You are on page 1of 7

Jurnal Speed 13 Vol 9 No 2 Agustus 2012

ISSN : 1979-9330 (Print) - 2088-0154 (Online) - 2088-0162 (CDROM)

PENGARUH KURSI ERGONOMIS TERHADAP


GANGGUAN MUSKULOSKLELETAL
Sumardiyono
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

sumardiyono99@yahoo.co.id
Abstrak
Tujuan: Untuk membantu pekerja mengatasi gangguan muskuloskleletal yang disebabkan karena
sikap kerja yang tidak ergonomis khususnya pekerja wanita bagian pola di industri batik.
Metode: Jenis penelitian eksperimental Quasi. Sampel yang digunakan 25 orang semuanya wanita
diambil dari populasi sejumlah 40 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Untuk
menguji perbedaan gangguan muskuloskleletal sebelum dan sesudah menggunakan kursi ergonomis
digunakan analisis statistik paired t-test.
Hasil: Diperoleh hasil yang signifikan (t = 16.74; p = 0.000), berarti ada perbedaan rata-rata skor
keluhan muskuloskleletal sebelum dan sesudah tenaga kerja menggunakan kursi ergonomis.
Simpulan: Kursi ergonomis bermanfaat untuk menurunkan gangguan muskuloskleletal pada pekerja
industri batik, khususnya bagian pola.
Kata Kunci

: Kursi Ergonomis, Gangguan Muskuloskleletal

1. PENDAHULUAN
Ergonomi
adalah
penyesuaian
tugas
pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah
untuk menurunkan stress yang akan dihadapi.
Upaya
yang
dilakukan
antara
lain
menyesuaikan ukuran sarana kerja dengan
dimensi tubuh agar sesuai dengan ukuran
tubuh pekerja. Selain itu, ergonomis dapat
didefnisikan juga hubungan antara manusia
dengan
lingkungan
kerjanya,
yaitu
keseluruhan alat perkakas dan bahan yang
dihadapi, organisasi atau metoda kerjanya,
dan sekitar lingkungan kerjanya (Suyatno
,1985).
Pada pekerja industri batik, khususnya
bagian pola, maka pekerja yang bekerja
menggunakan sarana kerja berupa dingklik
dengan
ukuran
pendek,
sehingga
menyebabkan pekerja harus membungkuk
selama bekerja. Helendar (1994), menyatakan
bahwa pekerja yang bekerja dangan cara
tradisional dengan sikap kerja duduk dengan
posisi membungkuk dalam waktu lama akan
menyebabkan keluhan pada joint angle.
Pada survei awal sebelum dilakukannya
penelitian menunjukkan bahwa pada pekerja
bagian pola di industri batik Dewi Ratih
Masaran Sragen, bekerja dengan sikap paksa
yaitu dengan sikap duduk dan membungkukuk
selama bekerja. Sehubungan dengan hal
tersebut, peneliti akan meneliti pemakaian
kursi ergonomis berdasarkan hasil rancangan
(design) ilmu antropometri.
Pulat (1992) menyatakan, antropometri
adalah pengukuran dimensi tubuh atau
Sumardiyono

karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan


dengan desain tentang sesuatu yang dipakai
orang. Selanjutnya Annis & McConville (1996)
membagi aplikasi ergonomi dalam kaitannya
dengan antropometri menjadi dua divisi utama,
yaitu :
a. Pertama, ergonomi berhadapan dengan
tenaga kerja, mesin beserta sarana
pendukung lainnya dan lingkungan
kerja. Tujuan ergonomi dari divisi ini
adalah untuk menciptakan kemungkinan
situasi terbaik pada pekerjaan sehingga
kesehatan fisik dan mental tenaga kerja
terus
terpelihara
serta
efisiensi
produktivitas dan kualitas produk dapat
dihasilkan dengan optimal.
b. Kedua, ergonomi berahadapan dengan
karakteristik
produk
pabrik
yang
berhubungan dengan konsumen atau
pemakai produk.
Selanjutnya design hasil rancangan digunakan
untuk
evaluasi
terhadap
gangguan
muskuloskleletal sebelum dan sesudah bekerja
pada pekerja wanita di industri batik Dewi
Ratih, Masaran, Sragen.
2. BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah
eksperimental
quasi.
Pendekatan
yang
dilakukan dalam penelitian adalah intervensi
preventif. Intervensi preventif adalah penelitian
yang mencoba mempelajari hubungan faktorfaktor risiko dengan kejadian suatu penyakit,
dengan memberikan perlakuan atau manipulasi
300

Jurnal Speed 13 Vol 9 No 2 Agustus 2012

ISSN : 1979-9330 (Print) - 2088-0154 (Online) - 2088-0162 (CDROM)

terhadap paparan faktor risiko tersebut pada


subjek (Ahmad Watik Pratiknya, 2008).
Populasi penelitian ini adalah seluruh
pekerja industri batik Dewi Ratih, Masaran,
Sragen yang berjumlah 40 orang dengan jenis
kelamin laki-laki dan Wanita, berusia antara 20
60 tahun. Teknik sampling menggunakan
purposive sampling dengan criteria inklusi
jenis kelamin wanita, pekerjaan membatik,
dengan posisi kerja duduk memakai dingklik
berukuran tinggi di bawah tinggi lutut duduk.
Subjek yang memenuhi kriteria, diambil
sebagai sampel penelitian sebanyak 25 orang.
Desain
penelitian
ini
menggunakan
rancangan perlakuan ulang (one group pre
and posttest design), merupakan rancangan
penelitian yang hanya menggunakan satu
kelompok subjek serta melakukan pengukuran
sebelum dan sesudah pemberian perlakuan
pada subjek. Perbedaan kedua hasil
pengukuran tersebut dianggap sebagai efek
perlakuan. Skema rancangan penelitian
sebagai berikut :

O1

(X)

O2

Keterangan :
O1
: Kelompok sampel sebelum diberi
perlakuan
(X)
: Perlakuan
O2
: Kelompok sampel sesudah diberi
perlakuan
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah lembar isian data, untuk mengetahui
identitas sampel penelitian; kursi kerja
ergonomis hasil rancangan, untuk memberikan
perlakuan kepada subjek penelitian; dan
Nordic Body Map, untuk mengetahui keluhan
muskloskleletal pada subjek penelitian. Untuk
menentukan adanya pengaruh pemberian
kursi kerja yang ergonomis terhadap keluhan
muskuloskleletal uji statistik paired t-test.
Nordic Body Map merupakan salah satu
cara untuk menilai tingkat keparahan (severity)
sistem muskuloskleletal. Nordic Body Map
menggunakan lembar kerja berupa peta tubuh
(body map) dengan metode sangat sederhana,
mudah dipahami, murah dan memerlukan
waktu yang sangat singkat (+ 5 manit) per
individu.
Observer
dapat
langsung
mewawancarai atau menanyakan kepada
responden, pada otot-otot skleletal bagian
mana saja yang mengalami gangguan
kenyerian atau sakit, atau dengan menunjuk
langsung pada setiap otot skleletal sesuai
yang tercantum dalam lembar kerja kuesioner
Nordic Body Map.
Sumardiyono

Nordic Body Map meliputi 28 bagian otot-otot


skleletal pada kedua sisi tubuh kanan dan kiri,
yang dimulai dari anggota tubuh bagian atas,
yaitu otot leher sampai dengan bagian paling
bawah, yaitu otot kaki. Melalui kuesioner Nordic
Body Map akan dapat diketahui bagian-bagian
otot mana saja yang mengalami gangguan
kenyerian atau keluhan dari tingkat rendah
(tidak ada keluhan/cedera) sampai dengan
keluhan tingkat tinggi (keluhan sangat sakit).
Keluhan pada otot-otot skleletal, biasanya
merupakan keluhan yang bersifat kronis, artinya
keluhan ini sering dirasakan beberapa lama
setelah melakukan aktivitas dan sering
meninggalkan residu yang dirasakan pada harihari berikutnya. Untuk mengatasi kondisi
tersebut, maka desain pengukuran dilakukan
sebelum dan sesudah melakukan aktivitas kerja
(pre and post test). Dari perbedaan skor hasil
antara sebelum kerja dan sesudah kerja
merupakan skor gangguan otot skleletal yang
sebenarnya.
Penilaian dengan menggunakan kuesioner
Nordic Body Map menggunakan desain
penilaian dengan skoring (misalnya 4 skala
Likert). Apabila digunakan skoring dengan skala
Likert, maka setiap skor atau nilai haruslah
mempunyai definisi operasional yang jelas dan
mudah dipahami oleh responden.
Menurut Tarwaka (2010), kriteria desain
penilaian keluhan muskuloskleletal dengan 4
skala Likert sebagai berikut :
a. Skor 1 : Tidak
ada
keluhan/kenyerian
atau
tidak ada rasa sakit sama
sekali yang dirasakan oleh
pekerja (tidak sakit).
b. Skor 2 : Dirasakan sedikit adanya
keluhan atau kenyerian
pada otot skleletal (agak
sakit).
c. Skor 3 : Responden
merasakan
adanya keluhan/kenyerian
atau sakit pada otot
skleletal (sakit).
d. Skor 4 : Responden
merasakan
adanya keluhan sangat
sakit atau sangat nyeri
pada otot skleletal (sangat
sakit).
Selanjutnya,
setelah
selesai
melakukan
wawancara dan pengisian kuesioner, maka
langkah selanjutnya adalah menghitung total
skor individu dari seluruh otot skleletal (28
bagian otot skleletal) yang diobservasi. Pada
desain 4 skala Likert ini, akan diperoleh skor
individu terendah adalah 28 dan skor tertinggi
112. Dalam banyak penelitian dengan
menggunakan uji statistik tertentu untuk menilai
301

Jurnal Speed 13 Vol 9 No 2 Agustus 2012

ISSN : 1979-9330 (Print) - 2088-0154 (Online) - 2088-0162 (CDROM)

tingkat signifikansi hasil penelitian (seperti pre


and post test design atau setelah diberikan
intervensi), maka total skor individu tersebut
dapat langsung digunakan dalam entri data
statistik.
Langkah terakhir metode Nordic Body
Map adalah melakukan upaya perbaikan pada
pekerjaan maupun posisi/sikap kerja, jika
diperoleh hasil yang menunjukkan tingkat
keparahan pada otot skleletal yang tinggi.
Tindakan perbaikan yang harus dilakukan
tentunya sangat tergantung dari risiko otot
skleletal mana saja yang mengalami adanya
gangguan atau ketidaknyamanan. Hal ini
dapat dilakukan dengan beberapa cara,
diantaranya dengan melihat presentase pada
setiap bagian otot skleletal dan dengan
menggunakan kategori tingkat risiko otot
skleletal.
Tabel di bawah ini merupakan pedoman
sederhana yang dapat digunakan untuk
menentukan kualifikasi subjektivitas tingkat
risiko otot skleletal.
Tabel 1. Klasifikasi
Subjektivitas
Tingkat
Risiko Otot Skleletal Bardasarkan Total Skor
Individu
Ting
kat
Aksi
1

Total
Skor
Individu
28 49

Tingkat
Risiko

Tindakan Perbaikan

Rendah

50 70

Sedang

71 91

Tinggi

92
112

Sangat
Tinggi

Belum diperlukan adanya


tindakan perbaikan
Mungkin diperlukan
tindakan perbaikan di
kemudian hari
Diperlukan tindakan
segera
Diperlukan tindakan
menyeluruh sesegera
mungkin.

3. HASIL PENELITIAN
Sesuai dengan teknik pengambilan sampel
yang digunakan, penelitian ini menggunakan
sampel sebanyak 25 orang tenaga kerja
wanita. Dari 25 orang sampel tersebut, diukur
ukuran
antropometri
tubuhnya
yang
berhubungan dengan perancangan kursi kerja,
meliputi tinggi lutut duduk, jarak lekuk lutut
sampai garis punggung, lebar pinggul, dan
tinggi punggung. Semua sampel penelitian
diwawancarai keluhan muskuloskleletal yang
dialami selama melakukan pekerjaan dengan
panduan nordic body map. Wawancara
dilakukan
sebelum
dan
sesudah
menggunakan kursi hasil rancangan penelitian
berdasarkan data ukuran antropometri tenaga
kerja, dengan dasar pengukuran tinggi lutut
duduk (persentil 5%), jarak lekuk lutut sampai
garis punggung (persentil 5%), lebar pinggul
(persentil 95%), dan tinggi punggung (persentil
5%), serta perhitungan mengenai kelonggaran.
Sumardiyono

Deskripsi Dingklik
Dingklik merupakan tempat duduk pekerja
batik tulis bagian pola. Dalam melaksanakan
pekerjaannya, pembatik tulis
melakukan
pekerjaan dengan posisi kerja yang tidak
ergonomis dan monoton, yaitu bekerja dengan
posisi duduk menggunakan dingklik seperti
pada gambar berikut.

Gambar 1. Dingklik
Dimensi ukuran dingklik sebagai berikut :
a) panjang dingklik rata-rata = 317.1 mm
b) lebar dingklik rata-rata = 255.6 mm
c)
tinggi dingklik rata-rata = 142.3 mm
d) Sandaran = tidak ada
Deskripsi Posisi Kerja Sebelum Memakai
Kursi Ergonomis
Jarak antar pekerja kurang dari 2 meter, dengan
alasan menghemat biaya untuk penyediaan
kompor dan wajan. Satu kompor dan wajan
digunakan oleh 3 - 4 tenaga kerja, sehingga
membatasi gerak tenaga kerja. Selain itu
pekerjaan membatik tulis menyebabkan tenaga
kerja melakukan gerakan yang monoton dengan
posisi kerja duduk yang tidak ergonomis dalam
bekerja selama 7 jam sehari dan keadaan
tersebut telah berlangsung bertahun-tahun
sesuai dengan masa kerja masing-masing
tenaga kerja. Posisi duduk tenaga kerja seperti
pada gambar berikut ini.

Gambar 2. Posisi Duduk Tenaga Kerja Batik

302

Jurnal Speed 13 Vol 9 No 2 Agustus 2012

ISSN : 1979-9330 (Print) - 2088-0154 (Online) - 2088-0162 (CDROM)

Kursi Hasil Rancangan


Untuk merancang kursi ergonomis yang akan
digunakan tenaga kerja bagian pembatik,
diperlukan data ukuran antropometri tenaga
kerja yang meliputi tinggi lutut duduk, jarak
lekuk lutut ke garis punggung, lebar pinggul,
dan tinggi punggung. Deskripsi data statistik
hasil pengukuran antropometri tersaji pada
tabel di bawah ini.
Tabel 2. Data Ukuran Antropometri Tenaga
Kerja
Deskripsi
Statistik

Nilai
Minimal
Nilai
Maksimal
Rata-rata
Persentil
5%
Persentil
95%

Tinggi
Lutut
Duduk
(mm)

Jarak
Lekuklutut Garis
Punggung
(mm)

Lebar
Pingg
ul
(mm)

Tinggi
Punggun
g (mm)

335.0

306.0

291.0

301.0

397.0

455.0

384.0

446.0

360.8

414.2

338.7

390.9

338.4

379.4

299.2

353.4

379.8

448.0

379.8

424.8

1
2
3
4

Tinggi
Panjang
Lebar
Sandaran

1.

2.

3.
4.

Ukura
n
Kursi
Tinggi
Kursi

Perse
ntil

Ukuran
(mm)

5%

338.4

Panja
ng
kursi
Lebar
Kursi
Tinggi
Sanda
ran

5%

379.4

95%

379.8

5%

353.4

Posisi duduk pekerja sebelum dan sesudah


memakai design kursi hasil rancangan
berdasarkan data antropometri tenaga kerja
tersaji pada gambar di bawah ini.

Deskripsi Perbandingan Dingklik dengan


Kursi Hasil Rancangan
Perbandingan ukuran dingklik dan kursi hasil
rancangan tersaji pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. Perbandingan ukuran dingklik dan
kursi hasil rancangan
Dimensi
Ukuran

Sumardiyono

Dingklik
(mm)

Kursi
Kerja

Gambar a

Kebutuhan
meluruskan
kaki sebagai
penopang
kain pola (50.0 mm)

Tinggi kursi kerja = (338.4 50.0) = 288.4 mm


Panjang kursi kerja = 379.4 mm
Lebar kursi kerja = 379.8 mm
Sandaran= 353.4 mm

No.

146.1
62.3
124.2
-

Kelonggaran

Dari data tersebut diperoleh dimensi ukuran


dingklik sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)

(mm)
288.4
379.4
379.8
353.4

Deskripsi Perbandingan Posisi Duduk


Sebelum dan Sesudah Memakai Design
Kursi Ergonomis Hasil Rancangan

Dengan data tersebut, dirancang kursi kerja


ergonomis dengan ukuran yang tersaji pada
tabel di bawah ini.
Tabel 3. Dimensi Kursi Kerja Hasil Rancangan
No.

142.3
317.1
255.6
Tidak
ada

Selisih
(mm)

Gambar b
Gambar 3. Posisi duduk pekerja sebelum dan
sesudah memakai design kursi hasil rancangan
Tabel 5.

Posisi duduk pekerja sebelum


dan sesudah memakai design
kursi hasil rancangan

No.
1.

Gambar A
Dingklik terlalu
pendek, kaki tidak
bisa relaksasi

2.

Panjang dingklik
terlalu pendek,
sehingga tungkai atas
(paha) tertekan,
sehingga

Gambar B
Tinggi kursi sesuai
tinggi lekuk lutut,
sehingga posisi kaki
lebih rileks.
Pangjang kursi sesuai
panjang tungkai atas
dan alas duduk
empuk, sehingga
paha tidak tertekan.

303

Jurnal Speed 13 Vol 9 No 2 Agustus 2012

3.

4.

5.

menghambat
peredaran darah
Lebar dingklik terlalu
sempit, sehingga
pantat tidak bisa
terkover di dingklik.
Dingklik tanpa
sandaran, sehingga
melelahkan.

Alas duduk dari


bahan keras,
menyebabkan
penekanan aliran
darah pada paha.

ISSN : 1979-9330 (Print) - 2088-0154 (Online) - 2088-0162 (CDROM)

Lebar kursi sesuai


dengan lebar pinggul,
sehingga lebih
nyaman.
Kursi dengan
sandaran sehingga
pungung bisa
istirahat, maka
kelelahan terkurangi.
Alas duduk dilapisi
spons sehingga
mengurangi
penekanan aliran
darah pada paha.

Hasil Uji Statistik Keluhan Muskuloskleletal


Sebelum dan Sesudah Memakai Design
Kursi Ergonomis Hasil Rancangan
Uji statistik untuk mengetahui rerata perbedaan
skor keluhan muskuloskleletal sebelum dan
sesudah menggunakan kursi ergonomis hasil
rancangan dilakukan dengan paired samples ttest. Deskripsi data hasil uji tersaji pada tabel
berikut ini.
Tabel 8.

Deskripsi
Keluhan
Muskuloskleletal
Sebelum Memakai Design Kursi Ergonomis
Hasil Rancangan
Deskripsi total skor keluhan muskuloskleletal
yang dirasakan tenaga kerja sebelum
memakai kursi ergonomis tersaji pada tabel
berikut.
Tabel 6. Deskripsi Total Skor Keluhan
Muskuloskleletal
Sebelum
Menggunakan
Kursi
Hasil
Rancangan
No.
1
2
3
4
5
6

Deskripsi Statistik
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Rentang nilai
Standar Deviasi
Modus
Rata-rata

Nilai (mm)
52
73
21
5.152
62
66.04

Deskripsi
Keluhan
Muskuloskleletal
Sesudah Memakai Design Kursi Ergonomis
Hasil Rancangan
Deskripsi total skor keluhan muskuloskleletal
yang dirasakan tenaga kerja sesudah
memakai kursi ergonomis tersaji pada tabel
berikut.
Tabel 7. Deskripsi Total Skor Keluhan
Muskuloskleletal
Sesudah
Menggunakan
Kursi
Hasil
Rancangan

No.
1
2
3
4
5
6

Deskripsi Statistik
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Rentang nilai
Standar Deviasi
Modus
Rata-rata

Sumardiyono

Nilai (mm)
40
66
26
5.694
44
46.8

Hasil Uji Statistik Perbedaan


Keluhan
Muskuloskleletal
Sebelum dan Sesudan Memakai
Kursi Ergonomis

No.
1

Variabel
Keluhan
muskuloskleletal
sebelum
menggunakan
kursi ergonomis

Keluhan
muskuloskleletal
sesudah
menggunakan
kursi ergonomis

t
16.740

p
0.000

Hasil
Signifikan

Hasil uji tersebut menunjukkan nilai p < 0,05;


maka dinyatakan signifikan; dengan demikian
pemakaian kursi ergonomis dapat menurunkan
keluhan muskuloskleletal pada pekerja batik
tulis.
4. PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan sampel sejumlah 25
orang dari total populasi 40 orang. Semua
sampel penelitian adalah tenaga kerja di bagian
pembatikan yang duduk dengan menggunakan
dingklik. Seperti terlihat pada gambar 1 di atas,
posisi pekerjasangat tidak nyaman. Ukuran
dingklik sangat rendah, sehingga posisi kaki
harus lurus ke depan, seharusnya secara
ergonomis posisi kaki harus menyesuaikan
tempat duduk. Tinggi kursi harus sesuai dengan
panjang lekuk lutut sampai alas kaki. Panjang
dingklik juga terlalu pendek, seharusnya
panjang kursi harus menyesuaikan dengan
jarak lekuk lutut sampai garis punggung. Lebar
dingklik juga terlalu sempit, sehingga tenaga
kerja kurang mendapat kebebasan bergerak
selama bekerja, seharusnya panjang dingklik
menyesuaikan dengan lebar pinggul. Secara
keseluruhan desain dingklik yang dipakai
tenaga kerja saat ini tidak ergonomis.
Ketidakergonomisan tempat duduk akan
menimbulkan keluhan muskuloskleletal berupa
nyeri punggung, nyeri leher, nyeri pada
pergelangan tangan, siku dan kaki.
304

Jurnal Speed 13 Vol 9 No 2 Agustus 2012

ISSN : 1979-9330 (Print) - 2088-0154 (Online) - 2088-0162 (CDROM)

Gambaran keluhan muskuloskleletal tenaga


kerja sebelum menggunakan kursi ergonomis
menunjukkan kategori risiko sedang sebanyak
18 orang (72%), tindakan perbaikan yang
dianjurkan
adalah
mungkin
diperlukan
tindakan perbaikan di kemudian hari. Kategori
risiko tinggi sebanyak 7 orang (28%), tindakan
perbaikan yang dianjurkan adalah diperlukan
tindakan
segera.
Gambaran
tersebut
menunjukkan bahwa perbaikan kursi kerja
perlu mendapat perhatian khusus karena
tingginya skor keluhan muskuloskleletal pada
tenaga kerja.
Gambaran keluhan muskuloskleletal tenaga
kerja
sesudah
memnggunakan
kursi
ergonomis menunjukkan kategori risiko rendah
sebanyak 21 orang (84%), tindakan perbaikan
yang dianjurkan adalah belum diperlukan
adanya tindakan perbaikan. Kategori risiko
sedang sebanyak 4 orang (16%), tindakan
perbaikan yang dianjurkan adalah mungkin
diperlukan tindakan perbaikan di kemudian
hari. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa
perbaikan kursi kerja perlu mendapat
perhatian khusus karena tingginya skor
keluhan muskuloskleletal pada tenaga kerja.
Dari gambaran tersebut menunjukkan
penurunan gangguan muskuloskleletal pada
pekerja sebelum dan sesudah menggunakan
kursi ergonomis. Penurunan tingkat gangguan
muskuloskleletal terlihat rata-rata penurunan
skor dari 66.04 menjadi 46.8 atau terjadi
penurunan kira-kira 19 nilai skor. Dilihat dari
kategori risiko menunjukkan penurunan, dari
sebelum mengunakan kursi ergonomis,
kategori tinggi 7 orang (28%) dan sedang 18
orang (72%) menjadi kategori rendah 21 orang
(84%) dan sedang 4 orang (16%). Dari
gambaran tersebut menunjukkan bahwa yang
semula
sebelum
menggunakan
kursi
ergonomis
mempunyai
kategori
tinggi,
sesudah menggunakan kursi ergonomis sudah
tidak ada lagi gangguan muskuloskleletal
kategori tinggi. Kategori yang semula sedang,
sebelum menggunakan kursi yang ergonomis,
sebanyak 18 orang (72%) menjadi 4 orang
(16%). Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian
kursi kerja yang ergonomis dapat menurunkan
keluhan muskulosklelatal kategori sedang
menjadi rendah.
Pemberian perbaikan kursi kerja yang
ergonomis dan dilengkapi dengan busa pada
alas kursinya mampu mengurangi risiko
penekanan langsung pada jaringan otot yang
lunak selain itu dengan menggunakan kursi
sesuai dengan anthropometri maka mampu
memberikan sikap kerja yang alamiah
sehingga keluhan otot skeletal dapat dikurangi.
Penelitian sejenis yang sesuai dengan
penelitian ini dilakukan oleh Purwanti (2008),
Sumardiyono

yang meneliti Hubungan Ergonomi Kerja


dengan Timbulnya Gangguan Kesehatan Akibat
Kerja Pada Pekerja di PG Kremboong Sidoarjo.
Dengan menggunakan uji korelasi Pearson
Product Moment Pearson diperoleh hasil yang
signifikan dengan nilai r sebesar 0,608.
Disebutkan bahwa gangguan muskuloskleletal
pada pekerja di PG Kremboong Sidoarjo
meliputi nyeri pinggang dan nyeri lutut.
Penelitian sejenis lainnya dilakukan oleh
Pratomo, 2006; meneliti Hubungan Antara Kursi
Kerja dengan Timbulnya Keluhan Nyeri
Pinggang Pada Pekerja Tenun Kain Sarung di
Java ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) Desa
Kebunan Kecamatan Taman Kabupaten
Pemalang.
Hasil
analisis
uji
statistik
menunjukkan nilai p = 0.02 artinya signifikan,
berarti ada hubungan antara kursi kerja dengan
timbulnya keluhan nyeri pinggang pada pekerja
tenun kain sarung.
Hasil penelitian ini juga mendukung
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Subagyo, 2010 tentang Pengaruh Ergonomis
Stasiun kerja terhadap Keluhan otot-otot
skeletal Pekerja laki-laki Kantor Administrasi
Dokumen Building PT Krakatau Steel Cilegon;
dengan hasil uji statistik nilai p = 0,000 (p <
0,05), maka hasil uji dinyatakan signifikan.
berarti ada beda rata-rata antara skor keluhan
muskuloskleletal sebelum bekerja dengan
setelah bekerja.
5. KESIMPULAN
1. Kursi ergonomis hasil rancangan yang
digunakan oleh pembatik di industri Batik
Dewi Ratih Sragen berukuran tinggi
288.4 mm, panjang 379.4 mm, lebar
379.8 mm, dan tinggi sandaran 353.4
mm.
2. Skor keluhan muskuloskleletal sebelum
menggunakan kursi ergonomis lebih
tinggi dibanding sesudah menggunakan
kursi ergonomis dengan selisih skor
19.24 point.
3. Hasil Uji statistik perbedaan rata-rata
skor keluhan muskuloskleletal sebelum
dan sesudah menggunakan kursi
ergonomis diperoleh t = 16.74; p = 0.000
(p < 0.05). Terdapat perbedaan
bermakna perbedaan rata-rata skor
keluhan
muskuloskleletal.
Dengan
demikian penggunaan kursi ergonomis
dapat
menurunkan
skor
keluhan
muskuloskleletal.
6. SARAN
1. Tenaga kerja sebaiknya memakai kursi
ergonomis hasil rancangan penelitian.

305

Jurnal Speed 13 Vol 9 No 2 Agustus 2012

ISSN : 1979-9330 (Print) - 2088-0154 (Online) - 2088-0162 (CDROM)

2. Penyuluhan
pentingnya
upaya
kesehatan kerja bagi pengusaha dan
tenaga kerja.
REFERENSI
i.
Ahmad Watik Pratiknya. 2004. Dasardasar
Metodologi
Penelitian
Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta:
Manajemen
PT
Raja
Grafindo
Persada.
ii.
Annis, J.F. & McCoville, J.T., 1996.
Anthropometry, dalam Battacharya, A.
& McGlothlin, J.D. eds. Occupational
Ergonomic. Marcel Dekker Inc. USA.
Pp:1-46.
iii.
Dewi Ratih, 2011. Batik Tulis Dewi
Ratih.
http://batiktulisdewiratih.blogspot.
com/2011_04_01_archive.html
iv.
Grandjean, 1993. Fitting the Task to
the Man. 4th ed. Taylor & Francis Inc.
London.
v.
Helander, M. 1995. A guide to the
ergonomics of manufacturing. London:
Taylor and Francis Ltd.
vi.
Lemasters GK, Atterbury MR, BoothJones AD, Bhattacharya A, OllilaGlenn N, Forrester C, Forst L., 1996.
Prevalence
of
work-related
musculoskeletal disorders in active
union carpenters. Occup Environ Med
55(6):421-427.
vii.
Pemda Sragen, 2010. Batik Sragen
Berobsesi
Tembus
Pasar
Mancanegara.
http://infosragen.blogspot.com/2010/06/batiksragen-berobsesi-tembus-pasar.html
viii.
Pratomo,A.W. 2007. Hubungan antara
Kursi Kerja dengan timbulnya Keluhan
Nyeri Pinggang Pada Pekerja Tenun
Kain Sarung Di ATBM (Alat Tenun
Bukan Mesin) Desa Beji Kecamatan
Taman Kabupaten Pemalang Tahun
2006. Semarang : Skripsi Fakultas
Ilmu Keolahragaan UNNES.
ix.
Pulat, BM. 1992. Fundamental of
Industrial Ergonomic. Prectise Hall
Englewood Cliffs New Jersey
x.
Purwanti D, 2008. Hubungan Antara
Ergonomi Kerja Terhadap Timbulnya
Gangguan Kesehatan Akibat Kerja
pada Pekerja di PG KREMBOONG
Sidoarjo. Thesis. Malang : Universitas
Muhamadiyah Malang.
xi.
Subagyo,
S.
2010.
Pengaruh
Ergonomis Stasiun kerja terhadap
Keluhan otot-otot skeletal Pekerja lakilaki Kantor
Adminitrasi Dokumen
Building PT Krakatau Steel Cilegon.
Sumardiyono

xii.

xiii.

xiv.

Skripsi. Surakarta : Fakultas Kedokteran


UNS.
Sumamur, 2009. Higiene Perusahaan
dan Kesehatan Kerja (Hiperkes).
Jakarta: Agung Seto.
Suyatno
Sastrowinoto,
1985.
Meningkatkan produktivitas dengan
ergonomi, IPPM dan PT. Pertja,
Jakarta.
Tarwaka, 2010. Ergonomi Industri,
Dasar-dasar Pengetahuan Ergonomi
dan Aplikasi di Tempat Kerja. Surakarta:
Harapan Press Solo.

306