You are on page 1of 31

Pembimbing

:
Dr.dr.Irvan Kusumanegara,Sp.An,KMN,M.M
Oleh : Ruth Isabelle S

BAB I - Latar Belakang
• Saat kehamilan dan melahirkan, wanita
mengalamai perubahan fisiologis perubahan
respon pada anestesi
• Seorang dokter harus mampu membuat
keputusan medis  pre operatif, manajemen
anestesi yang dipilih dan dilakukan, hingga
manajemen pemulihan.
• Menurut penelitian, 1-2% wanita hamil
menggunakan tindakan anestesi untuk
melakukan operasi yang tidak berhubungan
dengan kehamilannya  pemilihan anestesi yang
tepat diperlukan agar aman bagi ibu dan janin.

BAB II – Tinjauan Pustaka
• Perubahan fisiologis
• Guideline anestesi obstetri
• Algoritma intubasi pada ibu hamil
• Anestesi pada operasi non obstetri

.

Saat posisi supinasi. Meskipun terjadi peningkan pada frekuensi denyut jantung dan stroke volume. Kadar Hb normal pada ibu hamil adalah 11g/dl. Peningkatan sel darah merah tidak seimbang dengan peningkatan volum plasma darah sehingga terjadi hemodilusi dan menyebabkan anemia fisiologi pada ibu hamil.• Perubahan sistem kardiovaskular yang terjadi yaitu peningkatan volum plasma darah sebanyak 40-50% dan volum sel darah merah sebanyak 15-20%. cardiac output dan tekanana darah sistemik. . dimana kompresi dari vena cava dapat menurunkan preload. uterus ibu hamil dapat menekan aorta dan vena cava. Perubahan lainnya yang terjadi yaitu peningkatan frekuensi denyut jantung dan stroke volume dan curah jantung seiring dengan usia kehamilan. namun terjadi penurunan pada resistensi sistemik vaskular sehingga tekanan darah pada ibu hamil menurun.

• Perubahan pada sistem respirasi yang memperngaruhi anetesi yaitu bendungan pada mukosa jalan napas ataas yang menyebabkan mudahnya terjadi edema dan perdarahan saat dilakukan intubasi. Hal ini juga dipengaruhi oleh kebutuhan oksigen pada ibu hamil yang meningkat. . • Perubahan sistem gastrointestinal yaitu peningkatan terjadinya heart burn karena pergeseran dan gangguan fungsi sfingter esofagus bagian bawah akibat pembesaran uterus dan perubahan hormon progesteron dan estrogen. Hal ini meningkat seiring usia kehamilan. Dorongan dari rahim khususnya pada kehamilan usia >32 minggu akan menyebabkan desakan pada diafragma sehingga menyebabkan ibu hamil akan bernapas lebih dalam (20-25% dari normal).

Perubahan pada sistem saraf yaitu perluasan dermatom dari pemberian anestesi epidural pada wanita hamil dibandingkan dengan wanita tidak hamil. . Oleh karena hal terebut nilai BUN dan kreatinin pada ibu hamil menurun hingga 50% dari batas normal. Perbedaan tersebut terjadi akibat penurunan volum ruang epidural karena adanya pembesaran dari pembuluh darah akibat aortocaval compression. Perubahan ginjal pada wanita hamil yaitu terjadi peningkatan GFR sebesar 5060% pada bulan ketiga persalinan dan akan kembali pada batas normal sampai 3 bulan post partum.

• Tahun : 2015-2016 • Literatur – konsultan – ASA • Januari 2005-Juli 2015 .

• Golongan Darah dan Screening • Pola Denyut Jantung Janin .Evaluasi dan Persiapan • Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik • Jumlah Platelet Intrapartum  perdarahan postpartum dan diagnosis pada hipertensi dalam kehamilan.

• Jenis cairan Makanan Padat • Pasien dipuasakan 6-8 jam sebelum operasi Pemberian Obat untuk Mencegah Aspirasi • Pemberian obat seperti antasida. . H2 reseptor agonis dan metoclopramid diberikan sebagai profilaksis pada ibu hamil untuk mengurangi risiko dari aspirasi.Mencegah Aspirasi Cairan • Ibu hamil tanpa komplikasi  jumlah moderate diperbolehkan • Operasi terencana. oral intake masih dapat diberikan sampai 2 jam sebelum induksi.

kehamilan ganda. atau dengan indikasi anestesi sepeti obesitas dan penyulit jalan napas)  bila terjadi kondisi darurat untuk mengurangi risiko penggunaan anestesi umum.Anestesi bagi persalinan dan melahirkan pervaginam Waktu Anestesi Regional dan Hasil Persalinan • anestesi regional dilakukan pada saat dilatasi serviks <5cm selama kondisi masih memungkinkan Anestesi Regional dan Persalinan setelah Riwayat Sesar Teknik Anestesi • Penggunaan kateter pada anestesi regional untuk persalinan dengan komplikasi (preeklamsi. • CIE (Continous Infusion Epidural) Analgesia  lebih efektif dibandingkan dengan pemberian single shoot opioid pada saat persalinan berkaitan dengan penurunan kesakitan dan rasa tidak nyaman pada ibu hamil .

• PCEA (Patient Controlled Epidural Analgesia)  pendekatan yang lebih efektif dan fleksibel dalam melakukan maintenance obat analgesik selama persalinan dan disarankan untuk CIE dengan dosis yang sudah pasti sehingga meminimalisasi intervensi anestesi dan dapat mengurangi dosis lokal anestesi yang digunakan . Teknik ini dipertimbangkan bila diperkirakan kemungkinan dilakukannya operasi sesar atau persalinan yang lama melebihi durasi dosis obat analgesik spinal yang diberikan.Anestesi bagi persalinan dan melahirkan pervaginam Teknik Anestesi • Pengunaan dosis anestesi regional  menggunakan obat lokal anestesi dengan konsentasi dilusi yang ditambahkan dengan opioid untuk menurunkan saraf motorik yang terblok oleh obat anestesi • Penelitian menunjukkan penggunaan opioid spinal memiliki durasi yang lebih panjang dibandingkan dengan opioid yang diberikan secara intavena. • Penggunaan jarum spinal pencil point spinal needles dibandingkan dengan cutting bevel spinal needles  mengurangi risiko teradinya PDPH (post dural puncture headache). • CSE (Combine Spinal and Epidural) analgesia  efek analgesik yang lebih cepat dan efektif selama persalinan. ++anestesi lokal  meningkatkan durasi dan efek analgesik.

• Profilaksis untuk mencegah aspirasi harus diberikan • cegah terjadinya depresi napas dan asipirasi pulmoner selama periode postpartum Pemberian Nitrogliserin untuk Relaksasi Uterus • Nitrogliserin dapat digunakan sebagai pengganti terbutalin sulfat/ anestesi umum endotrakeal/agen halogen untuk relaksasi uterus selama proses pengeluaran plasenta.Pelepasan Plassenta Teknik Anestesi • Pemeriksaan status hemodinamik untuk menentukan anestesi regional / umum. .

epidural maupun CSE juga tidak memiliki perbedaan yang bermakna pada APGAR score.Anestesi untuk Operasi Sesar Sarana dan Prasarana Pemilihan Anestesi (Umum/Spinal/Epidural/CSE) • RCT teknik anestesi epidural dibandingkan dengan anestesi umum  didapatkan APGAR score yang lebih tinggi pada penggunaan tekik anestesi epidural. • Penggunaan teknik anestesi spinal. maupun efek hipotensi. . risiko ibu dan fetus. waktu persalinan. • Setiap teknik yang digunakan harus mempertimbangkan risiko anestesi.

Anestesi untuk Operasi Sesar Cairan Intravena  mengurangi risiko hipotensi maternal setelah dilakukannya anestesi spinal pada operasi sesar Efedrin dan Fenilefedrin  hipotensi akibat teknik regional anestesi Pemberian Opioid pada Anestesi Regional untuk Analgesik Postoperatif disarankan dibandingkan pemberian opioid secara intravena. .

Ligasi Tuba Postpartum • puasa selama 6-8 jam • Pemilihan anestesi yang digunakan didasarkan pada pertimbangan setiap kasus  regional anestesi dibandingakan anestesi umum. . • Perlu diperhatikan pengosongan lambung akan terhambat pada pasien yang menerima terapi opioid selama persalinan.

Reginald F. Prof Lamiaa M. fetus maupun neonatus.PENANGANAN KEGAWATDARURATAN • Perdarahan. penyulit pada jalan napas dan diperlukannya resusitasi jantung paru sarana dan prasaranna yang menunjang bila terjadi untuk mengurangi risiko kematian pada ibu maupun janin. Wiknjosastro. JNPK-KR.Guardi.POGI. 2008 . • American Heart Assiciation mengungkapkan survival rate pada infant dengan usia gestasi >24/25 minggu pada ibu dengan henti jantung yaotu kurang dari 5 menit 3. Penanganan jalan napas juga termasuk keterdiaan alat pulse oximetry dan CO2 detector. Preeklampsia/Eklampsia : Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK). Tom C. • Penangannan perdarahan  komplikasi pada maternal Penanganan jalan napas  komplikasi bagi ibu.USAID.

.

.

.

.

.

.

.

• N2O (nitrous oxide)  efek teratogenik • Benzodiazepin  cleft palate dan kelainan jantung • Penggunaan obat anestesi seperti propofol. opioid. pelumpuh otot. dan anestesi lokal aman digunakan pada ibu selama masa kehamilan. .Obat anestesi bagi Ibu Hamil • Peningkatan bayi yang lahir dengan LBW (low birth weught) yaitu <1500 g akibat dari kelahiran preterm atau IUGR (intrauterine growth restriction) dari ibu dengan riwayat operasi selama masa kehamilan dan adanya neural defek khususnya pada ibu yang memiliki riwayat operasi pada trimester pertama. barbiturat. • Disarankan penggunaan teknik anestesi regional.

• Fenilefedrin lebih aman dan efektif dibandingkan efedrin dalam mencegah hipotensi pada ibu hamil dan sekuele dari hipotensi.Monitoring Fetus • Kekurangan oksigen pada ibu dalam jangka waktu yang lama vasokonstriksi dan penurunan perfusi pada sirkulasi uteroplasenta  hipoksia pada fetus. respiratori asidosis pada ibu. dimana hal ini berkaitan dengan keadaan ibu (obat anestesi. asidosis dan kematian • Hiperkapnia  asidosis respiratorius pada fetus  depresi pada otot jantung. penurunan temperatur) . • Monitoring denyut jantung janin (DJJ) sangat penting! DJJ yang semakin menurun harus diperhatikan sebagai tanda hipoksia pada fetus dan asidosis. selain itu penggunaan efedrin dihubungkan dengan penurunan pH pada neonatus dan meningkatkan asidosis pada neonatus. vasokonstriksi pada arteri uterus dan menurunkan aliran darah ke uterus.

Laparoskopi Pembedahan Jantung intervensi karena hal secara ini perkutan menurunkan Pada pembedahan laparoskopi dengan seringkali dikhawatirkan mengenai asidosis mortalitas fetus. penggunaan maupun . Ht >28% 3. sirkulasi cardiac output ibu. menyebutkan bahwa Penelitan tidak ada perbedaan outcome yang terjadi 2. tekanan perfusi (>70mmHg) uteroplasental.5L/menit/m2 jantung teknik fetus dengan laparotomi laparoskopi. Pada pembedahan jantung. perlu dilakukan maintenance dari peningkatan tekanan intraabdomen. fetus akibat absorbsi CO2. dan penurunan uteroplasenta dengan perfusi cara pemantauan 1. kapasitas pada pompa >2.

25-0.1kPa. PaCO2 akan dipertahankan di 4-4. Hipotensi  sodium nitroprusid atau nitrogliserin. penurunan aliran darah ke renal dan peningkatan kadar natrium di plasma. Dosis : 0. 4. Hipotermia dilakukan pada pembedahan saraf dengan tujuan menurunkan metabolisme yang dibutuhkan otek dan menurunkan aliran darah ke otak target yang ingin dicapai adalah 30OC. Hiperventilasi dilakukan untuk menurunkan PaCo2 dan aliran darah ke otak.Pembedahan saraf 1.5mg/kg/jam. 2. sehingga pemberian yang boleh diberikan hanya 0. 3.5 mg/kg. Pemberian nitroprusid memiliki efek toxic yang dapat menyebabkan kematian pada fetus. Diuresis  manitol  berakumulasi pada fetus  hiperosmolaritas dimana akan menyebabkan perubahan seperti penurunan produksi cairan pada paru. .

dimulai dari pre operatif. . hingga manajemen pemulihan. manajemen anestesi yang dipilih dan dilakukan.  Seorang dokter harus mampu membuat keputusan medis bagi wanita hamil yang hendak menjalani proses melahirkan.BAB III-Kesimpulan  Pada masa kehamilan terjadi perubahan fisiologis sehingga membutukan penanganan anestesi yang berbeda dibandingkan pasien pas umunya.  Pemilihan teknik anestesi yang digunakan berbeda pada setiap individu dan dipertimbangkan setiap kasusnya dengan mempertimbangkan kedaan ibu maupun janin.

2015 . 7th ed.2010 2. Obstetric Anaesthetists’ Association and Difficult Airway Society Guidelines for The Management of Difficult and Failed Tracheal Intubation in Obstetrics.Eriksson LI.DAFTAR PUSTAKA 1. Practice Guideline for Obstetric Anesthesia: An Updated Report by the American Society of Anesthesiologists Task Force on Obstetric Anesthesia and the Society for Obstetric Anesthesia and Perinatology. et all. Mushambi. The Amercian Society of Anesthesiologist. Miller’s anesthesia.Murray M J. Maternal & Fetal Physiology & Anesthesia.825-39 3. Jr. Chruchill Livingstone Elsevier.Editors:Miller RD.Fleisher LA.Mikhail M S.Mcgraw-Hill Companies.Lnage 5th ed. February 2016 4.Morgan G E. Association of Anaesthetists of Great Britain and Ireland.2013. M C.