Wanda Yovita 25209029

Review Literatur transformasi morfologi permukiman
1. Kondisi spasial permukiman Kumpulan abstrak ini mempelajari tentang kondisi spasial hamparan permukiman. Kondisi spasial tumbuh secara terintegrasi atau tidak dan hal ini disebabkan oleh berbagai hal. Ketidaksenambungan pembangunan perumahan yang satu dengan yang lainnya merupakan salah satu penyebab kawasan permukiman yang tersegregasi dan membentuk karakter spasial khas. Hal ini disebabkan oleh RAS, politik maupun perbedaan sosial yang menjadi manifestasi kebijakan dan regulasi perumahan.
1.1 Segregasi akibat RAS, politik dan perbedaan sosial

Keadaan morfologi hamparan permukiman tentu berbeda-beda. Namun salah satu hal yang sering terjadi adalah morfologi permukiman yang pertumbuhannya tidak terintegrasi. Walaupun bagian permukiman itu adalah memiliki fungsi yang sama misalnya sebuah kumpulan perumahan. Akan tetapi setiap perumahan ini terkadang memiliki jarak yang sangat signifikan antara satu dengan lainnya. Hal ini menimbulkan segregasi yang jelas antar sesama perumahan yang berada dalam lingkungan yang sama. Segregasi terjadi akibat beberapa hal, salah satunya karena kebijakan pemerintahan jaman kolonial yang memisahkan permukiman kulit putih dengan kulit berwarna maupun karena perbedaan kelas sosial dan ekonomi. Pada penelitian yang dilakukan oleh (K’akumu, 2007; Adiyanto; 2006), masa pemerintahan kolonial yang cenderung sengaja membentuk permukiman yang terpisah-pisah dan jelas batasnya. Tidak hanya permukiman antar kaum kolonial dan pribumi yang dipisahkan, akan tetapi demikian juga dengan sesame permukiman antar suku pribumi, dan suku pendatang yang juga merupakan kulit berwarna. Hal ini dikarenakan tujuan pemerintah kolonial untuk memecah belah tanah jajahannya melalui politik adu domba dan pengendalian kekuasaan yang lebih mudah terhadap beberapa kelompok. Pembagian ruang-ruang permukiman berdasarkan suku tersebut akhirnya mengakar dan menjadi legal hingga sekarang. Akibatnya adalah sebuah kawasan permukiman yang tumbuh padat yang berada di tengah kota menjadi hamparan hunian ydengan masyarakat dan budaya yang homogen. Hal ini menjadi buruk jika tidak ada hubungan antara kelompok hunian yang satu dengan yang berbeda lainnya yang dapat memicu tumbuhnya konflik. Ini tentu saja dapat terjadi karena walaupun pasca kemerdekaan akan tetapi permukiman dengan skala kota yang pemukimnya lebih banyak heterogen. Lain halnya jika permukiman seperti ini jika mampu bertahan dan mampu menjaga lokalitas masyarakatnya yang diadaptasikan dalam bentuk fisik seperti bangunan rumah tinggal maupun pola bermukimnya akan tetapi kelompok masyarakat mampu membaur dengan kelompok lain. Perbedaan kelompok permukiman yang signifikan ini memiliki keunikan masing-masing yang memperkaya budaya masyarakat kota secara keseluruhan.

Selain perbedaan RAS, perbedaan tingkat ekonomi dan kesejahteraan juga menimbulkan segregasi spasial kawasan permukiman. Pada kawasan dengan tingkat ekonomi yang berbeda tersebut, maka kesempatan untuk berintegrasi semakin berkurang. (Rosenbaum, 1995; Van Kempen, 2000; Oelofse, 1997) pada kasus studinya masing-masing menyatakan bahwa kebijakan pengaturan perumahan sendiri pada setiap kawasan turut memiliki andil dalam proses terjadinya segregasi. Perubahan kebijakan perumahan mempengaruhi berubahnya kondisi perumahan yang memang sudah bergerak dinamis. Metoda yang digunakan pada pernelitian-penelitian semacam ini adalah dengan menelusuri dan mencari karakter spasial yang berbeda secara signifikan dengan permukiman lain di sekitarnya. Karakter kawasan yang kuat dan homogen menjadi titik awal penelitian. Berdasarkan hal itu, metoda yang digunakan adalah penelusuran sejarah ataupun analisis multivariat untuk mencari faktor dominan penyebab terjadinya permukiman yang terbentuk terfragmentasi. 1.2 Berbagai bentuk karakter spasial

Pengelompokan ini fokus pada bentuk fisik permukiman baik dalam tutupan lahan maupun bentuk bangunan rumah. Karakter spasial ini ternyata terbentuk dari proses bermukim masyarakatnya dengan pertimbangan menyesuaikan terhadap topografi lahan, tuntutan lingkungan, penyesuaian terhadap kebutuhan hidup, kebijakan pemerintahan dan budaya bermukim masyarakatnya sendiri. Beberapa penelitian menunjukkan, faktor topografi alam dan kebutuhan dasar manusia menjadi salah satu alasan terbentuknya permukiman. (Burger, 1991; Terdsak, 2005) dalam tulisannya mengenai pola permukiman, bahwa kedekatan dengan sumber mata pencaharian dari alam, misalnya pola permukiman yang berdekatan dengan sungai, laut atau hutan sehingga morfologi permukimannya mengikuti bentuk-bentuk alam. Sedangkan (Osada, 2003; Clark 2009), bahwa kota-kota besar pada negara maju memiliki pola sentralisasi maupun desentralisasi. Keberadaan kota-kota exurban disekeliling kota-kota besar merupakan pola yang terjadi akibat pelayanan publik pada suatu kota sehingga pertumbuhan disekelilingnya data bergantung pada kota utama atau tidak. Karakter spasial permukiman juga berkembang mengikuti perubahan yang terjadi secara internal maupun eksternal. (Marsudi, 1999; Kustianingrum, 2005; Al-Naim) menuliskan bahwa berbagai bentuk karakter spasial terbentuk dan tercipta tergantung dari kebutuhan penghunniya. Kebutuhan ekonomi membuat pola permukiman cenderung mengikuti keberadaan infrastruktur dan bukan sebaliknya. Demikian juga penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan masyarakat terhadap unit huniannya yang kemudian mempengaruhi karakter spasisal kawasan secara keseluruhan apabila hal ini cenderung dilakukan pada setiap hunian. Metoda yang dilakukan untuk mengetahui keadaan morfologi kawasan permukiman dari berbagai penelitian ini dilihat berdasarkan tutupan lahannya secara keseluruhan dan maupun melalui transformasi morfologi dengan tingkat hunian, baik dari pengaturan ruangnya maupun dari penambahan dan perubahan bentuk.

Penelusuran bentuk morfologi ini berdasarkan pencarian peta-peta sejarah yang menjelaskan proses pembentukan permukiman. Kebanyakan data yang diperoleh adalah cerita sejarah yang bersumber dari berbagai literatur terkait. Dari berbagai peta yang dibuat dalam kurun waktu tertentu, maka ditemukan pola-pola permukiman yang dilihat berdasarkan tutupan lahan. Peta-peta ini didukung oleh data peta lainnya seperti peta topografi, peta kependudukan maupun peta pembagian kekuasaan pemerintah yang berkuasa. Sedangkan beberapa abstrak menggunakan metoda perekeman erubahan yang terjadi pada unit hunian dengan pengamatan, pengumpulan gambar dan wawancara langsung terhadap nara sumber yang bermukim di rumah maupun daerah yang menjadi kawasan studi. Setiap perubahan yang terjadi pada unit hunian yang diseritakan oleh penghuni kemudian dicatat dan didokumentasikan dalam bentuk gambar.
2.  Evaluasi terhadap perubahan permukiman

Pembentukan sebuah kawasan permukiman maupun perubahan yang terjadi di dalamnya tentu membawa dampak baik maupun buruk. Hal-hal yang terjadi pada permukiman tersebut juga merupakan hal yang disengaja maupun tidak. Penelitian-penelitian ini mengevaluasi dan menginvestigasi keadaan permukiman setelah terjadi perubahan dan hal-hal apa yang terjadi di dalamnya. Transformasi permukiman akibat bencana alam merupakan hal yang terjadi secara langsung dan tanpa perencanaan sebelumnya kecuali daerah bencana telah memiliki mitigasi bencana dengan baik. Bencana alam sebagai salah satu penyebab perubahan permukiman secara cepat, tentu menyebabkan banyak hal-hal destruktif terhadap keadaan fisik dan nonfisik permukiman dan penduduk yang bermukim. Demikian juga dengan tindakan yang dilakukan setelahnya seperti rehabilitasi dan rekonstruksi permukiman pascabencana, yang umumnya dilakukan secara darurat. Studi yang dilakukan oleh (Kaumudi, 2008; Akinci, 2004) berupa evaluasi dan investigasi terhadap penanganan pengadaan permukiman kembali pasca bencana. Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam proses pengadaan dan perbaikan permukiman adalah keterlibatan masyarakat umum, yaitu komunitas lingkungan, kalangan akademisi dan masyarakat umum; kualitas struktur rumah, dan regulasi daerah pesisir agar dapat menuju mitigasi bencana yang lebih efektif dan efisien di lain waktu. Permukiman tidak terencana yang muncul secara spontan dan sporadis memiliki dampak buruk terhadap lingkungan dan periferi permukiman disekitarnya. Penelitian yang dilakukan oleh Zebardast, 2006; Shiferaw, 1998; Heitkamp, 2000) merupakan penelitian yang mengevaluasi bagaimana permukiman yang telah tumbuh dan berkembang terjadi dan hal-hal apa yang selalu menyebabkan terjadinya permukiman tak terencana ini. Umumnya pemukim yang tinggal dilingkungan yang tidak terencana adalah kelompok yang memiliki penghasilan rendah dan tidak mampu membeli atau memperoleh permukiman yag sudah terencana dengan baik sehingga terdesak ke daerah pinggir kota atau ekspansi ke daerah sekitarnya. Hal yang terjadi selanjutnya adalah permukiman yang tumbuh berdampingan dengan permukiman lainnya yang telah memiliki perencanaan sebelumnya. Evaluasi yang dilakukan pada permukiman baru ini adalah bahwa ternyata permukiman ini memiliki tingkat intergrasi yang cukup baik dengan permukiman sebelumnya. Hal ini karena adanya intervensi dari pemerintah terhadap pengaturan permukimannya dan pembangunan infrastruktur yang memadai sehingga permukiman masyarakat baru yang tumbuh secara incremental mampu berinteraksi dengan permukiman lama dan memiliki hubungan yang baik. Kebijakan ini tentu mempengaruhi pertumbuhan permukiman ini menjadi lebih baik dan kemudian menjadi lebih teratur. Kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan permukiman yang tidak berencana dan bagaimana mereka

tumbuh secara sporadis justru difasilitasi dengan baik oleh pemerintah sehingga permukiman ini terintegarasi baik antar unit hunian maupun dengan lingkungan permukiman di luar lingkungannya sendiri. Sedangkan pada kasus lain berupa kegagalan atas ekspansi permukiman secara spontan adalah timbulnya marjinalisasi terhadap kelompok masyarakat miskin yang bermukim di lingkungan ini. Masyarakat berpendapatan rendah yang sudah terdesak dan tidak memiliki pilihan untuk tinggal semakin terpinggirkan karena lemahnya kebijakan dan perencanaan untuk mengantisipasi hal ini. Walaupun masyarakat penghuni ini memiliki keterkaitan dengan masyarakat dalam kota lainnya namun hubungan ini tidak seimbang. Seharusnya kondisi timbulnya permukiman tidak terencana ini tidak dipandang sebagai sebuah masalah melainkan bagaimana hal ini harus difasilitasi dan mendapat intervensi dari pemerintah agar menjadi permukiman yang lebih baik kualitasnya. Metode yang dilakukan dalam penelitian-penelitian pada kelompok ini umumnya adalah mencari faktor-faktor penyebab transformasi dan akibatnya bagi permukiman itu sendiri. Penelitian ini mencari kesimpulan hal yang baik dan buruk terhadap penanganan sebuah permukiman yang terjadi karena tidak terencana sebelumnya dan hal-hal yang dapat diusulkan dalam penanganan dan pembangunan perumahan dan permukiman selanjutnya. 3. Penyebab transformasi permukiman

Perubahan yang terjadi pada sebuah permukiman tidak terjadi begitu saja. Perubahan ini pasti merupakan akibat dari faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya. Faktor-faktor pengaruh ini sangat beragam seperti budaya penerimaan terhadap konsep-konsep baru penataan permukiman, kebijakan pemerintahan dan restrukturisasi ekonomi. Konsep penataan kembali permukiman merupakan tren yang menjadi perhatian kawasan yang memiliki masalah permukiman baik karena untuk perubahan yang lebih baik atau justru menjadi bumerang dalam menghilangkan karakter asli kawasan permukiman. Sedangkan faktor perubahan terhadap kebijakan pemerintahan, ekonomi dan budaya merupakan faktor-faktor utama yang menyebabkan restrukturisasi terhadap faktor penyebab itu sendiri maupun implikasinya terhadap kawasan permukiman yang merupakan manifestasi fisik dari penyebab tersebut. 3.1 Transformasi permukiman oleh urban renewal

Permukiman liar merupakan hal yang kerap terjadi pada daerah perkotaan di negara berkembang. Walapun beberapa kebijakan pemerintahan terkadang menganggap hal ini merupakan masalah dan penyakit sosial dalam sistem perkotaan. Lalu pandangan ini mulai berubah dengan menganggap permukiman ini seharusnya diperbaiki dengan direhabilitasi dan ditingkatkan kualitas lingkungannya. Permukiman liar menjadi sebuah masalah yang seahrusnya mendapat penyelesaian yang berkesinambungan denagn rencana perbaikan dan kemudian dengan transformasi kawasan perkotaan dengan urban redevelopment. Urban redevelopment merupakan upaya utama yang selalu dilakukan pemerintah untuk menghadapi permukiman liar. Usaha yang dilakukan oleh perencana dan pembuat kebijakan adalah mengubah permukiman ini menjadi tempat tinggal yang layak huni dan kualitas lingkungan yang baik. 3.2 Transformasi karena faktor kebijakan pemerintahan, ekonomi dan budaya

Berbagai pengaruh eksternal dan internal pada kawasan permukiman menyebabkan perubahan pada kawasan perumahan dan permukiman. Faktor yang umumnya merupakan penyebab berubahnya kawasan permukiman adalah faktor pemerintahan, ekonomi dan budaya. Untuk faktor pemerintahan

dan budaya, setiap masa pemerintahan terkadang memiliki kebijakan pembangunan yang berbeda dengan pemerintahan sebelum dan sesudahnya. Hal ini tentu menyebabkan perkembangan dan pertumbuhan perumahan dan permukiman menjadi tidak berkesinambungan. Berdasarkan (Applebaum, 1989; Eben Saleh, 2002), perubahan cara pandang para institusi publik atau teknokrat terhadap model permukiman yang baru mengakibatkan perubahan pola permukiman dari yang awalnya tidak terintegrasi menjadi lebih terbuka dan saling ketergantungan. Kemampuan dalam menghadapi perubahan pada kawasan permukiman tentu terkait dengan karakter daerah yang yang bersangkutan. Pemahaman pola-pola baru penataan kawasan permukiman yang awalnya bertujuan untuk permukiman yang lebih baik ternyata mampu mempengaruhi dan menyamarkan karakter khas daerah permukiman. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman dan evaluasi kembali terhadap penerimaan budaya dan kebijakan yang berkaitan dengan penataan kembali perumahan dan permukiman yang coba diadaptasi dari suatu tempat untuk diterapkan di tempat lain. Pengaruh ekonomi merupakan faktor eksternal dan internal penyebab perubahan perumahan dan permukiman. Kebutuhan masyarakat pemukim dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tentu membuat masyarakat mencari alternative lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Industrialisasi, urbanisasi maupun perubahan fungsi lahan merupakan aspek-aspek yang dapat mempengruhi perubahan pada permukiman dan perumahan baik di dalam maupun disekitarnya. Salah satu penyebab perubahan permukiman di daerah agraris adalah perubahan sistem pertanian yang ternyata mampu mengubah kawasan permukiman pedesaan untuk menyesuaikan dengan fragmentasi lahan pertanian. Selain pertanian, industri pariwisata juga mempengaruhi transformasi permukiman pedesaan. Pariwisata merupakan salah satu media dengan kekuatan infiltrasi budaya dari luar maupun ke luar daerah merupakan faktor penting yang dapat mengubah karakter sebuah permukiman apalagi permukiman perdesaan yang masih memiliki gaya hidup tradisional. Akan tetapi untuk menyesuaikan keadaan permukiman terhadap faktor-faktor ini tentu diperlukan perlindungan terhadap keaslian daerah, adaptasi masyarakat pemukimnya terhadap perubahan dan konsolidasi lahan yang menyeimbangkan area komersil dan hunian agar walaupun ditemui berbagai faktor yang faktanya akan datang dan merubah kawasan permukiman akan tetapi tidak menurunkan kualitas hiannya menjadi lebih rendah untuk memenuhi kebutuhan lainnya. 4. Proses transformasi permukiman

Beberapa literatur yang dikumpulkan pada pengelompokan ini merupakan penelitian yang memaparkan tentang proses terjadinya permukiman dan perubahan-perubahan yang terjadi pada hamparan permukiman. Bagian ini dibagi menjadi dua kelompok lagi yaitu yang pertama adalah kelompok jurnal yang memaparkan perubahan fungsi yang terjadi pada suatu kawasan permukiman sebagai proses perubahan itu sendiri sedangkan yang kedua adalah pencatatan dan perekaman proses transformasi hamparan permukiman yang kerap mengalami perubahan yang diamati dalam jangka waktu tertentu. Metoda yang digunakan dalam penelitian dalam pengelompokan ini adalah dengan perekaman transformasi yang dilakukan terhadap hunian maupun skala kawasan berupa data historis dan wawancara maupun pengamatan langsung. Data yang diambil merupakan data tulisan dan banyak yang menggunakan data gambar, seperti perubahan yang dilakukan oleh penghuni terhadap rumahnya maupun peta tutupan lahan. Dari pendataan ini kemudian ditemukan beberapa kali bahwa faktor utama yang melandasi perubahan morfologi permukiman karena adanya perubahan fungsi sehingga masyarakat yang tinggal dalam kawasan itu menyesuaikannya dengan mengubah huniannya mengikuti fungsi baru secara umum. Akan tetapi pada beberapa penelitian yang memiliki pendataan historis kawasan permukiman sehingga penelitian ini lebih cenderung ke arah perekaman proses

transformasi dengan segala penyebab dan akibat yang terjadi padanya yang diamati dalam kurun waktu tertentu. 4.1 Perubahan fungsi yang terjadi pada suatu kawasan permukiman

Transformasi yang terjadi pada sebuah permukiman karena adanya adaptasi terhadap perubahan fungsi permukiman ataupun perubahan fungsi itu sendiri. Beberapa fungsi yang menyebabkan transformasi itu adalah faktor ekonomi, demografi(pertumbuhan populasi dan urbanisasi) maupun fungsi kepariwisataan. Perubahan yang terjadi pada permukiman menyangkut skala hamparan dan atau layout hunian. Faktor ekonomi merupakan faktor yang paling sering menjadi alasan oleh masyarakat untuk melakukan perubahan pada rumahnya. Dalam skala hunian rumah, peneliian yang dilakukan oleh (Takahiro, 2002; Al-Naim, 2007; Nawit, 2005) dijelaskan bahwa tata letak hunian berubah mengikuti kebutuhan ekonomi penghuninya. Awal bangunan hunian yang merupakan tempat tinggal menjadi berfungsi ganda sebagai tempat untuk berdagang atau bahkan berubah fungsi sama sekali. Beberapa ruang rumah dijadikan sebagai etalase toko atau berubah fungsi untuk melayani aktivitas komersil. Hal ini terjadi sedikit demi sedikit dalam perubahan layout rumah dan menyisakan tempat untuk hunian pemilik rumah namun tidak jarang ditemui bahwa unit hunian langsung berubah menjadi toko. Dalam penelitian ini digambarkan perubahan-perubahan yang dilakukan leh masyarakat. Umumnya masyarakan memulai merubah ruang lantai dasar bagian depan yang berhubungan langsung dengan jalan. Lalu kemudian melakukan ekspansi terhadap ruang-ruang lainnya di lantai dasar. Apabila ruang yang ada masih kurang, maka dilakukan ekspansi perubahan fungsi lagi hingga ke lantai dua unuk bangunan dua lantai atau lebih, tergantung jenis usaha yang mereka buka. Sedangkan untuk skala hamparan permukiman, akibat kawasan permukiman sekaligus digunakan sebagai tempat untuk mata pencaharian, maka morfologi kawasan berubah mengikuti infrastruktur. Untuk masyarakat yang bermata pencharian dari sungai misalnya, maka awalnya kawasan hunian memiliki pola sejajar mengikuti alur sungai. Akan tetapi akibat penambahan jalan atau peningkatan transportasi, maka mata pencaharian juga berubah tidak hanya mengandalkan sungai sehinga pola permukiman perlahan berubah mengikti jalan. Demikian juga dengan adanya perluasan kota di dekat kawasan permukiman yang menjadikan arus sirkulasi dan transportasi pada permukiman itu meningkat sehingga masyarakat melihat hal ini sebagai kesempatan untuk menggunakan huniannya dan kawasan perumahannya sebagai tempat yang mampu berkembang mengikuti arus ekonomi (Adriana, 2008; Fahruddin, 2002; Banski, 2009). 4.2 Perekaman proses transformasi dari masa ke masa

Penelitian ini merekam berbagai perubahan yang terjadi pada kawasan studi dalam kurun waktu tertentu. Dari pendataan pada penelitian transformasi permukiman ini ditemukan bahwa ada berbagai pengaruh yang terjadi terhadap perubahan morfologi permukiman. Berbeda dengan penelitian lainnya, pada penlitian di kelompok ini tidak bertujuan secara eksplisit untuk menemukan penyebab atau dampak yang terjadi akibat proses transformasi. Dalam proses penelitian ditemukan bahwa terjadi beberapa hal yang signifikan dalam beberapa periode transformasi. Pengamatan yang dilakukan pada jangka waktu tertentu menemukan bahwa penggantian kekuasaan pemerintahan yang menjabat pada kawasan tersebut ternyata dapat mempengaruhi kebijakan ekonomi dan politik sehingga berimplikasi pada pembangunan permukiman. Hal ini merupakan hal yang sering di temui pada beberapa tulisan (Adiyanto, 2006; Adriana, 2008; Naohiko, 2002) yang menyebutkan bahwa pemerintah yang menjabat pada masa tersebut baik pada masa penjajahan, kesultanan maupun pemerintahan daerah

ternyata berperan sebagai faktor dominan terhadap perubahan morfologi kawasan. Selain itu masyarakat juga mengikuti perkembangan kawasan baik secara fisik maupun nonfisik baik secara spontan maupun perlahan-lahan. 5. Dampak transformasi permukiman

Akibat transformasi permukiman maka hal yang terjadi secara nyata yang terjadi pada fisik permukiman adalah adalah terjadi perubahan tata letak perumahan dan kondisi spasial, adaptasi lingkungan hidup dan juga terhadap pembangunan perkotaan secara keseluruhan. Sedangkan dampaknya terhadap hal non-fisik adalah perubahan gaya hidup masyarakat karena perubahan fungsi permukiman seperti kebutuhan akan privasi bertambah atau pun pola pikir masyarakat yang ingin kembali tinggal di daerah rural atau ex-urban daripada daerah urban yang sudah terlalu padat dan sesak. Pada penelitian ini dilakukan metoda regresi yang mencari sebab akibat transformasi perumahan dan permukiman pada suatu kawasan. Berbagai hal yang dianalisa sebagai dampak terjadinya transformasi dikaitkan dengan penyebabnya. 5.1 Perubahan kondisi spasial

Hal yang secara jelas terlihat pada transformasi permukiman adalah bentuk spasial kawasan ataupun hunian yang berubah. Perubahan kondisi spasial ini berlangsung baik secara spontan mauun perlahan. Pada transformasi yang terjadi pasca bencana alam, umumnya pembangunan kembali kawasan perumahan mulai dari awal sedangkan pada transformasi yang terjadi akibat kebijakan publik, maka transformasi yang terjadi lebih perlahan dan menyesuaikan dengan kebijakan yang baru. Dampak transformasi permukiman yang dialami oleh sebuah kawasan ternyata dapat mempengaruhi kawasan lainnya (Banski,2009; Long, 2009). Hal ini terjadi karena adanya ktergantungan fungsi yang ada pada suatu kawasan permukiman sehingga apabila senuah kawasan berkembang pesat maka kawasan di sekitarnya akan ikut menyesuaikan atau menjadi kawasan pendukung. Pada tingkat hunian, transformasi yang terjadi terhadap kamparan maka berpengaruh juga terhadap sistem hunian, baik dari layout ruangan hingga struktur spasial kawasan setingkat desa. Salah satu contohnya adalah fokus pembangunan perumahan pada suatu kawasan berimplikasi pada kawasan lain yang mengutamakan pertanian. Kontruksi bangunan yang baru yang diadaptasi di salah satu kawasan menjadi menjamur dan akhirnya menggeser fungsi lain yaitu permukiman yang didominasi oleh lahan pertanian. 5.2 Perubahan gaya hidup masyarakat

Dampak transformasi perumahan ternyata juga berimplikasi terhadap perubahan gaya hidup masyarakat penghuninya. Transformasi spasial yang terjadi pada penelitian (Crump, 2003; Takahiro, 2002, Aben Saleh, 2002) menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat dalam beradaptasi dengan kondisi spasial tersebut. Perubahan pada tingkat hunian menyebabkan berubahnya batas publik dan privasi penghuni rumah juga berubah. Sedangkan perubahan yang terjadi pada tingkat kawasan, menyebabkan masyarakat juga beradaptasi terhadap gaya hidupnya dalam berinterasi dengan orang lain dan ada juga merubah pola pikir bahwa daripada ikut memadati daerah perkotaan maka lebih baik menghuni daerah exurban dengan kualitas lngkungan yang lebih nyaman. Resistensi masyarakat terhadap perubahan sangat beragam.

Daftar pustaka

Adiyanto, Johannes. 2006. Kampung Kapitan Interpretasi Jejak Perkembangan Permukiman dan Elemen Arsitektural Dimensi Teknik Arsitektur vol. 34. no. 1 (pp. 13-18) Akinci, Ferah. 2004. The aftermath of disaster in urban areas: An evaluation of the 1999 earthquake in Turkey. Cities. Vol. 21. Issue 6 (pp. 527-536) Al-Naim, Mashary and Shihabuddin. 2007. Transformation of traditional dwellings and income generation by low-income expatriates: The case of Hofuf, Saudi Arabia. Cities. Vol. 24. Issue 6 (pp. 422-43) Applebaum, Levia, et al. Institutions and settlers as reluctant partners: Changing power relations and the development of new settlement patterns in Israel. Journal of Rural Studies, vol 5:99-109 Bański, Jerzy and Monika Wesołowska. 2009. Transformations in housing construction in rural areas of Poland's Lublin region—Influence on the spatial settlement structure and landscape aesthetics. Landscape and Urban Planning. Burger, Joanna and Michael Gochfeld. 1991. The Effect of Microhabitat on Inuit Habitat Selection in Nome, Alaska. Environment and Behavior. Vol. 23. No. 6 (pp. 680-703) Clark, Jill K. et al. 2009. Spatial characteristics of exurban settlement pattern in the United States. Landscape and Urban Planning. Vol. 90. Issues 3-4 (pp.178-188) Fahruddin. 2002. Transformasi tatanan permukiman sebagai akibat pembangunan ekonomi di Pasuruan, Studi kasus : Permukiman orang Cina ( Pecinan) di Kotamadya Pasuruan Jawa Timur. Thesis Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS. Heitkamp, Thorsten. 2000. The integration of unplanned towns in the periphery of Madrid: the case of Fuenlabrada. Habitat International. Vol. 24. Issue 2 (pp 213-220) K’Akumu, O.A. and W.H.A. Olima. 2007. The dynamics and implications of residential segregation in Nairobi. Habitat International. Vol 31 (pp 87-99) Kaumudi, Weerasinghe Woharika and Shigemura Tsutomu. 2008. A Study on Transformation of Living Environment and Domestic Spatial Arrangements : Focused on a Western Coastal Housing Settlement of Sri Lanka after Sumatra Earthquake and Tsunami 2004(Architectural/Urban Planning and Design). Journal of Asian architecture and building engineering. Vol. 7(2) (pp.285-292) Kustianingrum, Dwi. 2005. Kajian Tatanan Spasial Permukiman Tak Terencana di Kota Bandung. Tesis Master, Program Studi Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Bandung. Long, Hualou. 2009. Spatio-temporal dynamic patterns of farmland and rural settlements in Su–Xi– Chang region: Implications for building a new countryside in coastal China. Land Use Policy. Vol. 26. Issue 2 (pp. 322-333) Marlia Adriana. 2008. Transformasi Morfologi Permukiman di Tepian Sungai Martapura. Thesis Magister Arsitektur, ITB. Maryudi, R. Sanny. 2005. Transformasi Morfologi Rumah dan Lingkungan Kawasan Gempol Bandung. Tesis Master, Program Studi Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Bandung.

Naohiko, Yamamoko and Shiuji Funo. 2002. The Development and the Transformation Process of the former walled town of Surabaya, East Java. Journal of Architecture, Planning and Environmental Engineering. No. 558 (pp.235-241) Nawit, Ongsavangchai and Funo Shoji. 2005. Spatial Formation and Transformation of Shophouse in the old Chinese Quarter of Patani, Thailand. Journal of Architecture and Planning. No.598 (pp.1-9) Oelofse, Catherine and Belinda Dodson. 1997. Community, place and transformation: A perceptual analysis of residents' responses to an informal settlement in Hout Bay, South Africa. Geoforum. Vol 28. Issue 1 (pp. 91-101) Osada, Susumu. 2003. The Japanese urban system 1970–1990. Progress in Planning, Vol. 59,.Issue 3. (pp. 125-231) Rosenbaum, Emily. 1995. The making of a ghetto: Spatially concentrated poverty in New York City in the 1980s. Population Research and Policy Review. Vol 14. No. 1 Saleh, Mohammed Abdullah Eben. 2002. The transformation of residential neighborhood: the emergence of new urbanism in Saudi Arabian culture. Building and Environment. Vol. 37. Issue 5 (pp. 515-529) Shiferaw, Demissachew. 1998. Self-initiated transformations of public-provided dwellings in Addis Ababa, Ethiopia. Cities. Vol. 15. Issue 6 (pp. 437-448) T. L. Flores and Miyazaki K. 1999. Interior Spatial Composition of Vernacular Dwellings Caused by Historical Change in the Philippines. (3). Interior Spaces Defined by Transformation of Site and Settlement. Bulletin of Japanese Society for Science of Design. No. 132 (pp. 75-84) Takahiro, Arai and Akira Soshirod2002. A Study on the Space Transformation of the Traditional Rural Settlement and the Influence to Lifestyles of Inhabitants as the Development Process of the Tourist Destination in Gokayama, Toyama Pref. Papers on City Planning, No. 37 (pp.949-954) Terdsak, Tachakitkachorn and Shigemura Tsutomu. 2005. Morphology of the Agriculture-based Deltaic Settlement in the Western Basin of the Chaophraya Delta(Architectural/Urban Planning and Design). Journal of Asian architecture and building engineering .Vol. 4(2) (pp.361-368) Van Kempen R., Schutjens V. A.J.M. and Van Weesep J. 2000. Housing and Social Fragmentation in the Netherlands. Housing Studies. Vol 15. No. 4(pp. 505-531) Zebardast, Esfandiar. 2006. Marginalization of the urban poor and the expansion of the spontaneous settlements on the Tehran metropolitan fringe. Cities. Vol. 23. Issue 6 (Pp. 439-454)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful