You are on page 1of 19

STUDI PREFORMULASI TABLET NEVIRAPIN

Disusun untuk memenui tugas Teknologi Sediaan Solida

Oleh :
NADIA ROSI NUR HALIZA
NIM 142210101076

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2016

Jember. 22 Maret 2016 Nadia Rosi Nur Haliza 2 . Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada pembaca pada umumnya dan dimanfaatkan khususnya dalam bidang farmasi. Makalah ini berisikan tentang informasi tentang studi preformulasi dari suatu sediaan tablet atau yang lebih khususnya membahas preformulasi tablet Nevirapine.KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga saya berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Studi Preformulasi Tablet Nevirapine”. Amin. Akhir kata. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.

BAB I PENDAHULUAN 1. (b) kelarutan/ solubility. Kristalinitas dan polimorfisme. (c) Kecepatan disolusi. Sebelum memulai pengembangan kegiatan perumusan. Nevirapine adalah obat yang digunakan dengan obat HIV lain untuk membantu mengendalikan infeksi HIV.1 Latar Belakang Preformulasi merupakan langkah awal dalam proses pembuatan sediaan farmasi dengan mengumpulkan keterangan-keterangan mengenai sifat fisika kimia dari zat aktif. koefisien pastisi. disolusi. untuk memaksimalkan kesempatan keberhasilan memformulasi produk yang dapat diterima oleh pasien dan akhirnya menyiapkan dasar untuk mengoptimalkan produksi obat dari segi kualitas dan penampilan. kanker) dan meningkatkan kualitas hidup. Studi preformulasi pada dasarnya berguna untuk menyiapkan dasar yang rasional untuk pendekatan formulasi. Biasanya yang bertanggung jawab pada penelitian kimia di daerah itu di tunjukkan untuk menyediakan data-data zat obat adalah seperti berikut: (a) Stabilitas kimia. Dalam makala ini akan dibahas tentang preformulasi tablet Nevirapine. (d) distribusi dan (e) eliminasi. Sedangkan data yang bias digunakan sebagai data pelengkap adalah Kompatibilitas interaksi obat dengan eksipien dan studi pendahuluan in vivo pada hewan yang meliputi : (a) absorbsi obat. sifat alir (flowability) Langkah pertama pada pemotongan tablet atau aktifitas perumusan adalah pertimbangan yang teliti sebelum perumusan data ini sangat penting karena mempunyai indentifikasi sifat kimia fisika lengkap dari bahan aktif yang tersedia. Obat ini membantu mengurangi jumlah HIV dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh dapat bekerja lebih baik.stabilitas. (d) Konstanta disosiasi. (f) polimorfisme dan (g) Ukuran partikel. (c) ikatan protein. (e) Koefisien partisi. Penggunaan obat ini dapat menurunkan risiko komplikasi HIV (seperti infeksi baru. Tahap awal dari tiap formulasi baru meliputi pengkajian untuk mengumpulkan keterangan-keterangan dasar tentang karakteristik fisika dan kimia zat obat yang dibuat 3 . Pengkajian preformulasi terhadap zat aktif dilakukan dengan penelitian mendalam mengenai sifat-sifat fisika-kimia antaranya adalah : Sifat organoleptis. absorbsi. sehingga bila dikombinasikan dengan zat atau bahan tambahan menjadi suatu bentuk sediaan farmasi yang stabil. efektif dan aman. (b) metabolisme. kemurnian.

b. Pengkajian dasar ini merangkum penelitian preformulasi yang dibutuhkan sebelum formulasi produk yang sebenarnya dimulai (Ansel.menjadi bentuk sediaan farmasi tersebut. e. Apa yang dimaksud dengan Preformulasi? Apa saja komponen dari tablet? Bagaimana sifat fisika kimia Nevirapine? Bagaimana mekanisme kerja serta efek Nevirapine dalam medis? Bagaimana preformulasi dari Nevirapine? 1. 2008). Untuk mengetahui preformulasi dari Nevirapine 4 . c. d. Untuk mengetahui dan memahami komponen dari tablet c.2 Rumusan Masalah a. 1..3 Tujuan a. Howard C. Untuk mengetahui tentang preformulasi b. Untuk mengetahui sifat fisika kimia Nevirapine d. Untuk mengetahui mekanisme kerja serta efek Nevirapine dalam medis e.

Ukuran partikel dari zat murni dapat mempengaruhi formulasi produk. Sifat-sifat seperti karateristik aliran dan laju sedimentasi juga merupakan faktor-faktor penting yang berhubungan dengan ukuran partikel. Kebanyakan obat tersebut merupakan senyawa kimia murni yang berbentuk amorf atau kristal. Untuk memproduksi suatu respon biologis molekul obat pertama-tama harus melewati suatu membrane biologis yang bertindak sebagai pembatas lemak. Pengujian Mikroskopik. Penelitian atau pemeriksaan sifat-sifat fisika dan kimia zat aktif tersendiri dan jika dikombinasikan dengan zat lain merupakan data-data studi praformulasi. bioavailabilitas. Pengujian ini memberikan indikasi atau petunjuk tentang ukuran partikel dari zat murni seperti juga c struktur kristal. Data-data tersebut meliputi: 1 Sifat Fisika a Uraian Fisik. Obat cairan digunakan dalam jumlah yang lebih kecil.1 Preformulasi Preformulasi merupakan langkah awal dalam proses pembuatan sediaan farmasi dengan mengumpulkan keterangan-keterangan dasar tentang sifat kimia fisika dari zat aktif bila dikombinasikan dengan zat atau bahan tambahan menjadi suatu bentuk sediaan farmasi yang stabil. Khususnya efek ukuran partikel terhadap absorpsi obat. Uraian fisik dari suatu obat sebelum pengembangan bentuk sediaan penting untuk dipahami. Kebanyakan obat yang larut lemak akan lewat dengan proses difusi pasif sedangakn yang tidak larut lemak akan melewati pembatas lemak dengan transport aktif. gas bahkan b lebih jarang lagi. warna dan kestabilan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Keseragaman isi dalam bentuk sediaan padat sangat tergantung kepada ukuran partikel dan distribusi bahan d aktif pada seluruh formulasi yang sama. kebanyakan zat obat yang digunakan sekarang adalah bahan padat. keseragaman isi. Koefisien Partisi dan Konstanta Disosiasi. rasa. Pengujian mikroskopik dari zat murni (bahan obat) merupakan suatu tahap penting dalam kerja (penelitian) praformulasi. Ukuran Partikel. Karena hal ini maka perlu mengetahui koefisien partisi dari suatu obat. tekstur. Sifat-sifat fisika dan kimia tertentu dari zat obat dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel. Khusus untuk obat yang bersifat larut air maka perlu pula diketahui 5 . termasuk laju disolusi obat. efektif dan aman.

intensitas dan lama respon serta h bioavailabilitas. asam-asam. Pengkajian awal dimulai dengan menggunakan sampel obat dengan kemurnian yang diketahui. alkaloid. Secara kimia proses kerusakan yang paling sering meliputi hidrolisis dan oksidasi. Bentuk polimorfisme f ditunjukkan oleh paling sedikit sepertiga dari senua senyawa-senyawa organik. keton. obat pertama-tema harus berada dalam bentuk larutan.konstanta disosiasi agar diketahui bentuknya molekul atau ion. Pengkajian praformulasi yang dihubungkan dengan fase praformulasi termasuk kestabilan obat itu sendiri dalam keadaan padat. Bentuk molekul lebih e muda terabsorpsi daripada bentuk ion. Disolusi. Akibatnya laju disolusi dapat mempengaruhi onset. Bentuk-bentuk polimorfisme biasanya menunjukkan sifat fisika kimia yang berbeda termasuk titik leleh dan kelarutan. Kestabilan. Untuk obat yang diberikan secara oral dalam bentuk padatan. Secara kimia. kestabilan fase larutan dan kestabilan dengan adanya bahan penambah. Salah satu aktivitas yang paling penting dalam praformulasi adalah evaluasi kestabilan fisika dari zat obat murni. Ketidak stabilan kimia dari zat obat dapat mengambil banyak bentuk. terutama kelarutan sistem dalam air. Kelarutan. Studi praformulasi pada dasarnya berguna untuk menyiapkan dasar yang rasional untuk pendekatan formulasi. glikosida. Masing-masing dengan gugus kimia relative yang mempunyai kecenderungan berbeda terhadap ketidak stabilan kimia. Polimerfisme. Sifat Kimia Kestabilan. Suatu formulasi yang penting adalah bentuk kristal atau bentuk amorf dari zat obat tersebut. Suatu sifat kimia fisika yang penting dari suatu zat obat adalah kelarutan. aldehid. ester-ester. garamgaram. Laju disolusi adalah waktu yang diperlukan bagi obat untuk melarut dalam cairan pada tempat absorpsi. Suatu obat harus memiliki kelarutan dalam air agar manjur dalam terapi. laju disolusi adalah tahap yang menentukan laju absorpsi. karena obatobat yang digunakan sekarang adalah dari konstituen kimia yang beraneka ragam. dan lain-lain. Untuk memaksimalkan kesempatan keberhasilan 6 . fenol. Senyawa-senyawa yang relative tidak larut seringkali menunjukkan absorpsi g yang tidak sempurna atau tidak menentu. zat obat adalah alcohol. Agar suatu obat masuk kedalam sistem sirkulasi dan menghasilkan suatu efek terapeutik. Perbedaan aktivitas biologis dari suatu zat obat mungkin diakibatkan oleh laju disolusi. Adanya pengotoran 2 akan menyebabkan kesimpulan yang salah dalam evaluasi tersebut.

atau memerlukan bentuk enterik atau bentuk lain untuk perlindungan lambung dan untuk suatu zat aktif yang tidak stabil dalam cairan asam lambung.2 Komponen Tablet 1. Sifat-sifat ini dapat meemberikan dasar yang rasional untuk desain tablet tertentu. perhatian yang sangat seksama harus diberikan terhadap formulasi dan desain sediaan tablet dan juga metode pembuatannya untuk memproduksi suatu sediaan yang berkhasiat dan handal. Zat Aktif dan Pengaruh kelarutan Ada dua golongan zat aktif yang diberikan secara oral dalam bentuk sediaan tablet. dan zat aktif terlarut dimaksudkan untuk penggunaan efek obat sistemik setelah disolusinya dalam usus halus dan selanjutnya di adsorbsi. desain bentuk sediaan tablet yang cepat terdisintregasi dan terdisolusi dapat atau tidak kritis. Adalah zat yang ditambahkan ke dalam massa tablet untuk mencapai bobot tablet yang diinginkan. Dalam hal sediaan tablet yang dimaksudkan untuk memberikan efek sistemik. granulasi dan pengempaan pada sifat permukaan zat aktif dan kemampuan untuk memeperbaiki atau memeperbarui suatu zat dalam usus dengan sifat-sifat permukaan yang optimal merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu. 2. 3. Sasaran dalam mendesain bentuk sediaaan tablet untuk kedua golongan zat aktif ini berbeda. Zat pengisi biasanya diperlukan bila dosis obat tidak 7 . sediaan harus didesain untuk segera terdisintegrasi dan terdispersi kembali menghasilkan ukuran partikel halus dan luas permukaan yang luas. Jika mengolah zat aktif tidak larut yang kerja terapinya sangat dipengaruhi oleh fenomena permukaan seperti antasid dan adsorben. Zat Tambahan a Bahan Pengisi. Sesuai dengan efek formulasi. dan juga didasarkan pada sifat-sifat kelarutan zat aktif pada atau diatas tempat absorsi. yaitu zat aktif tidak larut dimaksudkan untuk penggunaan efek lokal dalam saluran cerna seperti antasid. Untuk tiap golongan zat aktif tersebut. Sifat Zat Aktif Sifat-sifat fisik dan fisikokimia zat aktif harus dimengerti sepenuhnya selama mematangkan formula. sediaan harus didesain menjadi terdisintegrasi atau terlarut untuk melepaskan zat aktif dalam suatu bentuk yang tersedia ada atau diatas daerah absorbsi dalam usus.memformulasi produk yang dapat diterima oleh pasien dan akhirnya menyiapkan dasar untuk mengoptimalkan produksi obat dari segi kualitas dan penampilan. seperti disolusi tepat untuk zat aktif yang mungkin diabsorbsi lebih besar dalam ussu halus atas. adsorben. tergantung pada tempat zat aktif diabsorbsi yaitu dalam saluran cerna atas atau lebih umum diseluruh saluran ussu halus. (Siregar 2010 :139-140) 2.

antibiotic tertentu). (Lachman 1994 : 697) Sifat Umum : Pada umumnya adalah zat inert dan dapat mempengaruhi sifat biofarmasi. dan dapat memperbaiki daya kohesi dan daya alir sehingga dapat dikempa langsung. zat berupa gula.cukup untuk membuat bulk. b Kandungan lembab dalam granul mempengaruhi sifat-sifat fisik dan kimia zat aktif c Zat aktif yang peka terhadap lembab hendaknya tidak dikombinasikan dengan d e eksipien yang higroskopis Pengemas harus dipilih yang cocok terhadap zat aktif yang higroskopis Data higroskopis dapat membantu dalam mendesain tablet 8 . sorbitol. Pengisi yang sering digunakan adalah berasal dari bahan organic dan anorganik. kalsium sulfat b dihidrat. garam Ca dalam Tetrasiklin mempengaruhi absorpsinya. Laktosa bila dicampurkan dengan basa amin garamnya maka lama-kelamaan tablet menjadi hitam. manitol.Contoh bahan pengisi dalah laktosa. dikalsium fosfat dihidrat. Misalnya . oleh karena itu sifat higroskopis merupakan hal penting dalam pemilihan eksipien dengan alasan : a Air yang diserap zat aktif dan eksipien tidak selalu dapat dilepas kembali. kimia. emdex dan selutam. karena terjadi kompleks. memiliki biaya yang murah. disolusi zat aktif. mikro kristal. selulosa. Pada obat berdosis tinggi tidak dibutuhkan pengisi (misalnya aspirin. starch 1500. Suatu pengisi harus memiliki criteria inert. Adanya kelembapan akan mempengaruhi zat aktif. dextrose.

1 Data Preformulasi 3. 3. Nama Kimia anhydricum N-2-Piridinil sulfonilamida Nevirapina. laju alir 1. Dideteksi pada panjang gelombang 220 nm dengan kolom Spherical® 4.1. menunjukkan bahwa NVP mudah didistribusikan pada manusia.3 g/mol Viramune Serbuk putih atau hampir putih Kelarutan Praktis tidak larut dalam air. Nevirapinum Struktur Kimia Bobot Molekul Nama Dagang Organoleptis 266.6 mm x 15 cm.21 ± 0.0 mL/menit dan volume suntikan 25 μL. volume distribusi (Vdss) dari NVP adalahh 1. 5 µm. sedikit larut dalam diklormetan dan metil alcohol Metode analisis Secara kromatografi cair kinerja tinggi (USP 32.09L/l=kg.025 M (diatur hingga pH 5.1. Sebuah peninjauan dari Pacifici menunjukkan bahwa pada neonatus volume distibusinya lebih 9 . Setelah pemberian secara intravena pada pasien dewasa.BAB III PEMBAHASAN 3.2 Farmakokinetik Distribusi NVP bersifat lipofilik dan tidak terionisasi pada pH fisiologis. 2008) Menggunakan fase gerak dapar amonium fosfat 0.1 Sifat Fisko-Kimia Nevirapine Rumus Molekul Sinonim C15H14N4O Nevirapiini.0 dengan natrium hidroksida 1 N) dan asetonitril dengan perbandingan 4:1.

5 ± 1. tidak diketahui sampai sejauh mana kadar obat CSF berkolerasi dengan kadar obat jaringan otak. Konsentrasi yang lebih rendah pada NVP dalam sel dapat di monitor dengan ekspresi P-glycoprotein yang lebih tinggi. meskipun isozim lainnya juga memainkan peranan sekunder. penelitian In vitro pada mikrosom hati manusia menunjukkan bahwa metabolisme oksidatif dari NVP di mediasi terutama oleh CYP450 isozim dari famili CYP3A. Metabolisme CYP450. Kadar optimal konsentrasi terendah NVP sebesar 4. Namun. Berkurangnya viral load CSF telah dibuktikan pada pasien yang memakai rejimen yang berdasarkan nevirapine.9mg/mL (atau 17 ± 7nM) yang dicapai pada 400mg/day. NVP ∼60% berikatan pada protein plasma dalam kisaran konsentrasi plasma 1-10 μg/mL.5mM) dicapai dalam waktu 4 jam setelah pemberian nevirapine dosis oral tunggal 200mg. Sebaliknya. Pemusatan data dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi plasma puncak dari 2 ± 0. konjugasi glukoronida. Bioavibilitas absolut pada 12 orang dewasa yang sehat setelah pemberian dosis tunggal adalah 90%. NVP intraseluler tidak berkolerasi dengan ikatan protein. Farmakokinetik Plasma NVP mudah diserap (>90%) setelah pemberian oral pada sukarelawan yang sehat dan pada orang dewasa yang terinfeksi HIV-1.besar dibandingkan dengan dewasa. Konsentrasi NVP dalam cairan serebrospinal manusia (CSF) adalah 45%(±5%) dari yang di dalam plasma. baik diberikan sebagai tablet atau larutan oral. Selain itu.4mg/Ml (7. rasio ini kurang lebih sama dengan fraksi yang tidak berikatan dengan plasma protein. Parameter ini tidak berubah secara substansial apakah obat itu diberikan dengan atau tanpa makanan atau dengan buffer basa (seperti antasida). puncak konsentrasi NVP tampak meningkat pada rentang dosis 200-400mg/hari. dan ekskresi melalui urine dari metabolit glukuronidasi merupakan jalur utama dari metabolisme nevirapine dan eliminasi pada manusia. penetrasi NVP kedalam sistem sarf pusat telah banyak didokumentasikan dalam model eksperimental dan pada hewan. NVP mudah melintasi plasenta dan dapat ditemukan pada ASI. Metabolisme/Eliminasi Nevirapine secara luas dimetabolisme melalui sitokrom p450 (CYP450) menjadi bebrapa hydroksilasi metabolit in vivo dan in vitro. 10 . Setelah beberapa dosis. konsentrasi relatif rendah dan tetap selama interval 012 jam. dan juga NVP terdeteksi di semen.

Dalam keadaan itu penggunaan NVP tidak dianjurkan. dan kemudian menurun pada waktu kewaktu. farmakokinetik NVP tidak berubah jauh pada usia (berkisar18-68 tahun). pengurangan dosis harus dipertimbangkan. Dibandingkan dengan 4mg/kg sekali sehari untuk 14 hari pertama diikuti dengan 4mg/kg dua kali sehari pada anak-aanak usia 8 tahun dan lebih tua. akibatnya dosis yang dianjurkan untuk anak 2 bulan sampai 8 tahun adalah 4mg/kg sekali sehari untuk 14 hari pertama setelah itu diikuti dengan 7 mg/kg dua kali sehari.Nevirapine juga telah terbukti sebagai penginduksi enzim metabolik CYP450. NVP menimbulkan toksisitas hati. 15 pria).38L/kg)..54L/kg) dibandingkan dengan pria (1. Tingkat pembersihan yang nyata pada anak-anak mencapai maksimum pada umur 1-2 tahun. menunjukkan bahwa NVP di distribusikan lebih banyak pada wanita. Penelitian oleh Hong-Brown et al juga menunjukkan penurunan sintesis protein dalam miosit oleh karena keberadaan NVP dalam sel ini. pasien dengan gangguan hati sedang maupun berat (skor Child-Pugh > 8 asites) beresiko untuk menumpuknya NVP. Penurunan sintesa protein berkolerasi dengan penurunan tingkat fosforilasi dari translasi yang menginisiasi protein. Sehingga tidak ada perbedaan jenis kelamin yang signifikan dalam konsentrasi NVP setelah pemberian baik dosis tunggal ataupun dosis ganda. berat badan-disesuaikan distribusi volume (Vdss) dari NVP lebih tinggi pada wanita (1. Jenis Kelamin/Ras/Usia Tidak ada perbedaan yang cukup besar terhadap jenis kelamin atau ras yang dilaporkan dalam beberapa uji klinis. Farmakokinetik dari NVP pada pasien dengan gangguan ginjal tidak berubah. Autoinduksi juga menghasilkan perubahan korespon dalam l paruh-waktu fase terminal dari NVP dalam plasma dari ∼45 jam (dosis tunggal) menjadi ∼25-30 jam setelah dosis ganda. dan yang lebih penting. Pada orang dewasa. perbedaan ini diimbangi dengan waktu paruh fase terminal lebih pendek pada wanita. Namun. Selama dialisis NVP dibersihkan dari badan dan dosis pengulangan setelah dialisi harus dipertimbangkan. Jika NVP sangat diperlukan dalam kadaan seperti itu. Studi Dosis Manusia 11 . Di dalam satu penelitian fase I melibatkan sukarelawan yang sehat (15 wanita.

kejadian keseluruhan ruam.(5. dibandingkan dengan 1. Konsentrasi plasma dari obat tidak berkolerasi dengan terjadinya ruam. sakit kepala. 50. total 6. dibandingkan 1 % pada grup kontrol. Dosis rejimen NVP yang saat ini dianjurkan adalah 200mg 12 . tidak ada faktor telah diidentifikasikan yang menjadi predisposisi seorang pasien akan mendapatkan ruam. mual. Ruam adalah efek samping yang paling umum. obat-obat yang bersamaan. untuk kejadian secara keseluruhan 16% dari ruam disebabkan oleh NVP. dengan dosis 400mg/hari menjadi unggul dalam hal besar dan durasi efek. peningkatan enzim hati dan heptitis kimia. mekanisme dari NVP yang menyebabkan ruam masi belum diketahui pasti. Perbedaan ini bermakna secara statistik. lemah. Hanya 7% pasien pada grup NVP diberhentikan karena ruam. ras. Berdasarkan 2861 pasien yang di terapi dengan NVP dalam berbagai uji klinis. Akibatnya. Juga. Dalam empat percobaan terkontrol. ataupun stadium penyakit. dan resiko unttuk ruam sangat tinggi dalam 6 minggu pertama terapi.1. termasuk penggantian cairan dan kontrol nyeri. dosis-efek yang proposional ditemukan. Sampai saat ini. kebanyakan kasus dikelola dengan terapi suportif. dosis 400mg sehari dipilih untuk pengembangan klinis. kombinasi terapi dengan NVP.Dosis harian 12. termasuk dua yang dilaporkan mengalami SJS/Toxic Epidermal Necrolysis (TEN). dan kebanyakan dari mereka mengalami ruam tingkat 3 atau 4.3 Toksisitas Efek samping obat yang paling sering dilaporkan sehubungan dengan pengobatan dengan NVP pada uji klinis termasuk ruam.50. adalah 35% pada kelompok NVP dan 19% pada kelompok kontrol. Meski kasus fatal telah dilaporkan badan pengawas setelah pemasaran. Ini menggambarkan insiden SJS keseluruhan 0. ataupun jenis kelamin. Ruam yang diakibatkan oleh NVP biasanya ringan dan sembuh dengan sendirinya.5% mengalami ruam tingkat 3 dan 4.3% pada kontrol. terlepas dari hubungan sebab akibat yang ditetapkan oleh peneliti .3%. Selain itu. terjadi juga peningkatan enzim hati dan sesekali mengantuk. Diantara pasien yang di terapi dengan NVP pada empat uji klinis terkontrol. 3. 9) Dalam studi yang terpisah dosis 600mg berikatan dengan meningkatnya toksisitas dan tidak ada keuntungan yang besar pada aktifitas antiretrovirus. Insiden ruam pada anakanak tidak berbeda dengan dewasa. 8. 200. riwayat ruam. dan 400 mg diteliti pada pasien dewasa dengan hitungan CD4+ T-limfosit <400 cell/mm3. Batasan dosis toksisitas yang paling utama adalah ruam. demam. mengantuk. yang dikatikan dengan penggunaa NVP. sembilan pasien dinyatakan Sindroma StevenJhonson (SJS).

ini tidak ada konsekuensi klinis dan telah dikaitkan dengan auto induksi enzim hati pada metabolisme NVP. telah dilaporkan pada pasien yang menggunakan NVP. Kortikosteroid tidak mencegah ruam yang berkaitan dengan NVP. Dalam program penggunaan NVP di Belanda. Peran antihistamin atau eskalasi dosis lambat untuk pencegahan ruam yang berkaitan dengan NVP memerlukan penelitian lebih lanjut secara prospektif terkontrol.sehari sekali selama 2 minggu. termasuk hepatitis. Peningkatan Isolated gammaglutamul transpeptidase relatif sering. Hepatitis imbas obat telah dilaporkan dalam 9 dari 906 (1%) pasien yang diobati dengan NVP secara kronis dalam uji klinis terkontrol. Peningkatan enzim hati. selanjutnya 200mg 2 kali sehari. Tabel 1 memberikan pedoman penatalaksanaan empiris ruam yang dikembangkan dari para ahli. Apakah kortikosteroid atau antihistamin mempunyai peranan dalam pengobatan ruam yang berkaitan dengan NVP juga tergantung penelitian lebih lanjut. dan bahkan dapat menyebabkan peningkatan insiden. Dengan demikian rekomendasi saat ini tidak menyarankan untuk memberikan NVP pada wanita dengan jumlah CD4+ Tlimfosit >250 cells/mm3 atau pria dengan jumlah CD4+ 13 . Pedoman ini memberikan arahan untuk melanjutkan atau menghentikan pemakaian NVP pada pasien yang mengalami ruam. Namun demikian pasien harus diperingatkan dengan hati-hati bahwa efek obat ini dapat berpotensi serius. Secara statistik bermakna bahwa dua kali lipat kejadian hepatotoksisitas terjadi pada wanita. Berdasarkan analisa retrospektif menunjukkan rejimen ini lebih jarang dikaitkan dengan ruam. tidak ada muncul ruam pada pasien yang sebelumnya dirawat dengan antiretroviral yang lain dan mempunyai kadar HIV-1 plasma yang tak terdeteksi. namun.

Penelitian SCAN menemukan bahwa NVP sehari sekali adalah efektif dan ditoleransi dengan baik sama seperti NVP dua kali sehari pada infeksi HIV tahap awal. dosis sekali sehari sering digunakan dalam praktek klinik. studi crossover oleh garcia van Heeswijk et al menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna dalam keseluruhan paparan NVP (AUC) ketika dosis 400mg sekali sehari dibandingkan dengan 200mg dua kali sehari.1. diduga pasien dengan ko-infeksi hepatitis C mempunyai angka resiko tinggi lebih untuk mengalami hepatitis klinis ketika menggunakan terapi NVP. ini masih jauh diatas IC50. memiliki profile yang baik (Tablel 2).4 Penyederhanaan Dosis Saat ini direkomendasikan bahwa NVP diberikan dua kali sehari. Kadar terendah NVP ketika diberikan dosis sehari sekali adalah ∼25% lebih rendah jika diberikan dosis dua kali sehari. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengethui resiko pada faktor predisposisi pasien mengalami yang hepatitis. menyatakan inisiasi dosis NVP sekali sehari pada pasien yang telah tersupresi replikasi HIV-1nya.Tlimfosit >400 cells/mm3 (Gambar 3).(18) Demikian pula. Dari penelitian Calmy A et al. namun karena panjang paruh waktu pada kadar optimal (25-30 jam). mempunyai efek antivirus dan CD+4 serupa dengan rejimen kombinasi termasuk dua nukleosida yang sama dan satu penghambat protease (idinavir). dan juga pasien yang beralih dari dosis NVP dua kali sehari yang telah stabil ke rejimen sekali sehari. penelitian Atlantic menunjukkan bahwa tiga obat kombinasi termasuk dua nukleosida (didianosin dan stavudine) ditambah NVP dosis sekali sehari. Label terbuka. 3. acak. 14 .

Negredo et al. rejimen antiretroviral dosis 400 mg sekali sehari yang diberikan setelah dua minggu pemberian awal 200 mg berhubungan dengan peningkatan resiko ruam yang menyebabkan penghentian pengobatan. dalam grup dosis sehari sekali dilaporkan kepatuhan sebesar 97% dibandingkan dengan grup dua kali sehari sebesar 69.2%. (21) Total pasien 196. Patofisiologi dari meningkatnya angka efek samping tidak sepenuhnya diketahui. 65 dari 85 pasien (76%) pada grup sehari sekali dipertahankan plasma viral load dibawah 50 copies/mL. Walaupun penigkatan Cmax dengan NVP sehari sekali telah dipertimbangkan. Setelah 48 minggu. Tiga subjek (3. dibandingkan dengan 72 dari 84% (86%) dalam grup yang masih melanjutkan dosis dua kali sehari (P=0. Data awal percobaan klinis menunjukkan bahwa NVP bentuk extended-release memiliki khasiat antiviral dan keamanannya sebanding dengan NVP biasa yang dosis 15 . sedikit bukti yang memperkuat hal ini dalam analisa farmakokinetik yang telah dipublikasikan. Ketika dibandingkan dengan dosis NVP dua kali sehari.1%) yang beralih ke dosis sehari sekali. dianosine 400mg dan tenofovir 300mg. Setelah 48 minggu. 85 dari mereka beralih ke rejimen sehari sekali. meneliti keamanan dan kemanjuran pasien beralih dari berbagai rejimen dua kali sehari (dengan atau tanpa NVP) menjadi satu kali sehari nevirapin 400mg. Data ini menunjukkan bahwa manfaat dari peningkatan kepatuhan lebih dibandingkan dengan efek samping. Formulasi extended-release NVP tersedia pada tahun 2011 untuk dosis sekali sehari. Resiko komplikasi hati menjadi perhatian lainnya.6%) yang melanjutkan dosis dua kali sehari diberhentikan terapinya dibandingkan dengan 12 subjek (14. dan dalam penelitian ini. Efek samping yang menyebabkan pemberhentian pengobatan lebih banyak pada group sehari sekali.176). kemungkinan berkurangnya efektifitas virologi.

dua kali sehari pada follow up 48 minggu.22-0. Tablet dievaluasi untuk variasi berat. Penekanan virologi dicapai pada 80% pasien yang menggunakan extendedrealase formulasi dibandingkan dengan 75% yang menggunakan formulasi biasa(Gambar 4). Isi obat dalam semua formulasi berkisar antara 99% sampai 100%. Berat rata-rata ditemukan 300-309 mg yang akan berada dalam batas-batas tertentu. yang % kerapuhan (0. Oleh karena itu semua tablet menunjukkan variasi berat kurang.19 mm dan kekerasan ditemukan di kisaran 3. hemat untuk sedikit larut dalam diklorometana R. Data Formulasi Tablet Nevirapine NVP (ER) disusun oleh teknologi manufaktur yang berbeda yaitu kompresi langsung. kekerasan. Dalam semua formulasi.75) di bawah 1% sebagai per USP. 3. kerapuhan. roller pemadatan. spektrum UV dan FTIR spektrum. Ketebalan semua tablet ditemukan di kisaran 3. mengambang jeda waktu. yang berada dalam batas IP yang ditentukan. Kelarutan Nevirapine ditentukan dan ditemukan praktis tidak larut dalam air. ketebalan. titik leleh. Berikut adalah formulasi dari tablet Nevirapine bentuk extended-release: 16 . Semua formulasi lulus tes evaluasi dan menunjukkan hasil yang memuaskan.1. Suatu butiran matriks disiapkan dengan mencampur obat bersama dengan polimer dan pengencer pada rasio polimer yang berbeda dari teknologi granulasi basah menggunakan air sebagai cairan granulasi. kandungan obat dan studi pelepasan obat in vitro. PKS dan HPMC menunjukkan sifat mengikat yang baik.5.9 kg / cm2 dalam semua formulasi. dan metode granulasi basah dengan menggunakan polimer hidrofilik (HPMC K15M). durasi mengambang. Nevirapine diuji untuk identifikasi dengan menggunakan sifat organoleptik.3-3. sedikit larut dalam metanol.11-3. pembengkakan Indeks.

17 .

4. Penggunaan obat ini dapat menurunkan risiko komplikasi HIV (seperti infeksi baru. Penekanan virologi dicapai pada 80% pasien yang menggunakan formulasi extended-realase dibandingkan dengan 75% yang menggunakan formulasi biasa.1 Kesimpulan Preformulasi merupakan langkah awal dalam proses pembuatan sediaan farmasi dengan mengumpulkan keterangan-keterangan dasar tentang sifat kimia fisika dari zat aktif bila dikombinasikan dengan zat atau bahan tambahan menjadi suatu bentuk sediaan farmasi yang stabil. Formulasi extended-release NVP memiliki khasiat antiviral dan keamanannya sebanding dengan NVP biasa yang dosis dua kali sehari pada follow up 48 minggu. efektif dan aman. Obat ini membantu mengurangi jumlah HIV dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh dapat bekerja lebih baik.2 Saran Sebaiknya obat Nevirapine diformulasikan dalam bentuk extended-release agar khasiatnya bisa lebih baik dan cepat dibandingkan dengan formulasi biasa.BAB IV PENUTUP 4. Nevirapine adalah obat yang digunakan dengan obat HIV lain untuk membantu mengendalikan infeksi HIV. 18 . kanker) dan meningkatkan kualitas hidup.

Bandung : ITB Antiretroviral Therapy for HIV Infection in Adults and Adolescents. AIDS Therapy. editors. Setiati S. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press). L. HIV antiretroviral agents inhibit protein synthesis and decrease ribosomal protein S6 and 4EBP1 phosphorylation in C2C12 myocytes. 2007. 2007 Jan. 2010. Michael Saag M. Montaner JSG.8(1):1-7. 2005 Oct. 2011. p. HIV Med. 2007. In: Sudoyo AW. dkk. 1995. Setiohadi B. efficacy and safety review. McLaughlin MM. Austria: WHO. K MS. 19 . et al. Philadelpia: Elseiver Inc. AIDS Res Hum Retroviruses. Djauzi S.37(2):178-82. Alwi I. Teori dan Praktek Farmasi Industri Ed. Cooper CL. p. 3rd ed. Pengembangan Sediaan Farmasi. editors. Elex Media Komputindo – Gramedia Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral Pada Orang Dewasa. Nevirapine. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.21(10):854-62.DAFTAR PUSTAKA Agoes goeswin.45. Henry Masur M. Brown CR. Once-daily nevirapine dosing: a pharmacokinetics. Zala C. Jakarta : PT. 233 . Jakarta: Interna. Andrews C. 1825 . Tan Hoan Tjay. Obat – Obat Penting. 2008. 2010. 2008. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5 ed. 1. Bova CA. In: Raphael Dolin M. Hong-Brown LQ. Cheeseman SH. Djoerban Z. Farmakope Indonesia Edisi IV.. Ditjen POM.9. Hogg R. Koup RA. dan Rahardja Kirana. Lachman. Antimicrob Agents Chemother. van Heeswijk RP. Pharmacokinetics of nevirapine: initial single-rising-dose study in humans. Harris M. Lang CH. 1993 Feb. HIV/AIDS di Indonesia. Hattox SE..