You are on page 1of 9

ANALISIS UNIFIED THEORY OF ACCEPTANCE AND USE OF TECHNOLOGY 2

(UTAUT 2) UNTUK MEMAHAMI PERILAKU PENGGUNA APLIKASI HI


BANDUNG SEBAGAI PENUNJANG SMART CITY KOTA BANDUNG
ANALYSIS UNIFIED THEORY OF ACCEPTANCE AND USE OF TECHNOLOGY 2
(UTAUT 2) TO UNDERSTAND USER BEHAVIOR OF HI BANDUNG APPLICATION
AS BANDUNG SMART CITY SUPPORTING
Christian Monang Manurung 1 , Herry Irawan 2
1 Prodi

S1 Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Telkom
2 Dosen Prodi S1 Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Telkom
christmonang@students.telkomuniversity.ac.id

2 ir.herry@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Performance expectancy, Effort expectancy, social influence,
facilitating condition, hedonic motivation, price value, dan habit terhadap behavioral intention dan use behavior
pada penggunaan aplikasi Hi Bandung berdasarkan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 Model
(UTAUT 2). Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari wawancara dan
penyebaran kuesioner kepada 385 responden sedangkan data sekunder beras al dari jurnal, buku dan situs web.
Penelitian ini menggunakan menggunakan bantuan software Warp PLS 5.0. Hasil dari pengolahan data didapatkan
bahwa variabel Facilitating Condition berpengaruh terhadap Behavioral Intention yang di moderasi oleh Gender,
Hedonic Motivation berpengaruh terhadap behavioral intention, Price Value berpengaruh terhadap Behavioral
Intention, Price Value berpengaruh terhadap Behavioral Intention, Habit berpengaruh tehadap Use Behavior dan
Behavioral Intention berpengaruh terhadap Use Behavior pada penggunaan aplikasi Hi Bandung sebagai
penunjang Smart City kota Bandung.
Kata kunci: Performance expectancy, Effort expectancy, social influence , facilitating condition , hedonic
motivation , price value , habit , behavioral intention, use behavior, Unified Theory of Acceptance and
Use of Technology
Abstract
The purpose of this research is to acknowledge the effect of Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social
Influence, Facilitating Condition, Hedonic Motivation, Price Value, and Habit on Behavioral Intention and Use
Behavior the use of Hi Bandung Application based on berdasarkan Unified Theory of Acceptance and Use of
Technology 2 Model (UTAUT 2). The research is a quantitative research using Partial Least Square (PLS) data
analysis. This Research uses primary and secondary data. This Research uses primary and secondary data.
Primary data came from interviews and questionnaires to 385 respondents and secondary data came from
journals, books, and websites. This research use software Warp PLS 5.0. as tools. The results of data processing
shows that Facilitating Condition effect on Behavioral Intention moderated by Gender, Hedonic Motivation effect
on Behavioral Intention, Price Value effect on Behavioral Intention, Habit effect on Use Behavior and Behavioral
Intention effect on Use Behavior the use of Hi Bandung application as Bandung Smart City supporting
Key words: Performance expectancy, Effort expectancy, social influence , facilitating condition, hedonic
motivation , price value, habit , behavioral intention, use behavior, Unified Theory of Acceptance and
Use of Technology

