Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.

com

MAMA (Part 1 – 9 End)
Lonceng gereja terdengar menandakan seluruh warga kota harus berkumpul di Meadow dekat gereja. Hari Minggu merupakan hari berkumpulkan seluruh warga kota Colorado di lapangan rumput itu. Setelah melakukan ibadah di gereja biasanya penduduk menggelar acara piknik keluarga di halaman gereja yang luas itu. Mike mencongklang kudanya menuju Meadow. Charlotte berjanji padanya akan memperkenalkan dirinya kepada penduduk kota pada hari Minggu. Mike mengenakan gaun abu-abu bergaya Victoria berhiaskan renda putih di bagian kerah leher, di sisi kiri kanan membentuk lekuk tubuhnya dan berakhir di lingkar pinggangnya. Mike juga mengenakan topi bernada sama dengan gaunnya, topi itu berhiaskan bunga berwarna abu-abu dan putih. Sebenarnya gaun itu cukup sederhana untuk ukuran Boston, namun bagi warga Colorado, penampilan Mike terkesan elegan dan mewah. Tidak heran jika kehadirannya kontan menjadi pusat perhatian warga yang sedang berkumpul di Meadow. Minggu itu tidak hanya warga kota yang berkumpul di Meadow. Beberapa kelompok suku Indian dan para tentara yang sedang mengadakan perundingan masih mendirikan kemahnya di sana. Kehadiran Mike juga menarik perhatian kelompok yang sedang berunding itu. Tidak terkecuali sepasang mata yang tajam memandang Mike penuh kekaguman sambil mengelus lembut serigala di sampingnya. “Selamat pagi semua…,” sapa Mike sambil mengangguk sesaat. Dia menghentikan lari kudanya hingga di depan gereja. Sebagian penduduk yang telah selesai beribadah berkumpul di depan gedung gereja. Charlotte masih menjabat tangan pendeta Johnson menoleh ke arah Mike dan tersenyum. Dia meninggalkan pak pendeta yang masih melayani jabatan tangan jemaat lainnya. Charlotte menghampiri Mike didampingi ketiga anaknya. Mike turun perlahan dari punggung kuda, Matthew melangkah maju menjagainya. Mike berhasil mendarat dengan sempurna. Dia melihat dari balik punggung kudanya Sully dengan berbicara dengan Chief Black Kettle, terlihat jelas mereka sedang membicarakan dirinya. “Kau terlihat mewah dokter Mike,” sapa Colleen. “Kemewahan hanya ada di Boston,” sahut Charlotte sambil mendekati Mike dan menatapnya dengan mata menegur. “Ahh….” Mike segera membuka topinya dan menyimpannya di tas kulit yang tersampir di punggung kuda. “Aku akan memperkenalkanmu dengan beberapa orang,” kata Charlotte menggandeng Mike menuju sekelompok orang yang sedang berbincang.

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

Kelompok itu membubarkan diri berusaha menghindari pertemuan dengan kedua wanita itu. Charlotte tidak menyerah, dia membawa Mike ke kelompok lainnya. Reaksi yang sama terjadi, sampai pada kelompok dimana terdapat Emily, ibu hamil teman seperjalanan Mike menuju Colorado. Emily tersenyum melihat Mike dan Charlotte. Dia menjabat tangan Mike, namun segera ditarik oleh seseorang. “Hei…Slicker! Terdengar teriakan seseorang. Semua orang memandang asal suara tersebut. Seorang pria tinggi besar berambut panjang berwarna pirang. Wajahnya dipenuhi kumis dan jambang. Dia berpakaian seorang bartender. “Ada orang tertembak…!,” sahut pria tersebut. Waktu seolah terhenti. Seluruh orang yang ada di Meadow tertegun sejenak, kemudian segera berbondong lari menuju pria yang berteriak tadi. Mike bereaksi cepat berlari ke arah kudanya, mengambil tas dokternya, kemudian berlari bersama kumpulan orang tersebut. Jake Slicker, Loren Bray, Pendeta Johnson dan beberapa orang pria lainnya segera mengerumuni kereta kuda berisi pria yang berbaring terluka di bagian dada. Tampak darah sudah membasahi dadanya. “Dia tertembak saat berburu,” sahut si Bartender. Pria terluka itu masih sadar dan mengerang kesakitan. Jack Slicker mencoba melihat lukanya, namun pria terluka itu bertambah kesakitan. Mike berusaha menyusup diantara kerumunan pria. “Permisi…maaf gentlemen, saya dokter….saya dokter,” Mike berusaha menyibak kerumunan itu. Mike berhasil mencapai pria terluka itu. “Tolong minggir…biarkan…say…” Mike belum selesai berbicara. “Minggir…!” Teriak Jack Slicker. “Kami tidak membutuhkan bantuanmu,” lanjutnya. “Pindahkan orang ini ke tempatku,” perintah Jack pada para pria di sekelilingnya. Mike masih berusaha memeriksa pria terluka itu, tapi sebuah tangan besar mencegahnya dengan kasar. “Kau wanita…pergi! Hush…hush…,” teriak si Bartender. Mike memandang pria itu dengan marah. Pria itu masuk sambil menggiring dua orang wanita yang berdiri di depannya dan memandang dirinya sambil berusaha masuk ke dalam Saloon. Mereka adalah wanita penghibur di saloon tersebut. Kemarahan Mike segera hilang ketika dia teringat pria yang terluka dan saat ini berada di barbershop milik Jack Slicker. Dia berlari menuju tempat Slicker berusaha melewati kerumunan orang.

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

“Permisi…permisi…biarkan saya lewat,” kata Mike. Mike sampai di depan barbershop, ketika hendak menaiki tangga, Maude, istri Loren terjatuh sambil memegang dadanya. Langkah Mike terhenti dan segera menghampiri Maude. “Maude…kamu kenapa?” Mike memegang Muade dan segera membuka tas dokternya. Mike mengeluarkan stateskop berbentuk semacam selang dan menempelkan ke telinganya. Mike belum selesai memeriksa detak jantung Maude, Loren sudah datang mencegah tindakan Mike. “Apa yang kamu lakukan…jauhi istriku…,” kata Loren dengan nada gusar. “Istrimu sakit…,” sahut Mike tetap berusaha memeriksa Maude. “Dia hanya pusing…,” sahut Loren bersikeras. “Jantungnya berdebar kencang…,” jelas Mike sambil mengendurkan korset yang dikenakan Maude. “Ya tentu saja jantungnya berdebar…,” jawab Loren sambil menarik istrinya dari pelukan Mike. “Kamu ngga sakitkan Maude…,” kata Loren pada istrinya. Maude tampak kesakitan namun dia berusaha menahannya. “Aku hanya…terlalu…gembira…,” sahut Maude dengan napas tersengal. “Kamu terkena arrhythmia…,” kata Mike pada Maude. Loren tidak mengindahkan kata-kata Mike, dia tetap menuntun Maude menuju ke toko mereka. “Uruslah dirimu sendiri…,” kata Loren pada Mike. “Ini urusanku juga…,” sahut Mike. Namun Loren tetap tidak mendengarkan Mike. Mike kehabisan kata-kata. Loren berlalu di hadapannya. Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah barbershop. Mike menoleh ke arah suara itu, kemudian kembali berusaha melihat Maude yang telah menghilang masuk ke dalam toko. Mike merasa tak berdaya untuk menolong kedua orang tersebut… Mike berjalan pelahan ke arah gereja tempat di mana kudanya tertambat. Mike melihat ke arah pemakaman di samping gereja, dilihatnya Sully berselimut kain Indian sedang duduk di samping dua makam seperti biasa ditemani serigala kesayangannya. Mike membelokkan arah berjalan menuju ke pemakaman itu. Sully segera menghentikan kegiatannya dan berdiri ketika mendengar langkah seseorang mendekat. Dia melihat ke arah Mike. Mike datang

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

mendekati Sully. “Ada beberapa barang miikmu yang masih tertinggal di kabin,” kata Mike memulai pembicaraan. “Aku tidak membutuhkannya…,” sahut Sully dengan nada seperti biasanya, tidak peduli. “Well…apa yang dikatakan Chief Black Kettle ketika aku sedang berjalan ke gereja tadi?,” tanya Mike penuh ingin tahu. “Dia ingin tahu siapa dirimu…” “Lalu apa yang kamu katakan?.” “Kamu adalah tabib wanita yang datang dari Timur.” “Kata Chief Black Kettle, bagi orang kulit putih, hanya pria yang bisa mengobati, kamu pasti wanita kulit putih yang 'gila',” lanjut Sully sambil tersenyum simpul. Mike terdiam. Sully berlalu dari hadapannya. Tidak ada seorangpun penduduk kota Colorado yang menganggap Mike sebagai dokter, kecuali Charlotte. Hari-hari selanjutnya diisi Mike dengan kegiatan membersihkan rumah, gudang, dan memberi makan ayam-ayam peliharaannya. Kadang Mike berpikir, mungkin benar kata-kata Chief Black Kettle, bahwa dirinya adalah perempuan kulit putih yang gila. Mike berhadap menjadi dokter perintis di daerah perbatasan ini. Mike sedang membuka loyang tempat dia memanggang roti untuk makan malamnya, ketika terdengar ketukan di pintu. “Siapa?! “Matthew Cooper” Mike membuka pintu. “Ma, membutuhkan bantuanmu.” Matthew terlihat cemas. Mike dan Matthew memacu kuda mereka menuju kota.

Mike membuka pintu salah satu kamar di rumah penginapan Charlotte, Emily sedang berteriak kesakitan saat melahirkan. “Kepala bayi sudah Nampak, tapi tidak bisa keluar,” jelas Charlotte. “Aku berusaha menariknya, tetap tidak bisa.”

Mike membuka peralatan kedokterannya, dan bersiap

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

memeriksa

Emily.

Charlotte

memberi

ruang

bagi

Mike

untuk

memeriksa.

“Emily…tenanglah..tarik napasmu dengan teratur,” kata Mike menenangkan pasien pertamanya. Mike memeriksa pernapasan, meraba perut Emily dengan teliti. “Kita harus bertindak cepat, kalau tidak kita bisa kehilangan bayinya.” Mike tampak menyiapkan peralatan lainnya. Dia mengeluarkan beberapa botol alkohol dan obat-obatan. “Rangsang perutnya dengan ini,” kata Mike sambil menyerahkan segenggam kapas yang telah diberi cairan perangsang, kepada Charlotte. Mike menuangkan sebotol alkohol untuk mencuci tangannya, dia melakukan sterilisasi, kemudian mengambil pisau bedah dari tempatnya. “Apa yang kamu lakukan? Kau mau membedahnya?!,” kata Charlotte cemas. “Tidak ada jalan lain, kita harus bertindak cepat. Letak bayinya melintang.” “Percayalah, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk menolongnya,” kata Mike menenangkan Charlotte. “Sekarang bantu aku, letakkan kapas ini di hidungnya, amati Emily sampai tertidur. Jaga dia agar tetap dalam keadaan terbius,” perintah Mike. Mike segera membuka pakaian Emily dan membedah perutnya. Mike melakukan dengan cekatan dan cermat. Di sampingnya Charlotte mengamati dengan wajah penuh kecemasan. Jabang bayi sudah terlihat, Mike segera menariknya keluar dan memotong tali pusarnya menyerahkan pada Charlotte. Dia mulai menutup luka di perut Emily dengan cepat dan teliti. Mike harus berkejaran dengan waktum karena anestasi dilakukan secara darurat. “Ada yang tidak beres…,” kata Charlotte cemas. Mike melihat sekilas sambil membersihkan luka dan bersiap menutupnya. Bayinya terdiam tampak tidak bernapas. “Bersihkan saluran pernapasannya, pijat bagian dadanya pelan,” perintah Mike. “Tidak berhasil…,” sahut Charlotte cemas. “Angkat bayi itu letakkan kepalanya di bawah dan pukul pantatnya…cepat!,” perintah Mike. “Kepalanya di bawah…?!” “Ya…cepat lakukan!” Sekali lagi Mike memerintahkan Charlotte sambil tetap berkonsentrasi pada Emily. Charlotte terlihat ragu menjungkirkan bayi di tangannya.

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

“Lebih tinggi…pukul pantatnya…cepat!,” kata Mike tidak sabar. Charlotte memikul pantat si bayi pelan. “Lagi…! teriak Mike. “Ahh..!” Charlotte memukul dua kali, dan terdengarlah tangisan sang bayi. Charlotte menangis lega menatap Mike yang sedang menyelesaikan jahitan di perut Emily. Mike membalas dengan senyum. Emily sudah sadar dan bayinya sudah dibersihkan. Mike menyerahkan bayi ke dalam pelukan Emily. “Emily…dokter Mike sudah menyelamatkan kamu dan bayimu,” kata Charlotte. “Selamat Emily…kamu mempunyai bayi yang cantik dan sehat,” sahut Mike terharu. Emily menangis bahagia sambil memeluk bayinya, memandang ke arah kedua wanita penyelamatnya dengan ucapan terima kasih. Mike memeluk Charlotte, mereka berdua menangis bahagia. Mike merasa lega mendapat dukungan dan kepercayaan dari Charlotte untuk membuktikan keahliannya di bidang kedokteran. Saat itu untuk pertama kalinya Mike merasa mendapatkan seorang sahabat di daerah asing ini. Meskipun Mike berhasil menyelamatkan bayi dan Emily dari kondisi kelahiran yang sulit, warga kota masih memiliki pandangan yang sama terhadap Mike. Dia akhirnya memutuskan untuk membuat perubahan drastis yang akan mengubah pandangan semua penduduk. Suatu pagi Mike mencongklang kudanya menuju baber shop Jack Slicker. Beberapa sedang berbincang dengan Jack ketika Mike tiba. Mike turun dari kudanya dan tersenyum kepada Jack. “Selamat pagi, Mr.Slicker,” sapa Mike sambil menambatkan tali kuda ke salah satu tiang. “saya datang untuk minta saran profesional. Saya harap ada ada waktu di tengah jadwal anda yang padat.” “Saya tidak mencukur rambut wanita,” sahut Slicker dengan nada mengejek. Beberapa pria yang hadir tertawa. “Oh..bukan Sir, yang saya butuhkan adalah layanan medis darimu,” sahut Mike dengan wajah serius. “Saya sakit gigi, dan saya tidak dapat menyembuhkannya. Saya butuh pendapat anda sebagai sesama dokter.” Jack Slicker terdiam, demikian juga beberapa pria di sekeliling mereka. “Masuklah…aku akan melihatnya,” sahut Slicker dengan wajah serius.

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

Pembicaraan tersebut kontan mendapat perhatian para pria “terhormat” yang sedang berkumpul di situ. Mereka ikut masuk ke dalam baber shop Jack, ingin mengetahui kelanjutannya. “Duduklah,” kata Jack sambil menujuk kursi di mana dia biasa mencukur. Mike terlihat ragu membulatkan tekad. “Ehnmm…gigi saya yang sakit…” “Saya kira gigi sebelah kiri yang sakit,” kata Jack dengan nada pecaya diri. Mike menunjukkan gigi geraham kanannya. “Ohh…ya sebelah kiri dari sisi anda ya,” kata Mike. “Coba buka mulutmu.” Jack mengulurkan tangan kirinya yang terbalut kain. Tangannya terlihat luka dan dibalut seadanya. Mike melihatnya dan buru-buru mencegah tangan Jack. “Ah…tangan anda kelihatannya terluka,” Mike berusaha tidak jijik. “Ohh..ya terkena pisau cukur,” jawab Jack sambil lalu seolah lukanya tidak penting. Dia kembali hendak memegang mulut Mike. Mike menjauhkan wajahnya dan berusaha mencegah tangan Jack. “Tanganmu terlihat kena infeksi…,” sahut Mike bersabar. Jack tidak sabar langsung memegang kepala Mike dengan tangan kiri menyandarkan di kursi lalu mengulurkan jari telunjuk kanannya memeriksa gigi Mike yang “sakit”. “Buka mulutmu. Uh…kelihatannya parah.” “Hmm…apa pendapat anda?,” sahut Mike pelan. “Cabut.” “Cabut?!” Mike berusaha tidak terkejut. “Ehmm…apakah tidak ada …ehm..alternatif lain?” “Kamu menanyakan, dan saya sudah memberikan,” sahut Jack layaknya seorang ahli. “Ohh…ya tentu saja…anda benar…eehm…,” Mike tersenyum sambil memandang orangorang yang melihatnya dengan penuh ingin tahu. Pandangan Mike beralih ke Jack. “Ehmm…saya percaya penuh pada tindakan yang anda berikan,” sahut Mike dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar. sejenak, namun kemudian dia

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

“Apa?!,” tanya Jack. Mike diam menatap Jack. Dia sedang memberanikan diri menyerahkan giginya dicabut oleh seorang tukang cukur jorok. Tindakannya ini menentukan pandangan warga kota terhadap profesinya sebagai dokter. “Cabutlah,” kata Mike tegas. Tempat cukur Jack sudah penuh orang untuk menyaksikan Jack mencabut gigi Mike, mendengar keputusan Mike untuk mencabut gigi dianggap tindakan yang berani buat seorang perempuan dan menimbulkan simpati di hati mereka. Mereka saling berbisik membicarakan hal tersebut. Bagi Jack, tindakan tersebut menambah kepercayaan penduduk pada dirinya dan menanggap Mike bukan saingan. Jack berjalan ke belakang mempersiapkan alat pencabut gigi. Wajah Mike terlihat tegang meskipun dia berusaha tenang. Jack sudah ada dihadapannya membaca catut pencabut gigi. “Ayo kita mulai,” katanya sambil mengulungkan lengan baju. Mike merasakan gigi gerahamnya yang dirawat secara teratur terasa dicengkeram sepasang besi. Rasa sakit yang timbul berusaha ditahannya. Jack terlihat susah payah mencabut gigi geraham Mike. Wajah wanita cantik itu terlihat merah padam menahan sakit, tangannya mencengkram kursi kuat-kuat. “Tahan Mike, bertahanlah. Tindakan ini sangat menentukan dirimu sebagai dokter, percayalah.” Demikian hatinya menguatkan. “Ahh..!” teriak Jack puas. Diantara gigi tang telah terselip sebuah gigi geraham yang jika diamati masih dalam kondisi baik. Mike memandang gigi gerahamnya sambil memegang pipinya yang terasa kejang. “Suvenir?” kata Jack menawarkan. Mike tersenyum kecut membalasnya. Jack kemudian menyelipkan secarik kapas ke dalam mulut Mike untuk mencegah pendarahan. “Gila ini orang, tidak memberikan antiseptik sama sekali pada sebuah luka yang menganga.” Maki Mike dalam hati. “Saya merasa lebih baik,” kata Mike dengan susah payah karena tersumbat kapas dan menahan sakit. Jack masih asyik memperlihatkan “hasil karya”nya dengan orang-orang yang melihat. “Berapa saya harus membayarnya, Mr.Slicker?” “Dua bits,” sahut Jack. Mike menangguk kemudian membuka tasnya mengambil uang dua bits dan sebotol antiseptik.

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

“Ini uangnya, dan ini untuk membersihkan infeksi luka, terima kasih Mr.Slicker.” Mike ingin cepat keluar dari ruangan itu untuk membersihkan luka di gerahamnya. Seorang pria tua menegurnya. “Mam, anda ketinggalan sesuatu,” katanya sambil menyodorkan gigi geraham milik Mike. “Apakah saya patut menyimpannya?” “Oh..tentu,” sahut pria itu ditimpali suara pria-pria yang ada di seklitarnya. Mike mengambil giginya dan pergi dari tempat yang telah dipenuhi hampir seluruh penduduk kota. Di jalan dia berpapasan dengan Maude yang sedang menggotong sekotak buah. “Bagaimana kesehatanmu Mrs.Bray?” tanya Mike sopan. “Saya sehat-sehat saja,” jawab Maude sambil melihat gigi yang dipegang Mike. Mike berjalan menuju penginapan Charlotte, dan kumpulan orang itu segera membubarkan diri. Charlotte sedang memasak di dapur. Mike tiba di dapur masih memegang pipinya. “Hello dokter, wajahmu terlihat pucat,” sapa Charlotte sedikit cemas. “Aku baru saja cabut gigi.” “Apa?!” “Jack Slicker bilang harus dicabut…ya dicabutlah.” Charlotte memandang wajah Mike penuh selidik. “Gigimu ngga sakit kan?” “Ngga,” jawab Mike berusaha tersenyum. “Oh..kamu keterlaluan membiarkan orang “bodoh” itu mencabut gigi sehat. Tapi disisi lain kamu membuat semua orang bersimpati dan terkejut melihat tindakanmu.” Charlotte tertawa melihat kecerdikan Mike. “Benarkah mereka bersimpati?,” tanya Mike ragu. “Aku berani bertaruh dua dolar, percayalah para pria tidak akan mengabaikanmu.” Charlotte tertawa. “Charlotte…kenapa suamimu meninggal?,” tanya Mike. “Dia tidak meninggal, setahu saya dia pergi meninggalkan kami. Aku tidak tahu dimana dia sekarang, tapi masih hidup.” Jawab Charlotte dengan nada ringan. Dia meneruskan kegiatan memasaknya.

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

“Tapi mereka memanggilmu Janda Cooper.” “Mereka ingin bersikap baik dan sopan padaku.” Mike menatap Charlotte dari belakang meminta penjelasan. “Kami punya pertanian di dekat Topeka. Kami menggarapnya selama 4 tahun, sampai suatu ketika dia menjualnya tanpa sebab dan membuat hidup kami kacau. Suatu pagi dia mengatakan kalau menambang emas di puncak gunung Pike.” Mike menatap Charlotte sejenak. “Tunanganku tidak pernah menyingung soal perang sampai suatu ketika dia datang padaku mengenakan seragam militer dan mengatakan dia akan pergi dua hari mendatang.” “Dua hari,” tegas Mike dengan nada tidak pernah mengerti sampai detik itu. “Pria…, kita tidak dapat bergantung pada mereka,” sahut Charlotte prihatin. “Ketika masa penambangan sudah selesai, suamiku kehilangan sisi baiknya, dia pergi membawa sekantung uang tabunganku,” jelas Charlotte dengan nada getir. “Ohh…Charlotte,” sahut Mike prihatin. “Well….yang sudah terjadi…terjadilah. Apa yang terjadi dengan tunanganmu?” “Dia seorang dokter. Kami bertemu di rumah sakit. Waktu itu aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan studi. Aku tidak terlalu tertarik dengan pesta seperti kakak-kakakku, tapi ketika ada waktu tidak ada pria yang mengajakku dansa. Mereka katakan aku terlalu…” Mike tidak melanjutkan. “Pintar..” lanjut Charlotte. Mike tersenyum dan mengangguk. “Aku tidak mau menyerah untuk menjadi dokter, jadi aku meninggalkan pesta-pesta itu.” “Lalu kenapa kalian tidak menikah?,” Charlotte bertanya dengan hati-hati. Mike menatap Charlotte dengan mata berkaca-kaca. “Dia meninggal dalam perang.” Suasana haru menyelimuti ruang itu. “Lucu ya…apapun bentuk kehilangan kita, rasa sakit yang kita alami sama.” Charlotte menyimpulkan. Ruangan kembali sunyi, mereka tenggelam dalam kenangan pahit masing-masing. Mike melihat Sully berjalan menjauhi Meadow, beberapa tentara terlihat membenahi tenda dan sebagian Indian berkuda meninggalkan kota. Mike mendekati Sully.

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

“Apa yang terjadi? Apa perundingannya sudah selesai?” tanya Mike. “Yeah…sudah selesai,” jawab Sully. “Apakah tercapai kesepakatan?” “Chivington mengancam perang, sehingga mendesak Chief Black Kettle menerima tawaran untuk pindah ke Selatan Sand Creek.” “Kenapa?” “Chivington berusaha menarik perhatian Pemerintah Pusat (D.C) dan mendapatkan mandat utama, kemudian dia akan menjadi gubernur pertama di wilayah ini.” “Kalau begitu harus lebih gigih lagi untuk melakukan perundingan ulang,” Mike berusaha memberikan jalan keluar. “Chivington datang bukan untuk berunding, dia datang untuk mencuri,” Sully menegaskan. Mike memandangi Sully yang pergi begitu saja. Beberapa pasukan tentara melintas melewati Mike. “Demikian sulitnya kah? Bukankah tanah ini milik Cheyenne? Mereka pemilik negeri ini.” Beberapa bulan sudah berlalu, Mike masih belum mendapatkan pasien. Dia menghabiskan waktunya di kabin. Mike telah mahir membelah kayu sendiri, ketika sedang asyik mengumpulkan kayu hasil kerjanya, Mike mendengar suara derap kuda menuju kabin. Mike menatap dari kejauhan tamu yang datang ke kabinnya pagi itu. Jack Slicker datang mengunjungi Dokter Michaela Quinn. Mike berjalan menuju kabinnya menemui Jack Slicker. Pria itu berkuda mendekati tempat Mike berdiri, tanpa turun dari kudanya Jack melempar sesuatu ke arah Mike. “Aku kembalikan botol antiseptik milikmu,” sahut Jack. “Terima kasih, lukaku sudah sembuh.” “Wah, aku senang mendengarnya,” jawab Mike tulus. “Bagaimana gigimu.” “Baik, terima kasih. Aku siapkan makanan?,” Mike menawarkan. “Ngga, aku mau kembali ke kota. Hmm…kamu tahu Robert E?” “Tukang besi itu.” “Ya, kalau kamu ke kota cobalah periksa sakit punggungnya.” “Dia bahkan tidak mau menjual kudanya padaku.”

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

“Yeah…tapi aku sudah memberitahu dia bahwa kau akan datang memeriksanya.” Mike menyadari ini kesempatan yang diberikan. “Oke, nanti aku akan ke sana memeriksanya.” Jack Slicker tersenyum dan mengangguk pada Mike, kemudian pergi meninggalkannya sendirian. Mike tersenyum melihat kepergian Jack. Mike memandang Robert E dari kejauhan, tukang besi itu sedang memasang sepatu kuda pada salah satu hewan peliharaannya. Pria kulit hitam itu tampak menahan sesuatu ketika bergerak menunduk. Mike tersenyum berjalan mendekati Robert E. “Selamat pagi.” “Pagi…” Jawab Robert E dengan nada malas. Pria itu kembali meneruskan pekerjaannya, berusaha mengabaikan kehadiran Mike. “Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, kamu sudah menjual kuda yang baik untukku.” “Dia kuda tua,” jawab Robert sambil memukul besi panas di hadapannya. “Tapi dia kuda yang baik.” “Yeah…” “Sendimu pasti terasa nyeri kalau kamu bekerja seperti ini,” kata Mike. “Yep.” “Itu bisa berakibat pinggangmu bisa sakit lho.” “Yep.” “Saya mengerti kalau kamu berusaha mengerjakan semuanya sendiri.” “Yep.” “Bolehkan saya…,” Mike memeriksa pergelangan dan lengan Robert E, tapi segera pria itu menepisnya. “Saya tidak mau dokter wanita.” “Dari semua pria di kota ini, aku pikir kamu tahu bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil.” Mike memandang Robert E dan berjalan meninggalkannya. “Tunggu!”

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

Mike berhenti, berpaling ke arah si tukang besi. Robert E mengulurkan tangannya. Mike mulai memeriksa pergelangan tangan hingga siku. “Apakah ini sakit?” Mike menggerakkan pergelangan tangan si tukang besi. “Sakit sedikit.” Mike meneliti lebih cermat lagi. “Kamu lihat pembengkakan di jari-jari ini?” Robert E melihatnya kemudian memandang Mike dengan wajah bertanya. “Ini namanya arthritis.” Mike membuka tas hitamnya dan mengeluarkan sebotol berisi pil. “Aku ada obat untuk mengurangi pembengkakan dan mengurangi sakit. Minumlah tiga kali sehari.” “Kamu ngga bisa menyembuhkannya?” “Ngga seluruhnya.” Pria itu nampak kecewa dan skeptis. Mike memberikan obat itu. “Obat ini akan membuatmu lebih baik, percayalah.” Mike tersenyum. “Ya paling tidak obat ini bisa berguna sampai dokter yang baru, datang.” “Dokter baru?” “Pendeta Johnson bilang kalau dia membuka lamaran untuk dokter baru.” Mike langsung menaiki kudanya dipacu menuju gereja. Maude, Mrs.Slicker, dan Emily sedang menjahit bed cover yang dibuat dari potonganpotongan kain. Seni menjahit ini disebut quilting. Mereka melakukan quilting di luar ruangan, karena udara cukup cerah membuat orang senang melakukan kegiatan di luar rumah. Pendeta Johnson berdiri di depan mereka menikmati hasil jahitan yang sudah terlihat. Mike berkuda mendekati kelompok ibu tersebut, tanpa turun dari kudanya dia menanyakan sesuatu pada pendeta Johnson. “Aku harus tahu kenapa kau membuat iklan lamaran untuk dokter yang baru ketika posisi itu masih dipegang oleh seseorang.” Mike protes. “Saya tidak bermaksud mengabaikanmu, Miss Quinn,” jawab pendeta dengan nada bingung. “DOKTER Quinn.” Tegas Mike. “…tapi itukan bergantung dari pendapat orang.”

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

“Pendapat siapa? Apakah anda menghitung jumlah pasien saya?” “Saya tidak tahu…” “Jake Slicker, Emily Donovan, Brian Cooper, Robert E….” “Saya rasa kita harus tenang….” “Saya cukup tenang, dan saya menunggu jawaban anda pak pendeta.” Mike tidak segera mendapat jawaban, karena Brian terlihat berlari-lari menghampirinya. “Dokter Mike…tolong!.” “Ma…Ma digigit ular berbisa di gudang bawah tanah.” Teriak anak itu cemas. Wajah Mike pucat pasi, segera dia memacu kudanya menuju rumah penginapan Charlotte, diikuti pendeta Johnson yang berlari-lari di belakanganya. Charlotte terbaring lemah di kamar tidurnya dalam kondisi pingsan. Sebuah kamar yang ditata sangat feminin, jendela kamar dihias korden tipis berenda warna putih, di sebelah kiri kanan tempat tidur terdapat meja kecil. Di atasnya terletak lampu minyak terbuat dari porselin. Napas Charlotte tersengal-sengal ketika Mike masuk kamar tidur itu diikuti pendeta Johnson dan Brian. Wajahnya pucat mengeluarkan keringat dingin, di tangan kanannya terlihat dua lubang kecil yang membengkak berwarna merah keunguan. Kedua anaknya menunggu dengan cemas di sampingnya. Mike memeriksa kelopak mata, pernafasan, dan beberapa organ vital lainnya dengan cermat. Wajah Mike berubah pucat dan cemas, namun dia berusaha mengendalikan diri. Mike menatap Matthew dan Colleen. “Matthew, tolong ambilkan sebaskom air dingin, dan bantal untuk menyangga tangannya,” kata Mike pelan berusaha mengendalikan suaranya. “Colleen, ambilkan segelas cider (jus apel).” “Dan…Brian naiklah ke tempat tidur pegang tangan ibumu dan temani aku,” suara Mike terdengar lembut ketika berbicara dengan si bungsu Brian. Brian segera menuruti perintah dokter Mike, naik ke tempat tidur ibunya, duduk di sampingnya membelai wajah Charlotte yang masih pucat. Wanita itu perlahan-lahan sadar. Di luar kamar tampak beberapa wanita diantaranya Maude dan Emily menunggu dengan cemas. Mike bertindak cepat semampunya. Dia menyiapkan beberapa obat yang dihaluskan dalam wadah porselin, sambil menghaluskan dia menatap pendeta dengan cemas. Pria itu segera mengerti apa yang dicemaskan Mike. Dia tampak berlutut mulai berdoa.

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

Charlotte masih mengalami kesulitan bernapas, namun dia berusaha berbicara. “Apa yang kalian lakukan di sini?” katanya lemah. “Kamu terkena gigitan ular rattler,” sahut Mike lembut. Charlotte tampak terkejut sesaat, namun wajahnya berubah pasrah. “Kamu akan segera sembuh…,” Mike berusaha menenangkan. “Benarkah…,” Charlotte tersenyum. Mathhew dan Colleen sudah kembali dengan barang yang diminta Mike. Dokter itu telah selesai menghaluskan obat racikannya dan memasukkan ke dalam segelas jus apel yang dibawa Colleen. “Minumkan…” Colleen berusaha menguatkan hati ibunya dan menyodorkan segelas jus apel di dekat mulut sang ibu. “Ayo Ma, kamu pasti kuat…minumlah obat dari dokter Mike.” Charlotte kelihatannya sudah tidak mampu menelan cairan. Colleen sangat cemas melihat kondisi ibunya. “Ma…!” Mike segera mendekati Charlotte dan memeriksa penapasannya menggunakan stateskop. Charlotte berusaha keras agar tidak kehilangan kesadarannya. Dia menatap wajah Mike yang sedang memeriksanya. “Dokter…Mike…” “Hush…istirahatlah…,” kata Mike. Dia tahu waktunya sudah dekat. Mike membelai lembut kepala Charlotte. “Dokter…Mike…,” suara Charlotte makin lemah. “Ya, Charlotte…” “Aku…ada…permohonan…” “Apa saja…” “Tolong…jaga…dan…rawat…anak…anakku…” bisik Charlotte. Mike terkejut, dia menatap pendeta Johnson, Matthew, Colleen, dan Brian. Mereka tampak heran dan cemas. Mike berusaha keras menguasai dirinya, rasa panik meliputi perasaannya. Mike mendekatkan wajahnya ke telinga wanita yang sedang sekarat itu.

Dheny Setiadi | http://www.tintabesi.com

“Charlotte jangan saya,..maksudku…ehmm…aku tidak tahu apapun tentang anak-anak, mengasuh anak, aku…aku tidak mendapatkannya ketika di sekolah kedokteran. Selain itu kamu akan segera sembuh,” Mike berusaha menenangkan wanita itu tapi sebenarnya dia sedang menenangkan dirinya. “Janji…berjanjilah…padaku.” Mike melihat sinar mata Charlotte yang mulai redup, wanita di hadapannya adalah sahabatnya, orang yang pertama kali menerima dan mendukungnya di daerah asing ini, dia sedang bergulat dengan maut. Mike tak kuasa menahan air matanya. “Oh…Charlotte…beban ini berat sekali buatku…sanggupkah aku?...kenapa kau mempercayaiku?...” “Aku janji.” Akhirnya Mike menyanggupi. Charlotte tersenyum mendengar janji sahabatnya. Pandangannya sudah mulai kabur, dia mencari ketiga anaknya dan tetap berusaha agar tidak jatuh pingsan. Tangannya menggapai mencari anak-anaknya. “Brian…Matthew…Colleen…” Charlotte menatap satu per satu anak-anaknya, meskipun dalam pandangannya hanya berupa bayangan buram. Mike dengan putus asa sibuk menggerus beberapa obat racikannya, dia masih berusaha memberikan pertolongan. Pendeta Johnson memegang tangan yang sibuk menggerus itu. Mike menatap ke arahnya, pria itu menggelengkan kepalanya perlahan. (Tamat. Dilanjutkan pada The New Family)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful