PWS   

PASAR MODAL INDONESIA: Potensi, Risiko dan Prospek 2010
Perdana Wahyu Santosa1

Peran pasar modal dalam globalisasi ekonomi semakin penting terutama terkait dengan arus permodalan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia memerlukan pendanaan dan investasi yang cukup besar, terlebih harus mampu bersaing di ekonomi regional dan global. Fungsi utama pasar modal adalah menampung dana investasi para investor baik lokal maupun asing dan kemudian menyalurkan dana yang dibutuhkan para emiten untuk pengembangan dan ekspansi bisnisnya di sektor riil. Dana investasi dijaring melalui aktivitas perdagangan efek sebagai instrumen investasi seperti saham (stocks), obligasi (bonds), derivatif (right issue, warrant, option dll). Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat memperoleh dana investasi jangka panjang untuk pengembangan bisnis yang ada sekaligus ekspansi vertikal atau horizontal. Pasar modal berfungsi sebagai “mediator” antara pihak yang mempunyai kelebihan dana (investor) dengan pihak yang membutuhkan dana investasi (perusahaan) dari sektor riil. Hal ini membuka peluang besar bagi perusahaan untuk mendapatkan dana murah untuk jangka panjang melalui skema modern atau syariah selain dana pinjaman (debt) dari perbankan konvensional. Investor berpeluang untuk berinvestasi pada perusahaan atau sektor bisnis yang dinilai memiliki fundamental keuangan yang baik dan konsisten serta memiliki prospek yang cerah di kemudian hari. Sedangkan perusahaan mempunyai kesempatan mengembangkan dan mengekspansi bisnisnya serta menangkap setiap peluang bisnis yang ada. Analisis penilaian akan membentuk persepsi pasar yang menggabungkan current performance dan future growth opprortunity. Dengan demikian, peran pasar modal merupakan salah satu pilar kekuatan dan indikator ekonomi Indonesia saat ini dan masa depan yang harus terus dikembangkan sebagai sebuah sistem arsitektur ekonomi yang strategis dan efisien. Perkembangan BEI sejauh ini sudah sangat baik, bahkan tergolong excellent. Di kalangan G-20, di luar China dan India, perekonomian Indonesia diprakirakan mampu tumbuh 5-6% pada 2010. Indikator tersebut akan terus memancing dana investasi asing yang besar untuk masuk ke BEI. Dalam nominasi USD sepanjang 2009, BEI menguat luar biasa sebesar 123,4% atau 83,4% dalam IDR hingga level 2.614. Kinerja tersebut membuat pasar modal Indonesia dinobatkan menjadi pasar modal terbaik di Asia 2009.
                                                            
 Penulis adalah Wakil Dekan  Fakultas Ekonomi Universitas YARSI, Dosen School of Business and Management  ITB dan PPM School of Management serta Penulis puluhan artikel Pasar Modal, Pengasuh Talk Show Capital  Market  Review  dan  Chief  Knowledge  Officer  CAPITAL  PRICE  (Research  Center  for  Capital  Market,  Portfolio  Investment, Corporate Finance and Economics)   
1

1   

PWS   

JCI/IHSG performance

Indikator perekonomian yang dinilai stabil dari terjangan krisis ekonomi global dan kinerja IHSG tersebut membuat persepsi risiko investasi di Indonesia terus membaik di mata investor asing. Tahun 2010 diawali dengan optimisme tinggi karena rupiah terus menguat 16,1% terhadap USD pada 2009. Prestasi ini juga membuat IDR menjadi mata uang yang menguat tercepat di Asia. Bahkan pada sepanjang Januari 2010, IDR telah mencetak penguatan sebesar 1,9% ke 9,215 per USD dan menduduki penguatan terbaik di Asia setelah Won Korea. Sedangkan untuk premi risiko terkait credit default swap (CDS) yang menjamin SUN Indonesia juga telah turun signifikan dari 12,5% (november 2009) menjadi hanya 1,9% pada penutupan 2009.

Kinerja IHSG pada Januari 2010 menujukkan hasil yang sangat luar biasa yang mana dapat mencetak imbal hasil positif 3,0% pada saat hampir seluruh indeks bursa Asia mencatatkan imbal hasil negatif. Bahkan Cina mencatatkan return -8,8%.
2   

PWS   

Namun kita harus tetap waspada karena penguatan luar biasa ini lebih didorong oleh mengalirnya dana panas (hot money) ke pasar finansial Indonesia. Pemerintah harus memiliki program strategis untuk memanfaatkan dana investasi di pasar finansial tersebut agar lebih berdaya guna bagi sektor riil sehingga manfaatnya lebih terasa bagi perekonomian rakyat. Maka keterkaiatan pasar modal dengan sektor riil (coupling) harus diperkuat lagi di masa mendatang. Untuk itu, masalah infrastruktur, perijinan, perburuhan, dan stabilitas sosialpolitik serta diseminasi informasi yang wajar dan proporsional untuk investor asing harus terus ditingkatkan agar aliran dana investor dapat menggerakkan sektor riil untu kesejahteraan rakyat. Bobot Sektoral dan Kapitalisasi Pasar Bobot investasi per sektor di BEI didominasi oleh sektor finance (26%), Infrastruktur (18%), Pertambangan (14%), dan sektor-sektor lainnya seperti terlihat pada ilustrasi di bawah ini:

3   

PWS   

Untuk kapitalisasi pasar (market capitalization) persektor di BEI didominasi oleh sektor Bank (39%), Mining (25,6), Telecommunication (23,5%), Consumer-cyclical (21,3%), Consumer-non cyclical (20,0%), Gas Utilities (9,7%), Plantation (5,5%), Infrastruktur (2,1), Property (1,6%) dan Oil & Gas (1,1%). Secara umum sektor finance yang dikendalikan oleh perbankan nasional mendominasi kapitalisasi pasar. Hal ini mengindikasikan bahwa aliran modal (capital flow) ke sektor perbankan sangat deras dan besar sehingga permodalan perbankan nasional menjadi lebih kuat. Hal ini penting, karena perbankan nasional merupakan agen pertumbuhan ekonomi yang diandalkan pemerintah untuk masa depan.

Good Corporate Governance Faktor lain yang tak kalah penting adalah masalah keterbukaan dan transparansi perusahaan go public sebagai penglola dana investasi. Perusahaan (emiten) diwajibkan melakukan good corporate governance (GCG) sesuai standar manajemen dan akuntansi international. Maka pasar modal dinilai sebagai salah agen ekonomi penting dalam sosialisasi GCG untuk sektor riil untuk lebih produktif dan efisien dalam menglola dana investasinya secara transparan. Manajemen dituntut terbuka karena perusahaan selain diawasi perbankan sebagai kreditur, juga akan dimonitor oleh publik sekaligus pemerintah. Dengan demikian pencapaian GCG perusahaan terbuka akan lebih cepat dan profesional dibanding perusahaan tertutup. Pengawasan operasional perusahaan secara periodik dapat diawasi oleh otoritas bursa, dalam hal ini Bursa Efek Indonesia secara wajar dan bertanggung jawab. Pengawasan yang lebih strategis dilakukan oleh Bapepam-LK melalui berbagai peraturan yang diberlakukan bagi para pelaku pasar modal. Dewasa ini, fungsi pengawasan Bapepam-LK dapat ditingkatkan untuk lebih proaktif guna mencegah tindakan kriminal “pemilik” (frauding) perusahaan sekuritas terhadap dana dan aset para nasabahnya sendiri. Program ini diyakini akan meningkatkan kepercayaan investor kepada pasar modal Indonesia sehingga menciptakan rasa aman yang lebih tinggi. Peranan Hukum di Pasar Modal Peranan hukum di pasar modal dinilai penting untuk dikembangkan lebih lanjut karena dapat dijadikan tolok ukur pranata investasi yang kuat dan terarah terutama terkait dengan kapastian hukum para investor. Perangkat hukum di pasar modal harus ditinjau dari kelompok hukum ekonomi yang berkarakter universal. Di samping itu, kerangka hukum (legal framework) pasar modal harus dinamis sesuai dengan dinamika perekembangan yang cepat. Sedangkan pentingnya sifat universal disebabkan pasar modal merupakan bagian dari
4   

PWS   

sistem arsitektur keuangan global dan kesamaan sistem perdagangan pasar modal di seluruh dunia. Di samping itu, BEI menjadi bagian portofolio investasi global. Sumber hukum pasar modal Indonesia dilandasi oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal, Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal dan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Pasar Modal. Selain itu terdapat perangkat hukum teknis lainnya yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan Self Regulatory Organization (SRO) seperti Bursa Efek dan lembaga lainnya. Untuk dapat mengikuti dinamika pasar modal global, Bapepam dituntut terus mengeluarkan berbagai aturan baru terkait aspek monitoring dan pengendalian operasional sekuritas baik sebagai broker maupun manajer investasi. Manajemen Risiko Investasi Berinvestasi di pasar finansial terutama pasar modal Indonesia termasuk investasi berisiko tinggi namun di sisi lain menawarkan imbal hasil (return) yang sangat besar. Penguatan IHSG dan IDR, di samping memberikan keuntungan yang besar juga setara dengan risikonya. Sumber risiko investasi dapat muncul dari berbagai faktor, seperti nilai tukar IDR-USD, inflasi, kebijakan pemerintah, siklus bisnis, inovasi teknologi, pertumbuhan ekonomi, frauding serta krisis geopilitik. Salah satunya adalah risiko terbesar saat ini adalah pemulihan ekonomi global, terutama ekonomi AS. Data historis menyatakan bahwa ekonomi AS mampu menggerakkan sekitar 20-22% ekonomi global. Apabila ekonomi AS tidak mampu pulih sesuai ekpektasi investor maka tingkat risiko investasi di pasar finansial Indonesia akan terpengaruh signifikan. Kami mengestimasi ekonomi global mampu tumbuh sekitar 2,6-2,9% pada tahun 2010 ini dengan syarat perekonomian AS yang terkontraksi 2,4% pada 2009 mampu pulih sekitar 2,1-2,5% pada 2010. Untuk dapat memanajemeni risiko investasi tersebut maka hendaknya pemerintah membuat suatu program manajemen risiko investasi yang dapat memandu para investor secara wajar dan terkendali. Hal ini penting untuk meredam volatilitas dari unexpected outcome yang muncul dari kegagalan pemulihan ekonomi dunia. Sebagai catatan, ekonomi AS terpuruk sangat dalam dan terbelit masalah yang kompleks. Situasi tersebut menciptakan banyak tantangan bagi AS untuk dapat segera pulih dalam waktu singkat. Kondisi tersebut senantiasa mengancam Wall Street yang memiliki interdependensi atau interkasi yang signifikan dengan bursa global termasuk BEI. Namun secara umum risiko investasi di pasar modal masih terkendali dan relatif kecil pada 2010 ini karena adanya komitmen pemerintah dan bank sentral G-20 yang memacu kebijakan ekonomi lebih agresif. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah perjanjian AC-FTA yang berpotensi memukul sektor riil Indonesia jika tidak ada upaya peningkatan daya saing ekonomi nasional. Sedangkan risiko nasional terutama pertumbuhan ekonomi dan masalah sosial-politik relatif rendah. Indonesia sebagai negara demokratis terbesar kedua di dunia dinilai para investor cukup stabil dan terkendali terhadap risiko sosial-politik. Namun investor berharap kasus bail out Bank Century dapat segera selesai dengan sebaik-baiknya baik secara politis maupun ekonomi. Berdasarkan pengamatan, bail out Century lebih diperhatikan investor lokal dari pada asing dan mengarah pada penyelesaian politik ketimbang ekonomi-hukum.

5   

PWS   

Prospek Investasi di Pasar Modal 2010 Secara umum, prospek investasi di pasar modal BEI 2010 tergolong menjanjikan imbal hasil yang baik dengan tingkat risiko relatif terukur. Situasi dan kondisi tersebut penting dijaga oleh pemerintah melalui berbagai kebijakan di sektor moneter dan riil agar prospek investasi semakin kondusif. Prospek penguatan IHSG dan IDR terhadap USD pada 2010, disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB) diprakirakan akan terus naik menjadi 5,56,0%. Sedangkan BI rate naik menjadi sekitar 7,0-7,5% dari 6,5% dan inflasi meningkat menjadi 5,2-5,5% dari 2,8% pada 2009. Prediksi indikator ekonomi makro tersebut dinilai kondusif untuk sektor riil dan investasi di pasar modal. 2. Estimasi pendapatan dan keuntungan (earning) emiten BEI akan mengalami peningkatan sekitar 14-18% karena semakin membaiknya perekonomian nasional dan kinerja ekspor terutama komoditas perkebunan dan pertambangan. Dengan demikian earning pershare (EPS) akan semakin baik. 3. Di samping itu perekonomian Indonesia didukung tiga pilar penting yaitu a). pasar domestik yang sangat besar, b). rencana pembangunan infrastruktur dalam 5 tahun ke depan, dan c). potensi komoditas pertambangan dan perkebunan yang besar. 4. Indikator sektor riil seperti penjualam mobil, motor dan konsumsi semen terus membaik sebagai ukuran tingkat daya beli masyarakat luas. 5. Pasar modal Indonesia masih dinilai murah (undervalued) dibandingkan dengan bursa regional lainnya seperti China dan India dengan price earning ratio (PER) 21 dan 20,5. PER BEI diprakirakan berada pada tingkat 13-15x pada 2010. Nilai PER tersebut masih jauh di bawah rerata historisnya yaitu sekitar 35x. 6. Ekonomi dunia semakin kondusif karena penetapan suku bunga global yang relatif rendah sehingga tidak berpotensi membebani pelaku usaha internasional. Sebagai referensi tingkat bunga Federal Reserve Fund Target sekitar 0,25%, Euro akan stabil pada 1% dan Yen dipatok sekitar 0,1-0,2% sampai akhir 2010. Tingkat suku bunga internasional tersebut akan menekan cost of capital. 7. Meningkatnya likuiditas dana asing karena membaiknya ekonomi global yang memaksa investor mengalokasikan sebagian dana ke pasar finansial termasuk pasar modal Indonesia.Selanjutnya, akan terjadi aksi pembelian IDR dalam jumlah besar karena masuknya hot money. Fenomena ini juga dipicu oleh disparitas suku bunga USD dengan IDR sebesar 6,6-7,5%. 8. Secara umum, dipresiksi IHSG akan menembus 3.000 dan IDR menguat sekitar Rp 9.000’-/USD, bahkan berpotensi lebih kuat lagi. 9. Dana sistem perbankan nasional yang ditempatkan pada instrumen SBI juga sangat besar hingga mencapai hampir Rp. 200 triliun. Tingkat likuiditas perbankan nasional tersebut dapat dijadikan motor penggerak pendanaan sektor riil pada 2010 dengan tingkat bunga kredit 11-12%. Indonesia dapat berharap untuk terus menjadi salah satu kekuatan ekonomi regional dan global dengan syarat terus membangun daya saing dan efisiensi pasar modalnya. Penguatan sektor moneter maupun riil harus dilakukan secara berimbang melalui peta strategi investasi yang lebih komprehensif dan terarah.

6   

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful