You are on page 1of 21

Pasal Keranjang Sampah (EDDY OS HIARIEJ

)
Lebih dari 75 persen tersangka korupsi selalu
menggunakan Pasal 2 Ayat (1) dan Pasal 3 UndangUndang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, baik
yang dijerat oleh Polri, Kejaksaan, maupun oleh
KPK.
Agar tidak bias, kedua pasal tersebut dikutip
sebagai berikut. Pasal 2 Ayat (1), "Setiap orang yang
secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20
tahun dan denda paling sedikit Rp 200.000.000 dan
paling banyak Rp 1.000.000.000."
Sementara Pasal 3 menyatakan, "Setiap orang
dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau
orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan
kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatannya atau kedudukan yang
dapat
merugikan
keuangan
negara
atau

perekonomian negara, dipidana dengan pidana
penjara seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun dan atau
denda paling sedikit Rp 50.000.000 dan paling
banyak Rp 1.000.000.000."
Hukum balas dendam.
Mengapa kedua pasal sering digunakan oleh
penegak hukum?
Pertama, kedua pasal mengandung norma kabur
yang dapat digunakan untuk menjerat siapa pun
yang melakukan perbuatan apa pun.
Kedua, konsekuensi logis suatu norma kabur, di
persidangan sangat mudah dibuktikan penuntut
umum (PU).
Ketiga, UU PTPK secara keseluruhan disusun dalam
suasana kebatinan reformasi yang menuntut
membasmi korupsi sampai ke akar-akarnya sehingga
menggunakan hukum pidana sebagai lex talionis
atau hukum balas dendam. Padahal, konvensi PBB
mengenai antikorupsi secara implisit menganut

diharapkan yang terbukti adalah Pasal 3. Pertama.keadilan korektif berkenaan dengan hukuman yang dijatuhkan kepada terpidana. keadilan rehabilitatif berhubungan dengan upaya untuk memperbaiki terpidana dan keadilan restoratif berkaitan dengan pengembalian aset negara yang dikorup. Argumentasi teoretiknya. Kedua. Ada dua asumsi konstruksi dakwaan yang demikian. adanya katakata "dengan tujuan" dalam Pasal 3 menandakan . Jika Pasal 2 Ayat (1) tidak terbukti. pertama. Kedua pasal tersebut selalu didakwa dengan bentuk primair untuk Pasal 2 Ayat (1)—subsider untuk Pasal 3. ancaman pidana Pasal 2 Ayat (1) lebih berat dibandingkan dengan Pasal 3. Secara teoretik sebenarnya tak demikian karena membuktikan Pasal 3 jauh lebih sulit daripada Pasal 2 Ayat (1). membuktikan Pasal 2 Ayat (1) lebih mudah dibandingkan Pasal 3.

Ketiga. Dengan . 1913. PU harus dianggap gagal membuktikan kesengajaan sebagai maksud dalam pasal a quo. konsekuensi logis dari kata-kata "dengan tujuan". perbuatan dan akibat harus benar-benar terwujud. Artinya. PU harus bekerja ekstra untuk membuktikan corak kesengajaan sebagai maksud dan bukan corak kesengajaan lainnya. halaman 270). Artinya. 1953 halaman 256 dan 273). pada dasarnya penyalahgunaan wewenang dalam Pasal 3 adalah salah satu pengertian melawan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) (van Hamel. Hal ini berbeda dengan Pasal 2 Ayat (1) yang mana PU hanya cukup membuktikan adanya kesengajaan tanpa harus membuktikan lebih lanjut corak dari kesengajaan tersebut. pasal a quote lah menutup peluang adanya kesengajaan sebagai kepastian atau kesengajaan sebagai kemungkinan (van Bemmelen dan van Hattum. Jika salah satu saja tak terwujud. antara motivasi. Kedua.corak kesengajaan dalam pasal a quo adalah kesengajaan sebagai maksud.

sangat aneh jika ada putusan pengadilan yang menyatakan Pasal 2 Ayat (1) tidak terbukti. Kedua. harus ada hubungan kausalitas antara penyalahgunaan kewenangan. 1950 halaman 78).demikian. Selain unsur "melawan hukum". tidak ada sinkronisasi dan harmonisasi perundang-undangan kita terkait terminologi "keuangan negara" (lihat lebih lanjut dalam UU . menandakan bahwa delik tersebut dikonstruksi secara formal (delik formal) lebih menitikberatkan pada perbuatan dan bukan akibat. sedangkan Pasal 3-nya terbukti. Keempat. dengan adanya kata "dapat". tetapi cukup adanya potensi kerugian keuangan negara. yaitu "meist wirksame bedingung": syarat yang paling utama untuk menentukan akibat (Vos. kesempatan atau sarana dengan jabatan atau kedudukan pelaku. Dalam hal ini ajaran kausalitas dari Brickmayer. tidak perlu ada kerugian negara secara nyata. Artinya. unsur lain yang selalu menjadi perdebatan adalah unsur "dapat merugikan keuangan negara". Pertama.

Dalam praktik. celakanya tak terdapat pemahaman . Sebenarnya pembentuk UU PTPK sudah mengantisipasi kerugian keuangan negara yang bukan korupsi dengan ketentuan Pasal 32 UU PTPK.Keuangan Negara. yang satu menyatakan ada kerugian keuangan negara sedangkan yang satunya tidak. tetapi dalam konteks administrasi atau perdata. apakah adanya kerugian keuangan negara serta-merta harus ada tindak pidana korupsi? Anggapan demikian telah mengalami sesat pikir aparat penegak hukum karena tidak selamanya adanya kerugian keuangan negara harus ada tindak pidana korupsi. Keempat. siapakah yang berwenang untuk menentukan adanya kerugian keuangan negara? Apakah BPK. hasil audit yang dilakukan oleh BPK berbeda secara diametral dengan BPKP.banyak kasus korupsi di persidangan. BPKP. UU Perseroan Terbatas dan UU BPK). Dapat saja terjadi kerugian keuangan negara. Ketiga. akuntan publik ataukah inspektorat kementerian? Ironisnya. UU BUMN.

dalam Kejaksaan Agung sendiri terdapat silang pendapat. Bidang Pidana Khusus Kejaksaan Agung berpendapat bahwa sudah cukup bukti adanya tipikor. Demikian pula pemahaman hakim di persidangan terhadap kedua pasal tersebut. Artinya. Anehnya. Namun.yang sama di antara penegak hukum terkait kedua pasal itu. demikian pula KPK melalui Direktur Pengaduan Masyarakat dengan alasan bahwa tidak cukup bukti. Hal ini pernah dialami Hotasi Nababan. Ada yang menyatakan kasus a quo adalah tipikor dan ada yang menyatakan kasus a quo adalah perdata. Kasus a quo dihentikan penyidikannya oleh Bareskrim Polri. Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Agung memenangi gugatan perdata di Pengadilan Washington DC Amerika dalam kasus yang sama. Tidak jarang terhadap suatu kasus. terdapat perbedaan antara satu institusi penegak hukum dengan institusi penegak hukum lainnya. . terpidana kasus korupsi penyewaan pesawat Boeing.

Suatu ketika. Hakim menyatakan bahwa kasus bioremediasi sudah tepat diadili menggunakan Pasal 2 Ayat (1) dan Pasal 3 UUPTPK. Penulis kemudian menyanggah pernyataan tersebut dengan memberi ilustrasi sebagai berikut: sebuah mobil milik Bank Indonesia yang biasanya dipakai membawa uang. kedua orang tersebut harus dijerat dengan Pasal 2 Ayat (1) UU PTPK karena dalam pasal pencurian dengan kekerasan tidak ada unsur . penulis didengarkan keterangan sebagai ahli dalam kasus korupsi bioremediasi oleh PT Chevron. bukan menggunakan undang-undang lingkungan hidup dengan argumentasi bahwa unsur kerugian negara tidak terdapat dalam undangundang lingkungan hidup. Apakah kedua orang tersebut akan dijerat dengan pasal pencurian dengan kekerasan ataukah Pasal 2 Ayat (1) UU PTPK? Penulis selanjutnya menyatakan kalau hakim konsisten. Terjadi perdebatan antara salah seorang anggota majelis hakim dan penulis. tiba-tiba disergap oleh dua orang bersenjata api dan mengambil uang dalam mobil yang jumlahnya ratusan miliar rupiah.

Pedang bermata dua Dari silang pendapat ini. Hanya penuntut umum dan hakim yang mengalami sesat pikir yang akan menjerat kedua orang tersebut dengan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK. Secara sederhana tatbestandmassigkeit dapat diartikan perbuatan yang memenuhi unsur delik yang dirumuskan. tetapi pembentuk undang-undang tidak bermaksud untuk menyatakan perbuatan yang . Perbuatan kedua orang tersebut telah memenuhi Pasal 2 Ayat (1). 1950. Mendengar pernyataan penulis. halaman 35). dapat dipastikan bahwa hakim yang bersangkutan tidak memahami pembagian delik sebagai tatbestandmassigkeit dan delik sebagai wesenschau. tetapi perbuatan itu juga dimaksudkan oleh pembentuk undang-undang (Vos. sedangkan wesenschau mengandung makna suatu perbuatan dikatakan telah memenuhi unsur delik tidak hanya karena perbuatan tersebut telah sesuai dengan rumusan delik. hakim tersebut tidak berbicara sepatah kata pun.kerugian keuangan negara.

Dengan demikian. . kedua pasal juga dapat digunakan untuk menjerat penggiat antikorupsi yang bersuara keras terhadap institusi penegak hukum tertentu. politisi dan pebisnis yang secara sendirisendiri atau berkolaborasi merampok uang rakyat dengan modus operandi yang canggih demi kepentingan pribadi. Konstruksi Pasal 2 Ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK yang demikian. sangat efektif untuk menjerat para pejabat negara. perbuatan kedua orang tersebut tatbestandmassigkeit memenuhi unsur tipikor.demikian sebagai tipikor. ibarat pedang bermata dua. Di sisi lain. Di satu sisi. kedua orang tersebut dituntut dengan pencurian dengan kekerasan. Bahkan. tetapi tidak dimaksudkan oleh pembentuk undang-undang atau tidak wesenschau sebagai tipikor. tidak jarang pula kedua pasal tersebut digunakan oleh aparat penegak hukum yang terjerembap dalam kubangan mafia peradilan untuk memeras calon tersangka atau digunakan untuk menyingkirkan lawan-lawan politik. golongan atau partai politik tertentu. Tegasnya.

Paling tidak ada tiga hal yang perlu diluruskan. Tanpa mengurangi rasa hormat penulis kepada Profesor Hikmahanto. Ketiga. Kedua.EDDY OS HIARIEJ.Harian Kompas edisi 1 April 2015 menerbitkan artikel dengan judul "Niat dan Perbuatan Jahat" yang ditulis oleh kolega penulis. KOMPAS . terkait tipikor itu sendiri. Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia. bentuk kesalahan dalam tipikor. Pertama. Profesor Hikmahanto Juwana. perbandingan antara tipikor dan kejahatan . tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman singkat terkait tindak pidana korupsi (tipikor) dan menanggapi beberapa hal dalam artikel tersebut. GURU BESAR HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UGM MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI JAKARTA.

Pertama. tipikor berupa suap-menyuap sebanyak 12 pasal. Ke-30 perbuatan tersebut secara garis besar dapat dibagi menjadi tujuh jenis. tipikor yang bertalian dengan pemerasan sebanyak tiga pasal. tipikor berupa perbuatan curang sebanyak enam pasal. ada 30 perbuatan yang dikualifikasikan sebagai tipikor. Kedua. tipikor yang berkaitan dengan kerugian keuangan negara sebanyak dua pasal. perlu dipahami bahwa berdasarkan Undang-Undang Tipikor. Kelima. .terhadap nyawa yang diterangkan oleh Profesor Hikmahanto. Pertama. Ketiga. Keempat. tipikor yang berhubungan dengan penggelapan dalam jabatan sebanyak lima pasal.

yaitu kesempatan atau sarana. korupsi hanya Pasal 2 Ayat (1) dan Pasal 3. yang harus dibuktikan tidak hanya sebatas unsur melawan hukum dan unsur menyalahgunakan kewenangan. Unsur menyalahgunakan kewenangan atau kesempatan atau sarana adalah cara-cara yang dirumuskan secara alternatif. Dengan demikian.Keenam. Kalaupun yang dimaksud oleh Profesor Hikmahanto. . Masih ada dua cara lain yang disebut dalam Pasal 3. tipikor yang berkiatan dengan pengadaan barang dan jasa hanya satu pasal. korupsi tidak hanya bertalian dengan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi. Ketujuh. haruslah dipahami bahwa unsur menyalahgunakan kewenangan hanyalah salah satu cara. Khusus terkait Pasal 3. tipikor berupa gratifikasi juga satu pasal. penyalahgunaan wewenang dan kerugian keuangan negara.

Hubungan kausal ini pun harus dibuktikan. dalam pasal yang berisi rumusan delik. yaitu kesengajaan atau kealpaan. Dapat saja dalam suatu pasal kedua bentuk kesalahan tersebut dirumuskan secara alternatif. Kedua. Adakalanya. bentuk kesalahan tidak dicantumkan secara eksplisit. harus dimaknai bahwa bentuk kesalahan dalam delik tersebut adalah .Ketiga cara itu harus mempunyai hubungan kausal dengan jabatan atau kedudukan. Adapun unsur "dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara" mengandung kedalaman makna bahwa tidak perlu ada kerugian negara secara nyata. Dalam hal demikian. bentuk kesalahan dalam hukum pidana adalah sikap batin antara pelaku dengan tindak pidana yang dilakukan yang melahirkan dua bentuk kesalahan. tetapi cukup adanya potensi kerugian keuangan negara atau perekonomian negara.

Terkadang. Hal ini mempermudah kerja penuntut umum dalam membuktikan. kata "sengaja" dalam rumusan delik diganti dengan kata-kata "dengan maksud". Kata-kata tersebut masing-masing memiliki implikasi hukum yang berbeda dalam hal pembuktian. Jika dicantumkan kata "sengaja". Lain halnya jika pasal tersebut mencantumkan kata "diketahui".kesengajaan. Lebih sulit lagi jika pembentuk undang-undang mencantumkan kata-kata "dengan maksud" atau "dengan tujuan". berarti pasal tersebut meliputi semua corak kesengajaan. maka corak kesengajaan yang ada dalam pasal tersebut mencakup kesengajaan sebagai maksud atau kesengajaan sebagai kepastian. atau "diketahui". "dengan tujuan". maka yang harus dibuktikan hanyalah kesengajaan sebagai maksud dan menutup peluang adanya corak kesengajaan sebagai .

dan Moeljatno. Niat adalah terjemahan dari kata voornemen yang diartikan sebagai sikap batin dan merupakan subjectieve onrechtselement (melawan hukum subyektif). Niat dan kesengajaan Ada dua hal yang perlu ditanggapi dalam artikel Profesor Hikmahanto terkait bentuk kesalahan dalam tipikor. Pertama. padahal kedua hal itu memiliki perbedaan dalam hukum pidana. Sengaja sebagai terjemahan dari kata opzet adalah niat yang sudah ditunaikan dalam perbuatan nyata dan merupakan objectieve onrechtselement atau melawan hukum obyektif (Pompe. Profesor Hikmahanto seolah-olah menyamakan antara niat dan kesengajaan.kepastian dan corak kesengajaan sebagai kemungkinan. halaman 18). . 1983. 1959. halaman 206.

Tindak pidana terhadap nyawa . dan Pasal 12 c Undang-Undang Tipikor terdapat kata-kata "diketahui atau patut diduga".Kedua. Pasal 12 a. tipikor mungkin terjadi karena kealpaan. Apabila memahami bentuk kesalahan secara utuh dan mendalam. tipikor dalam pasalpasal tersebut tidak hanya karena kesengajaan. Pasal 11. Pasal 12 b. Artinya. tetapi juga dapat terjadi karena kealpaan. kata-kata "diketahui atau patut diduga" mengandung bentuk kesalahan pro parte dolus pro parte culpa yang berarti sebagian untuk kesengajaan sebagian untuk kealpaan. Profesor Hikmahanto hendak menyatakan bahwa tipikor tidak mungkin terjadi karena kealpaan. Artinya. yang harus dipahami adalah tidak mungkin karena ketidaksengajaan". Dalam konteks teoretik. "Dalam tindak pidana korupsi. Profesor Hikmahanto dalam artikelnya secara tegas menyatakan.

Ini berbeda dengan tindak pidana yang terkait dengan nyawa. Dalam tindak pidana tersebut. Delik ini lebih . Hal-hal yang perlu ditanggapi dari pernyataan Profesor Hikmahanto tersebut adalah sebagai berikut. perbandingan antara tipikor dan tindak pidana terhadap nyawa. "Dalam tindak pidana korupsi. haruslah dipahami bahwa semua rumusan delik dalam undang-undang tipikor dikonstruksikan secara formal (delik formal). Pertama. ada sejumlah variasi". membuktikan adanya niat sekaligus perbuatan jahat dari pelaku sangatlah penting. Profesor Hikmahanto menyatakan secara eksplisit.Ketiga. Dalam artikelnya. ternyata variasi dalam tindak pidana terhadap nyawa yang dimaksud Profesor Hikmahanto bahwa tindak pidana terhadap nyawa mungkin terjadi karena kesengajaan atau kealpaan dan kemudian dihubungkan dengan percobaan. Dalam uraian selanjutnya.

percobaan bukanlah variasi dari suatu tindak pidana. percobaan bukanlah delicta sui generis (delik mandiri). Terkait percobaan yang . Tegasnya. berdasarkan penjelasan di atas. Ketiga.menitikberatkan pada tindakan atau kelakuan (handeling). Percobaan dapat terjadi pada semua kejahatan. termasuk tipikor dan tindak pidana terhadap nyawa. Konsekuensi lebih lanjut. melainkan suatu tindak pidana yang tidak sempurna. Ini berbeda dengan tindak pidana terhadap nyawa yang selalu dirumuskan secara materiil (delik materiil). tipikor sangat mungkin terjadi karena kealpaan. Kedua. Dengan demikian. baik tipikor maupun tindak pidana terhadap nyawa dapat terjadi karena kesengajaan atau kealpaan. Delik tersebut lebih menitikberatkan pada akibat (gevolg). membuktikan delik formal lebih mudah daripada delik materiil.

Pasal 15 undang-undang a quo menyatakan bahwa percobaan dalam tipikor sama dengan perbuatan yang selesai.perlu dibedakan antara tipikor dan tindak pidana terhadap nyawa adalah bentuk percobaannya. bahwa pelaku memiliki niat menghilangkan nyawa dengan meracun dan perbuatan sudah dilakukan. Hal ini karena tipikor merupakan delik formal. Namun. adalah contoh dari voltooide poging. Dalam tipikor hanya bisa terjadi percobaan terhenti atau geschorste poging atau tentative. Adapun dalam tindak pidana terhadap nyawa yang merupakan delik materiil. sangat mungkin terjadi percobaan selesai atau voltooide pogingatau delit manque. tetapi orang yang diracun ternyata masih hidup. Apa yang dicontohkan oleh Profesor Hikmahanto dalam artikelnya. Bentuk percobaan ini tidak mungkin terjadi pada tipikor. . selain percobaan terhenti.

diharapkan tidak terjadi distorsi informasi kepada publik.Dengan paparan ini. Eddy OS Hiariej Guru Besar Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada .