BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Inovasi teknologi dalam Industri perminyakan selalu berkembang
pesat seiring dengan peningkatan iptek, penelitian terus dilakukan dengan
tujuan agar diperoleh teknologi baru yang mendukung operasi dilapangan
yang layak secara teknis, ekonomis dan ramah lingkungan.
Pada umumnya, harapan dari mayoritas drilling engineer terhadap
perkembangan teknologi pemboran adalah tersedianya berbagai macam
alat dan service yang dapat mendukung teknologi rotary drilling
conventional, tetapi perkembangan peralatan tersebut harus dalam bentuk
yang lebih kecil dan kuat. Namun realitanya, akan lebih mudah membuat
alat-alat yang lebih kuat tapi berukuran besar dibandingkan dengan
membangun suatu alat yang kuat tapi dengan ukuran lebih kecil.
Perkembangan teknologi pemboran terus dilakukan untuk
memaksimalkan perolehan minyak dan gas dari suatu sumur. Untuk itu
program pemboran yang efisien dan efektif harus dirancang sebaik
mungkin, hingga diharapkan bisa memenuhi kriteria:
(Low Cost & Low Risk) + High Tech  SUCCESS
Salah satu metode baru dalam bidang pemboran yang relatif
mampu memenuhi kriteria tersebut adalah teknologi Coiled Tubing (CT),
yaitu suatu teknologi pemboran yang tidak lagi memerlukan rig dan
rangkaian drillpipe, kemampuan mobilisasi lebih cepat, kebutuhan crew
dan peralatan lebih sedikit, area kerja yang lebih kecil, efektif pada
slimhole & re-entry drilling, serta memberikan kemampuan continuous
telemetry jika dibandingkan pada operasi pemboran rotary konvensional.
Dan teknologi ini secara efisien dapat mengurangi waktu kerja dan biaya,
hal yang sangat vital dalam pemboran.
Dorongan untuk melakukan operasi pemboran dengan
menggunakan coiled tubing diantaranya adalah:
1. Pressure integrity pada coiled tubing menyebabkan bisa
dilakukannya entry ke sumur yang masih berproduksi, dan
efektif untuk underbalanced drilling.
2. Slimhole capability pada coiled tubing yang memungkinkan
untuk melakukan pemboran re-entry pada sumur dengan
diameter kecil < 7 inch.
3. Continuous telemetry, hal ini memungkinkan dilakukannya
MWD, LWD serta monitoring tekanan dan temperatur secara
kontinu dan realtime karena didalam coiled tubing terdapat
jaringan electric wireline yang terhubung langsung dari
peralatan permukaan ke BHA
Dalam pengoperasiannya coiled tubing juga mempunyai limitasi
atau batasan sebagai akibat dari gaya-gaya yang bekerja padanya.
Batasan tersebut meliputi batasan tekanan dan tension, diameter dan
keovalan, kelelahan dan korosi serta batasan lifetime (masa pakai).
1.2 TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan studi literatur ini untuk mengetahui gambaran
terhadap teknologi pemboran di darat menggunakan teknologi coiled
tubing dan aspek-aspek yang perlu diperhatikan pada proses pengeboran
eksplorasi suatu reservoir menggunakan teknologi coiled tubing tersebut.
Dan untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah Studi Literatur
dalam rangka mendapatkan gelar sarjana Teknik Perminyakan dari
Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Islam Riau – Pekanbaru.
1.3 BATASAN MASALAH
Pembahasan materi pada tulisan ini dibatasi pada bahasan operasi
dan penerapan coiled tubing pada pemboran, yang meliputi:
1. Dasar
teknologi coiled tubing
2
Latar belakang, komponen, batasan teknis dan mekanis, serta
gaya yang bekerja pada coiled tubing.
2. Aplikasi
coiled tubing pada pemboran
Peralatan, batasan operasi, persiapan dan penerapan coiled
tubing drilling
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
Tulisan ini terdiri dari 5 bab yang membahas hal-hal berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan,
batasan dan sistematika penulisan studi literatur ini.
BAB II TEKNOLOGI COILED TUBING
Di bab ini akan dijelaskan dasar-dasar coiled tubing meliputi:
latar belakang, komponen, batasan operasi dan kelelahan
serta gaya-gaya yang bekerja pada sistem coiled tubing ini.
BAB III APLIKASI COILED TUBING PADA PEMBORAN
Disini antara lain akan dijelaskan tentang: peralatan, batasan
yang perlu diperhatikan, persiapan yang dilakukan sebelum
melakukan pemboran dan penerapan teknologi coiled tubing
pada pemboran.
BAB IV PEMBAHASAN
Berisi pembahasan terhadap hal-hal penting yang perlu
diperhatikan ketika menerapkan teknologi coiled tubing pada
suatu operasi pemboran.
BAB V KESIMPULAN
3
Bab ini berisi kesimpulan penting yang dapat ditarik dari
studi literatur yang disusun oleh penulis.
4
BAB II
TEKNOLOGI COILED TUBING
Berikut akan dijelaskan dasar-dasar coiled tubing yang meliputi:
latar belakang, komponen, batasan operasi dan kelelahan serta gaya-
gaya yang bekerja pada sistem coiled tubing ini.
2.1. LATAR BELAKANG PENGGUNAAN COILED TUBING
Teknologi di dunia industri perminyakan selalu berkembang pesat
dengan berjalannya waktu. Penelitian-penelitian untuk mendapatkan
teknologi baru terus dilakukan, sehingga pada akhirnya akan diperoleh
suatu metode dan teknologi baru yang dapat meningkatkan dukungan
terhadap operasi dilapangan. Hal ini diharapkan mampu memenuhi
kriteria low cost karena industri perminyakan tidak lepas dari kegiatan
yang memerlukan investasi dan biaya yang sangat besar, serta kriteria
low risk yang aman dan bersahabat dengan lingkungan.
Coiled tubing merupakan salah satu penemuan baru dan terus
mengalami perkembangan. Pengertian coiled tubing itu sendiri adalah:
suatu tubing yang dapat digulung dan bersifat plastis, terbuat dari bahan
baja yang kontinu (tidak bersambung). Dan teknologi ini sendiri tidak lagi
memerlukan rig dan rangkaian drillpipe, bisa dimobilisasi lebih cepat,
membutuhkan crew dan peralatan lebih sedikit, area kerja yang lebih kecil,
sangat efektif pada slimhole & through tubing re-entry drilling, serta
memberikan kemampuan continuous telemetry jika dibandingkan pada
operasi pemboran rotary konvensional. Kelebihan-kelebihan dari coiled
tubing tersebut dapat menjadi pilihan teknologi yang diharapkan dalam
aplikasi terhadap operasi pemboran dilapangan.
Walaupun sebenarnya teknologi coiled tubing drilling ini belum
mampu sepenuhnya menggantikan keberadaan teknologi conventional
rotary drilling namun dalam beberapa hal terbukti penggunaan coiled
tubing drilling lebih efektif untuk digunakan.
5
Gambar 2.1
Perbandingan Coiled Tubing Drilling Unit (kiri)
dan Conventional Rotary Drilling Unit (kanan)
2.1.1. SEJARAH COILED TUBING
Coiled Tubing pertama kali di pergunakan dalam perang dunia ke II
didalam operasi PLUTO (Pipe Lines Under The Ocean) sebelum invasi
sekutu ke Normandy pada bulan Juni 1944. Beberapa pipa dengan ID 3”
disiapkan untuk menyeberangi Selat Inggris yang dibuat dari 4000 ft
bagian. Pipa tersebut kemudian dihubungkan satu sama lain dan digulung
menjadi gulungan dengan diameter 40 ft. Gulungan ini kemudian
diapungkan diair dan ditarik dibelakang kabel kapal-kapal. Dengan
menggunakan drum-drum yang mengapung diair sebagai pendukung, 23
pipa menghubungkan selat dan digunakan untuk mensuplai minyak pada
serangan sekutu untuk membebaskan Eropa. Dari 23 pipa yang
digunakan, 17 pipa dengan panjang kira-kira 30 mil, dan 6 pipa yang
panjangnya kira-kira 70 mil. Selama 20 tahun kemudian beberapa
penemuan yang dirancang khusus untuk menginjeksikan tubing dengan
diameter kecil kedalam sumur. Injector Head pertama kali dirancang
diawal tahun 1960 dengan unit workover yang pertama kali menggunakan
“continuous-string light”. Injector Head yang pertama dirancang untuk
memasukkan coiled kedalam sumur dan menariknya setelah operasi
selesai. Injector Head ini terdiri dari sistim rantai yang menjalankan
rangkaian Tubing dengan ID 1,315” dan beban permukaan 30.000 lbs.
6
Coiled tubing injector head dengan sistim baru pertama kali
diperkenalkan pada tahun 1964 yang mempunyai kemampuan
menjalankan coiled yang dapat berlekuk-lekuk. Unit ini dibuat dengan
diameter ¾”. Unit ini dipergunakan untuk pembersihan lubang bor baik
didarat maupun dilaut. Pada tahun 1967 sebuah versi yang lebih kecil
injector head dengan diameter ½” dikeluarkan oleh NOWSCO. Pada
tahun 1968 coiled tubing sistim dengan diameter ¾” dan 8000 lbs
dikeluarkan. Dari tahun 1968-1975 ukuran coiled tubing meningkat jadi 1”
dan dengan menggunakan sistim hidrolik. Dari tahun 1975-1979 banyak
peralatan coiled tubing diperkenalkan dalam industri perminyakan
termasuk Uni-Flex, Hydra Rig dan Otis. Yang mempunyai kualitas dan
kemampuan yang lebih baik. Pengembangan coiled tubing injector head
yang mampu mencapai kedalaman 8.500 ft dengan diameter ¾” dibuat
pada tahun 1985, dan pada tahun ini juga ditemukan aplikasi coiled tubing
untuk logging. Dan sekarang ini, perkembangan coiled tubing telah
mempunyai variasi diameter antara 1 “ - 7 “.
2.1.2. PENGANTAR COILED TUBING
Banyak variasi tipe coiled tubing unit telah dioperasikan di industri
migas sejak tahun 1963. Karena banyaknya kelelahan mekanik pada
peralatan ini menyebabkan teknologi ini tidak populer. Tapi belakangan ini
ledakan pengembangan dan teknologi baru terus dilakukan pada setiap
area lapangan minyak, dan itu menjadi awal dari sebuah pengembangan.
Industri coiled tubing terus berkembang seiring investasi dan
inovasi yang terus dilakukan untuk memahami kelakuan coiled tubing.
Hasilnya teknologi coiled tubing telah mengalami kemajuan di beberapa
bidang, meliputi kemampuan motor, peralatan pada BHA, pengembangan
drilling fluid serta peralatan pendukung di permukaan. Coiled tubing
drilling sendiri mulai populer digunakan sejak tahun 1991, diawali dengan
project di area Paris Basin, dan Alaska North Slope yang terbukti berhasil.
Konsep operasi dari coiled tubing sistem adalah suatu sistem
continous string dengan diameter kecil yang dimasukkan kedalam sumur.
Pada proses trip out (dimana kecepatan trip coiled tubing mencapai 70 –
7
120 ft/mnt), diameter tubing yang kecil dan tanpa sambungan ini dapat
diangkat dari sumur dan digulung dalam reel dengan cepat, kemudian
bisa dipindahkan ke lokasi lain dalam waktu yang relatif singkat pula.
Coiled tubing menawarkan beberapa keuntungan lebih daripada
conventional jointed tubing, diantaranya penghematan waktu dan biaya,
pressure integrity yang lebih baik pada sumur yang masih berproduksi,
slimhole capability, continuous telemetry, meminimalkan kerusakan
formasi dan aman terhadap lingkungan disekitar.
2.1. PERALATAN COILED TUBING
Komponen pada sistem coiled tubing meliputi surface equipments
dan subsurface equipments. Berikut akan dibahas lebih lanjut mengenai
peralatan diatas permukaan dan peralatan dibawah permukaan yang
digunakan pada operasi coiled tubing.
2.2.1. PERALATAN DIATAS PERMUKAAN
Gambar 2.2
Peralatan Coiled Tubing di Atas Permukaan
8
Peralatan di atas permukaan yang terdapat dalam operasi
pemboran menggunakan teknologi coiled tubing, meliputi :
a. Tubing Injector Heads
Tubing injector heads didesain untuk tiga fungsi dasar, yaitu :
1. Memberikan daya dorong dan tarikan untuk
memasukkan dan mengeluarkan tubing dari dan kedalam
sumur.
2. Menanggulangi gesekan coiled tubing dengan
dinding sumur.
3. Untuk mengontrol kecepatan masuk dan keluar
coiled tubing, serta menahan seluruh berat rangkaian coiled
tubing.
Tubing dapat diangkat untuk mengetahui kondisi BHA dan keadaan
dasar sumur. Tubing injector head digerakkan rantai menggunakan
tenaga contra rotating hydraulic motor.
Gambar 2.3
Tubing Injector Head
Tubing injector heads terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
1. Hydraulic motors
Memberikan daya tarik yang diperlukan untuk menggerakkan
tubing keluar maupun masuk ke dalam sumur. Dengan cara
mengontrol tekanan dan flowrate dari fluida hidrolik untuk
mengontrol motor, kecepatan dan energi potensial yang
digunakan oleh injector head.
2. Drive chains (rantai)
9
Terdiri dari mata rantai, gripper blocks dan roller bearings. Pada
waktu terjadi beban pada rangkaian tubing yang disebabkan
oleh adanya gesekan, maka kinerja block ini sangat penting
untuk menjamin effisiensi operasi dari tubing injector head dan
menghindari terjadinya kerusakan mekanik pada tubing.
3. Chain tensioners
Pada waktu tubing dimasukkan ke dalam sumur, beban pada
injector chain bertambah sehingga diperlukan tenaga pada
gripper block untuk mempertahankan daya tarik. Untuk
mengatasi hal ini digunakan tekanan hidrolik pada bagian
samping dari sistem chain tensioner.
4. Gooseneck
Gooseneck berbentuk lengkungan yang mempunyai radius
kelengkungan tertentu berfungsi untuk mengarahkan CT string
yang berasal dari reel masuk ke injector head melalui bagian
atas dari injector head chains.
5. Weight indicator
Berfungsi untuk menunjukkan besarnya tegangan yang terjadi
pada tubing yang tergantung dalam sumur, termasuk efek yang
terjadi karena tekanan di kepala sumur maupun efek buoyancy.
Weight indicator dapat dijalankan dengan cara hidrolik,
elektronik maupun kombinasi diantara keduanya.
Tabel II. 1
Spesifikasi Injector Head
b. Stripper
Terletak diantara injector dan BOP, berfungsi untuk memberikan
tekanan kecil untuk menutup dan mengerakkan coiled tubing
10
masuk atau keluar dari sumur sehingga tidak terjadi hubungan
antara tekanan sumur dengan tekanan permukaan. Ketika
melakukan pemboran ataupun trip proses, stripper akan menyegel
anulus. Tekanan pada stripper dapat diatur oleh operator didalam
kontrol kabin, dengan minimum working pressure 5000 psi.
c. Coiled Tubing Reel
Coiled tubing reel berfungsi sebagai tempat (wadah) bagi coiled
tubing. Reel terbuat dari baja yang mempunyai diameter tertentu
sesuai dengan ukuran dari coiled tubing. Reel dikendalikan oleh
sistem hidrolik yang dilengkapi dengan peralatan untuk menjaga
reel bilamana terjadi kesalahan mekanik ataupun kesalahan
operator. Motor hidrolik menggerakkan rangkaian reel dengan cara
memutar rantai yang dihubungkan dengan gigi-gigi yang terdapat
pada reel. Pada beberapa desain reel terbaru antara motor dan
gearbox dibentuk pada satu rangkaian reel.
Coiled tubing reel juga dilengkapi dengan breaking system untuk
menjaga putaran reel dan control valve dari injector head ketika
berada pada posisi netral. Agar tubing dapat tersusun rapi di reel,
maka digunakan mekanisme levelwind assembly yang membentuk
gulungan lebar dan dapat diangkat untuk ketinggian yang
diinginkan pada jalur antara injector tubing guide dan reel.
Levelwind dilengkapi dengan tubing integrity monitor untuk
mengamati kondisi luar coiled tubing.
Gambar 2.4
CT Reel
11
d. Power Pack
Berfungsi memberikan tenaga untuk operasi dan mengontrol unit
coiled tubing. Umumnya power pack terdiri dari diesel engine
sebagai penggerak untuk mengatur system dan sirkulasi suplai
pompa hydraulic dengan tekanan dan laju aliran yang dikehendaki.
Diesel engine dilengkapi dengan sistem protection untuk menjaga
tingkat kebisingan dalam operasi. Pressure control valve berfungsi
untuk membatasi pengaturan dan sistem tekanan maksimum pada
bagian sirkulasi. Fluida dalam sistem hidrolik harus dijaga agar
tetap bersih dengan menggunakan filter disetiap bagian.
e. Control Cabin
Ruangan control console yang berfungsi untuk mengontrol
pengoperasian dan memonitor komponen coiled tubing unit.
f. BOP (Blow Out Preventer)
Adalah alat yang mengisolasi tekanan dalam lubang sumur,
melindungi coiled tubing serta mengatasi pada saat terjadi situasi
darurat (blow out). Pemilihan BOP yang digunakan pada sistem
coiled tubing ini mempertimbangkan faktor diameter lubang sumur,
biasanya digunakan Quad BOP ataupun Dual BOP. Berikut
beberapa contoh BOP yang digunakan pada coiled tubing drilling.
Gambar 2.5
Dual BOP 5000 psi untuk sumur dengan diameter > 4” (kiri),
dan Quad BOP 10000 psi untuk sumur dengan diameter < 4” (kanan)
12
Untuk melakukan pengontrolan sumur pada operasi coiled tubing,
dibutuhkan komponen berikut untuk menghubungkan, memonitor, dan
mengoperasikan pressure-controlled equipments, yaitu:
 Kill line, untuk jalur memasukkan killing fluid ke annulus
 Choke line, menyalurkan tekanan ke choke manifold
 Choke manifold, mengontrol tekanan sumur selama fasa kritis
pemboran (sep: menjaga tekanan pemboran ketika underbalance)
 Mud return line, jalur keluarnya fluida pemboran
 Mud spool/ riser, penghubung/ penyambung antara BOP dengan
injector head dan menyediakan jalur outlet lumpur ke pit.
Gambar 2.6
CT Unit dengan Injector Head (kiri atas), dan BOP (bawah)
2.2.2. PERALATAN DIBAWAH PERMUKAAN
13
Gambar 2.7
Wireline BHA dan MWD BHA
Spesifikasi peralatan di bawah permukaan yang digunakan dalam
suatu operasi coiled tubing memiliki perbedaan khusus tergantung dengan
jenis pekerjaan atau aplikasi yang dilakukan menggunakan coiled tubing
tersebut. Sebagai gambaran berikut dapat dilihat beberapa jenis aplikasi
coiled tubing yang dilakukan oleh Baker Hughes:
a) Well Cleaning
 Sandtrap system
 Debris Catching
 Underreaming
 Impact Drilling
 Mechanical Scale Removal
 High Pressure Jet Washing
 Vortech Pulsating Jetting Tool
b) Fishing dan Milling
 Recovering Tools with Downhole Vibration Technology
 Recovering Tools with Hydraulically Activated Fishing Tools
 Recovering Coiled Tubing
 Removing and Recovering Obstructions
 Cutting Pipe
14
 Milling
 METAL MUNCHER
®
Milling Assembly with Magnetic Chip
Catcher
 OPTICUT™ Mills
 Vortech Pulsating Bit Sub
c) Zone Isolation
 Through Tubing
 Retrievable Bridge Plug
 Retrievable Packer
 Straddle Systems
 Monobore
d) Stimulation dan Fracturing
 Through Tubing ISAP
 QUIK Drill™ Composite Products
 Retrievable Bridge Plug
e) Sand Control Completions
 Vent Screen System
 Squeeze-Pack System
 Wash-Down System
 Circulating Gravel Pack System
 Sand Control Screens
 FRAQ PAQSM Fluid Systems
f) Flow Management
 Increasing Gas Velocity While Reducing Water Production
 Velocity and Straddle Systems
 CT™ Tension Packer
 Inflatable Straddle System
 Scale Inhibition
 Production/Injection Logging
 Selective-Zone Completion
15
 Shifting Sliding Sleeves
 Nipple-Less Completion Technology
g) Plug dan Abandonment
 Inflatable Permanent Bridge Plug
 Permanent Cement Retainer
 Monobore
h) Sidetracking dan Re-entry
 Slimhole Casing Exit Technology
 Restricted-Bore Whipstock System
 Slimhole Milling Assemblies
 Open-Hole Completions
 Open-Hole Liner Systems
 Coiled Tubing Drilling
Masing-masing aplikasi diatas memiliki susunan BHA yang sangat
spesifik disesuaikan dengan jenis dan objektif dari pekerjaan yang
dilakukan tersebut. Untuk rangkaian BHA yang digunakan pada operasi
coiled tubing drilling, akan dibahas lebih lanjut pada bab III sedangkan
rangkaian BHA aplikasi lainnya tidak dibahas pada studi literatur ini.
2.3. FAKTOR – FAKTOR PENTING PADA COILED TUBING
Pada sumur vertikal, berat coiled tubing yang dimasukkan atau
dikeluarkan dari sumur dapat ditentukan dengan mengetahui berat coiled
tubing persatuan panjang untuk selanjutnya dihitung berat coiled tubing
yang menggantung didalam sumur, kemudian dilakukan koreksi dari berat
terapung (buoyancy effect) yang dialami coiled tubing string terhadap
berat string yang tergantung. Dan berat coiled tubing string ini dapat
diamati pada weight indicator, dengan menganalisa berat string dapat
diketahui indikasi gaya yang bekerja pada string tersebut.
Pada sumur miring atau horizontal, gaya yang diperlukan untuk
mendorong coiled tubing sepanjang lubang bor tidak dapat ditentukan
secara akurat jika hanya menggunakan weight indicator, dimana mesti
diperhitungkan sudut kemiringan rata-rata dari lubang yang dibor untuk
16
mengetahui berat string pada sudut inklinasi tertentu. Sejumlah gaya lain
yang bekerja pada coiled tubing juga harus diperhatikan dalam
menentukan beban.
2.3.1. BERAT TERAPUNG (BUOYANCY)
Berat terapung adalah berat coiled tubing dengan mengkalkulasi
efek dari fluida internal dan eksternal, serta densitas fluida pemboran
(lumpur) yang digunakan pada pemboran dengan coiled tubing tersebut.
Berat terapung untuk suatu elemen string mempunyai efek perubahan
tensile terhadap elemen yang lain.
Berat terapung coiled tubing string mempunyai hubungan dengan
berat string di permukaan, hal itu dapat dilihat pada persamaat berikut:
Dw = 2.67 /(OD
2
– ID
2
) .......................................... (2.1)
Bw = Dw (1 – (Mw/65450) ..................................... (2.2)
2.3.2. RESIDUAL BEND
Residual bend adalah kelengkungan yang dihasilkan saat coiled
tubing dimasukkan sampai ke stripper, sehingga melengkung dengan jari-
jari sekitar 24 ft. Saat tension yang dialami coiled tubing meningkat, coiled
tubing akan berada dalam keadaan lurus. Jika tensionnya berkurang,
tubing akan membentuk lengkungan (residual bend) kembali.
Gambar 2.8
Pelengkungan yang Terjadi Pada Reel dan Gooseneck
2.3.3. BENTUK SUMUR
Bentuk sumur dapat mempengaruhi beban atau gaya yang
diberikan pada coiled tubing string. Berat terapung tubing string akan
17
bervariasi dengan kemiringan sumur. Jika kemiringan sumur berubah,
jumlah gesekan yang disebabkan oleh berat terapung juga akan berubah.
Saat coiled tubing berada dalam keadaan tension dalam lubang
yang melengkung maka coiled tubing akan mengalami gaya terhadap sisi
dalam kurva. Hal ini menyebabkan penambahan gesekan. Hal ini disebut
dengan efek sabuk (belt effect) yang dapat disebabkan oleh perubahan
kemiringan dan azzimuth.
2.3.4. TEKUKAN (BUCKLING)
Gaya kompresif yang bekerja pada coiled tubing dapat
mengakibatkan tertekuknya tubing (buckling). Saat gaya ini melebihi
sinusoidal buckling load, coiled tubing akan tertekuk dengan pola
sinusoidal. Jika gaya ini bertambah, suatu saat akan melebihi helical
buckling load yang mengakibatkan tubing tertekuk dengan pola helical.
Pola ini mengakibatkan bertambahnya gaya akibat banyaknya kontak
antara tubing dengan dinding lubang bor.
2.3.5. TURBULENSI FLUIDA
Pada waktu fluida mengalir dengan kecepatan yang tinggi melalui
coiled tubing atau melalui annulus sekitar coiled tubing akan
menyebabkan coiled tubing bergetar. Getaran ini akan meningkatkan
gesekan antara coiled tubing dengan dinding lubang bor.
2.3.6. GESEKAN PADA STRIPPER
Saat tekanan operasi stripper atau tekanan wellhead meningkat,
maka gaya gesekan pada daerah yang disekat stripper juga meningkat.
Gaya gesek menjadi faktor penting saat beroperasi pada tekanan kepala
sumur yang tinggi. Untuk kasus ekstrim, gesekan yang ditimbulkan dapat
mempersulit penginjeksian coiled tubing melalui stripper.
Gesekan yang terjadi pada stripper diakibatkan oleh adanya
buckling load yang terjadi ketika dua gaya yang berlawanan digunakan
secara longitudinal pada ujung pipa yang tidak bersandar, beban
compressive strength yang dihasilkan dapat menyebabkan tubing string
gagal masuk dan mengalami buckling. Ada dua tipe gaya buckling yang
dihubungkan dengan beban compressive yang dialami coiled tubing pada
18
saat operasi hidrolika pada kerja ulang yaitu major axis buckling dan local
buckling. Lokasi yang memungkinkan untuk terjadinya buckling ini adalah
pada stripper rubber dan rantai block yang menggerakkan pipa pada
injector head. Jika beban dorongan yang tinggi diberikan pada coiled
tubing pada saat memasukkannya ke dalam sumur ditambah dengan
tekanan permukaan yang tinggi maka pada daerah atau kolom yang tidak
bersandar pada stripper rubber akan mengalami buckling loads.
Penyebab gaya pada dua tipe buckling tersebut adalah: mayor axis
buckling terjadi akibat gaya yang diberikan pada saat pipa tidak bersandar
(kerusakan lebih panjang dan buckling bersifat elastis) sedangkan local
buckling terjadi akibat gaya compressive load yang tinggi yang diberikan
pada pipa dan (bucklingnya tidak elastis).
Besarnya buckling yang terjadi dapat ditentukan secara matematis,
jika nilai yang dihitung dari effective slenderness ratio (SR) lebih besar
dari column slinderness ratio (Cc) maka buckling yang terjadi adalah
mayor axis buckling dan dihitung dengan persamaan:
Buckling load = As (286 x 10
6
SR
2
) …………………………. (2-3)
Dimana:
As =

,
`

.
| −
4
) ( ) (
2 2
ID OD
π
; SR =
r
L
r =
s
A
I
; I =

,
`

.
| −
64
) ( ) (
2 2
ID OD
π
Sedangkan jika effective slenderness ratio lebih kecil dari column
slenderness ratio maka buckling yang terjadi adalah local buckling dan
besarnya buckling ditentukan dengan persamaan :
Buckling load =

,
`

.
|
+
2
2
. 2
1 .
c
s y
C
SR
A F
…………………………… (2-
4)
Cc =
y
F
E . 2
2.3.7. TEKANAN KEPALA SUMUR
19
Tekanan kepala sumur memberikan gaya keatas pada coiled tubing
dimana daya dorong dari dalam sumur ini mengakibatkan terjadinya
tendensi tubing untuk keluar dari sumur.
2.3.8. TENSION DI REEL
Tension yang terjadi antara reel dan injector akan mempengaruhi
nilai yang ditunjukkan pada weight indicator. Hal ini disebabkan karena
desain dari injektor head dan tempat load cell. Meskipun tension dari reel
tidak mempengaruhi tegangan pada tubing dibawah injector, namun perlu
diperhitungkan untuk memprediksikan pembacaan weight indicator.
Gambar 2.9
Gooseneck dan personel yang bekerja
2.4. BATASAN-BATASAN OPERASI COILED TUBING
Coiled tubing mempunyai batasan-batasan yang harus diperhatikan
dalam pengoperasiannya. Dalam hal ini, batasan itu antara lain :
2.4.1. TEKANAN, TEGANGAN DAN REGANGAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi batasan operasional coiled
tubing string seringkali saling berhubungan. Kapasitas tekanan coiled
tubing string dipengaruhi oleh tension ditentukan dengan menggunakan
Von Mises Incipent Yield. Hal-hal yang diperhitungkan adalah: pengaruh
keovalan dalam perhitungan tekanan collapse, pengaruh helical buckling
dalam lubang bor. Namun Kriteria diatas tidak berlaku jika coiled tubing
20
digunakan untuk memompakan asam atau fluida korosif hingga terjadi
korosi yang hebat di coiled tubing.
Tegangan adalah reaksi internal suatu benda terhadap gaya luar.
Seringkali tegangan didefinisikan sebagai gaya internal yang bekerja
sepanjang luas daerah material padat untuk menahan gaya luar. Satuan
tegangan dinyatakan sebagai gaya tiap satuan luas.
Saat diberikan tegangan, akan terjadi perubahan dimensi material.
Perubahan ini dikenal sebagai regangan (strain). Strain didefinisikan
sebagai perubahan dimensi material terhadap dimensi asalnya. Satuan
regangan dinyatakan dalam persen. Setiap tegangan pada material akan
selalu menyebabkan regangan.
Pada coiled tubing dikenal beberapa macam tegangan, antara lain:
hoop stress yang merupakan tegangan yang disebabkan oleh tekanan
internal yang bekerja sepanjang tubing, bending stress yaitu tegangan
yang dihasilkan saat coiled tubing dibengkokkan melalui geooseneck atau
digulung dalam reel, dan radial stress sebagai tegangan yang dipengaruhi
oleh ketebalan dinding coiled tubing yang berkurang sebagai akibat
kombinasi dari regangan hoop dan regangan bending. Tensile stress pada
coiled tubing yang berada di bawah lubang mengakibatkan adanya
tension yang berakhir pada blok rantai di injector head. Tension yang
terjadi di permukaan biasanya diabaikan pada kondisi operasi normal.
Hubungan antara tegangan dengan regangan yaitu ketika
regangan yang dihasilkan masih proporsional terhadap tegangan yang
diberikan, material akan selalu kembali ke dimensi asalnya. Hal ini
berlangsung sampai yield point. Dan tegangan yang diberikan pada yield
point disebut yield strength.
Perubahan sedikit tegangan menyebabkan perubahan besar pada
regangan. Hal ini terjadi jika material ditarik melebihi yield pointnya dan
jika terus berlangsung maka material akan putus. Tegangan yang terjadi
pada titik putusnya disebut ultimate strength. Dan regangan yang
dihasilkan disebut ultimate strain.
21
Perbedaan kelakukan material pada daerah elastik dan plastik.
Deformasi elastik menunjukkan perubahan jarak antar atom pada material
saat diberikan tegangan dan struktur atom kembali kebentuk asalnya jika
tegangan dihilangkan. Dalam range ini tidak terjadi kerusakan yang
permanen pada material.
Deformasi plastik menunjukkan perubahan permanen pada struktur
atom suatu material saat tegangan dihilangkan. Setiap kali diberikan
tegangan pada material melebihi yield pointnya, maka akan terjadi
kerusakan permanen.
Hal yang harus diperhatikan adalah, pada coiled tubing teori
tegangan dan regangan berlaku untuk setiap jenis tegangan (bending
stress, hoop stress, dan radial stress). Tegangan-tegangan ini terdapat
saat coiled tubing berada di dalam lubang dan saat berada dipermukaan.
Tegangan pada coiled tubing didalam lubang adalah tension karena coiled
tubing diluruskan melalui injector head. Faktor yang mempengaruhi
tension adalah bouyancy, geometri lubang dan tubing yang tersangkut
(stuck). Jika tubing stuck dan terus ditarik, maka tension akan meningkat.
Jika peningkatan ini melebihi yield strength, maka coiled tubing akan
mengalami deformasi plastik. Jika penarikan ini diteruskan maka akan
melebihi ultimate strength dan tubing akan putus di bawah injector head.
Dengan menggunakan teori tegangan atau regangan, maka pada
coiled tubing biasanya digunakan material dengan spesifikasi: 70000 psi
minimum yield strength, 75000 psi minimum ultimate strength (tensile
strength), dan 30 % ultimate strain. Nilai ini hanya tergantung pada
keadaan campuran material, dan tidak berhubungan dengan ukuran pipa
atau ketebalan dinding.
2.4.2. DIAMETER DAN KEOVALAN
Batasan diameter dan keovalan didasarkan pada kemampuan
peralatan kontrol tekanan yang digunakan untuk mengoperasikan tubing
yang tidak bulat secara efisien. Tubing oval menyebabkan penurunan
ketahanan terhadap collapse. Presentase keovalan diperoleh dengan
membagi diameter sumbu terbesar dengan diameter sumbu terkecil.
22
Disamping keovalan, ballooning (penggelembungan) dan necking
(penciutan) dari CT string juga perlu diperhatikan.
Gambar 2.10
Kondisi Coiled Tubing
2.4.3. KELELAHAN COILED TUBING (FATIGUE)
Kelelahan coiled tubing disebabkan oleh kombinasi tekanan dan
siklus pelengkungan yang terjadi pada coiled tubing serta komposisi kimia
fluida pemboran yang melewati coiled tubing. Hal ini sulit untuk diukur
karena berhubungan dengan karakteristik material yang khusus.
Berdasarkan program pengujian yang ekstensif barulah dapat ditentukan
model matematika yang kompleks. Model ini menghitung kerusakan yang
terjadi pada coiled tubing yang disebabkan oleh pemberian tekanan dan
pelengkungan yang berulang-ulang. Hal-hal yang perlu diperhatikan
adalah diameter coiled tubing dan lingkungan kimia disekitarnya. Dengan
parameter masukan dari model dapat dibuat plot untuk menunjukkan
presentasi umur coiled tubing berdasarkan panjang coiled tubing.
23
Gambar 2.11
Coiled Tubing Fatigue Model
Dalam penggunaan coiled tubing harus benar-benar terjamin agar
tidak lebih dari tekanan maksimum (Pmax) dan tegangan maksimum
(Tmax) yang direkomendasikan melalui uji yang sebelumnya
diperhitungkan. Uji ini ditampilkan pada reel dengan parameter aksial
force (positif pada tension dan negatif pada compression) dan tekanan
luar coiled tubing yang bernilai mula-mula nol pada keduanya. Dengan
makin besarnya diameter maka makin rendah pula yield pressurenya.
Ketebalan minimum coiled tubing untuk setiap bagian adalah
ketebalan spesifik dikurangi 0.005 in untuk semua ukuran dan ketebalan
t
min
= t – 0.005 …………………………………………………... (2-5)
Diameter dalam (ID) coiled tubing sama dengan diameter luar
dikurangi dua kali ketebalan spesifikasi tubing
ID = OD – (2 x t) …………………………………………………. (2-6)
Dari data diameter tersebut maka maka besarnya pipe metal cross
section (A
w
) dalam in
2
dihitung dengan persamaan :
A
w
= π x t x (ID-t) …………………………………………….. (2-7)
24
Untuk berat akhir (w) secara teoritis didasarkan pada dimensi
coiled tubing dan dihitung dengan persamaan berikut :
w = 10.68 (OD – t) x t ………………………………..…………. (2-8)
Pipe body yield load (Ly) merupakan gaya axial tension load yang
mana menghasilkan stress pada tubing ditentukan berdasarkan batas
minimum yield strength (SMYS) dalam tension .
Ly = π x (OD-t) x SMYS …………………………………………. (2-9)
Internal yield pressure (psi), yang terjadi pada coiled tubing dapat
ditentukan berdasarkan harga minimum yield strength coiled tubing.
OD
xt SMYS x
P
min
) ( 2
·
γ
……………………………………………. (2-10)
Tekanan tes pada coiled tubing ditentukan berdasarkan tekanan
fluida yang terjadi dalam coiled tubing dan perlu diperhitungkan
berdasarkan safety factor yang diizinkan.
P
t
= 0.8 x P
γ
…........…………………………………….……
(2-11)
Batasan tension maksimum pada coiled tubing digunakan besaran
safety factor 20% untuk persamaan :
T
max
= 80% A (σ
y
+ P
o
) ………………………………….……… (2-12)
Sedangkan tekanan collapse yang terjadi akibat dari tekanan
external fluida dan dapat dites sebelum coiled tubing dimasukkan ke
sumur dengan safety faktor sebesar 50 %.
1
% 50
2
+
·
β
σ
y
col
P
................………………………………….. (2-13)
Internal Capacity merupakan unit volume yang dikandung fluida
dalam coiled tubing sedangkan External Displacement sama dengan unit
volume fluida yang ditempatkan pada luas bagian coiled tubing atau
secara persamaan :
Untuk Internal Capacity
V
i
= 40.8 x ID
2
……………………………………………… (2-14)

Dan External Displacement
V
d
= 40.8 x OD
2
……………………………………………….. (2-15)
25
Umur atau masa kerja coiled tubing dipengaruhi oleh beban dan
tegangan-tegangan yang bekerja pada coiled tubing itu sendiri. Standard
industri untuk mengukur umur coiled tubing adalah running feet atau
tubing movement, yang merupakan cerminan dari apa yang terjadi pada
coiled tubing disumur. Umur coiled tubing hampir seluruhnya ditentukan
oleh fatigue yang disebabkan oleh metoda penanganan coiled tubing
diluar lubang bor.
Kelelahan coiled tubing disebabkan oleh pelengkungan dan
pelurusan berulang yang terjadi pada gooseneck dan reel. Pelengkungan
yang berulang menyebabkan kerusakan struktur kristal dari material
pembentuk coiled tubing. Kelelahan ini akan semakin bertambah jika
pelengkungan dilakukan sambil memberikan tekanan di dalam coiled
tubing (internal pressure).
Sifat fisik dan metalurgi coiled tubing string terus meningkat seiring
peningkatan teknik pembuatan dan prosedur kontrol kualitas.
Proses pembuatan coiled tubing pertama kali dilakukan dengan
menggabungkan beberapa tubing string yang pendek dengan pengelasan
sistem butt welding. Hal ini akan mengakibatkan kelemahan pada bagian
material yang dekat dengan pengelasan. Kegagalan hampir selalu terjadi
pada daerah dipengaruhi panas (heat-affected zone).
Coiled tubing pada saat ini kebanyakan dibuat dari material
lempengan panjang dan kontinyu yang dilas dengan sistem bias welding.
Pada sistem bias welding dilakukan pemotongan secara diagonal pada
akhir lempengan baja dan merapatkannya sebelum dilas. Bias welding
meningkatkan kekuatan coiled tubing dengan menyebarkan zona yang
dipengaruhi panas secara spiral disekeliling tubing.
2.4.4. PEMOMPAAN
Pemompaan gas hidrokarbon atau kondensat sangat dilarang
karena belum ada metoda yang dapat memprediksikan akibat adanya
lubang di coiled tubing (pinhole). Pemompaan minyak mentah (crude oil)
melalui coiled tubing diperbolehkan, asalkan tidak mengandung gas.
Sirkulasi balik (reverse circulation) melalui coiled tubing dapat dilakukan
26
jika ukuran coiled tubing 1- ½” in atau lebih dan sumur dalam keadaan
mati atau penuh dengan fluida untuk mematikan sumur. Jika hanya
menggunakan peralatan kontrol tekanan, produksi fluida reservoir melalui
coiled tubing dilarang. Fluida reservoir dapat diproduksikan dengan
menggunakan teknik komplesi coiled tubing dengan peralatan yang
didesain khusus.
Gambar 2.12
Susunan Power Pack (kiri bawah), Control Cabin (kiri atas),
Reel (tengah), dan Gooseneck (kanan)
27
BAB III
APLIKASI COILED TUBING PADA PEMBORAN
Eksploitasi suatu reservoir minyak dan gas bumi mencakup
kegiatan-kegiatan pemboran, komplesi dan work over. Inovasi teknologi
untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan tersebut terus
dilakukan untuk mencapai suatu sistem efisien yang low cost dan low risk.
Teknik dan peralatan pemboran menggunakan coiled tubing mulai
mengalami perkembangan yang pesat sejak tahun 1991. Dasar yang
mendorong hal ini adalah karena tersedianya ukuran tubing yang lebih
bervariasi, terutama sekali kemampuan coiled tubing untuk melakukan
slimhole drilling. Disamping itu, berkembangnya kemampuan coiled tubing
untuk meneruskan hydraulic horse power ke downhole motor untuk
memutar bit dan sekaligus membersihkan sumur bor. Serta inovasi
dimensi ukuran dan berat serta kekuatan terhadap gaya-gaya yang
bekerja padanya juga semakin besar hingga coiled tubing mampu menjadi
solusi dan salah satu pilihan utama dalam operasi pemboran.
Pada bab ini, akan dibahas peralatan pemboran, batasan yang
harus diperhatikan, dan penerapan teknologi coiled tubing didalam operasi
pemboran, terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki
oleh teknologi ini.
Gambar 3.1
Data Jumlah CT Drilling Jobs 1991 - 1997

28
3.1. PERALATAN PEMBORAN
Peralatan pemboran yang digunakan pada sistem pemboran coiled
tubing dikelompokkan menjadi dua, yaitu peralatan pemboran diatas
permukaan dan peralatan pemboran dibawah permukaan.
Gambar 3.2
Peralatan Pemboran Coiled Tubing
3.1.1. PERALATAN PEMBORAN DI ATAS PERMUKAAN
Peralatan di atas permukaan pada operasi pemboran coiled tubing
meliputi coiled tubing unit, peralatan sirkulasi, sistem control sumur dan
peralatan pengangkatan. Tata letak peralatan yang digunakan pada
operasi coiled tubing drilling merupakan komposisi dari berbagai peralatan
penunjang operasional pemboran selain coiled tubing unit itu sendiri.
Pengaturan tata letak dalam operasi pemboran dengan menggunakan
coiled tubing, dapat dilihat pada gambar berikut.
29
Gambar 3.3
Lay Out CT Drill Site
a. Coiled Tubing Unit
Peralatan-peralatan yang harus tersedia dalam operasi coiled
tubing telah dibicarakan sebelumnya pada sub-bab 2.2. Coiled Tubing
Unit merupakan satu kesatuan yang mencakup tersedianya: coiled
tubing equipment (string, injector, reel, power pack, control console,
crane dan substructure), well control equipment, ancillary surface
equipment, dan safety and emergency equipment.
Power system diperoleh dari power pack yang menyediakan
seluruh kebutuhan tenaga selama operasi berlangsung. Sedangkan
untuk sistem kontrol tekanan dipergunakan BOP, yang dikendalikan
dari control console di kontrol kabin.
Gambar 3.4 dibawah ini memperlihatkan salah satu variasi
bentuk dari coiled tubing unit (Baker Hughes CTU), dimana mast dari
CTU ini tidak ditopang oleh crane .
30
Gambar 3.4
Jacking Framed Coiled Tubing Unit
Control console pada coiled tubing unit mencakup monitor
terhadap BOP sistem, power pack, reel, stripper dan injector head.
Gambar 3.5
CT Driller Console
b. Peralatan Sirkulasi
Sistem sirkulasi relatif sama dengan pada pemboran
konvensional. Sistem ini terdiri dari beberapa tangki-tangki air, mixing
hopper dan chemical, reserve pit, mud pit, mud pump, mud-gas
separator, shale shaker, degaser dan desilter.
Pompa Lumpur pada pemboran dengan coiled tubing harus
memiliki kapasitas tekanan dan laju alir yang sesuai dengan
persyaratan dalam pemboran. Umumnya persyaratan tekanan berkisar
31
antara 4000-5000 psia, laju alir maksimum yang diijinkan ± 170 gpm,
tergantung pada ukuran motor, jet nozzle, kedalaman pemboran,
ukuran coiled tubing, ukuran lubang bor dan rheologi fluida pemboran.
Biasanya dapat dipakai pompa triplex dengan 500 hp, seperti yang
digunakan untuk program cementing dan acidizing.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa sistem lumpur pada
pemboran dengan coiled tubing mempunyai kapasitas yang lebih
sedikit dibandingkan pada pemboran konvensional karena
berkurangnya ukuran lubang bor. Fluida pemboran harus mampu
mengimbangi tekanan dasar lubang bor dan mampu mengangkat
padatan keluar dari lubang bor serta melepaskannya dipermukaan.
Sifat-sifat fisik lumpur yang diperlukan relatif sama dengan pemboran
konvensional dengan drill pipe.
c. Sistem Kontrol Sumur
Pada pemboran konvensional, tujuan utama kontrol sumur
adalah mempertahankan tekanan hidrostatik agar sedikit lebih besar
dari tekanan formasi, dan BOP akan ditutup jika terjadi kick.
Sedangkan pada operasi dengan coiled tubing, BOP adalah peralatan
utama dalam control sumur.
Gambar 3.6
Konfigurasi BOP Stack Pemboran Coiled Tubing
32
BOP untuk coiled tubing terdiri dari stripper head, blind ram,
cutter ram, kill line spool dengan isolasi, slip ram dan tubing ram.
Sedang BOP untuk BHA terdiri dari annular preventer, blind ram, pipe
ram dan drilling spool dengan katup isolasi. Return line hanya
digunakan untuk mensirkulasi fluida kick keluar, atau saat membor
dengan kondisi underbalance. Return line ini akan menuju ke dual
choke manifold dan drilling choke yang digunakan untuk mengontrol
laju aliran fluida dari lubang bor. Antara BOP coiled tubing dan BHA
dihubungkan dengan flange tee.
Pressure rate pada BOP stack harus lebih besar dari Maximum
Anticipated Surface Pressure (MASP), yaitu suatu harga tekanan
tertinggi yang mungkin terjadi di permukaan pada saat operasi
pemboran dilakukan. MASP merupakan fungsi dari tekanan hidrostatik
dan tekanan statik di dasar sumur.
d. Peralatan Pengangkatan
Pekerjaan pengangkatan (hoisting system) dilakukan oleh trailer
dan crane. Trailer digunakan untuk mengangkut dan menyediakan
dasar/ landasan untuk peralatan-peralatan operasi. Trailer merupakan
deck float yang dilengkapi dengan telescopic crane, dengan integral
dari crane merupakan system hydraulic yang menstabilkan/
memantapkan trailer ketika operasi. Seluruh unit reeled tubing
dipasang pada trailer dan disambungkan untuk operasinya. Pada
lokasi pemboran, pengangkatan dan penempatan coiled tubing dan
BOP ke well head dilakukan oleh crane.
Namun saat ini penggunaan crane telah dapat digantikan oleh
suatu unit trailer (CT Express Schlumberger) yang dirancang khusus
dengan reel, gooseneck, injector, stripper dan BOP yang telah
terintegrasi permanen didalamnya. Dimana unit ini hanya
membutuhkan waktu ± 30 menit untuk rig-up dan cukup dikendalikan
oleh 3 orang personel (bandingkan dengan rig konvensional yang
membutuhkan lebih banyak personel).
33
Gambar 3.7
Landasan Alat Operasi Pemboran CT
3.1.2. PERALATAN PEMBORAN DI BAWAH PERMUKAAN
Peralatan dibawah permukaan mencakup drill bit, down hole motor,
down hole coiled tubing equipment dan bottom hole assembly lainnya.
a. Drilling Bit
Bit harus sanggup mencapai laju penetrasi yang diinginkan dengan
beban (WOB) yang kecil dan rotasi (rpm) yang tinggi. Untuk pemboran
berarah, harus dipilih bit dengan torsi yang kecil untuk meminimalkan
komplikasi torsi reaktif, umumnya dipakai PDC bit dan Thermal Stable
Diamond (TSD) bit. Dan untuk membor bagian yang lurus pada sumur
vertikal atau lateral sering digunakan Polycrystaline Diamond Compact
(PDC) bit, karena kebutuhan torsi yang rendah.


Gambar 3.8
Berbagai bentuk bit untuk coiled tubing drilling;
(berurutan searah jarum jam): TSD bit, polycrystaline diamond bit, star
tricone bit, genesis slimhole bit, impregnated bit dan eccentric drill bit
34
TSD digunakan untuk membor bagian pertambahan sudut (build
curve) karena bit dengan gauge pendek dan fixed cutter akan membentuk
sudut lebih mudah daripada gauge panjang, tapi bit dengan gauge
panjang akan menahan sudut lebih baik. Roller cutter bit dapat juga
dipergunakan, tetapi dengan laju penetrasi yang rendah, penggunaan
roller cutter ini harus dilengkapi dengan seal dan bearing yang cocok
untuk formasi lunak sampai sedang. Untuk formasi keras, penggunaan
TSD atau Natural Diamond Bit sangat baik digunakan.
Secara umum, bit yang digunakan dalam pemboran dengan coiled
tubing dapat digolongkan menjadi dua, yaitu Fixed Cutter dan Roller Cone
Bit. Fixed Cutter meliputi PDC, Natural Diamond, TSP (Thermally Stable
Polycrystaline) atau TSD, serta kombinasi dari Natural Diamond dan TSP.
Tabel berikut akan menunjukan spesifikasi beberapa pahat pemboran.
Tabel III-1
Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Bit
BIT KELEBIHAN KEKURANGAN
Roller Cone - Torsi paling
rendah
- Membor
seluruh formasi
- Bisa men-drill
out shoes
- Hidrolik bisa
diatur
- Bagian
bit yang bergerak (roller)
cepat rusak
- WOB
tinggi
- Ukuran
terbatas
Natural
Diamond
(ND)
- Torsi rendah
dan umur panjang
- Fleksibel
pada berbagai ukuran
- Membor
formasi keras & abrasive
- Mudah
mengalami ball in pada
formasi lunak
- ROP
rendah & WOB tinggi
TSP
- Umumnya
ROP lebih tinggi dibanding ND
- Butuh WOB
lebih rendah dibanding ND
- Fleksibel
pada berbagai ukuran
- Umur
pakai bit lebih singkat
dibanding ND
- Umur
pakai lebih singkat jika
kurang pendinginan
- Potensial
mengalami bailing
35
Combination
ND and TSP
- Lebih tahan
daripada ND
- Mampu
membor formasi yang lebih keras
dibanding TSP
- Fleksibel pada
berbagai ukuran
- ROP
lebih rendah dibanding bit
PDC
- Potensial
mengalami bailing
PDC - ROP tinggi
- Butuh WOB
lebih rendah
- Hidrolik bisa
diatur
- Lebih cepat
dalam pemasangan
- Membut
uhkan torsi paling tinggi
dibanding jenis bit lainnya
Sedangkan Roller Cone Bit meliputi Milled Tooth Roller Cone Bit
untuk formasi yang lunak dan insert bit untuk formasi yang lebih keras.
Penggunaan masing-masing bit tersebut mempunyai kelebihan dan
kelemahan tersendiri.
Tabel III-2
Spesifikasi Drilling Bit
M
a
n
u
f
a
c
t
u
r
e
r
B
i
t

n
a
m
e
I
A
D
C

C
o
d
e
S
i
z
e

r
a
n
g
e
,

i
n
W
O
B

(
l
b
/
i
n
.

d
i
a
)
R
o
t
a
r
y

s
p
e
e
d
,

r
p
m
Geo
Diamond
D51
D52
D53
D54
M19
M614
M614
M714
M713
M442
3
7
/8 – 12 ¼
3
7
/8 – 12 ¼
3
7
/8 – 12 ¼
3
7
/8 – 6 ½
3 1/2 – 12 ¼
800 – 4000
800 – 4000
800 – 4000
800 – 4000
500 - 4000
80 – 500
80 – 500
80 – 500
80 – 500
60 - 600
Hycalog 263ND
585
473
M722
M812
M842
3
7
/8 – 12 ¼
3 ¾ - 12 ¼
4 1/8 – 17 ½
600 – 3500
2000 – 4000
1000 - 4000
Variable
Variable
Variable
Slimdrill ND-1
ND-1ST
ND3
M812
M811
M812
1 ¾ - 8 ¾
4
1
/8 – 12 ¼
3 7/8 – 8 3/4
500 – 3000
500 – 3000
500 - 2500
60 – 1000
60 – 1000
60 - 1000
b. Downhole Motor
36
Karena pada coiled tubing tidak menggunakan rotary table maka
pada coiled tubing string tidak terjadi rotasi, melainkan hanya sliding yang
bergerak menggeser permukaan lubang bor. Untuk itu tenaga untuk
memutar bit berasal dari downhole motor yang digerakkan oleh lumpur
bertekanan tinggi yang melewati rotor didalam motor tersebut. Terdapat 3
tipe down hole motor, yaitu van motor, turbine motor dan positive
displacement motor (PDM). Turbine motor dan van motor tidak bisa
digunakan dalam pemboran dengan coiled tubing karena ukuran diameter
motor yang relatif besar. Sehingga untuk pemboran dengan coiled tubing
ini praktis digunakan PDM. Jenis PDM yang umum digunakan untuk
memutar bit adalah high speed low torque, medium speed medium torque,
dan low speed high torque. Umumnya high speed low torque motor
digunakan dengan TSD bit atau Natural Diamond Bit, sedangkan medium
speed medium torque motor digunakan untuk memutar PDC bit.
Pemilihan PDM ini tergantung pada ukuran lubang bor dan
perencanaan trayek pemboran, serta klasifikasi dari motor tersebut. Tabel
III-3 menyajikan spesifikasi PDM dari Anadril Power pack. Tekanan
menunjukan diferensial tekanan, merupakan perbedaan antara tekanan
pemompaan saat bit di dasar sumur belum berputar dan tekanan
pemompaan dengan bit sudah berputar mendesak formasi. Stall Torque
menunjukkan torsi yang dipakai ketika bit mogok (stall) dalam formasi dan
tidak berputar, hal ini merupakan faktor kritis agar ukuran motor tak
melampaui batasan torsi pada batasan coiled tubing yang diizinkan.
Sedangkan range flow rate (GPM) dan speeds (RPM) menggambarkan
hubungan antara minimum dan maksimum tekanan pemompaan.
Tabel III-3
Positive Displacement Motor
Model OD
(In)
Stages Flow
(gpm)
Speed
(rpm)
Press
(Psi)
Torque
(Ft-Lb)
Stall
Torque
A675 6 ¾ 4
1,8
200-500
300-600
200-500
150-300
500
261
162
1260
2384
2205
A475 4 3/4 3 100-200 225-450 380 440 770
37
3,5
2,2
100-250
100-250
105-262
56-140
505
360
1192
1445
2086
2528
A350 3 ½ 5
3
30-110
30-110
98-360
48-176
720
480
553
683
968
1195
A287 2 7/8 3,3 20-80 120-480 500 203 355
c. Downhole Coiled Tubing Equipment
Terdiri dari alat-alat seperti: drill collar, disconnect sub, connector,
check valve, orienting tool dan circulating sub.
 Connector
Berfungsi untuk menghubungkan bermacam-macam peralatan
bawah permukaan dengan ujung dari coiled tubing.
Secara umum dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
1. Grapple connector
2. Dimple connector
3. Roll on connector
Gambar 3.9
CT Connector
 Non Rotating Joint
Menghubungkan connector dengan check valve.
38
Gambar 3.10
CT BHA dengan Non Rotating Joint
 Check Valve
Dihubungkan dengan connector yang berada pada ujung dari
coiled tubing yang berfungsi untuk mencegah masuknya aliran
balik fluida sumur ke dalam coiled tubing drill string.
Gambar 3.11
CT Check Valves
 Swivel Joint
Digunakan untuk menyusun peralatan bawah permukaan agar
dapat dirangkaikan secara berurutan dan dapat digerakkan.
 Disconnect Joint
Berfungsi untuk melepas string kerja dari sistem CT dan
memutuskan hubungan CT dengan BHA jika mengalami stuck
(terjepit). Metoda pemutusan yang digunakan:
1. Tension-Active Release Joint
Dengan menganggap suatu titik lemah di tool string sebelum
mengakibatkan beberapa kerusakan dalam tool string
retrieve atau coiled tubing, menggunakan shear pin atau
screw. Dibutuhkan tension pada mekanisme pemutusan.
2. Pressure-Active Release Joint
Menggunakan semacam bola didalamnya, digerakkan
dengan menggunakan tekanan yang melewati coiled tubing,
kemudian berbalik dengan menggunakan perbedaan
tekanan didalam dan diluar coiled tubing.
 Centralizer
Adalah suatu peralatan bawah permukaan yang berfungsi untuk :
39
1. Menjaga posisi peralatan tetap berada ditengah lubang bor.
2. Mencegah rintangan dalam lubang bor.
3. Meminimalkan distorsi
4. Memberikan stabilitas ketika operasi pemboran
5. Memberikan tempat untuk aliran fluida.
 Orienter
Digunakan untuk mengontrol arah lubang bor dan mengarahkan
tool kearah yang diinginkan. Alat ini dapat dijalankan dengan
mechanical reciprocating, pressure cycling, torsi dari motor atau
kombinasi ketiganya. Toolface diset sesuai dengan yang
dikehendaki. Alat ini bekerja berdasarkan perbedaan tekanan
antara internal CT dan annulus yang akan menggerakkan piston
yang selanjutnya menggerakkan orienter.
 LWD dan MWD tool
Merupakan salah satu kelebihan dari sistim coiled tubing, yang
mampu memberikan hasil continuous telemetry (gamma ray,
azimuth, inclination, pressure, temperature, dll) secara kontinu
dan realtime karena terhubung langsung dengan electric wireline
ke surface equipments.
 Circulating sub,
Terletak diatas motor untuk by-pass aliran diatas motor.
 Drill Collar
Merupakan pipa tebal yang berfungsi untuk memberikan WOB
dan menambah kekuatan BHA saat menghadapi kompresi. Jika
menggunakan sistem steering atau MWD, diperlukan non
magnetic drill collar untuk mencegah interferensi dengan
peralatan lain. Pada pemboran vertikal, drill collar akan bertindak
sebagai pendulum untuk memberikan WOB.
Bottom Hole Assembly (BHA) harus didesain secara spesifik sesuai
dengan kebutuhan dilapangan, hal ini berhubungan dengan batasan dan
kelebihan dari tiap komponen BHA. Komponen BHA yang dipakai untuk
40
pemboran vertikal berbeda dengan yang digunakan untuk pemboran
berarah maupun untuk pemboran horizontal. Dalam penggunaannya
secara umum, BHA dapat dibagi menjadi dua, yaitu BHA untuk pemboran
sumur vertikal dan BHA untuk pemboran directional dan horizontal.
BHA untuk pemboran vertikal, umumnya terdiri dari bit, PDM, drill
collar, release joint, dual check valve dan connector. Drill collar dipasang
untuk memberikan beban (WOB) dan memberikan efek pendulum.
Sedangkan BHA untuk pemboran berarah dan horizontal meliputi: bit,
PDM dengan bent sub, non magnetic drill collar, orienting tool dan MWD.
MWD merupakan peralatan pengukur sudut dan arah yang
digunakan secara terus menerus selama operasi pemboran berlangsung.
Dipasang pada rangkaian BHA dengan supplay data transmisi dan tenaga
dari wireline melalui bagian dalam string. Disamping sensor arah dan
sudut, biasanya MWD juga dilengkapi dengan sensor tekanan, WOB, torsi
dan sinar gamma ray. Semua sensor parameter tersebut dapat diterima
dan dikontrol melalui komputer dipermukaan. Selain itu data yang didapat
ini dapat disimpan di memory internal alat MWD untuk evaluasi lanjut
nantinya. Selain digerakkan oleh wireline, peralatan-peralatan dibawah
permukaan bisa juga mendapatkan tenaga dari batery pack.

41
Gambar 3.12
BHA Equipment
3.2. BATASAN-BATASAN PEMBORAN COILED TUBING
Pemboran dengan coiled tubing mempunyai beberapa batasan-
batasan teknik dan operasionalnya.
3.2.1. BATASAN BERAT DAN UKURAN
Batasan berat dan ukuran coiled tubing ditentukan berdasarkan
komposisi material pembentuknya dan yield strength, sedangkan
panjangnya dibatasi oleh ukuran reel dan batasan berat serta batasan
ruang yang bisa memenuhi kondisi drill floor dan drill site. Dibawah ini
adalah salah satu contoh spesifikasi coiled tubing berdasar komposisi
material pembentuk dan yield strengthnya.
Alloy : A-606 Type 4, modified
Komposisi kimia Sifat fisik
Carbon, C : 0,10 – 0,15
Manganese, Mn : 0,60 – 0,90
Phosphorus, P : 0,030 (max)
Sulfur, S : 0,005 (max)
Silicon, Si : 0,30 – 0,50
Chromium, Cr : 0,55 – 0,70
Copper, Cu : 0,20 – 0,40
Nickel, Ni : 0,25 (max)
Minimum yield strength : 70000 psi
Minimum tensile strength : 80000 psi
Minimum elongation : 30 %
Maximum hardness : 22C Rockwell
Tabel berikut menunjukkan ukuran dan berat coiled tubing dengan
batasan tekanan dan tension maksimal dan ukuran coiled tubing reelnya.
Tabel III. 4
Ukuran dan Berat Coiled Tubing
OD
(in)
Wall
Thickness
(in)
Weight
(lbm/ft)
Max
Tension
(lbf)
Max
Allow.
Working
Torque
(lbf-ft)
Max
Allow.
Working
Pressure
(psi)
Reel
Core
Diameter
(in)
1.500
1.750
2.000
2.375
0,156
0.156
0,156
0,156
2,24
2,66
3,07
3,70
32000
37900
43900
78100
1044
1484
2002
2926
7700
6700
5900
5300
76
76
84
84
42
2,875 0,156 4,53 95000 4431 4400 96
3.2.2. Batasan Mekanik
a. Sumur Vertikal
Pada sumur vertikal coiled tubing dalam keadaan tension, batasan
kedalaman tergantung pada densitas fluida pemboran, yield strength
material, dan variasi ketebalan dinding tubing. Sumur diasumsikan penuh
dengan lumpur dan diperlukan tambahan berat jika melakukan operasi
pemancingan (fishing). Dapat digunakan high-strength atau tapered string
untuk pemboran yang lebih dalam. Tappered string terdiri dari tubing
dengan berbagai ketebalan dinding.
Jika kekerasan batuan formasi dalam keadaan konstan maka
asumsi kedalaman maksimum (Dmax) penggunaan coiled tubing dalam
fluida pemboran tanpa batasan yield strength dari material sebesar 80 %
dapat dituliskan sebagai berikut :
Wdf
σ
D
006493 , 0 245 , 4
max

·
γ
…………………………………. (3.1)
Pada operasi coiled tubing secara konvensional batasan
kedalaman maksimum adalah sampai kedalaman 23.000 ft.
b. Sumur Berarah
Untuk menghitung gaya-gaya dalam coiled tubing diperlukan
“Tubing Force Model” (model penentuan kekuatan coiled tubing). Saat
tubing mengalami gaya kompresi, mula-mula akan terjadi bentuk
sinusoidal. Setelah gaya meningkat akan menjadi bentuk helical, sehingga
gaya gesekan pada dinding lubang bor akan meningkat. Jika gaya gesek
meningkat sampai tubing terkunci di lubang akan terjadi lock up. Pada
kondisi ini tubing tidak dapat didorong lebih jauh. Penambahan gaya di
permukaan tidak akan menambah beban di dasar lubang bor. Panjang
bagian horizontal yang dapat dibor dengan suatu WOB didasar lubang
disebut maximum drainhole length.
c. Batasan Torsional
43
Terdapat batasan kerja maksimum yang dapat dihitung dengan
Von Mises Theory. Saat tubing diangkat torsi mendekati nol, dan pada
saat pemboran torsi akan maksimum. Torsi yang dapat menyebabkan
motor rusak (downhole motor-stall torque) harus kurang dari torsi kerja
maksimum. Pengaruh torsi saat pemboran pada helical buckling adalah
minimal untuk high-speed motor.
3.2.3. BATASAN UMUR COILED TUBING
Penggunaan diameter coiled tubing yang besar dan tekanan fluida
pemboran yang kontinyu dapat menyebabkan meningkatnya fatigue
(kelelahan) pada CT string hingga mengurangi umur pakai dari CT string.
Disamping itu parameter-parameter lain seperti geometri reel dan
gooseneck, tekanan pemompaan, diameter, ketebalan dinding dan
material yang digunakan serta kontak antara komponen-komponen kimia
yang dipompakan dengan inside diameter CT string juga mempengaruhi
batasan umur pakai dari CT string.
Ada dua prinsip mendasar yang penting berkenaan dengan umur
coiled tubing dan fatigue dalam operasi pemboran coiled tubing, yaitu :
1. Mempelajari secara cermat antisipasi perputaran gaya-gaya dan
kondisi operasi sewaktu melakukan penaksiran umur coiled tubing
dari spesifikasi coiled tubing.
2. Sewaktu operasi dimulai, mencatat secara cermat dan memastikan
agar umur coiled tubing sebenarnya lebih panjang dari prediksi.
Untuk suatu kondisi ideal, diharapkan CT yang digunakan
mempunyai: Kekuatan (strength) yang tinggi terhadap tension, burst dan
collapse; Kelenturan (ductility) yang tinggi selama masa pakai, Bisa
disambung atau dilas (weldability) pada saat perbaikan; Ketahanan
(resistance) yang tinggi terhadap korosi, asam dan erosi; Serta tahan
terhadap patah lelah (fatigue failure)
3.2.4. BATASAN HIDROLIKA
Laju fluida pemboran harus cukup untuk membawa cutting.
Transportasi cutting tergantung pada rheologi fluida pemboran. Untuk
pemboran underbalance, kecepatan slip dari cutting yang lebih besar dan
44
kecepatan annulus haruslah dievaluasi. Pada pemboran horizontal
digunakan persamaan kecepatan transportasi cutting untuk fluida
Newtonian. Laju fluida pemboran juga dibatasi oleh penurunan tekanan
melalui tubing dan kembali melalui annulus. Peningkatan penurunan
tekanan (lebih dari 5000 psi) akan meningkatkan densitas sehingga
mengurangi laju penetrasi. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya loss
sirkulasi. Selain itu, downhole motor mempunyai laju maksimum yang
seringkali membatasi laju fluida pemboran.
3.3. PERSIAPAN PEMBORAN
Dalam melaksanakan operasi pemboran, hal yang harus disiapkan
demi kelancaran kegiatan pemboran, adalah: persiapan teknis (meliputi
penyediaan peralatan, perencanaan prosedur kerja dan personel serta
persiapan administrasi seperti perizinan dan pembayaran personel) dan
Kelayakan teknis yang harus diperhitungkan (meliputi pemilihan fluida
pemboran, WOB, annular velocity, tekanan dan laju pemompaan, tension
dan torsi serta aspek pembebanan pada CT).
3.3.1. PEMILIHAN FLUIDA PEMBORAN.
Fungsi dan persyaratan yang harus dipenuhi fluida pemboran yang
digunakan pada sistem coiled tubing adalah:
1. Cutting transport dan kualitas suspensi yang baik.
2. Optimasi pump pressure dan flow rate.
3. Meminimalisir stuck.
4. Meningkatkan stabilitas lubang sumur.
5. Lubrikasi yang baik.
6. Mengontrol leak off dan fluid loss.
7. Meminimalisir kerusakan formasi.
8. Akurasi pada proses MWD dan log
Fluida untuk coiled tubing umumnya mengandung:
• Base liquid phase.
• Biopolymer.
• Lubricants.
45
• Biocyde.
• Potasium Hydroxide.
Salah satu jenis fluida pemboran yang digunakan adalah fluida
jenis LSRV (Low Shear Rate Viscousity), yang mengandung biopolymer.
Dimana fluida jenis ini cenderung tidak membentuk cake untuk mengontrol
filtrat invasion, tapi menggunakan kemampuan viscoelastic properties dan
elevated LSRV yang dimilikinya untuk mengontrol invasi filtrat.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sistem
fluida pemboran adalah :
1. Tekanan Sumur
Akurasi penentuan tekanan sumur merupakan hal yang sangat
penting dalam operasi pemboran maupun kerja ulang sumur.
Pengukuran banyaknya gas dan cairan yang dipompakan dan
banyaknya padatan, cairan, gas dipermukaan merupakan hal yang
perlu guna perbaikan sistem pembersihan lubang bor. Tekanan
hidrostatik akibat kolom fluida dan kehilangan tekanan selama sirkulasi
harus seimbang dengan tekanan dasar sumur. Manipulasi dan
penambahan tekanan diatur keluar-masuknya melalui sistem choke
manifold. Air asin dapat digunakan pada tekanan normal (0,43 – 0,47
psi/ft), dan pada sumur-sumur bergradien geo-pressure, lebih dari 0,47
psi/ft dapat dipakai dengan fluida pemberat. Pada sumur-sumur dengan
tekanan dasar sumur kecil (0,10 – 0,40 psi/ft), alternatif yang dapat
dipakai adalah penggunaan nitrogen mist dan foam untuk mengangkat
padatan dan membersihkan lubang bor pada kondisi overbalance.
2. Laju Pemompaan dan kecepatan di Annulus
Laju pemompaan fluida dan luas penampang annulus
memberikan pengertian dan batasan mengenai sistem
pembersihan rata-rata untuk kecepatan di annulus. Kecepatan
sirkulasi fluida (V) ditentukan dengan pembagian antara laju alir,
volume per time, dengan luas penampang aliran, yaitu:
2 2 2
119 , 0 119 , 0
c b b
D D
Q
D
Q
V

· ·
……..........………...…….... (3-2)
46
3. Reynold Number, N
RE
Merupakan rasio antara gaya aliran massa dinamik dengan
viskositas, lebih lanjut merupakan indikasi relatif dari gangguan dalam
regim aliran dinamik, yang umumnya dinyatakan dengan angka. Dalam
lubang bor dipakai untuk menentukan efek drag pada partikel pasir dan
padatan lainnya.
4. Pergerakan Fluida
Pergerakan fluida dinyatakan sebagai aliran, dengan jenis aliran
laminer, turbulen dan transisi/ peralihan. Persamaan Reynold number
untuk satuan lapangan yang digunakan adalah:

µ
ρ v D
N
b
RE
1487 ·
…..........................……………….......... (3-3)
Aliran Laminer diakibatkan oleh kecepatan fluida yang kecil, energi
pencampuran kecil dan pressure loss akibat gesekan kecil, sedang
untuk aliran turbulen, kecepat fluida besar, pencampuran fluida yang
signifikan dan pressure loss besar.
5. Pergerakan Partikel Padatan.
Sangat penting untuk mengetahui dasar-dasar pergerakan partikel
padatan, regim aliran dan bagaimana fluida mendesak partikel batuan.
Berkenaan dengan pengendapan partikel-partikel padatan, yang
diakibatkan oleh gaya gravitasi, drag force pada akhirnya mengimbangi
gaya gravitasi, selanjutnya diperlukan perhitungan mengenai kecepatan
pengendapan partikel (terminal particle settling velocity, TPSV). Analisa
mengenai sifat fisik serbuk bor dan padatan-padatannya membantu
untuk mengetahui TPSV-nya. Untuk partikel pasir spherical berukuran
20 mesh TPSV sebesar 0,42 fps, dan 10 mesh adalah 0,90 fps.
Pokok-pokok aturan yang biasa dipakai pada sumur vertikal
adalah bahwa minimum annular velocity sama dengan dua kali TPSV,
sedangkan pada sumur horisontal 10 kali TPSV.
6. Sistem Frictional Pressure Loss.
Pada umumnya, tekanan kerja maksimum yang aman untuk
operasi coiled tubing adalah 5000 psig. Hal ini penting untuk dimengerti
47
mengingat pada kehilangan tekanan akibat gesekan. Frictional
Pressure Loss untuk aliran turbulen ditentukan dengan perubahan
tekanan per 1000 ft, atau:
2
2
654 1000 Db
fQ
ft
p ρ
·

…............................………………. (3-4)
f adalah faktor gesekan, ditentukan dengan diagram Moody yang
merupakan hubungan antara Reynold Number, kekasaran relatif pipa
dan faktor gesekan.
7. Pressure Loss di Annulus
Pressure loss dapat terjadi dan berkembang mendesak
ruang annulus, hingga penentuan tekanan di annulus merupakan
hal yang kritis dalam operasi coiled tubing. Aliran fluida di annulus
akan berubah dengan penambahan luas permukaan pipa yang
mengalami kontak dengan fluida.
3.3.2. WEIGHT ON BIT (WOB)
Kebutuhan WOB yang diperlukan untuk mempertahankan penetrasi
pemboran dapat dihasilkan dari dua sumber. Bila pemboran vertikal atau
pemboran dengan sudut deviasi kecil, drill collar digunakan untuk
memberikan WOB, dimana coiled tubing dipertahankan dalam kondisi
tension untuk mencapai trayek yang stabil. Dan bila dalam pemboran
berarah dengan sudut deviasi yang besar, maka coiled tubing digunakan
untuk menyediakan kebutuhan WOB.
WOB pada coiled tubing drilling berbeda dengan rotary drilling
biasa yang umumnya menggunakan WOB tinggi (4000 – 6000 lbs) dan
RPM kecil (<700 rpm). Pada coiled tubing sendiri, digunakan sistem
dengan RPM besar (>700 rpm) dan WOB kecil (2000 – 3000 lbs). Efek
dari hal ini terhadap laju penembusan (ROP) adalah sama dengan
pemboran rotary umumnya. Untuk itu dibutuhkan pemilihan serta optimasi
bit dan hidrolika yang baik. Penentuan WOB ini tergantung pada tipe bit,
kekuatan coiled tubing, daya pada motor dan drillability formasi.
48
Minimum Downhole Weight on Bit (DWOB) untuk pemboran
horizontal dengan coiled tubing adalah :
3 ¾ “ – 4 “ WOB minimum = 1200 lbs
4
1
/
8
“ – 4 ¾ “ WOB minimum = 1500 lbs
6 “ WOB minimum = 2500 lbs
Minimum DWOB berkaitan dengan gaya minimum yang diperlukan
pada bit bila pemboran mencapai bagian horizontal. Gaya/ beban ini harus
disediakan dengan bantuan dorongan injector head terhadap coiled tubing
untuk masuk ke dalam sumur, dan merupakan salah satu kunci penentuan
seberapa jauh bagian berarah/ horizontal dari lubang sumur dapat dibor.
3.3.3. KECEPATAN ALIR DI ANNULUS (ANNULAR VELOCITY)
Merupakan suatu parameter yang berhubungan dengan
kemampuan fluida pemboran dan sistem sirkulasi untuk membersihkan
dan mengangkat serbuk pemboran ke permukaan selama proses
pemboran berjalan. Yang sering menjadi masalah dalam pengangkatan
serbuk bor adalah pada bagian horizontal dan build-up, serta pada bagian
lubang dengan diameter besar (sumur bagian atas).
Geometri lubang bor, ukuran serbuk bor dan karakteristik fluida
pemboran sangat berpengaruh terhadap kemampuan pembersihan
lubang bor dan pengangkatan serbuk bor ini. Bagaimana pun, dengan
kombinasi high-speed motor dan bit yang digunakan dalam coiled tubing
drilling, maka pada umumnya ukuran cutting yang terbentuk relatif kecil
(<50 microns), hal ini akan membantu dalam proses pengangkatannya.
Aturan pokok mengenai annular velocity yang dapat digunakan
sebagai dasar persiapan dan rencana kerja adalah :
1. Untuk lubang vertikal, annular velocity 30 – 40 ft/min (untuk sumur-
sumur baru yang dangkal dengan cutting besar diperlukan 50 ft/min).
2. Untuk lubang horizontal, 100 ft/min (tergantung pada panjangnya
bagian horizontal dan karakteristik fluida pemboran).
3.3.4. TEKANAN DAN LAJU PEMOMPAAN
Pompa harus memiliki kapasitas tekanan dan laju alir yang cocok
dengan persyaratan downhole motor (kapasitas motor) untuk mendapat
49
hasil optimum. Faktor yang sering membatasi adalah kehilangan tekanan
akibat gesekan karena panjang coiled tubing atau kecilnya diameter coiled
tubing, yang menimbulkan pengurangan laju aliran lumpur. Persyaratan
tekanan yang umum dipakai adalah 4000 – 5000 psi, dan laju aliran
maksimum untuk coiled tubing adalah 170 gpm, tergantung pada ukuran
motor, jet noozle, kedalaman, ukuran CT, ukuran lubang bor dan rheologi
fluida bor. Biasanya digunakan triplex pump dengan 500 hp, seperti yang
digunakan untuk cementing atau acidizing.
3.3.5. TENSION DAN TORSI
Beban tension pada coiled tubing adalah beban yang ditimbulkan
oleh berat rangkaian coiled tubing itu sendiri ditambah dengan peralatan
bawah permukaan. Coiled tubing harus mampu menahan beban tension,
Tubing Force Model digunakan untuk menentukan antisipasi tension
maksimum yang dibutuhkan dalam operasi pada kondisi lubang bor yang
diharapkan. Batas keamanan/ keselamatan untuk overpull (±15000 lbs)
ditambah antisipasi tension maksimum. Jumlah total ini harus di bawah
tension maksimum yang diijinkan.
Torsi yang berlebihan pada dasarnya tidak menimbulkan problem
yang serius dalam operasi pemboran coiled tubing. Tetapi juga perlu
diketahui bahwa ada batas torsi maksimum yang diizinkan (contoh untuk
coiled tubing dengan diameter 2 3/8 “, tebal 0,156” torsi maksimum adalah
2924 ft-lbs). Maka, downhole motor harus diatur agar torsi yang terjadi
tidak melampaui batasan torsi tersebut.
3.3.6. ASPEK PEMBEBANAN COILED TUBING
Dalam operasinya, coiled tubing dapat mengalami
pembebanan: burst, collapse, compression maupun buckling, serta
problem yang disebabkan oleh aspek pembebanan, seperti lockup. Yang
terpenting dalam operasi pemboran dengan coiled tubing adalah
penentuan beban buckling dan distribusi beban axial.
a. Beban Buckling Sumur Horizontal
Dalam lubang horizontal, coiled tubing berada dalam kondisi
tertekan oleh berat bit (desakan bit terhadap formasi) dan gaya
50
gesekan. Apabila beban kompresif aksial melebihi beban buckling kritis
(F
cr
) secara sinusoidal, maka coiled tubing akan melengkung
berbentuk sinusoidal. Persamaan Dawson dan Peasley:
5 , 0
2
,
`

.
|
·
r
EIWe
Fcr …………………………………................ (3-5)
Yang umum untuk horizontal/ directional dengan sudut arah besar:
5 , 0
sin
2
,
`

.
|
·
r
EIWe
Fcr
θ
…………………………………….......... (3-6)
Ketika beban compresive axial meningkat mengikuti beban buckling
secara helical, Wu et.al menyatakan helical buckling (F
hel
) terjadi pada:
( )
5 , 0
5 , 0
1 2 * 2 2
,
`

.
|
− ·
r
EIW
Fhel
e
……………………………….......... (3-
7)
dan helical buckling load untuk sumur horizontal menjadi :
( )
5 , 0
5 , 0
sin
1 2 * 2 2
,
`

.
|
− ·
r
EIW
F
e
hel
θ
………………………………. (3-8)
Selain persamaan (3-8), Chen et.al menurunkan persamaan helical
buckling load sumur horizontal sebagai:

5 , 0
8
2
,
`

.
|
·
r
EIW
F
e
hel ………………......................………………. (3-9)
Beban helical buckling adalah beban kompresiv aksial rata-rata dari
permulaan sinusoidal buckling sampai terbentuknya helical buckling.
Gambar berikut, menunjukkan skematik coiled tubing buckling untuk
sumur horizontal dan vertikal. Pada awalnya axial compressive load
meningkat secara linier dan mengalami frictional drag akibat beratnya.
Ketika compressive load sampai pada sinusoidal buckling load (F cr),
sinusoidal buckling terjadi, dan ketika axial compressive load mencapai
helical buckling load (F hel) maka helical buckling terjadi. Axial
compressive load kemudian meningkat tak linier sepanjang bagian
coiled tubing yang melengkung secara helical. Hal ini disebabkan
karena adanya contact force yang ditimbulkan antara dinding lubang
bor dengan coiled tubing.
51
Gambar 3.13
Skema Buckling pada Sumur Horizontal (kiri) dan Vertical (kanan)
0
5000
10000
15000
20000
25000
30000
35000
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
OD (in)
F
h
e
l

(
l
b
)
4.5 IN
6 IN
Grafik 3.1
Helical Buckling Load Horizontal Wellbore 4.5 in dan 6 in
b. Beban Buckling Sumur Vertikal
Pada sumur vertikal, di bagian bawah coiled tubing akan
mengalami compression ketika terjadi “slacking-off” (pengenduran)
berat di permukaan atau saat mendorong coiled tubing ke bagian
horizontal. Ketika compressive load melampaui critical sinusoidal
buckling load, coiled tubing akan mengalami pelengkungan secara
sinusoidal. Lubinski memberikan rumusan mengenai critical
sinusoidal buckling load rangkaian drillstring dalam sumur vertikal
sebagai :

3
1
, ) ( 94 , 1 e b cr EIW F ·
………………………................... (3-9)
52
Pers. Chen et. al
Lumpur 8.6 ppg
Tetapi berdasarkan analisa energi besarnya critical sinusoidal buckling
load adalah :

3
1
, ) ( 55 , 2 e b cr EIW F ·
……………………..................... (3-10)
Dua persamaan di atas sulit untuk dipecahkan perbedaannya, tetapi
yang lebih umum dipakai adalah persamaan berdasar analisa energi.
Dan besarnya helical pitch (puncak helical) adalah :
2
,
8
hel p L
EI
F
π
·
………………………………….................. (3-11)
Persamaan (3-11) didapat dengan model tubing tanpa berat, ini tidak
dapat memprediksi kejadian awal helical buckling. Persamaan ini
digunakan untuk menentukan puncak helical buckling (helical buckling
pitch length, Lp.hel) untuk tubing yang mengalami pelengkungan
secara helical di bawah kondisi axial compressive load yang besar.
Persamaan helical buckling load dengan mempertimbangkan berat
tubing yang diturunkan berdasar analisa energi untuk memprediksi
terjadinya helical buckling sumur vertikal (bagian bawah) adalah :

3
1
2
,
) ( 5 , 5 EIWe F
b hel
·
…………………..........………............... (3-
12)
( )
3
1
)
2
( 14 , 0
2
5 , 5
3
1
, e hel e e t hel EIW L W EIW F · − ·
………….
(3-13)
dengan panjang puncak adalah :
3
1
2
16
,

,
`

.
|
·
e
hel p
W
EI
L
π
……………………………………............ (3-14)
Tabel III. 5
Beban Buckling Pada Coiled Tubing Sumur Vertikal dan Horizontal
(3.875”WELLBORE, MUD DENSITY 8.5 ppg)
Coiled Tubing Vert. wellbore Hori. wellbore
O.D
(in)
I.D
(in)
Weight
(lb/tf)
Fcr,b
(lbf)
Fhelb
(lbf)
Fhel,t
(lbf)
Fcr
(lbf)
Fhel
(lbf)
2.375 2.063 3.7 288 628 16 5369 9817
2 1.688 3.07 212 461 12 3317 6066
53
1.75 1.438 2.66 167 363 9 2334 4268
1.5 1.376 2.24 125 273 7 1572 2874
c. Beban Buckling Pada Build-Up Section
Buckling coiled tubing pada bagian build-up ini tidak mudah terjadi,
hal ini karena dua efek yang unik pada bagian build-up. Yaitu:
komponen lateral beban aksial akan menghasilkan distribusi lateral
beban aksial akan menghasilkan distribusi lateral force (F/R) yang
selama coiled tubing berada dalam buid-up curve. Gaya lateral ini
mendorong berlawanan dengan sisi kurva bagian luar. Efek yang
kedua datang dari bentuk kurva lubang bornya sendiri. Dengan
semakin panjangnya bagian build-up, maka kemungkinan terjadinya
buckling pada bagian ini semakin kecil.
d. Distribusi Beban Aksial (Axial Load ) Sumur Horizontal
Ketika coiled tubing diturunkan ke bagian horizontal sumur tanpa
terjadinya helical buckling pada bagian tersebut, maka beban aksial
akan meningkat secara liniear selama coiled tubing mengalami friction
drag yang disebabkan oleh berat tubing.
( ) X W F X F e u o + ·
……………………………………………..... (3-
15)
Dimana x adalah koordinat sumbu x sepanjang lubang horizontal,
Fo adalah beban kompresif aksial yang dihitung pada titik x = 0. Disini
tidak dipertimbangkan adanya gaya gesekan dari sinusoidal buckling,
karena biasanya sangat kecil.
Ketika ada bagian panjang yang mengalami helical buckling,
peningkatan yang tak liniear dari distribusi beban aksial mungkin
disebabkan oleh beban kompresif aksial yang tak terhingga. Pada saat
itu akan terjadi lockup, tubing tidak dapat didorong lebih lanjut ke
dalam lubang bor dan berat bit tak dapat ditambah dengan
penambahan “slacking-off” dipermukaan.
54
0
200000
400000
600000
800000
1000000
1200000
1400000
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Sudut
F

(
l
b
)
Fcr 1
Fhel 1
Fcr 2
Fhel 2
Grafik 3.2
Buckling Load 2.375 in CT, Lubang 4.5 in, pada Build Curve
e. Distribusi Beban Aksial Sumur Vertikal
Dengan tak adanya tubing yang mengalami helical buckling, secara
teoritis tidak ada frictional drag pada lubang vertikal dan beban aksial
berubah menjadi liniear :
( ) x W F x F e o − ·
...........………………………..... (3-16)
x diukur sekitar aksis lubang bor dan cenderung naik, Fo
merupakan beban kompresiv aksial yang ditentukan pada titik x = 0.
Beban kompresiv aksial yang ada pada bagian bawah lubang bor
vertikal (atau titik KOP untuk sumur horizontal) menjadi fungsi tak linier
dari slack-off berat di permukaan ketika tubing melengkung helical.
Dengan Fo = F
KOP
, persamaan (3-16) menjadi:
]
]
]
]

,
`

.
|

,
`

.
|
+
,
`

.
|

,
`

.
|
·
5 , 0 5 , 0 5 , 0
4
) ( arctan
4
tan 2
e
e e
KOP
EIW
ur
x F h
EI
urW
x
ur
EIW
F
…… (3-
17)
Beban kompresiv aksial maksimum yang dihasilkan pada lubang
vertikal bagian bawah dengan slacking-off di permukaan diartikan
berada pada kondisi beban pada hook sama dengan nol. Untuk
kedalaman lubang vertikal D, total slack-off berat pada kondisi beban
hook nol adalah:
Fs = D W
e
................................................................. (3-18)
f. Distribusi Beban Aksial Bagian Build-Up
55
1 = pada BUR 8
O
/100 ft
2 = pada BUR 15
O
/100 ft
Beban kompresif aksial pada titik KOP dapat dihubungkan dengan
beban pada titik EOC (end of coiled tubing) :
( )
]
]
]

+
+
]
]
]

+

− ·

2
2
2
2
1 (
2
1
1
u
u
R W e
u
u
R W F F e
u
e EOC KOP
π
………….(3-
19)
Buckling yang terjadi pada sistem coiled tubing secara signifikan
akan mempengaruhi tubing axial load, hook load, dan panjang maksimum
horizontal. Berikut dapat dilihat contoh bagaimana menentukan coiled
tubing buckling dan selanjutnya memprediksikan kondisi suatu sumur
horizontal yang mengalami helical buckling.
0
2000
4000
6000
8000
10000
12000
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000
Fs (lb)
F
k
o
p

(
l
b
)
2.875
2.375
2
Grafik 3.3
Grafik Slack Off berbagai OD CT pada lubang bor vertikal 6 in
Contoh: Pemboran horizontal 3 7/8” menggunakan 2” CT (3.07 lbt/ft) dan
berat bit 1000 lbf, densitas lumpur 8.6 ppg. Vertical section 6000 ft, BUR
15 deg/ 100 ft, casing 4.5” (4.052” ID). Friction factor 0.3 untuk semua
bagian. Tentukanlah: 1. Kedalaman helical buckling pada CT.
2. Hook load pada 3000 ft bagian
horizontal.
3. Max. bagian horizontal yang bisa
dicapai.
4. Berat bit ketika membor bagian
horizontal 3700 ft dan hook load 6000 lbf
(tension)
Solusi:
56
Lumpur 8.6 ppg
Koef. Gesekan 0.4
1. Ambil harga bit weight 1000 lbf sebagai harga axial compressive
load pada ujung build section, hitung hubungannya dengan axial
compressive load di kickoff point;
Fkop = [1000–(2.667)(382)(1-0.3
2
)/(1+0.3
2
)] e
–(0.3)(π/2)
+ (2.667) (382) (2) (0.3)/(1+0.3
2
) = 800 lbf
Dari tabel III.5 sebelumnya, Fkop = 800 lbf > Fhel.b = 461 lbf. Maka
dapat dikatakan helical buckling akan terjadi pada bagian
vertikal tepat pada titik kick off.
2. Axial compressive load pada ujung build section dapat dihitung;
Feoc = 1000+(0.3)(2.667)(3000) = 3400 lbf
Dari tabel III.5 diketahui Feoc = 3400 lbf < Fhel = 6066 lbf; maka
tidak ada helical buckling pada bagian horizontal.
Fkop = [3400-(2.667)(382)(1-0.3
2
)/(1+0.3
2
)] e
–(0.3)(π/2)
+ (2.667) (382) (2) (0.3)/(1+0.3
2
) = 4645 lbf
Fkop = 4645 lbf > Fhel.b = 461 lbf; helical buckling akan terjadi
pada bagian vertikal. Untuk menentukan titik awal helical buckling
gunakan harga Fo = Fkop = 4645 lbf dan F(x) = Fhel.t = 12 lbf
x = [4El/(We μr)]
0.5
(arc tanh {(4645)[μr/4ElWe)]
0.5
}
– arc tanh {(12)[μr /4ElWe)]
0.5
}) = 2394 ft
F hook = 12 – (6000 – 2394)We = -9605 lbf (tension)
3. Perhitungan max compressive load pada KOP
Fb.max = 2[El/(We μr)]
0.5
(arc tanh {(4645)[μr/4ElWe)]
0.5
}
– arc tanh {(12)[μr /4ElWe)]
0.5
}) = 5744 lbf
Feoc = [ 5744 – (2.667) (382) (2) (0.3) / (1+0.3
2
) ] e
–(0.3)(π/2)
+ (2.667) (382) (1-0.3
2
) / (1+0.3
2
) = 4086 lbf
karena Feoc = 4086 lbf < Fhel = 6066 lbf, tidak ada helical buckling
pada bagian horizontal, maka panjang bagian horizontalnya:
L
H
= (4086 – 1000) / [(0.3)(2.667)] = 3857 ft
4. Pertama dihitung awal helical buckling dari KOP, dimana axial
loadnya adalah 12 lbf
X = 6000 – (6000+12)/2.667 = 3746 ft
Dengan harga x = 3746 ft, Fx = F hel.t = 12 lbf, selanjutnya:
57
Fo = Fkop = 2[El/(We μr)]
0.5
tanh ([(3.746)?(12)[μrWe / 4El)]
0.5
– arc tanh {(12)[μr /4ElWe)]
0.5
}) = 5435 lbf
Feoc = [5435 – (2.667)(382)(2)(0.3)/( (1+0.3
2
) ] e
–(0.3)(π/2)
+ (2.667) (382) (1-0.3
2
) / (1+0.3
2
) = 3893 lbf
karena Feoc = 3893 lbf < Fhel = 6066 lbf, tidak ada helical buckling
pada bagian horizontal. Maka berat bit;
Fbit = 3893 – (0.3)(3700)(2.667) = 933 lbf
3.4. OPERASI PEMBORAN
Selanjutnya akan dibahas lebih lanjut mengenai operasi pemboran
menggunakan Coiled Tubing (CT).
3.4.1. PEMBORAN VERTIKAL
Pemboran dengan coiled tubing untuk sumur vertikal dapat
dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu: pemboran sumur-sumur baru dan
pemboran re-entry (pemboran kembali sumur-sumur yang sudah ada
untuk memperdalam sumur sampai kedalaman tertentu yang diinginkan),
dimana surface casing atau conductor casing sudah terpasang.
Sedangkan untuk pemboran sumur-sumur baru, tetap diperlukan adanya
pipa permukaan yang berukuran besar sebagai surface casing, kemudian
coiled tubing meneruskan pemboran pada trayek berikutnya.
1. Pemboran lubang permukaan.
Apabila lubang permukaan belum terbentuk, alternatifnya adalah
melakukan pemboran lubang permukaan yang dangkal (shallow
surface hole) untuk casing permukaan. Ini dilakukan dengan
menggunakan water-well rig, ataupun menggunakan sebuah metode
Crane Drilling yang menggunakan kelly, kelly drive bushing, drill collar,
bit, konvensional downhole motor (6 ¾ “– 8”), rotary hose, drilling
structure dan mobil crane. Berikut adalah prosedurnya:
a. Drilling Structure dengan konfigurasi “false rotary” (pemutar
semu) berada pada lantai bor untuk selanjutnya meneruskan
putaran ke master bushing.
b. Bit, Motor dan Drill Collar (BHA) menggantung dibawah kelly.
58
c. Kelly disambung ke BHA, drive bushing terkunci dalam rotary dan
swivel atau rotary hose berada diatas kelly
d. Crane digunakan untuk menggantung atau mengangkat dan
menurunkan rangkaian peralatan.
e. Putaran pada bit atau torsi diberikan dengan laju alir tinggi dari
pompa melalui downhole motor (terbatas hanya oleh output
pompa dan kapasitas motor)
f. Yang diinginkan adalah laju alir yang tinggi tanpa restriksi tekanan
dan kecepatan diannulus harus tetap dijaga, torsi yang tinggi
pada motor (konvensional PDM) dapat digunakan sejak gaya
reaksi/ balik ditimbulkan terus oleh kelly/ drive bushing structure.
2. Penurunan Casing
Casing diturunkan menggunakan crane, conventional tong, slip dan
elevator. Untuk penanganan penurunan casing. Digunakan sistem:
 Well Head Supported
Pada dasarnya merupakan sebuah sistem Dual Cylinder yang
menggunakan dua lempengan baja pendorong. Satu dibaut diatas
wellhead (travelling plate), dan yang lain di perpanjang dengan
piston silinder (fixed plate). Power Slips disusun pada tiap
lempeng untuk mencengkram dan menurunkan pipa-pipa casing.
Kapasitas sistem ini 25 ton dan cocok sekali untuk ukuran area
yang relatif sempit dan pipa-pipa yang digunakan berukuran kecil.
 Platform Jacking-Frame
Sistem ini lebih kompleks daripada sistem wellhead-supported
dan terdiri dari struktur pemboran coiled tubing standard yang
dimodifikasi dengan penambahan platform yang dibantu empat
silinder hidrolik. Platform ini dapat dinaikkan dan diturunkan
secara relatif menuju platform dibawahnya (lower platform)
dengan menggunakan silinder-silinder tersebut dan power slips
disusun pada lower dan upper platform. Platform ini cocok
digunakan untuk operasi-operasi dimana kapasitas yang
59
dibutuhkan hingga 100 ton, serta mampu menangani casing 7 “
atau yang lebih besar.
Berikut adalah salah satu contoh konfigurasi design casing suatu
sumur baru yang dibor menggunakan coiled tubing;
Untuk melakukan pemboran sumur 6 ½ in, diawali dengan melakukan
surface drilling (bisa menggunakan water-well rig) dan dilakukan
dengan langkah-langkah design konfigurasi casing sebagai berikut,
Langkah 1:
• 13
5
/
8
in flange di-weld pada 13
3
/
8
in casing stub.
• 13
5
/
8
in casing spool dipasang diatas casing stub.
• Pasang 13
5
/
8
in drilling spool dengan 2 outlet.
• 13
5
/
8
in BOP dipasang diatas drilling spool
• pasang CTD riser
Setelah 12
1
/
4
in hole section dibor, casing string berikutnya
(9
5
/
8
in) digantung di 13
5
/
8
casing spool.
Langkah 2:
• 13
5
/
8
in flange di-weld pada 13
3
/
8
in casing stub.
• 13
5
/
8
in casing spool dipasang diatas casing stub.
• 11 in casing spool
• 11 in drilling spool dengan 2 outlet.
• 11 in BOP dipasang diatas drilling spool
• CTD riser
Selanjutnya 8
1
/
2
in hole section dibor, dan 7 in casing
dipasang dengan konfigurasi berikut:
Langkah 3:
• 13
5
/
8
in flange di-weld pada 13
3
/
8
in casing stub.
• 13
5
/
8
in casing spool dipasang diatas casing stub.
• 11 in casing spool
• 7 in casing spool
• 7 in drilling spool dengan 2 outlet.
60
• 7 in BOP dipasang diatas drilling spool
• CTD riser
Setelah melalui langkah-langkah diatas maka sumur ini telah
siap untuk pemboran akhir dan proses komplesi, seperti:
menggantungkan tubing, dan pemasangan Xmas tree.
3. Pemboran Trayek berikutnya.
Rangkaian BHA yang digunakan untuk pemboran sumur vertikal
trayek berikutnya adalah bit, PDM, drill collar, release joint, dual check
valve, connector dan coiled tubing. Penggunaan drill collar
dimaksudkan untuk memberikan WOB yang cukup dan memberikan
efek pendulum, hingga bit cenderung untuk ke arah vertikal.
Pada pemboran dengan menggunakan coiled tubing, WOB yang
diberikan cenderung lebih kecil daripada pemboran konvensional, hal
ini dikarenakan batasan kekuatan coiled tubing itu sendiri. Sedangkan
putaran bit (rpm) yang diberikan cukup tinggi dengan batasan daya
downhole motor. Pada dasarnya, torsi yang tinggi pada pemboran
dengan coiled tubing cenderung tidak akan memberikan problem yang
serius saat pemboran berlangsung. Hal ini dikarenakan rangkaian
pemboran coiled tubing tidak ikut berputar, dan pembebanan pada
rangkaian cenderung disebabkan oleh gaya beratnya sendiri.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanan maupun
operasi pemboran dengan coiled tubing adalah pemilihan fluida
pemboran yang tepat, hidrolika lubang bor, pengangkatan serbuk bor,
WOB dan kombinasi motor bit. Optimasi hal-hal tersebut akan
memperbesar laju penetrasi dalam pemboran.
3.4.2. PEMBORAN BERARAH DAN HORIZONTAL
Pemboran berarah dengan coiled tubing mempunyai pengertian
yang relatif sama dengan sistem pemboran rotary, perbedaannya adalah
rangkaian coiled tubing tidak berputar. Pemutaran bit tidak dilakukan
dengan sistem steerable motor, yang banyak dipakai adalah jenis positive
displacement motor (PDM) dan kontrol arah lubang bor dijaga dengan
menggunakan directional survey saat pemboran berlangsung (MWD).
61
Untuk mengubah orientasi arah lubang bor digunakan orienting tool yang
dihubungan melalui electric wireline ke control system di permukaan.
Pada pemboran dengan cara ini, umumnya hanya diperlukan satu jenis
BHA untuk setiap lubang bor, sebagai contoh adalah bit, PDM dengan
bent sub, non magnetic drill collar, orienting tool dan MWD sebagai kontrol
arah. Desain dan optimasi pada directional dan horizontal coiled tubing
drilling, dilakukan dengan komputer dan software pendukungnya.
Penerapan teknologi coiled tubing didalam pemboran berarah
meliputi pemboran re-entry dan pemboran sumur baru yang biasanya
ditujukan untuk sumur injeksi atau sumur observasi. Pemboran re-entry
dilakukan dengan “window cutting”, kemudian dilanjutkan dengan
directional drilling dan akhirnya diteruskan dengan membor bagian
horizontal sesuai dengan target yang ingin dicapai.
Gambar 3.14
Directional Coiled Tubing Drilling
a. Window Cutting
Operasi dimulai dengan penurunan whipstock assembly, yang
ditempatkan pada dasar yang keras agar tidak bisa tergelincir/ meleset
kedalam karena perputaran window mill. Penurunan whipstock dapat
dilakukan dengan coiled tubing menggunakan peralatan khusus
pemasangan secara hidrolik (special hydraulic setting tool).
62
Gambar 3.15
Window Cutting
Dalam penentuan orientasi whipstock, sudut yang dapat diset
berkisar antara 2
0
– 30
0
. Setelah whipstock terpasang, dilakukan
pemotongan casing untuk membuat window (window milling), BHA
yang dipakai dapat berupa rangkaian: coiled tubing string, coiled tubing
connector, flapper valve, disconnecting sub, drillcollar, low speed motor
dan diamond speed mill.
b. Bagian Berarah (Build Up)
Saat pemboran dimulai diluar window, diperlukan rangkaian BHA
yang baik untuk mencapai laju penetrasi (ROP) yang optimum,
disamping bagian build-up yang halus. Pada bagian ini, ROP yang
dapat dicapai kurang lebih 31,2 ft/hour pada inklinasi kecil, dan pada
inklinasi yang besar (>30
0
), ROP akan turun 4,9 – 6,6 ft/hr, hal ini
dikarenakan adanya alat penstabil dalam short-radius motor. Yang
perlu dipertimbangan selain pemilihan fluida pemboran serta
parameter-parameter teknis, adalah parameter formasi yang akan
ditembus serta parameter finansial.
63
c. Bagian Horizontal
Umumnya bagian horizontal dibor dengan tujuan untuk
mendapatkan pengurasan yang lebih besar. Panjang bagian horizontal
yang dapat dibor ini tergantung pada peralatan yang digunakan (BHA
dan fleksibilitas rangkaian). Dari operasi yang telah dilakukan:
• Dengan bit 4 1/8” dan BUR 25
0
- 35
0
/ 100 ft, didapat panjang
bagian horizontal 1000 ft pada kedalaman 5528 MD.
• Bit 3 ½” dan BUR 8
0
/ 100 ft, didapat panjang bagian
horizontal 3300 ft pada kedalaman 11000 ft MD (catatan :
inklinasi 89
0
).
Dari sini dapat dilihat bahwa semakin kecil laju build up ratio (BUR)
maka akan semakin panjang bagian horizontal yang dapat dicapai dan
berlaku pula sebaliknya pada kondisi BUR yang semakin besar, maka
akan semakin pendek bagian horizontal yang dapat dicapai.
Strategi dan perhitungan pembebanan pada rangkaian pemboran
dengan coiled tubing yang dirancang dengan baik, ditambah dengan
sistem kontrol arah dan monitoring pemboran selama operasi
berlangsung akan dapat meningkatkan ketepatan pencapaian target.
Berikut adalah 2 (dua) operasi pemboran yang terbukti berhasil
dengan baik dilakukan oleh Baker Hughes di Alaska dan Oman
(rangkaian BHA yang digunakan dapat dilihat pada gambar 3.17):
 Alaska
Tujuan: Melakukan sidetrack through tubing reentry drilling
terhadap 6 sumur di Alaska, yang membutuhkan
penggunaan whipstocks, men-drill off cement plug, dan
dalam kondisi underbalanced. Kedalaman sumur 8500 ft,
casing 7 in. Dan tantangannya adalah membandingkan
efisiensi coiled tubing driling dengan rotary drilling.
Solusi : Digunakan Baker Hughes INTEQ 2
3
/
8
in CoilTrack BHA
untuk men-sidetrack sumur ini dengan 3 in bit. Dogleg max
untuk bagian build up adalah 50
O
/ 100 ft. Rata-rata bagian
yang harus dibor sepanjang 1800 ft per sumur.
64
Hasil : Pemboran 5 sumur diselesaikan dengan sukses dan 1
sumur di-abandon karena gagal pada proses casing exit
dan pemboran cement plug. Total selama proyek
berlangsung telah dilakukan 48 kali operasi, 755 jam in
hole, 635 jam sirkulasi. Terbukti kinerja 2
3
/
8
in X-treme
motor sangat memuaskan. Dan evaluasi akhir
menunjukkan bahwa proyek ini dapat menghemat total
cost hingga lebih dari 10% per sumur.
 Oman
Tujuan: Melakukan multi well through tubing re-entry proyek
dengan CT drilling. Dan dilakukan bersamaan dengan
identifikasi formasi dan karakteristik lithology untuk
membantu geo-steering.
Solusi : Digunakan Baker Hughes INTEQ terintegrasi dengan US
MPR (Ultra Slim Multiple Propagation Resistivity) untuk
me-log sumur selama pemboran berlangsung (LWD).
Hasil : 30 sumur dibor dengan sukses dimana 25 sumur
menggunakan US MPR. Total membor 97490 ft bagian
baru, dan salah satunya memecahkan rekor pemboran
bagian horizontal terpanjang (4813 ft). LWD menghasilkan
hasil log berkualitas tinggi yang berhasil mendefinisikan
reservoir dengan baik. 95% dari reservoir di log pada
lobang 3 ¾ in dan 5% di log pada lobang 4
1
/
8
in
65

Gambar 3.16
BHA yang digunakan di Alaska (kiri), dan
BHA yang digunakan di Oman (kanan)
66
BAB IV
PEMBAHASAN
Teknologi, sistem dan komponen pendukung coiled tubing terus
dikembangkan untuk dapat menggantikan atau menutupi kelemahan
teknologi konvensional yang sudah ada. Coiled tubing sendiri adalah
suatu tubing panjang yang plastis dan tak bersambung serta dapat
digulung, terbuat dari bahan baja yang hingga saat ini memiliki diameter
berkisar antara 1 – 6 in. Batasan operasi coiled tubing dalam pemboran
seluruhnya saling mempengaruhi, yang meliputi: batasan tekanan dan
tegangan, batasan diameter dan keovalan, batasan kelelahan dan korosi
serta batasan pemompaan dan pengaliran.
Tekanan dan tegangan merupakan batasan penting mengingat jika
tekanan/tegangan yang dikenakan pada coiled tubing melebihi minimum
yield strength, maka coiled tubing akan mengalami kerusakan permanen
akibat deformasi plastis. Batasan tekanan dan tegangan pada coiled
tubing ditentukan berdasarkan material pembentuk, yield strength, tensile
strength, diameter dan ketebalan, serta berat nominal coiled tubing.
Gaya yang yang bekerja pada coiled tubing diantaranya adalah:
buoyancy, tension di reel, tekukan (buckling) dan turbulensi fluida.
Turbulensi fluida terjadi jika suatu fluida mengalir melalui coiled tubing
atau annulus dan akan menyebabkan coiled tubing bergetar. Getaran ini
akan meningkatkan gesekan antara coiled tubing dengan dinding lubang
bor. Hal ini juga berpengaruh terhadap gesekan pada stripper dan
tekanan kepala sumur dimana pada saat tekanan operasi stripper atau
tekanan kepala sumur meningkat, maka gaya gesekan pada daerah yang
disekat stripper tersebut juga meningkat. Saat dioperasikan pada tekanan
kepala sumur yang tinggi, gaya gesekan ini menjadi faktor yang penting
karena akan memberikan gaya keatas pada coiled tubing yang akan
mendorong tubing hingga tubing memiliki tendensi keluar dari sumur.
67
Pada sumur vertikal, berat coiled tubing string dapat ditentukan
dengan kalkulasi dari berat coiled tubing persatuan panjang lalu dilakukan
koreksi terhadap efek bouyancy. Atau dapat diamati pada weight indicator.
Sedangkan pada sumur directional atau horizontal, gaya yang diperlukan
untuk mendorong coiled tubing sepanjang lubang bor tidak dapat
ditentukan secara akurat jika menggunakan weight indicator. Untuk itu
perlu diperhatikan gaya-gaya yang lain yang bekerja pada coiled tubing,
seperti yang telah diterangkan diatas.

Gambar 4.1
Coiled Tubing Unit dan Personel
4.1. PENERAPAN COILED TUBING PADA OPERASI PEMBORAN
Penggunaan teknologi coiled tubing untuk operasi pemboran
menggantikan rotary drilling konvensional dipicu oleh berbagai faktor.
Diantaranya peningkatan kemampuan meneruskan hydraulic horsepower
ke downhole motor melalui fluida pemboran untuk memutar bit dan
sekaligus membersihkan lubang bor.
Coiled Tubing Drilling (CTD) potensial untuk diterapkan pada:
 Horizontal re-entry sumur vertikal untuk meningkatkan
produktivitas sumur dan mencapai perolehan max.
 Horizontal re-entry sumur vertikal untuk mengurangi
water atau gas coning.
 Horizontal re-entry sumur vertikal untuk membentuk
pola pengurasan dari radial ke linier pada proyek-proyek EOR.
68
 Horizontal re-entry sumur vertikal untuk tujuan
eksplorasi dan evaluasi formasi.
 Directional re-entry sumur vertikal untuk mencapai
reservoir yang heterogen.
 Memperdalam sumur vertikal (deepening).
 Memperpanjang sumur horizontal.
 Pemboran re-entry pada sumur horizontal untuk
mengubah penempatan lubang bor pada reservoir.
 Pemboran vertikal pada zona lost circulation dan
dibawahnya.
 Pada sumur slimhole, baik eksplorasi maupun
produksi.
 Pemboran underbalanced pada pay zone.
 Pemboran untuk coring.
Bottom Hole Assembly (BHA) merupakan rangkaian peralatan
bawah permukaan yang didesain untuk mencapai laju penetrasi optimum,
pencapaian target yang tepat dan lubang bor yang halus. Perencanaan
BHA sangat menentukan keberhasilan pemboran untuk itu perlu
dipertimbangkan aspek-aspek pemboran, karakteristik formasi dan
pertimbangan mekanis komponen yang akan sangat berpengaruh
terhadap pemilihan kombinasi motor dan bit yang akan digunakan,
parameter pemboran seperti WOB dan RPM, dan fluida pemboran.
Agar operasi dapat berjalan dengan sukses dan seefisien mungkin,
diperlukan persiapan (pre job planning), eksekusi (job executions) dan
analisa pasca operasi (post job review) yang berjalan dengan baik demi
suksesnya operasi CTD di lapangan.
a. Pre Job Planning
 Perencanaan yang berhubungan dengan target pemboran
yang akan dicapai, kedalaman pemboran dan jenis pemboran.
Untuk itu diperlukan persiapan awal yang mencakup riset data
sumur, persiapan wellsite dan peralatan, fluida pemboran,
69
hidrolika sumur, LWD dan MWD, serta perencanaan directional
dan window milling (untuk directional dan horizontal drilling).
 Design awal dari wellbore dan prosedurnya.
 Estimasi biaya dan pengadaan peralatan.
 Keselamatan.
b. Job Execution
 Akuisisi data dan kualitasnya.
 Operasi yang sukses dan efektif dari segi
biaya.
 Keselamatan (safe overall operation).
c. Post Job Review
 Penilaian terhadap hasil operasi pemboran.
 Analisa data dan informasi pemboran.
 Analisa pemboran dan hasilnya.
 Database untuk efisiensi dan reduksi biaya pada operasi CTD.
BHA pada operasi pemboran dengan CT umumnya dilengkapi
dengan Measurement While Drilling (MWD) tool yang dihubungkan
langsung melalui electric wireline didalam CT ke komputer dipermukaan,
alat ini digunakan sebagai pengukur dan monitoring selama operasi
pemboran berlangsung. Pemilihan rangkaian BHA yang tepat akan
mengurangi efek buckling selama operasi pemboran, khususnya pada
pemboran berarah dan horizontal.
Penggunaan coiled tubing untuk operasi pemboran vertikal maupun
berarah dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu pemboran re-
entry dan pemboran sumur baru. Pemboran sumur re-entry adalah
pemboran kembali untuk memperdalam ataupun untuk melakukan side
track (pada directional atau horizontal) dengan window cutting. Dan
pemboran untuk sumur-sumur baru umumnya untuk sumur injeksi atau
sumur observasi. Operasi pemboran ini tetap memerlukan adanya lubang
permukaan (shallow surface hole) untuk casing permukaan. Untuk sumur
baru, digunakan Crane untuk membuat lubang permukaan, metode ini
tetap menggunakan downhole motor untuk memutar bit, dan setelah
70
lubang permukaan terbentuk dipasang casing permukaan sebagai
landasan peralatan kontrol sumur.
Pemboran vertikal trayek berikutnya dilakukan dengan coiled tubing
dan BHA yang meliputi PDC, PDM, DC, release joint, check valve dan
connector. WOB yang diberikan cenderung lebih kecil namun dengan
RPM yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemboran konvensional.
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan operasi adalah :
• Pemilihan fuida pemboran yang tepat.
• Hidrolika lubang bor; terkait dengan laju pemompaan dan
kecepatan di annulus agar fluida mampu mengangkat cutting.
• Kombinasi motor dan bit; hal ini berpengaruh dengan daya
pada motor untuk memutar bit.
Pada pemboran berarah maupun horizontal (umumnya pemboran
re-entry) dilakukan dengan window cutting, prosesnya diawali dengan
memasang whipstock assembly dan membuat pilot hole dengan BHA
yang meliputi: starting mill, flex joint, motor, dan connector. Selanjutnya
dilanjutkan dengan memotong casing, menggunakan komposisi BHA: flat
face mill, water melon mill, motor, dan connector. Pemboran bagian
berarah dilakukan dengan perencanaan BHA khusus, diperlukan
penambahan peralatan orienting tool dan MWD sebagai kontrol arah dan
mechanical release untuk penanggulangan terjepitnya pipa. Problem
terjepitnya pipa (lock up), baik akibat formasi maupun akibat peralatan
merupakan salah satu problem yang cukup serius. Oleh karena itu
diperlukan perencanaan BHA yang sesuai untuk menghindari lock up dan
pemilihan fluida pemboran yang tepat untuk pencegahan pengembangan
lempung (swealing clay) pada formasi.
Panjang bagian horizontal yang dapat dibor tergantung pada
susunan BHA yang digunakan dan fleksibilitas rangkaian. Semakin baik
perencanaan BHA-nya maka akan semakin memungkinkan untuk
memperbesar jangkauan bagian horizontal pada pemboran. Dalam
perencanaan maupun operasi pemborannya, umumnya semakin kecil laju
build up ratio (BUR) maka akan semakin panjang bagian horizontal yang
71
dapat dibor. Strategi pembebanan pada bagian horizontal juga sangat
diperlukan berhubungan dengan beban buckling yang dapat
menyebabkan kondisi lock up pada bagian belokannya. Problem buckling
maupun lock up ini dapat dikurangi dengan menggunakan coiled tubing
yang berukuran lebih besar atau dengan mengurangi clearance/ ruang
antara coiled tubing dengan dinding lubang bor.
Problem yang umum ditemukan ketika melakukan pemboran
dengan coiled tubing adalah terjadinya lost circulation dan stuck pipe.
Untuk mengatasi lost circulation yang bisa diakibatkan oleh zona
patahan, zona rekahan, underpressured sand, dan zona yang memiliki
permeabilitas sangat tinggi. Bisa melakukan opsi berikut:
 Memompakan Lost Circulation Material (LCM pills) yang bisa
membentuk bridge, penetrasi ke loss zone dan membentuk low
compressive strength (300 – 400 psi).
 Memasang open hole Inflatable Bridge Plug (IBP) pada loss
yang terjadi di Total Depth.
Umumnya ketika terjadi loss circulation, sebagai langkah awal bisa
meneruskan pemboran terlebih dahulu sedalam 30 – 50 ft melewati zona
loss tadi, tapi jika hal ini gagal bisa mengurangi kemungkinan
keberhasilan mengatasi zona loss tersebut dan bisa meningkatkan resiko
terjadinya stuck.
Terjadinya stuck pipe bisa diakibatkan oleh beberapa hal seperti:
 Differential sticking, BHA berhenti bergerak akibat adanya
masalah weight transfer ketika BHA mengalami kontak dengan
zona yang diinvasi oleh mud filtrat.
 Hole instability, akibat extruding shale ataupun swealing
clay.
 Ledges (pelengkungan), kadang terjadi ketika RIH dan
POOH
 Mechanical sticking, timbul akibat debris (rock, junk, etc)
yang menghambat BHA
72
 Key seating, jarang terjadi namun perlu dipertimbangkan.
Hal ini mungkin timbul pada daerah high dog leg dimana
pemompaan dalam waktu yang lama akan menimbulkan
getaran yang terus menerus pada coiled tubing hingga
menyebabkan keausan.
4.2. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN COILED TUBING DRILLING
Kelebihan pemboran dengan menggunakan coiled tubing adalah:
1. Kemampuan through tubing re-entry drilling
Sumur yang ada dapat di-deepening dan di-sidetrack dengan
melakukan re-entry pada sumur tersebut. Hal ini dimungkinkan
karena diameter CT yang kecil efektif untuk slimhole drilling.
2. Pemboran Underbalance
Teknologi CTD efektif digunakan dalam pemboran underbalance
dengan fluida pemborannya Nitrogen (air drilling) sehingga dapat
meningkatkan ROP dan mengurangi kerusakan pada formasi.
3. Tingkat keamanan tinggi
Karena tidak membutuhkan penyambungan seperti pada jointed
tubing, maka sistem ini dapat mengurangi kecelakaan yang terjadi
di drill floor, meminimalisir kick, serta stuck pipe yang sering terjadi
ketika penyambungan dan trip. Serta dukungan stripper yang
terletak diatas BOP yang menutup annulus selama pemboran.
4. Mengurangi dampak lingkungan
Unit Coiled tubing drilling berukuran lebih kecil dibandingkan unit
pemboran konvensional. Serta cutting yang dihasilkan lebih sedikit
dan tingkat kebisingannya rendah.
5. Lebih ekonomis dalam operasional
CTD lebih ekonomis dan efisien dibandingkan cara konvensional.
Hal ini menyangkut efisiensi waktu dan biaya pemboran yang
antara lain; mengurangi trip time, kebutuhan fluida pemboran dan
73
pengangkutannya yang lebih murah, mobilisasi serta rig-up yang
lebih cepat, crew yang lebih sedikit dan komplesi bisa dilakukan
langsung menggunakan CTU tersebut. Peralatan pengendali
tekanan sumur (BOP) pada coiled tubing dapat digunakan pada
operasi underbalance karena lebih aman dan effisien. Dimana,
keuntungan yang sangat prinsip dalam underbalance drilling adalah
dapat mengurangi kerusakan formasi yang disebabkan oleh invasi
fluida pemboran ke formasi.
188
325 235
177
0
100
200
300
400
500
Taber 9-6
(CTD)
Taber 11-6
(CTD)
Taber 16-2
(CTD)
Taber 8-2
(CRD)
Horizontal Length (m)
Well Cost / m ($)
Grafik 4.1
Perbandingan biaya ($/m) antara proyek CTD dan CRD pada operasi
pemboran horizontal di Alberta Field – Canada (1996)
Namun CTD juga memiliki kekurangan, yang antara lain adalah:
1. Hingga saat ini kemampuannya terbatas pada sumur < 8 inch untuk
re-entry, dan 12 ¼ inch untuk pemboran sumur baru.
2. CT string tidak bisa berputar, hanya bergerak sliding. Hal ini
mengurangi kemampuan pembersihan lubang bor yang
meningkatkan resiko terjadinya pipe stuck.
3. Pada beberapa aplikasi masih memerlukan bantuan rig
konvensional untuk persiapan sumur dan pemasangan casing/ liner
yang panjang dengan berat > 100 ton.
4. Kedalaman yang bisa dicapai masih terbatas karena keterbatasan
ukuran dan mekanis dari CT serta peralatan pendukung lainnya.
74
5. Umur coiled tubing lebih pendek dan jangkauan horizontal terbatas.
4.3. KAITAN KARAKTERISTIK RESERVOIR TERHADAP OPERASI
PEMBORAN COILED TUBING
Karakteristik reservoir merupakan faktor penting dalam pemilihan
metode pemboran karena akan sangat menentukan tingkat keberhasilan
yang berhubungan langsung dengan efisiensi dan efektivitas biaya (cost)
operasi pemboran itu sendiri.
Sifat-sifat fisik yang mempengaruhi terdiri dari kekerasan batuan
(hardness), drillability, kompresibilitas dan tekanan.
Kekerasan batuan yang akan ditemui selama berlangsungnya
operasi pemboran akan berbeda menurut kedalaman, kompaksibilitas,
maupun jenis batuannya. Ketidakseragaman kekerasan batuan yang
ditembus seperti keras-lunak yang disertai kemiringan lapisan akan
membuat terjadinya miniature whipstock theory. Kondisi ini akan
mengakibatkan pembelokan arah lintasan yang berubah-ubah yang akan
mempengaruhi faktor gesekan dan kondisi ekstrim akan mengakibatkan
pipa terjepit (stuck). Masalah-masalah teknis yang sering timbul akibat
kekerasan batuan tentu akan menjadi pertimbangan tersendiri dalam
penerapan pemboran coiled tubing. Hal ini karena pemboran coiled tubing
yang hanya mengandalkan optimasi DWOB dan RPM akan menentukan
ROP. Untuk itu diperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
tingkat kekerasan batuan formasi.
Formation drillability umumnya berkurang dengan bertambahnya
kedalaman yang dipengaruhi oleh kekompakan batuan berdasarkan faktor
sementasi. Abrasivitas formasi sangat mempengaruhi ROP. Compressive
strength batuan akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman yang
dipengaruhi oleh kekuatan batuan berdasarkan jenis lapisan yang
ditembus dan tekanan overburden yang diterima oleh batuan tersebut.
Kemampuan formasi untuk dapat ditembus oleh bit ditentukan pula
oleh faktor beban atau tenaga yang dibebankan untuk formasi batuan
berupa WOB serta kecepatan putaran bit (RPM) dari motor, dimana untuk
75
formasi yang mempunyai drillability yang berbeda dan dipengaruhi
kekerasan batuannya akan menggunakan WOB yang berbeda pula.
Untuk formasi yang lunak WOB yang diberikan sebaiknya rendah
untuk menghindari lintasan yang berkelok-kelok (crocked hole) berkisar
antara 3000 sampai 6000 lbs dengan RPM maksimum berkisar 100-250
rpm. Pada lapisan formasi medium WOB yang diberikan berkisar 6000-
8000 lbs, dengan RPM berkisar 70-140 rpm. Sedangkan pada lapisan
formasi yang keras dapat digunakan WOB sekitar 6000-9000 lbs dengan
RPM berkisar 40-100 rpm. Penggunaan WOB dan RPM yang ideal pada
pemboran coiled tubing dengan penggunaan downhole motor berkisar
1000-6000 lbs dan 250-750 rpm.
Pressure dan tension formasi sangat mempengaruhi operasi
pemboran coiled tubing. Tekanan pada batuan formasi merupakan
tekanan yang diberikan oleh zat yang mengisi rongga reservoir baik
berupa gas, minyak maupun air. Tekanan yang terjadi pada dasarnya
disebabkan oleh tekanan hidrostatik dari fluida dalam formasi, tekanan
kapiler antar fluida dan tekanan overburden yang berbanding lurus
dengan kedalaman formasi. Tekanan formasi berada pada kondisi normal
menurut gradien tekanan berharga 0,433 – 0,465 psi/ft, tekanan
subnormal < 0,433 psi/ft dan tekanan abnormal > 0,465 psi/ft.
Pada operasi pemboran coiled tubing tekanan kerja maksimum
yang dapat digunakan pada coiled tubing string adalah 1/1,5 dari tekanan
uji dengan safety factor 5 %.
Batasan diameter dan keovalan didasarkan pada kemampuan
peralatan kontrol tekanan yang digunakan untuk mengoperasikan tubing
yang tidak bulat seutuhnya. Kondisi yang mungkin terjadi adalah tubing
menjadi oval, membalon (ballooned) dan rusak. Tubing yang oval akan
menurunkan ketahanan terhadap collapse. Dengan demikian makin oval
coil tubing tersebut maka persentase terjadinya collapse makin besar. Hal
ini akan berpengaruh terhadap berkurangnya tekanan hidrostatik terhadap
formasi yang ditembus. Batasan keovalan yang masih ditoleransi sampai
76
dengan 105 % dari keadaan normal dan diameter yang masih ditoleransi
sebesar 6 % atau lebih kecil dari 4% dari diameter nominal.
Batasan fatigue dan life limit coiled tubing disebabkan oleh
kombinasi tekanan dan siklus pelengkungan yang terjadi pada coiled
tubing. Hal ini sulit untuk di ukur karena berhubungan dengan karakteristik
material yang khusus. Berdasarkan program pengujian yang ekstensif
barulah dapat ditentukan model matematika yang kompleks. Model ini
menghitung kerusakan yang terjadi pada coiled tubing yang disebabkan
oleh pemberian tekanan dan pelengkungan yang berulang. Pelengkungan
yang berulang menyebabkan kerusakan struktur kristal dari material
pembentuk coiled tubing. Kelelahan ini semakin bertambah jika
pelengkungan dilakukan sambil memberikan tekanan didalam coiled
tubing (internal pressure). Kerusakan akibat kelelahan tidak merubah yield
strength dari baja yang digunakan.
Salah satu software untuk memonitor kondisi coiled tubing secara
real time adalah software CoilCAT dari Schlumberger, yang memberikan
fasilitas informasi sebagai berikut:
• CoilLIMIT CT pressure/tension limit model
Mengamati pressure dan tension yang terjadi pada CT
• CoilLIFE CT life prediction model
Mengamati kelelahan dan masa pakai dari CT berdasarkan faktor-
faktor: pergerakan tubing, tekanan, dan fluida yang melalui CT
• Well animation
• Customizable plots
Umumnya rekomendasi rule of thumb berikut digunakan jika
computer model untuk monitoring kondisi coiled tubing tidak tersedia:
• Internal Pressure Limit
o Max pump pressure while running tubing : 4000 psi
o Max pump pressure while tubing stationary : 5000 psi
• Max Collapse Differential : 1500 psi
• Max Recommended Wellhead Pressure : 3500 psi
• Max Tension Limit : 80% yield strength
77
• Max Diameter & Ovality
o Max OD : 106 %
o Min OD : 96 %
Disamping itu sifat-sifat fisik batuan reservoir yang mempengaruhi
laju pemboran coiled tubing juga meliputi: permeabilitas, porositas,
wettabilitas, saturasi, kompresibilitas batuan.
• Permeabilitas berpengaruh terhadap tekanan untuk batuan
permeable, batuan yang semakin brittle dengan compressive
strength yang semakin kecil akan meningkatkan laju pemboran.
• Porositas berpengaruh terhadap laju penembusan. Dimana dengan
semakin besar porositas batuan maka akan meningkatkan ROP.
• Wettabilitas juga mempunyai pengaruh terhadap laju penembusan
dan bit yang digunakan, yaitu batuan yang tertekan oleh gigi bit
selain pecah dan lepas sisanya akan membentuk rekahan-rekahan
mikroskopik. Bila rekahan-rekahan ini bisa diisi dengan fluida
(lumpur pemboran) maka akan mudah dibor oleh gigi bit. Tegangan
permukaan yang kecil dan wettabilitas yang besar akan
mempermudah masuknya fluida pemboran ke dalam rekahan-
rekahan itu, sehingga bit lebih mudah mengorek batuan tersebut
yang mengakibatkan ROPnya meningkat.
• Pengaruh saturasi adalah dengan adanya volume pori yang
dijenuhi fluida maka akan meningkatkan ROP.
• Pengaruh kompresibilitas terhadap ROP terdapat pada tekanan
yang diterima oleh batuan yaitu tekanan hidrostatik fluida dalam
batuan dan tekanan overburden. Semakin kecil tekanan hidrostatik
fluida di dalam batuan maka batuan akan lebih mudah di bor.
Sedangkan tekanan overburden yang dialami oleh batuan tersebut
menyebabkan batuan semakin kompak sehingga sulit untuk di bor.
78
BAB V
KESIMPULAN
1. Coiled Tubing merupakan suatu tubing yang dapat digulung dan
bersifat plastis terbuat dari bahan baja yang tak bersambung. Dalam
operasionalnya coiled tubing unit relatif tidak memerlukan lahan yang
luas serta lebih ekonomis dan efisien dalam hal biaya dan waktu.
2. Penggunaan coiled tubing untuk operasi pemboran dapat
menggantikan keberadaan drillpipe konvensional yang membutuhkan
penyambungan. Untuk memutar bit agar dapat menembus formasi
digunakan downhole motor. Pemilihan kombinasi motor-bit, alat bawah
permukaan, fluida pemboran dan kontrol operasi yang baik akan
meningkatkan laju pemboran dan pencapaian target yang optimum.
3. Dalam pengoperasiannya pemboran coiled tubing mempunyai
batasan-batasan yang dipengaruhi oleh kondisi peralatan coiled tubing
itu sendiri dan karakteristik batuan yang akan ditembus. Batasan-
batasan ini terdiri dari batasan: berat dan ukuran, mekanik, lifetime,
hidrolika, diameter, keovalan, tekanan, tegangan, regangan, dan
fatigue (kelelahan). Elemen-elemen karakteristik batuan formasi yang
turut mempengaruhi meliputi sifat fisik batuan, seperti: permeabilitas,
porositas, wettabilitas, saturasi, dan kompresibilitas batuan.
4. Hingga saat ini teknologi coiled tubing drilling belum akan mampu
menggantikan teknologi rotary drilling conventional dalam hal aplikasi
pemboran secara keseluruhan. Namun berdasarkan teori dan praktek,
ternyata ada beberapa aplikasi pemboran yang lebih optimal jika
menggunakan coiled tubing dibandingkan dengan rotary drilling
conventional, seperti: through tubing re-entry drilling untuk well
deepening dan side tracking .
79
PDA Monitored Coiled Tubing Unit
80
81
82
Lampiran 1
Prosedur Penentuan Feasibilitas Coiled Tubing Drilling
83
Lampiran 2
Coiled Tubing BOP Design
84
Daftar Simbol
Mw = Densitas lumpur, ppg
Dw = Berat string di permukaan, lb
Bw = Berat terapung string, lb
As = luas penampang pipa, in
2
L = panjang coiled tubing, in
r = radius gerakan putar, in
I = moment inersia, in
4
OD = diameter luar coiled tubing, in
ID = diameter dalam coiled tubing, in
Fy = gaya kritis pada CT, lb
Cc = Column slinderness ratio
E = modulus young, lb/in
2
t
min
= ketebalan minimum, in
t = ketebalan spesifikasi tubing, in
w = berat akhir coiled tubing, lb/ft
Ly = Pipe body yield load, lb
SMYS= Minimum yield strength , psi
P
t
= Tekanan tes, psi
P
γ
= Internal yield pressure, psi
P
o
= tekanan luar coiled tubing, psi
A = luas section dari coiled tubing, A= π (r
o
2
– r
i
2
)
P
col
= tekanan collapse, psi
σ y = yield stress dari coiled tubing material, psi
Vi = Capacity per 1000 ft (gal/1000 ft)
Vd = Tube body displacement per 1000 ft (gal/1000ft)
Wdf = Berat jenis fluida pemboran, lbm/gal
Q = laju pemompaan fluida, bpm.
D
b
= outer tubular (ID), in.
D
c
= coil tubing (OD), in.
V = laju aliran fluida, fps
85
p = berat Fluida, lb/ft
3

u = viskositas fluida, cp
D = kedalaman vertikal, ft
E = konstanta 2,71828
F = beban aksial, lbf
F
b,max
= beban kompresiv aksial max yang dibagian bawah, lbf
F
cr
= beban buckling kritis (sinusoidal), lbf
F
crb
= beban buckling kritis pada bagian bawah, lbf
F
EOC
= beban aksial pada titik EOC, lbf
F
hel
= beban helical buckling, lbf
F
hel,b
= beban helical buckling pada bagian bawah, lbf
F
hel,t
= beban aksial pada helical buckling top lubang vertikal,lbf
F
KOP
= beban aksial pada titik KOP, lbf
Fo = beban aksial pada titik nol (x=0), lbf
Fs = slack-off berat di permukaan, lbf
L
H
= panjang bagian horizontal, ft
L
p,hel
= panjang puncak helical, in
r = radial clearance antara dinding lubang dengan tubular, in
R = radius of curvature,ft
x = koordinat untuk perhitungan, in
W
e
= berat tubular dalam lumpur, lb/in
θ = inklinasi lubang bor, derajat
µ = faktor gesekan
86

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.