You are on page 1of 9

TES DNA

II.2.1. PENGERTIAN TES DNA


Tes DNA adalah salah satu teknik biologi molekuler penanda genetik yang
dipakai untuk pengujian terhadap materi profil DNA, yaitu sehimpunan data yang
menggambarkan susunan DNA yang dianggap khas untuk individu yang menjadi
sampelnya. Hanya sebagian kecil berkas DNA yang dipakai untuk pengujian,
seperti bagian DNA yang berisi pengulangan urutan basa (variable number
tandam repeats / VNRT).
Tes DNA ini sangat dipercaya dan sudah diakui keabsahannya dapat
mengidentifikasi seseorang dengan keakuratan mencapai 100 %, sehingga banyak
dimanfaatkan dalam analisis, pihak kepolisian maupun pengadilan khusunya
untuk membantu mengungkap suatu perkara. Adanya kesalahan bahwa kemiripan
pola DNA bisa terjadi secara random (kebetulan) sangat kecil kemungkinannya,
yaitu dengan peluang satu diantara satu juta. Jikapun terdapat kesalahan itu
disebabkan oleh faktor human error terutama pada kesalahan interpretasi fragmenfragmen DNA oleh operator (manusia). (7,20,21)
DNA yang biasa digunakan dalam tes adalah c-DNA dan mt-DNA.
Sampel DNA yang paling akurat digunakan dalam tes adalah c-DNA, karena inti
sel tidak bisa berubah. Sementara mt-DNA dapat berubah karena berasal dari garis
keturunan ibu yang dapat berubah seiring dengan perkawinan keturunannya.
Namun, keunikan dari pola pewarisan mt-DNA tersebut sekaligus menjadi
kelebihannya, sehingga mt-DNA dapat dijadikan sebagai marker (penanda) untuk
tes DNA dalam upaya mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal.(9)
II.2.2. TUJUAN TES DNA
Tes DNA pada umumnya digunakan untuk 2 tujuan yaitu (1) tujuan pribadi
seperti penentuan perwalian anak atau penentuan orang tua dari anak (Tes
Paternitas); dan (2) tujuan hukum, yang meliputi masalah forensik, seperti
identifikasi korban yang telah hancur maupun untuk pembuktian kasus kejahatan
semisal kasus pemerkosaan atau pembunuhan. (9)

Tes paternitas adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui


apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. Metode tes paternitas
terbagi atas metode analisis DNA dan metode konvensional. Tes paternitas dengan
menggunakan analisis DNA merupakan analisis informasi genetik yang sangat
spesifik dalam membedakan ciri setiap individu, sehingga dapat memastikan
(hampir 100%) bahwa sesorang adalah ayah biologis si anak atau bukan.
Sedangkan metode konvensional dengan analisis fenotip dibagi menjadi tiga,
yaitu
1. Sistem sel darah merah terdiri dari: sistem ABO, Rhesus (Rh), MNS, Kell
(K), Duffy (Fy), Kidd (Jk), Lutheran.
2. Sistem biokimia meliputi pemeriksaan plasma protein dan enzim sel darah
merah terdiri dari: haptoglobin (Hp), phosphoglucomrantaie (PGM),
Esterase D (EsD), Erythrocyte Acid Phosphatase (EAP), Glyoxalase
(GLO), Adenosine Deaminase (ADA), Adenylate Kinase (AK), Group
specific Component (GC), Gm dan KM.
3. Human Leucocyte Antigen (HLA) yang mengidentifikasi antigen pada
leukosit.
II.2.3. SAMPEL DAN PENYIAPAN SAMPEL UNTUK TES DNA
Hampir semua sampel biologis tubuh seperti darah dan bercak darah,
seminal, cairan vaginal, dan bercak kering, rambut (baik rambut lengkap dengan
akarnya atau hanya batang rambut), epitel bibir (misal pada puntung rokok), sel
buccal, tulang, gigi, saliva dengan nukleus (pada amplop, perangko, cangkir),
urine, feces, kerokan kuku, jaringan otot, ketombe, sidik jari, atau pada peralatan
pribadi dapat digunakan untuk sampel tes DNA, tetapi yang sering digunakan
adalah darah, rambut, usapan mulut pada pipi bagian dalam (buccal swab), dan
kuku. Untuk kasus-kasus forensik, sampel sperma, daging, tulang, kulit, air liur
atau sampel biologis lain yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) dapat
dijadikan sampel tes DNA.(12,13,14)

Tahap pengambilan dan penyimpanan bahan atau sampel merupakan


tahapan yang vital, dan harus dilakukan dengan prinsip-prinsip di bawah ini: (14)
1. Hindari tempat yang terkontaminasi DNA dengan tidak menyentuh
objek secara langsung dengan tangan, tidak bersin atau batuk di dekat
barang bukti.
2. Menggunakan sarung tangan bersih untuk pengumpulan barang bukti.
Sarung tangan harus diganti untuk setiap penanganan barang bukti
yang berbeda
3. Setiap barang bukti harus disimpan terpisah.
4. Bercak darah, bercak sperma, dan bercak lainnya harus dikeringkan
dahulu sebelum disimpan.
5. Sampel harus disimpan pada amplop atau kertas setelah dikeringkan.
Jangan menggunakan bahan plastik karena plastik dapat mempercepat
degradasi molekul DNA. Setiap amplop harus ditandai nomor kasus,
nomor bukti, waktu pengumpulan.
6. Bercak pada permukaan meja atau lantai dapat diambil dengan swab
kapas steril dan alkohol. Keringkan kapas tersebut sebelum dibawa.
7. Di laboratorium, sampel DNA disimpan dalam kulkas bersuhu 4oC
atau dalam freezer bersuhu -20oC. Sampel yang akan digunakan dalam
waktu yang lama, dapat disimpan dalam suhu -70oC.
Secara umum DNA dapat rusak akibat pengaruh lingkungan seperti
paparan sinar matahari, terkena panas, bahan kimia, air dan akibat kerja enzim
DNAase yang terdapat dalam jaringan sendiri. Untuk itu terhadap berbagai bahan
sampel tersebut harus diberi perlakuan sebagai berikut:(11,12)
1. Jaringan, organ dan tulang. (17)
Bila masih segar, ambil tiap bagian dengan pinset lalu masukkan masingmasing bagian ke dalam wadah tersendiri. Beri label yang jelas dan

tanggal pengambilan sampel, simpan di pendingin lalu kirim ke


laboratorium. Namun bila sampel tidak lagi segar (busuk), ambil sampel,
bungkus dengan kerta alumunium, dan bekukan pada suhu -20oC. Beri
label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu kirim ke
laboratorium.
2. Darah dan bercak darah (seperti darah pada pakaian, karpet, tempat tidur,
perban).(11,17)
- Darah
o Darah cair dari seseorang.
Ambil dengan menggunakan semprit.
Masukkan ke dalam tabung yang diberikan pengawet

EDTA 1 ml darah.
Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel,
simpan dalam termos es, lemari es atau kirim ke

laboratorium.
o Darah cair di TKP.
Ambil dengan menggunakan semprit, pipet atau kain.
Masukkan ke dalam tabung yang berisikan pengawet
EDTA. Bila membeku, ambil dengan menggunakan

spaltel.
Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel,

simpan di termos es, lemari es, atau kirim ke laboratorium.


o Darah cair dalam air/salju/es.
Sesegera mungkin, ambil secukupnya, masukkan ke dalam

botol.
Hindari kontaminasi, beri label yang jelas dan tanggal

pengambilan sampel, simpan atau kirim ke lab.


Bercak darah basah.
o Ditemukan pada pakaian
Pakaian dengan noda ditempatkan pada permukaan bersih

dan keringkan.
Setelah kering, masukkan kantong kertas atau amplop.
Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel,

kirim ke laboratorium.
o Ditemukan pada benda.
Bila benda kecil biarkan kering, tetapi pada benda besar,
hisap bercak tersebut dengan kain katun dan keringkan.

Masukkan amplop, beri label yang jelas dan tanggal

pengambilan sampel, dan kirim ke laboratorium.


o Ditemukan pada karpet atau benda yang dapat dipotong.
Potong bagian yang ada nodanya.
Tiap potongan diberi label yang jelas, sertakan potongan
yang tidak ada nodanya sebagai kontrol.
Kirim ke laboratorium.
o Percikan darah kering
Gunakan celotape, tempelkan pada percikan noda.
Masukkan celotape tersebut kedalam kantong plastik.
Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel,
kirim ke laboratorium.
3. Sperma dan bercak sperma.(17)
- Sperma cair.
a. Hisap dengan semprit, masukkan ke dalam tabung.
b. Atau dengan kapas, keringkan.
c. Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu
-

kirim ke laboratorium.
Bercak sperma pada benda yang dipindah (misalnya pada celana).
a. Bila masih basah, keringkan.
b. Bila kering, potong pada bagian yang ada nodanya, dan
masukkan ke dalam amplop.
c. Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu

kirim ke laboratorium.
Bercak sperma pada benda besar yang bisa dipotong (misalnya
pada karpet).
o Potong pada bagian yang bernoda.
o Masukkan ke dalam amplop.
o Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu

kirim ke laboratorium.
Bercak pada benda yang tidak dapat dipindah dan tidak menyerap
(misal: lantai).
o Kerok bercaknya, lalu masukkan kertas.
o Lipat kertas hingga membungkus kerokan, masukkan ke
dalam amplop.
o Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu

kirim ke laboratorium.
4. Urine, saliva dan cairan tubuh yang lain. (17)
- Sampel cair

a. Urine atau saliva dimasukkan ke dalam tempat steril.


b. Simpan di pendingin, beri label yang jelas dan tanggal
-

pengambilan sampel, lalu kirim ke laboratorium.


Bercak urine, saliva
a. Dugaan noda, dikerok atau potong lalu kumpulkan.
b. Masukkan amplop, beri label yang jelas dan tanggal

pengambilan sampel, lalu kirim ke laboratorium.


5. Rambut dan gigi. (17)
- Rambut.
a. Cabut beberapa helai rambut (10-15 helai) dengan akarnya.
Hati-hati bila tercampur dengan darah
b. Tempatkan pada wadah, beri label yang jelas dan tanggal
-

pengambilan sampel. Kirim ke laboratorium.


Pulpa Gigi
a. Cabut gigi yang masih utuh. Sampel gigi sebaiknya tidak
dirusak oleh endodontia.
b. Masukkan ke dalam kantong plastik, beri label yang jelas
dan tanggal pengambilan sampel.

II.2.4. TEKNIK TES DNA


Beberapa kelebihan tes DNA dibandingkan dengan pemeriksaan
konvensional lainnya adalah sebagai berikut:(10,11)
1.

Ketepatan yang lebih tinggi.


Sebagai contoh dalam pemeriksaan suatu bercak darah sebelum
ditemukannya pemeriksaan DNA dilakukan pemeriksaan golongan darah.
Hasil pemeriksaan golongan darah yang tidak cocok akan menyebabkan
orang yang dicurigai tersingkir sebagai sumber darah tersebut, namun jika
cocok maka merupakan suatu kemungkinan saja. Sedangkan hasil
pemeriksaan DNA terhadap bercak darah tersebut akan nyaris sempurna
dalam menentukan siapa sumber bercak darah tersebut.

2.

Kestabilan yang tinggi.


Pada kasus-kasus dimana bukti sebagai sampel sudah membusuk, maka
hanya tes DNA yang masih dapat dilakukan, karena DNA bersifat tahan
pembusukan dibandingkan protein.

3.

Pilihan sampel yang luas.

Penyebaran DNA hampir pada seluruh bagian tubuh membuat sampel


untuk tes DNA dapat diambil dari berbagai bagian tubuh kecuali sel darah
merah.
4. Dapat mengungkap kasus sulit
Hanya tes DNA yang dapat dilakukan untuk pemecahan kasus-kasus sulit
yang tidak dapat dipecahkan oleh metode konvensional antara lain seperti:
penentuan keayahan, kasus incest, kasus paternitas dengan bayi dalam
kandungan, kasus paternitas dengan bayi yang sudah meninggal dan kasus
paternity tanpa kehadiran sang ayah.
5.

Dapat

mengungkap

kasus

perkosaan

dengan

banyak

pelaku,

pemeriksaan DNA dapat memastikan berapa orang pelaku dan siapa saja
pelakunya.
6.

Sensitifitas yang amat tinggi


Sensitifitas tes DNA dapat mencapai 99,9 %. Tes DNA juga dapat
dilakukan pada sampel dengan jumlah kecil dengan metode PCR.

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. Forensik. URL:http://id.wikipedia.org/wiki/Forensik.
2. Asam

deoksiribonukleat.

URL:

http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_deoksiribonukleat
3. Irawan, B. 2003. DNA fingerprinting pada Forensik,Biologi sebagai Bukti
Kejahatan. Majalah Natural Ed. 7/Thn. V/April 2003. Bandar Lampung
4. Arnita. 2007. Rambut pun bisa bicara. Majalah Simposia Vol 6 No.8. Maret
20017. Jakarta
5. Sampurna, B. 2009. Kedokteran Forensik, Ilmu dan Profesi. Universitas
Indonesia. Jakarta
6. Anonim. DNA. URL:http://en.wikipedia.org/wiki/DNA

7. Cantor Charles, Spengler Sylvia. Primer on Molecular Genetiks. URL:


http://www.ornl.gov/hgmis/publicat/primer/toc.
8. Kolbinsky L, Levine, Margolis-Nuno H. 2007. Analysis DNA Forensik.
Chelsea House of Publishing Infobase, New York.
9. M. Gunawan Abdillah. Tahapan Tes DNA. URL: http://www.klikp21.com
10. Anonim. Pusdokkes Polri The Indonesian police centre for medical and
Health

Service.

URL:

http://www.pusdokkes.polri.go.id/naskah/dokpol/ladokpoli.html.
11. Modul Bahan Ajar, Proyek Pengembangan Kewirausahaan Melalui
Integratif Bahan Ajar Kriminalistik. Buku II. Jakarta: Universitas
Indonesia, 2000.
12. Anonim..

Forensic

DNA

Testing.

URL:

http://www.800dnaexam.com/forensic_DNA_ testing.aspx
13. Andraea

Petrophylla.

Tes

DNA.

URL:

http://www.ripiu.com/article/read/klik4orofit-tes-dna.
14. Anonim. Pengumpulan Sampel, Ekstraksi DNA, dan Kuantifikasi DNA.
URL: http://www.freewebs.com/pengumpulansampeldna.htm
15. Samuels Julie E., Asplen Christopher The Future of Forensik DNA Testing,
Prediction of the Research and Development Working Group. URL:
http://www.denverda.org/DNA/ ForensikDNAArticles.htm
16. Norah Rudin & Keith Inman. Introduction to Forensik DNA Analysis. 2 nd ed.
London New York Washington DC: CRC Press LLC, 2002
17. Putu Sudjana L Hoediyanto. Pengumpulan dan Cara Pengiriman Bahan
Pemeriksaan Analisa DNA. Bagian/Instalasi Ilmu Kedokteran Forensik.
FK UNAIR RSU dr. Soetomo. Surabaya.
18. Anonim.

Polimorfisme

Panjang

Berkas

Restriksi

http://id.wikipedia.org/wiki/ Polimorfisme Panjang_Berkas_Restriksi

URL:

19. Anonim.

Mengenal

PCR

(Polymerase

Chain

Reaction)

URL:

http://sciencebiotech.net/mengenal-pcr-polymerase-chain-reaction/
20. Acceee Excellence the National Health Museum.DNA FInterprinting in
Human Health And Society URL: http://www.accessexcellence.org/
AE/mspot.arp/index.htm
21. Eijkman Institute for Molecular Biology. Identifikasi DNA. URL:
http://www.eijkman.go.id/identifikasiDNA