You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN

Untuk kebanyakan orang, kata hipertensi menunjukkan ketegangan yang
berlebihan, gugup atau stress. Dalam istilah medis, hipertensi mengacu pada tekanan darah
tinggi. Hipertensi yang menetap akan merusak pembuluh darah ginjal, jantung dan otak,
serta menyebabkan peningkatan insiden payah ginjal, penyakit koroner dan stroke.
Penurunan tekanan darah yang efektif dengan obat-obatan telah terbukti dapat mencegah
kerusakan pembuluh darah serta sangat mengurangi angka morbiditas dan mortalitas.
Tersedia banyak obat yang efektif. Pengetahuan mengenai mekanisme antihipertensinya
dan tempat kerjanya memungkinkan pembuatan ramal yang tepat bagi kemanjuran dan
toksisitasnya. Sebagai hasilnya, penggunaaan obat tersebut secara rasional, sendiri atau
dalam kombinasi, dapat menurunkan tekanan darah dengan resiko toksisitas yang
minimum pada sebagian besar pasien.

1

Kenyataannya. Etiologi hipertensi Penyebab spesifik hipertensi mungkin hanya dapat ditegakkan tidak lebih pada 10% pasien. dan otak berbanding langsung dengan besar peningkatan tekanan darah. stroke. Penyelidikan epidemiologi menunjukkan bahwa resiko kerusakan ginjal. stres. Bahkan hipertensi ringan (tekanan darah diastolik ≥ 90mmHg) pada orang dewasa muda atau orang setengah umur mempertinggi resiko kerusakan organ nantinya. Diagnosis hipertensi didasarkan atas pengukuran berulang dan sama yang merupakan peningkatan tekanan darah. 2. hiperlipidemi. hipertensi biasanya berlangsung tanpa gejala (asimtomatik) sampai kerusakan jelas pada organ akhir mengancam atau telah terjadi. Prevalensi terjadinya hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia. serta kehamilan.1. Faktor resiko lain positif meliputi riwayat hipertensi dalam keluarga.1. Sebagian besar pasien (70%) tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi karena pasien hipertensi terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Secara umum. merokok. rokok. diabetes dan manifestasi kerusakan organ akhir pada saat didiagnosis. jantung. Tetapi penting untuk mempertimbangkan sebab spesifik pada tiap kasus 2 . Diagnosis ini terutama berguna untuk meramalkan konsekuensi bagi pasien.1.1. dan gagal ginjal. hipertensi dapat disebabkan oleh makanan.BAB II PEMBAHASAN 2. Harus diingat bahwa diagnosis hipertensi tergantung atas pengukuran tekanan darah dan tidak atas gejala yang dikeluhkan pasien. gagal jantung. Hipertensi 2. obat-obatan yang berupa kontrasepsi oral dan kortikosteroid. dan dalam pernyataan ini jarang disebutkan penyebab hipertensi. Definisi Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg atau tekanan diatolik di atas 90 mmHg serta menjadi faktor resiko utama penyebab coronary artery disease (CAD).2.

Detection. venula pasca kapiler (pembuluh darah penyimpan) dan jantung.karena beberapa diantaranya dapat diatasi dengan tindakan pembedahan definitif: konstriksi arteria renalis. feokromositoma. koarktasio aorta. and treatment oh High Blood Pressure) VII Kategori Normal Prehipertensi Hipertensi stage 1 Hipertensi stage 2 Sistolik (mmHg) < 120 120 – 139 140 – 159 ≥ 160 Diastolik (mmHg) < 80 80 – 89 90 – 99 ≥ 100 Regulasi tekanan darah yang normal Secara fisiologis. Baroreflek. pada individu normal dan hipertensi. sedang biasanya curah jantung normal. membantu mempertahankan tekanan darah dengan meregulasi volume cairan intra vaskular. sistem renin – angiostensi – aldosteron dan ginjal telah gagal menemukan kelainan primer sebagai penyebab kenaikan resistensi vaskular pada hipertensi essensial. Tempat kontrol anatomik keempat. Pasien hipertensi labil terlihat lebih mungkin menderita peningkatan tekanan darahnya setelah pemberian beban garam daripada kontrol yang nornal. penyakit cushing dan hiperaldosteronisme primer. Pada kebanyakan kasus. Tabel Klasifikasi Tekanan Darah berdasarkan JNC (Joint National Committe on Prevention. bekerja bersama dengan mekanisme humoral.termasuk 3 . Kenaikan tekanan darah karena penuaan tidak terjadi pada populasi dengan masukan natrium yang rendah tiap hari. Bukti epidemiologi memperlihatkan bahwa faktor genetik. Biasanya kenaikan tekanan darah disebabkan oleh gabungan beberapa kelainan (multifaktor). tekanan darah dipertahankan dari waktu ke waktu oleh regulasi curah jantung dan resistensi vaskular perifer. Penyelidikan teliti atas fungsi susunan saraf otonom. yang ditimbulkan pada 3 tempat anatomik : arteriola. refleks baro reseptor. melalui saraf simpatis. ginjal. Evaluation. Pasien tanpa penyebab spesifik hipetensi yang dapat ditemukan disebut penderita hipertensi essensial. kenaikan tekanan darah diikuti oleh peningkatan secara menyeluruh dalam resistensi aliran darah melalui arteriola. serta faktor lingkungan dan diet (peningkatan masukan garam dan mungkin penurunan masukan kalsium) mungkin membantu terjadinya hipertensi. stres psikologi.

Barofleks sikap: Baroreflek bertanggung jawab terhadap penyesuaian tekanan darah yang cepat saat dini seperti perubahan posisi berbaring ke posisi tegak neuron simpatis sentral yang timbul dari area vasomotorik medula oblongata bersifat aktif secara tonik. A. Sehingga dalam kasus 4 . untuk mengkoordinasi fungsi pada keempat tempat kontrol ini dan untuk mempertahankan tekanan darah normal. semua obat antihipertensi bekerja dengan mempengaruhi mekanisme normal ini dan akan dibicarakan dibawah. Tekanan darah pada pasien hipertensi yang tidak diobati terkontrol dengan mekanisme yang sama yang bekerja pada pasien normotensi. Sebaliknya pengurangan dalam regangan menyebabkan pengurangan “firing” baroreseptor.sistem renin—angiostensi—aldosteron. Regulasi tekanan darah pada hipertensi berbeda dengan keadaan normal karena baroreseptor dan sistem kontrol volumetekanan darah ginjal telah “disetel” pada tingkat tekanan darah yang lebih tinggi . Aktifitas baroreseptor menghambat pelepasan listrik simpatis sentral. Baroreseptor karotis dirangsang oleh rengan pembuluh darah yang ditimbulkan oleh tekanan intravena (tekanan darah).

termasuk penurunan primer dalam resistensi vaskular sistemik (contoh : karena obat vasodilator) atau penurunan volume intravaskular (contoh : karena pendarahan atau kehilangan garam dan air melalui ginjal). Barorefleks yang juga berespon terhadap setiap keadaan yang menurunkan tekanan darah. sehingga mengembalikan tekanan darah yang normal. maka ia tergantung atas pengaruhnya terhadap mekanisme fisiologi normal yang mengatur 5 . Angiotensin 2 menyebabkan: (1)kontriksi langsung pembuluh darah pembentuk tahanan dan (2)rangsangan sintetis aldosteron pada korteks suprarenal. Reflek ini bekerja melalui ujung saraf simpatis untuk meningkatkan resistensi vaskular perifer (konstriksi arteriola) dan curah jantung ( rangsangan langsung pada jantung dan konstriksi pembuluh darah penyimpanan yang memperbesar aliran balik vena kedalam jantung). yang meningkatkan absorbsi natrium ginjal dan voleme darah intravaskular. serta tak ada hambatan pelepasan listrik simpatis.peralihan ke sikap tegak. Respon ginjal terhadap penurunan tekanan darah: Melalui kontrol volume darah. B. Selain itu. baroreseptor mengindra pengurangan dalam tekanan yang timbul akibat pengumpulan darah di dalam vena dibawah tingkat jantung karena pengurangan regangan dinding. Pengurangan tekanan perfusi ginjal menyebabkan redistribusi aliran darah internal dan meningkatkan reabsorbsi garam dan air. ginjal terutama bertanggung jawab terhadap kontrol tekanan darah jangka panjang. Karena biasanya terapi antihipertensi tidak ditunjukkan terhadap penyebab spesifik. penurunan tekanan arteriola ginjal maupun aktifitas saraf simpatis (lewat adenoreseptor – beta) merangsang produksi renin yang meningkatkan produksi angiostensis 2.

ACE inhibitor direkomendasikan sebagai obat pilihan pertama didasarkan pada sejumlah studi yang menunjukkan penurunan morbiditas dan mortalitas. ACE inhibitor harus diberikan pertama kali dalam dosis yang rendah untuk menghindari resiko hipotensi dan ketidakmampuan ginjal. karena hipertensi diobati dalam efek yang menciptakan penyakit lain. kalsium. Akan tetapi. Obat pilihan yang digunakan dalam terapi farmakologi pasien hipertensi adalah Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor. Banyak mengkonsumsi buah-buahan. Calcium Channel Blockers (CCB). sayuran. Angiotensin Receptor Blockers (ARB). berolahraga teratur (30-45 menit/hari). diuretik juga menjadi bagian dari terapi lini pertama (first line therapy) karena dapat memberikan penghilangan gejala udem dengan menginduksi diuresis. Strategi terapi dapat dilakukan dengan terapi nonfarmakologi maupun terapi farmakologi. Kecenderungan alamiah manusia untuk lebih menghargai ketidak enakan dan gangguan daripada keuntungan di kemudian hari berarti bahwa suatu masalah besar mungkin masalah utamanya dalam terapi antihipertensi adalah mengusahakan terapi obat yang efektif dan langgeng dalam waktu bertahun-tahun (kepatuhan pasien). Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor. Terapi antihipertensi diberikan pada pasien tanpa gejala. namun manfaat menurunkan tekanan darah terletak dalam mencegah penyakit dan kematian di kemudian hari. mempertahan konsumsi natrium. mengurangi konsumsi garam (< 100 mmol/hari atau 6 gram NaCl). membatasi konsumsi alkohol (< 30ml/hari untuk pria dan <15ml/hari untuk wanita). Fungsi ginjal dan serum potassium harus diawasi dalam 1-2 minggu setelah terapi dilaksanakan terutama setelah 6 . β-adrenergic blockers.tekanan darah. Terapi nonfarmakologi dapat dilakukan dengan mengubah pola hidup pasien hipertensi. dan makanan rendah lemak dapat menurunkan tekanan darah. Pengubahan pola hidup dapat berupa penurunan berat badan jika overweight. Terapi farmakologi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan antihipertensi yang berupa golongan diuretik. magnesium yang cukup (± 90 mmol/hari). dan berhenti merokok. tempat ia tidak memberikan perbaikan langsung bagi ketidaknyamanan. Resiko toksisitas karena pengobatan adalah besar.

50 mg Nama dagang di Indonesia : - Acendril® (Harsen) tablet 12.5 mg. 25 mg.5. 50 mg Farmoten® (Fahrenheit) tablet 12. 50 mg Captensin® (Kalbe Farma) tablet 12.5. Farmakologi Umum Khasiat : antihipertensi. tablet 50 mg Locap® (Sandoz) tablet 25 mg Lotensin® (Kimia Farma) kaplet 12.dilakukan peningkatan dosis. antiaritmia Dosis Dosis obat untuk hipertensi : 12.5 mg.5.5 mg.2 Captopril 2. 25 mg Captopril Hexpharm® (Hexpharm) tablet 12. 25 mg Forten® (Hexpharm Jaya) kaplet 25 mg. 25 mg Acepress® (Bernofarm) tablet 12. 50 mg Casipril® (Tunggal Idaman Abdi) tablet 12. 25 mg .5 mg .5 – 25 mg diberikan setiap 8 – 12 jam Dosis perawatan : 25 mg diberikan setiap 8 – 12 jam Dosis maksimum : 150 mg / 24 jam Preparat Nama generik : Captopril tablet 12. 25 mg Dexacap® (Dexa Medica) tablet 12.2.5 mg. Salah satu obat yang tergolong dalam ACE inhibitor adalah Captopril yang merupakan ACE inhibitor pertama yang digunakan secara klinis. yang sebanding tingkat kenaikan tekanan darah sebelum pengobatan dan bervariasi sesuai dengan sifat masing-masing pasien. 25 mg.1.5 – 25 mg diberikan setiap 8 – 12 jam Dosis obat untuk gagal jantung : Dosis awal : 12.5 mg. 25 mg. Penting sekali untuk mengembangkan resiko toksisitas terapi obat terhadap resiko tidak mengobati. tablet 25 mg Cara Penggunaan Aturan pemakaian : 7 . 25 mg Capoten® (Bristol-Myers Squibb Indonesia) tablet 12.5 mg. 2.

Indikasi Indikasi pemberian captopril : - Antihipertensi sedang hingga berat Diabetus nefropati CHF Left Ventricular Disfunction yang disertai infark miokard Kontra Indikasi Kontra indikasi obat captopril : - Hipersensitivitas terhadap Captopril Angioderma yang disebabkan oleh penggunaan ACE inhibitor sebelumnya Wanita hamil dan menyusui 2. dalam hal ini pemberian captopril diberikan bersama diuretik dan digitalis. dan penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjal mensekresi natrium dan cairan serta mensekresi kalium.- Diberikan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah - makan) Captopril digunakan setelah penggunaan antihipertensi lain dihentikan selama 1 minggu.2. Captopril juga dapat mengurangi resistensi arteri perifer dan meningkatkan cardiac output tetapi tidak memberikan efek pada perubahan nadi. baik afterload maupun pre-load. Karena pembentukan angiostensin II terhambat maka terjadi vasodilatasi. kecuali pada pasien dengan accelerated or malignant hypertension atau - hipertensi yang sulit dikontrol Pasien yang tidak dapat menggunakan sediaan padat secara oral dapat dibuat larutan oral Captopril dengan cara menyerbuk 25 mg tablet Captopril yang dilarutkan dalam 25 atau 100 ml air dan diaduk hingga bercampur lalu segera diminum tidak lebih dari 10 menit karena sifat Captopril yang tidak stabil dalam - bentuk larutan Untuk gagal jantung yang tidak cukup responsif atau tidak dapat dikontrol dengan diuretik dan digitalis. Farmakodinamik Proses pharmakodinamik dari obat captopril adalah menghambat ACE ( angiostensin converting enzyme) yang dibutuhkan untuk mengubah angiostensin I yang belum aktif menjadi angiostensin II yang bersifat aktif. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan tekanan darah dan mengurangi beban jantung.2. Karena resistensi arteri perifer 8 .

2. FARMAKOKINETIK Absorbsi Proses pharmacokinetic obat captropril adalah obat ini diberikan secara oral yaitu melalui mulut. masuk ke lambung dan di dalam lambung obat tersebut dihancurkan kedalam bentuk partikel-partikel kecil untuk di absorbsi di usus halus. Peningkatan bradikinin dapat meningkatkan efek penurunan tekanan darah dari ACE inhibitor. tetapi juga memberikan efek samping berupa batuk kering. Rata-rata minimal obat yang di absorbsi adalah kira-kira 75% dan berkurang menjadi 30-40% dengan adanya 9 .menurun dan cardiac output meningkat maka terjadinya penurunan tekanan darah.3. 2. maka dibutuhkan beberapa minggu pengobatan. Penurunan tekanan darah biasanya 60-90 menit setelah obat ini di berikan secara oral. ACE inhibitor juga terlibat dalam degradasi bradikinin yaitu menyebabkan peningkatan bradikinin yang merupakan suatu vasodilator kuat dan menstimulus pelepasan prostaglandin dan nitric oxide. Penurunan tekanan darah akan berlangsung secara bertahap sehingga untuk mencapai efek terapeutik yang maksimal. Obat ini juga meningkatkan aliran darah di ginjal tetapi tidak memberikan efek pada filtrasi di glomerulus dan terjadi peningkatan serum potassium level yang hasilnya adalah terjadi penurunan sekresi aldosteron.

- disgeusia (7% penderita yang dilaporkan) 10 . Captopril sebagai dosis tunggal mempunyai durasi selama 6-12 jam dengan onset 1 jam dan waktu paruh captopril dipengaruhi oleh fungi ginjal dan jantung yaitu kurang dari 3 jam.makanan serta 25-30% captopril akan berikatan dengan protein. 2. Efek samping lain yang pernah dilaporkan: umumnya asthenia. Harus diberikan satu jam sebelum makan. Captopril dimetabolisme menjadi konjugat disulfida dengan molekul lain yang mengandung sulfihidril. gynecomastia. Efek samping yang dapat timbul adalah ruam kulit. efek samping ini dapat dikurangi tanpa mengurangi khasiatnya. sakit kepala. lelah/letih dan hipotensi.2. gangguan pengecapan. Kurang dari separuh jumlah captopril per oral yang diekskresi tanpa prubahan kedalam urin. Ekskresi Proses yang terakhir adalah proses eksresi yang terjadi di ginjal dimana lebih dari 95% dosis yang di absorbsi dikeluarkan dalam urin. Efek samping ini bersifat dose related dengan pemberian dosis kaptopril kurang dari 150 mg per hari. Metabolisme Metabolisme captopril terjadi di hati sekitar 50% dan diekskresikan melalui urin (95%) dalam waktu 24 jam.4. karena absorbsi obat ini berkurang bila diberikan bersama makanan. TOKSISITAS Efek Samping Umumnya kaptopril dapat ditoleransi dengan baik. neutropenia. proteinuria. Distribusi Captopril didistribusi kesebagian besar jaringan tubuh dengan perkecualian jelas bagi susunan saraf pusat.

vasculitis. lidah. - Konsultasikan ke dokter bila menggunakan suplemen potassium. sukar bernafas dan serak. Peringatan dan Perhatian: - Harus diberikan dengan hati-hati pada wanita menyusui. - Hati-hati pemberian pada penderita penyakit ginjal. bahkan dapat menyebabkan kematian fetus atau neonatus. Proteinuria terjadi pada penderita yang mendapatkan captopril selama 3 bulan atau lebih. - Pemakaian pada lanjut usia harus hati-hati karena sensitivitasnya terhadap efek hipotensi. bibir. - Pemakaian obat penghambat ACE pada kehamilan dapat menyebabkan gangguan/kelainan organ pada fetus atau neonatus. Neutropenia terjadi pada penderita yang medapatkan captopril pada 3 bulan pertama pengobatan dan paling sering pada penderita penyakit autoimun atau mereka yang mendapatkan terapi imunosupressan. Toksisitas Toksisitas serius terutama timbul bila captopril diberikan dalam dosis tingi pada pasien penyakit vaskuler kolagen atau insufisiensi ginjal. pemberian ASI perlu dihentikan karena ditemukan kadar dalam ASI lebih tinggi daripada kadar dalam darah ibu.- mual muntah hiperestesi mukosa oral sakit kepala pusing batuk Seperti ACE inhibitor lainnya dapat menyebabkan sindroma termasuk: myalgia. interstitial nephritis. Pada kehamilan trimester ll dan lll dapat menimbulkan 11 . mata. sebagian besar mereka memiliki penyakit ginjal sebelumnya. - Pengobatan agar dihentikan bila terjadi gejala-gejala angiodema seperti bengkak mulut. potassium sparing diuretic dan garam-garam polassium. arthralgia. laring juga sukar menelan.

hati karena adanya bahaya - hiperkalemia. Interaksi Obat - Pemberian obat diuretic hemat kalium (Spironolakton-triamteren. harus diobservasi intensif tentang kemungkinan terjadinya hipotensi. Penghambat enzim siklooksigenase seperti indometasin. paten duktus arteriosus.gangguan antara lain: hipotensi. Kombinasi captopril dengan allopurinol tidak dianjurkan. deformasi kraniofasial. Juga dapat terjadi oligohidramnios. 12 . perkembangan paru hipoplasi. anuria. - Bayi dengan riwayat di mana selama di dalam kandungan ibunya mendapat pengobatan penghambat ACE. Disfungsi neurologic pernah dilaporkan terjadi pada pasien yang diberi captopril dan - simetidin. hipoplasiatengkorak neonatus. oligouria dan hiperkalemia. perkembangan retardasi-intrauteri. dapat menghambat efek - captopril. kelahiran prematur. Anulona) dan preparat kalium harus dilakukan dengan hati. terutama gagal ginjal kronik. gagal ginjal reversible atau irreversible dan kematian.

Ulus Hasil : Suntikan Intracerebroventricular renin angiotensin-antagonis system menurunkan tekanan darah pada tikus hipertensi spontan dan normotensif dan juga menegaskan bahwa captopril.1. 3. Penulis : Jose L Miguel-Carrasco. angiotensinconverting enzyme inhibitor. G. Sonia Zambrano. Penelitian 1 Judul : Captopril reduces Cardiac Inflammatory Markers in Spontaneously Hypertensive Rats by Inactivation of NF-kB. 13 . Gulec. detak jantung serta menurunkan proses peradangan pada ventrikel kiri tikus hipertensi melalui penurunan aktivasi NF-kB-dependent pro-inflammatory factors. menurunkan tekanan darah dengan cara yang tergantung dosis. Alfonso Mate and Carmen M Vazquez Hasil : Captopril menurunkan tekanan darah. Penelitian 2 Judul : Central Injection of Captopril Inhibits The Blood Pressure Response to Intracerebroventricular Choline. Isbil-Buyukcoskun. Penulis : N.H.2.BAB III PENELITIAN YANG PERNAH DILAKUKAN ORANG LAIN 3. Ozluk and I. Antonio J Blanca. K.

Lemuel A. menghambat aktifitas thrombin dalam tes pembekuan dengan fibrinogen dan FIIDP.55% laki-laki. Pfeffer. Penulis : Marc A. Gray. Penelitian 3 Judul : Anticoagulant Activity of Captopril Penulis : Brecher. MD. dll. Jr. MD. Syafiah Ernawati dan EM Sutrisna Hasil : Pada 83 pasien hipertensi dengan diabetes mellitus ditemukan 61. Kelly D BS. pengobatan jangka panjang captopril dikaitkan dengan peningkatan kelangsungan hidup dan mengurangi angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular. 3. Obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah golongan ACE Inhibitor yaitu captopril sedangkan obat hipoglikemi yang paling banyak digunakan adalah sulfoni-lurea yaitu glimepiride.3. Sarah J.4. Hasil : Pasien dengan asimptomatik disfungsi ventrikel kiri setelah infark miokard.3. MD.11%) mengalami DRP kategori pemilihan obat yang tidak tepat meliputi 14 . MD PhD. Murrey. Poulimenos. Penelitian 5 Judul :Identifikasi Drug related Problems (DRPs) Potensial Kategori Ketidaktepatan Pemilihan Obat Pada Pasien Hipertensi Dengan Diabetes Mellitus Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit X Jepara Tahun 2007 Penulis : Nurul Mutmainah. Arthur S PhD. 3. James N BS. Brown. Dari 83 pasien golongan 64 pasien (77. Selain itu. Eugene Braunwald. PhD.45% perempuan dan 38. Hasil : Captopril memperpanjang PT dan APTT dalam tes klinis standar. Moye. Penelitian 4 Judul : Effect of Captopril on Mortality and Morbidity in Patients with Left Ventricular Dysfunction after Myocardial Infaction – Results of the Survival and Ventricular Enlargement Trial. MD. Edward J. Lofty Basta.5.

19%. Obat Captopril akan menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II pada pasien hipertensi sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah dan mengurangi beban jantung. stres. dan penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjal mensekresi natrium dan cairan serta mensekresi kalium. BAB IV DISKUSI Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg atau tekanan diatolik di atas 90 mmHg dan dapat disebabkan oleh makanan. serta kehamilan.49. obat-obatan yang berupa kontrasepsi oral dan kortikosteroid. 12. 15. penggunaan obat yang tidak aman. rokok.39% penggunaan obat yang tidak efektif. Captopril menghambat ACE ( angiostensin converting enzyme) yang dibutuhkan untuk mengubah angiostensin I yang belum aktif menjadi angiostensin II yang bersifat aktif. baik afterload maupun pre-load. 23.32% penggunaan obat yang dikontraindika-sikan bagi pasien. 15 .10% adanya kombinasi obat yang tidak diperlukan. Karena pembentukan angiostensin II terhambat maka terjadi vasodilatasi.

16 .BAB V KESIMPULAN Obat captopril sangat efektif dalam menurunkan tekanan darah serta mengurangi beban jantung pada pasien hipertensi.

BAB VI SUMMARY Captopril are very effective in lowering blood pressure and also decreasing cardiac preassure on patient with hypertension. 17 .

1995.G. Stringer. Farmakologi Dasar dan Klinik. Konsep Dasar Farmakologi. Jakarta : EGC. B. Janet L. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Farmakologi dan Terapi. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : EGC 18 . 2007. 2008.DAFTAR KEPUSTAKAAN Katzung.