You are on page 1of 11

Pengaruh Kadar Enzim Terhadap Kecepatan Reaksi Pengubahan Amilum

A. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam laporan praktikum kali ini
adalah :
1. Bagaimana pengaruh kadar enzim terhadap kecepatan reaksi
pengubahan amilum menjadi glukosa ?
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengaruh kadar enzim terhadap kecepatan
transpirasi reaksi pengubahan amilum menjadi grukosa.
C. Hipotesis
1. Ha : kadar enzim mempengaruhi kecepatan reaksi pengubahan amilum
menjadi glukosa.
2. Ho : kadar enzim tidak mempengaruhi kecepatan raksi pengubahan
amilum menjadi glukosa.
D. Kajian Pustaka
Enzim merupakan katalisator biologi, sehingga dapat mengkatalis
reaksi kimia pada kondisi yang tidak ekstrim (suhu tubuh dan pH netral).
Sebagian besar enzim-enzim tubuh organisme tersusun atas protein yang
mempunyai struktur tersier (konformasi tiga dimesi). Protein penyusun
enzim adalah makromolekul yang sangat besar. Dengan demikian ukuran
enzim jauh lebih besar dibandingkan substratnya. Enzim fungsional
disebut holoenzim (Isnawati, 2009).
Setiap enzim terbentuk dari molekul protein sebagai komponen
utama penyusunannya dan beberapa enzim hanya terbentuk dari molekul
protein dengan tanpa adanya penambahan komponen lain. Enzim berperan
secara lebih spesifik dalam hal menentukan reaksi mana yang akan dipacu
dibandingkan dengan katalisator anorganik, sehingga ribuan reaksi dapat
berlangsung dengan tidak menghasilkan produk sampingan yang beracun.
Enzim juga tanggap terhadap perubahan kondisi lingkungan, sehingga
perubahan dapat dilakukan oleh tumbuhan sesuai dengan perubahan unsur
lingkungan. (Lakitan. 2007)
Fungsi utama suatu enzim adalah mengurangi hambatan energi
aktivasi pada suatu reaksi kimia. Yang dimakud dengan energi aktivasi

adalah jumlah energi yang dibutuhkan untuk membawa suatu substansi ke
status reaktifnya. Enzim bergabung dengan substansinya (substrat)
membentuk suatu status transisi yang membutuhkan energi aktivasi lebih
kecil untuk berlangsungnya reaksi kimia tersebut. (Pelczar, dkk. 1986)
Enzim terdiri atas dua bagian, yaitu koenzim dan apoenzim.
Koenzim dan apoenzim membentuk haloenzim yang merupakan enzim
aktif. Tanpa adanya koenzim, enzim menjadi tidak aktif. Fungsi utama
suatu enzim adalah mengurangi hambatan energi aktivasi pada suatu reaksi
kimia. Yang dimakud dengan energi aktivasi adalah jumlah energi yang
dibutuhkan untuk membawa suatu substansi ke status reaktifnya. Enzim
bergabung dengan substansinya (substrat) membentuk suatu status transisi
yang membutuhkan energi aktivasi lebih kecil untuk berlangsungnya
reaksi kimia tersebut. (Pelczar, dkk. 1986). Selain itu, enzim mempunyai
fungsi lain antara lain, yaitu:
1. mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan tetap tanpa mengubah
besarnya tetapan.
2. seimbangnya mengendalikan reaksi.
laju reaksi tergantung perjumlah enzim dalam substrat yang berhasil
membentuk kompleks jika konsentrasi keduanya tinggi, jumlah kompleks
yang mungkin terbentuk juga tinggi jika substrat cukup tersedia,
penggandaan konsentrasi enzim menyebabkan laju reaksi meningkat dua
kali lipat. (Lakitan. 2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim :
1. Konsentrasi enzim.
Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi bertambah
dengan bertambahnya konsentrasi enzim. Konsentrasi substrat. Dengan
konsentrasi enzim yang tetap, perubahan substrat akan menambah
kecepatan reaksi.
2.

Suhu
Kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi, sehingga bagian aktifnya
terganggu, akibatnya konsentrasi spesifik enzim berkurang dan kecepatan
reaksinya turun. Enzim tersusun oleh protein, sehingga sangat peka

terhadap suhu. Peningkatan suhu menyebabkan energi kinetik pada
molekul substrat dan enzim meningkat, sehingga kecepatan reaksi juga
meningkat. Namun suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan rusaknya
enzim yang disebut denaturasi, sedangkan suhu yang terlalu rendah dapat
menghambat kerja enzim. Setiap enzim memiliki suatu suhu optimum
dimana laju reaksinya berjalan cepat. Suhu ini memungkinkan terjadinya
tubrukan molekuler paling banyak tanpa mendenaturasikan enzim itu.
(Campbell, dkk. 2002)
3. Pengaruh pH.
Struktur ion enzim tergantung pada pH lingkungannya, enzim dapat
terbentuk ion(+)atau (-) atau bermuatan ganda (switter ion). pH dapat
menyebabkan proses denaturasi yang dapat mengakibatkan menurunnya
aktivitas enzim. Perubahan pH dapat mempengaruhi perubahan asam
amino kunci pada sisi aktif enzim, sehingga menghalangi sisi aktif
bergabung dengan substratnya. Setiap enzim dapat bekerja baik pada pH
optimum, masing-masing enzim memiliki pH optimum yang berbeda.
4. Konsentrasi substrat
Pada konsetrasi substrat yang amat rendah, kecepatan reaksi pun amat
rendah, tetapi, kecepatan ini akan meningkat dengan meningkatnya
konsentrasi substrat. Jika kita menguji pengaruh konsentrasi substrat yang
terus meningkat setiap saat kita mengukur kecepatanawal reaksi yang
dikatalisis ini, kita akan menemukan bahwa kecepatan ini mungkin dengan
nilai yang semakin kecil. Pada akhirnya, akan tercapai titik batas, dan
setelah titik ini dilampaui, kecepatan reaksi akan segera meningkat
sedemikian kecil dengan bertambahnya konsentrasi substrat. Bagai
manapun tingginya konsentrasi substrat setelah titik ini tercapai, kecepatan
reaksi ini akan mendekati. Tetapi, tidak akan pernah mencapai garis
maksimum. (Lehninger, 1982).
5. Pengaruh inhibitor.
Dapat berupa hambatan inversibelyang disebabkan oleh terjadinya
destruksi atau modifikasi sebuah gugus fungsi atau lebih, yang terdapat
pada molekul enzim. Hambatan reversibel dapat berupa hambatan bersaing
dan tak bersaing .(Purwo Arbianto,1996)

Kecambah kacang hijau
kecambah kacang hijau digunakan karena zat gizi pada biji yang
sedang berkecambah berada dalam bentuk aktif. Germinasi atau
perkecambahan meningkatkan daya cerna karena berkecambah merupakan
proses katabolis yang menyediakan zat gizi penting untuk pertumbuhan
tanaman melalui reaksi hidrolisis dari zat gizi cadangan yang terdapat di
dalam biji. Peningkatan zat-zat gizi pada kecambah kacang hijau mulai
tampak kira-kira 24 – 48 jam saat perkecambahan (Anggraeni,2009).

E. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi
2. Variabel kontrol
3. Variabel respon

: Kadar enzim
: Kadar larutan KI-I2, waktu pengamatan.
: Kecepatan reaksi pengubahan amilum

menjadi glukosa.
F. Definisi Operasional Variabel
1. Variabel manipulasi : Kadar enzim dibuat berbeda-beda, yaitu kadar
0%, 25%, 50% dan 100%. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
pengaruh enzim terhadap kecepatan reaksi.
2. Variabel respon : Kecepatan reaksi pengubahan amilum menjadi
glukosa pada masing-masing kadar enzim yang telah ditambahkan
larutan KI-I2 tidak sama.
G. Alat dan Bahan
Alat
1. Gelas ukur 10 ml
2. Tabung reaksi
3. Sentrifuge
4. Pipet
5. Rak tabung reaksi
6. Mortar dan Penumbuk porselin
7. Spiritus
8. Penjepit tabung reaksi

1 buah
8 buah
1 buah
4 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

Bahan
1.
2.
3.
4.
5.

Kecambah kacang hijau umur 2 hari, 20 gram
Larutan amilum 4%
Aquades
Larutan K-I
Larutan buffer

H. Rancangan Percobaan

Membuang kulit biji kecambah

Menggerus 20 gram kecambah kacang hijau
dan menambahkan 20 ml larutan buffer fosfat
sitrat
Sentrifius selama 5 menit dengan kecepatan 2
rpm

Supernatan 10 ml (cairan ini dianggap
sebagai larutan enzim amilase 100%)

10 ml enzim
50% di ambil
dari 5 ml enzim
100% + 5 ml
aquades

10 ml enzim
25% di ambil
dari 5 ml enzim
50% + 5 ml
aquades

5 ml enzim 0%
diambil dari 5
ml enzim 25%
dan dipanaskan

Diteteskan pada lempeng + 1 tetes
larutab K-I

Setiap 2 menit

Ditetapkan sebagai saat nol, untuk
larutan enzim 0% diperoleh dari
memanaskan 5 ml enzim 100%
sampai mendidih

Hitung waktu tiap perubahan warna
yang terjadi

I. Langkah Kerja
1. Kulit biji kecambah dibuang.
2. 10 gram kecambah kacang hijau digerus dan ditambahkan 10 ml
larutan buffer fosfat sitrat sampai semua kecambah hancur.
3. Dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan di centrifuge selama 5 menit
dengan kecepatan 2 rpm.
4. Cairan bagian atas (supernatan) diambil dan dimasukkan ke dalam
tabung reaksi. Cairan ini dianggap sebagai larutan enzim amylase
100%.
5. Enzim dibuat dengan kadar 0%;25%;50%; dari enzim yang berkadar
100% dengan cara sebagai berikut: Kadar enzim 50% diperoleh
dengan cara mengambil 5 ml enzim 100% dan ditambahkan aquades
sampai volumenya menjadi 10 ml; Kadar enzim 25% diperoleh dengan
cara mengambil 5 ml enzim 50% dan ditambahkan aquades sampai
volumenya menjadi 10 ml; Kadar enzim 0% diperoleh dengan cara
memanaskan 5 ml enzim 100% sampai mendidih.
6. Disediakan tabung reaksi dan diisi dengan 5 ml larutan enzim 100%,
ditambahkan 2 ml larutan amilum 4%. Waktu dicatat. Kemudian

dikocok perlahan sampai larutan benar-benar tercampur. Saat dicampur
larutan amilum + enzim ditetapkan sebagai saat nol.
7. Setiap 2 menit diambil 1 tetes campuran lalu diuji dengan 1 tetes
larutan KI-I2 pada lempeng penguji (cawan tetes).
8. Waktu dicatat tiap perubahan warna yang terjadi pada lempeng
penguji.
9. Dilakukan langkah ke 6 samapai 8, masing-masing untuk kadar enzim
50%, 25%, dan 0%.
J. Rancangan Tabel Pengamatan
Bedasarkan dari hasil pengamatan yang kami lakukan tentang
pengaruh kadar enzim terhadap kecepatan reaksi pengubahan amilum
menjadi glukosa yang telah dilakukan, dapat dilihat tabel

hasil

pengamatan dibawah ini :
Tabel 1. Hasil pengamatan pengaruh kadar enzim terhadap kecepatan
reaksi
Konsentrasi
enzim (%)
0

Waktu yang di perlukan (menit)
2
4
6
8
v
v
v
v

25

v

v

v

50

v

v

v

100

v

v

v

Total
10
v

12
v

14
12 menit
8 menit
6 menit
2 menit

Bedasarkan dari hasil pengamatan yang kami lakukan tentang
pengaruh kadar enzim terhadap kecepatan reaksi pengubahan amilum
menjadi glukosa yang telah dilakukan, dapat dilihat grafik hasil
pengamatan dibawah ini :

prosentase
14
12
10
8

waktu (menit)

prosentase

6
4
2
0

0

25

50

100

konsentrasi enzim (%)
Gambar 1. Grafik pengaruh kadar enzim terhadap kecepatan reaksi

K. Rencana Analisis Data
Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan dapat diketahui
bahwa kadar enzim mempengaruhi kecepatan laju reaksi pengubahan
amilum menjadi glukosa. Dapat dilihat dari data diatas bahwa pada kadar
enzim 100% kecepatan laju reaksi sangat cepat yaitu 2 menit. Sedangkan
pada kadar enzim 0% kecepatan laju reaksi sangat lambat yaitu sekitar 12
menit.
Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa semakin tinggi
kadar enzim maka semakin cepat kecepatan reaksi pengubahan amilum
menjadi glukosa. Sebaliknya, semakin rendah kadar enzim maka
kecepatan reaksi pengubahan amilum menjadi glukosa akan semakin
rendah.
Diskusi
1. Dari hasil tes KI-I2 pada larutan amilum + enzim 100% warna
yang muncul atau yang diperoleh adalah warna biru tua. Hal
tersebut terjadi karena adanya pengubahan amilum menjadi
glukosa dan warna biru yang dihasilkan merupakan indikator
adanya glukosa pada larutan.

2. Fosfat sitrat buffer berfungsi untuk menjaga pH, bermanfaat untuk
melarutkan kotoran yang masih terikut di dalam endapan enzim
sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan kehilangan
fungsi biologisnya. Selain itu fungsi dari larutan tersebut ialah
dapat mempertahankan kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi
perubahan pH dan mencegah agar enzim tidak mengalami
inaktivasi.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim ialah:

Suhu

pH

Konsentrasi substrat

Konsentrasi enzim (produk)

Pengaruh inhibitor

L. Hasil Analisis Data
Berdasarkan hasil analisis tabel dan grafik dari percobaan yang
telah kami lakukan dapat dilihat bahwa pada kadar enzim 100% kecepatan
laju reaksi sangat cepat yaitu 2 menit. Sedangkan pada kadar enzim 0%
kecepatan laju reaksi sangat lambat yaitu sekitar 12 menit. Hal ini
membuktikan bahwa kadar enzim mempengaruhi kecepatan laju reaksi
pengubahan amilum menjadi glukosa. Semakin tinggi kadar enzim maka
semakin cepat kecepatan reaksi pengubahan amilum menjadi glukosa.
Sebaliknya, semakin rendah kadar enzim maka kecepatan reaksi
pengubahan amilum menjadi glukosa akan semakin rendah. Sesuai dengan
teorinya yaitu laju reaksi tergantung perjumlah enzim dalam substrat yang
berhasil membentuk kompleks jika konsentrasi keduanya tinggi, jumlah
kompleks yang mungkin terbentuk juga tinggi jika substrat cukup tersedia,
penggandaan konsentrasi enzim menyebabkan laju reaksi meningkat dua
kali lipat. (Lakitan. 2007).
Pada praktikum ini enzim yang digunakan untuk merubah amilum
menjadi glukosa didapat dari kecambah kacang hijau yang berumur 2 hari.
Digunakan kecambah kacang hijau karena zat gizi pada biji yang sedang

berkecambah berada dalam bentuk aktif. Germinasi atau perkecambahan
meningkatkan daya cerna karena berkecambah merupakan proses katabolis
yang menyediakan zat gizi penting untuk pertumbuhan tanaman melalui
reaksi hidrolisis dari zat gizi cadangan yang terdapat di dalam biji.
Peningkatan zat-zat gizi pada kecambah kacang hijau mulai tampak kirakira 24 – 48 jam saat perkecambahan (Anggraeni,2009) .
Penambahan larutan buffer yaitu larutan yang tahan terhadap
perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. Larutan seperti itu
digunakan dalam berbagai percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH
yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz, 1992 ). Penambahan larutan KI juga
dilakukan pada larutan amilum agar uraian amilum menjadi glukosa dapat
diketahui atau dapat dikatakan larutan JKJ digunakan sebagai alat ukur
laju reaksi pembetukan amilum menjadi glukosa dimana waktu supernatan
dalam amylase ditambahkan larutan KI akan menghasilkan warna biru,
namun setelah beberapa saat perubahan warna terjadi, warna biru menjadi
warna putih, hal ini menandakan hidrolisis amilum sudah terjadi. (Winarto,
1983)
M. Simpulan
1. Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa kadar enzim memengaruhi laju reaksi
pengubahan amilum menjadi glukosa, semakin banyak kadar
enzim maka semakin cepat laju reaksi dan sebaliknya, semakin
sedikit enzim laju reaksi semakin lambat.
N. Daftar Pustaka
Anggrahani, Sri.2009. Pengaruh Lama Pengecambahan Terhadap
Kandungan A-Tokoferol Dan Senyawa Proksimat Kecambah Kacang
Hijau

(Phaseolus

(http://patpijogja.wordpress.com/

radiates
2009

L.).(online)
08/27/pengaruh-lama-

pengecambahan-terhadap-kandungan-a-tokoferol-dan-senyawaproksimat-kecambah-kacang-hijau-phaseolus-radiatus-l-oleh-srianggrahini-staf-pengajar-fakultas-teknologi-pertanian-ugm/)

Campbell, NA., Reece, JB., Mitchell, LG., 2002. Biologi jilid 1 edisi ke
lima. Erlanga. Jakarta
Isnawati. 2009. Biokimia. Surabaya: UNESA University Press.
Lakitan, benyamin. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo
Persada. Jakarta
Lehninger, AL. 1982. Dasar –Dasar Biokimia Jilid 1. Erlangga.Jakarta.
Pelczar, MJ., Chan, ECS., 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI-Press.
Jakarta
Rahayu, Yuni Sri dkk. 2016. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan.
Surabaya : Jurusan Biologi FMIPA UNESA.
Winarto, F.G, 1983. Enzim Pangan. PT Gramedia. Jakarta