Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas Indonesia

Tugas Review VIII Mata Kuliah Rezim Keuangan Internasional Nama : Erika NPM : 0706291243 Sumber Bacaan : Goeltom, Miranda S. 2007. “Globalisation, Macroeconomic Management and Impact on Business in Indonesia”, dalam Essays in Macroeconomic Policy: The Indonesian Experience. Bab 2, hal. 13-32.

Globalisasi dan Urgensi Kebijakan Industrial Baru
Perekonomian dunia yang semakin terliberalisasi akibat globalisasi yang terjadi menyebabkan berbagai perubahan pada perekonomian suatu negara, baik dari sisi kebijakan makro ekonomi seperti kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar, maupun dari sisi pengaruh globalisasi pada kehidupan mikro ekonomi, khususnya pada sisi bisnis suatu negara. Dalam tulisannya yang berjudul “Globalisation, Macroeconomic Management and Impact on Business in Indonesia”, Miranda S. Goeltom memaparkan berbagai pengaruh yang ditimbulkan globalisasi pada kehidupan makro dan mikro perekonomian, serta berbagai langkah yang dapat diambil untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Pada sisi kehidupan makro ekonomi, globalisasi yang terjadi kemudian menyebabkan kehidupan perekonomian suatu negara semakin terhubung dengan kondisi ekonomi internasional. Berbagai fenomena pun muncul, seperti fenomena “stateless money”, menjamurnya investasi dan hutang jangka pendek, serta proliferasi perusahaan multi finance. Hal ini menuntut adanya berbagai adaptasi pada sisi perekonomian makro. Pada kasus Indonesia, Bank Indonesia (BI) pun kemudian mengambil kebijakan exchange rate band, yaitu menaikkan biaya transaksi untuk pembelian dan penjualan Rupiah untuk mengontrol terjadinya jual-beli valuta asing yang dapat menyebabkan instabilitas nilai tukar dalam negeri. Pengaturan makroekonomi juga dilakukan BI melalui kebijakan-kebijakan untuk mengontrol tingkat inflasi, serta kebijakan untuk menciptakan dan menjaga nilai tukar yang kompetitif. Tidak hanya menyerang perekonomian makro, globalisasi yang terjadi juga dapat membahayakan kehidupan perekonomian mikro bila tidak ditangani dengan tepat. Dalam tulisannya, Goeltom mengatakan bahwa para pemain bisnis Indonesia harus menerapkan berbagai strategi untuk menciptakan competitiveness agar dapat bersaing dengan pemain asing. Strategi pertama yang dapat diterapkan adalah shortened product life cycles, di mana perusahaan harus melakukan spesialisasi produk yang menjadi keunggulan mereka. Strategi kedua adalah menerapkan profesionalitas dalam manajemen perusahaan, tidak hanya dari segi kemampuan dan teknik manajemen, tetapi juga dari segi karakter dan integritas para pemain bisnis. Strategi ketiga yang juga dipaparkan Goeltom adalah penerapan corporate plan, yaitu birokrasi pemerintah yang ramah dan mendukung perusahaan dalam implementasi rencana strategisnya. Strategi keempat adalah kemampuan mengidentifikasikan aliansi strategis yang tepat bagi perkembangan bisnis suatu perusahaan, apakah itu dari segi harga, buruh, kekayaan alam, ataupun dari sektor jasa, investasi dan pelatihan. Penggunaan sumber data yang tepat juga merupakan strategi untuk dapat bersaing, di mana pemerintah

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

seharusnya membantu perusahaan melalui penyediaan informasi. Strategi terakhir yang ditawarkan Goeltom adalah pembangunan kualitas situasi kerja, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas suatu produk. Perubahan dari sisi perekonomian mikro tidak hanya harus dilakukan oleh para pemain bisnis, melainkan juga oleh sektor perbankan. Dalam tulisannya, Goeltom kemudian memaparkan berbagai perubahan kebijakan yang telah diambil BI untuk mengatur sektor perbankan nasional. Kebijakan tersebut antara lain peraturan bagi bank nasional untuk memiliki cadangan setidaknya 150 trilyun Rupiah jika ingin menjadi bank internasional. Peraturan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah bank nasional yang sebenarnya tidak capable. Tidak hanya itu, BI juga mengeluarkan berbagai peraturan yang membatasi tindakan bank-bank domestik mengingat adanya unsur moral hazard yang mungkin dan seringkali terjadi. Globalisasi yang terjadi pada akhirnya menuntut negara untuk melakukan berbagai perubahan pada kehidupan perekonomiannya. Adapun perubahan yang dilakukan negara haruslah bersifat menyeluruh dan meliputi segala aspek, baik aspek perekonomian makro seperti misalnya melalui kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar, maupun aspek perekonomian mikro melalui strategi-strategi yang diterapkan para pemain bisnis untuk meningkatkan competitiveness. Penulis sendiri cenderung setuju dengan apa yang disampaikan Goeltom, yaitu bahwa kebijakan makro dan mikro ekonomi yang bersifat menyeluruh perlu untuk dilakukan untuk meningkatkan daya saing bangsa di era globalisasi ini. Era globalisasi ini menuntut adanya sebuah kebijakan industrial yang baru1, yang ditandai dengan adanya kerja sama strategis dan fleksibel antara pemerintah dan sektor swasta. Hal ini dikarenakan walaupun sektor swasta diakui sebagai roda utama pertumbuhan ekonomi, peran pemerintah tetaplah krusial untuk memastikan hak kekayaan intelektual, pelaksanaan kontrak, dan berbagai fungsi lainnya.2 Pemerintah juga memiliki peran penting dalam penciptaan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Adapun untuk menghadapi globalisasi, selain menerapkan berbagai strategi seperti yang dipaparkan Goeltom sebelumnya, penulis rasa pemerintah harus lebih sering mengeluarkan berbagai kebijakan yang mendorong terjadinya inovasi, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut diperlukan untuk membangun sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan berdaya guna dalam perekonomian inovatif dan produktif.3 Selain itu, pemerintah juga seharusnya banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendorong terciptanya entrepreneurship, misalnya melalui pengurangan berbagai hambatan untuk memulai usaha. Lahirnya entrepreneur di suatu negara akan meningkatkan attractiveness suatu negara, yang pada akhirnya dapat menjadi keunggulan komparatif negara tersebut di dunia internasional.4 Kebijakan yang juga tidak kalah penting yang dapat dilakukan pemerintah adalah kebijakan yang berhubungan dengan hak kekayaan intelektual (Intellectual Property Rights/IPR). Adanya kebijakan IPR yang baik akan
1

2 3 4

Organisation for Economic Co-operation and Development, Staying Competitive in the Global Economy: Moving Up the Value Chain. (USA: Copyright Clearance Center, 2007), h. 123-124. Ibid. Organisation for Economic Co-operation and Development, op. cit., h. 122. Ibid.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

mendorong terjadinya inovasi di suatu negara melalui pemberian insentif pada si pemilik inovasi. Tidak dihargainya hak kekayaan intelektual, sebaliknya, akan menyebabkan pemilik inovasi cenderung akan berpindah ke negara yang lebih mendukung IPR. Kebijakan IPR yang baik, karenanya, juga akan berpengaruh dalam menentukan daya saing suatu bangsa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful