You are on page 1of 19

PRESENTASI KASUS

GANGGUAN SKIZOAFEKTIF TIPE MANIK
(F25.0)
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Jiwa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh :
Rahmi Faridah Azzahro
20100310132
Diajukan Kepada :
dr. Budi Kristianto, Sp.KJ

RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA YOGYAKARTA
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Presentasi Kasus Gangguan Skizoafektif Tipe Manik Oleh : Rahmi Faridah Azzahro 20100310132 Disetujui oleh. Dosen Pembimbing Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Jiwa Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta dr.KJ 2 . Sp. Budi Kristianto.

IDENTITAS PASIEN         Nama Umur Jenis Kelamin Status Pendidikan Agama Suku Bangsa Pekerjaan : Ny. Pasien juga mengaku merasa sedih sampai menangis karena punya banyak rumah warisan tapi ditempati oleh kakak.kakaknya. Pasien juga mengatakan memiliki banyak rumah besar akan tetapi rumah-rumah tersebut ditempati oleh orang lain. AUTOANAMNESIS Keluhan utama : keluyuran Pasien datang ke RSJ grhasia diantar oleh kakak nya dengan keluhan pasien keluyuruan. Pasien mengaku rajin sholat kecuali pada saat menstruasi. Uang tersebut akan dikasihkan kepada anak-anak nya untuk warisan. tidak ada yang tahu kecuali dirinya. hadiah dari ciki dan disimpan. berjalan muter-muter. Pasien mengaku merasa senang kalau nilai anak-anaknya bagus. T : 40 tahun : Perempuan : Sudah menikah : D1 : Islam : Jawa : Tidak kerja B.BAB I LAPORAN KASUS A. Pasien mengatakan sebenarnya tidak begitu suka bicara kecuali sedang sebel dengan orang lain. pasien akan mengomel. Pasien juga merasa kesal pada mertuanya karena sering meminta uang dan menghabiskan uang pasien. Pasien mengatakan memiliki uang 500 juta. Pada saat anamnesis pasien mengatakan bahwa dirinya sehat dan tidak merasa sakit. 3 . Pasien mengatakan sering bahwa dirinya pusing memikirkan uang yang begitu banyak. Pasien suka menyambut anak-anaknya saat pulang dari sekolah.

riwayat penggunaan alkohol (-). Pasien tiba-tiba bernyanyi-nyanyi sendiri pada saat anamnesis berlangsung.Pasien menyangkal adanya yang mendengar suara atau melihat sesuatu pada saat sedirian. Pasien juga menyangkal adanya pikiran yang menyuruh dirinya untuk melakukan sesuatu. riwayat minum-minuman keras (+). Pasien susah minum obat karena merasa tidak sakit. terakhir adalah enam bulan yang lalu. Riwayat merokok (-). C. Riwayat Penyakit Dahulu: Dari autoanamnesis dengan perawat pasien sudah sering mondok di RSJ Grhasia.5 0 C D. Riwayat merokok (+). PEMERIKSAAN FISIK Vital Sign:     Tekanan darah: 110/70 Respirasi : 20 x/menit Nadi : 96x/menit Suhu : 36. Riwayat kejang (+) pada saat umur 2 tahun. obat-obatan (+) pil koplo. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada penyakit yang sama di keluarga Riwayat Kehidupan spiritual : Pasien pemeluk agama islam dan mengaku rajin sholat. Riwayat Perkawinan Pasien pernah menikah dan sudah berpisah dengan suami. Riwayat Personal Sosial : Pasien merupakan anak terakhir dari 5 bersaudara. Pasien mengatakan setengah aja gila aja tidak. PEMERIKSAAN PSIKIATRI 4 . Riwayat Pekerjaan: Pasien mengatakan pernah kerja di pabrik sepatu di Tangerang bersama suaminya dulu. pasien mengatakan tiga orang anak.

Kontak mata dengan pemeriksa hanya kadang-kadang. memakai kerudung berwarna biru kotak-kotak. Orientasi     : Waktu Tempat Orang Situasi : Baik : Baik : Baik : Baik Sikap/tingkah laku : Kooperatif/Normoaktif Roman Muka : Hipermimik Mood dan Afek : Hipertimia Afek meningkat dan keserasian inappropiate Bentuk Pikir : Non Realistik Isi Pikir : Waham kebesaran Progresi Pikir : Kuantitas: banyak bicara (logorrhea) Kualitas: flight of ide. Tampak memakai beberapa gelang di kedua tangan. dan kebersihan diri cukup.Tanggal 5 April pukul 10.   sering tersenyum. volume keras. Kesan gizi baik. Pasien tampak bersemangat. artikulasi kadang tidak jelas. seperti condong ke depan. kemudian bersandar di tembok. Perawakan sedang. inrelevan Halusinasi :5 . penampilan terkesan tidak begitu rapi. kohern. lancar. sesekali bercanda. dan bros bunga berwarna cokelat. intonasi cepat. bernyanyi dan tertawa kecil.00 WIB Kesadaran : Compos Mentis Deskripsi Umum  Penampilan Umum Seorang perempuan terlihat sesuai usianya memakai seragam pasien RSJ Grhasia. kadang kuantitas banyak (logore). Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif. kualitas baik. Perilaku dan aktivitas motorik Selama anamnesis pasien sering merubah posisi duduk. Pembicaraan Spontan. kulit  cokelat.

