P. 1
Pola & Proses Komunikasi Keluarga

Pola & Proses Komunikasi Keluarga

|Views: 1,054|Likes:
Published by rahmani

More info:

Published by: rahmani on May 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2012

pdf

text

original

POLA & PROSES KOMUNIKASI

KELUARGA
POLA & PROSES KOMUNIKASI
KELUARGA
by arie
Pengertian komunikasi hams ditinjau
dari 2 sudut pandang, yaitu komunikasi
dalam pengertian secara umum dan
pengertian secara paradigmatik,
sehingga akan menjadi jelas bagaimana
pelaksanaan teknik komunikasi itu.
Definisi Definisi
1. Pengertian komunikasi secara umum
± Setiap orang yang hidup dalam masyarakat,
sejak bangun tidur sampai tidur lagi, secara
kodrati senantiasa terlibat dalam komunikasi.
Terjadinya komunikasi adalah sebagai
konsekuensi hubungan sosial (social relations).
Masyarakat paling sedikit terdiri dari dua orang
yang saling berhubungan satu sama lain yang,
karena berhubungan, menimbulkan interaksi
sosial (social interaction). Terjadinya interaksi
sosial disebabkan interkomunikasi
(intercommunication).
Komunikasi dlm pengertian umum dpt
dilihat dr 2 segi :
Komunikasi dlm pengertian umum dpt
dilihat dr 2 segi :
a. Pengertian komunikasi secara etimologis.
± Secara etimologis atau menurut asal katanya, istilah
komunikasi berasal dari bahasa Latin communication
dan perkataan ini bersumber pada kata communis.
Perkataan communis tersebut sama sekali tidak ada
kaitannya dengan partai komunis yang sering dijumpai
dalam kegiatan politik. Arti communis di sini adalah
sama, dalam arti kata sama makna, yaitu sama
makna mengenai suatu hal. Jadi, komunikasi
berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat
terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang
dikomunikasikan.
b. Pengertian komunikasi secara
terminologis.
±Secara terminologis komunikasi berarti
proses penyampaian suatu pernyataan
oleh seseorang kepada orang lain. Dari
pengertian itu jelas bahwa komunikasi
melibatkan sejumlah orang, di mana
seseorang menyatakan sesuatu kepada
orang lain.
Dari pengertian di atas/ komunikasi yang dibahas di sini
tidak termasuk komunikasi hewan, komunikasi
transendental, dan komunikasi fisik.
Dari pengertian di atas/ komunikasi yang dibahas di sini
tidak termasuk komunikasi hewan, komunikasi
transendental, dan komunikasi fisik.
Komunikasi hewan adalah komunikasi
antarhewan. Gajah dengan gajah berkomunikasi,
burung dengan burung berkomunikasi, dan
sebagainya.
Komunikasi transendental adalah komunikasi
dengan sesuatu yang bersifat ³gaib´, termasuk
komunikasi dengan Tuhan.
Komunikasi fisik adalah komunikasi yang
menghubungkan tempat yang satu dengan tempat
yang lain, misalnya dua tempat yang dihubungkan
oleh kereta api, bis, pesawat terbang, dan lain-lain
kendaraan, yang mengangkut manusia.
2. Pengertian komunikasi secara
paradigmatis
2. Pengertian komunikasi secara
paradigmatis
Dalam pengertian paradigmatis,
komunikasi mengandung tujuan ter-tentu;
ada yang dilakukan secara lisan, secara
tatap muka, atau melalui me-dia, baik
media massa seperti surat kabar, radio,
televisi, atau film, maupun media
nonmassa, misalnya surat, telepon, papan
pengumuman, poster, spanduk, leaflet dan
sebagainya.
Jadi komunikasi dalam pengertian
paradigmatis bersifat intensional
(in-tentional), mengandung tujuan;
karena itu harus dilakukan dengan
perencanaan. Sejauh mana kadar
perencanaan itu, bergantung kepada
pesan yang akan dikomunikasikan dan
pada komunikan yang dijadikan
sasaran.
Dalam definisi tersebut tersimpul tujuan,
yakni memberi tahu atau mengubah
sikap (attitude), pendapat (opinion),
atau perilaku (behavior).
Fungsi komunikasi terapeutik Fungsi komunikasi terapeutik
Model struktural dr komunikasi mengidentifikasi
5 komponen fungsional berikut (Hamid,1990)
Model struktural dr komunikasi mengidentifikasi
5 komponen fungsional berikut (Hamid,1990)
a.Pengirim : yang menjadi asal dari pesan.
b.Pesan : suatu unit informasi yang dipindahkan dari
pengirim kepada penerima.
c.Penerima : yang mempersepsikan pesan, yang
perilakunya dipengaruhi oleh pesan.
d.Umpan balik : respon dari penerima pesan kepada
pengirim pesan.
e.Konteks : tatanan di mana komunikasi terjadi.
Jika perawat mengevaluasi proses komunikasi
menggunakan lima elemen struktur ini maka masalah-
masalah yang spesifik atau kesalahan yang potensial
diidentifikasi.
Menurur Roger, terdapat beberapa karakteristik
dari seorang perawat yang dapat memfasilitasi
tumbuhnya hubungan yang terapeutik.Karakteristik
tersebut antara lain : (Suryani,2005)
a.Kejujuran (trustworthy).
b.Tidak membingungkan dan cukup ekspresif
c.Bersikap positif. Bersikap positif dapat
ditunjukkan dengan sikap yang hangat, penuh
perhatian dan penghargaan terhadap klien.
d. Empati/penghayatan.
e. Mampu melihat permasalahan klien
dari kacamata klien.
f. Menerima klien apa adanya.
g. Sensitif thdp perasaan klien.
h. Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu
klien ataupun diri perawat sendiri.
Unsur* Komunikasi : Unsur* Komunikasi :
1. Sumber (resource)
2. Pesan (message)
3. Saluran (Chanel/media)
4. Penerima (receiver/audience)
Struktur komunikasi terapeutik Struktur komunikasi terapeutik
Struktur dalam komunikasi terapeutik,
menurut Stuart,G.W.,1998, terdiri dari 4 fase
yaitu:
(1) fase pre interaksi;
(2) fase perkenalan atau orientasi;
(3) fase kerja;
(4) fase terminasi (Suryani,2005). Dalam
setiap fase terdapat tugas atau kegiatan
perawat yang harus terselesaikan.
Penjelasan fase pre interaksi Penjelasan fase pre interaksi
Tugas perawat :
1)Mengeksplorasi perasaan,harapan dan
kecemasannya;
2)Menganalisa kekuatan dan kelemahan diri,
3)Mengumpulkan data tentang klien,
4)Membuat rencana pertemuan secara
tertulis, yang akan di implementasikan
saat bertemu dengan klien.
Penjelasan fase orientasi Penjelasan fase orientasi
Tugas perawat :
1)Membina hubungan saling percaya,
2)Merumuskan kontrak bersama klien.
(tempat,waktu dan topik pertemuan)
3)Menggali perasaan dan pikiran serta
mengidentifikasi masalah klien. Tekhnik
yg digunakan adalah pertanyaan terbuka;
4)Merumuskan tujuan dengan klien. Tujuan
dirumuskan setelah masalah klien
teridentifikasi.
Penjelasan fase Kerja Penjelasan fase Kerja
Tahap ini merupakan inti dari keseluruhan proses
komunikasi teraeutik.Tahap ini perawat bersama
klien mengatasi masalah yang dihadapi
klien.Perawat dan klien mengeksplorasi stressor
dan mendorong perkembangan kesadaran diri
dengan menghubungkan persepsi, perasaan dan
perilaku klien.Tahap ini berkaitan dengan
pelaksanaan rencana asuhan yang telah
ditetapkan.Tekhnik komunikasi terapeutik yang
sering digunakan perawat antara lain
mengeksplorasi, mendengarkan dengan aktif,
refleksi, berbagai persepsi, memfokuskan dan
menyimpulkan (Geldard,D,1996, dikutip dari
Suryani, 2005).
Penjelasan fase Terminasi Penjelasan fase Terminasi
Fase ini merupakan fase yang sulit dan penting,
karena hubungan saling percaya sudah terbina dan
berada pada tingkat optimal. Perawat dan klien
keduanya merasa kehilangan. Terminasi dapat
terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada
unit tertentu atau saat klien akan pulang. Perawat
dan klien bersama-sama meninjau kembali proses
keperawatan yang telah dilalui dan pencapaian
tujuan. Untuk melalui fase ini dengan sukses dan
bernilai terapeutik, perawat menggunakan konsep
kehilangan.
Terminasi merupakan akhir dari
pertemuan perawat, yang dibagi dua
yaitu:
1)Terminasi sementara, berarti masih
ada pertemuan lanjutan;
2)Terminasi akhir, terjadi jika perawat
telah menyelesaikan proses
keperawatan secara menyeluruh.
Tugas perawat pada fase ini yaitu :
a)Mengevaluasi pencapaian tujuan interaksi yang telah
dilakukan, evaluasi ini disebut evaluasi objektif.
b)Melakukan evaluasi subjektif, dilakukan dengan
menanyakan perasaan klien setalah berinteraksi atau
setelah melakukan tindakan tertentu;
c)Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah
dilakukan. Hal ini sering disebut pekerjaan rumah
(planning klien). Dengan tindak lanjut klien tidak akan
pernah kosong menerima proses keperawatan dalam 24
jam;
d)Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya.
Menurut Potter dan Perry (1993),
Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan
Tappen (1995) ada tiga jenis
komunikasi yaitu
1. verbal,
2. tertulis dan
3. non-verbal yang dimanifestasikan
secara terapeutik.
Komunikasi Verbal Komunikasi Verbal
Komunikasi Verbal yang efektif harus:
1. Jelas dan ringkas
Komunikasi yang efektif harus
sederhana, pendek dan langsung.
Contoh: ³Katakan pada saya
dimana rasa nyeri anda´ lebih baik
daripada ³saya ingin anda
menguraikan kepada saya bagian
yang anda rasakan tidak enak.´
2. Perbendaharaan Kata
Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim
pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan
ucapan.
Ucapkan pesan dengan istilah yang
dimengerti klien. Daripada mengatakan
³Duduk, sementara saya akan
mengauskultasi paru-paru anda´ akan lebih
baik jika dikatakan ³Duduklah sementara saya
mendengarkan paru-paru anda´.
3. Arti denotatif dan konotatif
4. Selaan dan kesempatan berbicara
5. Waktu dan relevansi
6. Humor
KOMUNIKASI NON-VERBAL KOMUNIKASI NON-VERBAL
Komunikasi non-verbal adalah
pemindahan pesan tanpa
menggunakan katakata.
Merupakan cara yang paling
meyakinkan untuk menyampaikan
pesan kepada orang lain.
Komunikasi non-verbal teramati pada: Komunikasi non-verbal teramati pada:
1. Metakomunikasi
Metakomunikasi adalah suatu
komentar terhadap isi pembicaraan
dan sifat hubungan antara yang
berbicara, yaitu pesan di dalam
pesan yang menyampaikan sikap
dan perasaan pengirim terhadap
pendengar. Contoh: tersenyum
ketika sedang marah.
2. Penampilan Personal
Penampilan seseorang merupakan salah satu
hal pertama yang diperhatikan selama
komunikasi interpersonal. Kesan pertama
timbul dalam 20 detik sampai 4 menit pertama.
84 % dari kesan terhadap seserang
berdasarkan penampilannya (Lalli Ascosi, 1990
dalam Potter dan Perry, 1993).
Bentuk fisik, cara berpakaian dan berhias
menunjukkan kepribadian, status sosial,
pekrjaan, agama, budaya dan konsep diri.
3. Intonasi (Nada Suara)
Nada suara pembicara mempunyai
dampak yang besar terhadap arti pesan
yang dikirimkan, karena emosi seseorang
dapat secara langsung mempengaruhi
nada suaranya. Perawat harus menyadari
emosinya ketika sedang berinteraksi
dengan klien, karena maksud untuk
menyamakan rsa tertarik yang tulus
terhadap klien dapat terhalangi oleh nada
suara perawat.
4. Ekspresi wajah
Hasil suatu penelitian menunjukkan
enam keadaan emosi utama yang
tampak melalui ekspresi wajah:
terkejut, takut, marah, jijik, bahagia
dan sedih. Ekspresi wajah sering
digunakan sebagai dasarpenting
dalam menentukan pendapat
interpesonal.
5. Sikap tubuh dan langkah
Sikap tubuh dan langkah
menggambarkan sikap; emos, konsep
diri dan keadaan fisik. Perawat dapat
mengumpulkan informasi yang
bermanfaat dengan mengamati
sikap tubuh dan langkah klien.
Langkah dapat dipengaruhi oleh
faktor fisik seperti rasa sakit, obat,
atau fraktur.
6. Sentuhan
Kasih sayang, dukungan emosional,
dan perhatian disampaikan melalui
sentuhan.
Sentuhan merupakan bagian yang
penting dalam hubungan perawat-
klien, namun harus memperhatikan
norma sosial.
Proses komunikasi Proses komunikasi
Secara ringkas, proses berlangsungnya
komunikasi bisa digambarkan seperti berikut.
1. Komunikator (sender) yang mempunyai maksud
berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan
suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan
yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam
bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang
bisa dimengerti kedua pihak.
2. Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa
melalui suatu media atau saluran baik secara
langsung maupun tidak langsung. Contohnya
berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail,
atau media lainnya.
3. Komunikan (receiver) menerima pesan
yang disampaikan dan menerjemahkan
isi pesan yang diterimanya ke dalam
bahasa yang dimengerti kedua pihak.
4. Komunikan (receiver) memberikan
umpan balik (feedback) atau tanggapan
atas pesan yang dikirimkan kepadanya,
apakah dia mengerti atau memahami
pesan yang dimaksud oleh si pengirim.
Metode dan Tehnik Komunikasi Metode dan Tehnik Komunikasi
1. Metode Komunikasi
dlm hal penyampaian pesan dr
komunikator kpd komunikan byk cara
(metode) yg ditempuh, hal ini tergantung pd
macam* tingkat pengetahuan, pendidikan,
sosial budaya dan latar belakang dr
komunikan shg komunikator hrs dpt dmelihat
metode atau cara apa yg akan dipakai
supaya pesan yg disampaikan mengenai
sasaran. Metode atau cara tsb antara lain ;
a. Komunikasi 1 tahap
Komunikator mengirimkan pesan langsung kpd
komunikan shg timbul kemungkinan trjd proses
komunikasi 1 arah.
a. Komunikasi 1 tahap
Komunikator mengirimkan pesan langsung kpd
komunikan shg timbul kemungkinan trjd proses
komunikasi 1 arah.
(C)
(A)
(D)
(B)
b.Komunkasi 2 tahap
Komunikator dlm menyampaikan pesannya tdk lgsng kpd
komunikan, but melalui orang* ttt & kemudian mereka ini
meneruskan pesan kpd komunikan.
b.Komunkasi 2 tahap
Komunikator dlm menyampaikan pesannya tdk lgsng kpd
komunikan, but melalui orang* ttt & kemudian mereka ini
meneruskan pesan kpd komunikan.
(A)
(B)
(B) (B)
(C)
(C) (C)
1 Tahap
2 Tahap
c. Komunikasi byk tahap
dlm menyampaikan pesan, komunikator melakukan dgn cara*
lain, tdk selalu mempergunakan komunikasi 1 arah dan
komunikasi 2 arahbut dgn cara lain, yakni dgn melalui berbagai
tahap.
c. Komunikasi byk tahap
dlm menyampaikan pesan, komunikator melakukan dgn cara*
lain, tdk selalu mempergunakan komunikasi 1 arah dan
komunikasi 2 arahbut dgn cara lain, yakni dgn melalui berbagai
tahap.
(A)
(C)
(B) (D)
(C)
(C)
2. Tehnik Komunikasi 2. Tehnik Komunikasi
Stuart dan Sundeen, (1998) mengidentifikasi teknik
komunikasi terapeutik sebagai berikut:
1.Mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dalam hal ini perawat berusaha mengerti klien
dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan
klien. Mendengar merupakan dasar utama dalam
komunikasi. Dengan mendengar perawat mengetahui
perasaan klien. Beri kesempatan lebih banyak pada
klien untuk berbicara. Perawat harus menjadi
pendengar yang aktif.
2.Menunjukkan penerimaan.
Menerima tidak berarti menyetujui,
menerima berarti bersedia untuk
mendengarkan orang lain tanpa
menunjukkan keraguan atau
ketidaksetujuan.
3.Menanyakan pertanyaan yang berkaitan.
Tujuan perawat bertanya adalah untuk
mendapatkan informasi yang spesifik
mengenai apa yang disampaikan oleh klien.
4.Mengulangi ucapan klien dengan
menggunakan kata-kata sendiri.
Melalui pengulangan kembali kata-kata klien,
perawat memberikan umpan balik bahwa
perawat mengerti pesan klien dan berharap
komunikasi dilanjutkan.
5.Mengklasifikasi.
Klasifikasi terjadi saat perawat berusaha
untuk menjelaskan dalam kata-kata ide atau
pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh klien.
6.Memfokuskan.
Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan
pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih
spesifik dan dimengerti.
7.Menyatakan hasil observasi.
Dalam hal ini perawat menguraikan kesan yang
ditimbulkan oleh isyarat non verbal klien.
8.Menawarkan informasi.
Memberikan tambahan informasi merupakan
tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien yang
bertujuan memfasilitasi klien untuk mengambil
keputusan.
9.Diam.
Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan
klien untuk mengorganisir. Diam memungkinkan klien untuk
berkomunikasi dengan dirinya sendiri, mengorganisir pikiran
dan memproses informasi.
10.Meringkas.
Meringkas pengulangan ide utama yang telah
dikomunikasikan secara singkat.
11.Memberi penghargaan.
Penghargaan janganlah sampai menjadi beban untuk klien
dalam arti jangan sampai klien berusaha keras dan
melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian dan
persetujuan atas perbuatannya.
12.Memberi kesempatan kepada klien untuk
memulai pembicaraan.
Memberi kesempatan kepada klien untuk
berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.
13.Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan.
Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien
untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan.
14.Menempatkan kejadian secara berurutan.
Mengurutkan kejadian secara teratur akan
membantu perawat dan klien untuk melihatnya
dalam suatu perspektif.
15.Memberikan kesempatan kepada klien
untuk menguraikan persepsinya
Apabila perawat ingin mengerti klien, maka
perawat harus melihat segala sesuatunya
dari perspektif klien.
16.Refleksi.
Refleksi memberikan kesempatan kepada
klien untuk mengemukakan dan menerima
ide dan perasaannya sebagai bagian dari
dirinya sendiri.
Hambatan Komunikasi Terapeutik. Hambatan Komunikasi Terapeutik.
Hambatan komunikasi terapeutik dalam
hal kemajuan hubungan perawat-klien
terdiri dari tiga jenis utama : resistens,
transferens, dan kontertransferens
(Hamid, 1998).
Penjelasan resistens Penjelasan resistens
Resisten adalah upaya klien untuk tetap
tidak menyadari aspek penyebab
ansietas yang dialaminya.
Penjelasan transferens Penjelasan transferens
Transferens adalah respon tidak sadar
dimana klien mengalami perasaan dan
sikap terhadap perawat yang pada
dasarnya terkait dengan tokoh dalam
kehidupannya di masa lalu.
Ada dua jenis utama reaksi
bermusuhan dan tergantung.
Penjelasan kontertransferens Penjelasan kontertransferens
Yaitu kebuntuan terapeutik yang dibuat oleh
perawat bukan oleh klien.
Reaksi ini biasanya berbentuk salah satu dari
tiga jenis reaksi sangat mencintai, reaksi
sangat bermusuhan atau membenci dan
reaksi sangat cemas sering kali digunakan
sebagai respon terhadap resisten klien.
DAFTAR RUJUKAN DAFTAR RUJUKAN
Stuart.G.W. & Sundeen.S.J.(1998) .
Buku Saku Keperawatan Jiwa.Alih
Bahasa: Achir Yani S. Hamid. ed ke-3.
Jakarta, EGC
Potter, P.A & Perry, A.G. (1993)
Fundamental of Nursing Concepts,
Process and Practice. Thrd edition.
St.Louis: Mosby Year Book

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->