You are on page 1of 45

REFERAT

COMBUSTIO

Pembimbing :
Dr. T. Henry, SpB. Msi, Med

Penyusun :
Aditya Wicaksono Putra
11-2015-078

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RS. MARDI RAHAYU KUDUS
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Periode 4 Maret 2016 11 juni 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karuniaNya sehingga referat yang berjudul Combustio ini dapat diselesaikan dengan baik.
Referat ini merupakan salah satu pemenuhan syarat kepaniteraan klinik di bagian
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana, sekaligus sebagai sarana belajar
dan pemahaman lebih dalam lagi mengenai topik tentang Klasifikasi, Penatalaksanaan dan
Komplikasi dari pada Combustio sehubungan dengan banyaknya kasus combustio yang
ditemui dalam praktek klinis sehari-hari.
Terima kasih penyusun ucapkan kepada semua pihak yang telah banyak membantu
dalam penyusunan referat ini, khususnya kepada dr. T. Henry, SpB. Msi, Med sebagai
pembimbing yang telah memberikan saran, bimbingan, serta dukungan dalam penyusunan
referat ini. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan dokter muda dan
semua pihak yang banyak membantu dalam penyusunan referat ini.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran sebagai masukan untuk perbaikan demi
kesempurnaan referat ini. Semoga karya ini bisa bermanfaat untuk para pembaca.
Sekian dan terima kasih.

Kudus, 27 Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I
Pendahuluan.. 4
Anatomi & Fisiologi Kulit.4
BAB II
Definisi & Etiologi .8
Patofisiologi9
Diagnosis...14
Klasifikasi Luka Bakar...14
Penatalaksanaan..21
Komplikasi40
Prognosis...42
BAB III
3

Kesimpulan...33
Daftar Pustaka...44

BAB I
PENDAHULUAN
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter. Luka bakar
berat dapat menyebabkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibandingkan
dengan cedera oleh sebab lain. Biaya yang dibutuhkan untuk penanganannya pun tinggi. Di
Amerika Serikat, kurang lebih 250.000 orang mengalami luka bakar membutuhkan tindakan
emergensi, dan sekitar 210 penderita luka bakar meninggal dunia. Di Indonesia, belum ada
angka pasti mengenai luka bakar, tetapi dengan bertambahnya jumlah penduduk serta
industri, angka luka bakar tersebut makin meningkat.
Luka bakar menyebabkan hilangnya integritas kulit dan juga menimbukan efek
sistemik yang sangat kompleks. Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang
ditentukan oleh kedalaman luka bakar. Beratnya luka bergantung pada dalam, luas, dan letak
luka. Selain beratnya luka bakar, umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya
merupakan faktor yang sangat mempengaruhi prognosis.1
ANATOMI & FISIOLOGI KULIT
Kulit adalah organ terbesar di tubuh, tidak hanya berfungsi sebagai sawar mekanis
antara lingkungan eksternal dan jaringan dibawahnya, tetapi secara dinamis juga terlibat

dalam mekanisme pertahanan dan berbagai fungsi lain. Kulit terdiri dari dua lapisan,
epidermis disebelah luar dan dermis disebelah dalam.2
A. EPIDERMIS
Epidermis terdiri dari banyak lapisan sel epitel. Lapisan epidermis di bagian dalam
terdiri dari sel- sel berbentuk kubus yang hidup dan cepat membelah diri, sementara
sel-sel di lapisan luar mati dan menggepeng. Epidermis tidak mendapatkan pasokan
darah langsungr dan hanya mendapatkan makanan melalui difus nutrien dari jaringan
epidermis di bawahnya. Sel-sel epidermis berikatan erat satu sama lain melalui pada
desmosom titik yang berhubungan dengan intrasel untuk membentuk suatu lapisan
pembungkus kohesif yang kuat. Selama pematangan sel penghasil kreatinin, terjadi
akumulasi filamen-filamen keratin secara progresif yang saling berikatan silang di
sitoplasma. Sewaktu sel-sel di bagian luar mati, yang tertinggal hanya inti kreatinin
fibrosa yang membentuk skuama keras-gepeng dan menjadi lapisan kreatinisasi
protektif-kuat. Skuama pada lapisan keratinisasi paling luar yang terkelupas atau
tanggal akbiat abrasi, secara terus-menerus di ganti melalui pembelahan sel dilapisan
epidermis sebelah dalam. Lapisan kreatinisasinya bersifat kedap udara, cukup kedap
air dan sulit untuk ditembus oleh sebagian besar bahan. Lapisan ini juga berfungsi
menahan lewatnya bahan dalam kedua arah antara tubuh dan lingkungan eksternal.
Epidermis mengandung empat jenis sel : 2

Sel kreatinosit

Melanosit

Sel langerhans

Sel granstein

Lapisan epidermis ada 6, yaitu :


1. Stratum dysjunctum
2. Stratum corneum
3. Stratum lucidum
4. Stratum granulosum
5

5. Stratum spinosum
6. Stratum basale

Fungsi epidermis sendiri yaitu :


Melindugi dari kekeringan
Pelindung dari masuknya bakteri
Melindungi dari toksin
Menjaga keseimbangan cairan: menghindari kehilangan cairan yang
berlebihan
Neuronsensori dan interaksi sosial

B. DERMIS
Dermis adalah lapisan jaringan ikat yang mengandung banyak serat elstin (untuk
peregangan) dan serat kolagen (untuk kekuatan), serta sejumlah besar pembuluh
darah dan ujung-ujung saraf khusus. Jaringan penyambung padat berbentuk irregular
yg mensupport epdermis dan berikatan dng jar.subcutan ( hypodermis)
Tebal : 0,6 mm 3 mm,pada wanita lebih tipis dibanding pria.2
Pembuluh darah dermis tidak hanya memasok darah kedermis dan epidermis tetapi,
juga berperan penting dalam mengatur suhu. Kaliber pembuluh-pembuluh darah
ini,dan dengan demikian volume darah yang mengalir didalamnya dapat di kontrol
untuk mengubah-ubah tingkat pertukaran panas antara pembuluh permukaan kulit ini
dengan lingkungan eksternal. Reseptor-reseptor di ujung perifer serat saraf aferen di
dermis mendeteksi tekanan,suhu,nyeri,dan masukkan somatosensorik lainnya. Ujungujung saraf eferen didermis mengontrol kaliber pembuluh darah, ereksi rambut,dan
sekresi oleh kelenjar eksokrin. Dermis dibagi mennjadi :2
Superficial yang tipis yang dikenal dengan papilary layer, terdapat
fibroblast, serat elastin dan kolagen tipe 3 serta banyak terdapat kapiler.
Dan bagian yang paling tebal yang dikenal dengan reticular
layer,terdapat serat kolagen tipe 2, terisi matriks ekstrasel yang
6

mengandung

dermatan

sulfat

dan

glikosaminoglikan,sel

fibroblas,makrofag,lymfosit dan mast cells. Membentuk garis paralel


dengan permukaan tubuh diuat lines of Langer surgical important
minimize scar tissue.

Fungsi dermis sendiri yaitu :

Melindungi dari trauma dengan elastisitas, daya tahan dan


komponennya.

Menjaga keseimbangan cairan melalui regulasi aliran darah kulit

Termoregulasi melalui control aliran darah.

Faktor pertumbuhan dan arah kontak pada replikasi epidermis dan


perbaikan dermis.

C. Hypodermis ( subcutaneous tissue)


Hypodermis merupakan bagian dalam dari lapisan reticular layer. Jaringan
penyambung jarang terbungkus oleh serabut kolagen, serta banyak mengandung
jaringan lemak terutama bagian perut dan pinggul yg dapat mencapai ketebalan 3 cm
lapisan ini disebut panniculus adiposus.2
Gambar 1. Anatomi kulit

,
Kelenjar eksokrin kulit terdiri dari kelenjar dari kelenjar sebasea,yang menghasilkan
sebum, suatu bahan berminyak yang melunakkan dan membuat kulit kedap air, dan kelenjar
keringat, yang mengahsilkan keringat pendingin. Folike rambut mengahsilkan rambut, yang
didistribusi dan fungsinya minimal pada manusia. Selain itu kulit juga mensintetis vitamin D
dengan adanya sinar matahari. 2

BAB I
DEFINISI & ETIOLOGI
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka bakar
merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan
penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok) sampai fase lanjut.

Luka bakar dapat disebabkan oleh paparan api, baik secara langsung maupun tidak
langsung, misal akibat tersiram air panas yang banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga.
Selain itu, pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik maupun bahan kimia juga dapat
menyebabkan luka bakar. Secara garis besar, penyebab terjadinya luka bakar dapat dibagi
menjadi:3

Paparan api
o Flame: Akibat kontak langsung antara jaringan dengan api terbuka, dan
menyebabkan cedera langsung ke jaringan tersebut. Api dapat membakar
pakaian terlebih dahulu baru mengenai tubuh. Serat alami memiliki
kecenderungan untuk terbakar, sedangkan serat sintetik cenderung meleleh
atau menyala dan menimbulkan cedera tambahan berupa cedera kontak.
o Benda panas (kontak): Terjadi akibat kontak langsung dengan benda panas.
Luka bakar yang dihasilkan terbatas pada area tubuh yang mengalami kontak.
Contohnya antara lain adalah luka bakar akibat rokok dan alat-alat seperti

solder besi atau peralatan masak.


Scalds (air panas)
Terjadi akibat kontak dengan air panas. Semakin kental cairan dan semakin lama
waktu kontaknya, semakin besar kerusakan yang akan ditimbulkan. Luka yang
disengaja atau akibat kecelakaan dapat dibedakan berdasarkan pola luka bakarnya.
Pada kasus kecelakaan, luka umumnya menunjukkan pola percikan, yang satu sama
lain dipisahkan oleh kulit sehat. Sedangkan pada kasus yang disengaja, luka
umumnya melibatkan keseluruhan ekstremitas dalam pola sirkumferensial dengan

garis yang menandai permukaan cairan.


Uap panas
Terutama ditemukan di daerah industri atau akibat kecelakaan radiator mobil. Uap
panas menimbulkan cedera luas akibat kapasitas panas yang tinggi dari uap serta
dispersi oleh uap bertekanan tinggi. Apabila terjadi inhalasi, uap panas dapat

menyebabkan cedera hingga ke saluran napas distal di paru.


Gas panas
Inhalasi menyebabkan cedera thermal pada saluran nafas bagian atas dan oklusi jalan

nafas akibat edema.


Aliran listrik
Cedera timbul akibat aliran listrik yang lewat menembus jaringan tubuh. Umumnya
luka bakar mencapai kulit bagian dalam. Listrik yang menyebabkan percikan api dan
membakar pakaian dapat menyebabkan luka bakar tambahan.
9

Zat kimia (asam atau basa)


Radiasi
Sunburn sinar matahari, terapi radiasi

Patofisiologi
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler
yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya
ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan edema
dan menimbulkan bula yang mengandung banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan
berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan
kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bula yang
terbentuk pada luka bakar derajat II, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat
III.
Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih
bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20%, akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala
yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah
menurun dan produksi urin yang berkurang. Pembengkakan terjadi pelan-pelan, maksimal
terjadi setelah delapan jam. Pada kebakaran ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah,
dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap atau uap panas yang terisap.
Edema laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala
sesak napas, takipnea, stridor, suara serak dan dahak berwarna gelap akibat jelaga.
Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lainnya. CO akan mengikat
hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda
keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang
berat terjadi koma. Bila lebih dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat meninggal.
Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi serta
penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Ini ditandai dengan meningkatnya
diuresis.

10

Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium
yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi
karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis. Padahal,
pembuluh ini membawa sistem pertahanan tubuh atau antibiotik. Kuman penyebab infeksi
pada luka bakar, selain berasal dari dari kulit penderita sendiri, juga dari kontaminasi kuman
saluran napas atas dan kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi nosokomial ini
biasanya sangat berbahaya karena kumannya banyak yang sudah resisten terhadap berbagai
antibiotik.
Pada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kokus Gram positif yang berasal dari
kulit sendiri atau dari saluran napas, tetapi kemudian dapat terjadi invasi kuman Gram
negatif, Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin protease dari toksin
lain yang berbahaya, terkenal sangat agresif dalam invasinya pada luka bakar. Infeksi
pseudomonas dapat dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Kuman
memproduksi enzim penghancur keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan
granulasi membentuk nanah.
Infeksi ringan dan noninvasif ditandai dengan keropeng yang mudah terlepas dengan
nanah yang banyak. Infeksi yang invasif ditandai dengan keropeng yang kering dengan
perubahan jaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat menadi nekrotik; akibatnya, luka
bakar yang mula-mula derajat II menjadi derajat III. Infeksi kuman menimbulkan vaskulitis
pada pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan menimbulkan trombosis sehingga
jaringan yang didarahinya nanti.
Bila luka bakar dibiopsi dan eksudatnya dibiak, biasanya ditemukan kuman dan
terlihat invasi kuman tersebut ke jaringan sekelilingnya. Luka bakar demikian disebut luka
bakar septik. Bila penyebabnya kuman Gram positif, seperti stafilokokus atau basil Gram
negatif lainnya, dapat terjadi penyebaran kuman lewat darah (bakteremia) yang dapat
menimbulkan fokus infeksi di usus. Syok sepsis dan kematian dapat terjadi karena toksin
kuman yang menyebar di darah.
Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat II dapat sembuh dengan
meninggalkan cacat berupa parut. Penyembuhan ini dimulai dari sisa elemen epitel yang
masih vital, misalnya sel kelenjar sebasea, sel basal, sel kelenjar keringat, atau sel pangkal
11

rambut. Luka bakar derajat II yang dalam mungkin meninggalkan parut hipertrofik yang
nyeri, gatal, kaku dan secara estetik jelek. Luka bakar derajat III yang dibiarkan sembuh
sendiri akan mengalami kontraktur. Bila terjadi di persendian, fungsi sendi dapat berkurang
atau hilang.
Pada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase akut, peristalsis usus
menurun atau berhenti karena syok, sedangkan pada fase mobilisasi, peristalsis dapat
menurun karena kekurangan ion kalium.
Stres atau badan faali yang terjadi pada penderita luka bakar berat dapat
menyebabkan terjadinya tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala yang sama
dengan gejala tukak peptik. Kelainan ini dikenal sebagai tukak Curling.
Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga keseimbangan protein
menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi dan
infeksi. Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga memerluka kalori tambahan. Tenaga
yang diperlukan tubuh pada fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari otot
skelet. Oleh karena itu, penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil, dan berat badan
menurun. Dengan demikian, korban luka bakar menderita penyakit berat yang disebut
penyakit luka bakar. Bila luka bakar menyebabkan cacat, terutama bila luka mengenai wajah
sehingga rusak berat, penderita mungkin mengalami beban kejiwaan berat. Jadi prognosis
luka bakar ditentukan oleh luasnya luka bakar.4

Gambar 2. Patofisiologi luka bakar

12

Fase Pada Luka Bakar


13

Dalam perjalanan penyakit, dapat dibedakan menjadi tiga fase pada luka bakar, yaitu:
1.

Fase awal, fase akut, fase syok


Pada fase ini, masalah utama berkisar pada gangguan yang terjadi pada saluran nafas
yaitu gangguan mekanisme bernafas, hal ini dikarenakan adanya eskar melingkar di
dada atau trauma multipel di rongga toraks; dan gangguan sirkulasi seperti
keseimbangan cairan elektrolit, syok hipovolemia.

2.

Fase setelah syok berakhir, fase sub akut


Masalah utama pada fase ini adalah Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS)
dan Multi-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS) dan sepsis. Hal ini merupakan
dampak dan atau perkembangan masalah yang timbul pada fase pertama dan masalah
yang bermula dari kerusakan jaringan (luka dan sepsis luka)

3.

Fase lanjut
Fase ini berlangsung setelah penutupan luka sampai terjadinya maturasi jaringan.
Masalah yang dihadapi adalah penyulit dari luka bakar seperti parut hipertrofik,
kontraktur dan deformitas lain yang terjadi akibat kerapuhan jaringan atau struktur
tertentu akibat proses inflamasi yang hebat dan berlangsung lama

Pembagian zona kerusakan jaringan:


1. Zona koagulasi, zona nekrosis
Merupakan daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat
pengaruh cedera termis, hampir dapat dipastikan jaringan ini mengalami nekrosis
beberapa saat setelah kontak. Oleh karena itulah disebut juga sebagai zona nekrosis.
2. Zona statis
Merupakan daerah yang langsung berada di luar/di sekitar zona koagulasi. Di daerah
ini terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan
leukosit, sehingga terjadi gangguam perfusi (no flow phenomena), diikuti perubahan
permeabilitas kapilar dan respon inflamasi lokal. Proses ini berlangsung selama 12-24
jam pasca cedera dan mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan.
3. Zona hiperemi

14

Merupakan daerah di luar zona statis, ikut mengalami reaksi berupa vasodilatasi tanpa
banyak melibatkan reaksi selular. Tergantung keadaan umum dan terapi yang
diberikan, zona ketiga dapat mengalami penyembuhan spontan, atau berubah menjadi
zona kedua bahkan zona pertama.

Diagnosis
Diagnosa luka bakar didasarkan pada:
a. Luas luka bakar
b. Derajat (kedalaman) luka bakar
c. Lokalisasi
d. Penyebab

Indikasi Rawat Inap


Menurut American Burn Association, seorang pasien diindikasikan untuk dirawat
inap bila:
1. Luka bakar derajat III > 5%
2. Luka bakar derajat II > 10%
3. Luka bakar derajat II atau III yang melibatkan area kritis (wajah, tangan, kaki,
genitalia, perineum, kulit di atas sendi utama) risiko signifikan untuk masalah
kosmetik dan kecacatan fungsi
4. Luka bakar sirkumferensial di thoraks atau ekstremitas
5. Luka bakar signifikan akibat bahan kimia, listrik, petir, adanya trauma mayor lainnya,
atau adanya kondisi medik signifikan yang telah ada sebelumnya
6. Adanya trauma inhalasi

Klasifikasi Luka Bakar


Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tinggi suhu dan lama pajanan suhu tinggi. Selain
api yang langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar karena kontak dengan api atau
listrik juga memperdalam luka bakar. Bahan pakaian yang dipakai penderita seperti nilon dan

15

dakron, selain mudah terbakar juga mudah meleleh oleh suhu tinggi, lalu menjadi lengket
sehingga memperberat kedalaman luka bakar.4
Kedalaman luka bakar dideskripsikan dalam derajat luka bakar, yaitu:

Luka Bakar Derajat I:


Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (superfisial), kulit hiperemik berupa
eritem, tidak dijumpai bullae, terasa nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.
Biasanya sembuh dalam 5-7 hari dan dapat sembuh secara sempurna. Contoh luka bakar
derajat I adalah sunburn.
Gambar 3. Luka bakar derajat I

Luka Bakar Derajat II:


Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai
proses eksudasi. Terdapat bullae, nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.
Dibedakan menjadi 2 bagian:
A. Derajat II dangkal/superfisial (IIA)
Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dari corium/dermis. organorgan kulit seperti folikel rambut, kelenjar sebasea masih banyak. Semua ini
merupakan benih-benih epitel. Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 1014 hari tanpa terbentuk sikatrik. Gejala yang timbul adalah sangat nyeri, terdapat
lepuhan yang timbul beberapa menit, bula atau blister yang berisi cairan eksudat
yang keluar dari pembuluh darah akibat permeabilitas dindingnya meningkat.
Komplikasi jarang terjadi, terkadang timbul infeksi sekunder pada luka.
B. Derajat II dalam/deep (IIB)
16

Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa-sisa jaringan epitel
hingga tinggal sedikit. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea tinggal sedikit. Gejala yang timbul berupa rasa nyeri pada luka yang
lebih superfisial, warna merah muda, hipoestesia (rasa nyeri sedikit), dan bula atau
blister tidak karakteristik. Penyembuhan terjadi lebih lama dan disertai parut
hipertrofi. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.
Apabila luka bakar derajat II yang dalam ini tidak ditangani dengan baik, dapat
timbul edema dan penurunan aliran darah di jaringan, sehingga cedera berkembang
menjadi full-thickness burn atau luka bakar derajat III.
Gambar 4. Luka bakar derajat II

Luka Bakar Derajat III:


Kerusakan meliputi seluruh tebal kulit dan lapisan yang lebih dalam sampai
mencapai jaringan subkutan, otot dan tulang. Organ kulit mengalami kerusakan, tidak
ada lagi sisa elemen epitel. Tidak dijumpai bullae, kulit yang terbakar berwarna abu-abu
dan lebih pucat sampai berwarna hitam kering. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang
sensasi karena ujung-ujung saraf sensorik rusak. Terjadi koagulasi protein dan epidermis
dan dermis yang dikenal sebagai escar, yang dapat menyebabkan kompartemen sindrom.
Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi epitelisasi spontan, pada kebanyakan
kasus untuk melindungi jaringan di bawah kulit dilakukan skin graft.

17

Gambar 5. Luka bakar derajat III

Luas Luka Bakar


Luasnya kerusakan akan ditentukan oleh suhu permukaan dan lamanya kontak. Luka
bakar menyebabkan koagulasi jaringan lunak. Seiring dengan peningkatan suhu jaringan
lunak, permeabilitas kapiler juga meningkat, terjadi kehilangan cairan secara evaporasi, dan
viskositas plasma meningkat dengan resultan pembentukan mikrotrombus. Hilangnya cairan
dapat menyebabkan syok hipovolemik, tergantung banyaknya cairan yang hilang dan respon
terhadap resusitasi. Luka bakar juga menyebabkan peningkatan laju metabolik dan energi
metabolisme.
Semakin luas permukaan tubuh yang terlibat, morbiditas dan mortalitasnya meningkat,
dan penanganannya juga akan semakin kompleks. Luas luka bakar dinyatakan dalam persen
terhadap luas seluruh tubuh. Ada beberapa metode cepat untuk menentukan luas luka bakar,
yaitu:1

Estimasi luas luka bakar menggunakan luas permukaan palmar pasien. Luas telapak
tangan individu mewakili 1% luas permukaan tubuh. luas luka bakar hanya dhitung
pada pasien dengan derajat luka II (IIA & IIB) atau III.

Rumus 9 atau Rule of Nine untuk orang dewasa.


Pada dewasa digunakan Rumus 9, yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung,
pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha
kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. Sisanya 1%
adalah daerah genitalia. Rumus ini membantu menaksir luasnya permukaan tubuh yang
terbakar pada orang dewasa.
18

Gambar 6. Presentase luka bakar


Kepala dan leher

9%

Lengan

18%

Badan depan

18%

Badan belakang

18%

Tungkai

36%

Genitalia

1%

Total

100%

Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak
jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Karena perbandingan luas
permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal Rumus 10 untuk bayi, dan
Rumus 10-15-20 untuk anak.
Gambar 7. Rumus menentukan luas luka bakar

Metode Lund and Browder


Metode yang diperkenalkan untuk kompensasi besarnya porsi massa tubuh di kepala
anak. Metode ini digunakan untuk estimasi besarnya luas permukaan pada anak. Apabila

19

tidak tersedia tabel tersebut, perkiraan luas permukaan tubuh pada anak dapat
menggunakan Rumus 9 dan disesuaikan dengan usia:
o Pada anak dibawah usia 1 tahun: kepala 18% dan tiap tungkai 14%. Torso dan
lengan presentasenya sama dengan dewasa.
o Untuk tiap pertambahan usia 1 tahun, tambahkan 0,5% untuk tiap tungkai dan
turunkan presentasi kepala sebesar 1% hingga tercapai nilai dewasa.
o
Tabel 1. Lund and Browder Chart

Pembagian Luka Bakar


1. Luka bakar ringan

Luka bakar dengan luas < 15% pada dewasa

Luka bakar dengan luas < 10% pada anak dan usia lanjut

Luka bakar dengan luas < 2% pada segala usia (tidak mengenai muka, tangan, kaki,
dan perineum)
20

2. Luka bakar sedang (moderate burn)

Luka bakar dengan luas 15-25% pada dewasa, dengan luka bakar derajat III < 10%

Luka bakar dengan luas 10-20% pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40 tahun,
dengan luka bakar derajat III < 10%

Luka bakar dengan derajat III < 10% pada anak maupun dewasa yang tidak
mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum

3. Luka bakar berat (major burn)

Derajat II-III > 20% pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau di atas usia 50
tahun

Derajat II-III > 25% pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama

Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki, dan perineum

Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka
bakar

Luka bakar listrik tegangan tinggi

Disertai trauma lainnya

Pasien-pasien dengan resiko tinggi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan:
1. Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah
2. Urinalisis
3. Pemeriksaan keseimbangan elektrolit
4. Analisis gas darah
5. Radiologi jika ada indikasi ARDS
6. Pemeriksaan lain yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis SIRS dan MODS

21

Penatalaksanaan
Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada tubuh, misalnya dengan
menyelimuti dan menutupi bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen pada
api yang menyala. Korban dapat mengusahakannya dengan cepat menjatuhkan diri dan
berguling agar bagian pakaian yang terbakar tidak meluas. Kontak dengan bahan yang panas
juga harus cepat diakhiri, misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau
menceburkan diri ke air dingin atau melepaskan baju yang tersiram air panas.
Pertongan pertama setelah sumber panas dihilangkan adalah merendam daerah
luka bakar dengan air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang kurangnya
lima belas menit. Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi
berlangsung terus setelah api dipadamkan sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini dapat
dihentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini
pada jam pertama. Oleh karena itu merendam bagian yang terbakar selama 15 menit pertama
dalam air sangat bermanfaat untuk menurunkan suhu jaringan sehingga kerusakan lebih
dangkal dan diperkecil. Dengan demikian luka yang sebenarnya menuju derajat dua dapat
berhenti pada derajat satu, atau luka yang akan menjadi derajat tiga dihentikan pada tingkat
dua atau satu. Pencelupan atau penyiraman dapat dilakukan dengan air apa saja yang dingin,
tidak usah steril.
Pada luka bakar ringan, prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah
yang terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel
untuk berploriferasi dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secara tertutup atau
terbuka.
Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan,
kalau perlu dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. Bila
penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan nafas, diberikan campuran udara lembab dan
oksigen. Kalau terjadi edema laring, dipasang endotrakeal tube atau dibuat trakeostomi.
Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan nafas, mengurangi ruang mati dan

22

memudahkan pembersihan jalan nafas dari lendir atau kotoran. Bila ada dugaan keracunan
CO, diberikan oksigen murni.
Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik dan membiarkannya
terbuka untuk perawatan terbuka atau menutupnya dengan pembalut steril untuk perawatan
tertutup. Kalau perlu, penderita dimandikan terlebih dahulu. Selanjutnya diberikan
pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid. Analgesik diberikan bila penderita
kesakitan.1
Terdapat prinsip terapi pada luka bakar yang dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Terapi fase akut
1. Hentikan dan hindarkan kontak langsung dengan penyebab luka bakar.
2. Menilai keadaan umum penderita: adanya sumbatan jalan nafas, nadi, tekanan
darah dan kesadaran (ABC)
-

Bila terjadi obstruksi jalan nafas: Bebaskan jalan nafas

Bila terjadi shock: segera infuse (grojog) tanpa memperhitungkan luas luka
bakar dan kebutuhan cairan (RL).

Bila tidak shok: segera diinfus sesuai dengan perhitungan kebutuhan cairan.

3. Perawatan luka
-

Luka dicuci dan dibersihkan dengan air steril dan antiseptic

Bersihkan luka dengan kasa atau handuk basah, inspeksi tanda-tanda infeksi,
keringkan dengan handuk bersih dan re-dress pasien dengan menggunakan
medikasi topikal. Luka bakar wajah superficial dapat diobati dengan ointment
antibacterial. Luka sekitar mata dapat diterapi dengan ointment antibiotik
mata topical. Luka bakar yang dalam pada telinga eksternal dapat diterapi
dengan mafenide acetat, karena zat tersebut dapat penetrasi ke dalam eschar
dan mencegah infeksi purulen kartilago.

Obat- obat topical yang digunakan untuk terapi luka bakar seperti: silver
sulfadiazine, contoh Silvaden, Burnazine, Dermazine, dll.

Kulit yang terkelupas dibuang, bulae (2-3 cm) dibiarkan

Bula utuh dengan cairan > 5 cc dihisap, < 5 cc dibiarkan


Bula sering terjadi pada jalur skin graft donor yang baru dan pada luka yang
ungraft. Membrane basal lapisan epitel baru kurang berikatan dengan bed dari
23

luka bakar. Struktur ini dapat mengalami rekonstruksi sendiri dalam waktu
beberapa bulan dan menjadi bullae. Bulla ini paling baik diterapi dengan
dihisap dengan jarum yang bersih, memasang lagi lapisan epitel pada
permukaan luka, dan menutup dengan pembalut adhesif. Pembalut adhesive
ini dapat direndam.
-

Pasien dipindahkan ke tempat steril

Pemberian antibiotic boardspectrum bersifat profilaksis.

Berikan analgetik untuk menghilangkan nyeri dan antacid untuk menghindari


gangguan pada gaster.

Berikan ATS untuk menghindari terjadinya tetanus

Pasang catheter folley untuk memantau produksi urine pasien

Pasang NGT (Nasogastric tube), untuk menghindari ileus paralitic.

b. Terapi fase pasca akut


-

Perawatan luka
-

Eschar escharectom (Eschar : jaringan kulit yang nekrose, kuman yang


mati, serum, darah kering)

Gangguan AVN distal karena tegang (compartment syndrome) escharotomi


atau fasciotomi

Kultur dan sensitivity test antibiotika Antibiotika diberikan sesuai hasilnya

Dimandikan tiap hari atau 2 hari sekali

Kalau perlu pemberian Human Albumin

Keadaan umum penderita


Dilihat keadaan umum penderita dengan menilai beberapa hal seperti kesadaran,
suhu tubuh, dan sirkulasi perifer. Jika didapatkan penurunan kesadaran, febris dan
sirkulasi yang jelek, hal ini menandakan adanya sepsis.

Diet dan cairan

Terdapat penangan berdasarkan durasi waktu setelah kontak, yaitu;


DUA PULUH EMPAT JAM PERTAMA (HARI 1)

Survei primer :
A & B (Airway &Breathing)
24

Adakah trauma inhalasi: anamnesa, suara serak (stridor)observasi selama 24 jam bila
perlu pasang ET atau lakukan trakheostomi.
Perhatikan adanya stridor (mengorok), suara serak, dahak berwarna jelaga (black
sputum), gagal napas, bulu hidung yang terbakar, bengkak pada wajah. Luka bakar
pada daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana intubasi (pemasangan pipa
saluran napas ke dalam trakea/batang tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang
adekuat/tetap terbuka. Intubasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap.6
C (Circulation)
Dilakukan resusitasi cairan. Bila penderita syok maka diatasi dulu syoknya dengan infus
RL diguyur sampai nadi teraba atau tekanan darah >90mmHg. Baru kemudian lakukan
resusitasi cairan. Cairan yang dibutuhkan dalam penanganan syok tidak dihitung.
Resusitasi cairan yang sering digunakan adalah cara Baxter.

Pastikan luas luka bakar untuk perhitungan pemberian cairan. Pemberian


cairan intravena (melalui infus) diberikan bila luas luka bakar >10%. Bila
kurang dari itu dapat diberikan cairan melalui mulut. Cairan merupakan
komponen penting karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik
melalui penguapan karena kulit yang berfungsi sebagai proteksi sudah rusak
dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan dari pembuluh darah ke
jaringan

sekitar

pembuluh

darah

yang

mengakibatkan

timbulnya

pembengkakan (edema). Bila hal ini terjadi dalam jumlah yang banyak dan
tidak tergantikan maka volume cairan dalam pembuluh darah dapat
berkurang dan mengakibatkan kekurangan cairan yang berat dan
mengganggu fungsi organ-organ tubuh.6
Baxter dengan rumus :
4cc x kgBB x %luka bakar

25

Setengah dari jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama dan sisanya diberikan
selama 16 jam berikutnya. Cairan yang diberikan biasanya RL karena terjadi defisit ion
Na.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah cara Evans :


1. %luka bakar x kgBB menjadi NaCl per 24 jam
2. %luka bakar x kgBB menjadi ml plasma per 24 jam
Keduanya merupakan pengganti cairan yang hilang akibat edema. Plasma diperlukan
untuk mengganti plasma yang keluar dari pembuluh darah dan meninggikan tekanan
osmosis hingga mengurangi perembesan keluar dan menarik kembali cairan yang telah
keluar.
3. Sebagai pengganti cairan yang hilang akibat penguapan, diberikan 2000cc glukosa
5% per 24jam.
Separuh dari jumlah 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya dalam 16 jam
berikutnya.
- Pasang kateter untuk memonitor produksi urin. Diharapkan produksi urin 1cc/KgBB/jam
- Pasang CVP pada luka bakar >/=40% dan pada penderita yang mengalami kesulitan
untuk mengukur tekanan darah.
Survei Sekunder

Penilaian luas luka bakar dan derajat kedalamannya. Biasanya dihitung sebelum
resusitasi cairan definitive

Pasang NGT. Untuk dekompresi penderita yang mengalami ileus paralitik dan untuk
memasukkan makanan

Cuci luka dengan NaCl dan savlon, keringkan, olesi dengan salep (Dermazin)
kemudian rawat luka secara tertutup

26

Pemeriksaan laboratorium darah dan Analisa Gas Darah tiap 24 jam

Pemberian analgetika dan antibiotika


Luka bakar termal, listrik dan bahan kimia membutuhkan penanganan dan pengobatan

yang berbeda. Terapi farmakologi memiliki peran yang terbatas dalam penatalaksanaan luka
bakar kimia. Disisi lain kunci dari penanganan luka bakar listrik adalah pada rehidrasi
sementara luka bakar termal memerlukan analgetik dan antibiotik topikal. Pastikan pasien
memberi informasi tentang alergi obat yang mereka miliki, obat obatan yang sedang
diminum atau kondisi kesehatan lain.6
DUA PULUH EMPAT JAM KEDUA (HARI II)

Cairan yang diberikan volumenya dari hari pertama

Pemberian koloid/plasma ekspander sudah boleh dilakukan

Diet sudah mulai 8 jam pasca trauma bila tidak terjadi ileus, melalui NGT

Perawatan luka dilakukan sesuai kebutuhan, biasanya setiap hari

Hari ke 7 penderita boleh dimandikan


Posisi penderita diletakkan dalam posisi yang baik agar tidak terjadi

kontraktur maupun problem rekonstruksi yang lain.

Terapi Luka Bakar Termal


1. Analgetik

Untuk luka bakar termal dokter biasanya memberikan resep analgetik untuk
menghilangkan rasa nyeri dan memberikan kenyamanan pada pasien. Morfin sulfat,
Demerol dan Vicodin mungkin diresepkan untuk nyeri yang sangat hebat.
2. Anti Inflamasi Non steroid
Golongan obat ini digunakan untuk nyeri akibat luka bakar ringan sampai sedang.
Ibuprofen biasanya digunakan untuk terapi awal, tapi pilihan lain seperti naproxen,
ansaid dan anaprox dapat juga diberikan.
3. Antibiotik Topikal

27

Antibiotik topikal digunakan untuk mencegah infeksi dan pertumbuhan bakteri. Neo
sporin digunakan untuk infeksi minor dan dioleskan ke kulit 1 3x sehari.
Silvadene adalah krim topikal yang digunakan untuk luka bakar yang lebih berat.
Silvadene adalah obat golongan sulfa yang digunakan untuk mencegah dan mengobati
infeksi bakteri atau jamur. Silvadene harus dioleskan menggunakan teknik steril ke tempat
luka bakar dan tempat luka bakar tersebut harus dicuci bersih sebelum pemakaian. Hindari
menggunakan silvadene pada wajah dan silvadene tidak boleh digunakan pada neonatus, bayi
berumur kurang dari 2 tahun atau pada kehamilan trimester akhir.

Terapi Luka Bakar Kimia


Walaupun obat-obatan memegang peranan yang terbatas pada penatalaksanaan luka
bakar kimia pada umumnya namun antibiotik topikal, garam magesium dan kalsium mungkin
dapat digunakan. Setelah luka dibersihkan, terapi cairan IV dan obat-obat narkotik diberikan
1. Antibiotik
Silvadene digunakan untuk luka bakar pada kulit dan berguna dalam pencegahan
infeksi pada luka bakar derajat 2 dan 3. Obat ini harus dioleskan pada kulit 1 atau 2x
sehari dan semua obat yang diberikan sebelumnya harus dibersihkan terlebih dahulu
sebelum mengoleskan salep baru. Eritromicin salep (bacitracin) digunakan untuk
mencegah infeksi pada luka bakar yang terdapat di bagian mata.
2. Analgetik
Morfin dan asetaminofen diberikan untuk penatalaksanaan nyeri dan mungkin
dapat bertindak sebagai sedatif yang penting bagi pasien yang mengalami cedera pada
daerah mata.
3. Anti Inflamasi Non Steroid
Advil, Motrin, Ansaid, Naprosyn, dan anaprox adalah obat anti inflamasi yang
digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang.

28

Terapi Luka Bakar Elektrik


Kunci dari penatalaksanaan luka bakar listrik adalah hidrasi. Hidrasi yang adekuat
dapat menurunkan morbiditas. Jika kerusakan otot terjadi sangat parah, diuretik osmotik
diberikan. 1

1. Terapi Cairan
Ringer Lactat biasanya digunakan untuk terapi. Ringer lactat adalah larutan isotonik dan
berfungsi sebagai pengganti volume cairan tubuh. Pemberiannya melalui jalur intra vena
dan harus dihentikan apabila terdapat tanda-tanda edema pulmo.

2.

Osmosis diuretik
Manitol adalah diuretik osmosis yang tidak dimetabolisme secara signifikan dan
melewati glomerulus tanpa direabsorpsi oleh ginjal. Manitol digunakan untuk
mengembalikan dan mempertahankan urin output.

Nutrisi
Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan keseimbangan
nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak 2.500-3.000 kalori sehari
dengan kadar protein tinggi.
Penderita yang sudah mulai stabil keadaannya memerlukan fisioterapi untuk
memperlancar peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi. Kalau perlu, sendi
diistirahatkan dalam posisi fungsional dengan bidai.1,
Memperkirakan jumlah kebutuhan nutrisi pada pasien luka bakar sangat penting
dalam proses penyembuhan. Terdapat beberapa rumus untuk menghitung kebutuhan nutrisi
pasien kula bakar. Persamaan Harris-Benedict dibuat untuk menghitung kebutuhan kalori
orang dewasa sementara Galvaston digunakan pada anak-anak. Rumus Curreri digunakan
untuk menghitung kebutuhan kalori dewasa dan anak-anak. Studi terbaru menunjukkan
bahwa rumus ini cenderung bersifat berlebihan (over estimate) sebesar kira kira 150% dari

29

kebutuhan kalori. Karena tidak ada satupun rumus yang dapat memperhitungkan secara
akurat berapa banyak kalori yang dibutuhkan oleh pasien, adalah penting bagi dokter dan ahli
gizi untuk memonitor secara ketat kondisi nutrisi pasien.
Kebutuhan protein pada umumnya meningkat daripada kebutuhan energi dan
tampaknya berhubungan dengan besarnya massa tubuh. Tubuh kehilangan protein melalui
luka dan karena hal ini tubuh meningkatkan kebutuhan kalori untuk penyembuhan.
Bagaimanapun juga mayoritas dari peningkatan kebutuhan protein berasal dari adanya
kerusakan otot dan terkait penggunaannya dalam memproduksi energi. Memberikan indeks
protein yang lebih tinggi tidak dapat menghentikan proses perusakan ini akan tetapi protein
penting untuk menyediakan bahan untuk sintesis jaringan yang rusak atau hilang.
Karbohidrat merupakan penyuplai kalori terbesar pada kebanyakan kondisi terrmasuk stress
pada luka bakar. Memberikan kalori yang adekuat dari karbohidrat dapat mengurangi
penggunaan protein sebagai bahan bakar. Tubuh memecah karbohidrat menjadi glukosa yang
akan digunakan sebagai energi. Luka bakar membutuhkan glukosa untuk energi dan tidak
dapat menggunakan sumber energi lain.
Lemak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan asam lemak esensial dan juga
sebagai sumber kalori. Rekomendasi umum memberikan 30% kalori dalam bentuk lemak,
dan jumlah ini bisa lebih besar jika diperlukan. Kekurangan asupan lemak berimplikasi pada
penurunan fungsi imun.(7)
Kebanyakan institusi kesehatan mengetahui bahwa luka bakar membutuhkan jumlah
vitamin dan mineral yang lebih tinggi akan tetapi berapa peningkatan kebutuhan ini belum
dapat ditentukan. Beberapa vitamin yang penting adalah vitamin C dan E bersama dengan
zinc dapat membatasi kerusakan oksidatif dan mempercepat penyembuhan luka.
Memberikan kalori dan zat gizi yang adekuat adalah tugas yang sangat sulit pada
pasien luka bakar terutama pada anak-anak. Adalah sangat penting bagi para tenaga
kesehatan untuk dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dalam rangka meminimalisasi
efek buruk dari kehilangan masa tubuh,dan malnutrisi energi protein. Kegagalan memenuhi
kebutuhan ini dapat bermanifestasi sebagai penyembuhan luka yang tidak sempurna, balance
nitrogen yang negatif, penurunan BB dan penurunan fungsi kekebalan tubuh.

30

Penilaian status nutrisi awal sebaiknya dilakukan secepatnya setelah masuk rumah
sakit. Hal ini sangat penting agar pemberian makan yang adekuat dapat diberikan dalam 2448 jam pertama setelah pasien mengalami luka bakar. Pengukuran berat badan dan tinggi
badan yang akurat seperti sebelum luka bakar terjadi yang dapat dilihat pada Tabel Standar
Pertumbuhan Anak sangat diperlukan untuk memperkirakan kebutuhan nutrisi pada anak.7

Tindakan bedah
Pemotongan eskar atau eskarotomi dilakukan pada luka bakar derajat tiga yang
melingkar pada ekstremitas atau tubuh karena pengerutan keropeng dan pembengkakan yang
terus berlangsung dapat mengakibatkan penjepitan yang membahayakan sirkulasi sehingga
bagian distal bisa mati. Tanda dini penjepitan adalah nyeri, kemudian kehilangan daya rasa
sampai kebas pada ujung-ujung distal. Keadaan ini harus cepat ditolong dengan membuat
irisan memanjang yang membuka keropeng sampai jepitan terlepas.
Debridemen diusahakan sedini mungkin uantuk membuang jaringan mati dengan
jalan eksisi tangensial. Tindakan ini dilakukan sesegera mungkin setelah keadaan penderita
menjadi stabil karena eksisi tangensial juga menyebabkan perdarahan. Biasanya eksisi dini
ini dilakukan pada hari ke-3 sampai ke-7, dan pasti boleh dilakukan pada hari ke-10. Eksisi
tangensial sebaiknya tidak dilakukan lebih dari 10% luas permukaan tubuh, karena dapat
terjadi perdarahan yang cukup banyak. Luka bakar yang telah dibersihkan atau luka granulasi
dapat ditutup dengan skin graft yang umumnya diambil dari kulit penderita sendiri (skin
grafting autologus). Penutupan luka bakar dengan bahan biologis seperti kulit mayat atau
kulit binatang atau amnion manusia dapat dilakukan jika terdapat keterbatasan luas kulit
penderita atau terlalu payah. Walaupun kemungkinan ditolak, bahan tersebut dapat berfungsi
sementara sebagai penghalang penguapan berlebihan, pencegah infeksi yang lebih parah, dan
mengurangi nyeri. Namun, sedikit demi sedikit penutup sementara ini harus diganti dengan
kulit penderita sendiri sebagai penutup permanen.
Sebaiknya pada penderita luka bakar derajat dua dalam dan derajat tiga dilakukan
skin grafting untuk mencegah terjadinya keloid dan jaringan parut yang hipertropik. Skin
grafting dapat dilakukan sebelum hari kesepuluh, yaitu sebelum timbulnya jaringan
granulasi.
31

Saat ini telah banyak terdapat material pengganti kulit (skin subtitute) yang dapat
digunakan jika skin grafting tidak bisa dilakukan. Skin subtitute ini antara lain integra,
aloderm, dan dermagraft. Aloderm adalah dermis manusia yang elemen-elemen epitelnya
telah dibuang sehingga secara teoritis bersifat bebas antigen, dan berfungsi sebagai kerangka
pengganti dermis. Dermagraft merupakan hasil pembiakan fibroblas neonatus yang digabung
dengan membran silikon, kolagen babi, dan jaring (mesh) nilon. Setelah dua minggu,
membran silikon dikelupas dan digantikan dengan STTG (split thickness skin graft). Integra
merupakan analog dermis yang terbuat dari lapisan kolagen dan kondroitin ditambah lapisan
silikon tipis.
Jenis Parut Akibat Luka Bakar(7)
Ada tiga jenis parut utama yang biasanya disebabkan oleh luka bakar: Keloid, Parut
hipertrofik dan kontraktur. Keloid adalah jaringan parut yang tebal tak beraturan dan
membesar secara progresif akibat pembentukan kolagen yang berlebihan dalam lapisan
korium selama pembentukan jaringan ikat pada bekas luka. Parut akan tumbuh di luar lokasi
yang luka. Parut ini biasanya berwarna merah muda atau merah dan pada akhirnya akan
menjadi berwarna coklat gelap. Parut Hipertrofik biasanya berwarna merah, tebal, berbeda
dengan keloid, parut hipertrofik berada di luar lokasi dari luka. Kontraktur adalah suatu
pengencangan kulit yang permanen yang bisa mempengaruhi otot dan tendon dibawahnya
sehingga membatasi pergerakan dan mungkin merusak atau mengurangi fungsi saraf.
1.

Keloid
Keloid adalah suatu pertumbuhan yang terlalu cepat dari jaringan parut. Parut akan

tumbuh di luar lokasi luka. Parut ini biasanya berwarna merah muda atau merah dan pada
akhirnya akan menjadi berwarna coklat gelap. Keloid terjadi ketika tubuh melanjutkan
prosesnya untuk menghasilkan kolagen suatu protein berserat kuat, setelah luka telah
disembuhkan. Parut keloid biasanya tebal, bersimpai, kaku dan gatal selama proses
pembentukan dan perkembangannya. Keloid yang luas bisa membatasi pergerakan. Apalagi,
gesekan dari pakaian atau jenis friksi lain bisa mengiritasi keloid. Orang-orang berkulit gelap
lebih mudah untuk mengalami Keloid dibanding mereka yang mempunyai kulit berwarna
putih dan angka kejadian terjadinya Keloid berkurang sesuai dengan umur.

32

Keloid bisa dikurangi ukurannya dengan cryotherapy (pembekuan), tekanan dari luar,
suntikan kortison, suntikan steroid, radiasi atau dengan pembedahan. Jika suntikan dan
tekanan dari luar seperti balut tekan tidak cukup, jaringan parut dapat dioperasi, hal ini
biasanya dilakukan pada pasien dengan anestesi lokal dan mereka bisa kembali ke pekerjaan
atau sekolah dalam beberapa hari. Dokter anda boleh merekomendasikan bahwa kamu
memakai balut tekan di atas area yang atas selama satu tahun untuk mencegah Keloid dari
kekambuhan. adalah mungkin bahwa prosedur ini akan perlu untuk diulangi sedikitnya tiap
tahun sebab Keloid mempunyai suatu kecenderungan untuk timbul kembali.
Gambar 8. Keloid

2. Parut Hipertrofik
Parut Hipertrofik biasanya berwarna merah, tebal dan timbul, bagaimanapun juga
mereka berbeda dengan Keloid karena mereka tumbuh di bawah jaringan yang mengalami
luka. Apalagi, Parut Hipertrofik akan tumbuh dari waktu ke waktu. Pertumbuhannya ini
bagaimanapun juga dapat dikurangi dengan bantuan steroid atau suntikan.

Gambar 9. Parut Hipertrofik

33

Tabel 2. Perbedaan antara keloid dan parut hipertrofik(6)

Permulaan

Invasi

Keloid

Parut Hipertrofik

Timbul setelah beberapa bulan atau

Timbul dalam beberapa

tahun

minggu

Meluas ke daerah kerusakan epitel

Terbatas pada bekas


kerusakan

Penyembuha

Tak ada regresi

Hilang sendiri

Predileksi

Sternum,bahu,pipi,telinga,pinggang

Dapat timbul dimanapun

Ras/bangsa

Ras kulit gelap/hitam

Ras kulit putih

Luka bakar

Mungkin

Sering

Gatal

Jarang hebat

Sangat mengganggu

3.

Kontraktur
Suatu parut kontraktur adalah suatu pengencangan kulit yang permanen yang bisa
mempengaruhi otot dan tendon dibawahnya sehingga membatasi pergerakan dan mungkin
merusak atau mengurangi fungsi saraf. Kontraktur terjadi ketika jaringan elastis normal
digantikan dengan jaringan berserat yang tidak elastis. Hal ini membuat jaringan tersebut
resisten terhadap regangan dan mencegah pergerakan normal area yang terpengaruh.
Fisioterapi, tekanan dan memperbanyak berlatih dapat membantu mengendalikan
kontraktur. Jika perawatan ini tidak bisa mengendalikan efek kontraktur, pembedahan
mungkin diperlukan. Suatu skin graft atau suatu prosedur penutupan mungkin bisa dilakukan.
Apalagi dokter anda bisa merekomendasikan suatu teknik baru seperti Z-Plasty atau
perluasan jaringan.

34

Gambar 10. Kontraktur


Prosedur Bedah Jaringan Parut

Terdapat dua tipe besar prosedur bedah yang dapat menghilangkan jaringan parut dan
mengganti jaringan yang hilang pada korban luka bakar berat: dermabrasi dan skin graft.
Dermabrasi adalah prosedur bedah yang bertujuan meminimalisasi penampilan jaringan
parut, mengembalikan fungsi dan mengkoreksi kelainan bentuk akibat dari luka. Skin graft
adalah prosedur bedah dimana sepotong kulit yang berasal dari tubuh pasien di
transplantasikan ke daerah lain dari tubuh.6,7

a. Dermabrasi
Dermabrasi adalah prosedur bedah yang bertujuan meminimalisasi penampilan
jaringan parut, mengembalikan fungsi dan mengkoreksi kelainan bentuk akibat dari luka.
Dermabrasi digunakan untuk menghaluskan jaringan parut dengan mencukur atau
mengikis lapisan kulit teratas. Walaupun dermabrasi dapat menghaluskan permukaan
jaringan parut,proses ini tidak akan menghilangkan jaringan parut tersebut. Jaringan parut
akan tetap ada akan tetapi penampilannya akan menjadi lebih baik seiring dengan waktu.
Prosedur ini dapat dilaksanakan di tempat praktek bedah kulit atau di fasilitas
kesehatan lain bagi pasien yang berobat jalan. Segera setelah pembedahan ini dilakukan, kulit
akan diberikan salep, perban yang basah atau mengandung lilin,perawatan kering atau
kombinasi dari keduanya. Biasanya kulit akan terlihat merah dan bengkak setelah
pembedahan. Pembengkakan ini akan berlanjut selama 2 3 minggu. Pasien akan mengalami
rasa nyeri, gatal atau rasa terbakar setelah pembedahan yang menandakan kulit baru yang

35

mulai tumbuh. Krusta akan terbentuk di area yang sudah mulia menyembuh, bagaimanapun
jika salep dioleskan pada daerah yang terluka segera setelah pembedahan maka hanya akan
ada sedikit atau tidak ada krusta sama sekali. Seiring dengan proses penyembuhan, krusta
akan luruh meninggalkan lapisan kulit baru yang berwarna merah jambu. Jika daerah tersebut
tetap berwarna merah, bengkak dan terasa gatal mungkin ini merupakan tanda pembentukan
jaringan parut abnormal. Hal ini harus segera dilaporkan pada ahli bedah yang bersangkutan.
Setelah pembedahan, pasien dapat beraktifitas dengan normal seperti kembali bekerja
dalam waktu 2 minggu. Pasien disarankan untuk menghindari aktivitas yang dapat
menyebabkan benturan pada area yang di operasi selama 2 minggu. Olah raga harus dihindari
untuk 4 6 minggu setelah operasi. Sangatlah penting untuk melindungi kulit selama 6 12
bulan sampai proses pigmentasi kulit lengkap terbentuk. Warna kulit akan kembali normal
dalam waktu sekitar 3 bulan. Pada saat repigmentasi kulit sudah lengkap, warna kulit akan
tampak sama dengan warna kulit sekitarnya.2
Gambar 9. Dermabrasi

b. Skin Graft

Skin graft adalah prosedur bedah dimana sepotong kulit yang berasal dari tubuh
pasien di transplantasikan ke daerah lain dari tubuh. Kulit dari orang lain atau dari binatang
mungkin digunakan sebagai penutup sementara pada luka bakar luas untuk menghindari
kehilangan cairan. Kulit yang diambil dari donor haruslah kulit yang sehat dan diiplantasikan
ke daerah kulit yang rusak dari resipien.
Skin graft merupakan prosedur bedah yang lebih rumit daripada dermabrasi. Skin
graft biasanya dilakukan di rumah sakit besar di bawah anestesi umum. Waktu yang
36

dibutuhkan untuk penyembuhan tergantung dari luas dan keparahan luka, antara 6 minggu
sampai beberapa bulan. Dalam 36 jam pertama setelah pembedahan, pembuluh darah yang
baru akan mulai terbentuk pada kulit yang ditransplantasi. Pada umumnya skin graft berhasil,
tetapi ada beberapa yang membutuhkan pembedahan tambahan jika proses penyembuhan
tidak berjalan dengan sempurna.2
Ada beberapa tipe dari skin graft: pinch,split - thickness,full thickness dan pedicle
graft.

Pinch Graft : potongan kulit sebesar inchi dipasang pada donor. Bagian kulit yang
kecil ini kemudian akan tumbuh menutup area yang terluka. Kulit ini akan tumbuh
bahkan didaerah dengan suplai darah yang terbatas dan dapat mencegah infeksi.

Split thickness graft : terdiri dari lapisan superficial dan lapisan dalam dari kulit
yang berbentuk helaian. Graft yang diambil dari daerah donor dapat mencapai lebar 4
inchi dan panjang 10 12 inchi. Graft ini kemudian ditempel pada area resipien.
Segera setelah graft ditanam daerah tersebut dapat ditutup dengan balut tekan atau
dibiarkan terbuka. Split thickness graft digunakan pada bagian tubuh yang tidak
menyangga berat badan (non weight bearring).

Full thickness graft : digunakan pada bagian tubuh yang menyangga berat badan
dan yang cenderung mengalami gesekan seperti telapak kaki dan sendi. Full thickness
graft terdiri dari semua lapisan kulit termasuk pembuluh darah. Pembuluh darah dari
area resipien akan tumbuh menyambung area transplantasi dalam 36 jam.

Pedicle graft: dengan pedicle graft bagian dari kulit yang digunakan dari daerah
donor akan tetap menempel pada daerah tersebut dan sisanya akan menempel pada
daerah resipien. Suplai darah akan tetap utuh pada daerah donor dan tidak akan
dipotong sampai suplai pembuluh darah baru terbentuk dengan lengkap. Prosedur ini
pada umumnya dilakukan pada tangan, wajah atau sekitar leher.

37

Gambar 10. Skin Graft

Keberhasilan skin graft dapat diperkirakan 72 jam setelah pembedahan. Jika


transplantasi kulit ini dapat melewati 72 jam pertama tanpa infeksi atau trauma, tubuh pada
umumnya tidak menolak transplantasi ini. Sebelum pembedahan, area donor dan resipien
harus bebas dari infeksi dan mempunyai suplai darah yang stabil. Prosedur lanjutan yang
berupa memindahkan atau meregangkan area resipien harus dihindari. Perban yang
digunakan harus steril dan biasanya diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi.2

Medikamentosa
Antibiotik sistemik spektrum luas diberikan untuk mencegah infeksi. Yang banyak
dipakai adalah golongan aminoglikosida yang efektif terhadap pseudomonas. Bila ada
infeksi, antibiotik diberikan berdasarkan hasil biakan dan uji kepekaan kuman.
Untuk mengatasi nyeri, paling baik diberikan opiat melalui intravena dalam dosis
serendah mungkin yang bisa menghasilkan analgesia yang adekuat namun tanpa disertai
hipotensi.
Selanjutnya, diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid.
Luka bakar derajat satu dan dua yang menyisakan elemen epitel berupa kelenjar
sebasea, kelenjar keringat, atau pangkal rambut, dapat diharapkan sembuh sendiri, asal dijaga
38

supaya elemen epitel tersebut tidak hancur atau rusak karena infeksi. Oleh karena itu, perlu
dilakukan pencegahan infeksi. Pada luka lebih dalam, perlu diusahakan secepat mungkin
membuang jaringan kulit yang mati dan memberi obat topikal yang daya tembusnya tinggi
sampai mencapai dasar jaringan mati. Perawatan setempat dapat dilakukan secara terbuka
atau tertutup.
Ada beberapa jenis obat yang dianjurkan seperti golongan silver sulfadiazine dan
yang terbaru MEBO (moist exposure burn ointment). Obat topikal yang dipakai dapat
berbentuk larutan, salep atau krim. Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk sediaan kasa
(tulle). Antiseptik yang dipakai adalah yodium povidon atau nitras-argenti 0,5%. Kompres
nitras-argenti yang selalu dibasahi tiap 2 jam efektif sebagai bakteriostatik untuk semua
kuman. Obat ini mengendap sebagai garam sulfida atau klorida yang memberi warna hitam
sehingga mengotori semua kain. Krim silver sulfadiazine 1% sangat berguna karena bersifat
bakteriostatik, mempunyai daya tembus yang cukup, efektif terhadap semua kuman, tidak
menimbulkan resistensi, dan aman. Krim ini dioleskan tanpa pembalut, dan dapat dibersihkan
dan diganti setiap hari.
Keuntungan perawatan terbuka adalah mudah dan murah. Permukaan luka yang
selalu terbuka menjadi dingin dan kering sehingga kuman sulit berkembang. Kerugiannya,
bila digunakan obat tertentu, misalnya nitras-argenti, alas tidur menjadi kotor. Penderita dan
keluarga pun merasa kurang enak karena melihat luka yang tampak kotor. Sedapat mungkin
luka yang tampak kotor. Sedapat mungkin luka dibiarkan terbuka setelah diolesi obat.
Perawatan tertutup dilakukan dengan memberikan balutan yang dimaksudkan untuk
menutup luka dari kemungkinan kontaminasi, tetapi tutupnya sedeikian rupa sehingga masih
cukup longgar untuk berlangsungnya penguapan. Keuntungan perawatan tertutup adalah luka
tampak rapi, terlindung, dan enak bagi penderita. Hanya, diperlukan tenaga dan dan lebih
banyak pembalut dan antiseptik. Kadang suasana luka yang lembap dan hangat
memungkinkan kuman untuk berkembang biak. Oleh karena itu, bila pembalut melekat pada
luka, tetapi tidak berbau, sebaiknya jangan dilepaskan, tetapi ditunggu sampai terlepas
sendiri.1

Permasalahan Pasca Luka Bakar


39

Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah jaringan parut yang dapat
berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan
menyebabkan kekakuan sendi atau menimbulkan cacat estetik yang buruk sekali sehingga
diperlukan juga ahli ilmu jiwa untuk mengembalikan kepercayaan diri.5
Permasalahan-permasalahan yang ditakuti pada luka bakar:

Infeksi dan sepsis

Oliguria dan anuria

Oedem paru

ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome )

Anemia

Kontraktur

Kematian

Komplikasi

Gagal ginjal akut

Gagal respirasi akut

Syok

Sepsis

SIRS

MODS
Sistemic

Inflammatory

Response Syndrome

(SIRS),

Multi-system

Organ

Dysfunction Syndrome (MODS), dan Sepsis


SIRS adalah suatu bentuk respon klinik yang bersifat sistemik terhadap berbagai
stimulus klinik berat akibat infeksi ataupun noninfeksi seperti trauma, luka bakar, reaksi
autoimun, sirosis, pankreatitis, dll. Respon ini merupakan dampak dari pelepasan mediatormediator inflamasi (proinflamasi) yang mulanya bersifat fisiologik dalam proses
penyembuhan luka, namun oleh karena pengaruh beberapa faktor predisposisi dan faktor
pencetus, respon ini berubah secara berlebihan (mengalami eksagregasi) dan menyebabkan
kerusakan pada organ-organ sistemik, menyebabkan disfungsi dan berakhir dengan
40

kegagalan organ terkena menjalankan fungsinya; MODS (Multi-system Organ Disfunction


Syndrome) bahkan sampai kegagalan berbagai organ (Multi-system Organ Failure/MOF).
Ada 5 hal yang bisa menjadi aktivator timbulnya SIRS, yaitu infection, injury,
inflamation, inadequate blood flow, dan ischemia-reperfusion injury. Kriteria klinik yang
digunakan, mengikuti hasil konsensus American College of Chest phycisians dan the Society
of Critical Care Medicine tahun 1991, yaitu bila dijumpai 2 atau lebih menifestasi berikut
selama beberapa hari, yaitu:
-

Hipertermia (suhu > 38C) atau hipotermia (suhu < 36C)

Takikardi (frekuensi nadi > 90x/menit)

Takipneu (frekuensi nafas > 20x/menit) atau tekanan parsial CO2 rendah
(PaCO2 < 32 mmHg)

Leukositosis (jumlah lekosit > 12.000 sel/mm 3), leukopeni (< 4000 sel/mm3)
atau dijumpai > 10% netrofil dalam bentuk imatur (band).
Bila diperoleh bukti bahwa infeksi sebagai penyebab (dari hasil kultur

darah/bakteremia), maka SIRS disebut sebagai sepsis. SIRS akan selalu berkaitan dengan
MODS karena MODS merupakan akhir dari SIRS. Pada dasarnya MODS adalah kumpulan
gejala dengan adanya gangguan fungsi organ pada pasien akut sedemikian rupa, sehingga
homeostasis tidak dapat dipertahankan tanpa intervensi. Bila ditelusuri lebih lanjut, SIRS
sebagai suatu proses yang berkesinambungan sehingga dapat dimengerti bahwa MODS
menggambarkan kondisi lebih berat dan merupakan bagian akhir dari spektrum keadaan yang
berawal dari SIRS.
MODS merupakan bagian akhir dari spektrum klinis SIRS. Pada pasien luka bakar
dapat dijumpai secara kasar 30% kasus mengalami MODS. Ada 3 teori yang menjelaskan
timbulnya SIRS, MODS dan sepsis; yang mana ketiganya terjadi secara simultan.
Teori pertama menyebutkan bahwa syok yang terjadi menyebabkan penurunan
penurunan sirkulasi di daerah splangnikus, perfusi ke jaringan usus terganggu menyebabkan
disrupsi mukosa saluran cerna. Disrupsi mukosa menyebakan fungsi mukosa sebagai barrier
berkurang/hilang, dan mempermudah terjadinya translokasi bakteri. Bakteri yang mengalami
translokasi umumnya flora normal usus yang bersifat komensal, berubah menjadi
oportunistik; khususnya akibat perubahan suasana di dalam lumen usus (puasa, pemberian
antasida dan beberapa jenis antibiotika). Selain kehilangan fungsi sebagai barrier terhadap
kuman, daya imunitas juga berkurang (kulit, mukosa), sehingga mudah dirusak oleh toksin
41

yang berasal dari kuman (endo atau enterotoksin). Pada kondisi disrupsi, bila pasien
dipuasakan, maka proses degenerasi mukosa justru berlanjut menjadi atrofi mukosa usus
yang dapat memperberat keadaan.
Gangguan sirkulasi ke berbagai organ menyebabkan kondisi-kondisi yang memicu
SIRS. Gangguan sirkulasi serebral menyebabkan disfungsi karena gangguan sistem
autoregulasi serebral yang memberi dampak sistemik (ensefelopati). Gangguan sirkulasi ke
ginjal menyebabkan iskemi ginjal khususnya tubulus berlanjut dengan Acute Tubular
Necrosis (ATN) yang berakhir dengan gagal ginjal (Acute Renal Failure/ARF). Gangguan
sirkulasi perifer menyebabkan iskemi otot-otot dengan dampak pemecahan glikoprotein yang
meningkatkan produksi Nitric Oxide (NO); NO ini berperan sebagai modulator sepsis.
Gangguan sirkulasi ke kulit dan sitem integumen menyebabkan terutama gangguan sistim
imun; karena penurunan produksi limfosit dan penurunan fungsi barrier kulit.
Teori kedua menjelaskan pelepasan Lipid Protein Complex (LPC) yang sebelumnya
dikenal dengan burn toxin dari jaringan nekrosis akibat cedera termis. LPC memiliki
toksisitas ribuan kali di atas endotoksin dalam merangsang pelepasan mediator pro-inflamasi;
namun pelepasan LPC ini tidak ada hubungannya dengan infeksi. Respon yang timbul
mulanya bersifat lokal, terbatas pada daerah cedera; kemudian berkembang menjadi suatu
bentuk respon sistemik.
Teori ketiga menjelaskan kekacauan sistem metabolisme (hipometabolik pada fase
akut dilanjutkan hipermetabolik pada fase selanjutnya) yang menguras seluruh modalitas
tubuh khususnya sistim imunologi. Mediator-mediator pro-inflamasi yang dilepas ke
sirkulasi sebagai respon terhadap suatu cedera tidak hanya menyerang benda asing atau
toksin yang ada; tetapi juga menimbulkan kerusakan pada jaringan organ sistemik. Kondisi
ini dimungkinkan karena luka bakar merupakan suatu bentuk trauma yang bersifat
imunosupresif.
Komplikasi SIRS bervariasi tergantung etiologi. Komplikasi yang mungkin terjadi
pada SIRS adalah gagal napas, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), dan
pneumonia nosokomial, gagal ginjal, perdarahan saluran cerna dan stres gastritis, anemia,
Trombosis vena dalam (Deep Vein Thrombosis/DVT), hiperglikemia, dan Disseminated
intravascular coagulation (DIC). Penatalaksanaan luka bakar bersifat lebih agresif dan
bertujuan mencegah perkembangan SIRS, MODS, dan sepsis.7

42

Prognosis
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan
yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan kecepatan pengobatan
medikamentosa. Luka bakar minor dapat sembuh 5-10 hari tanpa adanya jaringan parut. Luka
bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14 hari dan mungkin menimbulkan luka parut. Luka
bakar mayor membutuhkan lebih dari 14 hari untuk sembuh dan akan membentuk jaringan
parut. Jaringan parut akan membatasi gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus,
pembedahan diperlukan untuk membuang jaringan parut

43

BAB III
KESIMPULAN

Luka bakar adalah trauma yang disebabkan oleh termis, elektris, khemis dan radiasi
yang mengenai kulit, mukosa, dan jaringan yang lebih dalam. Beberapa penyebab luka
bakar) adalah suhu tinggi, bahan kimia, sengatan listrik, dan radiasi. Luka bakar
diklasifikasikan berdasarkan kedalaman, luas permukaan, lokasi, dan penyebab. Luka bakar
grade 1 terbatas pada epidermis, Luka bakar grade 2 melibatkan semua epidermis dan lapisan
dermis, Luka bakar grade 3 berwarna coklat gelap dan memiliki kulit tekstur yang tidak
sensitif terhadap sentuhan karena kerusakan saraf. Luas dapat diperkirakan dengan
menggunakan rumus Lund - Browder untuk anak-anak dan "Rules of Nine " untuk pasien
usia 10 tahun atau

lebih. Untuk mengatasi pasien dengan luka bakar yaitu dengan

menghindari kontak dengan penyebab, menilai keadaan umum, perawatan luka, resusitasi
cairan dan nutrisi yang adekuat sehingga dapat mencegah komplikasi lanjut dari luka bakar.
Pasien diawasi dari gejala anemia, gagal ginjal akut, perdarahan lambung, infeksi hingga
sepsis. Bekas luka bakar dapat ditangani dengan pembedahan yaitu debramasi dan skin graft.

44

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat, de Jong. Luka bakar. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed 3. Jakarta: penerbit
Buku Kedokteran EGC.2007. h. 103-110.
2. Sherwood, Lauralee. Pertahanan Tubuh. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. Edisi
2. 2001. Jakarta: EGC.
3. Moenadjat Y. Luka bakar. Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2003. H. 404-409
4. Georgiade GS, Pederson WC, Luka bakar. Dalam: Sabiston DC, Jonatan O, editors.
Buku ajar bedah. Jakarta. EGC, 1995. Hal 151-63.
5. Robert. H, Demling. MD. Current Surgical Diagnosis & Treatment. Doherty, Gerard
M, Way, Lawrence W (editor). 2006. Hlm: 248
6. Steven J. Schwults, J Perren Cobb. Wasington Manual Of Surgery, Ed 5. 2008. Hlm:
418-425.
7. Heimbach DM, Holmes JH. Burns. In: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR,
Dunn DL, Hunter JG, Pollock RE, editors. Schwartzs principal surgery. 8 th ed. USA:
The McGraw-Hill Companies; 2007.

45