1.
1.1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertumbuhan internet di Indonesia berjalan
cukup pesat. Pada Januari 2015, pengguna aktif
internet di Indoensia yaitu berkisar 72,7 Juta dengan
penetrasi sebesar 28% dan 54,0 juta dari pengguna
internet aktif tersebut atau sama dengan 21 %
populasi penduduk di Indonesia mengakses internet
menggunakan perangkat mobile. Tidak hanya
menggunakan perangkan komputer dan mobile,
teknologi informasi sudah merambah ke sector yang
lebih luas yang terhubung satu dengan yang lainnya
dan sering di sebut dengan terminology smart. Pada
ranah pemerintahan sudah memanfaatkan integrasi
antara teknologi informasi dan komunikasi dalam
sistem teknologi informasi kota yang dikenal dengan
istilah Smart City.
Penerapan Smart City di Indonesia sedang
dilakukan. Smart City adalah konsep perencanaan
kota melalui pemanfaatan pengembangan teknologi
yang saling berhubungan berbagai aspek yang dapat
memenuhi kebutuhan dan kemudahan hidup orang orang yang terlibat didalamnya. Di Indonesia
beberapa kota sedang diterapkan Smart City
diantaranya : Surabaya, Denpasar, Bandung,
Cimahi, Manado, Jakarta, Yogayakarta
Ridwan Kamil sebagai Walikota Bandung
sedang mencanangkan konsep Bandung Smart City
dengan menerapkan teknologi komunikasi dan
informasi di kota Bandung. Lewat konten Bandung
Smart City, di dalam nya terdapat prioritas Bandung
Smart City area dan 17 pencanangan Bandung
Smart City pada tahun 2014 hingga 2016. 1 dari 17
rencana pencangan oleh Ridwan Kamil yaitu harus
adanya 300 City Apps in 2016. Menurut Ridwan
Kamil untuk memuluskan langkah Bandung menjadi
Smart City atau kota Pintar, maka harus adanya
aplikasi yang dapat digunakan untuk berbagai
keperluan pernataan kota, penataan parawisata
Bandung, dan bias menginformasikan kota Bandung
lalu dapat di akses secara online dari perangkat
mobile oleh warga Bandung.
PT Telkom melalui unit bisnis nya yaitu
Telkom IDeC meluncurkan sebuah produk berupa
aplikasi direktori kota yaitu Hi Bandung. Aplikasi Hi
Bandung merupakan aplikasi mobile yang tersedia
untuk platform android dan iOS. Hi Bandung sendiri
adalah hasil pengerjaan oleh bidang Digital Solution
Ecosystem pada bagian DSE-1 yaitu digital
hospitality di unit bisnis PT. Telkom yaitu Telkom
IDeC. Produk aplikasi Hi Bandung adalah ide yang
dikembangkan untuk mendukung Bandung menjadi
smart city, dan mendukung sektor pariwisata serta
menjadi tool yang dapat mempermudah orang atau
masyarakat di kota Bandung berupa aplikasi pada
smartphone.
Sebagai aplikasi direktori pertama yang ada di
Indonesia, Hi Bandung berisi informasi lengkap
mengenai kota Bandung meliputi, informasi hotel,
objek dan kegiatan wisata, pusat perbelanjaan,

restoran, layanan kesehatan, informasi perbankan,


tempat ibadah, layanan transportasi, agen tour and
travel, pusat layanan masyarakat dan radio online.
Selain memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan
dengan pesaingnya dari sei kelengkapan dan
tampilan tatap muka (interface).
Sejak pertama kali di luncurkan tiga tahun
lalu yaitu pada 2013, untuk ikut berperan
mewujudkan Bandung menjadi Smart City, pihak
pengembang yaitu Telkom IDeC memasang target
jumlah unduh 1.000.000 kali pada tahun 2015 dan
lebih pada tahun 2016. Namun pada kuartal ketiga
tahun 2015, aplikasi Hi Bandung hanya diunduh
10.000 kali di platform iOS dan android. Namun jika
dilihat dari sisi marketing, pihak developer yaitu
Telkom
IDeC
telah
menerapkan/mengimplementasikan marketing mix.
Berbanding lurus jika dilihat dari feedback yang
didapatkan dari pengguna lewat kolom komentar,
saran, dan kritik sangat minim. Hanya ada kurang
lebih 150 tanggapan pada play store untuk android
dan kurang dari 60 tanggapan pada iOs Store.
Menurut pihak pengembang, ini menjadi masalah
yang dihadapi oleh tim, karena tidak mengetahui
faktor-faktor kurangnya pengguna aplikasi Hi
Bandung.
Unified Theory of Acceptance and Use of
Technology 2 (UTAUT 2) adalah bentuk
pengembangan dari UTAUT pada tahun 2003 oleh
Venkatesh, Thong, dan Xu pada tahun 2003 dan
UTAUT adalah bentuk sintesis elemen-elemen pada
delapan model penerimaan teknologi oleh pengguna
sebelumnyaUnified Theory of Acceptance and Use
of Technology 2 (UTAUT 2) bertujuan untuk
mengetahui penerimaan dan penggunaan teknologi
dalam konteks kosumen. Behavioral Intention dan
Use Behavior atau yang biasa disebut dengan
penggunaan teknologi dan intensitas frekuensi
penggunaan teknologi tersebut. Terdapat tujuh
faktor penting yang menjadi variabel dan
mempengaruhi Behavioral Intention dan Use
Behavior yaitu performance expectacy, effort
expectacy, social influence, facilitating condition,
hedonic motivation, price value dan habit.
Venkatesh et. al. (2012).
1.2

Perumusan Masalah
Hi Bandung hadir dengan memposisikan diri
sebagai salah satu tools pendukung Bandung sebagai
Smart City yang dianggap akan mempermudah
setiap orang baik penduduk ataupun wisatawan
menjelajahi kota Bandung dan mendapatkan
informasi mengenai kota Bandung. Namun
ekspektasi dan pencapaian yang telah diberikan oleh
Hi Bandung masih belum baik, dimana target jumlah
unduh masihbelum mencapai titik yang diinginkan.

Salah satu konsep terpenting dalam Unified Theory


of Acceptance and Use of Technology Model adalah
bagaimana Penerimaan dan Penggunaan model
teknologi.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui
apakah performance
expectacy, effort expectacy, social influence,
facilitating condition, hedonic motivation, price
value dan habit mempengaruhi behavioral
intention pada penggunaan aplikasi Hi Bandung
berdasarkan Unified Theory of Acceptance and Use
of Technology 2 Model (UTAUT 2)
2. Untuk mengetahui apakah facilitating condition,
habit, dan behavioral intention mempengaruhi use
of behavior aplikasi Hi Bandung berdasarkan
Unified Theory of Acceptance and Use of
Technology 2 Model (UTAUT 2)

2.3

Kerangka Penelitian

1.3

2. DASAR
TEORI
DAN
METODOLOGI
PENELITIAN
2.1 Manajemen Perkotaan (urban management)
Manajemen
perkotaan
atau
urban
manajemen dapat diartikan sebagai suatu upaya
untuk melakukan suatu proses manajemen, yaitu
mengorganisasikan dan mengoordinasikan kondisi
atau sistem kota yang ada saat ini yaitu faktor-faktor
produksi di dalam kota baik yang berupa tanah,
tenaga kerja, modal maupun kewiraswastaan, supaya
dapat dicapai hasil yang maksimal dan efisien untuk
menuju ke arah sistem kota yang dikehendaki
bedasarkan pada tujuan ideal dan dinamis .
2.2

Smart City
Smart City adalah suatu kota cerdas yang
memiliki masyarakat kota terdiri dari pemerintah,
kalangan bisnis, dan penduduknya yang memahami
teknologi, membuat keputusan berdasarkan pada
teknologi informasi, serta berinteraksi secara
langsung
dengan
menggunakan
teknologi.
Kemudian dengan pengembangan, pemanfaatan
serta pengolahan teknologi pada Smart City dapat
membantu
masyarakat
kota
mendukung
pembangunan berkelanjutan.

Pada konstruk UTAUT yang terdiri dari


Performance Expectancy, Effort Expectancy,
Social Influence, dan Facilitating Condition
kembali diadopsi pada model UTAUT 2. Setiap
konstruk pengembangan dari model UTAUT dan
tambahan tiga konstruk lainnya memiliki definisi
setiap konstruknya, adapun definisinya sebagai
berikut :
1)

2)

3)

4)

5)

6)

Performance Expectancy didefinisikan sebagai


sejauh mana penggunaan teknologi oleh
konsumen dapat memberikan manfaat dalam
melakukan kegiatan tertentu untuk konsumen
tersebut. Bentuk pengukuran terhadap
performance
expectancy
yaitu
mempertimbangkan persepsi manfaat yang
diterima oleh konsumen setelah menggunakan
teknologi.
Effort Expectancy didefinisikan
terkait
bagaimana
tingkat
kemudahan
dalam
penggunaan teknologi oleh konsumen.
Social Influence didefinisikan pengukuran
mengenai sejauh mana konsumen merasa
harus menggunakan teknologi tertentu.
Facilitating Condition mengacu pada persepsi
konsumen terhadap sumber daya dan
dukungan yang tersedia untuk menggunakan
teknologi.
Hedonic Motivation didefinisikan sebagai
kesenangan konsumen yang berasal dari
penggunaan teknologi dan telah terbukti
memiliki peran penting dalam menentukan
penerimaan teknologi dan penggunaannya.
Price Value berarti nilai dari harga atau biaya
yang dikeluarkan oleh konsumen dalam
penggunaan
teknologi sesuai dengan
ekspektasi atau harapan yang diinginkan
sebelum menggunakan.

7)

Habit didefinisikan sebagai kecenderungan


dari konsumen dalam menggunakan teknologi
yang
secara
otomatis
dikarenakan
pembelajaran sebelumnya dengan kebiasaan
menggunakan teknologi dan berlaku untuk
kemudiannya.

2.4 Hipotesis penelitian


Hipotesis merupakan dugaan sementara
yang selanjutnya diuji kebenarannya sesuai dengan
model dan analisis yang cocok. Menurut Sugiyono
(2011:100) mengatakan bahwa pada sebuah
rumusan masalah penelitian, hipotesis adalah
jawaban
sementara.
Dikatakan
sementara
dikarenakan jawaban yang diberikan berasal dari
analisis teori-teori para ahli sebelumnya dan belum
berdasarkan fakta-fakta dari pengumpulan data.
2.5

Metodologi Penelitian
Tabel 2.1 Karakteristik Penelitian

No
1
2
3
4
5

Karakteristik
Penelitian
Berdasarkan
metode
Berdasarkan
tujuan
Berdasarkan tipe
penyelidikan
Berdasarkan unit
analisis
Berdasarkan
waktu
pelaksanaan

Jenis
Kuantatif
Deskriptif
Kausal
Individu
Cross
section

2.6 Sampel Penelitian


Populasi memiliki cakupan yang sangat
luas, dan peneliti tidak mungkin dapat mempelajari
semua hal yang ada pada populasi, maka dari itu
populasi dikecilkan dalam bentu sampel agar
mempermudah untuk meneliti. Menurut Indrawati
(2015:164) Sampel adalah
anggota-anggota
populasi yang terpilih untuk dilibatkan dalam
penelitian, baik untuk diamati, diberi perlakuan,
maupun dimintai pendapat tentang yang sedang
diteliti. Berdasarkan perhitungan jumlah sampel
berdasarkan rumus bernoulli, jumlah minimum
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
384,16 yang dibulatkan menjadi 385 responden.
Dalam penyebaran kuesioner ini nantinya,
responden nya adalah pengguna aplikasi Hi
Bandung yang berada di kota Bandung karena
untuk mengetahui bagaimana perilaku pengguna
aplikasi Hi Bandung dalam menunjang Smart City
kota Bandung.

2.7 Teknik Analisis dan Pengujian Hipotesis


Teknik analisis multivariat atau melibatkan
banyak variabel merupakan metode analisis statistik
kuantitatif yang memungkinkan peneliti melakukan
pengujian terhadap lebih dari dua variabel secara
bersamaan. Menurut Indrawati (2015:186) dengan
menggunakan tekhnik analisis ini maka peneliti
dapat mengalisis hubungan beberapa variabel dalam
waktu yang bersamaan. Teknik analaisis yang
dimaksud adalah model persamaan struktural
(Structural Equation Modeling/SEM). Partial Least
Square (PLS) adalah salah satu teknik Structural
Equation Modeling (SEM) yang dapat digunakan
untuk menganalisis variabel laten, variabel
indikator, variabel moderator dan kesalahan
pengukuran secara langsung. PLS merupakan
metode analisis yang dapat diterapkan pada semua
skala data, tidak banyak membutuhkan asumsi, serta
sampel yang dibutuhkan tidak harus besar.
Pada PLS, terdapat dua uji model yang
dilakukan yaitu uji outer model dan inner model.
Outer model atau disebut juga model pengukuran
dapat digunakan sebagai penguji sejauh mana
indikator tersebut dapat menjelaskan variabel
latennya. Convergent validity, discriminant validity
atau dengan Average Variance Extracted (AVE),
dan composite reliability adalah penguji untuk
indikator reflektif tersebut. Pada inner model atau
model struktural yang pada prinsipnya bertujuan
untuk menguji bagaimana pengaruh antara satu
variabel laten dengan variabel laten lainnya.
Pengujian ini dilakukan dengan melihat persentase
varian yang dijelaskan sebelumnya, yaitu R2 untuk
variabel laten dependen yang dimodelkan
mendapat pengaruh dari variabel laten independen.
Stabilitas estimasi ini diuji dengan menggunakan
uji t-statistik yang didapatkan dari hasil
bootstrapping.
3. Pembahasan
3.1 Validitas dan reliabilitas
Pada pengujian validitas yang dilakukan
adalah perbandingan antara nilai r hitung dengan
nilai r tabel sesuai nilai tingkat kepercayaan yang
digunakan, sedangkan pada uji relibilitas yang
dilakukan adalah melihat indikator dari kelompok
ganjil (part 1) dan kelompok genap (part 2)
indikator tersebut dikatakan reliabel apabila
memiliki nilai composite reliability > 0.7. Jumlah
responden dalam pengujian validitas dan relibilitas
ini yaitu 383 (jumlah responden-2 = 385 - 2). Dapat

disimpulkan
bahwa
Corrected
Item-Total
Correlation memiliki hasil output > 0.099964
maka item-item tersebut berkorelasi secara
signifikan dengan skor total dan item-item
pertanyaan dari variabel yang dimaksudkan dapat
dinyatakan valid.
Tabel 3.1 Reliabilitas
Cronbachs
N of Items
Alpha Based on
Standarized
Items
.945
.946
25
Dapat dilihat dari hasil nilai Crobach's Alpha
pada tabel 3.1 yang menunjukkan hasil reliabilitas
yaitu 0.946. Itu berarti bahwa semua variabel pada
penelitian ini memiliki reliabilitas yang baik karena
berada >0.7. Menurut Indrawati (2015) terdapat
tingkatan nilai untuk mengetahui tingkat baik atau
tidaknya sebuah model penelitian. Jika berada pada
nilai minimal 0,670 maka model tersebut berada
pada kategori tinggi, nilai minimal 0,333 maka
berada di kategori sedang, dan nilai minimal 0,190
berada di kategori rendah.
Cronbachs
Alpha

3.2 Analisis data


3.2.1 Outer Model
a. Indicator Reliability
Nilai parameter loading factor untuk outer
model yang harus dipenuhi yaitu > 0,7 (Ghozali,
2008). Namun dalam beberapa kasus penelitian,
syarat outer loading berada diatas 0,6 tidak dapat
dipenuhi khususnya untuk kuesioner yang baru
dikembangkan, maka apabila terdapat nilai loading
factor 0,4-0,5 harus tetap dipertimbangkan.

yang direkomendasikan harus lebih besar dari 0,5


memiliki arti bahwa 50% atau lebih variance dari
indikator pada penelitian ini dijelaskan dengan baik.
d. Discriminant Validity
Nilai yang ditunjukkan dari akar kuadrat
AVE untuk tiap konstruklebih besar dari korelasi
antar konstruk dalam model penelitian (Ghozali,
2014:95). Pada tabel 4.12 Perbandingan nilai AVE
dan Sq. rts AVE, hasil output PLS pada bagian hasil
perhitungan lebih besar dari pada 0,5 dan lebih
tinggi dari semua nilai AVE. Sehingga seluruh
indikator pada penelitian ini dikatakan valid.
3.2.2 Inner Model
a. R-Square

(R2 )
Tabel 3.2 R-Square (R2 )
R-squared table

BI

0.662

UB

0.359

Untuk model penelitian ini, angka R2 atau


adjusted R2 memiliki nilai 0,51065 atau 51,06%.
Kriteria untuk R2 yang diharapkan terbagi atas 3
yaitu 0,67 ; 0,33 ; 0,19 sebagai indikasi model
"Baik", "Moderat", dan "Lemah" (Indrawati, 2015).
Maka model dalam penelitian ini dapat
disimpulkan moderat.

3.3 Pengujian Hipotesis


Pada

Warp

PLS

dalam

melakukan

pengujian hipotesis dapat dilihat dengan angka


path coefficients dan nilai p-value yang terdapat

b. Internal Consistency Reliability


Nilai Composite Reliability dapat dilihat
bahwa semua nilai reliabilitas konstruk pada
penelitian ini berada lebih dari 0,7. Dalam
penelitian ini semua indikator yang terdapat
menunjukkan angka lebih dari 0,7 yang
menunjukkan indikator pada penelitian ini
mempunyai nilai factor loading yang bagus
(Ghozali, 2008)

pada

hubungan

antar

variabel

(Ghozali,

2014:404). Salah satu kelebihan Warp PLS jika


dibandingkan dengan software PLS lainnya adalah
Warp PLS dapat secara langsung mengestimasi
nilai p-value untuk koefisien jalur (Sholihin &
Ratmono, 2013:32).
Tabel 3.3 Pengujian Hipotesis

c. Convergent Validity
Nilai AVE (Average Variance Extracted)
menunjukkan bahwa nilai AVE (Average Variance
Extracted) dalam penelitian ini diatas syarat
minimum yaitu 0,5 (Ghozali, 2014:94). Nilai AVE

Hipote
sis
H1

Hubunga
n
PE > BI

Path
Coeffici
ent

Pvalue
(<0,0
5)

Keteran
gan

0.095

0.092

H0
diterima

H2

EE > BI

H3

S I > BI

H4

FC > BI

H4a

H5

FC > BI
Mod. Age
FC > BI
Mod.
Gender
FC > BI
Mod.
Expe
FC > UB

H6

HM > BI

H6a

HM > BI
Mod. Age
HM > BI
Mod.
Gender
HM > BI
Mod.
Expe
PV > BI

H4b

H4c

H6b

H6c

H7
H7a
H7b

H8
H8a
H8b

H8c

H9
H9a
H9b

H9c

H10
H10a

PV > BI
Mod. Age
PV > BI
Mod.
Gender
H >BI
H > BI
Mod. Age
H > BI
Mod.Gen
der
H > BI
Mod.Exp
e
H > UB
H > UB
Mod. Age
H > UB
Mod.Gen
der
H > UB
Mod.Exp
e
BI > UB
BI > UB
Mod.Exp
e

H0
diterima
H0
diterima
H0
diterima
H0
diterima

0.017

0.382

0.051

0.127

0.103

0.064

-0.028

0.339

0.082

0.047

H0
ditolak

-0.077

0.064

H0
diterima

0.009

0.435

0.261

<0.00
1

0.111

0.096

-0.017

0.389

H0
diterima

0.057

0.230

H0
diterima

0.428

<0.00
1

-0.028

0.304

0.09

0.116

-0.010

0.451

-0.044

0.227

0.041

0.224

H0
diterima

-0.026

0.282

H0
diterima

0.322

<0.00
1

0.012

0.390

-0.027

0.300

H0
diterima

-0.059

0.089

H0
diterima

0.335

<0.00
1

H0
ditolak

-0.141

0.058

H0
diterima

H0
diterima
H0
ditolak
H0
diterima

H0
ditolak
H0
diterima
H0
diterima
H0
diterima
H0
diterima

H0
ditolak
H0
diterima

Gambar 3.1 Hasil Bootstrapping dengan


Warp PLS 5.0
4. Kesimpulan dan Saran
4.1 Kesimpulan
1. Hedonic Motivation, Price Value, Facilitating
Condition
dimoderasi
oleh
gender
mempengaruhi Behavioral Intention pada
pengguna aplikasi Hi Bandung sebagai
penunjang Smart City kota Bandung, sedangkan
Perfromance Expectancy, Effort Expectancy,
Social Influence, Facilitating Condition dan
Habit tidak memengaruhi Behavioral Intention
pada pengguna aplikasi Hi Bandung s ebagai
penunjang Smart City kota Bandung.
2. Habit dan Behavioral Intention memengaruhi
Use Behavior pada pengguna aplikasi Hi
Bandung sebagai penunjang Smart City kota
Bandung, Sedangkan Facilitating Condition
tidak memengaruhi Use behavior pada
pengguna aplikasi Hi Bandung sebagai
penunjang Smart City kota Bandung.
Hasil R-Square pada model penelitian ini
memiliki nilai 0,51065 atau 51,06% yang dapat
diartikan bahwa model penelitian ini menjelaskan
51,06% dari variasi konstruk yang ada dalam
faktor-faktor kritis yang memengaruhi perilaku
penggunaan aplikasi Hi Bandung, sedangkan
48,94% dipengaruhi oleh konstruk-konstruk lain
yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.
4.2 Saran
Saran bagi Telkom IDeC sebagai
pengembang (developer) aplikasi Hi
Bandung
Berdasarkan hasil penelitian yang
dialkukan oleh peneliti, terdapat beberapa
hal yang dapat menjadi saran untuk pihak
developer yaitu Telkom IDeC bidang
digital
solution
ecosystem
untuk
meningkatkan jumlah pengguna aplikasi Hi
Bandung yaitu :

1. Pada hasil penelitian ini menunjukkan


bahwa variabel price value sebagai faktor
yang paling besar yang memengaruhi niat
pengguna dalam menggunakan aplikasi Hi
Bandung. Dapat diartikan bahwa, manfaat
yang dirasakan oleh pengguna aplikasi Hi
Bandung sepadan dengan biaya yang
dikeluarkan ketika mengunduh dan
mempergunakan aplikasi Hi Bandung.
Adapun saran kepada pihak developer
adalah untuk tetap menggratiskan aplikasi
Hi Bandung untuk didownload oleh calon
pengguna lainnya, karena terbukti dapat
meningkatkan niat pengguna untuk
menggunakan aplikasi Hi Bandung.
2. Hedonic Motivation memiliki pengaruh
terbesar kedua terhadap behavioral
intention atau niat menggunakan aplikasi
Hi Bandung secara terus menerus, sehingga
dengan semakin nyaman dan senangnya
pengguna dalam menggunakan aplikasi Hi
Bandung akan membantu calon pengguna
lain untuk mau menggunakan aplikasi Hi
Bandung.
Sehingga
akan
menjadi
tantangan bagi pihak developer yaitu
Telkom IDeC untuk selalu memberikan
rasa nyaman
dan
senang
dalam
menggunakan aplikasi Hi Bandung baik itu
dari segi tampilan tatap muka (interface)
aplikasi sampai dengan rekomendasi
tempat berupa POI (point of interest) dan
mungkin tambahan berupa tampilan
merchandise yang beragam pada tampilan
awal aplikasi Hi Bandung yang akan
meningkatkan niat pengguna untuk
menggunakan aplikasi Hi Bandung secara
terus-menerus.
3. Saran terakhir untuk pihak developer
Telkom IDeC adalah untuk selalu
memberikan notifikasi informasi mengenai
kota Bandung pada aplikasi Hi Bandung
untuk meningkatkan habit pengguna,
karena Habit adalah salah satu variabel
yang
menjadi faktor besar yang
memengaruhi pengguna aplikasi Hi
Bandung dari segi perilaku. Dapat diartikan
bahwa apabila notifikasi informasi seputar
Bandung sering diberikan maka akan
meningkatkan kecederungan pengguna
aplikasi Hi Bandung secara otomatis untuk
melihatnya dan ini memengaruhi perilaku
pengguna tersebut. Baiknya lagi informasi
yang diberikan pada notifikasi aplikasi Hi

Bandung
adalah
berupa
informasi
merchandise, rekomendasi POI (point of
interest) terbaru dan terpopuler di kota
Bandung, serta informasi up to date
mengenai hal-hal yang sedang terjadi
dikota Bandung.
Saran untuk penelitian selanjutnya
Pada penelitian ini juga memiliki
keterbatasan-keterbatasan serta kekurangan
yang diharapkan dapat disempurnakan oleh
peneliti-peneliti
berikutnya
dengan
melakukan penelitian di kemudian hari.
Beberapa
saran
untuk
penelitian
selanjutnya yaitu :
1. Penelitian ini berfokus pada kota Bandung
sebagai objek utama penelitian dengan latar
belakang kota Bandung sebagai salah satu
kota yang akan dijadikan kota berbasis full
smart city pertama di Indonesia, mengingat
semakin berkembangnya waktu, akan
banyak kota di Indonesia yang akan
menjadi Smart City, alangkah baiknya
untuk penelitian
selanjutnya dapat
melakukan penelitian pada banyak kota di
Indonesia untuk adopsi aplikasi direktori
kota sebagai penunjang Smart City.
2 . Penelitian kali ini berfokus pada Smart City
sebagai latar belakang penelitian aplikasi
berbasis direktori kota Hi Bandung, jika
akan ada penelitian berikutnya diharapkan
bisa mengambil latar belakang parawisata
sebagai alasan utama, karena pada
dasaranya aplikasi Hi Bandung pertama
kali diluncurkan
adalah
untuk
2
kepentingan yaitu menunjang smart city
kota Bandung dan pariwisata kota
Bandung.

DAFTAR PUSTAKA

Ardisasmita, Adam. (2015). Langkah


Bandung
dalam
Mengimplementasikan Smart City.
[online].
https://id.techinasia.com/bandungsmart-city/ [11 Oktober 2014].
Ghozali, Imam, (2008), Model Persamaan
Struktural Konsep dan Aplikasi
dengan

Program PLS.
Badan Penerbit
UNDIP, Semarang.
Ghozali, Imam, 2006. Aplikai Analisis
Multivarite dengan SPSS, Cetakan
Keempat,

Badan

Penerbit

Universitas Diponegoro, Semarang.


Ghozali, Imam. (2011). Aplikasi Analisis
Multivariate Dengan Program IBM
SPSS 19. (Edisi keliam). Semarang :
Universitas Diponegoro.
Ghozali, Imam. 2014. Aplikasi Analisis
Multivariate dengan program SPSS,
Badan
Penerbit
Universitas
Diponegoro, Semarang.
Hidayat,Wicak. (2014). Pengguna Internet
Indonesia Nomor Enam Dunia.
[online].http://kominfo.go.id/index.p
hp/content/detail/4286/Pengguna+In
ternet+Indonesia+Nomor+Enam+D
unia/0/sorotan_media#.VmA5jIE19
7R [30 Oktober 2015]
Indrawati. (2015). Metode Penelitian
Manajemen
Dan
Bisnis
Konvergensi Teknologi Komunikasi
dan
Informasi.
(cetakan 1).
Bandung: Refika Aditama
Kamil, Ridwan(Mayor of Bandung).
(2014). Smart City BDG. [online]
https://sustainabledevelopment.un.or
g/content/documents/12659kamil.pd
f [Oktober 2015].
Latan,
Hengky,
(2012),
Structural
Equation Modeling, Konsep dan
Aplikasi Menggunakan Program
Lisrel 8.80 (edisi 2), Bandung :
Penerbit Alfabeta.
Muliarto, Hendro. (2014). Smart City Konsep Smart Mobility. [online]
http://www.academia.edu/1174028
2/smart_city__konsep_smart_mobility
Nurmandi, Achmad. (2014). Manajemen
Perkotaan (edisi ke-4). Yogyakarta :
Jusuf Kalla School of Government.

Nurpiena, Dea Siti (2014) [Perencanaan


Kota] Pengertian Kota, Perkotaan,
Bagian Wilayah Kota, Kawasan
Fungsional.[online]
http://www.academia.edu/117415
79/_Perencanaan_Kota_Pengertia
n_Kota_Perkotaan_Bagian_Wilaya
h_Kota_Kawasan_Fungsional
[November 2015].
Pimbli.com. (2015). Smart City, Konsep
Kota Cerdas Sebagai Alternatif
Penyelesaian Masalah Perkotaan di
Indonesia.
[online]
http://www.plimbi.com/news/15860
1/smart-city-konsep-kota-cerdas
[oktober 2015].
Riza,

Prayoga.
(2015).
Bandung
Luncurkan Dua Aplikasi dalam
Upaya Mengejar Mimpi Smart City.
[online]
http://dailysocial.id/post/bandungluncurkan-dua-aplikasi-dalamupaya-mengejar-sebuah-mimpismart-city/ [oktober 2015].

Sugiyono, (2006). Statistika Untuk


Penelitian. Alfabeta, Bandung.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian
Bisnis.
(cetakan
ke-12).
ALFABETA, cv.
Venkatesh, Visvanath, Morris, Michael G.,
Davis, Gordon B., Davis., Fred D.
(2003)
User
Acceptance
Of
Information Technology: Toward A
Unified View. MIS Quarterly Vol. 27
No. 3, pp. 425-478.
Venkatesh,Viswanath, Thong,James Y.
L,dan Xu,Xin. (2012). Consumer
Acceptance andd Use of Information
Technology: Extending the Unified
Theory of Acceptance and Use of
Technology. MIS Quarterly Vol. 36
No. 1 pp. 157-178.
Yamin,
Kurniawan.2009.
Structural
Equation Modeling. Salemba Infotek,
Jakarta.

Yamin, Sofyan & Heri Kurniawan, 2009.


SPSS Complete, Jakarta: Salemba
Empat.