You are on page 1of 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Anak

merupakan

manusia

kecil

yang

memiliki

potensi

yang

harus

dikembangkan. Anak memiliki karakteristik tertentu yang khas dan tidak sama dengan
orang dewasa, mereka selalu aktif, dinamis, antusias dan ingin tahu terhadap apa yang
dilihat, didengar, dan dirasakan, mereka seolah-olah tidak pernah berhenti bereksplorasi
dan belajar. Anak bersifat egosentris, dan memiliki rasa ingin tahu secara alamiah. Anak
merupakan makhluk sosial, unik, kaya dengan fantasi, memiliki daya perhatian pendek,
dan memiliki masa yang paling potensial untuk belajar, maka dari itu upaya pendidikan
untuk kesehatan anak melalui Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan Puskesmas sangat penting karena akan sangat membantu anak dalam
tumbuh kembangnya ke masa depan. Anak yang sehat merupakan akar dari
pertumbuhan generasi muda yang kuat dan unggul untuk mengisi pembangunan suatu
Negara. Faktor yang kondusif untuk kesehatan anak ke masa depan adalah dengan
upaya pendidikan kesehatan anak sejak dini (Sujiono, 2009).
Pendidikan merupakan pengaruh lingkungan atas anak untuk menghasilkan
perubahan-perubahan yang tetap atau permanen didalam kebiasaan tingkah laku,
pikiran dan sikap seseorang anak. Kualitas pendidikan untuk anak berkaitan erat
dengan sumber daya manusia yang berkualitas pula. Sumber daya manusia yang
berkualitas adalah yang memiliki jasmani dan rohani yang sehat. Upaya pengembangan
sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat antara lain dengan melaksanakan
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) (Sujiono, 2009).

B. Tujuan penulisan makalah


1. Tujuan umum
Memahami dan mengetahui tentang usaha kesetan sekolah(UKS), dan

2. Tujuan khusus
a. Mengetahui pengertian usaha kesehatan
b. Mengetahui ruang lingkup kegiatan usaha kesehatan sekolah
c. Mengetahui tujuan usaha kesehatan sekolah
d. Mengetahui sasaran usaha kesehatan sekolah
e. Mengetahui kegiatan usaha kesehatan sekolah
f. mengetahui peran sekolah untuk meningkatkan kesehatan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan bangsabangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan,
jiwa, dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik,
mental, intelektual, emosional, dan sosial yang optimal dari seseorang. Dalam Undang
Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa
Kesehatan Sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat

peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar,
tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat
menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Sumantri (2007), peserta
didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan lingkungan yang sehat dan makan
makanan yang bergizi, sehingga akan tercapai manusia soleh, berilmu dan sehat (SIS).
Dalam proses belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi pada head,
heart dan hand, yaitu berkaitan dengan pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan.
Namun masih diperlukan faktor kesehatan (health) sehingga peserta didik memiliki 4 H
(head, heart, hand dan health).
Usaha Kesehatan

Sekolah (UKS) adalah

usaha

untuk membina

dan

mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah
yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative) melalui
program pendidikan dan penyuluhan kesehatan. UKS adalah bagian dari usaha
kesehatan pokok yang sesuia beban tugas puskesmas yang di tujukan kepada sekolahsekolah. Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik
sebagai subjek dan bukan hanya objek. Dengan UKS ini diharapkan mampu
menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong
orang lain. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programe.
Program dari anak, oleh anak, dan untuk anak untuk menciptakan anak yang
berkualitas.

B. Ruang lingkup kegiatan


Kegiatan utama usaha kesehatan sekolah di sebut dengan trias uks, yang terdiri
dari :
1. Pendidikan kesehatan
2. Pelayanan kesehatan

3. Pembinanan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat


Dengan demikian trias uks perpaduan antara pendidikan dengan upaya pelayanan
keseahatan. Pendidikan kesehatan merupakan upaya pendidikan kesehatan yang di
laksanakan sesuai dengan kurikulum sekolah. Pelayanan kesehatan merupakan upaya
kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan peserta didik agar dapat tumbuh dan
berkembang secara sehat, yang pada akhirnya dapat mningkatkan produktivitas belajar
dan berprestasi belajar. Sedangkan pembinaan lingkungan sekolah yang sehat
merupakan gabungan antara upaya pendidikan dan upaya kesehatan untuk dapat
diterapkan dalam lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari peserta didik.

C. Tujuan usaha kesehatan sekolah


Secara umum UKS bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar
peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat
kesehatan peserta didik. Selain itu juga menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga
memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam
rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas. Sedangkan secara khusus tujuan
UKS adalah menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat, meningkatkan
pengetahuan, mengubah sikap dan membentuk perilaku masyarakat sekolah yang sehat
dan mandiri. Di samping itu juga meningkatkan peran serta peserta didik dalam usaha
peningkatan kesehatan di sekolah dan rumah tangga serta lingkungan masyarakat,
meningkatkan keteramplan hidup sehat agar mampu melindungi diri dari pengaruh
buruk lingkungan.

D. Sasaran usaha kesehatan sekolah


Sasaran pelayanan UKS adalah seluruh peserta didik dari tingkat pendidikan:
1. Sekolah taman kanak-kanak
2. Pendidikan dasar

3. Pendidikan menengah
4. Pendidikan agama
5. Pendidikan kejuruan
6. Pendidikan khusus(sekolah luar biasa)
Untuk sekolah dasar pendidikan sekolah dasar di prioritaskan kelas I, III, dan
kelas VI. Alasannya adalah kelas I, merupakan fase penyusuaian dalam lingkungan
sekolah yang baru dan lepas dari pengawasan orang tua, kemungkinan kontak dengan
berbagai penyebab penyakit lebih besar karena ketidaktahuan dan ketidakmengertian
tentang kesehatan. Di samping itu kelas satu adalah yang lebih baik untuk di berika
imunisasi ulangan. Pada kelas I ini di lakukan penjaringan untuk mendeteksi
kemungkinan adanya kelainan yang mungkin timbul sehingga mempermudah
pengawasan untuk jenjang selanjutnya. Kelas III, di laksanakan di kelas III untuk
mengevaluasi hasil pelaksanaan hasil pelaksanaan uks di kelas satu dahulu dan
langkah-langkah selanjutnya yang akan di lakukan dalam program pembinaan uks.
Kelas VI, dalam rangka mempersiapkan kesehatan peserta didik ke jenjang pendidikan
selanjutnya, sehingga memerlukan pemeliharaan dan pemeriksaan kesehatan yang
ckup.
Untuk belajar dengan efektif peserta didik sebagai sasaran UKS memerlukan
kesehatan yang baik. Kesehatan menunjukkan keadaan yang sejahtera dari badan, jiwa,
dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Kesehatan bagi peserta didik merupakan sangat menentukan keberhasilan
belajarnya di sekolah, karena dengan kesehatan itu peserta didik dapat mengikuti
pembelajaran secara terus menerus. Kalau peserta didik tidak sehat bagaimana bisa
belajar dengan baik. Oleh karena itu kita mencermati konsep yang dikemukakan oleh
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bahwa salah satu indikator kualitas sumber daya
manusia itu adalah kesehatan, bukan hanya pendidikan. Ada tiga kualitas sumber daya
manusia, yaitu pendidikan yang berkaitan dengan berapa lama mengikuti pendidikan,
kesehatan yang berkaitan sumber daya manusianya, dan ekonomi yang berkaitan
dengan daya beli. Untuk tingkat ekonomi Indonesia masih berada pada urutan atau
ranking yang sangat rendah yaitu 108 pada tahun 2008, dibandingkan dengan negara-

negara tetangga. Kemajuan ekonomi suatu bangsa biasanya berkorelasi dengan tingkat
kesehatan masyarakatnya. Semakin maju perekonomiannya, maka bangsa itu semakin
baik pula tingkat kesehatannya. Oleh karena itu, jika tingkat ekonomi masih berada di
urutan yang rendah, maka tingkat kesehatan masyarakat pada umumnya belum sesuai
dengan harapan. Begitu pula dengan sumber daya manusianya yang diharapkan
berkualitas masih memerlukan proses dan usaha yang lebih keras lagi.
E. Kegiatan usaha kesehatan sekolah
Nemir mengelompokkan usaha kesehatan sekolah menjadi 3 kegiatan pokok, yaitu :
1. Pendidikan kesehatan sekolah
a.

Kegiatan intra kurikuler, maksudnya adalah pendidikan kesehatan

merupakan bagian dari kurikulum sekolah, dapat berupa mata pelajaran yang
berdiri sendiri seperti mata pelajaran ilmu kesehatan atau disisipkan dalam
ilmu-ilmu laen seperti olah raga dan kesehatan, ilmu pengetahuan alam, dan
sebagainya.
b. Kegiatan ekstra kurikuler, maksudnya adalah pendidikan kesehatan yang di
masukan dalam kegiatan-kegiatan ekstarakulikuler dalam rangka menanamkan
prilaku sehat peserta didik.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat berupa :
a. Penyuluhan kesehatan dari petugas puskesmas yang berkaitan dengan :
1)

Higien personal yang meliputi pemeliharaan gigi, dan mulut,

kebersihan kulit dan kuku, mata, telinga dan sebagainya.


2) Lomba poster sehat
3) Perlombaan kebersihan kelas
2. Pemeliharaan kesehatan sekolah

Pemeliharaan kesehatan sekolah, di maksudkan untuk memelihara , meningkatkan , dan


menemukan secara dini gangguan kesehatan yag mungkin terjadi terhadap peserta didik
maupun gurunya.
Pemeliharaan kesehatan di sekolah di lakukan oleh petugas pusekesmas yang
merupakan tim yang di bentuk di bawah coordinator UKS yang terdiri dari dokter,
perawat, juru imunisasi dan sebagainya. Dan untuk koordinasi untuk tingkat kecamatan
di bentuk tim Pembina usaha kesehatan sekolah (TPUKS). Kegitan-kegiatan yang di
lakukan adalah :
a.

Pemeriksaan kesehatan, yang meliputi gigi dan mulut, mata telingan dan

tenggorokan, kulit dan rambut dsb


b. Pemeriksaan perkembangan kecerdasan
c.

Pemberian imunisasi

d. Penemuan kasus-kasus dini yang mungkin terjadi


e.

Pengobatan sederhana

f.

Pertolongan pertama

g.

Rujukan bila menemukan kasus yang tidak dapat di tanggulangi di

sekolah termasuk juga adalah pemeliharaan dan pemeriksaan kesehatan guru.

F. Peran sekolah dalam meningkatkan kesehatan


Pada era globalisasi ini banyak tantangan bagi peserta didik yang dapat
mengancam kesehatan fisik dan jiwanya. Tidak sedikit anak yang menunjukkan
perilaku tidak sehat, seperti lebih suka mengkonsumsi makanan tidak sehat yang tinggi
lemak, gula, garam, rendah serat, meningkatkan risiko hipertensi, diabetes melitus dan
obesitas, dan sebagainya. Apalagi sebelum makan tidak mencuci tangan terlebih
dahulu, sehingga memungkinkan masukkan bibit penyakit ke dalam tubuh. Selain itu
meningkatnya perokok pemula, usia muda, atau usia peserta didik sekolah sehingga

risikonya akan mengakibatkan penyakit degeneratif. Perilaku tidak sehat lainnya yang
mengkhawatirkan adalah melakukan pergaulan bebas, sehingga terjerumus ke dalam
penyakit masyarakat seperti penggunaan narkoba atau tindakan kriminal. Apalagi
perilaku tidak sehat ini, disebabkan lingkungan yang tidak sehat, seperti kurang
bersihnya rumah, sekolah, atau lingkungan masyarakatnya.
Tantangan lain tentang perilaku tidak sehat muncul dari diri peserta didik sendiri.
Aktifitas fisik mereka kurang bergerak, olahraga pun kurang, malas sehingga tidak
bergairah baik di rumah maupun atau di sekolah. Peserta didik pun cenderung lebih
menyukai dan banyak menonton televisi, bermain videogames, dan play station,
sehingga mengakibatkan fisiknya kurang bugar. Akibatnya mereka rentan mengalami
sakit dan beresiko terhadap berbagai penyakit degeneratif di usia dini. Untuk itu
diperlukan fasilitas dan program pendidikan jasmani atau olah raga memadai dan
terprogram dengan baik, di sekolah dan di lingkungan masyarakat sekitar. Hal ini
sangat mendukung dan memungkinkan peserta didik untuk bergerak, berkreasi, dan
berolah raga dengan bebas, menyenangkan dan bermanfaat bagi kesehatan dan
kebugaran fisiknya. Kesehatan fisik peserta didik berkorelasi positif terhadap
kematangan emosi sosialnya. Guru atau orang tua perlu memberikan bekal yang
penting bagi peserta didik yaitu menciptakan kematangan emosi-sosialnya agar dapat
berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk
berhasil secara akademik. Peserta didik pun akan mampu mengendalikan stress yang
dialaminya, karena jika stress tidak dikendalikan akan menyebabkan timbulnya
berbagai penyakit dan akan menjadi kendala untuk keberhasilan belajarnya.
Untuk menghadapi berbagai tantangan yang dapat mengancam kesehatan fisik
dan jiwanya tersebut sekolah memilkki peran yang penting untuk menciptakan dan
meningkatkan kesehatan peserta didik. Upaya yang dilakukan antara lain dengan
menciptakan lingkungan Sekolah Sehat (Health Promoting School/HPS) melalui
UKS. Konsep inilah yang oleh Badan Kesehatan Dunia WHO disebut HPS (Health
Promoting Schools) atau Sekolah Promosi Kesehatan sehingga a health setting for
living, learning and working dengan tujuan (goal) Help School Become Health
Promoting Schools. Program UKS ini hendaknya dilaksanakan dengan baik sehingga
sekolah menjadi tempat yang dapat meningkatkan atau mempromosikan derajat
kesehatan peserta didiknya.

Menurut WHO (Depkes, 2008) ada enam ciri utama sekolah yang dapat
mempromosikan atau meningkatkan kesehatan, yaitu
1. Melibatkan semua pihak yang berkaitan dengan masalah kesehatan sekolah,
yaitu peserta didik, orang tua, dan para tokoh masyarakat maupun organisasiorganisasi di masyarakat.
2. Berusaha keras untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan aman, meliputi
sanitasi dan air yang cukup, bebas dari segala macam bentuk kekerasan, bebas
dari pengaruh negatif dan penyalahgunaan zat-zat berbahaya, suasana yang
mempedulikan pola asuh, rasa hormat dan percaya. Diciptakannya pekarangan
sekolah yang aman, adanya dukungan masyarakat sepenuhnya.
3. Memberikan pendidikan kesehatan dengan mengembangkan kurikulum yang
mampu meningkatkan sikap dan perilaku peserta didik yang positif terhadap
kesehatan, serta dapat mengembangkan berbagai keterampailan hidup yang
mendukung kesehatan fisik, mental dan sosial. Selain itu, memperhatikan
pentingnya pendidikan dan pelatihan untuk guru maupun orang tua.
4. Memberikan akses (kesempatan) untuk dilaksanakannya pelayanan kesehatan
di sekolah, yaitu penyaringan, diagnose dini, pemantauan dan perkembangan,
imunisasi, serta pengobatan sederhana. Selain itu, mengadakan kerja sama dengan
puskesmas setempat, dan mengadakan program-program makanan begizi dengan
memperhatikan keamanan makanan.
5.

Menerapkan kebijakan-kebijakan dan upaya-upaya di sekolah untuk

mempromosikan atau meningkatkan kesehatan, yaitu kebijakan yang didukung


oleh seluruh staf sekolah termasuk mewujudkan proses pembelajaran yang dapat
menciptakan lingkungan psikososial yang sehat bagi seluruh masyarakat sekolah.
Kebijakan berikutnya memberikan pelayanan yang ada untuk seluruh peserta
didik. Terakhir. kebijakan-kebijakan dalam penggunaan rokok, penyalahgunaan
narkotika termasuk alkohol serta pencegahan segala bentuk kekerasan/pelecehan.
6.

Bekerja keras untuk ikut atau berperan serta meningkatkan kesehatan

masyarakat, dengan cara memperhatikan masalah kesehatan yang terjadi di

masyarakat. Cara lainnya berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kesehatan


masyarakat.
Upaya mengembangkan Sekolah Sehat (Health Promoting School/HPS)
melalui program UKS perlu disosialisasikan dan dilakukan dengan baik. melalui
pelayanan kesehatan (yankes) yang didukung secara mantap dan memadai oleh sektor
terkait lainnya, seperti partisipasi masyarakat, dunia usaha, dan media massa. Sekolah
sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran harus menjadi HPS, yaitu sekolah
yang dapat meningkatkan derajat kesehatan warga sekolahnya. Upaya ini dilakukan
karena sekolah memiliki lingkungan kehidupan yang mencerminkan hidup sehat. Selain
itu,

mengupayakan

pelayanan

kesehatan

yang

optimal,

sehingga

terjamin

berlangsungnya proses pembelajaran dengan baik dan terciptanya kondisi yang


mendukung tercapainya kemampuan peserta didik untuk beperilaku hidup sehat. Semua
upaya ini akan tercapai bila sekolah dan lingkungan dibina dan dikembangkan.
Pembinaan lingkungan sekolah sehat dilakukan melalui pemeliharaan sarana fisik dan
lingkungan sekolah, melakukan pengadaan sarana sekolah yang mendukung terciptanya
lingkungan yang bersih dan sehat, melakukan kerja sama dengan masyarakat sekitar
sekolah yang mengandung lingkungan besih dan sehat, dan melakukan penataan
halaman, pekarangan, apotik hidup dan pasar sekolah yang aman.
Upaya lain yang dilakukan dalam pembinaan lingkungan sekolah sehat dan
promosi gaya hidup sehat melalui pendekatan life skills education atau pendidikan
kecakapan hidup. Setiap individu akan mengalami kehidupan yang sehat fisik dan
mentalnya apabila dapat menuntaskan tugas-tugas perkembangan sesuai dengan
usianya. Implikasi tugas perkembangan ini terhadap pendidikan adalah bahwa dalam
penyelenggaraan pendidikan perlu disusun struktur kurikulum yang muatannya dapat
memfasilitasi perkembangan kesehatan sebagai suatu kecakapan hidup (life skills).
Kecakapan hidup adalah kecakapan yang diperlukan untuk hidup. yang meliputi
pengetahuan, mental, fisik, sosial, dan lingkungan untuk mengembangkan dirinya
secara menyeluruh untuk bertahan hidup dalam berbagai keadaan dengan berhasil,
produktif, bahagia, dan bermartabat. WHO atau World Health Organization)
mendefinisikan kecakapan hidup sebagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat
beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu
menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam kehidupan secara lebih efektif.

Selain itu, dapat membantu seseorang menarik keputusan yang tepat, berkomunikasi
secara efektif, dan membangun keterampilan mengelola diri sendiri yang dapat
membantu mereka mencapai hidup yang sehat dan produktif. Sedangkan UNICEF
memberikan definisi tentang kecakapan hidup yang merujuk pada kecakapan psikososial dan interpersonal yang dapat membantu orang untuk mengambil keputusan yang
tepat, berkomunikasi secara effektif, memecahkan masalah, mengatur diri sendiri, dan
mengembangkan sikap hidup sehat dan produktif.
Pendidikan kecakapan hidup didasarkan atas konsep bahwa peserta didik perlu
learning to be (belajar untuk menjadi), learning to learn (belajar untuk belajar) atau
learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to live with others (belajar untuk
hidup bersama), dan learning to do (belajar untuk melakukan). Berdasarkan konsep ini,
kecakapan hidup terbagi atas empat kategori yaitu kecakapan hidup personal learning to
be), kecakapan hidup social (learning live with others), kecakapan hidup akademik
(learning to learn/ learning to know), dan kecakapan hidup vokasional (learning to do).
Kecakapan personal (personal skill), meliputi kecakapan dalam memahami diri
(self awareness skill) dan kecakapan berfikir (thinking skill). Bagi peserta didik
mempraktekkan kecakapan personal penting untuk membangun rasa percaya diri,
mengembangkan akhlak yang mulia, mengembangkan potensi, dan menanamkan kasih
sayang dan rasa hormat kepada orang lain. Kecakapan sosial (social skill), meliputi
kecakapan berkomunikasi (communication skill) dan kecakapan bekerja sama
(collaboration skill). Mempraktekkan kecakapan sosial penting untuk membantu
peserta didik mengembangkan hubungan yang positif, secara konstruktif mengelola
emosi dan meningkatkan partisipasi dalam kegiatan yang menguntungkan masyarakat.
Kecakapan akademik (academic skill) atau kecakapan intelektual. Mempraktekkan
kecakapan akademik penting untuk membantu peserta didik memperoleh kecakapan
ilmiah, teknologi dan analitis yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan dalam
lembaga pendidikan formal dan tempat kerja. Kecakapan vokasional (vocational skill)
atau kemampuan kejuruan terbagi atas kecakapan vokasional dasar (basic vocational
skill) dan kecakapan vokasional khusus (occupational skill). Mempraktekkan
kecakapan vokasional penting untuk membekali peserta didik dengan kecakapan teknis
dan sikap yang dituntut oleh perusahaan atau lembaga yang menyediakan lapangan
kerja.

Keempat jenis kecakapan hidup itu menghasilkan individu yang memiliki


kesehatan jasmani dan rokhani, lahir atau bathin yang diperlukan untuk bertahan dalam
lingkungan apa pun. Peserta didik memiliki kemampuan untuk memanfaatan semua
sumber daya secara optimal, sehingga akan meningkatkan kualitas pendidikan dan
kualitas hidupnya. Kecakapan hidup yang diperoleh oleh peserta didik melalui proses
belajar bukan terjadi begitu saja, dapat dipraktekkan oleh peserta didik dalam
kehidupan sehari-harinya dengan diberi contohnya oleh guru, orang tua dan anggota
masyakarat. Kecakapan hidup membantu peserta didik secara positif dan adaptif
mengatasi situasi dan tuntutan hidup sehari-hari. Untuk itu sekolah mengembangan
kecakapan hidup peserta didik antara lain menciptakan lingkungan sekolah yang sehat,
bekerja sama

dengan

masyarakat

menyediakan

berbagai

keperluan

sekolah

menciptakan dan meningkatkan kesehatan peserta didiknya, baik fisik maupun non
fisik.

G. Kebijakan dalam peningkatan implementasi dalam peningkatan usaha


kesehatan sekolah
Untuk mendukung peningkatan proses pembelajaran yang lebih baik, maka
program peningkatan kualitas jasmani dan pengembangan sekolah sehat akan terus
dilaksanakan. Sehingga dapat terbentuk peserta didik yang sehat dan bugar serta
sekolah yang memenuhi standar sekolah sehat. Cara yang dilakukan adalah
mengoptimalkan berbagai upaya pengembangan sekolah sehat antara lain dilakukan
upaya peningkatan kemampuan profesionalisme guru dan tenaga pendidik melalui
berbagai pelatihan, bimbingan dan penyuluhan, serta upaya-upaya sosialisasi dan
implementasi di bidang UKS, pendidikan kesehatan, pendidikan kecakapan hidup,
pendidikan jasmani dan kebugaran jasmani. Mengefektifkan pengkajian dan
pengembangan pendidikan antara lain dengan lebih memfokuskan upaya pengkajian
dalam rangka meningkatkan kemampuan hidup sehat, melaksanakan evaluasi yang
sesuai dengan upaya peningkatan kualitas jasmani dan pengembangan sekolah sehat.
Mengintensifkan pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antara
lain dengan memantapkan pengembangan program dalam rangka pengembangan ilmu
pengetahuan dan melaksanakan pengkajian dan pengembangan bidang pengukuran,
standarisasi, evaluasi dalam rangka upaya peningkatan kualitas jasmani dan

pengembangan sekolah sehat. Meningkatkan kegiatan analisis kajian kesegaran


jasmani, pendidikan jasmani dan pendidikan rekreasi yang dapat bermanfaat langsung
bagi peserta didik, tenaga kependikan dan masyarakat serta menunjang peningkatan
mutu pendidikan.

H. Cara melaksanakan pendidikan kesehatan di sekolah


Pendidikan kesehatan memiliki beberapa tujuan, yaitu memiliki pengetahuan
tentang isu kesehatan, memiliki nilai dan sikap positif terhadap prinsip hidup sehat,
memiliki keterampilan dalam pemeliharaan, pertolongan dan perawatan kesehatan,
memiliki kebiasaan hidup sehat, mampu menularkan perilaku hidup sehat, peserta didik
tumbuh kembang secara harmonis, menerapkan prinsip-prinsip pencegahan penyakit,
memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar, memiliki kesegaran jasmani
dan kesehatan yang optimal Tujuan pendidikan kesehatan tersebut akan tercapai dengan
melakukan berbagai cara pelaksanaannya.
Cara melaksanakan pendidikan kesehatan di sekolah dilakukan melalui penyajian
dan penanaman kebiasaan. Cara penyajian pendidikan lebih menekankan peran aktif
peserta didik melalui kegiatan ceramah, diskusi, demonstrasi, pembimbingan,
permainan, dan penugasan. Cara penanaman kebiasaan dilakukan melalui penugasan
untuk melalukan cara hidup sehat sehari-hari dan pengamatan terus menerus oleh guru
dan kepala sekolah. Keberhasilan pendidikan kesehatan ditentukan dengan adanya
keteladanan dan dorongan dari kepala sekolah, guru, pegawai sekolah, dan orang tua.
Keberhasilan itu juga ditentukan adanya hubungan guru dengan orang tua peserta didik,
apa yang diberikan oleh guru di sekolah hendaknya juga didukung oleh orang tua di
rumah.
Materi pendidikan kesehatan yang diajarkan di sekolah berbeda-beda disesuaikan
dengan jenjang pendidikannya. Materi pendidikan itu antara lain demam berdarah, flu
burung, pelayanan gizi, kesehatan gigi dan mulut, pengelolaan sampah, pengelolaan
tinja, sarana pembuangan limbah, pengelolaan air bersih, penyediaan air bersih, air dan
sanitasinya, pegenalan pada penyakit menular dan pencegahannya. Khusus untuk
peserta didik SMP/MTs dan SMA/SMK/MA ditambah dengan kesehatan reproduksi,

bahaya rokok dan deteksi dini penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, minuman
keras, dan bahan-bahan yang berbahaya serta zat adiktif (NAPZA) dan HIV/AIDS.
UKS dilaksanakan mulai dari TK/RA sampai SLTA/MA, serta dilaksanakan
secara berjenjang dari sekolah/madrasah sampai pusat secara terkoordinasi baik antara
sekolah dengan Tim Pembina, Tim Pembina UKS di bawahnya dengan yang di atasnya
maupun antar sesama Tim Pembina UKS yang sejajar. Kegiatan UKS di lingkungan
sekolah meliputi beberapa kegiatan, yang pertama adalah rapat koordinasi baik di
tingkat pusat, propinsi, kabupaten serta tim Pembina. Semua dilakukan dengan
mengundang para anggota tim Pembina UKS baik dari bidang kesehatan dalam negeri
maupun dari pendidikan nasional. Kedua, memberikan bantuan peningkatan kualitas
kesehatan madrasah, kemudian orientasi dokter kecil untuk MI, dan kader kesehatan
remaja untuk MTs dan MA. Pembinaan UKS oleh TPUKS (Tim Pembina UKS) masih
rendah dan belum merata. Pendidikan kesehatan berbasis kesehatan dengan program
usaha kesehatan sekolah atau pelaksanaan sekolah sehat ini, diharapkan menjadi bagian
dari pelaksanaan pendidikan, bukan hanya di madrasah tetapi juga di sekolah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Usaha kesehatan sekolah (UKS)adalah salah satu upaya membina dan
mngembangkan kebiasaan hidup yang sehat yang di lakukan secara terpadu melalui

program pendidikan dan pelayanan kesehatan di sekolah. Perguruan agama serta usahausaha yang dilakukan dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan kesehatan di
lingkungan sekolah.
Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan bangsabangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan,
jiwa, dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik,
mental, intelektual, emosional, dan sosial yang optimal dari seseorang. Dalam Undang
Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa
Kesehatan Sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat
peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar,
tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat
menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Sumantri, M. (2007)
peserta didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan lingkungan yang sehat dan
makan makanan yang bergizi, sehingga akan tercapai manusia soleh, berilmu dan sehat
(SIS). Dalam proses belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi pada
head, heart dan hand, yaitu berkaitan dengan pengetahuan, sikap/nilai dan
keterampilan. Namun masih diperlukan faktor kesehatan (health) sehingga peserta didik
memiliki 4 H (head, heart, hand dan health).

B. Kritikan dan saran

1. Dalam hal mencoba penyusunan makalah Unit Kegiatan Sekolah (UKS). Kami
sangat mengharapkan kritikan, saran, dan partisivasi yang membangun kepada kami,
agar penyusunan makalah ini bisa lengkap seperti yang kami dan ibu harapkan.
2. Hendak nya semua teman-teman dari Studi ilmu keperawatan leting 2008
Abulyatama aceh, dapat mengetahui Unit Kegiatan Sekolah dan mengaplikasikan ke
kawan-kawan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Sujiono, Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT
Mancana Jaya Cemerlang.
Effendy, Nasrul (1998), dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat, editor,
Yasmin
Asih - Ed 2 Jakarta : EGC
Mubarak, Wahid Iqbal & Chayatin, Nurul(2009) , ilmu kesehatan masyarakat : teori
dan
aplikasi, Jakarta : Salemba Medika
Departemen Kesehatan. (2008). Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan di Sekolah.
Jakarta:
Departemen Kesehatan.
Sumantri, M. (2007). Pendidikan Wanita. Dalam Ali, M., Ibrahim, R., Sukmadinata,
N.S.
dan Rasjidin, W. (Penyunting). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Handbook..
Bandung:
Pedagogiana Press (Halaman 1175 1186).
Depkes RI. Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota. http://bankdata.depkes.go.id

USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS)


Posted on October 18, 2010 by
Dr. Suparyanto, M.Kes
USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS)

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah Usaha Kesehatan Masyarakat yang ditujukan
kepada masyarakat sekolah, yaitu : anak didik, guru, dan karyawan sekolah lainnya
(Indan. 2000).

Yang dimaksud dengan sekolah adalah sekolah mulai sekolah dasar (SD) sampai
dengan sekolah lanjutan atas (SLA).

Prioritas pelaksanaan UKS diberikan kepada SD mengingat SD merupakan dasar dari


sekolah-sekolah lanjutannya (Indan. 2000).

Dasar titik tolak mengapa UKS perlu dijalankan


1. Golongan masyarakat usia sekolah (6-18 tahun) merupakan bagian yang besar dari
penduduk Indonesia (kurang lebih 29 %), di perkirakan 50 % dari jumlah tersebut
adalah anak-anak sekolah.
2. Masyarakat sekolah yang terdiri atas murid, guru serta orang tua murid merupakan
masyarakat yang paling peka (sensitif) terhadap pengaruh modernisasi dan tersebar
merata diseluruh Indonesia.
3. Anak-anak dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan sehingga masih mudah
dibina dan dibimbing.
4. Pendidikan kesehatan melalui masyarakat sekolah ternyata paling efektif diantara
usaha-usaha yang ada untuk mencapai kebiasaan hidup sehat dari masyarakat pada
umumnya, karena masyarakat sekolah :

Presentasinya tinggi

Terorganisir sehingga lebih mudah dicapai

Peka terhadap pendidikan dan pembaharuan

Dapat menyebabkan modernisasi

1. Masyarakat sehat yang akan datang adalah merupakan wujud dari sikap kebiasaan
hidup sehat serta keadaaan kesehatan yang dimiliki anak-anak masa kini.
2. Pembinaan kesehatan anak-anak sekolah (jasmani, rohani, dan sosial) merupakan
suatu invesment dalam bidang man power dalam Negara dan Bangsa Indonesia.

3. Undang-undang No. 9 tahun 1960 tentang pokok-pokok kesehatan bab I pasal 3 dan
bab II pasal 9 ayat 2 serta undang undang no. 12 tahun 1954 tentang pendidikan.
Tujuan Upaya Kesehatan Sekolah

Umum : mempertinggi nilai kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta


rehabilitasi anak-anak sekolah dan lingkungannya sehingga didapatkan anak-anak
yang sehat jasmani, rohani, dan sosialnya.

Khusus : mencapai keadaan sehat anak-anak sekolah dan lingkungannya sehingga


dapat memberikan kesempatan tumbuh dan berkembang secara harmonis serta belajar
secara efisien dan optimal.

Kegiatan-kegiatan Usaha kesehatan sekolah


1. Lingkungan kehidupan sekolah yang sehat (Health school living).

Bangunan dan perlengkapan sekolah yang sehat.

Kebersihan ruangan dan halaman sekolah.

Tersedianya kakus dan air yang memenuhi syarat kesehatan.

Hubungan yang baik antara guru, murid dan masyarakat/orang tua murid.

2. Pendidikan Kesehatan

Pendidikan tentang kesehatan perorangan dan lingkungan.

Pendidikan tentang pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.

Pendidikan tentang makanan sehat dan hidup yang teratur.

Pendidikan tentang sikap yang baik dan kebiasaan kebiasaan yang rapi.

Pendidikan tentang pencegahan kecelakaan.

3. Usaha Pemeliharaan kesehatan disekolah

Pemeriksaan kesehatan perorangan dan lingkungan secara berkala.

Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (vaksinasi dan sebagainya).

Usaha kesehatan gigi sekolah.

Mengirimkan anak-anak yang memerlukan perawatan khusus ke pihak yang lebih


ahli.

PPPK dan pengobatan sederhana.

Undang-undang pokok kesehatan tahun 1960


Bab 1 pasal 3

1. Pertumbuhan anak yang sempurna dalam lingkungan yang sehat adalah penting
untuk mencapai generasi yang sehat dan bangsa yang kuat.

2. Pengertian dan kesadaran rakyat tentang pemeliharaan dan perlindungan kesehatan


adalah sangat penting untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Bab II pasal 9 ayat 2

Pemerintah mewujudkan usaha-usaha khusus untuk keturunan dan pertumbuhan anak


yang sempurna, baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan sekolah,
serta lingkungan masyarakat remaja dan keolahragaan.

Undang-undang pokok pendidikan tahun 1954 no. 12

Membentuk manusia sosial yang cakap dan warga negara yang bertanggung jawab
tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

Perlengkapan PPPK (P3K)

Pertolongan pertama adalah suatu perawatan yang diberikan sementara menunggu


bantuan datang atau sebelum dibawa kerumah sakit atau puskesmas. Pertolongan
pertama pada dimaksudkan untuk menentramkan dan menyenangkan si korban
sebelum ditangani oleh orang yang lebih ahli. Diharapkan dengan keadaan yang lebih
tenang dan tenteram dapat mengurangi rasa sakit si korban (Yudiawan. 2002).

Perlengkapan P3K dibutuhkan pada saat perjalanan untuk menghindari masalah yang
lebih serius jika terjadi kecelakaan. Berikut beberapa perlengkapan P3K :

1. Plester luka (band aid)


2. Obat antiseptik (obat merah atau betadine) dan alkohol
3. Kain pembalut, kapas steril, kasa steril, perban kain, perban plastik, plester.
4. Bidai atau spalk
5. Gunting, pisau kecil, peniti
6. Sabun antiseptik
7. Snake bite kit untuk mengantisipasi gigitan ular
8. Obat antimalaria
9. Obat-obatan yang umum digunakan (obat penghilang rasa sakit, sakit kepala, demam,
influenza, batuk, maag, alergi, sakit perut, dan lain-lain).

10. Krim antisinar matahari (sunscreen)


11. Krim untuk luka bakar (bioplacenton), serta
12. Obat-obatan pribadi
Unsur-unsur yang terlibat dalam UKS

Menurut Adik Wibowo dkk. (1983 : 27-29) struktur organisasi UKS mengikuti
struktur organisasi Departemen Kesehatan RI, sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan No. 125/IV/Kab/B.U/1975 tertanggal 29 April 1975 yaitu :

Tingkat Pusat

Sub Direktorat Kesehatan Sekolah dan Olahraga, Direktorat Kesehatan Masyarakat


terdiri dari beberapa seksi yaitu : seksi kesehatan anak sekolah dan mahasiswa, seksi
kesehatan anak-anak luar biasa, seksi olahraga kesehatan, seksi pengembangan
metode. Fungsi dan tanggung jawabnya : membuat program kerja melakukan
koordinasi, melakukan bimbingan dan pengawasan pelaksanaan UKS di seluruh
Indonesia, mengusahakan bantuan teknis dan materiil, bersama-sama dengan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyusun kurikulum tentang kesehatan
pada umumnya dan Usaha Kesehatan Sekolah pada khususnya, menyelenggarakan
lokakarya, seminar, rapat kerja diskusi penataran dan lain-lain.

Tingkat Provinsi

Fungsi dan tanggung jawabnya adalah sebagai koordinator pelaksana UKS di tingkat
provinsi yang meliputi : membuat rencana program kerja, membuat bimbingan teknis,
melakukan koordinasi dan pengawasan, menerima laporan kegiatan dari tingkat
Kabupaten/ kota melaporkan kegiatan ke tingkat pusat, memberi bantuan materi dan
keuangan ke daerah tingkat II dan lain-lain usaha yang dianggap perlu.

Tingkat Kota / Kabupaten

Penanggung jawabnya adalah UKS pada Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Fungsi
dan tanggung jawabnya meliputi : membuat rencana kerja harian, melakukan
koordinasi kegiatan-kegiatan kesehatan yang ditujukan kepada anak didik dan
masyarakat sekolah, melakukan pengawasan pelaksanaan UKS di sekolah,
melaporkan kegiatan ditingkat provinsi, menyelenggarakan kursus-kursus kesehatan,
kursus UKS bagi guru, murid, dan petugas kesehatan setempat, memupuk kerjasama
baik pihak-pihak yang ada hubungannya dengan pelaksanaan UKS.

Usaha Kesehatan Sekolah di tingkat Puskesmas

Berdasar ketentuan yang ada maka Usaha Kesehatan Sekolah merupakan salah satu
unit dari puskesmas dimana kegiatan-kegiatan kesehatan dilaksanakan di wilayah
kerjanya.

Usaha Kesehatan Sekolah di tingkat Sekolah

Usaha Kesehatan Sekolah di tingkat sekolah merupakan wilayah kerja dimana


kegiatan tersebut dilaksanakan. Dari tingkat pelaksanaan UKS di sekolah-sekolah
hingga tingkat pusat, diperlukan organisasi yang baik. Untuk memperlancar usaha
pembinaan dan pengembangan, serta mencegah terjadinya tumpang tindih dari
berbagai kegiatan UKS sebaiknya diwujudkan dalam satu wadah atau badan.
Kerangka kerjasama pengorganisasian sistem kerja operasional UKS harus dipahami
sebaik-baiknya. Sebab, tidak sedikit sekolah atau guru yang beranggapan bahwa UKS
merupakan tugas dari petugas kesehatan saja atau sebalikya petugas kesehatan
menganggap UKS merupakan tanggung jawab jajaran pendidikan sekolah atau guru
semata-mata.

Memperhatikan kenyataan di lapangan, keberhasilan dalam pelaksanaan UKS melibatkan


berbagai instansi dari Departemen, instansi, dan badan-badan, seperti :
1. Departemen Dalam Negeri
2. Departemen Pendidikan Nasional
3. Departemen Kesehatan
4. Departemen Agama
Berbagai instansi dan badan-badan seperti :

Dinas Pendidikan Dasar, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum,Peternakan,


Pertanian , dan sosial.

POGM (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru)

Badan-badan/organisasi non pemerintah seperti PMI, Kepramukaan, mungkin juga


LSM.

Berbagai perusahan swasta yang ada hubungannya dengan usahakesehatan dan


kesejahteraan masyarakat.

Struktur UKS di Sekolah Dasar


Bagan struktur organisasi UKS di Sekolah Dasar dapat diketahui tugas dan kewajibannya
masing-masing. Antara lain :

Pembina berasal dari kata bina yang berarti mengusahakan agar lebih baik atau
sempurna. Dengan demikian pembina adalah orang atau subyek yang melakukan
usaha agar program yang dibina dapat menjadi lebih baik dan sempurna. Pembina
dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh kepala sekolah.

Ketua adalah orang yang menjadi pimpinan perkumpulan atau lembaga. Dengan
demikian ketua bertugas sebagai pemimpin dari UKS. Yang jabatannya masih
dibawah pembina. Ketua dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat
oleh dewan guru.

Sekretaris adalah orang yang mengurusi pekerjaan administrasi. Dalam hal ini
sekretaris bertugas mengurusi semua hal yang berhubungan dengan kegiatan
administrasi dalam organisasi UKS. Sekretaris dalam struktur organisasi UKS
Sekolah Dasar diatas dijabat oleh dewan guru.

Bendahara adalah orang yang mengurusi keuangan. Dalam hal ini bendahara bertugas
semua yang berhubungan dengan kegiatan keuangan dalam organisasi UKS.
Bendahara dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh dewan
guru.

Anggota adalah orang atau badan yang menjadi bagian suatu golongan yang berada
diluar kepengurusan organisasi. Dalam hal ini anggota menjadi bagian organisasi
UKS. (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Anggota dalam struktur organisasi UKS
Sekolah Dasar diatas terdiri dari siswa yang terpilih sebagai anggota UKS.

Anggaran (budgeting)

Dalam pengelolaan suatu organisasi, terlebih dahulu manajemen menetapkan tujuan


dan sasaran, dan kemudian membuat rencana kegiatan untuk mencapai tujuan dan
sasaran tersebut. Dampak keuangan yang diperkirakan akan terjadi sebagai akibat dari
rencana kerja tersebut, kemudian disusun dan dievaluasi melalui proses penyusunan
anggaran.

Adapun pengertian anggaran menurut Gunawan Adisaputro dan Marwan Asri (1989 :
6), adalah sebagai berikut : Suatu pendekatan yang formal dan sistematis daripada
pelaksanaan tanggung jawab manajemen di dalam perencanaan, koordinasi, dan
pengawasan. Pada dasarnya anggaran yang bermanfaat dan realistis tidak hanya
dapat membantu mempererat kerja sama karyawan, memperjelas kebijakan dan
merealisasikan rencana saja, tetapi juga dapat menciptakan keselarasan yang lebih
baik dalam perusahaan dan keserasian tujuan diantara para manajer dan bawahannya.

Lebih jelas lagi Munandar (2001 : 1), mengungkapkan pengertian anggaran adalah
sebagai berikut : Suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh
kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku
untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.

Dari pengertian anggaran yang telah diutarakan di atas dapatlah diketahui bahwa
anggaran merupakan hasil kerja (output) terutama berupa taksiran-taksiran yang akan
dilaksanakan di waktu yang akan dating. Karena suatu anggaran merupakan hasil
kerja (output), maka anggaran dituangkan dalam suatu naskah tulisan yang disusun
secara teratur dan sistematis. Secara lebih terperinci Munandar ( 2001 : 16)
menjelaskan proses kegiatan yang tercakup dalam anggaran sebagai berikut :

1. Pengumpulan data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun anggaran.


2. Pengelolaan dan penganalisaan data dan informasi tersebut untuk mengadakan
taksiran-takisiran dalam rangka menyusun anggaran.
3. Menyusun anggaran serta meyajikannya secara teratur dan sistematis

4. Pengkoordinasian pelaksanaan anggaran.


5. Pengumpulan data dan informasi untuk keperluan pengawasan kerja.
6. Pengolahan dan penganalisaan data tersebut untuk mengadakan interpretasi dan
memperoleh kesimpulan-kesimpulan dalam rangka mengadakan penilaian terhadap
kerja yang telah dilaksanakan.
Berdasarkan definisi-definisi dan pengertian anggaran dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Bahwa anggaran harus bersifat formal, artinya anggaran disusun dengan sengaja dan
bersungguh-sungguh dalam bentuk tertulis.
2. Bahwa anggaran harus bersifat sistematis, artinya anggaran disusun dengan berurutan
dan berdasarkan logika.
3. Bahwa suatu saat manajer dihadapkan pada suatu tanggung jawab untuk mengambil
keputusan.
4. Bahwa keputusan yang diambil oleh manajer tersebut merupakan pelaksanaan fungsi
manajer dari segi perencanaan, koordinasi dan pengawasan.
Kegunaan Anggaran

Anggaran disusun untuk membantu manajemen dalam kegiatan perencanaan dan


pengawasan. Manajemen yang baik tidak ingin menghadapi periode yang akan datang
dengan ketidakpastian.Menurut Munandar ( 2001 : 10 ), anggaran mempunyai
kegunaan pokok yaitu :

1. Sebagai pedoman kerja

Anggaran berfungsi sebagai pedoman kerja dan memberikan arah serta sekaligus
memberikan target-target yang harus dicapai oleh perusahaan/organisasi di waktu
yang akan datang.

2. Sebagai alat pengkoordinasian kerja

Anggaran berfungsi sebagai alat untuk pengkoordinasian kerja agar semua bagianbagian yang terdapat di dalam perusahaan/organisasi dapat saling menunjang, saling
bekerja sama dengan baik, untuk menuju kearah sasaran yang telah ditetapkan.

3. Sebagai alat pengawasan kerja

Anggaran berfungsi sebagai tolok ukur, sebagai pembanding untuk menilai (evaluasi)
realisasi kegiatan perusahaan. Untuk bisa penaksiran secara lebih akurat, diperlukan
sebagai data, informasi dan pengalaman yang merupakan faktor-faktor yang harus
dipertimbangkan dalam menyusun anggaran

Anggaran adalah suatu hal sangat penting, karena menguraikan tentang biaya-biaya
yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan, mulai dari persiapan sampai dengan
evaluasi.

Biasanya anggaran dikelompokkan menjadi :

Anggaran Personalia

Anggaran Operasional

Anggaran Sarana dan fasilitas

Anggaran Penilaian

DAFTAR PUSTAKA
1. Djatmiko, Yayat Hayati, Prof. Dr. (2008). Perilaku Organisasi. Bandung : Alfa Beta
2. Entjang, Indan, dr (2000). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT. Citra Aditya
Bakti.
3. Koentjoro, Tjahyono (2007). Regulasi Kesehatan di Indonesia. Jogjakarta : Andi
Offset.
4. Notoadmodjo, Soekidjo. (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.
5. Yuniar Tanti, Sip. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta : Agung Media mulia.
6. Sumarti, A.Ma.Pd.SD.(2008). Usaha
http://www.usahakesehatansekolah.com.

Kesehatan

Sekolah.

29

April

2010.

7. Moslem Medical Family (M2F). (2009). Usaha Kesehatan Sekolah. 29 April 2010.
http://id.wikipedia.org/wiki/Usaha_Kesehatan_Sekolah.
8. Keputusan Bersama Empat Menteri Tentang UKS. (2009). Tinjauan Usaha Kesehatan
Sekolah. 30 April 2010. http://tutorialkuliah.blogspot.com

USAHA KESEHATAN SEKOLAH


Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan
kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara
menyeluruh (comprehensive) dan terpadu (integrative).
Kebijakan UKS mengikuti kebijaksanaan umum Depkes RI. Pemerintah daerah
diberikan wewenang untuk menjalankan usaha kesehatan sekolah yang disesuaikan dengan
keadaan dan kemampuan daerah setempat, sesuai dengan usaha mewujudkan desentralisasi
dan otonomi daerah dalam usaha-usaha di bidang kesehatan (Depkes, 2001).
UKS dilakukan dengan kerjasama yang erat antara petugas kesehatan, petugas sekolah,
anak didik, pemerintah setempat, orang tua murid dan golongan-golongan lain dalam
masyarakat. Pada tanggal 23 Juli 2003, UKS telah dikukuhkan pelaksanaannya secara
terpadu lintas sector dan lintas program dalam surat keputusan bersama Menteri Pendidikan,
Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri dalam Negeri RI, nomor : 0408/U/1984,
Nomor : 74/Tn/1984, Nomor : 60 tahun 1984 tanggal 3 september 1984 tentang Pokok
Kebijaksanaan UKS (Wahyuni, 2008).
I.

Tujuan UKS
a.

Tujuan Umum
Meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik dengan meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik.

b. Tujuan Khusus
Menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat, meningkatkan pengetahuan,
mengubah sikap dan membentuk perilaku masyarakat sekolah yang sehat dan mandiri.
Meningkatkan peran serta peserta didik dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah dan
rumah tangga serta lingkungan masyarakat, meningkatkan keteramplan hidup sehat agar
mampu melindungi diri dari pengaruh buruk lingkungan.
II.

Sasaran UKS

Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS meliputi peserta didik sebagai sasaran
primer, guru pamong belajar/tutor orang tua, pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan
serta TP UKS di setiap jenjang sebagai sasaran sekunder. Sedangkan sasaran tertier adalah
lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah/TK/RA sampai SLTA/MA, termasuk
satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan tinggi agama serta pondok pesantren beserta
lingkungannya. Sasaran lainnya adalah sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan
pelayanan kesehatan. Sasaran tertier lainnya adalah lingkungan yang meliputi lingkungan
sekolah, keluarga dan masyarakat sekitar sekolah.
III.
Tiga Program Pokok UKS atau Trias UKS
1. Pendidikan Kesehatan
2. Pelayanan Kesehatan
3. Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat
1. Pendidikan Kesehatan
a. Pendidikan kesehatan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat tumbuh
kembang sesuai, selaras, seimbang dan sehat baik fisik, mental, sosial dan lingkungan melalui

b.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
c.

kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang diperlukan bagi peranannya saat ini
maupun di masa yang akan datang (Ananto, 2006).
Tujuan Pendidikan Kesehatan ialah agar peserta didik :
Memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan, termasuk cara hidup sehat dan teratur.
Memiliki nilai dan sikap yang positif terhadap prinsip hidup sehat.
Memiliki keterampilan dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan pemeliharaan,
pertolongan, dan perawatan kesehatan.
Memiliki kebiasaan dalam hidup sehari-hari yang sesuai dengan syarat kesehatan.
Memiliki kemampuan untuk menularkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Memiliki pertumbuhan termasuk bertambahnya tinggi badan dan berat badan yang
seimbang.
Mengerti dan dapat menerapkan prinsip-prinsip pencegahan penyakit dalam kaitannya
dengan kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.
Memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar.
Memilki tingkat kesegaran jasmani dan derajat kesehatan yang optimal serta mempunyai
daya tahan tubuh yang baik terhadap penyakit (Ananto, 2006, Depdiknas, 2006).
Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan
Pelaksanaan pendidikan kesehatan dapat diberikan melalui kegiatan kurikuler dan
kegiatan ekstrakurikuler. Penjelasannya adalah sebagai berikut :

Kegiatan intrakurikuler
Pelaksanaan pendidikan kesehatan pada jam pelajaran sesuai dengan Garis-garis besar
program pengajaran mata pelajaran sains dan ilmu pengetahuan sosial.
Pelaksanaannya dilakukan melalui peningkatan pengetahuan, penanaman nilai dan sikap
positif terhadap prinsip hidup sehat dan peningkatan keterampilan dalam melaksanakan hal
yang berkaitan dengan pemeliharaan pertolongan dan perawatan kesehatan.
Cakupan kegiatan intrakurikuler meliputi kebersihan dan kesehatan pribadi, makanan
bergizi, pendidikan kesehatan reproduksi, dan pengukuran tingkat kesegaran jasmani.
Kegiatan ekstrakurikuler
Kegiatan di luar jam pelajaran biasa (termasuk kegiatan pada waktu libur) yang dilakukan
di sekolah ataupun di luar sekolah dengan tujuan antara lain memperluas pengetahuan dan
keterampilan siswa serta melengkapi upaya pembinaan manusia Indonesia seutuhnya.
Kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan pendidikan kesehatan antara lain :
kemah, ceramah dan diskusi, apotek hidup, dan lain-lain. Kegiatan ekstrakurikuler yang
berkaitan dengan pelayanan kesehatan antara lain ; dokter kecil, Palang Merah Remaja
(PMR), dan lain-lain. Kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan pembinaan lingkungan
kehidupan sekolah sehat antara lain : kerja bakti kebersihan, lomba sekolah sehat, dan lainlain (Ananto, 2006, Depdiknas, 2006).
Metode Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan
Penyajian/ceramah
Penyajian materi menggunakan metode ceramah, diskusi, demontrasi, bimbingan, permainan
dan penugasan oleh guru dengan mengikutsertakan peran aktif peserta pelatihan.
Menanamkan Kebiasaan
Menanamkan kebiasaan dilakukan dengan penugasan untuk melakukan cara hidup sehari-hari
dan diadakan pemeriksaan serta pengamatan yang terus menerus dan berkelanjutan oleh guru
dan kepala sekolah serta petugas kesehatan (Ananto, 2006, Depdiknas, 2006).

2. Pelayanan Kesehatan
a. Pelayanan kesehatan di sekolah adalah upaya peningkatan (promotif), pencegahan (preventif),
pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilakukan secara serasi dan terpadu
terhadap peserta didik pada khususnya dan warga sekolah pada umumnya. Di bawah
koordinasi guru Pembina UKS dengan bimbingan teknis dan pengawasan puskesmas
setempat (Ananto, 2006).
b. Tujuan Pelayanan Kesehatan
- Tujuan Umum : meningkatnya derajat kesehatan peserta didik dan seluruh warga
masyarakat sekolah secara optimal.
- Tujuan Khusus
1) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan melakukan tindakan hidup sehat dalam rangka
membentuk perilaku hidup sehat.
2) Meningkatkan daya tahan tubuh peserta didik terhadap penyakit dan mencegah terjadinya
penyakit, kelainan dan cacat.
3) Menghentikan proses penyakit dan pencegahan komplikasi akibat penyakit/kelainan,
pengembaliannfungsi dan peningkatan kemampuan peserta didik yang cedera/cacat agar
dapat berfungsi optimal.
4) Meningkatkan pembinaan kesehatan, baik fisik, mental sosial maupun lingkungan (Ananto,
2006, Depdiknas, 2006).
c.

Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan


Kegiatannya dapat mencakup kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
1) Kegiatan Peningkatan (promotif)
Kegiatan peningkatan mencakup dokter kecil, Palang Merah Remaja (PMR), pembinaan
warung sekolah sehat dan pembinaan keteladanan berperilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS).
2) Kegiatan Pencegahan (preventif)
Mencakup pemeliharaan kesehatan yang bersifat umum maupun yang khusus untuk penyakitpenyakit tertentu, memonitor pertumbuhan peserta didik, imunisasi, usaha pencegahan
penularan penyakit, dan lain-lain.
3) Kegiatan penyembuhan dan pemulihan (kuratif dan rehabilitatif)
Mencakup diagnosa dini, pengobatan ringan, pertolongan pertama pada kecelakaan dan
pertolongan pertama pada penyakit dan rujukan medik (Ananto, 2006, Depdiknas,2006).
3. Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat
Pembinaannya mencakup lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat sekitar.
a. Program Pembinaan Lingkungan Sekolah
1) Lingkungan fisik sekolah
Meliputi penyediaan air bersih, pemeliharaan tempat penampungan air bersih,
pengadaan dan pemeliharaan tempat pembuangan sampah, pengadaan dan pemeliharaan air
limbah, pemeliharaan WC, pemeliharaan kamar mandi, ruang kelas, laboratorium, kantin ,
kebun sekolah dan lain-lain.
2)Lingkungan mental dan sosial
Meliputi konseling kesehatan, bakti sosial, darmawisata, karnaval, dan lain-lain.
b. Pembinaan lingkungan keluarga
Meliputi kunjungan rumah oleh pelaksana UKS dan ceramah kesehatan.
c. Pembinaan Masyarakat Sekitar

Meliputi pembinaan dengan cara pendekatan kemasyarakatan oleh kepala sekolah, guru
atau pembina UKS dengan cara membina hubungan baik atau kerjasama dengan masyarakat
atau lembaga masyarakat dan penyuluhan massa baik secara tatap muka maupun melalui
media cetak dan audio visual (Ananto, 2006, Depdiknas, 2006).
IV.

Strata Pelaksanaan UKS


Strata pelaksanaan UKS adalah jenjang atau tingkatan dari suatu kondisi sekolah dan atau
madrasah yang telah melaksanakan UKS, khususnya dalam mengembangkan tiga program
pokok UKS, yaitu pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan
sekolah sehat. Strata pelaksanaan UKS dibagi ke dalam 4 tingkatan yaitu strata minimal,
strata standar, strata optimal, dan strata paripurna. Setiap strata terdiri dari tiga variabel utama
yaitu tiga program pokok UKS yang terdiri dari Pendidikan Kesehatan, Pelayanan Kesehatan
dan Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat. setiap variabel diterapkan sejumlah indikator
(Ananto, 2006, Depdiknas, 2006).
1.

Pendidikan Kesehatan
Jenjangnya meliputi strata minimal, standar, optimal dan paripurna. Adapun
pengkategoriannya adalah sebagai berikut :
a) Strata Minimal meliputi pendidikan jasmani dilaksanakan secara kurikuler, pendidikan
kesehatan dilakukan secara kurikuler, guru membuat rencana pembelajaran pendidikan
kesehatan dan adanya buku pegangan guru dan bacaan tentang pendidikan kesehatan.
b) Strata Standar ,meliputi dipenuhinya strata minimal dan memiliki guru mata pelajaran jasmani
c) Strata Optimal meliputi dipenuhinya strata standar, pendidikan kesehatan terintegrasi pada
mata pelajaran lain, pendidikan kesehatan dilaksanakan secara ekstrakurikuler , memiliki alat
peraga pendidikan kesehatan, memiliki media pendidikan kesehatan (poster dan lain-lain).
d) Strata Paripurna meliputi dilaksanakannnya strata optimal, memiliki guru Pembina UKS,
adanya program kemitraan pendidikan kesehatan dengan instansi terkait seperti Puskesmas,
Kepolisian, Palang Merah Indonesia (PMI), Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) pertanian,
dan lain-lain (Ananto, 2006, Depdiknas 2006).
2.

Pelayanan Kesehatan
Jenjangnya meliputi strata minimal, standar, optimal dan paripurna. Adapun
pengkategoriannya adalah sebagai berikut :
a) Strata Minimal meliputi dilaksanakannya penyuluhan kesehatan, dilaksanakannya imunisasi,
penyuluhan kesehatan gigi dan sikat gigi masal minimal kelas 1, 2, 3 SD.
b) Strata standar meliputi dilaksanakannya strata minimal, ada penjaringan kesehatan,
pemeriksaan kesehatan berkala tiap 6 bulan, termasuk pengukuran tinggi dan berat badan,
pencatatan hasil pemeriksaan kesehatan siswa pada buku Kartu Menuju Sehat (KMS), ada
rujukan bila diperlukan, ada dokter kecil, melaksanakan Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (P3K), dan pengawasan warung/kantin sekolah
c) Strata Optimal meliputi memenuhi strata standar, dana sehat/dana UKS, dan pelayanan medik
gigi dasar atas permintaan siswa
d)Strata Paripurna meliputi memenuhi strata optimal, konseling Kesehatan Remaja bagi siswa,
pengukuran tingkat kesegaran jasmani (Ananto, 2006, Depdiknas, 2006).
3.

Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat


Jenjangnya meliputi strata minimal, standar, optimal dan paripurna. Adapun
pengkategoriannya adalah sebagai berikut :
a) Strata Minimal meliputi ada air bersih, ada tempat cuci tangan , ada WC/jamban yang
berfungsi, ada tempat sampah, ada saluran pembuangan air kotor yang berfungsi, ada

halaman/pekarangan/lapangan, memiliki pojok UKS, melakukan kegiatan mengubur,


menguras dan membakar (3M) plus sekali seminggu.
b) Strata Standar meliputi memenuhi strata minimal, ada kantin/warung sekolah, memiliki pagar,
ada penghijauan/perindangan, ada air bersih di sekolah dengan jumlah yang cukup, memiliki
ruang UKS tersendiri, dengan peralatan sederhana, memiliki tempat ibadah, lingkungan
sekolah bebas jentik, jarak papan tulis dengan bangku terdepan 2,5 m, dan melaksanakan
pembinaan sekolah kawasan tanpa rokok, bebas narkoba dan miras
c) Strata Optimal meliputi memenuhi strata standar, ada tempat cuci tangan di beberapa tempat
dengan air mengalir/kran, ada tempat cuci peralatan masal/makan di kantin/warung sekolah,
ada petugas kantin yang bersih dan sehat, ada tempat sampah di tiap kelas dan tempat
penampungan sampah akhir di sekolah, ada jamban/WC siswa dan guru yang memenuhi
syarat kesehatan dan kebersihan, ada halaman yang cukup luas untuk upacara dan
berolahraga, ada pagar yang aman , memilki ruang UKS tersendiri dengan peralatan yang
lengkap, dan terciptanya sekolah kawasan tanpa rokok, bebas narkoba dan miras.
d) Strata Paripurna meliputi memenuhi strata optimal, ada tempat cuci tangan di setiap kelas
dengan air mengalir/kran dan dilengkapi sabun, ada kantin dengan menu gizi seimbang
dengan petugas kantin yang terlatih , ada air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, sampah
langsung diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan sampah di luar sekolah/umum, ratio
WC : siswa 1 : 20, saluran pembuangan air tertutup ada pagar yang aman dan indah, ada
taman/kebun sekolah yang dimanfaatkan dan diberi label (untuk sarana belajar) dan
pengolahan hasil kebun sekolah, ruang kelas memenuhi syarat kesehatan (ventilasi dan
pencahayaan cukup), ratio kepadatan siswa 1 : 1,5-1,75 m 2, dan memiliki ruang dan peralatan
UKS yang ideal (Ananto, 2006, Depdiknas, 2006).
V.

Sarana dan Prasarana Usaha Kesehatan Sekolah


Mengenai sarana dan prasarana usaha kesehatan sekolah dijelaskan oleh Djonet Soetatmo
(1982, 122-123) meliputi :
1. Ruang UKS atau klinik sekolah
2. Alat-alat pemeriksaan yang diperlukan
3. Alat-alat PPPK
4. Obat-obatan sehari-hari yang diperlukan

VI.

Indikator Keberhasilan Program UKS


Variabel

Indikator Keberhasilan

I. Masukan
1. Tenaga

2. Dana
3. Sarana

Tersedianya tenaga pelaksana :


Dokter : 1 Orang
Perawat : 1 Orang
Dokter gigi : 1 Orang
Tenaga Administrasi : 1 Orang
Guru UKS : 1 Orang di tiap sekolah
Dana untuk pelaksanaan program diperoleh
dari Dana Sehat Sekolah dan APBD
Lemari, tempat tidur, timbangan berat badan,
meteran tinggi badan, kartu snellen,

termometer

4. Metode
a. Pendidikan Kesehatan
- Kegiatan Dokter Kecil

1.
-

- Kegiatan PMR

Buku UKS yang memuat :


Identitas peserta didik
Pencatatan oleh guru
Pencatatan oleh perawat, perawat gigi
Pencatatan oleh dokter
Kesegaran jasmani
Jadwal berobat ke puskesmas
Berat badan dan tinggi badan anak sekolah
Kartu pemeriksaan kesehatan gigi
Kegiatan pengobatan
Kesimpulan

Pelatihan kesehatan kepada peserta didik sesuai


persyaratan dan modul pelatihan sebanyak 10%
dari peserta didik
Pelatihan Kepalangmerahan sesuai modul
pelatihan PMI dan ada aktivitas PMR sesuai
fungsi

Variabel
- Penyuluhan kesehatan di sekolah
- Guru UKS terlatih
- Kampanye kesehatan
b. Pelayanan Kesehatan
- Screening Kesehatan bagi peserta
didik kelas I SD

- Pelaksanaan BIAS

Indikator Keberhasilan
Ceramah kesehatan, dialog, nasehat, atau
diskusi dan dapat melalui informasi (leaflet,
poster) oleh perawat UKS kepada sekolah
Membina guru sekolah dengan pelatihan UKS
Menggerakkan warga sekolah dalam perilaku
sehat

Dengan cara pemeriksaan umum kesehatan


bagi peserta didik yang baru masuk sekolah
(kelas I) oleh tim screening (dokter, dokter gigi,
paramedis, dan guru)
Pemberian booster DT pada peserta didik,
dosis 0,5 cc dengan suntikan intramuscular
(IM) pada anak kelas I SD
Pemberian booster TT pada peserta didik, dosis
0,5 cc dengan suntikan intramuscular (IM)

pada anak kelas II dan III SD


- Usaha Kesehatan Gigi Sekolah

Pemberian imunisasi campak pada peserta


didik, dosis 0,5 cc dengan suntikan
intramuscular (IM) pada anak kelas I SD

- Pemeriksaan Status Gizi dengan


melaksanakan pengukuran TB dan Tim UKGS melakukan pemeriksaan gigi,
BB
memberikan tindakan/perawatan kesehatan gigi
di sekolah kepada peserta didik
- Pemeriksaan Visus
Mengukur tinggi badan dan berat badan oleh
TP UKS

Variabel

Pemeriksaan mata peserta didik dengan kartu


snellen oleh TP UKS
Indikator Keberhasilan

- Konseling Kesehatan Remaja

Kegiatan konseling peserta didik dan remaja di


sekolah, berkaitan dengan permasalahan
kesehatan oleh guru BK, guru UKS, psikolog
c. Pembinaan Lingkungan Sekolah
atau petugas puskesmas sebagai konselor.
Sehat
- Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN)

- Sekolah Penegak Aturan Kawasan


Tanpa Asap Rokok

Warga sekolah melaksanakan kegiatan


pemberantasan sarang nyamuk yang terjadwal
di lingkungan sekolah selama 40x/tahun.

Sekolah memberikan aturan untuk tidak


merokok di lingkungan sekolah dan
- Sekolah Penegak Aturan Kawasan memberikan sanksi bagi yang melanggarnya.
Larangan Penyalahgunaan NAPZA
Sekolah memberikan aturan untuk tidak
menggunakan NAPZA di lingkungan sekolah
dan
memberikan
sanksi
bagi
yang
- Warung Sekolah Sehat
melanggarnya.
Terdapat warung sekolah yang memiliki ruang
dan perlengkapan, sarana pencucian dengan air
mengalir, tidak menggunakan bahan berbahaya

Variabel
II. Proses
1. Perencanaan
a. Pendidikan kesehatan
- Dokter kecil / KKR
-

PMR

Penyuluhan kesehatan

Guru UKS terlatih

Kampanye Kesehatan

b. Pelayanan Kesehatan
- Screening Kesehatan bagi peserta
didik kelas I SD
- Pelaksanaan BIAS

- Usaha Kesehatan Gigi Sekolah

Indikator Keberhasilan

Pelatihan oleh dokter Puskesmas, TP UKS,


maupun guru UKS 1 kali/tahun
Pelatihan oleh dokter Puskesmas, TP UKS,
maupun guru UKS 1 kali/tahun
Dilakukan setiap kali ada kegiatan oleh
Puskesmas di sekolah
1 guru tiap sekolah, dibina oleh petugas dari
Puskesmas
Dengan mengikuti Lomba Sekolah Sehat yang
diadakan satu kali setiap tahun pada saat mulai
tahun ajaran baru

Dilakukan 1 kali tiap sekolah setiap awal tahun


ajaran baru oleh tim skrining
Dilakukan setiap tahun pada bulan November
untuk pemberian imunisasi DT untuk siswa
kelas I SD dan TT untuk kelas II dan III SD
dan bulan Februari untuk pemberian campak
pada kelas I SD.

- Pemeriksaan Status Gizi dengan Dilakukan 6 bulan sekali di setiap sekolah,


melaksanakan pengukuran TB dan yakni pada awal tahun ajaran baru dan pada
BB
pertengahan tahun ajaran oleh tim UKGS
- Pemeriksaan Visus

Dilakukan 6 bulan sekali di setiap sekolah,


yakni pada awal tahun ajaran baru dan pada
pertengahan tahun ajaran oleh tim UKGS

Dilakukan 6 bulan sekali di setiap sekolah,


yakni pada awal tahun ajaran baru dan pada
pertengahan tahun ajaran oleh tim UKGS

Variabel
- Konseling Kesehatan Remaja
c.

Indikator Keberhasilan
Dilakukan atas permintaan, dibimbing oleh
guru BK, guru UKS, TP UKS maupun
psikolog

Pembinaan Lingkungan Sekolah


Sehat
- Pemberantasan Sarang Nyamuk
Dilakukan setiap minggu pada hari Jumat
(PSN)
(Jumat bersih) dengan melaksanakan 3M
- Sekolah Penegak Aturan Kawasan
Dilakukan dengan memasang spanduk atau
Tanpa Asap Rokok
tanda dilarangnya merokok di lingkungan
sekolah
- Sekolah Penegak Aturan Kawasan
Larangan Penyalahgunaan NAPZA
Dilakukan dengan memasang spanduk atau
tanda
dilarangnya
membawa
atau
- Warung Sekolah Sehat
menggunakan NAPZA di lingkungan sekolah

2. Perorganisasian
- Dokter

- Perawat
- Dokter Gigi

Dengan menyediakan warung dimana terdapat


perlengkapan, sarana pencucian dengan air
mengalir dan tidak menggunakan bahan
berbahaya

Bertugas mengawasi jalannya program UKS


dan melakukan pembinaan serta pelatihan dan
pelayanan kesehatan

- Tenaga Administrasi

Bertugas membina, melatih dan melakukan


pelayanan kesehatan dalam program UKS

- Guru UKS

Bertugas melakukan pelayanan kesehatan


Bertugas membuat laporan mengenai kegiatankegiatan yang dilakukan
Bertugas membina dan mengawasi jalannya
program UKS di sekolah masing-masing

Variabel

Indikator Keberhasilan

3. Pelaksanaan
a. Pendidikan kesehatan
-

Dokter kecil / KKR

PMR

Penyuluhan kesehatan

Pelatihan oleh dokter Puskesmas, TP UKS,


maupun guru UKS 1 kali/tahun
Pelatihan oleh dokter Puskesmas, TP UKS,
maupun guru UKS 1 kali/tahun

Guru UKS terlatih

Dilakukan setiap kali ada kegiatan oleh


Puskesmas di sekolah
1 guru tiap sekolah, dibina oleh petugas
dari Puskesmas

Kampanye Kesehatan
Dengan mengikuti Lomba Sekolah Sehat
yang diadakan satu kali setiap tahun pada
saat mulai tahun ajaran baru

b. Pelayanan Kesehatan
- Screening Kesehatan bagi peserta
didik kelas I SD
Dilakukan 1 kali tiap sekolah setiap awal
tahun ajaran baru oleh tim skrining
- Pelaksanaan BIAS

Dilakukan setiap tahun pada bulan


November untuk pemberian imunisasi DT
untuk siswa kelas I SD dan TT untuk kelas
II dan III SD dan bulan Februari untuk
pemberian campak pada kelas I SD.

- Usaha Kesehatan Gigi Sekolah


Dilakukan 6 bulan sekali di setiap sekolah,
yakni pada awal tahun ajaran baru dan
pada pertengahan tahun ajaran oleh tim
UKGS

Variabel
-

Indikator Keberhasilan

Pemeriksaan Status Gizi dengan Dilakukan 6 bulan sekali di setiap sekolah,

melaksanakan pengukuran TB dan BB

Pemeriksaan Visus

- Konseling Kesehatan Remaja


d. Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat

yakni pada awal tahun ajaran baru dan


pada pertengahan tahun ajaran oleh tim
UKGS
Dilakukan 6 bulan sekali di setiap sekolah,
yakni pada awal tahun ajaran baru dan
pada pertengahan tahun ajaran oleh tim
UKGS
Dilakukan atas permintaan, dibimbing oleh
guru BK, guru UKS, TP UKS maupun
psikolog

- Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)


- Sekolah Penegak Aturan Kawasan
Dilakukan setiap minggu pada hari Jumat
Tanpa Asap Rokok
(Jumat bersih) dengan melaksanakan 3M
- Sekolah Penegak Aturan Kawasan Dilakukan dengan memasang spanduk atau
tanda dilarangnya merokok di lingkungan
Larangan Penyalahgunaan NAPZA
sekolah
- Warung Sekolah Sehat

4. Pengawasan

Dilakukan dengan memasang spanduk atau


tanda
dilarangnya
membawa
atau
menggunakan NAPZA di lingkungan
sekolah
Dengan menyediakan warung dimana
terdapat perlengkapan, sarana pencucian
dengan
air
mengalir
dan
tidak
menggunakan bahan berbahaya
Laporan
dilakukan
tiap
semester
(2x/tahun), yaitu laporan Januari Juli dan
Juli Desember

Variabel
III.
Keluaran
1. Pendidikan Kesehatan
- Cakupan sekolah dengan dokter kecil /
kader kesehatan remaja
- Cakupan sekolah dengan program PMR

Indikator Keberhasilan

80%

Cakupan sekolah yang melakukan


kegiatan penyuluhan
- Cakupan sekolah dengan guru UKS
terlatih
- Cakupan sekolah yang melaksanakan
kampanye kesehatan
2. Pelayanan Kesehatan
Cakupan sekolah melakukan skrining
kesehatan bagi peserta didik kelas I SD
Cakupan sekolah melaksanakan BIAS

75 %
100%

100%

100%

UKGS berkala
- Pemeriksaan Status Gizi berkala dengan
melaksanakan pengukuran TB dan BB
- Pemeriksaan Visus

100 %

100%

- Kegiatan Konseling Kesehatan Remaja


100%
100%

100%
60%

Variabel

Indikator Keberhasilan

3. Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat


- Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
- Sekolah Penegak Aturan Kawasan
Tanpa Asap Rokok

100%

100%
- Sekolah Penegak Aturan Kawasan
Larangan Penyalahgunaan NAPZA
100%

- Warung Sekolah Sehat


IV. Lingkungan
a.

100%

Lingkungan fisik

Tersedianya
air
bersih,
adanya
pembuangan air limbah, teratasinya
sampah dan kotoran, lingkungan bebas dari
vektor penyakit dan tercapainya 6K
(kebersihan,
keamanan,
ketertiban,
kenyamanan, keindahan dan kekeluargaan)
di lingkungan sekolah

b. Lingkungan non-fisik
Umpan Balik

Lingkungan mental, sosial, yang terbina


dengan baik, terhindarnya penyalahgunaan
NAPZA, merokok dan kenakalan remaja

VI. Dampak
a) Langsung

Berasal dari laporan yang dibuat tiap


semester, yakni 2x/tahun

b) Tidak langsung
-

VII.

Menurunnya angka absensi sakit peserta


didik
Memiliki pengetahuan, sikap, untuk
melaksanakan perilaku hidup bersih dan
sehat
Sehat baik arti fisik, mental maupun sosial
Memilki daya tangkal terhadap pengaruh
buruk terhadap penyalahgunaan NAPZA,
rokok dan sebagainya
Meningkatnya derajat kesehatan peserta
didik
Terciptanya lingkungan sehat sehingga
memungkinkan tumbuh kembang peserta
didik yang optimal

Struktur UKS di Sekolah Dasar

Pembina berasal dari kata bina yang berarti mengusahakan agar lebih baik atau sempurna.
Dengan demikian pembina adalah orang atau subyek yang melakukan usaha agar program
yang dibina dapat menjadi lebih baik dan sempurna. Pembina dalam struktur organisasi UKS
Sekolah Dasar diatas dijabat oleh kepala sekolah.

Ketua adalah orang yang menjadi pimpinan perkumpulan atau lembaga. Dengan demikian
ketua bertugas sebagai pemimpin dari UKS. Yang jabatannya masih dibawah pembina. Ketua
dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh dewan guru.
Sekretaris adalah orang yang mengurusi pekerjaan administrasi. Dalam hal ini sekretaris
bertugas mengurusi semua hal yang berhubungan dengan kegiatan administrasi dalam
organisasi UKS. Sekretaris dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh
dewan guru.
Bendahara adalah orang yang mengurusi keuangan. Dalam hal ini bendahara bertugas semua
yang berhubungan dengan kegiatan keuangan dalam organisasi UKS. Bendahara dalam
struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh dewan guru.
Anggota adalah orang atau badan yang menjadi bagian suatu golongan yang berada diluar
kepengurusan organisasi. Dalam hal ini anggota menjadi bagian organisasi UKS. Anggota
dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas terdiri dari siswa yang terpilih sebagai
anggota UKS.

DAFTAR PUSTAKA
Ananto, Purnomo. 2006.
Jakarta : Departemen Kesehatan.

___________________________________________.

Departemen Kesehatan. 2008. Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan di Sekolah.


Jakarta: Departemen Kesehatan.
Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri. Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan dan
Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah.
Sumantri, M. 2007. Pendidikan Wanita. Dalam Ali, M., Ibrahim, R., Sukmadinata,
N.S., dan Rasjidin, W. (Penyunting). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Handbook.. Bandung:
Pedagogiana Press (Halaman 1175 1186)
Tohar, Billy Anthony. ________. Evaluasi Program UKS. Tersedia online dalam :
http://www.scribd.com/doc/24368822/UKS-Billy diakses pada tanggal 29 Februari 2011