You are on page 1of 22

JUDUL PRAKTEK

JENIS-JENIS GELOMBANG
TUJUAN PRAKTIKUM
Mengamati bentuk dua jenis gelombang transversal dan longitudinal.
LANDASAN TEORI
Gelombang adalah rambatan energi dengan tidak disertai perpindahan partikelnya.
Berdasarkan arah rambatannya ada dua macam gelombang, yaitu : Gelombang transversal dan
Gelombang longitudinal.
Gelombang transversal adalah gelombang yang arah getarnya tegak lurus terhadap arah
rambatnya.Contohnya : gelombang tali, gelombang pada permukaan air.

Perambatan gelombang trasversal berbentuk bukit dan lembah.


Beberapa istilah yang berkaitan dengan gelombang transversal, antara lain :
- Puncak gelombang adalah titik-titik tertinggi pada gelombang, misalnya b dan f.
- Dasar gelombang adalah titik-titik terendah pada gelombang, misalnya d dan h.
- Bukit gelombang, misalnya lengkungan a-b-c dan g-h-i.
- Lembah gelombang, misalnya cekungan c-d-e dan g-h-i.
- Amplitudo (A) adalah nilai simpangan terbesar yang dapat dicapai partikel.
- Panjang gelombang (l) adalah jarak antara dua puncak yang berurutan, misalnya b-f, atau jarak
antara dua dasar yang berurutan, misalnya d-h.
- Periode (T) adalah selang waktu yang diperlukan untuk menempuh satu gelombang, atau selang
waktu yang diperlukan untuk dua puncak yang berurutan atau dua dasar yang berurutan.

Gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah getarnya searah dengan


rambatannya.Misalnya : gelombang pada pegas, gelombang pada bunyi.

Panjang gelombang (l) merupakan jarak antara dua pusat regangan yang berdekatan atau jarak
antara dua pusat rapatan yang berdekatan, sedangkan jarak antara pusat regangan dan pusat
rapatan yang berdekatan adalah setengah panjang gelombang ( l).

ALAT DAN BAHAN


1.
2.
3.
4.

Slinki
Kabel listrik panjang 5 meter,
Benang kasur panjang 3 m
Karet gelang

CARA KERJA
1. Mengambil slinki, rentangkan diatas lantai licin. Ujung slinki yang satu di pegang teman
ujung lain dipegang sendiri.
2. Mengusik slinki yang dipegang dengan menggerakkan ujung slinki dengan cepat kekiri
dan kekanan.
3. Mengamati lagi ujung slinki berulang-ulang seperti langkah b, mengamati arah getar(arah
4.

usikan) dan arah rambat gelombang.


Mengikatkan karet gelang ditengah-tengah slinki. Lalu usik lagi ujung slinki yang
dipegang, kemudian mengamati apakan karet gelang ikut berpindah ketika gelombang

berjalan, adakah energi yang merambat melalui pegas, dan dari mana asalnya.
5. Melakukan langkah 1 sampai 4 tetapi slinki diganti dengan kabel listrik, mengamati hasil
percobaan dan membandingkan apakah terdapat perbedaan antara menggunakan slinki
dengan kabel listrik.
6. Mengambil slinki, rentangkan diatas lantai licin. Ujung slinki yang satu dipegang teman
ujung lain dipegang sendiri. Ujung slinki yang dipegang di usik berulang-ulang dengan
cara menggerakkan ujung slinki dengan cepat ke belakang dan kedepan, kemudian
mengemati arah getar(arah usikan) dan arah rambat gelombang.

7. Mencatat hasil pengamatan dan menyimpulkan perbedaan antara gelombang transversal


dan gelombang longitudinal.

HASIL PRAKTIKUM
Dari pengamatan yang telah dilakukan, pada saat slinki di usik dengan cara menggerakgerakkan salah satu ujungnya baik kekanan atau kekiri serta kedepan dan kebelakang, terlihat
adanya suatu rambatan atau gelombang. Sedangkan bila kabel listrik di usik tidak muncul
gelombang.
PEMBAHASAN
Pada percobaan slinki direntangkan dan diberi usikan kekanan atau kekiri terjadi
rambatan pada slinki yang membentuk gelombang. Percobaan ini dilakukan beberapa kali
sampai dapat terlihat arah usikan dan rambat gelombangnya. Ternyata arah usikan tegak lurus
dengan arah rambatannya. Hal ini dinamakan gelombang transversal, yaitu gelombang yang arah
getarannya tegak lurus dengan arah rambatan gelombangnya.
Percobaan kedua ditengah-tengah slinki di beri karet gelang, lalu ujung slinki yang
dipegang di usik berulang-ulang, maka karet gelang tersebut akan ikut berpindah bersama
gelombang. Karet gelang tersebut berpindah karena adanya energi yang merambat melalui slinki.
Energi ini berasal dari usikan yang diberikan pada slinki.
Percobaan ketiga langkah-langkahnya sama dengan percobaan satu dan dua tetapi slinki
diganti dengan kabel listrik, ternyata hasilnya berbeda dengan slinki. Dimana pada kabel listrik
tidak terjadi gelombang, pada saat diberi karet gelang ditengah-tengah kabel listrik, karet gelang
tersebut tidak ikut berpindah, berarti dapat dikatakan tidak ada energi pada kabel listrik tersebut.
Pada percobaan keempat, slinki di rentangkan diatas lantai licin kemudian di beri usikan
berulang-ulang kedepan dan kebelakang. Pada slinki terjadi gelombang yang arah usikan (arah
getarnya) searah dengan arah rambatannya. Gelombang ini dinamakan gelombang longitudinal.

KESIMPULAN
1. Gelombang adalah gerakan merambat pada suatu benda yang diberi energi.
2. Gelombang tranversal adalah gelombang yang arah getarannya tegak lurus dengan arah
rambatannya.
3. Gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah getarannya searah dengan arah
rambatannya.
4. Perbedaan antara gelombang transversal dan gelombang longitudinal terletak pada arah
rambatannya yaitu bila gelombang transversal tegak lurus sedangkan longitudinal searah
dengan rambatannya.

KEPUSTAKAAN
http://suryatika.wordpress.com/gelombang/1-1-pengertian-gelombang/
Sumardi, Yosephat dkk. (2011) Konsep Dasar IPA di SD. Jakarta : Universitas Terbuka

JUDUL PRAKTEK
PERCOBAAN GETARAN BEBAN PADA AYUNAN ( BANDUL SEDERHANA)
TUJUAN PRAKTIKUM
Menghitung besarnya periode dan frekuensi pada bandul sederhana.
LANDASAN TEORI
Gerak osilasi yang sering kita jumpai adalah gerak ayunan benda yang bekerja di bawah
pengaruh Gravitasi bumi. Jika sebuah benda yang digantung dengan seutas benang kemudian
disimpangkan dengn sudut yang tidak terlalu besar kemudian dilepakaskan maka benda akan
melakuakan ayunan (getaran) yang di bentuk gerak harmonic sederhana dan periodic. Gerak
harmnik sederhana ini terjadi karena ada gaya bekerja pada benda yang arahnya kepusat titik
kesetimbangan yangdi sebut gaya pembalik. Besar gaya pemulih diungkapkan oleh hukum hooke
sebagai F = - k x dengan x adalah tetapan.

ALAT DAN BAHAN


1.
2.
3.
4.

Bandul besi.
Tiang gantungan.
Benang.
Stopwatch.

CARA KERJA
1. Menggantungkan bandul dengan seutas benang pada tiang yang tingginya kira-kira 1,5m.
2. Menarik beban pada kedudukan (0) dengan tangan kiri, sehingga menyimpang kira-kira
10 (titik A).

Gambar rangkaian percobaan


3. Menyiapkan stopwatch di tangan kanan, menjalankan stopwatch bersamaan dengan
melepaskan beban dari titik A. Mengamati apa yang terjadi.
4. Memberikan hitungan 1 saat beban kembali ke A untuk pertama kalinya, hitungan 2
untuk yang kedua kalinya, demikian seterusnya. Pada hitungan ke 10 stopwatch
dimatikan dan dicatat hasilnya.
5. Mengisi tabel pengamatan 6.3 berdasarkan hasil percobaan dengan mengganti beban 20
gr sampai 100gr.

6. Mengamati apakah periode dan frekuensi bandul dipengaruhi beban. Kemudian mencatat
pada tabel 6.3
7. Melakukan percobaan no 1 sampai 4 dengan mengganti panjang tali yang berbeda-beda,
massa tetap, yaitu 60 gr, kemudian mencatat hasilnya pada tabel 6.4
8. Dari tabel 6.4 mengamati apakah periode dan frekuensi bandul dipengaruhi panjang tali.
9. Dari tabel 6.4 dibuat grafik T terhadap linierkah, dan menyebutkan hubungan antara
periode (TT) dengan panjang tali l.
HASIL PRAKTIKUM

Beban (gr)
20
30
40
50
60
70
80
90
100

Tabel 6.3
Panjang tali(f) = 100 cm (tetap)
10 T (s)
T periode (s) f frekuensi (Hz)
20,71
10 : 2,07
207,1 : 0,48
20,16
10 : 2,02
201,6 : 0,50
19,57
10 : 1,96
195,7 : 0,51
19,03
10 : 1,90
190,3 : 0,53
19,49
10 : 1,95
194,9 : 0,51
20,58
10 : 2,06
205,8 : 0,49
20,69
10 : 2,07
206,9 : 0,48
21,46
10 : 2,15
214,6 : 0,47
20,79
10 : 2,08
207,9 : 0,48

Tabel 6.4
Massa beban (m) = 60 gram (tetap)
Beban tali (l) (cm) 10 T (s)
T periode (s)
100
19,61
10 : 1,96
90
18,18
10 : 1,82
80
17,76
10 : 1,78
70
16,17
10 : 1,62
60
15,19
10 : 1,52
50
14,10
10 : 1,41
40
12,45
10 : 1,25
30
10,17
10 : 1,02
20
7,98
10 : 0,78

T2
384,5 : 0,51
330,5 : 0,55
315,4 : 0,56
261,5 : 0,62
230,7 : 0,66
198,8 : 0,71
155,0 : 0,80
103,4 : 0,98
63,7 : 1,28

Massa benda = 60 gr (tetap)

PEMBAHASAN
Dari pengamatan yang telah dilakukan, apabila beban / bandul digantungkan pada seutas benang
di tiang setinggi +1,5 m kemudian benda ditarik dari kedudukan setimbang (0) dengan tangan
kiri dan sudut penyimpangan 100 (titik A) selanjutnya dilepas dan dihitung kembalinya ke titik A
selama 10 hitungan dan dicatat waktunya. Percobaan ini dilakukan berulang-ulang dengan
mengganti beban.

Pada percobaan kedua menggunakan beban yang sama yaitu 60 gr dengan mengubah panjang
tali.
Kesimpulan
Periode dan frekuensi bandul dipengaruhi oleh beban.
Periode dan frekuensi bandul dipengaruhi oleh panjang tali.

KEPUSTAKAAN
dodibleckhunter.blogspot.com/2013/.../laporan-bandul-sederhana.html
Sumardi, Yosephat dkk. (2011) Konsep Dasar IPA di SD. Jakarta : Universitas Terbuka

JUDUL PRAKTEK
PERCOBAAN RESONANSI BUNYI
TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mengamati resonansi pada ayunan bandul.
2. Menjelaskan syarat terjadinya resonansi.
3. Mengukur panjang kolam udara tabung resonansi.

4. Menghitung cepat rambat bunyi di udara.


LANDASAN TEORI
Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda karena ada benda lain yang
bergetar dan memiliki frekuensi yang sama atau kelipatan bilangan bulat dari frekuensi itu.
Resonansi sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, resonansi bunyi pada
kolom udara dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bunyi. Berdasarkan hal tersebut, maka
dapat dibuat berbagai macam alat musik. Alat musik pada umumnya dibuat berlubang agar
terjadi resonansi udara sehingga suara alat musik tersebut menjadi nyaring. Contoh alat musik itu
antara lain: seruling, kendang, beduk, ketipung dan sebagainya.
Resonansi sangat penting di dalam dunia musik. Dawai tidak dapat menghasilkan nada
yang nyaring tanpa adanya kotak resonansi. Pada gitar terdapat kotak atau ruang udara tempat
udara ikut bergetar apabila senar gitar dipetik. Udara di dalam kotak ini bergerak dengan
frekuensi yang sama dengan yang dihasilkan oleh senar gitar. Udara yang mengisi tabung
gamelan juga akan ikut bergetar jika lempengan logam pada gamelan tersebut dipukul. Tanpa
adanya tabung kolom udara di bawah lempengan logamnya, kita tidak dapat mendengar
nyaringnya bunyi gamelan tersebut. Reonansi juga dipahami untuk mengukur kecepatan
perambatan bunyi di udara.
ALAT DAN BAHAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Tali (benang kasur atau sebagainya).


Batang kayu/ batang bambu/ batang logam lentur dan lemah dengan panjang 50 cm.
Beban 3 buah masing-masing 300gr.
Termometer.
Bejana berisi air.
Tabung kaca setinggi bejana atau pipa atau lampu neon bekas.
Garputala atau sendok.
Mistar.

CARA KERJA
1. Percobaan resonansi ayunan bandul.
a. Rangkaian alat seperti gambar di bawah.

b. Panjang bandul A dibuat sama panjang dengan bandul B ( 30 cm). Bandul C lebih
panjang daripada bandul A.

c. Menggetarkan bandul A dengan cara menarik bandul A kesamping sejauh 5 cm tegak


lurus batang D. Setelah ditarik ke samping kemudian lepaskan, biarkan berayun ayun.
d. Mengamati bandul B dan C dalam waktu yang agak lama, apakah ada diantara kedua
bandul itu yang ikut berayun (beresonansi).
e. Menggetarkan kembali bandul A agak lama, mengamati bandul yang beresonansi dan
bandul A apakah makin cepat atau makin lambat berayun serta membandingkan
kecepatannya.
f. Mencatat hasil percobaan berdasarkan pengamatan dan mengamati kemungkinan
adanya hubungan energi getar bandul A dengan bandul yang beresonansi.
2. Percobaan Resonansi Bunyi pad Kolam Udara
a. Mencelupkan tabung kaca ke dalam bejana berisi air sampai hampir tenggelam
seluruhnya. Mengambil garputala, mencatat frekuensi ( fg = .........Hz)
b. Menggetarkan garputala diatas tabung kaca, kemudian tabung kaca ditarik perlahan
lahan sampai mendengar bunyi dengungan. Dengungan yang pertama kali
menandakan bahwa kolam udara dalam tabung kaca beresonansi dengan garputala.
Frekuensi kolam udara adalah frekuensi nada dasarnya. Panjang kolam udara sebagai
l.
c. Menarik tabung kacca agar panjang kolam udara kira-kira 3 kali semula. Dengan
menggerakkan garputala yang sama, mengukur l2, ketika terjadi dengungan yang
kedua.
d. Mengukur suhu udara t, pada waktu melakukan eksperimen kemudian diubah dalam
derajat kelvin T.

e. Menghitung cepat rambat bunyi di udara dengan cara :

PEMBAHASAN
a. Percobaan Bandul Sederhana
Tabel Pengamatan Resonansi Ayunan Bandul
No.
Bandul A
1. Digerakan sebentar

Bandul B
Beresonansi cepat

Bandul C
Beresonansi lambat

2.

Digerakan agak lama

Resonansi makin lambat

Resonansi makin lambat

Pembahasan
Dari percobaan yang telah dilakukan, Panjang bandul A dan B adalah 30 cm. Bandul C + 40 cm.
Bandul A digerakan dengan cara menarik ke samping sejauh 5 cm tegak lurus dengan batang D,
lalu dilepaskan. Maka bandul B dan C berayun (beresonansi).
Bandul A digerakkan lagi dengan pengamatan yang lebih lama, ternyata makin lama bandul A
berayun, makin lama pula resonansi pada bandul B dan C. kemudian makin lambat bndul A
berayun melambat pula resonansinya.
b. Resonansi Bunyi pada Kolom Udara
Pengamatan resonansi bunyi pada kolom udara
Resonansi K2
1(satu)
2(dua)

Panjang kolom udara (l)


3m
5m

Suhu (T)
280 C
280 C

Keterangan
Celupan gelas ke-1
Celupan gelas ke-2

Pembahasan
Dari pengamatan yang dilakukan, saat tabung kaca di celupkan kedalam bejana berisi air hingga
hampir tengelam, lalu digetarkan sebuah garputala diatas tabung kaca perlahan-lahan tabung
kaca ditarik sambil didengarkan, ternyata ada dengungan. Kegiatan ini diulangi beberapa kali
lagi.
Cepat rambat udara V =

V=

= 331
= 331 x 0,320256
V = 106,604

Panjang kolom udara pada resonansi f adalah x =


Panjang kolom udara pada resonansi II adalah
l2 + x =
l2 l3 = - =
= 2 (l2-l1)
= 2 (5-3)
=2x2m

=4m
Kesimpulan
.

Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda oleh pengaruh getaran benda
yang lain. Syarat terjadinya resonansi adalah jika bunyi tersebut terdengar keras dibandingkan
dengan bunyi asalnya.Panjang gelombang bunyi diudara diperoleh dari pengurangan panjang
kolom udara pada resonansi kedua dikurangi panjang gelombang bunyi diudara pada resonansi
pertama.
Periode adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu gelombang penuh untuk melewati suatu
titik tertentu. Frekuensi adalah jumlah gelombang yang melewati suatu titik tiap satuan waktu
(biasanya per sekon). Frekuensi merupakan hasil kali antara, periode dengan waktu getaran.
Faktor yang mempengaruhi periode dan frekuensi pada pegas adalah massa benda (m).
Faktor yang mempengaruhi periode dan frekuensi pada bandul ayunan adalah panjang tali dan
massa benda. Beberapa pegas yang berbeda elastisitasnya (kelentingannya) masing-masing
digantungkan pada sebuah statis. Pada masing-masing pegas tersebut digantungkan benda yang
massanya sama. Jika semua pegas itu digetarkan maka frekuensinya berbeda-beda karena
elastisitas pegas mempengaruhi periode, waktu gatar dan panjang gelombang.
Bandul pada ayunan dapat disebut getaran, karena bandul yang satu akan menggerakan
bandul yang lainnya. Cara yang baik dalam mengukur waktu ayunan adalah tangan kiri
memegang stopwatch sementara tangan kanan mengayunkan bandul. Pada hitungan ketiga
stopwatch dihidupkan bersamaan tangan kanan mengayunkan bandul. Frekuensi getaran yang
ditimbulkan berbeda karena rangkaian percobaannya juga berbeda. Bunyi ditimbulkan oleh
getaran suatu benda. Medium yang bisa menyampaikan bunyi ke telinga pendengar adalah
melalui perambatan udara. Resonansi adalah peristiwa turut bergetarnya suatu benda karena
pengaruh getaran benda lain.
Syarat terjadinya resonansi adalah jika bunyi tersebut terdengar lebih keras dari bunyi aslinya.
Panjang pada resonansi kedua = 35 cm. Dalam percobaan ruang tertutup, ternyata suhu udara
pada saat itu adalah 70C. Maka cepat rambat bunyi pada tempat tersebut adalah
V = 331 x 0,160128
= 53,062 m/s
KEPUSTAKAAN
olmipa.ub.ac.id/wrp-con/uploads/2012/07/RESONANSI-BUNYI.pdf
solehan1312.wordpress.com/.../laporan-praktikum-resonansi-bunyi-bagian-ke-2/
Sumardi, Yosephat dkk. (2011) Konsep Dasar IPA di SD. Jakarta : Universitas Terbuka

JUDUL PRAKTEK
PERCOBAAN KEPEKAAN INDERA PENDENGAR MANUSIA
TUJUAN PRAKTIKUM
Mengetahui kepekaan indera pendengar seseorang.
LANDASAN TEORI
Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi/mengenal suara & juga
banyak berperan dalam keseimbangan dan posisi tubuh. Suara adalah bentuk energi yang
bergerak melewati udara, air, atau benda lainnya, dalam sebuah gelombang. Walaupun telinga
yang mendeteksi suara, fungsi pengenalan dan interpretasi dilakukan di otak dan sistem saraf
pusat. Rangsangan suara disampaikan ke otak melalui saraf yang menyambungkan telinga dan
otak (nervus vestibulokoklearis).
Telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

a. Telinga luar
Bagian luar merupakan bagian terluar dari telinga. Telinga luar terdiri dari
daun telinga, lubang telinga, dan saluran telinga luar. Telinga luar meliputi daun
telinga atau pinna, Liang telinga atau meatus auditorius eksternus, dan gendang
telinga atau membran timpani. Bagian daun telinga berfungsi untuk membantu
mengarahkan suara ke dalam liang telinga dan akhirnya menuju gendang
telinga. Rancangan yang begitu kompleks pada telinga luar berfungsi untuk
menangkap suara dan bagian terpenting adalah liang telinga. Saluran ini
merupakan hasil susunan tulang dan rawan yang dilapisi kulit tipis.
b. Telinga tengah

Telinga tengah adalah rongga udara di belakang gendang telinga, yang meliputi, 3 tulang
pendengaran (martil atau malleus, landasan atau incus, dan sanggurdi atau stapes). Ujung
dari saluran Eustachius juga berada di telinga tengah.Getaran suara yang diterima oleh
gendang telinga akan disampaikan ke tulang pendengaran. Masing-masing tulang
pendengaran akan menyampaikan getaran ke tulang berikutnya. Tulang sanggurdi yang
merupakan tulang terkecil di tubuh meneruskan getaran ke koklea atau rumah siput.
c. Telinga dalam

Telinga dalam terdiri dari labirin osea (labirin tulang), sebuah rangkaian rongga pada ang
dilapisi periosteum yang berisi cairan perilimfe & labirin membranasea, yang terletak lebih
dalam dan memiliki cairan endolimfe.Di depan labirin terdapat koklea atau rumah siput.
Penampang melintang koklea terdiri dari tiga bagian yaitu skala vestibuli, skala media, dan
skala timpani. Bagian dasar dari skala vestibuli berhubungan dengan tulang sanggurdi
melalui jendela berselaput yang disebut tingkap oval, sedangkan skala timpani berhubungan
dengan telinga tengah melalui tingkap bulat.
ALAT DAN BAHAN
1. Dua sendok makan.
2. Dua mangkok.
3. Sapu tangan dan kapas.
CARA KERJA
1. Menutup mata dengan sapu tangan.
2. Kedua teman yang lain masing-masing memegang sendok dan mangkok, kemudian
menentukan jarak antara saya yang ditutup matanya dengan teman yang memegang
sendok atau mangkok, misalnya 1m, 2m dan seterusnya.

3. Setelah siap, saya yang ditutup mata memberi aba-aba agar teman yang memegang
sendok mengetukkan sendok pada mangkok secara bergantian. Selanjutnya saya
memperkirakan posisi teman saya dimana ia berdiri.
4. Kemudian, saya menyumbat telinga kana dan kiri dengan kapas secara bergantian,
mendengarkan dan menentukan telinga mana yang dapat mendengar dengan jelas.
5. Selanjtnya mengulangi percobaan dengan teman saya yang lain sebanyak empat kali.
6. Hasil observasi di tuangkan dalam tabel.
HASIL PRAKTIKUM
Kepekaan Indera Pendengar Manusia
No

1
2
3
4
5

Jarak

1 meter
3 meter
6 meter
9 meter
11meter

Telinga sebelum ditutup

Terdengar keras sekali


Terdengar keras
Terdengar kurang keras
Terdengar lirih
Terdengar makin lirih

Telinga setelah ditutup


Telinga kiri
Telinga
Jelas
Agak jelas
Agak jelas
Kurang jelas
Kurang jelas

keterangan

kanan
Jelas
Jelas
Masih jelas
Masih jelas
Kurang jelas

PEMBAHASAN
Pada percobaan dan pengamatan yang dilakukan pada diri saya dan teman saya, saat mata
tertutup dan teman yang lain bergerak dengan memukul sendok dan mangkok pada jarak 1m,
3m, 6m, 9m dan 11 m maka bunyi yang terdengar pada jarak yang pendek dengan saya dan
teman saya yang ditutup matanya maka bunyi terdengar lebih jelas. Kemudian semakin jauh
jarak teman yang memukul sendok dan mangkok maka bunyi yang terdengar semakin lirih dan
kurang jelas. Antara telinga kanan dan telinga kiri saya, ternyata yang mempunyai kepekaan
terhadap bunyi yang lebih jelas adalah telinga kanan.
KESIMPULAN
Kepekaan telinga dalam menangkap bunyi dipengaruhi oleh jarak dimana sumber bunyi
berada, apabila sumber bunyi dekat dengan penerima bunyi maka bunyi akan terdengar sangat
jelas, tetapi apabila sumber bunyi menjauh maka bunyi akan terdengar lirih dan kurang jelas.
Keras lemahnya bunyi tergantung pada banyaknya sel penerima yang mengirim impuls
ke otak. Semakin kuat gelombang bunyi semakin banyak sel reseptor yang bergerak.

KEPUSTAKAAN

id.wikipedia.org/wiki/Telinga
www.telinga.co.uk/
Sumardi, Yosephat dkk. (2011) Konsep Dasar IPA di SD. Jakarta : Universitas Terbuka

JUDUL PRAKTEK
PERCOBAAN STRUKTUR DAN FUNGSI TELINGA
TUJUAN PRAKTIKUM
Mengetahui bagian-bagian yang menyusun telinga beserta fungsinya.
LANDASAN TEORI
Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi/mengenal suara & juga
banyak berperan dalam keseimbangan dan posisi tubuh. Suara adalah bentuk energi yang
bergerak melewati udara, air, atau benda lainnya, dalam sebuah gelombang. Walaupun telinga
yang mendeteksi suara, fungsi pengenalan dan interpretasi dilakukan di otak dan sistem saraf
pusat. Rangsangan suara disampaikan ke otak melalui saraf yang menyambungkan telinga dan
otak (nervus vestibulokoklearis).
Telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
a. Telinga luar
Bagian luar merupakan bagian terluar dari telinga. Telinga luar terdiri dari
daun telinga, lubang telinga, dan saluran telinga luar. Telinga luar meliputi daun

telinga atau pinna, Liang telinga atau meatus auditorius eksternus, dan gendang
telinga atau membran timpani. Bagian daun telinga berfungsi untuk membantu
mengarahkan suara ke dalam liang telinga dan akhirnya menuju gendang
telinga. Rancangan yang begitu kompleks pada telinga luar berfungsi untuk
menangkap suara dan bagian terpenting adalah liang telinga. Saluran ini
merupakan hasil susunan tulang dan rawan yang dilapisi kulit tipis.
b. Telinga tengah

Telinga tengah adalah rongga udara di belakang gendang telinga, yang meliputi, 3 tulang
pendengaran (martil atau malleus, landasan atau incus, dan sanggurdi atau stapes). Ujung
dari saluran Eustachius juga berada di telinga tengah.Getaran suara yang diterima oleh
gendang telinga akan disampaikan ke tulang pendengaran. Masing-masing tulang
pendengaran akan menyampaikan getaran ke tulang berikutnya. Tulang sanggurdi yang
merupakan tulang terkecil di tubuh meneruskan getaran ke koklea atau rumah siput.
c. Telinga dalam

Telinga dalam terdiri dari labirin osea (labirin tulang), sebuah rangkaian rongga pada ang
dilapisi periosteum yang berisi cairan perilimfe & labirin membranasea, yang terletak lebih
dalam dan memiliki cairan endolimfe.Di depan labirin terdapat koklea atau rumah siput.
Penampang melintang koklea terdiri dari tiga bagian yaitu skala vestibuli, skala media, dan
skala timpani. Bagian dasar dari skala vestibuli berhubungan dengan tulang sanggurdi
melalui jendela berselaput yang disebut tingkap oval, sedangkan skala timpani berhubungan
dengan telinga tengah melalui tingkap bulat.
ALAT DAN BAHAN
1. Gambar struktur alat pendengar manusia.
2. Lembar pengamatan.
3. Alat tulis.
CARA KERJA
1. Memperhatikan gambar struktur alat pendengaran manusia.

2. Memberikan nama dan menjelaskan fungsi bagian-bagian telinga mulai dari telinga luar
sampai ke telinga dalam sesuai yang ditunjuk anak panah.
3. Memasukkan dalam tabel pengamatan.

HASIL PRAKTIKUM
Dari hasil pengamatan yang telah di lakukan urutan bagian telinga dari telinga luar
sampai telinga dalam adalah daun telinga, lubang telinga, selapu gendang, saluran gendang,
tingkap bulat, saluran setengah lingkaran, tulang sanggurdi, koklea, saluran eustacius.

Bagian-bagian yang menyusun telinga beserta fungsinya


No
.
1.
2.
3.

Nama organ
Daun telinga
Lubang telinga
Kelenjar minyak

Bagian telinga
Luar Tengah Dalam

Keterangan
Menangkap getaran
Mengantarkan geteran
Menangkap pertikel debu
dan menghalangi masuknya

4.
5.
6.
7.

8.

Gendang telinga
Tulang martil
Tulang landasan
Tulang sangurdi

Pembuluh
eustachius

air
Meneruskan gelombang

bunyi dari udara


Menangkap getaran dari
gendang telinga dan
meneruskannya ke tingkap
oval
Memasukan udara ke telinga
tengah dan menjadikanya

tekanan udara di gendang


telinga = tekanan udara
9.

Tingkap oval

diluar
Menghantarkan getaran

10.
11.

Labirin
Koklea

udara
Menghasilkan cairan limfe
Mengubah getaran menjadi

impuls
Mengirimkan impuls ke otak

12.

Rumah siput

untuk diinterprestasikan
menjadi bunyi

PEMBAHASAN
Telinga pada manusia terdiri dari tiga bagian yaitu :
1. Telinga luar, terdiri atas:
a. Daun telinga untuk menangkap getaran.
b. Lubang telinga untuk penghantar getaran.
c. Kelenjar minyak untuk menghasilkan minyak serumen yang berfungsi rtikel debu
menghalangi masuknya air.
d. Gendang telinga meneruskan gelombang bunyi dari udara.
2.

Telinga tengah, terdiri dari:


a. Tulang martil, tulang landasan, tulang sangurdi untuk menangkap getaran dari
gendang telinga dan meneruskannya membran yang menyelubungi tingkap oval untuk
diterskan lagi ke telinga dalam.
b.

Pembuluh eustachius untuk memasukan udara ke telinga tengah dan menjadikan

tekanan udara di gendang sam dengan tekanan udara di luar gendang telinga.
3. Telinga dalam, terdiri dari :
a. tingkap oval menghantarkan getaran udara
b. labirin menghasilkan cairan limfe
c. koklea mengubah getaran menjadi inpuls
d. rumah siput mengirim impuls ke otak.

KESIMPULAN
Organ pendengaran pada manusia adalah telinga. Telinga mempunyai 3 bagian yaitu
telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar terdiri dari daun telinga, lubang
telinga, kelenjar minyak, dan gendang telinga. Telinga tengah terdiri dari : 3 tulang pendengaran

yaitu tulang martil, tulang sanggurdi, tulang landasan dan saluran eustachius. Sedangkan telinga
dalam terdiri dari tingkap oval, labirin, koklea, dan rumah siput.
KEPUSTAKAAN
id.wikipedia.org/wiki/Telinga
www.telinga.co.uk/ Sumardi, Yosephat dkk. (2011) Konsep Dasar IPA di SD. Jakarta : Universitas Terbuka

JUDUL PRAKTEK
PERCOBAAN MEKANISME TRANSMISI PENDENGARAN
TUJUAN PRAKTIKUM
Menjelaskan peristiwa yang terjadi pada bagian-bagian telinga yang dilalui getaran suara dari
suatu sumber bunyi.
LANDASAN TEORI
Telinga merupakan organ pendengaran pada manusia, Cara kerja indra pendengaran
sehingga kita bisa mendengar dan menentukan bunyi apa yang kita dengar urutannya sebagai
berikut : Gelombang bunyi yang masuk ke dalam telinga luar menggetarkan gendang telinga.
Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang dengar ke jendela oval. Getaran Struktur koklea
pada jendela oval diteruskan ke cairan limfa yang ada di dalam saluran vestibulum. Getaran
cairan

tadi

akan

menggerakkan

membran

Reissmer

dan

menggetarkan

cairan

limfa dalam saluran tengah. Perpindahan getaran cairan limfa di dalam saluran tengah
menggerakkan membran basher yang dengan sendirinya akan menggetarkan cairan dalam
saluran timpani. Perpindahan ini menyebabkan melebarnya membran pada jendela bundar.

Getaran

dengan

frekuensi

tertentu

akan

menggetarkan

selaput-selaput

basiler, yang akan menggerakkan sel-sel rambut ke atas dan ke bawah. Ketika rambut-rambut sel
menyentuh membran tektorial, terjadilah rangsangan (impuls). Getaran membran tektorial dan
membran basiler akan menekan sel sensori pada organ Korti dan kemudian menghasilkan impuls
yang akan dikirim ke pusat pendengar di dalam otak melalui saraf pendengaran.
ALAT DAN BAHAN
1. Gambar transmisi pendengaran
2. Lembar pengamatan.
3. Alat tulis.
CARA KERJA
1. Mengamati gambar transmisi pendengaran seperti gambar di bawah ini.

2. Menjelaskan peristiwa yang terjadi pada bagian-bagian telinga yang di lalui getaran suara
secara berurutan sesuai dengan nomor.
HASIL PRAKTIKUM dan PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan yang dilakukan, bagian yang di lalui getaran suara sesuai urutan
nomer adalah :
1. Gendang pendengaran : peristiwa yang terjadi pada bagian ini yaitu saat gelombang
bunyi masuk melalui telinga luar maka akan menggetarkan gendang pendengaran.
2. Tulang-tulang pendengaran : Tulang pendengaran terdiri dari tulang martil, landasan dan
sanggurdi, tulang - tulang pendengaran ini meneruskan getaran suara yang diterimanya ke
tingkap oval.
3. Tingkap oval : pada tingkap oval getaran suara diteruskan ke koklea.
4. Koklea / rumah siput : pada bagian ini getaran suara di teruskan ke cairan limfe.
5. Cairan limfa : cairan limfa menerima getaran dari koklea. Cairan limfa berada dalam
saluran vestibulum, Getaran cairan tadi akan menggerakkan membran Reissmer dan
menggetarkan cairan limfa dalam saluran tengah. Perpindahan getaran cairan limfa di
dalam saluran tengah menggerakkan membran basher yang dengan sendirinya akan
menggetarkan cairan dalam saluran timpani. Perpindahan ini menyebabkan melebarnya
membran pada jendela bundar. Getaran dengan frekuensi tertentu akan menggetarkan

selaput-selaput
basiler, yang akan menggerakkan sel-sel rambut ke atas dan ke bawah. Ketika rambutrambut sel menyentuh membran tektorial, terjadilah rangsangan (impuls). Getaran
membran tektorial dan membran basiler akan menekan sel sensori pada organ Korti dan
kemudian menghasilkan impuls yang akan dikirim ke pusat pendengar di dalam otak
melalui saraf pendengaran
KESIMPULAN
Mekanisme transmisi pendengaran manusia dimulai dari bergetarnya gendang telinga,
kemudian menuju ke tulang pendengaran yang terdiri dari tulang martil, landasan dan sanggurdi.
Selanjutnya getaran suara diteruskan ke tingkap oval dan ke koklea atau rumah siput. Getaran
yang diterima koklea diteruskan ke cairan limfa kemudian ke membran reissmer, saluran
timpani, selaput basiler sehingga menekan sel sensori pada organ korti sehingga menimbulkan
impuls yang dikirim ke otak.
KEPUSTAKAAN
id.answers.yahoo.com/question/index?qid
Sumardi, Yosephat dkk. (2011) Konsep Dasar IPA di SD. Jakarta : Universitas Terbuka