You are on page 1of 13

Yohanes basco panji pradana

41130007
Alogaritma angina pektoris

eurheartj.oxfordjournals.org

Kardiorespiratori arrest

Yohanes basco panji pradana 41130007 ACLS 2010 .

Yohanes basco panji pradana 41130007 Ventrikel takikardi American heart association 2010 SUPRAVENTRIKEL TAKIKARDI .

S. M. 2012. . Evaluation and Initial Treatment of Supraventricular Tachycardia. Link. The New England Journal of Medicine.Yohanes basco panji pradana 41130007 JANGKA PENDEK 144..

2012. Link.The New England Journal of Medicine ATRIAL FIBRILATION DAN FLUTTER . S. M.. Evaluation and Initial Treatment of Supraventricular Tachycardia.Yohanes basco panji pradana 41130007 SUPRAVENTRIKEL TAKIKARDI JANGKA PANJANG 144.

Yohanes basco panji pradana 41130007 Tahapan-tahapan di dalam penatalaksanaan syok kardiogenik adalah sebagai .

4. bila tidak sadar sebaiknya diakukan intubasi. 11. Hilangkan agitasi. PaO2 (tekanan yang ditimbulkan oleh O2 yang terlarut dalam darah) minimal 60 mmHg b. a. terutama Kalium. Bila terdapat takiaritmia. 6. Prioritas pertama dalam penanganan syok kardiogenik adalah pemberian cairan yang adekuat secara parenteral (koreksi hipovolemia) dengan menggunakan pedoman dasar PCWP atau pulmonary artery end diastolic pressure (PAEDP) atau CVP. Berikan oksigen 8-15 liter/menitdengan menggunakan masker untuk mempertahankan PaO2 70-120 mmHg. Pasien diletakkan dalam posisi berbaring mendatar. Semua pasien harus mendapat suplemen oksigen untuk meyakinkan oksigenasi yang adekuat. ukur urine output 24 jam.Yohanes basco panji pradana 41130007 berikut: 1. 8. 10. Pastikan tekanan pengisian ventrikel kiri adekuat. Koreksi asidosis metabolik dengan Bikarbonas Natrikus sesuai dosis. Takiaritmia supraventrikular dan fibrilasi atrium dapat diatasi dengan pemberian digitalis. Pasang Folley catheter. Pertahankan produksi urine > 0. gangguan elektrolit. 2.5 ml/kg BB/jam. dan keseimbangan asam basa yang terjadi. Lakukan monitor EKG dan rontgen thoraks. . Rasa nyeri akibat infark akut yang dapat memperberat syok yang ada harus diatasi dengan pemberian morfin. 12. 7. dapat diberikan Diphenhydramin HCL 50 mg per oral atau intra muskular : 3-4 x/hari. Sinus bradikardi dengan frekuensi jantung < 50 kali/menit harus diatasi dengan pemberian sulfas atropin. 3. Koreksi hipoksia. harus segera diatasi: a. 9. b. Terapi terhadap gangguan elektrolit. 5. Pastikan jalan nafas tetap adekuat dan yakinkan ventilasi yang adekuat. Intubasi jika PaO2 < 60 mmHg pada FIO2 (konsentrasi oksigen inspirasi) maksimal dengan masker muka atau PaCO2 > 55 mmHg (tekanan yang ditimbulkan oleh CO2 yang terlarut dalam darah) c.

Caranya: a. Bila ada respon. dan ada tidaknya gejala klinis kongesti paru. tanda-tanda kongesti paru tidak ada atau tidak semakin berat. maka diberikan infus cairan 100 ml dalam waktu 10 menit. maka diberikan cairan tambahan sebanyak 200 ml dalam waktu 10 menit. Jika nilai PCWP atau PAEDP pada awalnya 20 mmHg atau lebih (atau jika nilai awal CVP 20 cmH2O atau lebih). Intravenous fluid tolerance test merupakan suatu cara sederhana untuk menentukan apakah pemberian cairan infus bermanfaat dalam penanganan syok kardiogenik. dan paru setiap 15 menit. d. Pada keadaan ini. tekanan darah. perubahan tekanan darah. Periksa PCWP atau PAEDP (atau CVP). dan bila PCWP atau PAEDP tidak berubah atau tidak meningkat > 2 mmHg di atas nilai awal(atau jika CVP tetap atau tidak meningkat > 2-3 cmH2O di atas nilai awal).org 9 Jenis cairan yang digunakan tergantung keadaan klinisnya.Yohanes basco panji pradana 41130007 1SYOK KARDIOGENIK article by MiSC Kardiovaskular fkuii. tekanan darah tetap stabil atau meningkat. c. tetapi dianjurkan untuk memakai cairan salin isotonik. maka tidak boleh dilakukan . Bila selanjutnya PCWP atau PAEDP tetap stabil atau tidak meningkat > 2 mmHg atau tidak melebihi 16 mmHg (atau jika CVP tetap < 15 cmH2O). b. diberikan initial test volume sebanyak 100 ml cairan (D5%) melalui infus dalam waktu 5 menit. sulit untuk mengatakan adanya pump failure dan sebelum penanganan lebih lanjut. atau tanda-tanda kongesti paru tidak timbul atau semakin bertambah. maka infus dilanjutkan dengan memberikan cairan 500-1000 ml/jam sampai tekanan darah dan gejala klinis syok lain menghilang. volume cairan intravaskuler harus ditingkatkan hingga LVEDP mencapai 18 mmHg.Pemberian cairan selanjutnya tergantung dari peningkatan PCWP atau PAEDP (atau CVP). Diharapkan PCWP atau PAEDP akan meningkat sampai 15-18 mmHg(atau CVP meningkat sampai 15 cmH2O). Bila PCWP atau PAEDP < 15 mmHg (atau CVP < 12 cmH2O). berupa peningkatan tekanan darah. Jika pada awal pemeriksaan didapatkan nilai PCWP atau PAEDP antara 15-18 mmHg (atau nilai CVP awal 12-18 cmH2O). peningkatan diuresis. perbaikan syok secara klinis.

4 mg/kg BB/menit (dosis awal jangan lebih dari 10 mg/menit). e. Penanganan pump failure dibagi berdasarkan subset hemodinamik dan pasien dapat berpindah dari satu subset ke subset lainnya dan memerlukan perubahan dalam regimen terapi.Yohanes basco panji pradana 41130007 1SYOK KARDIOGENIK article by MiSC Kardiovaskular fkuii. atau jika nilai CVP < 5cmH2O. infus cairan dapat diberikan walaupun didapatkan edema paru akut. Pada waktu pemberian nitroprusid harus dilakukan monitor terhadap tekanan darah dan tekanan pengisian ventrikel kiri. yaitu nitrogliserin dan nitroprusid. Pada pasien dengan perfusi jaringan yang tidak adekuat dan volume intravaskular yang adekuat harus dicari kemungkinan adanya tamponade jantung sebelum pemberian obat-obat inotropik atau vasopresor dimulai.Ada dua vasodilator yang sering digunakan. Keadaan ini menunjukan adanya gagal jantung kiri dengan tekanan arteri cukup tinggi. maka infus cairan harus dihentikan dan keadaan pasien dievaluasi kembali.org 10 tes toleransi cairan intravena. dan indeks jantung < 2. kemudian dosis ditingkatkan 5 mg/menit setiap 10 menit sampai tercapai efek hemodinamik yang diinginkan. dan pengobatan dimulai dengan pemberian vasodilator.5 liter/menit/m2. Subset 1: LVEDP > 15 mmHg. Tamponade jantung akibat infark miokard memerlukan tindakan volume expansion untuk mempertahankan preload yang adekuat dan dilakukan perikardiosentesis segera. Jika pasien menunjukan adanya edema paru dengan nilai PCWP atau PAEDP yang rendah dan dalam penanganan dengan pemberian infus cairan menyebabkan peningkatan kongesti paru serta perburukan keadaan klinis. Bila curah jantung meningkat dan . tekanan sistolik arteri> 100 mmHg. . Jika PCWP atau PAEDP menunjukan nilai yang rendah (<5 mmHg). f. sehingga pengurangan afterload dapat dilakukan sebagai terapi pertama. a. Pemberian nitroprusid dimulai dengan dosis 0. 13. 14.

5 liter/menit/m2. Terutama diberikan bila proses iskemia masih berlangsung dan didapatkan adanya kongesti paru yang berat. . b. maka dosis nitrogliserin diturunkan dan ditambahkan dobutamin dengan dosis 2-5 mg/kg BB/menit. maka dobutamin diganti dengan dopamin.Selama periode ini. dan indeks jantung < 2. Bila tekanan darah menurun lebih cepat.Bila hemodinamik pasien sudah stabil dan tanda-tanda kongesti paru masih tetap. norepinefrin merupakan pilihan utama dengan dosis 2-15 mg/menit sampai tekanan darah . Bila tekanan darah lebih cepat menurun. terjadi takikardi. Bila ada perbaikan gejala syok dan pump failure.org 11 menurun. maka dobutamin diganti dengan dopamin (mikro drip) sesuai dosis efektif 2-10 ug/kg BB/menit atau Isoproterenol drip jika disertai bradikardia. dimana “tim ballon” perlu digerakan dan sarana untuk kateterisasi harus dipersiapkan untuk menerima pasien ini . dan bilapeningkatan curah jantung tidak mencukupi. maka pemberian diuretik secara perlahan dapat dipertimbangkan.Pemberian nitrogliserin mempunyai peranan lebih kecil dalam penanganan syok kardiogenik ringan.Yohanes basco panji pradana 41130007 gejala syok berkurang. . Subset 2: Tekanan arteri sistolik < 90 mmHg. maka nitrogliserin dilanjutkan selama 24-28 jam. Nitrogliserin diberikan dengan dosis awal 5 mg/menit dan ditingkatkan 5 mg/ menit setiap 10 menit. pemasangan intra aortic ballon pump (IABP) counterpulsation harus dipertimbangkan. Bila tekanan darah menurun dengan tekanan preload yang tinggi. maka terapi diteruskan. Keadaan ini menunjukan tanda klasik adanya syok akibat hipotensi pada pasien infark miokard akut. LVEDP > 15 mmHg. dan secara bersamaan kerja ventrikel kiri dapat dikurangi. karena hanya dengan tindakan ini aliran darah koroner dapat ditingkatkan. . maka ditambahkan dobutamin dengan dosis awal 5 mg/kg BB/menit dan ditingkatkan sampai maksimal 15 mg/kg BB/menit.Jika pasien dalam keadaan hipotensi berat. Bila tekanan darah 1SYOK KARDIOGENIK article by MiSC Kardiovaskular fkuii.

Penggunaan trombolitik pada awal terapi infark miokard akan mengurangi jumlah miokard yang mengalami nekrosis.Jika dengan terapi cairan dan obat inotropik tidak ada perubahan.5 liter/menit/m2. dopamin dapat digunakan untuk terapi awal dengan dosis 5-15mg/kg BB/menit. Dobutamin tidak dapat digunakan secara tunggalpada pasien dengan hipotensi berat.Jika tekanan darah sistolik 70-90 mmHg. c. Subset 3: Infark ventrikel kanan.Yohanes basco panji pradana 41130007 1SYOK KARDIOGENIK article by MiSC Kardiovaskular fkuii. .Pemakaian vasodilator dan diuretik harus dihindarkan dan pada keadaan ini pemberian dobutamin lebih dianjurkan daripada dopamin. sehingga insiden sindrom syok kardiogenik akan berkurang. maka terapi selanjutnya yang terbaik adalah dobutamin yang dapat diberikan bersama-sama dopamin untuk mengurangi kebutuhan dosis dopamin.kemudian diusahakan untuk mengganti dengan dopamin. atau tekanan atrium kana > 20 mmHg.Bila tekanan darah pasien sudah stabil. 15. .org 13 . peningkatan tekanan diastolik atrium kanan dan ventrikel kanan (> 10 mmHg). tekanan sistolik< 100 mmHg. dimana efek utamanya merangsang adrenergik perifer. lebih baik digunakan norepinefrin. LVEDP normal atau meningkat. Pada GUSTO I TPA lebih baik dari streptokinase bila tidak ada syok dan insiden syok juga lebih 1SYOK KARDIOGENIK article by MiSC Kardiovaskular fkuii. tekanan pengisian ventrikel kiri > 20 mmHg.org 12 sistolik mencapai 80-90 mmHg. maka dianjurkan pemasangan IABP counterpulsation.Prinsip terapi: tekanan pengisian ventrikel kanan harus ditingkatkan dengan pemberian cairan secara cepat sampai tekanan darah stabil. Pasien dalam keadaan ini sangat sensitif terhadap kekurangan volume cairan dan sering menunjukan respon dengan terapi cairan. . . indeks jantung < 2. . Penelitian GUSTO I menunjukan angka mortalitas untuk 6 minggu follow up 58%pada pasien syok kardiogenik yang mendapat terapi trombolisis dan aspirin serta heparin.

