You are on page 1of 8

Laporan Praktikum Indera Peraba

1. Identitas Subjek
a. Nama : Sulistyani
b. Umur : 20 tahun
2. Teori
Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit, dan
tekanan.
a. Susunan Kulit.
Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan dermis. Pada epidermis
tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf. Epidermis tersusun atas empat lapis sel. Dari bagian dalam ke
bagian luar, pertama adalah stratum germinativum berfungsi membentuk lapisan di sebelah atasnya. Kedua,
yaitu di sebelah luar lapisan germinativum terdapat stratum granulosum yang berisi sedikit keratin yang
menyebabkan kulit menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel dari lapisan granulosum umumnya
menghasilkan pigmen hitam (melanin). Kandungan melanin menentukan derajat warna kulit, kehitaman,
atau kecoklatan. Lapisan ketiga merupakan lapisan yang transparan disebut stratum lusidum dan lapisan
keempat (lapisan terluar) adalah lapisan tanduk disebut stratum korneum. Penyusun utama dari bagian
dermis adalah jaringan penyokong yang terdiri dari serat yang berwarna putih dan serat yang berwarna
kuning. Serat kuning bersifat elastis/lentur, sehingga kulit dapat mengembang. Stratum germinativum
mengadakan pertumbuhan ke daerah dermis membentuk kelenjar keringat dan akar rambut. Akar rambut
berhubungan dengan pembuluh darah yang membawakan makanan dan oksigen, selain itu juga berhubungan
dengan serabut saraf. Pada setiap pangkal akar rambut melekat otot penggerak rambut. Pada waktu dingin
atau merasa takut, otot rambut mengerut dan rambut menjadi tegak. Di sebelah dalam dermis terdapat
timbunan lemak yang berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi bagian dalam tubuh dari kerusakan
mekanik.
b. Fungsi Kulit.
Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba dengan
dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan; sebagai alat ekskresi; serta pengatur
suhu tubuh. Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat peraba, kulit dilengkapi dengan reseptor-reseptor
khusus. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. Reseptor untuk tekanan,
ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas, ujung
reseptornya terletak di dekat epidermis. Indra peraba merupakan indera yang sederhana, umumnya tersebar
pada kulit mamalia dan sedikit sekali pada vertebrata rendah. Kepekaan peraba pada manusia sangat besar,
terutama di ujung jari dan bibir.
c. Klasifikasi reseptor antara lain:
Berdasarkan tipe energi khusus atau kepekaan terhadap modalitas tertentu:
Termoreseptor (peka terhadap perubahan suhu).
Mekanoreseptor (peka terhadap sentuhan dan tekanan).
Kemoreseptor (peka terhadap perubahan kimiawi).
Osmoreseptor (peka terhadap perubahan tekanan osmotik).
Berdasarkan sumber rangsangan:

Ekteroreseptor, terletak pada permukaan tubuh dan berespons terhadap rangsangan eksterna atau luar.
Proprioreseptor, berespons terhadap perubahan posisi dan pergerakan terutama berhubungan dengan sistem
muskuloskeletal.
Interoreseptor, terletak pada visera/ alat dalam dan pembuluh darah.
Berdasarkan morfologi:
Badan terakhir yang bebas/ terbuka (tanpa kapsul) yang tak berhubungan dengan tipe sel lainnya.
Badan akhir yang berkapsul (korpuskular) yang mengandung unsur bukan saraf di samping saraf badan akhir
saraf.
d. Reseptor-reseptor yang terletak di alat indera peraba antara lain:
i.
Ujung Saraf Bebas: Serat saraf sensorik aferen berakhir sebagai ujung akhir saraf bebas
pada banyak jaringan tubuh dan merupakan reseptor sensorik utama dalam kulit. Serat akhir saraf bebas ini
merupakan serat saraf yang tak bermielin, atau serat saraf bermielin berdiameter kecil, yang semua telah
kehilangan pembungkusnya sebelum berakhir, dilanjutkan serat saraf terbuka yang berjalan di antara sel
epidermis. Sebuah serat saraf seringkali bercabang-cabang banyak dan mungkin berjalan ke permukaan,
sehingga hampir mencapai stratum korneum. Serat yang berbeda mungkin menerima perasaan raba, nyeri
dan suhu. Sehubungan dengan folikel rambut, banyak cabang serat saraf yang berjalan longitudinal dan
melingkari folikel rambut dalam dermis. Beberapa saraf berhubungan dengan jaringan epitel khusus. Pada
epidermis berhubungan dengan sel folikel rambut dan mukosa oral, akhir saraf membentuk badan akhir
seperti lempengan (diskus atau korpuskel merkel). Badan ini merupakan sel yang berwarna gelap dengan
banyak juluran sitoplasma. Seperti mekanoreseptor badan ini mendeteksi pergerakan antara keratinosit dan
kemungkinan juga gerakan epidermis sehubungan dengan jaringan ikat di bawahnya. Telah dibuktikan
bahwa beberapa diskus merkel merespon rangsangan getaran dan juga resepor terhadap dingin.
ii.
Korpuskulus Peraba (Meissner): Korpuskulus peraba (Meissner) terletak pada papila
dermis, khususnya pada ujung jari, bibir, puting dan genetalia. Bentuknya silindris, sumbu panjangnya tagak
lurus permukaan kulit dan berukuran sekitar 80 mikron dan lebarnya sekitar 40 mikron. Sebuah kapsul
jaringan ikat tipis menyatu dengan perinerium saraf yang menyuplai setiap korpuskel. Pada bagian tengah
korpuskel terdapat setumpuk sel gepeng yang tersusun transversal. Beberapa sel saraf menyuplai setiap
korpuskel dan serat saraf ini mempunyai banyak cabang mulai dari yang mengandung mielin maupun yang
tak mangandung mielin. Korpuskulus ini peka terhadap sentuhan dan memungkinkan diskriminasi/
pembedaan dua titik (mampu membedakan rangsang dua titik yang letaknya berdekatan).
iii.
Korpuskulus Berlamel (Vater Pacini): Korpuskulus berlamel (vater pacini) ditemukan di
jaringan subkutan pada telapak tangan, telapak kaki, jari, puting, periosteum, mesenterium, tendo, ligamen
dan genetalia eksterna. Bentuknya bundar atau lonjong, dan besar (panjang 2 mm, dan diameter 0,5 1
mm). Bentuk yang paling besar dapat dilihat dengan mata telanjang, karena bentuknya mirip bawang. Setiap
korpuskulus disuplai oleh sebuah serat bermielin yang besar dan juga telah kehilangan sarung sel schwannya
pada tepi korpuskulus. Akson saraf banyak mengandung mitokondria. Akson ini dikelilingi oleh 60 lamela
yang tersusun rapat (terdiri dari sel gepeng). Sel gepeng ini tersusun bilateral dengan dua alur longitudinal
pada sisinya. Korpuskulus ini berfungsi untuk menerima rangsangan tekanan yang dalam.
iv.
Korpuskulus Gelembung (Krause): Korpuskulus gelembung (krause) ditemukan di daerah
mukokutis (bibir dan genetalia eksterna), pada dermis dan berhubungan dengan rambut. Korpuskel ini

berbentuk bundar (sferis) dengan diameter sekitar 50 mikron. Mempunyai sebuah kapsula tebal yang
menyatu dengan endoneurium. Di dalam korpuskulus, serat bermielin kehilangan mielin dan cabangnya
tetapi tetap diselubungi dengan sel schwan. Seratnya mungkin bercabang atau berjalan spiral dan berakhir
sebagai akhir saraf yang menggelembung sebagai gada. Korpuskel ini jumlahnya semakin berkurang dengan
bertambahnya usia. Korpuskel ini berguna sebagai mekanoreseptor yang peka terhadap dingin.
v.
Korpuskulus Ruffini: Korpuskulus ini ditemukan pada jaringan ikat termasuk dermis dan
kapsula sendi. Mempunyai sebuah kapsula jaringan ikat tipis yang mengandung ujung akhir saraf yang
menggelembung. Korpuskulus ini merupakan mekanoreseptor, karena mirip dengan organ tendo golgi.
Korpuskulus ini terdiri dari berkas kecil serat tendo (fasikuli intrafusal) yang terbungkus dalam kapsula
berlamela. Akhir saraf tak bermielin yang bebas, bercabang disekitar berkas tendonya. Korpuskulus ini
terangsang oleh regangan atau kontraksi otot yang bersangkutan juga untuk menerima rangsangan panas.
vi.
Spindel Neuromuskular.
3. Alat dan Bahan
Baskom plastic, air biasa, air panas, dan es batu.
4. Jalan Percobaan
Asisten Lab. menyediakan 3 baskom yang berisikan:
Kiri : panas
Tengah : biasa
Kanan : dingin
a. Subjek diberikan instruksi untuk memasukkan tangan kiri kedalam baskom yang berisi air hangat dan
tangan kanan kebaskom yang berisi air dingin.
b. Lalu kedua tangan dibiarkan selama 10 detik.
c. Kemudian setlah 10 detik secara bersamaan kedua tangan dimasukan ke baskom yang berada ditengah yang
berisi air biasa.
d. Dan subjek diminta merasakan perbedaan antara tangan kanan dan kiri setelah di masukkan ke baskom yang
berisi air biasa.
5. Hasil Percobaan
Setelah percobaan subjek merasakan tangan berubah menjadi netral.
Hasil umum:
Biasanya setelah di masukan kedalam baskom ke air biasa (tengah) tangan kanan akan terasa hangat dan
tangan kiri akan terasa dingin.
Karena pada saat baskom yang berisi baskom biasa ada pengurangan kalor pada tangan kiri (dari hangat
sampai dingin) dan ada penambahan kalor pada tangan kanan (dari dingin sampai hangat).
Kulit berfungsi sebagai thermoreseptor untuk mendeteksi rasa panas yang disebut Ruffinis dan untuk
mendeteksi rasa dingin yang disebut End Krause.
6. Kesimpulan
Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit, dan
tekanan. Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan dermis. Pada

epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf. Epidermis tersusun atas empat lapis sel. Kulit terdiri
dari:
a) Epidermis yaitu bagian terluar.
b) Dermis yaitu kelenjar dan saluran keringat bulbus rambut, polikel rambut, dan akar rambut, kelenjar
sebaeus.
c) Subtacaneous yaitu pembuluh darah syaraf cutaneous dan jaringan otot.
7. Daftar Pustaka
NN. (2000). Indera Peraba. http://free.vlsm.org/. 17 November 2011. 18.02.
LAPORAN PRAKTIKUM INDERA PERABA
Percobaan
Nama Percobaan
Nama Subjek Percobaan
Tempat Percobaan
Tujuan Percobaan
A. Tujuan Percobaan

: Indera Peraba
: Perasaan Pada Kulit
: Nur Ilma, Nurma dan Anna S.
: Ruang Kelas
:
: Untuk membuktikan fungsi persepsi pada kulit.

B. Dasar Teori
:Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk
sentuhan, panas, dingin, sakit, dan tekanan.
Susunan Kulit.
Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan dermis. Pada
epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf. Epidermis tersusun atas empat lapis sel. Dari bagian
dalam ke bagian luar, pertama adalah stratum germinativum berfungsi membentuk lapisan di sebelah
atasnya. Kedua, yaitu di sebelah luar lapisan germinativum terdapat stratum granulosum yang berisi sedikit
keratin yang menyebabkan kulit menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel dari lapisan granulosum
umumnya menghasilkan pigmen hitam (melanin). Kandungan melanin menentukan derajat warna kulit,
kehitaman, atau kecoklatan. Lapisan ketiga merupakan lapisan yang transparan disebut stratum lusidum dan
lapisan keempat (lapisan terluar) adalah lapisan tanduk disebut stratum korneum.
Penyusun utama dari bagian dermis adalah jaringan penyokong yang terdiri dari serat yang berwarna
putih dan serat yang berwarna kuning. Serat kuning bersifat elastis/lentur, sehingga kulit dapat
mengembang.
Stratum germinativum mengadakan pertumbuhan ke daerah dermis membentuk kelenjar keringat dan
akar rambut. Akar rambut berhubungan dengan pembuluh darah yang membawakan makanan dan oksigen,
selain itu juga berhubungan dengan serabut saraf. Pada setiap pangkal akar rambut melekat otot penggerak
rambut. Pada waktu dingin atau merasa takut, otot rambut mengerut dan rambut menjadi tegak. Di sebelah
dalam dermis terdapat timbunan lemak yang berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi bagian dalam
tubuh dari kerusakan mekanik.
Fungsi Kulit.
Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba
dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan; sebagai alat ekskresi; serta

pengatur suhu tubuh. Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat peraba, kulit dilengkapi dengan reseptorreseptor khusus. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. Reseptor untuk
tekanan, ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas,
ujung reseptornya terletak di dekat epidermis.
Indra peraba merupakan indera yang sederhana, umumnya tersebar pada kulit mamalia dan sedikit
sekali pada vertebrata rendah. Kepekaan peraba pada manusia sangat besar, terutama di ujung jari dan bibir.
Klasifikasi reseptor antara lain:
Berdasarkan tipe energi khusus atau kepekaan terhadap modalitas tertentu:
1. Termoreseptor (peka terhadap perubahan suhu).
2. Mekanoreseptor (peka terhadap sentuhan dan tekanan).
3. Kemoreseptor (peka terhadap perubahan kimiawi).
4. Osmoreseptor (peka terhadap perubahan tekanan osmotik).
Berdasarkan sumber rangsangan:
1. Ekteroreseptor, terletak pada permukaan tubuh dan berespons terhadap rangsangan eksterna atau luar.
2. Proprioreseptor, berespons terhadap perubahan posisi dan pergerakan terutama berhubungan dengan
sistem muskuloskeletal.
3. Interoreseptor, terletak pada visera/ alat dalam dan pembuluh darah.
Berdasarkan morfologi:
1. Badan terakhir yang bebas/ terbuka (tanpa kapsul) yang tak berhubungan dengan tipe sel lainnya.
2. Badan akhir yang berkapsul (korpuskular) yang mengandung unsur bukan saraf di samping saraf badan
akhir saraf.
Reseptor-reseptor yang terletak di alat indera peraba antara lain:
a. Ujung Saraf Bebas:
Serat saraf sensorik aferen berakhir sebagai ujung akhir saraf bebas pada banyak jaringan tubuh dan
merupakan reseptor sensorik utama dalam kulit. Serat akhir saraf bebas ini merupakan serat saraf yang tak
bermielin, atau serat saraf bermielin berdiameter kecil, yang semua telah kehilangan pembungkusnya
sebelum berakhir, dilanjutkan serat saraf terbuka yang berjalan di antara sel epidermis. Sebuah serat saraf
seringkali bercabang-cabang banyak dan mungkin berjalan ke permukaan, sehingga hampir mencapai
stratum korneum. Serat yang berbeda mungkin menerima perasaan raba, nyeri dan suhu. Sehubungan
dengan folikel rambut, banyak cabang serat saraf yang berjalan longitudinal dan melingkari folikel rambut
dalam dermis.
Beberapa saraf berhubungan dengan jaringan epitel khusus. Pada epidermis berhubungan dengan sel
folikel rambut dan mukosa oral, akhir saraf membentuk badan akhir seperti lempengan (diskus atau
korpuskel merkel). Badan ini merupakan sel yang berwarna gelap dengan banyak juluran sitoplasma. Seperti
mekanoreseptor badan ini mendeteksi pergerakan antara keratinosit dan kemungkinan juga gerakan
epidermis sehubungan dengan jaringan ikat di bawahnya. Telah dibuktikan bahwa beberapa diskus merkel
merespon rangsangan getaran dan juga resepor terhadap dingin.

b. Korpuskulus Peraba (Meissner):


Korpuskulus peraba (Meissner) terletak pada papila dermis, khususnya pada ujung jari, bibir, puting
dan genetalia. Bentuknya silindris, sumbu panjangnya tagak lurus permukaan kulit dan berukuran sekitar 80
mikron dan lebarnya sekitar 40 mikron. Sebuah kapsul jaringan ikat tipis menyatu dengan perinerium saraf
yang menyuplai setiap korpuskel. Pada bagian tengah korpuskel terdapat setumpuk sel gepeng yang tersusun
transversal. Beberapa sel saraf menyuplai setiap korpuskel dan serat saraf ini mempunyai banyak cabang
mulai dari yang mengandung mielin maupun yang tak mangandung mielin. Korpuskulus ini peka terhadap
sentuhan dan memungkinkan diskriminasi/ pembedaan dua titik (mampu membedakan rangsang dua titik
yang letaknya berdekatan).
c. Korpuskulus Berlamel (Vater Pacini):
Korpuskulus berlamel (vater pacini) ditemukan di jaringan subkutan pada telapak tangan, telapak
kaki, jari, puting, periosteum, mesenterium, tendo, ligamen dan genetalia eksterna. Bentuknya bundar atau
lonjong, dan besar (panjang 2 mm, dan diameter 0,5 1 mm). Bentuk yang paling besar dapat dilihat dengan
mata telanjang, karena bentuknya mirip bawang.
Setiap korpuskulus disuplai oleh sebuah serat bermielin yang besar dan juga telah kehilangan sarung sel
schwannya pada tepi korpuskulus. Akson saraf banyak mengandung mitokondria. Akson ini dikelilingi oleh
60 lamela yang tersusun rapat (terdiri dari sel gepeng). Sel gepeng ini tersusun bilateral dengan dua alur
longitudinal pada sisinya. Korpuskulus ini berfungsi untuk menerima rangsangan tekanan yang dalam.
d. Korpuskulus Gelembung (Krause):
Korpuskulus gelembung (krause) ditemukan di daerah mukokutis (bibir dan genetalia eksterna),
pada dermis dan berhubungan dengan rambut. Korpuskel ini berbentuk bundar (sferis) dengan diameter
sekitar 50 mikron. Mempunyai sebuah kapsula tebal yang menyatu dengan endoneurium. Di dalam
korpuskulus, serat bermielin kehilangan mielin dan cabangnya tetapi tetap diselubungi dengan sel schwan.
Seratnya mungkin bercabang atau berjalan spiral dan berakhir sebagai akhir saraf yang menggelembung
sebagai gada. Korpuskel ini jumlahnya semakin berkurang dengan bertambahnya usia. Korpuskel ini
berguna sebagai mekanoreseptor yang peka terhadap dingin.
e. Korpuskulus Ruffini:
Korpuskulus ini ditemukan pada jaringan ikat termasuk dermis dan kapsula sendi. Mempunyai
sebuah kapsula jaringan ikat tipis yang mengandung ujung akhir saraf yang menggelembung. Korpuskulus
ini merupakan mekanoreseptor, karena mirip dengan organ tendo golgi.
Korpuskulus ini terdiri dari berkas kecil serat tendo (fasikuli intrafusal) yang terbungkus dalam
kapsula berlamela. Akhir saraf tak bermielin yang bebas, bercabang disekitar berkas tendonya. Korpuskulus
ini terangsang oleh regangan atau kontraksi otot yang bersangkutan juga untuk menerima rangsangan panas.

f. Spindel Neuromuskular.
C. Alat Yang Digunakan
: Baskom plastik, air hangat, air dingin dan air biasa.
D. Jalannya Percobaaan
: Peneliti. menyediakan 3 baskom yang berisikan:
Kiri : panas
Tengah : biasa
Kanan : dingin
a. Subjek akan diberikan instruksi untuk memasukkan tangan kiri kedalam baskom yang berisi air hangat dan
tangan kanan kebaskom yang berisi air dingin,
b. Lalu kedua tangan dibiarkan selama 10 detik
c. Kemudian setlah 10 detik secara bersamaan kedua tangan dimasukan ke baskom yang berada ditengah yang
d.

berisi air biasa.


Dan subjek akan diminta merasakan perbedaan antara tangan kanan dan kiri setelah di masukkan ke
baskom yang berisi air biasa.
E. Hasil Percobaan
: Setelah percobaan subjek merasakan tangan berubah menjadi netral.
F. Hasil umum adalah:
Biasanya setelah di masukan kedalam baskom ke air biasa (tengah) tangan kanan akan terasa hangat
dan tangan kiri akan terasa dingin. Karena pada saat baskom yang berisi baskom biasa ada pengurangan
kalor pada tangan kiri (dari hangat sampai dingin) dan ada penambahan kalor pada tangan kanan (dari dingin
sampai hangat).
Kulit berfungsi sebagai thermoreseptor untuk mendeteksi rasa panas yang disebut Ruffinis dan untuk
mendeteksi rasa dingin yang disebut End Krause.

1.
2.

Kulit terdiri dari :


Epidermis yaitu bagian terluar
Dermis yaitu kelenjar dan saluran keringat bulbus rambut, polikel rambut, dan akar rambut, kelenjar

3.

sebaeus.
Subtacaneous yaitu pembuluh darah syaraf cutaneous dan jaringan otot. Reseptor kulit dan hantaran
implus disaraf perifer.

Kulit berfungsi sebagai:

1.
2.
3.
4.

Mekanoreseptor: berkaitan dengan indera peraba, depan, dan kinestesi


Thermoreseptor: berkaitan dengan penginderaan yang mendeteksi panas dan dingin
Reseptor nyeri: berkaitan dengan mekanisme protektif bagi kulit
Kemoreseptor: mendeteksi rasa asam, basa dan garam.

1.
a.
b.
2.
a.
b.
c.

Reseptor pada kulit :


Epidermis : untuk mendeteksi sentuhan
Merkels disc : untuk mendeteksi sentuhan oleh orang lain yang tidak di kenal
Meisners corpuscle : untuk mendeteksi sentuhan orang yang di kenal
Dermis
Ruffinis : Mendeteksi panas
End Krause : mendeksi dingin
Reseptor Paccinis : untuk mendeteksi tekanan atau bias
berupa pijitan

d.

Free Nerve Ending: untuk mendeteksi rasa sakit, jangkauannya lebih luas dibandingkan reseptor lain karena
tersebar di seluruh permukaan kulit

G. Kesimpulan
:
Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit,
dan tekanan. Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan dermis.
Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf. Epidermis tersusun atas empat lapis sel. Kulit
terdiri dari :
1. Epidermis yaitu bagian terluar.
2. Dermis yaitu kelenjar dan saluran keringat bulbus rambut, polikel rambut, dan akar rambut, kelenjar
sebaeus.
3. Subtacaneous yaitu pembuluh darah syaraf cutaneous dan jaringan otot.
Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba
dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan; sebagai alat ekskresi; serta
pengatur suhu tubuh.
Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat peraba, kulit dilengkapi dengan reseptor reseptor khusus.
Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. Reseptor untuk tekanan, ujungnya
berada di dermis yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas, ujung reseptornya
terletak di dekat epidermis.
http://rendywirajuniarta.blogspot.co.id/2014/01/laporan-praktikum-psikologi-faal.html