You are on page 1of 3

Buku Tuntunan Pedalangan Wayang Kulit Purwa Jawa .

A.
Serat Sastramiruda.

Bagi peminat pedalangan wayang kulit purwa Jawa membaca buku tuntunan pedalangan merupakan
suatu keasyikan tersendiri, sekalian menambah pengetahuan tentang wayang purwa.
Ada satu buku lama yang dianggap lengkap menguraikan pengetahuan mendalang sekaligus
menguraikan hal lain berkaitan dengan wayang. Buku tersebut berjudul Serat Sastramiruda. Kapan
tepatnya buku tersebut pertama kali terbit tidak diketahui , menilik dari nama yang disebut dalam buku
tersebut, diperkirakan buku tersebut pertama kali terbit pada kisaran tahun 1863 ~ 1893 Masehi.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan
Daerah pada tahun 1981 pernah mengalih aksarakan (oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto) dan
mengalihbahasakan (oleh Kamajaya) buku ini. Terbitan ini oleh Departemen P dan K disebarkan secara
gratis, beserta buku-buku lain dalam proyek yang sama, ke perpustakaan-perpustakaan Departemen P &
K di daerah maupun di sekolah-sekolah.
P Kamajaya (nama lengkapnya adalah almarhum Karkono Kamajaya, seorang budayawan di Yogyakarta
yang aktif menggali kembali falsafah dan budaya Jawa) sebagai pengalih bahasa menuliskan keterangan
singkat mengenai buku tersebut sbb:

Serat Sastramiruda dan alih bahasa nya.


Serat Sastramiruda adalah sebuah karya sastra Jawa berhuruf Jawa dalam bentuk wawancara antara
guru ahli Pedalangan Wayang Purwa dan muridnya. Sang Guru ialah Kanjeng Pangeran Arya
Kusumadilaga, dan muridnya, Mas Sastramiruda. Nama murid ini diambil menjadi judul bukunya.
Tidak ada angka tahun penulisan kitab tersebut, namun dapat diketahui, bahwa KPA Kusumadilaga hidup
di jaman Sri Susuhunan Paku Buwana IX yang bertakhta dari tahun 1863 hingga 1893 M. Di antara
tahun-tahun itulah kiranya kitab ini ditulis. Siapakah pengarang atau penyusunanya tidak diperoleh
kepastian, apakah KPA Kusumadilaga, apakah Mas Sastramiruda. Hanya pada bagian muka dari Serat
Sastramiruda terdapat keterangan bahwa: Semua cara-cara menjalankan tugas mendalang dijelaskan
dengan lengkap. Cerita itu kemudian disampaikan kepada Raden Mas Panji Kusumawardaya, kerabat
keraton di Negeri Surakarta.
Apakah lalu dapat diartikan, bahwa yang menyusun Serat Sastramiruda ini RMP Kusumawardaya,
wallohalam.
Serat Sastramiruda carik (tulisan tangan) terdapat antata lain di Perpustakaan Radyapustaka,
Surakarta. Pada tahun 1930 telah terbit yang tercetak dengan huruf Jawa, dijadikan 2 jilid, tetapi jilid
keduanya belum pernah kami ketahui (mungkin tidak terbit). Penerbitnya: Uitgeverij en Boekhandel
Stoomdrukkerij De Bliksem, Sala.

Isi Serat sastrawiruda diterangkan dalam anak-judul buku yang tercetak, yakni:
Ugering Padhalangan ingkang sampun mupakat kangge abdi dalem Dhalang di karaton Surakarta
Adiningrat. Artinya Pedoman Pedalangan yang telah dibenarkan untuk hamba Dalang di keraton
Surakarta Adiningrat.

Sebenarnya isi kitab itu lebih dari pedoman pedalangan, bahkan memuat pula Sejarah Wayang Purwa
dan lain sebagainya. Maka keterangan yang lebih terperinci terdapat pada sampul belakang kitab yang
sudah tercetak, yang artinya sebagai berikut:
Menceritakan asal mula adanya gambar Wayang Purwa dan permulaannya menjadi gambar Wayang
Beber, Gedog, Krucil, Golek, Klithik, Wayang Orang dan Topeng, dengan urutan para penciptanya di
jaman kuna sampai keadaan Wayang Kulit di keraton Surakarta. Dan dijelaskan ketika para Jawata
(Dewa) mencipta bunyi-bunyian yang dinamakan Lokananta yang selanjutnya digubah menjadi gamelan
Salendro. Lalu ada bunyi-bunyian (mengiringi) perang disebut Mardangga. Dan adanya gamelan
Monggang, Kodok-ngorek, Galaganjur, Cara Balen, Pelog, Sakaten dan Sarunen. Juga adanya tari
Badaya, Sarimpi, Wireng, Lawung, Dadap dan sebagainya. Pula tentang alat-alat dalang mewayang
(mendalang), dan jenis-jenis gending, dengan Suluk Greget-saut (gaya siaga) nya. Diuraikan pula
tentang cara memilih niyaga (pemukul gamelan) yang memang perlu menjadi teman bertugas ki dalang,
hingga caranya mendalang. Semuanya diterangkan di dalam Serat ini.

Kecuali memuat hal-hal yang terperinci di atas, kitab ini pun memuat Pedoman mendalang satu lakon
penuh, yaitu lakon Palasara Kawin atau disebut pula Lahirnya Abiyasa.

Serat Sastramiruda yang demikian luas isinya itulah yang sekarang disajikan alihbahasa Indonesianya.
Mengingat banyaknya istila-istilah dalam pewayangan dan pedalangan, serta bahasa yang khas
pedalangan, maka pengalihbahasaan ini menjumpai kesulitan-kesulitan. Istilah-istilah dan bahasa-khas
itu tidak mudah, bahkan seringkali tidak mungkin diterjemahkan. Jalan keluarnya ialah diberikan
penjelasan secara singkat agar para pembaca dapat memahaminya dengan seksama. Penjelasan itu
diberikan di belakang kata-kata. Istilah masing-masing maupun berupa catatan kaki.

Atas bantuan mas Pranowo Budi Sulistyo - pengasuh laman wayang http://wayangprabu.com/ yang
mempunyai buku tersebut , telah memindai buku tersebut sehingga kita bisa mengunduh gratis ebook
buku tersebut.
File ebook nya dibagi menjadi tiga file :
Bagi pembaca yang mengerti bahasa Jawa, mungkin mengunduh file yang bahasa Jawa saja sudah
memadai untuk belajar.
Bagian pertama dari yang berbahasa Indonesia:
http://www.4shared.com/document/aqzzxOc-/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html

Bagian kedua dari yang berbahasa Indonesia:


http://www.4shared.com/document/w_Z44IAM/Serat_Sastramiruda__Bhs_Indo_p.html
Yang berbahasa Jawa (satu file):
http://www.4shared.com/document/c6wLCRvV/Serat_Sastramiruda__Jawa_.html

B.
Serat Tuntunan Padalangan Lampahan Irawan Rabi.
Setelah membaca buku Serat Sastramiruda, pembaca disilakan membaca Serat Tuntunan Padalangan
karya M. Ng. Najawirangka alias Atmatjendana. Buku ini terbit tahun 1958 terdiri dari lima jilid. Jilid 1
sampai dengan 4 berisi tuntunan pedalangan lengkap dengan contoh lakon Irawan Rabi.
Lamanhttp://wayangpustaka.wordpress.com/ mempunyai file ebook empat jilid.
Jilid ke 5 berisi beberapa balungan lakon wayang purwa. Admin wayangpustaka pernah melihat yang jilid
5 di sebuah toko buku bekas di basement Mall Blok M, Jakarta tetapi harganya terlalu mahal belum
terjangkau.
Serat Tuntunan Pedalangan Lampahan Irawan Rabi
(Ingkang ngimpun) M. Ng. Najawirangka al. Atmatjendana, Guru pasinaon padalangan paheman
Radyapustaka, utawi kasenian Kraton ing Surakarta, Serat Tuntunan Padalangan Tjaking
Pakeliran Lampahan Irawan Rabi , Jogjakarta: (ingkang ngedalaken) Tjabang Bagian Bahasa
Jogjakarta, Djawatan Kebudajaan, Kementerian P. P. Dan K, 1958 (tjap-tjapan ingkang kaping II). Jilid I
= 85 halaman, jilid II = 77 halaman, bahasa Jawa pedalangan.
Pindaian atau 'ebook' buku ini bisa diperoleh gratis di :
Jilid 1 : (kontributor Budi Adi Soewirjo, pengasuh laman FB Wayang Purwa - Links)
http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/25/138/
Jilid 2 : (kontributor Budi Adi Soewirjo, pengasuh laman FB Wayang Purwa Links)
http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/25/serat-tuntunan-padalangan-irawan-rabi-jilid-2/
Jilid 3 : (contributor Pranowo Budi Sulistyo, pengasuh laman http://wayangprabu.com/)
http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/10/serat-tuntunan-padalangan-iii-iv/
Jilid 4 : (contributor Pranowo Budi Sulistyo, pengasuh laman http://wayangprabu.com/)
http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/12/serat-tuntunan-padalangan-iv/

C.
'Ebook' Tuntunan Pedalangan Yang Lain.
Silakan kunjungi laman http://wayangpustaka.wordpress.com/