You are on page 1of 28

BAB I

TINJAUAN TEORITIS
A. PENGERTIAN
Ulkus peptikum merupakan keadaan di mana kontinuitas mukosa lambung
terputus dan meluas sampai di bawah epitel. Kerusakan mukosa yang tidak meluas
sampai ke bawah epitel disebut erosi, walaupun seringkali dianggap juga sebagai
tukak.(misalnya tukak karena stress). Tukak kronik berbeda denga tukak akut, karena
memiliki jaringan parut pada dasar tukak. Menurut definisi, tukak peptik dapat
ditemukan pada setiap bagian saluran cerna yang terkena getah asam lambung, yaitu
esofagus, lambung, duodenum, dan setelah gastroduodenal, juga jejunum. Walaupun
aktivitas pencernaan peptic oleh getah lambung merupakan factor etiologi yang
penting, terdapat bukti bahwa ini hanya merupakan salah satu factor dari banyak
factor yang berperan dalam patogenesis tukak peptic.
B. ETIOLOGI DAN INSIDEN
Etiologi ulkus peptikum kurang dipahami, meskipun bakteri gram negatif H.
Pylori telah sangat diyakini sebagai factor penyebab. Diketahui bahwa ulkus peptik
terjadi hanya pada area saluran GI yang terpajan pada asam hidrochlorida dan pepsin.
Penyakit ini terjadi dengan frekuensi paling besar pada individu antara usia 40 dan 60
tahun. Tetapi, relatif jarang pada wanita menyusui, meskipun ini telah diobservasi
pada anak-anak dan bahkan pada bayi. Pria terkenal lebih sering daripada wanita, tapi
terdapat beberapa bukti bahwa insiden pada wanita hampir sama dengan pria. Setelah
menopause, insiden ulkus peptikum pada wanita hampir sama dengan pria. Ulkus
peptikum pada korpus lambung dapat terjadi tanpa sekresi asam berlebihan
Predisposisi :
Upaya masih dilakukan untuk menghilangkan kepribadian ulkus. Beberapa
pendapat mengatakan stress atau marah yang tidak diekspresikan adalah factor
predisposisi. Ulkus nampak terjadi pada orang yang cenderung emosional, tetapi
apakah ini factor pemberat kondisi, masih tidak pasti. Kecenderungan keluarga yang
juga tampak sebagai factor predisposisi signifikan. Hubungan herediter selanjutnya

ditemukan pada individu dengan golongan darah lebih rentan daripada individu
dengan golongan darah A, B, atau AB. Factor predisposisi lain yang juga
dihubungkan

dengan

ulkus

peptikum

mencakup

penggunaan

kronis

obat

antiinflamasi non steroid(NSAID). Minum alkohol dan merokok berlebihan.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ulkus lambung dapat dihubungkan dengan
infeksi bakteri dengan agens seperti H. Pylori. Adanya bakteri ini meningkat sesuai
dengan usia. Ulkus karena jumlah hormon gastrin yang berlebihan, yang diproduksi
oleh tumor(gastrinomas-sindrom zolinger-ellison)jarang terjadi. Ulkus stress dapat
terjadi pada pasien yang terpajan kondisi penuh stress.
C. PATOFISIOLOGI
Ulkus peptikum terjadi pada mukosa gastroduodenal karena jaringan ini tidak
dapat menahan kerja asam lambung pencernaan(asam hidrochlorida dan pepsin).
Erosi yang terjadi berkaitan dengan peningkatan konsentrasi dan kerja asam peptin,
atau berkenaan dengan penurunan pertahanan normal dari mukosa. Mukosa yang
rusak tidak dapat mensekresi mukus yang cukup bertindak sebagai barier terhadap
asam klorida.
Sekresi lambung terjadi pada 3 fase yang serupa :
1. Sefalik
Fase pertama ini dimulai dengan rangsangan seperti pandangan, bau atau rasa
makanan yang bekerja pada reseptor kortikal serebral yang pada gilirannya
merangsang saraf vagal. Intinya, makanan yang tidak menimbulkan nafsu makan
menimbulkan sedikit efek pada sekresi lambung. Inilah yang menyebabkan
makanan sering secara konvensional diberikan pada pasien dengan

ulkus

peptikum. Saat ini banyak ahli gastroenterology menyetujui bahwa diet saring
mempunyai efek signifikan pada keasaman lambung atau penyembuhan ulkus.
Namun, aktivitas vagal berlebihan selama malam hari saat lambung kosong
adalah iritan yang signifikan.

alcohol. dan obat antiinflamasi masuk dalam kategori ini. seseorang mungkin mengalami ulkus peptikum karena satu dari dua factor ini : 1. hipersekresi asam pepsin 2. tetapi sekresi meningkat karena mekanisme neurogenik dan hormonal yang dimulai dari rangsangan lambung dan usus. keseimbangan asam basa. integritas sel mukosa. 3. Kemudian menyebar ke dalamnya dengan lambat. Sindrom Zollinger-Ellison (gastrinoma) dicurigai bila pasien datang dengan ulkus peptikum berat atau ulkus yang tidak sembuh dengan terapi medis standar. Asam hidroklorida kontak hanya dengan sebagian kecil permukaan lambung. sekresi lambung adalah campuran mukokolisakarida dan mukoprotein yang disekresikan secara kontinyu melalui kelenjar mukosa. kelemahan barier mukosa lambung Apapun yang menurunkan yang mukosa lambung atau yang merusak mukosa lambung adalah ulserogenik. Barier ini adalah pertahanan untama lambung terhadap pencernaan yang dilakukan oleh sekresi lambung itu sendiri. Asam hidroklorida disekresikan secara kontinyu. Refleks vagal menyebabkan sekresi asam sebagai respon terhadap distensi lambung oleh makanan. Fase usus Makanan dalam usus halus menyebabkan pelepasan hormon(dianggap menjadi gastrin) yang pada waktunya akan merangsang sekresi asam lambung. Oleh karena itu. ulkus duodenal. 90% tumor ditemukan dalam gastric triangle yang mengenai kista dan duktus . Bila asam hidroklorida tidak dibuffer dan tidak dinetralisasi dan bila lapisan luar mukosa tidak memberikan perlindungan asam hidroklorida bersama dengan pepsin akan merusak lambung. Factor lain yang mempengaruhi pertahanan adalah suplai darah. dan regenerasi epitel. Pada manusia. Mukosa yang tidak dapat dimasuki disebut barier mukosa lambung. Sindrom ini diidentifikasi melalui temuan berikut : hipersekresi getah lambung. dan gastrinoma(tumor sel istel) dalam pancreas. salisilat dan obat antiinflamasi non steroid lain. Fase lambung Pada fase ini asam lambung dilepaskan sebagai akibat dari rangsangan kimiawi dan mekanis terhadap reseptor dibanding lambung.2. Mucus ini mengabsorpsi pepsin dan melindungi mukosa terhadap asam.

Biasanya ulserasi mukosa dengan syok ini menimbulkan penurunan aliran darah mukosa lambung. Kombinasi iskemia. lambung. Kondisi stress seperti luka bakar. Pasien ini dapat mengalami adenoma paratiroid koeksisten atau hyperplasia. setelah 72 jam. Diare dan stiatore(lemak yang tidak diserap dalam feces)dapat ditemui.  Nyeri : biasanya pasien dengan ulkus mengeluh nyeri tumpul. erosi lambung multiple terlihat. Endoskopi fiberoptik dalam 24 jam setelah cedera menunjukkan erosi dangkal pada lambung. lesi sebaliknya. atau beberapa bulan dan bahkan dapat hilang hanya sampai terlihat kembali. Ulkus curling sering terlihat kira-kira 72 jam setelah luka bakar luas. Bila pasien sembuh. seperti tertusuk atau sensasi terbakar di epigastrium tengah atau di punggung. atau duodenum. yaitu dua tipe lain dari ulkus lambung. Bila kondisi stress berlanjut ulkus meluas. Banyak individu mengalami gejala ulkus. Pola ini khas pada ulserasi stress. Selain itu jumlah besar pepsin dilepaskan. Ulkus stress harus dibedakan dari ulkus cushing dan ulkus curling. Hal ini diyakini bahwa nyeri terjadi bila kandungan asam lambung dan duodenum meningkat . Keluhan pasien paling utama adalah nyeri epigastrik. Ulkus stress adalah istilah yang diberikan pada ulserasi mukosa akut dari duodenal atau area lambung yang terjadi setelah kejadian penuh stress secara fisiologis. dan karenanya dapat menunjukkan tanda hiperkalsemia. Kira-kira ⅓ dari gastrinoma adalah ganas(maligna). dan leher korpus pancreas. MANIFESTASI KLINIS Gejala-gejala ulkus dapat hilang selama beberapa hari. dan trauma dengan organ multiple dapat menimbulkan ulkus stress.koledokus. minggu. sering tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi. dan 20-30% mengalami perforasi atau hemoragi yang tanpa adanya manifestasi yang mendahului. D. sepsis berat. Ulkus cushing umum terjadi pada pasien dengan trauma otak. Pendapat lain yang berbeda adalah penyebab lain dari ulserasi mukosa. dan biasanya lebih dalam dan lebih penetrasi daripada ulkus stress. bagian kedua dan tiga dari duodenum. asam dan pepsin menciptakan suasana ideal untuk menghasilkan ulserasi. Ulkus ini dapat terjadi pada esophagus. syok.

E. Nyeri biasanya hilang dengan makan. EVALUASI DIAGNOSTIK Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan adanya nyeri. karena makan menetralisasi asam atau dengan menggunakan alkali. Teori lain menunjukkan bahwa kontak lesi dengan asam merangsang mekanisme refleks local yang mamulai kontraksi otot halus sekitarnya. biasanya setelah nyeri berat yang dihilangkan dengan ejeksi kandungan asam lambung. Hal ini dihubungkan dengan pembentukan jaringan parut atau pembengkakan akut dari membran mukosa yang mengalami inflamasi di sekitarnya pada ulkus akut.  Konstipasi dan perdarahan : konstipasi dapat terjadi pada pasien ulkus. namun bila lambung telah kosong atau alkali tidak digunakan nyeri kembali timbul. Eruktasi atau sendawa umum terjadi bila lambung pasien kosong. nyeri tekan epigastrik atau distensi abdominal. Endoskopi telah diketahui dapat mendeteksi beberapa lesi yang tidak terlihat melalui pemeriksaan sinar X karena ukuran atau . Pasien dapat juga datang dengan perdarahan gastrointestinal sebagian kecil pasien yang mengalami akibat ulkus akut sebelumnya tidak mengalami keluhan. muntah dapat menjadi gejala ulkus peptikum. Endoskopi GI atas digunakan untuk mengidentifikasi perubahan inflamasi.  Muntah : meskipun jarang pada ulkus duodenal tak terkomplikasi. Muntah dapat terjadi atau tanpa didahului oleh mual. kemungkinan sebagai akibat dari diet dan obat-obatan. tetapi mereka menunjukkan gejala setelahnya. Nyeri tekan lokal yang tajam dapat dihilangkan dengan memberikan tekanan lembut pada epigastrium atau sedikit di sebelah kanan garis tengah. Bising usus mungkin tidak ada. Beberapa gejala menurun dengan memberikan tekanan local pada epigastrium. Pemeriksaan dengan barium terhadap saluran GI atas dapat menunjukkan adanya ulkus. namun endoskopi adalah prosedur diagnostic pilihan.  Pirosis(nyeri uluhati) : beberapa pasien mengalami sensasi luka bakar pada esophagus dan lambung. Melalui endoskopi mukosa dapat secara langsung dilihat dan biopsy didapatkan. yang naik ke mulut. kadang-kadang disertai eruktasi asam.menimbulkan erosi dan merangsang ujung saraf yang terpajan. ulkus dan lesi.

Bila terjadi. Pylory dapat ditentukan dengan biopsy dan histology melalui kultur. Apakah pasien mengalami defekasi disertai feses berdarah? Selama pengambilan riwayat. Pasien ditanya kapan muntah terjadi. Pasien hanya menyatakan bahwa nyeri dihilangkan dengan antasida. Ada juga tes pernafasan yang mendeteksi H. Adanya H. dan tidak adanya nyeri yang timbul juga mengidentifikasikan adanya ulkus.  Penghentian merokok  Modifikasi diet  Obat-obatan  Intervensi bedah G. F. perawat meminta pasien untuk menuliskan . Pylori.lokasinya. Nyeri yang hilang dengan makanan atau antasida. Pylori. Feces dapat diambil setiap hari sampai laporan laboratorium adalah negatif terhadap darah samar. PENATALAKSANAAN Beberapa metode dapat digunakan untuk mengontrol keasaman lambung termasuk perubahan gaya hidup. dan tindakan pembedahan.  Penurunan stress dan istirahat. KONSEP KEPERAWATAN 1. Nyeri ulkus peptikum biasanya digambarkan sebagai rasa terbakar atau menggerogoti dan terjadi kira-kira terjadi setelah 2 jam sesudah makan. seberapa banyak? Apakah muntahan merah terang atau warna kopi. Nyeri ini dering membangunkan pasien tengah malam dan jam 3 pagi. Pasien diminta untuk menggambarkan nyeri dan metode yang digunakan untuk menghilangkannya (tekanan. Pengkajian Riwayat pasien bertindak sebagai dasar yang penting untuk diagnosis. serta tes serologis terhadap antibody pada antigen H. Pemeriksaan sekretori lambung merupakan nilai yang menentukan dalam mendiagnosis aklorhidria(tidak terdapat asam hdroklorida dalam getah lambung) dan sindrom zollinger-ellison. makan makanan atau dengan muntah. meskipun hal ini merupakan tes laboratorium khusus. obat-obatan. antacid).

biasanya periode 72 jam dan memasukkan semua kebiasaan makan ( kecepatan makan. Batasi sesi penyuluhan sampai 30 menit atau kurang. R/ : Individualisasi penyuluhan meningkatkan pembelajaran. Apakah pasien merokok? Bila ya.masukan makanan. tingkat ansietas dan kesiapan mental. 2) Ajarkan informasi yang diperlukan : Gunakan kata-kata yang sesuai dengan tingkat pengetahuan klien. 2. 3) Yakinkan klien bahwa penyakitnya dapat diatasi. seberapa banyak? Bagaimana pasien mengekspresikan marah. hipotensi ). Rencana Asuhan Keperawatan a. penggunaan bumbu. R/ : Keinginan untuk belajar tergantung pada kondisi fisik klien. penggunaan minuman yang mengandung kafein ). Diagnosa Keperawatan : Kurang pengetahuan mengenai pencegahan gejala dan penatalaksanaan kondisi berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat. makanan regular. feses diperiksa terhadap darah samar. Pilih waktu kapan klien paling nyaman dan berminat. Intervensi : 1) Kaji tingkat pengetahuan dan kesiapan untuk belajar dari klien. terutama dalam konteks kerja dan kehidupan keluarga? Adakah stress pekerjaan atau adakah masalah dengan keluarga? Adakah riwayat keluarga dengan penyakit ulkus? Tanda vital dikaji untuk indicator anemia ( takikardi. . Pemeriksaan fisik dilakukan dan abdomen dipalpasi untuk melokalisasi nyeri tekan. Tujuan : Klien mendapatkan pengetahuan tentang pencegahan dan penatalaksanaan. Tingkat ketegangan dan kegugupan pasien dikaji. R/ : Memberikan keyakinan dapat memberikan pengaruh positif pada perubahan perilaku. kesukaan pada makanan pedas.

5) Anjurkan pasien untuk berhenti merokok R/ : Merokok dapat merangsang kekambuhan ulkus . R/ : Agen sitoprotektik melindungi mukosa lambung  Inhibitor pompa proton. 4) Anjurkan klien untuk menggunakan makanan dan kudapan pada interval yang teratur. R/ : Antibiotik diberikan bersamaan dengan garam Bismuth mematikan H. R/ : Dapat merangsang sekresi asam hidroklorida. R/ : Mempengaruhi sekresi asam lambung  Garam antibiotic/ Bismuth. Diagnosa keperawatan : Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa dan spasme otot. Intervensi : 1) Berikan terapi obat-obatan sesuai dengan program :  Antagonis histamine. R/ : Obat-obatan yang mengandung salisilat dapat mengiritasi mukosa lambung. Tujuan : Klien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang. R/ : Jadwal makan yang teratur membantu mempertahankan partikel makanan dalam lambung yang membantu menetralisir keasaman sekresi lambung. R/ : Menetralisir asam lambung  Antikolinergik.b. R/ : Menghambat pelepasan asam lambung 2) Anjurkan menghindari obat-obatan yang dijual bebas terutama yang mengandung salisilat. 3) Anjurkan klien untuk menghindari makanan/ minuman yang mengiritasi mukosa lambung : kafein dan alcohol. R/ : Inhibitor pompa proton menurunkan asam lambung  Antasida.Pylori  Agen sitoprotektif.

4) Ajarkan strategi penatalaksanaan stress : misalnya obat-obatan. . R/ : Stresor perlu diidentifikasi sebelum dapat diatasi. Pengetahuan dapat mempunyai pengaruh positif pada perubahan perilaku. Tujuan : Mendapatkan nutrisi yang optimal. distraksi dan imajinasi. Intervensi : 1) Dorong klien untuk mengekspresikan masalah dan rasa takut dan ajukan pertanyaan sesuai kebutuhan. Tujuan : Penurunan ansietas. 2) Jelaskan alasan untuk mentaati jadwal pemngobatan yang direncanakan :  farmakoterapi  Pembatasan diet  Modifikasi tingkat aktifitas  Mengurangi atau menghentikan rokok R/ : Pengetahuan mengurangi ansietas yang tampak sebagai rasa takut akibat ketidaktahuan. Diagnosa Keperawatan : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nyeri yang berkaitan dengan makanan. R/ : Penurunan ansietas menurunkan sekresi asam hidroklorida. d.c. R/ : Komunikasi terbuka membantu klien mengembangkan hubungan saling percaya yang membantu mengurangi ansietas dan stress. Diagnosa keperawatan : Ansietas berhubungan dengan sifat penyakit dan penatalaksanaan jangka panjang. 3) Bantu klien untuk mengidentifikasi situasi yang menimbulkan ansietas.

Intervensi : 1) Anjurkan makan makanan dan minuman yang tidak mengiritasi. R/ : Makanan dan minuman yang tidak mengiritasi dapat membantu mengurangi nyeri epigastrik. R/ : Makan teratur membantu menetralisasi sekresi asam lambung. Menurunnya ansietas membantu menurunkan sekresi asam hidroklorida. hindari kudapan sebelum waktu tidur. 2) Anjurkan makan dengan jadwal yang teratur. kudapan sebelum tidur meningkatkan sekresi asam lambung. 3) Anjurkan makan makanan pada lingkungan yang rileks R/ : Lingkungan yang rileks kurang menimbulkan ansietas. .

Hemoragian interstitial Perdararahan massif Kontak dengan isi GI Anemia defisiensi besi Intake nutrisi kurang Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi Rangsangan diteruskan ke thalamus dan menuRunkan ambang nyeri Nyeri Risiko infeksi Peritonitis Terjadi reaksi inflamasi Perubahan status Kesehatan Koping individu tidak efektif Risiko ggn keseimbangan cairan dan elektrolit Kecemasan Demam Hipertermia .Helicobacter pillory Terpajan asam Hidroklorida + pepsin Obat NSAID Alkohol merokok Melekat pada epitel Stress/emosional -Penyakit hati kronis -Rematik -Peny. Histamin. Peningkatan kandungan Asam dalam lambung& duodenum.Ginjal dll Rangsangan vagus Kerusakan mukosa Produksi asam meningkat Ulkus peptikum Erosi menembus dinding otot Pembengkakan membran mukosa Yang mengalami inflamasi Merangsang thalamus Bagian distal (TGZ) sbg pusat Yang menimbulkan mual& muntah Napsu makan menurun. Obstruksi&spasme mukosa pylorus Menimbulkan lubang dari GI Kedalam kavum peritonium Kerusakan mukosa kapiler Perforasi Merangsang ujung saRaf yg terpajan mengeluarkan bradikinin. serotinin.

keluarga.BAB II TINJAUAN KASUS PENGKAJIAN Tanggal Masuk : 6 Maret 2004 Sumber Informasi : klien. muntah. Penyakit yang pernah dialami : Tidak ada 2. dan rekam medik Diagnosa Medis : Ulkus Peptikum Tgl. Kebiasaan : Klien sebelum sakit ada riwayat minuman alkohol. 4. Keluhan yang menyertai : mual.BB Umur : 50 th Jenis Kelamin : laki-laki Al amat : Jl.Asmat blok E8 Status Perkawinan: Kawin Aga ma : Islam Suku : Jawa Pendidikan Pekerjaan : S1 : PNS II. Status Kesehatan saat ini. Pengkajian : 7 April 2004 I. nafsu makan menurun. Identitas Diri Klien Nama : Tn. Obat-obatan : Pemakaian obat-obat jangka waktu lama : . III. Riwayat keluhan utama : Nyeri uluhati dialami sejak 4 bulan yang lalu tetapi sebelumnya pernah dirawat di RSU Labuang Baji dengan keluhan yang sama. Alasan Masuk / Keluhan Utama Nyeri uluhati terasa perih seperti teriris-iris 2. Riwayat Kesehatan Lalu 1. 1. Alergi : Tidak ada 3. perasaan lemah 3.

sayur. takut makan banyak karena biasanya terasa mual. porsi makan tidak dihabiskan. nafsu makan menurun. Makanan pantang : Tidak ada d.5. Lama tidur/hari : 7 – 8 jam c. Jenis makanan : nasi.30 b. Nafsu makan :. 6. Pola Tidur dan Istirahat a. 21. Pola aktivitas dan latihan Sebelum sakit : kegiatan yang dilakukan adalah bekerja di kantor sebagi suatu rutintas sehari-hari sebagai seorang PNS Setelah sakit : Rutinitas terganggu karena harus dirawat di rumah sakit . frekuensi masih 3x/hari. Makanan yang disukai : tdk ada c. Waktu tidur (Jam) . Pola Nutrisi BB: 48 kg TB: 168 cm a. Setelah sakit : klien mengatakan ia hanya makan bubur. lauk pauk. buah-buahan b. baik e. Kebiasaan pengantar tidur : tidak ada d. TB : 168 cm.00 s/d 05. Kesulitan dalam hal tidur : tidak ada 8.BB : 48 kg. Kebiasaan saat tidur : tidak ada e. Pola Eliminasi a. BAK : Frekuensi : 4-6x/hari Warna : kuning muda bau pesing Setelah sakit tidak ada perubahan 7. BAB : Sebelum sakit : Setelah sakit : Frekuensi : 1x/hari Frekuensi : 1x/hari Waktu Waktu : pagi Konsistensi : lembek Pencahar : tidak pernah : pagi Konsistensi: lembek b.

a. Aspek Psikososial 1. Jenis pekerjaan : PNS b. Jumlah jam kerja :. kondisi lingkugan bersih dan bebas polusi VI. Pola pekerjaan a. Jadwal kerja : jam 8 – jam 2 IV. Alat bantu yang digunakan : Kaca mata b. Riwayat Lingkungan Kjlien tinggal di rumah sendiri.6 jam/hari c. Riwayat Keluarga Genogram: Keterangan: : perempuan meninggal : laki-laki : laki-laki meninggal : Serumah : klien : perempuan V.9. Pola pikir dan persepsi. Kesulitan yang dialami : tidak ada .

Tempat tinggal : Kebiasaan keluarga :  Adat istiadat yang dianut : jawa  Pembuat keputusan dalam keluarga : suami  Pola komunikasi antar keluarga : baik. 4. Bicara : jelas Bahasa utama :. Hubungan / Komunikasi.  Harapan setelah menjalani perawatan : Klien berharap cepat sembuh dank lien bisa pulang ke rumahnya kembali 3. Kepercayaan penting untuk anda : penting c. Kegiatan agama / kepercayaan yang ingin dilakukan selama di Rumah sakit : sholat dan berdoa . Agama. d. Kesulitan dalam keluarga : tidak ada 5. Yang ingin diubah dari kehidupan: tidak ada d. Yang disukai tentang diri sendiri : tidak ada c. Siapa / apa sumber kekuatan : Tuhan YME b. Persepsi diri  Hal yang amat dipikirkan saat ini : Klien memikirkan pekerjaannya yang terbengkali karena ia sakit.2. a. Apakah Tuhan. Suasana hati : Kien kadang-kadang terlihat gelisah memikirkan penyakitnya dan sering bertanya tentang penyakitnya. Kegiatan agama atau kepercayaan yang dilakukan (macam dan frekuensi) : sholat lima waktu dan berdoa. Yang ingin dilakukan jika sukses : tidak tahu 6. Pengambilan keputusan : suami b.Bahasa Indonesia Bahasa daerah : jawa b. Spiritual – Kepercayaan a.  Keuangan : cukup c. Pertahanan Koping a.

Hidung □ Reaksi alergi : tidak ada □ Pernah mengalami flu : pernah □ polip : tidak ada □ Septum deviasi : tidak ada □ Pasase udara : Normal □ Sekret/cairan : tidak ada d. Mata □ Ukuran pupil : 3 mm □ Reaksi terhadap cahaya : miosis midriasis □ Bentuk :. Pada palpasi : tidak ada benjolan dan nyeri tekan. Kepala Bentuk : mesocepal Rambut : tidak mudah tercabut dan warna hitam lurus. tidak memakai gigi palsu □ Stomatitis : tidak ada □ Gangguan bicara : tidak ada □ Kesulitan menelan : tidak ada e. Mulut dan tenggorokan □ Gigi geligi : gigi geraham sebagian sudah tanggal. Leher : tdk nampak adanya pembesaran thyroid f.normal □ Konjungtiva : anemis □ Fungsi penglihatan : baik □ Tanda-tanda radang : tidak ada Isokor. kaca mata :. Pengkajian Fisik a. □ Pemeriksaan mata. Pernafasan □ Frekuensi : 20 x/m □ Pola napas : reguler .VII. Keluhan yang berhubungan : tidak ada b. operasi.memakai kacamata c.

hangat □ Rasa pusing : tdk ada h. Palpitasi : tdk ada □ Perubahan warna (Kulit. hepar dan lien tdk teraba. Abdomen : perut datar dan tdk ada luka. Nutrisi : Jenis Diet : bubur saring Rasa mual : ada Intake cairan : ±2500 cc/hari Pengobatan : Omeprazol 1 x 20 mg Radin 2 x 1 Sotatik 3 x 1 Srokain 3 x 1 nafsu makan : menurun muntah : tdk ada . nyeri tekan epigastrium peristaltic usus normal. Perkusi ditemukan tympani. Sirkulasi □ Nadi perifer : teraba □ Capilary Refilling Time : 2 dtk □ Distensi Vena Jugularis : tdk nampak □ Tekanan Darah : 100/60 mmHg □ Nadi : 80 x/m □ Ictus Cordis : tdk nampak □ Suata jantung S1 dan S2 : normal. i. Kuku. tdk ada suara tambahan □ Irama jantung : reguler □ Nyeri. Bibir) : tdk ada □ Clubbing Finger : tdk ada □ Keadaan Ekstremitas :. Edema.□ Nyeri dada : tidak ada □ Kemampuan melakukan aktivitas : baik □ Pengembangan dada simetris kiri dan kanan □ Pergerakan dada ikut gerak nafas □ Jenis pernafasan : torakoabdominal □ Suara pernafasan : bronkhovesikuler g.

7 oC Pemeriksaan endoskopi nampak tukakpada antrum/ajulun gaster. Klien sebelum sakit ada riwayat minum alcohol. 5. Klienselalu memikirkan pekerjaannya yang terbengkalai karna ia sakit. 4. 3. DATA OBYEKTIF 1. 5. Konjungtiva anemis. Klien mengeluh mual. 30 Maret 2004 : Giant Fald pada korpus gaster Tukak antum/anjulum gaster Polipid kecil pada bulbus duodenum DATA FOKUS DATA SUBYEKTIF 1.Pemeriksaan diagnostic : Endoskopi tgl. napsu makan menurun. 2. Klien mengeluh nyeri uluhati. merokok. 8. 2. 6. klien berharap cepet sembuh dan klien bisa pulang. 4. perasaan lemah. perih seperti teriris-iris. 6. Porsi makan tidak dihabiskan TB : 168 Cm BB : 48 Kg Tanda-tanda Vital TD : 100/60 mmHg N : 80 x/mnt P : 20x/mnt S : 36. . 3. Nyeri tekan epigastrium. Klien sering memikirkan penyakitnya dan sering bertanya tentang penyakitnya. 7. Ekspresi wajah nampak meringis dan tegang klien kadang-kadang gelisah.

ANALISA DATA NO DATA ETIOLOGI 1 DS : . DO : Porsi makan tidak di habiskan TB : 168 Cm BB : 48 Kg Pembengkakan membran mukosa yang mengalami inflamasi Merangsang thalamus bagian distal ( TGZ) sebagai pusat yang menimbulkan mual Napsu makan menurun Intake nutrisi kurang Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi . perih seperti teriris-iris. perasaan lemah.klien mengeluh nyeri pada uluhati. napsu makan menurun. histamin dan serotinin Rangsangan diteruskan ke thalamus Nyeri Ulkus peptikum 2 DS : Klien mengeluh mual. DO : Nyeri tekan epigastrium Ekspresi wajah nampak meringis dan tegang Klien terlihat kadang-kadang gelisah Ulkus peptikum MASALAH Nyeri Peningkatan asam lambung dan deudenum Erosi Merangsang ujung saraf yang terpajan mengeluarkan bradikinin.

NO 3 DATA ETIOLOGI DS : Klienserin g memikirkan penyakitnya dan sering bertanya tenteng penyakitnya Klien selalu memikirkan pekerjaan yang terbengkalai karna ia sakit DO : Ekspresi wajah nampak tegang Nyeri MASALAH kecemasan Perubahan status kesehatan Koping individu inefektif kecemasan DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS MASALAH NO MASALAH/DIAGNOSA TGL DITEMUKAN 1 Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi B/D intek yang tidak adekuat 6 april 2004 2 Nyeri B/D ulkus peptic 6 april 2004 3 Kecemasan B/D Perubahan status kesehatan 6 april 2004 TGL TERATASI 6 april 2004 .

4. DS : .mual tidak ada .  membantu memenuhi kebutuhan nutrisi klien . 3. . Kolaborasi pemberian antiemetik. Anjurkan pemberian makanan  merangsang nafsu makan yang bervariasi menurut klien dietnya sajikan dalam keadaan hangat. perasaan lemah. kolaborasi pemberian diet lunak TKTP.Klien mengeluh mual.  mencegah terjadinya mual. Anjurkan untuk tidak berbaring setelah makan. 2. 5.TB : 168 Cm BB : BB Kg TUJUAN Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan criteria. RASIONAL  membantu mempertahankan partikel makanan dalam lambung yang dapat membantu menetralisir asam lambung.Porsi makan tidak dihabiskan . DO : . Anjurkan klien makan dalam porsi kecil tapi sering.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN NO 1 DIAGNOSA KEPERAWATAN Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan B/D intake yang tidak adekuat ditandai .porsi makan habis INTERVENSI 1.  mencegah terjadinya refleks asam lambung yang dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman pada mulut sehingga bisa terjadi muntah. napsu makan menurun.

Sebagai analgetik untuk    .  Membantu mencegah iritasi yang lebih lanjut sehingga bisa  meminimalkan nyeri yang dirasakan.Nyeri tekan DS : epigastrium (-). menghambat sekresi asam dengan memblok kerja histamin pada reseptor histamin dari sel parietal di lambung menurunkan sekresi asam lambung dengan --menghambat pompa hydrogen kalium adenosin triposfat (H+.Klien terlihat kadang-kadang gelisah.Ekspresi wajah uluhati perih nampak tenang.Klien mengeluh .2. Nyeri B/D ulkus Nyeri berkurang atau hilang peptikum ditandai dengan criteria : dengan : . seperti teriris-iris. 1.Nyeri uluhati (-) nyeri pada . ATPase) pada permukaan sel-sel parietal. penatalaksanaan pemberian obat-obatan sesuai program  Radin  Omeprasol  Strokain  pedoman untuk menentukan intervensi selanjutnya.Ekspresi wajah tampak meringis. . ajarkan teknik relaksasi (telnik napas dalam).Nyeri tekan pada epigastrium.  teknik relaksasi dapat memberikan rasa nyaman sehingga dapat mengurangi nyeri. . K+. . anjurkan untuk menghindari makanan/minuman yang dapat merangsang peningkatan asam lambung. 4. 3. Kaji tingkat nyeri 2. DO : . .Klien tidak gelisah.

2. 2. tujuan pengobatan dan perawatan yang diberikan.3. menghilangkan nyeri.Klien sering mengerti tentang memikirkan penyakitnya.Ekspresi wajah nampak tegang. membantu klien menerima perasaannya dan memberikan kesempatan untuk memperjelas kesalahan konsep. 3. Memberikan informasi tentang keadaan penyakitnya. 1. Membantu pasien untuk mengatasi perasaan cemasnya dan meningkatkan mekanisme koping. 1. 4. Membuat hubungan terapeutik. DO : .Klien dapat dan sering mengembangkan bertanya tentang koping efektif.klien tidak terlalu DS : memikirkan dan .Klien selalu memikirkan pekerjaannya yang terbengkalia karena sakit. Kecemasan B/D Rasa cemas teratasi dengan perubahan status criteria : kesehatan ditandai . Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya dan berikan umpan balik. . 3. Pedoman untuk intervensi selanjutnya.klien tenang dengan : . Berikan informasi tentang keadaan penyakitnya. penyakitnyanya . 4. Kaji tingkat kecemasan klien. Anjurkan untuk teknik relaksasi dan manajemen stress lainnya. penyakitnya .

.

KEP JAM IMPLEMENTASI PARAF .TGL/HARI NO.DX.

08-04-2004 Sabtu. 5. Menganjurkan pemberian makanan yang bervariasi menurut dietnya. 08. 2. Klien makan dalam porsi kecil tapi sering. 3. 10-04-2004 1. Mengkaji kembali adanya nyeri. Menganjurkan untuk memberikan makanan yang bervariasi menurut dietnya dalam keadaan hangat. 3. 09. nyeri tekan (+). Tetap menganjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering. 13. 13. menganjurkan pemberian makanan yang bervariasi menurut dietnya dan menyajikannya dalam keadaan hangat.Omeprazole 1. dan disajikan dalam keadaan hangat. 2.00 wita 1. 13.Omeprzole 1. .Radin .Rabu. Penatalaksanaan pemberian obat.Omeprazole. 2.Radin . 5. Klien masih makan dengan diet lunak TKTP. menganjurkan untuk tetap makan dalam porsi kecil tapi sering. Klien minum obat : .00 wita 1.15 wita 1. 7-04-2004 Kamis. CATATAN PERKEMBANGAN .OO 1. Klien minum obat . 5. 2. 2. Memberikan diet lunak TKTP. Klien masih makan dengan diet lunak TKTP. Menganjurkan untuk tidak berbaring setelah makan.00 wita 1. 2. 09.00 wita 1.Radin . menganjurkan untuk tidak berbaring setelah makan. 2.

O : Porsi makan tidak habis A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi 1. P : Lanjutkan intervensi 4. 3. ekspresi wajah tidak meringis. napsu makan masih belum ada.00 S: - Klen mengatakan mualnya sudah hilang.00 S : . O : Ekspresi wajah nampak tenang. . 2. Klien mengatakan napsu makan masih kurang dan badan masih terasa lemah. S : Klien masih mengeluh nyeri hati.Kadang-kadang masih terlihat gelisah. S :Klien mengatakan sudah memahami keadaan penyakitnya dan akan melaksanakan program pengobatan dan perawatan yang diprogramkan. 07-04-2004 JAM EVALUASI/SOAP 14. A : Masalah teratasi P: - 1. O : . A : Masalah teratasi sebagaian. 14. 2. 06-04-2004 1. Rabu.HARI/TGL N.Nyeri tekan masih ada. O : Nyeri tekan tidak ada.DX Selasa.Klien masih mengeluh kadangkadang mual. 5 2. A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi 3.Ekspresi wajah kadang meringis. badan klien masih terasa lemah. PARAF .Porsi makan tidak habis A : masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi. . O: . S : Klien mengatakan nyerinya sudah hilang.

A : masalah belum teratasi. O : Porsi makan tidak dihabiskan. 13. 2.15 wita 2. 5 2. P : Lanjutkan intervensi 4. 3. S : Klien mengatakan napsu makan masih kurang. 3. 1. 13. 08-04-2004 Sabtu. S:O:A : Masalah teratasi sebagaian. 5 S:O : Nyeri tekan (+) A : Masalah teratasi sebagaian P : Lanjutkan intervensi 4 .Kamis. 10-04-2004 1.30 wita S : napsu makan tidak ada O : Porsi makan tidak dihabiskan A: Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi 2. P : Lanjutkan intervensi 1.