reguler, murmur - , gallop –

Status Obstetrik (Abdomen)

:

Inspeksi : Tampak membesar dengan arah memanjang
Palpasi : Tinggi Fundus Uteri 34cm
Leopold I
: Bokong
Leopold II
: Punggung kanan
Leopold III : Presentasi Kepala
Leopold IV : Belum masuk pap
Auskultasi : DJJ 150 – 155 denyut per menit
Pemeriksaan dalam : Pembukaan 1 jari longgar, portio tebal lunak , ketuban (+)
menonjol, kepala hodge I
Ekstremitas : Akral hangat (+) di ke 4 esktremitas
Oedem (-) di ke 4 ekstremitas
IV.

Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
(Tanggal 17 – 2 – 2014)
Leukosit
: 8.7 ribu (N)
Eritrosit
: 3.8 juta (N)
Hemoglobin
: 11,9 g/dl (N)
Hematokrit
: 35 % (N)
Trombosit
: 343 ribu (N)
LED
: 120 (↑)
MCV/MCH/
: 92.0 (N) / 27.5/ (N)
MCHC/RDW
: 34 (N) / 13.0 (N)
Hitung Jenis
- Basofil
:0%
- Eosinofil
:2%
- Neutrofil Batang
:3%
- Neutrofil Segmen
: 60 %
- Limfosit
: 30 %
- Monosit
:5%

3,6 – 11 ribu
3,8 – 5,2 juta
11,7 – 15,5 g/dl
35 – 47%
150 – 440 ribu
80 - 100
80 – 100/ 26 – 34 /
32 – 36 / <14
0–1%
2–4%
3–5%
50 – 70 %
25 – 40 %
2–8

Faal hemostasis
Waktu perdarahan
Waktu pembekuan

: 2.00 menit
: 11.00 menit

1–6
5 – 15

Imunoserologi
Hepatitis
HBsAg kualitatif

: Non reaktif

Non reaktif

URINALISIS
Albumin urin

: +2

Negatif

(Tanggal 20 – 2- 2014)
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin

: 20.1 ribu (↑)
: 3.7 juta (↓)
: 11,8 g/dl (N)

3,6 – 11 ribu
3,8 – 5,2 juta
11,7 – 15,5 g/dl

Hematokrit
Trombosit
MCV/MCH/
MCHC/RDW

: 31 % (↓)
: 217 ribu (N)
: 84.9/ 29.0/ (N)
: 34.2/ 12.6 (N)

35 – 47%
150 – 440 ribu
80 – 100/ 26 – 34 /
32 – 36 / <14

2. Pemeriksaan Ultrasonografi
Tanggal – 2 – 2014
Kesan : G2P1A0 Hamil 39 minggu janin preskep hidup

RESUME :
Pada anamnesa didapatkan Os datang ke UGD dengan keluhan mulas mulas yang
semakin lama semakin hebat sejak malam hari (pukul 01.00), os juga mengeluhkan
terdapat keluarnya lendir yang bercampur darah sejak 2hari sebelum masuk rumah
sakit. Keluarnya rembesan air juga disangkal. Os juga alami batuk batuk berdahak,
dahaknya berwarna putih kental sudah sejak 7 hari masuk rumah sakit, belum berobat
kemanapun, hanya didiamkan saja.
Os merupakan rujukan dari puskesmas, dengan G2P1A0 hamil 39 minggu dengan
PEB dan riwayat TBC (pada tahun 2011).
Os pernah menderita berobat selama 6bulan (pada tahun 2011) Di dalam keluarga Os
ada yang pernah menderita TBC paru, yaitu kakek os, namun saat ini sudah
meninggal dunia.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
Status generalis, didapatkan keadaan umum baik, Tekanan darah tinggi 160 / 110,
pada tenggorokan ditemukan sekret (+) pada kedua lapang paru ditemukan ronkhi (+).
Berdasarkan status obstetri didapatkan Inspeksi perut yang tampak membesar arah
memanjang, dengan TFU 34 cm, janin bagian atas janin adalah bokong, punggung
terletak di sebelah kanan dan ekstremitas di sebelah kiri,bagian terbawah janin adalah
kepala dan belum masuk pap. Denyut jantung janin adalah 150 – 155.
Pada pemeriksaan dalam didapatkan pembukaan 1jari longgar, portio tebal lunak,
ketuban (+) menonjol, kepala hodge I.
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan Hasil laboratorium pada tanggal 17 -22014 : Peningkatan LED yaitu 120 mm/jam, Urinalisis didapatkan albumin urin +2

Hasil laboratorium pada tanggal 20 -2-2014 menunjukkan adanya peningkatan
leukosit (20.100), penurunan eritrosit (3,7 juta), penurunan hematokrit 31%
Pemeriksaan Ultrasonografi G2P1A0 Hamil 39 minggu janin preskep hidup

FOLLOW UP
17 Februari 2014, Pukul 07.30
S
perut terasa mulas, lendir (-), daraj (-)
batuk berdahak(+)
O

KU baik

TTV : TD160/100 N 72 x/menit, P 20 x/menit, S : 36

Status Generalis
1) Mata

:konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

2) Cor

:S1S2 normal, murmur -, gallop –

3) Paru:vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki +/+
4) Ekst

:akral hangat +/+, edema -/-

StatusObstetrik

Inspeksi

: perut tampak membesar
arah memanjang

Palpasi
o TFU : 34 cm
o

Leopold I

: Bokong

o

Leopold II

: Punggung kanan

o

Leopold III

: Presentasi Kepala

Leopold IV

o

: Belum masuk pap

Auskultasi

VT : Pembukaan 1 jari longgar, portio tebal lunak , ketuban (+) menonjol,

kepala hodge I

: DJJ 150 – 155 dpm

A

: G2P1A0 Hamil 38 minggu dengan PEB dan riwayat TBC eksaserbasi akut

P

:Konsul dengan dr.spesialis paru
- pemasangan infus asering 2line
- pemasangan catether

- Protokol MgSO4 (12gr 29 tetes permenit)

- Injeksi dexamethasone 10 mg (2x)
18 Februari 2014, Pukul 08.00
S
perut terasa mulas, lendir (-), daraj (-)
batuk berdahak(+). Sesak (+) sedikit
O

KU baik

TTV : TD130/80 N 80 x/menit, P 20 x/menit, S : 36

Status Generalis
1) Mata

:konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

2) Cor

:S1S2 normal, murmur -, gallop –

3) Paru:vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki +/+
4) Ekst

:akral hangat +/+, edema -/-

StatusObstetrik

Inspeksi

: perut tampak membesar arah memanjang

Palpasi

: TFU : 28 cm

Auskultasi

: DJJ 134 - 138dpm

A

: G2P1A0 Hamil 38 minggu dengan PEB dan riwayat TBC eksaserbasi akut

P

:

Nifedipin 10 mg

Protokol MgSO4 (Mgso4 12gr 16 tetespermenit) kolf ke II

-injeksi dexamethasone 10 mg (ke 3)
Hasil konsul dengan spesialis paru :
- infus asering (+ lasal 2cc + etaphylin 5cc) / 8jam

-inhalasi combiven + flexotide 4X/hari
PRO SC
19 Februari Pukul dilakukan OPERASI SC
Instruksi Post op :

Awasi tanda tanda vital

Awasi perdarahan

Diet seperti biasa

Obat obatan :
o Coamoxiclav 3 x 500 mg,
o Metil ergometrin 3 x 0,125mg,
o Asam mefenamat 3 x 500mg
o Ferofort 2 x 1
o Apabila tensi > 140 /90 protokol MgSO4 dilanjutkan
o Terapi paru dilanjutkan sampai 8 jam post operasi

20 Februari 2014, Pukul 08.00
S
Nyeri di daerah bekas operasi (+)
batuk berdahak(+). Sesak (minimal)
O

KU baik

TTV : TD130/80 N 80 x/menit, P 20 x/menit, S : 36
Status Generalis
1) Mata

:konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

2) Cor

:S1S2 normal, murmur -, gallop –

3) Paru:vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki +/+
4) Ekst

:akral hangat +/+, edema -/-

StatusObstetrik

TFU 3 jari bawah pusat

Kontraksi Uterus baiik

Lokhia 2 pembalut
A

: P2A0 Post SC atas indikasi PEB

P

:
o Coamoxiclav 3 x 500 mg,
o Metil ergometrin 3 x 0,125mg,
o Asam mefenamat 3 x 500mg
o Ferofort 2 x 1

DIAGNOSIS KERJA

:

P2A0 PARTUS ATERM DENGAN PEB DAN TBC EKSASERBASI AKUT

BAB III
ANALISA KASUS
Diagnosis pada pasien ini ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. ini merupakan kehamilan kedua os, anak pertama lahir pada tahun
2000 saat ini dalam keadaan sehat, os tidak pernah alami keguguran, Usia kehamilan Os yang
telah mencapai 39 minggu didasarkan pada HPHT Os yang terjadi pada tanggal 20 mei 2013
kemudian dikonfirmasi dengan pemeriksaan USG.
Berdasarkan anamnesis, Penegakkan diagnosis

PEB didasari oleh selama

kehamilan sampai usia kehamilan saat ini (39 minggu) os tidak pernah alami darah
tinggi,baru kali ini saja, os tidak pernah alami gejala seperti pusing berlebihan. Os juga
mengeluhkan adanya batuk batuk berdahak (sudah selama 7 hari namun belum diobati),
sebelumnya os memiliki riwayat TBC sudah dalam pengobatan selama 6bulan, ini
memungkinkan terjadinya kekambuhan pada penyakit TB os yang terdahulu.
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan adanya peningkatan tekanan darah yaitu
160 / 110 menunjukkan kriteria dari PEB. Lalu didapatkan adanya rhonki (+) di kedua lapang
paru bagian atas, ronkhi merupakan salah satu kriteria dari pemeriksaan fisik pada tbc
Berdasarkan pemeriksaan penunjang, Hasil laboratorium pada tanggal 17 -22014
Peningkatan LED yaitu 120 mm/jam dan peningkatan peningkatan leukosit (20.100)
merupakan tanda tanda adanya infeksi dari bekteri. Pada hasil urinalisa didapatkan albumin
urin +2 kriteria dari pre eklampsia ringan, namun dikarenakan hasil dari tekanan darah yang
mencapai 160 / 110 dapat mengarahkan pada PEB.

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1

Definisi
Tuberkolusis (TB) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil

Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis ) yang merupakan salah satu penyakit saluran
pernapasan bagian bawah. Sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru
melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai fokus
primer dari ghon.8
2.2

Cara Penularan
Infeksi terjadi melalui penderita TB yang menular. Penderita TB yang menular adalah

penderita dengan basil TB di dalam dahaknya, dan bila mengadakan ekspirasi paksa berupa
batuk atau bersin akan menghembus keluar percikan dahak halus (droplet nuclei) yang
berukuran kurang dari 5 mikron dan yang akan melayang di udara. Droplet nuclei ini
mengandung basil TB yang akan melayang-layang di udara, jika droplet nuclei ini hinggap di
saluran penapasan yang besar, misalnya trakea dan bronkus, droplet nuclei akan segera
dikeluarkan oleh gerakan silia selaput lendir saluran pernapasan, tetapi bila droplet nuclei ini
berhasil masuk sampai ke dalam alveolus ataupun menempel pada mukosa bronkiolus,
droplet nuclei akan menetap dan basil TB akan mendapat kesempatan untuk berkembang
biak.9
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh jumlah kuman yang
dikeluarkan dari paru. Semakin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular
penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka
penderita tersebut dianggap tidak menular. Seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh
konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Faktor endogen
seperti daya tahan tubuh, usia, dan penyakit penyerta (infeksi HIV, limfoma, leukemia,
malnutrisi, gagal ginjal, diabetes melitus dan terapi imunosupresif) juga mempengaruhi
kerentanan seseorang tertular kuman TB.2

Gambar 2.1 Faktor Risiko Kejadian TB1
2.3

Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman berbentuk

batang dengan ukuran panjang 1-4/µm dan tebal 0,3-0,6/µm. Spesies lain kuman ini yang
dapat memberikan infeksi pada wanita hamil adalah Mycobacterium bovis, Mycobacterium
kansasii, Mycobacterium intra-cellulare. Sebagian besar kuman ini terdiri dari lipid, yang
menyebabkan kuman lebih tahan terhadap asam dan gangguan kimia dan fisik.5
Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin. Hal ini
terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant, yang kemudian dapat bangkit kembali dan
menjadi tuberkulosis aktif. Sifat kuman adalah aerob, artinya kuman lebih menyenangi
jaringan yang kandungan oksigennya tinggi.5
Cara penularan melalui udara pernapasan dengan menghirup partikel kecil yang
mengandung bakteri tuberkulosis, atau minum susu sapi yang terkena tuberkulosis. Masa
tunas berkisar antara 4-12 minggu. Masa penularan terus berlangsung selama sputum BTA
penderita positif.5

2. 4
2.4.1

Klasifikasi
TB Primer
TB primer merupakan sindrom yang disebabkan oleh infeksi M. tuberculosis pada

pasien nonsensitif yaitu mereka yang belum pernah terinfeksi. Terdapat respon radang ringan
pada tempat infeksi (subpleura pada bagian tengah paru, dalam faring, atau di ileum
terminal), diikuti penyebaran ke kelenjar getah bening regional (hilus, servikal dan
mesenterika). Satu atau dua minggu setelah infeksi, dengan onset sensitivitas tuberkulin,
terjadi perubahan reaksi jaringan baik pada fokus dan pada kelenjar getah bening, menjadi
bentuk granuloma kaseosa yang khas. Kombinasi fokus dan keterlibatan kelenjar getah
bening regional disebut kompleks primer.8
Kompleks ini mengalami penyembuhan dengan fibrosis, dan seringkali timbul
kalsifikasi tanpa pemberian terapi. Kelenjar getah bening yang membesar bisa tampak jelas di
leher atau menyebabkan obstruksi bronkus yang mengakibatkan kolaps. Penyebaran organ
secara hematogen jarang terjadi dari kompleks primer.10
Kompleks primer tersebut selanjutnya dapat menjadi:2
1. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat.
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di
hilus dan 10% diantaranya dapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman yang dormant.
3. Berkomplikasi dan menyebar secara:
a. Menyebar kesekitarnya (perkontinuitatum)
b. Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru di sebelahnya.
Kuman ini juga tertelan bersama sputum dan ludah dan menyebar ke usus.
c. Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya
d. Secara limfogen.
2.4.2

TB Sekunder
TB sekunder merupakan sindrom yang disebabkan oleh infeksi M. tuberculosis pada

orang yang pernah terinfeksi dan pasien sensitif terhadap tuberkulin. TB sekunder akan
muncul bertahun-tahun setelah tuberkulosis primer. TB sekunder terjadi karena imunitas
menurun seperti malnutrisi, konsumsi alkohol, penyakit keganasan, diabetes, AIDS dan gagal
ginjal.2,9

TB sekunder ini dimulai dari sarang dini yang berlokasi di regio atas paru. Invasi ke
daerah parenkim paru dan tidak ke nodus hiler paru. Dalam 3-10 minggu sarang ini menjadi
tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel histiosit dan sel Datia-Langhans yang
dikelilingi oleh sel limfosit dan berbagai jaringan ikat.2,9
Sarang dini pada TB sekunder ini akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut:2
1. Direabsorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat.
2. Sarang tersebut akan meluas dan segera terjadi proses penyembuhan dengan serbukan
jaringan fibrosis. Kemudian akan terjadi pengapuran dan akan sembuh dalam bentuk
perkapuran. Sarang tersebut dapat menjadi aktif kembali dengan membentuk jaringan
keju dan menimbulkan kavitas bila jaringan keju dibatukkan keluar.
3. Sarang tersebut meluas, membentuk jaringan keju. Kavitas akan muncul dengan
dibatukkannya jaringan keju keluar. Kavitas awalnya berdinding tipis, kemudian
dindinganya akan menjadi tebal (kavitas sklerotik).
4. Ruptur ke dalam bronkus dan menyebabkan bronkopneumonia TB
5. Menyebar melalui darah dan menyebabkan TB milier pada hati, limfa, paru, tulang
dan meningen.
2.5
2.5 1

Diagnosis
MANIFESTASI KLINIS

a. Demam.
Demam biasanya subfebril menyerupai influenza, tapi kadang dapat mencapai 4041oC. Serangan demam dapat sembuh, dan biasanya dipengaruhi oleh daya tahan
tubuh, berat ringan infeksi, dan jumlah kuman yang masuk.
b. Batuk.
Gejala ini banyak ditemukan, yang disebabkan karena iritasi pada bronkus. Batuk ini
diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Sifat batuk mula-mula
kering dan setelah timbul peradangan menjadi produktif, pada keadaan lanjut akan
timbul batuk darah karena pecahnya pembuluh darah.

c. Sesak nafas.
Sesak ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah
bagian paru-paru.
d. Nyeri dada.
Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga
menimbulkan pleuritis.

e.

Malaise.
Penyakit tuberkulosis bersifat radang menahun, gejala malaise yang sering ditemukan
berupa anoreksia, berat badan turun, sakit kepala, nyeri otot dan keringat malam.
Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak
teratur.

2.5.2

PEMERIKSAAN FISIK

Tempat kelainan yang paling sering pada bagian apeks paru, bila dicurigai adanya infiltrat
yang agak luas maka didapatkan perkusi yang redup dan auskultasi suara nafas yang bronkial,
ronki basah kasar nyaring, jika diikuti dengan penebalan pleura maka suara nafas vesikuler
akan melemah. Bila ada kavitas yang cukup besar maka perkusi memberikan suara
hipersonor dan auskultasi suara amforik.
2.5.3

PEMERIKSAAN SPUTUM
Pemeriksaan sputum penting karena dengan ditemukannya kuman BTA diagnosis

tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Di samping itu pemeriksaan sputum juga dapat
memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Tetapi kadang tidak mudah
mendapatkan sputum terutama pada penderita yang tidak batuk, atau ada batuk tetapi non

produktif. Dalam hal ini 1 hari sebelum pemeriksaan sputum penderita disuruh minum air
sebanyak ± 2 liter dan diajarkan melakukan refleksi batuk. Dapat juga dengan memberikan
obat mukolitik ekspektoran atau dengan inhalasi larutan garam hipertonik selama 20-30
menit.5
Bila sputum didapat kadang kuman BTA susah ditemukan. Kuman baru dapat
ditemukan bila bronkus yang terlibat proses ini terbuka keluar, sehingga sputum yang
mengandung kuman BTA mudah keluar. Kriteria sputum BTA positif adalah bila ditemukan
sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.5

2.5.4

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pada awal tuberkulosis jumlah leukosit akan sedikit meninggi dengan pergeseran ke
kiri. Laju endap darah mulai meningkat.
2.5.5 TES TUBERKULIN
Alasan alternatif dilakukan tes tuberkulin adalah untuk wanita hamil dengan resiko
tinggi, dan lebih baik digunakan PPD (purified protein derivative) berkekuatan 5 TU
(intermediate strength) yakni dengan menyuntikkan 0,1 cc tuberkulin 5 TU intrakutan.5,6,7
Setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan, akan timbul reaksi berupa indurasi
kemerahan yang terdiri dari infiltrat limfosit yakni reaksi persenyawaan antara antibodi
seluler dan antigen tuberkulin. Banyak sedikitnya reaksi persenyawaan antibodi seluler dan
antigen tuberkulin dipengaruhi oleh antibodi humoral, pada ibu hamil makin besar pengaruh
antibodi humoral, makin kecil indurasi yang ditimbulkan.6,7

Biasanya hampir seluruh penderita tuberkulosis memberikan hasil mantoux yang
positif (99,8%). Sisa dari tes ini dapat positif seumur hidup pada 96-97% pasien. Kelemahan
tes ini juga terdapat positif palsu yakni pada pemberian BCG atau terinfeksi Mycobacterium
lain.6,7
2.5.6

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS

Pemeriksaan radiologis foto thorax tidak dilakukan secara rutin pada kehamilan
karena sangat beresiko terhadap janin. Dengan pelindung, pemeriksaan radiologis dapat
dilakukan pada penderita yang tes tuberkulinnya positif menyusul setelah tes awal negatif dan
pada penderita dengan riwayat dan pemeriksaan fisik yang mengarah ke arah tuberkulosis
walaupun tes tuberkulin awal negatif.6,8

Gambar 2.2 Alur Diagnosis TB Paru1

Kehamilan tidak akan menurunkan respons uji tuberkulin. Untuk mengetahui
gambaran TB pada trimester pertama, foto toraks dengan pelindung di perut bisa dilakukan,
terutama jika hasil BTA negatif.6
2.6 Perjalanan TB pada Kehamilan
A. Pengaruh Kehamilan pada Tuberkulosis
Kehamilan bisa meningkatkan resiko tuberkulosis inaktif terutama periode post
partum. Sebelum tahun 1940, kehamilan dianggap sesuatu yang mengganggu
penyembuhan tuberkulosis paru. Wanita dengan tuberkulosis paru dianjurkan untuk tidak
hamil atau jika setelah terjadi konsepsi maka dilakukan aborsi. sejak saat itu, banyak
dokumentasi yang menyatakan bahwa riwayat tuberkulosis tidak berubah dengan adanya
kehamilan pada penderita yang diobati. Sekarang, aborsi therapeutik jarang dilakukan,
kalaupun itu dilakukan atas indikasi komplikasi kehamilan karena tuberkulosis paru.
Bukti penyakit itu akan meningkat secara progesif antara 15-30% pada penderita yang
tidak mengobati penyakitnya selama 2,5 tahun pertama, baik mereka hamil atau tidak.
demikian halnya dengan reaktifitas tuberkulosis paru yang inaktif juga tidak mengalami
peningkatan selama kehamilan. Angka reaktifasi tuberkulosis paru kira-kira 5-10 % tidak
ada perbedaan antara mereka yang hamil maupun tidak hamil.6.9.10
B. Pengaruh Tuberkulosis pada Kehamilan
Kehamilan menyebabkan sedikit perubahan pada sistem pernapasan, karena uterus
yang membesar dapat mendorong diafragma dan paru ke atas serta sisa udara dalam paru
kurang, namun penyakit tersebut tidak menjadi lebih berat.6 Efek TB pada kehamilan
tergantung pada beberapa faktor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia
kehamilan saat menerima pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT), status nutrisi,
penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosis dan
OAT.11

Pengaruh tuberkulosis aktif pada kehamilan tidak jelas kecuali pada negara
berkembang. Tentunya dengan adanya obat anti tuberkulosis mengurangi pengaruh buruk
dari beratnya penyakit. jika infeksi tuberkulosis diobati dengan baik seharusnya tidak
berpengaruh terhadap penyakit tersebut. Pada awal tahun 1957 sampai 1972, Schefer dkk
(1975) melaporkan dari ibu yang menderita tuberkulosis aktif diobati lahir bayi yang
sehat. TB aktif tidak membaik atau memburuk dengan adanya kehamilan. Reaktivasi TB
paru yang inaktif juga tidak mengalami peningkatan selama kehamilan.
Angka reaktivasi TB paru kira-kira 5-10% tidak ada perbedaan antara mereka yang
hamil maupun tidak hamil. Tetapi kehamilan bisa meningkatkan risiko TB inaktif menjadi
aktif terutama periode post partum.6
Jana dkk (1994) melaporkan tuberkulosis paru aktif menyebabkan komplikasi dari 79
kehamilan di India. Bayi dari wanita yang menderita tuberkulosis mempunyai berat badan
lahir rendah, dua kali lipat meningkatkan persalinan prematur, kecil masa kehamilan, dan
meningkatkan kematian perinatal enam kali lipat. Mungkin ini dianggap berhubungan
dengan terlambatnya diagnosis, pengobatan yang tidak lengkap dan teratur, dan luasnya
kelainan pada paru. Tidak ada bukti bahwa tuberkulosis paru meningkatkan angka abortus
spontan, kelainan kongenital, persalinan dan kelahiran prematur pada penderita yang
mendapatkan pengobatan obat anti tuberkulosis yang adekuat. Bjerkedai dkk mencatat
terjadinya kenaikan toksemia dan perdarahan vaginam pada wanita hamil yang menderita
tuberkulosis.6
Pengaruh utama tuberkulosis pada kehamilan adalah mencegah terjadinya konsepsi,
maka banyak diantara penderita tuberkulosis yang mengalami infertilitas. Sistem genitalia
dapat terjadi fokus primer dari tuberkulosis paru, biasanya sistem genitalia yang sering
terkena adalah tuba fallopi, dengan bagian distal yang terkena lebih dahulu. Infeksi dapat

menyebar ke bagian proksimal dari tuba fallopi dan akhirnya uterus juga terkena. Infeksi
jarang turun sampai ke serviks atau bagian bawah dari sistem genitalia.6.10

C. Efek TB Terhadap Janin
Menurut Oster (2007), jika kuman TB hanya menyerang paru, maka akan ada risiko
terhadap janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan
terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB
kongenital). Gejala TB kongenital bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,
seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah, pembesaran hati dan
limfa.11 Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas, apakah bayi tertular saat
masih di kandungan atau setelah lahir. Jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru
dan jaringan limfa, maka wanita memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum
melahirkan, karena bayi dapat mengalami masalah setelah lahir.6
2.7
PENGOBATAN TUBERKULOSIS DALAM KEHAMILAN
1. Pengobatan Medis
Pengobatan tuberkulosis aktif pada kehamilan hanya berbeda sedikit dengan penderita yang
tidak hamil.
Obat primer antituberkulosis berupa isoniazid, rifampisin, etambutol dan streptomisin.
Sedangkan obat sekunder yang sering digunakan dalam kasus resisten obat atau intoleransi
terhadap obat, yaitu p-aminosalisylic acid, pirazinamid, sikloserin, ethionamid, kanamisin,
viomisisn, dan capreomisin.
Pengobatan selama setahun dengan isoniazid diberikan kepada mereka yang tes tuberkulin
positif dengan gambaran radiologi atau gejala tidak menunjukkan gejala aktif. Pengobatan ini
mungkin dapat ditunda dan mulai diberikan pada post partum.

Walaupun beberapa penelitian tidak menunjukkan efek teratogenik dari isoniazid pada wanita
post partum, beberapa merekomendasikan menunda pengobatan ini 3 - 6 bulan post
partum.6,11,12
Isoniazid termasuk kategori obat C dan ini perlu dipertimbangkan keamanannya
selama kehamilan. Alternatif lain dengan menunda pengobatan sampai 12 minggu pada
penderita asimptomatis. Karena banyak terjadi resistensi pada pemakaian obat tunggal maka
the Center of Disease Control sekarang merekomendasikan cara pengobatan dengan
menggunakan kombinasi 4 obat untuk penderita yang hamil dengan gejala tuberkuosis.
Beberapa antituberkulosis utama tidak tampak pengaruh buruk terhadap janin.
Kecuali streptomisin, yang dapat menyebabkan ketulian kongenital maka sama sekali tidak
boleh dipakai selama kehamilan. Menurut Sniders dkk melaporkan bahwa INH, etambutol,
rifampisin aman untuk kehamilan jika diberikan dalam dosis yang tepat dan efek teratogenik
terhadap janin manusia tidak dapat dibuktikan.6,12
The Center for Disease Control (1993) merekomendasikan pengobatan oral untuk wanita
hamil sebagai berikut:3
-

Isoniazid 5 mg/kgBB dan tidak lebih 300 mg per hari bersama dengan piridoksin 50 mg
per hari.

-

Rifampisin 10 mg/kgBB, tidak lebih 600 mg sehari.

-

Etambutol 5-25 mg/kgBB, dan tidak lebih dari 2,5 gram per hari (biasanyya 25 mg/kgBB
selama 6 minggu kemudian diturunkan 15 mg/kgBB)

Pengobatan ini diberikan selama minimum 9 bulan. Jika resisten terhadap obat ini, dapat
dipertimbangkan pengobatan dengan pirazinamid. Selain itu pirazinamid 50 mg/hari harus
diberikan untuk mencegah neuritis perifer yang disebabkan oleh isoniazid.6
Pada tuberkulosis aktif dapat diberikan 2 kombinasi obat, biasanya digunakan
isoniazid 5 mg/kg/hr (tidak lebih 300 mg/hr) dan etambutol 15 mg/kg/hr, pengobatan
dilanjutkan sekurang-kurangnya 17 bulan untuk mencegah relaps. Jika dibutuhkan
pengobatan dengan 3 obat atau lebih dapat ditambahkan rifampisin, tetapi streptomisin tidak
dianjurkan karena berefek ototoksik.6
Dari hasil penelitian menunjukkan ada obat-obat lain yang dapat digunakan selama
kehamilan

adalah kanamisin,

tiosemicatbazone.6

viomisin,

capreomisin,

pirazinamid,

sikloserin, dan

Pada pengobatan kasus baru dipertimbangkan pemberian obat yang bersifat
bakterisid, sterilisator dan dapat mencegah terjadinya resistensi. Biasanya yang dipakai
adalah 2HRZ/4HR. pengobatan awal selama 2 bulan pertama menggunakan paduan obat
isoniazid, rifampisin dan pirazinamid dilanjutkan dengan pengobatan isoniazid dan rifampisin
pada 4 bulan berikutnya, total pemberian selama 6 bulan dan obat diberikan tiap hari.6

Lama pemberian obat saat ini 6 bulan merupakan standar yang dipakai untuk
pengobatan tuberkulosis paru maupun tuberkulosis luar paru pada orang dewasa atau pada
anak-anak. Keadaan ini disebabkan karena:3
-

dapat menyembuhkan dengan cepat, terlihat perbaikan setelah 2 - 3 bulan pengobatan

-

dapat menyembuhkan sebagian penderita dengan strain kuman yang mempunyai
resistensi awal terhadap isonoiazid atau streptomisin

-

mencegah kegagalan pengobatan yang disebabkan olehterjadinya resistensi primer.

2. Evaluasi Pengobatan
a. KLINIS. Biasanya penderita dikontrol setiap minggu selama 2 minggu,
selanjutnya setiap 2 minggu selama satu bulan sampai akhir pengobatan. Secara
klinis hendaknya terdapat perbaikan dari keluhan-keluhan penderita seperti batuk
berkurang, batuk darah hilang, nafsu makan bertambah.
b. BAKTERIOLOGIS. Biasanya setelah 2 - 3 minggu pengobatan, sputum BTA
mulai menjadi negatif.pemeriksaan kontrol sputum BTA dilakukan sekali sebulan.
Bila sudah negatif, sputum BTA tetap diperiksa sampai 3 kali berturut-turut bebas
kuman. Sewaktu-waktu mungkin terjadi silent bacterial shedding, dimana sputum
BTA positif dan tanpa keluhan yang relevant pada kasus-kasus yang memperoleh
kesembuhan. Bila ini terjadi, yakni BTA 3 kali positif pada pemeriksaan biakan (3

bulan), berarti penderita mulai kambuh lagi. Bila bakteriologis ada perbaikan
tetapi tidak pada klinis dan radiologis, berarti harus dicurigai adanya penyakit
lain. Bila klinis, bakteriologis dan radiologis tidak ada perbaikan padahal
penderita sudah diobati dengan dosis adekuat serta teratur, perlu dipikirkan adanya
gangguan imunologis pada penderita tersebut.

KEGAGALAN PENGOBATAN PADA KEHAMILAN 6
a. Obat
 Paduan obat tidak adekuat
 Dosis obat tidak cukup
 Minum obat tidak teratur/tidak sesuai dengan yang dianjurkan
 Jangka waktu pengobatan kurang dari semestinya
 Terjadinya resistensi obat
b. Drop out
 Kekurangan biaya pengobatan
 Merasa sudah sembuh
 Malas berobat/ kurang motivasi
c. Penyakit
 Lesi paru yang terlalu luas/ sakit berat
 Penyakit lain yang menyertai tuberkulosis
 Adanya gangguan imunologis pada kehamilan
Penanggulangan terhadap kasus-kasus yang gagal pada kehamilan, antara lain:
6,11

a. Terhadap penderita yang sudah berobat secara teratur:

-

Menilai kembali apakah paduan obat sudah adekuat mengenai dosis dan cara
pemberiannya.

-

Lakukan tes resistensi kuman terhadap obat.

-

Bila sudah dicoba dengan obat tetapi gagal maka pertimbangkan pengobatan dengan
pembedahan terutama pada penderita dengan kavitas.
b. Terhadap penderita dengan riwayat pengobatan yang tidak teratur:

-

Teruskan pengobatan selama lebih 3 bulan dengan evaluasi bakteriologis tiap bulan.

-

Nilai kembali tes resistensi kuman terhadap obat.

-

Bila ternyata terdapat resistensi terhadap obat, ganti dengan paduan obat yang masih
sensitif.

PENANGANAN BAYI BARU LAHIR YANG DARI IBU YANG MENDERITA
TUBERKULOSIS
Bayi baru lahir yang sehat dari ibu yang menderita tuberkulosis harus dipisahkan
segera setelah lahir sampai pemeriksaan bakteriologis ibu negatif dan bayi sudah mempunyai
daya tahan tubuh yang cukup. Sebanyak 50% bayi baru lahir dari ibu yang menderita
tuberkulosis aktif menderita tuberkulosis pada tahun pertamanya, maka profilaksisnya dengan
memberikan isoniazid 10 mg/kgBB/hari selama 1 tahun. Sebaiknya bayi baru lahir dilakukan
pemeriksaan foto thorax dan tes tuberkulin. Apabila hasil negatif, pada usia 6 minggu
dilakukan vaksinasi Bacil Calmatte Geurine (BCG).16
Vaksi BCG merupakan termasuk golongan kuman hidup yang dilemahkan dari
Mycobacterium bovis yang telah dikembangkan 50 tahun yang lalu. Semua bayi yang baru
lahir harus divaksinasi pada hari pertama kelahiran dengan dosis 0,1 ml intrakutan pada regio
deltoid. Setelah 6 bulan, papul merah tadi dapat mengecil, berlekuk dengan jaringan parut
seumur hidup.16

PROGNOSIS
Tuberkulosis tidak mempengaruhi kehamilan dan kehamilan tidak mempengaruhi
manifestasi klinis dan progesivitas penyakit bila diterapi dengan regimen yang tepat dan
adekuat. Pemberian regimen yang tepat dan adekuat ini akan memperbaiki kualitas hidup ibu,
mengurangi efek samping obat-obat tuberkulosis terhadap janin dan mencegah infeksi yang
terjadi pada bayi yang baru lahir. Pada wanita hamil dengan tuberkulosis aktif yang diobati
secara adekuat, secara umum tuberkulosis tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap
kehamilan. Prognosis pada wanita hamil sama dengan prognosis wanita yang tidak hamil 6.

BAB V
KESIMPULAN

Tuberkulosis tidak mempengaruhi kehamilan dan kehamilan tidak mempengaruhi
manifestasi klinis dan progesivitas penyakit bila diterapi dengan regimen yang tepat dan
adekuat. Pemberian regimen yang tepat dan adekuat ini akan memperbaiki kualitas hidup ibu,
mengurangi efek samping obat-obat tuberkulosis terhadap janin dan mencegah infeksi yang
terjadi pada bayi yang baru lahir.
Bayi baru lahir yang sehat dari ibu yang menderita tuberkulosis harus dipisahkan
segera setelah lahir sampai pemeriksaan bakteriologis ibu negatif dan bayi sudah mempunyai
daya tahan tubuh yang cukup. Sebaiknya bayi baru lahir dilakukan pemeriksaan foto thorax
dan tes tuberkulin. Apabila hasil negatif, pada usia 6 minggu dilakukan vaksinasi Bacil
Calmatte Geurine (BCG).16
Obat anti tuberkulosis yang diberikan dibagi dalam 2 golongan yaitu obat lini pertama
dan lini kedua. Obat lini pertama, kecuali Streptomisin dapat digunakan pada tuberkulosis
pada kehamilan. Penggunaan streptomisin dan obat lini kedua (kanamisin, etionamid,
kapreomisin) sebaiknya dihindari pada wanita hamil karena efek samping yang akan terjadi
pada janin, kecuali dalam keadaan resistensi beberapa obat. 1,2
Pada wanita hamil dengan tuberkulosis aktif yang diobati secara adekuat, secara
umum tuberkulosis tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap kehamilan. Prognosis
pada wanita hamil sama dengan prognosis wanita yang tidak hamil 6.

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham FG, Gant FN, Leveno KJ, dkk. Obstetri Williams. Edisi 21. Jakarta:
EGC, 2005.
2. Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.
Obstetri Fisiologi. Bandung: Elemen, 1983.
3. Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.
Obstetri Patologi. Bandung: Elstar, 1982.
4. Sofie Rifayani, dkk. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi RSHS,
Bagian Pertama (Obstetri). Edisi 2. Bagian Obgin RSHS. 2005.
5. Sulaiman Sastrawinata, dkk. Obstetri Patologi. Cetakan Pertama. EGC: Jakarta. 2005.
6. Cuningham, F.Gary.2005.Obtetri William. Jakarta. EGC Mansjoer, Arif. 2001.
7. Kapita Selekta Kedokteran 1. Jakarta. Media Aesculapsus. Mochtar, Rustam. 1998.
8. Sinopsis Obstetri. Jakarta, EGC Prawirohardjo, Sarwono. 2008.
9. Ilmu Kebidanan. Jakarta. PT.Bina Pustaka Somantri, Irman. 2007.
10. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta.
Salemba Medika http://jarumsuntik.com/asuhan-keperawatan-dengan-tb-paru/