MAKALAH

KIMIA ORGANIK LANJUT

DISUSUN OLEH :
KELAS C
PENDIDIKAN KIMIA
DOSEN PENANGGUNG JAWAB :
DR. EMMA J. PONGOH, M. Si

UNIVERSITAS NEGERI MANADO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
2015
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang karena kasih
karunia Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kimia organik lanjut ini. Kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya dosen pembimbing DR. Emma J.
Pongoh M.Si serta orang tua.
Dengan

kerendahan

hati

kami mohon

memberikan saran dan kritik. Harapan

kami

perkenaan

makalah

ini

para

pembaca

untuk

dapat

bermanfaat

bagi

pembaca.
Terima kasih.

Tondano,

November 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

2

KATA PENGANTAR.............................................................................................................................2
.......................................................................................................................................... DAFTAR ISI
................................................................................................................................................................ 3
........................................................................................................ BAB 1 MODEL IKATAN KIMIA
................................................................................................................................................................ 4
...............................................................

BAB 2 IKATAN KIMIA

..............................................................................................................................................................13
.....................................................................................

BAB 3 INTERMOLECULER FORCES

..............................................................................................................................................................28
....................................................................................................................................................
BAB 5 KINETIKA DAN TERMODINAMIKA...................................................................................38
BAB 6 PEREAKSI DAN MEKANISME REAKSI..............................................................................46
BAB 8 LAJU REAKSI VS TEMPERATURE......................................................................................60
BAB 9 LFER........................................................................................................................................76
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................................84
..................................................................................................................................................................

3

BAB 1
MODEL IKATAN KIMIA

A. Ikatan Ion
Ikatan ion terbentuk akibat adanya melepas atau menerima elektron oleh atom-atom yang
berikatan. Atom-atom yang melepas elektron menjadi ion positif (kation) sedang atom-atom
yang menerima elektron menjadi ion negatif (anion). Ikatan ion biasanya disebut ikatan
elektrovalen. Senyawa yang memiliki ikatan ion disebut senyawa ionik.
Senyawa ionik biasanya terbentuk antara atom-atom unsur logam dan nonlogam. Atom
unsur logam cenderung melepas elektron membentuk ion positif, dan atom unsur nonlogam
cenderung menangkap elektron membentuk ion negatif.
Contoh: NaCl, MgO, CaF2, Li2O, AlF3, dan lain-lain.

Hal ini terjadi apabila atom logam mentransfer elektron ke atom non- logam dan
menghasilkan tarik-menarik elektrostatik. Hal ini terjadi akibat perbedaan keelektronegatifan
yang besar, atom logam bersifat elektropositif sedangkan atom non logam lebih elektronegatif.
 Untuk Lebih Mengenal Ikatan Ionik Maka Kita Harus Mengetahui Pula Tentang
Energi Ionisasi Dan Afinitas Elektron.
1. Energi Ionisasi

4

5 . Berbeda dari ikatan ionik yang terjadi transfer elektron antar atom. Untuk non logam sebaliknya. Perbedaan keelektronegatifan antara atom atom yang menjadi penyebab utamanya. misalnya saja atom natrium memiliki energi ionisasi 495 kJ/mol . yaitu energi yang di dapat ketika atom menerima elektron. Semakin tinggi afinitas elektronnya maka atom akan lebih mudah menerima elektron. pada ikatan Kovalen kita akan mengenal istilah momendipol.Energi ialah energi yang dibutuhkan untuk melepaskan satu elektron terluarnya. Momen dipol terjadi karena pemakaian besama elektron tidak selalu secara merata. energi ionisasi ini lebih kecil pada logam karena bersifat elektropositif. B. tetapi pada fase cair (lelehan) dan larutannya menghantarkan listrik. 3) Mempunyai titik didih dan titik leleh tinggi. Energi ionisasi yang kecil berarti suatu atom hanya memerlukan sedikit energi untuk melepaskan elektronnya dan mengakibatkan akan bermuatan positif. Momen dipol merupakan suatu perbedaan muatan pada kutub kutubnya. Afinitas Elektron Afinitas elektron ini seperti kebalikan dari energi ionisasi. 2. Senyawa dengan momen dipol seperti ini dapat kita katakan senyawa polar. 2) Struktur kristalnya keras tapi rapuh. Atom yang elektronegatif kuat menarik elekton dari aton yang elektronegatif lemah. Hal itu yang sering kita jumpai pada logam. 4) Larut dalam pelarut air tetapi tidak larut dalam pelarut organik.  Sifat-sifat fisika senyawa ionik pada umumnya: 1) Pada suhu kamar berwujud padat. jadi untuk merubah Na menjadi Na+ kan dibutuhkan energi sebesar 495 kJ/mol. Ikatan Kovalen Ikatan Kovalen merupakan pemakaian bersama elektron oleh atom – atom. karena itulah pada daerah yang elektronagatif tinggi menjadi kutub negatif. 5) Tidak menghantarkan listrik pada fase padat.

Struktur Lewis adalah penggambaran ikatan kovalen yang menggunakan lambang titik Lewis di mana PEI dinyatakan dengan satu garis atau sepasang titik yang diletakkan di antara kedua atom dan PEB dinyatakan dengan titik-titik pada masing-masing atom. Ikatan kovalen tunggal Ikatan kovalen tunggal yaitu ikatan kovalen yang memiliki 1 pasang PEI. Ikatan kovalen rangkap dua Ikatan kovalen rangkap 2 yaitu ikatan kovalen yang memiliki 2 pasang PEI. bisa sejenis (contoh: H2. Contoh: H2. O2.Pasangan elektron yang dipakai bersama disebut pasangan elektron ikatan (PEI) dan pasangan elektron valensi yang tidak terlibat dalam pembentukan ikatan kovalen disebut pasangan elektron bebas (PEB). H2 Lambang titik Lewis Struktur Lewis 2. Berdasarkan lambang titik Lewis dapat dibuat struktur Lewis atau rumus Lewis. Br2. C = 2. H2O (konfigurasi elektron H = 1. Senyawa yang hanya mengandung ikatan kovalen disebut senyawa kovalen. Contoh: O2. Berdasarkan jumlah PEI-nya ikatan kovalen dibagi 3: a. I 2) dan berbeda jenis (contoh: H2O. 6) b. Contoh: 1. CO2. dan lain-lain). O = 2. Ikatan kovalen umumnya terjadi antara atom-atom unsur nonlogam. 6. 4) 6 . H2O  Macam-macam ikatan kovalen: 1. F2. CO2 (konfigurasi elektron O = 2.Cl2. N2.

Contoh: CH4 Keelektronegatifan 2.1 = 1. 4. Ikatan kovalen polar Ikatan kovalen polar adalah ikatan kovalen yang PEInya cenderung tertarik ke salah satu atom yang berikatan.c. Senyawa kovalen polar biasanya terjadi antara atomatom unsur yang beda keelektronegatifannya besar. ikatan kovalen dibagi 2: a. Kepolaran suatu ikatan kovalen ditentukan oleh keelektronegatifan suatu unsur. Ikatan kovalen rangkap tiga Ikatan kovalen rangkap 3 yaitu ikatan kovalen yang memiliki 3 pasang PEI. 5)  Berdasarkan kepolaran ikatan.0 – 2. 2.91 Debye b. Senyawa kovalen nonpolar terbentuk antara atom-atom unsur yang mempunyai beda keelektronegatifan nol atau mempunyai momen dipol = 0 (nol) atau mempunyai bentuk molekul simetri.1. Ikatan kovalen nonpolar Ikatan kovalen nonpolar yaitu ikatan kovalen yang PEInya tertarik sama kuat ke arah atom-atom yang berikatan. Ikatan kovalen koordinasi 7 . mempunyai momen dipol (μ = hasil kali jumlah muatan dengan jaraknya) ≠ 0. Contoh: N2 (Konfigurasi elektron N = 2.1 = 0. mempunyai bentuk molekul asimetris.4 μ=q×r=0 Bentuk molekul simetri c.1.5 Beda keelektronegatifan = 2. Contoh: HF H–F Keelektronegatifan 2.5 – 2.9 μ = q × r = 1.0 Beda keelektronegatifan = 4.

cair (Br2). Akibatnya terbentuk ikatan yang disebut ikatan logam. Ikatan logam bukanlah ikatan ion atau ikatan kovalen. C. maka terjadi gaya tarik-menarik antara ion-ion Fe+ dan elektron-elektron bebas ini. Karena muatannya berlawanan (Fe2+ dan 2e–). Salah satu teori yang dikemukakan untuk menjelaskan ikatan logam adalah teori lautan elektron. dan perak. Penghantar listrik dan panas yang baik. Mempunyai titik didih dan titik leleh yang tinggi. 2. Keras tapi lentur/dapat ditempa.Ikatan kovalen koordinasi adalah ikatan kovalen yang PEInya berasal dari salah satu atom yang berikatan. 5. Contoh:  Sifat-sifat fisis senyawa kovalen: 1. Padatannya lunak dan tidak rapuh. Contoh: logam besi. seng. Pada suhu kamar berwujud padat. 2. Mempunyai titik didih dan titik leleh rendah. Mengilap 8 . Pada suhu kamar berwujud gas. Ikatan Logam Ikatan logam adalah ikatan kimia yang terbentuk akibat penggunaan bersama elektronelektron valensi antaratomatom logam. Tumpang tindih antarelektron valensi ini memungkinkan elektron valensi dari setiap atom Fe bergerak bebas dalam ruang di antara ionion Fe+ membentuk lautan elektron. 5. 4. dan ada yang padat (I2). Tempat kedudukan elektron valensi dari suatu atom besi (Fe) dapat saling tumpang tindih dengan tempat kedudukan elektron valensi dari atom-atom Fe yang lain. 4. 3. 3. Contoh terjadinya ikatan logam. Umumnya tidak menghantarkan listrik. Adanya ikatan logam menyebabkan logam bersifat: 1. Larut dalam pelarut organik tapi tidak larut dalam air. kecuali Hg.

orbital 1s n=2 l = 0. 0. Isomeri Senyawa yang mempunyai rumus molekul yang sama tetapi mempunyai rumus struktur berbeda  Teori orbital molekul Hukum ketidakpastian Heisenberg p = momentum (m x v). 3 … l = azimut = 0. +1 orbital 2p  Konfigurasi elektron: 2 2 2 6C = 1s 2s 2p 2 2 4 8O = 1s 2s 2p 2 2 6 2 5 17Cl = 1s 2s 2p 3s 3p 9 . 1. … (n-1) m = magnetik = -l. h = tetapan Planck. 2. 2. ….0. x = posisi x =  berarti tidak dapat menentukan posisi secara tepat  Mekanika kuantum Persamaan Schroedinger Posisi elektron dinyatakan dengan 4 bilangan kuantum n = utama = 1. …. +l S = spin = 1/2 n=1 l=0 1 tingkat energi. 1 2 tingkat energi l=0 orbital 2s l = 1 m = -1. 1.

 Pembentukan ikatan H. + .H H:H Tumpang tindih orbital membentuk ikatan sigma (s) yang bersifat silindris simetris.  Pembentukan orbital hibrida sp3  Pembentukan orbital hibrida sp2  Pembentukan orbital hibrida sp 10 .

Dalam prakteknya. ikatan kimia yang kuat 11 . Secara umum. para kimiawan biasanya bergantung pada teori kuantum atau penjelasan kualitatif yang kurang kaku (namun lebih mudah untuk dijelaskan) dalam menjelaskan ikatan kimia. Penjelasan mengenai gaya tarik menarik ini sangatlah rumit dan dijelaskan oleh elektrodinamika kuantum. akan menghasilkan n orbital baru Orbital Molekul Butadiena Ikatan kimia adalah sebuah proses fisika yang bertanggung jawab dalam interaksi gaya tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa diatomik atau poliatomik menjadi stabil.MODEL ORBITAL MOLEKUL Hukum kekekalan orbital : n orbital dicampur.

ditarik menuju sebuah wilayah diantara dua inti atom. sehingga atraksi 12 . Penggambaran titik lewis adalah salah satu dari usaha awal kimiawan dalam menjelaskan ikatan kimia dan masih digunakan secara luas sampai sekarang. maka dua atom yang berdekatan satu sama lainnya akan membentuk ikatan. Pada umumnya. Dalam gambaran yang paling sederhana dari ikatan non-polar atau ikatan kovalen. Ikatan kimia menjaga molekul-molekul. Kekuatan ikatan-ikatan kimia sangatlah bervariasi. sedangkan ikatan hidrogen dan ikatan van der Waals dianggap sebagai ikatan "lemah". Elektron yang mengelilingi inti atom bermuatan negatif dan proton yang terdapat dalam inti atom bermuatan negatif. dan gas-gas diatomik untuk tetap bersama. biasanya berpasangan. kristal. Gaya ini dapat mengatasi gaya tolak menolak antara dua inti atom yang positif. dan oksigen O. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa ikatan "lemah" yang paling kuat dapat lebih kuat daripada ikatan "kuat" yang paling lemah. Selain itu ikatan kimia juga menentukan struktur suatu zat. ikatan kovalen dan ikatan ion dianggap sebagai ikatan "kuat". mengingat muatan yang berlawanan akan saling tarik menarik. Contoh model titik Lewis yang menggambarkan ikatan kimia anatara karbon C.diasosiasikan dengan transfer elektron antara dua atom yang berpartisipasi. satu atau lebih elektron. hidrogen H.

