You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Balakang
Dalam

obstetri,

persalinan

presentasi

bokong

tetap

merupakan hal yang menarik, karena mortalitas dan morbiditas
perinatalnya yang masih jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan
presentasi kepala.
Disamping faktor – faktor klasik seperti panggul dan besar –
kecilnya janin, faktor lain yang mempengaruhi hasil persalinan
presentasi bokong seperti jenis presentasi, ada tidaknya prolaps tali
pusat, jenis tindakan dan juga ketrampilan penolong

(1)

.

Di beberapa negara maju, para ahli kebidanan cenderung
untuk melakukan seksio saesaria pada janin dengan presentasi
bokong dari pada persalinan pervaginam, apalagi pada bayi yang
prematur, meskipun ada juga yang berpendapat bahwa keputusan
untuk melakukan seksio saesaria sebaiknya berdasarkan kriteria
atau skor tertentu

(2)

.

Morbiditas dan mortalitas perinatal pada persalinan dengan
presentasi bokong terjadi karena asfiksia, prematuritas dan trauma
intrakranial yang disebabkan oleh karena tindakan dan kesulitan
dalam

persalinan

yang

gejalanya

akan

timbul

pada

waktu

persalinan maupun baru tampak dikemudian hari, sedangkan
Endmund Piper mengemukakan sebagian morbiditas dan mortalitas
perinatal pada presentasi bokong berkaitan dengan 3 faktor : 1.
Jepitan tali pusat 2. Tangan yang menumbung dan 3. After Coming
Head

( 1,3 )

.

1

Sehingga sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan
terhadap kehamilan dan presentasi bokong di RSUD Prof.Dr.
Margono Soekarjo, sudah seharusnya mengetahui tolak ukur
pelayanan yaitu Angka Kematian Perinatall pada kehamilan dengan
presentasi bokong.

B. Tujuan
Tujuan penelitian untuk mengetahui Angka Kematian Perinatal
pada kehamilan dengan presentasi bokong dan faktor – faktor yang
berpengaruh dii RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo Purwokerto dari 1
Januari – 31 Desember 2000.

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 DEFINISI
1. Bayi lahir mati (BLM ) adalah kelahiran bayi dalam keadaan
meninggal yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu atau
lebih atau berat badan lahir 1000 gram atau lebih

(4)

.

2. Kematian neonatal dini ( KND ) adalah kematian bayi yang lahir
hidup dalam 7 hari pertama setelah lahir

(4)

.

3. Masa perinatal adalah masa sejak kehamilan 28 minggu ( sesuai
berat bayi 1000 gram ) hingga hari ke 7 setelah kehamilan

(5)

.

4. Kematian perinatal adalah jumlah bayi lahir mati dengan
kematian neonatal dini

(5)

.

5. Angka kematian perinatal adalah

(5)

Jumlah kematian bayi pada masa perinatal (BLM+KND)
X 1000
Jumlah seluruh kelahiran hidup dan mati
6. Presentasi bokong adalah letak memanjang dengan kelainan
dalam polaritas ( 6 ).
II.2 Epidemiologi
Beberapa

orang

peneliti

melaporkan

angka

kematian

perinatal dengan persalinan presentasi bokong saat ini masih tinggi.
Seperti yang dilakukan oleh Adam Z dan kawan-kawan di RSUP
Dr.Sardjito selama lima tahun bahwa kematian perinatal karena

3

1 faktor Ibu a. umur kehamilan dan komplikasi lainnya. Pada negara-negara maju saat ini Angka Kematian Perinatal pada persalinan presentasi bokong menurun yang dimungkinkan oleh meningkatnya cara persalinan dengan seksio kaesaria (7) .7 % (pada tahun 1991-1995).antara 20 dan 30 tahun ( 10 ) . Angka Kematian 4 . 3 Faktor – faktor resiko kematian perinatal Bayi dalam resiko adalah kelompok bayi baru lahir yang secara statistik kesakitan atau menunjukkan bahkan kecenderungan mempunyai kenaikan kecenderungan angka kearah kematiannya. Penelitian dalam rangka mengidentifikasikan faktor-faktor kematian perinatal oleh karena presentasi bokong telah banyak dilakukan.B di RS Sam Ratulangi melaporkan 4. Usia ibu Dalam reproduksi sehat dikenal usia aman untuk kehamilan dan persalianan .2 ) . umur ibu.( 8 ) II. maka bayi baru lahir dikelompokkan dalam resiko rendah.presentasi bokong adalah 7.6 kali lebih besar bila dilahirkan pervaginam dibandingkan dengan cara persalinan seksio saesaria. resiko sedang atrau resiko tinggi (9) . Angka Kematian Perinatal yang masih tinggi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu cara persalinan. Tergantung tinggii rendahnya faktor resiko. paritas . Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kematian perinatal antara lain : II. Kiely dari hasill penelitiannya mengemukakan presentasi bokong dengan berat badan lahir diatas 3000 gram mempunyai risiko kematian perinatal 5.1.03 % ( 1. Sedangkan Rattu R.

5 . dan kenaikan kejadian BBLR 6 kali lebih besar. ( 9 ) . bahkan menimbulkan kematian.2 % kelahiran hidup ( 7 ) . Ibu-ibu yang melahirkan dengan usia yang muda (<20 tahun).Perinatal yang paling rendah terjadi pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang berusia 20-30 tahun ( 11 ) . walaupun bayi tidak mengalami IUGR (Intra uterine Growth Retardation). kondisi fisik ibu yang berusia lebih dari 30 tahun umumnya telah terjadi proses penuaan pada jaringan alat reproduksi dan jalan lahir yang cenderung berakibat buruk pada proses kehamilan dan persalinan akan mempengaruhi stasus kesehatan bayi yang dilahirkan ( 12 ) . di RSUP palembang periode tahun 1989 – 1991 dengan hasil AKP pada ibu-ibu melahirkan yang berusia  35 tahun sebesar 115. Selain itu ditemukan juga pada ibu-ibu yang melahirkan dengan usia < 20 tahun atau  30 tahun angka kematian perinatalnya tinggi Hal ini dibuktikan oleh penelitian Hasani dkk. Sebaliknya. Wanita yang hamil pada usia terlalu muda (di bawah 20 tahun) atau terlalu tua (di atas 30 tahun) lebih kelahiran.5 % ( 13 ) . Hal ini disebabkan wanita yang masih muda (<20 tahun) mempunyai kondisi fisik yang belum cukup matang untuk melahirkan. Data ini juga didukung oleh penelitan yang serupa oleh Megadhana dan Suharsono (1997) di RSUP Karjadi periode 1991-1995 dengan hasil AKP dari ibu yang melahirkan dengan usia < 19 tahun sebesar 45. mudah Komplikasi mendapat ini komplikasi dapat kehamilan menimbulkan dan gangguan kesehatan ibu dan anaknya. oleh Lawrence dan Maritt ditemukan tingginya kejadian kelahiran kurang bulan.5 % sedangkan pada ibu yang melahirkan dengan usia  35 tahun sebesar 56.

3 % dan 59. Paritas wanita dengan paritas pertama dan wanita yang memiliki banyak anak mempunyai risiko sakit dan kematian yang lebih tinggi. Hubungan kematian anak dan urutan kelahiran sebagian dapat diterangkan melalui BBLR. Hasani dkk ( 1992 ) mendapatkan hasil bahwa meningkat pada paritas II – III merupakan kelompok paritas dengan AKP terendah ( 56. sedangkan kelompok pritas I. sedangkan resiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana ( 10 ). Mulai kelahiran ke 4 proporsi BBLR akan ( 12 ) .64% ). Lamanya kehamilan dari ovulasi sampai partus kira-kira 280 hari 6 . c. inertia uteri dan perdarahan postpartum. Angka lahir matI meningkat dengan meningkatnya urutan kelahiran terutama setelah kelahiran kedua dan ketiga dengan jarak kelahiran kurang 2 tahun.5 %. IV-V sedikit meningkat yaitu masing-masing sebesar 68. Pada primigravida didapatkan kekakuan jaringan panggul yang kemungkinan besar akan menimbulkan masalah dalam proses persalinan. Resiko pada paritas I dapat ditangani dengan asuhan obstetri yang lebih baik pada primigravida.b. Umur kehamilan Umur kehamilan dihitung mulai hari pertama menstruasi terakhir dari menstruasi yang teratur. Menentukan umur kehamilan sangat penting untuk memperkirakan persalinan ( 14 ) .2 % dan pada kelompok paritas  VI kali AKP sangat meningkat menjadi 107. Pada multii gravida dengan jumlah anak  5 terjadi kemunduran elastisitas jaringan sehingga sering terjadi kasus kelainan letak pertumbhan plasenta.

Bayi posterm yang berhubungan dengan disfungsi plasenta memperlihatkan tanda berbagai tanda fisik. tetapi pada beberapa bayi posterm penampilan dan tingkah laku mereka seperti bayi yang telah berusisa 1 – 3 minggu.2. Makin pendek masa kehamilan makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya. relatif belum sanggup membentuk antibodi dan fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik. Bila kehamilan lebih dari  43 minggu disebut kehamilan postmatur atau posterm.2 Faktor Bayi Keadaan bayi sangat tergantung pada pertumbuhan janin didalam uterus. dan akibat mudahnya terjadi komplikasi dan makin tinggi angka kematiannya ( 10 ) . II. Umur kehamilan mempengaruhi bayi yang akan dilahirkan. Tanda fisik ini merupkan petunjuk telah terjadi asfiksi sebelum persalinan dan kelahiran ( 11 ) . Sebagai contoh bayi prematur mudah sekali terserang infeksi. Berbeda dengan bayi posterm. antara lain desquamasi kulit. kualitas pengawasan antenatal. ia mengalami kesulitan hidup diluar uterus ibunya. Kehamilan 38 . dan tidak lebih dari 300 hari ( 43 minggu ).42 minggu disebut kehamilan matur atau aterm ( cukup bulan ). Kehamilan antara  37 minggu disebut kehamilan prematur atau preterm. bayi ini secara klinis tidak dapat dibedakan dengan bayi aterm.( 40 minggu ). penyakit- 7 . kuku panjang. rambut yang lebat. Oleh sebab itu. tidak ada lanugo dan kewaspadaan yang meningkat. Inii disebabkan daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang. kulit yang berwarna putih.

penyakit ibu waktu hamil. Didapat hasill penelitian AKP yang tertinggi di RS Karjadi periode 1991 –1995 oleh Megadhana dan Suharsono ( 1997 ) pada bayi lahir dengan berat badan 1000-1499 gram sebesar 293. solusio plasenta atau rangsangan yang menimbulkan kontraksi uterus sebelum aterm (13 ) . Hasill kematian berdasarkan Manvalangkar dkk ( 1991 ) menunjukkan resiko kematian perinatal pada bayi BBLR dan lahir tidak cukup bulan adalah 21 kalinya bayi yang tidak BBLR dan lahir cukup bulan ( 15 ) . hematom subdural dan ekhimosis pada kepala dan wajah ( 11 ) . setelah itu AKP akan meningkat kembali bayi yang sangat besar tanpa mengindahkan usia kehamilan. Bayi dengan berat lahir rendah ( BBLR) dan bayi yang lahir tidak cukup bulan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada kematian perinatal.4 PRESENTASI BOKONG 8 . Kelahiran prematur ini berhubungan dengan ketidakmampuan uterus mempertahankan janin. II. Bayi lahir rendah dapat disebabkan oleh bayi preterm dan pertumbuhan janin yang terlambat. Keterlambatan pertumbuhan intrauterin berhubuingan dengan gangguan sirkulasi plasenta.5% dan AKP yang terendah pada bayi dengan berat badan 3000-3499 gram sebesar 21. Bayi yang mempunyai berat badan < 2500 gram ( Bayi dengan berat badan lahir rendah ) pada waktu lahir dianggap mempunyai periode kehamilan yang memendek. antara lain cedera pleksus servikalis dan pleksus brakhialis. gangguan selama kehamilan.9 %. mempunyai insidensi cedera lahir yang lebih besar. penanganan persalinan dan perawatan sesudah lahir ( 10 ) . AKP akan menurun sejalan denagn meningkatnya berat badan lahir bayi sampai sekitar 4000 gram.

Presentasi bokong dalam persalinan terdapat pada 3 sampai 4 persen kehamilan dan insidensinya berkurang mendekati cukup bulan lalu akan bertambah pada persalinan prematur. Pada presentasi bokong ditentukan oleh sakrum sebagai “ point of direction “ yang terdapat 4 posisi : 1. manipulasi persalinan yang salah 4. asfiksia ( kompresi tali pusat. Sakrum kiri belakang 4. trauma kepala dan thoraks 3.10) meliputi prematuritas. Cara bracht : partus spontan dengan tenaga ibu 2. Ektraksi total : partus dengan total pertolongan dari orang lain b. Kelahiran per vaginam 1. kelainan kongenital. tali pusat menumbung ) 2. Etiologi terjadinya presentasi bokong (6. Kelahiran secara operatif Sectio caesaria Sebab – sebab kematian atau perlukaan bayi : 1. ukuran bayi yang besar 5. “ Gasping “. 9 . disproporsi chepalopelvik dan hydrochepalus. Sakrum kanan belakang Cara persalinan pada presentasi bokong dibagi 2 yaitu : a. Sakrum kiri depan 2. Manual aid : partus dengan pertolongan orang lain dan tenaga ibu 3. placenta previa. gemelli. Sakrum kanan depan 3.

10 .

Kematian perinatal adalah jumlah lahir mati dan kematian neonatal dini dibagi jumlah seluruh kelahiran dengan presentasi bokong dikalikan 1000. Kehamilan letak memanjang dengan presentasi bokong adalah janin yang letaknya memanjang ( membujur ) dalam rahim. 3. Arsip registrasi kematian bayi dibagian perinatologi di bangsal Melatii selama periode tersebut III. Kematian neonatal dini adalah kematian bayi yang lahir hidup dalam 7 hari pertama setelah lahir .2 BATASAN 1. 4. Rekam Medis rawat inap pasien bersalin selama periode tersebut. 2. Buku catatan persalinan di kamar bersalin selama periode tersebut.1 BAHAN DAN CARA KERJA Penelitian dilakukan secara retrospektif deskriptif periode 1 januari – 31 desember 2000 di RS Margono Sokarjo Purwokerto . Bahan penelitian diambill dari : 1. 2. 11 . kepala berada di fundus dan bokong dibawah. Bayi lahir mati adalah kelahiran bayi dalam keadaan meninggal yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu atau lebih atau berat badan lahir 1000 gram atau lebih.BAB III METODOLOGI PENELITIAN III. 3.

umur kehamilan. Pengambilan data hanya pada status yang terdiagnosa presentasi bokong. asal daerah. dan rujukan. BAB IV 12 . 7. kematian neonatal dini dengan nilai Apgar score. faktor – faktor yang berpengaruh terhadap kematian perinatal yang diteliti pada penelitian adalah cara persalinan. paritas. Angka kematian perinatal karena letak sungsang dengan pesentasi bokong adalah Jumlah kematian pada masa perinatal ( BLM + KND ) karena presbo x 1000 Jumlah seluruh kelahiran hidup dan mati 6. umur ibu.5. berat badan lahir.

10 % er r Desembe r jumlah Pada tabel I. Margono Soekarjo purwokerto tahun masih tinggi ( 10.04 % ).10 % ) jika dibandingkan dengan angka kematian perinatal berdasarkan 13 .28 % - - 1 14.14 % Novembe 15 1 6. I Jumlah persalinan BULAN Kematian perinatal Tunggal dengan presentasi bokong Lahir mati KND N % N % Jumlah % Januari 6 1 16.66 % februari 8 - - - - - - Maret 8 1 12.28 % Septemb 10 1 10 % - - 1 10 % Oktober 14 - - 1 7. Angka kemtian perinatal berdasarkan presentasi bokong di RS.5 % 1 12. Jumlah bayi lahir mati lebih besar daripada jumlah kematian neonatal dini.5 % 2 25 % April 7 1 14.HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel. Keseluruhan bayi lahir mati sebesar 6 ( 6. didapatkan hasil selama periode 1 januari sampai dengan 31 desember 2000 terdapat 99 persalinan tunggal dengan angka kematian perinatal berdasarkan presentasi bokong yaitu sebesar 10.66 % 1 16.06 % ) dan kematian neonatal dini sebesar 4 ( 4.66 % 1 6.66 % - - 1 16.06 % 4 4.66 % 2 13.33 % 9 - - - - - - 99 6 6.04 % 10 10.28 % Mei 10 - - - - - - Juni 9 - - - - - - Juli 6 - - 1 16.10 %.28 % - - 1 14.66 % Agustus 7 1 14.14 % 1 7.

Sedangkan angka kematian perinatal berdasarkan presentasi bokong dengan cara persalinan manual aid menduduki angka kematian tertinggi dibandingkan cara persalinan lainnya. Cara manual aid sekitar 3 ( 15 % ) lahir mati dan 2 ( 10 % ) untuk kematian neonatal dini keseluruhan prosentase nya 25 %.66 % ) lahir mati dan 1 ( 6.Sardjito selama 5 tahun ( 1991 – 1995 ) yaitu 7.Dr. Jika dibandingkan dengan RS Dr Sardjito.52 % ) bayi lahir mati dan 1 Cara ( 4.06 % 4 4.66 % 2 13.5 %.76 % ) kematian neonatal dini.33 %.04 % 10 10.66 % 1 6.28 % 15 % 2 10 % 5 25 % 1 6. bracht sekitar 2 ( 9. Hal ini disebabkan terjadinya asfiksia yang 14 .10 % N % N % 43 0 0 0 Bracht 20 2 9.7 %.33 % 6 6. II berdasarkan cara persalinan Jumlah persalinan Cara Tunggal dengan persalinan presentasi Kematian perinatal Lahir mati KND Jumlah % 0 0 0 1 4. Tabel. manual aid juga mempunyai angka kematian perinatal berdasarkan presentasi bokong dilihat cara persalinannya yaitu sekitar 61.presentasi bokong di RS. Sedangkan untuk ekstraksi kaki 1 ( 6.76 % 3 14.8% dan cara bracht 38.52 % Manual aid 21 3 Ekstraksi 15 99 bokong Seksio saesaria kaki Jumlah Pada tabel II terdapat 43 persalinan dengan sectio caesaria didapatkan hasil yaitu tidak ada bayi lahir mati maupun kematian neonatal dini.66 % ) kematian neonatal dini dengan prosentase 13.

kompresi tali pusat yang terlalu lama. Yang terendah berat badan lahir 2000. III berdasarkan berat badan lahir badan Kematian perinatal Jumlah persalinan Berat Tunggal dengan Lahir mati KND Jumlah % 20 % 1 20 % - - - - 4.disebabkan aspirasi air ketuban karena pernafasan aktif sebelum kepala lahir.01 % 99 6 6.16 % - - 1 4.01 %.16 % 2 5.06 % 4 4. trauma pada kepala dan cara persalinan yang salah. Yang tertinggi adalah berat badan lahir 1000 – 1499 sebaesar 20 % pada kematian neonatal dini.04 % 10 10.2499 sekitar 4. Sebab utama kematian perinatal pada bayi dengan lahir rendah adalah Respiratory Distress Syndrome. Sedangkan bayi lahir mati yang tertinggi adalah dengan berat badan lahir  3000 yaitu 15.8 % 26 3 11.16 % bayi lahir mati. sedangkan untuk yang terajdinya  3000 gram kemungkinan karena janin yang besar maka angka kejadian terjadinya trauma atau kompresi tali pusat akan semakin besar sehingga sebaiknya untuk janin yang besar dilakukan sectio 15 . Dr Sardjito yang tertinggi adalah dengan berat badan lahir  3000 gram yaitu 20 %.4 % 4 10.448 % 4 15.53 % 1 3. Tabel.10 % presentasi bokong N % N % 1000-1499 5 - - 1 1500-1999 7 - - 2000-2499 24 1 2500-3000 37  3000 Jumlah Angka kematian perinatal berdasarkan presentasi bokong pada tabel III. Perbandingan dengan penelitian yang dilakukan di RS.4 % 2 5.

caesaria dengan sebelumnya memakai indeks skor presentasi bokong Zatuchni-Andros. 16 .

24 % Tunggal dengan presentas i bokong 0 49 % I-II 25 2 8% 1 4% 3 12 % III-IV 22 - - 1 4.24 % ) : 4 ( 8.Tabel IV berdasarkan paritas Paritas Jumlah Kematian perinatal persalina Lahir mati n N % N % 4 8.08 ) kematian neonatal dini. dalam penelitian tidak diketemukan. Untuk paritas 0 adalah 17.10 % V Jumlah % Pada tabel IV diatas didapatkan hasil bahwa angka kematian perinatall berdasarkan presentasi bokong dilihat dari paritasnya adalah 0 dalam artian disini bahwa penderita baru pertama kali hamil ( 12. Sedangkan yang terendah adalah jumlah paritas lebih dari lima kali yaitu 0 %.67 % dari 6 kasus dengan jumlah kematian 4 bayi. Pada subvariabel paritas yaitu lebih dari lima kali.04 % 10 10. Sedangkan untuk paritas  5 kali tidak didapatkan angka 17 .16 % ) bayi lahir mati dan 2 ( 4.39 % dengan jumlah kasus 69 ( 12 kematian bayi ). Kematian tertinggi pada paritas 0 ini disebabkan oleh karena adanya kekakuan jaringan panggul pada bagian panggul lunak sehingga dalam proses persalinan akan timbul masalah. Sedangkan jika dibandingkan dengan penelitian di RS Dr Sardjito prosentase yang tertinggi adalah paritas lebih dari lima kali dengan prosentase 66.5 % 1 4.08 % 6 12.16 2 KND Jumlah % 4.5 % 3 - - - - - - 99 6 6.06 4 4.

Yang terendah adalah umur ibu 30-34 tahun 1 kasus ( 5. Tabel VI berdasarkan rujukan Rujukan Jumlah persalina n Lahir mati N % Kematian perinatal KND Jumlah N % % 18 . Pada wanita muda angka kematian tinggi ini disebabkan kondisi fisik yang belum cukup matang untuk melahirkan.25 % ) bayi lahir mati dan 3 kasus ( 9. inersia uteri dan perdarahan post partum sehingga akan meningkat angka kematian perinatalnya.4 % 5.25 % 7.1 % 5.375 % ) kematian neonatal dini.kemtian bayi tetapi berdasarkan literatur menurut utomo (1987) pada multigravida dengan jumlah anak  5 terjadi kemunduran elastisitas jaringan sehingga terjadi kasus kelainan letak plasenta.10 % Berdasarkan tabel diatas maka diketemukan umur ibu yang tertinggi yang menyebabkan angka kematian perinatal berdasarkan presentasi bokong adalah 20-24 tahun yaitu 2 kasus (6.625 % 11. Dan juga pada ibu  30 tahun karena telah terjadi proses penuaan pada jaringan alat reproduksi dan akan cenderung berakibat buruk pada proses kehamilan dan persalinan.26 % 6.26 % ).375 % 3.06 % 3 1 4 9.7 % 4. Tabel V berdasarkan umur ibu Umur ibu < 19 20-24 25-29 30-34  35 Jumlah Jumlah persalina n Tunggal dengan presentas i bokong 10 32 27 19 11 99 Lahir mati N % Kematian perinatal KND Jumlah N % 1 10 % - - 1 2 2 1 6 6.26 % 10.04 % 5 3 1 10 % 10 % 15.

04 % 10 10.5 % 3.75 %.06 % 4 4.545 % 4.32 % 14.2 %.09 % 6. Sebenarnya jika pada masa ante natal care dapat dipantau perkembangan janin dan ibunya maka proses kehamilan dan persalinan diharapkan akan berjalan dengan baik.6 % 2 1 4.64 % 28.06 % 1 4 Lahir mati N % Kematian perinatal KND Jumlah N % % - 2 2 2 1 - 4.10 % Pada tabel diatas didapatkan angka kematian perinatal berdasarkan presentasi bokong yang tertinggi jika dilihat dari variabel rujukan adalah dari bidan dengan prosentase 12.7 % 47 28 4 1 8.28 % 20 % 22 99 2 6 9.10 % 19 .Dokter spesialis Dokter umum Bidan Datang sendiri Jumlah Tunggal dengan presentas i bokong 1 - - - - - 23 1 4.32 % 14.25 % 3.56 % 40 % 10 % - 4.28 % 20 % 10 % - 1 1 1 - 2.635 % 10. Tabel VII.40 % 3 10 13. sedangkan yang terendah adalah dari rujukan dokter spesialis 0 %.6 % 6 2 12. Kurang ahlinya tenaga medis dalam menangani penderita dengan presentasi bokong ini kemungkinan menjadi penyebab utama kematian perinatal.75 % 7. Berdasarkan alamat penderita Alamat penderita Purwokerto Purbalingga Banyumas Bumianyu Banjarnegar a Dan lain-lain Jumlah Jumlah persalina n Tunggal dengan presernta si bokong 43 7 5 10 12 1 1 1 1 - 2.35 % 2 8. Dari dokter umum adalah 8.35 % 1 4.2 % 99 6 6.7 % dan datang sendiri adalah 7.

10 % Angka kematian perinatal berdasarkan presentasi bokong dengan variabel umur kehamilan dihasilkan yang tertinggi yaitu umur kehamilan preterm dengan 4 kasus lahir mati ( 19.04 % 5 10 9.32 % 5 19.37 % ). Tabel VIII. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pada prematur bayi belum viable untuk hidup diluar rahim.32 % ) bayi lahir mati dan 1 kasus ( 2.05 % ) dan 1 kasus kematian neonatal dini ( 2.43 % 10.05 % 3.37 % 3 4 5.06 % % 1 2. Yang terendah adalah dari purwokerto yaitu 43 kasus dengan 1 kasus ( 2. Kemungkinan banyaknya kasus disebabkan variabel pengambilan berasal dari purwokerto dengan fasilitas pertolongan persalinan sudah memadai.32 % ) kematian neonatal dini. terjadi respiratory distress syndrome sedangkan untuk posterm pengambilan tindakan terminasi dengan sectio caesaria yang 20 .66 % $.77 % 6.32 % ) dengan keseluruhan prosentase ( 19. Berdasarkan umur kehamilan Umur kehamila n Preterm Jumlah persalina n Tunggal dengan presentas i bokong 21 4 Aterm Posterm Jumlah 53 25 99 2 6 Kematian perinatal KND Jumlah N % Lahir mati N % 19. Yang terendah adalah umur kehamilan posterm yaitu 0 %.Berdasarkan daerah penderita berasal maka angka kematian perinatal berdasarkan presentasi bokong yang tertinggi adalah dari banyumas 5 kasus dengan jumlah kematian bayi lahir mati1 kasus ( 20 % ) dan 1 kasus untuk kematian neonatal dini 1 kasus ( 20 % ).

8 % ) 11 ( 61.1% ) 18 ( 100 % ) 18 ( 100 % ) KND dengan jumlah 4 bayi 1 menit 5 menit 10 menit 4 ( 100 % ) 2 ( 50 % ) 2 ( 50 % ) 4 ( 100 % ) menggambarkan Angka Kematian Perinatal berdasarkan presentasi bokong dengan variabel APGAR SCORE : dilihat dari persentase kematian neonatal dini APGAR SCORE 1 21 .86 % ) 55 ( 77.46 % ) 64 ( 90. Berdasarkan APGAR SCORE Apgar score Kematian neonatal dini Asfiksia berat 0-3 Asfiksia ringan 4-6 Normal 710 Apgar score Asfiksia berat 0-3 Asfiksia ringan 4-6 Normal 710 Apgar score Asfiksia berat 0-3 Asfiksia ringan 4-6 Normal 10 7- Apgar score Asfiksia berat 0-3 Asfiksia ringan 4-6 Normal 710 Tabel diatas Jumlah bayi Lahir meninggal 6 Lahir hidup 4 18 71 Jumlah lahir hidup dengan apgar score normal 1 menit 5 menit 10 menit 16 ( 22.35 % ) 7 ( 9.1 81 ( 100 % %) ) Jumlah lahir hidup dengan apgar score asfiksia ringan 1 menit 5 menit 10 menit 7 ( 38.secara insidensi mempunyai angka kematian perinatal dengan prosentase yang kecil Tabel VIII.

1 % ) dan 10 menit ketiga 71 ( 100 % ). Sedangkan untuk bayi dengan persalinan yang benar dan janin aterm maka dihasilkan bayi lahir hidup dengan APGAR SCORE normal atau minimal asfiksia ringan. 22 . 10 menit ketiga ( 100 % ) asfiksia ringan.859 % ) .menit pertama ( 100 % ). 5 menit kedua ( 50 % ) dengan asfiksia berat dan ( 50 % ) asfiksia ringan.46 % ) dan 5 menit kedua asfiksia ringan 7 ( 9. 5 menit kedua asfiksia ringan 100 % dan 10 menit ketiga 100 %.35 % ) dan normal 55 ( 77.1 % ). Bayi yang lahir meninggal setelah lahir atau kematian neonatal dini disebabkan oleh terjadinya asfiksia berat pada menit pertama kelahirannya. Sedangkan bayi lahir normal 1 menit pertama asfiksia ringan 16 ( 22. Faktor – faktor yang mempengaruhi terjadi asfiksia berat berdasarkan penelitian ini kemungkinan berhubungan dengan : - janin yang besar dan bayi lahir prematur - terjadinya trauma pada janin sebagai akibat dari manipulasi persalinan yang salah - terjadinya kompresi tali pusat - keterlambatan pengeluaran kepala bayi sehinga terjadinya aspirasi air ketuban ( gasping ) karena terjadi pernafasan aktif sebelum kepala bayi lahir.8 % ) dan Asfiksia ringan 11 ( 61. pada bayi lahir dengan asfiksia ringan APGAR SCORE 1 menit pertama mempunyai persentase denagn asfiksia berat 7 ( 38. Bayi yang lahir hidup ada sekitar 89 bayi lahir dengan asfiksi ringan 18 bayi dan bayi normal 71. normal 64 ( 90.

23 .

7 %. Faktor – faktor yang berpengaruh pada kematian perinatal ini meliputi cara persalinan ( manual aid ).43 %.10 % ( bayi lahir mati : 6.06 % dan kematian neonatal dini : 4. dan APGAR SCORE ( asfiksia berat ). angka paritas ( 0 ). umur ibu 20 – 24 tahun atau kurang dari 20 tahun.Dr Sardjito pada periode tahun 1991 – 1995 yang sudah mencapai 7. Berat badan lahir ( 1000 – 1499 dan  3000 gram ). umur kehamilan ( preterm ). Margono Soekarjo Purwokerto sekitar 10.04 % ) dan ini masih tinggi jika dibandingkan dengan Angka Kematian Perinatal dii RS. prenatal dan postnatal termasuk disini perinatal. Agar dapat mengetahui secara akurat Angka Kematian Perinatal berdasarkan presentasi bokong maka pengisian rekam medis bagi tenaga medis diharapkan dapat mengisi secara benar berdasarkan teori klinis dan diagnostik yang sesuai dengan literatur.BAB III KESIMPULAN Angka kematian Perinatal berdasarkan persalinan dengan presentasi bokong pada tahun 2000 di RS Prof Dr. Angka kematian Perinatal berdasarkan angka kematian perinatal seluruhnya adalah 5. Dr Margono Soekarjo Purwokerto dapat ditekan dengan cara peningkatan pelayanan Antenatal. Setelah mengetahui faktor – faktor tersebut maka diharapkan AKP berdasarkan persalinan presentasi bokong di RS Prof. 24 .

25 .

Adakah penelitian sebelumnya yang sama seperti penelitian ini sehingga dapat dijadikan sebagai pembanding ? 4. Pada tabel III tertuliskan variabel berdasarkan berat badan lahir. Apakah Ini termasuk dalam berat badan lahir post partum atau taksiran berat janin ? 2. Lalu digabungkan dengan Zatuchni-andros scoring index.PERTANYAAN ! 1. Apakahhal ini secara anatomis atau alasan lain ? 3. Tetapi sebenarnya untuk menentukan apakah bayi bisa dilahirkan pervaginam atau perabdominal dan juga untuk menghindari kematian bayi maka diharuskan memakai taksiran berat janin. berat badan diambil berdasarkan berat badan lahir. Di dalam pembahasan pada tabel V dikatakan terjadi penuaan jaringan alat reproduksi. Sedangkan pada penelitian ini dimana bayi lahir mati yang terbanyak adalah  3000 gram hal ini kemungkinan disebabkan 26 . Hal ini disebabkan untuk membuktikan teori yang mengatakan bahwa pada bayi yang mempunyai berat lahir  3000 gram akan semakin meningkatkan angka kematian bayi 5. Atas dasar apakah penentuan alamat penderita di dalam penelitian ini ? 6. Kenapa pada penelitian disini seksio saesaria mendapatkan angka kematian yang terendah ? 1.6 kali dibandingkan berat badan lahir dibawahnya. Pada penelitian ini. Apakah penyebab kematian neonatal dini dalam penelitian ini ? 5.

Sedangkan berdasarkan prosedur tetap RS Prof . Pada penelitian ini tidak ada dasar bagi peneliti untuk menetapkan daerah atau alamat dari penderita. 3. Sebenarnya hal ini telah sesuai dengan apa yang dilakukan pada negara maju berdasarkan peneltiiannya bahwa 27 . Belum ada penelitian sebelumnya tentang AKP bedasarkan Presentasi Bokong di RS Prof. Pada penelitian ini seksio saesaria berada pada angka kematian perinatal yang terendah. Indikasi ibu kemungkinan terjadi CPD atau plasenta previa atau juga karena keinginan ibu untuk dilakukan operasi. Dr Margono Soekarjo. 5. bayi yang lahir prematur yang mana bayi belum viable hidup diluar rahim dan terjadinya asfiksia pada bayi.Sardjito yogyakarta dengan periode yang berbeda 4.alamat ini didasarkan pada daerah sekitar daerah peneltian dan daerah yang banyak masuk ke RS Prof. Keputusan untuk menentukan alamat.Dr Margono Soekarjo sehingga peneliti mengambil pembanding di RS Dr. 2.oleh persalinan yang salah sehingga terjadi after coming head atau asfiksia berat. 6. Dan kemudian diklasifikasikan. Seperti diketahui jika akan melakukan seksio saesaria maka harus ada indikasi. kemungkinan pada bayi – bayi yang dilakukan SC mempunyai berat 3000 gram atau bayi besar. Kematian neonatal dini disebabkan oleh proses persalinan yang salah.Dr Margono Soekarjo pada bayi dengan taksiran berat jani  3000 gram dan letak memanjang dengan presentasi bokong maka diianjurkan untuk SC. Kelainan pada usia ibu > 30 tahun didapatkan kelainan hormonal akibat penurunan kadar hormon estrogen hal ini disebabkan akan terjadinya kehilangan fungsi generatif dari ovarium.

28 .bayi dengan berat badan lahir 3000 gram dan letak memanjang dengan presentasi bokong maka diharuskan SC sehingga menurunkan angka kematian perinatal berdasarkan presentasi bokong.

Ilmu Kebidanan. Azhari dan Haris. 4. hal 7-10.ed. Meningkatkan Pelayanan Obstetri Dalam Upaya Menurunkan Angka Kematian Maternal Dan Perinatal Di Indonesia. Hasani. Wiknjosastro.. 2.FK. Kumpulan Makalah KOPADI VIII.B. Hakimi. Kematian Perinatal Di RS Sardjito Tahun 1991-1995 Analisis Faktor Resiko Pada Majalah Obstetri. hal 195 – 231. 9. 1998 Jakarta. vol 21 No. Kematian Perinatal Pada Presentasi Bokong Di Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito Selama Tiga Tahun Pada Naskah Lengkap Makalah Ilmiah Kongres Obstetri Dan Ginekologi Indonesia VI.UKI . Gultom. Presentasi Bokong Dan Kematian Perinatal. EGC. 1990 hal 16. Angka Kematian Perinatal Di RSUP Palembang Tahun 1989-1991.IV. 1998. Maridin F. Mochtar.DAFTAR PUSTAKA 1. Kadri. 2. Yogyakarta.3. hal 1-3. 1985 hal 131-137.Z. Soefowan S. Amran R. 8. N. 3. Oxorn H.. hal 554-557. Ratu R. vol 22 No 4. . januari 1997. XVI(37):1-10 6. Obstetri Operatif . Adam. Keadaan Bayi Yang Lahir Dari Persalinan Ibu Yang Tidak Sehat.AK. Ked.1. Ujungpandang. Siswosudarmo R. Sinopsis Obstetri: Sosial. 29 . 1976.B. H. Pada Naskah Lengkap Kongres Obstetri Dan Ginekologi Indonesia Ketiga. Lab/UPF Obsgin FK Univ. Pengaruh Berat Lahir Terhadap Morbiditas Dan Mortalitas Perianatal Pada Primigravid Dengan Presentasi Bokong Dan Persalinan Pervaginam Pada Majalah Obstetri. hal 158 – 162. Maj. yayasan essentia medica 1990.S.R. ed. 10. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.M. Presentasi Bokong Pada Ilmu Kebidanan Patologi Dan Fisiologi Persalinan. 7. 1998. Sriwijaya/RSUP Palembang.Obstetri 5. Soefowan. M. 1994 Jakarta. N syamsuri .

Kematian Perinatal Di RSUP Dr. 30 . januari 1997.A. R.12. EGC. V.Budiarsono.Jakarta 15.C. Ilmu Kesehatan . 14. Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Behrman. vol 21 No. Keluarga Dan Kelangsungan Hidup Anak . 1998.17. I. B. R sarimawar dan Ismiari. dan Vauhhan. hal 11. Jakarta.E. hal. Distribusi Kematian Perinatal Pada Kasus Persalinan Di Rumah Dan Fasilitas Kesehatan. 1997.B. hal 24-30.2(1) 1998. 12. . EGC 1998.11. Meghadana.G.9-15. Jurnal Epidemiologi Indonesia. Lubis. Khusus Reproduksi Manusia. Manuaba. 13.Medika ed. Ilmukesehatan Anak 1 ed. Utomo.Kariadi Pada Majalah Obstetri.1.