MAKALAH

FILSAFAT PENDIDIKAN
“Hakikat dan Teori – teori Kebenaran”

KELOMPOK 8
1.
2.
3.
4.

Nia Kurniati (1301354)
Rika Andima (15031079)
Yunesti (1301345)
Yoni Elsa (14052062)

Dosen Pembimbing : Drs. Jalius M.pd

MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016

Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Kebenaran semantis (berkaitan dengan bahasa dan tutur kata) Manusia selalu mencari kebenaran. Manusia selalu mencari kebenaran itu. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang dialami manusia 2. Sebaliknya pengetahuan . kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan Kebenaran itu ialah fungsi kejiwaan. fungsi rohaniah. Kebenaran ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada/ diadakan) 3. membina dan menyempurnakannya sejalan dengan kematangan kepribadiannya.Hakikat dan Teori – teori Kebenaran A. Berdasarkan scope potensi subjek. Tingkatan religius.rasio dan pikir murni. jika manusia mengerti dan memahami kebenaran. renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya 4. Tingkatan ilmiah. diolah pula dengan rasio 3. sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Ukuran Kebenarannya : 1. Kebenaran Epistemologi (berkaitan dengan pengetahuan) 2. Berfikir merupakan suatu aktifitas manusia untuk menemukan kebenaran 2. pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara. Diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran Jenis-jenis Kebenaran : 1. maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi : 1. Tingkat filosofis. Pengertian Kebenaran dan Tingkatannya Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Apa yang disebut benar oleh seseorang belum tentu benar bagi orang lain 3.

manusia akan mengalami pertentangan batin. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran. yang berselaran dengan realitas yang serasi dengan sitasi aktual. aristotels dan moore dikembangkan lebih lanjut oleh Ibnu Sina. 2. Teori ini dianut oleh aliran realis. . Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta. Apa yang diajarkan oleh nilai-nilai moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam tingkah lakunya. Teori Consistency  Teori ini merupakan suatu usah apengujian (test) atas arti kebenaran. Pelopornya plato. Cara berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini.dan pemahaman tentang kebenran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-kesanyang berturutturut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain. B. Dengan demikian ada lima unsur yang perlu yaitu : 1) 2) 3) 4) 5) Pernyataan (Statement) Persesuaian (Agreemant) Situasi (situation) Kenyataan (reality) Putusan (judgements) Kebenaran adalah fidelity to objektive reality (kesesuaian pikiran dengan kenyataan). tanpa melaksankan konflik kebenaran. Teori Corespondence  menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut. Teori-Teori Kebenaran Menurut Filsafat 1. Teori kebenaran menuru corespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga pendidikan moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian moral yang telah merupakan kebenaran itu. konflik spilogis. Thomas Aquinas di abad skolatik. serta oleh Berrand Russel pada abad moderen.

Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan. kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya. Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu sebagai usaha yang sering dilakukan di dalam penelitian pendidikan khsusunya di dalam bidang pengukuran pendidikan. pastilah ada subyektivitasnya. Kedua teori ini lebih bersifat melengkapi. Teori konsistensi adalah pendalaman dan kelanjutan yang teliti dan teori korespondensi. kesannya dan comprehensionnya) dengan obyek. Sebab apabila didasarkan atas hubungan subyek (ide. Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility) dapat dikerjakan (workobility) dan akibat yagn memuaskan (satisfaktor consequence). Teori konsisten ini tidaklah bertentangan dengan teori korespondensi. jika mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Bagi Dewey konsikasi tidaklah terletak di dalam ide itu sendiri. Pierce (1914-1939) dan diikuti oleh Wiliam James dan John Dewey (1852-1859). Sesuai dengan keinginan dan tujuan 2. Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada) Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari pada filsup Amerika tokohnya adalha Charles S. Teory Dewey bukanlah mengerti obyek secara .Menurut teori consistency untuk menetapkan suatu kebenaran bukanlah didasarkan atas hubungan subyek dengan realitas obyek. 3. Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutak/ tetap. untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan. malainkan dalam hubungan ide dengan konsekuensinya setelah dilakukan. Sedangkan teori konsistensi merupakan usaha pengujian (test) atas arti kebenaran tadi. Teori korespondensi merupakan pernyataan dari arti kebenaran. Artinya sesuatu itu benar. Wiliam James misalnya menekankan bahwa suatu ide itu benar terletak pada konsikuensi. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Akibat/ hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah : 1. pada hasil tindakan yang dilakukan. Teori Pragmatisme  Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal apra pendidik sebagai metode project atau medoe problem olving dai dalam pengajaran. Sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen 3. Oleh karena itu pemahaman subyek yang satu tentang sesuatu realitas akan mungkin sekali berbeda dengan apa yang ada di dalam pemahaman subyek lain.

1994. kebenaran ilmiah. Kebenaran bersifat objective.berlaku bagi seluruh umat manusia. Sebagai makluk pencari kebenaran.agama dengan kitab suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban atas segala persoalan manusia. termasuk kebenaran. Dalam teori kebenaran agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan. sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan . Muhammad Noor. karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.langsung (teori korepondensi) atau cara tak langsung melalui kesan-kesan dari pada realita (teori konsistensi). DAFTAR PUSTAKA Syam. kebenaran filosofis) taraf dan nilainya berada di bawah kebanaran ini . Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. manusia dan mencari dan menemukan kebenaran melalui agama.fakta. realitas dan kegunaan sebagai landasannya. dimana semua kebenaran (kebenaran inderan. K. budi. 1976. universal. Teori Religius  Kebenaran tak cukup hanya diukur dnenga rasion dan kemauan individu. 1988. Jakarta: Yayasan Krisius Sumantri Surya. 4. Bahkan bagi kaum religius kebenaran illahi ini adalah kebenaran tertinggi. Melainkan mengerti segala sesuai melalui praktek di dalam program solving. Ringkasan Sejarah Filsafat. Keempat teori kebenaran sebelumnya menggunakan alat. Surabaya: Usaha Nasional Bertens. Nilai kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan itu adalah objektif namun bersifat superrasional dan superindividual. Dengan demikian.