OTITIS MEDIA PURULENTA

KONSEP DASAR
Otitis media adalah peradangan sebagian / seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrium mastoid dan sel-sel mastoid.
Gangguan telinga yang paling sering adalah infeksi eksterna dan media. Sering
terjadi pada anak-anak dan juga pada orang dewasa.
PENDAHULUAN
Kasus ini dapat mengenai siapa saja baik anak-anak maupun dewasa dan kasusnya
selalu ada, maka seorang perawat dalam memenuhi kebutuhan dasar mnusia
kasusini perlu mengetahui terlebih dahulu tentang Otitis Media Purulenta.
Klien datang biasanya sudah dalam pengobatan yang lama dan berulang-ulang
dan sekret tidak cepat kering / selalu kambuh lagi.
Hal ini disebabkan beberapa keadaan yaitu :
1. Adanya perforasi membran timpani yang permanen sehingga telinga
tengah b/d dunia luar
2. Terdapat sumber infeksi di laring, nasofring, hidung dan sinus para nasal
3. Sudah termasuk jaringan patologik yang irrewversibel dalam rongga
mastoid
4. Personal hygine dan gizi yang kurang
PENGERTIAN
Infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan keluarnya
sekret yang purulen/ supuratif secara terus menerus / hilang timbul. Sekret yang
keluar tersebut bisa encer / kental, bening atau bahkan seperti nanah. (Hidayat S.
1997)
PENYEBAB
Streptococcus, Stapilococcus, Diplococcus dan Hemopilus influens

MANIFESTASI KLINIS

Keluar cairan dari liang telinga dan tidak sedap

Penurunan pendengaran

Nyeri ringan atau berat hilang timbul

Tinitus dan vertigo

PATOFISIOLOGI

OTITIS MEDIA
Supuratif

Non Supuratif
(Otitis Media Serosa)
Lebih 2 bulan

OMA

Serosa Akut

( Glue Ear)

OMP =
Benigna

Maligna
Metaplastik

Degeratif

Tdpt perforasi pd marginal
Terlihat kolesteatom telinga tengah (epitimpanum)
Granulasi di liang telinga luar yg berasal Sekret
dr dlm berbentuk
telinga tengah
nanah & berbau khas (aroma ko
polip

Otitis Media Supuratif Kronis

Otorhoe pd MAE (kental & busuk)
Penurunan Pendengaran

Gangg Komunikasi

Gangg Rasa Nyaman

Cemas

Gangg Konse

Perubahan Persepsi Sensori
Resiko Cidera

Resti Perluasan Infeksi

Sampai ke 20 db dianggap dalam tingkat normal. Anamnesa  Keluhan Utama : pendengaran terasa pekak  Suara berdenging (tinitus)  Rasa pusing (vertigo) Dijabarkan dalam PQRST  Otalgia  Otorhoe 2.PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. Bunyi pada titik nol terdengar pada orang dengan pendengaran normal. Tindakan Yang pernah dilakukan  Konservatif dengan medikametosa hanyalah sementara  Pembedahan bila sudah terkena mastoid maka dilakukan mastoidektomi dengan / tanpa timpanoplasti rekontruksi  Bila terjadi abses subperiosteal retrourikuler sebaiknya dilakukan insisi sebelum mastoidektomi PENATALAKSANAAN . 3. Tes Auditorik  Uji pendengaran dengan gesekan rambutnya sendiri / detik jam dengan jarak 5 – 10cm  Tes bisik. Scwabah ini merupakan pemeriksaan untuk mengetahui sensitivitas dan perbedaan kata-kata  Tujuan Tes Auditorik :  Menentukan apakah seseorang tidak mendengar  Untuk mengetahui tingkat kehilangan pendengaran  Tingkat kemampuan menangkap pembicaraan  Mengetahui sumber penyebab gangguan (konduksi / Neurologi) Pendengaran dapat diindentifikasi pada saat nol desibel naik. Weber.

Membran timpani tidak jelas ada. Data Obyektif MAE terlihat cairan berwarna putih kekuningan dan berbau khas kolesteatom. Tujuan pembedahan untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah terjadi komplikasi intrakranial. Sulit untuk berkomunikasi dan mudah terjadi panas badan. fungsi pendengaran belum diperbaiki  Kerugian operasi ini klien selama hidup tidak boleh berenang. 2. Data Subyektif Gejala yang timbul adalah nyeri dan hilangnya pendengaran. Melalui rongga mastoid dengan cara timpanotomi posterior  Teknik operasi ini untuk tipe malignansi belum disepakati karena sering kambuh kembali FOKUS DATA 1. sekunder kerusakan konduksi atau kerusakan syaraf pendengaran . Mudah terjadi infeksi dan pendengaran berkurang sama sekali sehingga menghambat pendidikan dan karir  Combined Approach Tympanoplasty bertujuan untuk penyembuhan dan memperbaiki pendengaran tanpa melakukan tehnik mastoidektomi radikal  Membersihkan kolesteatom dan jaringan di kavum timpani dapat dilakukan dengn 2 cara : 1). perubahan konsep diri meras kurang percaya diri untuk bergaul karena bau tidak sedap. seharusnya tampak warna yang jelas keabu-abuan melalui otoskop dan speculum telinga. Palpasi telinga luar timbul nyeri. Tinitus dan vertigo. DIAGNOSA KEPERAWATAN  Gangguan berkomunikasi b/d efek kehilangan pendengaran dd tes pendengaran (-)  Perubahan persepsi sensori b/d obtruksi liang telinga. Melalui liang telinga 2).

Dekati klien dari telinga yang baik R/ Lebih dapat dipahami 3. Tempatkan ucapan pada telinga yang baik R/ mengurangi error dalam komunikasi 5. Dapatkan metode komunikasi mll: tulisan. Minimalkan percakapan jika klien lelah R/ Memfasilitas klien dalam energi 4. isyarat R/ Metode dapat mengefektikan komuniksi 2. bicara. Isyarat sediakan penterjemah. Cemas b/d prosedur operatif dan diagnostik dd wajah tegang dan vital sign meningkat  Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d kerusakan sel timpani dan sekunder terhadap proses inflamasi dd skala nyeri 4 – 7  Resti cidera b/d kerusakan pendengaran dd tinitus dan vertigo  Resti cidera b/d post op timpanoplasti  Gangguan konsep diri (harga diri) b/d kolesteatom dd tidak bersosialisasi  Resti perluasan infeksi b/d kerusakan pertahanan primer dd mudah panas badan NURSING CARE PLAN  Gangguan berkomunikasi b/d efek kehilngan pendengaran dd tes pendengaran (-) Tujuan : proses komunikasi lancar Kriteria : klien dapat menerima pesan dengan benar Intervensi 1. Jika mampu bhs. Upayakan menghadap ke klien bukan penterjemah saat bicara R/ Mengurangi kesalahan informasi / ide pesan 6. Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman seperti : - Bicara dengan jelas dan menghadap - Ulangi jika klien kurang memahami - Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi .

Intruksikan untuk menggunakan teknik-teknik yg aman shg dpt mencegah tjdnya ketulian lebih jauh R/ bila penyebab ketulian tdk progresif maka pendengaran yg tersisa sensitif thd trauma dan infeksi 3. Anjurkan penggunaan alat bantu pendengaran R/ dapat membantu meningkatkan persepsi sensori pendengaran 2. test auditorik (+). Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yg lanjut R/ untuk megetahui masalah pendengaran yg rusak 4.- Validasi pemahaman klien R/ Dapat lebih memantapkan dalam kejelasan informsi yang diberikan R/ Klien tidak merasa kebingungan Perubahan persepsi sensori b/d obtruksi liang telinga. sekunder kerusakan konduksi atau kerusakan syaraf pendengaran Tujuan : persepsi sensori membaik Kriteria : klien mengiyakan adanya rangsangan suara. Instruksikan untuk menepati dosis obat yg diberikan R/ ketepatan dosis mrpk faktor keberhasilan terapi . peningkatan persepsi pendengaran tingkat fungsional (+) Intervensi 1.

(Supardi 1998) KONSEP DASAR  Gelombang udara diterima dn difokuskan oleh daun telinga lalu masuk ke dalam MAE diteruskan sampai membran timpani  Membran tympani bersama rantai osikule dengan aksi hidrolik dan pengungkit memperbesar energi bunyi mjd 25 – 30 kali (±27 kali)  dihantarkan ke telinga dalam  Penguatan tsb digunakan untuk menggerakkan medium cair (perilenf & endolinf) lalu diteruskan ke organ corti di dalam choclea. PENYEBAB  Sterptococcus  Stapilococcus  Diplococcus Pneumonie  Hemopilus Influens .ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN OTITIS MEDIA KRONIK PENDAHULUAN Gangguan telinga berikut antrum mastoid dan sel-sel mastoid mempunyai insiden yang cukup bermakna pada anak dan juga orang dewasa bisa terkena.  Dimana getaran diubah dari gel suara – mekanik – konduksi sitem syaraf N VIII & akhirnya sampai ke otak  Kelainan penghantaran suara sampai osikule disebut tuli konduksi  Kelainan di stapes – perilenf & endoleinf – N VIII disebut tuli persepsi PENGERTIAN Suatu inflamasi yang merupakan komplikasi dari otitis media kronis yang menjalar ke struktur disekitar pada jalan pneumatisasi mastoid.

anorexia. labirinitis) .MANIFESTASI KLINIS ☺ Keluar cairan pada telinga > 6 mgg ☺ Terasa sakit kepala (nyeri & terasa penuh dibelakang telinga) ☺ Panas. meningitis)  Komplikasi Nonmeningeal (abses otak. dan perasaan mengantuk ☺ Nausea dan vomiting ☺ Pendengaran menurun ☺ Nyeri tekan (+) pada pariental dan oksipital ☺ Tanda-tanda toksisitas ☺ Malaise. summolen ☺ Daun telinga terdorong ke depan lateral bawah ☺ Terdapat inflitrat / abses retroaurikel KOMPLIKASI  Komplikasi meningeal (abses ekstradural.

PATOFIOLOGIS MASTOIDITIS Kerusakan Sel Mastoid Interkulin & Pyrogen Zat Kinin Gangg Persepsi Sensori Gangguan termoregu Gangg Rasa Nyaman Perubahan Pola Interaksi/Komunikasi Resiko Perluasan Infeksi Gangg Pola Aktivit Tindakan / Prosedur Operasi Anxietas Fear Deficit Knowledge .

kanker. anemia.  Bila terjadi komplikasi kemeningeal . sifilis Riwayat penyakit keluarga :  Gangguan / kelainan diderita sejak bayi atau gangguan terjadi pada tempat yang bising / bahkan tempat yang tenang. ateriosklerosis. infeksi berat akan meninggal. influensa berat dan menginitis  DM. Hipertensi. trauma akustik / pemakaian obat ototoksik sebelumnya  Pernah menderita infeksi virus seperti parotis.PRONOGSIS  Perawatan dini dapat membantu proses penyembuhan primer. DIAGNOSA KEPERAWATAN Pre – Operasi : Gangguan komunikasi / interaksi b/d rusaknya tympani dd menjauh dari teman-teman sebaya Gangguan persepsi sensori (pendengaran) b/d kelainan di osikule dd tuli konduksi . penyakit jantung. PENATALAKSANAAN ☺ Konservatif & Medikamentosa ☺ Mastoidektomi radikal / dg Radikal Rekonstruksi ☺ CT Scan kepala ☺ Otoskopi PENGKAJIAN KEPERAWATAN  Keluhan utama : terasa penuh dibelakang telinga  Terasa skit kepala  Pendengaran menurun RIWAYAT KEPERAWATAN Riwayat terdahulu seperti :  Trauma kepala. telinga tertampar.  Tuli perseptif prognosenya kurang baik.

merasa panas badan Resiko perluasan infeksi b/d ACTH meningkat. rusaknya pertahanan primer Gangguan pola aktivitas b/d penurunan cadangan energi tubuh dd malaise Cemas b/d keterbatasan pengetahuan dd tampak kebingungan Takut b/d kegagalan tindakan operasi dd pernah mengatakan tidak mau operasi Post – Radikal Rekonstruksi Resiko cidera b/d valsava dan sekunder thdp rekonstruksi tympanoplasti Deficit knowledge b/d kurangnya informasi prosedur tindakan paska pembedahan dd sering bertanya ttg perawatan selanjutnya dan hasil pembedahan PERENCANAAN Pre – Operasi  Gangguan komunikasi/interaksi b/d rusaknya tympani dd menjauh dari temanteman sebaya Tujuan : dapat komunikasi / interaksi Kriteria : klien berinteraksi dg temannya dg baik Intervensi 1. Arahkan untuk menggunakan alat bantu pendengaran R/ meningkatkan rangsangan ke perilinf dan endolinf 3. Bicara dari telinga yang sehat R/ sudah jelas .Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d zat-zat kinin & enzim proteolitik dd skala nyeri sedang Gangguan termoregulasi b/d peningkatan interlekuin & pyrogen dd suhu > 37.5 c. Gunakan metode komuniksi yang tepat R/ menentukan kelancaran komunikasi 2. Bicara dg perlahan-lahan dan tegas R/ menfasilitasi klien untuk memahami 4.

gunakan bahasa isyarat bila memungkinkan 4. grebeb-grebeb  segera di kontrolkan R/ resiko / aktual tjd gangguan 8. waktu mempercepat penyembuhan 7. bicara dg jelas menghadap klien 2. Jelaskan dosis obat yg harus diberikan secara rinci R/ ketepatan dosis. merangkan kembali hal-hal yg dilarang. ulangi jika klien tdk memahami 3. rasa penuh. Jelaskan bahwa telinga yg dioperasi tdk boleh kena air dan tdk boleh berenang selama hidupnya R/ dapat merusak rekontruksi dan infeksi 6.. validasi dg mengajukan pertanyaan yg memerlukan jawaban ya / tidak R/ memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dg klien shg memungkinkan pesan dapat diteriama dg baik  Deficit knowledge b/d kurangnya informasi prosedur tindakan paska pembedahan dd sering bertanya ttg perawatan selanjutnya dan hasil pembedahan Tujuan : klien bertambah pengetahuan tentang prosedur pasca operasi Kriteria : dapat menjelaskan kembali cara marawat dirumah. panas.5. Kaji kemampuan utk menerima pesan scr verbal R/ menentukan tindakan selanjutnya 7. Jelaskan bila terjadi sesuatu yg tidak enak ditelinga spt nyeri. Hindari distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien (kelelahan) R/ merusak konsentrasi klien 6. Anjurkan bila dalam merawat telinga selalu cuci tangan sebelum dan sesudahnya R/ mencegah untuk tdk tjd infeksi . klien akan mematuhi semua anjuran Intervensi 5. pemberian . Gunakan faktor-faktor yg meningkatkan pendengaran dan pemahaman spt : 1.

Nyeri pada telinga dalam sering muncul juga tetapi dalam keadaan kronis jarang ditemukan panas badan juga bukan merupakan tanda pasti tetapi cukup membantu adanya tanda infeksi pada labirin. sedangkan iritasi yang terjadi pada labirin interior lebih menonjol pada ketulian daripada gejala lain. peradangan mancapai pada vestibularis maka gejala yang harus muncul gangguan keseimbangan. vertigo dan tinitus. FISIOLOGI Fungsinya meneruskan impuls listrik yang membawa informasi dari telinga tengah menuju syaraf pendengaran. Perilimfe lebih kaya natrium daripad kalium. Dilihat dari posisi anatomis. Posisi labirin dibagian superior menyentuh pada vestibularis sedangkan dibagian inferior menyentuh pada koklearis. maka dari itu gangguan pada labirin tersebut merupakan gangguan perseptif yang dapat mengakibatkan ketulian permanen. . Biasanya mikroorganisme Stapillococcus. ETIOLOGI Karen labirinitis merupakn hasil dari OMK dan OMK berasal dari OMA maka kita dapat mengklutur jaringan untuk mengetahui mikroorganisme apa yang meninfeksi. PENGERTIAN Labirinitis adalah suatu radang atau inflamasi yang disebabkan oleh karena infeksi akibat penjalaran dari otitis media kronis. Terutama otitis media yang menimbulkan tanda adanya kolestatum.ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN LABIRINITIS ANATOMI Labirin membentuk suatu rongga yang didalamnya berisi endolimfe yang diluarnya terdapat perilimfe. Endolimfe lebih kaya kalium daripada natrium.

relaksasi. medikasi  Lebih banyak diatasa tempat tidur  Gerakan bahasa isyarat  Penggunaan imunomodulasi (dapat dilihat cara tidur. tomat)  Mendatangkan orang lain . pemberian antioksidan.DIAGNOSA KEPERAWATAN  Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b/d zat kinin meningkat  Resiko injuri b/d vestibularis defect  Gangguan komunikasi b/d kokhlear defect  Resiko perluasan infeksi b/d Th menurun  Gangguan interaksi sosial  Thermogulasi b/d prostaglandin meningkat INTERVENSI  Dilakukan distraksi. suasana lingk jus apokat.

B.Kanker kepala dan leher menyebabkan 5.Bila kanker terbatas pada pita suara (intrinsik) menyebar dengan lambat.Pita suara miskin akan pembuluh limfe sehingga tidak terjadi metastase kearah kelenjar limfe. epiglotis dan sinus piriformis (Glotis : tumor pada korda vokalis . Stridor terjadi akibat sumbatan jalan . bekerja dengan debu serbuk kayu.Rasa tidak enak ditenggorok. Kebanyakan pada orang laki-laki.Tumor pita suara yang sejati terjadi lebih dini biasanya pada waktu pita suara masih dapat digerakan. tidak sembuhsembuh walaupun penderita sudah menjalani pengobatan pada daerah glotis dan subglotis. Sesak napas tidak timbul mendadak tetapi perlahan-lahan.KARSINOMA LARING A. Karena itu penderita dapat beradaptasi. logam berat. Bagaimana terjadinya belum diketahui secara pasti oleh para ahli. sehingga baru merasakan sesak bila tumor sudah besar (terlambat berobat).Hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan merokok. sebelum mengenai pita suara sehingga mengakibatkan suara serak. tidak disertai oleh gejala sistemik seperti demam. C.Bila kanker melibatkan epiglotis (ekstrinsik) metastase lebih umum terjadi. Tidak seperti suara serak laringitis. aritenoid. seperti ada sesuatu yang tersangkut. Gambaran klinik Paling dini adalah berupa suara parau atau serak kronik. Pada fase lanjut dapat disertai rasa sakit untuk menelan atau berbicara. kimia toksik atau serbuk.5% dari semua penyakit keganasan. Subglotis : tumor dibawah korda vokalis). Patofisiologi Karsinoma laring banyak dijumpai pada usia lanjut diatas 40 tahun. Pengertian Secara anatomi tumor laring dibagi atas tiga bagian yaitu supra glotik.Tumor supraglotis dan subglotis harus cukup besar. tumor pada plika ventrikularis.Sesak napas terjadi bila rima glotis tertutup atau hampir tertutup tumor 80%.Terutama neoplasma laringeal 95% adalah karsinoma sel skuamosa.

E. F. Darah lengkap.scan tulang. sebaiknya penderita segera dirujuk. Laringografi dapat dilakukan dengan kontras untuk pemeriksaan pembuluh darah dan pembuluh limfe. tetapi jarang dapat . diderita orang dewasa atau tua. T3 N1 Mo IV : T4 No Mo. Diagnostic studies Pemeriksaan laring dengan kaca laring atau laringoskopi langsung dapat menunjukkan tumor dengan jelas. semua T N2 M1.Tempat yang sering timbul tumor dapat dilihat pada gambar. menyebabkan pembengkakan laring. Stadium : I : T1 No Mo II : T2 No Mo III : T3 No Mo. semua T semua N dan M.. untuk mengidentifikasi kemungkinan metastase. rasa sakit bila menelan dan penjalaran rasa sakit kearah telinga. khususnya dengan keluhan suara parau lebih dari dua minggu yang dengan pengobatan tidak sembuh. T2 N1 Mo. dapat menyatakan anemi yang merupakan masalah umum. Stadium Tergantung keadaan tumor (T).Gigi yang berlubang.Radiasi diberikan pada stadium 1 dan 4.Pengobatan dipilih berdasar stadiumnya.Apabila dijumpai kasus dengan jelas diatas.napas. Medical Managament Pada kasus karsinoma laring dapat dilakukan pengobatan dengan radiasi dan pengangkatan laring (Laringektomi).Bila sudah dijumpai pembesaran kelenjar berarti tumor sudah masuk dalam stadium lanjut. dan metastasis jauh ( M ). sebaiknya dicabut pada saat yang sama. D.Sinar X dada.Bahkan kadang-kadang tumornya dapat teraba. pembesaran kelenjar regional ( N ).Alasannya mempunyai keuntungan dapat mempertahankan suara yang normal. Bila tumor laring mengadakan perluasan ke arah faring akan timbul gejala disfagia. Kemudian laring diperiksa dengan anestesi umum dan dilakukan biopsi pada tumor.

menyembuhkan tumor yang sudah lanjut. tetapi dengan prognosis yang lebih buruk. Bila ada kemungkinan kanker termasuk pita suara satu benar dan satu salah.Bagian ini diangkat sepanjang kartilago aritenoid dan setengah kartilago tiroid. Penderita dengan tumor laring yang besar disertai dengan pembesaran kelenjar limfe leher. pengobatan terbaik adalah laringektomi total dan diseksi radikal kelenjar leher. Hemilaringektomi atau vertikal.Laringektomi diklasifikasikan kedalam : 1. memerlukan pengangkatan laring. Jika tumor belum menyebar kedaerah supraglotik atau subglotik. Suara pasien masih utuh atau tetap normal. Laringektomi supraglotis atau horisontal.2-3 cincin trakea. 3. dan otot penghubung ke laring. 4.Fiksasi pita suara menunjukkan penyebaran sudah mencapai lapisan otot. tulang hihoid.Mengakibatkan kehilangan suara dan sebuah lubang ( stoma ) trakeostomi yang . kartilago krikoid. lesi ini masih dapat diobati dengan radioterapi. Laringektomi total. Setelah sembuh dari pembedahan suara pasien akan parau.Kasus yang ideal adalah pada tumor yang terbatas pada satu pita suara. dan masih mudah digerakkan. Sembilan dari sepuluh penderita dengan keadaan yang demikian dapat sembuh sempurna dengan radioterapi serta dapat dipertahankannya suara yang normal. Ini dilakukan pada jenis tumor supra dan subglotik. Kanker tahap lanjut yang melibatkan sebagian besar laring.Pada penderita ini kemungkinan sembuh tidak begitu besar. Tumor yang terbatas pada pengangkatan hanya satu pita suara dan trakeotomi sementara yang di lakukan untuk mempertahankan jalan napas.Dalam hal ini masuk stadium 2 dan 3. hanya satu diantara tiga penderita akan sembuh sempurna. 2. dilakukan diseksi leher radikal dan trakeotomi.lebih-lebih jika sudah terdapat pembesaran kelenjar leher.Trakeostomi sementara dilakukan dan suara pasien akan parau setelah pembedahan.Oleh karena itu radioterapi sebaiknya dipergunakan untuk penderita dengan lesi yang kecil saja tanpa pembesaran kelenjar leher.Karena epiglotis diangkat maka resiko aspirasi akibat makanan peroral meningkat. Bila tumor berada pada epiglotis atau pita suara yang salah. Laringektomi parsial.

saraf spinal asesorius.Untuk latihan berbicara dengan esofagus perlu bantuan seorang binawicara. terjadi atau berulangnya kanker. mudah tersedak. kebersihan gigi buruk. INTEGRITAS EGO Gejala : Perasaan takut akan kehilangan suara.Suatu sayatan radikal telah dilakukan dileher pada jenis laringektomi ini. .Operasi ini akan membuat penderita tidak dapat bersuara atau berbicara. Tetapi kasus yang dermikian dapat diatasi dengan mengajarkan pada mereka berbicara menggunakan esofagus (Esofageal speech). 1990). Inflamasi atau drainase oral. Dasar data pengkajian keperawatan Data pre dan posoperasi tergantung pada tipe kusus atau lokasi proses kanker dan koplikasi yang ada. G. MAKANAN ATAU CAIRAN Gejala :Kesulitan menelan.mati. kelenjar limfe di leher. kelenjar salifa submandibular dan sebagian kecil kelenjar parotis (Sawyer. Pembengkakan lidah dan gangguan gag reflek. sakit tenggorok yang menetap.Hal ini meliputi pengangkatan pembuluh limfatik. dikarenakan trakea tidak lagi berhubungan dengan saluran udara – pencernaan.permanen. Kebutuhan bantuan perawatan dasar. Kuatir bila pembedahan mempengaruhi hubungan keluarga. depresi. otot sternokleidomastoideus. Tanda : Ansietas. vena jugularis interna. luka. HIGIENE Tanda : kemunduran kebersihan gigi. kemampuan kerja dan keuangan. sakit menelan. marah dan menolak operasi. Tanda : Kesulitan menelan.Bengkak. meskipun kualitasnya tidak sebaik bila penderita berbicara dengan menggunakan organ laring. Dalam hal ini tidak ada bahaya aspirasi makanan peroral.

kemungkinan metastase). dan bergabung dalam interaksi sosial. Pascaoperasi : Sakit tenggorok atau mulut (nyeri biasanya tidak dilaporkan kecuali nyeri yang berat menyertai pembedahan kepala dan leher.dan menolak orang lain untuk memberikan perawatan atau terlibat dalam rehabilitasi. bicara kacau. enggan untuk bicara. nyeri wajah dan gangguan tonus otot. Bekerja dengan debu serbuk kayu.NEUROSENSORI Gejala : Diplopia (penglihatan ganda). nyeri lokal pada orofaring. Kerusakan membran mukosa. gelisah. ketulian. Parau menetap atau kehilangan suara (gejala dominan dan dini kanker laring intrinsik). dispnoe ( lanjut ). Tanda : Perilaku berhati-hati. Penyebaran nyeri ke telinga. PERNAPASAN Gejala : Riwayat merokok atau mengunyah tembakau. Nyeri atau rasa terbakar dengan pembengkakan (kususnya dengan cairan panas). . KEAMANAN Gejala : Terpajan sinar matahari berlebihan selama periode bertahun-tahun atau radiasi.Perubahan penglihatan atau pendengaran.perubahan tinggi suara. dibandingkan dengan nyeri sebelum pembedahan). kimia toksik atau serbuk. Tanda : Sputum dengan darah. hemoptisis. Tanda : Hemiparesis wajah (keterlibatan parotid dan submandibular). INTERAKSI SOSIAL Gejala : masalah tentang kemampuan berkomunikasi. NYERI ATAU KENYAMANAN Gejala : Sakit tenggorok kronis. benjolan pada tenggorok. dan stridor. Tanda : Parau menetap. Tanda : Massa atau pembesaran nodul. Batuk dengan atau tanpa sputum. Kesulitan menelan. Riwayat penyakit paru kronik. Drainase darah pada nasal. nyeri wajah (tahap akhir. dan logam berat.

.

mungkin ruangan penyakit dalam atau ruangan bedah.Rasional pengetahuan tentang apa yang diperkirakan membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kerjasama pasien. Jika laringektomi total akan dilakukan. Goal : Cemas berkurang atau hilang. konsultasikan dulu dengan pasien dan dokter untuk mendapatkan kunjungan dari anggota klub laringektomi. termasuk tes laboratorium praoperasi.obat-obatan posoperasi. Informasikan pada klien obat nyeri tersedia bila diperlukan untuk mengontrol nyeri.H. 3. merasa tidak mampu. 2. Prioritas keperawatan pre dan post operasi PREOPERASI 1. Rencana Tindakan : 1. mengungkapkan kurang mengerti dan gelisah. mengungkapkan mengerti tentang pre dan posoprasi. melaporkan berkurangnya cemas dan takut. Izinkan pasien untuk mengetahui keadaan pascaoperasi : satu atau dua hari akan dirawat di UPI sebelum kembali ke ruangan semula.Rasional mengetahui apa yang diharapkan dan melihat hasil yang sukses membantu menurunkan kecemasan dan memungkinkan pasien berpikir realistik.obat-obatan praoperasi.Atur waktu untuk berdiskusi dengan terapi tentang alternatif metoda-metoda untuk rehabilitasi suara. Kriteria Hasil : Mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara terbuka. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pra dan pascaoperasi dan takut akan kecacatan. alasan status puasa. Batasan Karakteristik : Mengungkapkan keluhan khusus.Mungkin saja . tinggal di ruang pemulihan. secara verbal mengemukakan menyadari terhadap apa yang diinginkannya yaitu menyesuaikan diri terhadap perubahan fisiknya. persiapan kulit. meminta informasi. dan program paskaoprasi. menolak operasi. Jelaskan apa yang terjadi selama periode praoperasi dan pascaoperasi.

batukan dan menelan kembali untuk memastikan tidak ada makanan yang tertinggal di tenggorok. 4. untuk pemberian oksigen yang telah dilembabkan atau memberikan udara dengan tekanan tertentu.akan dipasang NGT. letakan porsi kecil makanan di bagian belakang dekat tenggorok. Rasional pengetahuan tentang apa yang diharapkan dari intervensi bedah membantu menurunkan kecemasan dan memungkinkan pasien untuk memikirkan tujuan yang realistik. Pemberian makan per sonde diperlukan sampai beberapa minggu setelah pulang hingga insisi luka sembuh dan mampu untuk menelan (jika operasi secara radikal di leher dilaksanakan). Belajar bagaimana beradaptasi dengan perubahan fisiologik dapat menjadikan frustrasi dan menyebabkan ansietas. menelan dengan menggunakan gerakan menelan. ajarkan pasien dan latih cara-cara menelan sebagai berikut: Ketika makan duduk dan tegak lurus ke depan dengan kepala fleksi. aspirasi karena makanan per oral merupakan komplikasi yang paling sering terjadi.Manset trakeostomi atau selang T akan terpasang di jalan napas buatan.Alat bantu jalan napas buatan (seperti trakeostomi atau selang laringektomi) mungkin akan terpasang hingga pembengkakan dapat diatasi. Rasional karena epiglotis sudah diangkat pada jenis laringektomi seperti ini.Berlatih secara terus – menerus dapat membantu mempermudah perubahan tersebut belajar dan beradaptasi terhadap . tarik napas panjang dan tahan (ini akan mendorong pita suara bersamaan dengan menutupnya jalan masuk ke trakea). Jika akan dilakukan laringektomi horizontal atau supraglotik laringektomi.

Proses penyakit atau prognosis dan program terapi dapat dipahami. Ventilasi atau oksigenasi adekuat untuk kebutuhan individu. 3. Membuat atau mempertahankan nutrisi adekuat. Komplikasi tercegah atau minimal. Membantu pasien dalam mengembangkan metode komunikasi alternatif. Menolak operasi berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur pre dan paskaoperasi. Anjurkan keluarga untuk memberikan suport seperti dukungan spiritual. Memulai untuk mengatasi gambaran diri. Kriteria hasil : Mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara terbuka. 5. Direncanakan tindakan sesuai diagnosa keperawatan no. 4. kecemasan. 3. Goal : Klien akan bersedia dioperasi. Komunikasi dengan efektif. Memberikan informasi tentang proses penyakit atau prognosis dan pengobatan. mengatakan mengerti pre dan posoperasi. Memberikan dukungan emosi untuk penerimaan gambaran diri yang terganggu. Kaji faktor-faktor yang menyebabkan klien menolak untuk dioperasi. Mempertahankan jalan napas tetap terbuka. . 5.menanyakan informasi tentang persiapan pre dan prosedur posoperasi. mengatakan berkurangnya kecemasan. 6. 2. Rencana tindakan : 1.1. klien dioperasi. Memperbaiki atau mempertahankan integritas kulit. TUJUAN PEMULANGAN 1. 2.2. ketakutan akan kecacatan dan ancaman kematian. 4. ventilasi adekuat. 3. Karakteristik data : kurang kerjasama dan menolak untuk dioperasi. POST OPERASI 1. 2.

Hisap selang laringektomi atau trakeotomi. Selidiki kegelisahan. warna dan konsistensi sekret. Rencana tindakan : Mandiri 1.DIAGNOSA KEPERAWATAN I. 2. dan sianosis. Catatan : menelan terganggu bila epiglotis diangkat atau edema paskaoperasi bermakna dan nyeri terjadi. kerja pernapasan dan ekspansi paru. tidak sesak. dispnea.mengi. Catat jumlah.diduga adanya retensi sekret.penggunaan otot aksesori pernapasan. oral dan rongga nasal. Tinggikan kepala 30-45 derajat. Rasional mencegah sekresi menyumbat jalan napas. perubahan pada frekwensi atau kedalaman pernapasan. Batasan karakteristik : sulit bernapas. Kriteria hasil : bunyi napas bersih dan jelas. gangguan kemampuan untuk bernapas. Rasional memudahkan drainase sekret. adanya ronki. Ubah posisi pasien untuk memeriksa adanya pengumpulan darah dibelakang leher atau balutan posterior.sianosis. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis. Goal : Klien akan mempertahankan jalan napas tetap terbuka. Observasi jaringan sekitar selang terhadap adanya perdarahan.frekwensi napas normal. batuk dan menelan. Awasi frekwensi atau kedalaman pernapasan.Auskultasi bunyi napas. 5. Rasional perubahan pada pernapasan. khususnya bila kemampuan menelan terganggu dan pasien tidak dapat meniup lewat hidung.Rasional sedikit jumlah 164 . Rasional memobilisasi sekret untuk membersihkan jalan napas dan membantu mencegah komplikasi pernapasan. bunyi napas tidak normal. tidak sianosis. Dorong batuk efektif dan napas dalam. 6. Dorong menelan bila pasien mampu. serta sekresi banyak dan kental. Rasional mencegah pengumpulan sekret oral menurunkan resiko aspirasi. 3. 4.

perembesan mungkin terjadi. Namun perdarahan terus-menerus atau
timbulnya

perdarahan

tiba-tiba

yang

tidak

terkontrol

dan

menunjukkan sulit bernapas secara tiba-tiba.
7.

Ganti selang atau kanul sesuai indikasi. Rasional mencegah
akumulasi sekret dan perlengketan mukosa tebal dari obstruksi jalan
napas. Catatan : ini penyebab umum distres pernapasan atau henti
napas pada paskaoperasi.

KOLABORASI
8.

Berikan humidifikasi tambahan, contoh tekanan udara atau oksigen
dan peningkatan masukan cairan.Rasional fisiologi normal ( hidung)
berarti menyaring atau melembabkan udara yang lewat.Tambahan
kelembaban menurunkan mengerasnya mukosa dan memudahkan
batuk atau penghisapan sekret melalui stoma.

