You are on page 1of 32

Uraian Pendekatan dan Metodologi

URAIAN PENDEKATAN DAN METODOLOGI
IV.1. PEMAHAMAN ATAS JASA LAYANAN PEKERJAAN
Konsultan berpendapat bahwa secara umum, materi Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang
berfungsi sebagai pedoman bagi konsultan untuk melaksanakan seluruh proses pelaksanaan
pekerjaan ini, cukup ringkas namun jelas. Penjelasan cakupan pekerjaan dan substansi
pekerjaan cukup memadai. Spesifikasi teknis pekerjaan cukup jelas dan dapat diikuti.
Beberapa hal yang belum tercakup dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) telah dijelaskan pada
saat Rapat Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing) pada tanggal 13 April 2010 sehingga Konsultan
dapat lebih memahami permasalahan.
Kualifikasi dan bidang keahlian personil (Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung), serta jumlah
personil dan jumlah Orang-Bulan yang diperlukan semua sudah ditetapkan dalam Kerangka
Acuan Kerja, sehingga dalam hal ini Konsultan tidak perlu lagi menghitung jumlah OrangBulan/Man-Month personil.
Dengan dasar itu, Konsultan telah mencoba menjabarkan kerangka acuan kerja ini kedalam
bentuk rencana dan program kerja. Pemahaman terhadap sasaran pekerjaan telah dicoba
dituangkan dalam bentuk konsepsi pendekatan penanganan pekerjaan. Diharapkan hal-hal
tersebut akan dapat memperlancar proses pekerjaan yang akan dilaksanakan nanti.
Berdasarkan Kerangka Acuan Kerja tersebut, konsultan juga diharapkan dapat lebih mudah
memahami serta memberikan tanggapannya. baik yang terkait dengan penyusunan bab-bab
selanjutnya, maupun merupakan masukan untuk lebih mengoptimalkan penugasan konsultan
sesuai dengan yang diharapkan.
Berikut adalah beberapa tanggapan terhadap Kerangka Acuan Kerja yang akan ditindaklanjuti
pada bab/bagian lain dari proposal teknis ini serta dalam penyusunan proposal biaya, yaitu:
1. Materi Kerangka Acuan Kerja beserta lampiran-lampirannya yang diberikan
memberikan uraian yang cukup jelas dan bisa dimengerti serta diikuti.

sudah

2. Kualifikasi dan bidang keahlian personil (Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung) serta
jumlah personil dan jumlah Orang-Bulan yang ditetapkan kerangka acuan kerja sudah
memadai untuk menghasilkan keluaran pekerjaan yang matang, terencana dan efisien.
3. Di dalam Kerangka Acuan Kerja beserta Berita Acara Penjelasan/Aanwijzing, telah
dilampirkan daftar item/komponen pekerjaan lengkap dengan kuantitasnya, sehingga
memudahkan bagi konsultan dalam menyusun proposal biaya
4. Sesuai dengan poin 2 dan 3, konsultan akan menyusun penawaran biaya dengan cermat,
realistis dan dapat dipertanggung jawabkan sehingga biaya yang ditawarkan konsultan
untuk melaksanakan kegiatan ini tidak melampaui Pagu Dana.
IV.2. PENDEKATAN TEKNIS DAN METODOLOGI
IV.2.1 Umum
Secara umum yang dimaksud dengan perencanaan Jembatan meliputi kegiatan-kegiatan
antara lain : penentuan lokasi jembatan, alignment vertical dan horizontal terkait dengan

USULAN TEKNIS

IV - 1

Uraian Pendekatan dan Metodologi

trase jalan, kelas jembatan, perhitungan dimensi dan bentuk dari struktur atas dan bawah
jembatan, metode konstruksi serta perhitungan biaya. Disiplin ilmu yang terlibat antara lain
transportasi, lalu lintas, struktur jembatan, hidrologi, geoteknik, geodesi serta quantity
surveyor. Agar perencanaan menghasilkan struktur yang efisien dan ekonomis, ada beberapa
survey mendasar yang harus dilakukan, diantaranya :
1. Survey Topografi
2. Survey Hidrologi
3. Survey Penyelidikan Tanah dan Geologi
4. Survey Transportasi / Lalu Lintas
Pemilihan dan tingkat ketelitian survey yang dilakukan sangat tergantung dari kondisi lahan
serta besar kecilnya proyek.
IV.2.2 Diagram Alir
Didalam melaksanakan pekerjaan ini agar menghasilkan hasil perencanaan yang efisien,
ekonomis dan selesai tepat waktu sesuai dengan kontrak, maka kami menyusun alur
pelaksanaan pekerjaan seperti yang terlihat pada gambar di lembar berikut ini :
Kami membagi menjadi 5 (lima) tahapan kegiatan dimana hasil masing-masing tahapan akan
merupakan acuan atau titik tolak untuk tahapan berikutnya
Skema tahapan adalah sebagai berikut :

USULAN TEKNIS

IV - 2

Uraian Pendekatan dan Metodologi

TAHPENDAHULUAN

TAHAP PENGUMPULAN DATA

SPMK

- Administrasi
Proyek
- Mobilisasi
Personil
- Penyusunan
Rencana Kerja
- Persiapan
Fasilitas

Survey
Pendahuluan

Diagram IV-1
Skema Tahapan Pekerjaaan
TAHAP PRA-RANCANGAN

Rencana
Geometrik
Jembatan
Survey Lapangan
- Topografi
- Hidrologi
- Geoteknik / Geologi
- Lalu Lintas
Diskusi
dengan
BPKS dan
Instansi
terkait

Diskusi
dengan BPKS
dan Instansi
terkait

Kompilasi
dan Analisa
Data

Finalisasi
bentang
jembatan

Perencanaan dimensi
dan pembesian struktur
atas dan bawah

Diskusi
dengan
BPKS

Prakiraan
dimensi struktur
atas jembatan

Diskusi
dengan
BPKS

Rencanaan detail Metode
konstruksi

Penyusunan
laporan akhir
perencanaan

Perencanaan detail
fasilitas / bangunan
pelengkap

Perbaikan

Tidak

Tidak
Penyusunan spesifikasi
khusus

Diskusi dengan
BPKS

Perhitungan
pondasi jembatan

Penyusunan
dokumen
tender

Perbaikan
- Rincian volume
- Rincian RAB

Estimasi biaya
Review
Alternatif
Design

TAHAP AKHIR

Analisa struktur
gravitasi dan dinamis

Finalisasi
material
struktur atas

Alternatif Design
- Bentang jembatan
- Altarnatif struktur
atas
- Altarnatif struktur
bawah
-Pemilihan material
- Alternatif Metode
konstruksi

Laporan
Survey
Pendahuluan

Laporan
Hasil
Survey

TAHAP RENCANA DETAIL (DED)

Pembuatan gambar kerja
dan detail-detail khusus
Penyusunan
spesifikasi
umum

ya
ya

USULAN TEKNIS
IV - 3

Mencatat lokasi-lokasi struktur yang memerlukan penanganan lebih lanjut.Uraian Pendekatan dan Metodologi IV.  Harga satuan upah/bahan dasar dari proyek yang sedang berjalan di sekitar lokasi pekerjaan. 6. 10. Menentukan titik-titik dan memasang patok-patok yang diperlukan sebagai titik referensi pengukuran detail topografi/geometrik dan penyelidikan tanah. 8. 12.2. Melaksanakan konfirmasi dan koordinasi dengan instansi terkait di daerah sehubungan dengan akan dilaksanakan survey. Survey pendahuluan atau reconnaissance survey meliputi kegiatan pengumpulan data sekunder untuk dipergunakan dalam pelaksanaan detail survey dan pengumpulan data lainnya untuk melengkapi data survey detail dan kebutuhan disain. photo udara (jika memang diperlukan) dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan gambar yang akan direncanakan.3 Perencanaan Teknis Jembatan Pada pelaksanaan Perencanaan Teknis Jembatan pekerjaan yang dilaksanakan adalah: 1. yang meliputi :  Kondisi jalan dari kedua arah yang berlawanan. rekomendasi dan arahan-arahan untuk selanjutnya. Inventarisasi stasionstasion pengamat curah hujan pada daerah rencana jembatan melalui stasion-stasion pengamat yang telah ada ataupun pada jawatan meteorologi setempat.  Foto lokasi-lokasi tertentu yang dapat menggambarkan kondisi lokasi jembatan. 5. 3. Survey Pendahuluan meliputi kegiatan-kegiatan antara lain : 1.  Posisi utilitas yang ada maupun rencana disekitar lokasi. Membuat Foto dokumentasi lapangan. 11. 9.4 . Mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk kemungkinan diperlukan pemasangan-pemasangan gorong-gorong dan bangunan pelengkap lainnya.  Bahan-bahan konstruksi yang tersedia dan lokasi sumber material yang kemungkinan dapat dipakai untuk konstruksi. 4. 7. Mengumpulkan peta dasar berupa peta topografi skalan 1 : 250. Mengumpulkan informasi tentang :  Harga satuan upah/bahan dasar dari Dinas PU Bina Marga setempat. Mempelajari lokasi jembatan dan daerah-daerah sekitarnya serta membuat sketsa daerah rencana jembatan dan disekitarnya. Menyusun laporan survey pendahuluan yang antara lain berisikan pekerjaan tahapan.  Data / curah hujan dan peil banjir.000 s/d 1 : 25. Menentukan lokasi yang untuk keperluan test-test yang lebih detail. Pengumpulan dan Analisa Data Lapangan a. 2. USULAN TEKNIS IV . Survey pendahuluan.000 peta pemanfaatan lahan dengan skala yang ada.  Lokasi Quarry. Menganalisa secara visual keadaan tanah dasar pada lokasi jembatan.

