You are on page 1of 2

Student Name: Mila Mujaadilah

Student ID/Matriculation Number: 29115053


Email Address: mila.mujaadilah@sbm-itb.ac.id
Lecture 2: Employment and Labor Law
Assignment (Home Work) and Work Sheet: Role Playing Game; Mass Layoff
Materials: Read van Voss GJJH and Tjandra S, Bab-bab tentang hukum perburuhan Indonesia
(Pustaka Larasan 2012) Kasus 4 (PHK Massal)

Position as Labor Union

Dari kasus disebutkan bahwa perjanjian kerja bersama (PKB) antara PT. indosiar visual
mandiri dengan Serikat Karyawan (SEKAR) Indosiar untuk mengubah Peraturan Perusahaan
(PP) dinilai menolak melaksanakan PKB tersebut terkait pemenuhan hak-hak karyawan yang
dalam PP sebelumnya kurang.
Dari hasil persidangan, dimana SEKAR melakukan tuntutan untuk memenuhi
pelaksanaannya sesuai haknya di PKB yang baru, hakim mengabulkan gugatan PHK dari PT.
indosiar visual mandiri dan sebanyak 300 orang dan 22 orang dari SEKAR mendapat phk
massal.
Pada kasus tersebut terdapat uraian fakta untuk serikat pekerja:
1.
2.

3.

4.

5.

6.

Manajemen PT Indosiar Visual Mandiri tidak dapat membuktikan adanya kerugian


selama masa 2 (dua) tahun terakhir secara berturut-turut
Pengurangan karyawan (rasionalisasi) yang dilakukan oleh manajemen perusahaan
sangat bertentangan dengan fakta persidangan yang menyebutkan bahwa karyawan
tidak pernah melihat pengumuman terkait rasionalisasi tersebut.
Majelis hakim dianggap keliru dalam menilai pengumuman pengunduran diri
secara terhormat(rasionalisasi) yang dilakukan PT Indosiar, padahal mereka tidak
dapat membuktikan dalil program rasionalisasi tersebut. Manajemen PT Indosiar
yang dipimpin oleh Handoko yang dengan mudahnya melakukan PHK dan
memberangus serikat pekerja (SEKAR) Indosiar.
Di persidangan manajemen Indosiar tidak dapat membuktikan klaim bahwa mereka
telah mendapat izin melakukan pemutusan hubungan kerja kepada 300 orang
karyawan.
Majelis hakim sama sekali tidak mempertimbangakan 7 (tujuh) butir tuntutan Sekar
Indosiar, sebagaimana anjuran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dirjen PHI
serta Direktur Pengupahan dan Jamsostek. Hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP)
dengan anggota Komisi IX DPR RI sebanyak 2 (dua) kali dan kunjungan sidak
implementasi hak-hak normatif pekerja di Indosiar (11/03/2010) juga tidak
diindahkan oleh manajemen Indosiar.
Majelis Hakim tidak peka dengan upaya pemberangusan aktivitas serikat pekerja
terhadap Sekar Indosiar. Sebab 100 orang karyawan yang di putus hubungan
kerjanya termasuk 22 orang di antaranya adalah anggota Sekar Indosiar.

7.

Menurut Dicky Irawan selaku ketua SEKAR Indosiar merasa bahwa majelis hakim
turut serta memberangus aktivitas Sekar Indosiar dalam memperjuangkan hak-hak
normatif dan peningkatan kesejahteraan anggotanya.
8. Majelis Hakim juga mengabaikan fakta bahwa PT Indosiar Visual Mandiri yang
dipimpin oleh Handoko secara sengaja melanggar UU No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan.
9. Alasan pemutusan hubungan kerja terhadap 300 karyawan Indosiar yang merupakan
pemutusan hubungan kerja massal, karena alasan rasionalisasi sebenarnya tidak
dapat dibenarkan oleh undang-undang.
10. Pemecatan atau pemutusan hubungan kerja yang dilakukan PT. Indosiar Visual
Mandiri terhadap anggota SEKAR seharusnya ada izin terlebih dahulu dari
pemerintah agar dapat menghindari terjadinya pemecatan.
Analisis Legal:
Pada fakta no.1 dikatakan bahwa PT. Indosiar mengalami kerugian selama 2 tahun
berturut-turut sebagaimana bunyi Pasal 164 Ayat (2) UU Ketenaga Kerjaan No. 13 Tahun
2003 yang menyebutkan Kerugian perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus
dibuktikan dengan laporan keuangan 2 (dua) tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan
publik. Hal ini diperkuat dengan keterangan auditor independen, Eddy Prakarsa Permana
Siddharta, FL Tobing, yang menyatakan bahwa PT Indosiar Visual Mandiri memperoleh laba
bersih tahun 2008 sebesar 19 Milyar dan sebanyak 8 Milyar pada tahun 2009.
Pada fakta no 7 majelis hakim yang ikut memberangus SEKAR membuat anggota
SEKAR indosiar menjadi takut untuk menunjukkan identitas dirinya sebagai anggota serikat,
padahal hak berserikat dan berkumpul ini dilindungi oleh UU No. 21 Tahun 2000 dan Pasal
28 UUD 1945. PT Indosiar Visual Mandiri yang melakukan pelanggaran UU No. 13 Tahun
2013 perihal ketenaga kerjaan di antaranya adalah memberi upah di bawah Upah Minimum
Provinsi (UMP), tidak mengikutsertakan karyawannya dalam Jamsostek, perhitungan lembur
yang tidak jelas, skala pengupahan yang tidak sesuai dengan Pasal 94 UU No. 13 Tahun 2003
yaitu Dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap maka
besarnya upah pokok sedikit-dikitnya 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah upah
pokok dan tunjangan tetap, karyawan kontrak terus menerus sehingga melebihi waktu 3
tahun dan tidak ada jenjang karier yang jelas.
Perihal pemutusan hubungan ketenagakerjaan yang dilakukan PT. Indosiar Visual
Mandiri terhadap anggota SEKAR tidap dapat dibenarkan undang-undang, sebagaimana yang
telah diatur dalam Pasal 164 Ayat (3) Undang-undang No.13 Tahun 2003 mengenai
perusahaan dapat melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan efisiensi, namun
Pasal 151 Ayat (2) dan Ayat (3) Undang-undang No.13 Tahun 2003 tetap mensyaratkan
perlunya perundingan para pihak dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja tidak dapat
dihindari dan apabila perundingan tersebut gagal maka diperlukan Penetapan dari Pengadilan
Hubungan Industrial.
Adapun menurut Undang-undang yang mengatur pemutusan hubungan kerja dengan
sistem perizinan, yaitu Undang- Undang No. 12 Tahun 1964 dimana pemutusan hubungan
kerja di Perusahaan Swasta yang menentukan bahwa pemberian izin diserahkan
penanganannya kepada Panitia Penyelesaian yang berdasarkan Undang-undang No.22 Tahun
1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan.