You are on page 1of 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Terapi kognitif adalah jenis psikoterapi yang di kembangkan oleh Aaron Beck. Ia
adalah seorang psikiate dengan latar belakang psikoanalis. Ia mengajar di University
of Pennsylvania Medical School dan memimpin Center for Cognitive Therapy. Ia berjasa
menyumbangkan secara sukarela dalam pengembangan terapi kognitif untuk menyembuhkan
bagi gagasan kedaan jiwa, terutama depresi.
Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan terstruktur, aktif,
derektif dan berjangka waktu singkat, untuk menghadapi berbagai hambatan dalam
kepribadian, misalnya ansietas atau depresi. Terapi ini didasarkan pada teori bahwa afek
(keadaan emosi, perasaan) dan tindakan seseorang sebagaian besar ditentukan oleh
bagaimana seseorang tersebut membentu dunianya. Pikiran manusia memberi gambaran
tentang rangkaian kejadian di dalam kesadarannya. Gejala perilaku yang berkelainan atau
menyimpang, berhubungan erat dengan isi pikiran, misalnya, seorang menderita ansietas
karena mengantisipasi akan mengalami hal-hal yang tidak enak pada dirinya.
Dalam hal seperti ini, terapi kognitif dipergunakan untuk mengidentifikasi,
memperbaiki gejala prilaku dan fungsi kognisi yang terhambat, yang mendasari aspek
kongnitifnya yang ada. Terapi dengan pendekatan kognitif mengajar pasien atau klien agar
berpikir lebih realistis dan sesuai sehingga dengan demikian akan menghilangkan atau
mengurangi gejala yang berlebihan.
Dari latar belakang diatas penulis akan membahas lebih lanjut mengenai pendekatan
kognitif dalam konseling yang meliputi terapi rasional-emotif dan terapi realitas. Penulis akan
menjelaskan konsep dasar terapi, tujuan konseling, proses dan teknik-teknik yang dilakukan
dalam konseling hingga peran konselor dalam proses terapi sesuai dengan pendekatan
kognitif.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1) Apakah yang dimaksud dengan pendekatan kognitif dalam proses konseling?
2) Bagaimana terapi rasional-emotif oleh Albert Ellis dapat menyelesaikan masalah
klien dalam proses konseling?
3) Bagaimana terapi realitas oleh William Glasser dapat menyelesaikan masalah klien
dalam proses konseling?
ii

C. Tujuan
Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Konseling, penulisan makalah
inijuga memiliki tujuan sebagai berikut:
1) Mahasiswa dapat mengetahui berbagai macam pendekatan dalam proses konseling,
terutama pendekatan kognitif.
2) Mahasiswa dapat memahami bagaimana proses terapi rasional-emotif dan terapi
realitas dapat berguna dalam menyelesaikan masalah klien.
3) Dengan mengetahui proses dan peran konselor dalam terapi rasional-emotif dan
terapi realitas diharapkan mahasiswa dapat menjadi konselor yang baik, dan
menerapkan ilmu yang sudah didapat dari makalah ini dengan sebaik-baiknya.

BAB II
PEMBAHASAN

ii

Jadi agar terjadi perubahan konstruktif. untuk menghadapi berbagai hambatan dalam kepribadian. proses di mana orang belajar bagaimana melihat perilakunya sendiri. Terapi kognitif dipergunakan untuk mengidentifikasi. Terapi ini didasarkan pada teori bahwa afek (keadaan emosi. Pendekatan Kognitif Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan terstruktur. Gejala perilaku yang berkelainan atau menyimpang berhubungan erat dengan isi pikiran.A. Salah satu tokoh yang banyak membicarakan mengenai pendektan kognitif behaviouristik ialah Meichenbaum. misalnya seorang menderita ansietas karena mengantisipasi akan mengalami hal-hal yang tidak enak pada dirinya. menentukan bagaimana perasaan dan reaksinya. Kesulitan dapat terjadi kalau orang yang bersangkutan tidak mau “mendengarkan” apa yang ada sebagai kenyataan dan mendengarnya sendiri. Pikiran seseorang memberikan gambaran tentang rangkaian kejadian di dalam kesadarannya. Perubahan perilaku terjadi melalui proses yang melibatkan interaksi dari berbicara dalam pikiran (inner speech). Jadi bagaimana seseorang berpikir. perlu melepaskan diri pada pikiran-pikiran yang negatif. aktif. yakni pendekatan biomedik. Ia terkenal dengan pengubahan perilaku kognitif (cognitive behaviour modification. misalnya ansietas atau depresi. struktur kognitif dan perilaku yang terjadi dengan saling berkaitan. CBM). direktif dan berjangka waktu singkat. yang mendasari aspek kognitifnya yang ada. pernyataan terhadap dirisendiri sama pengaruhnya dengan pernyataan yang dibuat orang lain terhadap dirinya. yakni: Tahap pertama adalah pengamatan terhadap diri sendiri. Dialog internal yang terjadi ditandai oleh penilaian negatif terhadap keadaannya.terapi kognitif-behaviouristik mendasarkan penggabungan antara tiga pendekatan terhadap manusia. memperbaiki gejala perilaku manusia dan fungsi kognisi yang terhambat. Menurut Meinchenbaum. perasaan) dan tindakan seseorang sebagian besar ditentukan oleh bagaimana seseorang tersebut membentuk dunianya. intrapsikik dan lingkungan. yaitu: 1) Aktivitas kognitif mempengaruhi perilaku 2) Aktivitas kognitif dapat dipantau dan diubah-ubah 3) Perubahan perilaku yang dikehendaki dapat dilakukan melalui perubahan kognitif. Terapi kognitif-behaviouristik ini mendasarkan pada tiga dasar pokok. ii . teknik yang antara lain mempergunakan terapi menginstruksi diri-sendiri (self instructional therapy) yang pada hakikatnya adalah bentuk dari menstruktur kembali aspek kognitif. Terapis dengan pendekatan kognitif mengajakan pada pasien atau klien agar berpikir lebih realistik dan sesuasi sehingga dengan demikian akan menghilangkan atau mengurangi gejala berkelainan yang ada.

Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : a) diinginkan oleh klien b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut c) klien dapat mencapai tujuan tersebut d) dirumuskan secara spesifik ii . menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan dengan bantuan yang dibentuk oleh terapis. Melalui hubungannya denga terapis. sedikit demi sedikit menstruktur pola kognitif yang baru yang sesuai dengan lingkungannya dan tidak menimbulkan kegoncangan atau persoalan. Kalau pada pasien ada kemungkinan terjadi perubahan. Terapi kognitif behaviouristik yang menitikberatkan pada perubahan yang terjadi pada aspek kognitif dengan keyakinan akan diikuti oleh perubahan pada perilakunya. Pada pasien akan terjadi proses penstrukturan kembali.kemantapan dalam pola kognitif yang baru. maka meskipun banyak kesamaan dengan terapi kognitif behaviouristik (cognitive behaviouristic therapy. Perubahan dialog internal pada pasien terjadi melalui terapi yang dilakukan oleh terapis dengan pendekatan-pendekatan tertentu. Tahap ketiga adalah tahap di mana pasien diajarkan bagaimana ia mempergunakan keterampilannya secara lebih efektif yang diperlukan dalam kehidupan nyata sehari-hari. dialog yang terjadi di dalam dirinya akan memprakarsai terbentuknya rangkaian perilaku yang mengarah ke hilangnya perilaku manusia. pasien menyadari akan perilakunya yang melampaui dan mulai melihat kemungkinan-kemungkinan perubahan pada aspek-aspek perilakunya.Tahap kedua ditandai dengan dimulainya dialog internal yang baru. baik yang kognitif maupun yang afektif. Karena sasarannya lebih mengutamakan pada perubahan yang terjadi secara langsung terhadap perilaku yang nyata. CBT) pada adasarnya ada perbedaan. dengan demikian lebih luas dari pada pengubahan kognitif-behaviouristik (CBM).  Tujuan Konseling Mengahapus / menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untuk digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. sangat teergantung dari bagaimana proses dialog internal yang terjadi di dalam diri pasien.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. tingkah laku penyesuaian.  Deskripsi langkah-langkah konseling : 1) Assesment. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3) Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil- hasilnya.Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan / merumuskan tujuantujuan khusus konseling. Konselor aktif : 1) Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2) Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. kekuatan dan kelemahannya. 2) Goal setting. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. pola hubungan interpersonal. ii .  Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling.

ii . (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. dan (d) kemungkinan kerugiannya.Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien: (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. terutama mengenai seksualitas. Ellis adalah alumnus City University of New York dalam bidang Business Administration dan setelah itu baru mengikuti pendidikan psikologi klinis pada tahun 1942 di Columbia University dan memperoleh gelar doktornya pada tahun 1947. disamping pernah pula sebagai manajer personalia. Sebelumnya ia menjadi pengarang dengan status bebas dan banyak menulis buku maupun artikel. 5) Feedback. Terapi Rasional-Emotif Albert Ellis Diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis yang lahir pada tanggal 27 September 1913 di Pittsburgh. atau melakukan referal. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. 3) Technique implementation. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. B. (b) apakah tujuan itu realistik. 4) Evaluation termination. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. Pennsylvania. yang kemudian dibesarkan di New York. (c) kemungkinan manfaatnya.

emosi dan perilaku. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. bahagia. sama halnya dengan kecenderungan mengecewakan dirinya sendiri karena gangguan-gangguannya.Terapi rasional-emotif menurut Ellis mendasarkan pada konsep bahwa berpikir dan berperasaan saling berkaitan. namun dalam pendekatannya lebih menitikberatkan pada pikiran daripada ekspresi emosi seseorang. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.  Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. dan kompeten. berakibat mengecewakan diri sendiri. Pandangan Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah: 1) Manusia mengkondisioning diri sendiri terhadap munculnya perasaan mengganggu pribadinya. memungkinkan dapat: a) Memilih reaksi yang berbeda dengan yang biasanya dilakukan b) Menolak mengecewakan diri sendiri terhadap hampir semua hal yang mungkin terjadi c) Melatih diri-sendiri agar secarasetengah otomatis mempertahankan gangguan sedikit mungkin sepanjang hidupnya. Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan ii . 4) Kemampuannya yang luar biasa untuk mengubah proses-proses kognitif. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. 2) Kecenderungan biologisnya sama halnya dengan kecenderungan kultural untuk berpikir salah dan tidak ada gunanya. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. 3) Kemanusiaannya yang unik menemukan dan menciptakan keyakinan yang salah dan mengganggu. interpretasi.

ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. tingkah laku. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). pandangan. dan Emotional consequence (C). Perceraian suatu keluarga. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. dan irasional. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. yaitu Antecedent event (A). atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. tidak masuk akal. dan keran itu tidak produktif. dan kerana itu menjadi prosuktif. atau sikap orang lain. kejadian.irasional. Belief (B) yaitu keyakinan. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. sangat personal. bijaksana. emosional. Belief (B). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. yang dapat diterima menurut akal sehat. Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis. kelulusan bagi siswa. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Keyakinan seseorang ada dua macam. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. masuk akal. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. ii . nilai.

merusak. c) orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional: a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. Ciri-ciri berpikir irasional: a) tidak dapat dibuktikan b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. antara kenyatan dan imajinasi b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. disalahkan. jahat. bencana yang dahsyat. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. ii . Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. Indikator keyakinan irasional: a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. kekhawatiran. dan dihukum. mengerikan.

e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. Kedua. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. merasa was-was. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. rasa berdosa. keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. persepsi. ii . rasa bersalah. rasa marah. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif: Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. cara berpikir. f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang.  Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. meningkatkan selactualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. rasa cemas.

yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional terjadi peningkatan dalam hal: 1) minat kepada diri sendiri 2) minat sosial 3) pengarahan diri 4) toleransi terhadap pihak lain 5) fleksibel 6) menerima ketidakpastian 7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya 8) penerimaan diri 9) berani mengambil risiko 10) menerima kenyataan.  Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. Tugas konselor menunjukkan bahwa: a) masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional ii .Ketiga.

3) Emotif-ekspreriensial. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.b) usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional.  Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1) Aktif-direktif. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. 4) Behavioristik. Operasionalisasi tugas konselor: a) lebih edukatif-direktif kepada klien. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. 2) Kognitif-eksperiensial. ii . artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.

afektif. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. 2) Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. ii . Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. 3) Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Teknik-teknik Behavioristik 1) Reinforcement Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). mendorong. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) 1) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif.

mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Teknik-teknik Kognitif 1) Home work assigments Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Dengan tugas rumah yang diberikan.Dengan memberikan reward ataupun punishment. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. mengobservasi. 2) Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. atau meniru model-model sosial. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. latihan. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). ii . membiasakan diri. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. 2) Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah lakutingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran.

sebagai tempat perawatan bagi remaja wanita yang mengalami gangguan kenakalan serius. yakni psikoanalisis ternyata tidak memuaskan bahkan mengecewakannya. pada umur 28 tahun Glasser lulus sebagai dokter. Ia mendapat dukungan dari penyelianya.L. Harrington yang dikemudian hari ternyata banyak mempengaruhi konsep pemikirannya. Glasser kemudian mengikuti pendidikan di Case Western Reverse University dan pada umur 23 tahun ia memperoleh gelar master dalam bidang psikologi-klinis. yang tidak enak. Terapi Realitas William Glaser Dilahirkan pada tahun 1925 dan pada umur yang masih sangat muda. ia menyadari bahwa psikoterapi tradisional. yakni G.Maksud utama teknik latihan asertif adalah: a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. Ketika masih menjalani tugas-tugas praktek di bidang psikiatri untuk mengakhiri pendidikannya sebagai dokter. ii . suatu lembaga yang dikelola oleh State of California. C. tetapi juga terhadap apa yang ia pikir maka terapi realitas bertujuan untuk memberikan kemungkinan dan kesempatan kepada pasien agar ia bisa mengembangkan dengan pendekatan psikoanalisis yang menghindari pembicaraan mengenai sesuatu yang salah. agar tidak menambah konflik internal yang tidak terseleesaikan seperti rasa bersalah (feeling guilty). Dari universitas yang sama. yakni 19 tahun ia lulus sebagai insinyur kimia dari Case Institute of Technology. Terapi realitas bertitik-tolak pada paham bahwa manusia memiliki perilakunya sendiri dan karena itu ia bertanggung jawab. Glasser bertindak sebagai konsultan psikiatri pada Ventura School for Girls. Pada tahun 1956. bukan hanya terhadap apa yang dilakukan.

Menurutnya. 3) Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri  Ciri-Ciri Terapi Realitas 1) Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. yang hadir di seluruh kehidupannya. William Glasser adalah tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. 2) Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. ii . bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1) Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya.

2) Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada. 5) Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . 6) Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan. 3) Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli. sebagai pengalaman yang berharga. ii . 4) Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. diperbaiki.2) Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. 7) Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. dianalisis dan ditafsirkan.  Tujuan Terapi 1) Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri. Tanggung jawab dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya.. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya.

4) Guru. baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya c) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri. ii . 2) Penyalur tanggung jawab. yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya.3) Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. sehingga: a) keputusan terakhir berada di tangan konseli b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya.  Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1) Motivator. yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. 5) Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. 4) Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. 3) Moralist. sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. yang mendorong konseli untuk: b) menerima dan memperoleh keadaan nyata. sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri.

6) Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya 7) Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. ii .  Teknik-Teknik dalam Konseling 1) Menggunakan role playing dengan konseli 2) Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3) Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun. karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. 8) Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. 4) Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. baik berupa limit waktu. artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan.5) Pengikat janji (contractor). ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. 5) Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik.

ii .BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari beberapa penjelasan di atas dapatlah diketahui bahwa di dalam melaksanakan proses bimbingan dan konseling seorang konselor memiliki tanggung jawab yang besar.

ii . memiliki banyak sekali teknik-teknik yang dapat digunakan. Saran Dari kesimpulan di atas penulis memberikan saran kepada para konselor. bisa diganti dengan penggunaan teknik yang lain. Dari pembahasan di atas dapat diketahui bahwa di dalam proses penyelesaian permasalahan yang dialami klien. ataupun seorang guru pembimbing agar dapat menguasai teknik-teknik di dalam proses bimbingan dan konseling karena hal tersebut akan lebih mempermudah di dalam memperoleh informasi dari klien serta di dalam mengajak klien untuk mempercayai apa-apa yang dikatakan oleh konselor. B. sehingga banyak alternatif-alternatif ketika gagal di dalam penggunaan satu teknik.sepertihalnya dipaparkan di bab pembahasan di atas bahwa di dalam untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang di alami oleh klien seorang konselor harus memiliki teknik-teknik yang digunakan mulai sejak awal pertemuan hingga akhir penyelesaianmasalah.

com/2013/03/teori-konseling-realitas. 2011.wordpress.blogspot. Jakarta: Inti Prima. Psikologi Konseling. Erdina. http://nurhalimahzakki.html ii .com/2013/04/29/teknik-teknik-dalam-konseling/ http://fatimahnooor.DAFTAR PUSTAKA Indrawati.

DAFTAR ISI ii .

Terapi Rasionalitas William Glasser BAB III 13 PENUTUP A. Latar Belakang 1 B. Kesimpulan 17 B. Pendekatan Kognitif 3 B. Saran 17 Daftar Pustaka 18 ii . Terapi Rasional-Emotif Albert Ellis 6 C.Kata Pengantar i Daftar Isi ii BAB I PENDAHULUAN A. Rumusan Masalah 1 C. Tujuan 2 BAB II PEMBAHASAN A.

Tugas Psikologi Konseling TUJUAN DAN FUNGSI KONSELOR DALAM PENDEKATAN KOGNITIF ii .

tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.50 – 10. Dalam penyusunan makalah ini. Makalah yang berjudul “TUJUAN DAN FUNGSI KONSELOR DALAM PENDEKATAN KOGNITIF ini membahas tentang apa yang dimaksud dengan pendekatan kognitif dalam proses konseling termasuk juga di dalamnya terdapat terapi rasional-emotif Albert Ellis dan terapi realitas William Glasser.20 (AC6001) FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA 2014 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga tugas mata kuliah Psikologi Konseling ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Namun saya menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan. sehingga kendala-kendala yang saya hadapi dapat teratasi. dorongan dan bimbingan dosen.DISUSUN OLEH: NO. 07. Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada: ii . 1 2 3 4 5 6 7 8 NAMA NIM Ratna Fitriana Nadya Ayu Hapsari Diah Amalia Oktaviani Zahra Mutiah Rianza Ziskie Maharani Puspita Anggraeny Miftahussa’adah Shaviera Indar Dhanty 1124090285 1124090306 1124090310 1124090313 1124090328 1124090331 1124090351 1124090372 Dosen : Ibu Erdina Indrawati Jam Kuliah : Jumat.

Teman–teman yang telah membantu mengatasi masalah yang saya hadapi dalam menyusun makalah ini serta dukungan moril yang telah diberikan kepada penulis. 2. Jakarta. Penulis sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. oleh karena itu saya sangat menerima kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sehingga kedepannya bisa lebih baik lagi. Dosen mata kuliah Psikologi Konseling.1. Ibu Erdina Indrawati yang telah memberikan tugas serta membimbing saya dalam menyelesaikan makalah ini. April 2014 Penulis ii . Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca.