You are on page 1of 5

Ujian Praktek Agama Buddha

Pindapatta

Nama
Kelas

: Tri Riyanti Teresa
: IX (Sembilan) D

SMP Bonavita Tangerang
Tahun Ajaran 2014/2015

PINDAPATA
Pengertian Pindapata
Pindapata berasal dari bahasa pali, terdiri dua suku kata yaitu: Pinda yang artinya memasukkan makanan
dan pata yang artinya Mangkuk bhikkhu. Jadi dapat diartikan bongkahan makanan yang dijatuhkan atau
dimasukkan ke dalam mangkuk para bhikkhu. Pindapatta sudah menjadi tradisi umat beragama Buddha.
Pindapatta merupakan salah satu peraturan tentang makanan bagi para Bhikkhu yang menjalankan praktik
keras atau (dhuthanga), yaitu ada 5 peraturan:
1. Hanya makan dari hasil pindapatta (pindaptikanga)
2. Menerima dana dari rumah ke rumah tanpa kecuali (sapadanacarikanga)
3. Makan tanpa selingan (Ekasanikanga)
4. Memakan hanya makanan yang ada dalam mangkuk (pattapindikanga)
5. Tidak makan lagi setelah selesai makan (kalupacchabhattikanga)
Sejarah Pindapatta
Dalam Khhudakanikaya Apadana Atthakatha 70, hal 175. Diceritakan Suatu hari pada jaman Buddha,
Sang Buddha beserta rombongannya pergi dari Rajagaha menuju Kapilavatthu atas undangan Raja
Suddhodana. Karena Sang Buddha mengetahui bahwa para orang tua di suku Sakya memiliki watak
sombong, ia meyakinkan mereka dengan keajaiban yang Buddha miliki seperti menyalakan api diatas
tubuhnya dan mengalirkan air dibawah tubuhnya sehingga para suku Sakya yakin bahwa Buddha sudai
mencapai ke-Buddha-an. Kemudian Sang Buddha disediakan tempat lalu Sang Buddha membabarkan
Dhamma dan Raja Suddhodana mencapai mata Dhamma dan menjadi Sotapanna atas pertanyaan yang ia
ajukan kepada Buddha. Setelah itu, Raja Suddhodana beserta rakyatnya langsung pulang tanpa mengundang
Buddha dan Bhikkhu lainnya untuk makan.
Keesokan harinya, Sang Buddha dikelilingi 2000 Bhikkhu berpikir bagaimana cara para Buddha
lampau melakukan Pindapatta di kota sanak keluarganya. Ia pun mengetahui dengan kekuatan pikirannya
bahwa Samma Sambuddha yang lampau melakukan pindapatta secara berurutan ke setiap rumah. Sebelum
kegiatan Pindapata dilaksanakan, penduduk Kapilavatthu sudah menjadi gentar mendengar berita tersebut
hingga terdengar ketelinga Raja Suddhodana. Sehingga Raja Suddhodana pun menegur Sang Buddha.
“Mengapa anakku melakukan perbuatan yang sangat memalukan ini? Mengapa anakku tidak datang
saja ke istanaku untuk mengambil makanan? Apakah pantas anak seorang raja meminta-minta hanya demi
makanan? Mengapa kau membuat ayahmu ini malu?”
“Aku tidak membuat ayah malu. Hal ini sudah menjadi kebiasaan kita,” kata Sang Buddha
“Kebiasaan? Tidak pernah seorang anggota keluarga kita meminta-minta makanan seperti ini.”
“Oh baginda, ini memang bukan kebiasaan anggota kerajaan untuk meminta-minta seperti ini, tetapi
ini adalah kebiasaan para Bhikkhu. Semua para Budhha dijaman dahulu hidup dengan jalan mengumpulkan
makanan dari para penduduk.”
Akhirnya Raja Suddhodana mendesak Sang Buddha beserta rombongannya untuk mengambil
makanan di istana.
Tujuan Pindapatta
Pindapataparisuddhi Sutta, Majjhima Nikaya. Dijelaskan bahwa sang Buddha memberikan nasehat kepada
para Bhikkhu agar selalu menjaga diri sehingga pikiran mereka tetap murni ketika sedang berpindapata atau
sedang makan. Bhikkhu juga harus merenungkan bhawa tujuan sebenarnya dari penggunaan kebutuhan itu
adalah untuk mengurangi keserakahan yang muncul dari kebodohan dan kebencian.
Anguttara Nikaya IV.57, Sang Buddha memberikan Khotbah singkat setelah menerima dana makanan dari
seorang wanita bernama Suppavasa. “Dengan memberikan makanan, seorang siswa yang luhur memberikan
empat hal kepada penerimanya. 4 hal itu adalah usia panjang, keelokkan, kebahagiaan, dan kekuatan (bala).
Dengan memberikan usia panjang, dia sendiri akan menerima usia panjang. Dengan memberikan keelokan,
dia sendiri akan memiliki keelokkan. Dengan memberikan kebahagiaan, dia sendiri akan memiliki
kebahagiaan. Dengan memberikan kekuatan, dia sendiri akan memiliki kekuatan. Keempat kekuatan ini akan
diperolehnya secara manusiawi, duniawi, dan surgawi. Dengan memberikan makanan, seorang siswa yang
luhur memberikan keempat hal ini kepada penerimanya.”

Sudah menjadi kewajiban bhikkhu setlah meneriman dana makanan ia membacakan Anumodana Gatha.
Kalimat yang diucapkan biasanya berbunyi, ”Āyu, Vaṇṇo, Sukhaṁ, Balaṁ” artinya semoga anda panjang
umur, cantik/tampan (elok), bahagia, dan kuat.
Tata cara seorang siswa melakukan pindapatta
Anggutara Nikaya 36 tentang Dana Sutta. Terdapata beberapa hal yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin
berdana kepada anggota sangha:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Dana
-

Fisik yang bersih dan tekad melakukan perbuatan baik (Cetana)
Siapkan dana yang ingin diberikan
Berdiri dengan melepas alas kaki
Hendaknya, memberikan salam kepada anggota sangha saat hendak memberikan dana
Fokuskan pikiran dan perhatian pada dana yang akan diberikan
Sikap tangan saat memberikan dana.
Beranjali dan berdoa atas jasa kebaikan yang baru saja diperbuat kepada anggota sangha. Hendaknya
doa diucapkan dengan suara.
Yang Dapat Diberikan
Nasi dengan lauk pauk (dibungkus dengan rapi)
Air mineral dan sari buah
Jubbah, alas tidur, atau dupa dan lilin
Obat-obatan atau minyak pelapisi kulit (minyak angina, lotion anti nyamuk,
Uang

Cerita Pindapatta
Malu Menerima
Ketika saya pergi menerima derma makanan untuk pertama kalinya, say merasa benar-benar malu, sebaba
saya datang dari negara kaya. Namun saya malah disini, di Thailand, seorang biksu dengan gelas sarjana
dari negara kaya, meminta-minta makanan dari orang yang miskin, petani melarat. Pada awalnya saya
merasa sangat bersalah, “Kok bisa-bisanya aku menerima derma makanan dari orang-orang ini? Seharusnya
aku pergi ke Inggris, bekerja keras, dan mengirimi mereka sumbangan dan uang!”
Suatu hari, kami diundang untuk menerima derma makanan di sebuah rumah, jadi kami tidak berkeliling
menerima derma makanan pagi itu. Sorenya, kepala desa datang menemui kami untuk minta maaf. Saya
tidak bisa memahami hal ini, “Mengapa Bapak minta maaf saat kami tidak datang menerima derma
makanan? Kami mendapat lebih banyak makanan hari ini, Bapak seharusnya senang bahwa para biksu itu
tidak datang hari ini,”
Namun mereka benar-benar sedih bahwa kami tidak datang ke desa menerima derma makanan hari itu.
Saat itulah saya mulai memahami apa makna derma makaan ini sesungguhnya. Ini bukanlah saya butuh
menerima derma mereka, melainkan mereka benar-benar butuh untuk memberi.
Kisah jurnalistik dengan Dalai lama
Sebelum dalai lama terkenal dan masih tinggal di Tibet dan mengunjungi desa-desa miskin. Ada jurnalis
Amerika yang berpergian bersamanya untuk membuat artikel mengenai Dalai Lama, salah satu arikel paling
dini Dalai Lama. Namun jurnalis ini melihat sesuatu yang tidak bisa dipahaminya. Di tempat itu, orang-orang
berbaris untuk memberikan langsung hadiah kepada Dalai Lama.
Mengingat sebeblum ia pindah ke India, ia tinggal di istana Potala. Ia adalah kepala negara dan memiliki
segala seuatu yang baik. Namu di kampun ini ia diberi hadiah oleh orang-orang yang sangat miskin.
Pemandangan ini benar-benar menusuk hati wartawan itu. Membuatnya makin lama, makin kesala. Hingga
sampai ada seorang perempuan tua yng mukanya berumur 40tahun seperti 70tahun. Ia mengenakan
pakaian compang camping dan memberikan dalai lama sebuah rok.
Saat itulah amarah si wartawan meledak, “anda bicara soal agama, kebaikan, welas asih, namun anda ini
tinggal di istana! Anda mendapat begitu banyak jubbah bagus! Anda punya segalanya dan Perempuan ini

begitu miskin! Lalu anda ini kan pria, anda tidak butuh rok!” Kenapa anda menerimanya? Seharusnya
andalah yang memberinya sesuatu. Dia seharusnya tidak memberi anda benda ini!”
“Mister, anda benar saya tidak butuh rok, tapi perempuan itu butuh memberikanyya kepada saya. Ia butuh
memberikannya kepada saya.”
Pastor Fransiskus
Kisah ini berasal dari Katolik, mengenai salah satu murid Santo Fransiskus dari Assisi. Jika Anda tahu, Ordo
Fransiskus ini ada kemiripan dengan ordo monastik Buddhis (pada susah ya bahasanya, ambil intinya aja—
hahahaha), seperti kebiasaan mereka pergi menerima derma makanan pada pagi hari, mereka dahulunya
tidak memegang uang, dan mereka hidup begitu sederhana, hanya punya dua jubah cokelat, dengan
rambut dicukur pendek namun tidak botak.
Pastor ini, 600-700 tahun silam di Italia, suatu hari sedang berkeliling menerima derma makanan. Lalu ia
melihat ada seorang pengemis jembel yang meminta makanan kepadanya. Pengemis malang dan papa ini
benar-benar lapar. Pastor ini sendiri belum mendapat apa-apa, jadi ia berkata, ”Lihat, aku tidak punya apaapa. Aku juga tak punya uang untuk kuberikan padamu.”
Pengemis itu benar-benar kelaparan, hingga pastor itu berkata, “Aku hanya punya jubahku ini.” Pengemis itu
berkata, “Itu juga boleh.” Jadi pastor ini memberikan jubah yang ia kenakan, itulah satu-satunya yang
dimilikinya. Nah, itu baru kedermawanan, tapi mohon jangan coba lakukan ini kepada para biksu ya.
Jadi ketika ia kembali ke biaranya, ia dalam keadaan telanjang, dan para pastor di sana mengatakan, “Woi,
kamu dilarang masuk!” Pastor kita berkata, “Kalian tidak ingat aku? Aku pastor di sini!” “Tidak! Kamu
telanjang, kamu tidak tahu siapa kamu. Pergi dari sini!” Untung beberapa sahabat mengenalinya, maka ia
diperbolehkan masuk.
Mereka menanyainya apakan ia barusan dirampok atau dibegal, dan ia memberitahu, “Aku bertemu orang
yang benar-benar miskin. Kupikir kita sepatutnya bermurah hati, kita telah diberi begitu banyak hal, jadi
mengapa kita tidak memberi balik kepada orang lain?” Teman-temannya berpikir, “Astaga, orang ini benarbenar spiritual. Ia tahu ada yang butuh sesuatu dan ia langsung saja memberi.” Mereka membawanya jubah
baru dari gudang.
Mereka semua membicarakan bahwa ia adalah pastor yang hebat. Namun masalahnya, seperti biasa Anda
tebak, pengemis tadi bercerita kepada pengemis lainnya, dan kisah ini beredar dari mulut ke mulut.
Esoknya, ketika pastor itu menerima derma, pengemis lain meminta jubahnya. Ia memberikannya lagi, dan
pulang telanjang.
Pastor lainnya kali ini mengenalinya, “Aduh, dia begitu lagi,” dan membiarkannya masuk, lalu memberinya
jubah baru.
Hal ini terjadi tiga kali, ketika ia pulang dengan telanjang, mereka memberinya jubah baru, kemudian kepala
biara memanggilnya ke kantor, “Perbuatanmu sangat baik dan bagus, tapi mereka mengambil keuntungan
darimu! Kita tidak punya jubah segitu banyak! Jangan kamu lakukan ini lagi!” Dan pastor ini, meski ia
sekadar baik dan dermawan, meski entah sedikit bodoh, atau hatinya terlampau lunak, atau tidak cukup
bijak, saya tidak tahu. Namun ia melakukan perbuatan yang benar-benar salah, dan pastor kepala
memarahinya selama lebih dari sejam.
Pastor itu tidak berdebat, membela diri, apalagi membenarkan diri. Betapa mengagumkannya orang ini;
(kata Ajahn Brahm: inilah favorit saya dalam cerita ini). Ia hanya menunduk, mendengarkan, menerima
omelan. Pastor kepala akhirnya selesai juga, “Oke, sekarang kamu boleh pergi.”
Pastor itu pergi. Sejam kemudian, ia mengetuk kantor pastor kepala dan datang dengan semangkuk sup
untuknya. “Buat apa kamu membuatkanku semangkuk sup?” Pastor itu menjawab, “Anda tadi menegur
saya, Anda berteriak begitu keras, tenggorokan Anda pasti serak, ini saya buatkan sup...”

Dhammapada
Kelaparan merupakan penyakit yang paling berat
Segala sesuatu yang berkondisi merupakan penderitaan yang paling besar
Setelah mengetahui hal ini sebagaimana adanya,
Orang bijaksana memahami bahwa Nibbana merupakan kebahagian paling tinggi. 203
Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi kea lam dewa
Orang bodoh tidak memuji kemurahan hati
Akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi
Dan karenanya ia akan bergembira di alam berikutnya. (177)
Berlaku
Berlaku
Berlaku
Berlaku

baik
baik
baik
baik

terhadap
terhadap
terhadap
terhadap

ibu merupakan suatu kebahagaiaan dalam dunia ini
ayah merupakan kebahagiaan
petapa merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini
Para Ariya juga merupakan kebahagiaan 332

Bagaikan seekor kumbang mengumpulkan madu dari bunga-bunga
Tanpa merusak warna maupun baunya,
Demikian pula orang ijaksana
Mengembara dari desa ke desa (49)
Ia yang selalu menghormati dan menghargai orang lebih tua
Kelak akan memperoleh 4 hal
Yaitu: umur panjang, kecantikan, kebahagiaan, dan kekuatan.