Lingkup Pekerjaan a. sebaiknya pada daerah sekitar patok diberi tanda-tanda khusus. Untuk setiap titik poligon dan sifat datar harus digunakan patok kayu yang cukup keras. dicat warna kuning. misalnya di atas permukaan jalan beraspal atau di atas permukaan batu. bagian bawahnya diruncingkan. Dalam keadaan khusus. ditanam dengan kuat. di setiap sisi sungai/alur dan 1 (buah) disekitar sungai yang posisinya aman dari gerusan air sungai. maka titik-titik USULAN TEKNIS IV . diberi lambang Prasarana Wilayah. Patok BM dipasang/ditanam dengan kuat. ditempatkan pada tempat yang aman. Pemasangan patok-patok Patok-patok BM harus dibuat dari beton dengan ukuran 10 x 10 x 75 cm atau pipa pralon ukuran 4 inci yang di isi dengan adukan beton dan di atasnya dipasang neut dari baut. B. bagian yang tampak di atas tanah setinggi 20 cm. lurus. bagian atas diratakan diben' paku. Survey Topografi A. masing-masing 1 (satu) pasang. Tujuan Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan data koordinat dan ketinggian permukaan tanah sepanjang rencana jembatan di dalam koridor yang ditetapkan untuk penyiapan peta topografi dengan skala 1 : 1000 yang akan digunakan untuk perencanaan geometrik jalan. mudah terlihat.Menyiapkan kelengkapan administrasi untuk keperluan survey Laporan Survey Pendahuluan Diskusi dan mengumpulkan informasi dari instansi-instansi terkait Kesimpulan sebagai arahan pekerjaan selanjutnya Presentasi / Diskusi ke PPK Jasa Konsultan SatKer PKPBPBS b. panjang sekurang-kurangnya 50 cm. serta 1 : 500 untuk perencanaan jembatan dan penanggulangan longsoran.Diskusi dengan Pimpro . kemudian di photo sebagai dokumentasi yang dilengkapi dengan nilai koordinat serta elevasi. Untuk memudahkan pencarian patok. Patok BM yang sudah terpasang.Uraian Pendekatan dan Metodologi Diagram IV-2 Rencana Kerja Survey Pendahuluan Meninjau Rencana Lokasi Jembatan . bagian yang masih nampak diberi nomor dan dicat wama kuning. dengan diameter sekitar 5 cm. Patok BM dipasang setiap 1 (satu) km dan pada setiap lokasi rencana jembatan dipasang minimal 3.5 . notasi dan nomor BM dengan warna hitam. perlu ditambalikan patok bantu. Pada lokasi-lokasi khusus dimana tidak mungkin dipasang patok.

gedung dan sebagainya. Pada setiap pembacaan harus dipenuhi : 2 BT = BA + BB.  Dalam satu seksi (satu hari pengukuran) harus dalam jumlah slag (pengamatan) yang. persimpangan dengan jalan yang sudah ada) pengukuran harus dilakukan dengan tingkat kerapatan yang lebih tinggi.  Pengamatan matahari dilakukan pada titik awal dan titik akhlr pengukuran dan untuk setiap interval  5 km di sepanjang trase yang diukur.Datar.6 . dan Benang Bawah (BB).Uraian Pendekatan dan Metodologi poligon dan sifat datar ditandai dengan paku seng dilingkari cat kuning dan diberi nomor.  Pengukuran sifat datar harus mencakup semua titik pengukuran (poligon. diukur dengan meteran atau dengan alat ukur secara optis ataupun elektronis. yang mencakup semua obyek yang dibentuk oleh alam maupun manusia yang ada disepanjang jalur pengukuran. Pengukuran titik kontrol vertikal (apabila menggunakan alat konvensional)  Pengukuran ketinggian dilakukan dengan cara 2 kali berdiri/pembacaan pergi-pulang. Apabila pengamatan matahari tidak bisa dilakukan. dalam satuan milimeter. b. bukit. disarankan menggunakan alat GPS Portable (Global Positioning System). seperti alur. sifat datar.  Sisi poligon atau jarak antar titik poligon maksimum 100 meter.  Untuk pengukuran situasi harus digunakan alat theodolit. Disarankan untuk menggunakan theodolit jenis T2 atau yang setingkat. Setiap pengamatan matahari harus dilakukan dalam 2 seri (4 biasa dan 4 luar biasa) c.  Dalam pengambilan data agar diperhatikan keseragaman penyebaran dan kerapatan titik yang cukup sehingga dihasilkan gambar situasi yang benar. Pengukuran Penampang Melintang Pengukuran penampang melintang harus dilakukan dengan persyaratan sebagai berikut : Kondisi .  Rambu-rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik.  Pada setiap pengukuran sifat datar harus dilakukan pembacaan ketiga benangnya. Benang Tengah (BT). rumah. dan potongan melintang) dan titik BM.  Sudut-sudut poligon diukur dengan alat ukur theodolit dengan ketelitian baca dalam detik. jelas dan sama.  Pengukuran titik kontrol horizontal dilakukan dengan sistem poligon. yaitu Benang Atas (BA).Tikungan USULAN TEKNIS Lebar Koridor (m) Interval (m) Jalan baru 75 + 75 75 + 75 50 25 Interval (m) Jembatan / Longsoran 25 25 50 (luar) + 100 (dalam) 25 25 IV . genap d. dan lurus . berskala benar. landai. Pengukuran situasi (apabila menggunakan alat konvensional)  Pengukuran situasi dilakukan dengan sistem tachimetri. dari semua titik ikat (BM) harus dijadikan sebagai titik poligon.Pegunungan . Pengukuran titik kontrol horizontal (apabila menggunakan alat konvensional). sungai. e. Pada lokasi-lokasi khusus (misalnya : sungai. jenbatan.

Pemeriksaaan theodolit  Sumbu I vertikal. Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih dan' 5". b. dengan koreksi nivo kotak dan nivo tabung. Perhitungan (apabila menggunakan alat konvensional)  Pengamatan Matahari Dasar perhitungan pengamatan matahari harus mengacu pada tabel almanak matahari yang diterbitkan oleh Direktorat Topografi TNT-AD untuk tahun yang sedang berjalan dan harus dilakukan di lokasi pekerjaan  Pengamatan Koordinat 1.  Sumbu 11 tegak lurus sumbu 1. Persyaratan Pemeriksaan dan koreksi alat ukur (apabila menggunakan alat Konvensional) Sebelum melakukan pengukaran. 15 m.  Garis bidik harus sejajar dengan garis arah nivo. Hasil pemeriksaan dan koreksi alat ukur harus dicatat dan dilampirkan dalam laporan.Uraian Pendekatan dan Metodologi Untuk pengukuran penampang melintang harus digunakan alat theodolit (apabila menggunakan alat konvensional). USULAN TEKNIS IV . f. 2. C. Ketelitian dalam Pengukuran (apabila menggunakan alat konvensional) Ketelitian untuk pengukuran poligon adalah sebagai berikut : a.7 . (n adalah jumlah titik poligon dari pengamatan matahari pertama ke pengamatan matahari selanjutnya atau dari pengukuran GPS pertama ke pengukuran GPS berikutnya). setiap alat ukur yang akan digunakan harus diperiksa dan dikoreksi sebagai berikut : a. b. Pengukuran situasi lengkap menampilkan segala obyek yang dibentuk alam maupun manusia disekitar persilangan tersebut. Pengukuran pada perpotongan rencana trase jembatan dengan sungai atau jalan :  Koridor pengukuran ke arah hulu dan hilir masing-masing minimum 200 m dari perkiraan garis perpotongan atau daerah sekitar sungai (hulu/hilir) yang masih berpengaruh terhadap keamanan jembatan dengan interval pengukuran penampang melintang sungai sebesar 25 meter.  Kesalalian indeks vertikal = 0. 3.  Pada posisi lokasi jembatan interval pengukuran penampang melintang dan memanjang baik terhadap sungai mauqun jalan sebesar 10 m.  Koridor pengukuran searah rencana trase jembatan masing-masing minimum 100 in dari garis tepi sungai/jalan atau sampai pada garis pertemuan antara oprit jembatan dengan jalan dengan interval pengukuran penampang melintang rencana trase jalan sebesar 25 meter. dan 25 m. Kesalahan sudut yang diperbolehkan adalah 10 n . Pemeriksaan alat sifat datar :  Sumbu I vertikal.  Garis bidik tegak lurus sumbu II  Kesalahan kolimasi horizontal = 0. dengan koreksi nivo kotak dan nivo tabung.

8 .  Seluruh perhitungan sebaiknya menggunakan sistem komputerisasi Penggambaran  Penggambaran poligon harus dibuat dengan skala I : 1. dan harus dilakukan di lokasi pekejaan.Uraian Pendekatan dan Metodologi 4. Semua gambar topographi harus disajikan dengan menggunakan software komputer. c.  Pada setiap lembar gambar dari/atau setiap 1 meter panjang gambar harus dicantumkan petunjuk arah Utara. Tujuan Tujuan penyelidikan geologi dan geoteknik dalam pekerjaan ini adalah untuk melakukan pemetaan penyebaran tanah/batuan dasar termasuk kisaran tebal tanah pelapukan.  Garis-garis grid dibuat setiap 10 cm. Koreksi sudut tidak boleh diberikan atas dasar nilai rata-rata. dan harus dilakukan kontrol perhitungan pada setiap lembar perhitungan dengan menjumlahkan beda tingginya.Z-nya dan diberi tanda khusus.Y. tapi harus diberikan berdasarkan panjang kaki sudut (kaki sudut yang lebih pendek mendapatkan koreksi yang lebih besar).000 untuk jalan dan 1:500 untuk jembatan.000 s/d skala 1:100.  Penggambaran titik poligon harus berdasarkan hasil perhitungan dan tidak boleh dilakukan secara grafis.000. Sangat disarankan untuk menggunakan Geoguide bilamana terdapat suatu kondisi tanah dasar yang lunak (Soft Soil) B.  Koordinat grid terluar (dari gambar) harus dicantumkan harga absis (x) dan ordinat (y)-nya. Perhitungan koordinat poligon dibuat setiap seksi. Survey Geologi dan Geoteknik A.  Perhitungan Ketinggian Detail Ketinggian detail dihitung berdasarkan ketinggian patok ukur yang dipakai sebagai titik pengukuran detail dan dihitung secara tachimetris.25 meter. Lingkup Pekerjaan 1. Semua hasil perhitungan titik pengukuran detail.  Setiap titik ikat (BM) agar dicantumkan nilai X. menentukan jenis dan karakteristik tanah untuk keperluan bahan jalan dan struktur. antara pengamatan matahari yang satu dengan pengamatan berikutnya.  Perhitungan Sifat Datar Perhitungan sifat datar harus dilakukan hingga 4 desimal (ketelitian 0. serta mengidentifikasi lokasi sumber bahan termasuk perkiraan kuantitasnya. Pencatatan kondisi geoteknik USULAN TEKNIS IV . sehingga membentuk gambar situasi dengan interval garis ketinggian (contour) untuk yang tebing aman sedangkan untuk daerah datar 0. situasi.5 mm). Penyelidikan Geologi Penyelidikan meliputi pemetaan geologi permukaan detail dengan peta dasar topografi skala 1:250. memberikan informasi mengenai stabilitas tanah. dan penampang melintang harus digambarkan pada gambar polygon.

Setiap pemboran tangan dan contoh tanah yang diambil harus difoto. Pada dasarnya mengacu pada ASTM D 2113-94 USULAN TEKNIS IV . Setiap contoh tanah harus diberi identitas yang jelas (nomor bor tangan. kedalaman). dengan diskripsi yang lengkap dan 1 kolom untuk unit satuan batuan. warna. Semua contoh tanah harus diamankan baik selama penyimpanan di lapangan maupun dalam pengangkutan ke laboratorium.Uraian Pendekatan dan Metodologi disepanjang rencana trase jalan untuk setiap jarak 500 . kekar. Dalam foto harus terlihat jelas identitas nomor bor tangan. b. pola aliran air permukaan dan tinggi muka air tanah. b. Pemboran Mesin (dilakukan untuk perencanaan pondasi jembatan). dan lokasi. Jenis tanah. lokasi. perlapisan batuan.40 kg untuk setiap contoh tanah.9 . Pemetaan Jenis batuan yang ada disepanjang trase jalan dipetakan. Penyelidikan lapangan Meliputi pemeriksaan sifat tanah (konsistensi. Pemboran mesin dilaksanakan dengan ketentuan-ketentuan berikut 1. c.5 m (Utara-Selatan) lebar 1. 2. Dalam foto harus terlihat jelas identitas nomor sumur uji. dan perlipatan. Ukuran test pit panjang 1. kemudian hasilnya diplot di atas peta geologi teknik termasuk didalamnya pengamatan tentang : gerakan tanah.kurangnya 100 meter dan/atau setiap perubahan jenis tanah dengan kedalaman sekurang-kurangnya 4 meter. Log sumuran uji digambarkan dalam 4 bidang. tebal pelapukan tanan dasar. dengan kedalaman 1-2 m. Penggalian sumuran uji dilakukan pada setiap jenis satuan tanah yang berbeda atau maksimum 5 km bila jenis tanah sama. kondisi drainase alami. lokasi. a. Lapukan batuan dianalisis berdasarkan pemeriksaan sifat fisik/kimia. perkiraan prosentase butiran kasar/halus) sesuai dengan Metoda USCS. Pemetaan mencakup jenis struktur geologi yang ada antara lain : sesar/patahan. dengan interval sekurang . dan lokasi. batas-batasnya ditetapkan dengan jelas sesuai dengan data pengukuran untuk selanjutnya diplot dalam gambar rencana dengan skala 1:2000 ukuran A3. Pengambilan contoh tanah tak terganggu Pengambilan contoh tanah tak terganggu dilakukan dengan cara bor tangan menggunakan tabung contoh tanah ("split tube" untuk tanah keras atau "piston tube" untuk tanah lunak). Pemboran tangan dilakukan pada setiap lokasi yang diperkirakan akan ditimbun (untuk perhitungan penurunan) dengan ketinggian timbunan lebih dari 4 meter dan pada setiap lokasi yang diperkirakan akan digali (untuk perhitungan stabilitas lereng) dengan kedalaman galian lebih dari 6 meter. Setiap contoh tanah harus diberi identitas yang jelas (nomor sumur uji.0 m. Pengambilan contoh tanah dari sumuran uji Pengambilan contoh tanah dari sumuran uji 25 . kedalaman). Setiap sumuran uji yang digali dan contoh tanah yang diambil harus difoto. tata guna lahan.1000 meter dan pada lokasi jembatan. kedalaman (apabila rencana trase jalan tersebut harus melewati (daerah rawa). Penyelidikan Geoteknik Kegiatan penyelidikan geoteknik meliputi : a.

4. Putaran bor untuk tanah lunak dilakukan dengan kecepatan maksimum 1 putaran per detik. Grafik yang dibuat adalah perlawanan penetrasi konus (qc) pada tiap kedalaman dan jumlah hambatan pelekat (JHP) secarakumulatif. maka alat sondir perlu diberi pemberat yang diletakkan pada baja kanal jangkar. Untuk jembatan bentang tunggal minimal setiap titik abutment sedang untuk bentang jamak minimal 2 pien satu titik bor Pemboran Tangan (perencanaan jalan baru atau pelebaran jalan  1 lajur).5 ton 2. Apabila drilling mud digunakan pelaksana harus menjamin bahwa tidak terjadi tekanan yang berlebih pada tanah 7. alat ini hanya dapat digunakan pada tanah berbutir halus. karena hasilnya akan memberikan indikasi lapisan tanah keras yang salah. untuk jalan baru atau pelebaran jalan lebih dari satu lajur maka dilakukan pengeboran setiap interval 1 Km. menentukan lapisan-lapisan tanah berdasarkan tahanan ujung konus dan daya lekat tanah setiap kedalaman yang diselidiki. Hasil yang diperoleh adalah nilai sondir (qc) atau perlawanan penetrasi konus dan jumlah hambatan pelekat (JHP). tidak boleh digunakan pada daerah aluvium yang mengandung komponen berangkal dan kerakal serta batu gamping yang berongga. apabila pembacaan manometer belum menunjukan angka yang maksimum. Kecepatan penetrasi dilakukan maksimum 30 mm per detik 5.10 . e. Posisi dasar casing minimal berjarak 50 cm dari posisi pengambilan sampel berikutnya 8. Sondir berat dengan kapasitas 10 ton Pembacaan dilakukan pada setiap penekanan pipa sedalam 20 cm. 3. f.Uraian Pendekatan dan Metodologi d. Ada dua macam alat sondir yang digunakan 1. USULAN TEKNIS 2.  Sifat kimia yang berkaitan dengan pengaruh lingkungan dan air terhadap durabilitas kinerja timbunan. Kestabilan galian atau lubang bor pada daerah deposit yang lunak dilakukan dengan menggunakan bentonite (drilling mud) atau casing dengan diameter minimum 100 mm 6. Pengujian Kompaksi Batu Gamping Suatu studi untuk menilal kelayakan batu gamping sebagai bahan timbunan dilakukan dengan memperhatikan :  Perilaku pemadatan laboratorium. Apabila casing digunakan. Sondir (Pneutrometer Static) Sondir dilakukan untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras. Pendalaman dilakukan dengan menggunakan sistem putar (rotary drilling) dengan diameter mata bor minimum 75 mm.  Persyaratan material untuk timbunan termasuk yang berkaitan dengan kekuatan dan konsistensi material. Pemboran tangan dilakukan dengan mengacu pada ASTM D 4719. Sondir ringan dengan kapasitas 2. casing dipasang setelah mencapai 2 m atau lebih. alat sondir terangkat keatas. pekerjaan sondir dihentikan apabila pembacaan pada manometer berturutturut menunjukan harga >150 kg/cm2. Untuk jembatan bentang tunggal minimal setiap titik abutment sedang untuk bentang jamak minimal 2 pien satu titik bor IV .

Berat jenis ASTM D 854 – 92 7. dilengkapi dengan foto-foto. SIFAT KUAT GESER Gunakan Wet method TANAH 9. Batas susut ASTM D 427 – 93 3.Fresh sample dengan penjenuhan ASTM D 3080 – 90 . Pengujian Acuan Keterangan SIFAT INDEKS 1. Direct Shear USULAN TEKNIS SNI–03–2813– 1992 . Batas cair SK-SNI M–07–1989–F . perkiraan kuantitas.Fresh Condition 4.  Penjelasan mengenal quarry meliputi jenis dan karakteristik bahan. Batas plastik ASTM D 4318 – 93 . Standard Test Acuan Keterangan ASTM G57 – 78 Penetration termasuk ASTM D1586 – 94 Split Pada daerah rencana jembatan. Resistivyti 2. C. AASHTO T252 – 84 Pekerjaan Laboratorium Pekerjaan Laboratorium dilaksanakan sesuai ketentuan yang tercantum pada Tabel 2 berikut : Tabel 2 Spesifikasi Pengujian Tanah di Laboratorium No. Berat isi SNI–1742–1989 8. Persyaratan a. maupun untuk bahan timbunan (borrow pit) diutamakan yang ada disekitar lokasi pekerjaan.11 .Fresh sample tanpa penjenuhan IV . Pengujian 1.Uraian Pendekatan dan Metodologi 3. Pengujian Lapangan Metoda pekerjaan lapangan lainnya harus sesuai dengan persyaratan seperti yang dijelaskan pada Tabel 1 pengujian lapangan pada berikut : No. Lokasi Quarry  Penentuan lokasi quarry baik untuk perkerasan jalan. jarak ke lokasi pekerjaan. Bila tidak dijumpai. serta kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul dalam proses penambangannya.oven dried 1000C 5. Spoon Sampling harus mencapai kedalaman lapisan keras 3. Kadar air ASTM D 2216 – 92 2. Analisa saringan SNI–03–3423– 1994 6. Stand Pipe b. maka harus menginformasikan lokasi quarry lain yang dapat dimanfaatkan. struktur jembatan.

kecepatan kendaraan rata-rata. Swelling ASTM D 4546 – 90 . Survey Lalu Lintas A. e. Tujuan Survey Perkerasan Jalan ini bertujuan untuk mengetahui data struktural perkerasan yang ada. Lingkup Pekerjaan a. daya dukung tanah dasar dan susunan/lapisan perkerasan. Vol.Fresh Condition . Data yang harus diperoleh dari pemeriksaan ini adalah: 1. B. Permeabilitas d. Inventarisasi Jalan Pemeriksaan dilakukan dengan mencatat kondisi rata-rata setiap 200 m yang tercatat selama berkendaraan.H. Untuk proyek ini survey lalu lintas hanya berdasarkan data data sekunder saja. Tujuan Survey lalu lintas bertujuan untuk mengetahui kondisi lalu lintas.12 . Gunakan metode Falling Head KEPADATAN 11.Fresh sample dioven 700C selama satu hari SIFAT PEMAMPATAN TANAH 10. interval jarak dapat diperpendek . Inventarisasi Jalan dan Jembatan A. USULAN TEKNIS IV . Tujuan Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan data secara umum mengenai kondisi perkerasan maupun kondisi jembatan yang terdapat pada ruas jalan yang ditinjau. kekasaran jalan. Lebar perkerasan yang ada dalam meter. Head. Pemadatan SIFAT KELULUSAN 12. Untuk kondisi tertentu yang memerlukan data yang lebih rapat. dengan meliputi lendutan suatu konstruksi jalan.Dioven 400C dan 700C selama satu hari K. sehingga dapat dihitung lalu lintas harian rata-rata sebagai dasar perencanaan selanjutnya. f. Survey Perkerasan Jalan A. serta menginventarisasi jumlah setiap jenis kendaraan yang melewati ruas jalan tertentu dalam satuan waktu. Pengujian Acuan Keterangan . Untuk proyek ini survey perkerasan jalan hanya berdasarkan data data sekunder saja.Uraian Pendekatan dan Metodologi No. 2. 1984 Manual of Soil Laboratory Testing.

Kendala di bawah lintasan atau sungai/laut. faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah: a. b. lebar ruang bebas dan jenis lantai. e. e. Inventarisasi Jembatan Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai existing jembatan yang terdapat pada ruas jalan yang ditinjau. HRS. bahu. Pemilihan Bentuk Struktur Jembatan a. gorong-gorong. USULAN TEKNIS IV . sebagai akibat beban struktur atas dan tekanan tanah vertikal ataupun horisontal dan harus mengikuti aturan-aturan yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS ’92. b. Kebutuhan tinggi bebas vertikal. lokasi. Kendala geoteknik. Lasbutag. Foto dokumentasi minimum 2 (dua) lembar untuk setiap jembatan yang diambil dari arah memanjang dan melintang. yang sudah merupakan kombinasi terbesar dari semua beban struktur atas. Pemeliharaan jembatan. 3. 4. 4. f. e. Perencanaan Struktur Bawah Jembatan Struktur bangunan bawah harus direncanakan secara benar terhadap aspek kekuatan dukung dan stabilitas. d. Jenis bahan perkerasan yang ada. Informasi yang harus diperoleh dari pemeriksaan ini adalah sebagai berikut 1. jarak pagar/bangunan pendukung/tebing kepinggir perkerasan. berm.Uraian Pendekatan dan Metodologi 2. Data yang diperoleh dicatat dalam satu format yang standar. gerusan. misalnya AC. b. c. Kendala alinyemen horisontal dan vertical. d. Perencanaan Geometri dan Alinyemen Jembatan a. 4. Foto ditempel pada format yang standar. Struktur bawah jembatan harus direncanakan untuk menanggung beban struktur atas melalui komponen tumpuan. f. c. b. Kesulitan perencanaan dan pelaksanaan. 2. Lokasi awal dan akhir pemeriksaan harus jelas dan sesuai dengan lokasi yang ditentukan untuk jenis pemeriksaan lainnya. tipe dan kondisi jembatan. gaya-gaya akibat aliran air. d. 3. Profil topografi. 3. Profil topografi. Dimensi jembatan yang meliputi bentang. Prediksi lalu lintas masa depan.lain. Biaya konstruksi. Kondisi daerah samping jalan serta sarana utilitas yang ada seperti saluran samping. tekanan air. 5. Kecepatan pelaksanaan. Kemungkinan dan kemudahan pelebaran jembatan pada masa akan datang. 2. Penetrasi Macadam dan lain . kondisi drainase samping. Teknolgi konstruksi (kemudahan dalam pelaksanaan). Kendala geometri. c. Kendala material dan ketersediaannya. Kebutuhan lalu lintas berdasarkan hasil survai lalu lintas.13 . beserta beban-beban yang bekerja pada struktur bawah yaitu: tekanan tanah lateral. 5. Nama. Penentuan Bentang dan Lebar Jembatan a. Faktor ekonomis. Perkiraan volume pekerjaan bila diperlukan pekerjaan perbaikan atau pemeliharaan.

Uraian Pendekatan dan Metodologi tumbukan serta beban-beban sementara lainnya yang dapat bekerja pada komponen struktur bawah. Bagian – bagian dari abutment adalah sebagai berikut : USULAN TEKNIS IV . c. Jika gerusan dapat mengakibatkan terkikisnya sebagian tanah timbunan di atas atau di samping suatu bagian struktur bawah jembatan maka pengaruh stabilitas dari massa tanah harus diperhitungkan secara teliti. Umur layan rencana struktur bawah harus direncanakan berdasarkan perilaku jangka panjang material dan kondisi lingkungan khususnya bila berada dibawah air yang diaplikasikan pada rancangan komponen struktur bawah khususnya selimut beton. d. bila ada harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur atas. Menahan gerusan (scouring) jika jembatan terletak pada sungai. Mentransfer beban dari struktur atas ke fondasi. Fungsi abutment adalah : 1. Penurunan harus diantisipasi dan dihitung dengan cara analisis yang benar berdasarkan data geoteknik yang akurat. Abutments Abutment jembatan terletak pada ujung dari jembatan. f. b. e. Deformasi yang potensial terjadi khususnya penurunan harus diperhatikan didalam perencanaan struktur bawah. 2.14 . Sebagai dinding penahan tanah. 3. dimana pengaruh dari potensial penurunan diferensial dari struktur bawah. Bangunan bawah jembatan terdiri dari :  Kepala jembatan (Abutment)  Pilar (Pier)  Fondasi 1. permeabiitas beton atau tebal elemen baja terhadap resiko korosi ataupun potensi degradasi material. Perletakan jembatan harus direncanakan berdasarkan asumsi yang diambil didalam modelisasi struktur dengan memperhatikan kekuatan dan kemampuan deformasi komponen perletakan seperti karet elastomer yang mengacu kepada SNI 03-48161998 “Spesifikasi bantalan karet untuk perletakan jembatan”. Kekuatan struktur bawah harus ditentukan berdasarkan analisis struktur dan cara perencanaan kekuatan yang ditetapkan di dalam peraturan yang berhubungan dengan material yang digunakan.

pencahayaan dan proporsional. pemilihan bentuk pier yang dilakukan ahli struktur jembatan lebih cenderung dengan pertimbangan fungsional.15 . Namun dewasa ini. Secara keseluruhan akan membentuk struktur jembatan yang indah dan selaras dengan lingkungan. misalnya arsitektur. Untuk acuan awal dimensi dari bentuk-bentuk pier dapat dilihat pada lembar berikut ini : 8-10 M 1M SLOPE 1:6 0.75 M PIER BENTUK HAMMER USULAN TEKNIS IV . estetika bentuk pier dilakukan hanya berdasarkan intuisi. warna. Pemilihan bentuk. Pier Dimasa lampau.Uraian Pendekatan dan Metodologi BACK/PARAPET WALL BEARING PAD TIMBUNAN WING WALL DINDING ABUTMENT FOOTINGS 2.75 M 0.75 M 8-10 M 1M SLOPE 1:6 0. estetika dari sebuah jembatan seharusnya melibatkan tenaga ahli yang berkompeten.

7 M 0. Pondasi jembatan pada umumnya dapat dipilih dari jenis: 1) Pondasi dangkal/pondasi telapak 2) Pondasi caisson 3) Pondasi tiang pancang (jenis end bearing atau friction) 4) Pondasi Tiang Bor 5) Pondasi jenis lain yang dianggap sesuai c.1H V Untuk 2.Uraian Pendekatan dan Metodologi H 0. b. faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah: a. sebagai akibat beban struktur atas dan beban struktur atas dan harus mengikuti aturan-aturan yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS ’92. harus dilakukan validasi terlebih dahulu dengan menggunakan contoh dari text book dan dicek secara manual untuk mendapatkan keyakinan. Pembebanan dari struktur jembatan 2. Secara umum kondisi dan kendala lapangan yang harus dipertimbangkan adalah: 1.3H 0.25  H  3 max H = 12 m V 6.7 M 0. Perencanaan Pondasi Jembatan Struktur bangunan bawah harus direncanakan secara benar terhadap aspek kekuatan dukung dan stabilitas. Penggunaan paket software komersil. Penentuan jenis dan kedalaman pondasi dilakukan berdasarkan kondisi lapisan tanah dan kebutuhan daya dukung untuk struktur bawah serta batasan penurunan pondasi.2H 0.25 V 0.15H SLOPE 1:12 Untuk ratio H  2.4H 0.4H 0.3H 0. Analisis dapat dilakukan terpisah atau terintegrasi dengan analisis struktur jembatan.1H 0.2H 0. Daya dukung dan sifat kompresibilitas tanah atau batuan USULAN TEKNIS IV .1H V Single Hammer H 0. Daya dukung pondasi yang dibutuhkan 3.16 .

Tersedianya alat berat dan material pondasi 6. Di bawah ini adalah diagram kedalaman tanah pendukung dengan jenis fondasi yang dapat dilaksanakan. Hasil dari analisis mendalam dengan pertimbangan di atas akan menghasilkan tipe fondasi yang stabil.Uraian Pendekatan dan Metodologi 4. sementara tipe fondasi sangat bervariasi terutama pada fondasi dalam. Khususnya untuk penggunaan pondasi tiang. Stabilitas tanah yang mendukung pondasi 7. USULAN TEKNIS IV . dan/atau berdasarkan riiwayat/pengalaman sebelumnya. Penurunan yang diijinkan dari struktur atas/bawah jembatan 5. tidak membahayakan bangunan sekitar dan ekonomis. Perilaku aliran air sungai serta potensi gerusan dan sedimentasi 10. Kedalaman permukaan air tanah 8. penentuan jenis dan panjang tiang harus dilakukan berdasarkan kondisi lapangan di lokasi rencana jembatan. Diagram IV-3 Tipe-tipe fondasi yang lazim dilaksanakan. Perilaku aliran air tanah 9.17 . Dewasa ini material fondasi terbatas pada beton atau baja. khususnya kondisi planimetri serta berdasarkan atas evaluasi yang cermat dari berbagai informasi karakteristik tanah yang tersedia. perhitungan kapasitas statik vertikal dan lateral. Potensi penggalian atau pengerukan di kemudian hari yang berdekatan dengan pondasi d. Fondasi Telapak Fondasi Dangkal Fondasi Lajur Tiang Pra-cetak/ Tiang Pancang Fondasi Tiang Tiang Bor Fondasi Dalam Open Caisson Fondasi Caisson Pneumatic Caisson Jenis fondasi sangat tergantung dari kedalaman layer tanah yang akan di pilih sebagai bearing layer.

18 . tetapi tidak boleh lebih dari 5 cm. Sehingga struktur fondasi harus mempunyai kekakuan dan kekuatan yang memadai. defleksi horizontal dibatasi tidak lebih dari 1. USULAN TEKNIS IV . Hal-hal yang harus di kontrol untuk berbagai fondasi adalah sebagai berikut : Daya Dukung Defleksi Item Guling Geser Horisontal Vertikal Horisontal Fondasi Dangkal      Fondasi Caisson      Fondasi Tiang      Defleksi horizontal dibatasi 1% dari lebar fondasi. Khusus untuk fondasi tiang. Pembatasan defleksi horizontal dimaksudkan agar defleksi yang terjadi pada fondasi masih berada di dalam batas elastik. sehingga stabilitas fondasi tetap terjaga.5 cm.Uraian Pendekatan dan Metodologi Kedalaman Bearing Layer (m) 10 20 30 50 40 > 60 Fondasi Dangkal Pipa baja Pondasi Tiang Profil H Baja Precast Bore Caisson Open Fondasi Pneumatic Jenis Pondasi Fungsi utama dari fondasi adalah mentransfer beban-beban dari struktur atas ke layer tanah pendukung.

Uraian Pendekatan dan Metodologi Diagram IV-4 Alir Pemilihan Jenis Fondasi Survey Detail (*) .Konisi struktur atas A Penentuan layer tanah pendukung (Bearing Layer) Jenis fondasi tidak perlu dipelajari Tidak aplicable B Aplicable Jenis fondasi yang perlu dipelajari C Aplicable D Aplicable E Aplicable F Tidak aplicable Tidak aplicable Tidak aplicable G Tidak aplicable G Aplicable Aplicable Tidak aplicable G Tidak aplicable Tidak aplicable G Aplicable Aplicable Tidak aplicable Jenis fondasi yang perlu didesain untuk bahan-bahan perbandingan Fondasi tersebut tidak perlu di desain alternatif Preliminary Desain H Altenatif tidak terbaik Altenatif terbaik Tidak dilakukan detail desain Detail Desain ) Keterangan Notasi Pada Diagram Alir Pemilihan Jenis Fondasi * : Terdiri dari survey penyelidikan tanah.19 . dan USULAN TEKNIS IV .Reaksi struktur atas . hidrologi. topografi.

Elemen ini disebut ikatan angin Prinsip-prinsip dasar untuk perencanaan struktur jembatan adalah Limit States atau Rencana Keadaan Batas. Perencanaan Struktur Atas Jembatan Perencanaan struktur atas jembatan harus direncanakan sesuai dengan aturanaturan yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS ’92 atau peraturan lain yang relevan yang disetujui oleh pemberi tugas. biasanya pada bidang sayap dari struktur utama jembatan. umumnya paralel / sejajar dengan sumbu longitudinal jembatan. Analisa data tanah Pemilihan jenis fondasi yang sesuai dengan kondisi layer tanah yang dipilih sebagai bearing layer. terhadap resiko korosi ataupun potensi degradasi meterial. Membuat matriks untuk mendapatkan alternative terbaik.F : G : H : sebagainya yang dapat mempengaruhi pemilihan fondasi.Uraian Pendekatan dan Metodologi A B : : C. dan sebagainya. lawan lendut dan lendutan dari struktur atas jembatan harus dihitung dengan cermat. akses ke site dan sebagainya. Deformability. c. dengan memperhatikan beberapa faktor berikut ini: a. Girder : balok atau box 3. Elemen-elemen bangunan atas antara lain terdiri : 1. d. Elemen ini terletak tegak lurus terhadap sumbu jembatan dan menghubungkan struktur utama jembatan dalam arah transversal. b. Elemen ini terletak pada bidang horizontal. misal : Girder. Elemen yang mentransfer tekanan / gaya dari beban lalu lintas ke elemen struktur utama jembatan. Kekuatan struktur atas jembatan harus direncanakan berdasarkan analisis struktur dan cara perhitungan gaya-gaya dalam yang ditetapkan di dalam standar/ peraturan yang disebut diatas dan khususnya berhubungan dengan material yang dipilih. Kabel. Elemen yang mentransfer beben lalu lintas ke bangunan bawah. Pembebanan pada struktur atas jembatan harus dihitung berdasarkan kombinasi dari semua jenis beban yang secara fisik akan bekerja pada komponen struktur jembatan.20 . atau tebal elemen baja.D. Kemungkinan adanya perbaikan-perbaikan dan perubahan-perubahan dan sebagainya. Bangunan atas terdiri dari :  Lantai kendaraan  Sistem yang menopang lantai tersebut. Umur layan jembatan harus direncanakan berdasakan perilaku jangka panjang material dan kondisi lingkungan di lokasi jembatan yang diaplikasikan pada rencana komponen struktur jembatan khususnya selimut beton. Analisis berbagai pertimbangan seperti : metode pelaksanaan kondisi lingkungan. Arch USULAN TEKNIS IV . baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang agar tidak melampaui nilai batas yang diijinkan oleh standar/peraturan yang digunakan. Elemen ini disebut struktur utama jembatan. Pada dasarnya jenis bangunan atas dapat diklasifikasikan menjadi jenis-jenis sebagai berikut : 1. permeabilitas beton. 7. Rangka. 2. Slab 2. Elemen yang mentransfer beban-beban horizontal akibat gaya angin dan gaya centrifugal. 3.E.

Aspek Estetika Untung rugi masing-masing tipe jembatan terkait dengan berbagai faktor diatas harus dianalisis secara teliti sehingga akan menghasilkan bangunan atas yang paling tepat untuk dilaksanakan. Karakteristik tanah / geologi 3. composit). Keperluan navigasi 5. Suspension Masing-masing jenis jembatan diatas mempunyai varian-varian tersendiri. metode erection dan lain sebagainya. Akses ke site dan ruang kerja yang tersedia untuk pelaksanaan 10. Data-data hidrologi 7. Jangka waktu pelaksanaan 13. Kemampuan sumber daya manusia 9. USULAN TEKNIS IV . Bahan konstruksi yang tersedia 8. Sketsa dan tabel yang dimaksud diatas berbagi atas baja dan beton. Type Material Range Bentang (m) Slab Beton 0 – 12 Beton 12 – 210 Baja 30 – 300 Baja 90 – 550 Beton 90 – 130 Baja 120 – 370 Baja 240 – 520 Beton 90 – 450 Baja 90 – 600 Baja 300 – 1400 Girder Truss Arch Rib Arch Truss Cable Stayed Suspension Pemilihan Jenis Bangunan Atas harus mempertimbangkan faktor-faktor: 1.21 . Kondisi iklim 6. Cable Stayed 5. Volume lalu lintas 4. Maintenance 11. sesuai dengan material (baja.Uraian Pendekatan dan Metodologi 4. beton. Bentuk serta sifat dari sungai 2. Tabel dibawah ini menunjukan range bentang dengan berbagai jenis jembatan. Aspek Finansial 12. pada lembar berikut disajikan sketsa berbagai varian dari jenis jembatan serta tabel yang menunjukan panjang bentang untuk masing-masing jenis jembatan. Secara lebih terinci.

Uraian Pendekatan dan Metodologi JENIS JEMBATAN BETON Erection Method Type of Concrete Bridge 10 20 50 Span Length ( m ) 100 Precast Beam I Beam Simple Beam T Beam Hollow Beam Continuous Beam Simple Beam Continuous Beam T Beam T Beam Composite I Beam T Beam Fixed Falsework Slab Simple Beam T Beam Box Beam Slab Continuous Beam T Beam Box Beam Movable Falsework Incremental Launching Cantilevering Slab Continuous Beam T Beam Box Beam Continuous Girder Box Beam One Hinge Rigid Frame Box Beam Continuous Girder Box Beam Arch Truss Rigid Frame Others Suspended Slab Br. Suspension Br. Cable Stayed Br. USULAN TEKNIS Slab T Beam Box Girder IV .22 150 200 300 .

23 140 150 160 170 180 190 200 250 500 1000 .Uraian Pendekatan dan Metodologi JENIS JEMBATAN BAJA Plate Girder Span Length (m) Type of Steel Bridge Simple Composite Rolled H Beam Simple Composite Plate Girder Simple Composite Box Girder 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 Continuous Non Composite Plate Girder Continuous Non Composite Box Girder Continuous Composite Plate Girder Steel Plate Deck Box Girder Simple Truss s Trus Rigid Frame Continuous (Cantilever) Truss Langer Girder Inversed Langer Girder Arch Type Lohse Girder Inversed Lohse Girder Longer Truss Trussed Langer Girder Nielsen Type Arch Cable Stayed Bridge Suspension Bdge USULAN TEKNIS IV .

Perencanaan komponen bangunan pelengkap dan pengaman dalam pekerjaan perencanaan jembatan harus mengikuti aturan-aturan yang ditentukan di dalam acuan: Undang-undang RI No. b. Cantilever and continuous. Perencanaan Bangunan Pelengkap dan Pengaman a.Uraian Pendekatan dan Metodologi 8. Perencanaan komponen pelengkap dan pengaman jembatan meliputi: Rambu dan marka pada jembatan Pagar pengaman jembatan Lampu penerangan pada jembatan Struktur pengaman pada pilar jembatan terutama untuk menghindaritumbukan langsung dengan pilar jembatan (seperti fender pengaman atau sejenisnya 10. Perencanaan Jalan Pendekat a.14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pedoman marka jalan. maka pada tabel di bawah ini dapat di lihat prakiraan dimensi untuk masing-masing jenis jembatan. 9. Apabila jalan pendekat dibuat dari tanah urugan maka harus diperhatikan potensi penurunan jangka panjang dari lapisan tanah pendukung/atau urugan tanah yang menjadi tumpuan perkerasan jalan pendekat. System Struktur Statically determined and statically in determined prestressed bridges. Perencanaan jalan pendekat jembatan termasuk komponen pelat injak harus memperhatikan kesinambungan ukuran dan ketinggian jembatan. A. Pd T-12-2004-B b. Potensi penurunan tanah harus dihitung secara cermat berdasarkan hasil penyelidikan tanah. Bridge with the traffic in the middle of arches 1 L 50 1 4 1 5 f =    L d = USULAN TEKNIS 1 8 f =    L 1 L 60 IV . erected by cantilever method Three hinged arches Prakiraan Dimensi 1 1   L 11 15   H =  1  1   L  15 20  H =  1   1   L 40 70   h =  1   1   L  12 17  H =  1   1   L  40 60  h =  1  1   L  15 20  H =  1 6 d = 6. Concrete Simple Span Reinforced Concrete Beam 2. c. Preliminary Design Sebagai acuan di dalam menghitung kebutuhan biaya konstruksi untuk alternatif jenis bangunan atas. erected by the cantilever method 4. Simple Span Prestressed Concrete Beam 3. 5. Perencanaan jalan pendekat harus mengacu kepada ketentuan yang berlaku.24 . prestressed concrete beam. 1. No.

1. System Struktur Arches with rigid tie 8. 7. 1. HASIL KERJA IV. Arch with tie beam Note : H h f d : : : : 1 L 5 1 h = L 20 f = Tinggi Tinggi pada tengah bentang Tinggi parabolic Tebal arch IV. deck at the bottom chord D.3. USULAN TEKNIS IV . 1. Composite Deck Simple beams 2. Simple span. daya tahan serta ketersediaan material di lokasi. Three and multiple spans C.25 . harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:  Perencanaan struktur jembatan harus diperhitungkan terhadap keamanan. Continuous beams two spans 3. 1. Analisis Data Perhitungan Kekuatan Struktur Jembatan Untuk perencanaan detail struktur jembatan. Combined Bridge System Beams reinforced by arches Prakiraan Dimensi 1 L 5 1 d = L 35 1 f = L 10 1 d = L 50 f = 1  1   L  15 20  h =  1   1   L  20 25  h =  1   1   L  35 50  h =  1 8 h =   1  L 12  1  1   L 10 14   h =  1 6 1 7 h =    L 1 3 1 5 f =    L 1   1   L  50 60  h =  H= 5h 2. Arch – Cantilever bridge deck type B.3. Continuous deck system 3.1. Steel Trusses Simple span deck at the top chord system 2.Uraian Pendekatan dan Metodologi No.

maka kontrak kemudian dibuat.  Kemudahan dalam operasi dan pemeliharaan. 3. karena seringkali sulit untuk mencakup semua item secara memadai pada tahap penawaran. Kontrak Harga Satuan Pemberi kerja mempersiapkan jadwal. harga satuan yang menentukan. 1. maka pekerjaan harus dilakukan atas dasar pekerjaan harian. 2. bukan jumlah dan harga akhir yang didapat dari perhitungan jumlah sebenarnya dari tiap “item” pekerjaan yang dilakukan dan ditetapkan dalam Harga Penawaran. peralatan dan kemampuan teknis kontraktor. menggunakan material bangunan setempat. Ini akan memungkinkan pemberian harga pekerjaan yang akan dilaksanakan pada tahap lain.  Konstruksi permanen dengan umur konstruksi minimal 25 tahun. Kontraktor memberikan penawaran. Perubahan-perubahan demikian diperlukan.26 . berdasarkan gambar kontrak. dalam penawarannya untuk jenis kontrak ini. Adapun kontrak yang biasanya dipakai dalam pekerjaan jembatan. harus ada catatan yang teliti mengenai semua pekerjaan alat dan bahan yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan tambahan. penggolongan jenis pekerjaan. kontraktor menawarkan satuan harga borongan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai Gambar Rencana. Penyusunan Kuantitas Dan Harga Daftar Kuantitas dan Harga dipergunakan sebagai acuan dalam tender dan nantinya setelah ditentukan pemenangnya. 2. Kontrak Borongan (LumpSum) Dengan jenis kontrak borongan. Adalah penting untuk membuat catatan menyeluruh dari semua perubahan dan pekerjaan yang mungkin menimbulkan perselisihan. Daftar Harga Satuan Daftar harga satuan meliputi :  Daftar harga satuan upah USULAN TEKNIS IV . Jika perubahan diperlukan dalam Kontrak Harga Satuan atau Kontrak Borongan dan Kontraktor serta Engineer tidak dapat menyepakati nilai perubahan sebelum pekerjaan dilaksanakan.Uraian Pendekatan dan Metodologi  Semua perhitungan struktur harus dibuat analisanya berdasarkan analisa struktur yang lazim digunakan dan untuk struktur konstruksi khusus harus dilakukan perhitungan dengan menggunakan perangkat lunak STAAD 3/ EfAB/SAP/STRUDLE. perkiraan jumlah untuk komponen pekerjaan yang berbeda.  Keamanan dalam pelaksanaan. dalam hal ini. bila diperlukan.  Efesien biaya dengan memperhitungkan sistem konstruksi yang paling mudah dalam pelaksanaan. peralatan yang dipakai dan waktu yang dipakai dalam pekerjaan serta waktu “standby (tidak dipergunakan) dan bahan yang dipergunakan. Kontrak Harga Satuan memberi kemungkinan lebih banyak untuk perubahan yang mungkin dirasa perlu pada waktu pelaksanaan. Catatan tersebut harus meliputi jumlah orang yang diperkerjakan. Dalam kontrak borongan daftar kuantitas (Bill of Quantities) dipergunakan sebagai dasar untuk menentukan nilai perubahan. atau software yang lazim dipakai. ada dua jenis.

Pipa Sandaran Jembatan2. Pemadatan Tanah Dasar Pada Galian f. Pre Cast  Pemancangan Tiang Pancang Beton 35 x 35 cm2 l. Lapis Permukaan  Lapis Penetrasi Macadam (5 cm) Untuk Pekerjaan Minor  Lapis Tipis Aspal Pasir / “Sand Sheet” n. Mobilisasi dan Demobilisasi c. Peta Lokasi b. Album Gambar Album Peta dan gambar ukuran A1 sebanyak 5 (lima) eksemplar dan Ukuran A3 sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar. Galian  Galian Struktur Kedalaman 0 s/d 2 m  Galian Struktur Kedalaman 2 s/d 4 m m. harga satuan bahan dan harga satuan alat diperoleh.Uraian Pendekatan dan Metodologi  Daftar harga satuan bahan  Daftar harga satuan alat Biaya untuk masing-masing item tergantung pada lokasi proyek.3. Patok Penuntun Tipe Beton Bertulang IV. yang berisi gambar-gambar : a. Tiang Pancang  Penyediaan Tiang Pancang Beton. Beton  Beton Struktural Kelas I K 300 – K 400  Beton Struktural Kelas K 225  Beton Struktural Kelas K 175  Beton Tak Bertulang Kelas K 125 h. Baja Tulangan i. Spesifikasi Teknis USULAN TEKNIS IV .3. maka sebagai tindak lanjut dibuatlah Analisa Harga Satuan. Analisa Harga Satuan yang dibahas meliputi : a. Pemeliharaan dan Pengaturan Lalu lintas d. Analisa Harga Satuan Setelah daftar harga satuan upah. Gambar Potongan Jembatan e. Rambu Jalan o. Gambar Denah dan Situasi Seluruh Kawasan c. Gambar Detail Potongan Jembatan IV. 4. Gambar Desain Jembatan d. Agregat  Agregat Lapis Pondasi Atas Kelas B  Agregat Lapis Pondasi Bawah Kelas B g.2.5 inci j. Urugan :  Urugan Biasa  Urugan Pilihan e. Alat b.3. Perletakan Elastomer k.27 .

4. SNI (Design Standard of Earthquake Resistance of Bridges )  Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan Jalan Raya (SK. No. Panduan Analisa Harga Satuan.3)  Pembebanan untuk Jembatan RSNI 4  Peraturan Struktur Beton untuk Jembatan. Temuan awal dan gambaran umum lokasi b. Metodologi dan pendekatan d. antara lain:  Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan. Jadwal dan matrik penugasan serta tanggung jawab tenaga ahli c. Direktorat Jenderal Bina Marga.SNI T -14-1990 -0.Uraian Pendekatan dan Metodologi Konsultan harus membuat perencanaan Detail Desain dengan berpedoman ketentuan dan peraturan Pemerintah yang berlaku dan standar yang biasa digunakan dilingkungan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS). Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metoda Analisa Komponen SNI 1732-1989-F 3. Peraturan Perencanaan Jembatan ( Bridge Design Code ) BMS ’92 b. Perencanaan struktur jembatan: a. Departemen Pekerjaan Umum IV. Ketentuan dan peraturan yang digunakan.masukan hasil diskusi dari konsep laporan akhir dan dilampirkan foto-foto lokasi per USULAN TEKNIS IV . Jumlah laporan yang diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar. Laporan pendahuluan. akan diserahkan 15 (lima belas) hari kalender setelah diterbitkan SPMK dan diterima setelah dilakukan konsultasi dan pembahasan dengan Tim Teknis. Rencana kerja dan jadwal pelaksanaan kegiatan konsultan b. Laporan-Laporan Berupa Dokumen yang dilengkapi dengan keterangan yang diperlukan.28 . rencana kerja yang akan dilaksanakan konsultan dalam menangani pekerjaan. ASNJ4 2. Garis besar laporan pendahuluan berisi: a.038/T/BM/1997 c. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota .3. Untuk perhitungan atau analisa harga satuan pekerjaan mengikuti ketentuan a. No. a. Laporan Pendahuluan Laporan pendahuluan (inception report). peraturan lain yang relevan dan disetujui oleh pemberi tugas. Manual Perencanaan Jembatan ( Bridge Design Manual ) BMS ’92 c. meliputi halhal sebagai berikut. Standar perencanaan jalan pendekat jembatan (Pd T-11-2003) b. RSNI  Perencanaan Struktur Baja untuk Jembatan. merupakan laporan hasil temuan awal. Laporan Akhir Laporan ini merupakan laporan akhir detail perencanaan DED Jembatan Kawasan Industri Balohan dengan mengakomodir semua masukan . Perencanaan jalan pendekat dan oprit harus mengacu kepada a. metodologi dan pendekatan. antara lain: 1. 028/T/Bm/1995.

INOVASI IV.Album Peta dan gambar ukuran A1 sebanyak 5 (lima) eksemplar . Buku 4 Gambar Rencana Teknis.Uraian Pendekatan dan Metodologi kegiatan. BPKS telah dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000. yang terdiri dari . Umum BPKS menurut Undang-Undang diamanatkan sebagai lembaga yang bertugas untuk melakukan pengusahaan Kawasan Sabang. Kriteria perencanaan untuk setiap itrm pekerjaan yang direncanakan a-4. Laporan ini diserahkan oleh Konsultan sebanyak 5 (lima) eksemplar. Gambaran Umum Kawasan Perencanaan a-3.1.2. 1. 1. b. Dokumen Lelang Paket Pekerjaan: b-1. Buku 3 Volume Pekerjaan b-4. Buku 1 Syarat Pelelangan b-2. Buku 2 Spesifikasi Teknis b-3. IV. Buku Utama Laporan Akhir a-1. Dokumen pengesahan UKL/PL Laporan ini berisikan hasil kajian dan diskusi dengan pihak terkait mengenai upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) . USULAN TEKNIS IV .Ukuran A3 sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar. Laporan ini secara garis besar meliputi: a. misi. yang berisi gambargambar c.29 . d.3. Masing masing jenis laporan dibuat rangkap 10 (sepuluh) dan diserahkan 55 (lima puluh lima) hari kalender setelah diterbitkan SPMK. Dokumen hasil kajian kelayakan studi berdasarkan program perencanaan (seperti : Master Plan Kawasan Sabang. Untuk mendukung salah satu sektor prioritas tersebut di atas maka dibutuhkan prasarana transportasi darat yang memegang peranan sangat penting dalam sektor perhubungan terutama untuk kesinambungan distribusi barang dan jasa. Sejalan dengan upaya pemenuhan kebutuhan prasarana transportasi ini akan dilaksanakan pembangunan jembatan yang nantinya diharapkan dapat memperlancar arus transportasi darat pada ruas lingkar di kawasan industri Balohan.upaya pemantauan lingkungan hidup(UPL) sebanyak 2 (dua) eksemplar. Dokumen ini disahkan oleh BAPPEDALDA Sabang. sebagai konsekuensinya. RTRW Kota Sabang) dan berdasarkan kajian teknis. maka Pemerintah bersama Pemerintah Aceh telah mengamanatkan agar Kawasan Sabang dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional dengan penekanan bagi pembangunan pelabuhan utama (hub-port) yang fungsinya sebagai pelabuhan impor ekspor (internasional) dan juga sebagai pelabuhan alih kapal (transhipment) nasional. Kompilasi Data a-2. Berdasarkan visi.5. Analisa Perhitungan untuk setiap item pekerjaan yang direncanakan.4. strategi dan tahapan pengembangannya telah ditetapkan 4 sektor prioritas (pengusahaan) dan 2 sektor andalan (pendukung pengusahan) bagi pengembangan dan pembangunan Kawasan Sabang.

Tidak layak pakai b. Keadaan purna-elastis atau purna-tekuk dimana satu bagian jembatan atau lebih mencapai kondisi runtuh. Kekhawatiran umum terhadap keamanan c. Pengurangan umur pelayanan c. Ruang Bebas Vertikal Paling sedikit 1. b. Letak diusahakan sedapat mungkin sejajar dengan aliran arus banjir e.5. Persyaratan Pilar dan Kepala Jembatan a. Kekuatan unsur struktural dan stabilitas keseluruhan b.2. Tinggi muka air banjir sesuai dengan debit banjir rencana b. Jembatan khusus 100 tahun d. Strategi IV. Keadaan Batas Layan Keadaan Batas Daya Layan akan tercapai jika reaksi jembatan sampai pada suatu nilai. Keadaaan Batas Ultimit Adalah aksi yang diberikan pada jembatan yang menyebab-kan sebuah jembatan menjadi tidak aman.2. Prinsip-Prinsip Umum Prinsip-prinsip umum perencanaan dasar yang biasa digunakan dalam penyusunan Jembatan Kawasan Industri. Memperkecil rintangan bagi pelayaran d.30 . Kelayanan struktural c. Persyaratan Tahan Gempa Pertimbangan yang harus diperhatikan dalam perencanaan tahan gempa : a. Gangguan terhadap jalannya air terbatas/seminimal mungkin b. Perkiraan Banjir Rencana a. Untuk perhitungan arus balik. Jembatan sementara 20 tahun b.1. kecuali: a. sehingga: a. Pokok-Pokok Perencanaan Kriteria umum a. b. f. d. c. muka air harus merupakan banjir tertinggi sesuai banjir rencana g.Uraian Pendekatan dan Metodologi IV.4. Keadaan Batas ultimit terdiri dari : a. muka air harus merupakan banjir rencana terendah sesuai banjir rencana c.0 m antara titik paling rendah bangunan atas jembatan dan tinggi muka air banjir rencana pada keadaan batas ultimit. Kehilangan keseimbangan statis. Resiko gerakan-gerakan b. yaitu: a. Kehancuran dari bahan fondasi yang menyebabkan pergerakan yang berlebihan atau kehancuran bagian utama jembatan. Menghindarkan tersangkutnya benda hanyutan c. Umur Rencana Umur rencana jembatan diperkirakan 50 tahun. Keawetan USULAN TEKNIS IV . Pengurangan kekuatan d. Untuk perhitungan gerusan. Kerusakan sebagian jembatan. Reaksi tanah terhadap gempa di lapangan c. Sifat reaksi dinamis dari seluruh struktur h.

Kemudahan konstruksi e. Persyaratan konstruksi dan pelaksanaan g. Perlengkapan umum h. Dalam batas hambatan geometrik yang ditentukan dalam tahap 2.Bangunan bawah tanah dengan pondasi langsung. Tahap 3 Dengan kreatifitas tentukan daftar rencana alternatif terbaik. sumuran dan tiang pancang c.31 .Bangunan atas beton prategang . Lebar trotoir c. Besaran-besaran tanah g. Rancangan percobaan b. Tahap I Mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk menjelaskan fungsi jembatan. Tahap 4 USULAN TEKNIS IV . Tahapan Perencanaan 1. komposit . Jarak bebas vertikal dan horizontal j.2. Bangunan atas yang tersedia 2.Pilihan alternative 4.Bangunan atas beton bertulang . Lebar jembatan dan jumlah jalur b. Jenis dan dimensi bangunan atas dan bangunan bawah tipikal: .Bangunan atas kayu . Karakteristik aliran sungai f.2. Persyaratan pemeliharaan 3. Bentuk estetika IV. Ekonomis dapat diterima f. dipilih 2 atau 3 kombinasi bangunan bawah/pondasi/bangunan atas yang memenuhi pokok perencanaan secara baik a. Potensi gerusan d. Lokasi bahan pondasi dan potensi kelongsoran tebing e.4. geometri dan beban: a.Uraian Pendekatan dan Metodologi d.Bangunan atas baja. Alinyemen jembatan d. Geometri sungai e. Alinyemen jalan yang diusulkan b. Lokasi dan lebar alur utama sungai f. Beb a n j em b a t a n i. Tahap 2 Menggunakan informasi yang terkumpul dalam tahap 1 untuk menentukan semua hambatan geometrik pada struktur yang diusulkan a. Persyaratan aliran keadaan batas c.

5. Kendaraan bermotor roda-2 4. Perancangan sesuai dengan hasil data yang dikumpulkan Membuat rancangan alternatif-alternatif Membuat perhitungan perkiraan biaya berdasarkan volume Pemilihan rancangan akhir D oku m en l el a n g IV. d. 5 dan 6 – Penentuan Perancangan a. b. USULAN TEKNIS IV . e. Tahap 5 Perkirakan biaya untuk alternatif-alternatif tersebut. sebagai tindakan monitoring bagi pemberi tugas. Tahap 6 Selesaikan rencana sementara yang menghemat biaya dan buatlah: gambar rencana.5. Kelengkapan peralatan operasional sesuai dengan ketentuan dalam KAK dan Kontrak.32 . Kantor dan Fasilitas Semua pekerjaan dikerjakan dikantor pusat konsultan yang terletak di Banda Aceh yang dilengkapi dengan No fax dan telepon yang akan dimuat dalam kontrak dan dapat dihubungi selama proses pekerjaan berlangsung.Uraian Pendekatan dan Metodologi Laksanakan analisis perencanaan sementara untuk alternatif terbaik dari tahap 3. Tahap 4.2. Perkiraan biaya tersebut digunakan untuk menentukan alternatif (bila ada) yang ekonomis dapat diterima 6. IV. laporan perencanaan dan perkiraan biaya yang baru 7. Rencana. c.5. Peralatan yang akan disediakan konsultan dan dapat kompensasi penggantian biaya sewa dari Pihak Proyek untuk operasional kantor adalah : 1.1. Umum Dalam kegiatan pekerjaan konsultansi ketentuan penggunaan fasilitas pendukung yang dijamin oleh Pemberi Tugas harus mengacu kepada peraturan yang dikeluarkan BAPPENAS dan fasilitas pendukung harus sesuai dengan kebutuhan dan dipengaruhi oleh durasi pekerjaan. Biasanya proyek-proyek dengan durasi pendek sampai dengan 6 bulan ada beberapa fasilitas yang digunakan konsultan namun tidak ada penggantian dari Pihak proyek seperti ruang kantor dan dengan segala jenis kelengkapan meubeler kecuali alat kerja dan kelengkapannya.rencana sementara tersebut memberikan dimensi yang diperlukan untuk mencapai kekuatan dan tujuan stabilitas 5. FASILITAS PENDUKUNG IV. Printer 2 unit 3. Komputer 2 unit 2.