You are on page 1of 11

ANALISIS PERKEMBANGAN FISIK DAN SOSIAL

KOTA BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR


Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Geografi Kota Semester 2
Dosen Pengampu : Dra. Inna Prihartini, M. S

oleh :
Wahyu Purnomo Aji
K5412077
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013
ANALISIS PERKEMBANGAN FISIK DAN SOSIAL

KOTA BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR


A. PENGANTAR
Definisi Wilayah Kota
Berdasarkan istilah kota berasal dari kata urban yang mengandung pengertian
kekotaan dan perkotaan. Kekotaan menyangkut sifat-sifat yang melekat pada kota
dalam artian fisikal, sosial, ekonomi, budaya. Perkotaan mengacu pada areal yang
memiliki suasana penghidupan dan kehidupan modern dan menjadi wewenang
pemerintah kota.
Menurut Bintarto, dari segi geografis kota dapat diartikan sebagai bentang
budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami degan gejala-gejala
pemusatan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat
heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah dibelakangnya.
Ciri-ciri Fisik Kota :
1.
2.
3.
4.

Pasar, supermarket, gedung-gedung perkantoran, dan gedung fasilitas hiburan


Alun-alun yang terletak di pusat kota.
Tempat parkir kendaraan penduduk.
Sarana rekreasi masyarakat, baik rekreasi pendidikan (museum) maupun hiburan

(bioskop).
5. Sarana olahraga.
6. Open space (ruang terbuka hijau).
7. Kompleks perumahan penduduk.
Ciri Sosial Kota
seperti :
1. Adanya heterogenitas sosial.
2. Sikap hidup penduduk bersifat egois dan individualistik.
3. Hubungan Sosial bersifat Gesselschaft.
4. Adanya segregasi / pemisasahan keruangan.
5. Norma-norma keagamaan tidak ketat.
6. Pandangan hidup masyarakat lebih rasional.
B. PEMBAHASAN
Kota Balikpapan berawal sejak ditemukannya sumur minyak oleh Matilda
pada tanggal 10 Februari 1897. Sejak saat itulah Kota Balikpapan diminati oleh

masyarakat luar karena terkenal sebagai kota minyak. Berbagai suku di Indonesia
khususnya Kalimantan sendiri, Sulawesi dan Jawa datang untuk mencari nafkah di
Balikpapan.
1. KEADAAN GEOGRAFIS (FISIK)
Kota Balikpapan adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Timur,
Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 503,3 km dan berpenduduk sebanyak
559.126 jiwa (Sensus Penduduk Indonesia 2010). Nama asli Balikpapan adalah
Balikkappan. Kota Balikpapan memiliki wilayah 85% berbukit-bukit serta 12%
berupa daerah datar yang sempit yang terutama berada di Daerah Aliran Sungai
(DAS) dan sungai kecil serta pesisir pantai. Dengan kondisi tanah yang bersifat
asam (gambut) serta dominan tanah merah yang kurang subur. Sebagaimana
layaknya wilayah lain di Indonesia, kota ini juga beriklim tropis. Kota ini berada
di pesisir timur Kalimantan yang langsung berbatasan degan Selat Makassar,
memiliki teluk yang dapat dimanfaatkan sebagai pelabuhan laut komersial dan
pelabuhan minyak. Letak astronomis Kota Balikpapan berada di antara 1,0 LS 1,5 LS dan 116,5 BT - 117,5 dengan luas sekitar 50.330 ha atau sekitar 503,3
km .

Gambar 1. Kondisi Fisik Kota Balikpapan


Letaknya yang strategis, pada posisi silang jalur perhubungan nasional dan
internasional, berpengaruh pada perkembangan kota sebagai pusat jasa,
perdagangan, dan industri yang tidak hanya berskala regional Kalimantan Timur
saja, namun juga berkembang sebagai salah satu sentra di Indonesia Tengah.
Dengan potensi sumber daya yang besar di sekitar kota, terutama di wilayah

hinterland seperti Kabupaten Kutai dan Pasir, maka Kota Balikpapan menjadi
daya tarik bagi kegiatan perekonomian. Apalagi dengan keberadaan sarana
penunjang Pelabuhan Laut Semayang dan Bandar Udara Sepinggan
Ketertiban, keamanan kebersihan dan kerapian sejak lama menjadi ciri khas
kota minyak Balikpapan yang bermoto Kubangun, Kubela dan Kujaga. Kota ini
sama sekali tidak seperti dalam benak kebanyakan orang yaitu Pulau Kalimantan
yang masih berupa belantara. Meskipun berada persis di pinggir laut, sama sekali
tidak tercium aroma busuk laut dan ikan-ikannya.
FASILITAS UMUM
Fasilitas Pendidikan
Kota Balikpapan sebagai kota besar memiliki fasilitas pendidikan yang cukup
memadai yang tersebar di tiap-tiap kecamatan. Jumlah Taman Kanak-Kanak
seluruhnya 90 unit, Sekolah Dasar 192 unit, SLTP 52 unit, SMU 23 unit SMK
ekonomi 9 unit, SMK Teknologi 10 unit, dan SMK Kesejahteraan Keluarga /
Pariwisata 3 unit.
Fasilitas Kesehatan
Jumlah Rumah Sakit di Kota Balikpapan sebanyak 5 unit, Puskesmas 38 unit,
yang terdiri dari Puskesmas Umum dan Puskesmas Pembantu. Selain itu tersedia
pula fasilitas kesehatan yang lainnya, seperti apotik, balai pengobatan, BKIA dan
sebagainya.
Pasar
Sejumlah pasar yang terdapat di Balikpapan adalah pasar Inpres Kebun Sayur
dan Pasar Klandasan.

Gambar 2. Suasana Pasar Klandasan, Balikpapan


SARANA DAN PRASARANA PERMUKIMAN
Komponen Air Bersih
Sumber Air Baku bagi PDAM Kota Balikpapan yaitu Waduk Manggar yang
terletak di Kelurahan Karang Joang Kecamatan Balikpapan Utara, Sungai
Klandasan, Sumur Bor Kampung Damai.
Jaringan pipa distribusi masih belum mencakup seluruh daerah perkotaan
terutama kawasan yang jauh dari pusat kegiatan. Sistem distribusi air bersih
dilakukan dengan cara pemompaamn dan gravitasi. Pada saat pemakaian
minimum, reservoir diisi dan pada saat pemakaian puncak, kebutuhan air dipenuhi
dari reservoir tersebut yang dialirkan dengan cara gravitasi.
Komponen Drainase
Berkaitan dengan pembangunan kawasan baru pada daerah pengembangan
pemukiman di Kota Balikpapan saat ini, jika dibandingkan pada tahun
sebelumnya, penataan drainasenya cukup meningkat dan terpadu pelaksanaannya.
Namun pada beberapa bagian wilayah kota masih perlu dilanjutkan pembangunan
sistem saluran drainasenya. Daerah yang telah memiliki saluran drainase antara
lain sepanjang jalan utama kota, kompleks Perumahan Pertamina, serta daerah
perkantoran. Saluran di jalan-jalan Kota Balikpapan memiliki jenis terbuka,
dengan kondisi baik, kecuali di beberapa jalan Kecamatan Balikpapan Barat.
SARANA REKREASI
Di Balikpapan banyak tempat rekreasi bagi masyarakat seperti Taman
Agrowisata, Wana Wisata, Karang Joang Resort, Jembatan Ulin Kariangau, Pantai
Manggar,

Segarasari, Hutan Lindung,

Sungai Wain, Penangkaran Buaya,

Monumen Jepang, Monumen Perjuangan Raky

C. KONDISI SOSIAL
Kependudukan
Dengan semakin tumbuhnya perekonomian terutama sejak diberlakukannya
otonomi daerah, kota ini terus menerus dibanjiri oleh pendatang dari berbagai
daerah, sehingga pemerintah kota memberlakukan operasi kependudukan berupa
operasi Kartu Tanda Penduduk di pintu masuk kota, jalan raya, pemukiman,
bandara serta pelabuhan. Penduduk terutama dari etnis pendatang yang sudah
lama menetap di Balikpapan yakni berasal dari etnis Banjar, Bugis, Makassar,
Jawa Timur kemudian pendatang lain yang di antaranya beretnis Manado,
Gorontalo, Madura, Jawa, Sunda dan lain-lain.
Di akhir tahun 2012, jumlah penduduk mencapai 637.488 jiwa dengan jumlah
pendatang selama tahun 2012 sebanyak 21.486 jiwa yang merupakan jumlah
tertinggi selama tiga tahun terakhir. Jumlah pendatang tersebut mampu melampaui
jumlah pendatang yang masuk di Singapura pada tahun yang sama yakni
sebanyak 20.693 jiwa. Antara tahun 2003 hingga 2012, jumlah pendatang tercatat
170 ribu jiwa lebih, sebagian besar dari pendatang tersebut memenuhi persyaratan
dan menjadi warga tetap, sedangkan sisanya dipulangkan atau pindah sendiri.
Peningkatan jumlah penduduk terjadi akibat tingginya arus migrasi pendatang
serta pertambahan alamiah (kelahiran), sehingga Balikpapan mulai tahun 2005
hingga saat ini menjadi kota terpadat penduduk di Kaltim.
Selain itu, Kota Balikpapan sebagai pusat kegiatan eksplorasi minyak dan gas
serta batu bara di seluruh Kaltim bahkan juga sebagian wilayah Kalimantan
Selatan menjadikan kota ini menampung banyak warga asing yang saat ini tercatat
1.014 orang.

Pola Penyebaran Penduduk


Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang
ada. Sungai Mahakam merupakan jalur arteri bagi transportasi lokal. Keadaan ini
menyebabkan sebagian besar pemukiman penduduk terkonsentrasi di tepi Sungai
Mahakam dan cabang-cabangnya. Daerah-daerah yang agak jauh dari tepi sungai

dimana belum terdapat prasarana jalan darat relatif kurang terisi dengan
pemukiman penduduk.
Nilai Budaya
Ada 5 budaya dasar masyarakat asli di Kalimantan yang disebut Rumpun
Kalimantan, 4 di antaranya terdapat di Kalimantan Timur, khususnya kota
Balikpapan yaitu: Banjar, Kutai, Dayak, Paser yang biasa disingkat Komunitas
BAKUDA atau BAKUDAPA jika dihitung mencapai 31,39% populasi (sensus
tahun 2000). Diantara keempat suku tersebut, suku Banjar merupakan yang
terbanyak. Selain 4 suku di atas, banyak pula suku-suku dari pulau Sulawesi,
Jawa, Sumatera, dan pulau lainnya.
Perkembangan Kota Balikpapan semakin pesat, masyarakat Kota Balikpapan
secara langsung terjadi akulturasi berbagai budaya, berbagai suku di Indonesia, ini
bisa tercermin dari bahasa pengantar yang digunakan warga Balikpapan adalah
yaitu bahasa Indonesia baik sekolah, rumah, tempat kerja dan lain-lain.
Pada kurun waktu yang bersamaan keragaman etnis yang datang diikuti pula
dengan berbagai adat istiadat dan agama. Adat istiadat dari berbagai etnis sangat
terbina dengan baik, demikian pula penganut agama yang dipeluknya. Hal ini
didukung oleh adanya faktor akulturasi budaya, sehingga hubungan masyarakat
terjalin harmonis secara turun temurun. Yang menjadi khas Kota Balikpapan
adalah tidak terdapat dominasi salah satu suku, baik dari suku asli Kalimantan
maupun suku pendatang, sehingga perekat bahasa yang dipakai adalah bahasa
Indonesia.
Sebagai wujud implementasi dalam rangka memelihara, menjaga dan
meningkatkan integritas, kondusif Kota Balikpapan, sesuai motto Balikpapan
Kubangun, Kujaga dan Kubela.
Balikpapan sebagai kota yang strategis dan kondusif, sangat didukung oleh
masyarakat, terutama dalam keramahan dan kebersamaaan warga kota dalam
keragaman suku / etnis, budaya, nilai kekerabatan antar suku sangat kental,
sebagai modal utama mengantarkan Balikpapan sebagai masyarakat yang madani,
yang memiliki masyarakat majemuk yang hidup rukun, harmonis, berperadaban
modern, maju serta mamiliki nilai-nilai moralitas spiritual, agama dan
kepercayaan masing-masing.

Nilai guyub / kebersamaan yang tinggi mampu mengikat rasa persaudaraan


antar suku, menjadikan pondasi terbangunnya kondisi terus terjaga, menjadikan
Kota Balikpapan sebagai Kota Bersih, Indah, Aman dan Nyaman.
Budaya bersih dan wawasan lingkungan, juga merupakan bagian yang tidak
terpisahkan pada umumnya telah menjadi ciri masyarakat Balikpapan,
terakomodir secara profesional dalam program Pemerintah Kota Balikpapan,
yakni : CLEAN, GREEN and HEALTHY (Bersih, Hijau dan Sehat).
Mata Pencaharian
Sebagian besar mata pencaharian penduduk kota Balikpapan yaitu di sektor
pertanian 38,25%, industri/kerajinan 18,37%, perdagangan 10,59 % dan lain-lain
32,79%. Menurut Hart, kesempatan memperoleh penghasilan di kota dapat dibagi
menjadi 3 kelompok yaitu formal, informal sah, dan tidak sah. Begitu juga di
Balikpapan banyak warga yang bekerja di tiga sector tersebut.

Gambar 3. Pekerja Tambang Minyak


Ekonomi
Perekonomian kota ini bertumpu pada sektor industri yang didominasi oleh
industri minyak dan gas, perdagangan dan jasa. Kota ini memiliki bandar udara
berskala internasional, yakni Bandara Sepinggan serta Pelabuhan Semayang
selain pelabuhan minyak yang dimiliki Pertamina.
Di sektor perdagangan, pemerintah kota melindungi pengusaha lokal
Balikpapan dengan membentuk peraturan daerah yang tidak lagi menerbitkan izin
kepada toko modern seperti minimarket dari luar kota untuk beroperasi di
Balikpapan. Selain itu pemerintah kota juga akan mengatur jarak dan jam

operasional setiap minimarket sehingga pengusaha lokal dapat bersaing di tengah


kompetisi yang semakin ketat
D. SIMPULAN
a. Perkembangan kota-kota kolonial setelah terjadinya liberalisasi ekonomi di
Hindia Belanda setelah tahun 1870 memperlihatkan perkembangan yang sangat
signifikan, seperti meningkatnya pembangunan infrastruktur transportasi yang
berhubungan dengan perdagangan internasional. Timbulnya pemukiman elit-elit
Eropa, timur asing dan pribumi yang memarginalkan wilayah pemukiman mereka
dari kampong-kampung pribumi yang mayoritas dihuni oleh pedagang dan tuan
tanah pemilik kebun. Pemukiman elit tersebut timbul sebagai akibat dari
kemapanan ekonomi yang mereka dapatkan akibat perdagangan internasional.
Namun apa yang terjadi di Balikpapan sedikit berbeda walau terjadi pola
pemukiman yang sama, dimana elit-elit Eropa menghuni pemukiman yang
terpisah dari kampung-kampung pribumi namun para penghuni pemukiman elit
tersebut sebagaian besar merupakan pegawai-pegawai tinggi perusahaan BPM di
Balikpapan.
b. Perkembangan bangunan fisik di kota tidak saja memungkinkan meningkatkan
taraf hidup, tetapi juga dapat menimbulkan masalah-masalah besar. Beberapa dari
masalah ini merusak mutu kehidupan dan tetap belum terpecahkan.
c. Perubahan-perubahan dalam tingkah laku manusia di negara berkembang juga
sudah mulai tampak namun tidak banyak.
E. SARAN
1.

Pemerintah setempat dan rakyat harus bekerja sebagai satu kesatuan.

2.

Sistem penataan ruang dan kota mesti transparan/terbuka. Miniatur kota bisa
dilihat rakyat dimana saja, maket model dan prototipe kota ada di aula
kelurahan, dipusat-pusat perbelanjaan, dan dikampus-kampus.

3.

Master plan kota dan RT/RW kota, dan setiap kali direvisi bisa dengan mudah
diakses dan diunduh lewat internet. Rakyat memilki informasi yang cukup
memadai sebagai bahan pertimbangan sebelum membeli tanah dan membangun
disuatu kawasan, tidak menabrak aturan tata ruang perkotaan.
9

4.

Pemerintah sebagai stakeholder harus luwes dan cepat tanggap, serta tidak
ketinggalan jaman. Pemerintah yang ketinggalan jaman selalu terjebak
dikebijakan-kebijakan kota yang tidak penting, justru ketika kota-kota lain
didunia berpacu membangun dan mengubah kotanya menjadi kota berkelas
dunia.

5.

Kota kelas dunia tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan mengatur


keberadaan pedagang-pedagang kaki lima. Pendekatan manusiawi pasti lebih
baik untuk mengatur mereka. Pedagang kaki lima dianggap sebagai potensi
wisata, bukan musuh yang harus dibasmi.

6.

Taman kota harus semakin diperbanyak. Hutan kota tetap dipertahankan, biarkan
pohon-pohonnya tetap tumbuh apa adanya, dinikmati sebagai sarana olahraga
dan rekreasi alami, dan masih bisa juga digunakan pedagang kaki lima untuk
berjualan.

7.

Jika coastal road yang membentang sepanjang garis pantai teluk Balikpapan
terwujud, maka orientasi muka gedung/bangunannya diubah dari membelakangi
pantai menjadi menghadap ke pantai.

8.

Jalur pedestrian tidak 1 meter, tapi minimal 2 meter, agar rakyat bisa berjalan
kaki dengan leluasa.

9.

Perabot kota diperbanyak, jam kota, bangku tepi jalan, lampu pedestrian,
penunjuk

arah,

pohon

rindang,

semuanya

didesain

secara

khusus,

disayembarakan, agar menghasilkan wajah kota yang menarik, asri, dan indah.
10. Rumah susun vertikal dengan 2-3 lantai diperbanyak, agar backlog kebutuhan
rumah di Balikpapan bisa segera terpenuhi.
11. Timbulnya masalah baru lainnya yaitu polusi udara dan kemacetan, Pemerintah
perlu segera memikirkan dan memperbanyak moda transportasi publik yang bisa
mengangkut hingga lebih dari 100 orang sekali jalan

10

12. Bangunan-bangunan konservasi harus dilindungi. Karena menyangkut sejarah


dan perkembangan kota.
F. DAFTAR RUJUKAN
Hauser, Philip. M, dkk. 1985. Penduduk dan Masa Depan Perkotaan. New York :
University Press of New York.
Manning Chris, dan Tadjudin Nur Effendi. 1996. Urbanisasi Pengangguran, dan
Sektor Infromal di Kota.Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Susanti,

Suci.

2011.

Perkembangan

Ekonomi

Kota

Balikpapan.

<www.uchiemot.blogspot.com> (diakses pada tanggal 10 Juni 2013)


Oktavyanthi,

Yessi.

Januari

2013.

Sejarah

Kota

Balikpapan.<yessy-

si.blogspot.com> (diakses tanggal 10 Juni 2013)


id.wikipedia.org/wiki/Kota_Balikpapan (diakses tanggal 10 Juni 2013)

11