You are on page 1of 43

REFERAT

I.

PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Definisi, insidensi dan prevalensi, gejala klinis dan komplikasi

Dakriosistitis adalah suatu infeksi pada sakus lakrimalis atau saluran air mata ( sakus lakrimalis).
Infeksi ini menyebabkan nyeri, kemerahan, dan pembengkakan pada kelopak mata bawah, serta
terjadinya pengeluaran air mata berlebihan (epifora).( wikipedia)
Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak atau wanita dewasa diatas 40 tahun, yang biasanya
diawali dari obstruksi duktus nasolakrimalis. Obstruksi ini pada anak biasanya akibat tidak
terbukanya membran nasolakrimal, sedangkan pada dewasa akibat tertekan salurannya.
(www.kabarindonesia.com)
Dacryocystitis is relatively common, the majority of patients present with pre-septal cellulitis
and not an orbital abscess due to anatomical barriers. The authors report a case of dacryocystitis
presenting as post-septal cellulitis in a postmenopausal lady with an underlying malignancy.
Following antibiotic therapy and elective dacryocystorhinostomy the patient is still under followup, and has no further recurrence of symptoms. Orbital abscess in postmenopausal women
presenting with dacryocystitis should be considered, as prompt recognition and early surgical
intervention is required to prevent visual loss.
Dakriosititis merupakan penyakit yang dianggap lumrah, mayoritas pasien juga mengalami
cellulites pre-septal dan tak disertai abses orbita karena terdapat barier anatomi. Beberapa
peneliti melaporkan kasus dakriosotitis disertai selulitis pre-septal pada wanita postmenopause
yang mendasari adanya keganasan.
Dacryocystitis is associated with pyrexia and severe erythematous swelling around the nasal
aspect of the lower lid. The majority of patients with dacryocystitis present with pre-septal
cellulitis and not an orbital abscess. Orbital abscess formation and can lead to vision loss
therefore requires emergency surgical drainage. (info@jmedicalcasereports.com)
Dakriosistitis disertai dengan pyrexia dan dikelilingi oleh eritematosa yang berat di nasal kelopak
mata bawah. Mayoritas pasien dakriosistitis dapat berkembang menjadi pra septal selulitis dan
abses orbital. Pembentukan Abses orbital dapat menjadi indikasi utama untuk dilakukan drainase
darurat.
The lacrimal excretory system is prone to infection and inflammation for various reasons. This
mucous membrane-lined tract is contiguous with 2 surfaces (conjunctival and nasal mucosal) that
are normally colonized with bacteria. The functional purpose of the lacrimal excretory system is
to drain tears from the eye into the nasal cavity. Stagnation of tears in a pathologically closed
lacrimal drainage system can result in dacryocystitis.

System ekskresi lakrimal mudah terinfeksi dan terjadi inflamasi karena berbagai sebab. lapisan
membrane mukoa traktus lakrimal yang berbatasan dengan dua lapisan mukosa ( konjungtiva
dan mukosa nasal ) dalam keadaan normal terdapat koloni bakteri. Fungsi dari sistme ekskresi
lakrimal adalah mengalirkan air mata dari mata kedalam rongga hidung. Peyumbatan air mata
secara patologis menyebabkan tertutupnya sistem ekskresi lakrimal dapat menyebabkan
dakriosistitis.
Acquired dacryocystitis can be acute or chronic. Acute dacryocystitis is heralded by the sudden
onset of pain and redness in the medial canthal region. An insidious onset of epiphora is
characteristic of chronic inflammation or infection of the lacrimal sac.
Dakriosistitis yang didapat dapat terjadi akut maupun kronik.. Dakriosititis akut menimbulkan
gejala nyeri, kemerahan pada area sakus lakrimal. Gejala yang lebih berat adalah epifora yang
merupakan cirri khas adanya inflamasi kronik atau infeksi pada sakus lakrimal.
A special form of inflammation of the lacrimal sac is that of congenital dacryocystitis, the
pathophysiology of which is intimately related to the lacrimal excretory system embryogenesis.
Inflamasi sakus lakimalis yang khusus adlah dakriosistitis congenital, patofisiologinya sangat
berhubungan dengan proses embryogenesis dari sistem ekskretori lakrimal.
Dacryocystitis has long been noted to occur more frequently on the left side than on the right
side. In many instances, the nasolacrimal duct and lacrimal fossa formed a greater angle on the
right side than on the left side.
Dakriosistitis telah lama tercatat lebih sering terjadi pada sebelah kiri dari pada sebelah kanan.
Hal ini disebabkan sudut duktus nasolakrimal dan fossa lakrimal pada bagian kanan biasanya
lebih lebar dibanding sebelah kiri.

Frequency

United States
Individuals with brachycephalic heads have a higher incidence of dacryocystitis than
dolichocephalic or mesocephalic skulls. This is because brachycephalic skulls demonstrate a
narrower diameter of inlet into the nasolacrimal duct, the nasolacrimal duct is longer, and the
lacrimal fossa is narrower. Furthermore, patients with a flat nose and narrow face are at a higher
risk for developing dacryocystitis, presumably because of the narrow osseous nasolacrimal canal.
In 1883, Nieden noted a 9% incidence of hereditary lacrimal excretory system inflammation.
This is significantly higher than what has been found by the author in studies.(emedicine)
Insiden dakriosistitis lebih tinggi terjadi pada orang dengan tipe brachycepahalic dibanding tipe
dolichochephalic atau mesocephalic. Kepala dengan tipe brachychephalic memiliki diameter

saluran nasolakrimal yang sempit dan panjang, dan fossa lacrimal yang sempit. Lagi pula pada
orang yang memiliki hidung yang datar dan wajah sempit memiliki resiko lebih besar untuk
mengalami dakriosistitis, asumsinya karena sempitnya lubsng saluran osseous nasolakrimal.
Pada tahun 1883, Nieden mencatat insiden dakryosisititis herediter sebanyak 9 %. Peneliitan ini
paling tinggi dibanding penelitian lainnya.
Individu dengan kepala pendek dan lebar mempunyai pengaruh yang lebih tinggi pada
dacryostitis dari pada dolichocephalic atau tengkorak mesocephalic. Hal ini disebabkan oleh
tengkorak brachycephalic yang membuktikan atau menunjukan diameter terdekat pada teluk
kecil/ceruk ke dalam pembuluh nasolacrimal, pembuluh nasolacrimal adalah lebih panjang, dan
lacrimal fossa lebih besar. Selain itu, pasien dengan hidung yang datar dan muka yang sempit
terdapat pada resiko yang lebih besar untuk dacryostititis yang sedang berkembang,
mungkin/kiranya disebabkan oleh saluran osseous nasolacrimal yang sempit.
Pada tahun 1883, Nieden mencatat 9% timbulnya pada peradangan system pengeluaran lacrimal
yang turun temurun. Ini secara signifikan lebih tinggi dari pada apa yang telah ditemukan oleh
penulis dalam penelitian.
b. Tujuan
II.

ISI

A. Definisi
B. Epidemiologi

United States
Individuals with brachycephalic heads have a higher incidence of dacryocystitis than
dolichocephalic or mesocephalic skulls. This is because brachycephalic skulls demonstrate a
narrower diameter of inlet into the nasolacrimal duct, the nasolacrimal duct is longer, and the
lacrimal fossa is narrower. Furthermore, patients with a flat nose and narrow face are at a higher
risk for developing dacryocystitis, presumably because of the narrow osseous nasolacrimal canal.
In 1883, Nieden noted a 9% incidence of hereditary lacrimal excretory system inflammation.
This is significantly higher than what has been found by the author in studies.
Insiden dakriosistitis lebih tinggi terjadi pada orang dengan tipe brachycepahalic dibanding tipe
dolichochephalic atau mesocephalic. Kepala dengan tipe brachychephalic memiliki diameter
saluran nasolakrimal yang sempit dan panjang, dan fossa lacrimal yang sempit. Lagi pula pada
orang yang memiliki hidung yang datar dan wajah sempit memiliki resiko lebih besar untuk
mengalami dakriosistitis, asumsinya karena sempitnya lubsng saluran osseous nasolakrimal.

Pada tahun 1883, Nieden mencatat insiden dakryosisititis herediter sebanyak 9 %. Peneliitan ini
paling tinggi dibanding penelitian lainnya.

Mortality/Morbidity
Dacryocystitis occurs in the following 3 forms: acute, chronic, and congenital.
Dakriosistitis terdapat tiga bentuk yaitu : akut, kronik dan kongenital





In acute dacryocystitis, patients can experience severe morbidity and rarely mortality.
Morbidity is related primarily to the lacrimal sac abscess and spread of the infection.
Dalam akut dacryostitis, pasien dapat mengalami hal/keadaan tidak wajar/abnormal yang
keras dan tingkat kematian yang aneh/ganjil. Keadaan yang tidak wajar tersebut terutama
berhubungan dengan abses/bisul bernanah kantung lacrimal dan infeksi yang menyebar.
Chronic dacryocystitis is rarely associated with severe morbidity unless caused by a
systemic disease. The primary morbidity is associated with chronic tearing, mattering,
and conjunctival inflammation and infection.
Dacryostitis kronik jarang dihubungkan dengan keadaan aneh yang hebat kecuali kalau
disebabkan oleh penyakit sistemik. Keadaan ganjil pokok/utama dihubungkan dengan
kronik basah, keadaan bernanah, radang conjunctival dan infeksi.
Congenital dacryocystitis is a very serious disease associated with significant morbidity
and mortality. If not treated promptly and aggressively, newborn infants can experience
orbital cellulitis (because the orbital septum is formed poorly in infants), brain abscess,
meningitis, sepsis, and death. Congenital dacryocystitis can be associated with an
amniotocele, which, in severe cases, can lead to airway obstruction. More indolent forms
of congenital dacryocystitis can be difficult to diagnose and can be associated with
chronic tearing, mattering, amblyopia, and failure to thrive.
Dacryostitis bawaan merupakan penyakit yang sangat serius yang dihubungkan dengan
keadaan ganjil yang signfikan/penting dan tingkat kematian. Bila tidak diobati secara
tepat dan cepat serta giat, bayi yang baru lahir dapat mengalami orbital cellulites (karena
sekat orbital dibentuk kurang baik/jelek di/pada bayi), abses otak( bengkak bernanah
pada otak), radang selaput (otak atau sumsum tulang belakang), sepsis, dan kematian.
Dacryostitis bawaan dapat dihubungkan dengan sebuah amniotocele, penyakit keras,
dapat membawa/menuju pada gangguan udara. Bentuk yang lebih lamban/lembam pada
dacryostitis bawaan dapat menjadikan proses diagnosa sulit dan dapat dihibungkan
dengan kronik basah, bengkak /bisul bernanah, amblyopia, kegagalan/gangguan pada
perkembangan yang pesat.
Dakriosititits akut memiliki morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi.
Dakriosistitis kronik tingkat morbiditasnya sangat berhubungan dengan penyakit sistemik
lain. Morbiditas primernya berhubungan dengan infeksi konjungtiva dan sistem kelenjar
lakrimal.

the lacrimal canal is shorter and straighter in blacks than in whites. Pada wanita dewasa lebih sering mengalami dakriosistitis. Most studies demonstrate that 70-83% of cases of dacryocystitis occur in females. Age . Sex In adults. Congenital dacryocystitis occurs with equal frequency in both sexes. Hampir pada semua penelitian membuktikan/menyatakan bahwa 70-83% kasus dacryocystitis terjadi pada wanita. saluran lacrimal lebih pendek dan lebih lurus dalam orang hitam dari pada orang berkulit putih. neonatus dapat mengalami sesulitis orbital. Dakriosistitis kongenital adalah penyakit sangat penting yang berhubngan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Dakriosisititis kongenital tingkat kejadiannya seimbang antara laki-laki dan perempuan. sepsis dan kematian. In addition. Dakriosistitis kongenital yang terjadi pada usia yang lebih dewasa lebih sulit untuk terdiagnosa lebih awal dan berhubungan dengan kronik tearing. Kemudian/tambahan pula. Kelainan dacryocystitis tersebut terjadi bersamaan dengan frekuensi dalam kedua jenis kelamin. wanita secara umum menderita atau tertimpa penyakit dacryocistitis. ambliopia dan komplikasi yang lebih luas. Jika tidak di therapi dengan cepat dan tepat. meningitis. pada beberapa kasus yang berta dapat menyebabkan terjadinya obstruksi saluran nafas. Ras kulit hitam jarang mengalami dakriosistitis developmental karena ostium nasolakrimal lebih lebar. belekan. Race Blacks rarely develop dacryocystitis because the nasolacrimal ostium into the nose is large. Ras Orang kulit hitam jarang mengembangkan dacryostitis karena tulang rawan nasolacrimal ke dalam hidung ialah besar. Dan biasanya saluran lakrimal lebih pendek pada ras kulit hitam daripad kulit putih. beberapa penelitian menunjukkan 7083% sering terjadi pada perempuan. Dakriosistitis kongenital berhubungan denagn terjadinya amniotokel. females are afflicted more commonly by dacryocystitis. abses cerebri. Pada usia dewasa.

Lapisan epitel tersebut menyatu untuk membentuk system nasolacrimal. dan duktus nasolakrimal. . Dakriosistitis akuisita adalah penyakit yang sering aterjadi pada perempuan usia lebih dari 40 tahun dan tingkat kejadiannya paling tinggi pada usia 60-70 tahun. Infeksi dan peradanagn pada sakus lekrimal sering terjadi pada dua kategori usia yaitu pada neonatus dan dewasa lebih dari 40 tahun. These epithelial cords fuse to form the nasolacrimal drainage system. tonjolan tulang maksilaris dan frontonasal dibentuk. infants and adults older than 40 years. At the same time. This system consists of the puncta. dan seiring dengan berkembangnya tulang tersebut sebuah saluran diantara kedua tulang tersebut dibentuk. lacrimal sac. dengan puncak pada pasien umur 60-70 tahun. Dacryostitis yang diperoleh terutama penyakit pada wanita dan hampir secara umum/terutama pada pasien umur lebih dari 40 tahun. cords of epithelium invaginate at the upper and lower lid margins. Sistem ekskresi nasolakrimal mengalirkan air mata dari mata ke cavum nasi. Lapisan ectoderm yang melapisi saluran tersebut akan terperangkap dan terpisah dari lapisan ectoderm yang selanjutnya berkembang menjadi lapisan epitel. a groove forms between them (see Image 2). Pada usia gestasi 32 hari. Terutama membentuk canaliculi. terjadi sedikitnya lebih dari 1% pada semua kelahiran baru. C. Akut dacryostitis dalam kelahiran baru termasuk jarang/aneh. sakus lakrimal. canaliculi. Selanjutnya lapisan epitel tersebut berkembang kearah atas dan bawah dari garis kelopak. kanalikuli. occurring in fewer than 1% of all newborns. and nasolacrimal duct (see Image 1). Ectoderm from the floor of the groove becomes entrapped between the processes and detaches from the surface ectoderm as a cord of epithelium.Lacrimal sac infections and inflammations commonly occur in 2 discrete age categories. the maxillary and frontonasal prominences appear. Tinjauan Anatomi Nasolacrimal System Anatomy he nasolacrimal drainage system serves as a conduit for tear flow from the external eye to the nasal cavity. Usia Infeksi dan peradangan kantung/pundi-pundi lacrimal biasanya atau secara umum terjadi pada 2 kategori umur yang berlainan. Sistem ini terdiri dari punctum. Dakriosistitis akut pada neonatus jarang terjadi yaitu kurang dari 1%. and as these processes enlarge. EMBRYOLOGY At 32 days' gestation. Acquired dacryocystitis is primarily a disease of females and is most common in patients older than 40 years. pada bayi atau anak-anak dan dewasa di atas umur 40 tahun. eventually forming the canaliculi. Acute dacryocystitis in newborns is rare. with a peak in patients aged 60-70 years.

the membrane of Hasner remains imperforate in up to 70% newborns.Canalization of the epithelial cords occurs simultaneously throughout their entire length. Diameter pungtum 0. Punctal ectropion may lead to inadequate tear drainage and resulting epiphora. and a covering consisting of nasal and nasolacrimal epithelium remains over the nasolacrimal duct outlet (ie.0 mm. Puncta yang ectropion mungkin menimbulkan gangguan drainase air mata dan selanjutnya menimbulkan epiphora . they are not usually visible unless the eyelid is everted. cairan air mata dari area medial canthal masuk ke puncta yang selanjutnya melalui kanalikuli . A membranous covering consisting of conjunctival and canalicular epithelium remains over the puncta.0 mm.5 mm lateral to the superior punctum.yang dimulai sejak usia gestasi 4 bulan. Puncta are directed posteriorly against the globe.5 mm and 6.5 mm dan 6. They are relatively avascular in comparison to the surrounding tissue. oleh karena itu. Puncta langsung membelakangi bola mata. puncta tidak selalu terlihat kecuali kelopak mata di balik. Tears within the medial canthal area enter the puncta to pass into the canaliculi. see Image 3). This usually opens within the first month but may remain imperforate for a longer time. Epithelium at the site of the future lacrimal sac is initially thicker. membrane of Hasner. The inferior punctum is approximately 0. Masingmasing pungtum terdapat diatas papilla lakrimalis. Hal ini dapat menentukan adanya stenosis pungtum. This pallor can be helpful in localizing a stenosed punctum. dan jarak masing –masing ke medial canthus kira-kira 6.sisa dari epithelium dan cords membentuk lipatan Rapid growth of the maxillary bone in relation to the frontal bone results in greater lateral stretching of the inferior canaliculus with a subsequent lateral position of the inferior punctum with respect to the superior punctum. lokasinya terletak di medial kelopak mata atas dan bawah. Kanalisasi yang dibentuk oleh lapisan epitel tersebut terjadi secara simultans dengan bertambahnya panjang saluran tersebut. resulting in epiphora and/or mucopurulent discharge. . however. which is accentuated with lateral traction of the lid. Pertumbuhan yang cepat dari tulang maxillary yang menyatu dengan tulang frontal yang pertumbuhannnya kearah lateral PUNCTA Puncta are openings 0. respectively. Each punctum sits on top of an elevated mound known as the papilla lacrimalis. giving them a pale appearance. Remnants of epithelium within the cords form inconsistent valvelike folds. Punctal membranes open at full term.5 mm sebelah lateral dari superior punctum.3 mm.3 mm in diameter located on the medial aspect of the upper and lower eyelid margins. and canalization in this area is more extensive. with distances to the medial canthus of 6. Pungtum tidak mengandung pembuluh darah. punctum inferior kira-kira terletak 0. disekelilingnya terdapat jaringan yang memberi gambaran pucat. beginning at 4 months' gestation. therefore.

yaitu segment vertical dengan panjang 2 mm dan segment horizontal yang beerukuran panjang 8 mm. An incompetent valve of Rosenmüller is observed clinically as air escaping from the lacrimal puncta when the individual blows his or her nose. Pada keadaan katup rossenmuller yang incompetent menunjukan gejala klinis keluarnya air dari punctum lakrimal saat menutup sambil meniupkan udara pada hidung. In most individuals. Thickness of the lacrimal bone varies. one study found an average thickness of 0.1 mm. The angle between the vertical and horizontal segments is approximately 90 degrees. however. Canaliculi pierce the lacrimal fascia before entering the lacrimal sac. the common canaliculus may dilate slightly. Kanalikuli memiliki 2 segmen. . At its entrance to the lacrimal sac. sudut antara segment vertical dan horizontal kirakira 90 derajat. Kanalikuli dilapisi oleh epitel squamosa bertingkat nonkeratin dan dibungkus oleh jaringan elastic. Pada kebanyakan orang. Differing proportions of lacrimal bone and maxillary bone make up the lacrimal fossa. Walaupun angulation posterior dari atas dan bawah kanalikuli dan juga anterior angulation dari common kanalikuli juga dapat mencegah reflux pada canaliculi-sac junction. during dacryocystorhinostomy a perforation of the lacrimal bone can be made. which permits dilation to 2 or 3 times the normal diameter. which prevents retrograde reflux of fluid from the sac into the canaliculi. the position of the vertically oriented suture between them is variable. Pada pintu masuk ke sakus lakrimal ini common canalikuli dapat melebar membentuk sinus maier. The oblique entrance of the common canaliculus into the lacrimal sac forms the valve of Rosenmüller. which is anterior to the uncinate process of the ethmoid bone. Canaliculi are lined by nonkeratinized stratified squamous epithelium and are surrounded by elastic tissue. Pintu masuk common kanalikuli ke sakus lakrimal dari obliq membentuk katup rosenmuller. bagian horizontal kanalikuli menyatu membentuk common kanalikuli. and the canaliculi dilate at the junction to form the ampulla. dan kanalikuli yang berbatasan berdilatasi membentuk ampulla. The lacrimal bone can be localized intranasally by its position.6 However. followed by extension of the osteotomy to include the maxillary bone. the posterior angulation of the upper and lower canaliculi followed by anterior angulation of the common canaliculus may also block reflux at the canaliculus-sac junction.CANALICULI Canaliculi have an initial vertical segment measuring 2 mm followed by an 8 mm horizontal segment (see Image 4). which is bound anteriorly by the frontal process of the maxillary bone (anterior lacrimal crest) and posteriorly by the lacrimal bone (posterior lacrimal crest). LACRIMAL SAC The lacrimal sac sits within the lacrimal fossa. Kanalikuli menembus fascia lakrimalis sebelum memasuki sakus lakrimalis. Because the lacrimal bone is generally thinner than the maxillary bone. the horizontal portion of the canaliculi converges to form the common canaliculus. yang memungkinkan berdilatasi 2 sampai 3 kali normal diameter. forming the sinus of Maier. yang berfungsi mencegah reflux retrograde cairan dari sakus lakrimal ke kanalikuli.

Duktus nasolakrimal terdiri dari 12 mm bagian superior intraosseous dan 5 mm inferior bagian membranous. yang bagian anterior dibatasi oleh procesus os frontalis dan os maxillaries ( puncak lakrimal anterior) dan bagian posterior oleh os lakrimalis ( posterior puncak lakrimal). The fundus extends 3-5 mm above the superior portion of the medial canthal tendon. Perbedaan bentuk dan ukuran os lakrimalis dan os maxillaries membentuk fossa lakrimalis. Periosteum tersebut berlanjut kea rah inferior iuntuk membungkus duktus nasolakrimalis. Tulang kanal nasolakrimal kira-kira berdiameter 1 mm. The lacrimal fascia is surrounded by fibers of the orbicularis oculi muscle. Antara fascia lakrimalis dan sakus lakrimalis terdapat flexus venous. and deep is flatter).Sakus lakrimal terdapat pada fossa lakrimal. saat dakriosistorhinostomi dapat terjadi perforasi os lakrimalis. Fascia lakrimalis dikelilingi oleh serat dari muskulus orbikularis oculi. The orbital septum attaches to the medial orbital wall at the posterior lacrimal crest. This periosteum then continues inferiorly to enclose the nasolacrimal duct. while the membranous part runs within the nasal mucosa. and the deep head of the muscle travels behind the sac to attach to the posterior lacrimal crest. periosteum orbital membelah untuk membungkus sakus lakrimalis membentuk sarung yang disebut fascia lakrimalis. eventually opening into the inferior meatus under the inferior nasal turbinate. sebab os lakrimalis secara umum lebih tipis daripada os maxillaries.1 mm. dan corpus terletak kira-kira 10 mm dibawah fundus menuju osseus membuka kanal nasolakrimal. bagian superficial dari muskulus melintang di bagian depan dari sakus lakrimalis untuk melekat ke puncak os lakrimalis anterior. Pada puncak posterior os lakrimalis. The bony nasolacrimal canal is approximately 1 mm in diameter. Kantung lakrimal dilapisi oleh dua lapisan epitel ( epitel columnar di superfisial dan epitel flatter). Perbedaan arah sutura antara keduanya sangat bervariasi. jadi sakus lakrimalis adalah struktul preseptal. Sakus lakrimalis dibagi menjadi dua bagian yaitu fundus di superior dan korpus di inferior. and the body extends approximately 10 mm below the fundus to the osseous opening of the nasolacrimal canal. walaupun sebuah study menunjukan rata-rata ketebalannya 0. It can be divided into a fundus superiorly and a body inferiorly. The lacrimal sac is lined by a double-layered epithelium (superficial is columnar. the intraosseous part travels posterolaterally through the nasolacrimal canal within the maxillary bone. the superficial head of the muscle travels around the front of the sac to attach to the anterior lacrimal crest. Fundus terletak kira-kira 3-5 mm diatas bagian superior dari tendon cantus medius. Septum orbital melekat ke medial dinding medial orbita di posterior puncak os lakrimalis. the orbital periosteum splits to envelop the lacrimal sac as a covering known as the lacrimal fascia. NASOLACRIMAL DUCT The nasolacrimal duct consists of a 12-mm superior intraosseous portion and a 5-mm inferior membranous portion. so the lacrimal sac is a preseptal structure. At the posterior lacrimal crest. akibat perluasan osteotomy untuk memasukan tulang lakrimalis. bagian intraosseous . Ketebalan os lakrimalis bervariasi. Between the lacrimal fascia and the lacrimal sac lies a venous plexus.

Fisiologi Setiap berkedip palpebra menutup miring dengan ristleting-mulai di lateral. Meskipun sejumlah katup telah dinamai sepanjang duktus nasolakrimal. Although multiple valves have been named throughout the nasolacrimal duct. Struktur ini penting karena bila tidak berlubang pada bayi. banyak yang secara anatomi sulit diidentifikasi. Bersamaan waktu. The valve of Hasner at the opening of the nasolacrimal duct within the nasal cavity has been found to be imperforate in up to 70% of newborns. eventually connecting to the vascular tissue of the inferior turbinate. bagian khusus orbicularis pra-tarsal yang mengelilingi ampula mengencang untuk mencegahnya keluar. The venous plexus surrounding the lacrimal sac continues inferiorly to surround the nasolacrimal duct.berjalan di posterolateral dari saluran nasolakrimal di dalam os maksilaris. Dua lapis epitel yang sama denngan lapisan epitel sakus lakrimalis melapisi duktus nasolakrimal. Plexus venous yang mengelilingi sakus lakrimal berlanjut hingga ke inferior untuk membungkus duktus nasolakrimal. (ofatlmologi umum) . Kerja pompa dinamik ini menarik airmata kedalam sakus yang kemudian berjalan melalui duktus nasolakrimalis karena pengaruh gaya berat dan elastisitas jarigan. Yang paling berkembang diantara lipatan ini adalah katup hasner di ujung distal duktus nasolakrimalis. dan traksi facia mengelilingi sacus lakrimalis berakibat memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan negative adalah sakus. Secara spontan membuka biasanya setelah 6-12 bulan. akhirnya bermuara ke meatus inferior. dan menyalukannya ke dalam system ekskresi pada aspek medial palpera. D. menjadi penyebab obstruksi congenital dan dakriosistitis menahun. dan akhirnya menyambung ke jaringan vaskuler di inferior turbinate. Dalam keadaan normal air mata dihasilkan dengan kecepatan yang sesuai dengan jumlah yang diuapkan dan itulah sebabnya hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi. Spontaneous opening of an imperforate valve of Hasner usually occurs within 6-12 months. most have been inconsistently anatomically identified. air mata akan memasuki puncta sebagian karena sedotan kapiler. palpeba ditarik kearah Krista lakrimalis posterior. Dengan menutup mata. Bila memenuhi sakus konjungtiva. menyebarkan air mata secara merata di atas kornea. sementara bagian membranous terdapat di bagian dalam mukosa nasal. Katup hasner yang terletak di lubang duktus nasolakrimal di cavum nasi ditemukan telah imperforata pada 70 % neonates. ke dalam meatus inferior hidung. Lipatan-lipatan miirip katup dari epitel pelapis sakus cenderung menghambat aliran balik air mata dan udara. The double layer of epithelium similar to that observed in the lacrimal sac lines the nasolacrimal duct.

Canalization of the lacrimal excretory system begins in the superior portion first and is segmental. the lower punctum lies slightly temporal to the upper punctum. Ectoderm dalam bagian ini mengentalkan/mempertebal dan tertanam/melekat dalam mesenchyme antara lateral nasal (bunyi saluran hidung bagian samping) dan proses maxillary. yang mengembangkan sebagai kantong keluar dari batang benda padat pada jaringan ekstodermal lebih dahulu ke penyaluran. hanya setelah penyatuan terakhir yang membentuk lumen selanjutnya. . yang terbentuk seperti kantung dari pita solid lapisan ektodermal terlebih dahulu membentuk kanalisasi. normalnya. tears drain into the lacrimal system through two puncta. juga menyalurkan terlebih dahulu ke bagian vertical pada pembuluh nasolacrimal. satu di atas lipatan sudut mata dan sat lagi dibawah lipatan sudut mata. Normally. cairan air mata mengalir ke system lacrimal melalui 2 puncta. one present in the upper lid and the other in the lower lid. Pita ectoderm yang selanjutnya membentuk kanal dan bermuara ke cavum nasal belum terbentuk sempurna saat lahir. Batang pada ectoderm ini kemudian menyalurkan dan membuka ke dalam conjuntival fornix lebih dahulu untuk membuka ke dalam nasal vestibule. Umumnya. pembukaan ke dalam nasal cavity ini tidak lengkap saat kelahiran. Celah mata-naso ialah sumber pada asal usul system pembuangan lacrimal. punctum bawah terletak di bawah temporal puncum atas. This cord of ectoderm subsequently canalizes and opens into the conjunctival fornix prior to opening into the nasal vestibule. Penyaluran pada system pengeluaran lacrimal mulai dalam bagian superior pertama dan terdiri atas beberapa bagian. Kanalikuli. Kanalisasi dari system lacrimal dimulai dibagian superior terlebih dahulu dan secara segmental. Canaliculi. The canaliculi. Many variations in the anatomy of the lacrimal drainage system have been noted. which develop as outpouchings from the solid cord of ectodermal tissue prior to canalization. Celah naso-optik adalah cikal bakal dari system lacrimal. juga kanalisasi ini terlebih dahulu kebagian verrtikal dari duktus nasolacrimal. Frequently. Patofisiologi Pathophysiology The naso-optic fissure is the source of origin of the lacrimal drainage system. Terdapat Beberapa variasi dari anatomi sytem lacrimal. The ectoderm in this region thickens and becomes embedded in the mesenchyme between the lateral nasal and maxillary processes.E. More commonly. this opening into the nasal cavity is incomplete at birth. hanya penggabungan saat ini/baru-baru ini ke dalam bentuk lumen yang terus menerus. Lapisan ectoderm di bagian ini tebal dan melekat pada lapisan mesenchym antara lateral nasal dan procesus maxillaries. only later coalescing to form a continuous lumen. Sering kali. also canalize prior to the vertical portions of the nasolacrimal duct.

Sebuah Ampulla menghubungkan bagian vertical dan horizontal. saluran dari puncta sakus lacrimalis disebut canaliculi. Lipatan mukosa yang disebut katup rossenmuller membatasi sakus lakrimal dan canalikuli. Suatu ampula menghubungkan segment vertical dan horizontal. Canaliculi ini mempunyai bagian vertical yang pendek. The mucosa of the sac is lined by pseudostratified columnar epithelium with substantial amounts of lymphoid and elastic tissue interposed within the connective tissue layer. Kebiasaan canaliculus ini meluas/membesar. Kanaliculus ini melebar. pada mukosa sakus . forming the sinus of Maier just lateral to the lacrimal sac. membentuk sinus of maier di lateral sakus lakrimal. Kanalikuli ini memiliki segment vertical yang pendek. kira-kira 10-12 mm panjangnya. Pada umumnya/biasanya. This common canaliculus dilates. The connections from the puncta to the lacrimal sac are called canaliculi. Sakus lakrimal terdapat di fossa tulang lacrimal yang berasal dari tulang lacrimal dan maksilla. membentuk sinus (lubang yang menghubungkan rongga hidung dan batok kepala) pada cabang/bagian samping Maier ke kantung lakrimal. The sac is normally irregular and flat in shape with a collapsed lumen. punctum yang lebih rendah terletak sementara agak sedikit/ramping ke punctum atas. averaging 1012 mm in length. These canaliculi have a short vertical segment. Pada 90 % pasien ditemukan common canaliculus yang dibentuk dari segment horizontal yang menyatu. The individual canalicular horizontal segments join to form a common canaliculus in 90% of patients. yang satu di bagian penutup atas dan yang lainnya di penutup bagian bawah. A fold of mucosa known as the valve of Rosenmüller marks the junction of the lacrimal sac and the common canaliculus.Banyak variasi/perbedaan dalam anatomi system pembuangan lakrimal yang telah tercatat/tertulis. averaging 2 mm in length. Bagian horizontal canalicular individu bergabung ke dalam bentuk canaliculus umum/biasa pada 90% pasien. The average width of the sac is approximately 6-7 mm and the length varies from 12-15 mm. dan bagian horizontal yang lebih panjang. kira-kira 2 mm panjangnya. Penghubung/sambungan dari puncta ke kantung/pundi-pundi lacrimaldinamakan canaliculi. The lacrimal sac lies in the bony lacrimal fossa derived from the lacrimal and maxillary bones. and a longer horizontal segment. dan segment horizontal yang lebih panjang. dengan panjang sekitar 10-12 mm. dengan panjang sekitar/rata-rata 2 mm. Lebar sakus lakriamal kurang lebih 6-7 mm dan panjangnya 12-15 mm. An ampulla connects the vertical and horizontal segments. air mata mengalir ke dalam system lakrimal melalui 2 puncta. Biasanya.

Fascia ini membelah ke bungkus/selubung kantung lakrimal antara pasangan pada lakrimal fascia ke jambul/puncak anterior (lebih dahulu) dan superior (paling belakang) lakrimal. the medial canthal tendon covers the upper two fifths of the lacrimal sac. Kantung tersebut secara normal/biasanya tidak menentu dan tepat/datar dalam bentuk dengan lumen yang roboh/gagal. Di bagian anterior.lakrimal terdapat lapisan epitel kolumnar semu yang berisi limfoid dan jaringan elastic yang berbatasan dengan lapisan jaringan lain. the nasolacrimal duct is lined by pseudostratified columnar epithelium. representing analog from the segmental canalization of the ectodermal cord that develops into the nasolacrimal duct. posterior to the sac are the deep heads of the pretarsal and preseptal orbicularis muscles. The lacrimal sac mucosa only loosely adheres to the lacrimal fascia. Of these. . Fascia ini membelah untuk membungkus sakus lakrimalis diantara perlekat fascia lakrimalis ke anterior dan posterior puncak os lakrimalis. Secara terlebih dahulu. The lacrimal sac is covered on its outer surface by the lacrimal fascia of the periorbita. Mukosa sakus lakrimalis hanya melekat secara longgar dengan fascia lakrimalis. However. Sakus lakrimal normalnya irregular dan mendatar . Mukosa (selaput lender) kantung lakrimal hanya secara bebas melekat pada lakrimal fascia. tendon cantus medius melindungi lebih dari 2/5 dari sakus lakrimalis. otot medial chantal menutupi 2/3 kantung lacrimal bagian bawah. yang terbelakang ke kantung adalah pikiran/kepala yang dalam pada otot pretarsal dan preseptal orbicularis. Like the lacrimal sac. Kantung lacrimal terletak dalam fossa lacrimal yang bertulang/kurus yang diperoleh dari lacrimal dan tulang-tulang maxillary. the most prominent valves are the valve of Taillefer. and the valve of Hasner (located at the junction of the duct with the nasal mucosa). the valve of Krause. Walaupun begitu. Bagaimanapun.5-5 mm in diameter. Lebar rata-rata pada kantung tersebut kurang lebih 6-7 mm dan tinggi yang bervariasi dari mulai 12-15 mm. Lipatan pada mucosa diketahui sebagai tanda penghubung pada katup rossenmullar pada kantung lacrimal dan canaliculus yang umum/biasa. This fascia splits to envelop the lacrimal sac between the attachments of the lacrimal fascia to the anterior and posterior lacrimal crests. Sakus lakrimalis di bungkus di bagian luar oleh fascia lakrimalis dari periorbita. bagian posterior dari sakus terletak didalam pretarsal dan preseptal muskulus orbikularis. The nasolacrimal duct averages 18 mm in length and 4. Kantung/pundi-pundi lakrimal ditutupi dalam permukaan luar oleh lacrimal fascia pada periorbita. Anteriorly. mucosa pada kantung tersebut dilapisi oleh epithelium pseudostratified columnar dengan sejumlah besar lymphoid (getah bening) dan jaringan yang elastis yang dihalangi/dibatasi dalam/di bawah lapisan jaringan penghubung. Multiple valves are present in the nasolacrimal duct.

Bagian terbesar pada pembuluh diperbesar/disumbang oleh maxilla. katup yang paling menonjol/jelas adalah katup pada Taillefer. Mukosa duktus nasolakrimal ini melapisi hingga 5-8 mm dari anterior dari inferior ujung turbinate. and ethmoid bones form the bony nasolacrimal canal. dan posterior. menunjukan analogi dari segmental kanalisasi pada cord ektodermal yang membentuk duktus nasolakrimal. Os lakrimal dan prosesus os maksila membentuk fosa lakrimal. Puncak Lacrimal anterior dan lacrimal posterior membentuk batas anterior dan posterior pada lacrimal fossa. Pembuluh nasolacrimal mempunyai panjang sekitar 18 mm dan diameter 4. The lacrimal. duktus nasolakrimal di lapisi oleh epitel kolumnar pseudostratified.5-5 . and the inferior concha of the ethmoid bone forms the medial wall of the canal inferiorly. anteriorly. yang menunjukan/menggambarkan analog dari penyaluran yang terdiri atas beberapa bagian pada batang ectodermal yang berkembang/mengembangkan ke dalam pembuluh nasolacrimal. The lacrimal bone and the nasal process of the maxilla make up the lacrimal fossa equally. dan concha yang lebih rendah pada tulang ethmoid yang membentuk dinding tengah pada saluran secara rendah/lebih rendah. respectively. Katup-katup yang menonjol diantaranya katup taillefer. Terdapat banyak katup di dalam duktus nasolakrimalis. and posteriorly. maxillary. The lacrimal bone forms the medial wall superiorly. Dari hal ini/untuk ini. kelipatan katup/katup yang berlipat adalah yang paling utama dalam pembuluh nasolacrimal. The anterior and posterior lacrimal crests form the anterior and posterior borders of the lacrimal fossa. Os lakrimal dibentuk dari medial dinding superior. dan ethmoid membentuk kanal nasolakrimal.5-5 mm. dan katup hasner ( semuanya terdapat di ujung duktus yang berhubungan dengan mukosa nasal). tulang ethmoid membentuk saluran nasolacrimal yang mempunyai tulang menonjol/kurus. . lateral. Seperti sakus lakrimal. Pembukaan mucosal pada pembuluh nasolacrimal dibawah turbinate yang lebih rendah berkisar 5-8 mm dari ujung depan pada inferior turbinate. berturut-turut. maxillary.Duktus nasolakrimal memiliki panjang kira-kira 18 mm dan diameternya 4. Duktus ini sebagian besar terbentuk dari maksila anterior. katup Hasner (yang berlokasi pada persimpangan pembuluh dengan nasal mucosa). dan konkha inferior dari os ethmoidal membentuk dinding medial dari kanal inferior. katup Krause. Tulang lacrimal dan proses nasal pada maxilla yang memperbaiki/membuat lacrimal fossa secara bersamaan. Anaterior dan posterior puncak lakrimal masing-masing membentuk batas anterior dan posterior fossa lakrimal. secara lebih dahulu/lebih depan. Tulang lacrimal membentuk dinding tengah yang lebih besar/tinggi. Lacrimal. maksila. laterally. katup Krause. dan berkelanjutan. pembuluh nasolacrimal yang dibatasi oleh epithelium pseudostratified columnar. The mucosal opening of the nasolacrimal duct under the inferior turbinate lies 5-8 mm from the anterior tip of the inferior turbinate. The bulk of the duct is contributed by the maxilla. secara menyamping. Seperti kantung lacrimal. Os lakrimal.

this fistula commonly closes after a few days of drainage. erythema. Ukuran lacrimal fossa mempunyai lebar 4-8 mm. walaupun terdapat variasi dalam jumlah dan lokasi dari ruang tersebut. o Pada kasus yang jarang terjadi terdapat rupture sakus dan fistula ke kulit. meskipun keadaan yang amat berubah-ubah dalam nomor dan lokasi pada sel udara ini. and face. and 2 mm in depth. o Pemeriksaan thermografi menunjukkan adanya reaksi hemiparsial yang intensif pada pasien dengan dakriosistitis akut. a purulent discharge is noted from the puncta. and it is not uncommon for a palpable mass to be noted inferior to the medial canthal tendon. Manifestasi klinis dakriosistitis akut adalah nyeri. although considerable variability exists in the number and location of these air cells. Kantung lacrimal fossa menutupi/membatasi pada tingkat ujung yang lebih rendah pada turbinate bagian tengah.The dimensions of the lacrimal fossa are 4-8 mm in width. Ethmoid air cells in approximately 40-60% of patients separate the lacrimal fossa from the nasal cavity. The lacrimal sac fossa lies at the level of the anterior tip of the middle turbinate. terutama bila terdapat cairan purulen pada pungtum. dan kedalaman 2 mm. Ukuran Fosa lakrimal panjangnya 4-8 mm. tinggi 15 mm. o It is not uncommon for the sac to rupture and fistulize through the skin. dan lebar 2 mm. sel udara lacrimal berkisar sekitar/kira-kira 40-60% pada pasien yang memisahkan lacrimal fossa dari rongga hidung. and edema overlying the lacrimal sac region. 15 mm in height. dan edema dari sakus lakrimal. o Injeksi konjungtiva dan selulitis preseptal sering terjadi pada konjungtivitis dengan dkariosisititis akut o Epiphora is invariably present. tinggi 15 mm. . fistula ini biasanya menutup beberapa hari setelah dilakukan drainase. Frequently. o The tenderness is characteristically localized in the medial canthal region but may extend to the nose. Fossa lakrimalis terletak setinggi ujung anterior konka medialis. eritema. gigi. ruang sinus ethmiodalis memisahkan antara fossa lakrimalis dan cavum nasal pada 40-60% pasien. teeth. cheek. F.. o Conjunctival injection and preseptal cellulitis often occur in conjunction with acute dacryocystitis. dan wajah o Thermography has demonstrated an intensive hemifacial reaction in patients with acute dacryocystitis. Diagnosis History   Acute dacryocystitis is manifested by the sudden onset of pain. o Teraba benjolan lunak di area kantus medius tapi dapat meluas hingga ke hidung.

Hal ini dihubungkan ke sifat dasar racun pada debris pada permukaan mata atau karena exotoxin diproduksi oleh organisme staphylococcal. o    Cellulitis is seen predominately in acute dacryocystitis and is due to bacterial overgrowth with rupture through the wall of the lacrimal sac into surrounding soft tissue. Terdapat beberapa komplikasi yang berat dari dakriosistitis akut. Sellulitis terlihat menonjol dalam dacryiostitis akut dan seharusnya/berhak ke bacterial yang tumbuh terlalu cepat/lampau dengan perpecahan melalui dinding kantung lacrimal ke dalam sekitar/sekeliling jaringan yang lunak/halus. dan peningkatan jumlah leukosit. thrombosis sinus kavernosus. which normally reside on the external surface of the eye and are not cleared by the normal tear outflow. but serious. prostration. dan sel epithelial dari permukaan mata. Sering keluarnya air mata biasanya menggambarkan dakriosistitis kronik dan ini berhubungan dengan terjadinya obstruksi saluran pembuangan air mata. More serious sequelae of acute dacryocystitis include extension into the orbit with formation of an abscess and development of orbital cellulitis. seperti meluasnya inflamasi dan abses ke bolamata dan terjadinya selulitis orbital. o Seringkali. o       Tearing is the most common presentation of chronic dacryocystitis and is related to the obstruction of the outflow of tears. . Beberapa pasien mengalami demam. it may lead to blindness. puing/debris. yang secara normal itu terletak pada permukaan luar mata dan tidak dibersihkan oleh air mata yang keluar normal. Tearing/berlinang merupakan pernyataan yang paling umum pada dacryiostitis akut dan berhubungan dengan gangguan pada aliran air mata.o o o o o A few patients present with fever. malaise. This is attributed to the toxic nature of the debris to the surface of the eye or because of exotoxins produced by staphylococcal organisms. and epithelial cells from the surface of the eye. When this occurs. Mattering Belekan o This is caused by the obstruction of drainage of the mucous layer of the tear film with collection of debris and denuded epithelial cells from the surface of the eye. Jika ini terjadi dapat menimbulkan kebutaan. and death. hal itu biasa dihubungkan dengan conjunctivitis. debris. Keadaan bernanah/sakit nanah o Hal ini disebabkan oleh gangguan pada saluran/pembuangan lapisan membrane selaput lendir pada selaput air mata dengan kumpulan debris dan sel epithelial yang digundulkan dari permukaan mata. it may be associated with conjunctivitis. and an elevated leukocyte count. dan kematian. complication of dacryocystitis. cavernous sinus thrombosis. Orbital cellulites o This is a rare. It is associated most commonly with acute dacryocystitis and congenital acute dacryocystitis. dan sel epitel dari jaringan mata. o o  Frequently. debris.

o  Periorbital edema  o  This usually is related to the inflammation associated with the buildup of toxic debris on the surface of the eye and exotoxins secreted by staphylococcal organisms living on the surface of the eye.Commonly. orbital cellulitis presents as an inflamed painful eye with abnormal motility. aqueous. o Periorbital edema is most pronounced in the morning and subsides late in the day because of repeated contractures of the orbicularis muscle milking the edema from the soft tissues around the eye. standar 3 lapisan selaput air mata. the standard 3 layers of the tear film. and decreased visual acuity. Selaput air mata yang meningkat ini secara tidak normal membiaskan cahaya dan dihubungkan dengan fluktuasi/ketidaktepatan ketajaman mata. Pengurangan ketajaman mata o Sebuah keluhan umum yang diamati. pemeriksaan anak mata/pupil yang tidak normal. are abnormal and are present in abnormal proportions. This increased tear film abnormally refracts light and is associated with fluctuating visual acuity. mucus. Hal itu terutama dihubungkan dengan dacryostitis akut dan dacryostitis akut bawaan. . and oil. Sellulitis orbital o Hal ini jarang. dan pengurangan ketajaman mata. lendir. abnormal pupil examination. o Massive periorbital edema and erythema is not uncommon. komplikasi pada dacryostitis. Periorbital edema o Hal ini biasanya dihubungkan ke peradangan yang dihubungkan dengan penambahan kekuatan pada debris/puing racun pada permukaan mata dan exotoxins yang dikeluarkan oleh organisme staphylococcal yang hidup di permukaan mata. hal itu terutama terjadi pada selaput air mata yang meningkat/tinggi pada permukaan mata. it is primarily due to the increased tear film on the surface of the eye. encer. dan minyak. o  o  Decreased visual acuity  o  A commonly observed complaint. akan tetapi serius. o Periorbital edema sangat/paling nyata pada pagi hari dan waktu reda akhir-akhir ini/subside late yang disebabkan oleh contractures berulang kali pada pemerahan edema otot orbicularis dari jaringan-jaringan lunak sekitar mata. o Kemudian. sellulitis orbital hadir sebagai sebuah radang mata yang menyakitkan/radang sakit mata dengan motility abnormal. ialah tidak normal dan berada dalam ukuran yang tidak normal. o Periorbital edema secara besar-besaran dan erythema bukanlah hal yang luar biasa. o In addition. o Biasanya.

Hal ini berhak untuk ditingkatkan tekanan intraorbital dan necrosis pada serat pupillomotor dalam orbit. Pasien-pasien ini mempunyai peradangan orbital yang melibatkan otototot extraocular. Altered pupillary reaction is only seen in severe cases of dacryocystitis associated with an orbital cellulitis. yang menyebar ke sekeliling/sekitar jaringan-jaringan. Perubahan ketajaman mata yang paling sering disebabkan oleh selaput air mata yang tidak normal dengan pembiasan cahaya yang tidak normal pada interface/hadapan selaput udara/gas air mata. Ini dapat menyebar untuk meliputi orbit dan menyebabkan orbital cellulitis. Many times.o Physical                Fever results from a fulminant bacterial or fungal infection in the lacrimal sac. Diplopia is also rare and is seen in patients with orbital cellulitis resulting from acute dacryocystitis. Altered visual acuity most frequently is caused by an abnormal tear film with abnormal refraction of light at the air-tear film interface. Hal ini menyebabkan terjadi optic neuropati dengan hilangnya pandangan periper. . Menyempitnya lapang pandang perifer jarang terjadi dan disebabkan oleh selulitis orbital sekunder dari akut dakriosistitis. Terkadang keadaan ini tak terlihat dan dapat diketahui jika dilakukan tes perimetri. Diplopia juga jarang dan terlihat pada pasien dengan gejala orbital sellulitis akibat dari dacryostitis akut. Leukositosis juga biasa terdapat dalam dacryostitis akut. Cellulitis surrounding the affected lacrimal sac is common in patients with acute dacryocystitis. Cellulites yang ada disekeliling kantung lacrimal buatan/yang dibuat-buat merupakan hal biasa pada pasien dengan dacryostitis akut. this can be subtle and can be detected on perimetry testing. Leukocytosis also is common in acute dacryocystitis. Hal ini bukanlah hal yang luar biasa dihubungkan dengan penyakit sinus yang signifikan. This is due to increased intraorbital pressure and necrosis of the pupillomotor fibers in the orbit. These patients have orbital inflammation involving the extraocular muscles. which spreads to the surrounding tissues. yang menghasilkan diplopia. It also can be due to corneal surface irregularities resulting from chronic surface inflammation. resulting in diplopia. Demam merupakan akibat dari bakteri fulminant atau infeksi fungal dalam kantung lacrimal. yang menyebabkan otot-otot mengalami gangguan. This is not uncommonly associated with significant sinus disease. This results in an optic neuropathy with loss of peripheral vision. Perubahan reaksi papillary hanya terlihat pada beberapa kasus dacryostittis yang dihubungkan dengan orbital cellulites. Hal itu juga dapat menjadikan hasil/akibat ketidakteraturan permukaan kornea dari radang permukaan kronik. Loss of peripheral vision is also rare and caused by orbital cellulitis secondary to acute dacryocystitis. which causes the muscles to dysfunction. This can spread to involve the orbit and cause orbital cellulitis.

It is primarily due to the buildup of toxic debris on the surface of the eye. seperti mata kemerahan. However. yang secara normal mendiami permukaaan mata. tegang dan kenyal baik pada akut maupun kronik dakriosistitis. The most common organisms isolated from the lacrimal sacs of children with dacryocystitis include Staphylococcus aureus. kanalisasi yang tidak sempurna duktus nasolakrimal ( khususnya pada katup hasner ) sangat penting pada patogenesisnya. Jarang pseudo tumor atau pseudokista menyebabkan ccantus medius bengkak. including the exotoxin produced by staphylococcal organisms. Baik bakteri aerob maupun anaerob telah dikultur dari pasien anak-anak maupun dewasa yang mengalami dakriosistitis. Hal ini terjadi terutama akibat pengendapan dari debris yang beracun pada permukaan mata. Both aerobic bacteria and anaerobic bacteria have been cultured from pediatric and adult patients with dacryocystitis. factors other than developmental ones appear to play a role in the pathogenesis. since the incidence of congenital dacryocystitis is much lower than the incidence of incomplete canalization. Jarang pasien dengan akut atau kronik dakriosistitis tidak mengeluh keluar air mata tapi memilki keluhan lain yang menunjukan adanya infeksi sakus lakrimal. beta-hemolytic streptococci. insidensi dakriosititis congenital lebih rendah dibanding insidensi incomplete kanalisasi. which is due to distention of the lacrimal sac and resultant infection of the lacrimal sac. Canthus medius biasanya bengkak. tetapi juga dapat dicetuskan oleh konjungtivitis. Konjungtivitis sering terjadi akibat dakriosistitis baik akut maupun kronik. and pneumococci. Haemophilus influenzae. . pada dakriosistitis congenital. which normally inhabit the surface of the eye. fullness.      Conjunctivitis frequently is associated with acute and chronic dacryocystitis. beta-hemolytic streptococci. Haemophilus influenzae. dan bernanah. cellulitis. patients with acute or chronic dacryocystitis have no complaints of tearing but have other sequelae of tear sac infection. Neonatal infection is another important factor in the development of congenital dacryocystitis. Rarely. bengkak. nyeri. Rarely. pain. and pneumococci. an occult tumor or cyst can be the cause of the medial canthal fullness. artinya terdapat factor lain yang mempengaruhi patogenesis dakriosistitis. Walaupun begitu. Tearing is most commonly due to obstructed outflow of the tear system but may be exacerbated by conjunctivitis. incomplete canalization of the nasolacrimal duct (specifically at the valve of Hasner) is clearly important in the pathogenesis. Kebanyakan mikroorganisme yang diisolasi dari sakus lakrimal pada anak-anak yang mengalami dakriosititis adalah Staphylococcus aureus. Medial canthal fullness and tenderness are common in both acute dacryocystitis and chronic dacryocystitis. Causes     In congenital dacryocystitis. including redness. termasuk eksotoksin yang dihasilkan oleh bakteri staphylococcus. Keluar air mata sering terjadi akibat sumbatan pada system pembuangan air mata. and purulent discharge. akibat distensi dari sakus lakrimal dan akibat infeksi pada sakus lakrimal. celulitis. Infeksi neonatal adalah saalah satu factor penting untuk terjadinya congenital dakriosistitis.

seperti yang disebutkan dibawah ini. The etiology of dacryocystitis includes nasal disease and ectrodactyly-ectodermal dysplasia-clefting (EEC) syndrome.Infectious mononucleosis o Fungal . Aspergillus niger EEC syndrome  o Osteoporosis . Pseudomonas aeruginosa. Pneumococcus. Obstruction of the nasolacrimal duct by a tight inferior meatus has been noted in many infants. Escherichia coli. as outlined below.Candida albicans. Nasal disease  o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o  Sinusitis (maxillary. Perlu dipertimbangkan adanya abnormalitas struktur wajah bagian tengah. syphilis. trachoma.        Structural abnormalities of the midface also should be considered. Propionibacterium acnes. ethmoidal) Hypertrophic rhinitis Vasomotor rhinitis Syphilitic rhinitis Rhinitis ozaenosa Adenoids Eczema of nares Purulent rhinitis Nasal trauma Ethmoidal tumor Nasal tumor Atrophic rhinitis sicca Rhinitis fibrinosa Enlarged inferior turbinate Foreign body in the nose Septal deviation Frontal sinus neoplasm Nasal mucosal infection Diphtheria Measles Scarlatina Nasal septal abscess Ethmoidal mucocele Rhinolithiasis Bacterial .Tuberculosis. Staphylococcus epidermidis (most common). Mycobacterium fortuitum o Viral . Etiologi dakriosistitis termasuk penyakit nasal. dan ectrodactyly-ectodermal dysplasiaclefting ( EEC) syndrom. Obstruksi duktus nasolakrimalis akibat sempitnya meatus inferior ditemukan pada beberapa neonatus. Staphylococcus aureus.

these structures are commonly associated as an etiologic factor in the pathogenesis of dacryocystitis. dan sinus paranasal. struktur tersebut sering berhubungan sebagai factor etiologi dalam patogenesis dakriosistitis. Pada dakriosistitis akuisita. Kebanyakan kasus dakriosistitis pada usia dewasa disebabkan oleh stenosis duktus lakrimalis dengan penyumbatan aliran air mata dan kemudian terjadi infeksi.1 In acquired dacryocystitis. angiosarcoma. postpunctal occlusion o Lacrimal sac tumor . melanoma. Lautenschlager-Halle ozena operation. o o o o o o o o            . Most cases of dacryocystitis in adults are caused by stenosis of the lacrimal duct with resultant stagnation of lacrimal fluid and subsequent infection. Sumber peradangan system lakrimal dari okuli lebih jarang dibanding dari nasal. Sekresi berlebihan dan menumpuknya air mata di sakus lakrimal. fibroepithelioma. neurilemoma. Because of the intimate relationship of the nasolacrimal duct with the nose and paranasal sinuses.Lupus Scleroma Plasmoma Leukemic infiltration Trauma . lymphoblastoma. pseudotumor. Pada kebanyakan sample.Lymphoma.Naso-orbital fractures. Sturmann-Canfield operation. dapat mencetuskan terjadinya dakriosistitis. metastatic carcinomas. An ocular origin for inflammation of the lacrimal system is less common than a nasal origin. Sebab terdapat hubungan yang erat antara duktus nasolakrimal dengan hidung. which may occur in uncorrected astigmatism and hypermetropia. yang terjadi akibat salah koreksi pada astigmatisme dan hipermetropia. pemeriksaan bakteriologi pada dakriosistitis menggambarkan flora normal konjungtiva.Recent studies have documented an increased risk of canaliculitis and dacryocystitis associated with intracanalicular punctal plugs. Profuse secretion and stagnation of tears in the lacrimal sac. obstruction of the lower part of the nasolacrimal system frequently is present. benign polyps o Lacrimal sac cyst o Postirradiation fibrosis o Wegener granulomatosis o Facial skeletal anomalies o Dacryolithiasis o Cilia impaction in lacrimal sac o Impacted punctal plugs . radical maxillectomy. juga sering didapati adanya obstruksi system nasolakrimal bagian bawah. may contribute to the development of dacryocystitis. LeFort II fractures Postinflammatory stenosis of nasolacrimal duct Graft-versus-host disease Iatrogenic .Caldwell-Luc operation. The bacteriology of dacryocystitis mimics normal conjunctival flora in most instances. ethmoidectomy. transitional cell carcinoma. hemangiopericytoma.

The most common nonepithelial malignancy is a lymphoma. Pasien dengan riwayat dakriosistitis akut memiliki insidensi yang lebih tinggi terbentuknya dakrolit dibanding kronik dakriosistitis. Biasanya bakteri gram negative yang ditemukan adalah E. S epidermidis biasanya juga disertai S aureus.o o o o o o o o The most common aerobic organisms isolated from the lacrimal sacs in adults with dacryocystitis include S epidermidis. Dacryolith formation has been noted in 14-16% of patients with dacryocystitis. jamur juga dapat menginfeksi sakus lakrimalis ( terutama jika ditemukan dakrolit ). kebanyakan berasal dari sel epitel ( karsinoma. o Walaupun jarang. S aureus. dan tumor non epithelial cenderung lebih banayak pada wanita dari pada pria. The most common anaerobic organisms isolated from the lacrimal sacs in adults with dacryocystitis include Peptostreptococcus. Pseudomonas. and Fusobacterium species. S epidermidis is the most common isolate followed by S aureus. Bakteri annaerob yang biasanya didapati pada dakriosistitis dewasa adalah Peptostreptococcus. o o     Some studies have found Pneumococcus to be the most common isolate in dacryocystitis. Propionibacterium. Bakteri aerob yang biasanya didapati pada dakriossititis dewasa adalah S epidermidis. Prevotella. When a tumor is present in the lacrimal sac. Umumnya keganasan non epithelial adalah lymphoma. DIFFERENTIALS Actinomycosis Alacrima . papillomas). Propionibacterium. Tumor epithelial cenderung lebih banyak pada pria daripada wanita. and Pneumococcus species. carcinomas. Bila terdapat tumor pada saskus lakrimal. The most common gram-negative bacteria isolated were E coli. and Streptococcus. Bakteri gram negative ditemukan sering pada pasien dengan pus yang massif. o Beberapa penelitian juga sering ditemukan pneumococcus pada dakriosistitis. and Pneumococcus species. most are epithelial (ie. Patients with a history of acute dacryocystitis have a higher incidence of dacryolith formation than those with chronic dacryocystitis. Gram-negative bacteria have been reported to occur more frequently in patients with copious discharge. Pseudomonas. and Streptococcus. and Fusobacterium species. fungi have been isolated from infected lacrimal sacs (commonly associated with dacryolith formation). S aureus. o Rarely. Bentuk dakrolith ditemukan pada 14-16 pasien dakrisistitis. Prevotella. Epithelial tumors tend to be more common in men than in women. and nonepithelial tumors tend to be more common in women than in men.coli. papiloma).

Obstruction Optic Neuropathy. Preseptal Chalazion Conjunctivitis. . Analisa Laboratorium penunjang seperti hitung jenis darah untuk menilai derajat leukositosis. however. Congenital Anomalies Nasolacrimal Duct. Test Antinuclear antibody (ANA) bermanfaat pada kasus yang sangat jarang dakriosistitis akibat lupus yang berkaitan dengan system drainage lakrimalis yang mengakibatkan obstruksi dan infeksi. and lacrimal sac discharge may prove useful in determining the appropriate antibiotic therapy. dan walaupun jarang tapi dapat menolong dalam memastikan leukeumia sebagai penyebab infeksi sakus lakrimal. physicians make a clinical diagnosis of dacryocystitis. Test antineutrophil cystoplamic antibody dapat bermanfaat pada kasus granulomatosis wagener yang menyebabkan dakriosistitis dan obstruksi diktus nasolakrimal. Canalicular Melanoma. nose. Antineutrophil cytoplasmic antibody testing may be useful in ruling out Wegener granulomatosis as a cause of dacryocystitis and nasolacrimal duct obstruction. hidung. Kultur darah dan kultur apusan mata. Eyelid Blepharitis. Blood cultures and cultures of the ocular surface. Umumnya dakriosistitis didiagnosis berdasarkan gejala klinis. Compressive Red Eye Evaluation Sarcoidosis Squamous Cell Carcinoma. this rarely may assist in the determination of leukemia as an etiology of the lacrimal sac infection. Bacterial Conjunctivitis. Supportive laboratory analysis includes a complete blood count to assess the degree of leukocytosis. dan secret sakus lakrimal dapat menentukan terapi antibiotic yang tepat. Primary Congenital Headache. Children Laceration. Orbital Cellulitis. Conjunctival Nasolacrimal Duct. Antinuclear antibody (ANA) testing may be useful in the very rare cases of dacryocystitis caused by lupus involvement of the lacrimal drainage system with resultant obstruction and infection. Adult Cellulitis.Basal Cell Carcinoma. Eyelid Lab Studies           In most patients. Neonatal Episcleritis Glaucoma.

Gabungan DCG dengan CT scan juga sangat sensitive dalam menilai struktur anatomi sakus lakrimalis dan jaringan sekitarnya. Foto Rontgen dapat menunjukan adanya anomaly tulang pada bagian wajah atau adanya benda asing yang menyebabkan gangguan lakrimal. Dakryocystographi ( DCG ) dan dacryoscintigraphy digunakan sebagai dasar diagnostic tambahan pada kasus yang dicurigai adanya abnormalitas anatomi pada system diuktus nasolakrinmalis. The ocular surface is evaluated at the slit lamp to determine disappearance of the fluorescein dye. dapat menunjukan perluasan dan pembesaran sakus lakrimal. MRI dapat menolong dalam membedakan lesi kistik dan masa padat. Pada beberapa kasus. MRI dapat bermanfaat dalam mengidenifikasi pasien dengan divertikel sakus lakrimal. Terkadang benda asing atau massa dapat terlihat pada echography. yang dapat menyebabkan dakriosistitis rekuren tanpa epiphora dan kegagalan koreksi bedah. posttraumatic causes of dacryocystitis usually are noted with CT scans. CT scans are useful in patients suspected of harboring an occult malignancy or mass as a cause of dacryocystitis. Rarely. Other Tests  Schirmer basic secretor testing  o  Ensure that epiphora is not related to hypersecretion or abnormal lid function or position. Echography jarang digunakan. Echography rarely is used. it demonstrates enlargement and engorgement of the lacrimal sac. Subtraction DCG with CT scan is also very sensitive to study the anatomy of the lacrimal sac and surrounding structures. Dacryocystography (DCG) and dacryoscintigraphy are useful adjunctive diagnostic modalities when anatomical abnormalities of the nasolacrimal drainage system are suspected. This test is useful in children.Imaging Studies           Plain films may be useful in elucidating facial skeletal anomalies or foreign bodies as the cause of the lacrimal disorder. o Baseline tear secretion can be measured with the Schirmer basic secretor test. MRIs are not as useful as CT scans but can be helpful in differentiating cystic lesions from solid mass lesions. Dye disappearance testing: A somewhat subjective test. MRIs can be useful in identifying patients with lacrimal sac diverticuli. Terkadang penyebab posttraumatik dan lesi massa dapat ditemukan dengan foto rontgen pada kasus dakriosistitis. In addition. In addition. occasionally. CT scan digunakan pada pasien yang dicurigai memiliki keganasan atau massa pada kasus dakriosistitis. In most cases. lacrimal sac foreign bodies or masses are noted on echography. posttraumatic etiologies and mass lesions are noted on plain films as the cause of dacryocystitis. Juga pada pasien dakriosistitis posttraumatic. . it is used to assess the disappearance of fluorescein dye when placed in the eye. which can cause recurrent dacryocystitis without epiphora and failure of surgical correction.

papillomas. anatomical or functional blockage). Endoskopi dapat digunakan untuk mengetahui etiologi dari dakriosistitis. o A negative result indicates a lacrimal drainage system problem (ie. o Hasil positif menggambarkan hambatan anatomi dan fungsi aliran airmata.. Tes ini digunakan pada anak-anak. Histologic Findings . functional and anatomical obstruction of the nasolacrimal system can be assessed. Tes Jones I dye. o Hasil possitif berarti anatomi system yang baik o Bila tes jones I negative dan tes jones II positif berarti terdapat obstruksi parsial dari system nasolakrimal atau tes Jones I false-negative. hipertrofi turbinate inferior. o In light of a negative Jones I dye test. o Tes jones II negatif menggambarkan hambatan fungsi system nasolakrimal. Dengan menggunakan stlit lamp di nilai lamanya zat fluoresensi menghilang.  Tes shrimer o Untuk memastikan bahwa epiporanya bukan disebabkan hipersekresi atau abnormalitas fungsi atau posisi pelupuk mata. o Jumlah sekresi air mata dapat diukur dengan tes schrimer ini. o If no fluid can be irrigated with the Jones II test. Kelemahan dari pelpebra posterior atau parese dari system kanalikuli o Bila cairan tidak dapat diirigasi dengan tes jones II berarti obstruksi komplet dari nasolakrimal. Procedures       With the Jones I dye test. o A negative Jones II eye test (clear fluid from the nose) indicates functional blockage of the nasolacrimal system. a positive Jones II dye test indicates either partial obstruction of the nasolacrimal system or a false-negative Jones I test. Tes jones II dye untuk menentukan ada atau tidaknya obstruksi system ekskresi nasolakrimal o A positive Jones II dye test (colored fluid from the nose) indicates a patent system anatomically. complete nasolacrimal obstruction is present. This is common with horizontal laxity of the lower eyelid or flaccidity of the canalicular system. papiloma. o Hasil negatif menggambarkan adanya gangguan pada system drainase lakrimal A Jones II dye test is used to determine the presence or absence of anatomical obstruction of the nasolacrimal outflow system. fungsi dan anatomi dari system nasolakrimal o A positive result indicates no anatomical or functional blockage to tear flow. tumor. Nasal endoscopy is frequently useful in assessing the etiology of dacryocystitis. and inferior meatal narrowing may be noted as causes of dacryocystitis. dan penyempitan meatus inferior juga dapat menyebabkan dakriosistitis.2 Tumors. hypertrophy of the inferior turbinate. Tes fluoresensi : merupaka tes subjektif untuk menilai kecepatan hilangnya zat fluoresensi yang diteteskan ke mata.

o Treatment with warm compresses may aid in resolution of the disease.Pathologic changes found in the lacrimal drainage system are related primarily to the etiology of the disease. inflamasi. o Appropriate neuroimaging studies should be obtained.           Because the most common underlying pathogenic factor is distal obstruction of the lacrimal drainage system with subsequent stagnation and infection. G. Fokal ulserasi dan kehilangan sel goblet Focal abscesses and granuloma formation also have been noted in the lacrimal sac.   Acute dacryocystitis with orbital cellulitis necessitates hospitalization with intravenous (IV) antibiotics. Chronic inflammation and fibrosis of the lacrimal sac are present in varying degrees in most patients. o IV empiric antimicrobial therapy for penicillin-resistant Staphylococcus (nafcillin or cloxacillin) should be initiated immediately. Perubahan patologis dari duktus nasolakrimal dan mukosa nasal serta penutupan sakus lakrimal Chronic inflammation and fibrosis are the most common histologic changes noted in both the nasal mucosa and the nasolacrimal duct. Dakriosistitis akut dengan selulitis orbital harus dirawat inap dan diberikan terapi antibiotic intravena. Pengobatan dari dakriosistitis dipegaruhi oleh manifestasi klinik dari penyakit. Inflamasi kronik dan fibrosis dari sakus lakrimal. Fokal abses dan pembetukan granuloma The pathologic changes in the nasolacrimal duct and nasal mucosa follow closely tgo those in the lacrimal sac. and surgical exploration and drainage should be performed for focal collections of pus. the most common pathologic finding in the lacrimal drainage system is inflammatory change. o Blood cultures and cultures of the lacrimal secretions should be obtained prior to antibiotic therapy. . Focal ulceration and loss of goblet cells are not uncommon. Penatalaksanaan Medical Care The treatment of dacryocystitis depends upon the clinical manifestations of the disease. Patologi sistm ekskresi lakrimal dapat dihubugkan dengan etiologi dari penyakit. Inflamasi kronik dan fibrosis menyebabkan perubahan histologi di mukosa nasal dan duktus nasolakrimal. Karena pegaruh dari factor pathogen seperti obstruksi distal dari system ekskresi lakrimal karena adany penyumbatan dan infeksi.

