You are on page 1of 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Infeksi pada neonatus merupakan sebab yang penting terhadap terjadinya
morbiditas dan mortalitas selama periode ini. Para peneliti menemukan tanda
inflamasi pada kira-kira 25% autopsi. Kelainan ini merupakan penyebab kedua
terbanyak setelah penyakit membran hialin.
Beberapa faktor umum berperan dalam terjadinya infeksi dan
menentukan beratnya infeksi pada neonatus. Hal tersebut menekankan
pentingnya diagnosis dini yang tepat serta pengobatan yang memadai. Faktor
tersebut adalah : (1) Macam mikroorganisme penyebab termasuk bakteri, virus,
fungus, protozoa, chlamydia dan mycoplasma. (2) Gambaran klinis infeksi pada
neonatus tidak khas sehingga sering tidak atau terlambat terdiagnosis. (3)
Beberapa uji laboratorium rutin untuk membantu diagnosis infeksi sering tidak
tepat dan datang terlambat. (4) Mekanisme daya tahan tubuh neonatus masih
imatur sehingga memudahkan invasi mikroorganisme. Oleh karena itu infeksi
mudah menjadi berat dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu beberapa
jam atau beberapa hari bila tidak mendapat pengobatan yang tepat. (5) Banyak
infeksi bakteri disebabkan oleh mikroorganisme yang relatif telah resisten
terhadap antibiotik, terutama di Rumah Sakit.

(1)

Insidensi sepsis neonatorum ada hubungannya dengan umur kehamilan
dan berat badan lahir. Satu dari 250 bayi prematur dan 1 dari 2000 bayi aterm
menunjukkan gejala sistemik infeksi bakteri pad amasa neonatal. Satu dari 200
bayi dengan berat badan lahir < 2.500 gr dan satu dari 10 bayi dengan berat
badan < 1000 gr menderita sepsis segera sesudah lahir. Angka kematian sebelum
ada antibiotik 100 % dan dengan pemberian antibiotika yang memadai angka
kematian 20 – 30 %. Pada bayi prematur dengan kelainan/penyakit penyerta
seperti penyakit hialin membran, enterokolitis necrotikans, perdarahan
intraventrikuler, angka kematian menjadi lebih tinggi lagi. ( 2 )

1

diagnosis. Margono Soekarjo Purwokerto. faktor-faktor predisposisi. Dr. pembagian. etiologi. TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan referat ini adalah untuk menguraikan masalah sepsis neonatorum ditinjau dari definisi. 2 . pencegahan dan prognosis serta untuk memenuhi syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta RSUD Prof. patogenesis. penatalaksanaan.B.

yang sering mengakibatkan berbagai infeksi akut. Coli. ( 4 ) Candida albicans dan chlamydia dapat menyebabkan infeksi ringan sampai berat. Infeksi saluran nafas atau saluran cerna adalah jalan utama bagi terjadinya infeksi di hari kemudian. B. E. ETIOLOGI Pola mikroorganisme penyebab sepsis berubah dari waktu ke waktu dan berbeda setiap negara dan tempat perawatan. baik di rumah sakit maupun di rumah. luka operasi. ( 1 ) Tabel 1 Di bawah ini menunjukkan kuman penyebab sepsis neonatorum. kateter merupakan ported entree pada neonatus yang dirawat. Sedangkan umbilikus. DEFINISI Sepsis pada neonatus didefinisikan sebagai sindrom klinik bakteremia dengan tanda-tanda dan gejala-gejala sistemik. ( 3 ) Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri yang menyeluruh disertai kultur darah yang positif pada masa neonatal.BAB II PEMBAHASAN A. Neisseria gonorrhoae dan virus herpes simpleks. Semua infeksi yang terjadi setelah lahir disebabkan oleh pengaruh lingkungan. nyata dan sistemik. ( 2 ) Angka kematian sepsis neonatrorum masih tinggi. ( 2 ) Organisme yang paling sering menyebabkan infeksi pada saat ini adalah streptokokkus group B. ( 2 ) 3 . Infeksi yang di dapat selama persalinan biasanya timbul dalam beberapa hari setelah lahir. sedangkan cytomegalovirus cenderung menimbulka infeksi tanpa gejala. Diagnosis dini merupakan kunci keberhasilan pengelolaan sepsis neonatorum dan ditegakkan terutama atas dasar gejala klinis.

Infeksi janin terjadi dengan inhalasi likuor yang septik sehingga terjadi pneumonia kongenital. Influenzaeae C. yaitu treponema palidum (lues). Infeksi dapat pula terjadi walaupun ketuban masih utuh misalnya pada partus lama dan sering dilakukan manipulasi vagina. Disini kuman itu melalui batas plasenta dan menyebabkan intervilositis. (b). spirokaeta. coli dan listeria monocytogenes. PATOGENESIS Infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa cara. (c). Infeksi intranatal. Mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion setelah ketuban pecah. Marcesans Enterobacter sp Klebsiella Pneumonia H. virus. Pneumoniae L. Kuman mencapai janin melalui sirkulasi ibu ke plasenta. Selanjutnya infeksi melalui sirkulasi umbilicus dan masuk ke janin. 4 . Kuman yang dapat menyerang janin melalui jalan ini ialah : (a). poliomyelitis. Ketuban pecah lama (jarak waktu antara pecahnya ketuban dan lahirnya bayi lebih dari 12 jam) mempunyai peranan penting terhadap timbulnya plasentitis dan amnionitis. 2. Infeksi antenatal. Infeksi melalui jalan ini lebih sering terjadi daripada cara yang lain. Selain itu infeksi dapat menyebabkan septisemia. Epidermidis GRAM NEGATIF E. Blanc (1961) membaginya dalam 3 golongan yaitu : ( 5 ) 1. Infeksi intranatal dapat juga melalui kontak langsung dengan kuman yang berasal dari vagina. variola. bakteri : E. yaitu rubella. Aureus S. Coli Pseudomonas sp S.GRAM POSITIF Streptokokkus group B Streptokokkus group D S. Monocytogenes S.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok : Faktor maternal. ( 3 ) D.Ketuban pecah lama (> 24 jam) e. perdarahan banyak. Infeksi ini terjadi sesudah bayi lahir lengkap. Kehamilan kembar 5 . 3. faktor neonatal dan faktor lingkungan. Faktor Maternal Ras. 1.Bekteriemia/Viremia c.3. Infeksi pascanatal.Bakteriuri simptomatik b. 2. Prematuritas 2. Infeksi pascanatal ini sebetulnya sebagian besar dapat dicegah. FAKTOR-FAKTOR PREDISPOSISI Bayi baru lahir mendapat infeksi melalui beberapa jalan.Panas d. Penyakit ibu selama kehamilan : a. Seringkali bayi mendapat infeksi dengan kuman yang sudah tahan terhadap semua antibiotika sehingga pengobatannya sulit. Sebagian besar infeksi yang berakibat fatal terjadi sesudah lahir sebagai akibat kontaminasi pada saat penggunaan alat atau akibat perawatan yang tidak steril atau sebagai akibat infeksi silang. Hal ini penting sekali karena mortalitas infeksi pascanatal ini sangat tinggi.Endometritis. keadaan kesehatan ibu dan flora vagina merupakan faktor penting dalam terjadinya sepsis neonatorum. kala II lama disertai fetal distress Faktor Neonatal 1.Amnionitis f. Perawatan antenatal yang tidak baik. Wanita Mexican-Amerika jarang terkena dibanding orang kulit putih/hitam lainnya.

gejala timbul setelah 1 minggu pada bayi tanpa kelainan perinatal.100%.3. 3. influenza. fagositosis dan bakterisid terganggu. ( 2. S. Pseudomonas sp. walaupun bayi itu tidak diberi antibiotika spektrum luas. S. Bayi juga kemungkinan terinfeksi melalui alat yang terkontaminasi. E. Klebsiella sp. Infeksi didapat dari lingkungan atau dari rumah sakit (nosokomial) sering terjadi komplikasi susunan saraf pusat. PEMBAGIAN Berdasarkan mulai timbulnya gejala klinis. aureus. Pemaparan terhadap mikroorganisme pada organ genitourinaria ibu. Defek fungsi granulosit yaitu daya kemotaksis. biasanya infeksi berkaitan dengan faktor ibu (infeksi transplasenta. E. komplemen opsonin non spesifik termasuk fibronektin rendah. pneumonia. Faktor Lingkungan 1. 2. C3. Pemaparan terhadap kuman di ruang perawatan. Mortalitas 30 . epidemidis. coli. dan juga dari flora vagina seperti streptokokkus group beta. sepsis dibagi menjadi 2. Mekanisme defens spesifik belum meliputi IgM. E. d. monocytogenes. Late Onset. setiap neonatus cenderung didiami oleh mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotika. Faktor komplemen (C1. 4. Penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas. Kelainan kongenital 4. 2. Didalam ruang perawatan dimana biasa digunakan antibiotika. meliputi : a. 6 ) 6 . Kuman penyebab adalah streptokokkus group beta. gejala mulai tampak pada hari-hari pertama kehidupan (ratarata 48 jam). Kuman penyebab biasanya S. yaitu : 1. waktu bayi melewati jalan lahir. IgG dan circulating Ig secara kualitas dan kuantitas yang kurang. paling sering akibat kontak tangan. coli dan L. Aktivitas opsonik terganggu karena antibodi spesifik. 5. H. b. Faktor imunoitas. C5) rendah. c. dari cairan amnion yang terinfeksi. Early Onset.

b. takipneu - Sianosis - Nafas cuping hidung - Suara pernafasan membelasut (grunting) Gejala sistem kardiovaskular - Pucat - Pembentukan bercak-bercak - Kulit berkeringat dingin - Takikardi - Udema - Dehidrasi 7 . ( 4 ) Sepsis ditegakkan atas dasar : 1. Gejala sistem gastrointestinal - Distensi abdomen. DIAGNOSIS Diagnosis klinis infeksi neonatorum sukar ditegakkan karena tidak ada gejala yang patognomonis. dan/atau perubahan-perubahan parameter darah harus dicurigai sepsis neonatorum.6. terdapat faktor resiko. - Bayi tidak mau minum. 6 ) a. - Kenaikan atau penurunan suhu tubuh. Gejala umum - Bayi tampak sakit. manifestasi gangguan fungsi organ. Gejala Klinis Diagnosis sepsis neonatorum didasarkan atas terdapatnya lebih dari satu gejala/tanda pada paling tidak 4 kelompok dari 6 kelompok gejala sebagai berikut : ( 4. - Sklereme. c. d. - Anoreksia - Muntah - Diare - Hepatomegali Gejala sistem pernafasan - Apneu-apneu. Setiap neonatus yang memperlihatkan penampilan yang tidak seperti biasa.

Rdiologik terlihat pada penderita tersangka pneumonia. mata. . sepsis atau osteomyelitis. 2. Pengobatan umum ( 6 ) . telinga hidung. 6 ) G. toxoplasma dan sifilis. (CRP > 2 mg/dl) c.5 .37C. Gejala sistem saraf pusat - Iritabilitas - Tremor.Tindakan perawatan aseptik terutama cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. purpura/perdarahan - Leukopenia Pemeriksaan Penunjang a. b. LED dan CRP meningkat pada neonatus dengan infeksi bakteri. kejang - Hiporefleksia - Reflek moro abnormal - Pernafasan tidak teratur Gejala sistem hematologi - Ikterus - Splenomegali - Peteki. f. PENATALAKSANAAN I. Rubella. 8 . tinja. luka. Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya mikroorganisme pada biakan fokus penting. cairan cerebrospinal. sekret dari umbilkus. dapat pula dijumpai sel leukosit bervakuola dan granula toksik. Peningkatan jumlah batang neutrofil dan trombositopenia pada 24 jam pertama setelah timbul gejala. Trombositopenia selalu terlihat pada penyakit Cytomegalovirus kongenital.e. misalnya darah. usapan faring. urine. d.Suhu tubuh dijaga antara 36. ( 1. aspirasi cairan selulitis dan abses.

( 2 ) Apabila pada keadaan kultur yang negatif. - Late Onset. . Pada keadaan dimana penyebab kumannya golongan enterococcus diberikan kombinasi Ampisillin dan Gentamisin. .. lokasi dari infeksi. gentamisin.Pemberian cairan dan elektrolit secara intravena. antibiotika yang diberikan adalah vankomisin. ( 2 ) 9 . kultur diulang 48 – 72 jam sesudah terapi antibiotika.Pemberian kebutuhan nutrisi. diberikan antibiotika secara single yang paling efektif. Bila tetap negatif dan klinis baik. Antibitoika untuk tipe ini adalah golongan anti staphylococcal penisilin – resistant penicillin seperti Nafsilin. bakteri penyebab sesuai dengan lokasi infeksi dan efek toksik yang didapat dari antibiotika tertentu. . pola sensitifitas dari antibiotika. oksasilin dan Aminoglikosid. harus diberikan antibiotika Gram positif terutama untuk kuman streptokokus grup beta dan kuman gram negatif terutama kuman usus yaitu derivat penisilin dan aminoglikosida seperti kanamisin. Ditempat dimana methicillin-resistant strains dari s. Bila penyebabnya kuman pseudomonas sp dan klebsiella sp diberikan kombinasi penisilin (Tikarsilin atau Piperasillin) dan Aminoglikosid. II. atau amikosin. tobramisin. . terapi ditujuka terhadap kuman stafilokokus dan mikroorganisme rumah sakit seperti pseudomonas sp dan seratia sp.Perawatan tali pusat. aureus dan s. padahal ada kemungkinan sepsis. Pengobatan khusus ( 2 ) Pemberian antibiotika sebaiknya disesuaikan dengan hasil kultur dan tes kepekaan a. antibiotika dihentikan.Jalan nafas dijaga supaya tetap bebas. - Early Onset.Oksigenasi cukup. ( 2 ) Bila penyebab kumannya sudah diketemukan. Pilihan pertama antibiotik berdasarkan pengetahuan mikroorganisme yang paling sering sebagai penyebab sepsis neonatorum. epidermidis sering didapat sebagai penyebab infeksi nosokomial.

pneumonia.000 U/kg BB (3 dosis) Metisillin 50 – 100 mg/kg BB (2 dosis) 100 – 200 mg/kg BB (4 dosis) 5 mg/kg BB (2 dosis) 7. Terapi terhadap komplikasi sepsis yang ada. 3. ( 2 ) Tabel 2. Untuk pneumonia yang disebabkan oleh kuman streptokokus grup beta antibiotika diberikan selama 10 – 14 hari. infeksi saluran kencing. 10 . Tunjangan nutrisi yang tepat dan dapat meningkatkan sistem imunologik.Lama pemberian antibiotika tergantung daripada respon klinis dan lokasi infeksi. c. Sepsis yang disebabkan kuman non-staphylococcus. eksisi jaringan nekrosis atau bila ada komplikasi seperti efusi subdural atau abses otak. 2. Di bawah ini menunjukkan dosis antibiotika total/hari dan cara pemberiannya ( 2 ) Dosis total/hari iv/im Bayi < 1 minggu Ampisillin Bayi 1 – 4 minggu 100 – 150 mg/kg BB (2 dosis) 100 – 150 mg/kg BB (3 dosis) Karbenisillin 200 mg/kg BB (2 dosis) 300 – 400 mg/kg BB (3-4 dosis) Tikasillin 150 mg/kg BB (2 dosis) 300 mg/kg BB (3-4 dosis) Penisillin 150. Immunoterapi saat ini sering digunakan sebagai terapi sepsis 1. Meningitis 14 – 21 hari. Intervensi bedah terhadap fokus septik. drainage pus. infeksi kulit dan jaringan lunak lain selama 7 – 10 hari. Infeksi oleh kuman staphylococcus yang lebih dalam atau berulang diberikan selama minimal 21 hari. Transfusi granulosit diberikan pada keadaan neutropenia dengan cadangan sumsum tulang yang kurang atau tidak ada sama sekali (perkuson neutropil < 7%).000 U/kg BB (2 dosis) 200. Transfusi tukar dapat dilakukan untuk memperbaiki defistensi antibodi spesifik dan meningkatkan oksigenasi jaringan. d.5 mg/kg BB (3 dosis) 15 – 20 mg/kg BB (2 dosis) 20 – 30 mg/kg BB (2-3 dosis) Gentamisin Amikasin b. dan bila oleh kuman staphylococcus diberikan sampai 4 minggu.

buta. Tinggi rendahnya angka kematian tergantung dari waktu timbulnya penyakit. PENCEGAHAN Kondisi lingkungan dan prosedur invasif yang diberikan pada neonatus merupakan predisposisi sepsis yang sangat penting. penyebabnya. mempunyai pengaruh yang cukup berarti dalam penurunan faktor ibu dan bayi yang merupakan predisposisi infeksi pada bayi neonatus. pengawasan teratur adanya infeksi dalam ruangan bayi dan unit perawatan intensif bayi neonatus dan pengenalan sumber-sumber ledakan infeksi umum mempunyai arti penting menurunkan resiko infeksi. perwujudan program melahirkan bagi ibu yang mempunyai kehamilan resiko tinggi. ( 4 ) I. besar kecilnya bayi. 11 . retardasi mental. tuli dan cara bicara yang tidak normal. penekanan masalah dasar pencucian tangan. Pembersihan dan dekontaminasi peralatan ruang bayi secara teratur. PROGNOSIS Pada umumnya angka kematian pada sepsis neonatal berkisar antara 10 . Pemberian antibiotik profilaktik dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi pada bayi neonatus. Gejala sisa neurologik yang jelas tampak adalah hidrosefalus.8. pusat kesehatan yang memiliki fasilitas perawatan intensif bayi neonatal. Peningkatan penggunaan fasilitas perawatan prenatal. beratnya penyakit dan tempat perawatannya.40%.

3. 7. Faktor predisposisi secara umum berasal dari tiga kelompok : faktor maternal. sepsis atau osteomyelitis. 2. Berdasarkan mulai timbul gejala klinis. Angka kematian sebelum ada antibiotika 100% dan dengan pemberian antibiotika yang memadai angka kematian menjadi 20 . Gejala klinis. 12 . Diagnosis klinis sepsis neonatorum ditegakkan berdasarkan : a. infeksi intranatal. Neisseria gonorrhoae dan virus herpes simpleks. 4. infeksi pascanatal. yaitu : infeksi antenatal. Patogenesis infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa cara. yaitu bila terdapat lebih dari satu gejala/tanda paling tidak 4 kelompok dari 6 kelompok gejala sebagai berikut : - Gejala umum - Gejala sistem gastrointestinal - Gejala sistem pernafasan - Gejala sistem kardiovaskular - Gejala sistem syaraf pusat - Gejala sistem hematologi b. 6. 5. yaitu early onset dan late onset.BAB III KESIMPULAN 1. Sepsis neonatorum adalah infeksi yang menyeluruh disertai kultur darah yang positif pada masa neonatal. sepsis dibagi menjadi 2. coli.30%. faktor neonatal. Organisme yang paling sering menyebabkan infeksi saat ini adalah streptokokkus grup B. faktor lingkungan. Pemeriksaan penunjang - LED meningkat - Trombositopenia - CRP > 2 mg/dl - Radiologik terlihat paad penderita tersangka pneumonia. E.

beratnya penyakit serta tempat perawatannya. pengenalan serta pengelolaan terhadap sumber wabah yang biasa terdapat di rumah sakit. Pencegahan. b. besar kecilnya bayi. 9. jalan nafas dan osigenasi. berupa tindakan aseptik. berupa : peningkatan perawatan prenatal. Pengobatan umum. pengawasan. yaitu berupa pemberian antibiotika yang disesuaikan terlebih dahulu dengan hasil kultur dan tes kepekaan. penyebab. pemberian antibiotik sebagai profilaksis. Pengobatan khusus. Penatalaksanaan terdiri atas : a.8. 13 . Prognosis ditentukan berdasarkan waktu timbulnya penyakit. perawatan tali pusat serta pemberian kebutuhan nutrisi. pengawasan terhadap suhu tubuh. 10.

.S. hal 35-37. Melnik Adelberg : Patogenesis Infeksi Bakteri. Penatalaksanaan Kegawatan Neonatus. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. T.C. 3. Jakarta. 2000. Infeksi Neonatal : dalam Neonatus Resiko Tinggi. EGC. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku 3. dalam Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. dorlan’s Ilustrated Medical Dictionary. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. 1998. Dorland. Markum. I. M. Infeksi pada Neonatus. Infeksi pada bayi Neonatus : dalam Nelson Ilmu Kesehatan Anak.. edisi 4. 2. dalam Mikrobiologi Kedokteran. Gaya Baru. 7. Buku 2. V. 5.DAFTAR PUSTAKA 1. Komite Medis RSUP dr. 6. 20. Unit Kerja Koordinasi Pediatri Gawat Darurat IDAI. 14 . Sepsis Neonatorum : dalam Standar Pelayanan Medis. hal 392-417. Saunders Company. EGC. 1999. hal 672-681.B. hal 87-97. 8.. Ermin. Jilid I. Ed. EGC. hal 368-375. Behrman.. Jawetz. Alexander. Jakarta 1996. Medika. 4.D. J. Vaughn III.D.. ed. Klaus dan Fanaroff. 1991. M. Sardjito dan FKUGM. Semarang. Baley. 1985. UNDIP. Jakarta. Bag. W. 1985. hal 1123-1125. Jakarta. Yogyakarta. Infomedika. 26 th. FKUI. 1992. R. Philadelpia.