You are on page 1of 14

There was once a raindrop

who lived in a great big
cloud with a whole lot of
other droplets. Let’s call
him Troy.

Pada suatu ketika adalah setetes
air yang tinggal di awan besar
bersama-sama dengan tetesantetesan air yang lain. Kita panggil
saja namanya Troy.

Like all the other raindrops
he lived with, Troy awaited
his turn to fall to the earth
below.

Seperti halnya tetesan-tetesan
air hujan yang lain, Troy
menanti-nantikan gilirannya
untuk jatuh ke bumi di
bawahnya.

Sometimes Troy and his
friends would talk about
where they wanted to fall.
Some wanted to fall on a lake,
where they could make new
friends with all the other
droplets of water that
had arrived before them.
Others wanted to water a
garden or thirsty field.
It was at these times that Troy
would feel sad. I’m such a very
small raindrop, he thought. I
could never make a difference
in the world. Even if I get to
fall down to the earth, just one
little tiny drop like me isn’t
going to be much of a help to
anybody.

Adakalanya Troy dan temantemannya berkumpul dan
bercakap-cakap mengenai
mereka mau jatuh di mana.
Ada yang ingin jatuh di danau,
dimana mereka bisa berteman
dengan tetesan air yang lainnya,
yang sudah tiba di sana sebelum
mereka. Ada pula yang ingin
dipakai untuk menyirami kebun
seseorang atau ladang yang haus.
Pada saat-saat seperti ini Troy
akan merasa sedih. Aku hanyalah
setetes air kecil, pikirnya.
Aku tidak dapat membawa
perubahan di dunia. Bahkan jika
aku jatuh ke bumi, hanya setetes
air kecil seperti diriku tidak akan
membantu siapa pun.

Just then, Troy thought he
heard a whisper. It was Gentle
Breeze blowing by, a friend
who Troy knew well, and who
he played with at times.

Pada saat itu, Troy merasa
mendengar bisikan. Si Bayu
Lembut melintas, sahabat
dekat Troy dan yang
dengannya dia sering
bermainmain.

“Cheer up, Troy!” she said,
“You may not be anything
great all alone, but so what?
None of the others are
either! Did you know that all
over the world, children
spend hours looking up to
the sky, trying to make out
different images in the
shapes of the clouds? And
did you know that people
marvel at the neat shapes
you make? Scientists study
clouds and make up
interesting names for you
guys like: cumulus,
cumulonimbus, cirrus, and
other funny names.

“Bergembiralah, Troy!”
katanya, “Sendirian mungkin
kamu bukan apa-apa. Lalu?
Yang lain juga begitu! Tahukah
kamu bahwa di seluruh dunia,
anak-anak meluangkan waktu
berjam-jam lamanya
menengadah
ke langit, mereka-reka bentuk
awan? Dan tahukah kamu
bahwa orang terpesona
dengan berbagai bentuk awan
yang ada di langit? Ahli sain
mempelajari awan dan
menyimpulkan berbagai istilah
bagi kalian
seperti: kumulus,
kumulonimbus, sirrus dan
nama-nama asing lainnya.

“Just remember that when
they look up, they don’t see
the biggest raindrop or the
smallest raindrop–they see
all of you together. If you all
floated around on your own,
there wouldn’t be anything
to see; you’d all be too tiny.
But as long as you stick
together, you are a thing of
wonder.

Jadi ingatlah pada waktu
orang menengadah, mereka
tidak melihat tetesan hujan
yang besar atau yang kecil–
mereka melihat kalian semua
bersama. Jika kamu melayanglayang sendirian, tidak ada
yang terlihat; kamu terlalu
kecil. Tetapi selama kamu
bersatu, kamu mengagumkan.

"None of us could ever
make it without everyone
else. And besides, who
would want to be big and
able in themselves, to
where they didn’t need
anybody else? Wouldn’t
that be a boring life? Now,
Troy, go play and let God
do the worrying.”

Jadi ingatlah, tidak ada satu pun
di antara kita yang bisa berhasil
tanpa yang lain. Lagi pula, siapa
sih yang mau menjadi begitu
besar dan begitu mampu,
sehingga tidak membutuhkan
yang lain? Bukankah hidup
menjadi membosankan jika
demikian? Nah, Troy, pergilah
bermain-main dan serahkanlah
kekuatiran kamu pada Tuhan.”

Troy realized that Gentle
Breeze was right. Besides,
look at her, Troy thought.
Nobody can even see Gentle
Breeze, except for us. But
she’s always so happy and
content knowing that God
gave her such an important
part to play, whether we see
her or know who she is or not.

Troy sadar bahwa si Bayu
Lembut benar. Lagi pula,
lihatlah dia, pikir Troy. Tidak ada
seorang pun yang dapat melihat
si Bayu Lembut, kecuali kita.
Tetapi dia selalu gembira dan
puas karena tahu bahwa Tuhan
memberikan peran yang
penting baginya, entah dia itu
terlihat atau tidak.

The weather changed and
the wind picked up. Troy and
his friends found themselves
carried along on Windsor
Wind’s current, away from
the sea and further over
land. The moment had
arrived.

Cuaca berubah dan angin
berhembus lebih keras. Troy
dan teman-temannya
mendapati diri mereka
terbawa oleh si Bayu
Berhembus, menjauh dari laut
dan lebih ke darat. Saatnya
tiba.

“Guess what, you all?”
Windsor asked with a
satisfied tone in his voice.
“I’m about to land you at
your destination. Your
purpose will be to make
others happy, to water the
thirsty ground and to revive
the drooping and dying
plants, among many other
things. Enjoy your trip and
don’t forget all of us up
here.” With that, he blew
on the cloud and let all the
raindrops fall.

“Coba terka?” Si Bayu Berhembus
bertanya dengan suara penuh
kepuasan. “Aku akan mendaratkan
kalian di tempat tujuan. Tujuannya
agar kalian membuat orang
gembira, menyirami tanah yang
kering dan menghidupkan kembali
pepohonan yang layu dan hampir
mati, di antara tugas-tugas lainnya.
Nikmatilah perjalanan kalian dan
jangan lupa dengan kami di atas
sini.” Setelah itu, dia meniup awan
dan membiarkan tetesan-tetesan
air hujan berjatuhan.

— Splat!!! Troy lifted his
head and looked around. It
wasn’t soil. It wasn’t a field.
It wasn’t a lake. He forced a
half-cracked smile as he
realized that he had landed
on a concrete courtyard.
Now he could only sit and
wait, quietly repeating to
himself his resolution to be
the happiest little raindrop
there ever was.

Splat!!! Troy mengangkat kepalanya
dan melihat berkeliling. Bukan
tanah. Bukang ladang. Bukan
danau. Dia memaksakan diri
tersenyum ketika dia sadar bahwa
dia mendarat di lapangan yang
terbuat dari semen. Sekarang dia
hanya bisa duduk dan menanti, di
dalam hati berulang-ulang
mengatakan bahwa dia bertekad
untuk menjadi tetesan air hujan
yang paling gembira.

Soon he heard the creak
of a door and high pitched
voices coming closer.
Tiny boots and colorful
raincoats filled the
courtyard, and in a
moment several children
were busy splashing in
the puddles that the rain
shower had left. Troy
listened as they giggled
and laughed, stomping
and splashing in the
puddles

Selang beberapa saat dia mendengar
pintu terbuka dan suara-suara riang
gembira yang semakin dekat. Sepatusepatu bot kecil dan jas hujan aneka
warna memenuhi lapangan dan
dalam waktu sekejap saja anak-anak
sibuk bermain-main di genangan air
yang disisakan oleh hujan. Troy
mendengarkan seraya mereka
tergelak dan tertawa, menghentakhentakkan kaki dan memercikmercikkan genangan air.

All too soon for Troy, a
grownup who had been
sitting quietly on the side
stood up and called all the
children in. Troy found
himself splashed up on the
last little pair of boots, as the
children raced for the door.

Bagi Troy waktunya terlalu
cepat, orang dewasa yang
duduk di tepian memanggil
anak-anak masuk. Troy
mendapati dirinya terpercik
pada sepatu bot yang terakhir
ketika anak-anak berlombalomba mencapai pintu.

Once the children were
inside, the boots were taken
off and lined up on a shelf
on the porch. Troy felt
himself rolling down the
side of the boot, sliding
through the wooden planks
and landing in some soil
below.

Ketika anak-anak sudah berada
di dalam, sepatu-sepatu bot
dilepas dan dibariskan di rak
sepatu, di beranda. Troy
merasakan dirinya bergulir ke
bawah di pinggiran sepatu bot,
meluncur ke bawah melalui
papan dan mendarat di tanah
yang ada di bawahnya.

Troy wiggled to get
comfortable between the
grains of soil, and as he did,
he began to sink deeper and
deeper into the earth. He
was suddenly hungrily
sucked up by a root, into a
flower that had been
sheltered from the falling
rain by the ledge of the
porch.

Troy menggerak-gerakkan
tubuhnya agar merasa lebih
nyaman di sela-sela tanah,
kemudian dia mulai terbenam
makin dalam ke dalam bumi.
Tibatiba dia tersedot oleh akar
yang kelaparan, masuk ke
dalam bunga yang selama ini
terlindung dari hujan karena
adanya atap yang menaungi
beranda.

“Thank you, thank you,
thank you, for dropping
by!” the flower rejoiced. “I
have been so thirsty! I
was just hoping for a drop
like you to come by!”

“Terima kasih, terima kasih,
terima kasih, sudah singgah!”
bunga itu bersukacita. “Aku
sangat kehausan! Aku berharap
ada tetesan air seperti kamu akan
singgah!”

Troy smiled. He was happy
that God had used him to
be a blessing to so many
others. How many children
he had helped make glad
that day he would never
know.

Troy tersenyum. Dia senang
Tuhan telah memakai dia untuk
menjadi banyak berkat. Ada
berapa banyak anak yang
bergembira karena dirinya, dia
tidak akan pernah tahu.

With that lovely thought,
Troy fell fast asleep. As he
slept, he dreamt of Gentle
Breeze and of his
adventurous journey, of
Windsor Wind, the
children, and the flower.
He didn’t think once about
how tiny he had thought
himself to be not too long
ago.
Our story ends here, but
that was not the end of
little Troy. He made many
more trips back up as a
cloud and then back down
again as a raindrop. What
a busy little raindrop!

Dengan pikiran yang menyenangkan
seperti itu, Troy jatuh tertidur. Dalam
tidurnya, dia bermimpi tentang si
Bayu Lembut dan petualangannya
yang seru, tentang si Bayu
Berhembus, tentang anak-anak dan
tentang bunga itu. Tak sekalipun dia
berpikir tentang betapa tak berartinya
dirinya sebagaimana yang telah
dipikirkannya tak lama sebelum itu.
Kisah ini berakhir di sini, tetapi
bukan akhir dari kisah perjalanan
Troy. Dia berkelana ke sana ke mari
sebagai awan dan kembali turun
sebagai tetesan air hujan. Alangkah
sibuknya si tetesan air hujan kecil ini!

www.freekidstories.org
Story courtesy of Steps Character Building Program; © Aurora
Productions. Used with permission.