You are on page 1of 2

ENERGI LISTRIK AIR LAUT

Sejak Thomas Alfa Edison untuk pertamakalinya menciptakan bola lampu, listrik merupakan
penemuan yang dapat mengubah wajah dunia pada awal abad XX. Berbagai aspek kehidupan
seolah tidak bisa lepas dari penggunaan energi listrik. Dalam era modern ini kebutuhan listrik
mengalami lonjakan yang sangat besar. Bahkan dapat dikatakan manusia sudah sangat tergantung
dengan energi listrik. Padamnya aliran listrik, membuat akvititas masyarakat menjadi terganggu,
arus lalulintas terganggu dan bahkan hubungan yang lebih luas antar negara juga dapat terpengaruh
akibat padamnya listrik.Persoalannya cadangan sumber energi yang sebagian besar menggunakan
minyak bumi, jumlahnya semakin berkurang. Bahkan memunculkan kekhawatiran akan adanya
krisis energi. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan sumber energi minyak bumi.
Belakangn ini AS berencana menyerang Irak, salah satu alasannya adalah mencari sumber minyak
bumi.Untuk mengatasi berkurangnya minyak bumi sebagai sumber energi, mulai dikembangkan
sumber energi alternatif seperti panas bumi, gelombang air laut, sinar matahari dan angin. Bahkan
dalam dasa warsa ini juga digunakan energi nuklir untuk mendapatkan listrik. Hanya saja dari
berbagai sumber menyebutkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit
Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. Seperti adanya Gas
SOx yang dikenal sebagai sumber gangguan paru-paru dan penyakit pernafasan. Gas NOx yang
bersama dengan gas SOx ditengarai penyebab fenomena hujan asam yang banyak terjadi di negara
maju dan berkembang. Sedangkan kerugian yang ditimbulkan akibat PLTN antara lain, radiasi
carbon 14 (C-14) dan gas radon yang terpancar dari uranium bagi pekerja di pertambangannya.
radiasi gas Xenon atau Krypton, termasuk limbah nuklir yang harus mendapat penanganan
khusus.Untuk itu perlu dikembangkan sumber energi alternatif. Salah satu yang sampai saat ini
belum banyak diteliti adalah energi air laut(bukan gelombangnya). Energi yang dihasilkan dari air
laut memiliki keunggulan, seperti ramah lingkungan, dan tidak membutuhkan banyak dana.Padahal
Indonesia yang terletak di wilayah garis katulistiwa hampir sepanjang tahun mendapatkan sinar
matahari, juga memiliki lautan yang sangat luas, karena 2/3 dari wilayahnya terdiri dari lautan.
Garis lingkaran pantai (coastal circumference) sepanjang 80.917 kilometer. Panjang itu lebih dari
jumlah garis pantai USA, Australia dan semua daratan non-benua di seluruh dunia, yang
panjangnya hanya 31.545 kilometer. Artinya Indonesia memiliki sumber energi potensial yang
sangat besar dan tidak ada habisnya. Dengan kondisi alam ini sudah semestinya bangsa Indonesia
tidak perlu khawatir akan kehabisan sumber energi, bahkan potensi air laut mampu memenuhi
empat kali kebutuhan listrik dunia.Besarnya potensi air laut sebagai sumber energi ini telah menarik
perhatian MSA Sastroamidjojo M.Sc., PhD, Presiden Direktur Yayasan Langit Lintang Samudra
(LLS) untuk lebih mendalami potensi energi yang dihasilkan oleh air laut. Setelah berkutat dengan
berbagai teori dan penelitian lapangan, dia berhasil menemukan apa yang dinamakan sebagai
Baterai Laut. Dan laut Indonesia merupakan baterai raksasa yang dapat memenuhi kebutuhan listrik
dunia.Berdasarkan percobaan sederhana yang dilakukan LLS, dua liter air laut yang diambil dari
pantai Parangtritis, sebagai elektrolit dialirkan ke rangkaian Grafit (anoda) dan Seng atau Zn
(katoda) mampu menghasilkan tegangan 1,6 volt. Percobaan awal, ungkap Sastroamidjojo yang
didampingi Wakil Direktur LLS, Kusmanto, ketika ditemui PR di laboratoriumnya di Sambisari,
Purwomartani, Kalasan, Sleman Yogyakarta, katoda yang digunakan adalah arang aktif dari batok
kelapa, arang kayu biasa.Ternyata, arus listrik yang dihasilkan dari arang batok kelapa dan kayu
tidak begitu besar. Namun begitu kedua arang dicampur, arus listrik yang dihasilkan lebih besar.
Untuk mempermudah kemudian digunakan anoda Grafit Sentolo (percampuran antara arang batok
kelapa dengan arang kayu).Dalam percobaan sederhana dipakai dua buah gelas yang dimasukan
elektroda Grafit Senotolo dan Seng Galvanis (seng yang telah dilapisi zat kimia sehingga
menghambat adanya korosi, seng yang biasa digunakan sebagai atap rumah). Rangkaian plus dan
minus tersebut kemudian dialirkan ke lampu pijar (bohlam). Seketika itu juga lampu pijar menyala.
Dan semakin banyak gelas atau sel yang dirangkai, maka nyala lampu juga semakin
terang.Percobaan baterai laut dalam skala laboratorium ini kemudian diperbesar, yakni
menggunakan air laut sebanyak 400 liter, dan accu (aki) bekas 12 volt. Aki bekas yang sebagian

selnya sudah rusak tersebut kemudian dibuka, dan sel baterainya dibersihkan dengan air bersih
biasa dengan maksud membuang kotoran yang ada di dalamnya. Sementara itu, pada bagian bawah
aki diberi lubang sebanyak sel yang ada (dalam percobaan dibuat enam lubang, karena aki yang
digunakan 12 volt, setiap sel dua volt). Pada bagian bawah lubang aki diberi tempat atau wadah
untuk menampung air laut, yang keluar dari bagian bawah aki. Selanjutnya air tersebut dipompa
kedalam ke dalam bak yang posisinya lebih tinggi, dengan bantuan selang air laut dapat kembali
masuk ke dalam aki atau terjadi sirkulasi. Fungsi air laut dalam baterai adalah sebagai pengganti
asam sulfat atau air aki.Sebelumnya sekat yang terbuat dari metdipasang kembali, hal ini untuk
menyelidiki ketahanan terhadap korosi. Sekat dari metdipasang kembali agar antara logam Pb
(timbal) dan PbO (timbal oksidan) tidak berhubungan. Air laut tersebut juga ditimbang, untuk
mengetahui berat jenisnya, 1.025 gr/liter, sedangkan derasnya aliran air yang melalui lubang baterai
diukur debitnya. Hasil pengukuran 900 mili liter per lima detik per dua lubang sel.Tegangan yang
ada dalam baterai yang telah dialiri air laut, hasil pengukurannya antara 9,2 11,8 volt. Setelah
empat hari air laut tersebut digunakan secara terus menerus, tegangan yang dihasilkan juga
menurun. Lampu mobil yang kita nayalakan dengan baterai air laut ini ternayta nyalanya lebih
terang dibandingkan lampu mobil, ungkap Kusmanto yang telah bergabung dengan LLS sejak
berdiri tahun 1994.Sebelum menggunakan Seng Galvanis yang mudah diperoleh di sembarang
tempat, percobaan untuk mengetahui energi listrik air laut ini juga menggunakan katoda dari
besi,stainles steel, dan seng (zn) murni. Dari percobaan yang paling sederhana, ternyata dari Seng
Galvanis, kita mendapat aurs listrik cukup besar. Dan saat katoda mengguanka seng asli, energi
yang dihasilkan menjadi lebih besar, dalam arti lampu yang dijadikan indikatornya menyala lebih
terang.Dijelaskan, salah satu tanda bahwa air laut mengandung arus listrik adalah adanya unsur
Natrium Chlorida (NaCl) yang tinggi dan oleh H2O diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Dengan adanya
partikel muatan bebas itu, maka ada arus listrik.Pada prinsipnya, air laut yang mengandung garam
masuk ke dalam baterai (tabung aki), sehingga muncul reaksi yang menimbulkan tegangan.
Besarnya arus dan tegangan yang dihasilkan dari baterai ini tergantung dari kapasitas baterai atau
aki. Semakin banyak aki yang digunakan dan tekanan air laut sekamin besar, maka arus atau
tegangan yang dihasilkan juga akan semakin tinggi. Dengan demikian, apabila percobaan dilakukan
di pantai, maka energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar. Dengan kata lain, samudra
merupakan baterai laut raksasa.Di laboratoriumnya yang terlertak di pinggiran kota Yogyakarta,
Sarstoamidjojo yang sudah berusia 81 tahun ini, LLS yang dipimpinnya tidak hanya meneliti energi
air laut tetapi juga meneliti energi angin, tenaga surya dan tenaga laut.