DIAGNOSIS Aksis I : F 25.0 Aksis II : Kepribadian narsisistik Aksis III : Belum bisa ditentukan Aksis IV : Stressor Keluarga dan Eekonomi Aksis V : GAF 60-51.Ilusi :- Hubungan Jiwa : Mudah Perhatian : Mudah ditarik. sulit dicantum Insight : Derajat 1 E. GENOGRAM Ny. disabilitas sedang. gejala sedang (moderate). 6 . T = Pasien = Berpisah F.

Membantu pasien untuk menerima kenyataan dan menghadapinya. Faktor pencetus jelas 3. d. Mendorong pasien agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap. Mempunyai pasangan 7. Menggali kemampuan yang ada pada diri pasien agar bisa   dikembangkan. Gejala positif Poor Prognosis 7 Check List √ √ √ √ √ X X X X . pekerjaan 4. cara pengobatan dan efek samping pengobatan b. Onset lambat 2. Sistem pendukung yang baik 9. premorbid yang baik 5.G. Konseling : Memotivasi pasien agar tetap minum obat secara teratur Rehabilitasi : Sesuai bakat dan minat pasien.0 – ½ Clozapin 25 mg 1-0-1 Depakote 250 mg 1-0-0  Psikoterapi : a. Prognosis Good Prognosis No. manfaat pengobatan. Pengenalan terhadap penyakitnya. Riwayat keluarga gangguan mood 8. H. Onset akut Riwayat sosial dan.0 – ½ Heximer 2mg ½ . Memotivasi pasien agar minum obat secara teratur dan rajin kontrol. TERAPI  Psikofarmakologi Haloperidone 5 mg ½ . Keterangan 1. c. e. Gangguan mood 6.

10. 11. 12. 2. 14. 9. cerai/janda/duda Riwayat keluarga skizofrenia Sistem pendukung yang buruk Gejala negative Tanda dan gejala neurologis Tidak ada remisi dalam 3 tahun Banyak relaps Riwayat trauma perinatal Riwayat penyerangan Kesimpulan Prognosis - Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam : dubia ad bonam : dubia ad malam : dubia ad bonam 8 Check List X √ X √ X √ X √ √ X X √ X X . 8. 1.No. 3. 13. 4. Keterangan Onset muda Faktor pencetus tidak jelas Onset tidak jelas Riwayat sosial. 6. 7. 5. seksual. pekerjaan premorbid jelek Perilaku menarik diri Tidak menikah.

tipe manik dan tipe depresif.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Definisi Gangguan Skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan afektif. khususnya wanita yang menikah. 1. Dugaan saat ini bahwa penyebab gangguan skizoafektif mungkin mirip dengan etiologi skizofrenia.3 Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita. 2. tetapi empat model konseptual telah diajukan. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari skizofrenia dan gangguan mood. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku antisosial dan memiliki pendataran atau ketidaksesuaian afek yang nyata. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe gangguan mood. Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui. Gangguan skizoafektif terbagi dua yaitu. Oleh karena itu teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif juga mencakup kausa genetik dan lingkungan. Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas dan pada saat bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang menonjol. Etiologi Sulit untuk menentukan penyebab penyakit yang telah berubah begitu banyak dari waktu ke waktu. 9 . usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia.1.

Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif. perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana perasaan baik itu manik maupun depresif.2. halusinasi. Sebagian besar penelitian telah menganggap pasien dengan gangguan skizoafektif sebagai suatu kelompok heterogen. walaupun isinya sama. gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe manik. baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. gejala depresif yang menonjol. perubahan dalam berpikir.3 Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ-III):3 Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas): a) “thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras). tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan mood. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan pertama. Bila gejala skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama. 4. dan isi pikiran ulangan. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang berbeda.3. namun kualitasnya berbeda .2 Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham. Tanda dan Gejala Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama. 10 atau “thought insertion or .

dan “thought broadcasting”= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya. misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu. atau “delusion of passivitiy” = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar. b) “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. “delusional perception” = pengalaman indrawi yang tidak wajar. atau penginderaan khusus). atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. apabila disertai baik oleh waham yang mengambang 11 .withdrawal” = isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal). yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil. (tentang ”dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran. atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca. tindakan. yang bermakna sangat khas bagi dirinya. d) Waham-waham menetap jenis lainnya. biasanya bersifat mistik atau mukjizat. atau mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara). e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja. c) Halusinasi Auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien. atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain).

dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar. biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior). atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus. atau fleksibilitas cerea. seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement). bicara yang jarang. mutisme. ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap. negativisme. posisi tubuh tertentu (posturing). f) Arus pikiran mengalami yang sisipan terputus (break) (interpolation). hidup tak bertujuan. bermanifestasi sebagai hilangnya minat. g) Perilaku katatonik.maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas. h) Gejala-gejala negatif. tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial. tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika. Diagnosis 12 . dan stupor. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). atau neologisme. atau yang yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan. seperti sikap sangat apatis.

episode manik. Disamping itu. Gejala gangguan mood juga harus ditemukan untuk sebagian besar periode psikotik aktif dan residual. pasien harus memiliki waham atau halusinasi selama sekurangnya dua minggu tanpa adanya gejala gangguan mood yang menonjol. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-IV) Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif A. Kriteria diagnostik utama untuk gangguan skizoafektif (Tabel 1) adalah bahwa pasien telah memenuhi kriteria diagnostik untuk episode depresif berat atau episode manik yang bersama-sama dengan ditemukannya kriteria diagnostik untuk fase aktif dari skizofrenia. Selama periode penyakit yang sama. Terdapat baik episode depresif berat. atau suatu episode campuran dengan gejala yang memenuhi kriteria A untuk skizofrenia. pada suatu waktu. B. C. 13 . Tabel 1. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana. kriteria dituliskan untuk membantu klinisi menghindari mendiagnosis suatu gangguan mood dengan ciri psikotik sebagai suatu gangguan skizoafektif. Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi. Pada intinya.Konsep gangguan skizoafektif melibatkan konsep diagnostik baik skizofrenia maupun gangguan mood. beberapa evolusi dalam kriteria diagnostik untuk gangguan skizoafektif mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam kriteria diagnostik untuk kedua kondisi lain. Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian bermakna dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit. terdapat waham atau halusinasi selama sekurangnya 2 minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol.

suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum. Waham atau halusinasi yang tak serasi dengan suasana perasaan (mood) pada gangguan afektif tidak dengan sendirinya menyokong diagnosis gangguan skizoafektif. obat yang disalahgunakan. tipe bipolar. DSM-IV juga membantu klinisi untuk menentukan apakah pasien menderita gangguan skizoafektif. Ed. Tabel dari DSM-IV.D. Seorang pasien diklasifikasikan menderita tipe bipolar jika episode yang ada adalah dari tipe manik atau suatu episode campuran dan episode depresif berat. 14 . Kondisi-kondisi lain dengan gejala-gejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau membentuk sebagian penyakit skizofrenik yang sudah ada. tipe depresif. atau gangguan skizoafektif. 4. pasien diklasifikasikan menderita tipe depresif. Sebutkan tipe: Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau suatu manik suatu episode campuran dan episode depresif berat) Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya. Selain itu. atau di mana gejala-gejala itu berada bersama-sama atau secara bergantian dengan gangguan-gangguan waham menetap jenis lain. diklasifikasikan dalam kategori yang sesuai dalam F20-F29. gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah karena cukup sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja.4 Pada PPDGJ-III. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.

klinisi boleh menunda 15 . Di dalam praktik klinis. Pasien yang diobati dengan steroid. Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda. dan bilamana. Diagnosis banding psikiatrik juga termasuk semua kemungkinan yang biasanya dipertimbangkan untuk skizofrenia dan gangguan mood. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-III5    Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously). dan beberapa pasien dengan epilepsi lobus temporalis secara khusus kemungkinan datang dengan gejala skizofrenik dan gangguan mood yang bersama-sama. penyalahgunaan amfetamin dan phencyclidine (PCP). Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang.Tabel 2. atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain. dalam satu episode penyakit yang sama. sebagai konsekuensi dari ini. psikosis pada saat datang mungkin mengganggu deteksi gejala gangguan mood pada masa tersebut atau masa lalu. diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi Pasca-skizofrenia). Dengan demikian.2).1) atau campuran dari keduanya (F25. Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu episode psikotik. Pasien lain mengalami satu atau dua episode manik atau depresif (F30-F33) Diagnosis Banding Semua kondisi yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood perlu dipertimbangkan di dalam diagnosis banding gangguan skizoafektif. episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif. baik berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F25.

onset yang perlahanlahan. mempunyai prognosis yang mirip dengan prognosis pasien dengan gangguan bipolar I dan bahwa pasien dengan premorbid yang buruk. Lawan dari masing-masing karakeristik tersebut mengarah pada hasil akhir yang baik. perjalanan yang tidak mengalami remisi.diagnosis psikiatrik akhir sampai gejala psikosis yang paling akut telah terkendali. dan memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia. tipe bipolar. memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan gangguan bipolar. onset yang awal. dan juga perjalanan gangguan itu sendiri. Generalitas tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian yang mengikuti pasien selama dua sampai lima tahun setelah episode yang ditunjuk dan yang menilai fungsi sosial dan pekerjaan. khususnya gejala defisit atau gejala negatif.3 Perjalanan Penyakit dan Prognosis Sebagai skizoafektif suatu kelompok. tidak ada faktor pencetus. Adanya atau tidak adanya gejala urutan pertama dari Schneider tampaknya tidak meramalkan perjalanan penyakit. Data menyatakan bahwa pasien dengan gangguan skizoafketif. mempunyai pasien prognosis di dengan gangguan pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis pasien dengan gangguan mood. Terapi 16 . pasien dengan gangguan skizoafektif memiliki prognosis yang jauh lebih buruk daripada pasien dengan gangguan depresif. dan riwayat keluarga adanya skizofrenia.1. Sebagai suatu kelompok. menonjolnya gejala pskotik.

atau suatu kombinasi obat-obat tersebut jika satu obat saja tidak efektif. berkelanjutan. Jika protokol thymoleptic tidak efektif di dalam mengendalikan antipsikotik gejala dapat atas dasar diindikasikan. medikasi.4 BAB III KESIMPULAN Gangguan skizoafektif merupakan suatu gangguan jiwa yang gejala skizofrenia dan gejala afektif terjadi bersamaan dan 17 . tipe depresif. dan intervensi psikososial. harus diberikan percobaan antidepresan dan terapi elektrokonvulsif (ECT) sebelum mereka diputuskan tidak responsif terhadap terapi antidepresan.Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan di rumah sakit. harus mendapatkan percobaan lithium. tipe bipolar. Pasien dengan medikasi gangguan skizoafektif. carbamazepine (Tegretol). valproate (Depakene). Pasien dengan gangguan skizoafektif. Prinsip dasar yang mendasari farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah bahwa protokol antidepresan dan antimanik diikuti jika semuanya diindikasikan dan bahwa antipsikotik digunakan hanya jika diperlukan untuk pengendalian jangka pendek.

prognosis . atau dalam beberapa hari sesudah yang lain. Prognosis bisa diperkirakan dengan melihat seberapa jauh menonjolnya gejala skizofrenianya. Sebagian diantara pasien gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang. baik yang tipe manik. Tanda dan gejala klinis gangguan skizoafektif adalah termasuk semua tanda dan gejala skizofrenia. khususnya wanita yang menikah. dan gangguan depresif. Pada farmakoterapi. depresif atau campuran keduanya. Sedangkan apabila gangguan skizoafektif tipe manik terapi kombinasi yang diberikan adalah antara anti psokotik dengan mood stabilizer. Semakin menonjol dan persisten gejala skizofrenianya maka pronosisnya buruk. pengembangan skill sosial dan berfokus pada rehabilitasi kognitif. Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita. dalam episode yang sama. Teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif mencakup kausa genetik dan lingkungan. usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia. dan sebaliknya semakin persisten gejala-gejala gangguan diperkirakan akan lebih baik. Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang bersamaan. atau gejala gangguan afektifnya. digunakan kombinasi anti psikotik dengan anti depresan bila memenuhi kriteria diagnostik gangguan skizoafektif tipe depresif. 18 afektifnya.sama-sama menonjol. Terapi dilakukan dengan melibatkan keluarga. episode manik.

Binarupa Aksara Publisher: Jakarta. 2. 4. 3. Rudi. Edisi Ketujuh. J. Diagnosis dan Statistical Manual of Mental disorders (DSM IV TM). Jakarta: FK Unika Atmajaya. Maslim. dan Sundeen. 1996. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Airlangga University Presss : Surabaya. H. I. Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ –III). 1994.DAFTAR PUSTAKA 1. and Sadock. Kaplan. 19 . Sinopsis Psikiatri Ilmu Perilaku Psikiatri Klinis. G. W.S. Stuart. W. 2003. American Psychiatric Association. Washington DC: American Psychological Association (APA) 5. S. Maramis. J. B. Edisi 3. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 1998.