9.

Awasi seri GDA atau nadi oksimetri, foto dada. Rasional
pengumpulan sekret atau adanya ateletaksis dapat menimbulkan
pneumonia yang memerlukan tindakan terapi lebih agresif.

II. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi
(pengangkatan batang suara) dan hambatan fisik (selang trakeostomi).
Karakteristik data :Ketidakmampuan berbicara, perubahan pada
karakteristik suara.
Goal : Komunikasi klien akan efektif .
Kriteria hasil : Mengidentifikasi atau merencanakan pilihan metode
berbicara yang tepat setelah sembuh.
Rencana tindakan :
Mandiri
1.

Kaji atau diskusikan praoperasi mengapa bicara dan bernapas
terganggu,gunakan gambaran anatomik atau model untuk membantu
penjelasan.Rasional untuk mengurangi rasa takut pada klien.

2.

Tentukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi lain
seperti pendengaran dan penglihatan.Rasional adanya masalah lain
mempengaruhi rencana untuk pilihan komunikasi.

164

3.

Berikan pilihan cara komunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien
misalnya papan dan pensil, papan alfabet atau gambar, dan bahasa
isyarat.Rasional

memungkingkan

pasien

untuk

menyatakan

kebutuhan atau masalah. Catatan : posisi IV pada tangan atau
pergelangan dapat membatasi kemampuan untuk menulis atau
membuat tanda.
4.

Berikan waktu yang cukup untuk komunikasi.Rasional kehilangan
bicara dan stres menganggu komunikasi dan menyebabkan frustrasi
dan hambatan ekspresi, khususnya bila perawat terlihat terlalu sibuk
atau bekerja.

5.

Berikan komunikasi non verbal, contoh sentuhan dan gerak fisik.
Rasional mengkomunikasikan masalah dan memenuhi kebutuhan
kontak dengan orang lain.

6.

Dorong komunikasi terus-menerus dengan dunia luar contoh
koran,TV, radio dan kalender. Rasional mempertahankan kontak
dengan pola hidup normal dan melanjutkan komunikasi dengan cara
lain.

7.

Beritahu kehilangan bicara sementara setelah laringektomi sebagian
dan atau tergantung pada tersedianya alat bantu suara. Rasional
memberikan dorongan dan harapan untuk masa depan dengan
memikirkan pilihan arti komunikasi dan bicara tersedia dmungkin.

8.

Ingatkan pasien untuk tidak bersuara sampai dokter memberi
izin.Rasional meningkatkan penyembuhan pita suara dan membatasi
potensi disfungsi pita permanen.

9.

Atur pertemuan dengan orang lain yang mempunyai pengalaman
prosedur ini dengan tepat. Rasional memberikan model peran,
meningkatkan motivasi untuk pemecahan masalah dan mempelajari
cara baru untuk berkomunikasi.

164

KOLABORASI
10. Konsul dengan anggota tim kesehatan yang tepat atau terapis atau
agen rehabilitasi (contoh patologis wicara, pelayanan sosial,
kelompok laringektomi) selama rehabilitasi dasar dirumah sakit
sesuai sumber komunikasi (bila ada). Rasional Kemampuan untuk
menggunakan pilihan suara dan metode bicara (contoh bicara
esofageal) sangat bervariasi, tergantung pada luasnya prosedur
pembedahan, usia pasien, dan motivasi untuk kembali ke hidup aktif.
Waktu rehabilitasi memerlukan waktu panjang dan memerlukan
sumber dukungan untuk proses belajar.
III. Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan bedah
pengangkatan, radiasi atau agen kemoterapi, gangguan sirkulasi atau
suplai darah,pembentukan udema dan pengumpulan atau drainase sekret
terus-menerus.
Karakteristik data : kerusakan permukaan kulit atau jaringan,
kerusakan lapisan kulit atau jaringan.
Goal : Menunjukkan waktu penyembuhan yang tepat tanpa komplikasi.
Kriteria hasil : integritas jaringan dan kulit sembuh tanpa komplikasi
Rencana tindakan :
1.

Kaji warna kulit, suhu dan pengisian kapiler pada area operasi dan
tandur kulit.Rasional kulit harus berwarna merah muda atau mirip
dengan warna kulit sekitarnya. Sianosis dan pengisian lambat dapat
menunjukkan kongesti vena, yang dapat menimbulkan iskemia atau
nekrosis jaringan.

2.

Pertahankan kepala tempat tidur 30-45 derajat. Awasi edema wajah
(biasanya meningkat pada hari ketiga-kelima pascaoperasi).Rasional
meminimalkan

kongesti

jaringan

paskaoperasi

dan

edema

sehubungan dengan eksisi saluran limfe.
3.

Lindungi lembaran kulit dan jahitan dari tegangan atau tekanan.
Berkan bantal atau gulungan dan anjurkan pasien untuk menyokong
kepala atau leher selama aktivitas. Rasional tekanan dari selang dan

164

Bersihkan insisi dengan cairan garam faal steril dan peroksida (campuran 1 : 1) setelah balutan diangkat.Rasional drainase berdarah biasanya tetap sedikit setelah 24 jam pertama. merusak tepi kulit.Kebocoran ini dapat sembuh spontan atau memerlukan penutupan bedah. Rasional balutan basah meningkatkan resiko kerusakan jaringan atau infeksi. yang dapat menjebak drainase purulen. 8. 6. Ganti balutan sesuai indikasi bila digunakan.plester trakeostomi atau tegangan pada jahitan dapat menggangu sirkulasi atau menyebabkan cedera jaringan. Catatan : balutan tekan tidak digunakan diatas lembaran kulit karena suplai darah mudah dipengaruhi. 164 . 5. jahitan dan drein. Awasi drainase berdarah dari sisi operasi. Rasional mempertahankan area bersih meningkatkan penyembuhan dan kenyamanan.Tunjukkan pada pasien bagaimana melakukan perawatan stoma atau selang sendiri dalam membersihkan dengan air bersih dan peroksida. menggunakan kain bukan tisu atau katun. Rasional drainase seperti susu menunjukkan kebocoran duktus limfe torakal (dapat menyebabkan kekurangan cairan tubuh dan elektrolit). 7. dan meningkatkan ukuran luka. Peroksida tidak banyak digunakan karena dapat membakar tepi dan menggangu penyembuhan. Catat atau laporkan adanya drainase seperti susu. Rasional mencegah pembetukan kerak .Bahan lain selain kain dapat meninggalkan serat pada stoma yang dapat mengiritasi atau terhisap ke paru. 4. Perdarahan terus-menerus menunjukkan masalah yang memerlukan perhatian medik. Bersihka sekitar stoma dan selang bila dipasang serta hindari sabun dan alkohol. Sabun dan agen kering lainnya dapat menimbulkan iritasi stoma dan kemungkinan inflamasi.

Rasional mencegah atau mengontrol infeksi. Rasional pembedahan meliputi reseksi parsial dari lidah. 2. serta potensial hemoragi. saliva kental atau banyak. platum lunak. Pembedahan dapat mengankat bagian bibir mengakibatkan pengaliran saliva tidak terkontrol. topikal dan IV sesuai indikasi. ketidaknyamanan mulut. kebersihan oral tidak adekuat.bibir inflamasi. geligi dan gusi serta membran mukosa. lidah normal. Pasien akan mengalami penurunan sensasi dan gerakan lidah. bibir. penurunan produksi saliva. Berikan antibiotik oral. bersih dan tidak pecah. tidak ada gigi. Karakteristik data : Xerostomia ( mulut kering ). Goal : menunjukkan membran mukosa oral baik atau integritas membran mukosa baik.pecah dan kotor. kanker oral. Penumpukan dan pengaliran saliva dapat terjadi karena penurunan kemampuan menelan atau nyeri tenggorok dan mulut. penurunan produksi saliva sekunder terhadap radiasi atau prosedur pembedahan dan defisit nutrisi.KOLABORASI 9. Membran mukosa 164 . Geligi mungkin tidak utuh ( pembedahan ) atau mungkin kondisinya buruk karena malnutrisi dan terapi kimia. Rencana tindakan : Mandiri 1. dengan kesulitan menelan dan peningkatan resiko aspirasi sekresi. Perhatikan perubahan pada lidah. Perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan dehidrasi. riwayat lama dari merokok atau mengunyah tembakau atau terapi kimia. IV. Gusi juga dapat terinflamasi karena higiene yang buruk. Inspeksi rongga oral dan perhatikan perubahan pada saliva. Kriteria Hasil : mulut lembab atau tidak kering. mulut terasa segar. dan faring. tidak ada tanda inflamasi pada bibir. mengakibatkan mulut kering.Rasional kerusakan pada kelenjar saliva dapat menurunkan produksi saliva. lidah kering.

Tunjukkan selama pada aktivitas. Biarkan pasien melakukan pengisapan sendiri bila mungkin atau menggunakan kasa untuk mengalirkan sekresi. perilaku berhatihati. ulserasi. perilaku distraksi. Sokong kepala pasienbagaimana dan leher menyokong dengan leher bantal. Rasional menelan menyebabkan aktivitas otot yang dapat menimbulkan nyeri karena 164 . Tunjukkan pasien bagaimana menyikat bagian dalam mulut. Karakteristik data : Ketidaknyamanan pada area bedah atau nyeri karena menelan.Rasional kelemahan otot diakibatkan oleh reseksi otot dan saraf pada struktur leher dan atau bahu. berikan irigasi oral sesuai indikasi. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah. Berikan pelumas pada bibir. Rencana tindakan : 1. Rasional mengatasi efek kekeringan dari tindakan terapeutik. Goal : Nyeri klien akan berkurang atau hilang. 4. platum. lidah dan geligi dengan sering.eritema. Dorong pasien untuk mengeluarkan saliva atau penghisap mulut dengan hati-hati bila tidak mampu menelan. 5. meningkatkan penyembuhan jaringan dan kenyamanan. Kriteria hasil : klien mengatakan nyeri hilang. rileks dan ekpresi wajah ceria. 3. Hisapan rongga oral secara perlahan atau sering. nyeri wajah. V.adanya selang nasogastrik atau orogastrik. tidak gelisah. menghilangkan sifat erosif dari sekresi.dan edema. Karena pengalirannya konstan.mungkin sangat kering. Rasional menurunkan bakteri dan resiko infeksi. Rasional saliva mengandung enzim pencernaan yang mungkin bersifat erosif pada jaringan yang terpajan. gelisah. pasien dapat meningkatkan kenyamanan sendiri dan meningkatkan higiene oral. Kurang sokongan meningkatkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan cedera pada area jahitan. 2. pembengkakan jaringan.

laporan gangguan sensasi pengecap. Selidiki perubahan karakteristik nyeri.Rasional dapat menunjukkan terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi lanjut atau intervensi. menunjukkan peningkatan BB dan penyembuhan jaringan atau insisi sesuai waktunya. rasa. Kolaborasi dengan pemberian analgesik. penurunan berat badan. 4. kurang tertarik pada makanan. ASA. Rasional alat menentukan adanya nyeri dan keefektifan obat. jahitan tenggorok untuk trauma baru. Catat indikator non verbal dan respon automatik terhadap nyeri. periksa mulut. Karakteristik data: tidak adekuatnya masukanmakanan. dapat menurunkan kebutuhan analgesik dan meningkatkan penyembuhan.Diharapkan dapat menurunkan atau menghilangkan nyeri. bimbingan imajinasi. 164 . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan jenis masukan makanan sementara atau permanen. 5. dan bau karena perubahan pembedahan atau struktur. Goal : Klien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat. radiasi atau kemoterapi.edema atau regangan jahitan. contoh teknik relaksasi. Rasional meningkatkan rasa sehat. menolak makan. Rasional derajat nyeri sehubungan dengan luas dan dampak psikologi pembedahan sesuai dengan kondisi tubuh. dan Darvon sesuai indikasi. Evaluasi efek analgesik. Anjurkan penggunaan perilaku manajemen stres. gangguan mekanisme umpan balik keinginan makan. kelemahan otot yang diperlukan untuk menelan atau mengunyah. ketidakmampuan mencerna makanan. 6. VI.Jaringan terinflamasi dan kongesti dapat dengan mudah mengalami trauma dengan penghisapan kateter dan selang makanan. 3. contoh codein. Kriteria hasil : Membuat pilihan diit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi individu.

Awalnya selang digabungkan dengan penghisap untuk menurunkan mual dan muntah. seperti lemak dan gula atau memberikan makanan yang disediakan pasien. Mulai dengan makanan kecil dan tingkatkan sesuai dengan toleransi. Catat diare. Rasional macam-macam jenis makanan dapat dibuat untuk tambahan atau batasan faktor tertentu.Rasional tanda kepenuhan kandungan makanan gaster. dapat regurgitasi dan mengakibatkab ketidaktoleransian GI. Rasional makan dimulai hanya setelah bunyi usus membik setelah operasi. 2. Rasional selang dimasukan pada pembedahan dan biasanya dijahit. Yakinkan pasien dan orang terdekat mampu melakukan prosedur ini sebelum pulang Rasional dan bahwa makanan tepat dan alat tersedia di rumah. membantu meningkatkan keberhasilan nutrisi dan mempertahankan martabat orang dewasa yang saat ini terpaksa tergantung pada orang lain untuk kebutuhan sangat mendasar pada penyediaan makanan. Auskultasi bunyi usus. Berikan diet nutrisi seimbang (misalnya semikental atau makanan halus) atau makanan selang (contoh makanan dihancurkan atau sediaan yang dijual) sesuai indikasi. 3. Ajarkan pasien atau orang terdekat teknik makan sendiri. 5.Rencana tindakan : 1. 4. contoh ujung spuit. contoh periksa letak selang : dengan mendorongkan air hangat sesuai indikasi. menghancurkan makanan bila pasien akan pulang dengan selang makanan. Dorongan air untuk mempertahankan kepatenan selang. 164 . kantong dan metode corong. memerlukan perubahan pada kecepatan atau tipe formula. Pertahankan selang makan.

perubahan dalam keterlibatan sosial. 3. Catat reaksi emosi. perilaku negatif atau bicara sendiri.Rasional alat dalam mengidentifikasi atau mengartikan masalah untuk memfokuskan perhatian dan intervensi secara konstruktif. Rasional pasien dapat mengalami depresi cepat setelah pembedahan atau reaksi syok dan menyangkal. Kolaboratif 164 . Rasional dapat menunjukkan depresi atau keputusasaan.VII. bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positip yang akan membaik.Berkomunikasi dengan orang terdekat tentang perubahan peran yang telah terjadi. Berpartisipasi dalam tim sebagai upaya melaksanakan rehabilitasi.perubahan anatomi wajah dan leher. Catat bahasa tubuh non verbal. Rencana tindakan : 1. kurang kontak mata. Kriteria hasil : menunjukkan adaptasi awal terhadap perubahan tubuh sebagai bukti dengan partisipasi aktivitas perawatan diri dan interaksi positip dengan orang lain. depresi. Susun batasan pada perilaku maladaptif. depresi. 4. Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara. Rasional penolakan dapat mengakibatkan penurunan harga diri dan mempengaruhi penerimaan gambaran diri yang baru. contoh kehilangan. kebutuhan untuk pengkajian lanjut atau intervensi lebih intensif. Goal : Mengidentifikasi perasaan dan metode koping untuk persepsi negatif pada diri sendiri. marah.Mulai mengembangkan rencana untuk perubahan pola hidup. Diskusikan arti kehilangan atau perubahan dengan pasien. 2. Karakteristik data :perasaan negatif tentang citra diri. Penerimaan perubahan tidak dapat dipaksakan dan proses kehilangan membutuhkan waktu untuk membaik. ansietas. Kaji pengrusakan diri atau perilaku bunuh diri. identifikasi persepsi situasi atau harapan yang akan datang.

contoh ahli terapi psikologis.dengan merujuk pasien atau orang terdekat ke sumber pendukung. konseling keluarga. Keluarga memerlukan bantuan dalam pemahaman proses yang pasien lalui dan membantu mereka dalam emosi mereka. pekerja sosial. Rasional pendekatan menyeluruh diperlukan untuk membantu pasien menghadapi rehabilitasi dan kesehatan. Tujuannya adalah memampukan mereka untuk melawan kecendrungan untuk menolak dari atau isolasi pasien 164 .

STANDARD ASUHAN PASIEN DENGAN OPERASI KATARAK . katarak senilis ( usia > 65 tahun) Transparansi lensa rusak akibat luka atau tertumbuk  katarak traumatik ( Zat kimia dinitrophenol. Terjadi pada setengah dari orang berusia > 65 tahun. lateral. pewarna rambut dll. phenothiazine Rokok dan konsumsi alcohol  5. Etiologi: Lensa mata kabur atau berawan  1. toxin. Akibat penyakit mata/penyakit sistemik lainnya  katarak sekunder ( DM. meningkatkan resiko katarak Patofisiologi : Usia. congenital 3. Defenisi: suatu kekaburan dari lensa-lensa mata. galaktosemia ) 4. Penglihatan menjadi kabur sampai buta. Fokus dari cahaya pada retina) Gambaran klinis:  secara bertahap penglihatan menurun 164 . penyakit mata/sistemik Lensa kabur/gelap/menebal/tidak transparan (bilateral. trauma. naphthalene. Terapi korticosteroid sistemik.) Terjadi pada saat lahir  Katarak 2. area tertentu pada lensa biasanya bagian tengah secara perlahan-lahan akibat Produksi fiber terus menerus dan fiber yang lama terdorong ke pusat lensa. chemotherapy cancer.

kurangnya cairan vitreus.  Silau pada malam hari atau pada saat cahaya terang  Penglihatan kabur  Penglihatan tepi lebih dulu hilang dari pada penglihatan sentral  Lihat dekat membaik B. perdarahan 2. Kurang pengetahuan tentang kondisi. lingkaran disekitar cahaya  Kemampuan membedakan warna menurun  tiba-tiba penglihatan menurun Asuhan Keperawatan : Pengkajian. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuli. 1. kemungkinan hilang penglihatan 4. berkumpul atau berjajar pada bagian belakang retina. Katarak awal  Kekaburan kadang tidak bisa di tes dengan mata telanjang hanya terlihat dengan opthalmoscope seperti bintik-bintik gelap.  Namak langsung pupil berawan dan putih. Katarak lanjut. Gangguan sensori persepsi : lihat berhubungan dengan terganggunya resepsi dan transmisi sensori 3. buta total  Afakia dengan koreksi gunakan kaca mata  lensa tebal  Afakia dengan gunakan kontak lensa koreksi  Afakia dengan lensa koreksi yang ditanamkan Diagnosa Keperawatan. A. perawatan diri di rumah berhubungan dengan kurang terpapar terhadap sumber informasi 164 . Takut/Cemas berhubungan dengan prosedur pembedahan. Silau. perawatan pre dan post operasi.

Rendahkan posisi tempat tidur dan pakai pengaman tempat tidur/rel disebelah kanan tempat tidur 3. pembatasan aktivitas. penampilan dan pembalut pada mata 2. perdarahan. Instruksikan untuk cegah bersin.5. Klien memodifikasi lingkungan agar lebih aman Intervensi 1. Beri obat mata post operasi sesuai instruksi. ubah pola hidup untuk melindungi resiko cedera dan melindungi diri dari cedera 3. Kriteria : 1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive Perencanaan : Dx. Tujuan : klien akan bebas cedera. Klien menunjukkan perilaku. Pendekatan pada pasien di bagian yang matanya tidak dioperasi 6. Observasi posisi mata agar rata dan kolaborasi terapi 164 . Instruksikan untuk pakai pelindung mata pada tidur malam atau tidur siang sampai 6 bulan post operasi 8. 1. kurangnya cairan vitreus . Beri obat batuk antimuntah jika dibutuhkan 7. batuk. muntah. Klien dapat jelaskan factor-faktor resiko menyebabkan cedera 2. ngedan dan menyentuh mata yang dioperasi 5. Diskusikan : keluhan post operasi klien : nyeri. Bantu pasien saat pertama kali coba bangun dari tempat tidur dari sisi mata yang tidak dioperasi 4. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuli. dan minta pasien tidak menekan matanya ketika diberi obat 9.

Kriteria : 1. Identifikasi/koreksi potensial kekerasan lingkungan 3. Observasi terhadap anda disorientasi: tempat tidur direndahkan 164 . Miliki kaca mata yang bisa dipakai segera setelah dioperasi 3. Mengerti kalau gangguan ringan post operasi itu pada sensori persepsi normal akan dialami beberapa saat Intervensi : Pre operasi : 1. Post operasi: 1. Kenal kerusakan sensori dan kompoensasinya untuk berubah 2. Orientasikan pasien pre operasi ke ruangan dan siapkan terhadap sensasi2 dan bunyi-bunyian yang akan didengar selama pembedahan. Jelaskan bahwa penglihatan tidak normal sampai mata sembuh dan mungkin butuh kaca mata (beberapa kasus) 3. Gangguan sensori persepsi : lihat berhubungan dengan terganggunya resepsi dan transmisi sensori Tujuan : Klien bebas gangguan sensori persepsi : lihat. Minta pasien tidak menundukkan kepala jika mengambil sesuatu tetapi dengan jongkok untuk mengambil barang dan dengan lambat 7. 2. Tolong pasien dalam aktivitas sehari-harinya 4. Ingatkan pasien bahwa persepsi dalam bisa hilang dan 50 % penglihatan perifer hilang pada mata yang dioperasi 4. Ajar klien untuk membelokkan kepala sempurna jika ingin melihat kearah mata yang dioperasi 5. Ukur kemampuan penglihatan klien dari mata yang tidak dioperasi 2.Dx. Bantu aktivitas sehari-harinya klien 6. Dekati klien pada bagian tubuh yang matanya tidak dioperasi 2.

nyeri dan prosedur pembedahan 5. perawatan dirumah Kriteria : 1. percakapan. makan perlahan-lahan 13. Jelaskan prosedur pembedahan pada pasien dan anggota keluarga. Mengatakan mengerti akan kondisi pasien dan proses penyakitnya 2. Beri bel pada tempat yang bisa dijangkau pasien 11. jawab semua pertanyaan pasien tentang bedahan ini. Makanan letakan ke piring dan anjurkan cek suhu sebelum makan. Beri kesempatan pasien mengungkapkan tentang kemungkinan penglihatan hilang 2. 3. Ingatkan pakai kaca mata katarak 10. Orientasikan pasien ke kamar dan sekitar RS 6. alatalat. 4. perawatan diri di rumah berhubungan dengan kurang terpapar terhadap sumber informasi Tujuan : Klien akan meningkat pengetahuannya tentang perawatan pre dan post operasi. perawatan pre dan post operasi. Dapat menjelaskan kembali informasi tentang pembedahan: pre. 9. 3. dan persiapan pre dan post operasi. Kaji rasa takut klien menyangkut buta. dll Dx. Pintu dibuka sempurna dan posisi fornitur tidak menutupi jalan 12. Kaji pengetahuan tentang katarak. Kurang pengetahuan tentang kondisi.8. Anjurkan aktivitas waktu luang seperti dengar radio. dll.post dan 164 . Kolaborasi dokter untuk obat-obatan Dx. Klien menyatakan perasaan cemasnya/takuitnya Intervensi: 1. Beri support dan rasa nyaman pada klien 4. keadaan post operasi. Melakukan prosedur dengan baik dan menjelaskan alasan melakukan itu 3. Klien dapat mengatakan perasaan cemasnya 2. lama prosedur operasi. Takut/cemas berhubungan dengan antisipasi pembedahan mata Tujuan : Klien dapat mengatasi rasa takutnya Kriteria : 1.

Jelaskan mengapa penglihatan berkurang terutama waktu malam hari 2. pakai sampho dengan aman. Diskusikan kemungkinan interaksi antara obat mata dan obat dari penyakit lain yang diderita pasien. Diskusi dengan dokter tentang aktivitas seksual yang perlu dimodifikasi 7.self care dirumah Intervensi: 1. batukd engan mulut atau mata terbuka 8. baca. dan cegah gerakan yang cepat 164 . Cegah obat tetes mata 5. Anjurkan ada obat mata di tangan 10. lapor kemajuan penglihatan 4. Anjurkan tidur terlentang. Ajar prosedur pre operasi rutin 3. lampu dengan cahaya secukupnya. Ajar tentang mata dan peran lensa untuk melihat. pakai kaca mata gelap di siang hari. Jelaskan pentingnya follow up rutin. dan makanan berserat 9. Anjurkan minum cukup. juga angkat yang berat  Jangan mengangkat barang berat yang lebih dari 10 lbs. Anjurkan klien tidak melakukan aktivitas ini setelah pulang kerumah. lakukan Aktivitas harian sampai mata benar-benar sembuh  Cegah melakukan aktivitas berat selama 6 minggu.  Cegah air masuk kemata  Lindungi mata dengan pelindung mata  Jangan melihat kebawah. mis hipetensi 6. nontonTV.  Naik tangga.

fossa rosenmuler (resesus faringeus). tepatnya di sebelah do sal dari cavum nasi dan dihubungkan dengan cavum nasi oleh koane. Sebagian besar kien datang ke THT dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut. Didapatkan lebih banyak pada pria dari pada wanita. 164 . Nasofaring letaknya tertinggi di antara bagian-bagian lain dari faring. Pada atap dan dinding belakang Nasofaring terdapat adenoid atau tonsila faringika. Nasofaring tidak bergerak. Carsinoma Nasofaring merupakan karsinoma yang paling banyak di THT.CARSINOMA NASOFARING Anatomi Nasofaring. Nasofaring merupakan rongga yang mempunyai batas-batas sebagai berikut : Atas : Basis kranii. Pengertian Carsinoma Nasofaring Karsinoma Nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring. torus tubarius. berfungsi dalam proses pernafasan dan ikut menentukan kualitas suara yang dihasilkan oleh laring. Bawah : Palatum mole Belakang : Vertebra servikalis Depan : Koane Lateral : Ostium tubae Eustachii. dengan perbandingan 3 : 1 pada usia / umur rata-rata 30 –50 th.

2. Faktor Virus (Virus EIPSTEIN BARR) 3.Etiologi Penyebab timbulnya Karsinoma Nasofaring masih belum jelas. Faktor lingkungan (polusi asap kayu bakar. Faktor Genetik (Banyak pada suku bangsa Tionghoa/ras mongolid). Namun banyak yang berpendapat bahwa berdasarkan penelitian-penelitian epidemiologik dan eksperimental. ada 5 faktor yang mempengaruhi yakni : 1. 4. Undiffeentiated epidermoid carcinoma = anaplastic carcinoma - Transitional - Lymphoepithelioma. Pembagian Karsinoma Nasofaring Menurut Histopatologi :    Well differentiated epidermoid carcinoma.  Endofilik : Tumbuh di bawah mukosa. atau bahan karsinogenik misalnya asap rokok dll). alkohol dll. Iritasi menahun : nasofaringitis kronis disertai rangsangan oleh asap. - Keratinizing - Non Keratinizing. Hormonal : adanya estrogen yang tinggi dalam tubuh. Adenocystic carcinoma Menurut bentuk dan cara tumbuh  Ulseratif  Eksofilik : Tumbuh keluar seperti polip. agar sedikit lebih tinggi dari jaringan sekitar (creeping tumor) Klasifikasi Histopatologi menurut WHO (1982) Tipe WHO 1 - Karsinoma sel skuamosa (KSS) 164 . 5.

N1 = Metastasis ke kelenjar getah bening pada sisi yang sama. prognosis lebih baik. T4 = Tumor menyebar ke endokranium atau mengenai syaraf otak. soliter dan berukuran kurang/sama dengan 3 cm. Tipe WHO Indonesia Cina 1 29% 35% 2 14% 23% 3 57% 42% Klasifikasi TNM Menurut UICC (1987) pembagian TNM adalah sebagai berikut : T1 = Tumor terbatas pada satu sisi nasofaring T2 = Tumor terdapat lebih dari satu bagian nasofaring. - Sering eksofilik (tumbuh dipermukaan). atau bilateral/kontralateral dengan ukuran terbesar kurang dari 6 cm. - Seperti antara lain limfoepitelioma. N3 = Metastasis ke kelenjar getah bening ukuran lebih besar dari 6 cm. Karsinoma anaplastik. “Clear Cell Carsinoma”. - Menyerupai karsinoma transisional Tipe WHO 3 - Karsinoma tanpa diferensiasi (KTD). varian sel spindel. - Lebih radiosensitif. Tipe WHO 2 - Karsinoma non keratinisasi (KNK). 164 . N2 = Metastasis pada satu kelenjar pada sisi yang sama dengan ukuran lebih dari 3 cm tetapi kurang dari 6 cm. - Paling banyak pariasinya. mobil. T3 = Tumor menyebar ke rongga hidung atau orofaring. atau multipel dengan ukuran besar kurang dari 6 cm.- Deferensiasi baik sampai sedang.

2 Sekitar tuba Eustachius. Lendir dapat bercampur darah atau nanah yang berbau. Penentuan Stadium Stadium I T1 N0 M0 Stadium II T2 N0 M0 Stadium III T3 N0 M0 T1 – 3 N1 M0 Stadium IV T4 N0 – 1 M0 Semua T N2 – 3 M0 Semua T Semua N M1 Lokasi : 1 Fossa Rosenmulleri. Epistaksis dapat sedikit atau banyak dan berulang. Obstruksio nasi unilateral atau bilateral bila tumor tumbuh secara eksofilik Gejala Telinga :  Kurang. Gejala Setempat : Gejala Hidung : Pilek dari satu atau kedua lubang hidung yang terus-menerus/kronik.M0 = Tidak ada metastasis jauh. Gejala Klinik 1.  Tinitus 164 . 4 Atap nasofaring. Dapat juga hanya berupa riak campur darah. pendengaran. M1 = Didapatkan metastasis jauh. 3 Dinding belakang nasofaring.

Bila lebih lanjut lagi akan terkena N IX. XI dan XII. tumor mendesak palatum mole sehingga terjadi “bombans palatum mole” sehingga timbul gangguan menelan/sesak. tumor tumbuh ke depan mengisi nasofaring dan menutuk koane sehingga timbul gejala obstruksi nasi/hidung buntu. 2. hidung. Bila terkena N III dan IV terjadi ptosis dan oftalmoplegi. rinolalia aperta dan suara parau. rahang bawah dan lidah. infiltratif dan metastasis. Menekan N XII : Terjadi Deviasi lidah ke samping/gangguan menelan c. a. b. terjadi Trigeminal neuralgi dengan gejala nyeri kepala hebat pada daerah muka.  Ke bawah. rahang atas. Menekan N XI : Gangguan fungsi otot sternokleido mastoideus dan otot trapezius. sekitar mata. faring dan laring dengan gejala regurgitasi makan-minum ke kavum nasi. strabismus. OMP. Bila terkena N V. timbul diplopia. di belakang ungulus mandibula.  Ke samping : Masuk spatium parafaringikum akan menekan N IX dan X : Terjadi Paresis palatum mole. medial dari ujung bagian atas 164 . X. Gejala karena metastasis melalui aliran getah bening : Terjadi pembesaran kelenjar leher yang terletak di bawah ujung planum mastoid. Infiltratif  Ke atas : Melalui foramen ovale masuk ke endokranium. maka terkena dura dan timbul sefalgia/sakit kepala hebat. Ekspansif  Ke muka. Kemudian akan terkena N VI. Gejala karena tumbuh dan menyebarnya tumor Merupakan gejala yang timbul oleh penyebaran tumor secara ekspansif.

o Pada tumor eksofilik. Tumor colli. II.muskulus sternokleidomastoideum. gejala telinga. : Liang telinga. Pemeriksaan Fisik  Inspeksi  Pemeriksaan THT: - Otoskopi - Rinoskopia anterior : o : Wajah. Gejala karena metastasis melalui aliran darah : Akan terjadi metastasis jauh yaitu paru-paru. Pada tumor endofilik tak jelas kelainan di rongga hidung. - Rinoskopia posterior : o Pada tumor indofilik tak terlihat masa. membran timpani. gejala hidung dan telinga. mata. Gejala di atas dapat dibedakan antara : I. gejala intrakranial (syaraf dan mata). jadi berupa gejala setempat yang disebabkan oleh tumor primer (gejala-gejala hidung dan gejala-gejala telinga seperti di atas). B. gejala hidung. baik berupa metastasis ataupun infiltrasi dari tumor. ginjal. fenomena palatum mole negatif. rongga mulut dan leher. bisa unilateal dan bilateral. C. Gejala Intrakranial. limpa. mungkin hanya banyak sekret. Gejala Lanjut : Merupakan gejala yang dapat timbul oleh karena tumor telah tumbuh melewati batas nasofaring. tampak tumor di bagian belakang rongga hidung. mukosa nasofaring tampak 164 . gejala hidung dan telinga. Sebagai pedoman : Ingat akan adanya tumor ganas nasofaring bila dijumpai TRIAS : A. tertutup sekret mukopurulen. Gejala Dini : Merupakan gejala yang dapat timbul waktu tumor masih tumbuh dalam batas-batas nasofaring. Tumor colli. tulang dan sebagainya. d. Pembesaran ini di sebut tumor colli.

reflek muntah dapat menghilang. Pemberian ajuvan kemoterapi Cis-platinum. Biopsi minimal dilakukan pada dua tempat (kiri dan kanan). Penatalaksanaan :  Terapi utama : Radiasi/Radioterapi  ditekankan pada penggunaan megavoltage dan pengaturan dengan komputer (4000 – 6000 R)  Terapi tambahan : diseksi leher. vaksin dan anti virus Semua pengobatan tambahan ini masih dalam pengembangan. - X – foto : tengkorak lateral. o - Pada tumor eksofilik tampak masa kemerahan. biopsi dapat diulang dengan anestesi umum.agak menonjol. Faringoskopi dan laringoskopi : Kadang faring menyempit karena penebalan jaringan retrofaring. pemberian tetrasiklin. sedangkan kemoterapi masih tetap terbaik sebagai terapi ajuvan (tambahan). Biopsi melalui nasofaringoskopi dilakukan bila klien trismus atau keadaan umum kurang baik. Sitostatika/Kemoterapi. bila perlu dengan bantuan cermin melalui rinoskopi posterior. tak rata dan paskularisasi meningkat. CT Scan Pemeriksaan tambahan - Biopsi : Biopsi sedapat mungkin diarahkan pada tumor/daerah yang dicurigai. seroterapi. dasar tengkorak. Berbagai macam kombinasi dikembangkan. Bila tiga kali Biopsi hasil negatif. Bila perlu Biopsi dapat diulang sampai tiga kali. faktor transfer. yang terbaik sampai saat ini adalah kombinasi dengan Cis-platinum sebagai inti. Biopsi kelenjar getah bening leher dengan aspirasi jarum halus dilakukan bila terjadi keraguan apakah kelenjar tersebut suatu metastasis. bleomycin dan 5-fluorouracil sedang dikembangkan di bagian 164 . sedang secara klinis mencurigakan dengan karsinoma nasofaring. inferferon. Dilakukan dengan anestesi lokal. melalui rinoskopi anterior.

Demikian pula telah dilakukan penelitian pemberian kemoterapi praradiasi dengan efirubicin dan cis-platinum. 164 . tetapi memberikan harapan kesembuhan yang lebih baik.THT Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dengan hasil sementara yang cukup memuaskan. meskipun ada efek samping yang cukup berat.

PATOFISIOLOGI Gangguan pertumbuhan sekunder / sel epitel nasopharing Telinga Hidung Pendengaran berkurang Pilek kronis   Perubahan sensori persepsi pendengaran Sakit kepala/pusing Hidung buntu (terasa)  Bersihan jalan nafas tidak efektif .

: Kebiasaan diet buruk (Bahan Pengawet) : Pusing atau sinkope : Pemajanan bahan aditif Interaksi sosial Gejala 7. Faktor stress (perubahan peran atau keuangan). 3. 2. Mencegah komplikasi. Cara mengatasi stress (keyakinan/religius). Neurosensori Gejala 5. prognosis dan kebutuhan pengobatan. - Pernafasan Gejala 6.Pengkajian 1. 4. Aktivitas/istirahat Gejala : - Kelemahan dan / atau kelelahan. 2. - Makanan/cairan Gejala 4. . nyeri atau ansietas. Dukungan adaptasi dan kemandirian. - Perubahan penampilan. : : Kelemahan sistem pendukung Pembelajaran Gejala : Riwayat kanker pada keluarga Prioritas Keperawatan 1. - Perubahan pada pola istirahat / jam tidur karena keringat berlegih. Meningkatkan kenyamanan. 5. Memberi informasi tentang proses/kondisi penyakit. Integritas Ego : Gejala 3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.

. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada kepala. prognosis. Nyeri berkurang/terkontrol. 2. 4. Rasional : Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain dialami dan dirasakan pasien. Homeostasis dicapai. Rasional : Mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien. Rasional : Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang tepat. 4. Klien menerima situasi dengan realistis. Diagnosa Keperawatan 1. 3. Kaji tanda-tanda kurangnya pemenuhan kebutuhan tidur pasien. Kaji tentang kebiasaan tidur pasien di rumah. pilihan terapeutik dan aturan dipahami. Kaji adanya faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain seperti cemas. Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup. 2. 2. 3. Rasional : Pengantar tidur akan memudahkan pasien dalam jatuh dalam tidur. Pasien tenang dan wajah segar. 5. Anjurkan pasien untuk menggunakan pengantar tidur dan teknik relaksasi . Kriteria hasil : 1. 3.Tujuan Pemulangan 1. Komplikasi dicegah/dikurangi 5. efek obat-obatan dan suasana ramai. Rencana tindakan : 1. Proses/kondisi penyakit. teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri. Tujuan : Gangguan pola tidur pasien akan teratasi. Pasien mudah tidur dalam waktu 30 – 40 menit. Rasional : Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan tidur/istirahat.

. Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan. Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat. 6. Rasional : Dapat meringankan beban pikiran pasien. Rasional : Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman. 2.2. 3. Gunakan komunikasi terapeutik. Emosi stabil. Rasional : Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat. 4. . Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien. Rasional : Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu. 2. Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang. Rasional : Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien. 7. Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian. Rasional : Lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien. 3. pasien tenang. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya. Rencana tindakan : 1. Rasional : Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan. Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan. dokter. Istirahat cukup. Kriteria Hasil : 1. 5. dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.

diet. Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien. 2. perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga. 5. pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang. diet. manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya. diet. Rasional : Gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan. Pasien mengetahui tentang proses penyakit. Kaji latar belakang pendidikan pasien. 4. perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti. Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya. 3. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit. Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan Ca. Jelaskan tentang proses penyakit. perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya. Jelasakan prosedur yang kan dilakukan. Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. Kriteria Hasil : 1. . Rencana Tindakan : 1. Rasional : Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan. Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan (jika ada / memungkinkan). Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh. Nasofaring Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga. 2.3.

Kadar gula darah dalam batas normal. Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien (berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet). Timbang berat badan setiap seminggu sekali. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan. Rencana Tindakan : 1. Berat badan dan tinggi badan ideal. 2. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.4. 4. 3. 4. Identifikasi perubahan pola makan. Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi Kriteria hasil : 1. Pasien mematuhi dietnya. Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan. 2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. 3.pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi. Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun. 5. . Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik. Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.

B.Evaluasi A. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan. C. Belum tercapai. Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang ditentukan dalam pernyataan tujuan. Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal yang ditetapkan di tujuan. .

Pathofisiologi 1. 3. Etiologi 1. 2. 5. C. Pneumokokus. D. Stafilokokus. 1994: 330). 2. Streptokokus hemolitikus grup A. 4. Sakit tenggorokan dan disfagia. 2. 4. 4. Malaise. . B. 3. 5. Otitis media merupakan salah satu faktor pencetusnya. 1994: 337). Terjadi selulitis tonsila dan daerah sekitarnya. 6. Demam. Terjadinya peradangan pada daerah tonsila akibat virus. Haemofilus influezae.TONSILITIS AKUT (TONSILEKTOMI) A. Gejala-gejala 1. Penderita tidak mau makan atau minum. Nekrosis jaringan. el-sel epitel mati dan bakteri patogen dalam kripta (Adam Boeis. Pembentukan abses peritonsilar. Nafas bau. Mengakibatkan terjadinya pembentukan eksudat. 3. Tonsilektomi adalah suatu tindakan invasif yang dilakukan untuk mengambil tonsil dengan atau tanpa adenoid (Adam Boeis. Pengertian Tonsilitis adalah terdapatnya peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan tonsil dengan pengumpulan lekosit.

E. Penatalaksanaan 1. Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada jaringan sekitarnya. Asma. Hiperplasia dan obstruksi yang menetap selama 6 bulan. 4. c. b. Pemberian obat-obat (analgesik dan antibiotik). Indikasi absolut a. F. Indikasi tindakan pembedahan 1. b. Tidak memberikan respons terhadap penatalaksanaan dan terapi. 4. 2. Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apnea pada waktu tidur. Indikasi relatif Seluruh indikasi lain untuk tindakan tonsilektomi di anggap sebagai indikasi relatif. Biopsi eksisi yang di curigai sebagai keganasan (limfoma). Timbulnya kor pulmonale akibat adanya obstruksi jalan nafas yang kronis. Pemberian cairan adekuat dan diet ringan. . 3. Serangan tonsilitis yang berulang. Indikasi lain yang paling dapat di terima adalah a. 2. Kontraindikasi 1. e. d. 3. 2. Tirah baring. Demam yang tidak di ketahui penyebabnya. G. Infeksi sistemik atau kronis. 3. Sinusitis. Hipertrofi yang berlebihan yang mengakibatkan disfagia dan penurunan berat badan sebagai penyertanya. c. Apabila tidak ada kemajuan maka alternatif tindakan yang dapat di lakukan adalah pembedahan. Hiperplasia tonsil dengan gangguan fungsional (disfagia). d.

3. menurunnya luas lapang pandang/ pandangan kabur. Persiapan operasi yang mungkin di lakukan 1. 5. kehilangan sensasi atau parese/ plegia. distensi abdomen. Puasa 6-8 jam sebelum operasi. sulit dalam beristirahat karena kejang otot atau spasme dan nyeri. . Nutrisi dan cairan Anoreksia. ekstrimitas tampak pucat. 2. Berikan penjelasan kepada klien tindakan dan perawatan setelah operasi. Kenyamanan Ekspresi wajah yang tegang. gangguan menelan. nyeri kepala. mudah lelah.H. 3. Eliminasi Perubahan pola eliminasi (inkontinensia uri/ alvi). 4. kelemahan tubuh secara umum. Berikan antibiotik sebagai propilaksis. mual muntah akibat peningkatan TIK (tekanan intra kranial).sosio. menghilangnya bising usus. tubuh teraba dingin. nyeri kepala. 6. bradikardi. 2. Pengkajian 1.spiritual. waktu perdarahan). Status mental koma. Persarafan Pusing/ syncope. kelmahan pada ekstrimitas. I. sakit kepala pada saat melakukan perubahan posisi. Aktivitas/ istirahat Terdapat penurunan aktivitas karena kelemahan tubuh. Peredaradan darah Palpitasi. 4. leko.psiko. pupil dilatasi. gelisah. 7. penurunan tekanan darah. Menurunnya tingkat kesadaran. Pemeriksaan laboratorium (Hb. Berikan premedikasi ½ jam sebelum operasi. afasia. dan kehilangan sensasi pada lidah. menurunnya sensasi raba terutama pada daerah muka dan ekstrimitas. penurunan pendengaran. 5. Riwayat kesehatan yang bergubungan dengan faktor pendukung terjadinya tonsilitis serta bio. paralise otot wajah. menurunnya kekuatan otot.

tidak percaya. b. kesedihan yang mendalam. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kerusakan jaringan atau trauma pada pusat pernafasan Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan pernafasan secara adekuat dengan memperlihatkan hasil blood gas yang stabil dan baik serta hilangnya tanda-tanda distress pernafasan. Rencana tindakan: a. Masalah dan rencana tindakan keperawatan 1. . Psikolgis Denial. g. takut. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler pada ekstrimitas. f. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas.8. Lakukan suction jika di perlukan. 2. Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik. timbulnya periode apnea dalam pola nafas. Observasi tanda-tanda adanya ditress pernafasan (kulit menjadi pucat/ cyanosis). 10. d. ketidakmampuan dalam bernafas. apnea. Pernafasan Nafas yang memendek. Bebaskan jalan nafas secara paten (pertahankan posisi kepala dalam keadaan sejajar dengan tulang belakang/ sesuai indikasi). 9. J. Kolaborasi dengan terapist dalam pemberian fisoterapi. c. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan batuk/ usaha mengeluarkan sekret. e. Rencana tindakan: a. Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan. cemas. Kaji fungsi sistem pernafasan. Keamanan Fluktuasi dari suhu dalam ruangan.

Kaji tingkat atau derajat nyeri yang di rasakan oleh pasien dengan menggunakan skala. c. perdarahan pada otak. d.b. Ciptakan lingkungan yang tenang. d. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya trauma secara fisik Tujuan: Pasien mengungkapkan nyeri sudah berkurang dan menunjukkan suatu keadaan yang relaks dan tenang. Rencana tindakan: a. d. Ajarkan pada pasien tentang rentang gerak yang masih dapat di lakukan. 4. Kaji status neurologis dan catat perubahannya. Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kesadaran. Bantu pasien secara bertahap dalam melakukan ROM sesuai kemampuan. c. e. c. Observasi kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas 3. Kolaborasi dalam pemberian O2. Berikan pasien posisi terlentang. kognitif dan fungsi sensori. Kolaborasi dalam pemberian sesuai indikasi. . Lakukan latihan secara aktif dan pasif pada akstrimitas untuk mencegah kekakuan otot dan atrofi. Bantu pasien dalam mencarai faktor presipitasi dari nyeri yang di rasakan. Observasi tingkat kesadaran. Anjurkan pasien untuk mengambil posisi yang lurus. b. f. Rencana tindakan: a. b. Penurunan perfusi jaringan otak berhubungan dengan edema cerebri. g. tanda vital. Ajarkan dan demontrasikan ke pasien tentang beberapa cara dalam melakukan tehnik relaksasi. Kolaborasi dalam pemberian antispamodic atau relaxant jika di perlukan. e.

Ajarkan pada pasien untuk memperbaiki tehnik berkomunikasi. c. b. c. Rencana tindakan: a. Kolaborasi dalam pelaksanaan terapi wicara. Observasi kemampuan pasien dalam melakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal.5. e. Pergunakan tehnik komunikasi non verbal. Beri dukungan terhadap tindakan yang bersifat positif. Kaji pasien terhadap derajat perubahan konsep diri. e. f. Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan eliminasi (defekasi/ uri) secara normal sesuai dengan kebiasaan pasien. Kaji pola eliminasi pasien sebelum dan saat di lakukan pengkajian. Lakukan komunkasi dengan pasien (sering tetapi pendek serta mudah di pahami). . Kaji kemampuan pasien dalam beristirahat (tidur). Rencana tindakan: a. Perubahan pola eliminasi defekasi dan uri berhubungan dengan an inervasi pada bladder dan rectum. Tujuan: Pasien mampu melakukan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan komunikasi. Dampingi dan dengarkan keluhan pasien. Rencana tindakan: a. Observasi kemampuan pasien dalam menerima keadaanya. 7. Tujuan: Pasien menunjukan peningkatan kemampuan dalam menerima keadaan nya. b. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan pada area bicara pada himisfer otak. d. 6. Perubahan konsep diri berhubungan dengan perubahan persepsi. d. Ciptakan suatu suasana penerimaan terhadap perubahan yang dialami pasien.

e. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak adekuat. c. 9. terhadap . a. adanya edema. g. Diskusikan dengan pasien cara-cara untuk mengatasi faktor penghambat tersebut. Lakukan bladder training sesuai indikasi. Anjurkan pada keluarga agar menjaga keadan kulit tetap kering dan bersih. Kaji/ palpasi distensi dari bladder. 8. imobilisasi. c. Resiko terjadinya ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan yang berhubungan dengan kurangnya informasi. d. Jelaskan pada pasien akibat dari ketidak patuhan penatalaksanaan.b. e. f. c. Bantu/ lakukan pengeluaran feces secara manual. Identifikasi faktor yang dapat menimbulkan ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan. Auskultasi bising usus dan distensi abdomen. Kolaborasi dalam(pemberian gliserin. b. pemasangan dower katheter dan pemberian obat sesuai indikasi). Ganti posisi tiap 2 jam sekali. d. Tujuan: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit (dikubitus). Pertahankan porsi minum 2-3 liter perhari (sesuai indikasi). Kaji keadaan kulit dan lokasi yang biasanya terjadi luka atau lecet. Libatkan keluarga dalam penyuluhan. Rencana tindakan: a. b. Rapikan alas tidur agar tidak terlipat. Anjurkan pada pasien untuk melakukan kontrol secara teratur. d. Tujuan: Pasien menunjukan kemauan untuk melakukan kegiatan penatalaksanaan.

Influenza. Etiologi : Kuman penyebab : - S. Anamnesis : - Nyeri dan rasa penuh di belakang telinga - Otorea terus menerus selama lebih dari 6 minggu - Febris / Subfebris - Pendengaran berkurang. Diagnosis Banding : 1. Aureus - H. - Pada otoskopi tampak :  Dinding belakang atas MAE menurun (“Sagging”) . sulkus retroaurikuler menghilang (infiltrat/Abses Retroaurikula). yang merupakan kelanjutan dari proses Otitis media akut supuratif yang tidak teratasi. Patofisiologi : Keradangan pada mukosa kavum timpani pada otitis media supuratif akut dapat menjalar ke mukosa antrum mastroid. Pneumonie - S.M A S T O I D I T I S Batasan : Infeksi akut dan kronik yang mengenai mukosa dan sel – sel mastoid. Bila terjadi gangguan pengaliran sekret melalui aditus ad antrum dan epitimpanum menimbulkan penumpukan sekret di antrum sehingga terjadi empiema dan menyebabkan kerusakan pada sel – sel mastoid. Pemeriksaan : - Daun telinga terdorong kedepan lateral bawah. - Nyeri tekanan pada planum mastoid. 2.

- Analgesik / Antipiretik : Parasetamol / Asetosal / Metampiror bila diperlukan. Terapi : - Operasi : Mastoidektomi simpel.v atau oral 4 x 500 – 1000 mg di berikan selama 7 – 10 hari. Meningitis. - Antibiotik : ampisillin/amoksillin i. Abses otak. . Untuk yang alergi terhadap ampisillin / amoksillin dapat di berikan Eritromisin dengan dosis 3 – 4 x 500 mg. Perforasi membran timpani  “Reservoir sigh”  Sekret mukopurulen 3. selama 7 – 10 hari. Abses ekstra dural. Pemeriksaan tambahan :  Pada X foto mastoid Schuller tampak kerusakan sel – sel mastoid (Rongga Empiema)  Limphadonitis retroauricularis  Athoroma yang mengalami infokasi Penyulit : - Abses subperiosteal (retroaurikula) - Paresis/paralisis syaraf fasialis - Labirintitis - Komplikasi intrakranial : Abses perisinus.

- Nyeri tekanan pada planum mastoid. sulkus retroaurikuler menghilang (infiltrat/Abses Retroaurikula). Ansietas sehubungan kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan dengan . Intoleransi dengan nyeri 4. Nyeri sehubungan dengan proses peradangan 2. - Pada otoskopi tampak :  Dinding belakang atas MAE menurun (“Sagging”)  Perforasi membran timpani  “Reservoir sigh”  Sekret mukopurulen Pemeriksaan tambahan :  Pada X foto mastoid Schuller tampak kerusakan sel – sel mastoid (Rongga Empiema)  Limphadonitis retroauricularis  Athoroma yang mengalami infokasi DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN Keluhan yang spesifik : - Adanya nyeri dan rasa penuh di belakang telinga - Otorea terus menerus selama lebih dari 6 minggu - Febris / Subfebris - Pendengaran berkurang Pemeriksaan : - Daun telinga terdorong kedepan lateral bawah. Gangguan sensori / presepsi aktifitas sehubungan sehubungan dengan kerusakan pada telinga tengah 3.

Monitor gangguan sesori  Catat status pendengaran  Ingatkan klien bahwa vertigo dan nausea dapat terjadi setelah radikal mastoidectomi karena gangguan telinga dalam. menggigil.5.E  Ajarkan klien mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinu sesuai aturan . Resiko tinggi trauma sehubungan dengan gangguan presepsi pendengaran 7.  Perhatikan droping wajah unilateral atau mati rasa karena perlukaan (injuri) saraf wajah. Mengurangi rasa nyreri  Beri aspirin/analgesik sesuai instruki  Kompres dingin di sekitar area telinga  Atur posisi  Beri sedatif sesuai indikasi Mencegah penyebaran infeksi Ganti balutan tiap  hari sesuai keadaan Observasi tanda –  tanda infeksi lokal Ajarkan  klien tentang pengobatan Amati penyebaran  infeksi pada otak : Tanda vital. kaku kuduk. Berikan tindakan pengamanan. H. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan INTERVENSI KEPERAWATAN Memberikan rasa nyaman 1. Isolasi sosial sehubungan dengan penurunan pendengaran 6.

 Beritahu komplikasi yang mungkin terjadi dan bagaimana melaporkannya
 Tekankan hal – hal yang penting yang perlu di follow up,evaluasi pendengaran
Terapi medik
 Antibiotik dan tetes telinga : Steroid
 Pengeluaran debris dan drainase pus untuk melindungi jaringan dari kerusakan :
miringotomy
Interfensi bedah
 Indikasi jika terdapat chaolesteatoma
 Indikasi jika terjadi nyeri, vertigo,paralise wajah, kaku kuduk, (gejala awal
meningitis atau obses otak)
 Tipe prosedur

Simpel mastoid decstomi

Radical mastoidectomy

POLIP HIDUNG

Pengertian :
Polip hidung adalah massa yang lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang terdapat
dalam rongga hidung.
Etiologi
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat hipersensitifitas atau reaksi alergi pada
mukosa hidung. Peranan infeksi terhadap kejadian polip hidung belum diketahui dengan
pasti tetapi tidak ada keraguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal
serinkali ditemuakan bersamaan dengan adanya polip.
Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang terjadai pada anak-anak . Polip
mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis (mucoviscidosis)
Patofisiologi
Polip berasal dari pembengkakan mukosa hidung yang terdiri atas cairan interseluler
dan kemudian terdorong ke dalam rongga hidung dan gaya berat.
Polip dapat timbul dari bagian mukosa hidung atau sinus paranasal dan seringkali
bilateral. Polip hiung paling sering berasal dari sinus maksila (antrum) dapat keluar
melalui ostium sinus maksilla dan masuk ke ronga hidung dan membesar di koana dan
nasopharing. Polip ini disebut polip koana.
Secara makroskopik polip tershat sebagai massa yang lunak berwarna putih atau keabuabuan. Sedangkan secara mikroskopik tampak submukosa hipertropi dan sembab. Sel
tidak bertambah banyak dan terutama terdiri dari sel eosinofil, limfosit dan sel plasma
sedangkan letaknya berjauhan dipisahkan oleh cairan interseluler. Pembuluh darah,
syaraf dan kelenjar sangat sedikit dalam polip dan dilapisi oleh epitel throrak berlapis
semu.

Reaksi Alergi/Hipersensitivitas
Edema mukosa nasal
(Pembengkakan mukosa hidung)

Persisten

Polip Hidung

Ggn. Pola nafas
Gejala Klinik :
-

Sumbatan hidung

-

Hiposmia / anosmia

-

Sinusitis, nyeri kepala, rinorhea

-

Alergi; berupa bersin-bersin dan iritasi

Pengobatan :
Polip yang masih kecl dapat diobati dengan kortikosteroid (secara konservatif) baik
lokal maupun secara sistemik. Pada polip yang cukup besar dan persisten dilakukan
tindakan operatif berupa pengangkatan polip (polipectomy).
Dalam kejadian polip berulang maka dilakukan etmoidectomy baik intranasal maupun
ekstranasal.

Berbagai perilaku. takikardia Pernafasan mulut Tanda distres pernapasan. perilaku berhati-hati. .PROSES KEPERAWATAN Pengkajian AKTIVITAS/ISTIRAHAT Gejala : Tanda : Kelelahan. Terdapat pembesaran polip Rencana Keperawatan PRIORITAS KEPERAWATAN 1. diaforesis. menarik diri. INTEGRITAS EGO Gejala Tanda Masalah finansial : biaya rumah sakit. pengobatan .(bila obstruksi total) 1. misalnya marah. sianosis. Memberikan dukungan fisik dan psikologi selama tes diagnostik dan program pengobatan. keringat malam. pasif MAKANAN/CAIRAN Gejala Anoreksia/kehilangan nafsu makan Adanya penurunan berat badan sebanyak 10% atau lebih dari berat Tanda badan dalam 6 bulan sebelumnya dengan tanpa upaya diet. PERNAPASAN Gejala Tanda Dispnea Dispnea. - NYERI/KENYAMANAN Gejala Tanda Nyeri tekan/nyeri pada daerah hidung Fokus pada diri sendiri. pucat atau tidak ada tanda sama sekali Takikardia. menunjukkan kelelahan SIRKULASI Gejala Tanda Lelah. disritmia. Pucat (anemia). kelemahan atau malaise umum Penurunan kekuatan.

dispnea. telinga. keterlibatan/ pengaruh pernapasan yang gangguan pengembangan dada membutuhkan upaya intervensi Beri posisi dan bantu ubah posisi Meningkatkan aerasi semua segmen paru secara periodik dan memobilisasikaan sekresi Anjurkan/bantu dengan tehnik napas Membantu meningkatkan difusi gas dan dalam dan/atau pernapasan bibiratau ekspansi jalan napas kecil. irama. Proses penyakit/prognosis. Memberikan informasi tentang penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan TUJUAN PEMULANGAN 1. Sianosis Atau Tanda Lain Distres Evaluasi Pasien Akan Pernapasan INTERVENSI RASIONAL Mandiri Kaji/awasi prekuensi pernapasan. Istirahat menurunkan dispnea/lapar udara meningkatkan kebutuhan oksigen dan mencegah kelelahan. Tak Efektif Resiko Tinggi Terhadap Yang Mempertahankan Pola Pernapasan Normal/Efektif Hasil Diharapkan/Kriteria Bebas Dispnea. Proliferasi SDP dapat menurunkan perhatikan pucat. daun menimbulkan hipoksemia. Jadwalkaan periode kelelahandan dispnea istirahat antara aktivitas .dan bibir) Kaji respon pernapasan terhadap Penurunan oksigen seluler menurunkan aktivitas.2. Perhatikan laporan penggunaan otot aksesori) dapat dispnea dan/atau penggunaan otot mengindikasikan berlanjutnya bantu pernapasan cuping hidung. Perhatikan keluhan toleransi aktivitas. Mencegah komplikasi 3. Komplikasi dicegah/menurun 2. memberikan pernapasan diagfragmatik abdomen pasien beberapa kontrol terhadap bila diindikasikan pernapasan. membantu menurunkan ansietas Awasi/evaluasi warna kulit. terjadinya sianosis kapasitas pembawa oksigen darah. Nyeri hilang/terkontrol 3. (khususnya pada dasar kulit. kedalaman. kemungkinan komplikasi dan program pengobatan di pahami. Perubahan (seperti takipnea. Menghilangkan nyeri 4. Diagnosa Keperawatan Pola Pernapasan/Bersihkan Jalan Napas.

sakit Pasien non-Hodgkin pada resiko sindrom kepala. penyimpanan energi dan menurunkan kebutuhan oksigen Observasi distensi vena leher.Identifikasi/dorong tehnik penghematan energi mis : periode istirahat sebelum dan setelah makan. pusing. duduk sebelum perawatan Tingkatkan tirah baring dan berikan perawatan sesuai indikasi selama eksaserbasi akut/panjang Membantu menurunkan kelelahan dan dispnea dan menyimpan energi untuk regenerasi selulerdan fungsi pernapasan Memburuknya keterlibatan pernapasan/ hipoksia dapat mengindikasikan penghentian aktivitas untuk mencegah pengaruh pernapasan lebih serius Berikan lingkungan tenang Meningkatkan relaksasi. oksimetri pernapasan dan keefektifan terapi . menunjukkan kedaruratan onkologis. gunakan mandi dengan kursi. edema vena kava superior dan obstruksi jalan periorbital/fasial. dispnea. membantu menurunkan hipoksemia Awasi pemeriksaan laboratorium. Mengukur keadekuatan fungsi mis : GDA. Kolaborasi Berikan tambahan oksigen Memaksimalkan ketersediaan untuk untuk kebutuhan sirkulasi.dan stridor napas.

Nyeri : - Pipi : biasanya unilateral - Kepala : biasanya homolateral. berbau. bisa bercampur darah b. septum deviasi Dentogen Penjalaran infeksidari gigi geraham atas Kuman penyebab : - Streptococcus pneumoniae - Hamophilus influenza - Steptococcus viridans - Staphylococcus aureus - Branchamella catarhatis PATOFISILOLOGI Infeksi Kuman Iritasi Kuman menyebar ke saluran pernafasan eksudat Purulen Tekanan pada sinus meningkat Batuk batuk GEJALA KLINIS : Nyeri a. Rinogen Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh : b. terutama pada sorehari pilek bau .  Rinitis Akut (influenza)  Polip. filek kental.SINUSITIS DEFINISI : Sinusitis adalah : merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus. ETIOLOGI a. Febris.

Rinoskopi anterior : - Mukosa merah - Mukosa bengkak - Mukopus di meatus medius. b. antibiotik diberikan dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu : - ampisilin 4 X 500 mg - amoksilin 3 x 500 mg - Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet - Diksisiklin 100 mg/hari. Rinoskopi postorior - mukopus nasofaring. Nyeri tekan pipi yang sakit. Transiluminasi : kesuraman pada ssisi yang sakit. c. . Hidung : - buntu homolateral - Suara bindeng. CARA PEMERIKSAAN a. d. Surgikal : irigasi sinus maksilaris. Gigi (geraham atas) homolateral. X Foto sinus paranasalis - Kesuraman - Gambaran “airfluidlevel” - Penebalan mukosa PENATALAKSANAAN : a. Drainage - Medical : * Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak) * Dekongestan oral :Psedo efedrin 3 X 60 mg b. e.c.

Riwayat spikososial a. Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat - Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping b. pendidikan. Pola nutrisi dan metabolisme : - biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung . - Pernah mempunyai riwayat penyakit THT - Pernah menedrita sakit gigi geraham Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang. Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus. 6. pekerjaan. parasetamol.. Untuk kromis adalah : - Cabut geraham atas bila penyebab dentogen - Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20) - Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi) TINJAUAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN : 1. Pola fungsi kesehatan a.c. tenggorokan. 7. Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih0 b. 2.umur. Riwayat Penyakit sekarang : 3. bangsa. sex. suku. Biodata : Nama .. alamat. 4. Interpersonal : hubungan dengan orang lain. Riwayat penyakit dahulu : - Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma 5. Simtomatik d. metampiron 3 x 500 mg.

Nyeri kepala. kesadaran. tanda viotal. jumlah. frekwensinyya .c.    Sekret hidung : a. Pemeriksaan fisik a. lamanya. serous. lokasi dan beratnya b. Penggunaan obat tetes atau semprot hidung : jenis. Riwayat bernafas melalui mulut. 8. Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus. frekwensinya b. Riwayat Sinusitis : a. Data subyektif :  Observasi nares : a. onset. Ada tidaknya krusta/nyeri hidung. jumlah. mukopurulen). Epistaksis c. warna. Pola Persepsi dan konsep diri - klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun e. Hubungan sinusitis dengan musim/ cuaca. status kesehatan umum : keadaan umum . Gangguan umum lainnya : kelemahan . Pola sensorik - daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen . rinuskopi (mukosa merah dan bengkak). kapan. konsistensi secret b. Pola istirahat dan tidur - selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek d. Riwayat pembedahan hidung atau trauma c. b.

Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi /adnya secret yang mengental 4. Pemeriksaan rongent sinus. tenggorokan . nyeri sekunder peradangan hidung 5.. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis(irigasi sinus/operasi) 3. Demam. Nyeri : kepala. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Odema keluar dari hidng atau mukosa sinus 3. Pemeriksaan penunjung : a. Kultur organisme hidung dan tenggorokan b. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu. Gangguan konsep diri berhubungan dengan bau pernafasan dan pilek .Data Obyektif 1. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus 6. Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dan sinus yang mengalami radang  Pucat. sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung 2. drainage ada : Serous Mukppurulen Purulen 2. Kemerahan dan Odema membran mukosa 4.

c. INTERVENSI Kaji tingkat kecemasan klien Berikan kenyamanan dan ketentaman pada klien : . Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi d. b. Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya c. b. e. Aspirin. 2. - Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang - Klien tidak menyeringai kesakitan INTERVENSI Kaji tingkat nyeri klien a. RASIONAL Menentukan tindakan selanjutnya Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan Meingkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif .PERENCANAAN 1. a.Temani klien . d. Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (irigasi/operasi) Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang Kriteria : - Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya - Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya. c. RASIONAL Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri Klien mengetahui tehnik distraksi dn relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien. e. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung Tujuan : Nyeri klien berkurang atau hilang Kriteria hasil : a.Perlihatkan rasa empati( datang dengan menyentuh klien ) Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan. b. singkat a. Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien Kolaborasi dngan tim medis : 1) Terapi konservatif : obat Acetaminopen. tenang seta gunakan kalimat yang jelas. b. dekongestan hidung Drainase sinus 2) Pembedahan : Irigasi Antral : Untuk sinusitis maksilaris Operasi Cadwell Luc. c.

Catat intake dan output makanan klien. Bila perlu . RASIONAL Mengetahui kekurangan nutrisi kliem Dengan pengetahuan yang baik tentang nutrisi akan memotivasi meningkatkan pemenuhan nutrisi Mengetahui perkembangan pemenuhan nutrisi klien Dengan sedikit tapi sering mengurangi penekanan yang berlebihan pada lambung Mengkatkan selera makan klien . 4. f.e. Observasi tanda-tanda vital. d.Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan Observasi tanda-tanda vital. c. b. d. c. Sajikan makanan secara menarik a.Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang . Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien. b. Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien f. Koaborasi dengan tim medis untuk pembersihan sekret c.purulen) dikeluarkan Kriteria : - Klien tidak bernafas lagi melalui mulut - Jalan nafas kembali normal terutama hidung a. RASIONAL Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret/masalah b. b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus Tujuan : kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi Kriteria : - Klien menghabiskan porsi makannya - Berat badan tetap (seperti sebelum sakit ) atau bertambah a. Mengetahui perkembangan klien secara dini. kolaborasi dengan tim medis 3. INTERVENSI kaji penumpukan secret yang ada a. e. INTERVENSI kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien Jelaskan pentingnya makanan bagi proses penyembuhan c. d. e. mudah dimengerti Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya : . Anjurkan makan sediki-sedikit tapi sering e. Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi (penumpukan secret hidung) d. sekunder dari peradangan sinus Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret (seous.

Pernafasan dapat efektif kembali lewat hidung . RASIONAL Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur Agar klien dapat tidur dengan tenang Pernafasan tidak terganggu. b. Anjurkan klien bernafas lewat mulut Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat a. Klien tidur 6-8 jam sehari INTERVENSI kaji kebutuhan tidur klien. d. nyeri sekunder dari proses peradangan Tujuan : klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman Kriteria : - a.5. c. c. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan hidung buntu. b. ciptakan suasana yang nyaman. d.

Patofisiologi Tekanan intraokuler dipertahankan oleh produksi dan pengaliran Aqueus humor dimana secara kontinue diproduksi oleh badan silier (sel epitel prosesus ciliary bilik mata belakang untuk memberikan nutrien pada lensa. Peningkatan TIO akan menekan aliran darah ke syaraf optik dan retina sehingga dapat merusak serabut syaraf optik menjadi iskemik dan mati. Aqueua humor yang merupakan cairan jernih berbahan gelatinosa jernih yang terletak diantara ruang antara lensa dan retina yang mengalir melalui jaring-jaring trabekuler. Tekanan intra okuler (TIO) dipertahankan dalam batas 10-21 mmHg tergantung keseimbangan antara produksi dan pegeluaran (aliran) AqH di bilik mata depan. trabekuler mesh work dan kanal schlem.ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN GLAUKOMA Pengertian Glaukoma adalah sejumlah kelainan mata yang mempunyai gejala peningkatan tekanan intra okuler (TIO). Hal ini menyebabkan penurunan lapang pandang yang dimulai dari derah nasal atas dan sisa terakhir pada temporal Lebih jelasnya dapat dilihat di skema dibawah ini : Produksi homur aqueus Corpus Ciliaris Bilik Mata Belakang Pupil . penyempitan lapang pandang dan penurunan tajam pengelihatan (Martinelli. Selanjutnya menyebabkan kerusakan jaringan yang dimulai dari perifer menuju ke fovea sentralis. dimana dapat mengakibatkan penggaungan atau pencekungan papil syaraf optik sehingga terjadi atropi syaraf optik. bilik mata depan. pupil. 1991).

Proses pengaliran aquaeos yang sebenarnya.Bilik Mata Depan Sudut BMD Trab. 5. Tujuan pembedahan pada glaukoma adalah membuat saluran baru yang memungkinkan aqueous dapat mengalir keluar mata (dari Havener. WH : Sypnosis of Orphalmogy. aqueos mengalir melalui pupil masuk keruang anterior dan meninggalkan mata melalui saluran schelemm. St Louis 1979. Pada glaukoma. aliran aqueous yang normal tertahan. Schlem Sistem Vena Sklera Kornea Aqueous Iris Canal Of Schlemm Sclera Trabeculameshwork Lensa Ciliary body Surgical drainage opening Kornea Aqueous Canal Of Schlemm Sclera Iris Trabeculameshwork Lensa konjungtiva Ciliary body Gambar 1. B. ed. The VC mosby Co) Long (1996) .

fotofobia blepharospme.95%). membesarnya titik buta. menempel kejaringan trabekuler dan menghambat humor aquaeos mengalir kesaluran schelemm. adanya hambatan aliran AgH tidak secepat produksi. 2. headache. atropi iris dan siliare. Glaukoma sudut terbuka /simplek (kronis) Adalah sebagian besar glaukoma (90% . Glaukoma sudut tertutup/sudut sempit (akut) Adalah terganggunya aliran akibat tertutupnya atau terjadinya penyempitan sudut antara iris dan kornea. sel gangglion. halo di sekitar cahaya.Glaukoma dibedakan menjadi ada beberapa macam yaitu: 1. yang meliputi kedua belah mata. pengelihatan kabur. disebut sudut terbuka karena humor aqueous mempunyai pintu terbuka kejaringan trabekuler. Sudut bilik depan terbuka normal. mengakibatkan terjadi penekanan kornea dan menutup sudut mata. serangan intermiten. Glaukoma Kongenital Adalah perkembangan abnormal dari sudut filtrasi dapat terjadi sekunder terhdap kelainan mata systemik jarang (0. bradikardi. halo disekitar cahaya. lakrimasi. pening. Gejala yang timbul awal biasanya tidak ada kelainan biasanya diketahui dengan adanya peningkatan IOP dan sudut ruang anterior normal seperti: mata terasa berat. muntah. TIO >75 mmHg. kelainan lapang pandang . . AqH tidak bisa mengakir keluar. tekanan normal bila sudut terbuka. mual. Gejala yang timbul dari penutupan yang tibatiba dan meningkatnya IOP. saluran schelem dan saluran yang berdekatan. pengaliran dihambat karena adanya perubahan degeratif jaringan trebuekuler. pengelihatan kabur dan berkabut serta odema pada kornea. adalah: nyeri selama beberapa jam dan hilang kalau tidur sebentar. kedaruratan mata akut Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong kedepan. bila berlangsung secara terus menerus. 3. bilik mata depan menjadi dangkal.05%) manifestasi klinik biasanya adanya pembesaran mata. Bila terjadi penempelan iris menyebabkan dilatasi pupil dan jika tidak ditangani bisa terjadi kebutaan dan nyeri yang hebat. Dimana terjadinya penyempitan sudut dan perubahan iris ke anterior. maka menyebabkan degenerasi syaraf optik.

. perubahan pembuluh darah. Pemeriksaan fisik  Melaporkan kehilangan pengelihatan perifer lambat  Kaji ketajaman penglihatan snelen chart bila tersedia  Awitan tiba-tiba dari nyeri berat pada mata sering disertai sakit kepala. Glaukoma sekunder Adalah glaukoma yang terjadi dari peradangan mata. hemoragi intraokuler. tonometri yang sering digunakan adalah appalansi yang menggunakan lamp (celah lampu) dimana sebagian kecildaerah kornea diratakan untuk mengimbangi beban alat ukur ysng mengukur tekanan. mual dan muntah  Keluhan-keluhan sinar halo pelangi (bayangan disekitar mata).4. 3. trauma. dan mudah adalah schiotz tonometer dengan cara tonometer ditempatkan lansung diatas kornea yang sebelumnya mata terlebih dahulu dianastesi. Riwayat atau adanya faktor risiko:  Riwayat keluarga positif  Umur penderita >40 tahun  Riwayat penyakit mata: tumor mata. pengelihatan kabur dan penurunan persepsi sinar. kortikosteroid 2. uveitis  Riwayat operasi mata  Riwayat gangguan pengelihatan  Penggunaan obat-obatan: antihistamin. selain itu ada juga metode langsung yang kurang akurat yang lebih murah. Pemeriksaan Diagnostik  Tonometri digunakan untuk pemeriksaan TIO. Dengan gejala yang hampir mirip dengan sudut terbuka dan sudut tertutup tergantung pada penyebab Pengkajian 1.

carbachol( carbecel) efek ialah merangsang reseptor kolinergik. mengkontraksikan otot-otot iris untuk mengecilkan pupil da n menurukan tahanan terhadap aliran humor aqueous juga mengkontraskan otototot ciliary untuk meningkatkan akomodasi. Kolonerasi inhibitor (miotik) Physostigmine(eserine). efek yang muncul biasanya seringkali menurunkan penglihatan selama 1 -2 jam dan dapat menyebabkan spasme mata yang sering pada orang-orang muda Cont : pilocarpine. (phospoline iodede) yang mempunyai efek menghambat penghancuran asetylchloholine yang berefek sebagai kolinergik tidak digunakan pada glaukoma sudut tertutup(meningkatkan tahanan pupil)  Agent penghambat beta adrenergik /adrenigic beta bloker dapat digunakan secara mandiri atau kombinasi dengan obat-obat lainseperti . Demecarium echothiopine iodide bromide(humorsol). isoflurophate(floropryt). Gonioskopi digunakan untuk melihat secara langsung ruang anterior untuk membedakan antara glaukoma sudut tertutut dengan glaukoma sudut terbuka  Oftalmoskopi digunakan untuk melihat gambaran bagain mata secara langsung diskus optik dan struktur mata internal Penatalaksanaan Medik  Tujuan farmakologik adalah untuk mempertahankan kontraksi pupil agar pengaliran humor aqueous lebih baik dan produksi humor aqueous dapat dikurangi  Pemberian obat diharapkan haruslah sesuai dengan anjuran  Ada beberapa alternatif obat yang diberikan :  Pilocarpine Adalah obat miotik yang dipilih dalam pengobatan glaukoma sudut terbuka yang biasanya diberikan dalam bentuk tetes mata atau dalam bentuk lain tetesan membram (ocusert) yang biasanya diletakkan pada diatas // dibawah konjungtiva diberikan pada malam hari agar efek miotik stabil pada pagi harinya dan efek bertahan sampai seminggu.

ethoxzolamide(cardase). meningkatkan aliran aqueous humor keplasma Cat” obat midriatik dan cycloplegik merupakan kontradiksi pada orang dengan glaukoma karena dapat menyebabkan terbatasnya aliran humor aqueous humor. manitol dapat diberikan secara intravenous Contoh : glicerine. methazolamide (neptazane) berefek menghambat produksi humor aqueous  terapi pembedahan terapi pembedahan dilakukan apabila cara konservatif gagal untuk mengatur peningkatan IOP antara lain iridotomy/iredektomy dengan membuang sebagian kecil iris dan membuka saluran antara ruang posterior dan anteriordan biasanya kalau gagal dapat dilakukan trabeculectomy dengan membuat pembukaan antara anterior dan rongga subkojungtiva . urevert) berefek meningkatkan osmolaritas plasma darah. dichlorhenamide(daramide). bila osmotik oral tidakefektif atau meyebabkan mual.mucocoll). epinephrine hydrochloride (glaucon. dipivefrin (propine) berefek menurunkan produksi humor aqueous dan meningkatkan aliran aqueous jangan menggunakan untuk glaukoma sudut tertutup  carbonik anhydrase inhibitor : acetazolamide(diamox). (glycerol.  Agen osmotik Yang biasanya diberikan pada keadaan yang akut yang berat dalam maksud menurunkan IOP dengan menyerap cairan dari mata. epifrin). osmoglyn).  Agen adrenergik seperti efinephryl borate(eppy).Betaxolol mempunyai keuntungan sedikit efek samping pada pulmonal. epinephrine bitartrate(epitrate. betaxolol hydrochloride (betoptic). tidak jelas. mekanisme yang bisa menurunkan IOP. urea (ureaphil. mannitol (osmitrol). Penekanan pada lakrimal selama satu menit dapat mencegah efek sisitemik yang cepat cont : timolol meleate (timoptic). levobunol hydraochloride (betagan) yang berefek memblok impuls-impuls adrenergik (sympathetik) yang secara normal menyebabkan mydriasis.

Cemas s. 4. kerusakan serabut syaraf oleh karena peningkatan TIO 2.d peningkatan TIO 3. Ketidakmampuan dalam perawatan diri s. Kurang pengetahuan : tentang proses penyakit. Penurunan sensori-persepsi visual s. INTERVENSI Kaji dan catat ketajaman pengelihatan Kaji deskripsi fungsional apa yang dapat dilihat/tidak.d. 3. Potensial injuri s. Meningkatkan self care dan mengurangi .  Sesuaikan lingkungan dengan kemampuan 1. 2.penurunan penglihatan Rencana Keperawatan Penurunan sensori pengelihatan s. status klinik saat ini s. kerusakan serabut syaraf karena peningkatan TIO Ditandai: Data subyektif:  Menyatakan pengelihatan kabur  Menyatakan adanya sambaran seperti kilat (halo) Data obyektif:  Visus menurun  TIO meningkat Kriteria Evaluasi  Klien dapat meneteskan obat dengan benar  Kooperatif dalam tindakan  Menyadari hilangnya pengelihatan secara permanen  Tidak terjadi penurunan visus lebih lanjut 1.d. Nyeri s.d penurunan lapang pandang 6.d penurunan pengelihatan aktual. 5. RASIONAL Menetukan kemampuan visual Memberikan keakuratan thd pengelihatan dan perawatan. 2.d.Diagnose Keperawatan 1.d kurang informasi tentang penyakit glaukoma.

 Letakan alat-alat yang sering dipakai dalam jangkuan pengelihatan klien. 4.  Hindari pencahayaan yang menyilaukan. Pertahankan kondisi yang rileks. . INTERVENSI Hati-hati menyampaikan hilangnya pengelihatan secara permanen Berikan kesempatan klien mengekspresikan tentang kondisinya. 2.  Berkurangnya perasaan gugup  Mengungkapkan pemahaman tentang rencana tindakan  Posisi tubuh rileks. TV. Gunakan jam yang ada bunyinya. akan menambah kecemasan. 3. 3. kurangnya pengetahuan. Pengekspresikan perasaan membantu klien mengidentifikasi sumber cemas.  Letakan alat-alat ditempat yang tetap. 5. 3.  Berikan pencahayaan yang cukup. RASIONAL Kalau klien belum siap. 2. 1. 4. Ditandai: Data subyektif:  Menyatakan perasaan takut  Sering menanyakan tentang penyakitnya  Mengakui kurangnya pemahaman Data obyektif:  Suara gemetar  Tampak gugup  Nadi meningkat  Berkeringat dingin Kriteria evaluasi 1.pengelihatan:  Orientasikan thd lingkungan. Anjurkan pada alternatif bentuk rangsangan seperti radio. Rileks dapat menurunkan cemas.  Berikan bahan-bahan bacaan dengan tulisan yang besar. Cemas berhubungan dengan penurunan penglihatan. Kaji jumlah dan tipe rangsangan yang dapat diterima klien. ketergantung Meningkatkan rangsangan pada waktu kemampuan pengelihatan menurun.

Dengan penjelasan akan memberikan informasi yang jelas. 6.4. Jelaskan tujuan setiap tindakan Siapakn bel di tempat tidur dan intruksikan klien memberikan tanda bila mohon bantuan. 6. Dengan memberikan perhatian akan menambah kepercayaan klien. pertahankan kontrol nyeri yang efektif 4. 5. 5. Nyeri adalah sumber stress .

protein yang seluble menjadi insoluble[Hewel.keracunan atau penyakjit sistemik. . Usia Penuaan merupakan penyebab utama dari katarak (95 %) dan 5 % disebsbkan kerusakan congenital.yang dapat menimbulkan nyeri hebat dan sering terjadi pada kedua mata.1986]. trauma b.pekerjaan gaya hidup dan tempat tinggal seseorang.1986]. Katarak terbentuk bila masukan 02 berkurang [ vaugan dan asbori. Derajat kerusakan yang disebabkan oleh katarak dipengaruhi oleh lokasi dan densitas ( kepadatan) dari kekeruhan selain karena umur . Dengan bertambahnya usia. 35% protein dan sisanya adalah mineral. Penyakit predisposisi d. ETIOLOGI Katarak disebabkan oleh berbagai factor. Kekeruhan dapat terjadi pada beberapa bagian lensa. Kekeruhan sel selaput lensa yang terlalu lama menyebabkan kehilangan kejernihan secara progresif. Iinfeksi virus di masa pertumbuhan janin f. ukuran dan densitasnya bertambah .serat yang tua ditekan ke arah sentral. terpapar substansi toksik c. kandungan kalsium meningkat. PATOFISIOLOGI Lensa mengandung 65% air. antara lain. trauma. kandungan air berkurang.KATARAK PENGERTIAN Katarak adalah kekeruhan [opasitas] dari lensa yang tidak dapat menggambarkan obyek dengan jelas di retina. a. penambahan densitas iniakibat kompresi sentral pada kompresi sentral yang menua. Genetik dan gangguan perkembangan e. Serat lensa yang baru dihasilkan di korteks .

berwarna kuning dan keringf sertya terdapat lipatan kapsul lensa (Jounole zin kendor). 3.Menurut etiologinya katarak dibagi menjadi : 1.X Rays yang berlebihan atau bahan radio aktif. Menurut catatan The framinghan eye studi. katarak terjadi 18 % pada usia 65 – 74 tahun dan 45 % pada usia 75 – 84 tahun. Katarak congenital digolongkan dalam :  Katarak kapsulo lentikuler Merupakan katarak pada kapsul dan kortek. Jika berlanjut diserrtai kapsul yang tebal menyebabkan kortek yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar sehingga berbentuk seperti sekantong susu dengan nucleus yang terbenam yang disebut katarak Morgageeeni. 2. Katarak congenital Katarak yang terjadi sebelum atau segera setelah lahir ( bayi kurang dari 3 bulan). Katarak congenital atau trauma yang berlanjut dan terjadi pada anak usia 3 bln sampai 9 tahun katarak juvenil . Ada 4 stadium antara lain :  Katarak insipien : stadium ini kekeruhan lensa sektoral dibatasi oleh bagian lensa yang masih jernih.  Katarak intumesen : kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratip menyerap air.  Katarak matur : katarak yang telah menegani seluruh bagian lensa. adanya benda asing pada intra okuler. Waktu untuk perkembangan katarak .  Katarak lentikuler: merupakan kekeruhan lensa yang tidak mengenai kapsul. katarak ini disebabkan oleh ketuaan (lebih 60 tahun).  Katarak hepermatur : katarak mengalami proses degenerasi lanjut keluar dari kapsul lensa sehingga lensa mnegecil. seperti trauma tajam/trauma tumpul. katarak senile ( 95 %) . Beberapa derajat ktarak diduga terjadi pada semua orang pada usia 70 tahun. Katarak traumatic : terjadi karena cedera pada mata. Katarak ini dapat diopperasi.

Penggunaan tindakan keselamatan ditempat kerja dapat mengurangi insiden terjadinya katarak traumatic yang disebabkan oleh radiasi. INSIDEN Diperkirakan 5-10 juta indifidu mengalami kerusakan penglihatan akibat katarak setiap tahun (newell. 5.agen untuk pengobatan glaucoma). Katarak komplikata : Katarak ini dapat juga terjadi akibat penyakit mata lain (kelainan okuler). Kapsul lensa impermiabel terhadap gula. Dalam usaha untuk mengenbalikan pada tingkat osmolaritas yang normal lensa diletakan pada air (newell. panas. Katarak asosiasi : penyakit sistemik seperti DM. Hipoparatiroid. . 4.traumatic dapat bervariasi dari jam sampai tahun. perawatan secara teratur pada DM. Penyakit intra okuler tersebut termasuk retinitis pigmentosa. 1986). glaucoma dan retina detachement. bekerja dengan logam atau berpartisipasi dalam olah raga dapat menurunkan insiden terjadinya katarak traumatic dengan pencegahan terhadap cedera. Insiden tertinggi pada katarak terjadi pada populasi yang lebih tua. paparan x-ray. PENCEGAHAN Karena kekeruhan (opasitas) lensa sering terjadi akibat bertambahnya usia sehingga tidak diketahui pencegahan yang efektif untuk katarak yang paling sering terjadi.alcohol dan melindungi dari pelepasan.Downs sindrom dan dermatitis atopic dapat menjadi predisposisi bagi individu untuk perkembangan katarak. Katarak ini biasanya unilateral.miotik. Penggunaan pelindung mata ketika memotong rumput. kelebihan glukosa pada lensa secara kimia dapat mengurangi alcoholnya yang disebut L-Sorbitol. Pada penyakit DM. Katarak toksik : Setelah terpapar bahan kimia atau substansi tertentu ( korticostirot.000 ekstraksi mata tiap tahunnya. Di USA sendiri 300.Klorpromasin/torasin. 000 – 400. membersihkan semak dan kandang. 1986). 6.

penggunaan obat – obatan seperti kortikosteroid. atau obat – obatan miotik. Ofstalmoskopik dan pemeriksaan biomikroskopikdilakukan oleh ahli oftal mologi adalah paling diagnostik karena ini memungkinkan fisualisasi langsung untuk mengefaluasi derajad keburaman lensa. penurunan persepsi warna. B. Penatalaksanaan. C. chlorpromazine. menyiapkan makanan . Pencegahan tidak ada. radiasi bahan radoaktif atau x-ray.berjalan atau mengemudi. penurunan ketajaman penglihatan berkembang menjadi kebutaan. refleks merah tidak ada dan adanya pupil putuh. 1. Pemeriksaan Diagnostik. Kecemasan sering terjadi juga bila klien mencari evaluasi okuler. Ketakutan kehilangan penglihatan dapat menjadi menakutkan. hipoparatiroid. - Faktor – faktor predisposisi : trauma pada mata baik pada masa lalu maupun yang baru terjadi. . Pemeriksaan fisik: Manifestasi klinik - Gejala awal katarak : Penglihatan kabur. Riwayat - Usia. Pengkajian psykososial Kehilangan penglihatan biasanya berangsur – angsur dan klien mungkin menyangkal perubahan yang terjadi sampai klien merasa kehilangan penglihatan yang secara berarti mempengaruhi aktifitas seperti membaca. Pemeriksasan ini dilakukan diruang ahli oftalmologi. - Gejala lanjut katarak : Diplopia. karena penyakit ini umumnya pada usia tua. penyakit intraokuler seperti uveitis yang berulang. dan nucleus lensa mulai menjadi kuning. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN A. dan edermatitis atopik dapat mengurangi insiden terjadinya katarak yang berhubungan dengan penyakit sistemik ini. Down syndrome dan dermatitis atopik. penyakit sistemik seoerti DM.hipoparatiroid.

Pembedahan : Jika tajam penglihatan menurun dimana pasien tidak dapat menyesuaikan dengan gaya hidupnya./untuk kosmetika: Komplikasi penyakit lain . .2. Insipien dan imatur : Koreksi 3.

Trauma listrik oleh karena listrik yang bertegangan rendah maupun yang bertegangan tinggi. 3. Trauma tajam. b. misalnya pada pesawat terbang atau menyelam. Trauma barometrik. hati-hati kemungkinan adanya fraktur basis kranii. Ruptura kornea Kornea pecah. dapat juga di sertai dengan adanya korpus alienum atau tidak. bila daerah yang pecah besar dapat terjadi prolapsus iris. trauma mata terbagi atas: 1. Tauma tumpul yang terjadi dapat mengakibatkan beberapa hal. 4. 7. tetapi bila terjadi pada kedua mata . Ruptura membran descement Di tandai dengan adanya garis kekeruhan yang berkelok-kelok pada kornea. Trauma khemis karena kontak dengan benda yang bersifat asam atau basa. benturan atau ledakan di mana terjadi pemadatan udara.TRAUMA MATA a. 5. 2. visus sangat menurun dan kornea sulit menjadi jernih kembali. Trauma tumpul atau kontusio yang dapat di sebabkan oleh benda tumpul. Trauma termis oleh jilatan api atau kontak dengan benda membara. Trauma radiasi oleh gelombang pendek atau partikel-partikel atom (proton dan neutron). yang sebenarnya adalah lipatan membran descement. yaitu: 1. Penanganan: Kompres dingin 3 kali sehari. yang mungkin perforatif mungkin juga non perforatif. Menurut sebabnya. Korpus alienum dapat terjadi di intraokuler maupun ekstraokuler. 6. merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan operasi segera. Hematoma palpebra Adanya hematoma pada satu mata merupakan keadaan yang ringan. Penanganan: . 3. 2.

Hifema ringan tidak mengganggu visus. biasanya di sertai odema kornea dan endapan di bawah kornea. Galukoma sekunder. dan apabila karena peningkatan tekanan intra okuli yang di sertai dengan glaukoma maka perlu adanya operasi segera dengan di lakukannya parasintesis yaitu membuat insisi pada kornea dekat limbus. hal ini merupakan suatu keadaan yang serius. Pembagian hifema: a. . Imhibisi kornea. yang berasal dari pembuluh darah iris atau korpus siliaris. sehingga kornea menjadi berwarna kuning tengguli dan visus sangat menurun. tetapi apabila sangat hebat akan mempengaruhi visus karena adanya peningkatan tekanan intra okuler. Penanganan: Berikan pilokarpin. b. Hifema sekunder. Iridoparese-iridoplegia Adalah adanya kelumpuhan pada otot pupil sehingga terjadi midriasis.Pemberian obat-obatan yang membantu menghentikan perdarahan dan tetes mata kortisol. timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma. kemudian di beri salep mata antibiotik dan di tutup dengan verband. Penanganan: Istirahat. 5. di sebabkan oleh adanya penyumbatan oleh darah pada sudut kamera okuli anterior. b. yaitu masuknya darah yang terurai ke dalam lamellamel kornea. apabila dengan pemberian yang sampai berbulanbulan tetap midriasis maka telah terjadi iridoplegia yang iriversibel. Hifema primer. 4. Hifema Perdarahan dalam kamera okuli anterior. timbul segera oleh karena adanya trauma. Penanganan terhadap imhibisi kornea: Tindakan pembedahan yaitu keratoplastik. Komplikasi hifema: a.

visus akan sangat menurun. . 7. Jika ke depan akan menimbulkan glaukoma dan jika ke belakang akan menimbulkan afakia.luksasio lentis Luksasio lentis yang terjadi bisa ke depan atau ke belakang. Penanganan: Bila tidak ada keluhan tidak perlu di lakukan apa-apa. Iridodialisis Ialah iris yang pada suatu tempat lepas dari pangkalnya. harus di lakukan operasi. tetapi jika ada maka perlu adanya operasi untuk memfixasi iris yang lepas. Hemoragia pada korpus vitreum Perdarahan yang terjadi berasal dari korpus siliare. 11. 10. Bila terjadi gaukoma maka perlu operasi untuk ekstraksi lensa dan jika terjadi afakia pengobatan di lakukan secara konservatif. Penanganan secara konservatif adalah dengan memberikan kacamata untuk mengurangi silau. 9. yang di sebut “traumatic angle” yang menyebabkan gangguan aliran akquos humour. 8. Ruptura retina Menyebabkan timbulnya ablasio retina sehingga menyebabkan kebutaan. Glaukoma Di sebabkan oleh kare na robekan trabekulum pada sudut kamera okuli anterior. Penanganan di lakukan secara operatif. Perlu adanya tindakan operatif segera. pupil menjadi tdak bula dan di sebut dengan pseudopupil.6. Subluksasio lentis. Irideremia Ialah keadaan di mana iris lepas secara keseluruhan. Ruptura sklera Menimbulkan penurunan teknan intra okuler. kare na bnayak terdapat eritrosit pada korpus siliare. 12.

kesulitan dalam melakukan adaptasi (dari terang ke gelap/ memfokuskan penglihatan). Tiba-toba dan nyeri yang menetap di sekitar mata. Peningkatan pengeluaran air mata. Nyeri dan kenyamanan Rasa tidak nyaman pada mata. Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal dari okuler. 5. Aktivitas dan istirahat Perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari/ hobi di karenakan adanya penurunan daya/ kemampuan penglihatan. arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan jaringan pembuluh darah akibat trauma. kelelahan mata.Pengkajian dasar 1. Keamanan Penyakit mata. Neurosensori Adanya distorsi penglihatan. Pandangan kabur. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (tindakan pembedahan) Tujuan: . vitreous atau kerusakan pada sistem suplai untuk retina. Pemeriksaan penunjang Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea. tumor. halo. penggunaan kacamata tidak membantu penglihatan. diabetes. Makan dan minum Mungkin juga terjadi mual dan muntah kibat dari peningkatan tekanan intraokuler. Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg). trauma. kesulitan/ penglihatan menurun. Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa. trauma. 6. 2. 4. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul: 1. 3. nyeri kepala. retina hemoragi. silau bila terkena cahaya. papiledema.

Tidak terjadi infeksi dengan kriteria: luka sembuh dengan cepat dan baik. Rencana: a. Kolaborasi dalam pemberian obat-obat antibiotik sesuai indikasi. Gunakan dan demonstrasikan tehnik yang benar tentang cara perawatan dengan kapas yang steril serta dari arah yang dalam memutar kemudian keluar. e. Diskusikan dan observasi tanda-tanda dari infeksi (merah. tidak ada eritema. e. Tujuan: Pasien dan keluarga memiliki pengetahuan yang memadai tentang perawatan. c. Rencana: a. tidak panas. d. darinase yang purulen). Kaji keadaan penglihatan dari kedua mata. . 2. b. Diskusikan dan ajarkan pada pasien pentingnya cuci tangan ysng bersih sebelum menyentuh mata. b. Anjurkan pada pasien untuk melakukan aktivitas yang bervariasi (mendengarkan radio. Jelaskan pentingnya untuk tidak menyentuh mata/ menggosok mata. Rencana: a. Observasi tanda-tanda dari adanya disorientasi. Penurunan sensori perceptual (penglihatan) berhubungan dengan adanya trauma. penggunaan alat bantu terapi. d. 3. b. Bantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari. iritasi mata). tidak ada nanah. berbincang-bincang). Jelaskan pada pasien agar tidak menggunakan obat tets mata secara senbarangan. Kurangnya pengetahuan (perawatan) berhubungan dengan keterbatasab informasi. Gunakan alat yang menggunkan sedikit cahaya (mencegah terjadinya pandangan yang kabur. c. Anjurkan pasien untuk mencoba melakukan kegiatan secara mandiri. Tujuan: Dengan penurunan penglihatan tidak mengalami perubahan/ injuri. rencana perawatan dan prosedur tindakan yang akan di lakukan. f. Jelaskan kembali tentang keadaan pasien.

Retinopati B. Non rhegmetogen retina detachment 1. “mengedan”. Malignancy hipertensi 2. Anjurkan pada pasien gara tidak membaca terlebih dahulu. dr. Observasi kemampuan pasien dalam melakukan tindakan sesuai dengan anjuran petugas. Trauma .c. Ramatjandra Illyas)  Pemisahan Retinal dari Choroid yang dapat terjadi spontan atau karena trauma (Clinical Practice Of medical Surgical Nursing. d. dua jaringan tersebut biasanya berkaitan (Body monk dan Stein Metz 1987)  Lepasnya retinal / sel kerucut dan batang sel choroid sehingga bagian ini mengalami gangguan nutrisi dari charoid yang bila berlagsung lama akan mengakibat gangguan fungsi yang tetap (Prof. Soetomo Surabaya. e. Sidharta Ilyas. Rhegmatogen retinal detachment. Choroiditis 4. Anjurkan pada pasien untuk tidur dengan meunggunakan punggung. 1. Dr. “buang ingus”. Pathofisiologi : Ada 2 tipe : (Clinical practice of Medical Surgical Nursing) A. mengtur cahaya lampu tidur. ABLATIO RETINA Pengertian Ablatio Retina adalah :  Lepasnya retina sensoris dari epitel berpigmen (Pedoman Diagnoosis dan Therapi Lab / UPF Penyakit Mata RSUD Dr. Choroidal tumor 3.  Adalah pemisahan seonsori retina dari epitel berpigmen. bersin atau merokok.

panjang anteroposterior dari mata membesar. degenerasi dari retina dan vitreuos dan myopi. Rhegmatogenous detachment jarang terjadi pada kaum muda kecuali karena trauma. dapat melewati ora serrata . Kelainan vitrius Etiologi : Rhegmatogen retinal detachment terjadi karena lubang atropic pada retina atau robekan pada retina yang disebabkan karena tekanan mekanik. Degenerasi 3. Tanda dan gejala  Gejala Dini : Floaters dan fotopsia.  Gangguan lapangan Pandang  Melihat seperti tirai.  Pada pemeriksaan fundus okuli : tampak retina yang terlepas berwarna pucat dengan pembuluh darah retina yang berkelok – kelok disertai / tanpa robekan retina Diagnosis Banding 1.  Visus menurun tanpa disertai rasa nyeri. Retiniskisis : Terlihat lebih transparan 2.2. Traksi detachment terjadi karena kontraksi dari katan serabut vitreus yang menarik retina dari epitel pigmen. Separasi khoroid : Terlihat lebih gelap. ukuran dari posterior chamber meningkat. Tiga faktor yang potensial menyebabkan terjadinya retinal detachment adalah : Aphakia. Angka kejadiannya meningkat pada dekade ke – 4 dan puncaknya pada dekade 5 dan ke – 6. Insiden Biasanya terjadi pada usia 50 tahun dan pada penderita dengan myopi. Perpindahan human lens (dihasilkan dalam apakia) dapat menjadikan vitreous berpindah ke depan. Dalam beberapa kasus myopi. Eksudat detachment terjadi sebagai hasil dari cairan yang terkumpul dalam lapisan sub retinal yang terjadi karena terpisahnya retina dengan epitel pigmen.

3. 4. Riwayat penyakit dahulu : Penyebab timbulnya ablasio retina yaitu myopi. 5. dapat dilakukan punksi lewat sklera. 3. Pada keadaan cairan sub retina yang cukup banyak. Foto kogulasi retinal : Bila terjadi robekan retina tetapi belum terjadi separasi retina. Membuat radang steril pada khoroid dan epithel pigmen pada daerah robekan retinal dengan jalan : i. pekerjaan dan lingkugannya . degerasi perifer. b.  Pada penderita dengan ablatio retina non rhegmatogenous. Tumor khoroid : Perlu pemeriksaan USG Penatalaksanaan  Penderita tirah baring sempurna  Mata yang sakit ditutup dengan bebat mata. c. retinitis. DM atau alergi. Riwayat Keluarga : Penyakit mata dalam keluarga. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 1. Riwayat Penyakit sekarang Mengeluh adanya bayangan hitam bergerak. . Melihat benda bergerak seperti tirai. Pendinginan ii. Operasi cerlage : Operasi dikerjakan untuk mengurangi tarikan badan kaca. perasaan terhadap penyakit dan therapinya. jika penyakit primernya sudah diobati tetapi masih terdapat ablatio retina.  Pada ablatio retina rhegmatogenous : a. Plobage lokal : dengan silocone sponge dijahitkan pada episklera pada daerah robekan retina. Diatermi d. penglihatan kabur. trauma. dapat dilakukan operasi cerclage. Riwayat Psikososial dan Spiritual : Meliputi informasi dan tanggapan klien tentang penyakit dan pengaruh sakitnya terhadap cara hidup. Biodata 2.

Pemasangan bukling 2. 2. permukaan retina tidak rata  Refraksi : Kelainan refraksi mata myopi. Perforasi kroid (pungsi) 4. Lubang kecil atau bulan sabit. konsep diri.6. Injeksi udara DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Defisit self care sehubungan dengan tirah baring. Perubahan perspsi sensori melihat s/d efek dari lepasnya saraf sensori dari retina. Di perlukan tindakan pembedahan Pembedahan 1. Flurensin anglografi : Kebocoran didaerah para papilaris dan daerah yang  berdekatan dengan ruptur serta terliha gangguan permebialitas koriokapilaris akibat rangsangan langsung badan kaca pada choroid. Pem. Kriteria hasil : 1. Pendinginan (Kryo surgery) 3. Ansietas s/d ancaman kehilangan penglihatan. 5. Tidak terjadi kehilangan penglihatan yang berlanjut 2. 3. 7. perubahan tajam penglihatan. kurang pengetahuan sehubungan sengan kurang mampu mengingat. 4. luka operasi. Pot. USG  : Terlihat lubang pada retina yang berbentuk ladam kuda. Pemeriksaan fisik :  Visus : Untuk melihat ketajaman penglihatan (menurun)  Funduskopi : retina berwarna abu – abu. Perubahan kenyamanan mata sehubungan dengan pemasangan scleral bukling. Tear. Hole. perubhan peran dan fungsi. salah informasi. 6. Kecemasan berkurang . Fundus . Blaas. 8. Injury sehubungan dengan berkurangnya penglihatan.

Injury sehubungan dengan berkurangnya penglihatan. Konseling mendiskusikan tentang penurun tajam penglihatan walaupun kemungkinan pemulihan penglihatan tidak dapat dipastikan. batuk. penggunaan obat yang benar. muntah). . Membantu tercapainya tujuan tHERAPI 2.  Lakukan bebat mata satu atau dua mata  Tempatkan alat pemanggil yang mudah di jangkau. salah informasi. kurang pengetahuan sehubungan sengan kurang mampu mengingat. tanda dan gejalaPot. INTERVENSI SECARA UMUM  Posisikan pasien sebagaimana di instruksikan  Hindari pergerakan yang mendadak menghentakkan kepala (menyisir. Defisit self care sehubungan dengan tirah baring.  Berikan obat tetes sesuai anjuran. IMPLEMENTASI SECUM 1. Klien dapat menjelaskan . perubahan tajam penglihatan. Perubahan kenyamanan mata sehubungan dengan pemasangan scleral bukling. 5.3. Pembedahan :  Local atau general anestesi  Analtest / pencukuran bulu mata  Informet concent  Mempertahankan pupil tetap drlatasi selama op.  Bantu pemenuhan ADL untuk mencegah pergerakan kepala yang berlebihan. 3. 4. luka operasi. bersin. 6.