You are on page 1of 110

STUDI PERENCANAAN

Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro


(PLTMH)
DISTRIK BIRI DAN DISTRIK KORAGI
KABUPATEN JAYAWIJAYA PROVINSI PAPUA

PROTARIH

PENDAHULUAN

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Ketersediaan listrik di Kabupaten Jaya Wijaya saat ini belum optimal dan merata, hal ini
disebabkan oleh susunan letak antar distrik yang cenderung tidak merata dan tersebar,
sehingga pencapaian listrik oleh PLN sangat terbatas.
Namun secara potensi khususnya untuk potensi pengembangan PLTMH di Kabupaten Jaya
Wijaya sangatlah besar, hal ini didukung oleh melimpahnya sumber daya air berupa sungai
sungai yang cukup besar dengan tinggi jatuh yang mencukupi.
Studi ini dilaksanakan di Distrik Biri dan Koragi, dimana di lokasi tersebut sama sekali belum
tersentuh listrik, untuk itu diperlukan suatu kajian potensi pengembangan Pembangkit Listrik
Tenaga Mini-Hidro (PLTMH) dengan melihat kondisi sungai disekitar.
Dalam rangka peningkatan penyediaan tenaga listrik di Indonesia serta dalam usaha
mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, Pemerintah membuat program
peningkatan pembangunan pembangkit listrik alternatif non minyak antara lain dengan
memanfaatkan potensi sumberdaya alam berupa air sungai yang banyak terdapat di seluruh
Indonesia.
Salah satu solusi menghadapi masalah kelistrikan terutama di daerah perdesaan adalah
pembangkit listrik tenaga air skala mikro. Pembangkit Listrik Tenaga Mini-Hidro (PLTMH)
merupakan sejenis pembangkit tenaga listrik yang mirip dengan PLTA, hanya sekalanya lebih
kecil. Air dari sungai menggerakan pemutar kincir secara alami dan disambung ke generator
untuk menghasilkan listrik. Untuk itu telah diadakan survai lapangan yang dilanjutkan dengan
penyusunan studi kelayakan dan rancang dasar (basic design) pada lokasi pekerjaan.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN


Kebutuhan energi listrik di Indonesia semakin meningkat, baik untuk komersial maupun nonkomersial, sementara ini sebagian suplai listrik di Indonesia menggunakan energi fosil, yang
tentunya sangat mahal dan tidak ramah lingkungan. Untuk itu diupayakan utnuk pemenuhan
kebutuhan listrik menggunakan energi terbarukan, dalam hal ini adalah pemanfaatan energi
air yang sangat melimpah di Indonesia.
Kabupaten Jaya Wijaya Provinsi Papua, mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan
pembangkit listrik tenaga air, khusunya untuk minihidro. Untuk itu diperlukan survey yang
lebih lanjut untuk melihat potensi tenaga air di Kabupaten Jaya Wijaya khususnya utuk Distrik

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab I - 1

PENDAHULUAN

Biri dan Koragi yang sangat membutuhkan pasokan tenaga listrik agar dapat mendukung laju
perkembangan wilayah serta perekonomian diwilayah sekitarnya.

1.3 GAMBARAN UMUM LOKASI PEKERJAAN


Lokasi pekerjaan adalah di Distrik Biri dan Koragi Kabupaten Jaya Wijaya Provinsi Papua.
Keadaan saat ini masih belum ada listrik terpasang secara permanen, untuk pemenuhuan
kebutuhan listrik masyarakat mengandalkan tenaga matahari dari solar cell, tentunya akan
sangat terbatasa dari segi pemenuhan listrik sehari hari.
Sungai yang cukup berpotensi di sekitar lokasi Studi adalah Sungai Nagi yang lokasinya
memang cukup dekat dengan pusat keramaian. Kondisi debit air berkisar antara 300
liter/detik sampai 500 liter/ detik.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab I - 2

PENDAHULUAN

LOKASI RENCANA PLTMH


DISTRIK BIRI DAN KORAGI
KOORDINAT
351'7.86"S
13846'15.18"E

1.4 LINGKUP PEKERJAAN


Lingkup Pekerjaan studi ini adalah sebagai berikut :
a.

Melakukan survai dan pengumpulan data (primer dan sekunder) dari berbagai aspek,
antara lain teknis, ekonomi/bisnis, keuangan dan lingkungan;

b.

Melakukan evaluasi dan analisa data;

c.

Membuat Basic Design Engineering (sipil, elektrikal, mekanikal), termasuk pemilihan dan
penentuan letak lokasi pembangkit, kapasitas dan jenis pembangkit, sistem instalasi
pembangkit, serta kemungkinan interkoneksi dengan jaringan PLN Distribusi;

d.

Menghitung dan Rencana Anggaran Biaya Pembangunan Proyek berdasarkan real price
saat ini di lokasi pekerjaan.

e.

Melakukan beberapa Analisa Kelayakan berikut kesimpulannya, yang ditinjau dari


masing-masing aspek yaitu:
- Analisa kelayakan teknis,
- Analisa kelayakan ekonomi,
- Analisa kelayakan keuangan, dan
- Analisa kelayakan lingkungan.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab I - 3

PENDAHULUAN

1.5 PENCAPAIAN LOKASI PEKERJAAN


Lokasi rencana PLTM Biri Koragi dari Kota Wamena adalah sekitar 60 km, dapat ditempuh
dengan kendaraan roda empat, namun jika sudah mulai masuk ke Distrik harus
memeperhatikan jenis kendaraan yang dipakai dan cuaca pada saat perjalanan, karena kondisi
jalan masih berupa jalan tanah yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan jika hujan.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab I - 4

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

BAB II. DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN
2.1 GAMBARAN UMUM KABUPATEN JAYAWIJAYA
Kabupaten Jayawijaya berada di hamparan Lembah Baliem, sebuah lembah aluvial yang
terbentang pada areal ketinggian 1500-2000 m di atas permukaan laut. Temperatur udara
bervariasi antara 14,5 derajat Celcius sampai dengan 24,5 derajat Celcius. Dalam setahun ratarata curah hujan adalah 1.900 mm dan dalam sebulan terdapat kurang lebih 16 hari hujan.
Musim kemarau dan musim penghujan sulit dibedakan. Berdasarkan data, bulan Maret adalah
bulan dengan curah hujan terbesar, sedangkan curah hujan terendah ditemukan pada bulan
Juli.

Lembah Baliem dikelilingi oleh Pegunungan Jayawijaya yang terkenal karena puncak-puncak
salju abadinya, antara lain: Puncak Trikora (4.750 m), Puncak Mandala (4.700 m) dan Puncak
Yamin (4.595 m). Pegunungan ini amat menarik wisatawan dan peneliti Ilmu Pengetahuan
Alam karena puncaknya yang selalu ditutupi salju walaupun berada di kawasan tropis. Lereng
pegunungan yang terjal dan lembah sungai yang sempit dan curam menjadi ciri khas
pegunungan ini. Cekungan lembah sungai yang cukup luas terdapat hanya di Lembah Baliem
Barat dan Lembah Baliem Timur (Wamena).
Vegetasi alam hutan tropis basah di dataran rendah memberi peluang pada hutan iklim
sedang berkembang cepat di lembah ini. Ekosistem hutan pegunungan berkembang di daerah
ketinggian antara 2.0002.500 m di atas permukaan laut.
Orang Dani di lembah Baliem biasa disebut sebagai "Orang Dani Lembah". Rata-rata kenaikan
populasi orang Dani sangat rendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, salah satu
penyebabnya adalah keengganan pada ibu untuk mempunyai anak lebih daripada dua yang
menyebabkan rendahnya populasi orang Dani di Lembah Baliem. Sikap berpantang pada ibu
selama masih ada anak yang masih disusui, membuat jarak kelahiran menjadi jarang. Hal ini

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 12

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

selain tentu saja karena adat istiadat mereka, mendorong terjadinya poligami. Poligami terjadi
terutama pada laki-laki yang kaya, mempunyai banyak babi. Babi merupakan mas kawin
utama yang diberikan laki-laki kepada keluarga wanita. Selain sebagai mas kawin, babi juga
digunaklan sebagai lambang kegembiraan maupun kedukaan. Babi juga menjadi alat
pembayaran denda terhadap berbagai jenis pelanggaraan adat. Dalam pesta adat besar babi
tidak pernah terlupakan bahkan menjadi bahan konsumsi utama.
Sebelum tahun 1954, penduduk Kabupaten Jayawijaya merupakan masyarakat yang homogen
dan hidup berkelompok menurut wilayah adat, sosial dan konfederasi suku masing-masing.
Pada saat sekarang ini penduduk Jayawijaya sudah heterogen yang datang dari berbagai
daerah di Indonesia dengan latar belakang sosial, budaya dan agama yang berbeda namun
hidup berbaur dan saling menghormati.
Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin
(2012)
Kecamatan
Laki-laki
Perempuan Jumlah
Wamena

26.514

22.126

48.64

Trikora

3.453

2.783

6.235

Napua

1.512

1.438

2.95

Walaik

1.98

2.02

3.999

Wouma

1.901

1.736

3.636

Hubikosi

4.281

3.75

8.031

Hubikiak

4.174

3.444

7.618

Pelebaga

3.752

3.305

7.057

Ibele

4.286

4.142

8.428

Tailarek

1.774

1.444

3.218

Walelagama

998

1.015

2.013

Itlay Hisage

3.307

3.574

6.881

Siepkosi

1.938

1.909

3.874

Kurulu

4.919

5.161

10.08

Usilimo

2.885

3.17

6.055

Wita Waya

1.384

1.626

3.01

Libarek

1.134

1.16

2.294

Wadangku

1.211

1.113

2.325

Pisugi

1.978

2.44

4.418

865

835

1.7

Yalengga
Koragi

455

420

857

Bolakme

1.239

1.298

2.536

Tagime

1.137

1.127

2.264

669

692

1.361

Tagineri

1.035

980

2.015

Asologaima

4.371

4.714

9.085

Silo Karno Doga

5.585

5.957

11.543

Pyramid

6.841

6.62

13.462

Molagalome

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 22

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

Muliama

4.278

4.404

8.682

Wollo

632

681

1.314

Bugi

472

440

912

Bpiri

646

624

1.270

Asolokobal

1.825

1.776

3.602

Walesi

1.468

1.46

2.927

Asotipo

2.607

2.638

5.246

Maima

2.879

2.828

5.716

4.18

4.035

8.215

Wame

Popugoba

Musatfak

Wesaput
JAYAWIJAYA

114.566

108.877

223.443

Mata pencaharian utama masyarakat Jayawijaya adalah bertani, dengan sistem pertanian
tradisional. Makanan pokok masyarakat asli Jayawijaya adalah ubi jalar, keladi dan jagung
sehingga pada areal pertanian mereka dipenuhi dengan jenis tanaman makanan pokok ini.
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya berusaha memperkenalkan jenis tanaman lainnya seperti
berbagai jenis sayuran (kol, sawi, wortel, buncis, kentang, bunga kol, daun bawang dan
sebagainya) yang kini berkembang sebagai barang dagangan yang dikirim ke luar daerah untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat.
Lembah Baliem adalah areal luas yang sangat subur sehingga cocok untuk berbagai jenis
komoditi pertanian yang dikembangkan tanpa pupuk kimia. Padi sawah juga mulai
berkembang di daerah ini kerena penduduk Dani sudah mengenal cara bertani padi sawah.
Begitupun komoditas perkebunan lainnya kini dikembangkan adalah kopi Arabika.

Luas Wilayah Menurut Kecamatan


Kecamatan

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Luas (Km2)

Persentase (%)

Wamena

249,31

1,79

Trikora

190,07

1,36

Napua

246,64

1,77

Walaik

176,33

1,27

Wouma

243,09

1,75

Hubikosi

547,90

3,93

Hubikiak

541,70

3,89

Pelebaga

514,18

3,69

Ibele

333,13

2,39

Tailarek

320,79

2,30

Walelagama

412,33

2,96

Itlay Hisage

498,95

3,58

Bab II - 32

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

Siepkosi

354,72

2,55

Kurulu

292,33

3,54

Usilimo

321,58

2,31

Wita Waya

217,24

1,56

Libarek

213,23

1,53

Wadangku

219,90

1,58

Pisugi

336,03

2,41

Yalengga

689,06

4,95

Koragi

465,94

3,35

Bolakme

429,07

3,08

Tagime

406,26

3,08

Molagalome

228,67

1,64

Tagineri

291,59

2,09

Asologaima

182,37

1,31

Silo Karno Doga

309,75

2,22

Pyramid

297,18

2,13

Muliama

337,83

2,43

Wollo

339,67

2,44

Bugi

463,83

3,33

Bpiri

348,12

2,50

Asolokobal

375,51

2,70

Walesi

250,21

1,80

Asotipo

319,57

2,29

Maima

188,61

1,35

Musatfak

994,85

7,14

Wame

168,16

1,21

Popugoba

160,30

1,15

Wesaput
JAYAWIJAYA

249,31

1,79

13.925,31

100,00

Transportasi Kabupaten Jayawijaya hingga saat ini masih mengandalkan perhubungan udara,
trayek komersil Wamena-Jayapura yang (pada tahun 2011) dilayani oleh dua maskapai
penerbangan yaitu Trigana dan Nusantara Air Charter. Dahulu trayek ini pernah dilayani oleh
antara lain oleh Merpati Nusantara, Manunggal Air, dan Aviastar. Trayek Wamena-Biak
maupun Wamena-Merauke biasanya dilayani oleh penerbangan TNI AURI dengan pesawat
Hercules C130 nya.
Semua jenis barang, baik barang kebutuhan pokok masyarakat, bahan bangunan seperti
semen, besi beton, kendaraan seperti mobil, truk, bus hingga alat berat seperti buldozer
maupun excavator serta kebutuhan bahan bakar minyak (bensin dan solar) diangkut ke
Wamena menggunakan pesawat terbang.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 42

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

Sedangkan transportasi darat yang menghubungkan Wamena dengan empat puluh distrik
(hasil pemekaran distrik tahun 2011) di kabupaten Jayawijaya, sudah dapat dijangkau dengan
kendaraan beroda empat atau setidaknya dengan kendaraan roda dua. Jalan darat
menghubungkan Wamena dengan ibu kota kabupaten hasil pemekaran yaitu ke Tiom
(kabupaten Kabupaten Lanny Jaya), Karubaga (Kabupaten Tolikara), Elelim (Kabupaten
Yalimo). Jalan darat hingga ke Distrik Kurima di Kabupaten Yahukimo juga sudah ada, namun
kendala longsor yang selalu terjadi di Sungai Yetni membuat bagian jalan ini tidak selalu dapat
dilalui dengan kendaraat beroda empat.
Sebuah ruas jalan yang diharapkan dapat menghubungkan Wamena dengan Kenyam
(Kabupaten Nduga) sedang dibangun, namun karena jalan ini melintas dalam kawasan Taman
Nasional Lorentz, untuk sementara pembangunan jalan ini sedang ditunda menunggu kajian
lebih lanjut.

2.2 DESKRIPSI LOKASI STUDI


Lokasi pekerjaan adalah di Distrik Bpiri dan Koragi Kabupaten Jaya Wijaya Provinsi Papua. Dari
data diatas disebutkan bahwa jumlah penduduk di Distrik Koragi adalah 857 jiwa dan Distrik
Bpiri adalah 1270 jiwa.
Luas wilayah untuk Distrik Koragi adalah 465,94 km2 dan Distrik Bpiri adalah 348,12 km2.
Dari pengamatan lapangan diperkirakan terdapat Kepala Keluarga (KK) sebanyak 400 sampai
dengan 500 KK.

2.3 PELAKSANAAN SURVEY


Pelaksanaan survey dilaksanakan dengan penelusuran Sunga Nagi dengan didampingi oleh
masyarakat setempat. Antusias masyarakat sangat tinggi dengan besar harapan bisa
dibangunnya prasarana listrik di kampung mereka.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 52

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

Penyambutan oleh aparat dan warga setempat

Antusiasme masyrakat

Kondisi Sungai Nagi

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 62

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

Tracking GPS

Penunjukan banjir tertinggi sungai

Peran serta masyarakat

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 72

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

Salah satu terjunan di Sungai Nagi

Pendampingan survey dengan masyarakat

Penelusuran Sungai

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 82

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

Penelusuran Sungai

Penelusuran Sungai

Lokasi potensi pembangunan bendung

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 92

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

Tracking GPS

2.4 HASIL PENGAMATAN L APANGAN


Sungai yang cukup berpotensi di sekitar lokasi Studi adalah Sungai Nagi yang lokasinya
memang cukup dekat dengan pusat keramaian. Kondisi debit air berkisar antara 300
liter/detik sampai 500 liter/ detik.

Hasil Cotour Generated Sungai Nagi

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 102

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

Hasil Tracking alur Sungai Nagi

Dari hasil pengamatan lapangan didapat potensi tinggi jatuh total adalah 56 meter, yang
dibagi mencadi dua tingkatan (casecade), masing-masing adalah 36 meter dan 20 meter.
Penerapan PLTMH bertingkat direkomendasikan untuk lokasi ini mengingat kondisi topografi
yang bervariasi sehingga lebih ekonomis untuk membuat dua tingkatan PLTMH untuk
mengurangi biaya konstruksi pembangunan saluran hantar (waterway) yang cukup panjang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Bab Desain PLTMH.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 112

DESKRIPSI LOKASI DAN SURVEY


LAPANGAN

Profil elevasi Sungai Nagi

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab II - 12

PENGENALAN PLTMH

BAB III. PENGENALAN PLTMH


3.1. APAKAH PLTMH
PLTMH merupakan singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro atau dalam bahasa
Inggrisnya Micro Hydro Power (MHP). PLTMH adalah suatu sistem pembangkit listrik dengan
menggunakan sumber energi dari tenaga air. Mikro menunjukan ukuran kapasitas pembangkit,
yaitu antara 500 Watt 100 kilo Watt (menurut UNIDO, sedangkan menurut Permen ESDM
tahun 2002 berkapasitas < 1 MW).
PLTMH bekerja ketika air dalam jumlah dan ketinggian tertentu dijatuhkan melalui
pipa pesat (penstok) dan menggerakan turbin yang dipasang diujung bawah pipa. Putaran
turbin di kopel (dihubungkan) dengan generator sehingga generator berputar dan
menghasilkan energi listrik. Listrik yang dihasilkan dialirkan melalui kabel listrik ke rumahrumah penduduk atau konsumen lainnya. Jadi PLTMH mengubah energi potensial yang
berasal dari air menjadi energi listrik. Untuk memanfaatkan energi air dengan tepat dan
menghasilkan energi listrik yang baik, diperlukan peralatan yang sesuai dan perencanaan
yang baik.

Tinggi jatuh (head) pada PLTMH


Tenaga air merupakan salah satu cara untuk membangkitkan listrik yang telah dimanfaatkan
sejak jaman dulu oleh penduduk Indonesia, dan dikenal dengan istilah kincir. Secara
prinsip kerja, kincir dengan PLTMH adalah sama, tetapi secara teknologi PLTMH jauh lebih
modern dan lebih efisien. Adapun beberapa keunggulan pemanfaatan PLTMH dibandingkan
dengan teknologi lain adalah :

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 1

PENGENALAN PLTMH

Kondisi geografis sebagian besar wilayah Indonesia yang berbukit dan curah hujan
yang memadai
sepanjang
tahun merupakan potensi yang luar bisa untuk
pengembangan PLTMH.

PLTMH tidak menyebabkan polusi dan kerusakan lingkungan, bahkan masyarakat


sekitar akan diajak turut serta menjaga hutan sebagai sumber air.

PLTMH dapat beroperasi penuh 24 jam setiap hari, karena air tidak tergantung siang
atau malam.

Lebih dari 80% komponen PLTMH telah dapat dibuat di dalam negeri oleh industriindustri kecil dan menengah yang tersebar di seluruh negeri.

PLTMH dapat lebih panjang umur dibandingkan dengan pembangkit listrik


lainnya jika dipelihara dengan baik.

PLTMH sangat cocok untuk melayani kebutuhan listrik masyarakat pedesaan, dan
daerah terpencil sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup dan ekonomi
masyarakat desa.

Perubahan sistem kerja PLTMH lebih lambat, air sebagai sumber energi berubah
secara berangsur-angsur dari hari ke hari, tidak dari menit ke menit seperti halnya
angin.

Pengoperasian dan perawatan PLTMH sangat mudah


dengan generator diesel atau pembangkit lainnya.

Energi listrik atau energi mekanik yang dihasilkan dapat digunakan untuk usaha
produktif dan meningkatkan produktivitas ekonomi di daerah terpencil.

dan murah dibandingkan

Meskipun demikian ada juga sejumlah kekurangan yang harus dipertimbangkan ketika
membandingkan PLTMH dengan sumber energi lain. Pembangkit listrik air skala kecil identik
dengan :

Biaya investasi yang relatif besar untuk pembangunan PLTMH, meskipun biaya
operasinya rendah.

Memerlukan penguasaan pengetahuan khusus yang kadang tidak tersedia


dimasyarakat setempat. Perlu diperhatikan bahwa PLTMH bukan
merupakan
pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dikecilkan, tetapi sebuah pembangkit
yang memerlukan perencanaan dan pembangunan yang unik dan berbeda dengan
PLTA.

Meskipun PLTMH memerlukan perhatian yang sederhana, tetapi harus dilakukan


secara terus menerus, terutama dalam operasional dan perawatannya. Kadang-kadang
masyarakat desa tidak dipersiapkan untuk melakukannya, sehingga mereka kurang
terorganisir, kurang sadar dan kurang rasa memiliki. Akibatnya PLTMH kurang
mampu bertahan lama. Hal ini merupakan aspek yang harus diperhatikan dengan
teliti dalam merencanakan sebuah PLTMH.

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 2

PENGENALAN PLTMH

Terlepas dari sejumlah klasifikasi teknis yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya,
pembangkit listrik tenaga air di kelompokan berdasarkan ukuran kapasitasnya. Walaupun
ada sejumlah definisi yang berbeda, dalam hal ini kita akan memakai klasifikasi berdasarkan
standard UNIDO dan Permen ESDM tahun 2002.
Definisi tenaga air berdasarkan kapasitas daya
Istilah
Power Output
Pico Hydro
< 500 W
Micro Hydro
500 W hingga
M ini Hydro
100 kW hingga 1
MW
Small Hydro
1
MW to 10 MW
Full
-scale
> 10 MW
(large) hydro

Permen ESDM Tahun


2002
< 1 MW
1 MW 10 MW

3.2. PEMANFAATAN PLTMH


Mikrohidro dapat digunakan langsung sebagai tenaga mekanik poros untuk kebanyakan
aplikasi industri kecil, seperti penggilingan padi, jagung dan kopi. PLTMH biasanya
diaplikasikan untuk penyediaan energi listrik dengan
mengkonversikan
daya
poros
menjadi energi listrik dengan menggunakan generator biasa atau motor listrik.
Di beberapa wilayah miskin di dunia, seperti Afrika PLTMH lebih banyak digunakan sebagai
penggilingan bahan makanan dari pada digunakan sebagai pembangkit listrik.

Gambar 2. Pemanfaatan listrik untuk mesin perkakas kayu.

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 3

PENGENALAN PLTMH

Gambar 3. Pemanfaatan PLTMH untuk penggilingan kopi

3.3. KOMPONEN CIVIL


Kondisi topografi dan hidrologi lokasi aliran sungai yang berpotensi minihidro, secara alami
sangat mempengaruhi skema sistem PLTMH, dan memberikan beberapa alternatif lokasi
konstruksi bangunan sipil PLTMH sebagai komponen skema sistem PLTMH. Dengan demikian
pemilihan lokasi bangunan sipil berdasarkan kondisi topografi dan hidrologi menentukan
skema sistem PLTMH. Perlu dipahami bahwa dari banyak kasus pembangunan pembangkit
listrik skala kecil (PLTMH) memiliki hambatan antara lain adalah biaya pembangunan yang
relatif tinggi karena kondisi topografi dan mempengaruhi tingkat keekonomisan. Bab ini akan
membantu menjelaskan prinsip teknologi konstruksi bangunan sipil yang tepat, berkualitas
dan diharapkan dengan biaya pembangunan yang efisien.

1.

Skema Sistem PLTMH

Dalam suatu lokasi potensi pembangin energi minihidro dapat dipetakan sebagai suatu skema
sistem (gambar) yang terdiri dari bererapa komponen bangunan sipil seperti bendungan
(weir), saluran pengambil (intake), saluran pembawa, bak pengendap, saluran pembawa, bak
penenang, pipa pesat (penstock), rumah pembangkit dan saluran pembuang.

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 4

PENGENALAN PLTMH

Skema Sistem PLTMH

Lokasi Bendungan dan Intake


Tujuan dari bendungan adalah untuk menaikkan/mengontrol tinggi air dalam sungai secara
signifikan sehingga memiliki jumlah air yang cukup untuk dialihkan ke dalam intake
pembangkit minihidro.
Lokasi bendungan, bendung dan intake yang berfungsi untuk menaikkan dan mengontrol
aliran air sungai untuk instalasi PLTMH terdiri dari berbagai variasi tipe. Tipe tersebut dapat
dipilih dan digunakan sesuai dengan kebutuhan dan atas pertimbangan tingkat keekonomisan
PLTMH. Disamping itu pemilihan lokasi bendungan (weir) dan intake juga bergantung dari
kelayakan daerah aliran sungainya.
Sebuah bendungan dilengkapi dengan pintu air untuk membuang kotoran/lumpur yang
mengendap. Perlengkapan lainnya adalah : penjebak/saringan sampah. PLTMH umumnya
merupakan pembangkit tipe run off river sehingga bangunan bendungan dan intake dibangun
berdekatan. Dengan pertimbangan dasar stabilitas sungai dan aman terhadap banjir, dapat
dipilih lokasi untuk bendungan (weir) dan intake.

Tujuan dari intake adalah untuk memisahkan air dari sungai atau kolam untuk dialirkan ke
dalam saluran, penstock atau bak penampungan. Tantangan utama dari bangunan intake
adalah ketersediaan debit air yang penuh dari kondisi debit rendah sampai banjir. Juga sering
kali adanya lumpur, pasir dan kerikil atau puing-puing dedaunan pohon sekitar sungai yang
terbawa aliran sungai.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih lokasi bendungan (weir) dan
intake, antara lain :

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 5

PENGENALAN PLTMH

a. Jalur daerah aliran sungai.


Lokasi bendungan (weir) dan intake dipilih pada daerah aliran sungai dimana
terjamin ketersediaan airnya, alirannya stabil, terhindar banjir dan pengikisan air
sungai.
b. Stabilitas lereng yang curam.
Oleh karena pemilihan lokasi PLTMH sangat mempertimbangkan head, sudah tentu
pada lokasi lereng atau bukit yang curam. Dalam mempertimbangkan lokasi
bangunan bendung (weir) dan intake hendaknya mempertimbangkan stabilitas
sedimen atau stuktur tanahnya yang stabil.
c. Memanfaatkan fasilitas saluran irigasi yang tersedia di pedesaan.
Pemanfaatan ini dapat dipertimbangkan untuk efisiensi biaya konstruksi, karena
sudah banyak sungai di pedesaan telah dibangun konstruksi sipil untuk saluran
irigas.
d. Memanfaatkan topografi alami seperti kolam dan lain-lain.
Penggunaan kealamian kolam untuk intake air dapat meemberikan keefektifan yang
cukup tinggi untuk mengurangi biaya, disamping itu juga membantu menjaga
kelestarian alam tata ruang sungai dan ekosistem sungai. Yang perlu diperhatikan
adalah keberlanjutan kolam dan pergerakan sedimen.
e. Level volume yang diambil (tinggi dam) dan level banjir.
Karena pebangunan bendung/dam intake pada bagian yang sempit dekat sungai,
maka level banjir pada daerah itu lebih tinggi sehingga diperlukan daerah bagian
melintang dam yang diperbesar untuk kestabilan.
f.

Peletakan intake selalu pada sisi terluar dari lengkungan sungai.


Pertimbangan ini dilakukan untuk memperkecil sedimen di dalam saluran pembawa.
Dan sering kali dibuat pintu air intake untuk melakukan pembilasan sedimen yang
terendap dari intake.

g. Keberadaan penggunaan air sungai yang mempengarungi keluaran/ debit air.


Jika intake untuk pertanian atau tujuan lain yang mengambil air maka akan
mempengaruhi debit air.

2.

Rute Saluran Air

Tujuan bangunan saluran pembawa air (headcare/canal) adalah untuk mengalirkan air dari
intake/settling basin ke bak penenang, dan untuk memelihara volume air.
Saluran air untuk sebuah pembangkit skala kecil, cenderung untuk memiliki bangunan yang
terbuka. Ketika sebuah saluran terbuka dibangun pada sebuah lereng bukit maka beberapa hal
penting yang perlu diperhatikan :

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 6

PENGENALAN PLTMH

a. Topografi dari rute


Rute saluran air yang melewati daerah kemiringan yang curam, perlu diperhatikan
gradient kemiringannya, tingkat potensi longsornya. Gradient aliran yang dilewati
tidak tinggi sehingga dapat mengalirkan kecepatan air melebihi kecepatan maksimal
yang dapat mengakibatkan erosi pada dinding saluran.
b. Kesetabilan tanah pada daerah yang dilewati
Terdapat banyak kejadian penimbunan saluran air karena longsornya lereng bukit
sehingga perlu diteliti/diperiksa kestabilan tanahnya.
c. Penggunaan struktur yang telah tersedia, termasuk jalan dan saluran irigasi
Pemilihan saluran air sepanjang jalan yang telah tersedia dan saluran irigasi yang
tersedia memberikan banyak keuntungan disamping mengurangi biaya, juga untuk
pemeliharaan dan pengawasan kualitas dan penggunaan air.
d. Geometri saluran yang baik adalah seperti setengah lingkaran

3.

Bak Penenang (Forebay) dan Fasilitas Pendukung

Tujuan bangunan bak penenang (forebay) adalah sebagai penyaring terakhir seperti settling
basin untuk menyaring benda-benda yang masih tersisa dalam aliran air, dan merupakan
tempat permulaan pipa pesat (penstock) yang mengendalikan aliran menjadi minimum sebagai
antisipasi aliran yang cepat pada turbin tanpa menurunkan elevasi muka air yang berlebihan
dan menyebabkan arus baik pada saluran.
Pemilihan lokasi bak penenang untuk pembangkit listrik skala kecil seringkali berada pada
punggung yang lebih tinggi, beberapa yang dapat dipertim-bangkan antara lain :
a. Keadaan topografi dan geologi lokasi.
b. Sedapat mungkin dipilih lokasi dimana bagian tanahnya relatif stabil. Dan jika
umumnya terdiri dari batuan keras maka sedapat mungkin dapat mengurangi
jumlah pekerjaan penggalian.
c. Walaupun ditempatkan pada punggung, dipilih tempat yang relatif datar.
d. Mengurangi hubungan dengan muka air tanah yang lebih tinggi.

4.

Rute Pipa Pesat (Penstock)

Tujuan bangunan pipa pesat (penstock) adalah sebagai saluran tertutup (pipa) aliran air yang
menuju turbin yang ditempatkan di rumah pembangkit. Saluran ini yang berhubungan dengan
peralatan mekanik seperti turbin.
Kondisi topografi dan pemilihan skema sistem PLTMH mempengaruhi tipe pipa pesat
(penstock). Umumnya sebagai saluran ini harus didesain/dirancang secara benar sesuai
kemiringan (head) sistem PLTMH.

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 7

PENGENALAN PLTMH

Berdasarkan kondisi topografi yang ada pada lokasi skema sistem PLTMH, beberapa
pertimbangan pemilihan lokasi pipa pesat (penstock) antara lain adalah :
a. Topografi yang dilewati memiliki tingkat kemiringan yang memenuhi persyaratan
dimana rute pipa pesat harus berada di bawah minimum garis kemiringan hidraulic,
seperti digambarkan berikut.
b. Stabilitas tanah dari daerah yang dilewati
c. Penmanfaatan jalan yang telah ada atau tersedia.

5.

Rumah Pembangkit (Power House)

Tujuan bangunan rumah pembangkit (power


house) adalah sebagai bangunan yang berfungsi
untuk melindungi peralatan elektro mekanikal
seperti : turbin, generator, panel kontrol, dan
lainnya dari segala cuaca dan juga mencegah
dari orang yang tidak berkepentingan dan
pencurian peralatan barang tersebut.

Beberapa pertimbangan dalam memilih lokasi dan membangun rumah pembangkit ini, antara
lain :
a. Konstruksi harus berada di atas struktur tanah yang sangat stabil, tidak di lereng
yang curam, dan umumnya di pinggir daerah aliran sungai yang relatif rendah dan
datar.
b. Memiliki akses jalan yang cukup lebar untuk transportasi peralatan elektriralmekanikal yang akan dipasang.
c. Di lokasi yang relatif rata dan kering, sedikit luas sehingga dapat digunakan untuk
tempat kerja seperti pada saat perbaikan dan perawatan peralatan.
d. Elevasi lantai rumah pembangkit ini harus berada di atas elevasi muka air saat banjir
yang paling besar dalam beberapa tahun terakhir.
e. Karena berupa bangunan, harus memiliki ventilasi udara, jendela untuk cahaya
masuk tetapi diberikan seperti kasa untuk melindungi serangga masuk.
f.

Ruangan yang dibangun juga cukup untuk digunakan seperti penyimpanan peralatan
dan atau suku cadang peralatan elektrikal dan mekanikal.

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 8

PENGENALAN PLTMH

g. Kondisi pondasi harus cukup kuat untuk menahan pemasangan beberapa peralatan
yang memiliki berat yang cukup.

6.

Saluran Pembuang

Tujuan saluran pembuang ini adalah sebagai saluran pembuang aliran air yang masuk kedalam
rumah pembangkit dan menggerakkan turbin. Saluran ini bersatu dengan rumah pembangkit
dan aliran sungai.
Dalam hal penempatan rute saluran pembuang ini, beberapa hal yang harus dipertimbangkan
antara lain :
a. Perkiraan tinggi genangan air pada rumah pembangkit ketika terjadi banjir besar.
b. Menghindari penggenangan bantaran sungai dan permukaan tanah di sekitar rumah
pembangkit.
c. Fluktuasi dasar sungai pada daerah saluran pembuang.
d. Saluran pembuang harus diarahkan sesuai arah aliran sungai.

3.4. KOMPONEN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

Panel kontrol
Turbin
Generator

Komponen mekanikal elektrikal pada PLTMH

Peralatan elektro-mekanikal adalah semua peralatan yang dipergunakan untuk merubah


energi potensial air menjadi energi listrik. Peralatan utamanya terdiri dari :

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 9

PENGENALAN PLTMH

1.

Turbin

Merupakan peralatan mekanik yang mengubah energi potensial air menjadi energi
mekanik (putaran). Air yang memiliki tekanan dan kecepatan tertentu menumbuk sudu
sudu turbin dan memutar runner turbin sehingga berputar dengan daya yang sebanding
dengan daya dari potensi air.

Gambar 5. Turbin crossflow

Turbin crossflow

Turbin propeller

Ada beberapa jenis turbin yang digunakan dalam pemanfaatan PLTMH yang disesuaikan
dengan besarnya debit air dan tinggi jatuh. Turbin yang paling banyak digunakan untuk
PLTMH di Indonesia adalah :

Turbin crossflow : cocok untuk aplikasi tinggi jatuh medium 10 100 meter, daya 1 kW
250 kW.

Turbin propeler (open flume) : cocok untuk tinggi jatuh yang rendah 2 10 meter
dengan debit air yang besar.

Turbin Pelton : cocok untuk tinggi jatuh yang tinggi lebih dari 80 meter.

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 10

PENGENALAN PLTMH

2.

Generator

Contoh generator sinkron


Generator induksi / motor sebagai generator

Generator merupakan komponen yang berfungsi merubah energi mekanik berupa


putaran menjadi energi listrik. Generator yang digunakan biasanya jenis arus bolak balik (AC)
dengan frekuensi 50 hz pada putaran 1500 rpm. Energi listrik yang dihasilkan dapat berupa 1
fasa (2 kabel) atau 3 fasa (4 kabel) dengan tegangan 220/380 Volt. Generator diputar oleh
turbin melalui kopel langsung atau melalui puley dan sabuk (belt). Ada dua jenis generator
yang banyak digunakan untuk PLTMH yaitu generator sinkron dan motor induksi sebagai
generator (generator induksi).

3.

Panel Listrik dan Alat Kontrol

Panel listrik merupakan tempat dimana sambungan kabel (terminal) dan peralatan
pengaman listrik (MCB) serta meter listrik ditempatkan. Berikut fungsi panel listrik dan alat
kontrol :

Memonitor parameter dan besaran listrik seperti tegangan generator, arus


beban, frekuensi, indikator lampu, jam operasional dan lain lain.

Sebagai alat pengaman generator dan peralatan listrik dari hubung singkat, arus
beban lebih, tegangan lebih/kurang (over/under voltage), frekuensi lebih/kurang
(over/under frequency) dan lain- lain.

Sebagai alat pengendali/kontrol generator supaya tegangan dan frekuensi


generator stabil pada saat terjadi perubahaan beban di konsumen. Ada dua jenis
kontrol yaitu ELC (electronic load controller) untuk generator sinkron dan IGC
(induction generator controller) untuk generator induksi/motor. Pada prinsipnya
kedua jenis kontrol ini adalah sama, hanya berbeda parameter yang di

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 11

PENGENALAN PLTMH

Panel Kontrol ELC (elektronic load controller)

Panel kontrol IGC dengan kapasitor

kontrol, dimana frekuensi pada ELC dan tegangan pada IGC. Cara paling mudah untuk
membedakannya adalah adanya kapasitor pada IGC dan sedangkan pada ELC tidak ada.

4.

Beban Ballast (Ballast Load)

Beban ballast hanya digunakan pada PLTMH dengan pemakaian kontrol beban (ELC/IGC)
sedangkan pada PLTMH tanpa kontrol tidak menggunakan beban ballast. Pada PLTMH tanpa
menggunakan kontrol, tegangan dan frekuensi akan naik dan turun sesuai dengan
perubahan beban konsumen, hal ini akan mengakibatkan lampu dan peralatan elektronik
akan cepat rusak.
Beban ballast digunakan
untuk membuang energi listrik yang dibangkitkan oleh
generator tetapi tidak terpakai oleh konsumen. Sehingga daya yang dihasilkan generator
dengan daya yang dipakai akan seimbang, hal ini dimaksudkan untuk menjaga tegangan dan
frekuensi generator tetap stabil.

Beban ballast berupa elemen pemanas udara

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 12

PENGENALAN PLTMH

3.5. JARINGAN D ISTRIBUSI DAN INSTALASI RUMAH


1.

Kabel Penghantar

Kabel penghantar digunakan untuk mentransmisikan daya listrik yang dibangkitkan di


generator kepada konsumen dirumah-rumah dan pusat beban lainnya. Pada PLTMH
transmisi listrik dilakukan pada tegangan rendah (220/380 Volt). Kabel transmisi yang
digunakan biasanya adalah kabel jenis twisted (NFA2X) dengan diameter penghantar 70 mm2
atau 50 mm2 atau lebih kecil sesuai dengan panjang transmisi dan besarnya beban yang
ditransmisikan.
Perlu diperhatikan bahwa transmisi daya listrik 3 fasa menggunakan kabel 4 penghantar
dengan salah satu penghantar lebih kecil dari yang lainnya. Kabel yang lebih kecil ini
digunakan sebagai penghantar NETRAL. Contohnya kabel ukuran 70 mm2 jumlah kabelnya
adalah 3x70+50 mm2. Ukuran 70 mm2 sebagi penghantar fasa (R, S, T) dan 50 mm2 sebagai
penghantar netral/nol.

Kabel twisted untuk jaringan

2.

Tiang Listrik

Tiang listrik digunakan untuk menyangga dan menarik kabel penghantar supaya menjaga
jarak aman dari tanah dan tidak mengganggu lalulintas manusia dan barang dibawahnya.
Tiang listrik yang dipakai harus kuat menyangga beban kabel, beban karena angin dan
hujan dan beban tarikan kabel. Untuk itu digunakan material yang kuat dan ditanam di
dalam tanah, seperti beton dan besi. Tetapi karena beton dan besi di anggap cukup
mahal sering juga digunakan kayu dan bahkan bambu. Untuk transmisi tegangan rendah,
tiang listrik yang digunakan memiliki ketinggian minimum 7 meter.

3.

Instalasi Rumah

Instalasi rumah biasanya terdiri dari tiga titik lampu dan satu stop kontak. Pembatas arus
menggunakan MCB 1 Ampere untuk daya 220 Watt dan 0,5 Ampere untuk daya 110 Watt.

Desain PLTMHH Bpiri Koragi

Bab III - 13

DESAIN PLTMH

BAB IV. DESAIN PLTMH


4.1. TEORI DASAR
Ada beberapa pertimbangan suatu proyek mikro hidro dianggap layak dan menarik, tidak
hanya secara teknis tetapi aspek aspek lain yang juga berperan penting dalam suksesnya
suatu proyek. Hal hal yang perlu dipertimbangkan dalam penilaian suatu proyek
mikrohidro adalah sebagai berikut :

A. Faktor Utama / primer :


a. Adanya tinggi jatuh (Head)
Untuk PLTMH idealnya tinggi jatuh adalah 10 50 meter, hal ini mengingat untuk
daya yang sama konstruksi sipil dan peralatan elektromekanik akan lebih kecil dan
sederhana dibandingkan lokasi dengan head rendah. Bukan berarti head reah tidak
memungkinkan, tetapi dari sisi teknis dan biaya, head medium lebih menarik.
b. Debit / aliran air yang cukup
Ketersediaan aliran air sepanjang tahun sangat penting untuk menjaga
kelanjutan penyediaan listrik, untuk itu sebaiknya dipilih lokasi yang memiliki aliran air
yang relatif stabil sepanjang tahun dan cukup untuk melayani kebutuhan beban
konsumen.
c. Jarak beban dengan pembangkit
Semakin jauh jarak pembangkit dengan konsumen maka semakin besar tegangan
jatuh dijalan, semakin besar rugi daya, semakin panjang kabel penghantar yang
dibutuhkan dan semakin banyak tiang yang digunakan. Secara ekonomis hal ini akan
lebih mahal juga, oleh karena itu pilihlah lokasi pembangkit yang dekat dengan
konsumen jika memungkinkan.
d. Daya terbangkit Vs kebutuhan beban
Sebaiknya diperhitungkan dengan matang sebelum benar benar memulai sebuah
proyek jika ternyata daya terbangkit dari PLTMH yang direncanakan dibawah standar
minimum kebutuhan konsumen. Hal ini dikemudian hari akan menjadi persoalan
teknis dengan kondisi beban lebih (overal) dengan kondisi beban lebih
kemungkinan konflik sosial antara masyarakat karena masalah rebutan listrik.
Idealnya daya terbangkit adalah 30% lebih besar dari kebutuhan konsumen untuk
kemungkinan pertumbuhan beban, musim kemarau, pemanfaatan produktif dan
juga factor keamanan peralatan (derating).

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab IV - 1

DESAIN PLTMH

B. Faktor sekunder
a. Kondisi geografis dan resiko teknis
idak dapat dihindari bahwa kebanyakan lokasi PLTMH adalah didaerah terpencil
dengan akses transport terbatas dan kondisi geografis yang biasanya ekstrim. hal ini
meningkatkan resiko teknis dari suatu PLTMH, oleh karena itu sebaiknya dipilih lokasi
dengan tingkat resiko teknis yang lebih minim terutama terhadap kondisi bencana
seperti tanah longsor dan banjir atau dengan tindakan pencegahan (preventif) dari
kondisi alam yang ekstrem.
b. Kondisi sosial ekonomi masyarakat
Setiap wilayah memiliki karakter sosial dan kondisi ekonomi yang berbeda, sehingga
hendaknya dalam pembangunan suatu proyek PLTMH juga dipertimbangkan hal ini
mengingat pendekatan yang berbeda diperlukan sesuai dengan kondisi sosial ekonomi
masyarakat setempat. Misalnya dalam tahap keterlibatan masyarakat selama
pembangunan, tahap pengoperasian, pengeloaan dan besaran tarif listrik. Jangan
sampai dengan adanya PLTMH dapat menimbulkan konflik sosial dalam masyarakat.
c. Jenis konsumen/ kepadatan
Tipe konsumen dan peralatan yang digunakan juga memerlukan pertimbangan
dalam perencanaan awal suatu PLTMH, misalnya jika PLTMH akan digunakan
untuk penerangan saja atau digunakan untuk mesin - mesin produksi akan
memerlukan spesifikasi generator dan sistem kontrol yang berbeda. Selain itu
kepadatan konsumen memperngaruhi dalam hal faktor beban pembangkit dan
biaya untuk jaringan dan sambungan rumah.
d. Status pemilikan lahan
Dalam tahap studi kelayakan seharusnya dilakukan penelitian mengenai kepemilikan
lahan dan bagaimana mengatasinya. Tentunya hal ini akan mempengaruhi komponen
biaya proyek jika lahan harus mendapatkan ganti rugi atau di hibahkan. Selain itu
untuk menghindari konflik dimasa yang akan datang mengenai status lahan dan
kepemilikannya yang akan mengggangu operasional PLTMH.
e. Pemanfaatan air
Apakah air yang akan dipakai untuk PLTMH menggangu kepentingan pemakain
air yang lain misalnya pertanian, perikanan, air bersih dan lain lain? Ini merupakan
salah satu faktor yang sangat penting untuk diperhatikan, dibeberapa tempat
PLTMH hanya dapat dipergunakan pada malam hari karena siang hari air dipakai
untuk irigasi sawah. Pertimbangan semacam ini mempengaruhi pola operasi dan
pemanfatan PLTMH.
f.

Lingkungan
Apakah

keberadaan PLTMH kan menggangu

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

habitat

ekologi sungai dan

Bab IV - 2

DESAIN PLTMH

lingkungan? bisa saja PLTMH yang direncanakan berada dalam disuatu lokasi
konservasi yang dapat mengganggu hewan dilindungi atau dimungkinkan untuk
merusak lingkungan, sehingga sebaiknya perlu dilakukan penelitian sebelum proyek
dilaksanakan.

Optimasi tata letak PLTMH dilakukan untuk menganalisa beberapa alternatif lokasi bendung,
waterway, penstock dan power house yang dibuat, dengan menggunakan debit potensi
Pembangkit PLTMH yang kemudian akan dipilih lokasi yang paling baik ditinjau dari segi teknis
dan ekonomi. Dengan membandingkan beberapa alternatif tata sehingga diharapkan akan
mendapatkan desain dengan harga yang ekonomis dengan tingkat pelaksanaan yang paling
mudah.
Adapun tahapan pembuatan alternatif tata letak adalah :
1.

Pembuatan potongan memanjang sungai utama


Potongan memanjang sungai dibuat untuk mengetahui selisih beda tinggi
terbesar untuk menentukan lokasi bendung, waterway dan power house.

2.

Pemilihan lokasi bendung


Lokasi bendung dipilih pada bentang sungai yang tersempit, pada alinyemen
sungai yang lurus, tidak terletak pada belokan sungai, atau jika dia berada pada
belokan sungai, bendung terletak pada belokan sisi luar sungai, sesuai dengan
Kriteria Perencanaan (KP 02), dan juga memperhatikan kondisi topografi dan
geologi yang baik dan stabil.

3.

Penentuan lokasi sand trap


Penempatan sand trap dipilih pada lokasi dengan kondisi topografi yang
memungkinkan tidak terjadi belokan pada bangunan sand trap, sehingga tidak
menggangu proses pembilasan sedimen pada sand trap.

4.

Penentuan lokasi dan alinyemen saluran hantar (waterway)


Alinyemen waterway dipilih dengan meminimalisasi halangan topografi ekstrim
seperti bukit terjal maupun lembah anak sungai/ alur drainase.
Waterway ditentukan dengan metode hidrolika saluran terbuka dengan aliran
gravitasi, sedangkan bangunan waterway ini ditentukan dari :
Pasangan batu untuk daerah datar dan terbuka, serta memiliki stabilitas daya
dukung yang baik. Untuk ketinggian tertentu yang disyaratkan akan
menggunakan pasangan beton beton bertulang.
Box culvert, bila melalui tebing curam dan apabila diperlukan diurug.
Talang, apabila melintasi lembah atau aliran drainase bukit.
Sedapat mungkin dihindari konstruksi waterway diatas timbunan.

5.

Menentukan lokasi kolam penenang (head pond) dan jalur pipa pesat (penstock)

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab IV - 3

DESAIN PLTMH

Kolam penenang dibuat di daerah datar dengan aksesibilitas dan kemudahan


dalam konstruksi serta tidak diperbolehkan dibuat diatas tanah urugan. Kolam
ini merupakan peralihan aliran terbuka dengan aliran bertekanan ketika air
mengalir melalui pipa pesat.
Penentuan jalur pipa pesat dibuat dengan sebisa mungkin menghindari belokan
sudut horisontal, untuk mendapatkan panjang pipa yang paling pendek dengan
tujuan untuk meminimalisasi kehilangan tinggi, serta berada pada struktur tanah
yang baik dan stabil.
6.

Penentuan lokasi powerhouse dan elevasi tailrace


Lokasi powerhouse direncanakan di area dengan aksesibilitas dan stabilitas
lokasi yang baik, dengan mempertimbangkan juga panjang penstock, serta
berada tidak jauh dari outlet tailrace.
Elevasi powerhouse sangat tergantung dari elevasi tailrace, dan tinggi muka air
banjir serta tipe turbin yang digunakan.
Elevasi lantai powerhouse dan ruang peralatan ditentukan dengan elevasi banjir
kala ulang Q50 tahun. Adapun elevasi tail race di sungai adalah muka air pada
aliran normal dan rata-rata.

7.

Kondisi lingkungan, topografi, geologi dan jalan akses.


Lokasi penempatan bangunan utama PLTMH (bendung, sand trap, waterway,
head pond, penstock & powerhouse) memperhatikan kondisi topografi, geologi
dan jarak terdekat dari jalan akses dan jalur transmisi 20 kV terdekat.

PLTMH bekerja ketika air dalam jumlah dan ketinggian tertentu dijatuhkan melalui
pipa pesat (penstok) dan menggerakan turbin yang dipasang diujung bawah pipa. Putaran
turbin di kopel (dihubungkan) dengan generator sehingga generator berputar dan
menghasilkan energi listrik. Listrik yang dihasilkan dialirkan melalui kabel listrik ke rumahrumah penduduk atau konsumen lainnya. Jadi PLTMH mengubah energi potensial yang
berasal dari air menjadi energi listrik. Untuk memanfaatkan energi air dengan tepat dan
menghasilkan energi listrik yang baik, diperlukan peralatan yang sesuai dan perencanaan
yang baik.

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab IV - 4

DESAIN PLTMH

Tinggi Jatuh (head)


Anchor block (beton)

Power House

Penstock

Saddle support (beton)

Tinggi jatuh (head) pada PLTMH

Tenaga air merupakan salah satu cara untuk membangkitkan listrik yang telah dimanfaatkan
sejak jaman dulu oleh penduduk Indonesia, dan dikenal dengan istilah kincir. Secara
prinsip kerja, kincir dengan PLTMH adalah sama, tetapi secara teknologi PLTMH jauh lebih
modern dan lebih efisien. Adapun beberapa keunggulan pemanfaatan PLTMH dibandingkan
dengan teknologi lain adalah :

Kondisi geografis sebagian besar wilayah Indonesia yang berbukit dan curah hujan
yang memadai
sepanjang
tahun merupakan potensi yang luar bisa untuk
pengembangan PLTMH.

PLTMH tidak menyebabkan polusi dan kerusakan lingkungan, bahkan masyarakat


sekitar akan diajak turut serta menjaga hutan sebagai sumber air.

PLTMH dapat beroperasi penuh 24 jam setiap hari, karena air tidak tergantung siang
atau malam.

Lebih dari 80% komponen PLTMH telah dapat dibuat di dalam negeri oleh industriindustri kecil dan menengah yang tersebar di seluruh negeri.

PLTMH dapat lebih panjang umur dibandingkan dengan pembangkit listrik


lainnya jika dipelihara dengan baik.

PLTMH sangat cocok untuk melayani kebutuhan listrik masyarakat pedesaan, dan
daerah terpencil sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup dan ekonomi
masyarakat desa.

Perubahan sistem kerja PLTMH lebih lambat, air sebagai sumber energi berubah
secara berangsur-angsur dari hari ke hari, tidak dari menit ke menit seperti halnya
angin.

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab IV - 5

DESAIN PLTMH

Pengoperasian dan perawatan PLTMH sangat mudah


dengan generator diesel atau pembangkit lainnya.

Energi listrik atau energi mekanik yang dihasilkan dapat digunakan untuk usaha
produktif dan meningkatkan produktivitas ekonomi di daerah terpencil.

dan murah dibandingkan

Meskipun demikian ada juga sejumlah kekurangan yang harus dipertimbangkan ketika
membandingkan PLTMH dengan sumber energi lain. Pembangkit listrik air skala kecil identik
dengan :

Biaya investasi yang relatif besar untuk pembangunan PLTMH, meskipun biaya
operasinya rendah.

Memerlukan penguasaan pengetahuan khusus yang kadang tidak tersedia


dimasyarakat setempat. Perlu diperhatikan bahwa PLTMH bukan
merupakan
pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dikecilkan, tetapi sebuah pembangkit
yang memerlukan perencanaan dan pembangunan yang unik dan berbeda dengan
PLTA.

Meskipun PLTMH memerlukan perhatian yang sederhana, tetapi harus dilakukan


secara terus menerus, terutama dalam operasional dan perawatannya. Kadang-kadang
masyarakat desa tidak dipersiapkan untuk melakukannya, sehingga mereka kurang
terorganisir, kurang sadar dan kurang rasa memiliki. Akibatnya PLTMH kurang
mampu bertahan lama. Hal ini merupakan aspek yang harus diperhatikan dengan
teliti dalam merencanakan sebuah PLTMH.

4.2. OPTIMASI KAPASITAS


Kapasitas terpasang dan energi listrik yang dihasilkan dihitung sebagai berikut :

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab IV - 6

DESAIN PLTMH

dimana:
P

= daya yang dihasilkan

kW

= masa jenis air

1,0 kg/m3

= efisiensi turbin

= percepatan gravitasi

9.81 m/det2

= debit pembangkit

m3/det

Hnetto

= tinggi jatuh bersih

meter

Dari hasil survey didapat potensi elevasi tertinggi untuk PLTMH adalah di elevasi +1935,
sedangkan elevasi terndah adalah + 1874 sehingga ada potensi tinggi jatuh (head) sebesar 61
meter.
Namun karena pertimbangan panjangnya saluran hantar diakibatkan oleh kondisi topografi,
maka diusulkan membangun 2 unit PLTMH di Sungai Nagi dengan susunan sebagai berikut :

A. PLTMH Nagi 1 dengan data sebagai berikut :


- Elevasi rencana bendung

+ 1935

- Elevasi rencana powerhouse

+ 1905

- Tinggi Jatuh

30 m

- Tinggi jatuh Nett

27 m

- Debit air

220 liter/detik

- Dari persamaan diatas didapat Kapasitas (P) =

40 kilowatt

B. PLTMH Nagi 2 dengan data sebagai berikut :


- Elevasi rencana bendung

+ 1894

- Elevasi rencana powerhouse

+ 1874

- Tinggi Jatuh

20 m

- Tinggi jatuh Nett

19.5 m

- Debit air

300 liter/detik

- Dari persamaan diatas didapat Kapasitas (P) =

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

40 kilowatt

Bab IV - 7

DESAIN PLTMH

4.3. DESAIN PLTMH


Dengan melihat kondisi lokasi PLTMH di Distrik Bpiri dan Koragi maka direncanakan suatu
bangunan PLTMH yang tidak terlalu rumit dengan material dasar yang mudah diperoleh di
lapangan mengingat kondisi lapangan yang jauh dari pusat keramaian.
Untuk itu dapat dilihat kriteria banguna PLTMH sebagai berikut :

Bendung
Tipe bendung yang biasa digunakan dalam pembangunan PLTMH adalah sebagai berikut:

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab IV - 8

DESAIN PLTMH

Dengan melihat kondisi lapangan dan sulit dan mahalnya harga semen, maka tipe bendung
yang sesuai adalah tipe nomor 4 dan nomor 6 yaitu bendung urugan batu atau bendung batu
bronjong. Tipe ini sangat sesuai dengan keadaan lokasi karena material dasarnya berupa batu
yang dapat diperoleh dari sekitar sungai dan tidak memerlukan semen sebagai campuran
konstruksi. Kelemahan dari konstruksi ini adalah kestabilan struktur dalam menerima aliran
air disaat banjir besar, namun proses perbaikan juga sangat sederhana dan dapat dilakukan
sendiri oleh masyarakat setempat.
Untuk lebih lengkapnya gambar desain PLTMH Bpiri Koragi dapat melihat gambar berikut.

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab IV - 9

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

+264.50

18.00

5.00

0.80

1:2

0.15

1:3

Skala 1 : 350

DENAH

4.00

27.50

+267.00

20.00

0.80

Box Culvert

07. 262

0.15

0.40

+266.50

+264.00

+266.50

0.80
1.00

3.00

0.75

20.00

+265.70
0.50

+263.50

0.30

+266.50

10.00

0.40

0.80
+266.50 +264.50
+262.00
1.00

0.40

8.15

+258.00

DESAIN PLTMH

Bab IV - 10

09. 962+ ba M

DESAIN PLTMH

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab IV - 11

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

0.30

0.30

0.30

1.00

2.20 1.60
1.00
+ 196 .80

0.30

0.30

13.94
12.94

0.30

1.00

0.12

0.25

2.04
2.24

3.75
3.25

0.20

0.25

0.403.62

DESAIN PLTMH

Bab IV - 12

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

2.00

0.80
1.00

+ 192.30

0.60

4.20

0.50+ 191.80

3.09

5.50

1.03

0.40

1.00

1.00

1.00

1.00

0.50

0.40

1.00

5.31

+ 196.80

+ 197.80

3.23

0.45

0.20

5.27

1.20

0.25

0.70

Pip a. Pembuang
+ 198.00

2.00
1.70
0.30
+ 196.50

0.20

0.20

GENERATOR

TURBIN

PANEL

+ 201.48

PEN ANGKAL PETIR

0.45
0.20

0.08

0.40
1.17

0.90

0.25

0.05

0.60

1.03

PIPA PESAT 35 c m

0.05

0.60

1.03

DESAIN PLTMH

Bab IV - 13

RAB

BAB V. RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)


Pemanfaatan sumber pembiayaan yang tercakup dalam bab ini dengan tepat sasaran dan
fungsinya maka harus diketahui jenis pembiayaan yang dapat dilihat berdasarkan sasaran
penerima, bentuk pembiayaan dan cakupan bidang pembiayaan yang disediakan.

5.1. SASARAN PENERIMA


Sasaran penerima adalah pihak yang dapat mengajukan permohonan dan mendapatkan
pembiayaan, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan masing-masing sumber
pembiayaan. Sasaran penerima sumber pembiayaan ini adalah :
a. Pemerintah, baik pemerintah pusat ataupun daerah.
b. Organisasi masyarakat madani, baik yang besar atau kecil, di tingkat nasional
atau daerah. Organisasi masyarakat madani ini mencakup lembaga swadaya
masyarakat, kelompok swadaya masyarakat, yayasan,
paguyuban, organisasi
keagamaan, organisasi sosial dan budaya, organisasi perempuan, asosiasi profesional,
lembaga penelitian, kelompok tenaga ahli, organisasi jasa sukarelawan, koperasi,
organisasi yang dibentuk masyarakat setempat dan lainnya.
c. Sektor swasta, yaitu para pelaku usaha dan investor yang bertujuan untuk
mendapatkan keuntungan moneter.
d. Masyarakat umum, yaitu masyarakat yang tidak diwakilkan oleh suatu organisasi
atau lembaga apapun, termasuk individu.
Sasaran penerima dari masing-masing sumber pembiayaan perlu diketahui
sebelum mengajukan proposal pembiayaan agar tiap pemohon dapat memilih sumber
pembiayaan yang tepat sesuai dengan kondisinya. Terkait dengan sasaran penerima ini
yang juga harus diperhatikan adalah daerah sasaran, yaitu lokasi dimana kegiatan
yang diajukan untuk dibiayai akan dilangsungkan. Beberapa sumber pembiayaan
memiliki batasan lokasi tertentu untuk menyalurkan pembiayaannya.

5.2. BENTUK PEMBIAYAAN


Ada berbagai jenis pembiayaan yang tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan energi mikrohidro. Mohon diperhatikan bahwa pembiayaan yang dimaksud
dalam buku ini tidak terbatas dalam bentuk dana yang diberikan secara langsung, namun
termasuk juga segala bentuk dana yang diwujudkan dalam bentuk barang, kegiatan atau

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 1

RAB

upaya untuk mendukung pengembangan mikrohidro, baik secara langsung ataupun tidak.
Bentuk-bentuk pembiayaan tersebut diantaranya adalah :
a. Pemberian dana secara langsung, bisa dalam bentuk :

Hibah yaitu pemberian dana tanpa kewajiban untuk mengembalikan.

Pinjaman yaitu pemberian dana dengan kewajiban untuk mengembalikan


berdasarkan kesepakatan yang disetujui sebelumnya.

Investasi yaitu pemberian dana


dengan
suatu harapan mendapatkan
keuntungan dalam jangka waktu tertentu, termasuk penyertaan modal.
Bentuk pembiayaan ini umumnya diberikan oleh lembaga pemerintah, lembaga
donor, organisasi nirlaba/non-pemerintah dan lembaga keuangan.

b. Penyediaan perlengkapan fisik, mencakup pemberian secara langsung alat dan bahan
untuk membangun PLTMH dan berbagai teknologi yang mendukung.
c. Pendampingan, termasuk di dalamnya fasilitasi, advokasi kebijakan, pembentukan
jaringan, kerjasama atau asosiasi. Bentuk pembiayaan ini banyak diberikan oleh lembaga
donor dan organisasi nirlaba/non-pemerintah dalam hal pembentukan organisasi
masyarakat, pembuatan atau perbaikan kebijakan, pengembangan jaringan pemasaran
hasil industri rumah tangga, dan lainnya.
d. Peningkatan kapasitas, yaitu peningkatan kemampuan dan sumberdaya individu,
organisasi dan komunitas dalam mengatasi perubahan pembangunan, termasuk di
dalamnya adalah pembentukan kesadaran, keterampilan, pengetahuan, motivasi,
komitmen dan kepercayaan diri.
e. Pengkajian, dalam bentuk studi atau saran di bidang mikrohidro dan energi baru
terbarukan. Bentuk pembiayaan ini terutama dilakukan oleh lembaga pemerintah,
lembaga donor serta beberapa organisasi nirlaba/non-pemerintah.
Bentuk pembiayaan yang disediakan setiap sumber pembiayaan perlu diketahui pemohon
agar dapat dipilih sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya masing-masing, baik pemohon
secara kelompok ataupun individu. Pemilihan
tersebut termasuk juga melihat
kemungkinan kerjasama pembiayaan dari berbagai sumber dengan bentuk pembiayaannya
masing-masing.
Sebagai contoh sumber pembiayaan A diminta untuk memberikan pinjaman dalam
pembelian bahan-bahan instalasi PLTMH, sedangkan sumber pembiayaan B diminta untuk
memberikan penguatan masyarakat sejak perencanaan hingga paska pembangunan PLTMH
dan sumber pembiayaan C diminta untuk membantu proses pembuatan regulasi yang
mendukung di lokasi terkait, dan seterusnya.

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 2

RAB

5.3. BIDANG CAKUPAN


Sumber pembiayaan mikrohidro yang tersedia sebenarnya tidak terbatas pada bidang teknik
atau infrastruktur, namun juga bisa memanfaatkan sumber-sumber pembiayaan di bidang
lainnya, sehingga perlu dilihat keterkaitan pengembangan mikrohidro dengan bidangbidang lain tersebut sehingga sumber-sumber pembiayaan yang ada dapat dimanfaatkan
secara maksimal dan pembangunan yang dilakukan bisa menyeluruh dan berkesinambungan.
Berikut adalah beberapa bidang cakupan pembiayaan yang dirangkum dari sumber-sumber
pembiayaan di buku ini yang memiliki atau berpotensi memiliki keterkaitan dengan
program-program mikrohidro.
a.

Infrastruktur dan teknologi, yaitu pembangunan fisik serta penyediaan, pembuatan


dan penelitian mengenai teknologi pendukung. Sumber pembiayaan di bidang ini
contohnya bisa ikut membantu pembiayaan dalam penyediaan dana instalasi PLTMH,
penyediaan teknologi tepat guna pendukung usaha produktif berbasis mikrohidro,
dan lainnya.

b.

Lingkungan hidup, yaitu berbagai upaya untuk menjaga kelestarian alam pada
dan di sekitar wilayah PLTMH, serta memberikan penyadaran serta pendidikan kepada
masyarakat mengenai manajemen sumberdaya alam. Sumber pembiayaan di bidang ini
contohnya dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan tentang penjagaan
daerah tangkapan air, penyadaran masyarakat untuk beralih ke sumber energi yang
ramah lingkungan, dan lainnya.

c.

Ekonomi, yaitu segala kegiatan yang ber tujuan untuk menyediakan modal,
menciptakan mata pencarian dan meningkatkan pendapatan masyarakat, termasuk juga
penyediaan layanan finansial. Sumber pembiayaan di bidang ini dapat membantu
program-program mikrohidro untuk penyediaan modal, penyiapan dan pengelolaan
usaha produktif berbasis mikrohidro; pembukaan akses masyarakat terhadap lembaga
keuangan; dan lainnya.

d. Sosial, yaitu segala hal yang berkaitan dengan hubungan masyarakat, gejala dan
perilakunya. Contohnya adalah pembangunan PLTMH di daerah-daerah tertinggal dalam
rangka pengentasan kemiskinan, pendampingan masyarakat dalam menyerap teknologi
PLTMH, fasilitasi pembentukan organisasi pengelola listrik, pembentukan dan penguatan
jaringan masyarakat dan pengusaha, dan lainnya.
e.

Pemerintahan dan kebijakan, yaitu berbagai upaya advokasi dan penyusunan peraturan
serta anggaran negara (tingkat pusat dan lokal) yang dapat mewakili kebutuhan
pengembangan energi mikrohidro. Sumber pembiayaan di bidang ini contohnya dapat
dimanfaatkan untuk membantu penyediaan kebijakan yang mendukung di suatu daerah,
pengalokasian dana pembangunan PLTMH oleh pemerintah, penguatan kapasitas
pemerintah daerah dalam melakukan studi kelayakan, dan lainnya.

f.

Pendidikan, yaitu memberikan bantuan pendidikan formal atau informal, baik kepada
masyarakat, organisasi atau individu, yang berkaitan dengan pengembangan energi
mikrohidro, termasuk di dalamnya beasiswa dan pelatihan. Sumber pembiayaan di bidang

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 3

RAB

ini contohnya dapat dimanfaatkan oleh individu-individu untuk mendapatkan


pendidikan khusus mengenai mikrohidro atau dimanfaatkan oleh kelompok untuk
pelatihan operator PLTMH, dan lainnya.
g.

Jender, yaitu memastikan adanya kesetaraan antara peran laki-laki dengan perempuan
dalam segala aspek. Sumber pembiayaan di bidang ini contohnya dapat dimanfaatkan
untuk memfasilitasi pengambilan keputusan pembangunan PLTMH dan penentuan tarif
yang
mengedepankan
keseimbangan
jender,
ser ta pengembangan usaha
perempuan berbasis mikrohidro.
Bidang cakupan dari masing-masing sumber pembiayaan perlu diketahui sebelum
mengajukan
permohonan pembiayaan agar pemohon dapat memilih sumber
pembiayaan yang sesuai dengan arah program yang akan dikembangkan. Selain itu,
dengan
mengetahui cakupan
sumber pembiayaan ini pemohon juga dapat
menggabungkan berbagai sumber pembiayaan berdasarkan spesifikasi kegiatan yang
akan dilaksanakan, sehingga pembangunan dapat direncanakan dan dilakukan
secara menyeluruh mulai dari persiapan hingga paska pembangunan PLTMH.

5.4. LANGKAH PENGAJUAN PERMOHONAN PEMBIAYAAN


Berikut ini dijabarkan langkah pengajuan permohonan pembiayaan dalam pembangunan
PLTMH. Langkah-langkah tersebut bukanlah langkah yang baku harus diikuti. Langkah-langkah
tersebut dapat diikuti sesuai dengan kondisi masing-masing, baik dari urutan ataupun isinya.
Apabila pemohon mengalami kesulitan sebaiknya dikonsultasikan ke sumber pembiayaan
terkait. Beberapa sumber pembiayaan ada yang menyediakan bantuan sejak pembuatan
proposal.
a. Perumusan Kegiatan dan Pemetaan Potensi
Ide awal suatu program atau kegiatan harus mulai disusun secara sistematis dan informasi
yang diperlukan mulai dikumpulkan untuk nantinya diartikulasikan ke dalam proposal. Ide
awal ini mencakup tujuan program atau kegiatan yang diajukan; latar belakang, alasan
dan manfaat dilaksanakannya program atau kegiatan tersebut; penjelasan singkat
tentang bentuk, waktu, lokasi, bagaimana dan siapa yang akan melaksanakan program
atau kegiatan tersebut; serta gambaran kasar biaya yang diperlukan. Selain itu perlu juga
dilihat potensi atau modal yang dimiliki, baik dalam bentuk dana, sumber daya manusia,
sumber daya alam, atau lainnya. Pemetaan tersebut nantinya akan sangat membantu
dalam menentukan skema pembiayaan yang diperlukan, apakah hibah, pinjaman,
investasi, swadaya atau gabungan.
b.

Identifikasi Sumber Pembiayaan


Identifikasi dapat dimulai dengan mempelajari visi-misi atau tujuan sumber pembiayaan.
Jika sudah terdapat kesesuaian maka bisa dilanjutkan dengan mengkaji program yang
terkait dan pihak yang pernah diberikan pembiayaan. Terkait hal ini, pemohon harus
memperhatikan kriteria atau syarat yang diminta sumber pembiayaan, seperti sasaran

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 4

RAB

penerima, daerah sasaran, bidang cakupan atau prioritas sektoral, termasuk keterkaitan
dengan pengembangan energi mikrohidro, jumlah dan bentuk pembiayaan yang
diberikan, waktu dan proses pengajuan proposal permohonan pembiayaan.
Beberapa contoh sumber pembiayaan, antara lain :

c.

Pemerintah Daerah maupun Provinsi

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Direktorat Jenderal Listrik dan
Pemanfaatan Energi (DJLPE)

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Pusat Penelitian dan


Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan dan Energi Baru Terbarukan
(P3TKEBT)

Departemen Pekerjaan
Sumber Daya Air (Pusair)

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KKUKM)

Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT)

Strengthening Scheme (ACCESS)

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri

Umum

Pusat

Penelitian

dan Pengembangan

Menjalin Hubungan dengan Sumber Pembiayaan


Apabila dimungkinkan, pemohon membuka hubungan dengan wakil
sumber
pembiayaan sebelum mengajukan proposal permohonan pembiayaan. Hal ini diperlu
kan untuk mengklarifikasi keakuratan informasi sumber pembiayaan tersebut. Hal yang
perlu dikatahui antara lain alamat, program yang dijalankan, syarat atau kriteria yang
diperlukan hingga waktu dan proses pengajuan proposal. Komunikasi dengan sumber
pembiayaan ini juga ditujukan untuk melihat peluang dari sumber pembiayaan dimaksud
untuk membuka
diri dan memberikan pembiayaan bagi program-program
pengembangan energi mikrohidro.

d. Penyusunan Proposal

Proposal Permohonan Pembiayaan


Sebelum menuliskan proposal secara resmi sebaiknya pemohon mengecek ke masingmasing sumber pembiayaan yang dipilih apakah mereka menyediakan formulir
atau format tertentu untuk mengajukan permohonan pembiayaan. Apabila memang
disediakan,
maka gunakanlah formulir atau format tersebut. Apabila tidak
disediakan, maka pemohon harus membuatnya sendiri, tentu saja disesuaikan
dengan jenis pembiayaan yang diajukan. Secara umum, proposal pengajuan
permohonan pembiayaan mencakup :
i.

Penjelasan mengenai latar belakang dan tujuan, urgensi kegiatan atau


program yang diajukan, jika mungkin dilengkapi dengan fakta atau data yang

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 5

RAB

akurat.
ii.

Penjelasan singkat dan padat mengenai kegiatan atau program yang


diajukan, mencakup judul usulan, lokasi pelaksanaan, waktu pelaksanaan,
pihak yang akan melaksanakan, cara-cara pelaksanaan dan evaluasinya.

iii.

Penjelasan singkat dan padat mengenai dampak dan pihak- pihak yang akan
mendapatkan keuntungan dari kegiatan atau program tersebut.

iv.

Penjelasan singkat dan padat mengenai keberlanjutan kegiatan atau


program yang diajukan, termasuk masalah pembiayaan, seperti potensi untuk
mandiri jika pembiayaan berakhir dan peran masyarakat lokal untuk
mengelola kegiatan atau program tersebut.

v.

Anggaran biaya yang diperlukan dan disediakan pihak lain (jika ada). Anggaran
ini disusun secara rinci berdasarkan kegiatan atau program yang diajukan.
Penjelasan
detil mengenai anggaran dapat dimasukkan dalam lampiran
proposal.

vi.

Penjelasan singkat dan padat mengenai lembaga atau organisasi pemohon


yang dapat menunjukkan kapasitasnya untuk melaksanakan kegiatan atau
program yang diajukan.

Bentuk laporan
pendukung dijabarkan
secara
PenyusunanLaporan Studi Kelayakan Teknis Buku 3.

lengkap

pada Pedoman

Proposal Bisnis
Pembangunan PLTMH di Indonesia umumnya masih dibiayai dengan dana hibah,
namun penggunaan dana pinjaman atau dana investasi dapat digunakan untuk
membiayai program- program pengembangan energi mikrohidro. Proposal untuk
mengajukan investasi pendirian PLTMH atau pengembangan usaha berbasis
mikrohidro biasa disebut dengan proposal bisnis (business plan).
Proposal ini menggambarkan secara sistematis suatu usulan usaha sehingga setiap
tahapan kegiatan usaha dapat dilakukan secara teratur dan terjadual dengan baik.
Selain menjadi salah satu alat untuk mencari pembiayaan, baik dari investor ataupun
lembaga keuangan, adanya proposal ini akan mempertajam rencana-rencana usaha
yang diharapkan. Secara umum, proposal ini mencakup hal :
i.

Penjelasan singkat dan padat mengenai latar belakang permasalahan


untuk mendapatkan pembiayaan, serta kemendesakkannya.

ii.

Penjelasan singkat dan padat mengenai perusahaan yang akan menjalankan


usaha yang diajukan, mencakup nama perusahaan, bentuk usaha, visi-misi dan
tujuan, susunan pengurus dan pelaksana, ukuran dan lokasi usaha, perkiraan
waktu usaha dimulai, serta legalitas perusahaan.

iii.

Penjelasan singkat dan padat mengenai produk yang dihasilkan, baik


dalam bentuk barang ataupun jasa, mencakup penyediaan bahan baku, proses

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 6

RAB

produksi, kapasitas produksi, teknologi yang digunakan dan pembiayaannya.


Penjelasan ini sebaiknya juga menunjukkan kelebihan dan kekhususan dari
produk yang dihasilkan.
iv.

Penjelasan singkat dan padat mengenai situasi pasar, mencakup target


atau potensi pelanggan, proses distribusi, peluang dan prospek pertumbuhan
pasar, kondisi persaingan pasar, serta cara-cara promosi.

v.

Penjelasan rinci tentang situasi keuangan perusahaan yang mencakup dana yang
dikumpulkan, berkaitan dengan jumlah penanam modal, asal pendanaan dan
daftar
pemegangsaham
rencana keuangan yaitu cash flow y a n g
memproyeksikan untung dan rugi perusahaan idealnya untuk 35 tahun ke
depan. Penjelasan ini pada akhirnya akan menunjukkan nilai investasi usaha
yang diajukan.

vi. Penjelasan rinci mengenai jumlah pembiayaan yang diminta, jangka waktu
pengembalian, tenggat waktu (gross periode) dan apabila ada, alternatif jaminan
beserta nilai taksirannya. Mengenai
bentuk
dan
nilai jaminan
bisa
dikonsultasikan kepada sumber pembiayaan terkait.

Bentuk laporan pendukung dijabarkan secara


Penyusunan Laporan Studi Kelayakan Teknis Buku 3. e.

lengkap

pada Pedoman

e. Kelengkapan Dokumen
Setiap sumber pembiayaan umumnya meminta pemohon untuk melengkapi
proposalnya dengan dokumen terkait. Dokumen yang diminta bisa berbeda antar
sumber pembiayaan dan harus dicek kembali kepada sumber pembiayaan yang
dipilih. Dokumen yang umumnya diminta sumber pembiayaan sebagai kelengkapan
permohonan adalah

Khusus untuk pembiayaan pembangunan atau instalasi PLTMH, sumber


pembiayaan akan meminta laporan studi potensi atau pra studi kelayakan
dan studi kelayakan. Studi kelayakan yang ditujukan untuk menilai kelayakan
investasi atau mengetahui tingkat keberhasilan proyek dalam berbagai aspek
ini terutama diperlukan oleh sumber pembiayaan seperti investor selaku
pemrakarsa, bank selaku pemberi kredit dan pemerintah selaku pemberi
fasilitas. Studi kelayakan perlu menghasilkan beberapa opsi pembangunan dan
penjelasan
tentang konsekuensi dari setiap opsi. Hasilnya kemudian
ditindaklanjuti dengan melakukan konsultasi kepada masyarakat dan sumber
pembiayaan terkait untuk menyepakati opsi yang akan digunakan.

Perencanaan rinci (detailed engineering design) juga umumnya diminta untuk


dilampirkan dalam pengajuan pembiayaan instalasi PLTMH. Perencanaan
rinci dibuat berdasarkan opsi yang dipilih dari studi kelayakan. Perencanaan
rinci tersebut mencakup rencanan bangunan sipil, sistem mekanikal elektrikal,
sistem kendali, sistem transmisi dan distribusi, serta biaya yang dibutuhkan.

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 7

RAB

f.

Pembuatan studi potensi atau pra studi kelayakan, studi kelayakan dan
rencana rinci ini dapat dilakukan bekerjasama dengan pihak lain sebelum
mengajukan proposal atau diajukan sebagai salah satu bentuk pembiayaan.

Permohonan pembiayaan yang ditujukan kepada pemerintah ada baiknya


dilengkapi dengan surat pengantar dari pemerintah daerah setempat.

Kepastian keberadaan lembaga atau organisasi pemohon biasanya sumber


pembiayaan meminta dokumen pendukung seperti fotokopi tanda pengenal,
akta pendirian, nomor pokok wajib pajak (NPWP), susunan organisasi dan
daftar pengurus, serta neraca keuangan.

Gambar atau foto pendukung juga dapat dilampirkan dalam proposal.

Pengiriman Proposal
Proposal yang sudah selesai dan dilengkapi dengan dokumen- dokumen yang diminta
dapat dikirimkan melalui pos, internet atau diserahkan langsung, tergantung
ketentuan dari sumber pembiayaan yang dipilih. Sebelum dikirim, mohon
diperhatikan kembali batasan waktu pengiriman proposal, proses penyeleksian dan
pengumuman penerimaan proposal. Pemohon dapat mengirimkan proposal kepada
beberapa sumber pembiayaan. Mengingat besarnya jumlah biaya dan beragamnya
kegiatan yang diperlukan untuk mengembangkan energi mikrohidro secara
berkesinambungan maka pemohon bisa membagi pengajuan permohonan dana atas
beberapa kegiatan ke beberapa sumber pembiayaan.

g. Kegiatan
Setelah melakukan penilaian kelayakan, sumber pembiayaan umumnya akan
menginformasikan secara langsung proposal yang diterima, namun demikian ada
baiknya pemohon juga mengecek proses penerimaan tersebut. Jika proposal
diterima, maka segera koordinasikan langkah-langkah yang harus dilakukan dengan
sumber pembiayaan terkait. Jika proposal tidak diterima, ada baiknya pemohon
menanyakan sebab atau alasan penolakan tersebut sebagai bahan perbaikan
pembuatan proposal kembali

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 8

RAB

5.5. RENCANA BIAYA KONSTRUKSI PLTMH BPIRI KORAGI


Dari hasil desain yang sudah dilakukan dapat disusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk
konstruksi PLTMH Bpiri Koragi sesuai dengan harga satuan material dan upah setempat.
Uraian lengkap RAB dapat melihat uraian berikut.

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 9

RAB

Dari perhitungan di atas pembangunan PLTMH Bpiri Koragi 40 Kw memerlukan biaya


konstruksi 1,24 Milyar Rupiah sebelum PPN.

Biaya diatas hanya untuk konstruksi PLTMH saja, sedangkan untuk biaya pemasangan jaringan
listrik baik jaringan Transmisi, Distribusi dan Sambungan Rumah diperlukan perhitungan
terpisah karena konstruksinya tidak bersambungan, artinya bisa dibangun sesudah maupun
sebelum pelaksanaan konstruksi PLTMH.

Untuk Perhitungan kebutuhan jaringan untuk pemenuhan listrik di sekitar Distrik Bpiri dan
Koragi dapat melihat perhitungan sebagai berikut.

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 10

RAB

Perkiraan anggaran biaya untuk pemasangan jaringan listrik di Distrik Bpiri dan Koragi Secara
optimal adalah sekitar 1,57 Milyar Rupiah belum termasuk PPN. Tentunya tidak semua KK
akan teraliri listrik mengingat penyebaran penduduk di kedua Distrik kurang merata,
diutamakan untuk desa - desa dengan keramaian terpusat.

Desain PLTMHHHHH Bpiri Koragi

Bab V - 11

KAJIAN LINGKUNGAN

BAB VI. KAJIAN LINGKUNGAN


6.1 KEMUNGKINAN DAMPAK LINGKUNGAN
Informasi kemungkinan
dampak
yang akan terjadi dilakukan secara analisis
hipotesis/teoritis. Upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan sebagai langkah awal
didasarkan terhadap dampak hipotesis/teoritis yang diperkirakan akan menimbulkan
perubahan mendasar terhadap komponen/parameter lingkungan baik pada tahap
prakonstruksi, konstruksi maupun pascakonstruksi.

a. Tahap Prakonstruksi
Dampak yang akan terjadi pada tahap prakonstruksi cenderung terhadap komponen
lingkungan sosial, ekonomi dan budaya. Dampak tersebut terjadi dengan adanya kegiatan
survai lapangan, pengadaan dan pembebasan lahan untuk bangunan air dan daerah
penyangganya. Melalui kegiatan survai lapangan dan rencana kegiatan pengadaan dan
pembebasan lahan diperkirakan akan timbul beberapa dampak mendasar yaitu :

Keberatan penduduk pemilik lahan untuk


untuk tapak bangunan yang mungkin diperlukan.

Apabila penduduk tidak keberatan dengan kegiatan pembebasan lahan, maka


dampak yang diprakirakan akan terjadi yaitu dalam menentukan besarnya nilai ganti
rugi.

Apabila tidak terjadi kesepakatan yang baik antara pihak pemilik konstruksi dan
penduduk pemilik/penggarap lahan yang diperlukan konstruksi maka akan
menimbulkan ketidakpuasan penduduk yang pada gilirannnya akan menimbulkan
persepsi yang kurang baik dan masyarakat terhadap pembangunan pembangkit
tenaga listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).

b.

menyediakan pembebasan lahan

Tahap Konstruksi

Dampak yang akan terjadi pada tahap konstruksi dengan adanya kegiatan konstruksi yang
diperkirakan akan dilaksanakan yaitu mobilisasi peralatan berat dan material, rekrutmen
tenaga kerja, pengadaan material dan pekerjaan sipil lainnya. Dampak terhadap komponen
Iingkungan yang diperkirakan akan terjadi pada tahap konstruksi, yaitu

Dampak Terhadap Sumberdaya Alam


i. Dampak Kelestarian Alam

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 1

KAJIAN LINGKUNGAN

ii. Dampak Terhadap Sumberdaya Biologi

Dampak Terhadap Komponen Fisik-Kimia


i.

Perubahan iklim mikro

ii. Penurunan kualitas udara dan peningkatan kebisingan


iii. Kerusakan top soil tanah
iv. Dampak terhadap hidrologi

Dampak Terhadap Komponen Lingkungan Fisiologi


i.

Terganggunya biota darat

ii. Terganggu biota perairan

Dampak Terhadap Komponen Lingkungan Sosial, Ekonomi dan Budaya


i.

c.

Terganggunya estetika dan kenyamanan lingkungan ii. Terbukanya kesempatan


kerja

Tahap Pascakonstruksi

Tahap pascakonstruksi, dampak diperkirakan akan terjadi terhadap komponen lingkungan,


sosial, ekonomi dan budaya. Kegiatan yang menjadi sumber dampak yaitu pemeliharaan
bangunan sipil PLTMH dan di sekitarnya.

Dampak terhadap sumberdaya alam


Tahap pascakonstruksi,
bangunan yang akan dibangun diperkirakan akan
menimbulkan dampak terjaganya kelestarian sumberdaya alam. Hal ini akan
terjadi apabila konstruksi bangunan yang akan dibangun mempertimbangkan
kondisi lingkungan yang ada, sehingga dengan adanya bangunan tersebut akan
menghilangkan pengaruh banjir dan genangan.

Dampak terhadap komponen lingkungan sosial, ekonomi dan budaya


Kegiatan pendayagunaan sumber air di daerah
intensitas kegiatan masyarakat di sekitarnya.

tersebut akan meningkatkan

Mengacu pada semua potensi yang dimiliki, terutama dan aspek sumberdaya lahan,
penduduk serta areal pertanian dan ketersediaan sarana, maka daerah studi dinilai
memiliki potensi untuk dikembangkan. Pengembangan daerah yang dimaksudkan
adalah meningkatkan perekonomian lainnya. Dampak ini lebih bersifat positif
terhadap peningkatan kualitas daerah tersebut, serta pada akhirnya diharapkan
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Prakiraan dampak-dampak lingkungan yang diprakirakan akan terjadi akibat kegiatan
pengembangan daerah tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 2

KAJIAN LINGKUNGAN

Tabel 6 -1. Prakiraan Dampak Pembangunan Konstruksi

No

A
1

B
1.

Tahapan Kegiatan
Konstruksi dan Komponen
Kegiatan Sumber Dampak
Prakonstruksi
Pengadaan/Pembebas an
Lahan

Konstruksi
Mobilisasi peralatan berat dan
material

Komponen Lingkungan
dan Perkiraan Prediksi
Dampak Terjadi

Dampak terhadap
komponen lingkungan
sosial, ekonomi dan
budaya
a. Keberatan
penduduk
untuk
menyediakan lahan
sempadan sungai
b. masalah nilai ganti
rugi
untuk
pembebasan lahan
sungai
c. Persepsi masyarakat
terhadap konstruksi

Sebaran Dampak

Dampak yang akan


terjadi di sekitar
bangunan sumber air
yang berada di
lingkungan
kota/pemukiman
penduduk Dampak yang
akan terjadi di sekitar
bangunan sumber air
yang berada di
lingkungan
kota/pemukiman
penduduk Dampak yang
akan terjadi di sekitar
bangunan s umber air
yang berada di
lingkungan
kota/pemukiman
penduduk

Dampak terhadap
komponen lingkungan
fisika - kimia

Rekrutmen tenaga kerja


2.
Penerimaan tenaga kerja
Penerimaan tenaga kerja dari
luar daerah

Pekerjaan Sipil

3.

Pembukaan lahan lahan ( land


clearing ) yang menyebabkan
hilangnya vegetasi sempadan
sungai

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Dampak terhadap
komponen lingkungan
sosial, ekonomi dan
sosial
Terbukanya kesempatan
kerja bagi penduduk
setempat Kesempatan
kerja bagi pendu duk
dari luar daerah
Interaksi
tenaga
pendatang penduduk.
Konflik sosial

Dampak yang akan


terjadi di sekitar
bangunan sumber air
yang berada di
lingkungan
kota/pemukiman
penduduk Dampak yang
akan terjadi di sekitar
bangunan sumber air
yang berada di

Bab VI - 3

KAJIAN LINGKUNGAN

Pembukaan lahan untuk tapak


bangunan PLTMH
Pengerukan dasar bangunan
Pembangunan/ penimbunan
tanah galian

Pembangunan bangunan
PLTMH
Pembangunan bangunan
PLTMH yang mengganggu
sistem irigasi dan atau
drainase
Pekerjaan
pembangunan
bangunan PLTMH

Pembukaan lahan (land


clearing ) tapak bangunan
Penggalian pondasi tapak
bangunan yang
menyebabkan kekeruhan
ekosistem perairan di
sekitar tapak

Dampak
terhadap lingkungan
komponen lingkungan kota/pemukiman
fisika kimia
penduduk
a. Perubahan iklim mikro
(temperatur dan
arah/kecepat - an
Dampak akan terjadi
angin)
pada bangunan
pendayaguna sumber
b. Dampak terhadap
air
fisiologi dan geologi
Perubahan sempadan
Dampak akan terjadi di
sungai
seluruh bangunan
pendayaguna sumber
Kerusakan top soil
air Dampak akan terjadi
tanah
di seluruh bangunan
pendayaguna sumber
a. Dampak terhadap
air
hidrologi
Terganggunya sistem
aliran sungai/ saluran
dan pembuangan air
Peluang terjadi
genangan/banjir di
bagian darat dari
bangunan
Penurunan kualitas
air sungai
Komponen
Lingkungan Biologi

Pekerjaan pem
a. Terganggunya
vegetasi
bangunan bangunan yang
menimbulkan permukiman
b. terganggunya biota
penduduk
perairan di sekitar
Ceramah dan gang
- guan
tapak konstruksi
kegiatan pem
- bangunan
bangunan
Dampak terhadap
Komponen Lingkungan
Sosial, Ekonomi, dan
Budaya a. Tergang gunya
estetika
kenyamanan
lingkungan
b. terganggunya
kesehatan

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Dampak akan terjadi


di seluruh bangunan
pendayaguna
sumber air
Dampak akan terjadi
di sekitar bangunan
yang melintas
drainase , saluran
irigasi dan atau
sungai

Dampak yang terjadi di


sekitar lokasi
bangunan yang
berbatasan
langsung/dekat
dengan lingkungan
perairan Dampak yang
terjadi di sekitar
bangunan
PLTMH
yang curam

Bab VI - 4

KAJIAN LINGKUNGAN

penduduk
c. konflik sosial
antara tenaga kerja
konstruksi dengan
penduduk
C

Pascakonstruksi
Pemeliharaan bangun - an dan
sempadan sungai/saluran

Dampak terhadap
komponen lingkungan
sosial, ek onomi dan
Aktivitas pembangunan
budaya
perumahan penduduk
a. Terbentuknya
lingkungan yang
kumuh di sekitar
bangunan
Penggunaan daerah sempadan
pendayaguna sumber
sungai/ saluran menjadi
air
prasarana pembangun- an
b.Penurunan sanitasi
kebersihan sampah dan
lingkungan dan
sarana sanitasi lainnya
kesehatan masyarakat
c. Konflik sosial antara
petugas pemeliharaan
bangunan dan
sempadan
sungai/saluran dengan
penduduk sektiar

6.2 PROGRAM PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Program secara singkat dan jelas menguraikan sebagai berikut.
a. Langkah yang dilakukan untuk mencegah dan mengelola dampak termasuk upaya
untuk menangani dan menanggulangi keadaan darurat, misalnya upaya untuk
mencegah terjadinya potensi longsor dan banjir.
b. Kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan
dampak dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup, misalnya
dengan pembangunan terasiring untuk pengamanan aliran air yang dimanfaatkan.
Tolok ukur yang digunakan untuk mengukur efektivitas pengelolaan lingkungan hidup
dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup, contohnya baku mutu
kebisingan

6.3 STATUS LINGKUNGAN DAN KEMAJUAN M ANUSIA


Menggeser status desa dari desa terbelakang menjadi desa berkembang merupakan tugas
yang diemban oleh pembangkit mikrohidro. Dari desa yang kekurangan sumber daya manusia
atau tenaga kerja dan juga kekurangan dana sehingga tidak mampu memanfaatkan potensi

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 5

KAJIAN LINGKUNGAN

yang ada di desanya; desa terbelakang berada di wilayah yang terpencil jauh dari kota, taraf
berkehidupan miskin dan tradisional serta tidak memiliki sarana dan prasaranan penunjang
yang mencukupi, berubah menjadi desa sedang berkembang yang mulai menggunakan
dan memanfaatkan potensi fisik dan nonfisik yang dimilikinya tetapi masih kekurangan
sumber keuangan atau dana; belum banyak memiliki sarana dan prasarana desa dan
masih sedikit yang berpendidikan tinggi dan tidak bermata pencaharian utama sebagai
petani di pertanian saja serta banyak mengerjakan sesuatu secara gotong royong. Tahapan
akhir yang diharapkan menuju desa maju yaitu desa yang berkecukupan dalam hal sdm /
sumber daya manusia dan juga dalam hal dana modal sehingga sudah dapat
memanfaatkan dan menggunakan segala potensi fisik dan non fisik desa secara maksimal.
Atau yang dikenal sebagai kehidupan desa swasembada sudah mirip kota yang modern
dengan pekerjaan mata pencarian yang beraneka ragam serta sarana dan prasarana yang
cukup lengkap untuk menunjang kehidupan masyarakat pedesaan maju. Mengoptimalkan
sustainabilitas pemantaatan sumber daya energi lokal sebagai faktor input bagi keunggulan
wilayah perdesaan ini salah satu jalan yang harus ditempuh.
Jumlah desa tertinggal masih banyak, tersebar dari timur hingga barat Indonesia. Untuk
meningkatkan status desa tertinggal itu menjadi desa maju, melalui penanganan terpadu
antara departemen, pemda, dan swasta, maka desa tertinggal itu cepat berubah bentuknya
menjadi daerah maju sehingga dijadikanlah desa model. Desa model itu yang sebelumnya
selalu gelap gulita jika malam hari, kini sudah terang benderang. Listrik tidak saja menerangi
rumah-rumah penduduk, tetapi juga melancarkan roda industri kecil yang bermunculan.
Akibatnya, terjadilah mobilitas yang tinggi dan tumbuhnya semangat masyarakat untuk
berlomba meningkatkan derajat kesejahteraan mereka dengan cara memberdayakan potensi
daerahnya. Kini keseharian kegiatan masyarakat desa model itu tidak saja bertani, tetapi
juga membudidayakan ternak unggulan yang bernilai ekonomis.
Prototipe Desa tertinggal di kabupaten yang tidak memiliki jaringan listrik, tidak memiliki akses
transportasi yang memungkinkan kendaraan umum keluar masuk untuk membeli hasil
peternakan, pertanian, dan perkebunan. Juga memiliki banyak keterbatasan lain. Setelah
ditangani secara terpadu, dalam lima tahun kemudian jumlah kabupaten yang punya
desa tertinggal berkurang. Jika sinergi lintas kementerian, pemda, dan swasta berjalan
lancar, maka pada 2015 sudah tidak ada lagi desa tertinggal di Indonesia. Untuk
melancarkan target itu, departemen dan desa dapat merancang program pembentukan
lembaga Kader Penggerak Pembangun.
Melalui lembaga itu para kader pembangunan desa tidak saja mengkoordinasi
masyarakat desa tertinggal agar bersatu meningkatkan kualitas desanya, tetapi juga
memberi pengetahuan secukupnya tentang syarat yang distandarkan untuk memiliki desa
maju. Departemen sendiri sejak pencanangan desa model diberlakukan, terus-menerus
mengusulkan dana alokasi khusus dalam bentuk peningkatan sarana dan prasarana pedesaan
tertinggal.
Upaya bersama antara masyarakat desa dan pemerintah atau stake holder lainnya dalam
memperhatikan pelestarian fungsi lingkungan dan keberlanjutan mikrohidro adalah dimensi

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 6

KAJIAN LINGKUNGAN

kualitas yang dijadikan pertimbangan terkait dengan bahwa keberhasilan


mikrohidro relevan dengan keterlibatan banyak pemangku kepentingan.

sebuah

Keterlibatan banyak pemangku kepentingan terkait dengan sharing pengetahuan,


aktivitas monitoring, kegiatan kepelatihan, dan sebagainya. Impak jelas mengenai
kemampuan masyarakat terhadap bagaimana mengelola mikrohidro dan perhatian pada
aspek lainnya secara tidak langsung memberikan pengaruh pada mikrohidro.
Ini dapat kita nilai bagaimana peresapan antara pengetahuan masyarakat dengan
pembelajaran lain yang didapat secara eksternal. Kita dapat memulai dari pengetahuan
antropologi-ekologi
sering memperlihatkan adanya sistem pengetahuan, teknologi,
kepercayaan, dan kelembagaan yang dipraktikkan dan dikembangkan oleh masyarakat
lokal selama bertahun-tahun dalam mengelola sumber
daya
alam (resource
management) mereka.
Kumpulan
pengetahuan, kepercayaan, dan kelembagaan
masyarakat lokal ini biasa disebut dengan istilah kearifan lingkungan (environmental
wisdom) dan bagaimana pemangku kepentingan lain masuk dalam cara pikir
tersebut dengan mempengaruhinya melalui pengetahuan lain.
Pemangku kepentingan harus masuk melalui pengetahuan ratusan dan bahkan ribuan
kearifan lingkungan yang tersebar pada masyarakat etnik yang memberikan relevansi
terhadap keberlanjutan mikrohidro. Bentuk kearifan yang dimiliki tersebut senantiasa
berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain, yang disebabkan oleh tantangan
alam dan kebutuhan hidup mereka berbeda-beda; atau dengan kata lain, pengalaman
mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan,
baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial, yang tidak lain dimaksudkan
untuk melindungi dirinya dan alam sekitarnya secara spesifik. Mereka memahami dan
merasakan secara mendalam bagaimana makna dan pengaruh lingkungan terhadap
kehidupannya. Tentu saja sistem pengetahuan ini tumbuh dalam sejarah panjang perjalanan
hidup masyarakat lokal tersebut.
Pengetahuan yang kita sebut dengan kearifan lingkungan di atas, menjadi ruang bagi
pemangku kepentingan lain dalam memasukkan pengetahuan lainnya dalam melahirkan
sebuah kebijakan. Kesadaran ini penting bagi pemangku kepentingan lainnya karena
semakin terdesaknya eksistensi sistem kelembagaan masyarakat lokal, yang merupakan
konsekuensi logis dari laju kemajuan masyarakat industri. Pada saat yang bersamaan
berlangsung pula eksploitasi sumber daya alam secara tak terkendali yang mengakibatkan
kerusakan atau degradasi lingkungan hidup.
Bukan hanya itu, akibat lain yang ditimbulkan secara langsung oleh kerusakan ini adalah
semakin berkurangnya penghasilan masyarakat dan untuk keberlangsungan mikrohidro
besar pengaruhnya. Keadaan ini pulalah yang mewajibkan pemangku kepentingan lainnya
dan pengambil kebijakan untuk menggali kembali kearifan tradisi masyarakat lokal
sebagai salah satu langkah untuk masuk dalam diskusi tentang penyelamatan lingkungan
terkait dengan mikrohidro, terutama perihal kerusakan lingkungan tersebut. Dalam
konteks ini muncul kesadaran bahwa masyarakat lokal adalah pelaku dalam mewariskan
pengetahuan, dan karena itu dibutuhkan pemahaman tentang tradisi sebagai sasaran

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 7

KAJIAN LINGKUNGAN

pemberdayaan pengetahuan dan potensi masyarakat. Dengan demikian, pemberdayaan yang


dapat dilakukan adalah yang sesuai dengan karakter masyarakat lokal, dan bukannya
melakukan pembaharuan pengelolaan sumber daya alam yang merupakan pencangkokan
sistem baru.
Kearifan lingkungan masyarakat
yang seringkali dirujuk adalah yang terdapat pada
masyarakat tersebut. Masyarakat ini memiliki bentuk perilaku positif dalam berhubungan
dengan alam dan lingkungan sekitar, yang bersumber dari nilai-nilai agama, adat-istiadat,
dan petuah-petuah baik yang diwariskan secara lisan maupun bukan lisan. Sumber nilai
berupa pesan leluhur (teks lisan) mengenai sistem pengelolaan lingkungan. Misalnya
ada kearifan yang muncul melalui adagium hutan tidak boleh dirusak, jika engkau
merusaknya, maka sama halnya engkau merusak dirimu sendiri. Selain itu, ada juga petuah
hutan bisa lestari karena dijaga oleh adat. Bila bumi hancur, maka hancur pula adat.
Masyarakat dalam kearifan lokalnya suka membagi kawasan tertentu untuk kepentingan
pelestarian lingkungan. Ini dikenal adanya pembagian kawasan, yaitu pertama, kawasan
untuk budidaya untuk dinikmati bersama; kedua, kawasan hutan kemasyarakatan
yang setiap warga diperbolehkan menebang pohon, tetapi harus terlebih dahulu menanam
pohon pengganti; dan ketiga, kawasan hutan adat yang sama sekali tidak.
boleh dirambah. Kearifan masyarakat dalam mengelola sumber daya alamnya memang
diartikulasikan lewat media-media tradisional seperti mitos, ritual, dan pesan-pesan leluhur,
tetapi sesungguhnya mengandung pengetahuan ekologis, yaitu sistem pengetahuan mengenai
fungsi hutan sebagai penyeimbang ekosistem. Bahkan uraian di atas memperlihatkan empat
elemen kearifan lingkungan, yaitu sistem nilai (value system), pengetahuan (knowledge),
teknologi (technology), dan lembaga adat (institution).
Para pemangku kepentingan yang mempunyai perhatian terhadap masalah lingkungan
terkait dengan keberlangsungan mikrohidro harus menyamakan bahasa intervensi terkait
dengan bahasa tradisi yang sering masyarakat desa gunakan. Ini yang dikenal dengan
sebuah intervensi dalam kebijakan publik, bahwa kebijakan publik harus bersifat historis
terkait dengan masa lalu kelompok atau ruang yang akan diintervensi. Kebijakan publik
tidak dapat dilakukan tanpa dasar atau tanpa tanda- tanda itu sinkron dengan apa
selama ini dilakukan oleh masyarakat. Sehingga para pemangku kepentingan yang masuk ke
sebuah desa dapat dinilai bagaimana daya adaptif mereka terhadap masyarakat dan cara
stimulasi masyarakat terkait dengan budaya atau perilaku yang lazim dalam masyarakat.
Kita akan diuji misalnya yaitu pemangku kepentingan melihat cara kearifan masyarakat
yang menyimpan pengetahuan tentang cara memotong pohon untuk tiang rumah, dan
perlunya mengganti pohon yang ditebang dengan pohon baru; peran lembaga masyarakat
dalam mengontrol pemanfaatan sumber daya alam; peran ritual dan aluk yang
berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang Pemangku kepentingan mungkin ini
melihat dalam respon peraturan dan sertifikasi yang biasa menjadi acuan mereka. Dalam
kaitan dengan upaya konservasi atau pengembangan sistem pengelolaan lingkungan yang
berkelanjutan, bentuk-bentuk kearifan lingkungan sebagaimana dikemukakan ini menjadi
penting dan dapat disinergikan dengan sistem pengetahuan modern. Hal ini juga telah

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 8

KAJIAN LINGKUNGAN

ditegaskan dalam UU Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa
aspek perilaku manusia merupakan bagian yang integral dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Bentuk pengintegrasian konservasi yang menarik dikemukakan adalah inisiatif masyarakat
suatu daerah dalam penghijauan. Penanaman ini dimaksudkan untuk melindungi kampung
dan bukit masyarakat setempat dari longsor. Mereka membuat aturan penebangan pohon
yang dilakukan dalam siklus tujuh tahunan. Usaha ini melahirkan dampak ekonomis, di mana
penduduk dapat
memperoleh tambahan pendapatan ekonomi keluarga dengan
mengumpulkan kayu yang sudah mati untuk kebutuhan kayu bakar rumah tangga. Namun,
belakangan usaha ini melahirkan konflik yang melibatkan masyarakat menyangkut status
kepemilikan antar Dinas kehutanan yang memiliki otoritas untuk mengatur penebangan, dan
Dinas Pertanian yang memiliki wewenang menebang kayu lalu ditanam untuk dijadikan lahan
pertanian.
Contoh yang dikemukakan terakhir ini menegaskan kembali kepada kita tentang perlunya
penguatan kearifan lingkungan. Sebuah upaya yang secara konseptual memerlukan adanya
sinergi antara religi, pengetahuan, dan teknologi, dan secara praktikal membutuhkan
kesepahaman antara pemerintah pusat dan daerah serta antarsektoral, perguruan tinggi,
LSM, tokoh-tokoh agama, dan pelaku di masyarakat. Tujuannya adalah membangun
agenda rencana aksi yang bermuara pada pelaku pembangunan yang arif lingkungan.

6.4 KONSERVASI
Konservasi berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan
servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita
punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan
oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama
yang
mengemukakan tentang konsep konservasi.
Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural
dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang. Konservasi
juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi
ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari
segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang
akan datang.
Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan,
sebagai berikut :
1. Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan
manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).
2. Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar
secara sosial (Randall, 1982).

waktu (generasi) yang optimal

3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup


termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 9

KAJIAN LINGKUNGAN

termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi,


pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).
4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat
memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk
generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980).

6.5 DEFINISI HUTAN


Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan
lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan
berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan,
modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer
Bumi yang paling penting.
Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat menemukan
hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran rendah maupun di
pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar.
Hutan merupakan suatu kumpulan tetumbuhan, terutama pepohonan atau tumbuhan
berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas. Pohon sendiri adalah tumbuhan
cukup tinggi dengan masa hidup bertahun-tahun. Jadi, tentu berbeda dengan sayur-sayuran
atau padi-padian yang hidup semusim saja. Pohon juga berbeda karena secara mencolok
memiliki sebatang pokok tegak berkayu yang cukup panjang dan bentuk tajuk (mahkota
daun) yang jelas. Suatu kumpulan pepohonan dianggap hutan jika mampu menciptakan iklim
dan kondisi lingkungan yang khas setempat, yang berbeda daripada daerah di luarnya. Jika
kita berada di hutan hujan tropis, rasanya seperti masuk ke dalam ruang sauna yang hangat
dan lembab, yang berbeda daripada daerah perladangan sekitarnya. Pemandangannya pun
berlainan. Ini berarti segala tumbuhan lain dan hewan (hingga yang sekecil-kecilnya), serta
beraneka unsur tak hidup lain termasuk bagian-bagian penyusun yang tidak terpisahkan dari
hutan.

6.6 DEFORESTASI
Deforestasi merupakan suatu kondisi saat tingkat luas area hutan yang menunjukkan
penurunan secara kualitas dan kuantitas. Indonesia memiliki 10% hutan tropis dunia
yang masih tersisa. Hutan Indonesia memiliki 12% dari jumlah spesies binatang menyusui
atau mamalia, pemilik 16% spesies binatang reptil dan amphibi, 1.519 spesies burung dan
25% dari spesies ikan dunia. Sebagian diantaranya adalah endemik atau hanya dapat
ditemui di daerah tersebut. Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan
yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya
sebesar 72 persen [World Resource Institute, 1997]. Penebangan hutan Indonesia yang
tidak terkendali selama puluhan tahun dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis
secara besar-besaran. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 10

KAJIAN LINGKUNGAN

tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini
menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan
tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000
terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta
hektar berada dalam kawasan hutan. [Badan Planologi Dephut, 2003]. Pada abad ke-16
sampai pertengahan abad ke-18, hutan alam di Jawa diperkirakan masih sekitar 9 juta hektar.
Pada akhir tahun 1980-an, tutupan hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektar atau 7
persen dari luas total Pulau Jawa. Saat ini, penutupan lahan di pulau Jawa oleh pohon tinggal
4 %. Pulau Jawa sejak tahun 1995 telah mengalami defisit air sebanyak 32,3 miliar meter
kubik setiap tahunnya. Fungsi hutan sebagai penyimpan air tanah juga akan terganggu akibat
terjadinya pengrusakan hutan yang terus-menerus. Hal ini akan berdampak pada semakin
seringnya terjadi kekeringan di musim kemarau dan banjir serta tanah longsor di musim
penghujan. Pada akhirnya, hal ini akan berdampak serius terhadap kondisi perekonomian
masyarakat. Industri perkayuan di Indonesia memiliki kapasitas produksi sangat tinggi
dibanding ketersediaan kayu. Pengusaha kayu melakukan penebangan tak terkendali dan
merusak, pengusaha perkebunan membuka perkebunan yang sangat luas, serta pengusaha
pertambangan membuka kawasan-kawasan hutan. Sementara itu rakyat digusur dan
dipinggirkan dalam pengelolaan hutan yang mengakibatkan rakyat tak lagi punya akses
terhadap hutan mereka. Dan hal ini juga diperparah dengan kondisi pemerintahan yang
korup, dimana hutan dianggap sebagai sumber uang dan dapat dikuras habis untuk
kepentingan pribadi dan kelompok. Penebangan hutan di Indonesia yang tak terkendali telah
dimulai sejak akhir tahun 1960-an, yang dikenal dengan banjir-kap, dimana orang
melakukan kayu secara manual. Penebangan hutan skala besar dimulai pada tahun 1970.
Dan dilanjutkan dengan dikeluarkannya izin-izin pengusahaan hutan tanaman industri di
tahun 1990, yang melakukan tebang habis (land clearing). Selain itu, areal hutan juga
dialihkan fungsinya menjadi kawasan perkebunan skala besar yang juga melakukan
pembabatan hutan secara menyeluruh, menjadi kawasan transmigrasi dan juga menjadi
kawasan pengembangan perkotaan. Di tahun 1999, setelah otonomi dimulai, pemerintah
daerah membagi-bagikan kawasan hutannya kepada pengusaha daerah dalam bentuk hak
pengusahaan skala kecil. Di saat yang sama juga terjadi peningkatan aktivitas
penebangan hutan tanpa izin yang tak terkendali oleh kelompok masyarakat yang
dibiayai pemodal (cukong) yang dilindungi oleh aparat pemerintah dan keamanan.

6.7 FAKTOR PENYEBAB DEFORESTASI HUTAN


Deforestasi di Indonesia sebagian besar merupakan akibat dari suatu sistem politik dan
ekonomi yang korup, yang menganggap sumber daya alam, khususnya hutan, sebagai
sumber pendapatan yang bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik dan keuntungan pribadi.
Pertumbuhan industri pengolahan kayu dan perkebunan di Indonesia terbukti sangat
menguntungkan selama ber tahun-tahun, dan keuntungannya digunakan oleh rejim
Soeharto sebagai alat untuk memberikan penghargaan dan mengontrol teman-teman,
keluarga dan mitra potensialnya. Selama lebih dari 30 tahun terakhir, negara ini secara

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 11

KAJIAN LINGKUNGAN

dramatis meningkatkan produksi hasil hutan dan hasil perkebunan yang ditanam di lahan
yang sebelumnya berupa hutan. Dewasa ini Indonesia adalah produsen utama kayu bulat,
kayu gergajian, kayu lapis, pulp dan kertas, disamping beberapa hasil perkebunan, misalnya
kelapa sawit, karet dan coklat Pertumbuhan ekonomi ini dicapai tanpa memperhatikan
pengelolaan hutan secara berkelanjutan atau hak-hak penduduk lokal. Untuk saat ini,
penyebab deforestasi hutan semakin kompleks. Kurangnya penegakan hukum yang terjadi
saat ini memperparah kerusakan hutan dan berdampak langsung pada semakin berkurangnya
habitat orangutan secara signifikan. Penyebab kerusakan tersebut dapat dikemukakan
sebagai berikut:
1. Hak Penguasaan Hutan Lebih dari setengah kawasan hutan Indonesia dialokasikan
untuk produksi kayu berdasarkan sistem tebang pilih. Banyak perusahaan HPH yang
melanggar pola-pola tradisional hak kepemilikan atau hak penggunaan lahan. Kurangnya
pengawasan dan akuntabilitas perusahaan berarti pengawasan terhadap pengelolaan
hutan sangat lemah dan, lama kelamaan, banyak hutan produksi yang telah dieksploitasi
secara berlebihan. Menurut klasifikasi pemerintah, pada saat ini hampir 30 persen dari
konsesi HPH yang telah disurvei, masuk dalam kategori "sudah terdegradasi". Areal
konsesi HPH yang mengalami degradasi memudahkan penurunan kualitasnya menjadi di
bawah batas ambang produktivitas, yang memungkinkan para pengusaha perkebunan
untuk mengajukan permohonan izin konversi hutan. Jika permohonan ini disetujui, maka
hutan tersebut akan ditebang habis dan diubah menjadi hutan tanaman industri
atau perkebunan.
2. Hutan tanaman industri Hutan tanaman industri telah dipromosikan secara besarbesaran dan diberi subsidi sebagai suatu cara untuk menyediakan pasokan kayu bagi
industri pulp yang berkembang pesat di Indonesia, tetapi cara ini mendatangkan tekanan
terhadap hutan alam. Hampir 9 juta ha lahan, sebagian besar adalah hutan alam, telah
dialokasikan untuk pembangunan hutan tanaman industri. Lahan ini kemungkinan telah
ditebang habis atau dalam waktu dekat akan ditebang habis. Namun hanya sekitar 2 juta
ha yang telah ditanami, sedangkan sisanya seluas 7 juta ha menjadi lahan terbuka yang
terlantar dan tidak produktif.
3. Perkebunan Lonjakan pembangunan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit,
merupakan penyebab lain dari deforestasi. Hampir 7 juta ha hutan sudah disetujui
untuk dikonversi menjadi perkebunan sampai akhir tahun 1997 dan hutan ini hampir
dapat dipastikan telah ditebang habis. Tetapi lahan yang benar-benar dikonversi
menjadi perkebunan kelapa sawit sejak tahun 1985 hanya 2,6 juta ha, sementara
perkebunan baru untuk tanaman keras lainnya kemungkinan luasnya mencapai 1-1,5 juta
ha. Sisanya seluas 3 juta ha lahan yang sebelumnya hutan sekarang dalam keadaan
terlantar. Banyak perusahaan yang sama, yang mengoperasikan konsesi HPH, juga
memiliki perkebunan. Dan hubungan yang korup berkembang, dimana para pengusaha
mengajukan permohonan izin membangun perkebunan, menebang habis hutan dan
menggunakan kayu yang dihasilkan utamanya untuk pembuatan pulp, kemudian pindah
lagi, sementara lahan yang sudah dibuka ditelantarkan.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 12

KAJIAN LINGKUNGAN

4. llegal logging - Illegal logging adalah merupakan praktek langsung pada penebangan
pohon di kawasan hutan negara secara illegal. Dilihat dari jenis kegiatannya, ruang
lingkup illegal logging terdiri dari :
5. Rencana penebangan, meliputi semua atau sebagian kegiatan dari pembukaan akses ke
dalam hutan negara, membawa alat-alat sarana dan prasarana untuk melakukan
penebangan pohon dengan tujuan eksploitasi kayu secara illegal.
6. Penebangan pohon dalam makna sesunguhnya untuk tujuan eksploitasi kayu secara
illegal. Produksi kayu yang berasal dari konsesi HPH, hutan tanaman industri dan konversi
hutan secara keseluruhan menyediakan kurang dari setengah bahan baku kayu yang
diperlukan oleh industri pengolahan kayu di Indonesia. Kayu yang diimpor relatif kecil, dan
kekurangannya dipenuhi dari pembalaka ilegal. Pencurian kayu dalam skala yang
sangat besar dan yang terorganisasi sekarang merajalela di Indonesia; setiap tahun antara
50-70 persen pasokan kayu untuk industri hasil hutan ditebang secara ilegal. Luas total
hutan yang hilang karena pembalakan ilegal tidak diketahui, tetapi seorang mantan
Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan, Departemen Kehutanan, Titus Sarijanto, baru-baru
ini menyatakan bahwa pencurian kayu dan pembalakan ilegal telah menghancurkan
sekitar 10 juta ha hutan Indonesia.
7. Konvensi Lahan Peran pertanian tradisional skala kecil, dibandingkan dengan penyebab
deforestasi yang lainnya, merupakan subyek kontroversi yang besar. Tidak ada
perkiraan akurat yang tersedia mengenai luas hutan yang dibuka oleh para petani skala
kecil sejak tahun 1985, tetapi suatu perkiraan yang dapat dipercaya pada tahun
1990 menyatakan bahwa para peladang berpindah mungkin bertanggung jawab atas
sekitar 20 persen hilangnya hutan. Data ini dapat diterjemahkan sebagai pembukaan
lahan sekitar 4 juta ha antara tahun 1985 sampai 1997.
8. Program Transmigrasi Transmigrasi yang berlangsung dari tahun 1960-an sampai 1999,
yaitu memindahkan penduduk dari Pulau Jawa yang berpenduduk padat ke pulau-pulau
lainnya. Program ini diperkirakan oleh Departemen Kehutanan membuka lahan hutan
hampir 2 juta ha selama keseluruhan periode tersebut. Disamping itu, para petani kecil
dan para penanam modal skala kecil yang oportunis juga ikut andil sebagai penyebab
deforestasi karena mereka membangun lahan tanaman perkebunan, khususnya kelapa
sawit dan coklat, di hutan yang dibuka dengan operasi pembalakan dan perkebunan yang
skalanya lebih besar. Belakangan ini, transmigrasi "spontan" meningkat, karena penduduk
pindah ke tempat yang baru untuk mencari peluang ekonomi yang lebih besar, atau
untuk menghindari gangguan sosial dan kekerasan etnis. Estimasi yang dapat
dipercaya mengenai luas lahan hutan yang dibuka oleh para migran dalam skala nasional
belum pernah dibuat.
9. Kebakaran Hutan Pembakaran secara sengaja oleh pemilik perkebunan skala besar untuk
membuka lahan, dan oleh masyarakat lokal untuk memprotes perkebunan atau
kegiatan operasi HPH mengakibatkan kebakaran besar yang tidak terkendali, yang luas
dan intensitasnyan belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih dari 5 juta ha hutan terbakar
pada tahun 1994 dan 4,6 juta ha hutan lainnya terbakar pada tahun 1997-98.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 13

KAJIAN LINGKUNGAN

Sebagian dari lahan ini tumbuh kembali menjadi semak belukar, sebagian digunakan
oleh para petani skala kecil, tetapi sedikit sekali usaha sistematis yang dilakukan untuk
memulihkan tutupan hutan atau mengembangkan pertanian yang produktif. Pada
kondisi alami, lahan gambut tidak mudah terbakar karena sifatnya yang menyerupai
spons, yakni menyerap dan menahan air secara maksimal sehingga pada musim hujan dan
musim kemarau tidak ada perbedaan kondisi yang ekstrim. Namun, apabila kondisi
lahan gambut tersebut sudah mulai tergangggu akibatnya adanya konversi lahan atau
pembuatan kanal, maka keseimbangan ekologisnya akan terganggu. Pada musim kemarau,
lahan gambut akan sangat kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar.
Gambut mengandung bahan bakar (sisa tumbuhan) sampai di bawah permukaan,
sehingga api di lahan gambut menjalar di bawah permukaan tanah secara lambat dan
dan sulit dideteksi, dan menimbulkan asap tebal. Api di lahan gambut sulit dipadamkan
sehingga bisa berlangsung lama (berbulan-bulan). Dan, baru bisa mati total setelah
adanya hujan yang intensif.

Deforestasi yang disebabkan oleh Illegal loging

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VI - 14

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

BAB VII. IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT
7.1. KAJIAN KEADAAN PEDESAAN PARTISIPATIF /PARTICIPATORY RURAL
APPRAISAL ( P R A )
Kajian Keadaan Pedesaan secara Partisipatif adalah salah satu tahap dalam
meningkatkan kemandirian masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya. Proses
pemandirian atau Pemberdayaan Masyarakat terdiri dari beberapa tahapan yaitu,
Kajian Keadaan Pedesaan oleh Masyarakat, Pengembangan Kelompok, Pembangunan
Rencana dan Pelaksanaan Kegiatan dan Monitoring dan Evaluasi Kajian Keadaan
Pedesaan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan percaya diri masyarakat dalam
mengidentifikasi
serta
menganalisa
situasinya,
baik
potensi maupun
permasalahannya. Ini sangat berbeda dengan pendekatan Topdown yang sering di
pakai oleh lembaga-lembaga yang kumpul informasi untuk kelancaran program mereka.
Dalam program ini, lembaga menentukan apa yang akan dikerjakan dalam suatu wilayah.
Masyarakat diikutkan tanpa diberikan pilihan. Dalam Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif
justru masyarakat
memanfaatkan informasi dan
hasil kajian sendiri untuk
mengembangkan rencana kerja mereka agar lebih maju dan mandiri.
Keluaran Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif adalah gambaran tentang masalahmasalah yang dihadapi masyarakat, potensi serta peluang pengembangan. Hasil ini
merupakan dasar untuk tahapan proses Pe m ber da ya an
Masyarakat
berikut,
yaitu
pem be ntuk an
dan pengembangan kelompok serta penyusunan dan
pelaksanaan rencana kegiatan oleh masyarakat. Hasil Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif
juga dapat digunakan oleh Dinas serta instansi lain untuk mengembangkan pelayanan
serta program yang lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat.

7.2.1. Pengertian & Tujuan


Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif adalah salah satu tahap dalam meningkatkan
kemandirian masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya. Proses pemandirian atau
Pemberdayaan Masyarakat (PM) terdiri dari beberapa tahapan yaitu:
1. Kajian Keadaan Pedesaan oleh Masyarakat
2. Pengembangan Kelompok.
3. Penyusunan Rencana dan Pelaksanaan Kegiatan.
4. Monitoring dan Evaluasi.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 1

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan


percaya diri masyarakat dalam mengidentifikasi serta menganalisa situasinya, baik
potensi maupun permasalahannya. Ini sangat berbeda dengan pendekatan 'topdown' yang sering dipakai oleh lembaga-lembaga yang mengumpulkan informasi untuk
kelancaran program mereka. Dalam program demikian, lembaga menentukan apa yang
akan dikerjakan dalam suatu wilayah. Masyarakat diikutkan tanpa diberikan pilihan
apapun.
Dalam Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif justru masyarakat memanfaatkan
informasi dan hasil analisa sendiri untuk mengembangkan rencana kerja mereka agar
lebih maju dan mandiri. Dalam hal ini juga diharapkan masyarakat mampu
menyampaikan hasil perencanaannya kepada instansi terkait yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan kegiatan tersebut. Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif adalah tahap
pertama dalam siklus pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Setelah kajian,
masyarakat akan masuk tahap perencanaan kemudian pelaksanaan dan monitoring
dan evaluasi. Setelah itu, mereka lanjutkan dengan ulang mengkaji sebagai dasar untuk
rencana baru.
Keluaran Kajian Keadaan Pedesaan adalah gambaran tentang:
1. Potensi sumber daya alam yang dimiliki masyarakat,
tani;

termasuk system usaha

2. Potensi sosial masyarakat;


3. Potensi perekonomian masyarakat;
4. Potensi lembaga atau kelompok kegiatan yang ada, latar belakangnya, strukturnya, kegiatannya dan
lain-lain (termasuklembaga pelayanan, baikpemerintah maupun non-pemerintah);
5. Masalah-masalah masyarakat;
6. Prioritas dan penyebab masalah;
7. Peluang-peluang pengembangan.

7.2.2.

Konsep Dasar PRA

Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif dilakukan oleh masyarakat dan difasilitasi atau
didampingi oleh Tim PM. Dalam Kajian Partisipatif diberikan kesempatan kepada
masyarakat
untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dan pengetahuannya.
Pendekatan yang dipakai untuk mengkaji keadaan pedesaan secara partisipatif, adalah
'Participatory Rural Appraisal' atau 'PRA'. PRA ini adalah 'sekumpulan teknik dan alat yang
mendorong masyarakat Pedesaan untuk turut serta meningkatkan dan menganalisa
pengetahuannya mengenai hidup dan kondisi mereka sendiri, agar mereka dapat
membuat rencana dan tindakan'(Chambers). PRA mengutamakan masyarakat yang
terabaikan agar memperoleh kesempatan untuk memiliki peran dan mendapat manfaat

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 2

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

dalam kegiatan program pengembangan.


Pendekatan-pendekatan lain: PALM, PLA dan RRA .Selain PRA, sering dipakai istilah-istilah
lain untuk proses pembelajaran partisipatif.
Beberapa istilah yang trekenal meliputi:

PALM (Participatory Learning Methods). Metode-metode Belajar secara Partisipatif.

PLA (Participatory Learning and Action). Belajar dan Bertindak secara Partisipatif.

Walaupun tidak persis sama, inti pendekatan-pendekatan tersebut dengan PRA sama,
yaitu suatu proses pembelajaran partisipatif. Satu pendekatan yang memang berbeda
dengan PRA adalah RRA (Rapid Rural Appraisal / Pemahaman Desa secara Cepat).
Perbedaan-perbedaan utama meliputi:
Sifat Proses

PRA

Cara Melakukan

Penggalian/Pe
Ngumpulan Informasi

PRA
Saling Berbagi
Pemberdayaan

Peran orang luar

Penyelidik

Fasilitator

Peran orang dalam

Sumber

Pelaku/Subyek

Info rmasi/Obyek
Info rmasi dimiliki,

Orang luar

Masyarakat setempat

Perencanaan Proyek

Kelembagaan

Publikasi

tindakan masyarakat

dianalisa dan
digunakan oleh
Hasil jangka panjang

dan

lokal yang
berkelanjutan
PRA terdiri dari sekumpulan teknik atau alat yang dapat dipakai untuk mengkaji
keadaan pedesaan. Teknik ini berupa visual (gambar, tabel, bentuk) yang dibuat oleh
masyarakat sendiri dan dipergunakan sebagai media diskusi masyarakat tentang
keadaan mereka sendiri serta lingkungannya. Beberapa teknik yang terkenal meliputi:

Pemetaan desa;

Kalender musim;

Transek (penelusuran desa);

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 3

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

Diagram Venn (bagan hubungan kelembagaan);

Bagan perubahan dan kecenderungan;

Diagram alur.

Teknik-teknik PRA sudah lebih banyak dari pada yang disebut di atas. PR biasanya sudah
diawali dengan proses sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat. Penting sekali bahwa
masyarakat serta aparat desa telah memiliki pengertian yang baik terhadap
pendekatan partisipatif ini. Kualitas informasi yang digali dengan PRA biasanya tinggi,
namun kuantitatif kadang-kadang kurang tepat. Walaupun kita tidak tahu apakah
informasi seratus persen benar, yang penting bahwa informasi itu cenderung
mendekati
kebenaran. Untuk
itu,
dimanfaatkan
prinsip triangulasi atau
pengecekan kembali dan pemeriksaan ulang.

TRIANGULASI
Dalam kajian informasi tidak semua sumber informasi senantiasa bisa dipercaya
ketepatannya. Untuk mendapatkan informasi yang benar bisa diandalkan dengan
menggunakan prinsip 'triangulasi' informasi, yaitu pemeriksaan dan periksa ulang,
melalui:

a. Keragaman Teknik PRA


Setiap teknik PRA punya kelebihan dan kekurangan. Tidak semua informasi yang
dikumpulkan dan dikaji dalam satu teknik PRA dapat dipercaya. Melalui teknikteknik lain,
informasi tersebut dapat dikaji ulang untuk melihat apakah benar dan tepat. Karenanya
kami perlu melihat bagaimana teknik-teknik PRA dapat saling melengkapi, sesuai proses
belajar yang diinginkan dan cakupan informasi yang dibutuhkan.

b. Keragaman Sumber Informasi


Masyarakat selalu memiliki bentuk hubungan yang kompleks dan memiliki berbagai
kepentingan yang sering berbeda bahkan bertentangan. Informasi yang berasal dari
sumber tunggal atau terbatas tidak jarang diwarnai oleh kepentingan pribadi. Karena
itu sangat perlu mengkaji silang informasi dari sumber informasi yang berbeda.
Dalam melaksanakan PRA perlu diperhatikan bahwa tidak didominasi oleh beberapa
orang atau elit desa saja tetapi melibatkan semua pihak, termasuk yang termiskin
dan wanita. Sumber Informasi lain juga dapat dimanfaatkan seperti sumber sekunder
yang berada di desa.

c. Keragaman Latar belakang Tim Fasilitator


Fasilitator PRA biasanya punya latar belakang atau keahlian khusus. Selalu ada resiko

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 4

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

bahwa dia mengutamakan 'keahlian' dia sendiri (bias), walaupun sering kali kami tidak
sadar. Untuk menghindari bahwa kepentingan fasilitator akan menentukan temuan
PRA, lebih baik membentuk Tim 'multi-disiplin' atau 'Polivalen', yaitu suatu tim yang terdiri
dari orang dengan latar belakang, keahlian, jenis kelamin yang berbeda.

Prinsip-prinsip PRA
a.

Prinsip mengutamakan yang terabaikan (keberpihakan)

b.

Prinsip pemberdayaan (penguatan) masyarakat

c.

Prinsip masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator

d.

Prinsip saling belajar dan menghargai perbedaan

e.

Prinsip santai dan informal

f.

Prinsip triangulasi

g.

Prinsip mengoptimalkan hasil

h.

Prinsip orientasi praktis

i.

Prinsip keberlanjutan dan selang waktu

j.

Prinsip belajar dari kesalahan

k.

Prinsip terbuka

Peran orang atau tim luar, yang berasal dari lembaga atau instansi, terbatas sebagai
fasilitator proses PRA. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena masih sering ada
anggapan bahwa masyarakat miskin bodoh dan perlu digurui. Untuk itu perlu sikap
rendah hati serta kesediaan untuk belajar dari masyarakat dan menempatkan warga
masyarakat sebagai pelaksana dan nara sumber utama dalam memahami keadaannya.

Kelemahan dan Bahaya dalam penerapan PRA


1. Sangat tergantung ketrampilan dan sikap fasilitator;
2. Keterpakuan pada kegiatan menerapkan teknik dan lupa bahwa sebenarnya teknik
PRA hanyalah alat dalam proses pengalihan ketrampilan analisis kepada masyarakat;
3. Kehilangan arah dan dangkal (banjir informasi);
4. Kembali melakukan penyuluhan satu arah (kebiasaan dahulu);
5. Karena sifat PRA terbuka,
konflik;

muncul

beda

pendapat dan

bisa menyebabkan

6. Menanggpa PRA sebagai 'resep' (pendekatan fleksibel dan terbuka).;


7. Terpatok pada waktu (perlu waktu, jangan berburu-buru);
8. Merancang PRA dengan biaya mahal (walaupun teknik-teknik sederhana);

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 5

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

9. Masih mengutamakan target;


10. Partisipasi menjadi semu;
11. PRA menjadi rutinitas;
12. Masyarakat masih sebagai obyek;
13. Mengatasnamakan PRA (walaupun melakukan RRA);
14. Mengecewakan Masyarakat.

7.2.3.

Tahapan Dalam Proses Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif


Persiapan Desa bersama wakil masyarakat (pimpinan, tokoh-tokoh dan /
atau koordinator setempat):
-

Menentukan tempat;

Menentukan waktu;

Mengumumkan kepada masyarakat;

Persiapan akomodasi dan konsumsi serta dana yang diperlu;

Persiapan dalam tim :


-

Menentukan informasi yang akan dikaji;

Menentukan teknik PRA yang ingin dipakai;

Menentukan dan menyediakan bahan pendukung dan media;

Membagi peran dalam Tim PM;

Melakukan kajian keadaan Kegiatan PRA:


-

Ulang menjelaskan maksud dan tujuan PRA;

Menyepakati waktu dan kegiatan / teknik yang akan dilakukan;

Membina suasana;

Menjelaskan teknik PRA dalam sub kelompok;

Melalukan teknik PRA;

Diskusi umum (pembahasan keadaan);

Pembuatan gambar (visualisasi);

Diskusi lebih lanjut (analisa masalah dan potensi);

Presentasi dan diskusi.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 6

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

7.2.4.

Perumusan Hasil Pra

Sebelum hasil PRA dapat disampaikan kepada masyarakat secara menyeluruh, semua
hasil PRA perlu dirumuskan pada suatu laporan. Kemudian suatu presentasi perlu
disiapkan. Pengumpulan dan persiapan ini biasanya dilakukan oleh Tim Fasilitator
bersama beberapa wakil masyarakat, misalnya yang aktif dalam pelaksanaan PRA.
Data yang sudah terkumpul dapat dikumpul dalam bentuk laporan atau di atas kertas
besar sebagai bahan presentasi yang dapat ditempel di desa supaya masyarakat
memiliki informasi tersebut. Isu-isu yang penting dalam laporan dan presentasi
meliputi:
Gambaran umum keadaan desa (Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia, Fisik maupun sosial);
Masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat;
Potensi yang ada di desa serta peluang pembangunan.

7.2.5.

Lokakarya / Musyawarah Masyarakat :


Mempresentasi semua hasil PRA;
Mendiskusikan kembali dengan masyarakat untuk mempertajamtemuan;
Penyusunan hasil akhir analisa kajian potensi, kesempatan, masalah dan
pengembangan program oleh masyarakat.

7.2.6.

kemungkinan

Perumusan Hasil Pra

Sebelum hasil PRA dapat disampaikan kepada masyarakat secara menyeluruh, semua
hasil PRA perlu dirumuskan pada suatu laporan. Kemudian suatu presentasi perlu
disiapkan. Pengumpulan dan persiapan ini biasanya dilakukan oleh Tim Fasilitator
bersama beberapa wakil masyarakat, misalnya yang aktif dalam pelaksanaan PRA.
Data yang sudah terkumpul dapat dikumpul dalam bentuk laporan atau di atas kertas
besar sebagai bahan presentasi yang dapat ditempel di desa supaya masyarakat
memiliki informasi tersebut. Isu-isu yang penting dalam laporan dan presentasi
meliputi:
-

Gambaran umum keadaan desa (Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia,
Fisik maupun sosial);

Masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat;

Potensi yang ada di desa serta peluang pembangunan.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 7

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

7.2. KEBERLANJUTAN PLTMH ASPEK TEKNIS


7.2.1.

Reliabilitas Mikrohidro

Reliabilitas teknologi mikrohidro sangat bergantung pada reabilitas masing-masing


subsistem : Weir, Intake, Headrace, Forebay, penstock Power House, turbin, generator,
panel, controller, ballast, transmission system, tailrace. Reliabiltas yang baik untuk
setiap subsistem mencerminkan reliabilitas keseluruhan sistem. Dari sudut pandang
engineering ada dua elemen dalam upaya mengelola komponen- komponen sub
sistem tersebut. Pertama sifat robust komponen yang dipasang, yang kedua
perawatan yang dilakukan pada komponen tersebut ketika sistem itu berjalan. Melihat
kualitas komponen yang sesuai pada pembangkit mikrohidro adalah melihat sejauh mana
perawatan dan kualitas komponen berjalan sebagaimana mestinya untuk memenuhi
fungsi setiap komponen.
Dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro/Minihidro untuk pelistrik an desa
banyak faktor yang harus diperhatikan
agar pembangunan tersebut dapat
dimanfaatkan secara optimal dan tidak sia- sia. Faktor tersebut diantaranya didasarkan
pada studi kelayakan sebagai kelanjutan studi terhadap potensi alam dan sumber daya
setempat. Keakuratan kajian data hasil studi kelayakan akan menentukan
keberhasilan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro/Minihidro.
Study kelayakan dan engineering Design ini meliputi desain teknis bangunan sipil dan sistem
elektro-mekanikal, sistem kontrol, serta sistem transmisi dan distribusi hingga analisis
finansial dan
desain
penyiapan kelembagaan Pembangkit
Listrik Tenaga
Mikro/Minihidro. Desain teknis ini harus dilakukan secara tepat akurat, dengan
menerapkan teknologi yang telah teruji agar pembangkit listrik mempunyai
kehandalan yang baik. Setelah tahapan tersebut selesai dilakukan, mengingat potensi
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro/Minihidro sangat besar dan manfaat dari Pembangkit
Listrik Tenaga Mikro/Minihidro dapat dijadikan salah sebagai satu faktor pemicu bagi
pengembangan masyarakat setempat, maka teknologi Pembangkit Listrik Tenaga
Mikro/Minihidro beserta seluruh aspek sosial ekonominya perlu difahami dengan baik
oleh sumber daya lokal di daerah. Dengan demikian pasca implementasi fisik PLTMH perlu
dilakukan alih teknologi dan transfer pengalaman berbagai aspek yang berkaitan
dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro/Minihidro.
Untuk itu dimensi kualitas sistem pembangkit mikrohidro dari hasil pengamatan fisik
merupakan salah satu cara untuk menentukan apakah sebuah pembangkit itu
memenuhi fungsinya secara baik atau malah tidak sesuai. Hasi pengamatan setiap
subsistem akan memberikan kita sebuah kesimpulan: 1) proses studi kelayakan, konstruksi
pembangkit mikrohidro dalam hal sesuai dan memenuhi aspek-aspek rekayasa
teknologi; 2) proses perawatan memenuhi teknik yang sesuai dengan ancaman yang
mungkin terkait dengan proses kegagalan, efektivitas pembiayaan komponen, dan
dukungan aktif operator dalam perawatan dalam upaya menjamin aset fisik pembangkit
mikrohidro sehingga dapat memenuhi fungsi yang diemban secara terus-menerus.
Perawatan yang handal akan terpusat pada sifat reliabilitas perawatan yang sangat

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 8

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

dipengaruhi oleh konteks perawatannya. Sebuah


proses yang digunakan
untuk menentukan apa yang mesti dilakukan untuk menjamin aset fisik
pembangkit mikrohidro terus dapat memenuhi fungsinya. Misalnya komponen
pembangkit dan distribusi sangat dipengaruhi kapabilitas kemampuan memasang dan
melepas bantalan, penyebarisan pembawa mekanik, pelumas dan pelumasan, instalasi
kelistrikan pada mesin, perawatan pencegahan, perawatan prediktif, dan perawatan
korektif merupakan sesuatu yang pasti dilakukan untuk memenuhi tujuan awalnya sebagai
menjalankan fungsinya. Maka oleh karenanya bongkar pasang mesin,
rekondisi
mesin, perbaikan
dan penyiapan suku cadang, pembersihan headrace, intake,
forebay, intake gate, melamak, memeriksa saluran air menuju penstock merupakan
sebuah kemampuan dalam membangun sistem perawatan mandiri yang dilakukan
oleh operator. Termasuk dalam hal ini mampu membangun sistem perawatan terencana
yang meliputi sistem perawatan preventif, korektif, prediktif dan produktif untuk
komponen pembangkit mikrohidro dengan teknologi konvensional. Dalam melakukan
perawatan pembangkit
mikrohidro mengoptimalkan efisiensi aset dengan cara
menentukan proses-proses, teknologi dan perubahan metode yang diperlukan di dalam
sub-sub sistem, dan memberikan cara untuk meningkatkan kualitasnya adalah sesuatu
yang penting untuk dimensi kualitas. Disamping itu, Operator dapat mengandalkan
peningkatan waktu operasional subsistem untuk meningkatkan utilitas. Ini akan
memberikan alternatif terhadap praktik perawatan yang ada. Dengan terus mengacu
pada konsep realibilitas, ini akan meningkatkan efisiensi aset dengan menyediakan
keahlian
teknis dalam bidang perawatan terutama terkait dengan mesin rotasi.
Perawatan pembangkit mikrohidro memberikan
pengetahuan tentang konsep
perancangan mesin dan teknik diagnostik, untuk memberikan
keandalan dan
kemampuan prediksi pada mesin. Pendayagunaan aset yang ditingkatkan dan
operator akan mendapatkan efisiensi yang maksimal dari pembangkit mikrohidro.

7.2.2.

Menilai Kinerja Mikrohidro

Proses ini dapat dimulai dengan penilaian terperinci terhadap perilaku atau mekanisme
kerja turbin, transmisi mekanik dan generator, termasuk biaya komponen dan praktik
perawatan. Ini akan menentukan masalah- masalah utama dalam sistem pembangkit,
dan memungkinkan pembuatan sebuah program perbaikan perawatan sehingga
kinerjanya bisa bagus. Proses perawatan dilakukan secara aktif sehingga keandalan
sistem makin terjaga. Analisa strategi perawatan perlu dilakukan di sini pada seluruh
subsistem pembangkit
mikrohidro dan di setiap sub sistem pembangkit, akan
memungkinkan pembangkit untuk berfungsi kembali ke tugas-tugas utamanya, sehingga
memastikan bahwa aktivitas perawatan dapat menambah nilai kepada realibilitas
pembangkit sebagai kualitas yang dituju. Itu adalah sebuah sistem perawatan yang
dilakukan dengan kemampuan mengamati subsistem secara prediktif dan terencana
dengan efektif.
Melalui proses yang telah ditetapkan, termasuk aktivitas pemantauan kondisi praktik
kerja terbaik dalam perawatan, akar masalah dapat didiagnosa dan diambil tindakan

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 9

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

perbaikan, sehingga kejadian itu tidak terulang. Proses yang secara bertahap dapat
mengurangi masalah dan bergerak maju menuju praktik terbaik sebagai aktivitas yang
berkelanjutan dalam mengadopsi pengembangan teknologi mikrohidro untuk sedapat
mungkin meningkatkan kinerja sistem pembangkit. Antara lain mencakup:
Rekayasa ulang di masing-masing subsistem, dengan solusi perancangan komponen;
sistem kebersihan minyak untuk memperlama usia pelumasan, dan meminimalkan
dampak kontaminasi; penggunaan alat bantu pemantauan kondisi.
Sebenarnya penilaian tampak fisik, weir, intake, headrace, forebay , penstock, power
house, turbin, generator, panel, controller, ballast, transmission system, tailrace dapat dijadikan
ukuran kualitas dari standar komponen yang dipakai dan bagaimana mekanisme
perawatan yang telah dilakukan selama ini. Kehandalan ini terlihat dari pengamatan di
lapangan terutama terkait dengan dokumentasi kerusakan yang terjadi dan tingkat
kerusakan apakah bersifat fatal atau minor. Sistem penilaian yang diambil berdasarkan
pandangan subsistem dan komponen itu baik selama ia melakukan fungsinya (berfungsi)
dan tidak ada indikasi bahwa itu akan mengalami kerusakan. Penilaian ini dapat ditelusuri
dari masing- masing subsistem atau menggunakan output yang diharapakan dari sistem itu
secara keseluruhan. Dari hal tersebut kita dapat menilai bahwa sistem itu berjalan baik
dengan kualitas baik.

Perawatan berkala dilakukan untuk menjamin keberlanjutan PLTMH aspek teknis

7.3. NILAI EKONOMIS PLTMH


Ada aktivitas untuk penyediaan energi yang kompetitif untuk kebutuhan industri di
perdesaan atau industri rumah tangga adalah indikator berikutnya yang dinilai. Ini
adalah tindak lanjut dari usaha produktif dimana telah mencapai posisi pada skala
industri. Ini dinilai dari sifat kompetisi dibandingkan dengan produksi yang dilakukan di
lokasi lain, maka produksi di lokasi ini lebih kompetitif, karena faktor denominator dari
penyediaan energi yang murah dan lokasi yang dekat antara bahan mentah dengan

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 10

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

tempat produksi yang dilakukan akibat adanya sistem pembangkit mikrohidro yang
menghasilkan energi.
Ini terkait dengan uraian tentang teori pembangunan seimbang (Balanced growth) dan tidak
seimbang (unbalanced growth). Dalam hubungannya dengan pembangunan daerah, yang
dimaksudkan dengan pembangunan seimbang adalah pembangunan yang dilakukan secara
merata di berbagai daerah, sehingga setiap daerah mencapai tingkat kelajuan pembangunan
yang sama. Ada pula pendapat yang berbeda yang memaksudkan pembangunan seimbang itu
sebagai usaha pembangunan yang menumpahkan perhatian yang seimbang terhadap sektor
usaha maupun sektor pertanian, sehingga kedua sektor tersebut bukan saja dapat
berkembang
dengan
baik, tetapi juga saling mendorong perkembangan lainnya.
Pembangunan seimbang adakalanya diartikan pula sebagai pembangunan yang bukan saja
menitik beratkan pengembangan kegiatan ekonomi, tetapi juga menumpahkan perhatian
yang sama pentingnya kepada pengembangan berbagai aspek dari kehidupan pendidikan,
kesehatan, dan sosial.
Kalau berbagai pandangan yang mengemukakan tentang perlunya pembangunan seimbang
diperhatikan, maka pada hakekatnya alasan utama yang menimbulkan perlunya
pembangunan seimbang adalah menjaga agar pembangunan tersebut tidak menghadapi
hambatan- hambatan dalam (i) memperoleh bahan mentah, tenaga manusia, sumber tenaga
(air dan listrik), dan fasilitas-fasilitas untuk mengangkut hasil-hasil produksi ke pasar maupun
(ii) memperoleh pasaran untuk barang-barang yang telah dan yang akan diproduksikan.
Dengan demikian pembangunan seimbang itu dapatlah didefinisikan sebagai usaha
pembangunan yang berusaha mengatur program penanaman modal secara sedemikian
rupa, sehingga sepanjang proses pembangunan tidak akan timbul hambatan-hambatan
yang bersumber
dari penawaran maupun permintaan. Keadaan yang sebaliknya
merupakan definisi dari pembangunan tidak seimbang. Istilah tersebut digunakan untuk
menyatakan bahwa program pembangunan disusun secara sedemikian rupa sehingga
dalam perekonomian tersebut akan timbul kelebihan dan kekurangan dalam berbagai
keperluan di berbagai sektor sehingga menimbulkan distorsi-distorsi dan ketidakstabilan
dalam perekonomian. Kalau perekonomian ingin dipertahankan supaya terus maju ke depan,
tugas dari kebijaksanaan pembangunan adalah
untuk mempertahankan kestabilan
terhadap goncangan-goncangan, disproporsi dan ketidakseimbangan-ketidakseimbangan.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 11

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

Keterampilan
Sumber Daya
manusia

Peningkatan
Modal Publik

Prioritas
Program

Respon
Teknologi

Prioritas
Fiskal

Instrumen Pengungkit Pertumbuhan Pembangunan

Pengembangan
Teknologi

Penambahan
Modal

Kerangka Pikir tentang Peran Teknologi terhadap Pembangunan

Tesis ini relevan dengan pengembangan tenaga mikrohidro. Pengembangan Pembangkit


Listrik Tenaga Mikrohidro ini dalam upaya mempertinggi tingkat penanaman modal dan
peningkatan kualitas teknologi untuk dapat melepaskan diri dari belenggu perangkap
tingkat keseimbangan rendah (the low level equiblirium trap). Mikrohidro akan mendorong
tingkat keseimbangan ini, untuk mengatasi asumsi-asumsi pada tingkat pendapatan per
kapita yang rendah, tingkat penanaman modal juga rendah dan penyebabkan
pertumbuhan dalam pendapatan lebih rendah. Dalam keadaan demikian tingkat
kesejahteraan masyarakat cenderung untuk kembali ke tingkat subsisten. Oleh sebab itu
diperlukan penanaman modal yang lebih besar dan pengembangan kemampuan teknologi,
yang dapat menjamin agar dalam jangka panjang tingkat per tumbuhan ekonomi
menciptakan perbaikan dalam tingkat kesejahteraan masyarakat. Sehingga dalam hal
ini, pengembangan mikrohidro menjadi relevan.
Mikrohidro mempunyai fungsi ekstens secara ekonomi. Pertama dengan adanya energi
yang cukup di perdesaan akan memberikan akses pengetahuan terutama terkait dengan
alat-alat telekomunikasi dan media broadcasting. Sehingga sumber daya manusia pun
kualitasnya meningkat. Mikrohidro juga dapat dijadikan atau mempunyai peran teknologi
dalam peningkatan kualitas pengolahan hasil-hasil pertanian, sehingga nilai tambahnya naik.
Dan terakhir mikrohidro akan meningkatkan kemampuan institusional masyarakat terutama
terkait dengan perlunya manajemen modern dalam melakukan kegiatan operasional,
ekonomi maupun sosial.
Upaya ini telah dilakukan untuk mikrohidro yang memiliki prospek cukup baik untuk
dikembangkan. Ini dikarenakan potensi energinya cukup besar dan tersebar. Pengembangan
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro/Minihidro dapat dilakukan melalui dua pola, yaitu off-grid
dan on-grid. Pola off-grid dilakukan di desa - desa yang belum terjangkau jaringan listrik PLN.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 12

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

Pola on-grid dilakukan di desa-desa atau daerah-daerah yang sudah terjangkau oleh jaringan
PLN sehingga listrik yang dihasilkan dapat dijual ke PLN. Penjualan listrik Pembangkit
Listrik Tenaga Mikro/Minihidro ke PLN telah ditentukan oleh Keputusan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral No.
1122K/30/MEM/2002 tanggal 12 Juni 2002, yaitu hal Pembangkit Skala Kecil Terbesar /
PSK Tersebar. Masyarakat, baik itu perorangan, perusahaan kecil dan koperasi, dapat
berpartisipasi membangun pembangkit listrik skala kecil energi terbarukan (termasuk
energi air) dengan kapasitas maksimum 1 MW.
Sektor energi, khususnya penyediaan listrik, memiliki kedudukan strategis dalam
mendukung percepatan pembangunan di wilayah perdesaan, terutama dalam upaya
melakukan transformasi atau perubahan dari masyarakat yang bersifat agraris menjadi
masyarakat yang lebih bersifat agroindustri. Ketersediaan listrik di perdesaan sebagai
salah satu bentuk energi yang siap pakai akan mendorong:

Peningkatan produktivitas dan kegiatan ekonomi baru (seperti di bidang


agroindustri).

Peningkatan sarana pendidikan dan kesehatan.

Peningkatan lapangan kerja baru.

Permasalahannya saat ini, kemampuan Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai ujung
tombak pelayanan kebutuhan listrik memiliki keterbatasan. Besarnya investasi
pengembangan jaringan, terbatasnya kapasitas pembangkitan tenaga
listrik dan
terbatasnya kemampuan berinvestasi menjadi kendala utama. Dengan kesadaran adanya
keterbatasan Perusahaan Listrik Negara (PLN), kegiatan promosi pengembangan listrik
perdesaan telah meluas melibatkan banyak pihak, baik departemen pemerintahan,
pemerintah daerah, swasta bahkan kelompok swadaya masyarakat. Salah satu sumber
energi yang berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai pembangkit tenaga listrik adalah
tenaga
air skala kecil yang lebih dikenal sebagai
Pembangkit
Listrik Tenaga
Mikro/Minihidro.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro/Minihidro merupakan bentuk pemanfaatan tenaga air
dalam skala kecil, yang biasanya dibangun di daerah terpencil yang tidak terjangkau
oleh jaringan listrik nasional.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro/Minihidro memasok kebutuhan untuk keperluan
penerangan masyarakat
perdesaan dan juga melayani kebutuhan industri kecil
perdesaan dalam hal penyediaan energi listrik. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga
Mikro/Minihidro, lebih dikenal dengan Mikrohidro, beranjak dari pemanfaatan energi air
yang melimpah agar dapat dilakukan penghematan sumber energi lain seperti minyak
bumi dan kayu bakar. Penggunaan listrik yang dihasilkan diarahkan untuk pemakaian yang
bersifat produktif agar dapat mendorong aktivitas ekonomi perdesaan. Penggunaan dan
pengelolaan khususnya Mikrohidro oleh masyarakat perdesaan merupakan media bagi
usaha pengembangan masyarakat.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 13

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

Berdasarkan rentang waktu, keberlanjutan PLTMH sebagai solusi permanen pasokan listrik
bagi suatu lokasi seyogyanya dipandang dengan dua cara :

7.3.1.

Keberlanjutan operasi PLTMH sampai berakhir umur pakainya dan Keberlanjutan layanan
listrik setelah itu.

Keberlanjutan operasi suatu PLTMH sampai berakhir umur pakainya sangat ditentukan
oleh kemampuan masyarakat pengguna untuk membiayai operasional dan perawatan.
Selanjutnya jika diinginkan layanan listrik tetap berlanjut setelah berakhirnya umur pakai
PLTMH tersebut, maka harus ada mekanisme yang memungkinkan masyarakat pengguna
mampu membangun PLTMH baru.
Akan lebih baik lagi jika dalam pembangunan
berikutnya juga memperhitungkan peningkatan kebutuhan listrik di masa mendatang.
Semua biaya yang dibutuhkan untuk mempertahankan keberlanjutan PLTMH harus dapat
dipenuhi oleh pendapatan PLTMH yang idealnya hanya bersumber dari iuran listrik yang
dikumpulkan dari masyarakat pengguna. Oleh karena itu besarnya iuran atau tarif listrik
seharusnya ditentukan berdasarkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan.
Pada akhirnya, keberlanjutan PLTMH akan bergantung pada kemampuan bayar masyarakat
pengguna. Untuk dapat meningkatkan kemampuan bayar, adanya layanan listrik PLTMH
seharusnya dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

7.3.2.
A.

Aspek Ekonomi Yang Mempengaruhi Keberlanjutan Pltmh :

Pembiayaan Pembangunan

Pembangunan PLTMH dan sistem penyaluran listrik membutuhkan biaya yang relatif besar.
Pada umumnya biaya pembangunan berasal dari luar masyarakat pengguna karena
terbatasnya kemampuan pembiayaan oleh masyarakat.
Tetapi kontribusi masyarakat
juga tetap diperlukan untuk menekan kebutuhan biaya.
Biaya dari luar dapat berbentuk:
(1) Hibah,
(2) Pinjaman,
(3) Investasi.
Sedangkan kontribusi dari masyarakat bisa berbentuk:
(1) Materi,
(2) Tenaga,
(3) Uang.
Sampai saat ini, sebagian besar dana dari luar untuk pembangunan PLTMH
berbentuk hibah. Artinya masyarakat pengguna tidak perlu mengembalikan dana
pembangunan. Meskipun demikian, bukan berarti masyarakat tidak perlu membayar

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 14

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

biaya penyusutan nilai asset. Demi keberlanjutan PLTMH, biaya penyusutan perlu
diperhitungkan dalam penetapan iuran listrik sehingga pada saat PLTMH selesai umur
pakainya telah tersedia dana yang cukup untuk membangun PLTMH baru sebagai
pengganti.
Pada kasus dana pembangunan berasal dari pinjaman, kemampuan masyarakat
dalam mengembalikan pinjaman dapat menjadi indikasi untuk diperolehnya lagi
pinjaman serupa di waktu mendatang. Begitu juga jika dana pembangunan merupakan
investasi, kembalian investasi yang diperoleh dapat menjadi indikasi kelayakan
investasi serupa. Persoalannya, pembiayaan pembangunan PLTMH menggunakan
dana- dana komersial cenderung tidak layak secara ekonomis. Untuk itu perlu
diupayakan skema-skema khusus agar PLTMH dapat dibangun menggunakan dana
pinjaman atau investasi.
Berkaitan dengan
program pembangunan perdesaan, pengembangan PLTMH
seharusnya dapat mendorong pemberdayaan masyarakat. Dalam hal ini perlu
diupayakan agar muncul swadaya masyarakat di dalam komponen pembiayaan.
Bantuan bersubsidi penuh idealnya hanya digunakan pada kondisi tertentu. Besarnya
kontribusi masyarakat dalam pembangunan PLTMH juga akan semakin meningkatkan
rasa memiliki terhadap sarana yang dibangun. Rasa memiliki ini pada akhirnya dapat
meningkatkan partisipasi dari masyarakat.

B.

Pembiayaan Pengelolaan

Selintas biaya operasional PLTMH terkesan murah karena energi primernya adalah
air yang praktis tidak perlu dibeli. Tetapi biaya perawatan instalasi pembangkit
(bangunan sipil maupun
pembangkit listrik) dan
jaringan
transmisi/distribusi
membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Apalagi jika terjadi kerusakan yang
mengharuskan perbaikan besar.

Biaya operasional dan perawatan meliputi:


a. Biaya operasional rutin (gaji pengelola, biaya administrasi, dsb).
b.

Pemeliharaan dan perbaikan terjadwal


sudah dapat diperkirakan sejak awal.

yang

besar

biayanya seharusnya

c. Perbaikan kerusakan-kerusakan tidak terduga.


Komponen-komponen biaya tersebut harus diperhitungkan secara seksama.

C.

Penetapan Tarif Listrik

Keberlanjutan PLTMH akan lebih mungkin tercapai jika pendapatan yang diperoleh dari
iuran pengguna dapat menutupi semua biaya yang harus ditanggung. Oleh karena itu
tarif listrik perlu ditetapkan sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan total

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 15

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

pendapatan yang diharapkan. Tarif listrik yang terlalu rendah pada akhirnya akan
merugikan masyarakat sendiri.
Biaya yang harus ditanggung oleh suatu PLTMH secara garis besar yaitu:
a. Biaya modal,
b. Biaya operasional dan pemeliharaan.
Jika PLTMH dibangun menggunakan dana pinjaman, maka biaya modal yang harus
dibayar berupa angsuran dan bunga pinjaman. Jika PLTMH dibangun menggunakan
dana investasi, maka biaya modal yang harus dibayar berupa penyusutan dan
kembalian (return) untuk investasi Sedangkan PLTMH yang dibangun menggunakan
dana hibah dapat dianggap sebagai investasi oleh masyarakat pengguna, sehingga
biaya penyusutan dan kembalian investasi tersebut menjadi milik masyarakat. Akumulasi
uang dari penyusutan dan kembalian investasi tersebut harus dipisahkan. Sedapat
mungkin dana tersebut tidak diganggu gugat karena merupakan dana cadangan untuk
investasi kembali ketika PLTMH yang ada perlu diganti dengan yang baru karena sudah
habis umur pakainya.
Biaya operasional dan pemeliharaan terdiri atas biaya operasional rutin, biaya
pemeliharaan dan perbaikan terjadwal dan biaya perbaikan- perbaikan yang tidak
terduga. Informasi-informasi tentang kebutuhan biaya-biaya tersebut perlu dijelaskan
kepada masyarakat pengguna agar masyarakat bisa bersikap lebih bijaksana pada pada
saat
musyawarah penetapan tarif. Selain itu penetapan tarif juga perlu
mempertimbangkan faktor-faktor lain, misalnya daya beli masyarakat, pemerataan dan
rasa keadilan.

Penetapan iuran dengan melakukan musyawarah bersama seluruh masyarakat

D.

Pemanfaatan Untuk Kegiatan Ekonomi Produktif

Pada umumnya pemanfaatan listrik PLTMH oleh masyarakat perdesaan adalah untuk
penerangan dan hiburan (televisi, radio, dsb) di malam hari. Sedangkan penggunaan
pada siang hari hampir tidak ada. Bahkan kebanyakan PLTMH hanya dioperasikan pada
malam hari.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 16

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

Penggunaan listrik untuk penerangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya bukan
berarti tidak memberikan dampak positif terhadap ekonomi masyarakat. Setidaknya
masyarakat bisa menghemat pengeluaran jika dibandingkan dengan penggunaan lampu
minyak tanah atau generator diesel untuk penerangan. Namun dampak positif PLTMH
akan semakin meningkat jika adanya layanan listrik juga mendorong berkembangnya
kegiatan-kegiatan ekonomi produktif yang memanfaatkan energi listrik pada siang hari.
Dampak positif ini pada akhirnya akan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga
iuran listrik juga lebih lancar. Bagi pengelola PLTMH sendiri, termanfaatkannya energi
pada siang hari akan semakin meningkatkan peluang untuk memperoleh pendapatan.

Penggunaan energi untuk kegiatan produktif

7.4. PEMANFAATAN ENERGI UNTUK UTILITAS PUBLIK


Pemanfaatan energi untuk utilitas publik, misalkan pompa air untuk penyediaan air
bersih atau pengairan lahan pertanian, dan sebagainya adalah indikator yang harus
dinilai terhadap akibat adanya pembangkit mikrohidro. Ini juga menjadi kunci dari
keberhasilan pengembangan mikrohidro terkait dengan fungsinya di masyarakat.
Penggunaan energi akan menjadi tulang punggung untuk pengoperasian beberapa
fasilitas publik. Penggunaan beberapa alat kesehatan di puskesmas pembantu adalah
salah satu contoh. Begitu juga dengan penyelenggaraan sekolah pada malam hari
untuk pemberantasan buta huruf untuk warga dewasa juga dapat dijadikan contoh
lain. Warga bekerja di siang hari, dan belajar membaca di malam hari. Penggunaan
pompa air untuk keperluan air pada lokasi lahan pertanian yang tidak dilalui irigasi
termasuk peran yang diemban oleh pembangkit mikrohidro dalam utilitas publik.
Termasuk juga dengan pembuatan sistem pengelolaan air bersih dengan penggunaan
alat sterilisasi, sehingga air langsung dapat diminum.
Banyak hal yang dapat dibuat dengan adanya penyediaan energi bidang- bidang yang
dapat dijadikan sebagai alat bantu utilitas publik misalnya untuk kesehatan: alat

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 17

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

kesehatan di puskesmas,
sterilisasi susu yang dikelola
secara
komunitas
menggunakan pemanas listrik, kegiatan posyandu terkait dengan alat peraga
kesehatan ibu dan anak lewat multimedia, senam pagi lansia dengan media pengeras
suara, kulkas pendingin untuk melindungi vaksin dari kerusakan, dan memberikan rasa
nyaman untuk perawat, bidan, dan dokter untuk bertugas di desa tersebut. Untuk utilitas
lain misalnya pendidikan antara lain: penggunaan komputer di sekolah, penggunaan
internet,
laboratorium bahasa,
laboratorium keterampilan, laboratorium IPA,
laboratorium multimedia, dan kegiatan- kegiatan sekolah lainnya yang dilakukan pada
malam hari. Kegiatan ini bersumber pada
cara mempermudah anak didik untuk
memahami pelajaran tertentu dengan menggunakan alat non verbal maupun non
literer. Ini membuktikan bahwa mikrohidro akan merubah banyak terhadap utilitas
publik.
Inilah peran mikrohidro paling utama adalah percepatan peningkatan ulilitas publik
sebagai upaya peningkatan standar hidup. Penerapan mikrohidro berarti bahwa
rencana peningkatan utilitas publik terkait dengan sumber energi akan memicu untuk
tujuan-tujuan besar utilitas publik terkait dengan pengentasan kemiskinan dan perbaikan
penyediaan layanan-layanan umum. Untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut,
kesenjangan ekonomi dan sosial lintas daerah dapat diatasi dengan menggunakan
pembangkit mikrohidro.
Desa tempat mikrohidro dibangun dapat memperkuat budaya lokal dan juga dapat
merubah perilaku orang desa menjadi perilaku urban. Karena ada masalah pergeseran nilai ini
maka mikrohidro juga diharapkan untuk dapat melestarikan perilaku orang desa seperti
yang telah diatur dalam lingkup sosialnya denga mengandalkan kearifan budaya lokal
dalam mengembangkan semua potensi desa termasuk pengembangan sektor industri kecil.
Meski desa
memiliki banyak potensi untuk dikembangkan, masyarakatnya tetap
mengutamakan kearifan budaya lokal dalam membangun desa ini. Masyarakat diharapkan
memegang tradisi dan mempertahankan kearifan budaya lokal, melestarikan kesenian
tradisional serta menjaga tata dan perilaku hidup untuk dipegang teguh oleh masyarakat
setempat.
Tata kehidupan yang baik dan potensi daerah yang mendukungan akan mendorong
perekonomian masyarakat akan berjalan dan tumbuh dengan baik. Ini akan memudahkan
pemberdayaan masyarakat sebagai faktor utama pengerak pembangunan. Ini disebabkan
oleh masuknya pertimbangan tentang menerapkan kearifan budaya lokal dalam kehidupan
sehari-hari. Budaya lokal masih dirasakan dalam kehidupan warga masyarakat masih
bergotong-royong, bahkan sikap empati dan simpati selalu ditunjukkan dalam kehidupan
sehari-hari. Kearifan budaya lokal dalam membangun desa perlu dipelihara sehingga bangsa
ini tetap memiliki kepribadian dan jati diri yang kuat.
Bentuk-bentuk kearifan lokal selain kesenian, budaya, dan tata kehidupan, terdapat satu
bentuk kearifan lokal yang patut mendapatkankan apresiasi diantaranya pelestarian hutan.
Masyarakat desa yang berpola hidup sangat sederhana, yang memiliki pandangan
berdasarkan nilai agama dan nilai adat biasanya sangat arif dan bijaksana dalam menjaga
memelihara serta melindungi kelestarian hutan belantaranya. Karena adat istiadat

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 18

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

mengajarkan hutan adalah asal usul kehidupan yang kadang kadang dikeramatkan, dengan
tata cara ziarah sangat khusus sehingga seluruh kawasan hutan tidak bisa sembarang dijamah
siapapun. Ini akan menjadikan wilayah perdesaan di Indonesia sebagai wilayah pemukiman
yang lebih berkualitas dengan tetap menjunjung kearifan budaya lokal.

Penggunaan energi untuk utilitas publik

7.5. KELEMBAGAAN OLEH MASYARAKAT


Keberhasilan dan keberlanjutan sistem pembangkit PLTMH bergantung pada kesiapan
lembaga dalam pengoperasian dan perawatan. Faktor kelembagaan sangat menentukan
bagaimana sistem pembangkit terus berfungsi. Faktor ini dikenal faktor manusia yang
menggunakan dan menggerakkan sistem tersebut dimana faktor tersebut sangat menentukan
keberlanjutan dan usia sistem pembangkit. Bagian ini akan menjabarkan tentang dimensi
kualitas kelembagaan.
Kelembagaaan PLTMH, telah menjadi perhatian dengan anggapan bahwa titik kritis
keberlanjutan mikrohidro selama ini ada pada aspek tersebut. Dimensi kualitas dari
kelembagaan fokus dalam memberikan akses penyediaan listrik di perdesaan terkait dengan:
penyediaan energi listrik untuk penerangan keluarga; penyediaan energi listrik untuk Fasilitas
Publik dan Masyarakat; dan penyediaan energi listrik untuk Kegiatan Ekonomi Produktif.
Peran kelembagaan sangat menentukan keberlangsungan dan sistem umpan balik untuk
pengembangan mikrohidro terhadap utilitasnya. Terdapat kelembagaan di tingkat
masyarakat desa terkait pengoperasian, pemeliharaan, dan pengelolaan kegiatan produksi
dan distribusi energi lokal tenaga mikrohidro dapat menjadi ukuran tingkat keberhasilan

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 19

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

mikrohidro. Diantaranya, ada sebuah kegiatan rutin administrasi dan pembukuan/keuangan


pengelola yang melibatkan masyarakat desa.
Oleh karena itu, keberhasilan pengembangan listrik perdesaan berbasis mikrohidro akan
sangat ditentukan oleh aspek kelembagaan yang dapat menjadi pedoman dan panduan bagi
masyarakat dalam beraktivitas. Penyiapan dan penguatan kelembagaan pengelola PLTMH
sangat diperlukan guna mendukung keberhasilan program listrik di perdesaan dan
menjamin keberlanjutannya. Lembaga pengelola PLTMH yang kuat secara langsung akan
memperkuat masyarakat perdesaan yang diharapkan mampu memanfaatan listrik secara
arif dan bijaksana serta berkelanjutan. Pemanfaatan listrik yang berkelanjutan akan
menggerakkan ekonomi perdesaan melalui berbagai usaha produktif, sehingga dengan
lembaga pengelola yang kuat, secara tidak langsung akan mendorong pertumbuhan
ekonomi perdesaan.
Kelembagaan akan memberikan pendayagunaan PLTMH untuk pengembangan potensi
ekonomi masyarakat setempat yang berbasis sumber daya lokal. Upaya itu memerlukan
peningkatan kesadaran masyarakat perdesaan dalam pemanfaatan dan pengelolaan PLTMH
memperkuat kelembagaan pengelola PLTMH di perdesaan.
Kelembagaan juga akan memberikan peningkatan kegiatan usaha produktif di perdesaan
yang mendorong perekonomian perdesaan. Sekaligus, peningkatan kemampuan masyarakat
baik teknis maupun non teknis dalam memelihara dan mengelola PLTMH sehingga PLTMH
dapat dikelola dengan baik dan berkelanjutan . Ini adalah awal untuk peningkatan
kesejahteraan masyarakat perdesaan melalui program pembangunan PLTMH dan upaya
pengelolaan lingkungan untuk menjaga ketersediaan sumberdaya air.
Kelembagaan yang baik akan menopang budaya masyarakat perdesaan berkaitan dengan
program listrik perdesaan. Masyarakat akan terbiasa berorganisasi dalam mendukung
program PLTMH sebagai kelembagaan yang ada di masyarakat perdesaan. Sehingga untuk itu
diperlukan upaya mempersiapkan dan membentuk lembaga pengelola PLTMH sekaligus
mengidentifikasi kondisi perekonomian masyarakat perdesaan sebagai bentuk usaha
produktif yang dapat memanfaatkan energi bersumber dari PLTMH.
Kegiatan kelembagaan akan mengutamakan pada upaya membangun rasa memiliki dan
membentuk lembaga pengelola. Upaya yang harus dilakukan dalam bentuk sosialisasi
program di masyarakat melakukan pertemuan-pertemuan dengan tokoh masyarakat. Serta
penyebaran informasi PLTMH dengan penyebaran media (pemutaran film, leaflet, poster
serta media lainnya). Untuk itu perlu dilakukan koordinasi dengan pemerintahan lokal dalam
pembentukan lembaga pengelola PLTMH, membangun kesepakatan dan komitmen sehingga
terbentuk dan adanya pengukuhan lembaga pengelola PLTMH.
Selain itu perlu dilakukan memperkuat kelembagaan dalam bentuk pelatihan keorganisasian
bagi lembaga pengelola PLTMH sehingga terbentuk komitmen diantara personal lembaga
pengelola. Pembentukan komitmen itu diuraikan lagi dalam
menentukan tarif bagi
pelanggan dan pembuatan mekanisme kerja dalam mengelola PLTMH dan membuat
deskripsi kerja para personal pengelola. Untuk sampai pada tahap tersebut maka perlu
kegiatan penopang lainnya, misalnya pelatihan operator dan pengelolaan keuangan berupa

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 20

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

pemberian panduan administratif (form, buku kas, kartu langganan, log


panduan penyusunan.

book)

dan

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Lembaga Pengelola. Kelembagaan akan
memberikan impak pada kegiatan assessment usaha produktif di perdesaan sehingga
dimungkinkan pengkajian potensi kegiatan produktif berupa pengumpulan data dan
identifikasi usaha produktif yang dapat
dikembangkan. Dan juga, identifikasi
teknologi/peralatan dengan input energi PLTMH yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan
produktif secara efisien dan ekonomis. Menilai dimensi kualitas kelembagaan adalah faktor
penting dalam upaya pemilihan demosite untuk pembangkit mikrohidro. Kualitas
kelembagaan yang baik tercermin dari proses kelembagaan yang sesuai dan fungsional seperti
penjelasan di atas.

7.6. PELAKSANAN PELATIHAN


Membangun kemandirian desa membutuhkan keahlian dalam mengelola dan mengolah
potensi dari desa tersebut. Membangun dan merawat sebuah pembangkit energi berasal
dari pengetahuan tentang potensi daerah masing-masing untuk dikelola sebagai sumbersumber energi berkelanjutan bagi daerah itu sendiri. Dengan variasi kondisi alam dan
keragaman hayati di Indonesia, potensi masing-masing daerah pun akan berbeda satu sama
lain. Oleh karena itu diperlukan kemampuan dan pengetahuan dalam mengelola sumber
tersebut yang terlihat dari kemampuan memahami secara komprehensif tentang sumber
energi yang berkelanjutan dan strategi pemanfaatan serta pengelolaannya, disesuaikan
dengan kondisi dan potensi sosial-ekonomi daerah tersebut. Pengetahuan yang parsial saja
dapat menyebabkan suatu daerah memaksakan diri menerapkan sistem pembangkit energi
dengan sumber- sumber yang sebetulnya tidak sesuai untuk daerah itu.
Dilatarbelakangi oleh hal tersebut maka ada upaya untuk membangun kemampuan
masyarakat
perdesaan (capacity building) untuk menyediakan kebutuhan energi dari
sumber daya energi lokal, melalui pelatihan, pendampingan, atau bimbingan teknis.
Bimbingan dan pelatihan itu tidak sekedar hanya terikat pada topik energi semata, juga
menyentuh topik yang lebih luas, misalnya bimbingan keorganisasian dan pengembangan
usaha produktif. Lalu juga ditambahkan dengan pengetahuan masyarakat
tentang
pengelolaan pemukiman, upaya memajukan pendidikan, kegiatan-kegiatan yang mendukung
kesehatan masyarakat, dan pengembangan adat istiadat dan kesenian.
Tujuan akhir dari kepelatihan tersebut adalah bagaimana masyarakat desa dapat melakukan
perencanaan desa secara mandiri. Misalnya masyarakat diberikan bekal bagaimana dalam
melakukan perencanaan pembangunan di tingkat desa. Hal yang harus diketahui terlebih
dahulu adalah potensi desa, baik berupa sumber daya alam desa, maupun analisis lingkungan
di dalam dan luar desa. Ini mungkin salah satu materi yang menjadikan desa bisa
merencanakan dirinya sendiri diawali dengan kemampuan pengelolaan mikrohidro secara
mandiri.
Bimbingan dan pengetahuan itu harus memasukkan sebuah kemampuan analisis dalam

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 21

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

melakukan perencanaan pembangunan di desa. Dalam analisis tersebut, masyarakat desa


memahami masalah-masalah yang timbul di dalam desa. Misalnya, masalah tanah yang
akan digunakan untuk pembangunan harus diketahui terlebih dahulu status kepemilikannya.
Jika tanah tersebut merupakan tanah ulayat, maka harus ada izin dari kepala suku ulayat
yang bersangkutan, sehingga setelah diadakan pembangunan infrastruktur tidak akan terjadi
tuntutan di tengah masyarakat, sedangkan jika tanah itu miliki pribadi, maka harus ada bukti
penyerahan tanah secara tertulis. Ini adalah salah satu contoh bagaimana masalah desa harus
terinternalisasi lewat bimbingan dan pelatihan pada masyarakat desa sendiri.
Kemampuan perencanaan desa lewat bimbingan dan pelatihan berdampak kepada
adanya efisien dan efektif terhadap program desa, meningkatnya kemampuan ekonomi
masyarakat dalam pemanfaatan sumbar daya alam, terciptanya lingkungan yang bersih
dan sehat, terwujudnya kemandirian dan kemampuan pembiayaan desa, serta
tersedianya sarana dan prasarana desa sesuai dengan yang dibutuhkan. Kemampuan ini akan
mendorong masyarakat desa tidak sekedar menjadi salah satu unsur pembangunan
pemerintah. Misalnya setelah proyek pembangkit mikrohidro selesai, masyarakat desa
mengetahui cara pengelolaan dan perawatannya. Ini hanya bagian kecil dari ide besar
kepelatihan untuk desa. Banyak hal lain dapat dilakukan dalam bimbingan dan
kepelatihan masyarakat desa. Dapat secara luas diharapkan pelatihan itu meliputi
pengetahuan masyarakat mengenai penyediaan tanah untuk pembangunan demi kebutuhan
umum, peningkatan mutu pendidikan di tingkat desa, peningkatan infrastruktur jalan desa,
penataan wilayah dan struktur pemerintah desa, penetapan ruang wilayah desa,
peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan desa.
Pembangunan PLTMH dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat sangat relevan dengan
kebijakan desentralisasi penyediaan energi (listrik) perdesaan. Pendekatan ini menyadari
pentingnya kapasitas masyarakat untuk meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal
atas sumber daya material dan non material yang penting. Masyarakat memiliki potensi baik
dilihat dari sumber daya alam maupun dari sumber sosial dan budayanya. Social preparation
dalam pengembangan program listrik perdesaan perlu dilaksanakan mengingat masyarakat
memiliki kekuatan yang bila digali dan dikembangkan akan dapat menjadi kekuatan yang
besar untuk pengentasan kemiskinan.
Masyarakat yang tentunya lebih memahami
kebutuhannya sendiri perlu difasilitasi agar lebih mampu mengenali permasalahanpermasalahannya sendiri dan merumuskan rencana- rencananya serta melaksanakan
pembangunan secara mandiri dan swadaya.
Dalam kaitannya dengan pengembangan listrik perdesaan, pembangunan dan pengelolaan
sumber daya alam (dalam hal ini adalah sumber daya air) oleh masyarakat lokal merupakan
media pengembangan rasa percaya diri masyarakat, yang akan menjadi dasar utama
kemampuan kemandirian masyarakat tersebut. Pengalaman program listrik perdesaan di
beberapa negara berkembang menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas masyarakat
lokal merupakan unsur penting dalam keberlanjutan program. Dalam proses pemberdayaan
masyarakat dan pembangkitan kemandirian, partisipasi merupakan komponen yang sangat
penting. Tumbuhnya
partisipasi masyarakat akan menjadi jaminan berlangsungnya
pembangunan energi perdesaan secara berkelanjutan. Untuk itu
perlu
strategi

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 22

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

pendampingan masyarakat yang dapat memaksimalkan tingkat partisipasi.

Pelatihan Administrasi untuk pengurus PLTMH

Pelatihan Teknisuntuk Operator

7.7. FAKTOR-FAKTOR YANG M EMPENGARUHI PERSIAPAN SOSIAL DARI


OPERASIONAL PLTMH
A.

Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat dalam melaksanakan program PLTMH harus selalu ditumbuhkan,


didorong dan dikembangkan secara bertahap, konsisten dan berkelanjutan.
Jiwa
partisipasi masyarakat adalah semangat solidaritas sosial, yaitu hubungan sosial yang
selalu didasarkan pada perasaan moral bersama, kepercayaan bersama dan cita-cita
bersama. Partisipasi masyarakat sejak awal program akan lebih menjamin kesuksesan
dan keberlanjutan program.
Berdasarkan pengalaman dalam program PLTMH, pola partisipasi masyarakat sangat
ditentukan bagaimana mekanisme proyek tersebut dilaksanakan. Partisipasi masyarakat
tidak akan terjadi begitu saja, tetapi perlu pendekatan-pendekatan yang tepat dan

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 23

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

mekansime proyek yang mendukung pola partisipatif. Untuk itu perlu perencanaan yang
matang dan panduan proses yang tepat sesuai konteks lokal. Adanya fasilitator dari luar
desa juga direkomendasikan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Pola partisipatif
akan berjalan baik jika ada dukungan dan keterlibatan seluruh komponen masyarakat dan
institusi lokal.
Partisipasi masyarakat
dalam suatu program PLTMH meliputi aspek perencanaan,
pelaksanaan dan pemantauan proyek. Keberhasilan suatu proyek PLTMH sangat ditentukan
oleh partisipasi masyarakat dalam pembuatan keputusan, pelaksanaan,
mobilisasi
sumberdaya, pemanfaatan bersama dan evaluasi.

Partisipasimasyarakatdalam pembangunanPLTMH

B.

Pemanfaatan Listrik dan Manajemen Energi

Listrik sangat dibutuhkan oleh masyarakat perdesaan dalam memenuhi energi perdesaan
untuk menunjang kegiatan
pembangunan perdesaan. Listrik diharapkan tidak saja
memberikan manfaat sosial bagi masyarakat, tetapi
juga
mampu
memberikan
keuntungan ekonomi melalui pemanfaatan untuk kegiatan usaha ekonomi produktif
yang dapat memberikan peningkatan pendapatan terutama bagi masyarakat miskin.
Perencanaan energi listrik oleh masyarakat sendiri perlu dilakukan agar energi listrik yang
tersedia bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Untuk itu perlu dirancang suatu kerangka
kerja dalam rangka penyusunan kesepakatan yang memungkinkan masyarakat
perdesaan mengemukakan kebutuhan mereka dan memutuskan bagaimana jalan terbaik
untuk memenuhinya sesuai dengan kapasitas pasokan listrik PLTMH yang ada.
Permintaan daya listrik oleh konsumen akan cenderung meningkat seiring dengan semakin
membaiknya kesejahteraan masyarakat. Sedangkan potensi
pasokan
daya
listrik

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 24

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

cenderung tetap, kecuali ada investasi tambahan pembangkit. Agar pasokan daya listrik
tetap terjaga, maka pola perencanaan penggunaan listrik yang sesuai dengan kebutuhan
(bukan keinginan) masyarakat perlu disosialisasikan secara matang. Peningkatan permintaan
daya listrik perlu dikendalikan misalnya dengan menerapkan tarif listrik yang lebih tinggi
untuk konsumen yang menggunakan lebih banyak.
Pengalaman juga menunjukkan bahwa setelah adanya PLTMH masyarakat perdesaan
cenderung memanfaatkan listrik untuk kebutuhan konsumtif (seperti membeli TV, parabola,
stereo set dan lain-lain), dan bukan untuk kegiatan produktif yang menghasilkan peningkatan
pendapatan. Untuk itu, sejak awal perlu dilakukan peningkatan pemahaman masyarakat
tentang pemanfaatan listrik untuk peningkatan pelayanan sosial kemasyarakatan dan
pemberdayaan usaha ekonomi produktif.

C.

Pengembangan Kelembagaan

PLTMH dalam konteks pembangunan perdesaan dengan pendekatan pemberdayaan


masyarakat umumnya dikelola oleh masyarakat desa secara mandiri. Berkaitan dengan
kepemilikan dan pengelolaan PLTMH tersebut, maka perlu ditelaah kebijakan pemerintah
yang terkait erat dengan masalah ini. Kebijakan yang dapat dijadikan bahan rujukan bagi
pengelolaan PLTMH adalah Peraturan Pemerintah/PP No. 3 Tahun 2005 dan UndangUndang/UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (yang menggantikan UU No.
22 Tahun 1999).
Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 pada pasal 212 maka PLTMH yang merupakan bantuan
pemerintah, baik pusat maupun daerah dapat dianggap merupakan milik pemerintahan desa,
yang digunakan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat.
Pengelolaan PLTMH
sebagai asset desa, diserahkan pada mekanisme kesepakatan masyarakat dalam kerangka
pemberdayaan masyarakat. Mekanisme pengelolaan dan bentuk kelembagaan pengelola
PLTMH itu sendiri, secara teknis belum ada peraturan lain yang mengatur secara tegas.
Akan tetapi, UU No. 32 Tahun 2004 mengakomodir bentuk kelembagaan milik masyarakat
yang ada di desa, yaitu dalam bentuk kelembagaan informal (pasal 211) dan berbadan
hukum (pasal 213). Pasal 213 secara khusus memberikan kewenangan kepada kepala desa
untuk membentuk badan usaha milik desa (BUMD) yang berbadan hukum sesuai peratuan
perundang-undangan. Aspek legal dari kelembagaan informal pada pasal 211 diberikan melalui
peraturan desa yang dikeluarkan oleh kepala desa. Konsekuensi dari pasal 211 pada UU
No. 32 Tahun 2004 adalah kelembagaan informal bertujuan sosial dan berorientasi
pada pemberdayaan masyarakat. Hal ini sebenarnya sejalan dengan program PLTMH yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pembangunan perdesaan.
Akan tetapi, karena keberlanjutan PLTMH sangat ditentukan
oleh kelangsungan
finansial dari hasil pembayaran iuran listrik, maka pengelolaan PLTMH harus berorientasi
pada manajemen usaha yang baik.
Jika pengelolaan PLTMH oleh masyarakat desa telah berjalan dengan manajemen usaha
yang baik, maka terbuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkannya menjadi

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 25

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

badan usaha milik desa berbadan hukum yang diakui oleh pemerintah sesuai dengan
kewenangan yang diberikan oleh pasal 213 dalam UU No. 32 Tahun 2004. Keputusan
menjadi BUMD harus sesuai kesepakatan dan aspirasi masyarakat desa itu sendiri dengan
tetap memperhatikan aspek peningkatan keswadayaan masyarakat.
Secara teknis, kemampuan masyarakat dalam mengelola PLTMH ditentukan oleh kapasitas
SDM yang ada di daerah tersebut. Selain itu, sejarah pengelolaan listrik desa yang pernah
ada juga ternyata menjadi bahan pelajaran penting bagi masyarakat dalam mengelola
listrik secara mandiri. Dalam hal ini, karakteristik sosial budaya masyarakat akan sangat
mempengaruhi pola kepemilikan dan manajemen PLTMH. Beragam pilihan kelembagaan
pengelola dan manajemen dapat dipertimbangkan disesuaikan dengan konteks program dan
kesepakatan dengan masyarakat.
Keberlanjutan ekonomi dari PLTMH juga ditentukan oleh rancangan pola manajemen PLTMH
dan kemampuan sumber daya manusia/SDM. Bentuk kelembagaan badan pengelola
dalam hal ini tidaklah terlalu penting akan tetapi harus ditunjang oleh manajemen yang
berorientasi
bisnis.

D.

Dukungan Kelembagaan

Kesuksesan listrik perdesaan pola desentralisasi, dalam hal ini PLTMH mensyaratkan
pendekatan kelembagaan yang terkoordinasi antara kebijakan pemerintah yang kondusif
dengan organisasi di tingkat lokal yang didukung oleh kelembagaan fasilitasi di tingkat
regional maupun nasional (intermediasi) yang memiliki kemampuan beragam fungsi yang
terkoordinasi. Dukungan kelembagaan tersebut terbagi atas tiga tingkat, yaitu:
a. Tingkat nasional (pusat), yang merumuskan kebijakan dan perencanaan listrik
perdesaan untuk memberikan dasar hukum dan pengaturan kerangka kerja
pengembangan sektor ketenagalistrikan perdesaan.
b. Tingkat lokal, yaitu desa tempat pembangkit listrik tersebut berada.
c. Tingkat intermediasi, yang memfasilitasi keterkaitan antara institusi nasional dan
institusi lokal yang akan menjamin bahwa perencanaan dan kebijakan yang
ada sesuai dengan kebutuhan masyarakat perdesaan. Intermediasi bisa jadi
dilakukan oleh LSM lokal, aparat pemerintah atau perusahaan swasta (konsultan) yang
dikontrak oleh pemerintah. Dalam banyak kasus, lembaga intermediasi akan
memberikan
bantuan
teknis
dalam
hal penerangan,
fasilitasi
dan
perencanaan bagi masyarakat perdesaan.
Gagalnya keberlanjutan PLTMH oleh masyarakat perdesaan lebih banyak karena faktor non
teknis yaitu lemahnya dukungan institusi. Kegagalan institusi tersebut terutama karena
fungsi intermediasi yang memfasilitasi kegiatan
pemberdayaan masyarakat
yang
menekankan aspek Social preparation berjalan kurang baik.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 26

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

E.

Dukungan Pemerintah

Pemerintah merupakan aktor utama pembangunan dalam memberikan dukungan secara


kelembagaan, melalui kebijakan-kebijakan baik di tingkat nasional dan regional maupun
fungsi intermediasi yang berpihak kepada kepentingan masyarakat perdesaan. Program
listrik perdesaan harus dikaitkan dengan pembangunan perdesaan yang terintegrasi. Listrik
perdesaan membutuhkan dukungan pembangunan lintas sektoral menyangkut pertanian,
ekonomi, teknologi tepat guna, pendidikan dan konservasi sumberdaya alam. Pembangunan
perdesaan yang terintegrasi membutuhkan koordinasi antar instansi teknis dalam bentuk
sinergi pada proyek maupun agenda kegiatan rutin.
Dengan tujuan program PLTMH dapat berkelanjutan dan memberikan nilai tambah dalam
peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat perdesaan, maka pemerintah diharapkan dapat
melakukan:

F.

Dorongan
kepada
instansi teknis yang menangani program PLTMH agar
memberikan perhatian yang lebih besar pada aspek social engineering yang
melibatkan konsultan teknis bidang pemberdayaan masyarakat maupun lembaga
swadaya masyarakat (LSM) lokal.

Pemanfaatan listrik untuk kegiatan usaha ekonomi produktif yang membutuhkan


dukungan intermediasi di bidang pertanian, ekonomi dan teknologi tepat guna.

Perencanaan PLTMH yang diintegrasikan


dengan
program pembangunan
perdesaan pada instansi teknis yang terkait. Dalam hal ini dibutuhkan komitmen dari
para pengambil kebijakan sehingga kegiatan fasilitasi masyarakat dapat disinergikan
dengan proyek-proyek lain pada desa-desa sasaran program.

Dukungan Kelembagaan Lokal

Dukungan kelembagaan lokal pada masyarakat sangat penting dalam menentukan


keberlanjutan pengelolaan PLTMH secara mandiri. Dukungan di tingkat lokal ditentukan oleh
peranan para pemimpin formal (kepala desa dan perangkat desa) dan pemimpin informal
(tokoh-tokoh masyarakat) yang ada, baik di tingkat desa maupun di tingkat yang lebih tinggi.
Pengalaman dalam pengelolaan PLTMH memperlihatkan bahwa badan pengelola akan
berjalan optimal jika didukung oleh seluruh unsur kepemimpinan yang ada di desa.
Kegagalan PLTMH seringkali diakibatkan lemahnya kapasitas badan pengelola akibat
kurangnya dukungan para tokoh-tokoh pemimpin di desa.
Lemahnya posisi badan
pengelola ini menjadikan partisipasi masyarakat juga rendah terutama dalam hal realisasi
pembayaran iuran listrik yang sangat penting dalam keberlanjutan PLTMH.
Peranan kelembagaan lokal juga dipengaruhi oleh faktor kapasitas SDM dan kondisi sosial
budaya masyarakat desa.
Masyarakat di perdesaan umumnya masih memiliki
ketergantungan yang tinggi terhadap keberadaan sosok pemimpin
dan cenderung
menjadikan figur pemimpin sebagai tokoh yang dijadikan panutan dalam semua kegiatan
pembangunan.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 27

IMPLEMENTASI PLTMH BERBASIS


MASYARAKAT

Kelembagaan lokal yang ada pada masyarakat perdesaan dapat dipandang sebagai:

Seperangkat aturan atau sistem nilai yang menjadi pedoman dalam kehidupan
sosial kemasyarakatan di perdesaaan.
Dukungan kelembagaan lokal yang didapatkan di sini berbentuk sistem sosial
budaya
dan
pola kepemimpinan di desa
yang kondusif bagi proses
pemberdayaan masyarakat dalam rangka persiapan sosial pengembangan PLTMH.

G.

Lembaga/organisasi di perdesaan. Dukungan kelembagaan yang didapatkan disini


berbentuk
adanya kerjasama
atau
sinergi yang baik
dengan
organisasi/kelembagaan baik formal maupun informal yang ada di perdesaan.

Fungsi Intermediasi

Dukungan institusi melalui fungsi intermediasi diberikan melalui kegiatan pendampingan dan
bantuan teknis.
Masyarakat perdesaan sangat membutuhkan dukungan intermediasi,
karena lemahnya kapasitas SDM dan akses terhadap sumberdaya (informasi, teknologi,
permodalan, dan lain-lain). Fungsi intermediasi ini dapat dilakukan oleh aparat pemerintah
(instansi terkait), LSM lokal atau konsultan dalam bentuk bantuan teknis sebagai persiapan
sosial.
Peran LSM dalam rangka bekerjasama dengan pemerintah akan sangat membantu proses
pemberdayaan masyarakat. Pada penguatan kapasitas kelembagaan lokal diperlukan pihak
luar yang mampu memerankan diri sebagai katalisator. Pihak luar itu bisa berupa orangorang atau institusi sektor ketiga yang tidak berkaitan langsung dengan sektor publik dan
sektor swasta. Pihak yang berada di sektor ketiga adalah koperasi, LSM atau lembaga adat.
Pengalaman menunjukkan bahwa masyarakat tidak dapat ditinggalkan begitu saja
mengelola PLTMH tanpa bantuan kelembagaan lain di luar masyarakat desa yang bertindak
sebagai fasilitator. Perlu adanya suatu kelembagaan pendamping untuk melakukan
penguatan kelembagaan sosial di tingkat lokal.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VII - 28

O &M

BAB VIII. OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN


Untuk menjaga keandalan dan kesinambungan operasional pembangkit maka perlu dilakukan
prosedur operasional dan perawatan yang standar dan teratur. Manual petunjuk operasi dan
perawatan untuk setiap pembangkit mikro hidro harus disiapkan sebelum pembangkit
mulai beroperasi. Selain itu training untuk operator juga perlu dilaksanakan sehingga mereka
benar-benar siap untuk diserahi segala kewajiban dan tanggungjawab dalam mengoperasikan
dan merawat pembangkit.
Pihak manajemen maupun operator harus mengerti hal-hal berikut :

Operator harus melaksanakan operasi dan perawatan pembangkit sesuai dengan


manual dan standard yang diberlakukan. Baik itu oleh pihak pabrikan maupun
pengelola.

Operator harus terbiasa dan mengenali semua komponen pembangkit beserta


fungsi fungsinya.

Operator harus selalu memeriksa kondisi fasilitas dan alat-alat pembangkit. Ketika
dia menemukan suatu kerusakan atau keganjilan dia harus melaporkan kepada orang
yang bertanggungjawab dan mengatasinya jika dianggap mampu.

Operator harus mencoba untuk mencegah segala macam kerusakan dan


kecelakaan. Dilakukan dengan
tindakan pencegahan berupa perawatan dan
penyediaan fasilitas pencegah kecelakaan.

8.1. OPERASI PEMBANGKIT


A. Pemeriksaan Sebelum Operasi
Sebelum pembangkit dijalankan operator harus memeriksa dan menjamin komponen dan
fasilitas pembangkit berada pada kondisi aman dan siap beroperasi terutama setelah
pembangkit berhenti lama, overal atau perbaikan. Bagian-bagian yang harus diperiksa pada
umumnya adalah sebagai berikut :
a. sistem penyediaan dan pembawa air (konstruksi sipil)

pastikan tidak ada struktur yang retak atau roboh.

tidak ada sediment atau lumpur yang berlebihan sehingga menghambat aliran
air.

aman dari longsor dan banjir.

tidak terjadi kebocoran pada saluran air (headrace dan penstock).

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VIII - 1

O &M

b. peralatan electro-mechanic

pastikan turbin pada posisi yang benar, periksa dan kencangkan kembali baut-baut
pada Angkor.

periksa ketegangan sabuk belt dan pulley.

periksa sambungan generator, grounding dan system pengaman.

periksa kembali pengkabelan controller, ballast load dan sistem proteksi.

c. transmisi dan distribusi

periksa kabel jaringan trasnmisi dalam keadaan baik (tidak ada yang putus atau
tertimpa pohon, dll).

periksa tiang penyangga kabel masih dalam kondisi bagus, tidak miring, roboh atau
keropos

periksa sambungan kabel ke cabang jaringan dari kemungkinanhubung singkat dan


salah sambung.

B. Pengoperasian
Berikut ini adalah langkah-langkah pengoperasian PLTMH (pada umumnya) :
1. Pastikan kondisi berikut ini (Persiapan)

buka pintu intake sehingga air mengalir melalui saluran pembawa.

semua MCB pada panel control pada posisi off.

katup utama turbin telah dibuka sampai pressure gauge menunjukan angka
optimalnya (sesuai dengan head yang tersedia).

2. Buka guide vane / katup turbin perlahan lahan, sampai kondisi berikut ini :

tegangan pada posisi 220 230 V.

arus ke ballast load mencapai kira-kira 1/3 dari beban nominal (jika pakai kontrol).

frekuensi meter menunjukan angka pada range 48 52 Hz.

3. tambahkan bukaan guide vane turbin sampai pada posisi optimalnya dan arus ke ballast
menunjukan 80 % dari arus maksimum.
4. pada panel nyalakan MCB ke beban (posisi ON), maka kondisi berikut seharusnya tercapai

ampere meter
tersambung.

ampere meter ballast load berkurang dari posisi semula

Desain PLTMH Bpiri Koragi

beban

menunjukan sesuai

dengan

beban

yang

Bab VIII - 2

O &M

C. Peran Operator Selama Operasi Normal


Setelah pembangkit di hidupkan dan beban ke konsumen menyala, operator harus
menunggu beberapa saat sampai kondisi pembangkit benar-benar aman dan normal.
Pada kondis beban puncak operator diharapkan ada di lokasi untuk mencegah overload
sehingga bisa membuka turbin lebih besar lagi. Untuk PLTMH yang tidak menggunakan
kontrol peran operator sangat penting untuk menjaga tegangan dan frekuensi
generator stabil pada saat beban naik turun, sehingga operator harus mengunggui rumah
pembangkit jika memungkinkan.
Tindakan yang harus dilakukan operator selama operasional pembangkit diantaranya
sebagai berikut :

Periksa struktur sipil dan saluran pembawa air dalam kondisi baik Bersihkan sampah
pada trashrack yang menghalangi aliran air masuk penstock

Periksa katup utama turbin dan bukaan guide vane turbin sesuai dengan besarnya
beban sehingga tegangan dan frekuensi listrik pada batasan nilai yang ditetapkan.

Periksa getaran dan suara dari generator dan turbin, jika getaran dan suaranya
melebihi ambang
batas
normal, hentikan pembangkit dan perbaiki
kerusakan/kejanggalan.

Periksa temperature bearing generator dan turbin, body generator dan control panel
pada range yang normal dan aman.

Periksa setiap kondisi yang tidak normal, lakukan tindakan penanggulangan dan
perbaikan, hentikan pembangkit jika dirasa perlu.

D. Menghentikan Pembangkit
Untuk mencegah kondisi yang berbahaya bagi peralatan pembangkit dan konsumen,
diperlukan prosedur penghentian pembangkit yang benar. Kondisi berbahaya dapat berupa
pelepasan beban secara tiba-tiba yang mengakibatkan overspeed pada turbin dan generator.
Berikut prosedur penghentian pembangkit :
1. Tempatkan semua circuit breaker beban pada posisi OFF

Arus beban (ampere meter) menunjukan angka nol

Arus ke ballast load akan naik sesuai kapasitas nominal pembangkit

2. Tutup guide vane turbin pelan-pelan sampai pada posisi tutup maksimum.
3. Tutup kembali pintu air intake dan buka pintu air penguras. Hal ini dilakukan terutama jika
pembangkit akan dihentikan cukup lama atau saluran air (sungai) akan digunakan
untuk keperluan lain, seperti irigasi dan keperluan rumah tangga.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VIII - 3

O &M

8.2. OPERASI PEMBANGKIT


Selama keadaan tertentu, operasional pembangkit harus dilakukan dengan teliti dan
hati-hati atau bahkan harus dihentikan untuk sementara waktu. Adapun keadaan darurat
dapat berupa;

A.

Banjir

Hampir semua pembangkit mikro hidro pada kebanyakan lokasi dapat dioperasikan pada
keadaan banjir. Bagaimanapun pada saat banjir dimana banyak lumpur dan sampah yang
terbawa mungkin dapat masuk waktu dengan menutup pintu masuk intake. Setelah banjir
mereda, operator harus mengecek kondisi saluran, pintu air dan membersihkan sampah
dan lumpur yang masuk ke saringan dan saluran pembawa.

B. Gempa bumi
Gempa bumi dapat mempengaruhi hampir semua komponen pembangkit. Dari mulai struktur
sipil, elektro mekanik dan jaringan transmisi. Oleh karena itu setelah terjadi gempa bumi
operator harus melakukan tindakan berikut ini :
1. Tutup pintu utama intake menuju saluran.
2. Periksa kemungkinan kerusakan pada struktur sipil dari retak, longsor, bocor dan
kerusakan lainnya, segera perbaiki jika ada kerusakan!
3. Periksa kesejajaran shaft turbin dan generator dari kemungkinan pergeseran.
4. Periksa baut-baut dari kemungkinan longgar.
5. Periksa peralatan listrik dari kemungkinan kerusakan.
6. Periksa tiang listrik dan kabel dari kemungkinan roboh atau miring.
7. Lakukan perbaikan dan penanggulangan jika dianggap perlu dan dapat mengganggu
operasional pembangkit.

C. Kekeringan
Turbin air dirancang untuk dapat beroperasi pada daerah range debit tertentu. Debit
minimum yang dijinkan untuk operasional turbin telah ditentukan sehingga turbin masih
dapat beroperasi dengan baik. Pada tahap perencanaan seharusnya telah ditetapkan debit
minimum air yang tersedia sepanjang tahun (musim kemarau), dimana dijadikan sebagai
acuan dalam perencanaan dan pemilihan turbin dan komponen lainnya. Bagaimanapun jika
pada keadaan dimana air yang tersedia sangat kurang dan melebihi batas minimum yang
diijinkan, sebaiknya operator menghentikan operasi pembangkit. Karena operasional terus
menerus pada kondisi tersebut efisiensi turbin akan jatuh dan bahkan dapat merusak
turbin.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VIII - 4

O &M

D. Kecelakaan
Jika terjadi kecelakaan selama operasional pembangkit, misalnya ada bagian yang lepas
atau konsleting listrik dll. Operator sebaiknya segera menghentikan pembangkit. Langkahlangkah yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
1. Hentikan pembangkit dengan segera.
2. Berikan bantuan atau pertolongan jika kecelakaan menimpa orang.
3. Laporkan kejadian kepada orang yang bersangkutan (ketua, lurah,dll).
4. Selidiki penyebab kecelakaan dengan teliti.
5. Kembali operasikan pembangkit jika operator dapat
penyebab kecelakaan dan kerusakan.

menangani dan memperbaiki

6. Hubungi pembuat peralatan jika operator tidak dapat menemukan dan memperbaiki
kerusakan, minta petunjuk dan jika tidak yakin minta mereka untuk memperbaikinya

8.3. PERAWATAN
Dalam operasional sebuah PLTMH sangat perlu untuk diketahui mengenai hal-hal
dasar yang terkait dengan tata cara pengoperasian, perawatan dan perbaikan sistem secara
menyeluruh. Hal ini diperlukan untuk dapat mengatasi masalah yang mungkin timbul serta
perawatan sistem PLTMH secara mandiri oleh operator yang ditugaskan maupun
masyarakat secara umum sebagai pengguna. Adapun hal-hal pokok yang perlu diperhatikan
dalam opersional dan perawatan sebuah PLTMH adalah sebagai berikut :

A. Bangunan Sipil
Bangunan sipil mempunyai beberapa bagian
penting yang perlu diperhatikan
pemeliharaannya untuk memastikan lancarnya operasional dan kesinambungan suplai air ke
pembangkit. Adapun bagian-bagian penting yang perlu diperhatikan adalah :

Bendungan dan Intake

Periksa sisi bendungan dan intake dari gerusan air, terutama pada musim hujan untuk
menghindari kebocoran dan retaknya bendungan.

Pastikan level permukaan air dalam kondisi yang aman (tidak berlebihan ataupun
kurang terisi).

Tambahkan pelumas pada roda gigi dan ulir pintu air sebulan sekali.

Gunakan kunci pengaman pada pemutar pintu air jika sedang tidak digunakan untuk
mencegah orang yang iseng.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VIII - 5

O &M

Kuras bendungan 1-2 bulan sekali untuk menghindari penumpukan sedimen


dan kotoran.

Bersihkan sampah dan kotoran yang menyumbat saringan untuk memperlancar jalan
masuk air secara rutin (minimal 1 hari sekali).

Lakukan pengurasan intake untuk menghindari


dan penyumbatan

terjadinya penumpukan sedimen

Bak Pengendap Pasir


Dalam bak pengendap terjadi perlambatan laju air sehingga par tikel-par tikel dengan
ukuran kecil akan mengalami pengendapan didasar kolam sehingga sangat penting untuk
melakukan pengurasan secara teratur, untuk menghindari pendangkalan dan penumpukan
sedimen yang nantinya dapat menghambat aliran air dan merusak turbin jika sampai masuk
pipa pesat.

Saluran Pembawa

Pemeriksaan akan terjadinya kebocoran sepanjang saluran pembawa.

Periksa kondisi tanah disekitar saluran pembawa dari kemungkinan longsor terutama pada
musim hujan.

Pembersihan saluran dari rumput


sepanjang saluran.

Lakukan penyemenan ulang jika ditemukan kebocoran dan keretakan pada badan
saluran.

dan

tumbuhan yang menghalangi laju aliran air

Bak Penenang

Periksa level permukaan air dalam kondisi yang aman (tidak melebihi batas minimum
dan maksimum yang diperbolehkan).

Pastikan tidak ada sampah dan kotoran dalam bak penenang yang dapat terbawa masuk
kedalam pipa pesat dan turbin.

Bersihkan saringan secara rutin.

Periksa akan adanya kebocoran


lakukan perbaikan jika diperlukan!

Bersihkan bak penenang secara


penumpukan sedimen didasar kolam.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

dan

keretakan
berkala,

pada
terutama

bak penenang. Segera


untuk menghindari

Bab VIII - 6

O &M

Pipa Pesat (Penstock)

Periksa penstock akan kemungkinan terjadinya kebocoran pada sambungan maupun


maupun pada badan pipa.

Periksa baut dan sekrup pada sambungan dan dudukan penstock (anchor) untuk
menghindari kelonggaran dan pergeseran posisi.

Periksa kondisi tanah, pastikan


penstock dan dudukannya.

Lakukan pengecatan pada penstock paling lama tiga tahun untuk menghindari kerusakan
akibat perkaratan.

tidak terjadi longsor atau pergerakan disekitar

Rumah Pembangkit
Bersihkan lantai dan dinding power house dari sampah dan Bersihkan peralatan dan
perlengkapan dalam power house seperti turbin, generator dan panel. (hati-hati jangan
menyentuh bagian yang ada tegangan!!! matikan pembangkit jika perlu).

Periksa tebing sekitar dan potong rumput sekitar power house.

Periksa saluran pembuangan turbin (tailrace) bersihkan jika ada lumpur dan sampah.

Periksa atap power house dari kebocoran, terutama pada musim hujan dimana air
dapat berbahaya jika membasahi panel dan peralatan listrik lainnya.

Turbin dan Kelengkapannya


Turbin dan kelengkapannya harus dijaga dan dirawat untuk dapat menjamin
kelancaran operasional PLTMH. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah :

Periksa mur dan baut yang ada pada turbin! Pastikan dalam keadaan kencang.

Berikan pelumas grease secara teratur (2-3 minggu sekali) pada bagian-bagian yang
berputar dan ulir, terutama bearing dan guide vane dengan
spesifikasi yang
dianjurkan oleh pembuat/manufaktur Cek dan bersihkan bagian dalam turbin secara
berkala 3-6 bulan sekali. Pastikan tidak ada benda padat yang masuk ke dalam
turbin.

Bersihkan bagian luar turbin dari kotoran dan air untuk mencegah perkaratan.

Periksa kondisi bagian-bagian turbin apakah terjadi pemanasan berlebihan, posisi


yang janggal atau suara bising yang berlebihan.

Periksa baut pengunci pulley (transmisi mekanik) kencangkan jika terasa longgar, jaga
belt agar tidak terkena grease atau air.

Kontrol tingkat ketegangan belt tiga bulan sekali, kencangkan atau kembalikan
kekondisi semula jika kendor. Belt yang terlalu kendor terasa longgar, jaga belt agar
tidak terkena grease atau air.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VIII - 7

O &M

Kontrol tingkat ketegangan belt tiga bulan sekali, kencangkan atau kembalikan
kekondisi semula jika kendor. Belt yang terlalu kendor belt yang terlalu kencang akan
menyebabkan bearing generator cepat rusak

Generator
Generator merupakan alat yang merubah energi mekanik putaran dari turbin menjadi energi
listrik. Generator dapat dihubungkan langsung dengan turbin atau melalui perantara sabuk
transmisi (belt). Adapun hal- hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan generator
adalah sebagai berikut :

Periksa baut dan mur, pastikan dalam keadaan kencang.

Kontrol generator setiap hari untuk tingkat pemanasan yang berlebihan. Badan
generator boleh hangat, tetapi jika telapak tangan tidak dapat diletakan dengan
santai diatas permukaan hal itu sudah di luar kewajaran.

Periksa akan adanya kebisingan, getaran yang berlebihan dari generator dan bau
yang tidak normal

Bersihkan ventilasi dan kipas generator dari kotoran dan debu (pada saat sistem
berhenti).

Periksa tingkat ketegangan sabuk transmisi (belt), kencangkan jika terasa kendor
dengan menggeser posisi roda gila.

Generator menghasilkan tegangan dan arus listrik yang berbahaya bagi keselamatan
manusia. Jangan menyentuh atau mengubah hubungan listrik pada saat generator
bekerja.

Panel Kontrol dan Switch


Kontrol elektrik merupakan bagian yang mengontrol energi listrik dari generator dan beban
untuk memastikan bahwa listrik tersebut memenuhi standar yang diharapkan (tegangan,
frekuensi arus, dll) serta mendistribusikannya dengan aman ke konsumen melalui kabel
transmisi dan distribusi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menangani dan merawat kontrol elektrik ini adalah
sebagai berikut :

Pada saat pemeriksaan pastikan pembangkit dalam keadaan berhenti!

Periksa sambungan dan ikatan kabel, kencangkan bila longgar dan perbaiki/ganti jika
terjadi kerusakan.

Bersihkan panel dari kotoran dan debu. Pastikan tidak ada air yang dapat masuk
kedalam rangkaian panel.

Bersihkan tangki ballast, pastikan air tersedia dengan cukup.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VIII - 8

O &M

Kontrol kabel pentanahan apakah masih tersambung dengan baik pada kotak metal,
badan generator, penstok dan komponen logam lainnya.

Jaringan Transmisi dan Distribusi


Jaringan transmisi dan distribusi digunakan untuk menghantarkan energi listrik ke konsumen
yang biasanya pada tegangan rendah (220/380 V). Jaringan distribusi pada umumnya terdiri
dari empat kabel, 1 netral dan 3 line yang masing mempunyai tegangan sama (jika beban
seimbang). Hal- hal yang dapat dilakukan untuk memelihara jaringan distribusi adalah :

No

Pemeriksaan sepanjang jaringan dari gangguan yang diakibatkan


Gangguan /
Kerusakan

Penyebab

Penanggulangan

1 Suara atau
getaran
berlebihan dari
dalam turbin

Dudukan bearing
turbin longgar

Kencangkan baut pada


dudukannya

Turbin
terhambat
kotoran

Bersihkan bagian dalam turbin


dan periksa saringan pada bak
penenang

2 Putaran pulley
tidak seimbang

Baut pada
chasis/base frame
ada yang longgar

Kencangkan mur dan baut

3 Putaran turbin
dan generator
tidak stabil
(menyentak
nyentak) atau
belt berbunyi
lebih keras dari
biasanya

Baut penarik belt


longgar

Kencangkan pulley dan cek


kelurusannya dengan benang
dan kencangkan kembali baut
yang longgar

4 Temperatur
bearing melebihi
biasanya (tidak
tahan dipegang
oleh tangan)

Stempet/pelumasa
n kurang

Terjadi pergeseran
pada dudukan
turbin atau
generator
Masalah dengan
sistem kontroler

Banyak
kotoran/stempet
lama yang
menumpuk
pada bearing

5 Laher poros
Dudukan laher
generator pulley terlepas

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Konsultasikan dengan
pembuat alat kontrol
mengenai penanganan
masalah
Beri tambahan
stempet/pelumas
secukupnya
Buka rumah bearing, buang
stempet lama, bersihkan
dengan minyak tanah dan isi
dengan stempet baru
Kontrol kedudukan baut
dan kencangkan

Bab VIII - 9

O &M

terlalu panas
Suara atau
getaran dari
laher turbin

Laher sudah aus

Ganti laher

Tegangan flat belt


terlalu kencang

Kendurkan tegangan flat belt

oleh tumbuhan. Seperti pohon roboh dan ranting yang menghalangi jaringan
distribusi terutama jika menggunakan kabel telanjang.

Periksa kerusakan yang mungkin terjadi pada tiang penyangga kabel akan adanya
kemungkinan roboh, keropos dll.

Periksa kabel-kabel penghantar terhadap kemungkinan kendor atau putus. Ganti jika
dianggap perlu dengan jenis yang sama

Kontrol secara berkala sambungan keperumahan/konsumen.

Pastikan masih bagus, tidak ada pencurian daya dan instalasi ilegal.

8.4. PENGENALAN D AN PENANGGULANGAN GANGGUAN


(TROUBLESHOOTING)
A. Peralatan Mekanik
Gangguan/
Kerusakan
1 Turbin tidak
berputar atau
kecepatanny
a rendah

No

Penyebab
Kelebihan beban

Baca meter beban dan hitung


beban terpasang
kurangi pemakaian
beban
bagian yang
Periksa apakah ada penghalang
berputar tidak bebas yang membebani putaran
lepaskan/longgarkan jika ada
Tidak cukup air

2 Kecepatan turbin Beban konsumen


tinggi
terlalu kecil

Beberapa
elemen diballast
rusak

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Penanggulangan

Periksa sakuran air dan intake !


Bersihkan jika ada sampah
atau penghalang tambah
air yang masuk ke intake
Kurangi bukaan guide vane
turbin, pastikan tegangan
dipanel pada 220 volt dan
frekuensi 50 hz.
Cek dengan multimeter dan
ganti elemen atau sekering
yang rusak

Bab VIII - 10

O &M

8 Pada rumah
bearing keluar
air

Baut penjebak air


terlepas

Buka runner turbin,


kencangkan/ganti baut
yang longgar

"O" ring penjebak air Buka O ring dan ganti dengan


rusak
yang baru
9 Getaran/buny
i coupling
melebihi
biasanya

Baut coupling
lepas/longgar

Matikan pembangkit dan


kencangkan baut yang longgar

Karet fleksible
bearing rusak

Ganti dengan yang baru

B. Peralatan Elektrikal
Dalam hal ini diasumsikan bahwa pembangkit menggunakan peralatan load controller (ELC
atau IGC)
No

Gangguan/
Kerusakan

Penyebab

Penanggulangan

Saat dinyalakan
lampu fuse ada
yang menyala

Fuse gelas ada yang Segera matikan pembangkit.


putus
Ganti fuse gelas dengan yang
sesuai dan cek wiring dari
kemungkinan hubung singkat

Saat dinyalakan
tidak keluar
tegangan
V-PH tetap
pada nol
Suara
generator
terdengar
lebih keras

AVR rusak

Ganti AVR dengan tipe yang


sama

Jalur generator
ada yang konslet

Lakukan test resistansi untuk


masing-masing fasa dan fasa
netral pada jalur generator

Sikat arang
generator (brush)
habis

Periksa sikat arang dan ganti


jika habis

Saat dinyalakan
Ampere ballast
tidak mau naik
Freq.
lebih dari
52 Hz

Ballast/HRC fuse
konslet/putus

Saat dinyalakan
control tidak
berfungsi
Freq >53 Hz
V-PH > 230V

Module controller
(mainboard) rusak
atau kabel pada
mainboard
kendor

Desain PLTMH Bpiri Koragi

ELC perlu waktu


untuk start

Matikan pembangkit,
test resistansi pada HRC
fuse ganti jika rusak
Jalankan turbin lebih
cepat tegangan 220-230 V,
tahan
Matikan pembangkit.
Kencangkan baut pada
mainboard, jika kesulitan
hubungi manufaktur
pembuat

Bab VIII - 11

O &M

Saat dinyalakan
lampu PL ready
menyala, tetapi
kontaktor tidak
mau dinyalakan

Kabel PUSH
Matikan pembangkit,
BUTTON
kencangkan baut yang kendor
kendor/putu
s
Coil kontaktor putus Ukur resistansi coil, ganti coil
jika rusak

Saat dinyalakan
kontrol dan
kontaktor
normal, saat
MCB beban
dinyalakan
kontaktor selalu
lepas

Beban konsumen
terlalu banyak

Matikan pembangkit,
kurangi/tertibkan
beban dikonsumen

Daya turbin tidak


maksimal

Tambah bukaan katup turbin

Konslet di jaringan

Lakukan pengukuran
resisitansi masing2 fasa dan
fasa netral. Temukan konslet
sebelum dinyalakan kembali

Saat dinyalakan
kontrol dan
kontaktor
normal, saat
MCB beban
dinyalakan MCB
selalu jatuh
kontaktor tidak
lepas

Konslet di jaringan

Matikan pembangkit. Lakukan


pengukuran resisitansi
masing2 fasa dan fasa
netral. Temukan konslet
sebelum dinyalakan kembali

Saat pembangkit
dinyalakan,
beban
konsumen
padam

Terjadi overvoltage
MCB pada AVR
jatuh pada posisi
OFF. Turbin
runaway speed

Matikan pembangkit. Tutup


katup turbin. ON kan kembali
MCB AVR, nyalakan
pembangkit

Ballast konslet

Matikan pembangkit. Test


resistansi ballast. Catat jumlah
dan daya ballast yang konslet.
Ganti dengan ballast baru

Ventilasi terhalangi Buka dan bersihkan


Kotak panel
kontrol (IGC/ELC)
Kipas tidak berfungsi perbaiki/ganti
panas

10 Arus pada ballast SCR mati sebelah


tidak seimbang

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Periksa sambungan pada


modul control, kencangkan
konektor gate SCR

Bab VIII - 12

O &M

Komponen
pemanas pada
ballast terbakar

Ukur dengan multimeter


dan ganti

Modul kontrol rusak Hubungi pembuat


untuk diganti
Beban tidak
seimbang

Periksa ampere meter R,S,T


pada panel

8.5. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


Pembangkit listrik tenaga mikro hidro merupakan suatu system pembangkitan yang
cukup sederhana, tetapi dari mulai saluran masuk air hingga ke rumah penduduk terkandung
resiko yang dapat membahayakan keselamatan manusia maupun peralatan lainnya, untuk
itu perlu diperhatikan langkah langkah dalam menanggulangi dan mengatasi bahaya.
Berikut ini diberikan panduan hal-hal yang harus diperhatikan oleh operator maupun
masyarakat setempat untuk mencegah kecelakaan kerja

A. Struktur Sipil
1. Pastikan saluran air dan kolam penenang tidak dijadikan arena bermain anak-anak
karena sangat berbahaya jika sampai terjadi kecelakaan.
2. Pastikan pintu-pintu air dikunci untuk mencegah orang yang iseng membuka atau menutup
pintu air sehingga dapat menggangu atau membahayakan fasilitas PLTMH.

B. Rumah Pembangkit
1. Kunci rumah pembangkit dan pastikan hanya orang yang berkepentingan yang
memasuki rumah pembangkit,
jangan sampai ada anak-anak yang masuk tanpa
diketahui.
2. Pastikan semua bagian yang berputar seperti pulley, shaft turbine dan generator dilindungi
oleh sangkar/pagar pengaman.
3. Pastikan semua bahan bahan metal/logam seperti panel listrik, turbin, generator telah
di tanahkan (di grounding) untuk mencegah sengatan listrik (ke setrum) jika terjadi
kebocoran arus listrik.
4. Rumah pembangkit harus dilengkapi dengan peralatan kebersihan dan pastikan rumah
pembangkit selalu dalam keadaan bersih.
5. Simpanlah sampah atau sisa-sisa oli, stempet/gemuk, plastik dan lain lain pada tempat
yang telah disediakan dan buang ditempat pembuangan yang aman. Jangan dibuang

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VIII - 13

O &M

sembarangan ke sungai atau tanah!. Hal ini akan mencemari lingkungan dan kesehatan
manusia.
6. Pasang tanda-tanda atau peringatan keselamatan pada tempat- tempat atau komponen
yang dianggap berbahaya.

C. Instalasi Rumah
1. Pastikan bahwa hanya kabel yang standar yang digunakan untuk instalasi di rumah,
jangan biarkan kabel sembarangan yang digunakan oleh konsumen.
2. Pastikan konsumen tidak mengganti MCB tanpa diketahui pengelola/operator,
dan hanya MCB dengan kapasitas dan merk standar bersertifikat yang boleh digunakan.
3. Periksa instalasi rumah rumah setiap bulannya untuk memastikan tidak ada instalasi
illegal dan perubahan dari instalasi standar.

Desain PLTMH Bpiri Koragi

Bab VIII - 14