You are on page 1of 3

BAB 4

PEMBAHASAN
Keluhan utama pada pasien yaitu berupa gatal yang dirasakan pada kedua
matanya sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu. Keluhan gatal pada mata
merupakan gejala utama dari konjungtivitis alergi. Gatal yang dirasakan terjadi
akibat adanya paparan allergen pada pasien tersebut sehingga menyebabkan
degranulasi dari sel mast yang melepaskan histamine. Histamine merupakan salah
satu mediator radang yang dapat menyebabkan keluhan gatal.
Keluhan utama umumnya timbul pada pagi hari atau ketika cuaca dingin.
Hal ini jelas berhubungan dengan adanya riwayat alergi yang diderita pasien.
Alergi sangat berhubungan dengan pajanan allergen. Allergen disini dapat berupa
debu, serbuk tanaman, tungau debu rumah, debu, kotoran, cuaca dingin ataupun
panas.
Pada anamnesa didapatkan bahwa pasien juga memiliki riwayat penyakit
rhinitis alergi, dimana merupakan indikasi kuat bahwa pasien terkena
konjungtivitis alergi. Konjungtivitis alergi sangat berhubungan dengan adanya
riwayat atopi di dalam keluarga. Tetapi keluhan mata merah dan gatal tidak hanya
timbul ketika eksaserbasi rhinitis alergika tetapi dapat juga terjadi tanpa adanya
eksaserbasi dari

rhinitis alergika. Keluarga pasien juga ditemukan memiliki

riwayat rhinitis alergi yang semakin menguatkan bahwa pasien mengalami


konjungtivitis alergi.
Tidak terdapat adanya riwayat rheumatoid arthritis dan Sistemik Lupus
Erimatosus (SLE) menandakan bahwa pasien kemungkinan besar tidak
mengalami skleritis. Pada konjungtivitis alergi sangat berkaitan dengan adanya
riwayat ekzime, atopi atau asma pada keluarga pasien. Pada kasus ini, saudara
laki-laki pasien memiliki riwayat atopi.
Pada pemeriksaan ditemukan adanya keluhan mata merah, mata merah
timbul dikarenakan adanya reaksi alergi yang melepaskan histamine yang
menyebabkan pembuluh darah berdilatasi. Dapat juga disebabkan oleh rasa gatal
yang menyebabkan pasien menggosok matanya yang dapat mengakibatkan injeksi

konjungtiva. Injeksi konjungtiva pada konjungtivitis alergi bersifat difus dengan


kemerahan dari tingkat ringan sampai sedang.
Mata beraiar merupakan keluhan yang menyertai konjungtivitis alergi.
Adanya mata berair dikarenakan sensasi benda asing yang dirasakan mata
sehingga merangsang kelenjar lakrimal untuk mengeluarkan air mata dalam
jumlah banyak untuk menghilangkan sensasi benda asing tersebut.
Tidak ditemukan adanya sekret baik purulen maupun mukopurulen
menandakan bahwa pasien tidak mengalami konjungtivitis bakterial. Pada
konjungtivitis alergi sekret yang ditemukan berupa benang-benang halus, sekret
yang bersifat mukoid dan berwarna kekuningan ditemukan pada konjungtivitis
vernalis yang berat.
Pada pemeriksaan konjungtiva tarsal, didapatkan papil pada konjugtiva
tarsal superior sementara pada konjugtiva inferior tidak ditemukan. Terbentuk
papil merupakan karakteristik khas pada konjungtivitis alergi, sementara pada
konjungtivitis bakterial terbentuk folikel. Untuk membedakan antara papil dan
folikel, pada papil terdapat cabang-cabang pembuluh darah di tengahnya,
sementara pada folikel pembuluh darahnya terdapat disekitarnya. Konjungtivitis
yang berat dapat terbentul cobblestone dengan adanya discharge berserabut yang
melapisinya.
Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Berdasarkan anamnesis didapatkan adanya rasa gatal pada
kedua mata, mata merah, berair, riwayat atopi pada keluarga. Pemeriksaan fisik
didapatkan injeksi konjungtiva difus dan papil pada konjungtiva tarsal superior
dimana mengarah pada konjungtivitis alergi.
Pengobatan yang diberikan kepada pasien adalah berupa kompres dingin
untuk mengurangi gejala karena pada keadaan dingin sel-sel yang menyebabkan
inflamasi kerjanya akan terhambat. Untuk tatalaksana medikamentosa diberikan
kombinasi antara nedocromyl sodium dan emedastine difumarate. Nedocromyl
sodium merupakan suatu stabilizer sel mast yang berfungsi untuk menghambat
degranulasi sel mast sehingga mencegah pelepasan histamine. Sementara
emedastine difumarate merupakan antagonis reseptor H1 yang berfungsi untuk

mencegah ikatan antara histamine dan reseptornya yang bertanggungjawab


terhadap gejala konjungtivitis. Kombinasi antara kedua obat tersebut sangat baik
sekali karena pada serangan akut emedastine difumarate akan mencegah ikatan
histamine sehinngga menghambat gejala, sementara nedocromyl sodium akan
memberikan efek yang optimal ketika telah digunakan selama 1-2 minggu dimana
obat ini akan mencegah terjadinya konjungtivitis berulang atau memelihara pasien
untuk tidak terkena eksaserbasi konjungtivitis alergi. Pada kasus berat dapat
diberikan obat golongan steroid, seperti loteprednol tetapi penggunaan obat ini
harus dibawah kendali spesialis mata.