BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada pertengahan abad ke 19, mulai diperkenalkan dua penemuan medis sangat penting
bagi semua ahli bedah; yaitu anestesi dan antiseptis. Kedua penemuan ini dapt mengurangi
angka kematian bedah secara bermakna dan memungkinkan ilmu bedah meluaskan
cakrawalanya dengan cara yang tidak terduga sebelumnya. Anestesi umum diperkenalkan
pertamakali dengan demonstrasi anestesi eter di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Oktober
1846. Hal ini membawa penerimaan yang sangat cepat bagi anestesiologi sebagi disiplin
klinik tersendiri.
Dewasa ini, para ahli anestesiologi klinik berperan serta dalam persiapan pra bedah
pasien bedah, melakukan sokongan kehidupan fisiologi intra-operasi serta perawatan pasca
bedah segera maupun jangka panjang. Selain itu, perawatan pasien sakit kritis, terapi
pernapasan, tindakan diagnosis dan cara–cara terapi nyeri, semuanya merupakan contoh dari
pelayanan yang diharapkan dilakukan oleh bagian anestesi modern. Sebagain anggota tim
perawatan pasien terpadu, ahli anestesiologi sekarang mampu melakukan anestesi aman
untuk sejumlah tindakan bedah yang baru dan transplantasi organ sampai operasi jantung
rumit pada pasien semua umur.
Jumlah prosedur non-invasif dan invasif minimal dilakukan di luar ruang operasi telah
berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir. Sedasi, analgesia, atau keduanya
mungkin diperlukan untuk banyak prosedur intervensi atau diagnostik. Dengan
diperkenalkannya

lebih

pendek-acting

obat

penenang

untuk

sedasi

dan

opioid

untuk mengontrol rasa sakit, agen pembalikan spesifik untuk kedua opioid dan
benzodiazepin, dan ketersediaan peralatan pemantauan invasif, sedasi prosedural sekarang
dapat dengan aman diberikan dalam pengaturan kesehatan banyak.
Berbagai prosedur yang memerlukan sedasi prosedural dilayani lebih baik dengan
mempertimbangkan tujuan sedasi prosedural dan menentukan apakah pasien tertentu
memerlukan intervensi farmakologis untuk memenuhi tujuan berikut ini selama prosedur.
1. Keselamatan pasien;
2. Meminimalkan rasa sakit dan kecemasan terkait dengan prosedur
1

Sedasi dalam dapat meningkat hingga sulit dibedakan dengan anestesi umum. Walaupun fungsi kognitif dan koordinasi terganggu. dan kembali pasien untuk negara presedation secepat mungkin B. Kemampuan pasien untuk menjaga jalan napas paten sendiri merupakan salah satu karakteristik sedasi sedang atau sedasi 2 . Fungsi kardiovaskuler biasanya dijaga. Meminimalkan gerakan pasien selama prosedur 4. pasien berespon normal terhadap perintah verbal. 2. pasien sulit dibangunkan tapi akan berespon terhadap rangsangan berulang atau rangsangan sakit. Sedasi minimal adalah suatu keadaan dimana selama terinduksi obat. dimana pasien tidak dapat dibangunkan. Sedasi dalam Adalah suatu keadaan di mana selama terjadi depresi kesadaran setelah terinduksi obat. PENGERTIAN Sedasi dapat didefinisikan sebagai penggunaan agen-agen farmakologik untuk menghasilkan depresi tingkat kesadaran secara cukup sehingga menimbulkan rasa mengantuk dan menghilangkan kecemasan tanpa kehilangan komunikasi verbal. Kemampuan untuk mempertahankan fungsi ventilasi dapat terganggu dan pasien dapat memerlukan bantuan untuk menjaga jalan napas paten.3. The American Society of Anesthesiologists menggunakan definisi berikut untuk sedasi : 1. Sedasi sedang (sedasi sadar) adalah suatu keadaan depresi kesadaran setelah terinduksi obat di mana pasien dapat berespon terhadap perintah verbal secara spontan atau setelah diikuti oleh rangsangan taktil cahaya. tetapi fungsi kardiovaskuler dan ventilasi tidak dipengaruhi. dan diperlukan tingkat keahlian yang lebih tinggi untuk penanganan pasien. Dapat terjadi progresi dari sedasi minimal menjadi sedasi dalam dimana kontak verbal dan refleks protektif hilang. Fungsi kardiovaskuler biasanya dijaga. 3. Memaksimalkan kemungkinan keberhasilan dari prosedur. Tidak diperlukan intervensi untuk menjaga jalan napas paten dan ventilasi spontan masih adekuat.

misalnya selama pembedahan gigi atau prosedur pembedahan yang menggunakan blok regional. Beberapa obat anestesi dapat digunakan dalam dosis kecil untuk menghasilkan efek sedasi.sadar. Obat-obat sedative dapat menghasilkan efek anestesi jika diberikan dalam dosis yang besar. Endoskopi Obat-obat sedatif umumnya digunakan untuk menghilangkan kecemasan dan memberi efek sedasi selama pemeriksaan dan intervensi endoskopi. Pemilihan obat tergantung pada pasien. Perkembangan pembedahan invasif minimal saat ini membuat teknik ini lebih luas digunakan. Perkembangan penggunaan radiologi intervensi selanjutnya meningkatkan kebutuhan penggunaan sedasi dalam bidang radiologi. Indikasi Penggunaan Obat-Obat Sedatif 1. Sedo-analgesia Istilah ini menggambarkan penggunaan kombinasi obat sedatif dengan anestesi lokal. Pada endoskopi 3 . terutama anak-anak dan pasien cemas. tetapi pada tingkat sedasi ini tidak dapat dipastikan bahwa refleks protektif masih baik. Premedikasi Obat-obat sedative dapat diberikan pada masa preoperatif untuk mengurangi kecemasan sebelum dilakukan anestesi dan pembedahan. 2. dan orang yang sangat cemas. 3. Sedasi dapat digunakan pada anak-anak kecil. Prosedur radiologik Beberapa pasien. pembedahan yang akan dilakukan. tidak mampu mentoleransi prosedur radiologis yang lama dan tidak nyaman tanpa sedasi. Penggunaan oral lebih dipilih dan benzodiazepin adalah obat yang paling banyak digunakan untuk premedikasi. Obat-obat sedatif diberikan untuk menambah aksi agen-agen anestetik. pasien dengan kesulitan belajar. dan keadaan-keadaan tertentu: misalnya kebutuhan pasien dengan pembedahan darurat berbeda dibandingkan pasien dengan pembedahan terencana atau pembedahan mayor. 4.

gastrointestinal (GI). Dengan meningkatnya penggunaan ventilator mekanik. termasuk benzodiazepin. obat anestetik seperti propofol. pendekatan modern yaitu dengan kombinasi analgesia yang adekuat dengan sedasi yang cukup untuk mempertahankan pasien pada keadaan tenang tapi dapat dibangunkan. Suplementasi terhadap anestesi umum Penggunaannya yaitu dari sinergi antara obat-obat sedatif dan agen induksi intravena dengan teknik ko-induksi. opioid. Farmakokinetik dari tiap-tiap obat harus dipertimbangkan. 4 . Sinergisme antara kelompok obat-obat ini secara signifikan meningkatkan resiko obstruksi jalan napas dan depresi ventilasi. dan dengan demikian mengurangi frekuensi dan beratnya efek samping. analgesik lokal biasanya tidak tepat digunakan. Terapi intensif Kebanyakan pasien dalam masa kritis membutuhkan sedasi untuk memfasilitasi penggunaan ventilasi mekanik dan intervensi terapetik lain dalam Unit Terapi Intensif (ITU). tapi perhatian lebih terfokus akhir-akhir ini pada pentingnya sedasi harian ‘holds’. dan agoni α2-adrenergik. di mana sedatif terpaksa diberikan lewat infus untuk waktu yang lama pada pasien dengan disfungsi organ serta kemampuan metabolisme dan ekskresi obat yang terganggu. Beberapa obat yang berbeda digunakan untuk menghasilkan sedasi jangka pendek dan jangka panjang di ITU. 5. 6. perlu penggunaan bersamaan obat sedatif dan opioid sistemik. Nilai skor sedasi selama perawatan masa kritis telah dibuat sejak bertahun-tahun. Hal ini bertujuan untuk mengurangi insiden terjadinya komplikasi terkait penggunaan ventilasi mekanik selama masa kritis dan untuk mengurangi lama perawatan. strategi interupsi harian dengan obat-obat sedasi menyebabkan lebih sensitifnya kebutuhan untuk sedasi. Penggunaan sedatif dalam dosis rendah dapat menghasilkan reduksi signifikan dari dosis agen induksi yang dibutuhkan.

D. Meningkatkan dan memaksimalkan kualitas serta keamanan dalam Pelayanan Sedasi dengan menciptakan standarisasi prosedur yang aman. 2. TUJUAN 1. Me-recall memori.C. khususnya dalam penanganan klinis penyakit sehubungan dengan deteksi dini. RUANG LINGKUP Pelayanan medis Prosedur Sedasi dilakukan di Kamar Operasi Rumah Sakit Umum AtTurots Al-Islamy. Adanya kebutuhan Pelayanan Sedasi yang memudahkan petugas kesehatan menjalankan tugasnya dengan optimal. pengobatan dan pencegahan. perawatan. terutama pada hal-hal kecil yang gampang terabaikan pada keadaan pasien yang komplek. 3. 5 .

pompa spuit telah diprogram dengan model farmakokinetik obat dan didesain untuk mencapai konsentrasi plasma ‘target’ yang diinginkan secepat mungkin. Teknologi terbaru dalam pompa infus dengan kontrol mikroprosesor telah meningkatkan keamanan penggunaan sedatif. Dahulu obat-obat sedatif digunakan melalui bolus intravena intermiten. dosis rata-rata obat sedatif menurun sementara jarak pemberian meningkat. 2. dan orang yang berkompeten. Usia pasien juga seharusnya diperhatikan di mana semakin tua usia pasien. biasanya untuk mempertahankan sedasi setelah dosis bolus awal digunakan oleh dokter. penting karena bisa terjadinya progresi progresi dari sedasi ringan menjadi anestesi umum. Fasilitas harus tersedia untuk memonitor kondisi fisiologis seperti saturasi oksigen 6 .BAB II TATA LAKSANA 1. sesuai dengan berat badan pasien. dan sedasi pada anak-anak merupakan beberapa tema yang diangkat. peralatan. semakin tinggi sensitivitas efek obat-obat sedatif terhadap SSP. Terdapat variasi yang cukup besar dari respon individual terhadap dosis yang diberikan dan terdapat banyak keadaan di mana praktisi medis tanpa pelatihan anestetik menggunakan sedatif. operator dapat mengubah-ubah level target. Teknik Penggunaan Penggunaan obat sedatif memerlukan keterampilan dan kehati-hatian. Panduan terkait penggunaan sedasi untuk endoskopi GI. perlu dipastikan tersedianya fasilitas yang adekuat. Setelah sistem tersebut sepenuhnya terkontrol oleh pasien. Pada target-controlled infusion. Beberapa panduan pemakaian telah diperkenalkan untuk mengatasi hal ini. Kelayakan pasien untuk menjalani prosedur dengan sedasi harus dievaluasi: misalnya pasien dengan masalah jalan napas tidak boleh menggunakan prosedur ini. Pemakaian sedasi yang aman Pemakaian sedasi yang aman bertujuan untuk membuat prosedur lebih aman dan meminimalkan resiko terhadap pasien. prosedur pembedahan gigi. Karena terdapat variabilitas efek farmakodinamik obat. prosedur di bagian darurat. Sistem patient-controlled analgesia telah diprogram untuk patient-controlled sedation. Ketika sedasi digunakan di luar lingkungan operasi.

a) BENZODIAZEPIN Obat-obatan ini awalnya dikembangkan untuk keperluan obat anxiolytik dan hypnotik dan pada tahun 1960-an menggantikan obat barbiturat oral. Seorang personel harus dilatih untuk dapat mengenali. Dengan cara demikian obat ini memfasilitasi efek inhibitor dari 7 . dan individu yang melakukan prosedur tidak bertanggungjawab memonitor kondisi pasien pada saat bersamaan. Semua benzodiazepin mempunyai efek farmakologi yang sama. terutama propofol dan ketamin. lama kerja pendek (midazolam). mereka terus mengembangkan di anestesi dan perawatan intensif. melalui neuron-neuron modulasi GABA ergik. dan berkompetensi untuk menangani komplikasi kardiorespirasi. Obat-Obatan Sedatif Kebanyakan obat-obatan sedatif dikategorikan dalam satu dari tiga kelompok utama.adrenoseptor. efek terapi ini ditentukan oleh potensi dan ketersediaan obat-obatan. GABA merupakan inhibitor utama neurotransmiter di susunan saraf pusat (SSP). Reseptor Benzodiazepin berikatan dengan reseptor subtipe GABA.arterial. Agar sediaan parenteral tersedia. yaitu sebagai lama kerja panjang (diazepam). 3. neuroleptik dan agonis a2. dan peralatan resusitasi harus lengkap dan tersedia secepatnya. Obat-obatan ini lebih sering di klasifikasikan sebagai jenis anestesi intravena. dimana dapat membuat neuron ini resisten terhadap rangsangan. FARMAKOLOGI Mekanisme Aksi Benzodiazepin bekerja oleh daya ikatan yang spesifik pada reseptor benzodiazepin. farmakologi obat ini telah dijelaskan pada bab 3. yang menyebabakan hiperpolarisasi dari membran postsinpatik. lama kerja sedang (temazepam). Anestesi inhalasi juga sering digunakan sebagai sedatif dalam kadar subanestetik. yaitu: Benzodiazepin. juga digunakan sebagai obat sedatif dengan dosis subanestetik. Benzodiazepin diklasifikasi berdasarkan lama kerja obat. Berikatan dengan reseptor agonis menyebabkan masuknya ion klorida dalam sel. yang mana merupakan bagian dari kompleks reseptor asam g aminobutirik (GABA).

Hal ini juga konsisten dengan penggunaan benzodiazepin untuk mengatasi gejala timbal balik akut atau detoksifikasi alkohol atau obat-obatan lain. serebelum dan hipokampus dan densitas rendah pada medula spinalis. akibatnya terjadi rangsangan pada otak. Senyawa ini juga merupakan antagonis dari flumazenil. Ikatan dengan komponen yang lain pada reseptor benzodiazepin menunjukan efek sinergis dengan beberapa obat lain. hal ini aman bagi sistem kardiovaskuler pada saat penggunaan obat ini. Tidak adanya reseptor GABA selain di SSP. alkohol dan propofol.GABA. Efek Benzodiazepin pada SSP ditunjukan pada hubungan dengan kemampuan reseptor. Reseptor benzodiazepin dapat ditemukan di otak dan medula spinalis. Gambaran ini merupakan reaksi berlawanan pada benzodiazepin yang sebelumnya adalah cadangan yang lama dari flumazenil dan merupakan akibat dari eksaserbasi 8 . Antagonis benzodiazepin yaitu flumazenil dapat menempati reseptor tapi tidak dapat menyebabkan aktifitas. Efek sinergis ini menunjukan bahaya depresi SSP jika obat digunakan secara bersamaan dan juga menyebabkan efek farmakologi toleransi silang dengan penggunaan alkohol. Dosis midazolam Efek Dosis rendah Kemampuan Dosis flumazenil reseptor (%) untuk membalikan Antiepilepsi 20-25 Dosis rendah Anxiolisis 20-30 Sedasi ringan 25-50 Penurunnan perhatian 60-90 Amnesia Sedasi kuat Relaksasi otot Dosis tinggi Anestesi Dosis tinggi Reseptor GABA merupakan reseptor dengan struktur besar yang mempunyai ikatan yang terpisah dengan obat lain yaitu barbiturat. Senyawa benzodiazepin telah dikembangkan pada reseptor ligand tapi menyebabkan pergerakan terbalik dari agonis. dengan densitas tinggi pada korteks serebral.

pada akhirnya menunjukan peningkatan toleransi. Efek Samping Efek samping dari benzodiazepin tergantung dosis dan dapat diprediksi dari efek farmakodinamiknya. Penggunaan benzodiazepin yang lama menyebabkan penurunan regulasi dari reseptor dan juga terjadi penurunan ikatan dan funsi dari reseptor.pada penambahan dosis obat murni. Efek sedasi terjadi pada ketergantungan dosis yang menyebabkan depresi aktivitas serebral. Efek yang panjang dari obat oral seperti diazepam dan chlordaizepoksid dapat mengobati efek timbal balik dari alkohol akut. yang seharusnya hal ini diperhatikan terkebih dahulu. Lebih dari itu dapat menyebabkan kegelisahan seperti pada hipoksemia dan toksisitas anestasi lokal. yang walaupun obat ini mempunyai efek adiktif yang rendah dari opiod dan barbiturat. ketidakstabilan hemodinamik dan obstruksi jalan napas dapat terjadi pada kelebihan dosis yang tidak diperhatikan dan lebih sering terjadi pada orang tua atau pasien dengan kondisi yang lemah. dan efek sedasi yang ringan pada kemampuan reseptor yang rendah yang sama dengan pada anestesi umum jika ruang reseptor terisi. Penggunaan yang lama juga dapat menyebabkan ketergantungan secara fisik maupun mental. Anxiolysis terjadi pada penggunaan obat dengan dosis yang rendah dan apabila obat ini digunakan secara efektif untuk pengobatan anxietas yang akut maupun kronik. Oversedasi. amnesia dan aktifitas antiepileptik. Pada penderita yang telah lama menggunakan obat ini sensitif terhadap efek dari benzodiazepin dan dosis harus diturunkan secara teratur. Anxiolysis lebih sering terjadi pada saat premedikasi dan pada prosedur yang salah. Midazolam terbukti benar 9 . Hubungan timbal balik yang dalam dapat menyebabkan gejala klinik yang sama seperti pada penggunaan alkohol akut. oleh sebab itu dosis benzodiazepin diturunkan secara teratur setelah penggunaan yang lama. depresi ventilasi. sedasi. Efek pada SSP Efek benzodiazepin pada SSP yaitu anxiolysis.

Aktivitas antiepilepsi. Periode kronik pada amnesia dilaporkan terjadi pada penggunaan obat oral lorazepam. Sebagai tambahan.aman sebagai obat sedatif intravena. Bagaimanapun hal ini dapat menyebabkan obstruksi jalan napas bagian atas dan kehilangan refleks protektif yang terjadi sebelum dalam efek sedasi. Retrograd amnesia tidak ditemukan pada penggunaan benzodiazepin. oleh sebab itu mereka menyesuaikan untuk digunakan pada beberapa pasien dengan kelaianan intrakranial. perbedaan pada densitas reseptor menyebabkan terjadi reaksi sensitivitas yang berlebihan pada korteks dan depresi medula. yang dapat berpotensi bahaya pada kasus ini. tapi dapat terlihat sebagai gejala awal. dan hal bahaya yang utama yaitu efek sedasi yang berlebihan atau terjadi self poisoning. Obat intravena lorazepam dan diazepam dapat digunakan untuk menghentikan seizure dan clonazepam digunakan untuk membantu terapi pada terapi epilepsi kronik. Penggunaan benzodiazepin sebagai hipnotik sekarang telah digantikan dengan nonbenzodiazepin yang baru sebagai hipnotik yaitu. Anterograd amnesia mempengaruhi ambilan informasi. Penggunaan benzodiazepin dapat memberikan efek yang menyenangkan untuk insomnia dan lebih efektif lagi pada insomnia akut. dan juga respon serebrovaskular untuk karbondioksida dilindungi. Bagaimanapun pengobatan yang lama tidak dianjurkan karena dapat memberikan masalah seperti efek toleransi dan ketergantungan dan yang terpenting yaitu kesulitan dalam efek timbal balik pada pengobatan. Benzodiazepin menurunkan metabolisme oksigen di otak dan aliran darah otak. dimana obat ini dapat bereaksi pada reseptor benzodiazepin. Bagaimanapun harus diketahui bahwa midazolam tidak dapat mencegah peningkatan tekanan intrakranial bersama dengan pemasangan intubasi trakeal. Benzodiazepin mempunyai efek terapi yang tinggi (berbanding efektif dengan dosis letal) karena pada dosis yang berlebihan. zopiklon. dapat mencegah pengobatan seizure pada subkortikal. depresi ventliasi disebabkan oleh benzodiazepin pada pernapasan 10 . Benzodiazepin dapat meningkatkan ambang aktivitas seizure pada toksisitas anestesi lokal. Amnesia paling sering terjadi pada penggunaan benzodiazepin secara intravena dan yang digunakan pada penderita yang menjalani pengobatan atau penggunaan pada prosedur yang berulang.

Relaksasi otot tidak berhubungan dengan efek pada neuromuskular junction. Hal ini diikuti juga dengan adanya sindrom hipoventilasi dan gagal napas tipe 2 yang peka terhadap depresi pernapasan akibat efek dari benzodiazepin. Penurunan dosis benzodiazepin yang diperlukan sampai 75% harus diantisipasi. Efek samping yang tidak diinginkan pada SSP. Meskipun efek residu sedatif minimal tapi dapat mempengaruhi fungsi kognitif dan koordinasi motorik. Relaksasi Otot Benzodiazepin menyebabkan reduksi otot ringan yang bisa menguntungkan misalnya pada penggunaan ventilasi mekanik di unit perawatan intensif. Apabila kedua obat ini diberikan bersama-sama secara intravena. tapi menyebabkan peningkatan pada penghantaran impuls neuron pada medula spinalis dan penurunan transmisi polisinaptik pada otak. seperti perasaan mengantuk dan terjadi kerusakan pada tampilan psikomotor. yang tidak diinginkan jika pemenuhan tekanan intrakranial menurun. Apabila opiod dan benzodaizepin digunakan secara bersama-sama akan terjadi efek yang sinergis.spontan yang dari pasien menunjukan peningkatan PCO2 arteri. Bagaimanapun juga relaksasi otot berperan secara responsif pad obstruksi jalan napas pada penggunaan obat sedatif intravena. Efek Kardiovaskuler 11 . respon ventilasi terhadap CO2dapat terganggu dan respon dari ventilasi yang kurang ditandai dengan adanya depresi. Efek pada Respirasi Dosis benzodazepin dapat menyebabkan depresi sentral pada ventilasi . yang seharusnya dapat diperkirakan kapan pengobatan ini dihentikan pada pasien. yang mengurangi resiko dari dislokasi artikular atau saat pemasangan endoskopi. Hal ini harus menjadi standar praktek untuk menyediakan oksigen tambahan dan monitor saturasi oksigen dengan oximetri selama pemberian obat sedatif secara intravena. obat opiod harus diberikan terlebih dahulu dan efeknya dapat diperkirakan. Depresi ventilasi merupakan efek eksaserbasi dari obstruksi jalan napas dan hal ini paling sering pada dari yang sebelumnya.

Disfungsi renal terlihat dari akumulasi dari metabolit-metabolit dan ini merupakan satu faktor penting penundaan pemulihan dari pemanjangan sedasi dari ITU. benzodiazepine memiliki waktu yang lebih lambat untuk mencapai keseimbangan konsentrasi pada target organ. Kedua formasi tersebut disediakan dalam ampul 2 ml yang terdiri dari 5 12 .refleks hemostatik masih tetap terpelihara dan lebih aman dari agen anastesi intravena. Eliminasi dari metabolisme hepatik mengikuti ekskresi dari metabolisme renal. Terdapat pengikatan protein secara luas. Beberapa dari golongan benzodiazepine. Suatu emulsi lemak (diazemuls) ditingkatkan/ditemukan selanjutnya. termasuk diazepam memiliki metabolic aktif yang secara luas memperpanjang efek klinis mereka. Tidak larut dalam air dan pada awalnya diformulasikan dalam propylene glikol. Midazolam harus melewati hepar dulu sehingga hanya sekitar 50% dari dosis oral yang sampai ke sirkulasi sistemik.Benzodiazepin menghasilkan efek hemodinamik yang tidak terlalu besar dimana mekanisme. yang sangat iritan untuk vena dan dihubungkan dengan peningkatan insidens dari tromboflebitis. Hipotensi yang signifikan dapat terjadi pada pasien yang mengalami hipovolemia atau vasokonstriksi. Setelah pemberian bolus intravena. Farmakokinetik Benzodiazepin adalah molekul kecil yang relative larut lemak. Ada 2 jalan utama dari metabolisme meliputi oksidasi mikrosomal atau konjugasi dengan glukoronidase. b) DIAZEPAM Diazepam adalah golongan benzodiazepin pertama yang tersedia untuk penggunaan parenteral. Makna dari hal ini adalah bahwa oksidasi lebih mungkin dipengaruhi oleh usia. Hal ini menganjurkan bahwa harus tersedia waktu untuk menilai seluruh efek klinis sebelum memberikan suatu kenaikan dosis lebih lanjut. Suatu penekanan pada resistensi vaskuler perifer menghasilkan sedikit penekanan pada tekanan arteri. yang siap diabsorbsi secara oral dan dengan cepat melewati SSP. penghentian aksi obat terjadi secara lebih luas dengan proses redistribusi. penyakit hepar. interaksi obat dan faktor-faktor lain yang mengubah konsentrasi dari sitokrom P450. Dibandingkan dengan obat-obatan seperti propofol.

peningkatan bolus 1-2 mg. Dosis maksimal 20 mg.mg/ml. diulang setiap menit sampai kejang berhenti. dengan gejala siksa mengantuk. Memiliki eliminasi waktu paru relatif lama 8-15 jam. Diazepam juga tersedia untuk oral yaitu tablet atau sirup dengan 100% bioavibilitas dan larutan rectal dan supositoria.7 Dosis - Premedikasi : 15 mg oral atau 5 mg IM. Dosis - Premedikasi : 10 mg oral 1-1. Dosis 20 mg efektif dalam 1-2 jam dan bertahan sekitar 2 jam. 13 . Pemberian secara oral absorpsinya sempurna tapi membutuhkan waktu sampai dengan 2 jam untuk mencapai konsentrasi puncak di plasma.5 jam sebelum operasi - Sedasi : 5-15 mg IV perlahan-lahan. - Status epileptikus : 2 mg. namun digunakan lebih luas sebagai suatu obat premedikasi karena sifat anxiolitiknya. Toleransi dan ketergantungan jarang terjadi pada pemakaian lama dari temazepam. tetapi metabolit-metabolit aktif diproduksi termasuk desmetil diazepam dengan waktu paru 36-200 jam. Eliminasi waktu paru 20-50 jam. Metabolisme berlangsung di hepar lewat konjugasi dengan glukoronidase dan tidak ada produksi metabolit yang penting. ditujukan secara luas sebagai suatu hipnotik. dosis bolus IV 5-10 mg/4 jam.03-1 mg/kg/jam d) TEMAZEPAM Golongan benzodiazepin ini hanya tersedia bentuk oral. c) MIDAZOLAM Midazolam adalah suatu derivat imidazoensodiazepinedan cincin imidazol yang mencapai kelarutan air pada pH 2. clearance menurun pada disfungsi hepar. anak > 6 bulan 70-100 µg/kg - Sedasi : 2-7 mg IV - Terapi intensif : IV 0. - Terapi intensif : Tidak cocok untuk infus.9 – 3.

1-0. Flumazenil memiliki sangat sedikit aktivitas intrinsik pada dosis tinggi dan ditoleransi dengan baik dengan efek samping minimal. Jalur IM hanya digunakan jika tidak ada jalur lain yang tersedia. Jika digunakan untuk premedikasi. baik secara IM/IV dengan dosis 25-30 µg/kg (dosis biasa 1. yang mengharuskan suatu periode observasi tertutup. karena memiliki durasi yang lebih panjang untuk aksi antilepilepsi dibanding diazepam. f) FLUMAZENIL Flumazenil adalah suatu kompetitif antagonis berafinitas tinggi untuk semua ligand reseptor benzodiazepin. Metabolisme oleh glukoronidasi dengan eliminasi waktu paru 15 jam dan durasi yang lebih panjang dibandingkan temazepam. Dosis dan pemberian Flumazenil tersedia untuk penggunaan IV dalam ampul 5 ml terdiri dari 100 µg/ml. Obat ini secara cepat melawan semua efek benzodiazepin di CNS dan juga efek berbahaya yang berpotensi muncul melawan efek fisiologis termasu depresi respirasi dan kardiovaskuler dan obstruksi jalan napas. Lama kerja tergantung pada dosis yang diberikan dan identitas dan dosis agonis. Flumazenil secara cepat dibersihkan dari plasma den dimetabolisme oleh hati. Saat ini lorazepam IV merupakan drug of choice pada penanganan status epileptikus. Juga bisa digunakan untuk penanganan serangan akut panik yang berat. Dosis efektif yang biasa digunakan adalah 0.2-1 mg diberikan dalam bentuk 0. dosis 2-4 mg diberikan malam sebelumnya atau pada permulaan hari pembedahan. Berkisar antara 20 menit sampai 2 jam untuk potensi resedasi jika agonis memiliki waktu paruh yang lebih panjang. Flumazenil memiliki waktu paruh eliminasi yang sangat singkat yaitu kurang dari 1 jam.e) LORAZEPAM Obat ini tersedia untuk penggunaan parenteral dan oral.5 mg). tetapi tidak digunakan secara rutin sebagai sedatif IV karena dibatasi oleh aksi dari onset yang pelan. Amnesia adalah suatu tanda yang menyertai pemberian obat ini.2 14 .5-2.

Dosis ulangan atau infus terus dibutuhkan sampai konsentrasi dalam plasma agonis menurun. Pada keadaan koma yang tidak diketahui penyebabnya. Sebagai tambahan bolus obat ini mengurangi efek sedasi dan bolehmenilai keadaan neurogikal. 15 .  Pemulihan sedasi Megurangi waktu dari sedasi pada penderita atau pasien yang lemah.  Pada keracunan Terapi dari benzodiazepin kelebihan dosis dapat menyebabkan tidak sadar dan depresi pernapasan. Pencegahan :  Pasien epilepsy : Pasien epilepsi memiliki resiko kejang khususnya jika suatu benzodiazepin sebagai terapi antiepilepsi. Dosis untuk pasien koma tidak boleh lebih dari 2 mg. Resiko resedasi membuat obat ini tidak digunakan secara rutin.  Ketergantungan benzodiazepine Gejala putus obat dapat terjadi. Dapat diterapi dengan suatu infus dari flumazenil.mg bolus dan diulang tiap interval 1 menit.  Pada ITU ( Unit Terapy Intensif ) Perpanjangan sedasi.  Reaksi cemas Dapat terjadi pada pemberian secara cepat pada sedasi yang lama. flumazenil dapat menjadi suatu alat diagnostik.  Pasien dengan trauma kepala yang berat Flumazenil dapat mepercepat suatu peningkatan tiba-tiba dari tekanan intrakranial. sering dihasilkan dari akumulasi midazolam pada pasien dengan gagal ginjal.

Pemeriksaan GCS sering dilakukan untuk monitoring. 16 . Tingkat sedasi dapat dipantau dengan beberapa metode seperti :  Sistem skoring Ramsay (Tabel 1).2  Oversedasi (meningkatkan risiko pneumonia).BAB III MONITORING DAN EVALUASI Monitoring dan Evaluasi dilakukan oleh dokter DPJP Anesthesi selama pembedahan di kamar operasi. karena Ramsay berdasar pada respon motorik. Namun ini tidak berlaku pada pasien dengan pelumpuh otot. Pemantauan tingkat sedasi ini diperlukan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan kualitas sedasi. untuk menilai aktivitas cerebral. apakah sedasi dalam seperti pada pasien dengan status epileptikus atau sedasi ringan pada pasien dengan ventilasi mekanik. Pengawasan pada kestabilan hemodinamik dan pemeriksaan rutin neurologi terhadap adanya defisit neurologi. Pemantauan paling sering dilakukan dengan scoring Ramsay.  Evoked potential.  Visual Analog Scale.  Membutuhkan pemeriksaan neurulogi yang lebih sering. namun hal tersebut hanya untuk pasien dengan defisit neurologis.  Pemeriksaan dengan EEG. Masalah yang dapat timbul yaitu : 1.  Meningkatkan insidensi depresi. Tidak ada gold standard untuk monitoring sedasi. Tingkat sedasi yang diinginkan tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Kedalaman sedasi sebaiknya dievaluasi setiap jam sampai tercapai kondisi stabil. Dianjurkan pasien sebaiknya nafas spontan secepat mungkin dengan mode ventilasi SIMV atau trigerred ventilation seperti pressure support.