You are on page 1of 7

ARTIKEL

TENTANG BAHAN BAKU KERTAS


Kata Paper dalam bahasa Inggris, atau kertas dalam bahasa Indonesia,
diambil dari kata Papir dan sudah dikenal sejak peradaban Mesir Kuno, yang
menggunakan media tulis menulis dengan memanfaatkan tumbuhan papyrus di
sekitar sungai Nil. Selain media tulis menulis, tumbuhan ini juga sering digunakan
untuk kapal, kasur, tikar, tali, sandal, dan keranjang. Teknologi ini kemudian
menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah, dan
menyebar ke seantero Eropa. Adapun kemudian Tsai Lun dari Cina yang
menemukan kertas dengan memanfaatkan pohon bambu pada tahun 101 Masehi,
yang kemudian penemuan ini menyebar ke Jepang dan Korea.
Seiring dengan perkembangan teknologi, pembuatan kertas mengalami
kemajuan pesat dan tersebar ke seluruh dunia sehingga kini seolah-olah manusia
tidak dapat hidup tanpa kertas. Bahan baku utama pembuatan kertas sendiri adalah
pohon. Di Indonesia, bahan baku kertas yang disebut pulp atau bubur kertas
biasanya menggunakan batang pohon Akasia dan Eukaliptus, karena selain kadar
selulosanya tinggi, pohon ini mampu tumbuh dengan cepat.
Yang menjadi masalah adalah, tidak semua negara bisa ditanami pohon tersebut.
Jelas hanya di negara tertentu kedua pohon tersebut dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik. Kebutuhan umat manusia akan kertas tidak juga akan
tercukupi dan sampai saat ini pengguna kertas terbanyak di dunia adalah Amerika
Serikat (AS), Cina, dan Kanada.
Berdasarkan informasi di atas, pohon-pohon tersebut akan semakin banyak
yang ditebang. Sementara di seluruh dunia, sebenarnya ada 4 miliar hektar hutan
atau 30 persen dari luas daratan. Indonesia mempunyai 133,6 juta hektar hutan
atau 3 persen hutan dunia. Masalahnya, dari sekitar 4 miliar hektar hutan dunia,
tiap tahunnya hampir 13 juta hektar mengalami deforestasi. Selama 20 tahun
terakhir, 3 persen hutan dunia telah beralih fungsi.
Kalau dilihat dari penggunaan hutan kita, hingga tahun 1996, luas hutan
untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk pulp dan kayu adalah 10,26 juta
hektar. Dari luasan di atas, yang direalisasikan 3,03 juta hektar, dengan 1,8 juta

hektar di antaranya untuk industri pulp. Jumlah ini relatif kecil dibandingkan
dengan hutan yang dialokasi untuk hutan alam produksimencapai 60,9 juta
hektar.
Dari sisi itu, isu konsumsi kertas sebagai perusak lingkungan menjadi agak
berlebihan. Indonesia berada pada urutan ke-9 di jajaran negara produsen pulp
dunia, menyumbang 2,5 juta hingga 2,7 juta ton per tahun. Posisi teratas produsen
pulp dan kertas dunia tetap dipegang AS, yang produksinya 52,6 juta ton pulp dan
82 juta ton kertas.
Indonesia memiliki keuntungan strategis yang sulit dikalahkan. Sebagai
negara beriklim tropis, pohon Akasia dan Eukaliptus di Indonesia bisa
berkembang lebih cepat dibandingkan dengan di negara sub-tropis. Waktu yang
dibutuhkan pohon tersebut untuk panen adalah hanya enam tahun.
Menurut data dari Departemen Kehutanan 2007, yang justru rusak parah
akibat penebangan yang tak disertai penanaman kembali dan maraknya
penebangan liar adalah hutan alam, hutan produksi terbatas, ataupun produksi
tetap. Jadi, meski arealnya jauh lebih luas, kontribusi ekonominya justru menurun
tajam selama 10 tahun terakhir karena kurangnya pasokan bahan baku kayu.
Setengah dari 303 perusahaan terkait industri kayu yang ada, kini bangkrut atau
tidak beroperasi lagi.
Saat ini, pilihan-pilihan sedang dihadapkan pada kita, bagaimana kita
dapat bersikap sebijaksana mungkin untuk mengatasi masalah di depan mata
seperti ini. Penanaman pohon kembali atau reboisasi, penghematan penggunaan
kertas, peralihan teknologi media informasi dari media cetak ke media digital dan
elektronik, atau menggunakan kembali kertas (reuse) hingga mendaur ulang kertas
(recycle).

APRIL Pamerkan Komitmen Ramah Lingkungan di


ICCEFE 2016
APRIL sebagai induk PT RAPP ambil bagian pada Indonesia
Climate Change Education Forum & Expo atau ECCEFE 2016.
Menampilan komitmen ramah lingkungan dalam mengelola
industri.
Riauterkini-JAKARTA Ratusan mahasiswa dari berbagai
perguruan tinggi terlihat antusias mengikuti pemaparan dan
diskusi mengenai pengelolaan hutan lestari dan proses
pembuatan kertas yang dilakukan PT Riau Andalan Pulp and
Paper (RAPP)dalam acara Indonesia Climate Change Education
Forum & Expo (ICCEFE) 2016, Kamis (14/4) di Jakarta
Convention Center, Jakarta.
RAPP yang merupakan anggota APRIL Group berpartisipasi
dalam pameran dan forum perubahan iklim yang digelar selama
4 hari tersebut. Acara dibuka oleh Utusan Khusus Presiden Untuk
Perubahan Iklim Rachmat Witoelar dan diikuti oleh berbagai
perusahaan berbasis sumber daya alam, serta instansi
pemerintah.
Ribuan pelajar dari mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi
juga ikut ambil bagian dalam acara tersebutSelain berpartisipasi
dalam pameran, RAPP juga memberikan sosialisasi dan edukasi
kepada sekitar 150 mahasiswa oleh Direktur April Group Kusnan
Rahmin dan Technical Sales Manager APRIL Susie Soetanto.
Kusnan Rahmin menjelaskan mengenai proses pengelolaan
hutan lestari yang dilakukan RAPP hingga menjadi produk kertas

dan bubur kertas dengan ramah lingkungan. Menurut Kusnan


APRIL Group yang mengelola lahan konsesi 450.000 hektare
lahan di Riau telah melakukan penanaman hampir 300 juta
pohon per tahun. Pohon tersebut ditanam untuk memenuhi
kebutuhan bahan baku pulp dan kertas.
Dari jumlah itu kami juga mengelola 250.000 hektare lahan
hutan dengan nilai konservasi tinggi, ujarnya.
Kusnan menjelaskan seluruh proses penanaman hutan yang
dilakukan APRIL Group sudah memenuhi aturan standar yang
berlaku secara internasional.
APRIL juga melakukan daur ulang dalam setiap proses produksi
sehingga tidak menghasilkan limbah yang dapat menimbulkan
pencemaran lingkungan.Dalam forum diskusi tersebut, para
mahasiswa juga mempertanyakan mengenai pembukaan lahan
dengan cara dibakar dan serta penggunaan kertas sebagai
sumber pencemaran lingkungan.
Menurut Kusnan, membakar dan merusak lahan justru sangat
merugikan perusahaan. Apalagi RAPP merupakan perusahaan
yang menggunakan tanaman sebagai bahan baku.
"Jadi setiap bagian dari pohon itu bernilai tinggi, bisa diolah. Jika
lahan terbakar kami justru mengalami kerugian besar. Jadi hutan
itu pasti kami jaga dengan baik, katanya.
Kusnan juga menjelaskan jika produk kertas dengan merek
PaperOne yang dihasilkan APRIL Group sangat ramah lingkungan
dibandingkan produk-produk elektronik yang berbahan dasar

plastic.
Menurutnya, kertas akan mudah terurai secara alami di dalam
tanah dalam jangka waktu sebentar karena bahan baku kertas
seluruhnya dari serat kayu.
Jika ponsel, televisi dan produk elektronik lainnya tentu akan
sulit terurai secara alami jika sudah tidak digunakan lagi,
jelasnya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Utusan Khusus Presiden
Untuk Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, mengatakan kegiatan
tersebut digelar sebagai tindak lanjut dari Konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) Perubahan Iklim di Paris pada akhir tahun lalu.
Komtimen KTT Paris harus dilakukan secara bersama dan
melibatkan semua pihak.
Kita melibatkan generasi muda karena mereka yang akan
meneruskan massa depan dunia ini. Untuk itu kami mengajak
para siswa dan mahasiswa dalam kegiatan edukasi ini, jelasnya.
Adapun Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya
dalam sambutan tertulisnya mengatakan salah satu tujuan KTT
Paris juga menekan kenaikan suhu global di bawah 2 deracat
celcius. Kenaikan suhu hingga 2 derajat celcius akan
menyebabkan bencana, rawan pangan, dan kelangkaan air
bersih.
Untuk itu salah satu topik kita dan langkah kita adalah
kampanye di bawah 2 derajat celcius, ujarnya.***(rls)

Keterangan foto:
1. Utusan Khusus Presiden Untuk Perubahan Iklim Rachmat
Witoelar dengan antusias mendengar penjelasan Presiden
Direktur RAPP, Tony Wenas di booth APRIL.
2. Booth RAPP pada Indonesia Climate Change Education Forum
& Expo 2016.
3. Direktur RAPP Kusnan Rahmin, menyampaiakn pemaparan
tentang Pengelolaan Hutan Lestari dalam salah satu sesi
presentasi pada Indonesia Climate Change Education Forum &
Expo 2016.

JAKARTA
(Pos
Kota)
Industri
kertas
Indonesia masih berpotensi sebagai pemain dunia. Saat ini produksi
industri kertas Indonesia menduduki peringkat 9 di dunia.
Hal tersebut dikatakan Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper
(RAPP) Tony Wenas dalam diskusi dengan Forum Wartawan Industri
(Forwin).

Tony beralasan kondisi alam Indonesia yang tropis sangat mendukung


dalam pengadaan bahan baku.
Dia mengatakan dari total lahan hutan yang ada di Indonesia, sebanyak
70 juta ha bisa dimanfaatkan sebagai produksi industri.
Saat ini, lanjutnya, ada 70 juta HTI (hutan tanaman industri), Namun dari
jumlah tersebut hanya ada 10 juta ha HTI yang mendapat izin beroperasi
dan yang. dikelola baru sebanyak 3,5 juta ha.
Saya harap sebanyak 6,5 juta ha yang belum benar-benar dioperasikan,
agar segera bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan produksi pulp dan kertas
Indonesia, ujarnya.
Padahal menurutnya kebutuhan serat hutan atau fiber sebagai bahan
baku pulp dan kertas pada 2050 meningkat hingga 237 persen menjadi
2,7 miliar meter kubik dari sekarang yang ada hanya 800 juta meter kubik.
Mengutip data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), industri pulp dan
kertas pada 2013 mencapai 7,9 juta ton untuk memenuhi kebutuhan
bahan baku pulp dan kertas sebesar 35,3 juta meter kubik.
Ini harus ditingkatkan mengingat kebutuhan bahan baku pada 2017
mendatang meningkat 27,5 persen menjadi 45 juta meter kubik, kata
Tony.
Kondisi saat ini, meskipun memiliki sumber daya alam yang berlimpah
dengan luas hutan sebanyak 135 juta ha tak membuat produksi kertas
Indonesia menjadi pemain nomor wahid dunia.
Produksi pulp and paper (bubur kertas dan kertas) Indonesia nyatanya
hanya mampu bertengger di posisi sembilan di bawah Amerika, Tiongkok,
dan Brasil.
(tri/sir)