You are on page 1of 13

Conditions behind fetal distress

Jaspinder Kaur and 2Kawaljit Kaur*

Dept. of Obstetrics & Gynaecology, Punjab Institute of Medical Sciences,


Jalandhar, Punjab (India) 144001.

Dept. of Biology, B.D. Arya Girls College, Jalandhar Cantt, Punjab (India).

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dibalik fetal distress.
Sebuah penelitian retrospektif digunakan di departemen obstetrik dan ginekologi
intitusi ilmu kedokteran di Punjab, Jalandhar. 100 pasien datang ke departemen
(baik yang memiliki riwayat ANC yang sesuai maupun yang tidak memiliki
riwayat ANC yang sesuai ) selama april 2011 sampai juni 2012, 72 diantaranya
mengalami fetal distress dan menjadi subjek penelitian . Kuisioner terstruktur
dikembangkan untuk setiap kejadian mulai dari antepartum, intrapartum

dan

postpartum pada kehamilan serta data variabel demografi, riwayat obstetrik,


kondisi ibu dan janin juga dikaji. Insidensi fetal distres yang lebih tinggi dapat
dilihat pada ibu hamil dengan kunjungan antenatal yang kurang baik (61,12%)
dan pada ibu usia muda (72,23%; 21-31 th). Ibu yang terkena anemia (34,73%)
mengalami insiden fetal distress tertinggi. kondisi obstetri yang menyebabkan
fetal distres dalam urutan mundur adalah oligohidramnion (19,45%), hipertensi
gestasional (18,06%), IUGR (18,06%), cairan mekoneu pada amnion (16,67%),
persalinan preterm (16,67%), ketuban pecah dini (12,50%), kehamilan postterm
(12,50%), plasenta previa (09,37%), insufisiensi uteroplasenta (06,95%), true
nuchal knot (06,95%), persalinan gagal (05,56%) dan Diabetes melitus gestasional
(02,78%). Fetal distress menyebabkan banyaknya jumlah pasien yang sesar dan
juga kelahiran bayi dengan BBLR. Klinik-klinik prekonsepsi dan juga kampanye

tentang kesadaran masyarakat mungkin bisa berperan penting dalam memotivasi


para ibu sehubungan dengan pentingnya pengelolaan antenatal care dan juga
perekaman status secara dini. Konfirmasi terhadap fetal distress yang telah
terduga yaitu lewat kajian asam basa pada darah fetus dan dianjurkan untuk
mencegah adanya overestimasi pada stress bayi ataumissinterpretasi pada pola
DJJ .
Keyword : anemia, SC, fetal distress, bBLR, status pasien yang tidak memiliki
riwayat ANC yang sesuai

PENDAHULUAN
Kawasan Asia tengah seperti India, Bangladesh dan Pakistan memiliki
populasi anak terbesar kedua sedunia. Dari ketiga Negara tersebut, hanya
Bangladesh yang mampu menurunkan angka kematian balita hingga setengahnya
dari tahun 1990 hingga tahun 2002 (UNICEF, 2004). Sebaliknya India dan
Pakistan masih tertinggal jauh dalam menurunkan angka kematian anak dan bayi
baru lahir. India dirasa belum maksimal atau memuaskan dalam menurunkan
angka kematian anak dan bayi baru lahir menurut database yang dibuat oleh
MDGS (Bhutta et al, 2005).
Fetal distress merupakan istilah yang sering digunakan tetapi definisi nya
masih belum jelas sehingga masih cukup sulit untuk membuat diagnosis akurat
dan inisiasi tatalaksana yang tepat. Janin akan bereaksi pada onset asfiksia dengan
berbagai bentuk respon khususnya pada redistribusi teratur dan kompleks pada
aliran darah yang membantu untuk membatasi efek-efek yang mengganggu pada
kondisi hipoksia di organ vital. Hal ini membuat janin dapat mempertahankan
kondisi asfiksia kecuali gangguan itu berlangsung lama. Stres asfiksial yang

paling umum yang diderita oleh janin pada kehamilan yaitu tidak tercukupinya
aliran darah pada uteroplasenta. Penurunan atau hilangnya variabilitas dalam pola
jantung pada janin merupakan petunjuk bahwa terjadi banyak kompensasi sebagai
efek dari asfiksia (Parer et al, 1990). Istilah fetal distress dan fetal asfiksia sering
keliru dalam penggunaannya. Asfiksia merujuk pada asidosis yang berasal dari
progresif hipoksia di uterus akan tetapi monitoring denyut jantung janin bisa
mendeteksi hipoksia sebelum berkembangnya asfiksia. Baru-baru ini American
College ofObstetricians and Gynecologists mengenalkan phrase non reassuring
fetal heart rate yaitu denyut jantung janin yang bertentangan dengan fetal distress
(ACOG, 1994).
Awal hipoksemia menyebabkan naiknya tekanan darah pada bayi karena
vasokonstriksi pembuluh darah perifer pada janin dan selanjtnya menyebabkan
perlambatan denyut jantung janin serta gangguan pernafasan. Selama hipoksemia
sedang, darah yang mengalir di distribusikan kembali ke otak, jantung dan
kelenjar adrenal dengan mengorbankan organ-organ perifer seperti paru-paru,
kulit, dan lain-lain. Selama hipoksemia berlanjut, aliran darah ke batang otak
dijaga bahkan lebih banyak daripada daerah otak lainnya. Aktivitas saraf pada
batang otak terutama pusat fungsi otonom sangat penting bagi kelangsungan
hidup janin, ketika hipoksia berlanjut, glukosa dimetabolisme secara anaerob,
konsentrasi asam laktat naik dan konsentrasi fosfat yang tinggi energinya
menurun dalam cerebrum. Ketika metabolisme otak pada akhirnya kolaps,
membran saraf mengalami depolarisasi kanal ca2+ terbuka, dan terjadi peningkatan
influks ca2+ ke dalam sitoplasma. Perubahan ini menyebabkan kematian saraf hal
ini mungkin dikarenakan glutamate, radikal oksigen dan substansi yang lain
termasuk dalam meningkatkan influks ca2+. Studi ini menyarankan bahwa

simulasi hipoksik secara kronis seharunya dihindari pada janin untuk mencegah
kerusakan otak janin (Sato, 1994).
Tujuan memonitor janin selama kehamilan adalah untuk mengenali kondisi
patologis seperti asfiksia dengan peringatan yang cukup untuk menginterfensi
sebelum terjadi perubahan. Metode yang bervariasi dilakukan untuk memonitor
status janin baik antepartum maupun intrapartum. Penilaian janin selama
antepartum bisa dilakukan dengan penghitungan pergerakan fetus, Non-Stress
Test, Contraction Stress Test, Biophysical Profile, Maternal Uterine Artery
Doppler, Fetal Umbilical Artery Doppler. Auskultasi intermitten di dalam
persalinan, monitoring janin secara elektronik, simulasi kulit kepala janin secara
digital dan lain-lain bisa digunakan untuk penilaian intrapartum (Liston et al,
2007).
Monitoring denyut jantung janin secara elektronik pada saat intrapartum
dikenal pada tahun 1960 an sebagai tes skrining untuk menilai tingkat keparahan
asfiksia yang menyebabkan kerusakan saraf atau kematian janin. Uji coba
terkontrol yang dilakukan pada tahun 1970-an menunjukkan penurunan lebih dari
tiga kali lipat kematian janin intrapartum dengan penggunaan monitoring FHR.
Hasil positif ini menjadikan antusiasme petugas kesehatan untukmemonitor FHR
pada praktek umum sebelum evaluasi kritis dilakukan. Beberapa uji coba
terkontrol diikuti pada 1970-an dan 1980-an namun gagal untuk menunjukkan
manfaat yang signifikan dari monitoring FHR . Percobaan yang paling besar
menunjukkan adanya reduksi 55% pada kejang sementara bayi baru lahir, akan
tetapi tidak ada perbedaan pada kasus kejadian cerebral palsy pada evaluasi
lanjutan selama 4 tahun. Seiring dengan keuntungan yang masih dipertanyakan,

percobaan-percobaan secara acak juga menunjukkan kenaikan 2 sampai 3 kali


lipat pada rata-rata operasi saecar (Downs dan Zlomke, 2007).
Pemantauan FHR dengan menggunakan elektronik memiliki beberapa
keuntungan sehingga tetap menjadi pilihan unit obstetrik, hal ini termasuk
kemampuan untuk memahami mekanisme pada perkembangan hipoksia dan
pengenalan pola respon fetus pada hipoksia dengan evaluasi reaksi atau variabel
nya, juga kemampuan untuk memonitor kontraksi uterus dan FHR. Keuntungan
memonitor FHR selanjutnya dievaluasi dengan membandingkan hasil perinatal.
Studi ini menunjukkan bukti bahwa memonitor FHR meningkatkan outcome fetus
terhadap pengiriman berisiko tinggi, akan tetapi pemantauan FHR memiliki
beberapa kerugian, 2 hal yang paling penting adalah meningkatnya angka operasi
saecar yang berhubungan dengan over reaksi terhadap interpretasi pada pola FHR
dan naiknya perkara mallpraktek dalam bidang kesehatan karena bayi yang
mengalami kerusakan otak dan juga kematian otak yang dihasilkan dari
missinterpretasi dari monitoring FHR (Dastur, 2005).
Studi

ini

didesain

untuk

menentukan

berbagai

kondisi

yang

bertanggungjawab pada fetal distress.


BAHAN DAN METODE
Seluruh pasien Fetal Distres yang masuk melalui Ruang Gawat Darurat
dan Departemen Rawat Jalan sejak April 2012 sampai Juni 2012 dipelajari secara
retrospektif oleh Departemen Obstetri dan Ginekologi Pendidikan Kedokteran
Universitas Punjab (PIMS), Jalandhar (Punjab, India). PIMS adalah pusat rujukan
tersier yang memiliki sejumlah pasien rujukan dari perawatan primer dan
sekunder baik dari dalam kota maupun dari pinggiran kota.
Seratus wanita melahirkan di PIMS selama periode studi dimana 72
diantaranya mengalami fetal distres dan diambil menjadi subjek penelitian.
Kuesioner terstruktur dikembangkan untuk mengetahui kejadian antepartum,

intrapartum, dan postpartum selama kehamilan dan diberikan kepada subjek


penelitian. Informed consent verbal didapatkan dari wanita sebelum wawancara
pasca persalinan dan direkam dalam kuesioner yang didesain untuk tujuan ini.
Penelitian mendapatkan izin etik dari Institusi Komite Etik. Rincian dari
variabel demografi, riwayat persalinan keluaran maternal, dan keluaran neonatal
dieksplorasi. Variabel demografi meliputi usia, status sosioekonomi dan status
pemesanan. Pasien yang telah memiliki 3 kali kunjungan antenatal disebut pasien
yang telah memesan dan pasien dengan kunjungan kurang dari 3 kali disebut
sebagai pasien yang belum memesan. Riwayat obstetri meliputi status paritas,
kesehatan maternal sebelum dan saat kehamilan, kejadian klinis signifikan pada
kehamilan sebelumnya dan informasi rinci berhubungan dengan komplikasi yang
terjadi saat intrapartum dan postpartum.
Paritas dikelompokkan dan menjadi Primiparitas dan Multiparitas.
Keluaran maternal didata yang meliputi usia kehamilan, berat lahir, mortalitas
perinatal dll juga didikumentasikan. Investigasi telah dilakukan pada seluruh
wanita yang meliputi pemeriksaan darah lengkap, analisa urin, pemeriksaan gula
darah sewaktu, golongan darah, HIV, antigen Hepatitis C dan Hepatitis B, waktu
perdarahan dan pembekuan serta ultrasonografi. Invertigasi spesifik dilakukan
yang berkaitan dengan kelainan medis pada pasien jika ada. Penelitian ini
dilakukan untuk menentukan kondisi yang berhubungan dengan abnormalitas
detak jantung fetal yang berakibat pada fetal distress bersamaan dengan variabel
demografis, riwayat persalinan, keluaran maternal dan keluaran neonatal.

HASIL
Tabel 1 menjelaskan variabel demografi diantara wanita hamil yang
mengalami fetal distres. 38,89% dan 33,34% wanita yang mengalami fetal distress
berusia antara 21-25 tahun dan 26-30 tahun dalam kelompok umur secara
berurutan. Hal inii menunjukkan bagian terbesar pada kelompok umur 21-30
tahun (72,23%). Mayoritas ibu hamil berada pada status ekonomi menengah

(65,28%). Insidensi fetal distres yang lebih tinggi dapat dilihat pada ibu hamil
dengan kunungan antenatal kurang dari 3 kali (61,12%)ketika dibandingkan
dengan yang lebih dari 3 kali (38,89%). Prevalensi fetal distres sama baik pada
ibu primipara atau multipara.

Tabel 1. Demografi Wanita Hamil


Kategori

Presentasi
%

Jumlah
subjek

Usia (tahun)
<20

12,50

09

21-25

38,89

28

26-30

33,34

24

>30

15,28

11

Status sosial ekonomi


Rendah

18,06

13

Sedang

65,28

47

Tinggi

16,67

12

Kunjungan antenatal
Memesan

38,89

28

Belum
memesan

61,12

44

Paritas
Primiparitas

50,00

36

multiparitas

50,00

36

Tabel 2 memperlihatkan kejadian melahirkan pada kehamilan dengan


usia kehamilan saat persalinan, cara persalinan, dan berat badan lahir neonatal.
63,89% ibu yang mengalami fetal distres melahirkan

pada cukup bulan

sedangkan 23,62% dan 12,50% melahirkan pada usia kehamilan kurang bulan
dan lewat bulan secara berurutan. Mayoritas ibu dengan fetal distres (52,78%)

memiliki berat badan lahir bayi yang rendah (<2,5 kg) sedangkan 47,23% ibu
memiliki bayi dengan berat badan lahir yang sesuai (>2,5kg). Sectio caesaria
emergensi dilakukan pada 79,17% ibu dengan fetal distres, sedangkan 20,84% ibu
melahirkan pervaginam.
Tabel 2. Kejadian Melahirkan Pada Kehamilan Ibu
Kategori

Presentase %

Jumlah
subjek

Usia kehamilan
Prematur

23,62

17

Cukup bulan

63,89

46

Postterm

12,50

09

Berat badan lahir


<2,5kg

57,28

38

>2,5 kg

47,23

34

Metode persalinan
Pervaginam

20,84

15

Sectio caesarea

79,17

57

Prevalensi kondisi obstetri yang menyebabkan pada fetal distres dalam


urutan mundur terlihat pada tabel 3. Anemia berhubungan dengan tingginya angka
kejadian fetal distres (34,73%). Oligohidramnion, hipertensi yang diinduksi
kehamilan, dan retardasi pertumbuhan intaruterin (IUGR) bertanggung jawab
pada fetal distres pada ibu sebesar secara berurutan 19,45%, 18,06% dan 18,06%.
Kondisi obstetri lainnya dalam urutan mundur adalah air ketuban bercampur
mekonium (16,67%), persalinan prematur dengan bekas luka nyeri (16,67%),
ketuban pecah dini pada kehamilan prematur (12,50%), kehamilan lewat bulan
(12,50%), plasenta previa (9,73%), insufisiensi uteroplasenta (6,95%), True
Nuchal Knot (6,95%), persalinan gagal (5,56%), dan diabetes melitus gestasional
(2,78%).
Tabel 3. Prevalensi kondisi obstetri yang menyebabkan fetal distres

Kondisi Obstetri

Presentase
(%)

Jumlah
subjek

Anemia

34,73

25

Oligohidramnion

19,45

14

Hipertensi yang diinduksi kehamilan

18,06

13

IUGR

18,06

13

Cairan ketuban bercampur mekonium

16,67

12

Persalinan prematur dengan bekas luka nyeri

16,67

12

Persalinan prematur dengan ketuban pecah dini

12,50

09

Kehamilan lewat bulan

12,50

09

Plasenta previa

09,73

07

Insufisiensi uteroplacenta

06,95

05

True nuchal knot

06,95

05

Persalinan gagal

05,56

04

Diabetes melitus gestasional

02,78

02

PEMBAHASAN
Perawatan kesehatan neonatus terfokus kepada kondisi bayi yang baru
lahir sampai usia 4 minggu (28 hari). Dua pertiga dari kematian bayi di India
terjadi pada bulan pertama kehidupan dan mayoritas kematian neonatus terjadi
dalam dua minggu pertama kehidupan. Gawat janin atau Fetal Distress diduga
sebagai salah satu faktor penyebab dari kesehatan neonatus yang kurang baik.
Penelitian ini membahas bagaimana karakteristik demografi, komplikasi obstetri
dan akibat kehamilan pada ibu dengan gawat janin atau fetal distress. Hasil
penelitian ini menunjukkan kejadian gawat janin lebih tinggi pada ibu yang belum
menikah sehingga tidak teratur melakukan ANC. Hal tersebut menyebabkan
peningkatan kejadian persalinan dengan seksio caesaria dan adanya anemia yang
menjadi kondisi yang berkaitan dengan gawat janin serta mendasari lahirnya bayi
dengan berat badan lahir rendah.
Analisis faktor demografi (Tabel 1) dari penelitian ini menyebutkan bahwa
ibu dari kelompok usia muda (21-30 tahun) sebanyak 72,23% mengalami hipoksia

janin dan gawat janin. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Haines et al,
menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara usia ibu dan gawat janin.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa insiden gawat janin baik antara primipara
dan multipara adalah sama (50,00%), namun, penelitian terbaru yang dilakukan
oleh Hashim et al menunjukkana adanya hubungan antara primipara dengan
gawat janin. Kejadian gawat janin lebih tinggi pada ibu yang tidak teratur atau
tidak melakukan ANC yaitu sebanyak 61,12% dibandingkan dengan ibu yang
melakukan ANC rutin yaitu sebanyak 38,89%. Studi terbaru yang dilakukan oleh
Khatoon et al menyatakan bahwa salah satu alasan rujukan terbanyak di kalangan
wanita yang tidak melakukan ANC adalah karena adanya gawat janin yang
ditandai dengan adanya cairan mekonium pada ketuban. Tingginya prevalensi
bayi yang lahir asfiksia karena gawat janin sebelum lahir pada ibu yang tidak
melaukan ANC teratur telah banyak dilaporkan dalam berbagai penelitian. Hal
tersebut menunjukkan bahwa usia muda dan status menikah menjadi salah satu
penyebab ANC tidak teratur sehingga menyebabkan pengembangan komplikasi
kebidanan saat antepartum atau intrapartum seperti hipoksia dan gawat janin.
Penelitian ini (Tabel 2) juga menunjukkan bahwa insiden persalinan
dengan seksio caesaria pada ibu dengan gawat janin lebih tinggi yaitu 79,17%.
Hal tersebut dilakukan untuk melindungi kehidupan ibu dan janin. Seksio
caesaria juga membantu untuk mengurangi atau mengontrol pengaruh hipoksia
dan asfiksia pada janin. Hal tersebut juga sesuai dengan penelitian James bahwa
seksio caesaria untuk mengatasi gawat janin harus dilakukan secepat mungkin
dan idealnya dalam waktu 30 menit. Studi oleh Nelson et al menyimpulkan bahwa
tingkat positif palsu untuk diagnosis gawat janin sangat tinggi dan hal tersebut
menjadi kekhawatiran jika indikasi gawat janin sering dijadikan indikasi
dilakukan seksio caesaria.
Sebanyak 63,89% neonatus yang lahir hidup pada ibu dengan gawat janin
sudah berusia cukup bulan. Namun, menurut penelitian yang dilakukan oleh
Ananth dan Vintzileos menyebutkan bahwa kelahiran prematur pada ibu dengan
gawat janin banyak terjadi karena intervensi medis yang sengaja dilakukan akibat
kondisi plasenta iskemik. Analisis mengenai berat badan lahir rendah (<2,5kg)
neonatal dari ibu hamil dengan gawat janin didapatkan hasil sebanyak 52,78%.

Coutinho et al menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara berat badan lahir


rendah dan interpretasi dari pola denyut jantung janin yang non reassuring (suatu
keadaan dimana keadaan janin tetap meragukan). Studi lain yang dilakukan pada
tahun 2003 di Uganda mengamati hubungan antara asfiksia lahir dengan berat
badan lahir rendah.
Anemia (Tabel 3) ditemukan sebagai kondisi yang paling banyak
melatarbelakangi kondisi gawat janin (34,73%) dan hal tersebut juga didukung
oleh peneliti lain. Terdapat berbagai komplikasi janin dan ibu pada saat
antepartum atau intrapartum. Kondisi di mana penurunan jumlah cairan ketuban
di sekitar janin disebut Oligohidramnion. Insidensi oligohidramnion yang melatar
belakangi terjadinya gawat janin adalah sebanyak 19,45% dan hal tersebut juga
didukung oleh peneliti lain. Selain itu, hipertensi dalam kehamilan sebanyak
18,06% diketahui sebagai salah satu yang melatarbelakangi terjadinya gawat janin
dalam penelitian in dan hal tersebut juga didukung oleh peneliti lain. yang
menyimpulkan bahwa gerakan janin pada ibu hamil dengan hipertensi berkurang.
Janin dengan Intra Uterine Growth Restriction (IUGR) memiliki pola
denyut jantung janin yang non reassuring

sebanyak 18,06%. Kramer et al.

menyebutkan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan kejadian yang progresif


gawat janin pada IUGR. Pada penelitian ini ditemukan ebanyak 16,67%
didapatkan adanya mekonium yang terdapat pada cairan ketuban dan hal tersebut
dikaitkan dengan gawat janin. Hal setsbut juga telah didukung oleh peneliti lain
yang menyimpulkan bahwa mekonium yang terdapat pada cairan ketuban sebagai
indikator status gawat janin. Penelitian ini juga menemukan gawat janin terjadi
pada ibu dengan kelahiran prematur sebanyak 16,67% dan hal tersebut juga di
dukung oleh peneliti lain.
Penelitian ini juga menemukan bahwa sebanyak 12,05%

gawat janin

terjadi pada ibu dengan ketuban pecah dini Moberg et al menyebutkan bahwa
peningkatan insiden gawat janin pada pasien dengan ketuban pecah dini
disebabkan karena hilangnya perlindungan tali pusat yang biasanya dilindungi
oleh cairan ketuban. Kehamilan dengan usia lewat hari perkiraan lahir (> 40
minggu kehamilan) dapat menyebabkan menyebabkan denyut jantung janin yang

non reassuring (suatu keadaan dimana keadaan janin tetap meragukan) (12,50%)
hal tersebut sesua dengan penelitian James et al., 2001.
Dalam penelitian ini gawat janin sebanyak 9.73% ditemukan pada ibu
dengan lokasi insersi plasenta yang abnormal (plasenta previa). Gawat janin
sebanyak 6.95% mengalami lilitan tali pusat. Begum et al menyebutkan bahwa
lilitan tali pusat merupakan salah satu penyebab gawat janin tetapi tidak dianggap
sebagai indikasi untuk persalinan operatif. Namun, studi yang dilakukan pada
tahun 2010 oleh Geidam et al menyebutkan bahwa tidak ditemukan perbedaan
yang signifikan antara kasus dan kontrol dari gawat janin dalam hal usia,
paritas,status pernikahan , durasi operasi dan kelahiran berat bayi.
Gawat janin didiagnosis melalui denyut jantung janin dan kehadiran
mekonium. Namun, metode yang akurat untuk mengetahui gawat janin adalah
melakukan pemeriksaan estimasi pH darah kulit kepala janin yang dianggap
standar emas untuk penilaian kesejahteraan janin tetapi tidak dilakukan di
penelitian ini. Pemantauan yang dilakukan melalui cardiotokography terkadang
memiliki estimasi yang berlebih pada dugaan adanya gawat janin. Hal ini
menunjukkan bahwa metode skrining yang digunakan untuk membuat diagnosis
gawat janin pada penelitian ini memiliki keterbatasan sendiri. Namun, hal pertama
ketika adanya gawat janin yang terdeteksi atau dicurigai adalah resusitasi
intrauterine yang bisa memperbaiki kondisi janin dan dapat membantu untuk
menghindari intervensi yang tidak perlu. Perubahan posisi ibu, hidrasi, oksigen,
intravena dekstrosa hipertonik, amnioinfusi, tokolisis adalah beberapa langkah
yang dapat digunakan untuk resusitasi pertama pada saat gawat janin. Namun,
dalam beberapa kasus gawat janin, persalinan operatif mungkin satu-satunya
pilihan untuk memastikan neonatus sehat. Berbagai faktor seperti usia muda,
kurangnya kesadaran tentang pelaksanaan ANC, kurangnya pendidikan kesehatan,
kelalaian, kendala keuangan, prasangka lingkungan dan budaya, status gizi buruk,
anemia, kurangnya fasilitas transportasi, tidak adanya konseling pasien sebelum
perencanaan cara persalinan merupakan kondisi yang berperan dalam kejadian
hipoksia janin, asfiksia dan gawat janin.

Keterbatasan penelitian ini adalah pengumpulan data dengan metode


retrospektif yang kemungkinan telah melewatkan beberapa informasi memadai.
Hal tersebut harus dilakukan dengan cara yang prospektif untuk lebih memahami
faktor-faktor yang bertanggung jawab pada kejadian gawat janin.