Infeksi purulent pada sakus lakrimal dan kulit diatasnya harus sama-sama diterapi dengan cara yang sama.  Purulent infection of the lacrimal sac and skin should be treated similarly. Kultur darah dan kultur secret lakrimal harus dilakukan untuk meberikan terapi antibiotic yang tepat. Kompres hangat dapat membantu mempercepat proses penyembuhan penyakit. Probing tidak boleh dilakukan sebab mucocele sering tidak steril dan probing dapat menimbulkan selulitis.o o o o o o Impending perforation should be treated with a stab incision of the skin Harus didapatkan gambaran neuroimaging yang tepat. o The treatment of choice is a dacryocystorhinostomy whether the patient is symptomatic or not. Dakriosititis kronis hamper selalu memerlukan pembedahan untuk mengatasi keluhankeluhan yang timbul. . and topical and/or oral antibiotics. o Pilihan terapinya adalah dacryocystorhinostomy baik pada pasien simptomatik atau asimptomatik. . . . tidak perlu Rawap inap kecuali kondisi pasien cukup berat. o Kultur cairan lakrimal harus dilakukan.  o o     Treatment with oral antibiotics (eg. Congenital chronic dacryocystitis may resolve with lacrimal sac massage. dakriosistitis congenital kronik dapat diterapi dengan pemijatan sakus lakrimal. Probing should not be performed because mucoceles often are not sterile and probing may incite a cellulitis. Impending perforasi harus di terapi dengan melakukan insisi pada kulit. Antibiotic IV secara empiris untuk bakteri staphylococcus resisten penisilin ( nafcilin atau cloxacilin) harus diberikan sesegera mungkin. The presence of a lacrimal sac mucocele in adults mandates treatment even if asymptomatic. kompres hangat dan antibiotic topical atau oral. o Berikan antibiotic oral yang tepat. Augmentin) is appropriate. Patients with chronic dacryocystitis caused by a partial or intermittent nasolacrimal duct obstruction may benefit from topical steroid drop treatment. warm compresses. dan bedah explorasi dan drainase harus dilakukan untuk mengeluarkan pus. Cultures of the lacrimal fluid should be obtained. Surgical Care   Chronic dacryocystitis almost always dictates surgery for correction of symptomatology. Jika terdapat mucocele sakus lakrimal pada pasien dewasa perlu di obati meskipun asimptomatik. pasien dengan dakriosititis kronik yang disebabkan obstruksi duktus nasolakrimal partial atau intermittent dapat diberikan obat tetes steroid topical. Hospitalization is not mandatory unless the patient's condition appears serious.

 o o o o     If caused by allergic rhinitis or mild mucosal inflammation of the nasolacrimal duct mucosa. dacryocystolithiasis. Terkadang. Occasionally. Secara umum. dan/atau probing duktus nasolakrimal dapat berhasil mengatasi dakriosititis.  o o o o For acute dacryocystitis. reseksi submukosa turbinate. dakriosititis adalah penyakit bedah. external dakrycystorhinostomy lebih baik dilakukan setelah beberapa hari dimulai terapi antibiotic. Baru – baru ini dakriorhinostomi telah sukses dilakukan melalui pendekatan transcanalicular dengan menggunakan CO2 atau KTP laser. o     Some surgeons use an endonasal approach to dacryocystorhinostomy surgery with or without a laser. submucous resection of the turbinate. Pada dakriosistitis akut. Balloon dacryoplasty has been popularized in the last several years. chronic dacryocystitis may improve with topical steroid drops. Recently. lacrimal sac fistulization into the nose (dacryocystorhinostomy) has been performed successfully via a transcanalicular approach using a CO2 or KTP laser. terapi bedah sebaiknya dilakukan setelah infeksinya di atasi dengan taerapi antibiotic yang adekuat. Tingkat kesuksesan terapi bedah pada dakriosititis mencapai 95 %. Tekhnik ini . Jika disebabkan rhinitis alergika atau radang mukosa ringan pada mukosa diktus nasolakrimal. Surgical success rates in the treatment of dacryocystitis are approximately 95%. pemotongan tulang turbinate inferior. an external dacryocystorhinostomy is preferred after several days of initiating antibiotic therapy. Pada Kasus akut. Tekhnik ini nampaknya kurang baik hasilnya dalam jangka panjang dibanding tekhnik sebelumnya. Terkadang. It appears to have a lower long-term success rate than the previous treatment modalities. dacryocystitis is a surgical disease. Beberapa ahli bedah melakukan tekhnik endonasal dalam bedah dakriorhinostomi dengan atau tanpa laser. Terutama pada pasien dengan kronik dakriosistitis. dacryocystorhinostomy must be performed during the acute phase of the infection to facilitate clearing of the infection. dakriosititis kronik dapat diberikan tetes steroid topical. Acute cases are best treated surgically after the infection has subsided with adequate antibiotic therapy. and posttraumatic obstruction of the nasolacrimal duct. and/or lacrimal outflow probing may be successful treatment of dacryocystitis. In general. Ballon dacryopalsty mulai popular beberapa tahun terakhir ini. This is most appropriate in patients with chronic dacryocystitis. infracting of the inferior turbinate bone. Rarely. dakriorhinostomi harus dilakukan selama pase akut infeksi untuk memfasilitasi pembersihan infeksi. It should be used in patients with circumscribed focal stenoses or occlusions of the nasolacrimal duct and is contraindicated in acute dacryocystitis.

avoiding the angular vessels. Frequently. spring-type retractor (Agrikola) is placed in the wound. cottonoid sponges soaked in thrombin are inserted into the wound for hemostasis. the periosteum is incised sharply with a periosteal elevator along the course of the skin wound and elevated off the anterior lacrimal crest and lacrimal bone. dilakukan pada kasus stenosis fokal atau oklusi duktus nasolakrimal dan kontraindikasi pada dakriosistisis akut. and a small 0. both anteriorly and posteriorly. a drill is used to burr the nasal bone just medial to the lacrimal sac. o The self-retaining retractor is removed. Kerrison rongeur). Steven tenotomy scissors are used to perform a 1-snip procedure on each puncta. o The lacrimal sac is injected with 2% Xylocaine with epinephrine. o The anterior lacrimal crest and the wall of the lacrimal fossa are removed with a forward biting rongeur (eg. o Hemostasis is maintained throughout with bipolar or handheld cautery. o Sharp Steven tenotomy scissors are used to open the incision down to the orbicularis muscle. The drilling is continued in a circular pattern until the nasal mucoperiosteum becomes barely visible. A standard dacryocystorhinostomy operation that is used in the treatment of dacryocystitis is discussed below. o With adequate irrigation and suction. the skin is incised 11 mm medial to the medial commissure.25-inch cottonoid soaked in cocaine is placed in the lacrimal fossa medial to the lacrimal sac.5-2. a Lempert rongeur is used to remove the medial wall of the lacrimal fossa and any ethmoidal air cells in the vicinity of the lacrimal fossa. o A self-retaining. (Blood is seen oozing from the site of the osteotomy. o Then. beginning at the level of the inferior margin of the medial palpebral tendon. o The osteotomy is enlarged superiorly to a level just under the inferior border of the medial canthal tendon and inferiorly to the portion of the medial wall of the nasolacrimal canal. and a Goldstein retractor is placed in the wound.   After the patient is prepared and draped in the usual sterile fashion. A punctal dilator is used to dilate the upper and lower puncta. With the use of 2 periosteal elevators. It is made parallel to the angle of the nose and is approximately 1.25 X 0. o  . which are found 8-9 mm medial to the medial commissure.) o The nasal mucoperiosteum is then injected with 2% Xylocaine with epinephrine until blanching is noted. o If needed. o The incision is made only through epidermis and dermis. the orbicularis muscle is divided along the course of the muscle fibers down to the periosteum overlying the nasal bone.5 cm long. dakriocistilitiasis dan obstruksi posttraumatic duktus nasolakrimalis. o A dental burnisher is used to separate the nasal mucoperiosteum from the overlying nasal bone. retracting the periosteal flaps.

Canalicular probes are inserted through the puncta and grasped in the nose under direct visualization with a straight hemostat. A piece of absorbable collagen (Instat) or Gelfoam soaked in thrombin is rolled and inserted posterior to the silicone in the region of the lacrimal sac. A number 11 Bard-Parker blade is used to incise the medial wall of the lacrimal sac parallel to the skin wound. The periosteum of the nasal bone is then approximated with several interrupted 50 Vicryl sutures. Consultations    Otorhinolaryngology Infectious disease Neurosurgery MEDICATION Oral and topical antibiotics are the mainstay of medical therapy. the needle is carried through the orbicularis to tent the flaps anteriorly. while a number 11 Bard-Parker blade is used to incise the nasal mucoperiosteum horizontally. The canalicular probes are tied with 2 square knots and allowed to retract under the inferior turbinate. thereby tenting the lacrimal sac. Steven tenotomy scissors are then used to create another H-shaped flap in the nasal mucoperiosteum. and an adhesive bandage or dental roll is used to dress the wound. Antibiotic ointment is placed on the wound. orbital cellulitis.3 A periosteal elevator is inserted into the nose and used to tent the nasal mucoperiosteum laterally. . o o o o o o o o o o o A number 0 Bowman probe is inserted into the lower punctum and advanced medially. Drug Category: Antibiotics Used to treat systemic infections. Two sutures of 4-0 chromic are used to approximate the anterior flap of the lacrimal sac and the anterior flap of the nasal mucoperiosteum. including periorbital cellulitis. fast-absorbable suture. Steven tenotomy scissors and Bishop-Harmon forceps are used to excise the posterior flap of the lacrimal sac. the posterior flap is excised. The skin is closed with a running subcuticular 6-0 Vicryl and a running 6-0 plain. Sharp Steven tenotomy scissors are used to create an H-shaped incision in the medial wall of the lacrimal sac. Biopsy of the lacrimal sac is performed if abnormal pathology is suspected based on the preoperative clinical presentation or if the appearance of the lacrimal sac is abnormal at the time of surgery. Again. and sinusitis.

Precautions Pencegahan Adjust dose in renal failure. following treatment. allopurinol decreases ampicillin effects and has additive effects on ampicillin rash. evaluate rash and differentiate from hypersensitivity reaction Mengatur dosis dalam kerusakan renal. evaluasi kecerobohan. Drug Name Levofloxacin (Levaquin) Description Provides useful coverage for most organisms . perform cultures to confirm eradication of streptococci Drug Name Ampicillin and sulbactam (Unasyn) Description Provides useful coverage for most organisms associated with dacryocystitis.Fetal risk not confirmed in studies in humans but has been shown in some studies in animals B-resiko fatal tidak ditegaskan dalam penelitian pada manusia.Fetal risk not confirmed in studies in humans but has been shown in some studies in animals Precautions Give for a minimum of 10 d to eliminate organism and prevent sequelae (endocarditis. dosage reduced with renal failure Pediatric Dose 3 months to 12 years: 100-200 mg ampicillin/kg/d (150-300 mg Unasyn) IV divided q6h >12 years: Administer as in adults. Adult Dose 500 mg PO tid for 7-10 d Pediatric Dose 40 mg/kg/d PO divided tid Contraindications Documented hypersensitivity Interactions Coadministration with warfarin or heparin increases risk of bleeding Pregnancy B . tapi telah di perlihatkan dalam beberapa penelitian pada hewan. Adult Dose 1. not to exceed 4 g/d sulbactam or 8 g/d ampicillin Contraindications Documented hypersensitivity Interactions Probenecid and disulfiram elevate ampicillin levels. may decrease effects of oral contraceptives Pregnancy Kehamilan B .5 g IV qid.Drug Name Amoxicillin and clavulanate (Augmentin) Description Provides useful coverage for most organisms associated with dacryocystitis. rheumatic fever). slow infusion over 10-15 min. dan pembeda dari reaksi yang super sensitif.

cimetidine (semacam jangkrik) boleh boleh dicampurkan dengan metabolisme fluoroquinolones. cyclosporine. cafein. Penyediaan pemberiitahuan berguna untuk banyak satuan organisme dengan dekriositis.Fetal risk revealed in studies in animals but not established or not studied in humans. Ocumycin) . iron salts. boleh digunakan apabila manfaatnya lebih banyak dari pada resiko jeleknya bagi janin. and zinc salts may reduce serum levels. Precautions Pencagahan Decrease dosage in patients with compromised renal function Menurunkan dosis pada pasien dengan dikompromikan pada fungsi ginjal Drug Name Gentamicin (Genoptic. and digoxin (monitor digoxin levels). bercampur dengan efek terapi penitoin. dapat memeriksa peningkatan konsentrasi cairan darah. boleh menaikkan efek anticoagulant (PT) Pregnancy Kehamilan C . cyclosporine. akan tetapi tidak di kembangkan atau tidak di pelajari pada manusia. may use if benefits outweigh risk to fetus C. zat garam besi. dan garam timah bisa menurunkan level darah. asam semut berkisar 2-4h sebelum atau sesudah pembuatan fluoroquinolones. slow IV infusion over 60 min Pediatric Dose Dosis anak <18 years: Not recommended >18 years: Administer as in adults Contraindications Documented hypersensitivity Interactions Percampuran Antacids. may increase effects of anticoagulants (monitor PT) Asam semut. probenecid may increase serum concentrations.Deskripsi associated with dacryocystitis. administer antacids 2-4 h before or after taking fluoroquinolones. dan digoxin (memantau level digoxin). Adult Dose Dosis dewasa 500 mg IV q24h. dapat meningkatkan zat racun theophylline. caffeine. reduces therapeutic effects of phenytoin. cimetidine may interfere with metabolism of fluoroquinolones. may increase toxicity of theophylline.resiko yang berkaitan dengan kehamilan telah dinyatakan dalam penelitian pada hewan.

viral.Fetal risk revealed in studies in animals but not established or not studied in humans. Interactions None reported Pregnancy Kehamilan C . Tobrex) Tobramycin Description Gambaran Interferes with bacterial protein synthesis by binding to 30S and 50S ribosomal subunits. mycobacterial. dan infeksi fungal pada mata. steroid combinations after uncomplicated removal of a Contraindications foreign body from cornea Kontraindikasi Dibuktikan secara hypersensitif. Antibiotik aminoglycosid digunakan untuk cara pemberitaan/ulasan bakteri gramnegative 1 gtt in affected eye(s) tid Administer as in adults Documented hypersensitivity. and fungal infections of the eye. mycobacterial. disebabkan oleh virus. akan tetapi tidak di kembangkan/dibuktikan pada manusia. may use if benefits outweigh risk to fetus Resiko fatal – C yang ditampakkan dalam penelitian pada hewan. perpanjangan atau pengulangan terapi antibiotic bisa menghasilkan/mengakibatkan bakteri atau pertumbuhan fungal terlalu cepat pada organisme yang tidak mudah rentan dan memungkinkan untuk infeksi yang kedua kalinya.Nama obat Description Gambaran Adult Dose Dosis remaja Pediatric Dose Dosis anak Aminoglycoside antibiotic used for gram-negative bacterial coverage. Precautions Tindakan pencegahan Do not use to treat ocular infections that may become systemic. Drug Name Nama obat Tobramycin (AKTob. prolonged or repeated antibiotic therapy may result in bacterial or fungal overgrowth of nonsusceptible organisms and may lead to secondary infections Jangan menggunakan untuk mengobati infeksi ocular yang bisa menjadi sistemik. kombinasi steroid setelah pembersihan/pembuangan benda asing dari cornea yang tidak sulit. boleh digunakan apabila manfaatnya lebih banyak dari pada resiko jeleknya bagi janin. which .

may use if Kontraindikasi Dibuktikan or secara hypersensitive. 30S and 50S ribosomal selaput selby rusak/kurang subunits.results in a defective bacterial cell(TobraDex) membrane. Dexamethasone mengurangi perpindahanmycobacterial. prolonged use of pencegahan antibiotics may result in bacterial or fungal Must rule out the possibilityorganisms of corneal fungal overgrowth of nonsusceptible infections. pembentukan katarak. or fungal infection Kehamilan established not studied in humans. cataract pertumbuhan fungal terlalu pada organisme formation. prolonged use may increase menghasilkan/mengakibatkan bakteri atau risk of secondary ocularcepat infection. viral.active bacterial. gtt in affected eye(s) tid Dexamethasone decreases Dosis remaja inflammation by suppressing migration of Pediatric Dose polymorphonuclear Administer as in adultsleukocytes and reducing Description Dosis anak capillary permeability. gangguan fungal yang Tindakan diduga ada dalam berbagai pemborokan/koreng pencegahan kornea yang menetap/terus menerus dimana sebuah corticosteroid telah digunakan atau dalam penggunaan (menghasilkan kultur/pembiakan fungal ketika waktu yang tepat/cocok).Fetal risk revealed in studies in animals but not Contraindications viral. and increased intraocular pressure yang tidak mudah rentan. unit ribosomal. dan infeksi fungal pada capillary yang dapat ditembus/tembusan capillary. Pregnancy B-resiko fatal tidak ditegaskan dalam penelitian kehamilan Precautions Do use in deep-seated infectionsdalam or in padanotmanusia.interferes yang menghasilkan/mengakibatkan synthesis binding tobaik. leukositis dan pengurangan disebabkan polymorphonuclear oleh virus. mycobacterial. Documented hypersensitivity. Deskripsi/ Pencampuran dengan bakteri sintesis protein Contraindications Documented hypersensitivity. benefits outweigh risk to atau fetusinfeksi fungal disebabkan oleh kuman. tapi telah ocular di perlihatkan Tindakan those thatpenelitian may become beberapa padasystemic. Drug Name Obat-obatan Pregnancy C . Tobramycin and dexamethasone Pencampuran bakteri(TobraDex) sintesis protein Tobramycin dandengan dekamethason menurut ikatan/per ikatan ke 30S dan 50S satuan Tobramycin with bacterial protein unit ribosomal. tekanan pada Dibuktikan peradangan secara hypersensitif.after yang uncomplicated menghasilkan/mengakibatkan combinations removal of a selaput sel rusak/kurang foreign body from cornea baik. .Fetal risk notbanyak confirmed studies in jeleknya humans manfaatnya lebih dari in pada resiko but has been shown in some studies in animals bagi janin. bakteri aktif. suspect fungal invasion any Jangan menggunakan pada infeksi ocularinbagian persistent corneal ulceration where a corticosteroid dalam atau hal-hal yang bisa menjadi sistemik. tidak dibuktikan atau Interaksi dipelajari pada manusia.tid Adult Dose 1benda gtt inasing affected Dosis anak Interactions Effects decrease when used concurrently with Interaksi Pediatric Dose gentamicin Administer as in adults efek pengurangan ketika digunakan secara Dokter anak bersamaan dengan gentacimin. boleh digunakan apabila B . hewan. Harus mengesampingkan kemungkinan pada Precautions infeksi kornea fungal. perpanjangan penggunaan dapat meningkatkan resiko pada infeksi ocular kedua/tambahan infeksi.C yang ditampakkan dalam Interactions None reported adatetapi laporan penelitian padatidak hewan. gambaran menurut ikatan/per ikatan ke 30S 50S steroid satuan Kontraindikasi and fungal infections of the dan eye. dan peningkatan tekanan intraocular. mata. which results in a defective bacterial cell Adult Dose 1membrane. has been used or penggunaan is in use (obtain fungal cultures perpanjangan antibiotic bisa when appropriate). kombinasi steroid setelah pembersihan darieye(s) cornea. Resiko fatal .

Intranasal saline may be useful postoperatively to keep the surgical ostium clean and open. Antibiotic topical seperti polytrim. and TobraDex (antibiotic/steroid combination drop). this involves dacryocystorhinostomy. Nasal hygiene with saline spray may help prevent distal lacrimal outflow obstruction. Menjaga kebersihan hidung dengan larutan garam dapat mencegah obstruksi duktus lakrimal distal. sarkoidosis. Occasionally. kompres hangat dan membersihkannya . Afrin) are used on a short-term basis. dan melanoma. dekongestan nasal ( seperti Afrin ) digunakan untuk jangka pendek Antibiotic oral digunakan pada pasien dakriosistitis akut Salin intranasal digunakan setelah operasi untuk menjaga ostium bersih dan tetap terbuka Transfer   Patients may require transfer for diagnostic evaluation of associated systemic illnesses. sarcoidosis. including warm compresses and eyelid scrubs. such as Wegener granulomatosis. . and melanoma. tobramycin. gentamicin. Further Outpatient Care  Most patients are treated surgically on an outpatient basis. limfoma. dan tobradex (kombinasi antibiotic/steroid tetes) Adakalnya. seperti wegener granulomatosis. dapat mencagah terjadinya dakriosistitis.Further Inpatient Care  Admission to the hospital is required for the following:  o o o  Patients to be treated with intravenous antibiotic therapy Patients with orbital cellulitis Pediatric patients with periorbital or orbital cellulitis Definitive surgical therapy should be performed. tobramisin. leukemia. Oral antibiotics are useful in patients with acute dacryocystitis who are not acutely ill. lymphoma. leukemia. may prevent some cases of dacryocystitis. in most cases. gentamisin. In/Out Patient Meds         Topical antibiotics include Polytrim. Pasien lebih baik dirujuk untuk evaluasi lebih lanjut penyakit sistemik. Menjaga kebersihan kelopak mata. Deterrence/Prevention     Proper eyelid hygiene. nasal decongestants (eg.

Antibiotics should only be given when there is clinical evidence of infection. However. and perhaps increase the frequency of episodes of secondary conjunctivitis and skin excoriation. the standard surgical treatment for congenital lacrimal obstruction has been to pass a fine wire probe down the tear outflow passages to rupture the membrane at its the lower end. encourage rubbing. and there are only isolated anecdotal reports of serious infections considered secondary to obstruction of the nasolacrimal duct. However. and this has been recommended by some authors. which permits a detailed assessment of the lacrimal system and identification of any more complex anomalies that might require alternative management. Patency is then confirmed by recovering fluorescein from the nose after it has been syringed through the lacrimal passages. Massage of the lacrimal sac Gentle pressure on the lacrimal sac will encourage retrograde flow of the contents into the conjunctival sac. Most ophthalmologists advise that the discharge should be removed by cleaning the lids regularly.11 Intermittent attacks of conjunctivitis may occur. The optimal age for the procedure has been in dispute for many years. for which a course of topical antibiotic is indicated. A more specific technique attempts to rupture the membranous obstruction at the lower end of the nasolacrimal duct. Probing the lacrimal system in the first year of life For many years.12 This is done by occluding the common canaliculus and then putting firm pressure on the sac.10 None of the large. but few randomised or controlled studies. studies are liable to have overestimated the benefits of treatment. Simple lid cleaning Accumulated discharge on the eyelids may be irritating. prospective. sending a hydraulic pulse down the nasolacrimal duct. Spontaneous resolution is so common that.htm) There is an extensive literature advocating treatments for congenital lacrimal obstruction. In Britain this procedure is performed under general anaesthetic.4 6 Its value is not known.3 5 6 7 and there is no evidence that chronic infection has a role in the aetiology of severe stenosis or that it decreases the chances of cure. Topical antibiotics Repeated courses of topical and sometimes systemic antibiotics are widely used to d the discharge associated with congenital lacrimal obstruction.13 This study needs to be repeated before its recommendations are implemented. observational series in which surgical treatment has been delayed reported serious infective complications. which showed a significant improvement in the cure rate of the treated group. without control groups. there is no evidence to support this practice. with increased discharge and a hyperaemic bulbar conjunctiva. . and their parents often realise before their doctor that topical antibiotics have no sustained effect on the symptoms. much of the time children with congenital lacrimal obstruction have white bulbar conjunctivae. The technique has been assessed in a single randomised controlled trial.Interventional treatments for congenital lacrimal obstruction (file:///C:/Documents%20and %20Settings/Microsoft/My%20Documents/dakrio/293.

unpublished data). In Britain. Advocates of early probing claim that parents may prefer the quick cure it offers rather than a prolonged wait without certainty of cure. 1994. and there have been retrospective studies with high success rates (Information and Statistics Division.Probing can be immediately successful. unpublished data). National Health Service in Scotland and Office for Population Consensus and Surveys. We conclude that delay in surgical intervention is a viable option up to the age of 2 years. Each one has also been used as a first procedure. Other surgical procedures More complex surgical interventions may be required if probing fails. with continuing spontaneous resolution. commonly at about 6 months of age but varying between the first weeks of life to after 13 months. most probings are performed under general anaesthesia on children between their first and second birthdays (Information and Statistics Division. occurred in 20% of 60 probings. These include turbinate fracture. Probing the lacrimal system after 12 months of age A recent prospective study compared probing at around 12 months of age with no treatment up to 24 months.7 8 9 10 A recent American meta-analysis suggested 4 months as the optimal age for probing. or later if the parents wish it.10 Many authors have recommended that probing should be carried out during the first year of life. the risks of probing have never been fully evaluated. which might be a sign of trauma further down the system. This may explain the report of a 44% incidence of canalicular stenosis after failed probings. as all except the more severe obstructions will have resolved spontaneously.9 On the basis of the available evidence we consider that there is no reason to suggest a first probing for congenital lacrimal obstruction before 12 months of age. increasing the accuracy of these procedures. After the age of 2 years. Damage to the lacrimal epithelium might produce stenosis and actually prevent later spontaneous resolution. In the presence of severe discharge or mucocele such prolonged delay may be unreasonable for parents and child.16 intubation. the cure rate for primary probing falls to about 50%. there was no longer any significant difference between the groups at 24 months.9 Probing was found to be significantly superior in the short term but. a rare finding at a first probing. In most cases this will avoid the need for surgery.14 Infants are often probed in the doctor's consulting room. We consider that probing should be the medical advice when symptoms are severe at 12 months and in milder cases at 18 months. There are no controlled studies that show the benefit of probing during the first year of life. However. National Health Service in Scotland and Office for Population Consensus and Surveys.15 In our own prospective study bleeding from the punctum.18 Nasal endoscopy permits direct visualisation of the lower end of the nasolacrimal duct.17 and balloon dilatation of the nasolacrimal duct. but none is supported by evidence from controlled trials and they may carry greater risk of iatrogenic stenosis. 1994.9 10 .

when properly performed.19 20 If signs of inflammation develop immediate probing of an awake swaddled infant should be performed and treatment with systemic antibiotics started. developing in and around the lacrimal sac within a few days of birth in 20-60% of patients. karena prosedur bedah ini dapat menyebabkan terjadinya komplikasi yang berat. is a very safe and effective procedure. making them liable to misdiagnosis as a vascular lesion (fig 3).22 H. Fig 3 Congenital dacryocystocele: the distinct blue coloration may lead to misdiagnosis of this uncommon lesion as a vascular abnormality. (Reproduced with parents' permission) View larger version (108K): [in this window] [in a new window] There are few studies to guide management. this is a well documented cause of neonatal respiratory obstruction. However.19 21 An ophthalmic opinion should be obtained as soon as the diagnosis of congenital dacryocystocele is suspected. Komplikasi Complications   Dacryocystorhinostomy. Ketika dilakukan Dakriosistohinostomi digunakan prosedur yang efektif dan sangat aman. . severe complications can occur. as with all surgical procedures. Their clinical course is distinct from that of uncomplicated congenital lacrimal obstruction: acute inflammation is common. This occurs when there is a combination of congenital lacrimal obstruction and a congenital obstruction to retrograde flow through the canaliculi.19 20 In a minority of cases there is a communication down the nasolacrimal duct to a large intranasal cyst. These swellings usually have a definite blue coloration. and. most recommend a delay of 5-7 days as spontaneous resolution may occur.Alternative (uncommon) presentations of congenital lacrimal obstruction Some infants are born with an easily observed tense swelling of the lacrimal sac. which may require urgent treatment. while uncommon. a congenital dacryocystocele. it is not rare. While some reports have advised immediate probing of lacrimal passages.

the anterior ethmoidal artery. o Bleeding is encountered commonly from the angular vessels. Beberapa operasi sering sisemprotkan antibiotic cair ynag dimasukkan kedalam hdung setelah operasi. Beberapa hal seperti abses bekas jahitan dapat diatasi dengan memotong bekas jahitan. air mata di garis tulang menyebabkan kebocoran CSF elama dilakukan osteotomi. Jarang hidung samapai harus dibalut. which can be treated with removal of the offending suture. Cerebrospinal fluid (CSF) leakage is the most dreaded complication of dacryocystorhinostomy. soaked in thrombin is effective in decreasing the incidence of hemorrhage. kompre hangat dan oral atau topical antibitik. such as Instat or Gelfoam. pembendungan dengan trombin efektif untuk mengurangi perdarahan. Berdasraka obserfasi kebocoran CSF saat dakriosistohinostomi terjadi pada pasien kista arakhnoid dari fossa cranial anterior ke vestibulum nasal sampai dibawah permukaan kulit. and. The author has observed a CSF leakage from dacryocystorhinostomy in a patient who had an arachnoid cyst extending from the anterior cranial fossa into the nasal vestibule just under the surface of the skin. Some surgeons advocate spraying antibiotic drops into the nose postoperatively. Karena garis lapisan kribrosa baerada diatas dari medial katahal tendon. tears in the bony plate with resultant CSF leakage can occur during creation of the osteotomy. Almost routinely. . Biasanya pasien dengan diabetes dan pada anak-anak yang dilakukan dakriosistohinostomi. digunakan instat atau gel. o Most cases of hemorrhage can be controlled with judicious use of cautery and cottonoids soaked in thrombin. mukosa hidung. hot compresses. and oral and topical antibiotics. -      perdarahan biasanya berasal dari kekakuan pembuluh darah. Kebocoran Cairan cerebrospinal (CSF) adalah komplikasi dakriosistohinostomi yang paling berat. Hemorrhage is the most notable complication and has been reported to occur in approximately 3% of patients. Hal ini perlu diperhatikan bahwa insersi dari penyerapan yang baik. It has been noticed that insertion of an absorbable homeostatic agent. Infection is also a serious concern with dacryocystorhinostomy. the nose must be packed. a suture abscess is noted. Infeksi juga merupakan hal yang harus diperhatikan. patients with diabetes and children who undergo dacryocystorhinostomy are on postoperative oral antibiotics. Variations in anatomy are frequently responsible for the above complication. o Any surgeon performing a dacryocystorhinostomy should be adept at placing an anterior nasal pack. Variasi anatomi mempengaruhi terjadinya komplikasi. Because the cribriform plate lies just above the medial canthal tendon. Banyak kasusu perdaraan dapat diatasi dengan di kauter dan dihentikan dengan trombin. occasionally. the nasal mucosa. Banyak pembedahan dakriosistohinostomi seharusnya dilakukan pada posisi yang tepat yaitu di hidung bagian anterior. Rarely. satelah operasi diberikan antibiotic oral. dan arteri ethmoidal anterior. Pada hidung bagian posterior jarang dilakukan. o A posterior nasal pack usually is not required. More commonly. Perdarahan adalah komplikasi yang dapat terjadi sekitar 3%.

few patients fail dacryocystorhinostomy. balloon dacryocystoplasty has been shown to be effective in patients who fail dacryocystorhinostomy surgery. yang tidak dapat membentuk ostium lebih besar. Sebagian kecil pasien yang mengalami kegagaln dakriosistohinostomi diharuskan menggunakan jones tube. The author offers balloon dacryoplasty to patients with focal partial stenosis . however. presumably due to the inability to create as large an ostium. KESIMPULAN Definisi.Keberhasilan dari dakriosistohinostomi adalah sekitar 95% . Most cases of the latter can be treated with dilation of the ostium with successively larger Bowman probes. Balon dakrisistoplasti juga dapat efektif pada pasien yang gagal dilakukan dakriosistohinostomi.       I. Ha ini dapat memepengaruhi refisi intranasal selama dilakukan osteotomi. a papilloma. Fortunately. Intranasal dacryocystorhinostomy has a slightly lower success rate.Penggunaan laser dalam dakriosistohinostomi dapat mengurangi angka kematian. the success rate appears to be approximately 80-85%. Kegagalan pada dakriosistohinostomi terjadi karena osteotomi yang tidak adekuat atau fibrosa tertutup saat pembedahan ostium. Menurut penulis balon dakrioplasti sering dignakan pada pasien stenosis fokal parsial. keberhasilannya dapat mencapai 80-85%. Balon dakrioplasti juga dapat digunakan sebagai prosedur pada beberapa pasien yag tidak dapat dilakukan dakriosistohinostomi. III. Papiloma yang meyumbat ostium dapat terlihat di intrnasal. Recently. terkadang.Dakriosistohinostomi intranasal kemungkinan keberhasilannya rendah. therapi dan prognosa . which is occluding the ostium. can be seen intranasally. Banyak kasus yang dapat diatasi dengan dilatasi ostium yang menakibatkan pelebaran membrane bowman. This can be removed during intranasal revision of the osteotomy. Rarely. those patients who do most often necessitate placement of a Jones tube. Prognosa Prognosis    The success rate of external dacryocystorhinostomy is approximately 95%. The newer laser-assisted dacryocystorhinostomy is promising in that less morbidity is seen with the procedure. . Balloon dacryoplasty is also a useful procedure in select patients and in patients who fail primary dacryocystorhinostomy.Failure of the dacryocystorhinostomy is most commonly due to an inadequate osteotomy or a fibrous closure at the surgical ostium.

. tobramycin. obat penghilang mampet hidung bekerja/digunakan dalam waktu yang singkat. and TobraDex (antibiotic/steroid combination drop). Oral antibiotics are useful in patients with acute dacryocystitis who are not acutely ill. Antibiotik oral berguna pada pasien penderita dakriosititis akut/yang parah yang benarbenar tidak sakit/merasakan sakit. this involves dacryocystorhinostomy. in most cases. Yang termasuk antibiotik utama/pokok yaitu polytrim. pada banyak kasus. Afrin) are used on a short-term basis. nasal decongestants (eg. Further Outpatient Care perawatan lebih lanjut pasien rawat jalan   Most patients are treated surgically on an outpatient basis. tobramycin.Further Inpatient Care perawatan lebih lanjut pasien rawat     Admission to the hospital is required for the following: Hak ijin rumah sakit dibutuhkan hal-hal berikut : o Patients to be treated with intravenous antibiotic therapy o Pasien di obati dengan terapi antibiotik kedalam pembuluh darah o Patients with orbital cellulitis o Pasien dengan orbital cellulitis o Pediatric patients with periorbital or orbital cellulitis o Ilmu kesehatan pada pasien anak-anak dengan periorbital (masa/waktu) atau orbital cellulitis. hal ini melibatkan dacryocystorhinostomy. gentamicin. Terkadang. Definitive surgical therapy should be performed. Kebanyakan pasien diobati secara pembedahan/operasi pada sebuah basis pasien rawat jalan (pasien diobati di rumah sakit tetapi tidak tinggal di rumah sakit) In/Out Patient Meds       Topical antibiotics include Polytrim. dan tobradex (antibiotik/ steroid kombinasi drop). Terapi bedah pasti harus dilakukan. Occasionally. gentamicin.

dan melanoma. Hemorrhage is the most notable complication and has been reported to occur in approximately 3% of patients. larutan garam intranasal mungkin/ bisa berguna pasca operasi untuk menjaga ostium pembedahan tetap bersih dan terbuka. wegener granulomatosis. such as Wegener granulomatosis. may prevent some cases of dacryocystitis. Bagaimanapun. leukemia. nasal mucosa. o Pendarahan hidung adalah biasanya ditemui dari pembuluh angular. including warm compresses and eyelid scrubs. Deterrence/Prevention Pencegahan     Proper eyelid hygiene. occasionally. . seperti. Nasal hygiene with saline spray may help prevent distal lacrimal outflow obstruction. when properly performed.  Intranasal saline may be useful postoperatively to keep the surgical ostium clean and open. o Most cases of hemorrhage can be controlled with judicious use of cautery and cottonoids soaked in thrombin. Dakrocitorshinostomy. termasuk mengompres dengan air hangat dan menggosok kelopak mata. severe complications can occur. Kesehatan kelopak mata yang tepat. sarcoidosis. dan telah di laporkan terjadi kirakira 3% pada pasien. as with all surgical procedures. However. Rarely. beberapa komplikasi dapat terjadi. dan terkadang pembuluh nadi ethmoidal terlebih dahulu/bagian depan. limphoma. Transfer Pemindahan   Patients may require transfer for diagnostic evaluation of associated systemic illnesses. and. Pendarahan hidung adalah komplikasi yang terkenal. ketika dilakukan/digunakan secara tepat. dapat mencegah beberapa kasus penyakit dakriostitis. the anterior ethmoidal artery. sarcoidosis. is a very safe and effective procedure. leokimia. the nasal mucosa. Kesehatan nasal dengan semprotan larutan garam dapat membantu mencegah gangguan pengeluaran lakrimal distal Complications     Dacryocystorhinostomy. o Bleeding is encountered commonly from the angular vessels. the nose must be packed. adalah prosedur yang sangat aman dan efektif. harus sesuai dengan semua prosedur operasi. Pasien harus melakukakan pemindahan untuk evaluasi diagnosa pada penyakit sistemik yang terhubung. and melanoma. lymphoma.

Infeksi dengan dacryosystorhistomi juga merupakan persoalan yang serius. Terkadang. Some surgeons advocate spraying antibiotic drops into the nose postoperatively. Hampir secara rutinitas. and oral and topical antibiotics. More commonly. seperti Instat atau Gelfoam. which can be treated with removal of the offending suture. o Bungkus Bagian belakang nasal biasanya tidak dibutuhkan. pasien dengan diabetes dan anak-anak yang sedang menjalani dekriosistorhinostomy ialah pasca operasi antibiotic oral. hot compresses. It has been noticed that insertion of an absorbable homeostatic agent. soaked in thrombin is effective in decreasing the incidence of hemorrhage. yang direndam dalam thrombin sangat efektif dalam pengurangan peristiwa pendarahan. Beberapa ahli bedah menganjurkan untuk menyemprotkan tetes antibiotik pada hidung pasien setelah operasi. patients with diabetes and children who undergo dacryocystorhinostomy are on postoperative oral antibiotics. o A posterior nasal pack usually is not required. Lebih biasa. abses jahitan bedah tercatat. o   . kompres hangat. Itu telah tercatat bahwa penempatan pada alat serapan homeostatic. Infection is also a serious concern with dacryocystorhinostomy. such as Instat or Gelfoam. dan oral dan antibiotik pokok. dapat diobati dengan pembersihan/pembuangan pada jahitan bedah yang sakit/kesalahan jahitan bedah.Banyak kasus pendarahan dapat di kontrol dengan penggunaan yang baik pada cautery/pembakaran dan kapas yang direndam dalam trombin. a suture abscess is noted. Almost routinely. o Beberapa ahli bedah melakukan dakriosistorhinostomy yang harus ditempatkan dengan cakap pada sebuah anterior nasal pack (bungkus anterior nasal). hidung mesti di tutup/bungkus. o Any surgeon performing a dacryocystorhinostomy should be adept at placing an anterior nasal pack.