You are on page 1of 37

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejadian

kegawatan ortopaedi (emergency orthopaedics)

banyak

dijumpai. Penanganan emergency orthopaedics telah mengalami perkembangan


yang sangat pesat. Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan kontribusi
yang sangat untuk menunjang penanganan emergency orthopedics. Tenaga medis
dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait
dengan proses perawatan emergency orthopaedics pertama kali di IGD yang
komprehensif, yang dimulai dari pengkajian yang komprehensif, perencanaan
intervensi yang tepat, implementasi tindakan, evaluasi hasil yang ditemukan
selama perawatan serta dokumentasi hasil yang sistematis.

Salah satu kasus

kegawatan orthopaedi yaitu open fracture yang membutuhkan penanganan secara


cepat dan tepat yang mana bersifat life saving dan life threatening (Koval and
Zuckerman, 2006).
Open fracture adalah fraktur dimana terdapat hubungan antara fragmen
fraktur dengan udara luar(Colton.2000). Pada open fraktur terjadi kerusakan soft
tissue hingga menimbulkan robekan yang menyebabkan hubungan fragmen
fraktur dengan udara luar, meskipun pada banyak closed fraktur terjadi cedera soft
tissue yang signifikan namun pada closed fraktur tidak terjadi hubungan antara
tulang yang fraktur dengan udara luar. Kejadian fraktur banyak ditemukan saat ini,
begitu juga kasus open fraktur di IGD. Kalau tidak ditangani akan menjadikannya
infeksi kronis yang

berkepanjangan.Once osteomyelitis, forever : Appley.

Jangan sampai melewati Golden periode (0 s/d 6 jam) pada awalnya infestasi
kuman masih melekat secara fisik, sesudah itu akan melekat secara kimawi dan
sulit dibersihkan dengan pencucian saja.(Apley dan Solomon, 2001). Walau
banyak sistem klasifikasi untuk patah tulang terbuka, sistem klasifikasi GustilloAnderson-lah yang paling sering digunakan di seluruh dunia. Tujuan dari sistem
klasifikasi patah tulang terbuka manapun adalah untuk memperkirakan keadaan
fraktur dan parameter penatalaksanaan (Cross and Swiontkowski, 2008).
B. Frekuensi
1

Frekuensi open fraktur bervariasi pada masing-masing Rumah sakit


tergantung pada faktor geografi dan sosio-ekonomi, jumlah populasi, dan system
ambulasi pasien trauma. Insidensi open fraktur pada Edinburgh Orthopaedic
Trauma Unit di Skotlandia telah didokumentasi dengan jelas. Pada unit ini telah
mengobati semua fraktur pada populasi kota dan desa sekitar 750.000. Lebih dari
75 bulan periode Januari 1988 dan Maret 1994, telah dilaporkan 933 pasien open
fraktur

menunjukkan frekuensi

21,3 per 100.000 populasi per

tahun

(Colton.2000).
Pada mayoritas tulang panjang, open fraktur sering terjadi pada diafisis
dibandingkan pada metafisis (closed fraktur 15,3% pada diafisis vs 1,2%
metafisis). Proporsi paling tinggi open fraktur diafisis tulang panjang terjadi pada
tibia (21,6%) diikuti pada femur (12,1%), radius dan ulna (9,3%) dan humerus
(5,7%)

Tabel 1. Frekuensi Relatif Open Fraktur


Sumber: Colton.CL, Holz U., Kellam JF. 2000. AO Principles of Fracture
Management. AO publishing. George Thieme Verlag

BAB II
ISI
A. DEFINISI
Fraktur terbuka adalah putusnya kontinuitas jaringan tulang
dimana

terjadi

kerusakan

kulit

dan

jaringan

dibawahnya

yang

berhubungan langsung dengan dunia luar. Compound fracture merupakan


nama lain dari fraktur terbuka namun istilah tersebut sudah tidak
digunakan lagi (Koval & Zuckerman, 2006).
Berdasarkan gambaran di bidang orthopaedi, definisi fraktur
terbuka adalah suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan
luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri yang menyebabkan
timbulnya komplikasi berupa infeksi atau luka pada kulit, dapat berupa
tusukan tulang yang tajam keluar menembus kulit atau dari luar oleh
karena tertembus misalnya oleh peluru atau trauma langsung (Rasjad,
2008).
Cedera jaringan lunak dalam fraktur terbuka mungkin memiliki
tiga konsekuensi penting:
-

Kontaminasi dari luka dan patah tulang oleh paparan lingkungan.

Peremukan, pengelupasan, dan devaskularisasi menyebabkan jaringan


lunak rentan terhadap infeksi.

Kerusakan atau kehilangan jaringan lunak dapat mempengaruhi


metode imobilisasi fraktur, membahayakan kontribusi dari jaringan
lunak di atasnya untuk penyembuhan (misalnya, kontribusi sel
osteoprogenitor), dan mengakibatkan hilangnya fungsi dari otot, saraf,
tendon, pembuluh darah , ligamen, atau kerusakan kulit.

B. SEJARAH
Pada jaman dahulu, orang Mesir mengenalkan cara menutup luka
sekitar fraktur untuk meminimalkan morbiditas. Hippocrates (460 SM)
menjelaskan bahwa cedera selalu terjadi pembengkakan lokal dan tidak
3

boleh menutup luka secara ketat sampai pembengkakan selesai. Pada masa
Renaissance, Ambroise

Pare

(1510-1590M)

ahli

bedah

Perancis

menyatakan perlunya pembukaan dari luka dan dibuat drainase untuk


dapat pus mengalir secara bebas. Mereka mendeskripsikan pentingnya
debridement untuk menghilangkan benda asing dan jaringan lokal
nekrotik. Pada era yang sama Brunschwig dan Botello menganjurkan
operasi debridement material yang nekrotik pada luka yang tidak ada
perbaikan. Desault pada abad 18 menganjurkan untuk memperlebar luka
dan menghilangkan jaringan yang mati. Dia yang memperkenalkan istilah
debridement. Lebih lanjut komplikasi dari open fraktur berkaitan waktu
tata laksananya yang sampai saat ini masih controversial (Bucholz.2006).
Pada abad ke-19, sebelum teknik aseptik dan antibiotik ada,
amputasi darurat sebagai tindakan menyelamatkan nyawa pada open
fraktur terbuka adalah sesuatu yang tidak jarang. Dalam Perang Saudara
Amerika (1861-1865), tingkat kematian open fraktur adalah 26%. Dalam
perang Perancis-Prusia (1870-1871), 13.000 amputasi dilakukan untuk
menghindari sepsis atau kematian. Namun demikian, amputasi tidak ada
jaminan hasil yang pasti menguntungkan, seperti Billroth (1829-1894)
melaporkan bahwa 36 dari 93 (39%) pasien dengan open fraktur
ekstremitas

bawah

yang

dilakukan

amputasi

masih

meninggal

(Bucholz.2006).
Pada Perang Dunia I, 1914-1918, hal ini menjadi lebih umum
untuk debridement, stabilisasi, dan tata laksana luka open fraktur untuk
sembuh secara sekunder. Sulfonamida, dapat diberikan secara topikal pada
luka, dan menjadi penggunaannya secara luas selama Perang Dunia II
(1939-1945). Penggunaan antibiotik menjadi luas dipakai selama Perang
AS-Korea

(1950-1954).

Gustilo

dan

Anderson

mendeskripsikan

penggunaan antibiotik dan menjelaskan skema klasifikasi untuk open


fraktur. Polymethylmethacrylate (PMMA), dengan antibiotik berguna
dalam pengelolaan fraktur terbuka. Teknik ini untuk mengkombinasi
penggunaan antibiotik intravena, dan menempati "ruang mati" akibat
4

tulang yang hilang, meminimalkan pembentukan hematoma dan kolonisasi


bakteri (Bucholz.2006).
Beberapa luka terbuka dapat diobati secara efektif dengan serial
dressing kassa basah-kering. Idealnya penyembuhan luka ini terjadi secara
sekunder. Namun, teknik ini menjadikan luka ekspose dengan lingkungan
eksternal, dan dapat menyebabkan kolonisasi bakteri yang dapat
menimbulkan infeksi. Hal ini lebih mungkin terjadi jika dilakukan fiksasi
internal, terutama implan permukaan, atau adanya defek pada fascia.
Kemajuan dalam teknik operasi plastik pada 1980-an dan 1990-an,
khususnya pengembangan transfer mikrovaskuler free tissue transfer,
membantu dalam penutupan luka tersebut. Teknik ini terbukti berguna baik
dalam mencegah dan pengobatan osteomielitis kronis dan telah menjadi
andalan pengobatan cedera jaringan lunak yang paling parah. Sayangnya,
ketersediaan ahli bedah plastik terlatih dan bersedia untuk melakukan
teknik ini masih terbatas di daerah tertentu. Selanjutnya, tidak semua luka
atau host adalah kandidat yang kompatibel untuk free tissue transfer
karena adanya penyakit lokal atau sistemik vaskular, cedera, atau faktor
pasien lainnya.
Seperti disebutkan di atas, banyak dari prinsip-prinsip pengelolaan
luka open fraktur yang dilakukan sampai saat ini, termasuk:
1. Penggunaan pembalut steril pada luka terbuka.
2. Imobilisasi ekstremitas
3. Penggunaan antibiotik dini dan tetanus (jika diperlukan)
4. Operasi debridement luka urgensi dan irigasi, dengan stabilisasi sistem
skeletal baik sementara (misalnya, fiksasi eksternal) atau definitif
5. Debridements ulang sesuai indikasi dan stabilisasi definitif dan / atau
penutupan soft tissue secara tepat (Bucholz.2006).
C. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Penyebab dari fraktur terbuka adalah trauma langsung berupa
benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat tersebut,
5

serta

trauma tidak langsung bilamana titik tumpul benturan dengan

terjadinya fraktur berjauhan. Sedangkan hubungan dengan dunia luar


dapat terjadi karena:
1. Penyebab rudapaksa merusak kulit, jaringan lunak dan tulang.
2. Fragmen tulang merusak jaringan lunak dan menembus kulit.
Ketika tulang patah, periosteum dan pembuluh darah di bagian
korteks, sumsum tulang dan jaringan lunak mengalami cidera yang dapat
menyebabkan keadaan yang menimbulkan syok hipovolemik. Pendarahan
yang terakumulasi menimbulkan pembengkakan jaringan sekitar daerah
cidera yang apabila di tekan atau di gerakan dapat timbul rasa nyeri yang
hebat yang mengakibatkan syok neurogenik. (Mansjoer Arief, 2002),
sementara kerusakan pada sistem persarafan akan menimbulkan
kehilangan sensasi yang dapat berakibat paralisis yang menetap pada
fraktur juga terjadi keterbatasan gerak oleh karena fungsi pada daerah
cidera.
Pada patah tulang, pendarahan biasanya terjadi di sekitar tempat
patah, kedalam jaringan lemak tulang tersebut, jaringan lunak juga
biasanya mengalami kerusakan. Reaksi perdarahan biasanya timbul hebat
setelah fraktur. Sel darah putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan
peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan
sisa sisa sel mati di mulai. Di tempat patah terdapat fibrin hematoma
fraktur dan berfungsi sebagai jala-jala untuk membentukan sel-sel baru.
Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru immatur yang
disebut callus.Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru
mengalami remodelling untuk membentuk tulang sejati. (Mansjoer Arief,
2002).
Pada fraktur terbuka dapat menyebabkan terjadinya berbagai
macam komplikasi. Komplikasi yang terjadi pada patah tulang terbuka
bisa berupa komplikasi lokalis maupun generalis. Komplikasi langsung
dapat berupa kehilangan darah, shock, fat embolism, dan kegagalan
kardiovaskular. Komplikasi lokalis yang terjadi dapat dibagi menjadi
6

komplikasi dini yaitu yang terjadi bersamaan dengan terjadinya patah


tulang atau dalam minggu pertama dan komplikasi lambat (Apley dan
Solomon, 2001).
Komplikasi Dini :
1. Lesi Vaskuler
Trauma vaskular dapat melibatkan pembuluh darah arteri dan
vena. Perdarahan yang tidak terdeteksi atau tidak terkontrol dengan
cepat akan mengarah kepada kematian pasien, atau bila terjadi
iskemia akan berakibat kehilangan tungkai, stroke, nekrosis dan
kegagalan organ multipel.
Keparahan trauma arteri bergantung kepada derajat invasifnya
trauma, mekanisme, tipe, dan lokasi trauma, serta durasi iskemia.
Gambaran klinis dari trauma arteri dapat berupa perdarahan luar,
iskemia, hematoma pulsatil, atau perdarahan dalam yang disertai
tanda-tanda syok. Gejala klinis paling sering pada trauma arteri
ekstremitas adalah iskemia akut. Tanda-tanda iskemia adalah nyeri
terus-menerus, parestesia, paralisis, pucat,

dan poikilotermia.

Pemeriksaan fisik yang lengkap, mencakup inspeksi, palpasi, dan


auskultasi biasanya cukup untuk mengidentifikasi adanya tanda-tanda
akut iskemia.
Adanya tanda trauma vaskular pada fraktur terbuka merupakan
suatu indikasi harus dilakukan eksplorasi untuk menentukan adanya
trauma vaskular. Kesulitan untuk mendiagnosis adanya trauma
vaskular sering terjadi pada hematoma yang luas pada patah tulang
tertutup. Tanda lain yang bisa menyertai trauma vaskular adalah
adanya defisit neurologis baik sensoris maupun motoris seperti rasa
baal dan penurunan kekuatan motoris pada ekstremitas. Aliran darah
yang tidak adekuat dapat menimbulkan hipoksia sehingga ekstremitas
akan tampak pucat dan dingin pada perabaan. Pengisian kapiler tidak
menggambarkan keadaan sirkulasi karena dapat berasal dari arteri

kolateral, namun penting untuk menentukan viabilitas jaringan


(Rasjad, 2008).
Komplikasi yang dapat terjadi karena trauma vaskuler antara
lain thrombosis, infeksi, stenosis, fistula arteri-vena, dan aneurisma
palsu. Trombosis, infeksi, dan stenosis merupakan komplikasi yang
dapat terjadi segera pascaoperasi, sedangkan fistula arteri-vena dan
aneurisma palsu merupakan komplikasi lama. Rekonstruksi pembuluh
darah harus ditangani secara sungguh-sungguh dan teliti sekali karena
bila

terjadi

kesalahan

teknis

operasi

karena

ceroboh

atau

penatalaksanaan pasca bedah yang kurang terarah, akan berakibat


fatal bagi kelangsungan hidup ekstremitas berupa amputasi, atau
terjadi emboli paru (Apley et al., 2001).
2. Sindroma Kompartemen
Patah tulang pada lengan kaki dapat menimbulkan hebat
sekalipun tidak ada kerusakan pembuluh besar. Perdarahan, edema,
radang, dan infeksi dapat meningkatkan tekanan pada salah satu
kompartemen osteofasia. Terjadi penurunan aliran kapiler yang
mengakibatkan iskemia otot, yang akan menyebabkan edema lebih
jauh, sehingga mengakibatkan tekanan yang lebih besar lagi dan
iskemia yang lebih hebat. Lingkaran setan ini terus berlanjut dan
berakhir dengan nekrosis saraf dan otot dalam kompartemen setelah
kurang lebih 12 jam (Apley dan Solomon, 2001).
Meningkatnya tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena
dalam ruang yang tertutup. Peningkatan tekanan terus meningkat
hingga tekanan arteriolar intramuskuler bawah meninggi. Pada titik
ini, tidak ada lagi darah yang akan masuk ke kapiler, menyebabkan
kebocoran ke dalam kompartemen, sehingga tekanan dalam
kompartemen

semakin

meningkat.

Penekanan

saraf

perifer

disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat. Bila terjadi peningkatan


intra kompartemen, tekanan vena meningkat. Setelah itu, aliran darah
melalui kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran
8

oksigen juga akan terhenti, Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale).


Jika hal ini terus berlanjut, maka terjadi iskemia otot dan nervus, yang
akan menyebabkan kerusakan ireversibel komponen tersebut. Secara
klasik terdapat 5 P yang menggambarkan gejala klinis sindroma
kompartemen, yaitu:
a. Pain
b. Paresthesia
c. Pallor
d. Paralysis
e. Pulseness
3. . Gas Gangren
Keadaan yang mengerikan ini ditimbulkan oleh infeksi
klostridium, terutama C. welchii. Organisme anaerob ini dapat hidup
dan berkembang biak hanya dalam jaringan dengan tekanan oksigen
yang rendah; karena itu, tempat utama infeksinya adalah luka yang
kotor dengan otot mati yang telah ditutup tanpa debridemen yang
memadai. Toksin yang dihasilkan oleh organisme ini menghancurkan
dinding sel dan dengan cepat mengakibatkan

nekrosis jaringan,

sehingga memudahkan penyebaran penyakit itu (Apley dan Solomon,


2001).
4. Septic Arthritis
Septic arthritis merupakan proses infeksi bakteri piogenik pada
sendi yang jika tidak segera ditangani dapat berlanjut menjadi
kerusakan pada sendi. Artritis septik karena infeksi bakterial
merupakan penyakit yang serius yang cepat merusak kartilago hyalin
artikular dan kehilangan fungsi sendi yang irreversibel.
Penyebab

artritis

septik

merupakan

multifaktorial

dan

tergantung pada interaksi patogen bakteri dan respon imun hospes.


Proses yang terjadi pada sendi alami dapat dibagi pada tiga tahap
yaitu kolonisasi bakteri, terjadinya infeksi, dan induksi respon
inflamasi hospes. Kolonisasi bakteri Sifat tropism jaringan dari
9

bakteri merupakan hal yang sangat penting untuk terjadinya infeksi


sendi. S.aureus memiliki reseptor bervariasi (adhesin) yang
memediasi perlengketan efektif pada jaringan sendi yang bervariasi.
Adhesin ini diatur secara ketat oleh faktor genetik, termasuh regulator
gen asesori (agr), regulator asesori stafilokokus (sar), dan sortase
Gejala klasik artritis septik adalah demam yang mendadak,
malaise, nyeri lokal pada sendi yang terinfeksi, pembengkakan sendi,
dan penurunan kemampuan ruang lingkup gerak sendi. Sejumlah
pasien hanya mengeluh demam ringan saja. Demam dilaporkan 6080% kasus, biasanya demam ringan, dan demam tinggi terjadi pada
30-40% kasus sampai lebih dari 399 C. Nyeri pada artritis septik
khasnya adalah nyeri berat dan terjadi saat istirahat maupun dengan
gerakan aktif maupun pasif.
Evaluasi awal meliputi anamnesis yang detail mencakup faktor
predisposisi, mencari sumber bakterimia yang transien atau menetap
(infeksi

kulit,

pneumonia,

infeksi

saluran

kemih,

adanya

tindakantindakan invasiv, pemakai obat suntik, dll), mengidentifikasi


adanya penyakit sistemik yang mengenai sendi atau adanya trauma
sendi.
5 Osteomielitis Akut
Osteomielitis akut adalah infeksi tulang yang terjadi secara
akut.yang bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui
darah) dari fokus infeksi di tempat lain (misalnya Tonsil yang
terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas).
Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat
di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah
kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80%
infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada
osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli.
Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial,
10

gram negatif dan anaerobik. Awitan osteomielitis setelah pembedahan


ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium
I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau
infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4
sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama
(stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2
tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons

inisial

terhadap

infeksi

adalah

peningkatan

vaskularisasi dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada


pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia
dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat
menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila
proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses
tulang (Apley et al., 2001).
Komplikasi Lambat :
1. Penyembuhan Terlambat
Pada patah tulang panjang yang sangat tergeser dapat terjadi
robekan pada periosteum dan terjadi gangguan pada suplai darah
intramedular. Kekurangan suplai darah ini dapat menyebabkan pinggir
dari patah tulang menjadi nekrosis. Nekrosis yang luas akan
menghambat penyembuhan tulang. Kerusakan jaringan lunak dan
pelepasan periosteum juga dapat mengganggu penyembuhan tulang
(Apley dan Solomon, 2001).
2. Non-Union
Bila keterlambatan penyembuhan tidak diketahui, meskipun
patah tulang telah diterapi dengan memadai, cenderung terjadi nonunion. Penyebab lain ialah adanya celah yang terlalu lebar dan
interposisi jaringan (Apley dan Solomon, 2001).
3. Malunion
Bila fragmen menyambung pada posisi yang tidak memuaskan,
seperti contoh angulasi, rotasi, atau pemendekan yang tidak dapat
11

diterima. Penyebabnya adalah tidak tereduksinya patah tulang secara


cukup, kegagalan mempertahankan reduksi ketika terjadi penyembuhan,
atau kolaps yang berangsur-angsur pada tulang yang osteoporotik atau
kominutif (Apley dan Solomon, 2001).
4. Gangguan pertumbuhan
Pada anak-anak, kerusakan pada fisis dapat mengakibatkan
pertumbuhan yang abnormal atau terhambat. Patah tulang melintang
pada lempeng pertumbuhan tidak membawa bencana; patahan menjalar
di sepanjang lapisan hipertrofik dan lapisan berkapur dan tidak pada
daerah germinal asalkan patah tulang ini direduksi dengan tepat, jarang
terdapat gangguan pertumbuhan. Tetapi patah tulang yang memisahkan
bagian epifisis pasti akan melintasi bagian fisis yang sedang tumbuh,
sehingga pertumbuhan selanjutnya dapat asimetris dan ujung tulang
berangulasi secara khas; jika seluruh fisis rusak, mungkin terjadi
perlambatan atau penghentian pertumbuhan sama sekali (Apley dan
Solomon, 2001).
Golden periode penanganan fraktur terbuka adalah kurang dari 6
jam dikarenakan proses dan pola pertumbuhan bakteri yang terjadi pada
luka fraktur terbukanya. Umumnya jenis bakteri yang sering ditemui
pada luka adalah golongan bakteri Staphylococcus. Staphylococcus
aureus yang patogenik dan yang bersifat invasif menghasilkan
koagulase dan cenderung untuk menghasilkan pigmen kuning dan
menjadi hemolitik.
Setelah berjalan 6 jam pasca kejadian fraktur terbuka, bakteri
Stapylococcus aureus dapat mengadakan ikatan secara kimiawi ke
dinding sel-sel yang seharusnya mengalami penyembuhan berupa
hematom, inflamasi dan rekonstruksi. Setelah mengalami ikatan,
bakteri ini akan mengeluarkan enterotoksin dan eksotoksin yang
akhirnya dapat menyebabkan osteomyelitis (Luchette, 2008).

12

D. KLASIFIKASI
Tujuan dari sistem klasifikasi patah tulang terbuka manapun adalah
untuk mengira keadaan fraktur dan parameter penatalaksanaan (Cross and
Swiontkowski, 2008). Walau banyak sistem klasifikasi untuk patah tulang
terbuka, sistem klasifikasi Gustillo-Anderson-lah yang paling sering
digunakan di seluruh dunia. Sistem ini menilai patah tulang terbuka
berdasarkan ukuran luka, derajat kerusakan jaringan lunak dan
kontaminasi, dan derajat fraktur (Gustillo et al, 1990). Hal-hal lain yang
juga diperhatikan antara lain adalah ada atau tidaknya kerusakan pada
saraf, energy cedera (derajat comminution dan periosteal stripping ), dan
wound dimension . Terdapat tiga macam patah tulang terbuka pada sistem
klasifikasi Gustillo-Anderson, dengan derajat yang ke tiga
dalam

tiga

subtype

lagi

berdasarkan

kerusakan

dibagi

ke

periosteal, Ada

tidaknya kontaminasi dan derajat kerusakan pembuluh darah (Gustillo et


al, 1990).
1) Pengklasifikasian patah tulang terbuka menurut Gustillo-Anderson
adalah sebagai berikut:
1. Derajat

I:

Luka

biasanya

berupa

tusukan

kecil dan

bersih berukuran kurang dari 1 cm. Terdapat tulang yang muncul


dari luka tersebut. Sedikit kerusakan jaringan lunak tanpa
adanya crushing

dan

patah tulang

tulang biasanya

berupa sederhana,

tidak kominutif.
melintang,

Patah

atau oblik

pendek. Biasanya berupa patah tulang energi rendah.


Gambar 1: Fraktur Terbuka Gustilo-Anderson derajat 1

2. Derajat II: Luka lebih besar dari 1 cm, tanpa adanya skin flap
ataupun avulsion.

Kerusakan pada jaringan lunak tidak begitu

banyak. Kominusi

dan crushing

sedang. Juga

kontaminasi

terdapat

injury terjadi
sedang.

Bisanya

berupa patah tulang energi rendah.


Gambar 2: Fraktur Terbuka Gustilo-Anderson derajat 2

13

hanya
juga

3. Derajat III: Terdapat kerusakan yang luas pada kulit, jaringan


lunak, struktur neurovaskuler, dengan adanya kontaminasi pada
luka. Dapat juga terjadi kehilangan jaringan lunak. Luka yang berat
dengan
jaringan

adanya
lunak.

high-energy
Biasanya

kecepatan tinggi sehingga


komunisi. Amputasi

transfer

ke

disebabkan

tulang

oleh trauma

fraktur tidak stabil dan

traumatik,

patah

tulang

dan

banyak

segemental

terbuka, luka tembak kecepatan tinggi, patah tulang terbuka lebih


dari 8 jam, patah tulang terbuka yang memerlukan perbaikan
vaskuler juga termasuk dalam derajat ini.

14

gambar ilustrasi open fracture grade 1, 2 dan 3

Gustilo, Mendoza & Williams membagi derajat

III ini

dibagi lagi menjadi tiga subtipe:


a. Derajat

IIIA : Tulang

yang

patah dapat

ditutupi

oleh jaringan lunak, atau terdapat penutup periosteal yang


cukup pada tulang yang patah.

Gambar 3: Fraktur Terbuka Gustilo-Anderson derajat 3a

b. Derajat IIIB :
lunak yang
periosteum

Kerusakan
luas

disertai

dan komunisi

15

atau

kehilangan

dengan
yang

berat

jaringan

pengelupasan
dari patahan

tulang tersebut. Tulang terekspos dengan kontaminasi yang


massif.
Gambar 4: Fraktur Terbuka Gustilo-Anderson derajat 3b

c. Derajat

IIIC

dengan kerusakan

tanpa

Semua
vaskuler

patah
yang

tulang
perlu

terbuka
diberbaiki,

meilhat kerusakan jaringan lunak yang terjadi (Apley

dan Solomon, 2001 dan Gustillo et al, 1990).


Gambar 5: Fraktur Terbuka Gustilo-Anderson derajat 3c

16

gambar ilustrasi open fracture grade II A, B, dan C.

Klasifikasi ini menjadi sangat penting untuk menentukan terapi.


Klasifikasi ini juga menunjukkan resiko terjadinya infeksi, dilihat dari
derajat kontaminasi, derajat kerusakan jaringan lunak, dan tindakan
operatif pada patah tulang. Resiko infeksi semakin meningkat seiring
dengan derajat yang terjadi. Resiko terjadinya infeksi pada derajat I adalah
0-12%, pada derajat II 2-12%, dan pada derajat III 9-55%. Derajat patah
tulang terbuka ini juga sangat erat kaitannya dengan kejadian amputasi,
delayed union dan non-union, dan kecacatan atau penurunan fungsi
ekstermitas. Penentuan derajat patah tulang terbuka secara definitive
dilakukan setelah debridement yang adekuat telah dilakukan (Gustillo et
al, 1990).
2) Klasifikasi cidera jaringan jaringan lunak "Tscherne"
Pada klasifikasi ini, cedera soft tissue dikelompokan dalam empat kategori
berdasarkan derajat keparahannya. Fraktur diberi label "O" untuk fraktur
terbuka dan "C" untuk fraktur tertutup.
17

Klasifikasi Tscherne:

Grade I : Kulit terkoyak oleh fragmen tulang dari dalam. Tidak ada
atau minimal memar pada kulit, dan patah tulang sederhana ini
merupakan hasil dari trauma langsung (patah tulang tipe A1 dan A2
menurut klasifikasi AO).

Grade II: Ada laserasi kulit dengan kulit melingkar atau memar
jaringan lunak dan kontaminasi sedang. Semua patah tulang terbuka
akibat trauma langsung (klasifikasi AO tipe A3, tipe B dan tipe C)
termasuk dalam kelompok ini.

Grade III: Ada kerusakan soft tissue luas, seringkali dengan sebuah
kerusakan pembuluh darah besar dan / atau cedera saraf. Setiap fraktur
terbuka yang disertai dengan iskemia dan kominusi tulang yang parah
termasuk dalam kelompok ini. Kecelakaan pertanian, kecelakaan lalu
lintas dengan kecepatan tinggi, luka tembak, dan sindrom kompartemen
termasuk karena risiko tinggi infeksi.

Grade IV: Ini adalah amputasi subtotal dan total. Amputasi subtotal
didefinisikan oleh "Replantation Committee of the International Society
for Reconstructive Surgery"

sebagai "pemisahan semua struktur

anatomi penting, terutama pembuluh darah besar, dengan iskemia


total". Sisa jaringan lunak tidak boleh melebihi 1/4 dari lingkar tungkai.
Kasus yang perlu revaskularisasi masuk dalam derajat III atau IV.
3) Pengklasifikasian derajat keparahan patah tulang terbuka berdasarkan AO
menyediakan sistem penilaian untuk masing-masing cedera yaitu kulit (I),
otot dan tendon (MT), dan neurovaskular (NV) , yang masing-masing
dibagi menjadi lima derajat keparahan. Hal ini dirancang untuk
memberikan penjelasan yang unik, dan definisi tegas cedera apapun dan
dengan demikian, memungkinkan perbandingan yang akurat pada kasus
patah tulang terbuka. Pemahaman yang penuh derajad keparahan fraktur
terbuka memerlukan pertimbangan masing-masing elemen jaringan lunak.
Klasifikasi yang sangat rinci ini dirancang untuk digunakan dalam
18

hubungannya dengan Klasifikasi Fraktur dan Dislokasi AO / OTA.


Kategorisasi yang rinci pada patah tulang terbuka oleh sistem AO paling
tepat dilakukan di ruang operasi pada saat melakukan perawatan luka
primer dan eksisi bedah . Klasifikasi sistem ini lebih tepat digunakan
dalam penelitian. Namun, kompleksitas menjadikan sistem klasifikasi ini
tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari dalam praktek klinis.

AO classification (adapted from Tscherne)

IC 1
IC 2
IC 3
IC 4
IC5

AO soft-tissue classification: closed skin lesions (IC).


No skin lesion
No skin laceration, but contusion
Circumscribed degloving
Extensive, closed degloving
Necrosis from contusion

IO 1
IO 2
IO 3

AO soft-tissue classification: open skin lesions (IO).


Skin breakage from inside out
Skin breakage from outside in < 5 cm, contused edges
Skin breakage from outside in > 5 cm, increased

IO 4

contusion, devitalized edges


Considerable, full-thickness contusion, abrasion, extensive
open degloving, skin loss
19

IO5

Extensive degloving
Tabel Klasifikasi derajat keparahan cedera soft tissu menurut AO. Kulit.

Gambar Klasifikasi derajat keparahan cedera soft tissu menurut AO. Otot dan Tendon.

Gambar Klasifikasi derajat keparahan cedera soft tissue menurut AO. Neurovaskular.

20

Pada fraktur terbuka derajat berat dimana keselamatan dari ekstremitas


yang terkena dipertanyakan untuk prognosis kedepan, hal ini biasanya terjadi pada
trauma energy tinggi disebabkan kombinasi crush, shear, blast, kerusakan terjadi
cedera

vaskuler

dipertimbangkan

dilakukan

amputasi

apabila

usaha

mempertahankan ekstremitas tidak mampu atau membahayakan jiwa. Terdapat


penilaian derajat parahnya cedera ekstremitas, Mangled Extremity Severity Score
(MESS).
N
o
1

Parameter

Skor

Cedera skeletal/soft tissue


Low energy (fraktur simple, pistol gunshot)
1
Medium energy (open/multiple fraktur,dislokasi)
2
High energy (KLL kecepatan tinggi)
3
Very high energy (trauma kec tinggi+kontaminasi kotor)
4
Limb iskemia
Pulsasi berkurang/absen tapi perfusi normal
1*
Pulseless, parestesi, CRT hilang
2*
Dingin, paralisis, sensasi hilang
3*
Syok
Tekanan sistolik >90mmHg
0
Hipotensi sementara
1
Hipotensi persisten
2
Umur
<30 tahun
0
30-50 tahun
1
>50 tahun
2
Pada parameter iskemia diatas 6 jam skor dikali 2. Apabila total skor

diatas 7 maka dilakukan amputasi.(Bucholz,2006)


E. DIAGNOSIS
Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik, fraktur), baik
yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan
untuk menggunakan anggota gerak. Anamnesis harus dilakukan dengan
cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan
mungkin fraktur terjadi pada daerah lain.

21

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
1. Syok, anemia atau perdarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen
3. Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
Pemeriksaan lokal
1. Inspeksi (Look)
Bandingkan dengan bagian yang sehat
Perhatikan posisi anggota gerak
Keadaan umum penderita secara keseluruhan
Ekspresi wajah karena nyeri
Lidah kering atau basah
Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan
fraktur tertutup atau fraktur terbuka
Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari
Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan
Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organorgan lain
Perhatikan kondisi mental penderita
Keadaan vaskularisasi
1. Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya
mengeluh sangat nyeri.
Temperatur setempat yang meningkat
Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan
oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang
Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara
hati-hati

22

Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri


radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan
anggota gerak yang terkena
Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal
daerah trauma , temperatur kulit
Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui
adanya perbedaan panjang tungkai
3. Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif
dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma.
Pada pederita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri
hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar,
disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak
seperti pembuluh darah dan saraf.
4. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan
motoris

serta

gradasi

kelelahan

neurologis,

yaitu

neuropraksia,

aksonotmesis atau neurotmesis. Kelaianan saraf yang didapatkan harus


dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan
tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan
selanjutnya.
5. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi
serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan
lunak selanjutnya, maka sebaliknya kita mempergunakan bidai yang
bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan
pemeriksaan radiologis.
F. PENATALAKSANAAN
1) Prinsip penanganan open fraktur
Fraktur terbuka perlu:
23

diagnosis yang tepat


manajemen airway dan resusitasi segera
antibiotik dan profilaksis tetanus segera
teliti eksisi zona cedera (debridement) + irigasi
stabilisasi cedera tulang
pertimbangkan penutupan luka
Operasi tersebut sering disebut sebagai debridement. Istilah ini
terbuka untuk interpretasi dan menunjukkan prosedur yang berbeda
dalam konteks bedah yang berbeda. Debridement, seperti yang
digunakan dalam diskusi ini, berarti paparan bedah seluruh zona
cedera patologis dan penghapusan semua nekrotik, terkontaminasi,
dan / atau rusak jaringan, apakah tulang atau jaringan lunak
2) Antibiotik intravena pada open fractures

Gambar intravenous antibiotics

Antibiotik untuk fraktur terbuka tidak berfungsi sebagai profilaksis


namun terapeutik dimana terjadi kontaminasi bakteri pada luka
tersebut. .Bakteri selalu hadir pada patah tulang terbuka. Jumlah dan
tingkat infeksi bakteri dapat dikurangi secara signifikan dengan
24

pemberian antibiotik intravena, dalam kombinasi dengan debridement.


Kebanyakan bakteri yang menginfeksi adalah flora kulit yang khas.
Pemberian antibiotik pilihan tersebut antara lain generasi pertama
sefalosporin (misalnya, cefazolin 1-2 gram / 8 jam) sering digunakan.
Untuk luka terbuka fraktur lebih parah, ditambahkan aminoglikosida
(misalnya, gentamisin 80 mg/8-12 jam). Jika kontaminasi "pertanian"
hadir, dosis tinggi intravena penisilin biasanya ditambahkan
(misalnya, 5.000.000-10000000 units/24 jam) dan mempertimbangkan
metronidazol jika terdapat alergi penisilin. Pada grade I dan II
digunakan sefalosporin generasi pertama selama 48-72 jam.
Sedangkan pada grade III diberikan sefalosporin generasi pertama +
aminoglikosida selama 5 hari.
Tetanus prone wound yaitu luka yang cenderung menyebabkan
penyakit tetanus antara lain patah tulang terbuka, luka superficial yang
nyata berkontaminasi dengan tanah atau pupuk kotoran binatang
dimana luka itu terlambat lebih dari 4 jam baru mendapat topical
desinfektan atau pembersihan secara bedah, luka tembus, luka dengan
berisi benda asing, luka dengan infeksi pyogenik, luka bakar grade II
dan III,luka gigitan binatang dengan banyak jaringan nekrotik. Masa
inkubasi tetanus bervariasi dari 3-21 hari dengan umumnya terjadi
pada 8-12 hari,makin pendek masa inkubasi makin berat penyakit
yang ditimbulkannya. Untuk mencegahnya pada patah tulang terbuka
diberikan profilaktif ATS (anti tetanus serum) dapat merupakan
antitoksin bovine (dari lembu) maupun antitoksin equine (dari kuda)
dosis dewasa 1500 IU secara intramuscular, untuk anak 750 IU per
IM. Apabila terdapat alergi terhadap ATS dapat diberikan Human
Tetanus Immunoglobuline dengan dosis 250 UI per IM (setara dengan
1500IU ATS). Harga dari Human Tetanus Immunoglobuline lebih
mahal namun memiliki keuntungan pemberiannya tanpa didahului tes
sensitivitas.

25

Prinsip utama penanganan bedah yang aman adalah untuk


meminimalkan jumlah bakteri yang mungkin masuk lewat luka bedah.
Dekontaminasi kulit yang benar sebelum operasi, dengan mencuci
menggunakan agen antibakteri, adalah sesuatu yang harus dilakukan.

3) Dbridement pada luka fraktur terbuka

Eksisi zona cedera harus lengkap, teliti dan radikal.


Debridement luka dini adalah komponen yang paling penting
dari perawatan setiap fraktur terbuka.

26

Medan operasi harus benar-benar diirigasi (beberapa liter


cairan - optimal, larutan garam seimbang, seperti normal saline
NaCl 0,9% untuk mengurangi populasi bakteri). Dalam kasus
dengan terkontaminasi luas, mati, atau mungkin iskemik, eksisi
luka tambahan 48 jam kemudian. Untuk mengetahui otot viable
pada

saat

(konsistensi

eksisi
kenyal

diperhatikan
dan

tidak

color
rapuh),

(warna),
capacity

consistency
to

bleed

(kemampuan berdarah), contractility (kontraktilitas respon dari


otot saat dirangsang cauter atau forceps).
Tscherne & Gotzen dalam bukunya " Fractures with Soft
Tissue Injuries " mengacu pada karya Rojcyk (1981) sebagai
berikut: "Selama operasi luka irigasi berulang-ulang dengan
Betadine atau larutan normal saline. Setelah debridement,
semua instrumen bedah dan pakaian diganti, dan luka di-drape
ulang seperti untuk operasi baru. Manfaat dari rutinitas ini
ditunjukkan dalam serangkaian terus menerus dari 199 patah
tulang terbuka (lihat tabel). Jumlah smear mikrobiologi yang
positif nyata berkurang dari kontaminasi awal oleh trauma pada
akhir operasi. "

27

Memutuskan jaringan mana yang dibuang dan mana yang dipertahankan


merupakan tantangan penting dari debridement luka. Ini yang terbaik
adalah belajar di ruang operasi dari ahli bedah senior dan dengan
pengawasan. Kesalahan khas adalah keurang adekuat dalam membuang
jaringan yang seharusnya dibuang, atau bisa juga terlalu banyak
membuang jaringan sehat sehingga memyebabkan cedera tambahan untuk
jaringan sehat.
Mengambil pendekatan yang terorganisasi yang berlangsung dalam
langkah-langkah teratur melalui setiap lapisan jaringan. Pertama,
memperbesar luka traumatis bagi eksposur yang memadai dari zona cedera
keseluruhan. Hanya sedikit margin luka non-layak perlu dipotong. Jelajahi
kedalaman zona cedera, dan memeriksa secara menyeluruh. Melindungi
dan mempertahankan pembuluh utama darah dan saraf, selubung tendon,
periosteum sehat dan jaringan lunak yang melekat pada tulang.

28

Berikutnya, semua jaringan yang mati, atau dipertanyakan masih viable,


dieksisi secara sistematis layer demi layer:

subcutaneous tissues

deep fascia

muscle

bone

Pada setiap layer, jaringan yang ditinggalkan hanya jelas layak. Setiap
fragmen

tulang

tanpa

lampiran

jaringan

lunak

harus

dihapus.

Terkontaminasi, atau tidak-layak, permukaan tulang juga perlu eksisi


dengan instrumen tangan, seperti pahat. Pada grade IIIC dengan repair
arteri akibat terjadinya iskemia komplit, bengkak yang berlebihan pada sisi
distal memerlukan fasciotomy profilaktif untuk mencegah terjadinya
iskemia otot dan sindrom kompartmen. Irigasi berlebihan dengan larutan
garam seimbang (seperti normal saline) membantu untuk menghilangkan
29

bakteri, potongan jaringan yang mati dan bekuan darah, dan meningkatkan
kemampuan dokter bedah untuk memeriksa luka. Diperlukan irigasi 9 L
normal saline untuk membersihkan luka. Penggunaan sistem tekanan
lavage

berdenyut

risiko

kontaminasi

mengemudi

ke

kedalaman

tersembunyi luka, dan nilai dipertanyakan.

Fraktur dengan luka terbuka sendi


Bila fraktur terbuka berkomunikasi dengan rongga sendi, strategi
bedah khusus yang diperlukan. Seperti biasa, semua jaringan
devitalized harus dihilangkan. Permukaan sendi seharusnya
tidak diperbolehkan menjadi kering. Jika memungkinkan, sendi
terbuka sendiri harus ditutup terutama. Jika hal ini tidak
mungkin, sendi harus tetap bersih dan lembab.
4) Fiksasi pada Open Fraktur
Stabilisasi skeletal bertujuan: mengembalikan panjang dan
alignment tulang panjang, mereduksi permukaan artikular yang
30

displaced akibat fraktur, memudahkan prosedur rekonstruksi


lebih lanjut, memfasilitasi union fraktur dan fungsi ekstremitas.

stabilisasi eksternal, biasanya OREF

dipertimbangkan penundaan ORIF definitive

Stabilitas tulang patah tulang terbuka membantu pemulihan jaringan lunak,


dengan memberikan pengaturan terbaik untuk penyembuhan jaringan
lunak dan ketahanan terhadap infeksi

31

Fiksasi bedah, eksternal, maupun internal, adalah cara terbaik untuk


menstabilkan patah tulang terbuka. Hal ini dilakukan hanya setelah
debridement seluruh zona cedera.
Untuk tingkat rendah, patah tulang terbuka, menggunakan fiksasi yang akan
sesuai untuk cedera tertutup. Untuk patah tulang terbuka lebih parah, atau
luka yang membutuhkan excisions berulang, fiksasi eksternal biasanya lebih

32

disukai.Intramedullar nail (IMN) kadang-kadang dipilih sebagai fiksasi


untuk open fraktur femoralis, atau tibialis, diaphyseal derajat rendah.
Jika IMN harus ditunda (kontaminasi luka yang signifikan, dll), fiksasi
eksternal sementara dapat digunakan untuk stabilisasi awal.
5) Soft tissue care
Open wound care

menghindari kontaminasi

menghindari luka sampai kering

dipertimbangkan dressing spesial

menutup dengan benar


Setiap luka terbuka perlu dilindungi dari kontaminasi sekunder.

Balutan disegel (misalnya, antibiotik kantong manik, atau dibantu vakum


luka perangkat penutupan) dapat digunakan. Dibantu vakum penutupan
luka membantu mengurangi ukuran luka terbuka dan mempromosikan
pembentukan jaringan granulasi. Ini dapat mengizinkan split-ketebalan
kulit graft penutupan awal. Penutupan dengan lokal, atau bebas, flaps
cocok untuk luka yang lebih besar dan lebih rumit dan terbuka sendi,
segera setelah dipentaskan eksisi luka selesai.
Penutupan Soft-tissue pada open fractures

setelah eksisi luka selesai

penutupan yang ditunda pada open fraktur lebih aman daripada


ditutup dahulu.
Setelah debridement luka telah diselesaikan secara memuaskan,

baik dalam satu atau lebih prosedur, pertimbangan harus diberikan kepada
33

cara terbaik cakupan luka. Tegangan kulit yang berlebihan mencegah


penyembuhan luka. Selain itu, luka yang terkontaminasi hampir pasti
terinfeksi dengan penutupan primer.
Manajemen luka terbuka sementara dengan penutupan primer
tertunda, atau kulit sebaiknya dibagi mencangkok, adalah pendekatan
paling aman untuk sebagian besar patah tulang terbuka. Namun, dengan
fraktur rendah energi dan luka jinak, penutupan luka langsung dapat
dipertimbangkan. Jika penutupan primer yang dipilih, ahli bedah harus
observasi dengan hati-hati untuk tanda-tanda infeksi luka.
Jika penutupan tertunda, itu harus diselesaikan sesegera itu aman
untuk melakukannya, untuk meminimalkan risiko infeksi di rumah sakit
sekunder.
Second look
48 jam setelah setelah debridement, disarankan untuk inspeksi
ulang di zona injuri dalam pengaruh anestesi.
hal ini dapat memberi keuntungan:
Untuk menilai kelayakan jaringan lunak
Untuk melakukan apapun eksisi jaringan lebih lanjut yang
diperlukan
Untuk mencuci akumulasi bekuan darah, jaringan gumpalan
cairan atau benda asing yang tersisa

34

BAB III.
KESIMPULAN
Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan
lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga
timbul komplikasi berupa infeksi. Luka pada kulit dapat berupa tusukan tulang
yang tajam keluar menembus kulit atau dari luar oleh karena tertembus misalnya
oleh peluru atau trauma langsung.
Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan
penanganan yang terstandar untuk mengurangi resiko dan komplikasi dari fraktur
terbuka.. Hubungan dengan dunia luar dapat terjadi karena penyebab rudapaksa
merusak kulit, jaringan lunak dan tulang atau fragmen tulang merusak jaringan
lunak dan menembus kulit.
Semua patah

tulang terbuka adalah kasus gawat darurat. Karena itu

penanganan patah tulang terbuka harus dilakukan sebelum golden periode


terlampaui agar sasaran akhir penanganan patah tulang terbuka tercapai.

35

DAFTAR PUSTAKA

Apley A.G., Nagayam S., Solomon L., Warwick D. 2001. Apleys System
of Orthopaedics and Fractures: Arnold
Apley, A.G., Nagayam S., Solomon, L., Warwick, D. (2001). Apleys
System of Orthopaedics and Fractures. :Arnold
Bucholz Robert W., Heckman James D., Court-Brown Charles. 2006.
Rockwood and Greens Fractures in Adults 6th Edition. Lippincott
Williams&Wilkins
Colton.CL, Holz U., Kellam JF. 2000. AO Principles of Fracture
Management. AO publishing. George Thieme Verlag
Cross & Swiontkowski. (2008). Treatment Principles in the Management
of Open Fractures. Indian Journal of Orthopaedics. 42(4). 377-386.
Gustillo, R. B., Merkow, R. L., Templeman, D.(1990).The Management of
Open Fractures. The Journal of Bone and Joints Surgery.72A(2).299-304
http://eorif.com/General/Open%20Fx%20Class.html
Koval K.J. and Zuckerman J.D. 2006. Handbook of Fractures, 3rd Ed.
Lippincott: Williams & Wilkins, pp: 20-29
Luchette F.A. 2008. East Practice Management Guidelines Work Group:
Update to Practice Management Guidelines for Prophylactic
Antibiotic Use in Open Fractures, Eastern Association For The
Surgery Of Trauma. Panitia Farmasi dan Terapi (PFT). Standar
Terapi Rumah Sakit Perjan RSUP. DR. M. Djamil Padang.

36

Mansjoer A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media


Aesculapius, pp: 346-370
Patzakis,M.J., Harvey J.P, Ivler D. 1984. The role of antibiotic therapy for
severe open fractures. J.Bone and Joint Surg.
Rasjad C. 2008. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: Yarsif
Watampone, pp: 332-334.
Sjamsuhidajat R. and Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.
Jakarta: EGC, pp: 840-841

37