Dalam gambaran ikatan ion yang disederhanakan. Pada tahun 1704. A. namun dalam prakteknya. Sejarah Spekulasi awal dari sifat-sifat ikatan kimia yang berawal dari abad ke-12 mengganggap spesi kimia tertentu disatukan oleh sejenis afinitas kimia. Pada tahun 1916. Pada pertengahan abad ke-19 Edward Frankland. Ada pula teori-teori yang lebih canggih. walaupun keduanya masih akan tetap bergetar dalam keadaan kesetimbangan. Ikatan ini dihasilkan dari atraksi elektrostatik di antara atom-atom dan atom-atom tersebut menjadi ion-ion yang bermuatan. beranjak pada teori radikal. Couper. dan metode orbital molekul kombinasi linear orbital atom (Bahasa Inggris: Linear combination of atomic orbitals molecular orbital method) yang meliputi teori medan ligan. 13 . A. setelah penemuan tumpukan volta. Pada tahun 1819. ikatan kovalen melibatkan elektron-elektron yang dikongsi dan dua atau lebih inti atom yang bermuatan positif secara bersamaan menarik elektronelektron bermuatan negatif yang dikongsi. dan Hermann Kolbe. arah. sehingga secara efektif menyebabkan satu atom mentransfer elektronnya ke atom yang lain. dan polaritas sebuah ikatan. Semua bentuk ikatan dapat dijelaskan dengan teori kuantum. Kekule. Elektrostatika digunakan untuk menjelaskan polaritas ikatan dan efek-efeknya terhadap zat-zat kimia.ini menjaga kedua atom untuk tetap bersama.M. inti atom yang bermuatan positif secara dominan melebihi muatan positif inti atom lainnya. Jöns Jakob Berzelius mengembangkan sebuah teori kombinasi kimia yang menekankan sifat-sifat elektrogenativitas dan elektropositif dari atom-atom yang bergabung. Isaac Newton menggarisbesarkan teori ikatan atomnya pada "Query 31" buku Opticksnya dengan mengatakan atom-atom disatukan satu sama lain oleh "gaya" tertentu.S. kaidahkaidah yang disederhanakan mengijinkan para kimiawan untuk memprediksikan kekuatan. mengembangkan teori valensi yang pada awalnya disebut "kekuatan penggabung". Ringkasnya.A. Hal ini menyebabkan satu atom bermuatan positif dan yang lainnya bermuatan negatif secara keseluruhan. Kaidah oktet (Bahasa Inggris: octet rule) dan teori VSEPR adalah dua contoh kaidah yang disederhanakan tersebut. yaitu teori ikatan valens yang meliputi hibridisasi orbital dan resonans. Butlerov. F. Teori ini mengatakan sebuah senyawa tergabung berdasarkan atraksi kutub positif dan kutub negatif.

Teori ini merupakan model ikatan polar. namun model teorinya mengasumsikan transfer elektron yang penuh antara atom-atom. Metode Heitler-London menjadi dasar dari teori ikatan valensi. Lewis mengembangkan konsep ikatan elektron berpasangan. Dalam kata-kata Lewis sendiri: Pada tahun yang sama. Baik Lewis dan Kossel membangun model ikatan mereka berdasarkan kaidah Abegg (1904). Persamaan ikatan elektron pada multielektron tidak dapat 14 . ikatan rangkap dua. Pada tahun 1929. membentuk ikatan elektron tunggal. metode orbital molekul kombinasi linear orbital atom (Bahasa Inggris: linear combination of atomic orbitals molecular orbital method). untuk pertama kalinya penjelasan matematika kuantum yang penuh atas ikatan kimia yang sederhana berhasil diturunkan oleh fisikawan Denmark Oyvind Burrau. Walther Kossel juga mengajukan sebuah teori yang mirip dengan teori Lewis.kimiawan Gilbert N. Pendekatan yang lebih praktis namun kurang kuantitatif dikembangkan pada tahun yang sama oleh Walter Heitler and Fritz London. Teori orbital molekul ini mewakilkan ikatan kovalen sebagai orbital yang dibentuk oleh orbital-orbital atom mekanika kuantum Schrödinger yang telah dihipotesiskan untuk atom berelektron tunggal. disingkat LCAO. Konsep ini mengatakan dua atom dapat berkongsi satu sampai enam elektron. diperkenalkan oleh Sir John Lennard-Jones yang bertujuan menurunkan struktur elektronik dari molekul F2 (fluorin) dan O2 (oksigen) berdasarkan prinsipprinsip dasar kuantum. Pada tahun 1927. ikatan tunggal. [1] Hasil kerja ini menunjukkan bahwa pendekatan kuantum terhadap ikatan kimia dapat secara mendasar dan kuantitatif tepat. atau ikatan rangkap tiga. Namun metode ini tidak mampu dikembangkan lebih jauh untuk menjelaskan molekul yang memiliki lebih dari satu elektron.

[2] Dengan 13 parameter yang dapat diatur.Berbeda dengan perhitungan-perhitungan sebelumnya yang hanya menggunakan fungsi-fungsi jarak antara elektron dengan inti atom. walaupun pendekatan ketiga. Ikatan elektron berpasangan terbentuk melalui interaksi elektron tak-berpasangan pada masing-masing atom. Selain itu. teori fungsional rapatan (Bahasa Inggris: density functional theory). 2. Teori ikatan valensi Pada tahun 1927. dia mewakilkan enam aturan pada ikatan elektron berpasangan: 1. Namun pendekatan ini tidak dapat memberikan gambaran fisik seperti yang terdapat pada teori ikatan valensi dan teori orbital molekul. teori ikatan valensi dikembangkan atas dasar argumen bahwa sebuah ikatan kimia terbentuk ketika dua valensi elektron bekerja dan menjaga dua inti atom bersama oleh karena efek penurunan energi sistem. S. mereka juga menggunakan fungsi yang secara eksplisit memperhitungkan jarak antara dua elektron. mereka mendapatkan hasil yang sangat mendekati hasil yang didapatkan secara eksperimen dalam hal energi disosiasi. Coolidge melakukan perhitungan pada molekul dihidrogen. H. Dalam jurnal ini. 15 . Pada tahun 1935. H. mulai mendapatkan perhatian yang lebih akhir-akhir ini. ia juga sangat sulit diperluas untuk perhitungan molekul-molekul yang lebih besar. berdasarkan hasil kerja Lewis dan teori valensi ikatan Heitler dan London. Spin-spin elektron haruslah saling berlawanan. Pada tahun 1931.diselesaikan secara analitik. Kebanyakan perhitungan kuantitatif pada kimia kuantum modern menggunakan baik teori ikatan valensi maupun teori orbital molekul sebagai titik awal. James dan A. beranjak dari teori ini. Perhitungan ini meyakinkan komunitas sains bahwa teori kuantum dapat memberikan hasil yang sesuai dengan hasil eksperimen. kimawan Linus Pauling mempublikasikan jurnal ilmiah yang dianggap sebagai jurnal paling penting dalam sejarah kimia: "On the Nature of the Chemical Bond". Perluasan selanjutnya menggunakan 54 parameter dan memberikan hasil yang sangat sesuai denganhasil eksperimen. namun dapat dilakukan pendekatan yang memberikan hasil dan prediksi yang secara kualitatif cukup baik.

orbital antiikat. Dampak dari teori valensi ini berkurang sekitar tahun 1960-an dan 1970-an ketika popularitas teori orbital molekul meningkat dan diimplementasikan pada beberapa progam komputer yang besar. Buku teks tahun 1939 Pauling: On the Nature of Chemical Bond menjadi apa yang banyak orang sebut sebagai "kitab suci" kimia modern. Buku ini membantu kimiawan eksperimental untuk memahami dampak teori kuantum pada kimia. edisi 1959 selanjutnya gagal untuk mengalamatkan masalah yang lebih mudah dimengerti menggunakan teori orbital molekul. dua elektron tidak bisa berpartisipasi lagi pada ikatan lainnya. 4. Jika elektronelektron cenderung berada di orbital molekul yang berada di lokasi lainnya. Teori orbital molekul Teori orbital molekul (Bahasa Inggris: Molecular orbital tehory). Sejak tahun 1980-an. masalah implementasi teori ikatan valensi yang lebih sulit pada program-program komputer telah hampir dipecahkan dan teori ini beranjak bangkit kembali. Semuanya ini seringkali dibagi menjadi orbital ikat. maka orbital ini adalah orbital ikat dan akan cenderung menjaga kedua inti bersama. Elektron-elektron yang berada pada orbital bukan-ikatan cenderung berada pada orbital yang paling dalam (hampir sama dengan orbital 16 .3. Namun. Orbital molekul hanyalah sebuah orbital Schrödinger yang melibatkan beberapa inti atom. 5. Dari dua orbital pada sebuah atom. maka orbital ini adalah orbital antiikat dan akan melemahkan ikatan. salah satu yang dapat bertumpang tindih paling banyaklah yang akan membentuk ikatan paling kuat. dan ikatan ini akan cenderung berada pada arah orbital yang terkonsentrasi. Elektron-elektron yang tersedia pada aras energi yang paling rendah akan membentuk ikatan-ikatan yang paling kuat. disingkat MO. Jika orbital ini merupakan tipe orbital yang elektron-elektronnya memiliki kebolehjadian lebih tinggi berada di antara dua inti daripada di lokasi lainnya. menggunakan kombinasi linear orbital-orbital atom untuk membentuk orbital-orbital molekul yang menrangkumi seluruh molekul. dan orbital bukan-ikatan. 6. Seketika dipasangkan. Pertukaran elektron pada ikatan hanya melibatkan satu persamaan gelombang untuk setiap atom.

Elektron-elektron ini tidak menguatkan maupun melemahkan kekuatan ikatan. Pada tahun 1930. teori ikatan valensi. Konsep hibridisasi sangatlah berguna dan variabilitas pada ikatan di kebanyakan senyawa organik sangatlah rendah. Logam kompleks dan senyawa yang kurang elektron (seperti diborana) dijelaskan dengan sangat baik oleh teori orbital molekul. Perbandingan antara teori ikatan valensi dan teori orbital molekul Pada beberapa bidang. Kekurangan teori ikatan valensi menjadi lebih jelas pada molekul yang berhipervalensi (contohnya PF5) ketika molekul ini dijelaskan tanpa menggunakan orbital-orbital d yang sangat krusial dalam hibridisasi ikatan yang diajukan oleh Pauling. teori orbital molekul memprediksikan bahwa molekul hidrogen akan berdisosiasi menjadi superposisi linear dari hidrogen atom dan ion hidrogen positif dan negatif. dan sifat-sifat magnetik molekul. ionisasi. Hal ini secara sebagian menjelaskan mengapa kurva energi total terhadap jarak antar atom pada metode ikatan valensi berada di atas kurva yang menggunakan metode orbital molekul.atom). Jika kita mengambil struktur ikatan valensi yang sederhana dan menggabungkan semua struktur kovalen dan ion yang dimungkinkan pada sekelompok orbital atom. bahkan dengan pendekatan Heitler-London yang paling sederhana. Sebaliknya. dan Gerhard Herzberg menunjukkan bahwa teori orbital molekul memberikan deskripsi yang lebih tepat pada spektrokopi. Prediksi ini tidak sesuai dengan gambaran fisik. H2. dan diasosiasikan secara keseluruhan pada satu inti. hasil kerja Friedrich Hund. Namun. Ketika diaplikasikan pada molekul berelektron dua. Jika kita mengambil deskripsi orbital molekul sederhana pada keadaan dasar 17 . walaupun penjelasan yang menggunakan teori ikatan valensi juga telah dibuat. teori ikatan valensi lebih baik daripada teori orbital molekul. menyebabkan teori ini masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kimia organik. Situasi ini terjadi pada semua molekul diatomik homonuklir dan tampak dengan jelas pada F2 ketika energi minimum pada kurva yang menggunakan teori orbital molekul masih lebih tinggi dari energi dua atom F. Robert Mulliken. kita mendapatkan apa yang disebut sebagai fungsi gelombang interaksi konfigurasi penuh. memberikan pendekatan energi ikatan yang lebih dekat dan representasi yang lebih akurat pada tingkah laku elektron ketika ikatan kimia terbentuk dan terputus. dua metode ini saling bersaing sampai disadari bahwa keduanya hanyalah merupakan pendekatan pada teori yang lebih baik.

Beberapa kimiawan juga menandai orbital-orbital atom. sedangkan pendekatan ikatan valensi terlalu ter-lokalisasi. Sekarang kedua pendekatan tersebut dianggap sebagai saling memenuhi. masing-masing memberikan pandangannya sendiri terhadap masalah-masalah pada ikatan kimia. kita juga mendapatkan fungsi gelombang interaksi konfigurasi penuh. Oleh karena itu. Ini bukanlah karena pendekatan orbital molekul lebih akurat dari pendekatan teori ikatan valensi. Kadangkala. sebagai contoh anion etena −4 yang dihipotesiskan (\/C=C/\ −4) mengindikasikan kemungkinan pembentukan ikatan. memisahkan gugus fungsi dari bagian molekul lainnnya (C2H5OH). Kadang-kadang kesemuaannya dihiraukan. Dapat kita katakan bahwa pendekatan orbital molekul terlalu ter-delokalisasi. 3-dimensi. 2dimensi penuh (tanpa indikasi arah ikatan 3-dimensi). Ikatan dalam rumus kimia Bentuk atom-atom dan molekul-molekul yang 3 dimensi sangatlah menyulitkan dalam menggunakan teknik tunggal yang mengindikasikan orbital-orbital dan ikatan-ikatan. Namun programprogam ikatan valensi yang lebih baik juga tersedia. rumus molekul etanol dapat ditulis secara konformasi. Terlihatlah bahwa pendekatan orbital molekul yang sederhana terlalu menitikberatkan pada struktur ion. kimiawan biasanya hanya peduli pada gugus fungsi molekul. Ikatan kuat kimia 18 . Perhitungan modern pada kimia kuantum biasanya dimulai dari (namun pada akhirnya menjauh) pendekatan orbital molekul daripada pendekatan ikatan valensi.dan mengkombinasikan fungsi tersebut dengan fungsi-fungsi yang mendeskripsikan keseluruhan kemungkinan keadaan tereksitasi yang menggunakan orbital tak terisi dari sekelompok orbital atom yang sama. Pada rumus molekul. 2-dimensi yang disingkat (CH 3–CH2–OH). bahkan kelopak valensi elektron bukan-ikatan (dengan pendekatan arah yang digambarkan secara 2-dimensi) juga ditandai. atau hanya dengan konstituen atomnya saja (C2H6O). pada kimia organik. ikatan kimia (orbital yang berikatan) diindikasikan menggunakan beberapa metode yang bebeda tergantung pada tipe diskusi. sedangkan pendekatan teori valensi ikatan yang sederhana terlalu sedikit menitikberatkan pada struktur ion. melainkan karena pendekatan orbital molekul lebih memudahkan untuk diubah menjadi perhitungan numeris. Sebagai contoh.

dikonversikan 100 (1 menjadi Å Data diambil dari [1]. Panjang Energi (pm) (kJ/mol) H–H 74 436 H–C 109 413 H–N 101 391 H–O 96 366 H–F 92 568 H–Cl 127 432 H–Br 141 366 C–H 109 413 C–C 154 348 C=C 134 614 C≡C 120 839 C–N 147 308 C–O 143 360 C–F 135 488 C–Cl 177 330 C–Br 194 288 Ikatan pm H — Hidrogen C — Karbon 19 = 100 Å pm).Panjang ikat dan energi Panjang dengan dalam ikat ikat dapat pembagian dengan dalam kJ/mol. .

I — Halogen 20 . Cl. Br.C–I 214 216 C–S 182 272 N–H 101 391 N–C 147 308 N–N 145 170 N≡N 110 945 O–H 96 366 O–C 143 360 O–O 148 145 O=O 121 498 F–H 92 568 F–F 142 158 F–C 135 488 Cl–H 127 432 Cl–C 177 330 Cl–Cl 199 243 Br–H 141 366 Br–C 194 288 Br–Br 228 193 I–H 161 298 N — Nitrogen O — Oksigen F.

Semakin kecil perbedaan elektronegativitasnya. Sebagai contohnya. yaitu ikatan yang perbedaan elektronegativitas di antara atom-atom yang berikat sangatlah kecil atau hampir tidak adal.5 dan dua atom dalam nitrit oksida NO dihubungkan oleh ikatan 2. Jumlah yang berangka genap umumnya dijumpai karena elektron akan memiliki keadaan energi yang lebih rendah jika berpasangan. semakin bersifat kovalen ikatan tersebut. karbon-karbon dalam senyawa benzena dihubungkan satu sama lain oleh ikatan 1. empat. Teori-teori ikatan yang lebih canggih menunjukkan bahwa kekuatan ikatan tidaklah selalu berupa angka bulat dan tergantung pada distribusi elektron pada setiap atom yang terlibat dalam sebuah ikatan. Lihat pula ikatan sigma dan ikatan pi untuk penjelasan LCAO terhadap jenis ikatan ini. Ikatan kovalen Ikatan kovalen adalah ikatan yang umumnya sering dijumpai.I–C 214 216 I–I 267 151 182 272 S — Belerang C–S Ikatan-ikatan berikut adalah ikatan intramolekul yang mengikat atom-atom bersama menjadi molekul. Ikatan-ikatan yang terdapat pada kebanyakan senyawa organik dapat dikatakan sebagai ikatan kovalen. Jenis-jenis ikatan kuat bergantung pada perbedaan elektronegativitas dan distribusi orbital elektron yang tertarik pada suatu atom yang terlibat dalam ikatan.5. atau enam. Dalam pandangan yang sederhana dan terlokalisasikan. semakin besar elektron-elektron tersebut tertarik pada atom yang berikat dan semakin bersifat ion pula ikatan tersebut. Keberadaan ikatan rangkap empat juga diketahui dengan baik. jumlah elektron yang berpartisipasi dalam suatu ikatan biasanya merupakan perkalian dari dua. 21 . Semakin besar perbedaan elektronegativitasnya.

0 bisanya disebut ikatan ion. Ikatan ini biasanya ditandai dengan tanda panah. Konsep ini mulai ditinggalkan oleh para kimiawan seiring dengan berkembangnya teori orbital molekul. Ikatan pisang biasanya lebih rentan mengalami reaksi daripada ikatan-ikatan normal lainnya.Ikatan polar kovalen Ikatan polar kovalen merupakan ikatan yang sifat-sifatnya berada di antara ikatan kovalen dan ikatan ion. Muatan-muatan ion ini umumnya berkisar antara -3 e sampai dengan +3e. Susunan ikatan ini berbeda dengan ikatan ion pada perbedaan elektronegativitasnya yang kecil. Ujung panah ini menunjuk pada akseptor elektron atau asam Lewis dan ekor panah menunjuk pada penderma elektron atau basa Lewis Ikatan pisang Ikatan pisang adalah sejenis ikatan yang terdapat pada molekul-molekul yang mengalami terikan ataupun yang mendapat rintangan sterik. sehingga menghasilkan ikatan yang kovalen. namun perbedaan elektronegativitas yang lebih besar dari 2.[3] Ikatan ion menghasilkan ion-ion positif dan negatif yang berpisah. adalah sejenis ikatan kovalen yang keseluruhan elektron-elektron ikatannya hanya berasal dari salah satu atom. Contoh ikatan kovalen koordinat terjadi pada nitron dan ammonia borana. kadangkala disebut sebagai ikatan datif. ataupun basa Lewis. Ikatan 3c-2e dan 3c-4e 22 . Ikatan ion Ikatan ion merupakan sejenis interaksi elektrostatik antara dua atom yang memiliki perbedaan elektronegativitas yang besar. Tidaklah terdapat nilai-nilai yang pasti yang membedakan ikatan ion dan ikatan kovalen. Ikatan kovalen koordinat Ikatan kovalen koordinat. sehingga orbital-orbital ikatan tersebut dipaksa membentuk struktur ikatan yang mirip dengan pisang. sedangkan perbedaan yang lebih kecil dari 1.5 biasanya disebut ikatan kovalen. penderma pasangan elektron.

Pada benzena. Ikatan sejenis ini terjadi pada senyawa yang kekurangan elektron seperti pada diborana. Ikatan jenis ini biasanya hanya stabil pada atom-atom yang memiliki elektronegativitas yang sama.[5] Ikatan aromatik Pada kebanyakan kasus. 18 elektron ikatan mengikat 6 atom karbon bersama membentuk struktur cincin datar. Contoh paling sederhana dari ikatan satu elektron dapat ditemukan pada kation molekul hidrogen H2+. Terdapat pula Ikatan tiga-pusat empat-elektron yang menjelaskan ikatan pada molekul hipervalen. Ikatan satu elektron seringkali memiliki energi ikat yang setengah kali dari ikatan dua elektron. [4] Contoh sederhana dari ikatan tiga elektron dapat ditemukan pada kation dimer helium.[5] Molekul-molekul dengan ikatan elektron gasal biasanya sangat reaktif. tiga atom saling berbagi dua elektron. Ikatan tiga elektron dan satu elektron Ikatan-ikatan dengan satu atau tiga elektron dapat ditemukan pada spesi radikal yang memiliki jumlah elektron gasal (ganjil). Ikatan dilitium satu elektron.Dalam ikatan tiga-pusat dua-elektron. Molekul oksigen juga dapat dianggap memiliki dua ikatan tiga elektron dan satu ikatan dua elektron yang menjelaskan sifat paramagnetiknya. He 2+. Namun terdapat pengecualian pada kasus dilitium. Setiap ikatan mengandung sepasang elektron yang menghubungkan atom boron satu sama lainnya dalam bentuk pisang dengan sebuah proton (inti atom hidrogen) di tengah-tengah ikatan. dan dapat pula dianggap sebagai "ikatan setengah" karena menurut teori orbital molekul. Pengecualian ini dapat dijelaskan dengan hibridisasi dan efek kelopak dalam. Li2+. sehinggi ikatan ini disebut pula "ikatan setengah". lokasi elektron tidak dapat ditandai dengan menggunakan garis (menandai dua elektron) ataupun titik (menandai elektron tungga). Ikatan aromatik yang terjadi pada molekul yang berbentuk cincin datar menunjukkan stabilitas yang lebih.5 dan seluruh ikatan 23 . lebih kuat dari ikatan dilitium dua elektron Li2. dan berbagi elektron dengan kedua atom boron. "Orde" ikatan antara dua atom dapat dikatakan sebagai (18/6)/2=1. elektron ketiganya merupakan orbital antiikat yang melemahkan ikatan dua elektron lainnya sebesar setengah.

Berbeda dengan senyawa organik. Namun. Ikatan antarmolekul Terdapat empat jenis dasar ikatan yang dapat terbentuk antara dua atau lebih molekul. ataupun atom. elektron-elektron ikatan terdelokalisasi pada kekisi (lattice) atom. dan kekerasan. duktilitas. dan hidrogen fluorida jika dibandingkan dengan senyawa-senyawa yang lebih berat lainnya pada kolom tabel periodik yang sama. Dipol permanen ke dipol permanen Perbedaan elektronegativitas yang bersar antara dua atom yang berikatan dengan kuat menyebabkan terbentuknya dipol (dwikutub). lokasi elektron yang berikat dan muatannya adalah statik. Ikatan hidrogen menjelaskan titik didih zat cair yang relatif tinggi seperti air. ammonia. Ikatan logam Pada ikatan logam. Ikatan hidrogen Ikatan hidrogen bisa dikatakan sebagai dipol permanen yang sangat kuat seperti yang dijelaskan di atas. senyawa ini memiliki sifat-sifat mirip logam dalam hal konduktivitas. Dipol-dipol ini akan saling tarik-menarik ataupun tolak-menolak. Oleh karena delokalisai yang menyebabkan elektron-elektron dapat bergerak bebas. Seringkali hal ini menentukan sifat-sifat fisik sebuah zat (seperti pada titik leleh). ion. Dipol seketika ke dipol terimbas (van der Waals) 24 . pada ikatan hidrogen. namun hal ini kuranglah tepat mengingat ikatan rangkap dan ikatan tunggal memiliki kekuatan ikatan yang berbeda dan tidak identik. Gaya antarmolekul menyebabkan molekul saling menarik atau menolak satu sama lainnya. proton hidrogen berada sangat dekat dengan atom penderma elektron dan mirip dengan ikatan tiga-pusat dua-elektron seperti pada diborana.pada benzena tersebut adalah identik. Ikatan-ikatan ini dapat pula ditulis sebagai ikatan tunggal dan rangkap yang berselingan.

pada satu titik waktu. namun terdelokalisasikan pada MO di antara atom-atom. rapatan elektron pada sebuah ikatan tidak ditandai pada atom individual.Dipol seketika ke dipol terimbas. Tidak seperti ikatan ion. atau gaya van der Waals. namun sering dijumpai di antara semua zat-zat kimia. Setiap atom ditandai dengan muatan listrik keseluruhan untuk membantu pemahaman kita atas konsep distribusi orbital molekul. awan elektronnya akan terlihat tidak seimbang dengan salah satu muatan negatif berada di sisi tertentu. Teori kombinasi linear orbital yang diterima secara umum membantu menjelaskan struktur orbital dan energi-energinya berdasarkan orbtial-orbital dari atom-atom molekul. Molekul-molekul ini memiliki struktur yang dapat diprediksi dengan menggunakan teori ikatan valensi. elektron pada umumnya terlokalisasi pada atom tertentu. dan masing-masing memiliki nama-nama tersendiri seperti ikatan sigma dan ikatan pi. Gaya antara atom-atom secara garis besar dikarakterisasikan dengan potensial elektrostatik kontinum (malaran) isotropik. 25 . Pada kasus ikatan ion. Elektron pada ikatan kimia Banyak senyawa-senyawa sederhana yang melibatkan ikatan-ikatan kovalen. Dipol ini dapat menarik maupun menolak elektron-elektron helium lainnya. dan elektronelektron todal bergerak bebas di antara atom-atom. Misalnya atom helium. adalah ikatan yang paling lemah. ikatan kovalen bisa memiliki sifat-sifat anisotropik. dan menyebabkan dipol lainnya. Sebaliknya pada ikatan kovalen. dan sifatsfiat atom yang terlibat dapat dipahami menggunakan konsep bilangan oksidasi. Interaksi kation-pi Interaksi kation-pi terjadi di antara muatan negatif yang terlokalisasi dari elektron-elektron pada orbital π dengan muatan positif. Hal ini disebut sebagai dipol seketika (dwikutub seketika). Kedua atom akan seketika saling menarik sebelum muatannya diseimbangkan kembali untuk kemudian berpisah. Senyawa lain yang mempunyai struktur ion dapat dipahami dengan menggunakan teori-teori fisika klasik.

Lihat pula elektronegativitas. Jenis ikatan antara dua tom ditentukan dari seberapa besara rapatan elektron tersebut terlokalisasi ataupun terdelokalisasi pada ikatan antar atom. interaksi dwikutub (dipole). Ikatan sejenis ini biasanya disebut sebagai ikatan polar kovalen. ikatan hidrogen. Ikatan Hidrogen Ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik antarmolekul yang terjadi antara dua muatan listrik parsial dengan polaritas yang berlawanan 26 . 4. 2. BAB 3 GAYA ANTAR MOLEKUL Gaya elektromagnetik yang terjadi antara molekul atau antara bagian yang terpisah jauh dari suatu makromolekul. gaya Van der Waals. 3. Elektron-elektron dapat secara parsial terdelokalisasi di antara atom-atom. Oleh akrena itu. Hal ini bisa terjadi karena definisi didasari pada delokalisasi elektron.Atom-atom juga dapat membentuk ikatan-ikatan yang memiliki sifat-sifat antara ikatan ion dan kovalen.  Urutan Kekuatan Gaya 1. 1. elektron-elektron pada orbital molekul dapat dikatakan menjadi terlokalisasi pada atom-atom tertentu atau terdelokalisasi di antara dua atau lebih atom. interaksi ionik.

namun lebih lemah dibandingkandengan ikatan kovalen dan ikatan ion 27 . Ikatan hidrogen lebih kuat dari gaya antarmolekul lainnya.Tiap molekul air dapat berpotensi membentuk empat ikatan hidrogen dengan molekul air disekelilingnya. Terdapat jumlah hidrogen φ yang pasti dan pasangan mandiri karena itu tiap molekul air dapat terlibat dalam ikatan hydrogen.

