You are on page 1of 10

MAKALAH TEKNIK LOBBY DAN NEGOSIASI

LAPORAN PEMERINTAH INDONESIA TERJEBAK


NEGOSIASI DENGAN PT. FREEPORT

Disusun Oleh : Ilham Purnama //14600104

UNIVERSITAS TAMA JAGAKARSA


Jl. LetjenT.B.Simatupang No. 152 Tanjung Barat, Jakarta
Selatan 12530
TAHUN PELAJARAN 2016

KATA PENGANTAR
Sebelumnya, kami panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT karena dengan izin-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas ini. Setelah itu kami ucapkan terimakasih kepada orang tua
kami yang telah memberi dukungan moril dan materil kepada kami, serta kepada Bapak Drs.
Marzuki. M.si selaku dosen Teknik Lobby dan Negosiasi dan tidak lupa kepada semua pihak
yang telah membantu kami demi menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga kami mengharapkan saran dan kritik
dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi para pembacanya.

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Latar belakang dibuatnya laporan ini, yaitu untuk mengenal lebih jauh tentang kasuskasus negosiasi dan memperluas pengetahuan tentang negosiasi. Dan yang paling utama adalah
untuk memenuhi tugas Teknik Lobby dan Negosiasi.
Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Siapa yang bernegosiasi dalam kasus ini?


Mengapa pemerintah dinilai terjebak dalam negosiasi dengan PT Freeport?
Bagaimana kronologi negosiasi ini?
Apa tanggapan mengenai negosiasi ini?

BAB II
PEMBAHASAN
Kasus negosiasi yang kami ambil untuk laporan kali ini adalah kasus yang baru-baru ini
sedang hangat diperbincangkan yaitu kasus negosiasi kontrak PT Freeport dengan pemerintah
Indonesia. Berikut adalah salah satu artikel tentang kasus ini.
Pemerintah Dinilai Terjebak dalam Negosiasi Kontrak Freeport
Pemerintah dinilai telah melupakan masalah strategis terkait dengan kontrak PT Freeport
Indonesia yang akan segera berakhir. Selama ini, pemerintah terlalu asyik memperkarakan
pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Padahal, itu hanya sekelumit bagian
dari amandemen kontrak.
Demikian pandangan yang disampaikan oleh Ketua Working Group Kebijakan
Pertambangan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Budi Santoso. Budi
mengingatkan, hal penting yang seharusnya menjadi fokus utama pemerintah saat ini adalah
masalah perpanjangan. Pasalnya, hal ini terkait dengan manfaat yang didapat bangsa Indonesia
atas keberadaan Freeport selama ini.
"Langkah pemerintah memperpanjang negosiasi amendemen kontrak dengan Freeport
menunjukan pemerintah terjebak pada substansi kontrak karya," kata Budi di Jakarta, Kamis
(5/2).
Lebih lanjut ia menyampaikan, keputusan terkait dengan perpanjangan kontrak harus
diambil berdasarkan pertimbangan kepentingan bangsa. Ia menengarai, pada akhir kontrak di
2021 nanti perusahaan asal Amerika Serikat itu tidak akan lagi mengenal kontrak karya, tapi izin
pertambangan khusus.
Sementara itu, berdasarkan pengamatannya, Budi menilai bahwa keberadaan Freeport
selama ini tidak memberi manfaat ekonomi yang lebih besar. Padahal, seharusnya dengan
sumber daya alam Indonesia yang sangat banyak dimanfaatkan oleh Freeport, peusahaan itu
mampu membawa dampak besar. Freeport, kata dia, sudah semestinya memberikan multiplier
effect yang lebih besar, bukan hanya sekadar memberikan kontribusi pada pemerintah.
Menurut Budi, pemerintah seharusnya mempertimbangkan kemampuan mengelola
sumber daya alam sendiri. Dia berpendapat, kontribusi Freeport terhadap negara perlu
ditingkatkan untuk memperbaiki pendapatan asli daerah (PAD).
"Manfaat ekonomi harus dilihat dari value chain. Industri yang harus dibangun, sehingga
kegiatan ekonomi nasional terlibat. Ini memang harus merubah paradigma pemerintah yang
hanya fokus pada pendapatan pemerintah menjadi economic booster," tutur Budi.

Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah agar lebih banyak menyiapkan strategi
bagaimana manfaat ekonomi lebih besar bagi bangsa ini. Dirinya dengan tegas meminta
pemerintah tidak lengah terhadap masalah utama Freeport. Bukan hanya mempermasalahkan
perkara yang menjadi puncak gunung es.
Jadi, pemerintah jangal lah lagi merengek-rengek tentang smelter," ungkapnya.
Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said
menegaskan, pihaknya akan tetap terus mendesak PT Freeport Indonesia untuk membangun
smelter di Papua. Pasalnya, pembangunan smelter ini merupakan mandat UU No.4 Tahun 2009.
Karena itu, ia mengatakan bahwa pembangunan smelter di Papua sudah tidak bisa ditawar-tawar
lagi oleh Freeport Indonesia.
"Tidak ada tawar-menawar soal smelter dan harus segera dibangun. Saya pikir itu akan
disambut baik oleh Freeport, tandasnya.
Terkait dengan pembangunan smelter itu, Sudirman mengatakan bahwa pemerintah telah
memberikan beberapa pilihan kepada Freeport. Ia menekankan bahwa yang terpenting adalah
realisasi pembangunan smelter. Namun, Sudirman tetap mendorong agar Freeport membangun
smelter di Papua.
Sebagaimana diketahui, Freeport kemudian menunjuk lokasi pembangunan smelter di
Gresik. Sudirman pun mengaku bahwa pemerintah tidak memberikan opsi apapun soal
pembangunan smelter di dua lokasi antara Gresik dan Papua. Hal ini juga berkaitan dengan
keekonomian dan investasi.
Kita akan terus dorong dan cari cara agar Freeport bangun smelter di Papua," paparnya.
Direktur Pembinaan Program Minerba Kementerian ESDM, Sujatmiko, mengatakan
bahwa secara geografis masih dimungkinkan pembangunan smelter Papua. Hal ini menurutnya
bisa menguntungkan Freeport juga karena dekat kawasan pabrik konsentrat mereka. Selain itu,
Freeport juga bisa melakukan perluasan di pelabuhan.
Tinggal listrik saja yang harus dipantau lagi. Apakah persediaan mereka sekarang cukup
atau tidak, katanya.

Penyimpangan yang dilakukan PT Freeport Indonesia


Beberapa penyimpangan yang dilakukan PT Freeport Indonesia sehingga pemerintah
dinilai terjebak dalam perpanjangan kontrak ini diantaranya :
1.

Mengacu pada UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara yang
mengamanatkan pemerintah Indonesia untuk melakukuan renegosiasi kontrak seluruh
perusahaan tambang asing yang ada di negeri ini. Berdasarkan data Kementrian

ESDM, sebanyak 65 persen perusahaan tambang sudah berprinsip setuju membahas


ulang kontrak yang sudah diteken. Akan tetapi sebanyak 35 persen dari total
perusahaan tersebut masih dalam tahap renegosiasi, salah satunya adalah pengelola
tambang emas terbesar di dunia yaitu Freeport. Hal ini mengindikasikan bahwa pihak
Freeport enggan untuk patuh kepada UU yang berlaku. Dari sini terlihat bahwa kasus
Freeport ini tidak hanya merugikan negara triliunan rupiah akan tetapi juga
menginjak-injak kedaulatan Republik ini dengan tidak mau patuh terhadap UU yang
berlaku.
2.

Salah seorang pengamat Hankam yang sudah senior, Bapak Soeripto, menyatakan
bahwa PT Freeport telah memberikan sejumlah dana kepada aparat keamanan
TNI/POLRI dalam rangka menjaga keamanan Freeport di atas tanah Papua. Hal ini
jelas menentang UU karena menurut UU pembiayaan aparat keamanan untuk
perlidungan objek vital nasional harus bersumber dari APBN bukan dari perusahaan
asing. Akibatnya banyak putra daerah Papua yang merasa asing di rumah mereka
sendiri. Dari sini terkesan bahwa aparat keamanan justru lebih membela kepentingan
asing daripada kepentingan bangsanya sendiri. Padahal mereka harusnya menindak
Freeport yang notabene telah merusak lingkungan dengan membuat lubang tambang
di Grasberg dengan diameter lubang 2,4 kilometer pada daerah seluas 499 ha dengan
kedalaman mencapai 800 m2 . Dampak lingkungan yang Freeport berikan sangat
signifikan, yaitu rusaknya bentang alam pegunngan Grasberg dan Ersbeg. Kerusakan
lingkungan telah mengubah bentang alam seluas 166 km2 di daerah aliran sungai
Ajkwa.

3.

PT Freeport McMoran Indonensia pun telah berlaku semena-mena kepada karyawan


Freeport Indonesia yang kebanyakan adalah orang asli Indonesia. Menurut pengakuan
Bapak Tri Puspita selaku Sekretaris Hubungan Industri Serikat Pekerja Freeport
Indonesia, Freeport bersifat eksklusif sehingga akses untuk ke rumah sakit ataupun
mess pun juga sulit. Lebih jauh lagi, standart yang dimiliki pekerja Freeport dari
Indonesia sama dengan seluruh karyawan Freeport yang ada di seluruh dunia akan
tetapi gaji yang diterima oleh pekerja dari Indonesia hanya separuhnya. Menariknya
lagi, menurut laporan dari Investor Daily tanggal 10 Agustus 2009, dikatakan bahwa
pendapatan utama PT Freeport McMoran adalah dari operasi tambabangnya yang ada
di Indonesia, yaitu sekitar 60%.

Kronologi Perundingan Pemerintah dan PT Freeport Indonesia


19 Desember 2012. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM
mengundang PT Freeport Indonesia untuk membahas 6 isu strategis renegosiasi amandemen
kontrak karya (luas wilayah, kelanjutan operasi, penerimaam negara, divestasi, pengolahan
pemurnian, dan penggunaan barang, jasa serta tenaga kerja dalam negeri).

25 Juli 2014. Memorandum of Understanding (MoU) renegosiasi amandemen kontrak


karya antara PT Freeport Indonesia dengan pemerintah ditandatangani, wilayah kontrak karya
(WKK) disepakati 90.360 hektare dan projek area 36,640 hektare, divestasi 30 persen, pajak
badan nailed down, Penerimaan Negara Bukan Pajak dan Pajak lainnya prevailing sampai
dengan tahun 2021, kelanjutan operasi pertambangan dalam bentuk Izin Usaha Pertambangan
Khusus (IUPK), pengolahan dan pemurnian akan dilaksanakan di dalam negeri dengan
mewujudkan suatu fasilitas pemurnian tembaga tambahan di Indonesia dengan mengutamakan
penggunaan tenaga kerja, barang, dan jasa dalam negeri.
23 Desember 2014. Pemerintah dan PT Freeport Indonesia, dengan melibatkan
pemerintah daerah (kepala dinas Energi dan Sumber Daya Mineral), melakukan rapat membahas
perkembangan naskah amandemen kontrak karya PT Freeport Indonesia.
23 Januari 2015. Pemerintah dan PT Freeport Indonesia memperpanjang MoU
renegosiasi amandemen kontrak karya untuk memberikan kesempatan kepada para pihak untuk
menyepakati amandemen kontrak karya.
9 Juli 2015. Surat PT Freeport Indonesia mengenai Permohonan Perpanjangan Operasi.
31 Agustus 2015. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara mengirimkan teguran keras
kepada PT Freeport Indonesia atas ketidaktaatan PT Freeport Indonesia dalam menyelesaikan
amandemen kontrak karya dan ketidakpatuhan dalam menjalankan amanat UU Minerba.
11 September 2015. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menanggapi surat
PT Freeport Indonesia atas Permohonan Perpanjangan Operasi.
7 Oktober 2015. PT Freeport Indonesia mengirimkan surat ke Menteri ESDM terkait
Permohonan Perpanjangan Operasi.
7 Oktober 2015. Menteri ESDM mengirimkan surat kepada PT Freeport Indonesia yang
menyatakan bahwa PT Freeport Indonesia dapat terus melakukan kegiatan operasinya hingga 30
Desember 2021 dan PT Freeport Indonesia berkomitmen untuk melakukan investasi dan
meneruskan renegosiasi untuk menyesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang ada.

Dampak dari perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia


Kerugian :
1. Pengendalian usaha tambang masih di pihak asing
2. Terjadinya pencatatan investasi yang tidak transparan
3. Pengutamaan barang dan jasa dalam negeri"Kerugiannya itu pengendalian usaha
tambang masih dipihak asing, sehingga operasional dikuasai oleh pihak asing dan
dapat mempengaruhi aspek lain seperti keamanan dan sosial, kemudian
dimungkinkan terjadinya pencatatan investasi dan pembiayaan lainnya yang tidak

transparan dan tidak terkontrol dengan baik, pengutamaan barang dan jasa dalam
negeri masih kurang diperhatikan oleh Freeport, hal ini tidak sejalan dengan Kontrak
Karya Pasal 24 tentang Nawacita," jelas Bambang.
Keuntungan :
1. Masih terdapat potensi keuntungan dari belanja negara, investasi, tidak terjadi PHK
pada ribuan orang.
2. Multiplier effect
3. Perekonomian dan pembangunan daerah berlanjut
4. Peningkatan keahlian TKI"Apabila KK ini dilanjutkan, pemerintah masih akan dapat
keuntungan yaitu belanja barang dalam negeri sebesar US$ 1,2 M/tahun, Investasi
sebesar US$ 1,4 M/tahun, 22.732 orang tidak di PHK, kegiatan operasi dan produksi
berjalan sesuai peraturan, pengembangan usaha setempat bisa dilakukan, siklus
perekonomian dan pembangunan daerah dapat dilakukan secara berkelanjutan, alih
teknologi dapat dioptimalkan, dan peningkatan keahlian tenaga kerja Indonesia
melalui program Indonesianisasi," rinci Bambang.

Tanggapan
Menurut pandangan saya, kasus ini tergolong kasus yang sangat mengundang pro dan
kontra, karena apabila kita mendukung Freeport terus memperpanjang kontrak, dapat dipastikan
mereka mendapatkan keuntungan yang sangat-sangat besar, sedangkan Rakyat Indonesia
khususnya Rakyat Papua selaku pemilik daerah tersebut,hanya mendapatkan limbahnya saja,
padahal mereka hidup diatas tanah yang kaya akan bahan tambang khususnya emas.
Memang kontrak tersebut memberikan asupan yang cukup besar bagi perekonomian
Indonesia, tapi itu hanya sekian persen saja dari keuntungan yang Freeport dapatkan, serta
melihat dari perilaku PT. Freeport yang sering melakukan penyimpangan-penyimpangan seperti
yang sudah dijelaskan, pemerintah seharusnya berfikir dua kali, karena mungkin saja masih
banyak penyimpangan lain yang tidak diketahui oleh pemerintah.
Dan kita juga melihat bahwa PT. Freeport sangat gencar dalam perpanjangan kontrak,itu
karena mereka semakin melihat peluang yang besar dari pertambangan di Papua tersebut.
Menurut saya, sebaiknya pemerintah tidak perlu memperpanjang lagi kontrak bersama
PT.Freeport, karena sebenarnya lebih banyak kerugian daripada keuntungan, dan juga apabila
pertambangan emas tersebut dikelola oleh pemerintah Indonesia, sudah dipastikan masa depan
perekonomian Indonesia semakin cerah. Benar adanya bahwa tenaga kerja Indonesia tak kalah
bersaing, tapi alat alat untuk mengolah pertambangan tersebutlah yang mahal. Kalaupun itu
masalahnya, menurut saya pemerintah masih bisa memanfaatkan waktu yang ada sebelum
kontrak tersebut habis untuk mengumpulkan anggaran, dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang
mustahil, karena pemerintah Indonesia sebaiknya mengurangi anggaran para wakil rakyat yang
duduk di kursi panas yang dirasa kurang banyak manfaatnya, seperti kunjungan ke luar negeri
tetapi kenyataannya digunakan sebagai ajang piknik, dan juga harus memperbaiki kasus korupsi
yang tiada hentinya.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt54d3634de5e5d/pemerintah-dinilai-terjebakdalam-negosiasi-kontrak-freeport
http://km.itb.ac.id/site/kasus-freeport-bagaimana-nasib-papua/
http://www.rappler.com/indonesia/109077-kronologi-negosiasi-perpanjangan-kontrakfreeport-indonesia
http://m.detik.com/finance/read/2016/01/21/174644/3124095/1034/ini-dia-untungruginya-kontrak-freeport-diperpanjang