You are on page 1of 30

Askep pada klien dengan

Gangguan Diabetes Melitus
Kelompok 2:
ANAFIS NURFAUZA

ANGGA SETIAWAN

DARUL MULYA

E. FIRASATI

ERNA CAHYANI YUKI FITRI FEBRIANILISNAWATI
M.SIGIT MASURI

RINI FEBRIANI

SALMA SYARIFA

VILIANSYAH

KASUS …!!!
Seorang perempuan 56 tahun,
dirawat di rumah sakit di ruang
penyakit dalam, mengeluh
banyak kencing, dan urin encer
berbau unsur gula, frekuensi
berkemih lebih dari 10 kali/hari
dengan volume 3000 cc/hari,
turgor kulit buruk, TD 90/60
mmhg dan nadi 100x/menit. Pada
pemeriksaan lab. Di dapat GDS
350 mg/dl.

Definisi Diabetes
melitus

Diabetes melitus adalah penyakit kronis
karena defisiensi absolut/relatif /
resisten insulin. Penyakit ini ditandai
dengan gangguan metabolisme
karbohidrat, protein dan lemak.
Diabetes melitus terjadi dalam 2 bentuk
utama:
a. Diabetes tipe 1 : ditandai dg
insufisiensi absolut
b. Diabetes tipe 2 : ditandai dg resisten
insulin dg beberapa derajat gangguan
sekresi insulin. (robinson : 122)

tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. .Etiologi A. Yaitu oto antibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.    Diabetes Tipe I 1)        Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. 3)        Faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta. 2)        Faktor-faktor imunologi Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.

Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.   Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui.b. Faktor-faktor resiko : 1)        Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun) 2)        Obesitas 3)        Riwayat keluarga .

Klasifikasi DM 3.    Klasifikasi Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut : 1)        Tipe I: Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM) 2)        Tipe II: Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM) 3)        Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya 4)        Diabetes mellitus gestasional (GDM) .

Pada Diabetes melitus tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta pankreas.Patofisiologi Dalam proses metabolisme. Pada diabetes melitus tipe 2 yang sering terjadi pada lansia. Insulin adalah suatu zat atau hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pankreas. insulin memegang peranan penting yaitu memasukkan glukosa ke dalam sel yang digunakan sebagai bahan bakar. jumlah insulin normal  tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah menjadi meningkat . Bila insulin tidak ada maka glukosa tidak dapat masuk sel dengan akibat glukosa akan tetap berada di pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat. Pasien diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta pankreas.

Pathway .

nilai pH kurang dari 7.klorida.kolesterol. penurunan kadar karbon dioksida.4  Kimia urin.keton.Hasil tes diagnostik  Kadar glukosa darah sewaktu : 200 mg/dL atau lebih. Peningkatan kadar glukosa dan keton  TGT (tes toleransi glukosa/GTT).  Hasil pemeriksaan glikosilasi hemoglobin : meningkat  Kimia darah : peningkatan kadar kalium.dan trigliserida.  Kadar glukosa serum puasa : 126 mg/dL atau lebih pada sedikitnya dua kali pemeriksaan. hiperglikemia  Kadar glukosa darah postpradial: hiperglikemia .

.

KOMPLIKASI  Ketoasidosis (koma diabetes)  HONK ( sindrom hiperglikemia hiperosmolaar nonketosis  Hipoglikemia  Infeksi  Neuropati perifer  Glaukoma  Impotensi  Penyakit arteri koronaria  Stroke  Gagal ginjal kronis  Retinopati diabetes  Penyakit vaskular perifer .

short acting (reguler).Micronase. diet ditentukan secara individual berdasarkan berat badsan ideal. metformin (Glucophage).Amaryl). program latihan yang teratur  Monitoring .dan tingkat aktivitas personal. tanda vital.aktivitas.gliburid (diabeta.rapid acting.long acting (Ultranlante.glipizid (Glucotrol.Glucotrol Xl). .intermidiate acting (NPH).Lantus).asupan atau keluaran cairan dan hasil laboratorium  Preparat hipoglikemik.  Suplemen vitamin dan mineral.metabolisme.  Aktivitas .Manajemen Medis  Diet.

Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan Diabetes Melitus .

c.    Riwayat penyakit dahulu Terjadi pada penderita dengan DM yang lama d.    Keluhan utama DM pada usia lanjut mungkin cukup sukar karena sering tidak khas dan asimtomatik (contohnya: kelemahan. rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim. kelelahan.    Riwayat penyakit keluarga Dalam anggota keluarga tersebut salah satu anggota keluarga ada yang menderita DM .    Identitas DM pada pasien usia lanjut umumnya terjadi pada usia ≥ 60 tahun dan umunya adalah DM tipe II (non insulin dependen) atau tipe DMTTI b. terjadi infeksi minor. e.   Riwayat penyakit sekarang Pada umumnya pasien datang ke RS dengan keluhan gangguan penglihatan karena katarak. BB menurun.Pengkajian a. kebingunan akut atau depresi).

Makanan/cairan N Gejala : hilang nafsu makan. hipertensi. penyembuhan lama. poliurine. pucat kering. peka rangsang. Eleminasi Gejala : perubahan pola berkemih (poliuria). tidak mengikuti diet. penurunan berat badan. ulkus kulit. kering dan kemerahan. stroke. Penggunaan obatseperti steroid. sulit bergerak/berjalan. Sirkulasi M Gejala : ulkus pada kaki. kulit rusak. P Tanda : penurunan kekuatan otot.Pengkajian pasien dengan Diabetes mellitus (Doenges. S d. A e. g. diaforesis. E b. diuretik (tiazid) : diantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah). turgor jelek. K Tanda : ansietas. gatal. . Nyeri/ kenyamanan S Gejala : nyeri pada luka ulkus I Tanda : wajah meringis dengan palpitasi. I f. Penyuluhan / pembelajaran Gejala : faktor risiko keluarga DM. tampak sangat hati-hati. penyembuhan yang lamba. nakturia A Tanda : urine encer. 1999) meliputi : a. penyakit jantung. Aktivitas / Istirahat Gejala : lemah. Integritas Ego I Gejala : tergantung pada orang lain. mual/muntah. tonus otot menurun. lesi/ulserasi h. F Tanda : kulit kering/bersisik. R c. kesemutan/kebas pada ekstremitas. kram otot. E Tanda : kulit panas. letih. Keamanan K Gejala : kulit kering. Tanda : demam.

4) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik. kehilangan gastrik. 5) Kurang pengetahuan tentang kondisi. prosedur invasif dan kerusakan kulit. perubahan sirkulasi. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi / tidak mengenal sumber informasi. berlebihan diare. lambung penuh. 1999) adalah : 1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik. masukan dibatasi. penurunan masukan oral : anoreksia. nyeri abdomen. 2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. insufisiensi insulin. muntah. perubahan kimia darah. mual.DIAGNOSA Diagnosa KEPERAWARAN keperawatan pada pasien dengan Diabetes mellitus (Doenges. 3) Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer. kacau mental. kadar gula darah yang tinggi. mual. status hipermetabolisme/infeksi. . peningkatan kebutuhan energi. pelepasan hormon stress. perubahan kesadaran : status hipermetabolisme.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Intervensi dan implementasi keperawatan pada pasien dengan diabetes mellitus (Doenges. tanda-tanda vital. turgor kulit baik. tekanan nadi perifer jelas. pengeluaran urine yang adekuat (batas normal). 1999) meliputi : A. dengan kriteria . Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik. muntah) masukan dibatasi (mual. pengisian kapiler baik dan membran mukosa lembab atau basah. tanda-tanda vital stabil.Pasien menunjukan adanya perbaikan keseimbangan cairan. turgor kulit. . kacau mental). normal. berlebihan (diare. Kriteria Hasil : . kehilangan gastric. Tujuan : Kondisi tubuh stabil.

dan diaferesis merupakan hal umum terjadi pada proses infeksi.INTERVENSI RASIONALISASI Pantau tanda-tanda vital. warna dan kelembaban kulit R : Demam. R : memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti . Demam dengan kulit yang kemerahan. catat adanya perubahan tekanan darah ortestastik R : Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia. R : Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat Pantau intake dan output. turgor kulit dan membran mukosa. Catat berat jenis urine. kering. Ukur berat badan setiap hari. menggigil. pengisian kapiler. R : memeberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti. Kaji nadi perifer. fungsi ginjal dan keefektifan dari terapi yang diberikan Kaji suhu. mungkin gambaran dari dehidrasi.

B.   . pelepasan hormon stress. Tujuan : berat badan dapat meningkat dengan nilai laboratorium normal dan tidak ada tandatanda malnutrisi. mual. . Kriteria Hasil : . penurunan masukan oral : anoreksia. perubahan gaya hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. nyeri abdomen. penurunan jumlah intake ( diet pada status nutrisi).mendemonstrasikan perilaku. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin.pasien mampu mengungkapkan pemahaman tentang penyalahgunaan zat. lambung penuh. perubahan kesadaran : status hipermetabolisme.

R : Mengindentifikasi penyimpangan dari kebutuhan. 5) Kolaborasi dalam pemberian insulin. catat adanya nyeri abdomen/perut kembung. dingin/lembab. RASIONALISASI R : Mengetahui pemasukan makan yang adekuat. mual. pertahankan puasa sesuai indikasi. pemeriksaan gula darah dan diet.muntah. . seperti perubahan tepat.       R : Secara potensial dapat mengancam kehidupan.   denyut nadi cepat.INTERVENSI 1) Timbang berat badan setiap hari sesuai indikasi 2) Tentukan program diet dan pola makanan pasien dibandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien. yang 4) Observasi tanda-tanda harus dikaji dan ditangani secara hipoglikemia. lapar dan   pusing.     R : Mempengaruhi pilihan intervensi.   3) Auskultasi bising usus. tingkat kesadaran. R : Sangat bermanfaat untuk mengendalikan kadar gula darah.

Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer. . Tujuan : Infeksi tidak terjadi. prosedur invasif dan kerusakan kulit.mengindentifikasi faktor-faktor risiko individu dan intervensi untuk mengurangi potensial infeksi.C.pertahankan lingkungan aseptik yang aman. Kriteria Hasil : . perubahan sirkulasi. . kadar gula darah yang tinggi.

3) Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif (seperti pemasangan infus. sputum purulen. menurunkan terjadinya risiko hipoventilasi. dsb). Masase daerah tulang yang tertekan. 2) Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik. 4) Pasang kateter / lakukan perawatan perineal dengan baik. setiap kontak pada semua barang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasien nya sendiri. R : pasien masuk mungkin dengan infeksi yang biasanya telah mencetus keadaan ketosidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial. R : Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman. adanya pus pada luka . R : memberikan kemudahan bagi paru untuk berkembang. kemerahan. 5) Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguhsungguh. R : penenganan awal dapat . R : mencegah timbulnya infeksi nosokomial. R : sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada penigkatan risiko terjadinya kerusakan pada kulit / iritasi dan infeksi. linen kering dantetap kencang (tidak berkerut). jaga kulit tetap kering. urin warna keruh dan berkabut.   R : Mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran kemih. kateter folley.Intervensi Rasionalisasi 1) Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam.

D. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.mampu menunjukan faktor yang berpengaruh terhadap kelelahan. insufisiensi insulin. perubahan kimia darah.menyatakan mapu untuk beristirahat dan peningkatan tenaga. . . Tujuan : Rasa lelah berkurang / Penurunan rasa lelah Kriteria Hasil : . peningkatan kebutuhan energi. status hipermetabolisme/infeksi.Menunjukan peningkatan kemampuan dan berpartisipasi dalam aktivitas .

  2) Berikan aktivitas alternatif denagn periode istirahat yang cukup / tanpa terganggu.     3) Pantau tanda-tanda vital sebelum atau sesudah melakukan R : mengidentifikasi tingkat aktivitas. pasien dapat melakukan lebih banyak kegiatan.     R : mencegah kelelahan yang berlebihan. 5) Tingkatkan partisipasi pasien   dalam melakukan aktivitas R : meningkatkan kepercayaan sehari-hari sesuai kemampuan / diri / harga diri yang positif sesuai toleransi pasien tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien . R : pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.Intervensi Rasionaliasasi 1) Diskusikan dengan pasien kebutuhan aktivitas. berpindah R : dengan penghematan energi tempat dan sebagainya. 4) Diskusikan cara menghemat   kalori selama mandi. Buat jadwal perencanaan dengan pasien dan identifikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan. aktivitas yang ditoleransi secara fisiologi.

Kurang pengetahuan tentang kondisi. efek prosedur dan proses pengobatan.E. . Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi. Kriteria Hasil : .memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan .melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi/tidak mengenal sumber informasi.

sekarang. penyembuhan.Intervensi 1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.   4) Minta klien dan keluarga R : mengetahui seberapa jauh mengulangi kembali tentang pemahaman klien dan materi yang telah diberikan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan . 2) Berikan penjelasan pada R : dengan mengetahui klien tentang penyakitnya dan penyakit dan kondisinya kondisinya sekarang. klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. 3) Anjurkan klien dan keluarga R : diet dan pola makan yang untuk memperhatikan diet tepat membantu proses makanan nya. Rasionalisasi R : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.

.IMPLEMENTASI KEPERAWATAN  Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi. 1995).

  .EVALUASI Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan diabetes mellitus adalah : 1) Kondisi tubuh stabil. turgor kulit. tanda-tanda vital. normal. 3) Infeksi tidak terjadi 4) Rasa lelah berkurang/Penurunan rasa lelah 5) Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi. 2) Berat badan dapat meningkat dengan nilai laboratorium normal dan tidak ada tanda-tanda malnutrisi. efek prosedur dan proses pengobatan.

1999. 2002.3. Visual Nursing Medikal Bedah. Keperawatan Medikal Bedah Volume 2 Edisi 8.  Doenges.Daftar pustaka  Brunner and suddart. Marilynn E. jakarta : EGC. 2014. Ed. Tanggerang selatan: Bina rupa aksara. joan.  Robinson. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Pasien. EGC : Jakarta. .

Terima kasih .