Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas Indonesia

Tugas Counter Review VII Mata Kuliah Rezim Keuangan Internasional Nama : Erika NPM : 0706291243 Sumber Bacaan : Peter Isard, “Factors Contributing to International Financial Crises” dalam Globalization and the International Financial System: What’s Wrong and What Can Be Done. (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), h. 119-161.

Penyebab Krisis Finansial Internasional, Faktor Internal dan Eksternal
Liberalisasi perekonomian yang semakin masif menyebabkan perekonomian internasional kini semakin rentan terhadap guncangan krisis finansial. Banyaknya krisis finansial internasional yang terjadi dewasa ini membuktikan hal tersebut. Walaupun pada awalnya krisis hanya terjadi di suatu negara tertentu, akan tetapi liberalisasi perekonomian yang terjadi mengakibatkan krisis dengan cepat menyebar ke semua negara. Keuangan, dalam hal ini, merupakan sektor yang paling rentan terkena krisis jika dibandingkan dengan sektor ekonomi lain. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya krisis finansial internasional kemudian dijelaskan oleh Peter Isard dalam tulisannya yang berjudul “Factors Contributing to International Financial Crises”. Dalam tulisannya, Isard menyebutkan ada empat faktor utama penyebab krisis finansial internasional. Faktor pertama adalah kelemahan dalam kebijakan moneter dan fiskal suatu negara, serta dalam hal-hal yang fundamental dari sisi makroekonominya. Faktor kedua adalah adanya external shocks, seperti misalnya adanya peningkatan pada suku bunga internasional, melemahnya perekonomian partner dagang utama, devaluasi mata uang yang dilakukan kompetitor utama internasional, serta penurunan pada harga relatif dari sisi ekspor. Sementara faktor ketiga adalah pasar kapital internasional yang tidak bekerja secara sempurna, yang pada akhirnya menyebabkan krisis seringkali dapat menyebar melalui efek contagion yang ditimbulkannya, serta menyebabkan sering munculnya sentimen pasar yang tidak berhubungan dengan prinsip-prinsip mendasar dalam perekonomian. Faktor keempat yang juga menyebabkan terjadinya krisis finansial internasional adalah adanya defisiensi IMF dalam memberikan saran kebijakan pada negara-negara yang mengalami krisis. Faktor terakhir lebih menekankan pada kemampuan persuasi IMF yang dinilai kurang dalam mengatasi krisis, yang lantas menyebabkan krisis yang terjadi cenderung sulit selesai. Adapun hal ini disebabkan karena negara seringkali tidak memberikan data yang akurat mengenai cadangan devisa dan hutang luar negerinya pada IMF, yang mengakibatkan kebijakan yang diambil IMF menjadi tidak tepat sasaran. Pengambil kebijakan suatu negara juga seringkali mengacuhkan saran kebijakan yang diberikan IMF. Pengambil kebijakan, menurut Isard, lebih suka mengincar kebijakan yang akan mendatangkan keuntungan dalam waktu yang relatif singkat dibanding keuntungan jangka menengah atau panjang,

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

sementara kebijakan yang disarankan IMF seringkali memang merugikan pada awal kebijakan tersebut dilaksanakan, akan tetapi akan memberikan dampak positif di masa depan. Kebijakan dari IMF, karenanya, seringkali tidak dilaksanakan oleh para pengambil kebijakan. Setelah menjelaskan mengenai empat faktor penyebab krisis finansial internasional, Isard kemudian memberikan contoh kasus berupa krisis yang terjadi di enam negara, yaitu Meksiko, Thailand, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, Rusia, dan Brazil. Dalam keenam negara tersebut, Isard lantas meneliti penyebab terjadinya krisis finansial, yang terutama berkaitan dengan faktor pertama yang disebutkan sebelumnya, yaitu kelemahan dalam perekonomian internal suatu negara. Dari hasil penelitiannya, Isard menemukan bahwa sistem nilai tukar yang tetap merupakan faktor yang paling berkontribusi dalam melahirkan vulnerabilitas perekonomian negara berkembang. Lemahnya sektor perbankan dan keuangan juga disinyalir ikut menimbulkan vulnerabilitas tersebut. Lima kondisi internal yang juga berkontribusi dalam melahirkan vulnerabilitas perekonomian negara berkembang adalah tingginya hutang luar negeri jangka pendek, defisit besar dari sisi fiskal, hutang pemerintah jangka pendek yang besar, besarnya defisit pada sisi current account, dan bentuk pemerintahan yang buruk (poor general governance). Senada dengan Isard yang lebih menitikberatkan analisa penyebab krisis finansial internasional pada sisi perekonomian internal suatu negara, penulis cenderung menganggap kegagalan dalam pengelolaan perekonomian internal merupakan faktor utama penyebab terjadinya krisis finansial internasional. Memang benar bahwa suatu krisis seringkali didahului oleh munculnya pemicu eksternal tertentu. Akan tetapi, pemicu itu tidak akan berkembang menjadi krisis yang lantas menghancurkan perekonomian nasional apabila kondisi perekonomian internal negara tersebut baik dan stabil. Adanya ketidakstabilan dan kehancuran dalam perekonomian internal menyebabkan vulnerabilitas negara tersebut cenderung tinggi. Vulnerabilitas yang tinggi akan menghadirkan ketidakpastian yang lantas akan membuat para investor, baik investor rasional maupun irasional1, merasa tidak yakin untuk menanamkan uangnya di negara tersebut. Padahal investasi merupakan komponen paling penting dalam menentukan pergerakan dinamika ekonomi suatu negara 2 . Ketidakyakinan para investor yang timbul akibat kegagalan pengelolaan perekonomian internal suatu negara akan mendorong investor untuk beramai-ramai menarik uangnya saat ada pemicu eksternal tertentu, yang pada akhirnya akan menyebabkan krisis di negara bersangkutan. Sehingga senada

1

2

Istilah investor rasional dan investor irasional ini disampaikan oleh Friedman, yang menyebut investor rasional sebagai “arbitrageurs” dan investor irasional sebagai “noise traders”, di mana investor rasional akan “memperbaiki” deviasi harga pada pasar kapital dengan melakukan strategi arbitrase. Lihat M. Friedman, “The case for flexible exchange rates” dalam Essays in Positive Economics. (University of Chicago Press, 1953), h. 157–203 A. Prasetyantoko. “Keynes: Spekulasi dan Ketidakpastian” dalam A. Prasetyantoko, Bencana Finansial: Stabilitas sebagai Barang Publik. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008), hal. 67-81.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

dengan Isard, penulis berpendapat bahwa krisis finansial internasional yang semakin marak terjadi dewasa ini tidak lain tidak bukan disebabkan karena lemahnya pengaturan perekonomian internal oleh pemerintah suatu negara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful