LAPORAN PENDAHULUAN

PADA IBU DENGAN POST PARTUM (MASA NIFAS)
A. PENGERTIAN
Masa nifas (Puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari
persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil.
Lamanya berlangsung selama 6-8 minggu (Mochtar_Rustam, 1998 : 115).
Puerperium (masa nifas) adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan
untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu atau 42
hari. Kejadian yang terpenting dalam nifas adalah involusi dan laktasi
(Manuaba, 1998: 190).
Menurut WHO menyatakan bahwa, pasca partus-post natal, mulai sejak 1
jam setelah plasenta lahir sampai minggu ke-6 atau berlangsung
selama 42 hari (Manuaba, 2001).
Masa puerparium (nifas) adalah masa setelah partus selesai dan berakhir
kira-kira 6-8 minggu. Akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih
kambali seperti sebelumnya pada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Ilmu
Kebidanan, 2007)
B. Etiologi
Partus normal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang telah
cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau
jalan lain, dengan bantuan.
1. Partus dibagi menjadi 4 kala :
a. Kala I, kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol
sampai
pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kala pembukaan berlangsung
tidak
begitu kuat sehingga parturien masih dapat berjalan-jalan. Lamanya kala I

untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8
jam.
b. Kala II, gejala utama kala II adalah His semakin kuat dengan interval 2
sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 100 detik. Menjelang akhir kala
I
ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan secara
mendadak Ketuban pecah pada pembukaan mendekati
lengkap diikuti keinginan
mengejan. Kedua kekuatan, His dan mengejan lebih mendorong kepala
bayi
sehingga kepala membuka pintu. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh
putar paksi luar. Setelah putar paksi luar berlangsung kepala dipegang di
bawah dagu di tarik ke bawah untuk melahirkan bahu belakang. Setelah
kedua bahu lahir ketiak di ikat untuk melahirkan sisa badan bayi yang
diikuti
dengan sisa air ketuban.
c. Kala III, setelah kala II kontraksi uterus berhenti 5 sampai 10 menit.
Dengan lahirnya bayi, sudah dimulai pelepasan plasenta. Lepasnya
plasenta
dapat ditandai dengan uterus menjadi bundar, uterus terdorong ke atas,
tali
pusat bertambah panjang dan terjadi perdarahan.
d. Kala IV, dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan
post partum paling sering terjadi pada 2 jam pertama,
observasi yang

dilakukan yaitu tingkat kesadaran penderita, pemeriksaan tanda-tanda
vital,
kontraksi uterus, terjadinya perdarahan. Perdarah dianggap masih normal
bila jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500 cc (Manuaba, 1989).
2. Faktor penyebab ruptur perineum diantaranya adalah faktor ibu, factor
janin, dan faktor persalinan pervaginam.
a. Faktor Ibu
1) Paritas
Menurut panduan Pusdiknakes 2003, paritas adalah jumlah kehamilan
yang mampu menghasilkan janin hidup di luar rahim (lebih dari 28
minggu). Paritas menunjukkan jumlah kehamilan terdahulu yang telah
mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan, tanpa mengingat jumlah
anaknya (Oxorn, 2003). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia paritas
adalah keadaan kelahiran atau partus Pada primipara robekan Perineum
hampir selalu terjadi dan tidak jarang berulang pada persalinan
berikutnya (Sarwono, 2005).
2) Meneran
Secara fisiologis ibu akan merasakan dorongan untuk meneran
bila
pembukaan sudah lengkap dan reflek ferguson telah terjadi. Ibu harus
didukung untuk meneran dengan benar pada saat ia merasakan dorongan
dan memang ingin mengejang (Jhonson, 2004). Ibu mungkin merasa
dapat meneran secara lebih efektif pada posisi tertentu
(JHPIEGO,
2005).

b. Faktor Janin
1) Berat Badan Bayi Baru lahir
Makrosomia adalah berat janin pada waktu lahir lebih dari 4000 gram
(Rayburn, 2001). Makrosomia disertai dengan meningkatnya resiko
trauma persalinan melalui vagina seperti distosia bahu, kerusakan fleksus
brakialis, patah tulang klavikula, dan kerusakan jaringan lunak pada ibu
seperti laserasi jalan lahir dan robekan pada perineum (Rayburn, 2001).
2) Presentasi
Menurut kamus kedokteran, presentasi adalah letak hubungan sumbu
memanjang janin dengan sumbu memanjang panggul ibu
(Dorland,1998).
a) Presentasi Muka
Presentasi muka atau presentasi dahi letak janin memanjang, sikap
extensi sempurna dengan diameter pada waktu masuk panggul atau
diameter submentobregmatika sebesar 9,5 cm. Bagian terendahnya
adalah bagian antara glabella dan dagu, sedang pada presentasi dahi
bagian terendahnya antara glabella dan bregma (Oxorn, 2003).
b) Presentasi Dahi
Presentasi dahi adalah sikap ekstensi sebagian (pertengahan), hal ini
berlawanan dengan presentasi muka yang ekstensinya sempurna.
Bagian terendahnya adalah daerah diantara margo orbitalis dengan
bregma dengan penunjukknya adalah dahi. Diameter bagian terendah
adalah diameter verticomentalis sebesar 13,5 cm merupakan diameter
antero posterior kepala janin yang terpanjang (Oxorn, 2003)

Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu karena tindakan ekstrasi forsep antara lain ruptur uteri. 2002). 2003). Faktor Persalinan Pervaginam 1) Vakum ekstrasi Vakum ekstrasi adalah suatu tindakan bantuan persalinan. post partum. vagina. robekan portio. Panggul janin merupakan kutub bawah dengan penunjuknya adalah sacrum. 4) Persalinan Presipitatus . syok. dan presentasi bokong lutut (Oxorn. 2) Ekstrasi Cunam/Forsep Ekstrasi Cunam/Forsep adalah suatu persalinan buatan. pecahnya varices vagina (Oxorn. presentasi bokong murni. ruptur perineum. janin dilahirkan dengan ekstrasi menggunakan tekanan negative dengan alat vacum yang dipasang di kepalanya (Mansjoer. janin dilahirkan dengan cunam yang dipasang di kepala janin (Mansjoer. 2002). perdarahan. presentas bokong dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu presentasi bokong sempurna. c. presentasi bokong kaki. 2002). Berdasarkan posisi janin. 2003) 3) Embriotomi Adalah prosedur penyelesaian persalinan dengan jalan melakukan pengurangan volume atau merubah struktur organ tertentu pada bayi dengan tujuan untuk memberi peluang yang lebih besar untuk melahirkan keseluruhan tubuh bayi tersebut (Syaifudin.c) Presentasi Bokong Presentasi bokong memiliki letak memanjang dengan kelainan dalam polaritas.

Patofisiologi 1. Pada akhir tahap ketiga persalinan. Satu minggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul. atau pada keadaan yang sangat jarang dijumpai. kira-kira 2 cm di bawah umbilicus dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. . beratnya menjadi 50-60 gr. berinvolusi menjadi kira-kira 500 gr 1 minggu setelah melahirkan dan 350 gr 2 minggu setelah lahir. dapat disebabkan oleh abnormalitas kontraksi uterus dan rahim yang terlau kuat. Dalam waktu 12 jam. Adaptasi Fisiologi a. 2005) C.Persalinan presipitatus adalah persalinan yang berlangsung sangat cepat berlangsung kurang dari 3 jam. pada waktu hamil penuh baratnya 11 kali berat sebelum hamil. Pada minggu keenam. uterus berada di garis tengah. proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Infolusi uterus Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. tidak adanya rasa nyeri pada saat his sehingga ibu tidak menyadari adanya proses persalinan yang sangat kuat (Cunningham. Fundus turun kira-kira 1 smpai 2 cm setiap 24 jam Pada hari pasca partum keenam fundus normal akan berada di pertengahan antara umbilikus dan simpisis pubis. Uterus. tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilikus.

homeostasis pasca partum dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium. Sel-sel tambahan yang terbentuk selama masa hamil menetap. Untuk . bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Inilah penyebap ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil. b. perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan.Peningkatan esterogen dan progesteron bertabggung jawab untuk pertumbuhan masif uterus selama hamil. Salama 1-2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat besar. mengopresi pembuluh darah dan membantu hemostasis. Pada masa pasca partum penurunan kadar hormone menyebapkan terjadinya autolisis. Hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus. Kontraksi Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir.

Adaptasi psikologis Menurut Hamilton. Ibu yang merencanakan menyusui bayinya. 2. b. Fase taking hold / ketergantungan tidak ketergantungan Fase ini dimulai pada hari ketiga setelah melahirkan dan berakhir pada minggu keempat sampai kelima. Sampai hari ketiga ibu siap untuk menerima peran barunya dan belajar tentang semua hal-hal baru. 1995 adaptasi psikologis ibu post partum dibagi menjadi 3 fase yaitu : a. Selama fase ini sistem pendukung menjadi sangat bernilai bagi ibu muda yang membutuhkan sumber informasi dan penyembuhan fisik sehingga ia dapat istirahat dengan .mempertahankan kontraksi uterus. suntikan oksitosin secara intravena atau intramuskuler diberikan segera setelah plasenta lahir. Fase taking in/ ketergantungan Fase ini dimuai hari pertama dan hari kedua setelah melahirkan dimana ibu membutuhkan perlindungandan pelayanan. dianjurkan membiarkan bayinya di payudara segera setelah lahir karena isapan bayi pada payudara merangsang pelepasan oksitosin.

Fase letting go / saling ketergantungan Dimulai sekitar minggu kelima sampai keenam setelah kelahiran. proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Uterus. pada waktu hamil penuh baratnya 11 kali berat sebelum hamil. berinvolusi menjadi kira-kira 500 gr 1 minggu setelah melahirkan dan 350 gr dua minggu setelah lahir. Manifestasi klinis Periode post partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. perasan rutinnya telah kembali dan kegiatan hubungan seksualnya telah dilakukan kembali. Periode ini kadangkadang disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan (Bobak. D. Tubuh pasian telah sembuh.baik c. Proses involusi Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. 1. Sistem keluarga telah menyesuaiakan diri dengan anggotanya yang baru. 2004). Pathway Terlampir E.60gr. Seminggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul. Pada minggu keenam. Pada . Sistem reproduksi a. beratnya menjadi 50.

Pertumbuhan endometrium ke atas menyebabkan pelepasan jaringan nekrotik dan mencegah pembentukan jaringan parut . Inilah penyebap ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil.masa pasca partum penurunan kadar hormone menyebapkan terjadinya autolisis. Selsel tambahan yang terbentuk selama masa hamil menetap. suntikan oksitosin secara intravena atau intramuskuler diberikan segera setelah plasenta lahir. hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus. Kontraksi Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir. Untuk mempertahankan kontraksi uterus. c. Tempat plasenta Segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan. kontraksi vaskular dan trombus menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi dan bernodul tidak teratur. perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Salama 1-2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. b. mengopresi pembuluh darah dan membantu hemostasis.

Lochea rubra terutama mengandung darah dan debris desidua dan debris trofoblastik. cairan berwarna kuning atau putih. Lochea alba mengandung leukosit. serum dan bakteri. Lochea alba bisa bertahan 2-6 minggu setelah bayi lahir. selesai pada akhir minggu ketiga masa pasca partum. f. Lochea serosa terdiri dari darah lama.18 jam pasca partum. Serviks Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. mukus. Vagina dan perineum . mula-mula berwarna merah. sel epitel. dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu melahirkan. Sekitar 10 hari setelah bayi lahir. Lochea Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir. e. serum. kemudian menjadi merah tua atau merah coklat. Aliran menyembur menjadi merah setelah 2-4 hari. tipis. leukosit dan denrus jaringan. Serviks setinggi segmen bawah uterus tetap edematosa. Regenerasi endometrum. d. serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula.yang menjadi karakteristik penyembuha luka. desidua. kecuali pada bekas tempat plasenta.

Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum hamil. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat. b. Hormon hipofisis Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak menyusui berbeda. penurunan kadar esterogen berkaitan dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstra seluler berlebih yang terakumulasi selama masa hamil. Sehingga kadar gula darah menurun secara yang bermakna pada masa puerperium. Kadar prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui tampaknya berperan dalam menekan ovulasi. Karena kadar follikel- . 2. walaupun tidak akan semenonjol pada wanita multipara. Sistem endokrin a. 6-8 minggu setelah bayi lahir. Kadar esterogen dan progesteron menurun secara mencolok setelah plasenta keluar. serta placental enzyme insulinase membalik efek diabetagenik kehamilan. Hormon plasenta Penurunan hormon human plasental lactogen. esterogen dan kortisol.

Nafsu makan Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia. Diperlukan kira-kira dua smpai 8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan sebelum hamil (Cunningham. dkk . Sistem urinarius Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. ibu merasa sangat lapar b. 1991). anestesia. dan keletihan. abdomenya akan menonjol dan membuat wanita tersebut tampak seperti masih hamil. 1993). Abdomen Apabila wanita berdiri di hari pertama setelah melahirkan. 5.stimulating hormone terbukti sama pada wanita menyusui dan tidak menyusui di simpulkan ovarium tidak berespon terhadap stimulasi FSH ketika kadar prolaktin meningkat (Bowes. Mortilitas . Sistem cerna a. 3. 4. Diperlukan sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hami.

krotison. Payu dara Konsentrasi hormon yang menstimulasai perkembangan payu dara selama wanita hamil (esterogen. Pada hari ketiga atau keempat pasca partum bisa terjadi pembengkakan. prolaktin. Pada jaringan payudara beberapa wanita. penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selam waktu yang singkat setelah bayi lahir. saat palpasi dailakukan pada hari kedua dan ketiga. human chorionic gonadotropin. a. Ibu yang menyusui Sebelum laktasi dimulai. Ibu tidak menyusui Kadar prolaktin akan menurun dengan cepat pada wanita yang tidak menyusui. c. payudara teraba lunak dan suatu cairan kekuningan. b. dan hangat jika di raba. . progesteron. nyeri bila ditekan. dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi lahir. 6. Payudara teregang keras. Defekasi Buang air besar secara spontan bias tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan.Secara khas.

abdomen. dan panggul mungkin memudar tetapi tidak hilang seluruhnya. KOMPLIKASI 1. Sistem Perkemihan a. Dinding kandung kemih dapat mengalami hiperemis dan edema. yakni sewaktu bayi melewati jalan lahir. Sistem Integumentasi Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. payudara teraba hangat dan keras ketika disentuh. Uretra dan kandung kemih Trauma bisa terjadi pada uretra dan kandung kemih selama proses melahirkan. seringkali diserti daerahdaerah kecil hemoragi. Kulit yang meregang pada payudara. 8. 7. Setelah laktasi dimula. Susu putih kebiruan dapat dikeluarkan dari puting susu. paha. Perdarahan Perdarahan adalah penyebab kematian terbanyak pada wanita selama periode post partum. Rasa nyeri akan menetap selama sekitar 48 jam.yakni kolostrum. F. Perdarahan post partum adalah : kehilangan darah lebih dari 500 cc .

Kehilangan darah lebih dai 500 cc b. b. c. Perdarahan post partum dapat diklasifikasi menurut kapan terjadinya perdarahan dini terjadi 24 jam setelah melahirkan. dengan kehamilan dengan janin besar). Laserasi jalan lahir : perlukan serviks. Perdarahan lanjut lebih dari 24 jam setelah melahirkan.setelah kelahiran kriteria perdarahan didasarkan pada satu atau lebih tanda-tanda sebagai berikut: a. Hb turun sampai 3 gram % (novak. tiga penyebap utama perdarahan antara lain : a. vagina dan perineum dapat menimbulkan perdarahan yang banyak bila tidak direparasi dengan segera. Retensio plasenta. syok hemoragik dapat berkembang cepat dan menadi kasus lainnya. Sistolik atau diastolik tekanan darah menurun sekitar 30 mmHg c. 1998). Uterus yang sangat teregang (hidramnion. partus lama dan pemberian narkosis merupakan predisposisi untuk terjadinya atonia uteri. kehamilan ganda. Atonia uteri : pada atonia uteri uterus tidak mengadakan kontraksi dengan baik dan ini merupakan sebap utama dari perdarahan post partum. hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta .

robeknya otot uterus yang utuh atau bekas jaringan parut pada uterus setelah jalan lahir hidup.8 %. Bakteri vagina. Lain-lain 1) Sisa plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus sehingga masih ada pembuluh darah yang tetap terbuka 2) Ruptur uteri. ditandai adanya kenaikan suhu > 38 0 dalam 2 hari selama 10 hari pertama post partum. Endometritis Adalah infeksi dalam uterus paling banyak disebapkan oleh infeksi puerperalis. Infeksi puerperalis Didefinisikan sebagai. d. pembedahan caesaria. 4. 3) Inversio uteri (Wikenjosastro. Insiden infeksi puerperalis ini 1 % . Penyebap klasik adalah : streptococus dan staphylococus aureus dan organisasi lainnya 3. Mastitis . 2000) 2.disebapkan oleh gangguan kontraksi uterus. inveksi saluran reproduksi selama masa post partum. ruptur membrane memiliki resiko tinggi terjadinya endometritis (Novak. 1999).retensio plasenta adalah : tertahannya atau belum lahirnya plasenta atau 30 menit selelah bayi lahir.

7. di awali dengan pembengkakan. faktor koagulasi dan meningkatnya status vena menyebapkan relaksasi sistem vaskuler. 1999). 6. akibatnya terjadi tromboplebitis (pembentukan trombus di pembuluh darah dihasilkan dari dinding pembuluh darah) dan thrombosis (pembentukan trombus) tromboplebitis superficial terjadi 1 kasus dari 500 – 750 kelahiran pada 3 hari pertama post partum. mastitis umumnya di awali pada bulan pertamapost partum (Novak. Organisme terbanyak adalah Entamoba coli dan bakterigram negatif lainnya. . Infeksi saluran kemih Insiden mencapai 2-4 % wanita post partum. Bakteri masuk melalui fisura atau pecahnya puting susu akibat kesalahan tehnik menyusui.Yaitu infeksi pada payudara. Emboli Yaitu : partikel berbahaya karena masuk ke pembuluh darah kecil menyebapkan kematian terbanyak di Amerika (Novak. pembedahan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. 1999) 5. Tromboplebitis dan thrombosis Semasa hamil dan masa awal post partum.

Leukosit. 1999) G. kurang konsentrasi. dan lainnya. ganguan makan. 2004). Darah lengkap ( Hb. terjadi pada tahun pertama.8. dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir (Depkes RI. Ibu bingung dan merasa takut pada dirinya. trombosit ) . 3. Kulit perineum berwarna pucat dan mengkilap. Tandanya antara lain. perasaan obsepsi cemas. berkembang lambat sampai beberapa minggu. 2. dysmenor. Kulit perineum mulai melebar dan tegang. Ada perdarahan keluar dari lubang vulva. Pemeriksaan penunjang 1. nyeri kepala. Tanda – Tanda Bahaya Post Partum Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik. kesulitan menyusui. Post partum depresi Kasus ini kejadinya berangsur-angsur. kehilangan kontrol. Ht. merupakan indikasi robekan pada mukosa vagina H. Tanda-tanda yang mengancam terjadinya robekan perineum antara lain : 1. kesepian tidak aman. Wanita juga mengeluh bingung. tidak tertarik pada sex. kehilanagan semangat (Novak.

SIMPULAN Masa nifas (Puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Penatalaksanaan Medis 1. Lamanya berlangsung selama 6-8 minggu.2 : mulai latihan duduk 5. 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang. Urine lengkap I. Hari ke. Akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kambali seperti sebelumnya pada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Ilmu Kebidanan. Hari ke.3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan BAB III PENUTUP A. .2. pemberian informasi tentang senam nifas. 4. perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas. Masa puerparium (nifas) adalah masa setelah partus selesai dan berakhir kira-kira 6-8 minggu. usahakan miring kanan kiri 3. cara menyusui yang benar dan perawatan payudara.1-2 : memberikan KIE kebersihan diri. 2007). Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi perdarahan) 2. Hari ke.

dari permasalahan itu akan ditemukan diagnose dan akan direncanakan suatu tindakan yang dapat dilakukan untuk menanggani permasalahna itu. 18. 2012. Available at: http://kesehatanbyteguh. Opened at: 20 maret 2014.Ada beberapa permasalahan yang akan ditemukan dalam masa nifas atau post partum ini. B.html. Anonim. yang didapatkan melalui pengkajian pada pasien. Available at: .blogspot. 2012.21 wita. Pada pengkajian perawat perlu melakukan pengkajian dengan teliti melihat kondisi klien serta senantiasa mengembangkan teknik terapeutik dalam berkomunikasi dengan klien. 2.com/2012/01/adaptasi-maternal-padaperiode. Adaptasi maternal pada periode. SARAN – SARAN Untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut : 1. Agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap profesional dalam menetapkan diagnosa keperawatan DAFTAR PUSTAKA Anonim. Asuhan keperawatan Post partum.

blogspot. 2013. Bobak. Doengoes. Opened at: 20 Maret 2014. 2002. Peneribit Buku Kedokteran EGC.00 wita.html.http://digilib. Edisi 4. Yoga. Jakarta Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 18. 18. Jakarta : EGC Marylin E.com/2013/09/askep-post-partum-nifas.05 wita C. 2004.pdf.ac. Rencana AsuhanKeperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3.unimus. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. opened at: 20 maret 2014.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. INTERVENSI No Diagnosa Noc Nic 1 Nyeri akut berhubungan dengan .id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-norhimawat-62812babii. Mary Frances Moorhouse. Geissler (2000). Available at: http://yogasrondeng. Alice C. Askep post partum.

Pain Level 2. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri.mampu menggunakan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri. Comfort level Kriteria Hasil: 1.trauma mekanis. Merasakan rasa nyaman setalah nyeri berkurang . edema atau pembesaran jaringan atau distensi efekefek hormonal. NOC: 1. mencari bantuan) 2. Pain Control 3. Melaporakn bahwa nyeri berkurang dengan menggunaka manajemen nyeri 3. Mampu mengenali nyeri (PQRST) 4.

Pilih dan lakukan penanganan nyeri (Farmakologi non farmakologi dan interpersonal) Analgesic Administration 1. Tentukan pilihan analgesic tergantung tipe dan beratnya nyeri 3.NIC: Pain Mangement: 1. Evaluasi efektifitas analgesic tanda dan gejala 2 Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan . Monitor vital sign 3. Tentukan PQRST sebelum pemberian obat 2. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien 4. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (PQRST) 2.

Breasfeeding interrupted Kriteria hasil: NIC Breastfeding Assistence 1.tingkat pengetahuan. tingkat NOC 1. Bretahing pattern ineffective 3. Tentukan keinginan dan motivasi ibu untuk dukungan. pengalaman sebelumnya. Kementapan pemberian ASI: Bayi: perlekatan bayi yang sesuai pada dan proses menghisap dari payudara ibu untuk memperoleh nutrisi . Breastfeding ineffective 2. 1. karakteristik payudara. Evaluasi pola menghisap/ menelan bayi 2.

selama 3 minggu pertama pemberian ASI 2. Penyapihan pemberian ASI: Diskontinuitas progresi pemberian ASI 5. Pemeliharaan pemberian ASI: keberlangsungan pemberian ASI untuk menyediakan nutrisi bagi bayi/toddler 4. Pengetahuan pemberian ASI: tigkat pemahaman yang ditunjukan mengenai laktasi dan pemberian makanan bayi melalui proses pemberian ASI. . Kemantapan pemberian ASI:IBU: kemantapan ibu untuk membuat bayi melekat dengan tepat dan menyusui dari payudara ibu untuk memperoleh nutrisi selama 3 minggu pertama pemberian ASI. 3.

Mengenali tanda-tanda penurunan suplai ASI mrnyusui 3. Ibu mengindikasikan kepuasan terhadap pemberian ASI 8. Ibu tidak mengalami nyeri tekan pada putting 9. Pantau berat badan dan pola eliminasi bayi Breast examination Lactation suppression 1. Kaji kemampuan bayi untuk latch on dan menghisap secara efektif 4. Pantau integritas kulit putting ibu 5.6. Ibu mengenali isyarat lapar dari bayi dengan segera 7. Sediakan informasi tentang laktasi dan teknik memompa ASI (secara manual atau dengan pompa .

Sediakan infromasi tentang keuntungan dan kerugian peberian ASI 2. Demonstrasikan latihan menghisap jika perlu 3. profil darah abnormal . Diskusikan metode alternative pemberian makan bayi 3 Risiko cedera berhubungan dengan biokimia efek anastesi. menghangatkan dan kemungkinan pemberian tambahan susu formula Lactation Counseling 1. Ajarkan orang tua mempersiapkan. menyimpan.elektrik) cara mengumpulkan dan menyimpan ASI 2.

NOC 1. Mampu mengenali perubahan status kesehatan . Risiko Kontrol Kriteria Hasil 1. Klien terbebas dari cedera 2. Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada 6. Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien 2. Identifikasi kebutuhan keamanan pasien. Klien mampu menjelaskan factor risiko dari lingkungan personal 4. Klien mampu menjelaskan cara/metode untuk mencegah NIC Manajemen lingkungan 1. sesuai injury/cedera 3. Mampu memodifikasi gaya hidup untuk mencegah injury 5.

Memindahkan barangbarang yang dapat membahayakan 8. Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien 7. Memasang side rail tempat tidur 5. Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih 6. Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perubahan status kesehatan dan penyebab penyakit 4 Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan . Menghindarkan lingkungan yang berbahaya 4.dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien 3.

2. knowledge : infeksi control 3. Pertahankan teknik isolasi 3.trauma jaringan. Monitor tanda gejala infeksi sistemik dan local 6. Monitor kerentanan terhadap infeksi 7. Pertahankan teknik asepsis . Gunakan baju. Pertahankan lingkungan aseptic selama pemsangan alat 5. prosedur infasive. malnutrisi. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain 2. risk contol NIC Infection control (control infeksi) 1. NOC : 1. sarung tangan sebagai lat pelindung 4. immune status. penurunan Hb. pecah ketuban.

Urinary elimination 2. trauma mekanis. NOC 1. edema jaringan. efek anastesi ditandai dengan distensi kantong kemih.pada pasien yang berisiko 8. Bebas dari ISK . Urinary continuence Kriteria hasil 1. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi 5 Gangguan eliminasi urie berhubunagn dengan efek hormonal. Kandung kemih kosong secara penuh 2. Intake cairan dalam rentang normal 4. Tidak ada residu urine >100-200 cc 3.

membelai tinggi batin atau air. fungsi kognitif dan masalah kencing raeksisten) 2.5. pola berkemih. 3. Merangsang reflex kandung kemih kemih dengan menerapkan dingin untuk perut. Balance cairan seimbang NIC Urinary retention care 1. Memantau tingka distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi . output urin. Tidak ada spasme bladder 6. Sediakan waktu yang cukup untuk pengosongan kandung kemih (10 menit) 4. Lakukan penilaian kemih yang komprehensif berfokus pada inkontinensia (misalnya. Memantau asupan dan keluaran 5.

Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB. NOC: 1.angan cairan berlebih ( muntah. BJ. urine normal. Nutrisional Status: Food and Fluid intake Kriteria Hasil : 1. peningkatan pengeluaran urin). hemoragik. . kehil. Fluid Balance 2.6 Risiko kekurangan volume cairan berhubunag dengan penurunan masukan atau penggantian tidak adekuat. HT normal. Hydration 3.

Tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat 2. 3. Monitor vital sign 4. tekanan darah ortostatik) jika diperlukan 3. Monitor respon pasien . membrane mukosa lembab. nadi adekuat. suhu tubuh dalam batas normal. nadi. Monitor status nutrisi Hypopolemia Management : 1. Monitor status hidrasi (kelembaban membrane mukosa. Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian 5. elastisitas turgor kulit baik. tidak ada rasa haus yang berlebihan NIC Fluid management 1.2. Tekanan darah.

dehidrasi. Bowel Elimination 2. Dorong pasien untuk menambah intake oral 4. Monitor BB 3. efek progesterone. Mempertahankan bentuk . 2. Hydration Kriteria Hasil: 1. nyeri perineal ditandai dengan perubahan bising usus.terhadap penambahan cairan. veses kurang dari biasanya utk mencegah NOC 1. Monitor adanya tanda gagal ginjal 7 Konstipasi behubungan dengan penurunan tonus otot.

Mengidentifikasi indicator NIC Constipation/Impaction Management 1. Monitor bising usus 3. Monitor tanda dan gejala konstipasi 2. Dukung intake cairan 6. konsistensi dan volume 4. Anjurkan pasien/keluarga mencatat warna. Identifikasi factor penyebab dan knstribusi konstipasi 5. Bebas dari ketidaknyamanan dan konstipasi 3. Kolaborasi pemberian laksatif 7. volume. Pantau tanda-tanda dan gejala konstipasi 8. dan konstipasi tinja . Monitor feses : frekuensi.feses lunak setiap 1-3 hari 2. ferkuensi.

Ajarkan pasien/ keluarga tentang kerangka waktu untuk resolusi sembelit 8 Defisiensi pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang pemahaman. Konowledge: health behavior Kriteria hasil: 1. salah interpretasi tidak tahu sumbersumber. prognosis. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit kondisi. NOC 1.9. dan program pengobatan . Knowledge: disease process 2.

Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/ tim kesehatan lainnya. NIC Teaching: Disease Process 1. Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengn cara yang tepat . Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik 2.2. Hindari jaminan yang kosong 4. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul dengan cara tepat 3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan prosedur yang dijelaskan secara benar 3.

.5. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan 6.