Ikatan hidrogen dapat terjadi inter molekul dan intra molekul. Jika ikatan terjadi antara
atom-atom dalam molekul yang sama maka disebut ikatan hidrogen intramolekul atau didalam
molekul,seperti molekul H2O dengan molekul H2O

Ikatan hidrogen, juga terbentuk pada pada antar molekul seperti molekul NH3,
CH3CH2OH dengan molekul H2O, ikatan yang semacam ini disebut dengan ikatan hidrogen
intermolekul.

28

Ikatan hidrogen hanya terjadi pada sebuah molekul memiliki atom N, O, atau F yang
mempunyai pasangan elektron bebas (lone pair electron). Hidrogen dari molekul lain akan

29

berinteraksi dengan pasangan elektron bebas ini membentuk suatu ikatan hidrogen dengan besar
ikatan bervariasi mulai dari yang lemah (1-2 kJ mol-1) hingga tinggi (>155 kJ mol-1).

30

Zat

lain

yang

membentuk

ikatan

hidrogen

dengan

cara

sama

ialah

:

Kekuatan ikatan hidrogen ini dipengaruhi oleh perbedaan elektronegativitas antara atomatom dalam molekul tersebut. Semakin besar perbedaannya, semakin besar ikatan hidrogen yang
terbentuk.
Ikatan hidrogen mempengaruhi titik didih suatu senyawa. Semakin besar ikatan
hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya Kenaikan titik didih terjadi karena molekul
memperoleh lebih banyak elektron, dan karena itu kekuatan dispersi van der Walls menjadi lebih
besar.

31

Ikatan hidrogen memengaruhi titik didih suatu senyawa. gaya Van der Waals dapat terjadi pada molekul nonpolar maupun molekul polar Gaya ini diusulkan pertama kalinya oleh Johannes Van der Waals (1837–1923). Jadi. Konsep gaya tarik antarmolekul ini digunakan untuk menurunkan persamaan-persamaannya tentang zatzat yang berada dalam fase gas. Namun. Semakin besar ikatan hidrogennya. khusus pada air (H2O). Gaya Van der Waals Gaya Van der Waals merupakan salah satu jenis gaya tarik-menarik di antara molekulmolekul. Akibatnya jumlah total ikatan hidrogennya lebih besar daripada asam florida (HF) yang seharusnya memiliki ikatan hidrogen terbesar (karena paling tinggi perbedaan elektronegativitasnya)sehingga titik didih air lebih tinggi daripada asam florida  Ikatan antar molekul 1. terjadi dua ikatan hidrogen pada tiap molekulnya. Gaya ini timbul dari gaya London dan gaya antardipol-dipol. 32 .semakin tinggi titik didihnya.

Kejadian ini disebabkan adanya gaya tarik-menarik antara inti atom dengan elektron atom lain yang disebut gaya tarik-menarik elektrostatis (gaya coulumb).  3 Gaya yang menyebabkan terjadinya Gaya Van der Waals : 1. 2. dan gas (He. Kr. Umumnya terdapat pada senyawa polar. 33 . tetapi tidak melibatkan terjadinya pembentukan ikatan antaratom. seperti gas hidrogen (H2). Gaya dispersi yang timbul karena dwikutub kecil dan bersifat sekejap dalam atom. dan gaya yang bekerja untuk menahan lapisan-lapisan tersebut adalah gaya Van der Waals. nitrogen (N2). Gaya Van der Waals ini bekerja bila jarak antarmolekul sudah sangat dekat. Interaksi dwikutub-dwikutub. yaitu tarikan elektrostatistik di antara dua molekul dengan moment dwikutub permanen. 3. Ne. Interaksi dwikutub imbasan.Gaya van der Waals dapat ditemukan pada molekul non-polar. Misalnya. pada suhu –160 °C molekul Cl2 akan mengkristal dalam lapisan-lapisan tipis. karbon dioksida (CO2). artinya dwikutub timbul karena adanya polarisasi oleh molekul tetangga. Ar. dll).

Gaya ini memberi sumbangan yang relatif kecil terhadap gaya Van der Waals. yaitu gaya orientasi. Gaya orientasi Gaya orientasi terjadi pada molekul-molekul yang mempunyai dipol permanen atau molekul polar Molekul yang mempunyai dipol permanen atau molekul polar. dan gaya dispersi. gaya imbas. Kekuatan gaya orientasi ini akan semakin besar bila molekulmolekul tersebut mengalami penataan dengan ujung positif suatu molekul mengarah ke ujung negatif dari molekul yang lain. 34 . Gaya imbas terjadi bila terdapat molekul dengan dipol permanen. berinteraksi dengan molekul dengan dipol sesaat. yang menimbulkan terjadinya dipol sesaat pada molekul nonpolar tersebut. Adanya molekul-molekul polar dengan dipol permanen akan menyebabkan imbasan dari kutub molekul polar kepada molekul nonpolar. secara keseluruhan. 2. Antaraksi antara kutub positif dari satu molekul dengan kutub negatif dari molekul yang lain akan menimbulkan gaya tarik-menarik yang relatif lemah. sehingga elektronelektron dari molekul nonpolar tersebut mengumpul pada salah satu sisi molekul (terdorong atau tertarik).Paling sedikit terdapat tiga gaya antarmolekul yang berperan dalam terjadinya gaya Van der Waals.

maka suatu saat terjadi ketidakseimbangan muatan di dalam atom. Karena elektron bergerak secara acak di sekitar inti atom. Gaya london Gaya london adalah gaya tarik-menarik yang sifatnya lemah antara atom atau molekul yang timbul dari pergerakan elektron yang acak di sekitar atom-atom. Akibatnya terbentuk dipol yang sesaat. 35 .

selalu berpindah-pindah (bersifat sesaat). Polarisasi pada satu molekul akan mempengaruhi molekul tetangganya.Setiap atom helium mempunyai sepasang elektron. BAB 5 KINETIKA DAN TERMODINAMIKA A. Kinetika dan Termodinamika Pada termodinamika. Antara dipol-dipol sesaat tersebut terdapat suatu gaya tarik-menarik yang mempersatukan molekul-molekul nonpolar dalam zat cair atau zat padat. 36 . Termodinamika tidak dapat memberikan beberapa informasi mengenai laju perubahan yang terjadi atau mekanisme pereaksi yang dirubah menjadi produk. Apabila pasangan elektron tersebut dalam peredarannya berada pada bagian kiri bola atom. kesimpulannya sampai pada dasar perubahan energi dan entropi yang menyertai perubahan sistem. itu hal yang mungkin untuk memperkirakan secara langsung perubahan kimia yang akan terjadi. Akan tetapi karena pasangan elektron selalu beredar maka dipol tadi tidak tetap. Dari perubahan nilai energi bebas reaksi dan oleh karena tetapan kesetimbangan. maka bagian kiri atom tersebut menjadi lebih negatif terhadap bagian kanan yang lebih positif.

prinsip le Chatelier’s memperkirakan produksi amonia yang diuapkan dengan tekanan tinggi dan temperatur rendah. Karena itu hubungan kuantitatif antara pereaksi dan produk. agar membuat mekanisme reaksi. Sebagai contoh proses Haber untuk pembuatan amonia dari nitrogen dan hidrogen yang digambarkan dengan persamaan N2 + 3H2 H 298 = 92. Pada penanganan lain.Umumnya pada keadaan sebenarnya. Pada cara termodinamika dan kinetika diperlukan faktor-faktor khusus kondisi optimum.Pada proses Haber. Pada reaksi 2 KMnO4 + 16HCl 2KCL + 2 MnCl2 + 8 H2O + 5Cl2 37 . A. Sebagai contoh persamaan stoikiometri produksi ammonia dengan proses Haber N2 + 3H2 2NH3 tetapi ini tidak menyatakan bahwa tiga molekul hidrogen dan satu molekul nitrogen tumbukan secara serentak menghasilkan dua molekul amonia. Dengan cara yang sama. laju produksi amonia pada 200C lambat sekali sehingga proses tersebut pada skala industri tidak ekonomis. kesetimbangan ditekan pada penguapan amonia dengan menggunakan tekanan tinggi pada temperatur 450C dan ada katalis percepatan laju hasil yang didapat pada kesetimbangan. itu berguna untuk menganggap semua data laju termodinamika dan kinetika ada.4 kJ mol1 2NH3 Karena reaksinya eksotermik.1 Pendahuluan untuk Kinetika  Stokiometri Stokiometri Itu adalah konvensional untuk menuliskan reaksi imia dalam bentuk persamaan stoikiometri. banyak juga informasi yang diperoleh dari kedua pengukuran termodinamika dan kinetika. Ini menghasilkan perbandingan sederhana jumlah molekul pereaksi dengan jumlah molekul produk.

tetapi perubahan digambarkan dengan persamaan stoikiometri karena itu menghasilkan hubungan kuantitatif antara pereaksi dan produk Pada beberapa reaksi persamaan stoikiometri memberi kesan bahwa reaksi lebih sederhana daripada sebenarnya.kita ketahui sangat sediki mengenai mekanisme reaksi. Produk yang dibentuk berikutnya reaksi antara radikal radikal ini dengan radikal asetil dan aseldihida itu sendiri. Hasil kinetik sesuai dengan proses mekanisme yang mana molekul asetaldehida terdekomposisi pertama menjadi radikal metil dan formil radikal. Sebagai contoh dekomposisi termal pada nitrogen oksida 2N2O 2N2 + O2 terjadi dua tahap. pertama meliputi dekomposisi nitrogen oksida menjadi atom oksigen dan nitrogen N2O O: + N2 Diikuti dengan reaksi atom oksigen dengan nitrogen oksida menghasilkan satu molekul nitrogen dan satu molekul oksigen O: + N2O N2 + O2 Dekomposisitermal pada asetaldehida dapat digambarkan sebagai CH3CHO CH4 + CO Tetapi masing-masing molekul asetaldehida tidak terurai dalam stu tahap menghasilkan satu molekul metana dan satu molekul karbon monooksida. Mekanisme keseluruhannya secara sederhana adalah CH3CHO CH3 + CHO CH3 + CH3CHO CH4 + CH3CO CH3CO CH3 + CO CH3 + CH3 C2H6 Persamaan stoikiometri untuk dekomposisi dinitrogen pentaoksida adalah 2N2O5 4NO2 + O2 38 .

a. Energetic Feasibility Ketika reaksi dekomposisi terjadi. A. dan pada hal yang sangat jarang penyelesaiannya.Ini juga proses yang lebih komplek dari yang ditunjukkan persamaan ini dan ditunjukan oleh Ogg melaui hasil mekanisme berikut 2N2O5 NO2 + NO3 NO2 + NO3 NO2 + O2 + NO NO + NO3 2NO2 Studi kinetik menujukkan bahwa tahap (2) adalah tingkat sangat lambat pada reaksi. Pada mekanismedilibatkan atom-atom atau 39 . meskipun beberapa reaksi meliputi tiga molekul yang bertumbukan secara serentak mempuyai tiga molekularitas. ikatan molekul lemah dan putus. Karena itu dekomposisi pada ditersial butil peroksida diawali dengan putusnya ikatan OO menghasilkan dua ditersiarbutoksi radikal. empat molekularitas. sehingga keseluruhan reaksi tergantung pada tahap ini dan karena itu disebut tahap penentu kecepatan atau laju  Molekularitas Umumnya reaksi dasar memiliki satu atau dua molekularitas. Ketika mekanisme reaksi diusulkan untuk reaksi khusus.2 Elusidasi pada mekanisme reaksi Tugas akhir pada kinetika adalah memperkirakan laju pada beberapa reaksi di bawah percobaan yang diberikan. itu akan diuji dengan kriteria berikut.

paling sedikit 146 kJ energi yang harus didapatkan dengan tumbukan antara atom iodin dan molekul hidrogen iodida. Secara cepat pada dekomposisi termal ditersial butil peroksida. Pada fotolisis hidrogen Iodida (lihat hal 140). dekomposisi berikut semua cara yng mugkin C2H5O C2H5 + O C2H5O CH3CHO + H C2H5O CH3 + CH2O C2H5O C2H4 + OH Panas reaksi menunjukkan reaksi (3) sepertinya proses yang penting b. reaksi propagasi yang tepat adalah H + HI H2 + I (1) H = 134 kJ mol I2 + H (2) H = 146 kJ mol dan I + HI Untuk reaksi endotermik terjadi pada (2).oleh karena itu tidak mungkin untuk memasukkan beberapa tahap mekanisme reaksi. Jika mekanisme meliputi dekomposisi radikal etoksil. Reaksi (2) mungkin lebih lambat dibandingkan reaksi (1). sehingga tahap balik tidak akan terjadi. itu tidak mungkin untuk mmpostulat si tahap awal seperti (CH3)COOC(CH3) CH3 + 2 CO karena tahap balik tidak dapat ditentukan. pada proses reaksi balik tahap yang dibentuk lawannya sama. prosesnya adalah isotermik dan sedikit endotermik yang sebagian besar sepertinya tahap penting pada reaksi. Prinsip mikroskopik reversibilitas Prinsip ini menyatakan bahwa untuk reaksi dasar.radikal bebas. Selanjutnya.beberapa proses mekanisme tidak harus mengandung tahap dasar yang menghasilkan lebih dari tiga jenis produk. yang tidak dapat terjadi pada reaksi balik. sepertinya semua tahap mekanisme reaksi masing-masing unimolekular. 40 . bimolekula atau termolekular.

Berdasarkan jumlah molekul yang bereaksi. Reaksi-reaksi Unimolekular Reaksi unimolekular meliputi satu molekul pereaksi dan salah satunya isomerisasi A→ B Atau dekomposisi A B + C Beberapa contoh reaksi-reaksi Unimolekular CH3NC → CH3CN C2H6 → 2 CH3 41 . Laju reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi atau tekanan dari produk atau reaktan terhadap waktu. reaksi terdiri atas : 1.Kondisi reaksi seperti suhu. maka dari itu kontrol termodinamik maupun kinetik adalah satu kesatuan dalam dalam suatu reaksi kimia. Ada banyak hal dalam mana suatu senyawa di bawah kondisi reaksi yang diberikan dapat mengalami reaksi kompetisi menghasilkan produk yang berbeda. Kontrol Termodinamika atau Kinetika dalam Reaksi Kimia Kontrol termodinamika atau kinetika dalam reaksi kimia dapat menentukan komposisi campuran produk reaksi ketika jalur bersaing mengarah pada produk yang berbeda serta selektivitas dari pengaruh kondisi reaksi tersebut. tekanan atau pelarut mempengaruhi jalur reaksi. ternyata kecepatan reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi / tekanan zat – zat yang bereaksi.B. Lihat tabel persamaan berikut: Berdasarkan penelitian yang mula–mula dilakukan oleh Wilhelmy terhadap kecepatan inversi sukrosa.

C2H5 → C2H4 + H 2. Reaksi-reaksi Termolekular Reaksi ermolekular relatif jarang terjadi mereka termasuk tumbukan pada tiga molekul secara serentak menghasilkan satu atau lebih produk A + B + C produk Beberapa contoh reaksi-reaksi termolekular 42 . 3. Mereka adalah reaksireaksi asosiasi (kebalikan reaksi dekomposisi) A + B AB 2A A2 Atau reaksi pertukaran A + B C + D 2A C + D Beberapa contoh reaksi-reaksi bimolekular CH3 + C2H5 C3H8 CH3 + CH3 →C2H6 C2H4 + HI → C2H5I H + H2 → H2 + H O3 + NO → O2 + NO2 Sulivan menunjukkan bahwa seringkali diberikanreaksi bimolekular klasik 2HI H2 + I2 adalah reaksi rantai pada temperatur tinggi (800 K) dengan penentuan laju tahap termolekular. Reaksi-reaksi Bimolekular Reaksi bimolekular adalah satu reaksi dimana dua molekul pereaksi yang sama atau tidak bergabung menghasilkan satu atau sejumlah molekul produk.

Selanjutnya pada dekomposisi asetaldehida. radikal bebas atau ion. saat molekularitas tidak dibentuk untuk proses yang melibatkan molekul stabil tetapi digunakan ketika bereaksinya spesies atom. ketika penggabungan pada radikal metil adalah proses bimolekular CH3 + CH3 + M → C2H6 + M Ini hanya tepat untuk digunakan molekularitas untuk proses yang terjadi pada tunggal atau tahap dasar.NO + O2 2NO2 NO + Cl2 2NOCl 2I + H2 2HI H + H + Ar → H2 + Ar Seperti yang dapat dilihat dari contoh yang diberikan di atas. Energi bebas terbuat dari dua komponen yaitu entalpi ΔH dan entropi ΔS. Jika reaksi adalah reaksi komplek diperlukan molekular spesifik pada tiap tahap individual reaksi. yakni ΔG harus negatif. C. tapi tentu saja hanya jika energi bebas ditambahkan. Reaksi dapat saja berlangsung melalui jalan lain. Reaksi dimana molekul pereaksi atau molekul-molekul mengaghasilkan produk atau produk-produk pada tahap sendiri atau dasar jarang. Kuantitas tersebut dihubungkan dengan persamaan: ΔG = ΔH – TΔS 43 . asetil radikal terurai CH3CO CH3 + CO Adalah proses unimolekular. energi bebas produk harus lebih rendah daripada energi bebas reaktan. Hubungan Energi Bebas Linear Dan Efek Substituent Untuk terjadinya reaksi secara spontan.

44 .Oleh karena itu karena kontrol termodinamika dan kontrol kinetika sangat berkaitan dengan intermediate dan dalam menghasilkan produk salah satu diantaranya adalah Reaksi Karbonil yang sangat diperlukan dalam Reaksi Sintesis Senyawa Organik.

Pereaksi elektrofil : pereaksi yang bermuatan positif. Substitusi radikal bebas gugus pengganti berupa pereaksi radikal bebas. Substitusi elektrofil : gugus pengganti merupakan pereaksi elektrofil. B. Jenis Reaksi Dan Pereaksi Dalam Kimia Organik A. basa Lewis dan reduktor (melepaskan elektron). Pereaksi 2 hal yang diperhatikan pada suatu reaksi : • Apa yang terjadi pada gugus fungsional • Sifat pereaksi yang menyerang 3 Jenis Pereaksi. Substitusi Nukleofil : reaksi penggantian suatu gugus dengan gugus lain. Contoh : A : B A+ + :B . yaitu : a. 2. asam Lewis dan sebagai oksidator (penerima elektron). Contoh : H Ar + E+ . Contoh : RX + H2O R-OH + HX X : unsur halogen. Reaksi Adisi 45 .+ B + • Pemutusan homolitik : suatu pemutusan yang menghasilkan radikal bebas. Reaksi Substitusi 1. dimana gugus pengganti merupakan pereaksi nukleofil. Memiliki energi yang cukup (energi aktivasi) untuk memutuskan Ikatan. Contoh : Cl . RCl + H. + B. NH3 c. Contoh : H2O.BAB 6 PEREAKSI DAN MEKANISME REAKSI 1. 2. Jenis-Jenis Reaksi Senyawa Organik Bagaimana suatu reaksi bisa terjadi? Suatu reaksi terjadi karena satu molekul atau lebih. Pereaksi nukleofil : pereaksi yang bermuatan negatif.YE Ar + HY 3. Suatu ikatan kovalen bisa diputus dengan 2 cara : • Pemutusan heterolitik : suatu pemutusan yang menghasilkan ion-ion. Contoh : R-H + Cl. Contoh : A : B A.atau A : B :A. dan Br . Pereaksi radikal bebas : pereaksi yg memiliki satu elektron tak berpasangan. Contoh : H2O. HNO3 / H2SO4 b.

.. Adisi Elektrofil gugus penyerang berupa pereaksi elektrofil. Halogenasi Pada ALKANA Cl didapat H Cahaya H – C – H + Cl – Cl H (panas) H lepas H H – C – Cl + H Khlor metana H – Cl Langkah Halogenasi : 1. Contoh : CH4 + Cl . Adisi Radikal Bebas gugus penyerang merupakan radikal bebas. + ..1. Contoh : AB + C = C A– C – C – B H H + CH2 = CH2 CH3 – CH3 3. Adisi Nukleofil : reaksi penambahan suatu gugus ke suatu ikatan rangkap dan hasilkan ikatan tunggal. Halogen terbelah menjadi dua partikel netral “radikal bebas” atau “radikal”.. .)n Cl A. . Reaksi Polimerasi : Perubahan monomer menjadi polimer oleh cahaya. .CH . : Cl : Cl : : Cl .C-H + H2O H-C-H + H2O OH H -. Contoh : X–C–C–Y H C=C + X–Y 1700C OH CH2 – CH2 CH2 = CH2 + H2O H2SO4 D.. . Cl : . dari ikatan tunggal menjadi rangkap.. . . kation atau anion... O O Contoh : R. Reaksi Eliminasi : reaksi penggantian ikatan.. Suatu radikal adalah sebuah atom atau kumpulan atom yang mengandung satu atau lebih elektron yang tidak memiliki pasangan. CH3 + HCl C. Contoh : n CH2 = CH2 – Cl (-CH2. radikal bebas. .C – H OH 2. 46 .dimana gugus yang menyerang pertama kali berupa pereaksi nukleofil.

C – H H H . .. partikel reaktif energi tinggi 2... + H : Cl : . Khlor metan radikal khlor (metil khlorida) Gas pendingin Radikal khlor yg baru akan bergabung dengan metana lain.. “reaksi Berantai radikal bebas”... Cl : + 1 Kkal/mol H . • Langkah akhir Bagaimana memusnahkan radikal? Cara : menggabungkan dua buah radikal non radikal disebut : reaksi penggabungan (coupling reaction) Coupling Reaction H H H–C. ... H – C – Cl : + . .. H – C .. + H : Cl : H . + 58 Kkal/mol 2 : Cl . + : H Radikal metil H .. CH3 + Cl2 CH3Cl + : Cl .. . . radikal metil • .. Cl : H . H – C – H + . : Cl . siklus penggandaan terus berjalan. . Reaksi rantai akan berlangsung terus sampai semua reaktan terpakai atau sampai radikal dimusnahkan.C–H H H H H H–C:C–H H H 47 H H H – C -. . Reaksi Rantai Radikal Bebas . + . .. + CH4 . ... Khlor H ... Langkah penggandaan  Langkah 1 H ... Metana radikal khlor Langkah 2 H H–C. Cl : Cl : .Molekul khlor Cl2 radikal khlor electron tak berpasangan . CH3 .

Mudah diokdidasi oleh oksigen dari udara jika dibakar keluar panas. reagen beracun Reaksi Oksidasi 1. Oksidasi Pada Alkana . seperti : KMnO4 . CHCl3 . tetapi meningkatkan konsentrasi khlormetan tumbukan antara radikal khlor dengan DG khlorometan. CH2Cl2 . CCl4 dan Hasil gabungan   senyawa-senyawa hasil. cahaya (reaksi pembakaran) percikan api CH4 + 2O2 CO2 + 2 H2O + 211 Kkal/mol metana oksigen Propana + 5 O2 3 CO2 + 4 H2O + 526 Kkal/mol  Polar and radical patways  Reaksi polar  Nukleofil  Elektrofil  Radikal  Klasifikasi jenis-jenis reaksi dasar  Pembentukan dan pemutusan ikatan  Reaksi transfer  Eliminasi dan adisi  Reaksi perisiklik  Electron supply and demand  Sifat-sifat keadaan transisi dan perubahan struktur 48 .Sulit dioksidasi dengan oksidator lemah/agak kuat. pernah sebagai anastetik CCl4 : pelarut. Reaksi Khlorinasi dari radikal bebas metan yang menghasilkan hasil campuran  CH4 + Cl2 CH3Cl .Dua radikal metil Etana Permasalahan : “ Reaksi Campuran” Ketika khlorinasi metana berlangsung menurunkan Konsentrasi metana. CHCl3 : Khloroform senyawa beracun. bukan dengan metana.

+ H+ O O O H Cl ethanol as a nucleophile Et H :H Et O O - + H2 ethanol as a electrophile  A nucleophile (or nucleophilic reagent) is a reagent that forms a bond to its reaction partner (the electrophile) by donating both bonding electrons. Sehingga ketika bereaksi dengan inti akan ada yang dinamakan sisi depan dan sisi belakang.  Nucleophilic reagents are Lewis bases. Untuk 49 .+ Et-Cl  MeOEt + Cl(nucleophile) (nucleofuge) R3C:.R3N: R2O STEREOKIMIA REAKSI SN1 Karbokation membentuk reaksi S N1 dengan struktur trigonal planar.Reaksi Polar H3C Et O CH3 Et + Cl. MeO.

CH3 C ATTACK H2O+ CH3 CH3 H2O BACK-SIDE CH3 CH3 C+ OH2 FRONT-SIDE C ATTACK H3C H3C CH3 CH3 OH2 REAKSI RASEMISASI Rasemisasi adalah suatu reaksi perubahan secara optik campuran senyawa menjadi rasemi. Jika campuran/senyawa kehilangan sebagian aktivitas optic karena enantiomer hanya sebagian yang berubah ke bentuk rasemi. 50 . Rasemisasi terjadi disebabkan oleh keulinan molekul menjadi bentuk achiral intermediet.kation tersier butil tidak ada perbedaan. ini disebut rasemisasi sempurna. Jika campuran senyawa asli kehilangan semua aktivitas optic dalam suatu reaksi. karena golongan tersier butil tidak diulin pusatnya.

Jika dalam reaksi menggunakan methanol disebut methanolisis. disebut juga reaksi hidrolisis.RASEMISASI CH3CH2CH2 C H3C CH3CH2CH2 H2O Br CH2CH2CH3 C CH2CH3 OH H3C + HO C + HBr CH3 CH2CH3 CH2CH3 Reaksi stereokimia SN1 CH2CH2CH3 CH3CH2CH2 C Br _Br Pelan H3C Karbokation dengan struktur trigonal planar dan akiral C H3C CH3CH2 CH2CH3 HOH HOH CH3CH2CH2 Back CH2CH2CH3 Side Front side C H3C CH3CH2CH2 O H cepat C H3C H CH3CH2 C cepat H3C CH3CH2 Enantiomer O + H3O H Struktur rasemi CH2CH3 CH2CH2CH3 H O HOH H CH2CH2CH3 C O CH3 CH2CH3 H C + H3O CH3 CH2CH3 SOLVOLISIS Reaksi SN1 dari alkil halide dengan air disebut solvolisis. Reaksi solvolisis adalah penggantian inti dengan inti dari molekul pelarut (pelarut + analisis = pemecahan dengan pelarut ). Pelarut misalnya air. 51 .

Berikut ini adalah reaksinya. 3. 52 . 4. Reaksi ini bergantung pada konsentrasi isopropyl bromide dan konsentrasi ion etoksida.contoh solvolisis (CH3)3C (CH3)3C Br + H2O (CH3)3C OH (CH3)3C Cl + CH3OH O (CH3)3C + HBr OCH3 + HCl O Cl + HCOH (CH3)3C OCH + HCl FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI REAKSI SN1 DAN SN2 Berikut ini adalah factor-faktor yang mempengaruhi nilai reaksi SN1 dan SN2 1. 2. Struktur substrate Konsentrasi dengan kereaktifan inti (hanya reaksi bimolekuler) Pengaruh dari pelarut Keadaan alam dari kelompok yang ditinggalkan REAKSI E2 Ketika isopropyl bromide dipanaskan dengan sodium etoksida akan membentuk propane.

MEKANISME REAKSI E2 C2H5O C2H5 + CH3CHBrCH3 O CH3 H CHCH3 C2H5 + C2H5OH + Br O CH3 H H C H CH2 C C Br H Br H H H C TRANSISI H CH3 C H 53 C + C2H5 H OH + Br .

REAKSI E1 Reaksi E1berhubungan dengan reaksi SN1 Reaksi E1 CH2 reaksi : (CH3)3CCl + H2O C(CH3)2 + H3O mekanisme : langkah 1 : CH3 CH3 CH3 C Cl pelan CH3 C + H2O Cl CH3 CH3 langkah 2 : CH3 H H O H + H C H H H C O H CH3 54 H CH3 + C H C CH3 .

SUBSTITUSI VS ELIMINASI 1. SN2 dan E2 Reaksi SN2 dan E2 memiliki perbedaan dalam hal kekuatan konsentrasi dari inti. Tapi ketika inti menyerang atom carbon dengan gugus yang ditinggalkan maka ini adalah reaksi substitusi. Ketika inti menyerang atom hydrogen  maka ini adalah reaksi eliminasi. Substrate  Substrate primer : untuk substrate primer lebih cocok menggunakan reaksi substitusi karena nukleofil lebih mudah mencapai carbon dengan gugus yang ditinggalkan. a) a) Nu H H + X + Nu eliminasi C C C C X H b) b) substitusi SN2 Nu C + X C a. CH3CH2O Na + CH3CH2Br C2H5OH CH3CH2OCH2CH3 55 °C (-NaBr) 55 SN2 (90%) + CH2 CH2 E2 (10%) .

Temperatur  Reaksi E1 dan E2 akan meningkat jika suhu tinggi jika dibandingkan dengan reaksi substitusi. CH3CH2O Na + CH3CHCH3 Br C2H5OH 55 °C CH3CHCH3 (-NaBr) + CH2 CHCH3 OCH2CH3 SN2 E2 79 % 21 %  Substrate tersier : pada halide tersier hambatan steric dari substrate akan membuat reaksi SN2 tidak dapat dilakukan. Substrate sekunder : lebih mudah menggunakan reaksi eliminasi. 56 . Sehingga pada substrate tersier menggunakan reaksi eliminasi terutama pada suhu yang tinggi. Reaksi eliminasi membutuhkan banyak energy bebas daripada reaksi substitusi karena selama proses eliminasi terjadi perubahan ikatan. CH3 CH3CH2O Na + CH3CCH3 Br C2H5OH 25 °C (-NaBr) Na + CH3CCH3 + CH2 CH3CCH3 CCH3 OCH2CH3 SN1 E2 (9%) (91%) CH3 CH3 CH3CH2O CH3 CH3 C2H5OH 55°C CH2 CCH3 Br + CH3CH2OH E2 + E1 (100%) b. Karena adanya hambatan steric akan membuat reaksi substitusi semakin sulit.

c. Nukleofilik dan Polaritas  Jika ion nukleofil kuat dan polaritasnya rendah seperti ion amina (NH 2-) maka lebih mudah menggunakan reaksi eliminasi (E2)  Jika ion nukleofil lemah dan polaritasnya tinggi seperti ion klorida dan ion asetat maka lebih mudah menggunakan reaksi substitusi (SN2) 57 . Ukuran Nukleofil  Jika nukleofil tidak dirintangi maka reaksi yang akan terjadi adalah substitusi  Jika nukleofil dirintangi maka reaksi yang akan terjadi adalah eliminasi Unhindered Nucleophile CH3O + CH3OH Br CH3(CH2)15CH2CH2 65 °C CH3(CH2)15CH CH2 + CH3(CH2)15CH2CH2OCH3 E2 (1 %) SN2 99% Hindered Nucleophile CH3 CH3 C O + CH3(CH2)15CH2CH2 Br (CH3)3COH 40 °C CH3 CH3 CH3(CH2)15CH CH2 + CH3(CH2)15CH2CH2 O C CH3 CH3 E2 85% SN2 15 % d.

Reaksi termolekular : ada 3 mol reaktan yang bereaksi Contoh : 2 NO + O2 à 2NO2 Berdasarkan banyaknya fasa yang terlibat.BAB 8 LAJU REAKSI VS TEMPERATURE A. Reaksi bimolekular : ada 2 mol reaktan yang bereaksi Contoh : 2 HI à H2 + I2 1. Reaksi unimolekular : hanya 1 mol reaktan yang bereaksi Contoh : N2O5 à N2O4 + ½ O2 1. reaksi terbagi menjadi : 1. Berdasarkan jumlah molekul yang bereaksi. Berdasarkan penelitianyang mula – mula dilakukan oleh Wilhelmy terhadap kecepatan inversi sukrosa. Kinetika kimia adalah suatu ilmu yang membahas tentang laju (kecepatan) dan mekanisme reaksi. kulit (bule) lebih cepat menjadi gelap dalam musim panas dari pada dalam musim dingin. Reaksi homogen : hanya terdapat satu fasa dalam reaksi (gas atau larutan) 58 . ternyata kecepatan reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi / tekanan zat – zat yang bereaksi. DEFENISI KINETIKA KIMIA Kinetika kimia merupakan pengkajian laju dan mekanisme reaksi kimia. Yang lebih mendasar dari pada sekedar laju suatu reaksi adalah bagaimana perubahan kimia itu berlangsung. Besi lebih cepat berkarat dalam udara lembab dari pada dalam udara kering. reaksi terdiri atas : 1. makanan lebih cepat membusuk bila tidak didinginkan. Ini merupakan 3 contoh yang lajim dari perubahan kimia yang kompleks dari laju yang beraneka menurut kondisi reaksi. Laju reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi atau tekanan dari produk atau reaktan terhadap waktu.

= k0 A – A0 = – k0 .= k2 [A]2 .Reaksi orde satu Pada reaksi prde satu. Persamaan laju reaksi orde satu dinyatakan sebagai : . yaitu jumlah dari eksponen konsentrasi pada persamaan kecepatan reaksi. Reaksi orde dua Persamaan laju reaksi untuk orde dua dinyatakan sebagai : . b. d. c. kecepatan reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi reaktan.= k2 (t – t0) Tetapan laju (k2) dapat dihitung dari grafik 1/A terhadap t dengan k2 sebagai gradiennya. kecepatan reaksi tidak tergantung pada konsentrasi reaktan. Reaksi heterogen : terdapat lebih dari satu fasa dalam reaksi Secara kuantitatif. t A = konsentrasi zat pada waktu t A0 = konsentrasi zat mula – mula Contoh reaksi orde nol ini adalah reaksi heterogen pada permukaan katalis. kecepatan reaksi kimia ditentukan oleh orde reaksi.= k2 t .k1 t [A] = [A0] e-k1t Tetapan laju (k1) dapat dihitung dari grafik ln [A] terhadap t.2. Persamaan laju reaksi orde nol dinyatakan sebagai : . dengan –k1 sebagai gradiennya.= k1 dt ln = k1 (t – t0) Bila t = 0 à A = A0 ln [A] = ln [A0] .= k1 [A] . a. Reaksi Orde Nol Pada reaksi orde nol. Penentuan Energi Aktivasi 59 .

E. maka nilai energi aktifasi dapat ditentukan. Efek Katalis Katalis adalah suatu senyawa yang dapat menaikkan laju reaksi. Karena katalis tidak bereaksi dengan reaktan dan juga bukan merupakan produk. yaitu 1. maka katalis tidak ditulis pada sisi reaktan atau produk. Katalis Homogen Suatu katalis disebut homogen apabila berada dalam fasa yang sama dengan reaktan maupun produk reaksi yang dikatalisa. Setelah reaksi selesai. maka nilai Ea/R akan didapat sebagai gradien dari kurva tersebut. 2 KClO3 2 KCl + 3 O2 Katalis terbagi menjadi dua golongan besar.314 kJ / mol = 1. Karena nilai R diketahui. Contohnya 60 .Energi aktifasi adalah ambang batas energi yang harus icapai agar suatu reaksi dapat terjadi. maka akan didapat ln k = ln A Dengan membuat kurva ln k terhadap 1/T. Sehingga untuk membuat reaksi terjadi. Contohnya pada reaksi pembuatan oksigen dari dekomposisi termal KClO3. Besarnya energi aktifasi juga dapat ditentukan dengan menggunakan nilai – nilai k pada suhu yang berbeda. tidak diperlukan energi yang lebih tinggi. yang menggunakan katalis MnO2. reaksi dapat berjalan lebih cepat. Katalis ini berperan sebagai zat antara dalam reaksi. Katalis berperan dengan menurunkan energi aktifasi. tetapi tidak ikut menjadi reaktan / produk dalam sistem itu sendiri.987 kal / mol K T = suhu mutlak (K) Jika persamaan di atas ditulis dalam bentuk logaritma. Penentuan energi aktifasi dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan Arrhenius k = A e-Ea/RT dimana k = konstanta laju reaksi A = faktor pra eksponensial Ea = energi aktifasi (kJ/mol) R = tetapan gas ideal = 8. katalis dapat diperoleh kembali tanpa mengalami perubahan kimia. Umumnya katalis ditulis di atas panah reaksi yang membatasi sisi reaktan dan produk. Dengan demikian.

ataupun ia dapat berupa proses yang kompleks seperti oksidasi gula pada tubuh manusia melalui rentetan transfer elektron yang rumit. diperlukan perlakuan kimia selanjutnya untuk memisahkan katalis dari campuran reaksi. Oksidasi dan reduksi tepatnya merujuk pada perubahan bilangan oksidasi karena transfer elektron yang sebenarnya tidak akan selalu terjadi. yang menghasilkan air dan isobutilen. Sehingga oksidasi lebih baik didefinisikan sebagai peningkatan bilangan oksidasi. Istilah redoks berasal dari dua konsep. reaksi ini berlangsung sangat lambat.adalah efek katalis HBr pada dekomposisi termal t-butil alkohol. (CH3)3COH à (CH3)2C=CH2 + H2O Tanpa penggunaan katalis. atom. Dengan menggunakan HBr. Walaupun cukup tepat untuk digunakan dalam berbagai tujuan. Redoks (singkatan dari reaksi reduksi/oksidasi) adalah istilah yang menjelaskan berubahnya bilangan oksidasi (keadaan oksidasi) atom-atom dalam sebuah reaksi kimia. dan reaksi menjadi (CH3)3COH + HBr à (CH3)3CBr + H2O (CH3)3CBr à (CH3)2C=CH2 + HBr Kelemahan dari katalis homogen ini adalah ketika reaksi selesai. bahkan pada suhu tinggi sekalipun. Hal ini dapat berupa proses redoks yang sederhana seperti oksidasi karbon yang menghasilkan karbon dioksida. Katalis Heterogen Katalis heterogen adalah katalis yang fasanya tidak sama dengan reaktan atau produk reaksi yang dikatalisa. atau ion. dan reduksi sebagai penurunan bilangan oksidasi. Ia dapat dijelaskan dengan mudah sebagai berikut: * Oksidasi menjelaskan pelepasan elektron oleh sebuah molekul. penjelasan di atas tidaklah persis benar. 2. (CH3)3COH. Hal ini disebabkan karena reaksi ini memiliki energi aktifasi yang sangat tinggi. Dalam 61 . atau reduksi karbon oleh hidrogen menghasilkan metana(CH4). atom. atau ion * Reduksi menjelaskan penambahan elektron oleh sebuah molekul. Logam berfungsi sebagai permukaan adsorben dimana H2 dan O2 akan menempel dan bereaksi. yaitu reduksi dan oksidasi. Katalis heterogen biasanya berfungsi sebagai permukaan tempat terjadinya reaksi. energi aktifasi akan turun menjadi 127 kJ/mol. Contohnya adalah reaksi antara H2 dan O2 pada permukaan logam. yaitu 274 kJ/mol. (CH3)2C=CH2.

Dirumuskan : Laju Reaksi = Untuk persamaan reaksi: pA + qB mC + nD 62 . Reaksi non-redoks yang tidak melibatkan perubahan muatan formal (formal charge) dikenal sebagai reaksi metatesis. B. Laju reaksi menyatakan laju perubahan konsentrasi zat-zat komponen reaksi setiap satuan waktu:  Laju pengurangan konsentrasi pereaksi per satuan waktu  Laju penambahan konsentrasi hasil reaksi per satuan waktu  Perbadingan laju perubahan masing-masing komponen sama dengan perbandingan koefisien reaksinya  Pada reaksi : N2(g) + 3 H2(g) 2 NH3(g) Laju reaksi : laju penambahan konsentrasi NH3dan laju pengurangan konsentrasi N2 dan H2. sedangkan produk semakin banyak.prakteknya. transfer elektron akan selalu mengubah bilangan oksidasi. Laju reaksi dinyatakan sebagai laju berkurangnya pereaksi atau laju terbentuknya produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi. maka jumlah zat peraksi semakin sedikit. namun terdapat banyak reaksi yang diklasifikasikan sebagai “redoks” walaupun tidak ada transfer elektron dalam reaksi tersebut (misalnya yang melibatkan ikatan kovalen). Reaksi kimia adalah proses perubahan zat pereaksi menjadi produk. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi suatu pereaksi atau laju bertambahnya konsentrasi suatu produk . DEFENISI LAJU REAKSI Laju atau kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi ataupun produk dalam suatu satuan waktu.

d[R] = berkurangnya reaktan (pereaksi). Berdasarkan gambar tersebut. Gambar 3. dengan r = laju reaksi. . Diagram perubahan konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi. 63 . hasil reaksi (B) akan bertambah. dan dt = perubahan waktu. Pada saat pereaksi (A) berkurang. atau : . berkurangnya jumlah pereaksi (konsentrasi pereaksi) per satuan waktu. maka laju berubahnya zat A menjadi zat B ditentukan dari jumlah zat A yang bereaksi atau jumlah zat B yang terbentuk per satuan waktu.V = k [A]x[B]y Keterangan : V = Laju Reaksi K = tetapan laju reaksi [ ] = konsentrasi zat X = orde/tingkat reaksi terhadap A Y = orde/tingkat reaksi terhadap B x + y = orde/tingkat reaksi keseluruhan Pada reaksi kimia: A → B. Perhatikan diagram perubahan konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi pada Gambar 3. maka rumusan laju reaksi dapat kita definisikan sebagai: a.

yakni tumbukan. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI Laju reaksi suatu reaksi kimia dipengaruhi oleh beberapa faktor. bertambahnya jumlah produk (konsentrasi produk) per satuan waktu. atau : . luas permukaan zat yang bereaksi. Untuk reaksi : A → B. 64 . Gambar 4. B.Untuk reaksi : A → B. Suatu reaksi kimia dapat terjadi bila ada tumbukan antara molekul zat-zat yang bereaksi. Sehubungan dengan proses reaksi kimia. Apakah setiap tumbukan pasti menyebabkan berlangsungnya reaksi kimia? Akan kita ketahui jawabannya dengan mempelajari teori tumbukan dahulu sebelum melangkah pada pembahasan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. dan ada tidaknya katalis. laju berkurangnya zat A adalah : b. yaitu konsentrasi pereaksi. dengan +Δ[P] = bertambahnya konsentrasi produk (hasil reaksi). Konsentrasi reaktan sangat berpengaruh pada laju reaksi seng dengan asam sulfat. maka ada satu hal penting yang harus dipelajari untuk menentukan berjalan tidaknya sebuah reaksi kimia. laju bertambahnya zat B adalah : . suhu pada saat reaksi kimia terjadi.

Bagaimanakah posisi tumbukan yang efektif? Dalam wadahnya. Baik dengan molekul yang sama maupun dengan molekul berbeda. 65 . dituliskan: AB + AB → A2 + B2 Tumbukan yang efektif terjadi bila keadaan molekul sedemikian rupa sehingga antara A dan B saling bertabrakan (Gambar 5(a)). Contoh tumbukan antarmolekul yang sama terjadi pada pereaksi hidrogen iodida berikut. HI(g) + HI(g) → H2(g) + I2(g) Secara umum. molekul-molekul pereaksi selalu bergerak ke segala arah dan sangat mungkin bertumbukan satu sama lain. yaitu posisinya tepat dan energinya cukup. maka tumbukan tersebut merupakan tumbukan yang tidak efektif. Tumbukan efektif harus memenuhi dua syarat. a. Tumbukan sebagai Syarat Berlangsungnya Reaksi Kimia Tumbukan yang menghasilkan reaksi hanyalah tumbukan yang efektif. yaitu antara A dan A (Gambar 5(b)) atau atom A dan B namun hanya bersenggolan saja (Gambar 5(c)). Jika yang bertabrakan adalah atom yang sama.Laju reaksi lambat dalam larutan berkonsentrasi rendah (kiri) dan cepat dalam larutan berkonsentrasi tinggi. Tumbukan tersebut dapat memutuskan ikatan dalam molekul pereaksi dan kemudian membentuk ikatan baru yang menghasilkan molekul hasil reaksi.

Keadaan transisi ini selalu mempunyai energi lebih tinggi daripada keadaan awal dan akhir. (a) energi cukup menghasilkan reaksi dan (b) energi tidak cukup tidak menghasilkan reaksi. maka reaksi tidak akan terjadi.Energi tersebut dinamakan energi aktivasi atau energi pengaktifan (Ea). (a) tumbukan yang efektif karena posisi tumbukan tepat. Selanjutnya apa yang dimaksud energi tumbukan harus cukup? Jika kalian melemparkan batu pada kaca dan kacanya tidak pecah. berarti energi kinetik batu tidak cukup untuk memecahkan kaca. Demikian juga tumbukan antarmolekul pereaksi. keadaan transisi. meskipun sudah terjadi tumbukan dengan posisi tepat. Keadaan tersebut hanya berlangsung sesaat dan tidak stabil. namun apabila energinya kurang. dan akhirnya terjadi ikatan kimia (Gambar 6(b)). Dalam hal ini diperlukan energi minimum tertentu yang harus dipunyai molekul-molekul pereaksi untuk dapat menghasilkan reaksi.Gambar 5. (b) tumbukan tidak efektif karena molekul yang bertabrakan sama (c) tumbukan tidak efektif karena posisinya tidak tepat. Bila keadaan awal lebih tinggi energinya. Pada keadaan ini ikatan baru sudah terbentuk namun ikatan lama belum putus. 66 . Gambar 6. reaksi mcnghasilkan kalor atau dinamakan reaksi eksoterm. Bila gerakan molekul AB dan C lambat. dinamakan reaksi endoterm. maka tidak akan terjadi ikatan antara B dan C saat bertumbukan. dan keadaan akhir (hasil reaksi). maka akan membuat tumpang tindih B dan C serta membuat ikatan. Akibatnya. Dengan mempercepat gerakan molekul. Perhatikan Gambar 7. yang menggambarkan tentang energi aktivasi pada reaksi eksoterm dan reaksi endoterm. tentang tumbukan dengan energi yang cukup dan tidak cukup. keduanya terpental tanpa ada perubahan (Gambar 6(a)). Dalam suatu reaksi terdapat tiga keadaan yaitu keadaan awal (pereaksi). dan bila yang terjadi adalah sebaliknya. sedangkan energi keadaan awal dapat lebih tinggi atau lebih rendah daripada energi keadaan akhir. Keadaan transisi disebut juga komplek teraktivasi. Perhatikan Gambar 6.

maka dihasilkan grafik seperti pada Gambar 9. Dengan mengetahui teori tumbukan ini. Faktor-faktor tersebut akan segera diuraikan dalam penjelasan berikut ini. Pengaruh Konsentrasi terhadap Laju Reaksi Jika konsentrasi suatu larutan makin besar. (b) tumbukan yang terjadi pada konsentrasi besar. makin cepat laju reaksinya. (a) tumbukan yang terjadi pada konsentrasi kecil. Apabila dibuat sebuah grafik yang menunjukkan hubungan antara konsentrasi dengan laju reaksi. Gambar 8. Makin besar konsentrasi zat. larutan akan mengandung jumlah partikel semakin banyak sehingga partikel-partikel tersebut akan tersusun lebih rapat dibandingkan larutan yang konsentrasinya lebih rendah. Percepatan gerakan molekul akan memperbesar kemungkinan tumbukan efektif karena percepatan gerakan memberikan energi lebih besar. diharapkan energi yang dibutuhkan untuk tumbukan dapat tercukupi sehingga bisa menghasilkan tumbukan yang efektif. b. (b) Diagram potensial reaksi endoterm. 67 . kalian akan lebih mudah memahami penjelasan tentang faktor-faktor yang memengaruhi laju reaksi. tentang pengaruh konsentrasi berikut. Grafik menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi. Dengan dipercepatnya laju reaksi menggunakan salah satu faktor-faktor berikut.Gambar 7. (a) Diagram potensial reaksi eksoterm dan. Susunan partikel yang lebih rapat memungkinkan terjadinya tumbukan semakin banyak dan kemungkinan terjadi reaksi lebih besar. Perhatikan Gambar 8. Percepatan gerakan molekul berarti percepatan laju reaksi. semakin cepat pula laju reaksinya.

68 . semakin besar laju reaksinya. Pengaruh Luas Permukaan terhadap Laju Reaksi Pada saat zat-zat pereaksi bercampur. maka akan terjadi tumbukan antar partikel pereaksi di permukaan zat. Grafik pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi. Gambar 10. seperti yang ditunjukkan oleh grafik hubungan luas permukaan dengan laju reaksi pada Gambar 11. Perhatikan Gambar 10. Tumbukan antar partikel pada (a) permukaan kecil dan (b) permukaan besar.Gambar 9. Laju reaksi dapat diperbesar dengan memperluas permukaan bidang sentuh zat yang dilakukan dengan cara memperkecil ukuran zat pereaksi. Semakin luas permukaan bidang sentuh zat. c.

Pengaruh Suhu terhadap Laju Reaksi Partikel-partikel dalam zat selalu bergerak. Pada umumnya. (b) tumbukan antarpartikel pada suhu tinggi. Dengan demikian. Gambar 12. (a) tumbukan antarpartikel pada suhu rendah. Jika suhu zat dinaikkan.Gambar 11. apabila laju reaksi awalnya diketahui. d. Hal ini akan menyebabkan lebih banyak terjadi tumbukan yang efektif dan menghasilkan reaksi (Gambar 12). kita dapat memperkirakan besarnya laju reaksi berdasarkan kenaikan suhunya. 69 . Grafik pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi. Lebih mudahnya. lihat perumusan berikut. maka energi kinetik partikelpartikel akan bertambah sehingga tumbukan antar partikel akan mempunyai energi yang cukup untuk melampaui energi pengaktifan. reaksi akan berlangsung dua kali lebih cepat. setiap kenaikan suhu sebesar 10 oC.

Pengaruh Katalis terhadap Laju Reaksi Reaksi yang berlangsung lambat dapat dipercepat dengan memberi zat lain tanpa menambah konsentrasi atau suhu reaksi. Keterangan : ∆r = kenaikan laju reaksi ∆T = kenaikan suhu = T2 –T1 T2 = suhu akhir T1 = suhu awal t0 = waktu reaksi awal tt = waktu reaksi akhir e. Gambar 14 menunjukkan peranan katalis dalam menurunkan energi aktivasi. Zat tersebut disebut katalis.Karena besarnya laju berbanding terbalik dengan waktu yang ditempuh. 70 . Fungsi katalis dalam reaksi adalah menurunkan energi aktivasi sehingga jumlah molekul yang dapat melampaui energi aktivasi menjadi lebih besar. tetapi tidak mengalami perubahan kimia secara permanen sehingga pada akhir reaksi zat tersebut dapat diperoleh kembali. Katalis dapat mempercepat laju reaksi. maka perumusan di atas dapat dituliskan sebagai berikut.

Katalis dalam senyawa organik disebut enzim. Jumlah katalis yang diperlukan dalam reaksi sangat sedikit. Diagram energi potensial reaksi tanpa katalis dan dengan katalis. sehingga katalis itu disebut katalis negatif atau inhibitor. Suatu katalis hanya mempengaruhi laju reaksi secara spesifik. Katalis tidak memulai suatu reaksi. Energi aktivasi reaksi dengan katalis (EaK) lebih kecil dari reaksi tanpa katalis. tetapi hanya mempengaruhi lajunya. 71 . Keaktifan katalis dapat diperbesar oleh zat lain yang disebut promotor. di antaranya:      Katalis tidak bereaksi secara permanen. Katalis tidak mempengaruhi hasil reaksi. Katalis memiliki beberapa sifat. Terdapat katalis yang dapat memperlambat suatu reaksi. artinya suatu katalis hanya   mempengaruhi laju satu jenis reaksi dan tidak dapat untuk reaksi yang lain. Hasil suatu reaksi dapat bertindak sebagai katalis.Gambar 14. sehingga zat tersebut disebut   autokatalis. Katalis hanya bekerja efektif pada suhu optimum. artinya di atas atau di bawah suhu  tersebut kerja katalis berkurang.

Berdasarkan wujudnya. contoh: NO(g) 2CO(g) + O2(g) → 2CO2(g) b. Katalis homogen adalah katalis yang mempunyai wujud sama dengan pereaksi. Dekomposisi H2O2 dengan katalis MnO2 menjadi air dan oksigen. katalis dapat dibedakan dalam dua golongan. Katalis heterogen adalah katalis yang mempunyai wujud berbeda dengan pereaksi. Katalis ini dapat berada dalam dua wujud: a. contoh: H+ C12H22O11(aq) + H2O(l) → C6H12O6(aq) + C6H12O6(aq) 2. dalam wujud larutan.Gambar 15. Contohnya: Fe(s) N2(g) + 3H2(g) → 2NH3(g) 72 . Biasanya katalis ini berwujud padat dan pereaksinya cair atau gas. dalam wujud gas. yaitu: 1.

Ni(s) C2H4(g) + H2(g) → C6H6(g) A. Katalis B. Suhu 4. Luas permukaan sentuhan/ Ukuran partikel 2.Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. 73 .  Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi 1. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi suatu pereaksi atau laju bertambahnya konsentrasi suatu produk . Saran Semoga makalah ini dapat membantu dalam proses pembelajaran tentang laju reaksi dan temperature . Kesimpulan  Laju atau kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi ataupun produk dalam suatu satuan waktu. Konsentrasi 3.

BAB 9 LFER LFSR (Linear Solvation Energi Relationship) Pengaruh LFER awalnya di kemukakan oleh Hammet yang bermaksud untuk menghitung atau mengkuantisasi pengaruh substituen dan gugus lepas pada ester terhidrolisis. tetapan laju) dalam kaitan dengan parameter yang menjelaskan molekul (s dan r). Hubungan ini memerlukan dasar termodinamika untuk semua pekerjaan dalam QSAR dengan persamaan : DGo = -RT ln K = DHo –TDS O O Me R O k + + NMe3 R O NMe4 O H R O + O K + H2O + R O BERKATALIS BASA REAKSI IONISASI ASAM KARBOKSILAT 74 H3O+ REAKSI HIDROLISIS . Hammet merupakan pioner dalam bekerja untuk menunjukkan penggunaan prosedur parameterisasi dalam mengambarkan sifat empiris (tetapan keseimbangan.

dengan cara aktivitas biologis dihubungkan dengan satu seri parameter yang mendiskripsikan struktur molekul. Ford dan Livingstone menggunakan beberapa keunggulan dari diskriptor yang diturunkan secara komputasi di luar diskriptor termodinamik yang secara khusus di gunaka dalam QSAR. QSAR pada dasarnya merupakan pengembangan dari pendekatan LFER. Ketidakuntungannya. Yang paling dikenal dan banyak digunakan sebagai diskriptor dalam QSAR adalah LOG (Oktanol/air). untuk menyusun regresi yang berguna. Beberapa kesulitan adalah menentukan yang terbaik dari sejumlah besar regresi yang dihasilkan. baik empiris maupun komputasi. Talah banyak hasil penelitian kimia teori yang digunakan untuk menghsilkan QSAR. banyak regresi tidak berlaku untuk LOG P. standar deviasi. Diskriptor klasik disusun oleh Hammet kemudian diteruskan oleh Taft. faktor inflasi varian) dan mempunyai arti kimia. Dengan menggunakan argumen ini Kamlet dan Taft (K-T) menyusun hubungan baru yang 75 . Regresi korelatif yang baik dapat mengatasi kesulitan dalam menginterpretasi parameter memerlukan kapabilitas karakterisasi maupun kepandaian untuk memprediksi sifat senyawa baru atau dengan kata lain regresi mempunyai arti secara kimia. seperti pengaruh sterik dan elektronik. LOG P sangat bermanfaat dalam kaitannya dengan cakupan yang luas dari aktivitas karena sangat baik memoldekan perpindahan melewati hubungan darah/otak.Dengan mengasumsikan bahwa tetapan keseimbangan merupakan fungsi struktur molekul yang memberikan pengaruh DGo merupakan asumsi yang paling banyak diterapkan dalam LFER. koefisien partisi (biasanya diberi istilah LOG P atau LOG P[oct]). Teoritikal dalam hal ini dimaksudkan untuk menyatakan (i) parameter berdasar empiris yang dapat dihitung melalui program estimasi (seperti log P) (ii) teori grafik dan indeks informasi (seperti Kier dan Hall) dan parameter berbasis orbital molekul. Dengan demikian. dengan mengasumsikan hubungan ini dan mereka berusaha untuk memverifikasi. statistik F. biasanya karena munculnya pengaruh lain yang penting. MR dan lain-lain. banyak diskriptor lain digunakan dalam QSAR sebagai tambahan pada LOG P untuk mengakomodasi pengaruh penambahan ini seperti tetapan Taft Es. Hubungan energy bebas linier (LFER) Sejumlah diskriptor telah digunakan baik dalam QSAR maupun LFER. Regresi “yang terbaik” haruslah mencakupfitting yang baik (skort. p.

dapat dibandingkan dengan persa-maan regresi dengan mudah dan berpengaruh terhadap mekanismenya. Parameter yang digunakan untuk menurunkan korelasi ini adalah tetapan hidrofobik (p) dan tetapan refraktivitas molar (MR) untuk posisi para dan meta cincin N-fenil dan 6 indikator variabel I1-I6 yang digunakan untuk menandai kehadiran (harga 1) atau ketidakhadiran (harga 0) dari gambaran structural. Terdapat beberapa keunggulan dari LSER yaitu lebih dari 250 sifat dasar zat terlarut/pelarut telah dihubungkan dengan menggunakan skala parameter K-T atau Abraham. Jika dinyatakan sebagai hubungan linear energi solvasi.6diamino-1. Hansch menggunakan pendekatan ini untuk mempelajari senyawa 256 senyawa 4. hal ini masih memungkinkan sistem biologi yang kompleks dapat dimodelkan secara sukses menggunakan parameter sederhana. Hubungan ini bergantung pada sifat fisika yang sederhana ke aktivitas biologis yang sangat kompleks yang mempunyai ke-mampuan parameter umum (semua regresi menggunakan parameter yang sama). Jika terdapat keterbatasan penggunaan Hansch. Pendekatan telah berhasil diterapkan dalam memprediksi pengaruh substituen dalam sejumlah besar uji biologis. Skala para-meter baru (dipisahkan antara zat terlarut dengan pelarut) telah disusun secara terpisah oleh Abraham. Telah dibuktikan bahwa 244 senyawa aktivitasnya dapat berkorelasi dengan kehadiran gugus hidrofobik pada posisi tiga dan empat dari cincin N-fenil. maka dapat dinyatakan: Sifat = bulk/rongga + depolaritas/polarizabilitas + keasaman ikatan hidrogen + kebasaan ikatan hydrogen Setiap diskriptor yang disusun oleh K-T diturunkan secara empiris.bersifat umum untuk mempelajari LFER dari interaksi zat terlarut-pelarut. Masalah utama dengan pendekatan ini adalah jumlah besar senyawa 76 .3-dime-til-1-(X-fenil)-s-triazina yang mempunyai aktivitas sebagai anti tumor dihidrofolat reduktase. tiga suku yang lain diturunkan secara langsung dari pergeseran spektra UV-Vis (sehingga diskriptor sering mengacu pada parameter solvatokromik).2-dihidro-2. Suku rongga (cavity) biasanya menggunakan volume molar.

menurut Hammet adalah konstanta reaksi dan untuk ionisasi asam benzoat. Pada tahun 1937 Hammett mengusulkan suatu hubungan kuantitatif untuk menghitung pengaruh substituen terhadap reaktivitas molekul. polarisabilitas. titik didih. Kekuatan interaksi dan affinitas reaksi tersebut umumnya dikuasai olehkekuatan nukleofil dan elektrofil pereaksi. hubungan ini disebutpersamaan Hammett. momen dipol. perubahan entalpi penguapan dan pelarutan. Semua ini adalah sifat fisika yang dapat diukur. Kemudian untuk sifat kimianya : energi HOMO. indeks refraktory. bagian ini ada dengan lengkap di bab Linear Free Energy Relationship (LFER) di kuliah kimia organik fisik. Beberapa peneliti telah mempublikasikan artikel dalam rangka memperluas dasar dari pendekatan Hansch. muatan atom dll. volume molekular. Hammet mengamati adanya hubungan linear energi bebas (LFER) antara log konstanta laju relatif hidrolisis ester benzoat dengan log konstanta relatif ionisasi asam benzoat. log(kx/kH)=log(Kx/KH)= rs r(rho). r bernilai 1. 77 . hal yang sebaliknya terjadi pada substituen penarik elektron yang akanmeningkatkan kekuatan elektrofil dan menurunkan kekuatan nukleofil pereaksi. Selain parameter di atas. banyak juga sifat-sifat fisika kimia yang dimasukkan ke dalam qsar antara lain :densitas. vdW surface area. Substituen pemberi elektronmeningkatkan kekuatan nukleofil (kebasaan) dan menurunkan kekuatan elektrofil(keasaman). Metode analisis tidak meminjamkan mereka sendiri untuk penjelasan pengaruh konformasi. Gugus substituen yang tidak mengalamireaksi namum berlokasi di dekat pusat reaksi mengganggu kekuatan tersebut melaluipenarikan elektron atau penyumbangan elektron. potensial reduksi dan parameter lipofilisitas.diperlukan untuk mengeksplorasi secara cukup semua kombinasi struktur molekul. energi ionisasi. Persamaan Hamment Suatu reaksi polar terjadi karena interaksi antara sebuah nukleofil dengan sebuahelektrofil.

Jaffe menemukan bahwa nilai σ untuk berbagai gugus dapat dijumlahkan dan hubunganberikut memberikan hasil yang baik.log k / ko = σ ρ Dengan k = tetapan hidrolisis ester tersubstitusi meta atau para Ko = tetapan hidrolisis yang bekaitan dengan senyawa tak tersubstitusi σ = tetapan substituen ρ = tetapan reaksi Persamaan ini menggambarkan pengaruh substituen polar posisi meta atau paraterhadap sisi reaksi turunan benzena.4berikut ini dapat digunakan untuk menghubungkan hasil-hasil tersebut log k/ko = npσ Di dalam sistem alifatik kaku seperti asam 4-substituen bisiklo[2.2. dan kemiringannya adalah ρ Tetapan substituent σ ditetapkan denganPersamaan: σ log = k/ko Dengan Ko menyatakan tetapan ionisasi asam benzoat. log k/ko = pΣσ Dengan berarti jumlah Σσ nilai-nilai σ dari semua gugus. dan juga terhadap turunan alifatik karenapelintiran rantai karbon dapat menimbulkan aksi sterik.substituen-substituen juga mengikuti persamanaan Hammett meskipundengan kumpulan 78 .2]oktan-1-karboksilat (22). Persamaan Hammet tidak berlaku untuk substituenpada posisi orto karena adanya efek sterik. dan K adalah tetapan ionisasiturunan asam benzoat. Bagi senyawa yang mengandung lebih dari satu cincin benzena.Persamaan 3. Persamaan Hammet yang telah mengalami perluasan tertentu telah diusulkan . Suatu alur log k/ko lawan σ adalah linier.Jaffe menyelidiki sifat penambahan lebih daripada satu gugus kepada cincin aromatik.

digambarkan dengan σ1. muatan positip pada pusat reaksi turun pada tahap penentu laju 79 .nilai σyang berbeda.  Terbentuknya zat antara karbokation +CH2Me Mekanime reaksi hidrolisis Et ester Untuk substituen penarik elektron. Nilai σ1menyatakanefek elektrik substituen yang terikat pada atom karbon hibridasi sp3karena efek iniditeruskan elektron σ. Mekanisme reaksi hidrolisis Me ester Terjadi muatan positip pada pusat reaksi dalam tahap penentu laju reaksi  Perubahan tanda r menunjukkan perubahan mekanisme: muatan positip dekat pusat reaksi telah menurun pada tahap penentu laju reaksi. menghasilkan harga r positif.

Tetapan kecepatan reaksi solvolisis meta-substitusi fenildimetilkarbinil klorida memberikan grafik linier terhadap tetapan σ.49  Terbentuknya muatan positif pada pusat reaksi - OEt OEt + Dipercepat dengan adanya gugus penyumbang elektron HO EtO O HOEt O O - HO - C O OH 80 X X X X O . Akantetapi teramati pula adanya penyimpangan dari persaman tersebut. Telah ditemukanadanya grafik antara logaritme tetapan kecepatan reaksi lawan σ yang non-linear.Persamaan Hammett terbukti paling sukses digunakan untuk hubungan kuantitatif antara struktur-struktur senyawa dengan kesetimbangan atau kecepatan reaksi. mengusulkan tetapan substituen baru (disimbol σ +) yangbedasarkan pada solvolisis fenilmetilkarbinil klorida sebagai reaksi pembanding. Alasan yang paling penting untuk deviasi iniadalahinteraksi resonansi antara substituen dengan pusat reaksi. tetapi para-substituen menyimpang dari linearitas. Nilai σ yang berbeda diperlukan untuk menghubungkan reaktivitas substituendalam reaksi. dan reaksi benzilhalida dengan amina. Brown dkk.diperoleh dari reaksi klorinasi dengan nitrasi benzena tersubstitusi. Persamaan Hammet termodifikasi tersebut dinyatatakan sebagai berikut: log k/ko= pσ+ H N H O OH O N C-H H H N C X X X  = -1.

Metode ini ternyata lebih fleksibel untuk menghitung sifat fisik. Pendekatan kedua adalah penggunaan hu-bungan energi bebas linear (Linear Free Energy Relationship. hubungan QSAR dan LFER paling banyak menggunakan diskriptor berdasar empiris walaupun literatur dipenuhi dengan contoh QSAR/LFER dengan diskriptor yang diturunkan secara komputasi. QSAR/QSPR) yang lebih bersifat empiris sehingga memerlukan data eksperimen sebagai himpunan penguji. 81 . Hal ini penting dalam hubungan antara sifat materi secara makroskopis dengan mikroskopis dan telah menjadi dasar berfikir kimia untuk waktu yang lama (misalnya senyawa dengan gugus karbonil diketahui bersifat asam. Sampai sekarang. LFER) dan hubungan kuantitatif aktivitas/sifat (Quantitative Structure Activity/Property Relationships.51  Terbentuknya muatan negatif pada pusat reaksi Dipercepat dengan adanya gugus pemberi elektron Menggunakan diskriptor teoritis dalam QSAR dan LFER Hal yang penting dalam kimia adalah konsep yang mengatakan adanya hubungan antara sifatbulk dari senyawa dengan struktur dari molekul senyawa tersebut. Yang pertana adalah secara langsung menghitung melalui penerapan metode mekanika kuantum dan mekanika klasik. = +2. mempunyai rasa masam. membentuk warna merah dengan lakmus dan ternetralkan oleh basa). Hal ini juga merupakan landasan berfikir untuk mengidentifikasi hubungan antara struktur molekul dengan aktivitas/sifat. Ada dua pendekatan yang tersedia untuk menentukan sifat fisika dan kimia. kimia dan biologis. Walaupun jumlah sifat yang dihasilkan dengan cara ini berkembang pesat. tetapi data tersebut masih cukup terbatas terutama pada keterbatasan besarnya molekul yang dianalisis.

Ralph. Horale. http://yulviawati. Jakarta: Erlangga.2013. 2014. dan J. Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti.blogspot. Raymond. http://yulviawati. Tri Sugiarto.blogspot. Biodegradasi Klorolignin oleh Pseudomonas putida ATCC 45491 dan Phanerochaete Thrysosporium BKMF 1767.  Organikfisik20.” Buletin Khusus.html  UNNES.  Parning. Abstrak Thesis: Internet. H.R. Jakarta: Erlangga  Brady. Kimia Dasar."Licol. Edisi 3." Chang.blogspot. Prinsip dan Terapan Modern.id/2013/04/kimiaorganik-fisik.ac. “Daur  Ulang Air Limbah. 1988.Anto.htmlhttp://bloguswaelubaisy. 2006.blogspot. Holum. Pengganti Minyak  Tanah.html (di akses tanggal 20 November 2015) http://draffa99. Terjemahan Suminar. 10 Oktober 2003. Fundamentals of Chemistry.unnes.id/2013/12/kontrol-kinetika-dankontrol.html 82 . Inc.id/wp- Kinetika dan Kontrol.docx  Yulviawati.co. 2004. Kompas. Kontrol Termodinamik dan Kontrol.DAFTAR PUSTAKA  Petrucci. 1992. Tiopan. Akhir Agustus 2006Warta untuk Warga. New York: Jon Willey & Sons. James E. Pinkan. 2013. Edisi ke-3 Jilid 1. SAP KOF. 2006. Kimia SMA Kelas XI Semester I.co.co. Jakarta: Yudistira  Aditiawati.co. Kontrol http://te. content/uploads/2014/02/SAP-KOF.id/2013/04/makalah-hubungan-energibebas-linier.id/2013/12/kontrol-kinetika-dankontrol.

83 .