Guyton menyimpulkan bahwa coronary-artery bypass surgery (CABS/CABG) merupakan terapi pilihan pada semua pasien syok kardiogenik akibat infark miokard. 16. Akhir-akhir ini dengan pemasangan stent pada kasus infark akut menunjukan hasil lebih baik dari angioplasti dengan memakai balon saja. Harapan hidup jangka panjang yang mengecewakan dari penanganan syok kardiogenik akibat infark miokarddengan terapi medis telah mendorong dilakukannya tindakan bedah revaskularisasi dini pada pasien yang telah stabil dengan terapi farmakologis dan IABP. Keberhasilan percutaneus transluminal coronary angioplasty (PTCA) terutama bila dilakukan pada 24 jam pertama setelah timbulnya gejala syok kardiogenik. pasien dengan LVEDP > 24 mmHg. .Yohanes basco panji pradana 41130007 kecil.Tindakan operasi dilakukan apabila didapatkan adanya kontraksi dari segmen yang tidak mengalami infark dengan pembuluh darah yang stenosis. CABS juga dianjurkan pada pasien yang mengalami kegagalan dengan tindakan angioplasti. Bedah revaskularisasi sebaiknya tidak dilakukan pada pasien oktogenarian. Sementara menunggu uji yang membandingkan angioplasti dan terapi medis. tetapi pada infark akut dengan syok kardiogenik yang dilakukan PTCA. pada pasien berusia < 65 tahun. Angka mortalitasdidalam rumah sakit untuk pasien infark akut yang dilakukan angioplasti primer 2-6%. dan GUSTO 38%. Data-data menunjukanPTCA pada syok kardiogenik menurunkan angka kematian menjadi 46% atau kurang. angka kematian di rumah sakit masih tinggi. 17. PTCA sebaiknya dikerjakan dengan support IABP. Semula PTCA dengan balon saja untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat secepatnya pada kasus-kasus infark menunjukan hasil lebih baik daritrombolisis. menurut PAMI 39%. tetapi pada syok mortalitas pada streptokinase lebih rendah walaupun secara statistik tidak bermakna. saat ini dianggap bahwa angioplasti direk lebih superior daripada terapi suportif semata-mata maupun terapi trombolitik. dan dengan single-vessel disease. kecuali pada kelompok oktogenarian. terutama untuk mencegah penyempitan kembali. Kegagalan PTCA terutama dikaitkan dengan usia pasien yang lanjut (> 70 tahun) dan riwayat infark sebelumnya.

Kumpulan data dari 370 pasien dari 22 studi menunjukan CABG yang dilakukan pada pasien dengan infarkjantung akut dan syok kardiogenik mempunyai mortalitas sebesar 36%.Yohanes basco panji pradana 41130007 1SYOK KARDIOGENIK article by MiSC Kardiovaskular fkuii. Pada pasien syok kardiogenik dengan disfungsi miokard akibat kerusakan miokard irreversibel.org 14 skor kontraktilitas ventrikel kiri > 13. misalnya robeknya otot papilaris. Pada pasien dengan kerusakan mekanik. Trisnohadi HB. robeknya septum interventrikel. 18. Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedoteran Universitas Indonesia. mungkin diperlukan tindakan transplantasi jantung. 2000. maka tindakan operasi akan efektif terutama bila revaskularisasi juga dapat dilaksanakan. Hal: 11-16 . Penatalaksanaan Kedaruratan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam. dan adanya kerusakan pada organ sistemik yang irreversibel. CABG perlu dipertimbangkan pada pasien dengan penyempitan di banyak pembuluh darah (multivessel disease) dan bila PTCA tidak berhasil.