You are on page 1of 18

Studi Kasus Batas Laut antar Negara

Oleh :
Kamila Akbar
3513100027
Mata Kuliah : Hukum Laut

Jurusan Teknik Geomatika


Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
2015

PENENTUAN LANDAS KONTINEN EKSTENSI BATAS MARITIM


INDONESIA-PALAU PADA KEDALAMAN 2500 M ISOBATHS + 100 NM DI
SEBELAH UTARA PAPUA MENGGUNAKAN BATIMETRI TURUNAN
DATA PENGINDERAAN JAUH
Atriyon Julzarika, Susanto
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
Jl. LAPAN No. 70 Pekayon, Kec. Pasar Rebo, Jakarta Timur
13710
verbhakov@yahoo.com

ABSTRACT
Northern Papua Indonesia is a region that directly adjacent to Palau in Pasific
Ocean.
This
condition allows Indonesia to claim maritime boundary delimitation according to
Technical
Aspect of the Law of the Sea (TALOS), one of TALOS concept is to determine
extended
continental shelf in -2500 m depth isobaths + 100 nm in 1% sedimentary rock.
This
extended continental shelf can be determined by using bathymetry that is
derived from altimetry satellite imagery. The establishment of this bathymetry
has the same concept with topography in the case of survey mapping and
remote sensing. Those bathymetry can be applied to determine another
maritime boundary delimitation claims. Besides that, those bathymetry can also
be applied to make a 3D model of bathymetry in Pasific Ocean so we can
observe the condition of internal waters, medium and depth waters in the
northern Papua Indonesia. This bathymetry will be useful for various
engineering applications and some other of non engineering applications. This 3D
model of bathymetry will be useful for Indonesia in claiming maritime boundary
delimitation in Pasific Ocean and to improve marine resources management.
Keywords : Bathymetry, Northern Papua, extended continental
shelf

ABSTRAK
Wilayah Papua utara Indonesia merupakan kawasan yang berbatasan langsung
dengan
Palau di Samudera Pasifik. Kondisi ini memungkinkan Indonesia dapat
mengklaim
batas
maritim sesuai dengan yang terdapat di Technical Aspect of the Law of the Sea
(TALOS).
Salah satunya adalah penentuan batas landas kontinen ekstensi pada kedalaman
-2500
m
isobaths + 100 nm pada sedimentasi 1%. Batas landas kontinen ini dapat
ditentukan
menggunakan data batimetri yang diturunkan dari citra satelit Altimetri.
Pembuatan
batimetri ini memiliki konsep yang sama dengan pembuatan topografi
secara
survei
pemetaan maupun secara penginderaan jauh. Batimetri tersebut bisa
digunakan
untuk
penentuan klaim batas maritim lainnya. Selain itu, batimetri tersebut bisa juga
digunakan

untuk pemodelan 3D perairan di Samudera Pasifik sehingga akan terlihat kondisi


perairan
dangkal, sedang, dan dalam yang ada di sebelah utara Papua. Batimetri ini akan
berguna
dalam berbagai aplikasi keteknikan dan non keteknikan lainnya. Pemodelan 3D
perairan
ini
akan berguna bagi Indonesia dalam klaim batas maritim di Samudera Pasifik
dan
dalam
pengelolaan sumber daya alam laut.
Kata kunci: Batimetri, Papua Utara, landas kontinen ekstensi

PENDAHULUAN
Ilmu Batas Wilayah merupakan bagian dari ilmu Teknik Geodesi dan
Geomatika
yang
mengkaji aspek teknis dan hukum antara dua wilayah maupun negara yang
berbatasan.
Aspek teknis ini meluputi cara penentuan batas wilayah secara survei dan
pemetaan
sedangkan aspek hukum meliputi pidana dan perdata. Batas maritim antar
negara
merupakan sub-bagian ilmu batas wilayah yang mengkaji aspek teknis batas
antar
negara
dan hukum laut serta perjanjian bilateral maupun multilateral. Penentuan batas
wilayah
ditandai dengan proses delimitasi, delineasi, dan demarkasi. Pada batas
maritim
lebih
digunakan delimitasi. Menurut (Arsana, 2007) delimitasi batas maritim antar
negara
adalah
penentuan batas wilayah atau kekuasaan antar satu negara dengan
negara
lain
(tetangganya) di laut. Gagasan tentang pembagian laut ini muncul pertama
kali
atas
kewibawaan Paus yang membagi samudera untuk Portugal dan Spanyol
berdasarkan
Piagam Inter Ceterea 1493 dan direvisi dengan perjanjian Tordesilas 1494. Pada
perjanjian
ini, Portugal mendeklarasikan garis pembagi di lautan dan menegaskan bahwa
samudera
di sebelah timur bujur meridian yang melalui Brazil adalah milik Portugal
sedangkan
laut
di
sebelah baratnya menjadi milik Spanyol (Charleton dan Schofield, 2001 dalam
Arsana,
2007). Setelah pembagian laut antara Portugal dan Spanyol, usaha serupa juga
dilakukan
untuk menegaskan kedaulatan atas kawasan lepas pantai, misal deklarasi
proklamasi
James I Inggris pada awal abad ke -17.
International Boundary Research Unit (IBRU) mengemukakan bahwa pemerintah di
seluruh dunia secara langsung maupun tidak telah sepakat bahwa batas
maritim
yang
terdefinisikan dengan jelas merupakan hal yang penting bagi hubungan
internasional
yang
baik dan pengelolaan laut yang efektif. Konsep dasar delimitasi batas
maritim
harus
didukung oleh dasar hukum, aspek ilmiah, dan aspek teknis. Delimitasi batas
maritim
diatur oleh hukum internasional atau yang lebih dikenal dengan Technical
Aspect
of
the
Law of the Sea (TALOS). Sampai saat ini telah dihasilkan tiga konvensi hukum
laut
oleh
United Nations (UN) yang dikenal dengan nama United Nations Convention on
the
Law
of
the Sea (UNCLOS). TALOS dikeluarkan oleh tiga organisasi profesi terkait

yaitu
Intergovermental
Oceanographic
Commission (IOC),
International
Hydrographic
Organization (IHO), dan International Association of Geodesy (IAG) yang
tergabung dalam Advisory Board on Law of the Sea (ABLOS).
Saat ini diperlukan penetapan dan penegasan batas maritim terutama dalam
pengelolaan
laut. Apalagi jika terbentuk negara baru seperti Timor Leste. Sebagai negara
merdeka,
Timor Leste memiliki sejumlah kewajiban dan tantangan internasional, salah
satunya
delimitasi batas maritim internasional. Penentuan batas sangat penting untuk
menjamin
kejelasan dan kepastian yurisdiksi (jurisdictional clarity and certainty)
(Prescott dan
Schofield, 2005 dalam Arsana, 2007). Hal ini dapat memberikan keuntungan
multidimensi, misal dalam memfasilitasi pengelolaan lingkungan laut
secara efektif dan berkesinambungan serta peningkatan keamanan maritim
(maritime security). Perjanjian batas maritim akan memberikan jaminan hak
negara pantai untuk mengakses dan mengelola sumberdaya maritim hayati
maupun non hayati (Arsana, 2007).
Delimitasi batas maritim memerlukan beberapa titik pangkal untuk dijadikan
sebagai
garis
pangkal. Garis pangkal merupakan referensi pengukuran batas terluar laut
wilayah
dan
zona yurisdiksi maritim lain sebuah negara pantai (TALOS, 2006). Garis
pangkal juga

merepresentasikan batas perairan pedalaman yang berada di sebelah dalam


garis
pangkal
ke arah daratan (landward). Secara umum sebuah negara dimungkinkan
menggunakan
tiga jenis garis pangkal yang meliputi garis pangkal normal, garis pangkal lurus,
dan
garis
pangkal kepulauan. Menurut UNCLOS 1982, sebuah negara pantai baik
negara
benua
(continental state) maupun negara kepulauan (archipelagic state) berhak
mengklaim
wilayah maritim tertentu diukur dari garis pangkalnya. Wilayah maritim yang
bisa
diklaim
meliputi perairan dalam (internal waters), perairan kepulauan (archipelagic
waters),
khusus untuk negara kepulauan, laut territorial sejauh 12 mil laut, zona ekonomi
eksklusif
(ZEE) sejauh 200 mil laut, dan landas kontinen (continental shelf) (Julzarika,
2009).
Syarat
yang membatasi jika batas terluar dari landas kontinen tidak boleh melebihi
350
mil
laut
dari garis pangkal sebagai referensi mengukur batas territorial; batas terluar
dari
landas
kontinen tidak melebihi 100 mil laut dari kontur kedalaman 2.500 m isobaths
dengan
ketebalan endapan 1%. Jika suatu negara pantai berada jauh dari negara pantai
lainnya
maka ada kemungkinan semua klaim wilayah maritim dapat dilakukan tanpa
mengganggu
hak negara lain atau bias dilakukan secara sepihak (unilateral). Mayoritas pulaupulau
kecil
tersebut tenggelam akibat erosi air laut yang diperburuk dengan kegiatan
penambangan
komersil. Penyebab lainnya adalah faktor bencana alam seperti tsunami, abrasi,
fenomena
rob, dan faktor di luar perubahan iklim. Setidaknya ada empat
indikator
yang
menyebabkan terjadinya perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
yaitu
(1).
Perubahan suhu atmosfer dan suhu air laut; (2). Perubahan pola angin; (3).
Perubahan
presipitasi dan pola hidrologi; (4). Kenaikan muka air laut. Pada saat erosi
pantai
meningkat, pola angin berubah ditambah dengan adanya kenaikan muka air
laut
maka
perubahan fisik lingkungan berubah. Perubahan tersebut meliputi (1)
terjadinya
gelombang ekstrim dan banjir; (2) intrusi air laut ke sungai dan air tanah; (3)
kenaikan
muka air sungai di muara sungai karena terbendung oleh muka air yang
naik; (4)
perubahan pasang surut dan gelombang; (5) perubahan pola sedimentasi.
Permasalahan kenaikan muka air laut juga disebabkan vulkanologi laut,
pencairan es di kutub utara dan selatan serta deformasi vertikal atau penurunan
tanah.

Kenaikan muka air laut sangat berpengaruh pada penataan wilayah pesisir
dan
pulaupulau kecil. Saat ini Indonesia memiliki 92 pulau-pulau kecil terluar, 67 pulau
diantaranya
berbatasan langsung dengan negara tetangga sebagai pulau-pulau kecil
perbatasan
(Julzarika, 2009). Dari sejumlah 67 pulau tersebut, 13 diantaranya perlu
mendapat
perhatian khusus pemerintah. Kenaikan muka air laut ini memiliki peran penting
terutama
pada penentuan batas maritim antar negara. Selain itu Indonesia juga dihadapi
dengan
permasalahan batas maritim. Indonesia belum mempunyai perjanjian batas
maritim
antar
negara dengan Palau, Philipina, dan Timor Leste serta belum selesainya
kesepakatan
permasalahan batas maritim dengan Singapura, Malaysia, dan Vietnam
(Abubakar,
2006).
Berdasarkan UNCLOS 1982, penentuan batas landas kontinen ekstensi dapat
dilakukan
dengan memperhatikan empat kriteria seperti diatur dalam pasal 76. Dua
kriteria
pertama
adalah kriteria yang membolehkan (formulae), sedangkan dua kriteria
terakhir
adalah
kriteria yang membatasi (constraints): kriteria yang membolehkan adalah
sebagai
berikut
(Arsana, 2007):
1. Didasarkan pada titik tetap terluar pada titik mana ketebalan batu
endapan
(sedimentary rock) paling sedikit 1% dari jarak terdekat antara titik tersebut
dengan
kaki lereng kontinen (gardiner line). Batas terluar landas kontinen
ekstensi adalah
garis yang menghubungkan titik-titik dengan ketebalan batu sedimen 1%
dihitung dari

kaki lereng kontinen. Persentase ini dihitung dengan membandingkan


tebalnya batu sedimen di suatu titik terhadap jarak titik tersebut dari kaki
lereng.
2. Batas terluar landas kontinen ekstensi juga bisa ditentukan dengan
menarik
garis
berjarak 60 mil laut dari kaki lereng kontinen (Hedberg line) ke arah laut
lepas.
Pada penerapannya, batas terluar landas kontinen ekstensi merupakan kombinasi
dari dua syarat di atas, dalam hal ini akan dipilih garis terluar yang paling
menguntungkan negara yang
bersangkutan.
Garis
terluar
ini
belum
merupakan garis batas landas kontinen ekstensi final karena harus diuji dan
memenuhi dua syarat pembatas yaitu:
1. Batas terluar dari landas kontinen tidak boleh melebihi 350 mil laut
dari
garis
pangkal sebagai referensi mengukur garis batas territorial; atau
2. Batas terluar dari landas kontinen tidak melebihi 100 mil laut dari kontur
kedalaman 2.500 m isobaths.
Kedua syarat tersebut membatasi dan berlaku salah satu yang paling
menguntungkan garis terluar yang dihasilkan.
Delimitasi batas maritim juga memerlukan konsep datum horizontal dan datum
vertikal.
Datum horizontal atau datum geodesi merupakan model matematika bumi untuk
referensi
perhitungan koordinat (Widjajanti dan Sutanta, 2006). Meskipun sebuah garis
batas
maritim telah berhasil dibuat, tidak disepakatinya datum geodesi yang
digunakan
dapat
menimbulkan sengketa. Pemahaman datum horizontal harus dipahami
secara
komprehensif terutama dalam hubungan antara permukaan bumi, geoid, dan
ellipsoid.
Geoid merupakan model fisik bumi berupa bidang ekuipotensial yang
bentuknya
mempunyai referensi mendekati permukaan air laut rerata (TALOS, 2006).
Model ini
dipengaruhi oleh kombinasi distribusi massa bumi dan gaya sentrifugal rotasi
bumi
dan
berkaitan erat dengan jari-jari bumi. Distribusi massa bumi yang tidak
merata
akan
menyebabkan ekuipotensial memiliki jari-jari bumi yang berbeda sehingga tidak
sempurna
secara matematis. Ellipsoid merupakan model matematika bumi yang
ditentukan
oleh
dimensi dari sumbu mayor dan sumbu minor dan nilai penggepengan
(flattening).
Faktor
utama yang mempengaruhi delimitasi batas maritim adalah pertimbangan politik,
strategis,
sejarah. Selain itu juga berpengaruh pertimbangan ekonomi dan
lingkungan,
pertimbangan geografis, serta pertimbangan geologi dan geomorfologi
(Arsana,
2007).

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan batas maritim berdasarkan landas


kontinen
ekstensi pada kedalaman 2500 m isobaths + 100 mil laut di sebelah utara
Papua.
Hal
ini
dilakukan karena pada kawasan in Indonesia berbatasan langsung dengan
negara
lain,
yaitu Palau. Indonesia belum memiliki perjanjian batas maritim dengan negara
ini
karena
belum memiliki hubungan diplomatik.

METODE
Penelitian ini menggunakan metodologi pada diagram alir pada Gambar 1.
Pelaksanaan
Kondisi geografis Indonesia memiliki posisi penting yaitu terletak antara
samudera
Hindia
dan samudera Pasifik serta benua Asia dan Australia. Kondisi geografis ini juga
berdampak
pada fenomena El-Nino yang menyebabkan Indonesia mengalami kondisi kering
dan

hangat. El-Nino adalah penampakan suhu dan arus laut yang hangat di
perairan
lepas
pantai Amerika Selatan mulai dari Ekuador sampai Peru (Subandono, 2009: 68).
Indonesia
yang juga merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki berbagai
kekayaan
sumber daya alam, mempunyai peran penting dalam perubahan iklim
global,
serta
memiliki pengaruh dalam pergerakan lempeng benua. Selain itu perubahan
iklim
juga
dipengaruhi oleh penguapan yang lajunya menjadi lebih cepat akibat dampak
kenaikan
suhu bumi yang mengakibatkan peningkatan kelembaban di udara serta
peningkatan
suhu
di siang hari. Curah hujan akan bertambah terutama di wilayah pesisir dan
sepanjang
lintasan siklon atau terpengaruh dari efek lintasan ekor siklon tropis. Pada skala
regional
panas dan kelembaban berlebih akan menyebabkan badai tropis yang kuat.

Gambar 1: Diagram alir penelitian


Indonesia memiliki 17.504 pulau dan garis pantai 95.181 km dengan kemiringan
rata-rata
2% atau genangan air mundur ke arah darat sejauh 50 m dari garis pantai.
Fenomena
perubahan iklim tersebut sudah berdampak pada Indonesia, yaitu
setidaknya
sudah
kehilangan 24 pulau kecil dalam waktu 2005-2007 (DKP, 2007). 24 pulau
kecil
yang

tenggelam tersebut meliputi NAD (tiga pulau), Sumatera Utara (tiga pulau),
Papua
(tiga
pulau), Kepri (lima pulau), Sumatera Barat (dua pulau), dan Sulawesi Selatan
(satu pulau

serta Kepulauan Seribu (tujuh pulau) (Subandono, 2009: 77). Penelitian ini
menggunakan data batimetri yang dibuat dari citra satelit altimetri.
Batimetri yang dihasilkan bisa digabungkan dengan topografi dari SRTM 90.
Gambar (2) merupakan tampilan 3D hasil gabungan batimetri dengan SRTM 90.
Data batimetri tersebut digunakan untuk melihat hasil posisi kedalaman -2500 m
isobaths
di sebelah utara Papua. Pada wilayah ini Indonesia berbatasan langsung
dengan
negara
lain yaitu Palau sehingga memungkinkan terjadi permasalahan klaim batas
maritim
pada
>24 nm, >200 nm, >350 nm, dan pada kedalaman -2500 + 100 m isobaths.
Batimetri
yang dibuat dari citra satelit altimetri dapat digunakan dalam klaim batas
maritim
Indonesia. Berdasarkan data batimetri tersebut kemudian dilakukan
pembuatan
kontur
pada -2500 m. Pengolahan ini menghasilkan fakta bahwa pada jarak 24-200 nm
dari
titik
pangkal Indonesia di sebelah utara Papua terdapat batimetri dengan kedalaman
-2500 m.
Kemudian juga terdapat kedalaman -2500 m pada wilayah pantai utara
Papua
dekat
Samudera Pasifik. Akan tetapi ini merupakan nilai kedalaman -2500 m
terdekat
ke
titik
pangkal sehingga klaim batas maritim pada kedalaman -2500 m + 100 nm
isobaths
tidak
bisa diklaim akibat kedalaman ini lebih dekat ke Indonesia sehingga akan
merugikan
klaim
Indonesia. Pada kawasan utara Papua ini hanya bisa mengklaim batas maritim
>350
nm.
Gambar 3 berikut ini merupakan tampilan batimetri perairan utara Papua pada
kedalaman
-2500 m isobath.
Gambar 4 merupakan tampilan kedalaman -2500 m, dekat Pulau Jiew, Budd, Fani,
Miossu,Fanildo, Brass Bepondi, dan Liki. Pada Pulau Jiew terdapat titik dasar
(TD.063)
dan
titik referensi (TR.063). Pulau Budd terdapat titik dasar (TD.065) dan titik
referensi
(TR.065). Pulau Fani terdapat titik dasar (TD.066A) dan titik referensi (TR.066).
Pulau
Miossu terdapat titik dasar (TD.070) dan titik referensi (TR.070). Pulau Fanildo
terdapat
titik dasar (TD.072) dan titik referensi (TR.072) (Julzarika, 2009). Pulau Brass
terdapat
titik
dasar (TD.072A) dan titik referensi (TR.072). Pulau Bepondi terdapat titik dasar
(TD.074)
dan titik referensi (TR.074). Pulau Liki terdapat titik dasar (TD.079) dan titik
referensi
(TR.079).
Gambar (5) merupakan tampilan 3D batimetri perairan utara Papua di Samudera
Pasifik.

Batimetri antara kedalaman pertama (-2500 m dari titik pangkal) dengan


batimetri
kedua
(-2500 di Samudera Pasifik) memiliki kedalaman <2500 m bahkan terletak
pada
kedalaman <-4000 m. Perairan diantara kedua batimetri ini tergolong pada
perairan dalam sehingga kondisi kekuatan dan laju arus laut di perairan ini
sangat kuat dan berpengaruh terhadap perairan utara Papua, Indonesia. Hal
ini yang menjadi salah satu penyebab bahwa perairan utara Papua memiliki
kerentanan abrasi sangat tinggi, tinggi gelombang >2,5 m, dan pergeseran
lempeng yang sangat signifikan.
Uji melintang batimetri perairan utara Papua
Uji melintang digunakan untuk melihat bagaimana kondisi profil suatu model
3D secara melintang. Pengujian ini merupakan salah satu cara untuk
mengetahui akurasi secara geostatistik (Julzarika, 2007). Pengujian ini dapat
juga diaplikasikan pada proses cut and fill untuk pertambangan darat-laut dan
survei hidrografi. Gambar (6) merupakan tampilan uji profil melintang pada
perairan Samudera Pasifik.

Palau

Gambar 2. Batimetri dan topografi sebelah utara Papua dengan Palau

Gambar 3: Batimetri pada kedalaman -2500 m isobaths wilayah pantai utara


Papua.

Gambar 4: Batimetri sebelah utara Papua pada kedalaman -2500 m isobaths.

Gambar 5: Tampilan 3D batimetri perairan utara Papua di Samudera Pasifik

Gambar 6: Uji profil melintang batimetri di sebelah utara Papua (Samudera


Pasifik).

Gambar 7: Slope batimetri di Samudera Pasifik

Data batimetri ini bisa juga diaplikasikan untuk pembuatan slope dimana
hasil
ini
bisa
digunakan untuk menentukan bagaimana kondisi slope di sekitar Samudera
Pasifik
sehingga dapat diketahui lokasi sedimatasi 1% pada kedalaman -2500 m + 100
nm
isobath. Secara umum, batimetri di perairan Samudera Pasifik memiliki slope
sekitar
0-15
derajat.
Selain untuk penentuan slope, data batimetri dapat digunakan untuk
penentuan slope direction. Secara umum, perairan di Samudera Pasifik terletak
pada slope direction 40-280 derajat. Kondisi ini terletak pada hampir di
keseluruhan wilayah perairan dalam di Samudera Pasifik. Slope direction ini
berguna untuk analisa kekuatan dan laju arus, gelombang, kenaikan muka air
laut.

Gambar 8: Slope direction di Samudera Pasifik

KESIMPULAN
Samudera Pasifik secara umum terletak di perairan dalam (<-4000 m) sehingga
penentuan klaim batas maritim -2500+100 m isobaths tidak berpengaruh bagi batas
maritim Indonesia terhadap Palau karena terletak dekat dengan titik pangkal
kepulauan. Indonesia bisa melakukan klaim batas maritim pada >350 nm ke
arah utara di Samudera Pasifik yang berbatasan langsung dengan negara lain,
yaitu Palau. Perairan di Samudera Pasifik terletak pada slope 0-15 derajat dengan
slope direction 40-280 derajat.

DAFTAR PUSTAKA
Abubakar, M. , 2006. Menata pulau-pulau kecil perbatasan. Cetakan pertama. PT.
Kompas
Media Nusantara. Jakarta. Indonesia.
Arsana, I.M.A., 2007. Batas Maritim Antar Negara. Cetakan pertama. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta. Indonesia.
Diposaptono, S. et all., 2009. Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil. Cetakan pertama. PT. Sarana Komunikasi Utama. Bogor. Indonesia
IOC, IHO, IAG, 2006. Technical Aspect of the Law of the Sea (TALOS). UNESCO. United
Nations.
Julzarika, A., 2007, Analisa Perubahan Koordinat Akibat Proses Perubahan Format
Tampilan Peta pada Pembuatan Sistem Informasi Geografis Berbasis
Internet,
Skripsi, Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika FT UGM, Yogyakarta.
Julzarika, A., 2009. Kajian batas maritim Indonesia dengan Palau
Menggunakan
Pemodelan 3D terhadap kenaikan muka air laut (studi kasus: Pulau
Fanildo,
Indonesia). Seminar Nasional Teknik Geodesi UNDIP-ISI. Semarang.
Widjajanti, N.,dan Sutanta, H. 2006: Model Permukaan Digital, Jurusan Teknik
Geodesi
dan Geomatika, Fakultas Teknik, Universtas Gadjah Mada, Yogyak