You are on page 1of 6

6.

mekanisme penghantaran impuls saraf pd proses penglihatan (lintasan visual) :
Mata merupakan alat optik yang mempunyai system lensa (kornea, humor akuos, lensa dan
badan kaca), diafragma (pupil), dan film untuk membentuk bayangan (retina). Proses penglihatan
dimulai dengan adanya rangsangan pada sel fotoreseptor retina (sel batang dan kerucut), untuk
selanjutnya diteruskan ke otak melalui lintasan visual. Lintasan visual dimulai dari sel-sel
ganglioner di retina dan diakhiri pada polus posterior korteks oksipitalis. Lintasan visual terdiri
dari :
1. Sel-sel ganglioner di retina
2. Nervus optikus
3. Khiasma optikum
4. Traktus optikus
5. Korpus genikulatum laterale
6. Radiatio optik
7. Korteks oksipitalis.
8. mengapa perlu dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan (visus) sentral dan bagaimana
cara melakukannya :
Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui visus seseorang dan memberikan penilaian
menurut ukuran baku yang ada. Visus harus diperiksa walaupun secara kasar untuk
membandingkan visus kedua mata. Kedua mata diperiksa sendiri-sendiri, karena dengan
diperiksa binokuler tidak dapat diketahui adanya kekaburan pada satu mata.
Pada bayi dan anak preverbal, pemeriksaan visus sentral dapat dilakukan dengan melihat reflek
cahaya di kornea dan kemampuannya dalam fiksasi dan mengikuti obyek yang digunakan untuk
pemeriksaan. Bila reflek cahaya terletak di sentral kornea, yang berarti terjadi fiksasi di fovea,
dan ketika obyek digerakkan penderita mampu mengikuti dengan baik, maka disebut
“kemampuan fiksasi dan mengikuti obyek adalah baik”, yang berarti kemungkinan anak tersebut
mempunyai visus normal.
Pada umur 2½ – 3 tahun, anak sudah mampu mengenali dan mengerjakan uji gambar-gambar
kecil (kartu Allen). Pada anak umur 3 – 4 tahun umumnya sudah dapat melakukan permainan
“E” (“E” games), yaitu dengan kartu Snellen konvensional dengan huruf E yang kakinya
mengarah ke berbagai arah, dan si anak diminta menunjukkan arah kaki huruf E tersebut dengan
jarinya. Pada anak umur 5 – 6 tahun keatas, umumnya sudah dapat dilakukan pemeriksaan
seperti pada orang dewasa.
Metode pengukuran visus yang umum adalah menggunakan optotipe Snellen (Snellen chart).
Penderita menghadap optotipe pada jarak 6 meter (20 feet). Mata diperiksa satu persatu dimulai
mata kanan lebih dulu, mata yang tidak diperiksa ditutup tanpa menekan bola mata. Penderita

mata normal tanpa akomodasi akan dapat melihat benda dengan jelas karena bayangan jatuh tepat di retina. Kausa : a. sedangkan pada saat badan silier kontraksi. Ketika badan silier relaksasi. Index refraksi media refrakta yang lebih kecil dari normal c. A. refraksi anomali dan pengelolaannya : Yang termasuk refraksi anomali adalah Miopia. Kurvatura Cornea terlalu cembung ( misal pada keratokonus) d. Index refraksi media refrakta yang lebih besar dari normal c. Pada saat memandang jauh. Jika huruf yang paling besarpun tidak dapat dibaca. Posisi lensa terlalu kebelakang Pengelolaan : penggunaan lensa sferis positif terbesar yang dapat memberi visus terbaik. MIOPIA : merupakan refraksi anomali dimana sinar sejajar yang masuk ke mata tanpa akomodasi dibiaskan di depan retina. 12. Bila penderita mampu membaca huruf-huruf deretan paling atas tetapi tidak dapat membaca sampai deret 6/6 (20/20). media refrakta : yang termasuk media refrakta adalah kornea. mata akan melakukan akomodasi dengan membuat lensa lebih cembung sehingga bayangan tetap dapat jatuh di retina.diminta membaca huruf-huruf pada optotipe mulai dari huruf yang paling besar pada deret paling atas berturut-turut ke deretan-deretan di bawahnya. Axis bola mata lebih pendek dari normal b. Hipermetropia. yaitu : 1. cara kerja lensa untuk membuat fokus benda yang kita lihat : lensa berhubungan dengan badan silier melalui ligamentum suspensorium lentis (zonula Zinn). humor akuos. lensa dan korpus vitreum 11. maka nilai yang tercantum dipinggir deretan huruf terkecil yang masih dibaca dicatat. penderita disuruh maju sampai huruf terbesar tadi dapat dibaca dan kemudian jarak tersebut dicatat. 9. HIPERMETROPIA : merupakan refraksi anomali dimana sinar sejajar yang masuk dimata tanpa akomodasi dibiaskan di belakang retina. . Sedangkan pada saat melihat dekat. berarti visusnya adalah 20/20 atau 6/6. gangguan pada media refrakta. gangguan pada sistem saraf 10. dan dengan urutan kerja yang sama dilakukan pula pemeriksaan untuk mata kiri. penyebab dasar penurunan visus : Penurunan visus dapat terjadi karena 3 hal. 2. Jika mampu membaca huruf terkecil yang dipinggirnya ada angka kecil 20 atau 6. dan Astigmatisma. zonula zinn akan teregang sehingga lensa akan memipih. B. Axis bola mata lebih panjang dari normal b. dan 3. zonula zinn mengendor sehingga lensa akan mencembung. Mencembung dan memipihnya lensa (proses akomodasi) tergantung pada kontraksi dan relaksasi dari badan silier. Kausa : a. Refraksi anomali. ini dicatat. Kurvatura Cornea terlalu datar d. Posisi lensa terlalu kedepan (misal subluksasi lensa) Pengelolaan : penggunaan lensa sferis negatif terkecil yang dapat memberi visus terbaik.

Gerak vertikal pada sumbu transversal meliputi gerak elevasi dan depresi.  m. dan sagital). m. Pengelolaan : penggunaan lensa silinder. sehingga nilai kekuatan refraksi untuk semua bidang meridian tersebut tidak sama. pergerakan bola mata : bola mata dapat bergerak karena adanya 6 otot penggerak bola mata (otot ekstra okuler). Gerak bola mata berfungsi untuk menempatkan stimuli visual dari lapang pandangan perifer (retina perifer) ke titik pusat yang mempunyai tajam penglihatan paling baik (fovea). Pada usia ³ 60 tahun diperlukan lensa koreksi +3 dioptri. sedangkan otot antagonisnya mengendor. Dalam satu bidang meridian sinar-sinar sejajar dibiaskan pada satu titik. Setiap penambahan umur 5 tahun diperlukan tambahan koreksi +1/2 dioptri. rektus inferior. rektus medial. rektus lateral. rektus superior. Mengapa pada orang tua untuk melihat dekat perlu kaca mata baca Karena pada orang tua kemampuan lensa untuk akomodasi sudah berkurang (presbiopia) akibat elastisitas lensa yang sudah menurun.  m. dan keseimbangan posisi tarikan keenam otot tersebut. Kausa : Biasanya terjadi akibat kelengkunan permukaan kornea tidak sama pada semua bidang meridian. 14. transversal. dan  m. sedangkan gerak pada sumbu sagital menyebabkan siklorotasi bola mata berupa insikloduksi dan eksikloduksi. tetapi pada bidang meridian lain tidak pada titik ini. oblikus superior. Untuk koreksinya diperlukan lensa sferis positif. . Umumnya keadaan ini terjadi mulai usia 40 tahun. otot agonis berkontraksi dan menggulir mata kearah tersebut.C. ASTIGMATISMA : Merupakan refraksi anomali dimana refraksi tiap bidang meridian adalah lain. yaitu:  m. Pada arah pandang (direction of gaze) tertentu. Fungsi ini bersama dengan fungsi mempertahankan bayangan obyek di fovea serta stabilisasi bayangan di fovea selama gerakan kepala adalah merupakan fungsi dasar gerakan mata pada manusia. 13. dan juga mempertahankan fiksasi fovea pada obyek yang bergerak.  Otot ekstra okuler masing-masing memainkan peran dalam menentukan kedudukan bola mata karena adanya 3 (tiga) sumbu rotasi (yaitu sumbu vertikal.  m. sehingga ketika melihat dekat bayangan akan jatuh di belakang retina. Gerak horizontal pada sumbu vertikal meliputi gerak adduksi dan abduksi. dimana saat itu kaca mata baca yang diperlukan adalah lensa sferis +1 dioptri. oblikus inferior.

Karena pemeriksaan pupil sangat penting didalam neurooftalmologi. 16. cara melakukan pemeriksaan gerak bola mata : gerak bola diperiksa satu persatu / monokuler (duksi) dimulai mata kanan lebih dahulu. bawah. kanan. efek . misalnya melebarkannya dengan obat untuk pemeriksaan fundus. dan fasikulus longitudinalis medialis (FLM) di batang otak. perhatikan reaksi pupil mata yang tidak disinari. perhatikan reaksi pupil pada mata tersebut. kiri bawah. sedangkan pupil lebar (midriasis) dapat terjadi karena cahaya redup / gelap atau pengaruh obat simpatomimetik. sedang saat melihat dekat akan terjadi konvergensi (kedua mata saling mendekat). 2. Penderita diminta mengikuti obyek pemeriksaan (penlight / ujung jari pemeriksa) ke beberapa arah tanpa menggerakkan kepala. FLM menghubungkan nukleus ketiga saraf penggerak bola mata (N III. Pemeriksaan reflek pupil terhadap sinar : 1. Meningkatkan kedalaman fokus (untuk penglihatan 3 dimensi) c. kanan atas. pupil akan mengecil. Mengurangi aberasi sferis dan aberasi kromatis Dua reflek pupil yang penting diketahui adalah reflek terhadap sinar dan reflek melihat dekat (akomodasi). Pupil kecil (miosis) dapat terjadi karena cahaya yang terang atau pengaruh obat parasimpatomimetik. jalur dari kedua korteks tadi ke batang otak. kiri atas. fungsi pupil dan bagaimana cara pemeriksaan reflek pupil terhadap sinar : a. Pemeriksaan reflek pupil terhadap sinar sebaiknya dilakukan di kamar gelap. formatio retikularis paramedian pontis (FRPP) di batang otak. Pada pemeriksaan dua mata bersama sama. Reflek pupil langsung : mata disinari. 17. dilakukan pemeriksaan gerak dua mata / binokuler secara bersama-sama (versi). warna. dan pandangan lurus ke depan. pupil juga akan mengecil. Arah gerak obyek pada pemeriksaan adalah 9 posisi primer yaitu : atas. normal pada saat melihat jauh kedua mata mempunyai posisi lurus sejajar. iluminasi fokal maupun slit lamp. kiri. maka pemeriksaan ini harus telah dilakukan sebaik-baiknya sebelum merubah sifat fisiologis pupil. korteks oksipitoparietalis. jumlah. perhatikan arah kedua mata ketika melihat jauh dan melihat dekat. ukuran. Pemeriksaan dilakukan dengan cara penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa. letak. Yang perlu dinilai saat melakukan pemeriksaan pupil adalah bentuk. Setelah masing-masing bola mata selesai diperiksa. IV dan VI) baik antara nuklei homolateral maupun kontra lateral. kanan bawah. cara melakukan pemeriksaan pupil Pemeriksaan pupil dapat dilakukan dengan pen light.Gerak bola mata dikendalikan lewat pengaturan supranuklear yang berpusat di korteks frontalis. Mengatur banyaknya cahaya yang masuk mata b. Reflek pupil tak langsung : mata disinari. sehingga gerakan bola mata dapat terkoordinasi dengan baik dan maksud gerak bola mata seperti tersebut diatas dapat terlaksana 15.

glukosa. Tebal lapisan ini ± 0. Ukuran pupil kedua mata tidak sama besar disebut anisokoria. 3.05 um. enzim dan komponen lainnya. Sistem ekskresi terdiri dari : 1. Sedangkan mucin yang dihasilkan oleh sel Goblet disebut dengan O-linked mucin.1 um 2. Tebal lapisan ini ± 7 um. diameter normal ditempat gelap adalah 4. letaknya sentral. Untuk mencegah aliran balik udara maupun lendir dari hidung masuk kedalam saluran lakrimalis. jumlahnya satu. Mucin. miosis saat akomodasi. lapisan paling profunda yang dihasilkan oleh sel Goblet conjunctiva. yaitu kelenjar lakrimalis utama. kelenjar Meibom. Selain air sebagai komponen utama. juga terdiri dari elektrolit.akomodasi. mucin juga diproduksi oleh epitel permukaan conjunctiva dan kornea yang disebut dengan N-linked mucin. Sedangkan sistem ekskresi akan mengalirkan hasil sekresi kelenjarkelenjar tersebut masuk ke rongga hidung melalui meatus nasi inferior. Sistem sekresi terdiri dari komponen yang memproduksi air mata (tear film). Kanalikuli lakrimalis (superior dan inferior) 3.02 – 0. Ukuran pupil lebih besar dari normal disebut midriasis. warna gelap. kelenjar lakrimalis asesorius (kelenjar Krause dan Wolfring).5 – 7 mm sedangkan ditempat terang 2.5 – 6 mm. 18. lapisan paling superficial yang dihasilkan oleh kelenjar Meibom yang terdapat di palpebra superior dan inferior. Akuos. dan reaksi terhadap rangsangan sinar langsung dan tidak langsung. Ukuran pupil lebih kecil dari normal disebut miosis. Tear film mempunyai fungsi utama untuk : . maka mukosa saluran lakrimalis membentuk lipatan yang berfungsi sebagai katup (katup Hasner). Tebal lapisan ini ± 0. Pungtum lakrimalis (superior dan inferior) 2. Pupil normal berbentuk bulat. Ukuran pupil kedua mata sama besar disebut isokoria. komponen air mata (tear film) : 1. dan bereaksi ketika diberi rangsang cahaya. oksigen. sistem lakrimalis : sistem lakrimalis terdiri dari sistem sekresi dan sistem ekskresi. protein (termesuk imunoglobulin A). dan sel Goblet conjunctiva. Lipid. Jumlah pupil lebih dari satu disebut polikoria. Selain dihasilkan oleh sel Goblet. Sakus lakrimalis 4. Duktus nasolakrimalis 19. lapisan tengah (paling tebal) yang dihasilkan oleh kelenjar Lakrimalis utama dan kelenjar lakrimalis asesorius (kelenjar Krause dan Wolfring).

misalnya ada sinekia posterior (oklusio / seklusio pupil). seklusio atau oklusio 3. Terjadi blok pupil akibat intumesensi atau dislokasi lensa. Akibat hambatan pengaliran. Dengan tonometer non kontak (NCT) . Akibat produksi yang meningkat. sekresi dan ultrafiltrasi. Humor akuos dibentuk di badan silier melalui proses difusi. Melapisi dan melumasi permukaan kornea (sebagai sistem optik) 2. Dengan tonometer Schiotz c. Dari bilik mata depan humor akuos akan melewati sistem ekskresi yaitu jaringan trabekulum. yang akan mengisi bilik mata belakang.1. Secara palpasi (dengan ujung jari telunjuk dua tangan) b. kanalis Schlemm’s menuju vena-vena episklera. tetapi mekanisme yang pasti tentang produksi dan pembatasannya belum diketahui dengan sempurna. Perifer Anterior Synaechia pengukuran tekanan intraokuler : a. fungsi humor akuos : a. 2. lekoma adheren. misalnya ada radang pada badan silier. Penyedia nutrisi lensa dan kornea bagian dalam penyebab peningkatan TIO: 1. Akibat hambatan pengeluarannya. Untuk mengatur tekanan bola mata (normal 10 – 20 mmHg) b. Membersihkan debris dari permukaan bola mata 3. Suplai oksigen dan nutrisi untuk epitel kornea 4. melalui pupil akan menuju bilik mata depan. dinamika humor akuos : Banyak hal telah diketahui tentang dinamika Humor akuos. Mengandung faktor pertumbuhan dan antibakteri 20. Dengan tonometer aplanat d. Sebagai media refrakta c.